Posts tagged ‘A-1 Pictures’

28/06/2017

Saenai Heroine no Sodatekata Flat

Saenai Heroine no Sodate-kata Flat, atau Saekano: How to Raise a Boring Girlfriend Flat (‘flat’ di judulnya kerap ditulis dalam lambang notasi musik ‘flat note’ atau mol, ♭) adalah musim tayang kedua anime drama komedi romantis Saekano.

(Bahasan season pertama di sini.)

Ceritanya sekali lagi diadaptasi dari seri light novel karangan Maruto Fumiaki (White Album 2) yang diilustrasikan oleh Misaki Kurehito dan diterbitkan Fujimi Shobo. Produksinya dilakukan studio animasi A-1 Pictures. Sutradara anime ini kembali adalah Kamei Kanta (Oreshura). Naskahnya kembali ditangani oleh Maruto-sensei sendiri. Musiknya kembali ditangani Hyakkoku Hajime. Berjumlah total 12 episode (termasuk episode 0 enggak penting yang menjadi prolog, seperti di season sebelumnya), anime ini tayang pertama kali di musim semi tahun 2017.

Sebenarnya, aku lumayan terkejut pas sekuel ini diumumkan. Enggak biasa ada seri ranobe drama romantis—apalagi yang bertema harem—diangkat jadi anime sampai dua kali.

Kalau kupikir, mungkin ini berhubungan dengan bagaimana seri ranobenya sudah mau tamat. Ceritanya akan tuntas dalam 13 buku (ditambah tiga buku Girl’s Side yang berstatus gaiden), dengan buku terakhir dijadwalkan keluar sekitar bulan Juli ini. Lalu season pertama animenya memang cukup sukses untuk menghadirkan sekuel.

Episode-episode awalnya, kayak season sebelumnya, punya konten cerita yang minim. Sifatnya lebih seperti fanservice yang berkesan filler. Tapi kalau kau mengikuti perkembangannya, menurutku pribadi, ini seriusan salah satu anime drama romansa terbagus yang aku tahu.

Kejantanan yang Patut Dipertanyakan

Buat kalian yang lupa, Saekano bercerita tentang obsesi remaja SMA otaku Aki Tomoya dalam membuat game komputernya sendiri. Ini terjadi sesudah Tomoya terinspirasi pertemuan tidak sengaja dengan Katou Megumi, gadis minim ekspresi yang ternyata adalah teman sekelasnya sendiri.

Sesudah mengumpulkan sejumlah teman (perempuan) berbakat (yang sedikit banyak ternyata punya semacam hubungan masa lalu dengannya), Aki membentuk grup doujin (circle) Blessing Software, yang membidik untuk merilis game indie buatan mereka sendiri di ajang Comic Market (Comiket) musim dingin (Fuyucomi) pada tahun tersebut.

Pada penghujung season sebelumnya—yang mengambil rentang waktu antara akhir musim semi ke awal musim gugur—semua anggota yang mereka perlukan telah terkumpul. Lalu meski dikejar waktu, draft pertama cerita telah berhasil mereka coba masukkan ke bentuk game. Season pertama anime ini kurang lebih mencakup seperempat pertama dari cerita di novelnya, yakni dari sekitar buku 1-4.

Saekano Flat melanjutkan cerita dari latar musim gugur ke musim semi tahun berikutnya. Ajang Fuyucomi menjadi klimaks di pertengahan seri. Musim tayang yang ini kira-kira mencakup… cerita buku 5-7 dari novelnya, tapi lebih banyak soal ini akan kusinggung nanti.

Kalau boleh aku sajikan dalam bentuk poin agar tak terlalu spoiler, bahasan utama musim ini meliputi:

  • Awal mula konflik(?) antara Kasumigaoka Utaha (penulis) dan Sawamura Eriri Spencer (ilustrator). Tomoya tak sadar kalau konflik itu dipicu oleh hubungan yang keduanya punyai dengan dirinya. (Aku dengar ini aslinya salah satu cerita di seri novel Saekano: Girl’s Side.)
  • Pernyataan perang dari dua teman lama Tomoya, Hashiba Iori dan adik perempuannya, Hashiba Izumi. Mereka kini bernaung di bawah circle Rouge en Rouge pimpinan tokoh besar di dunia doujin, Kosaka Akane, yang menjadi saingan grup Tomoya. Mereka juga hendak mengembangkan game yang bertema sama dengan game yang Tomoya dan kawan-kawannya akan buat.
  • Bagaimana draft cerita final buatan Utaha-senpai menjadi dilema pribadi menjelang kelulusannya dari sekolah. Di dalamnya, Utaha ternyata telah memasukkan cerminan perasaan terpendamnya terhadap Tomoya.
  • Tentang sisa ilustrasi yang perlu Eriri buat. Eriri kesulitan menyelesaikannya karena ia jadi membebani diri sendiri dengan pengharapan Tomoya terhadapnya.
  • Kelanjutan Blessing Software seusai berakhirnya Fuyucomi, dan apa rencana mereka ke depan…

Sejujurnya, agak susah menilai Saekano secara objektif. Ceritanya dengan sengaja bernuansa meta (dengan beberapa kali seakan mendobrak ‘tembok keempat’). Di samping itu, konflik yang diangkatnya lumayan multidimensi. Ada soal bisnis, soal pekerjaan, soal karya, soal cinta, soal ideologi, soal persahabatan. Lalu secara konsisten, itu pun masih diselipi bumbu-bumbu komedi yang bisa membuatnya terkesan enggak serius. (Oh, ada juga bumbu fanservice yang banyak. Tapi oke, itu enggak penting.)

Untuk aspek-aspek individu, season ini menonjolkan makin matangnya Tomoya dan Megumi sebagai pasangan sutradara sekaligus produser. Mereka membuat perencanaan, mereka berkomunikasi dengan anggota-anggota tim.

Di bawah bimbingan Utaha-senpai dan Eriri, Megumi dikisahkan juga sudah jadi semakin cantik mirip heroine.

Dipaparkan lebih lanjut juga perkembangan hubungan Megumi dan Tomoya dengan orang-orang di sekeliling mereka. Persahabatan Megumi dengan Eriri. Hubungan ketergantungan Utaha terhadap Tomoya. Berbagai kelemahan Tomoya ditampakkan. Ditampakkan juga bagaimana Tomoya berusaha memperbaiki diri.

Sisi lemah musim ini… mungkin salah satunya pada bagaimana Hyoudo Michiru (yang menangani musik) tak banyak disorot. Bahkan Hashiba Izumi-chan yang bukan (belum) menjadi bagian Blessing Software rasanya kebagian porsi cerita lebih banyak.

Jadi, ada banyak hal di dalamnya yang bisa kau sukai, tapi ada banyak hal yang bisa kau enggak sukai juga.

Buatku pribadi sih, mungkin aku suka semua? Yea, aku agak terganggu dengan bagaimana para ceweknya bisa sedemikian frontal terhadap Tomoya sih. Man, cewek itu nakutin. Tapi secara umum, dan secara teknis terutama, seri ini menurutku masih benar-benar bagus. Pantesan aja basis penggemarnya kuat.

Dibanding season sebelumnya, Saekano Flat menyajikan pusaran konflik yang lebih dalem. Bener kata mereka. Dramatis, tapi enggak bener-bener berlebihan. Lalu bumbu-bumbu komedinya itu! Bahkan dalam kondisi demikian, komedinya masih aja berhasil membuatku ketawa.

Berada di Sisimu Paling Lama

Bicara soal teknis, aku sempat bingung di awal; nuansa cerah penuh warna di animasi pembuka season sebelumnya tergantikan nuansa lebih kelabu. Tapi kemudian aku sadar, nuansa warna-warninya sebenarnya masih ada, hanya saja ditampilkan lewat pemakaian sejumlah filter. Dikombinasikan alunan vokal merdu Haruna Luna, yang kembali untuk membawakan lagu pembuka (kali ini berjudul “Stella Breeze”), kesannya lama-lama beneran bagus. Hal tersebut juga seakan mempertegas nuansa serius yang musim ini bawakan. Cara para heroine ditampilkan dalam berbagai pose dan ekspresi benar-benar bagus. Kerennya, ada tiga versi dari animasi pembuka ini. Masing-masing menampilkan perubahan gaya rambut Megumi sesuai perkembangan cerita.

(Aku tetap agak kecewa enggak ada lagu baru dari Sawai Miku sebagai penutup. Tapi ya sudahlah.)

Terlepas dari pembukanya, visualnya secara umum juga masih tajam. Ada banyak latar tempat menarik yang ditampilkan. (Kalau dipikir, benar-benar seperti di galge?) Para karakternya juga ditampilkan benar-benar ekspresif.

Dari segi audio, Hyakkoku-san dari F.M.F. kembali menampilkan good job dengan membawakan aransemen yang menyerupai nuansa BGM dalam game-game galge populer. Secara umum, ini masih tak beda dibandingkan season lalu. Tapi berhubung banyaknya perkembangan karakter yang terjadi kali ini, hal tersebut layak disebut. Para seiyuu juga memberi performa bagus.

(Aku ingin bahas lebih banyak soal para seiyuu, tapi enggak ada kata-kata bagus terpikirkan. Matsuoka Yoshitsugu sebagai Tomoya masih benar-benar berkesan dengan ekspresi-ekspresi maniaknya. Demikian juga Yasuno Kiyono sebagai Megumi dengan berbagai ekspresi tersamarnya.)

Dari segi eksekusi… Kamei-san menurutku semakin handal mengarahkan cerita. Memang, ada banyak adegan yang sifatnya komedi dan cenderung plesetan (ada satu referensi bagus terhadap seri anime Monogatari produksi studio SHAFT). Tapi adegan-adegan di Saekano Flat jenisnya sangat beragam. Latar ceritanya juga makin banyak. (Terutama perhatikan banyaknya referensi terhadap seri-seri anime keluaran Aniplex di kamar Tomoya.) Lalu beliau berhasil memaparkan kesemuanya dengan benar-benar brilian.

Hasilnya secara teknis beneran bagus.

Dari segi presentasi, Saekano Flat bener-bener enak dilihat.

Hanya saja, kalau eksekusi yang berhubungan soal naskah… agaknya, itu sempat menjadi perdebatan. Maruto-sensei sendiri memang yang menangani naskahnya (agaknya, para penggemar pun kerap lupa soal ini). Tapi ceritanya kudengar berkembang lumayan berbeda kalau dibandingkan versi novelnya.

Jadi, kalau memakai versi novel sebagai acuan, cerita Saekano terbagi jadi dua bagian besar. Pertama, bagian cerita sebelum game mereka, Cherry Blessing, dirilis di Fuyucomi. Habis itu, paruh cerita kedua sesudahnya, ketika grup mereka sedikit banyak sudah meraih perhatian.

Kebanyakan fans novel sepakat bahwa di paruh kedua cerita versi novel inilah, cerita Saekano mengalami penurunan kualitas signifikan, walau nanti jadi bagus lagi ke sananya.

Sesudah Fuyucomi, selepas kelulusan Utaha-senpai, ceritanya ada perkembangan gede yang terjadi. Jalan hidup para karakternya jadi bercabang.  Lalu di novel, ini berujung pada konflik berkepanjangan antara Megumi dan Eriri yang jadi banyak disorot. (Ada sejumlah penggemar sempat berpendapat kalau karakterisasi para tokoh sampai diubah terlalu jauh.) Hanya saja, versi anime ini menghindari potensi konflik tersebut. Entah siapa yang mengambil keputusan, tapi Saekano Flat memilih resolusi lebih sederhana. Akhir ceritanya juga lebih terbuka.

Akibatnya, meski menutup cerita secara rapi, bagian akhir anime ini jadinya enggak sebagus bagian tengahnya. Di samping itu, kesan menggantungnya juga masih sedikit ada. Masih bagus sih. Tapi enggak sememuaskan yang mungkin kau harapkan.

Sakura Diaries

Akhir kata, kurasa Saekano Flat lagi-lagi anime harem yang sebenarnya lebih cocok buat kalian yang sudah dewasa. Hanya saja, porsi dramanya yang bagus membuatnya jauh lebih berbobot dari yang pertama terlihat.

Ada anekdot yang kudengar sempat beredar di sekitar tahun 2015. Konon, awalnya, kalau dilihat dari aspek novelnya saja (sebelum animenya dibuat), urutan popularitas para tokoh utama wanita adalah Utaha-senpai > Eriri > Megumi. Tapi sesudah animenya tayang, kedudukan Megumi langsung melejit di kalangan fans, mengubah urutannya menjadi: Megumi > Utaha-senpai > Eriri.

Dengan kata lain, season pertama anime Saekano setidaknya sukses memberi konteks soal Megumi orang seperti apa. Para penggemar jadi lebih paham apa yang Maruto-sensei maksudkan tentangnya gitu.

Soal ‘konteks’ itulah yang diperkuat lagi di musim ini. Meski situasi ‘berbahaya’-nya masih lumayan banyak, situasi-situasi yang bikin terenyuh masih banyak juga. Kau tahu, bagaimana semua tokoh utama perempuannya punya alasan kuat buat mencintai Tomoya? Hal-hal tersebut digali lebih dalem. Walau segalanya berakhir agak menggantung, tetap puas rasanya melihat bagaimana paruh pertama cerita di novelnya akhirnya tersampaikan.

Yea. Dengan kata lain lagi, terlepas dari hasil akhirnya, ini sekuel yang lagi-lagi terbilang sukses. Yea, aku puas. Ada pelajaran sangat berharga soal ‘berkarya’ juga di dalamnya.

Para produsen mungkin memberi tulisan ‘tamat’ di akhir ceritanya. Tapi sebagaimana yang para karakternya sendiri implikasikan (secara meta di episode terakhir), usaha mereka baru dua pertiga jalan. Mereka baru mau mencapai babak-babak akhir dari ‘cerita’ untuk menggapai cita-cita mereka yang sesungguhnya. Jadi meski kemungkinan diproduksinya lebih kecil dibanding dulu, materi untuk season ketiga sebenarnya masih bisa diperjuangkan.

Hei. Aku pribadi juga berharap animenya ada kelanjutannya.

Ceritanya sudah terlanjur beda dari novelnya sih.

(Buat kalian yang penasaran soal siapa yang akhirnya Tomoya pilih, di buku 12, dia menyatakan perasaannya pada Megumi. Pada akhirnya, mungkin memang Megumi yang paling memahami dia sih.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A+; Audio: A-; Perkembangan: B+; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A-

Iklan
03/04/2017

Sword Art Online the Movie: Ordinal Scale

Akhir pekan lalu, aku menonton Sword Art Online: Ordinal Scale di salah satu cabang CGV Blitz.

Ordinal Scale (kira-kira berarti ‘skala ordinal’, ‘ordinal’ mengacu kepada ‘angka ordinal’ yang menyatakan peringkat/kedudukan seperti ‘pertama’ dan ‘kedua puluh’ dsb., berbeda dari ‘angka cardinal’ yang menyatakan nilai/kuantitas; sebenernya ada lagi jenis angka nominal yang menyatakan nama/identitas seperti barcode) adalah film layar lebar pertama dari seri Sword Art Online yang terkenal. Masih diangkat dari seri novel fenomenal karangan Kawahara Reki, film layar lebar ini berlatar tak lama sesudah berakhirnya season kedua animenya. Jadi, Ordinal Scale berlangsung sesudah bab Mother’s Rosario, tapi sebelum bab Alicization yang sudah didesas-desuskan akan menjadi inti season ketiga anime SAO yang akan datang.

Salah satu daya tarik movie ini bagi para penggemar SAO adalah sifatnya yang orisinil. Cerita yang dipaparkan movie ini tak berasal dari novel. Seperti halnya film layar lebar Mahouka Koukou no Rettousei yang akan tayang pertengahan tahun ini nanti, ada rentang waktu kosong dalam linimasa cerita asli di seri novelnya yang jadinya dilengkapi.

Berdurasi lumayan lama, sekitar pas dua jam, produksi Ordinal Scale masih dilakukan oleh A-1 Pictures . Penyutradaraannya kembali dilakukan Ito Tomohiko. Naskahnya disusun bersama oleh Ito-san berdasarkan konsep cerita yang disusun Kawahara-sensei sendiri. Penayangan film layar lebar ini di Indonesia pun terbilang cepat, hanya sekitar sebulan sesudah movie ini pertama tayang di Jepang.

Sedikit curhat dulu: aku semula tak berencana menonton film ini.

Sekali lagi, aku menggemari versi novel SAO. Tapi aku sebenarnya tak sebegitu antusias terhadap animenya.

Sempat terlintas di benakku kalau aku mungkin akan nonton Ordinal Scale. Hanya saja, aku tak pernah benar-benar secara khusus meniatkannya karena mengira film ini penayangannya akan terbatas, baik secara waktu dan tempat. Belum lagi sempat ada berita pula kalau distribusinya di Indonesia bakal ditunda. Kusangka ini paling cepat adanya April. Lalu, yah, kesibukanku belakangan rada susah diprediksi (aku sering sekali menyinggung soal gimana aku sibuk, sampai-sampai aku sendiri merasa aku belakangan terdengar kayak bohong).

Tapi akhir pekan lalu, tiba-tiba ada sahabat lamaku, yang sekarang domisilinya di kota lain, tahu-tahu ngontak soal bagaimana hari itu dia mau menonton ini (dan kalau bisa, langsung dilanjutkan dengan Kong: Skull Island). Lalu, saat aku dengar Ordinal Scale sudah tayang, reaksiku adalah: “FUUUUUUGGGGHHHG!!!!!”

Semula, aku merasa temanku itu yang selama ini stres. Sama sepertiku, dia juga masih lajang. Lalu dia lagi sendirian di rumah setelah ditinggal keluarganya touring. Dia menghubungiku juga sambil sesekali mengirim foto kemajuan gambar yang sedang dia buat untuk mengasah kembali skill gambarnya yang sudah tumpul. (Dia punya bakat menggambar bishoujo.)

Tapi menilai reaksiku, aku tersadar bahwa aku juga butuh menonton film ini. Rupanya aku juga lagi stres.

Akhirnya, aku tak peduli apakah hasilnya akan jelek atau bagus. Aku perlu menonton Ordinal Scale.

Sesudah bertekad demikian, aku memutuskan ke luar rumah. Aku bahkan sampai membujuk-bujuk temanku untuk tetap cabut sekalipun cuacanya kelihatannya memburuk. Singkat cerita, aku dan sahabatku yang beda kota ini akhirnya masuk bioskop pada waktu kurang lebih sama, demi menonton film yang sama.

Kami lalu saling bertukar komentar sesudah menonton.

Was it worth it?

Yah. Pada akhirnya, Ordinal Scale tetap SAO. Kalau kalian mengerti maksudku.

“…Switch.”

Ordinal Scale dibuka dengan pemaparan tentang berkembangnya perangkat teknologi baru berbasis augmented reality bernama Augma. Memiliki bentuk berupa kombinasi visor, headphone lalu kamera sekaligus aksesoris tangan, Augma digandrungi karena menjadi alternatif untuk perangkat virtual reality Amusphere (penerus perangkat VR NervGear yang menjadi salah satu penyebab tragedi VMMORPG Sword Art Online beberapa tahun silam).

Untuk kalian yang awam, berbeda dengan virtual reality yang merupakan realitas buatan yang membawa penggunanya ke ‘dunia’ lain, teknologi augmented reality adalah teknologi yang ‘memperkaya’ realitas kita saat ini. Dengan mengedarkan pandangan ke sekeliling saja, ada berbagai informasi tambahan yang bisa kita peroleh terkait apa yang kita lihat. Kita masih bergerak dengan badan sendiri. Tapi apa yang kita lihat, dengar, dan bahkan sentuh telah diperkaya karena ‘informasi’ yang Augma berikan turut menimpa persepsi dunia nyata kita. Dunia bisa terlihat semakin berwarna dan menarik. Ada berbagai aplikasi Augma yang bisa dimanfaatkan, mulai untuk olahraga, bertukar pesan, peluang mendapatkan kupon diskon, membantu diet, info lalu lintas real time, menampilkan peta, membantu menunjukkan arah kalau tersesat, dsb. Bahkan, ada suatu permainan massal berbasis Augma bernama Ordinal Scale yang belakangan menyedot perhatian para penggemar VMMORPG ALfheim Online dan Gun Gale Online.

Melalui Augma, kita juga bisa menyaksikan pesona figur idola virtual Yuna yang konon adalah kecerdasan buatan. Dengan kepribadiannya yang cerah, acara-acara konser Yuna—yang dapat berlangsung nyaris di mana saja—menjadi hal yang banyak diminati dan menjadi satu lagi faktor kesuksesan Augma.

Fitur-fitur baru Augma juga tengah digandrungi teman-teman Kirigaya Kazuto.

Sebagai salah satu yang selamat dari peristiwa SAO, dan bahkan menjadi yang telah menuntaskannya, Kazuto, yang juga dikenal sebagai Kirito, sudah beberapa kali terlibat dalam sejumlah insiden berbahaya di dunia virtual. Mungkin karena itu perasaannya terhadap Augma masih ambivalen.

Di sisi lain, teman-teman lama Kirito—bahkan termasuk mereka yang juga selamat dari peristiwa SAO, seperti Shinozaki Rika (Lizbeth) dan Ayano Keiko (Silica), serta kekasih Kirito sendiri, Yuuki Asuna; terutama karena pembagian perangkat Augma gratis untuk para anggota kepanitiaan di sekolah rehabilitasi mereka—juga menggandrungi Augma sekaligus Ordinal Scale. Teman Kirito yang sudah dewasa, Klein, juga sering ikut serta dalam berbagai event Ordinal Scale bersama teman-teman guild-nya yang bertema samurai, Fuurinkazan. Lalu manfaat lain Augma bagi Kirito dan Asuna, yang mau tak mau harus mereka akui, adalah bagaimana kecerdasan buatan yang menjadi ‘putri’ mereka sesudah insiden SAO, Yui, jadi bisa secara lebih bebas berada di dunia nyata.

Meski masih kurang nyaman dengan Augma, sebagai seorang gamer, Kirito tentu saja juga tertarik dengan Ordinal Scale. Dari sekedar mencoba mengikuti acara Ordinal Scale bersama Asuna, Kirito mulai mendengar sebuah rumor yang mulai mengusiknya: bahwa sejumlah lawan yang dikenali sebagai floor boss dari Sword Art Online telah muncul dalam eventevent Ordinal Scale.

Lalu yang menyadari hal ini hanya para veteran SAO yang pernah terlibat di garis depan.

Trauma Therapy

Sebelum masuk soal bagaimana Kirito, Asuna, dan kawan-kawan mereka jadi diingatkan soal pengalaman di garis depan SAO, baiknya aku menyinggung sedikit dulu tentang Ordinal Scale.

Jelas terinspirasi dari berbagai permainan augmented reality yang belakangan berkembang (salah satunya mungkin demam Pokemon Go), Ordinal Scale sederhananya adalah semacam permainan aksi memburu monster yang mengharuskan para pemainnya keluar rumah (dengan memakai Augma) dan mendatangi berbagai tempat di kota.

Setiap pemain bebas memilih ingin jadi pemain macam apa. Mereka bebas memilih peralatan yang mereka bawa (yang sebagian agaknya bisa ditemukan dari menjelajah tempat-tempat tertentu di sekitar mereka), mulai dari senjata jarak dekat macam pedang atau yang jarak jauh macam pistol dan senapan (Kirito dan Asuna jelas-jelas lebih memilih menggunakan pedang). Di samping senjata, mereka juga bebas mengenakan pelindung. Dengan berkeliaran sambil mengenakan Augma saja, konon para pemain OS bisa menemukan berbagai barang (item), perlengkapan, serta musuh-musuh yang bisa mereka kalahkan.

Satu hal menarik di OS adalah bagaimana tak ada sistem leveling. Semua pemain bermain menggunakan badan mereka sendiri (jadi bukan badan virtual seperti di Amusphere yang parameternya telah disesuaikan). Parameter kekuatan mereka—meski ada beberapa yang mengalami modifikasi oleh perlengkapan yang mereka kenakan—adalah kemampuan fisik nyata mereka sendiri.

Lalu, untuk memantau siapa-siapa yang unggul dalam permainan ini, digunakan semacam sistem peringkat. Masing-masing pemain bersaing untuk meningkatkan peringkat, dan ada berbagai manfaat yang mereka peroleh seiring dengan bertambahnya peringkat mereka. (Sistem ‘peringkat’ ini belakangan terungkap punya signifikasi di dalam cerita.)

(…Bentar. Setelah kupikir, sistem pengembangan diri berbasis peralatan ini, yang tak ada kaitannya dengan sistem level, lumayan mirip dengan yang ada di waralaba Monster Hunter.)

Salah satu aspek terkeren Ordinal Scale adalah bagaimana saat dijalankan, program tersebut dapat sepenuhnya mengubah persepsi pemainnya akan realita. Dalam sekejap, langsung ada dunia lain yang mereka lihat, tapi dunia tersebut tetap tercipta berdasarkan bentuk dunia nyata. Puncak-puncak gedung tinggi bisa berubah menjadi menara kastil. Tempat-tempat terbuka menjadi teras puri. Warna langit bisa berubah dari siang menjadi malam, lengkap dengan terangnya bulan berwarna. Lalu pakaian yang para pemainnya kenakan akan berubah. Handset yang mereka pegang juga berubah jadi senjata yang mereka pilih. Semua konon terwujud berkat keberadaan sepasukan UAV yang seakan membantu proses pemantauan.

Perubahan dunia pada Ordinal Scale lumayan mengingatkan pada perwujudan Unlimited Neutral Field di Accel World yang juga karangan Kawahara-sensei. Tapi meski sama-sama didasarkan pada bentuk dunia nyata, sesuai dengan tingkat kemajuan teknologi di latarnya, Ordinal Scale di seri SAO dihasilkan lewat teknologi yang lebih low key. Ditambah dengan bagaimana kenyataannya, Ordinal Scale berlangsungnya masih di dunia nyata.

Terlepas dari itu, dalam salah satu event Ordinal Scale, ketika sejumlah musuh besar yang tak dapat ditangani sendirian muncul, idola virtual Augma, Yuna, tiba-tiba muncul. Melalui nyanyiannya, Yuna memberi buff bagi parameter para pemain, membuat mereka bersemangat untuk menyelesaikan misi. Lalu sesudah itu, Yuna juga mengumumkan lokasi di mana konser live-nya yang banyak ditunggu akan diadakan.

Dari pengalaman tersebut, kembali muncul tanda tanya soal apakah Yuna adalah makhluk sejenis Yui, dalam artian sama-sama kecerdasan buatan. Di samping itu, turut diperkenalkan pula Eiji, pemain dengan peringkat dua di Ordinal Scale, yang Kirito dan Asuna sadari agaknya mungkin pernah mereka jumpai di masa lalu.

Apakah Melupakan Lebih Baik?

Masalah timbul saat rumor-rumor soal kehadiran floor boss SAO di Ordinal Scale ternyata benar. Asuna, bersama Klein, menjadi saksi langsung hal ini. Asuna, berkat pengalamannya, bahkan berhasil menggalang pemain lainnya untuk menaklukkan boss tersebut. Namun rupanya itu hanya awal dari segala masalah.

Singkat cerita, Kirito, yang tak aktif sebagai pemain Ordinal Scale, secara terlambat mengetahui bahwa para veteran SAO yang memainkan Ordinal Scale bisa kehilangan sebagian ingatan mereka. Persisnya, ingatan mereka tentang SAO. Asuna juga adalah salah satu korbannya. Lalu berbeda dari kebanyakan veteran yang memiliki banyak kenangan tak enak tentang SAO, Asuna juga memiliki kenangan-kenangan bahagia karena pertemuannya dengan Kirito. Lalu hilangnya kenangan-kenangan tersebut sedemikian membebani Asuna, walau ia masih bisa ingat siapa Kirito dan berbagai kenangan mereka di kastil Aincrad baru yang kini ada di ALO.

Marah dengan apa yang menimpa Asuna, Kirito bertekad untuk mengungkap apa yang terjadi. Berkat petunjuk sosok berkerudung misterius yang sesekali terlihat hanya melalui Augma, Kirito menjumpai Shigemura Tetsuhiro, pria paruh baya yang merupakan ilmuwan pengembang piranti Augma. Dari sana, Kirito menyimpulkan bahwa ia harus memanjat ke puncak peringkat Ordinal Scale demi mencegah bencana besar yang akan terjadi.

Maka dengan taruhan ingatannya sendiri pula, Kirito juga perlu berhadapan dengan Eiji, yang ternyata menyembunyikan lebih banyak dari apa yang bersedia ia ungkap.

Janji Bonceng Motor

Masuk ke soal teknis, kalau soal presentasi, Ordinal Scale menghadirkan kualitas visual dan suara seperti yang bisa diharapkan dari sebuah seri SAO. Dari sudut itu, ini film yang terlihat dan terdengar bagus.

Aku tak begitu terkesan dengan key visual-nya. Tapi sesudah melihat sendiri, aku kagum dengan betapa banyaknya detil yang telah diberikan untuk menggambarkan dunia Tokyo masa depan. Kesan futuristis yang dipaparkan terasa sangat dekat sekaligus jauh. Masih serasa membumi. Lalu banyaknya detil ini begitu kentara dibandingkan bab-bab cerita SAO yang lain. Walau cerita Ordinal Scale pada akhirnya berkesan ‘SAO’ sekali (lebih banyak soal itu nanti kusinggung di bawah), sebagai orang yang beberapa kali berkecimpung di dunia arsitek dan iptek, aku merasa sudah balik modal menonton film ini hanya demi melihat dunianya saja. Mulai dari soal fitur-fitur AR Augma, pemandangan keseharian kota Tokyo modern, jalan-jalan layang, halaman-halaman dengan ruang terbuka hijau, dan bahkan vending machine, aku puas dengan bagaimana semua itu ditampilkan. Aku kagum dengan pemandangan overhead kota dari atas berulangkali diperlihatkan untuk mengindikasikan bagaimana Kirito berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain.

Soal suara, aku sempat heran dengan bagaimana karakter Yuna ditampilkan. Aku seperti… “Heh? Lagi-lagi karakter idol?” Aku lebih terbiasa melihat penampilan idola futuristis dalam anime Macross. Lalu sesudah movie Toaru Majutsu no Index beberapa tahun lalu, sekarang SAO mau mengangkat soal itu juga? Perasaanku campur aduk soal ini. Tapi aku bersyukur setidaknya tema konser dan nyanyian ini tak sekedar tempelan. Maksudku, ada signifikasinya dalam cerita. Di samping itu, nuansa musik gubahan Kajiura Yuki kembali ada di movie ini. It’s still good.

Jadi, satu hal unik yang Ordinal Scale miliki, kalau dibandingkan bab-bab cerita lain dalam seri SAO, dan yang mungkin menjadi daya tariknya yang terbesar, adalah bagaimana ceritanya berlatar hampir sepenuhnya di dunia nyata. Bagian pendahuluannya, bagian pengenalan masalah, bagian klimaksnya, lalu juga penyelesaiannya. Maksudku, itu hal yang sangat baru bagi SAO.

Sekali lagi, di dunia nyata. Bukan dunia virtual.

Karenanya, di luar dugaan—lagi, terlepas dari kualitas akhirnya sendiri—Ordinal Scale punya cerita yang terasa segar.

Naskah yang Kawahara-sensei dan Ito-san sudah susun itu beneran kuat. Ya, masih ada kelemahan-kelemahan khasnya. Termasuk soal wish fulfillment dan sebagainya. Ya, perlu kuakui juga kalau klimaksnya sedikit mengecewakan. Itu jelas tak semenegangkan standar SAO yang biasa. Tapi kalau menempatkan diri di sudut pandang produser, naskah Ordinal Scale kurasa berhasil memenuhi segala ekspektasi. Ada banyak callback ke hal-hal lalu. (Seperti soal perintah Switch untuk penggantian posisi depan yang normalnya hanya dipahami oleh para veteran SAO.) Secara mengesankan, ada sejumlah foreshadowing juga ke bab Alicization yang akan datang untuk para penggemar novelnya. Semua karakter signifikan dalam waralaba ini—termasuk si gaijin pemilik toko Andrew Gilbert Mills (Agil), jago kendo Kirigaya Suguha (Leafa) yang merupakan sepupu Kirito, ahli tembak Asada Shino (Sinon), dan pegawai pemerintah yang jadi kontak Kirito, Kikuoka Seijurou—tampil dan berperan. Hal-hal imut tentang SAO, kalau kalian suka dengan itu, juga ada. Aku sendiri memperkirakan bobot fanservice dalam film ini mungkin mencapai 35%.

Aku terutama terkesan dengan bagaimana Kirito ditampilkan seakan kesetanan saat mengejar peringkat ini. Atau saat Asuna menggalang orang-orang yang belum ia kenal dalam melawan boss. Lalu juga pada bagaimana Suguha melatih ulang fisik Kirito dari jauh berhubung sedang mengikuti kamp pelatihan di luar kota.

Jadi kayak, semua yang sejak dulu ada di SAO berhasil dimasukkan secara seimbang ke film ini. Termasuk elemen-elemennya yang mungkin kurang kau sukai. Aku jadi maklum kenapa movie ini terbilang berhasil di Jepang. Bahkan, kalau dibandingkan Endymion no Kiseki dari seri Index beberapa tahun lalu, kurasa Ordinal Scale jauh lebih bisa aku sukai.

Janji Melihat Bintang

Untuk menyimpulkan, untuk kalian yang sudah cukup menyukai SAO apa adanya, maka kalian juga akan menyukai Ordinal Scale. Untuk kalian yang kurang menyukai SAO, film ini takkan membuat kalian berubah pikiran. Sedangkan untuk kalian yang belum pernah tahu tentang SAO sebelumnya, lalu kebetulan melihat film ini, mungkin kalian akan sedikit bingung dengan banyaknya referensi terhadap kejadian yang lalu. Walau begitu, inti ceritanya masih bisa diikuti, lalu mungkin kalian malah jadi tertarik dengan waralaba utamanya.

Akhir kata, aku enggak bisa menilai Ordinal Scale jelek. Memang ada kekurangan-kekurangannya, tapi itu jenis kekurangan yang benar-benar khas SAO.

SAO dari waktu ke waktu kerap menampilkan hal-hal yang menurutku agak berlebihan dan konyol (sejumlah orang menyebutnya ‘lebay’). Tapi sesuatu yang agaknya hanya bisa SAO lakukan bagiku adalah bagaimana hal-hal berlebihan dan konyol tersebut ditampilkannya selalu dengan cara yang tak pernah bisa sepenuhnya aku tertawakan. Kenapa? Karena meski aku merasa hal-hal tersebut berlebihan dan konyol, pada saat yang sama, hal-hal itu jadi mengingatkanku pada hal-hal lain yang lebih serius dan dalam.

Dalam konteks ini, pada bagaimana hilangnya ingatan Asuna jadi mengingatkan pada penderita Alzheimer gitu. Frustrasi yang dirasakannya bukan hal yang mudah diekspresikan. Menariknya, tak semua korban hilangnya ingatan tersebut memperlihatkan reaksi yang sama. Karena hal-hal seperti di atas, kadang aku merasa SAO lumayan penuh dengan alegori.

Apa lagi ya?

Cerita Ordinal Scale berakhir dengan resmi bertunangannya Kirito dan Asuna. Jadi walau ceritanya lepas, Ordinal Scale agak memperbesar pertaruhan dalam bab Alicization nanti. Ada kemungkinan season ketiga animenya bakal memperbaiki beberapa kelemahan di novelnya. Tapi yeah, itu bukan analisa, cuma pengharapanku pribadi.

Klasik untuk kasus SAO, identitas tokoh antagonisnya bukan teka-teki. Mereka sama-sama punya kaitan dengan insiden SAO. Shigemura-sensei adalah guru mendiang Kayaba Akihiko dan Sugou Nobuyuki. Seperti halnya Sugou, Shigemura sekedar memanfaatkan teknologi cetusan Kayaba melalui piranti Augma hasil kembangannya. Lalu Eiji, atau Nochizawa Eiji, yang sebelumnya memakai nama Nautilus, adalah mantan bawahan Asuna. Dia seorang anggota Knights of the Blood yang dulu kurang dikenal karena tak pernah maju ke garis depan.

Keduanya bukanlah karakter yang kompleks atau berbobot. Tapi cara mereka menjutsifikasi tindakan mereka sebagai penanganan trauma, padahal yang ingin mereka pulihkan adalah luka masa lalu mereka sendiri, lumayan menarik. Dalam hal ini, untuk mendatangkan kembali seseorang bernama Shigemura Yuuna, terlepas dari apa konsekuensi yang harus dihadapi.

Selebihnya, hal-hal paling menarik di Ordinal Scale terjadi dengan tersirat.

Pertama, tentang Kayaba Akihiko. Meski secara fisik telah wafat, sekali lagi dikonfirmasi bahwa dirinya masih ‘hidup’ dengan suatu cara. Janggalnya, Shigemura nampaknya tahu juga tentang ini. Lalu anehnya, ia kelihatan tak menaruh dendam atas peranannya dalam insiden SAO.

Kedua, tentang Kikuoka. Kikuoka, yang mewakili pemerintah Jepang, sekali lagi dimintai bantuan oleh Kirito saat terungkap maksud sesungguhnya dikembangkannya Augma itu apa. Tapi di akhir film, terungkap bahwa Kikuoka membebaskan Shigemura dari segala tuntutan. Kikuoka bahkan memperlihatkan pada Shigemura penemuan baru yang telah dikembangkannya, yang lagi-lagi merupakan foreshadowing terhadap bab Alicization.

Terakhir, tentang Yui. Yui yang mungkin berperan paling vital dalam penyelesaian masalah. Sedemikian besar peranannya, aku sampai berpikir bahwa sebagai rogue AI, Yui bisa sangat berbahaya kalau bukan berkat asuhan dan didikan Asuna dan Kirito. Jadi, begitu terungkap bahwa sebenarnya Augma adalah hasil modifikasi dari NervGear, segala solusinya, begitu saja, langsung terlihat di mata Yui. (Ini juga jadi salah satu alasan kenapa klimaks film ini kurang memuaskan.)

Terkait ini, beberapa kali pernah diimplikasikan bahwa Kirito tak sepenuhnya mempercayai Kikuoka. Keduanya sama-sama belum membuka seluruh kartu masing-masing. Lalu lewat film ini, lagi-lagi kita diingatkan bahwa Kikuoka mungkin masih belum juga diberitahu Kirito tentang asal-usul Yui yang sesungguhnya… yang mungkin tanpa disadarinya telah berdampak pada apa-apa yang nanti akan terjadi.

Yah, demikian deh. Kita pantau saja terus perkembangan waralaba ini ke depan.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B

27/12/2016

Occultic;Nine

Occultic;Nine adalah seri misteri sains fiksi yang di permukaan, mengetengahkan sembilan orang berikut:

  • Gamon Yuuta, seorang siswa SMA kelas dua yang dengan maksud untuk memperoleh pemasukan dari iklan, membuka situs blog afiliasi Kiri Kiri Basara yang mengumpulkan berita-berita supernatural. Salah satu kekhasan web Kiribas adalah sudut pandang bahasannya yang kritis dan skeptis terhadap kasus-kasus supernatural. Meski ceria dan terkadang banyak omong, sifat Gamon bisa lembek dan tak mau terlibat masalah. Dirinya juga sadar dengan kecendrungannya untuk menjadi NEET. Nama panggilannya adalah Gamo-tan (seperti kodok) atau Gamonosuke (seperti samurai) atau sekedar Gamo-senpai.
  • Narusawa Ryoka, teman perempuan Yuuta yang satu sekolah dengannya (dan berdada besar) yang menyatakan diri sebagai bawahannya, yang dengan setia(?) dan sangat ceria(?) akan mengikutinya ke mana-mana. Ryoka, yang nama panggilannya Ryo-tas, mendukung kesuksesan situs web Kiribas agar suatu hari Gamon mentraktirnya makan frozen yogurt dengan uang pemasukan yang mereka peroleh. Untuk suatu alasan, Narusawa punya semacam stun gun berbentuk senjata laser berdesain jadul yang disebut Poya Gun yang terkadang digunakannya untuk menyetrum Gamon.
  • Hashigami Sarai, seorang mahasiswa tingkat awal yang mengambil sudut pandang ultra-realis dan sangat kritis terhadap segala berita berbau supernatural. Dirinya pengunjung tetap di situs web Kiribas. Ayahnya adalah Hashigami Kansei, seorang ilmuwan fisika yang belum lama ini menjadi figur narasumber ternama untuk segala hal berbau supernatural.
  • Aikawa Miyuu, adik kelas Gamon dan Narusawa yang belakangan populer sebagai peramal online berwajah imut. Menggunakan kartu-kartu tarot, ia memiliki tingkat akurasi yang tinggi untuk prediksi-prediksinya. Sifatnya riang dan baik hati. Nama panggilan untuknya adalah Myu-pom.
  • Sumikaze Touko, seorang perempuan muda berkacamata yang bekerja sebagai reporter majalah Mumuu yang khusus membahas berita-berita supernatural. Memiliki pribadi yang aktif serta kemampuan pengamatan tajam. Ia sering mengucapkan kata Ascension!” saat ada suatu hal baru yang dipahaminya.
  • Kurenaino Aria, seorang gadis remaja dengan wajah seperti boneka yang membuka jasa layanan kutukan berbasis ilmu hitam. Untuk melakukan jasanya, ia memerlukan bagian tubuh dari target bersangkutan, seperti kuku dan rambut. Sifatnya pendiam dan antisosial. Menyembunyikan masa lalu yang agak kompleks.
  • Kusakabe Kiryuu, seorang pria misterius bernuansa gelap yang kerap menampakkan diri di tempat Aria baik dalam wujud nyata maupun gaib. Mungkin bisa dibilang semacam rekan kerjanya.
  • Nishizono Ririka, seorang mahasiswi(?) di universitas yang sama dengan Sarai, yang juga memiliki profesi sebagai pembuat doujinshi. Sangat cantik, namun juga memiliki sisi misterius dengan bagaimana ia membatasi diri dari orang lain. Pada suatu titik, terindikasi bahwa adegan-adegan dalam komik-komik doujin buatannya sedikit banyak menggambarkan kejadian-kejadian yang akan berlangsung di masa depan.
  • Moritsuka Shun, seorang detektif kepolisian dengan badan seperti anak-anak. Karenanya, dia jadi sering terlihat seperti anak remaja yang sedang cosplay, meski nyatanya dia polisi betulan. Nyata-nyata seorang otaku. Karenanya, metode-metode penyelidikannya tak konvensional. Cenderung banyak omong. Tapi seperti Colombo, mungkin itu yang membuat orang-orang gampang lengah bila berada di dekatnya.

Berlatar di Kichijoji, Tokyo, pada  suatu masa ketika booming segala sesuatu berbau occult tengah melanda masyarakat, Occultic;Nine berlangsung pada beberapa minggu menjelang akhir musim dingin, dari akhir Februari sampai awal Maret. Tepatnya, ketika serangkaian kasus ganjil terjadi yang memunculkan tanda tanya bagi setiap orang. Diawali kematian misterius sesosok ilmuwan ternama, kejadian bunuh diri massal ratusan orang hanya dalam semalam, serta hadirnya sosok-sosok misterius di jalanan yang mungkin hanya bisa dilihat sebagian orang.

Dasar Air yang Gelap

Anime Occultic;Nine diangkat dari seri novel berjudul sama karangan Chiyomaru Shikura, dengan ilustrasi yang dibuat pako. Penerbitnya adalah Overlap. Buku pertama diterbitkan pada Agustus 2014 dan buku kedua diterbitkan pada April 2015.

…Iya. Baru dua buku yang terbit waktu ini kutulis. Cerita seri novelnya sendiri konon masih belum tamat. (Atau dipaksa tamat?)

Aku samar-samar ingat sempat ada kehebohan ketika beredar kabar kalau penerbitan buku ketiganya akan ditunda. Kejadiannya, kurasa sekitar akhir tahun 2015? Penundaan itu mungkin terjadi menyangkut keputusan untuk mengangkat seri ini ke bentuk game. Lalu keputusan untuk mengadaptasi ceritanya ke bentuk anime mungkin juga dalam rangka untuk menyambut game tersebut.

Buat yang belum tahu, Chiyomaru-sensei, yang juga bekerja sebagai ‘penulis’ di perusahaan pengembang 5pb. Games, dikenal sebagai salah satu pencetus seri game science adventure  yang 5pb. awalnya kembangkan bersama Nitroplus. Dalam hal ini, khususnya, seri perjalanan waktu fenomenal Steins;Gate dari tahun 2010 yang masih disayang para penggemarnya bahkan hingga kini. (Aku sebut ‘penulis’ karena jabatan beliau yang sebenarnya adalah sebagai direktur eksekutif perusahaan Mages. Inc., yang menjadi perusahaan induk 5pb. serta beberapa perusahaan lain.)

Versi game Occultic;Nine sendiri juga dikembangkannya oleh 5pb.. Perilisannya dijadwalkan pada tahun 2017 yang akan datang.

Salah satu alasan Occultic;Nine menuai sensasi dulu adalah karena ketiadaan kaitan Occultic;Nine dari segi cerita dengan tiga seri science adventure Chaos;Head, Steins;Gate, dan Robotic;Notes. (Ditambah kini, yang akan tayang pada musim dingin nanti, Chaos;Child, yang menjadi sekuel langsung dari Chaos;Head.) Karena ketiga game tersebut punya cerita latar yang saling berhubungan (tepatnya, di soal tema konspirasi yang diangkat), terbitnya Occultic;Nine seperti menjadi awal suatu seri sejenis, namun terbebas dari yang lalu-lalu gitu. Sekalipun, Occultic;Nine rupanya tetap mempertahankan cara penulisan judulnya yang khas.

Animenya sendiri diproduksi oleh studio ternama A-1 Pictures. Penyutradaraannya ditangani bersama oleh Ishiguro Kyouhei dan Kuroki Miyuki. Komposisi serinya ditangani oleh Morita To-Jumpei. (Aku tak kenal nama ini. Mungkinkah ini pseudonym?) Musiknya ditangani oleh Yokoyama Masaru yang belakangan tengah naik daun. Pertama tayang pada musim gugur tahun 2016, jumlah episodenya sebanyak 12.

Kalau memikirkan baik-baik segala situasi dan kondisi terkait produksinya, lumayan wajar bila berbagai kontroversi menyangkut anime Occultic;Nine agak tak bisa dihindari.

Matamu Akan Menjadi Mimpi Tiada Akhir

Jadi, sebelum menyinggung kualitasnya secara teknis, perlu kusinggung bahwa di samping temanya yang aneh, adaptasi anime Occultic;Nine terus terang punya aspek cerita yang agak, uh, cacat.

Selain karena cerita di novelnya belum tuntas, durasi animenya dibatasi hanya 12 episode (dan bukan 20-an seperti adaptasi anime seri-seri science adventure pendahulunya). Hal ini memaksa narasinya dipadatkan sedemikian rupa dan disampaikan dengan tempo gila-gilaan. Belum lagi dengan jumlah tokoh sentralnya yang banyak, yang masih ditambah dengan tokoh-tokoh baru dan tokoh-tokoh sampingan yang lain. Sehingga tak hanya menampilkan misteri yang belum tuntas pembahasannya, penyampaiannya juga dilakukan dengan sedemikian rupa yang membuat ceritanya sulit dipahami oleh kalangan penonton awam.

Sewaktu episode pertama ditayangkan, konon, semua pemerhatinya kebingungan. Para penonton awam bingung karena sulit mencerna apa-apa yang baru terjadi. Para penggemar lama yang telah membaca novelnya juga konon bingung karena episode satunya saja sudah mencakup hampir seluruh cerita di buku pertamanya.

Secara pribadi, aku jadi benar-benar merasa kalau mungkin anime ini diproduksi dengan tujuan semata-mata untuk mempromosikan gamenya? Soal novelnya bahkan tak perlu disinggung. Lanjutannya masih belum jelas kapan akan keluar. Jadi semua jawaban yang kita cari kelihatannya hanya akan ada di versi gamenya.

Jadinya, ada lumayan banyak teka-teki dalam animenya yang dibiarkan menggantung dan tak terjawab sampai akhir. Maksudku, lebih banyak dari biasa untuk ukuran seri anime sejenis ini. Siapa sebenarnya anak albino yang melakukan rangkaian pembunuhan sadis itu? Pada pihak mana Moritsuka melapor? Apa sebenarnya agenda yang dimiliki Nishizono?

Untungnya, kelemahan-kelemahan ini lumayan berhasil diimbangi dengan sejumlah keunggulan dari sisi teknis.

Pertama, visual anime ini keren. Ada suatu kekhasan kuat pada desain karakter pako-sensei (meskipun iya, gaya beliau adalah gaya yang bisa membuat ilfil sebagian orang). Lalu arahan visual anime ini secara sukses mendukung hal tersebut.

Ada banyak pemandangan latar urban yang berkesan dari Kichijoji—kerap kali dari sudut-sudut pengambilan gambar yang tak biasa—dengan perhatian terhadap detail yang seriusan memukau. Mulai dari kafe Blue Moon (benar ini cara mengeja namanya?) milik seorang lelaki feminin bernama Izumi Kouhei (yang wi-fi gratisnya kerap  Gamon dan Narusawa gunakan), taman bermain anak tempat Gamon dan Narusawa pertama bertemu, rumah dan ruang kerja Hashigami di mana ia menjalankan penelitiannya yang penuh rahasia, kampus Sarai yang menjadi TKP, kuil-kuil Shinto di Kichijoji, gedung sekolah Gamon dan Narusawa, hingga ruang pertemuan misterius dan gelap tempat Takasu menyampaikan presentasinya kepada para petinggi yang mensponsori konspirasi.

Aspek audionya sendiri benar-benar kuat. Ada banyak nama veteran yang berperan sebagai seiyuu. Itou Kanako, seperti dalam adaptasi anime seri science adventure lain, kembali sebagai penyanyi yang membawakan lagu pembuka seri. Pendatang baru Asaka membawakan lagu “Open Your Eyes” yang menutup tiap episode secara pas dengan nuansanya yang menggambarkan betapa rapuhnya kita sebenarnya sebagai manusia. Lalu, ada aransemen musik khas dari Yokoyama-san yang memberi kombinasi nuansa suram sekaligus kocak terhadap cerita.

Lalu soal eksekusinya… meski menyakitkan bagaimana semua ide menarik Occultic;Nine dipaksa masuk tanpa benar-benar terjelaskan ke dalam cerita, perlu kuakui pengeditannya brilian. Ada pemotongan adegan berulang. Sorotan ceritanya melompat ke mana-mana. Lalu ada dialog-dialog yang dilangsungkan dalam tempo yang benar-benar cepat. Walau begitu, benang merah cerita yang utama secara umum tersampaikan. Lalu, kalau mengkaji struktur ceritanya, aku agak bisa memaklumi kenapa narasinya jadi berantakan begini. Plotnya terstruktur bukan dengan bentuk saling sambung menyambung gitu, tapi lebih ke gimana satu tertumpuk di atas yang lain. Jadi, cocok bila dibawakan dalam media tertulis, tapi perlu waktu dan kehati-hatian dalam bentuk tontonan.

Kelanjutan Mimpi Ini… Ada di Masa Depan yang Terlampau Jauh

Satu kabar baik yang mengiringi penayangan anime ini adalah telah dimulainya penerjemahan novelnya ke Bahasa Inggris. Lisensornya adalah pihak relatif baru J-Novel Club yang menampilkan terjemahan Bahasa Inggris per bab berbagai light novel menarik untuk para anggota berbayar (sebagian besar adalah judul-judul relatif baru, dengan harga yang perlu kuakui bener-bener murah).

(Untuk para pengunjung yang belum berbayar, bab-bab awal sebuah seri akan bisa dibaca gratis sampai buku pertamanya beres diterjemahkan.)

Novel Occultic;Nine merupakan salah satu novel pertama yang mereka sediakan. Lalu berdasarkan ulasan yang aku baca dan pengalaman pribadiku membaca bab-bab awalnya, cerita novelnya seriusan bagus. Enak dan menarik untuk dibaca. Lalu, buat kalian yang kurang tahan dengan sikap Gamon dan Narusawa yang banyak tingkah, karena suatu alasan kalian akan bisa jauh mentolerir mereka dalam versi novelnya ini.

Buat kalian yang masih bingung bahkan setelah mengikuti animenya hingga akhir, sederhananya , Gamon dan kedelapan orang lainnya adalah korban eksperimen massal yang dicanangkan konglomerat medis MMG. Narusawa, dengan bimbingan roh Aveline dari masa lalu, mengkhianati keluarganya sendiri untuk menggagalkan proyek jangka panjang mereka yang telah berlangsung puluhan tahun. Tema yang diangkatnya seputar bagaimana konsep roh telah bisa didefinisikan dari sudut pandang sains. Gampangnya, sebagai semacam badan energi yang dapat dipengaruhi dengan gelombang-gelombang elektromagnetik. Lalu konfliknya berakar dari bagaimana ada suatu pihak dengan pengaruh sangat besar hendak menawarkan teknologi baru ini kepada orang-orang terpilih dengan mengorbankan orang-orang lainnya. Mendiang ayah Gamon, ceritanya, terlibat dalam pembangunan organisasi ini sebelum terjadi perpecahan dan ia menjadi korban. Lalu oleh ayahnya, Gamon sebenarnya telah diwariskan salah satu kunci yang diperlukan untuk menggagalkan rencana mereka.

Berbagai fenomena supernatural dikisahkan sebenarnya disebabkan oleh badan-badan energi ‘roh’ ini. Badan-badan energi roh biasanya tak kasat mata karena berada dalam dimensi waktu yang berbeda dari zat-zat hidup (kalau enggak salah, karena jadi punya… frekuensi dan panjang gelombang yang berbeda sesudah kehilangan ‘wadah’ fisiknya). Tapi lewat injeksi suatu zat bernama Scandium, ditambah rangsangan dari suatu gelombang elektromagnetik tertentu, perbedaan panjang gelombang ini ceritanya bisa disiasati melalui suatu teknologi yang disebut World System. Hasilnya, badan-badan energi jadi bisa ‘dijangkarkan’ ke dimensi waktu yang sama dengan benda hidup. Teorinya, ini memungkinkan orang-orang yang meninggal dunia jadi bisa tetap bertahan di dunia, dan secara efektif memperoleh kehidupan abadi.

Rinciannya tentu saja lebih rumit dari itu sih. Soalnya, intrik dalam Occultic;Nine sebenarnya sangat banyak.

Terasa bagaimana ada banyak subplot yang semula hendak dimasukkan dalam cerita, tapi berakhir tak tertuntaskan. Beberapa contohnya seperti: penelepon misterius yang menghubungi Aikawa dalam salah satu acara meramalnya, yang berakhir tak terungkap identitasnya meski diindikasikan kuat bahwa ia terlibat dalam cerita; siapa sang Kaisar yang dilayani oleh Takasu dan apa sesungguhnya yang telah menimpanya; signifikasi peran Minase Ria dengan mendiang kakaknya, Takaharu; hadirnya seorang agen FBI remaja dengan kekuatan psychometry bernama Kisaki Asuna yang ikut dalam penyelidikan karena mengejar jejak Moritsuka (belakangan ia ikut bergabung sebagai salah satu Basara Girls dengan nama panggilan Asu-nyan);lalu twist terbesar sebelum kejutan penutup di penghujung cerita, bagaimana Nishizono bisa tiba-tiba kembali lenyap bahkan sesudah para karakter kembali ke dimensi waktu yang asal.

Mau tak mau, aku jadi berpikir kalau Occultic;Nine mungkin masih berkaitan dengan Anonymous;Code, proyek lain dari 5pb. yang pengembangannya sudah diumumkan sejak perempat awal tahun 2016, tapi masih belum rilis sampai saat ini aku tulis.

…Mungkin karena temanya yang mirip.

Mutual Recognition

Mungkin karena ketertarikanku terhadap genre misteri dan sains fiksi, aku selalu senang bila ada seri science adventure yang diangkat menjadi anime. Kesukaanku sedemikian besarnya sampai-sampai aku bisa tahan dengan sifat para karakternya, seaneh apapun kelakuan mereka.

Occultic;Nine secara umum memang mengecewakan. Tapi daripada karena jelek, mengecewakannya lebih karena sifatnya yang lebih mirip teaser ketimbang karya jadi.

Setelah kupikir, kasusnya mungkin mirip anime Punch Line beberapa waktu lalu, yang juga berakhir dengan dibuat gamenya. Sebagai anime, Punch Line masih lebih menghibur ketimbang Occultic;Nine, sekalipun dari segi konsep, Occultic;Nine sebenarnya lebih keren. Mungkin juga karena cakupan cerita Occultic;Nine yang benar-benar terlalu besar. Seperti halnya Punch Line, versi game Occultic;Nine juga akan menawarkan rute-rute cerita baru dengan potensi akhir cerita yang berbeda pula (yang kudengar akan dipicu lewat postingan-postingan baru di situs Kiribas). Yah, mungkin soal ini aku akan ulas lagi setelah memperoleh informasi lebih banyak.

Sedikit info soal judul-judul science adventure yang lain sebagai penutup.

Anonymous;Code adalah salah satu judul akan datang yang sejak awal diinfokan tak berhubungan dengan tiga game science adventure yang pertama. Ceritanya dimulai pada tanggal 6 Februari  2036 pada jam 06:28:15, ketika algoritma perhitungan waktu pada seluruh komputer di dunia mengalami overflow, menyebabkan kelumpuhan sistem berakibat bencana fatal pada sejumlah kota besar. Sehubungan bencana serupa yang lebih besar diprediksi akan terjadi pada tahun 2038, suatu ‘simulator Bumi’ dijalankan melalui komputer super Gaia untuk mengkonfirmasi hal tersebut. Namun demikian, ditemukan serangkaian hal aneh menyangkut keberadaan manusia di simulasi itu. Lalu saat para manusia di Bumi simulasi mulai membangun simulator Bumi mereka sendiri, para peneliti, yang semula senang, menjadi curiga kalau jangan-jangan keberadaan mereka sendiri juga sebenarnya hanyalah hasil suatu simulasi. Tokoh utamanya seorang pemuda hacker bernama Takaoka Poron, yang lewat kontaknya dengan seorang gadis misterius bernama Aizaki Momo, dihadapkan pada kenyataan dunia yang sebenarnya. (Mungkin kalian sekarang mengerti kenapa aku merasa game ini berkaitan dengan Occultic;Nine.)

Steins;Gate 0 yang belum lama ini dirilis juga konon sudah dikonfirmasi akan diangkat ke bentuk anime. Buat kalian yang sempat mengikuti cerita Steins;Gate yang orisinil, mungkin kalian ingat bagaimana menjelang akhir cerita, Okarin mendapat petunjuk terakhir dari sosok dirinya sendiri di masa depan. Cerita Steins;Gate 0 pada dasarnya adalah tentang sosok Okarin yang telah gagal di masa depan tersebut. Sejauh yang aku dengar, ceritanya benar-benar bagus dan tak kalah dari Steins;Gate yang pertama. Ibaratnya, itu cerita ekspansi yang tak kau kira akan perlu.

Chaos;Child sendiri, yang gamenya sudah dirilis agak lama dan animenya akan tayang musim depan, berlatar enam tahun sesudah Chaos;Head. Tokoh utamanya adalah Miyashiro Takuru, kepala Klub Surat Kabar di sekolahnya. Bersama Onoe Serika, sahabat masa kecilnya, dan Kurusu Nono, adik perempuan angkatnya, Takuru melakukan penyelidikan atas serangkaian pembunuhan sadis yang meniru rangkaian pembunuhan New Generation yang terjadi dalam Chaos;Head. Kesemua tokohnya adalah mereka yang bertahan hidup dalam bencana gempa enam tahun silam, dan ceritanya mengangkat soal kekuatan-kekuatan super pengubah realita yang jadi mereka miliki. Meski berdurasi panjang, aku dengar gamenya benar-benar bagus, dengan sistem delusional trigger dari Chaos;Head yang juga kembali hadir di dalamnya. Karena itu pula, sejumlah penggemar konon mengamuk dan langsung pesimis begitu beredar kabar kalau animenya hanya akan berdurasi satu cour.

Aih, nampaknya tren buruk yang dialami Grisaia dan Rewrite masih akan berlanjut.

Yah, kembali soal Occultic;Nine, aku kagum dengan bagaimana para karakternya bersuara dan bergerak. Tapi aku tetap penasaran dengan ceritanya. Karenanya, aku mau mengusahakan bisa membeli dan membaca terjemahan Bahasa Inggris novel-novelnya di masa depan.

Untuk kalian penyuka misteri, mungkin anime ini takkan benar-benar aku rekomendasikan. Tapi untuk kalian penyuka beragam hal aneh yang hanya bisa ditemukan dalam anime… (kalau kalian tahu maksudku) kurasa ini seri yang patut dilihat. Aku takkan menilainya jelek sih, tapi aku takkan menilainya bagus juga. Inspiratif… mungkin lebih tepat.

Aku punya perasaan bahwa seandainya ini berlanjut sebagai novel, ceritanya sebenarnya hendak mengeksplorasi berbagai hal aneh menyangkut dunia occult. Seperti soal hantu, monster, masyarakat rahasia, dan alien. Kalian tahu, seperti dalam Sekimatsu Occult Gakuin atau The X Files. Hanya, mungkin, dalam cerita yang lebih terintegrasi.

Tapi sudahlah soal itu.

Penilaian

Konsep: A-; Visual: A; Audio: B; Perkembangan B-; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B

21/02/2016

Subete ga F ni Naru

Dulu, aku lumayan menggemari genre misteri. Pernah ada masa ketika aku rutin membeli terbitan ulang novel-novel Agatha Christe (untuk suatu alasan, meski sangat terkesan oleh karakternya, aku tak segitunya terkesan oleh cerita-cerita Sherlock Holmes). Tapi seiring aku dewasa, aku sampai ke kesimpulan kalau ada sejumlah misteri yang sampai akhir memang lebih baik dibiarkan tak terjawab.

Aku sebenarnya sampai ke kesimpulan ini bahkan sebelum aku memainkan Umineko no Naku Koro ni keluaran 07thExpansion. Jadi, wahai para pembacaku yang (mungkin) setia, sebenarnya aku sampai ke kesimpulan ini bukan karena seri itu.

Malah, bisa dibilang aku tertarik pada Umineko justru karena kesimpulan ini. Aku tak menyadarinya di awal, tapi perkembangan cerita Umineko yang ternyata paling baik menggambarkan perasaanku saat itu.

Yah, intinya, aku bosan dengan format yang dipunyai cerita-cerita misteri.

Meski aku tak sampai benar-benar jadi pandai dalam memecahkan kasus-kasus, suatu bagian bawah sadarku membuatku berpikir, “Apa iya ini cuma segini?” Lambat laun, aku merasa adanya sesuatu yang ganjil. Lalu, seperti yang Battler sendiri bilang pada Beatrice, rasanya seperti hatinya tidak ada.

Hati apa yang dimaksud Battler?

Yah, aku enggak akan menjelaskannya. Berhubung itu jadi spoiler buat Umineko.

Tapi terlepas dari itu, hal tersebut yang jadi alasan pertama aku tertarik pada Subete ga F ni Naru (‘segalanya menjadi F’), atau juga dikenal dengan judul The Perfect Insider (‘orang dalam yang sempurna’). Pertama itu. Lalu berikutnya, karena ceritanya yang bersetting di paruh akhir dekade 1990an.

Waktu adaptasi animenya diumumkan akan tayang pada musim gugur tahun 2015 lalu (ketika genre anime misteri sedang mulai ngetren), aku serta merta langsung tertarik pada seri ini. Jumlah episodenya sebanyak 11, dan ini salah satu seri yang sempat tayang untuk slot waktu Noitamina. A-1 Pictures yang memproduksinya. Sutradaranya adalah Kanbe Mamoru (sutradara veteran yang telah menangani hal-hal menakutkan macam Denpa Teki na Kanojo dan Elfen Lied sampai hal-hal ‘manis’ seperti Cardcaptor Sakura dan So Ra No Wo To), dan naskahnya dikomposisi oleh Ono Toshiya.

Ceritanya didasarkan pada novel berjudul sama karangan Mori Hiroshi, yang diterbitkan Kodansha pada tahun 1996. Novel tersebut menjadi novel pertama yang mengawali seri detektif S&M buatannya, yang mengetengahkan dua karakter Saikawa Souhei dan Nishinosono Moe. Ceritanya kelihatannya sedemikian uniknya, sampai meraih penghargaan Mephisto Prize.

Adaptasi animenya ini terjadi nyaris setahun menyusul adaptasinya ke bentuk dorama live action, yang sempat menarik perhatian pada perempat akhir tahun 2014. Seri televisi ini sebenarnya lebih mirip kumpulan cerita yang mengetengahkan Souhei dan Moe ketimbang adaptasi novelnya semata, dengan Ayano Gou berperan sebagai Souhei dan Takei Emi berperan sebagai Moe.

Sebelumnya lagi, pada tahun 2002, novel ini sempat diadaptasi ke bentuk visual novel oleh pengembang KID.

Sebelumnya lagi lagi, pada tahun 2001, novel ini juga sempat diadaptasi ke bentuk manga oleh Asada Torao. Lalu lebih belakangan, pada tahun 2015, sempat diadaptasi ulang ke bentuk manga, kali ini oleh mangaka Brave10 S, Shimotsuki Kairi. (Aku samar-samar ingat kalau ada sesuatu yang benar-benar menarik pada desain karakter versi Shimotsuki-sensei.)

Mungkin patut kusinggung juga bahwa desain karakter yang digunakan di animenya adalah buatan Inio Asano, pengarang manga Solanin dan Oyasumi Punpun, yang dikenal karena penggambaran drama psikologisnya yang kuat.

Siapa Kau

Inti cerita Subete ga F ni Naru berfokus pada tiga individu, yaitu dua tokoh utama kita, Saikawa Souhei dan Nishinosono Moe; serta Magata Shiki, seorang programmer jenius yang dituduh telah membunuh kedua orangtuanya pada usia 14 tahun, tapi kemudian dinyatakan tak bersalah karena ‘kondisi psikologis’-nya.

Shiki semenjak itu kemudian mengurung diri di lab riset swasta miliknya di suatu pulau terpencil (Institut Penelitian Magata) selama belasan tahun. Lalu cerita terjadi saat mahasiswa-mahasiswa yang berhubungan dengan kelas seminar Souhei mengadakan kunjungan wisata ke Pulau Himaka, di mana lab tersebut berada.

Saikawa Souhei adalah dosen muda di Universitas Nasional N, yang mendalami komputer, sangat cerdas, namun merasa tersisihkan dari dunia. Dirinya adalah murid terakhir Profesor Nishinosono, mendiang ayah Moe, sebelum beliau kemudian wafat bersama istrinya.

Nishinosono Moe, anak perempuan mentor Souhei, adalah mahasiswi arsitek cerdas yang memiliki kemampuan pengamatan dan kalkulasi luar biasa, meski terkadang ia suka melompat dari satu kesimpulan ekstrim ke kesimpulan ekstrim lain. Semenjak kedua orangtuanya yang kaya raya wafat, Moe sedikit banyak telah ‘dijaga’ oleh Souhei. Lalu meski Souhei seakan kerap bersikap cuek terhadapnya, Moe merasakan rasa sayang dan ketertarikan yang besar terhadapnya.

Souhei sejak awal telah mengagumi hasil-hasil penelitian Dr Magata. Tapi mendengar tentang sejarah pribadinya—yang tak pernah meninggalkan lab dan hanya menampakkan diri pada dunia sekelilingnya secara tidak langsung—Souhei sadar bahwa mungkin ia takkan pernah berkesempatan bertemu dengannya. Namun kemudian terungkap bahwa Moe pernah bertemu dan bahkan berbincang-bincang dengan Dr Magata, dalam suatu kesempatan saat ia berkunjung ke labnya. Lalu hal ini kemudian berujung pada rencana wisata ke pulau dekat lab penelitian milik Dr Magata itu.

Singkat cerita, tak dinyana, pembunuhan ruang tertutup kemudian terjadi. Souhei dan Moe, yang semula berkunjung ke lab tersebut dengan harapan bisa bertemu Dr Magata, kemudian menjadi saksi atas dua kematian yang proses terjadinya seakan tak bisa dijelaskan oleh siapapun.

Aku Ingin Berbicara Denganmu

Hal pertama yang berkesan buatku dari anime Subete ga F ni Naru adalah animasi pembuka dan penutupnya. Pembukanya diiringi lagu ‘talking’ bernada ceria dari band KANA-BOON, sedangkan penutupnya diiringi lagu ‘Nana Hitsuji’ dari band Scenarioart. Dua lagu tersebut, sekaligus animasi yang menghiasinya, menurutku membawakan nuansa yang pas buat seri ini, dengan kurang lebih sama-sama membuat kita mikir, ini semua maksudnya gimana sih?

Animasinya juga sekaligus membuktikan kehandalan A-1 Pictures. Motif komputer dalam cerita, kebingungan dan rasa penasaran para tokoh utama, penggambaran hubungan mereka lewat imaji tiga tokoh utamanya yang seakan melakukan drama tarian—yang mana sosok Souhei dan Moe dengan frustrasi senantiasa mengejar sosok Shiki yang terus menghilang—merupakan cara penggambaran yang benar-benar keren dan memang hanya bisa ditampilkan dalam bentuk animasi.

Sekilas ini tak terdengar istimewa sih. Tapi kekerenan ini juga terasa pada bagaimana mereka memadatkan kedua lagu pembuka dan penutup dalam durasi standar satu setengah menit.

Untuk selebihnya… memang mesti diakui kalau ini salah satu anime yang agak susah dimasuki. Apalagi kalau dibandingkan seri drama prosedural Sakurako-san no Ashimoto ni wa Shitai ga Umatteiru yang tayang pada musim yang sama. Meski Subete ga F ni Naru hanya 11 episode, itu saja sudah terasa ‘panjang’ untuk durasi ceritanya. Ini terutama terasa di bagian tengah yang serasa mengalami perkembangan cerita yang bukan hanya benar-benar lamban, tapi juga agak sukar dipahami.

Penyebabnya karena bagi Souhei dan Moe, memahami pribadi Dr Magata Shiki yang misterius, serta apa yang sampai menyebabkan insiden pembunuhan kedua orangtuanya, sama pentingnya dengan memecahkan teka-teki pembunuhan yang terjadi di masa sekarang. Bukan hanya karena mereka meyakini bahwa sebagian petunjuk untuk pembunuhan itu adanya di masa silam, tapi juga karena mereka butuh pengetahuan soal seperti apa kepribadian Dr Magata demi menemukan jawaban atas persoalan pribadi mereka masing-masing.

Persoalan pribadi yang kaitannya soal cara ideal dalam memandang dunia beserta isinya. …Mungkin ini jenis masalah yang khusus hanya dialami orang-orang pintar.

Sedikit demi sedikit, mulai terkuak satu demi satu kenyataan tentang pribadi Dr Magata Shiki. Mulai dari OS orisinil Red Magic ciptaannya, yang sekaligus mengendalikan seluruh sistem yang ada di lab; kepribadian majemuk yang ia punyai; kesaksian orang-orang lain atas pembunuhan orangtuanya; kondisi kejiwaannya yang jauh lebih dewasa dari usianya; kesamaan antara dirinya dan Moe sebagai sesama perempuan cerdas yang kehilangan orangtua mereka di usia muda; robot ciptaannya sendiri yang bisa membuka kunci pintu kamar; bagaimana ia sedemikian cerdasnya, sampai dikatakan satu roh mungkin tak cukup untuk mengisi otaknya; serta kata-kata misterius yang bisa jadi adalah pesan terakhirnya…

Yang Berbeda Adalah Jam Dalam Diri Kita

Mungkin karena latar belakangku di bidang teknik, aku berhasil menebak makna ‘segalanya akan menjadi F’ agak awal. Tapi begitupun, menurutku misteri yang terjadi sebenarnya tetap memikat. Pemaparannya memang agak berlarut di tengah, tapi apa yang terjadi memang sedemikian aneh dan ganjilnya, sampai aku bisa paham kenapa novelnya bisa memukau saat pertama terbit.

Berhubung novelnya berlatar menjelang paruh akhir 90an, saat telepon seluler masih belum umum dan komputerisasi masih belum setersebar sekarang, segala yang Dr Magata ciptakan di labnya benar-benar canggih. Membayangkan apa-apa yang telah dihasilkannya dari segi keilmuan saja sebenarnya menarik.

Di samping itu, interaksi antar karakternya—meski mungkin agak susah dipahami—sebenarnya memang bagus. Souhei, yang biasanya tak begitu tertarik pada segala sesuatu, terpikat pada ‘kemurnian’ pikiran Magata Shiki. Lalu ini menimbulkan konflik antara dirinya dan Moe, yang sejak awal telah jatuh cinta pada Souhei dan telah lama berusaha memahami jalan pikirannya. Bagaimana sesuatu mirip cinta segitiga ini bisa terjadi benar-benar menarik.

Ada banyak detil yang berusaha disampaikan (seperti bagaimana Moe memaksakan diri makan jamur shiitake demi melawan anemia). Ditambah lagi, karakternya lumayan banyak. Karenanya, ini seri yang termasuk susah diikuti. Tapi saat kau berhasil menemukan kaitan satu hal dan hal lainnya, hasil akhirnya bisa lumayan membuatmu berpikir.

Mungkin bukan soal misterinya. Tapi lebih pada pesan apa yang berusaha disampaikan di dalamnya. Buatku pribadi, meski aku tak setuju dengan kesimpulan apa yang Dr Magata dapatkan, setidaknya aku memahami penjelasan soal bagaimana ia bisa sampai ke sana.

Aku Tak Bisa Merokok di Dasar Laut

Bicara soal teknis, seri ini sebenarnya termasuk sedikit di atas rata-rata. Sempat ada kekurangan di beberapa bagian. Tapi secara umum seri ini termasuk enak dilihat dan didengar.

Dialognya banyak. Benar-benar banyak. Bahkan diselingi isapan rokok Sohei pun (dia kecanduan), kalian yang tak suka seri yang banyak bicaranya lebih baik menjauh. Lalu yang kumaksud di sini bukan dialog yang kadang melantur dan diisi candaan seperti di Monogatari. Tapi lebih pada dialog datar dan serius antar orang dewasa yang sebenarnya bisa menyiratkan banyak hal.

Satu hal menarik: menit-menit menjelang akhir setiap episode hampir selalu diisi monolog seorang pria, yang menguak sebagian demi sebagian isi buku catatannya tentang Magata Shiki. Siapa identitas pria ini sebenarnya jelas. Apa yang dialaminya juga jelas. Tapi apa yang disorot tentu saja adalah proses terjadinya. Lalu mungkin ini terdengar aneh, tapi apa yang disampaikan itu sejenis kengerian yang kayaknya ‘asing’ bagi kebanyakan orang gitu. Terus yang mengerikan sebenarnya adalah gimana kengerian itu akhirnya bisa ia ‘terima.’

Akhir kata, ini seri yang pasti cocoknya cuma buat kalangan tertentu. Daripada memberimu ‘perasaan’ seri ini lebih pada memberimu ‘pikiran.’ Ada bagian lemahnya di sana-sini, tapi kurasa akan ada orang-orang yang tetap menyukainya.

Agak aneh melihat gaya gambar Asano-sensei dianimasikan. Apalagi mengingat belum ada manga karya beliau yang diadaptasi ke bentuk anime sejauh ini. Jadi, kurasa itu daya tarik juga.

Penilaian

Konsep: A-; Visual: B+; Audio: B+; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B+

16/11/2015

Saenai Heroine no Sodatekata

Belum lama ini, ada orang yang mencari informasi tentang ‘anime romantis musim gugur.’ Hanya saja yang dimaksudkannya ternyata bukan ‘anime romansa yang keluar di musim gugur’, melainkan ‘anime romansa yang berlatar di musim gugur.’

Aku sempat agak kebingungan dengan ini. Yang latarnya di musim gugur? Memang apa ya?

Kalau musim dingin, sudah pasti itu Winter Sonata kan?

Baru belakangan aku sadar kalau mungkin yang dimaksudkannya adalah White Album 2. Itu seri romansa yang diangkat dari game yang juga mengangkat tema soal musik dan showbiz dalam ceritanya. Kalau tak salah, sebagian besar ceritanya memang berlangsung pas musim gugur, ditandai dengan banyaknya motif daun berguguran pada visualnya.

Tapi terlepas dari itu, berhubung sudah menjelang musim dingin, aku mau bahas Saenai Heroine (Kanojo) no Sodate-kata (ditulisnya ‘kanojo’, tapi dibacanya bisa ‘heroineeh, atau sebaliknya ya?). Ceritanya dibuat oleh Maruto Fumiaki, yang kebetulan juga menuliskan naskah untuk White Album 2. Seri ini juga dikenal dengan judul Saekano: How to Raise a Boring Girlfriend (‘bagaimana cara membesarkan pacar/gadis/tokoh utama wanita yang membosankan’), yang aslinya diangkat dari seri light novel karangan Maruto-sensei sendiri.

Eh? Kenapa aku memilih bahas ini ketimbang White Album 2?

Ukh, anggap aja aku juga punya alasanku pribadi! Ahahaha…

Terlepas dari itu lagi, seri ini dianimasikan oleh studio A-1 Pictures dengan jumlah episode sebanyak 13 (dengan adanya episode 0 sebagai prolog) dan tayang pada awal tahun 2015 ini. Sutradaranya adalah Kamei Kanta yang handal. Satu alasan lain yang sempat membuatku tertarik pada Saekano adalah karena arahan kuat beliau di seri Oreshura, Nanana’s Buried Treasure, serta tentu saja Usagi Drop.

(Mohon untuk tidak tertukar dengan Saikano, alias Saishun Heiki Kanojo, suatu seri romansa lawas lain yang tema ceritanya berbeda sama sekali.)

Stealth

Saekano pada dasarnya berkisah tentang perjalanan sekelompok teman berusia SMA dalam memproduksi… galge game visual novel mereka sendiri.

Sebelum aku bahas lanjut, perlu aku sebutkan kalau tema cerita ini sebenarnya lumayan sensitif buatku. Alasannya karena di salah satu anime favoritku, NHK ni Youkoso!, ada subplot keren tentang bagaimana dua tokoh utamanya bertekad untuk bisa membuat galge game visual novel terhebat sepanjang masa. Subplot ini sayangnya enggak berujung ke mana-mana (perkembangan ini justru adalah salah satu inti ceritanya sih). Tapi aku kerap suka bertanya-tanya, bagaimana seandainya kalau mereka ternyata berhasil.

Lalu, Saekano muncul dan mengangkat tema serupa. Sehingga makanya aku agak…

Agak apa ya?

Yah, begitulah.

Intinya, aku tahu kalau pada satu titik, aku pasti akan tertarik dengan seri ini.

Cerita Saekano dimulai dari bagaimana Aki Tomoya suatu hari terinspirasi untuk membuat galge gamenya sendiri tersebut. Tomoya adalah seorang siswa kelas dua SMA yang notabene seorang otaku (dan karena blognya, sebenarnya lebih terkenal dan lebih berpengaruh dari bayangannya). Kejadian yang menginspirasinya terjadi pada saat liburan musim semi. Saat bersepeda di bukit di dekat rumahnya, Tomoya kebetulan menangkap topi milik seorang gadis cantik yang diterbangkan angin. Tomoya ingin bisa membuat game yang menghadirkan adegan kuat khas VN seperti yang terjadi dalam pertemuan sesaat itu.

(Terdengarnya mirip, tapi kejadiannya sebenarnya lumayan berbeda dari yang terjadi di seri klasik Kimagure Orange Road.)

Maju cepat ke sebulan berikutnya, sekolah sudah mulai lagi di awal tahun ajaran baru. Tomoya sadar kalau dia ingin bisa mewujudkan cita-citanya, dia terutama perlu bantuan dari dua orang kenalannya yang sebenarnya saling tak akur. Dua orang tersebut adalah kakak kelasnya, Kasumigaoka Utaha, dan gadis blasteran yang merupakan teman masa kecilnya, Eriri Spencer Sawamura. Tapi sebelum itu sempat ia lakukan, Tomoya mendapati bahwa gadis cantik yang ia tangkap topinya pada libur musim semi itu ternyata bukan hanya satu sekolah dengannya, tapi juga satu kelas dengannya. Bahkan ia tahu siapa Tomoya, padahal Tomoya sendiri selama ini tak tahu namanya. Hanya saja, daya tarik gadis itu selama itu mungkin takkan pernah disadari Tomoya kalau bukan karena kejadian itu.

Nama gadis itu adalah Katou Megumi. Ia seorang gadis berambut sebahu yang kalau dilihat-lihat, sebenarnya cantik, tapi karena suatu alasan, sama sekali tidak menonjol. ‘Tidak menonjol’ dalam artian kehadirannya bahkan kerap tak disadari, atau bahkan dilupakan. Datar dan sama sekali tak berkesan.

Syok karena tak bisa menerima sumber inspirasinya ternyata aslinya orang seperti ini, Tomoya dengan semangat membara menyeret Megumi untuk ikut terlibat dalam proses produksi gamenya. Peran Megumi: menjadi model yang ideal dari tokoh utama wanita utama dari game yang akan mereka bangun (buset, terjemahan yang bagus buat main heroine itu apa?). Sekalipun untuk itu, Megumi sebelumnya harus ia ‘cuci otak’ dulu untuk mengenal dunia otaku.

Kenapa baru sekarang?

Premis cerita Saekano kurang lebih seperti di atas. Tapi apa yang membuat Saekano benar-benar bagus adalah berbagai hal lain di luar premis itu. ‘Berbagai hal lain’ tersebut tak langsung kelihatan dari episode 0 yang menjadi prolognya. Karenanya, di awal seri, cerita Saekano sekilas benar-benar seperti seri komedi romantis harem biasa.

Begitu melewati episode 0, yang bisa dibilang merupakan semacam bab ‘abstrak’ bagi ceritanya, baru daya tarik Saekano mulai kelihatan.

Jadi, Tomoya itu seorang otaku. Tapi dirinya bukan otaku biasa. Dia adalah maniak di antara para maniak untuk segala yang terkait kebudayaan visual Jepang. Lalu dirinya juga punya pengetahuan dan kemampuan yang membeking hal tersebut. Dirinya sehari-hari bekerja sambilan gila-gilaan bahkan untuk membayari hobi-hobinya. Dirinya punya blog yang ulasannya bisa sampai mempengaruhi penjualan suatu seri baru. Hanya saja, Tomoya sendiri enggak sadar dengan hal tersebut. Selama ini dirinya menganggap dirinya hanya orang biasa. Bahkan pada beberapa adegan, dirinya terlihat lumayan rendah diri dengan keadaannya.

Dia benar-benar karakter donkan. Karena itu dia tak bisa memahami betapa ajaib dan istimewa situasi dan sekelilingnya. (Sesuatu yang ironisnya, justru hanya disadari oleh Megumi seorang sebagai satu-satunya karakter non-otaku di antara mereka.)

Dua orang gadis yang semula mau Tomoya mintai tolong sama-sama punya ‘masa lalu’ dengannya. Walau ‘masa lalu’ itu bukan dalam artian yang mungkin kalian bayangkan.

Kasumigaoka Utaha-senpai dikenal di sekolah sebagai murid teladan di sekolah yang memiliki kecantikan, kecerdasan, pembawaan sangat cool dan mengagumkan, serta lidah tajam yang kritis. Tapi dirinya sebenarnya juga adalah Kasumi Utako, pengarang light novel pendatang baru di bawah label Fushikawa Fantastic Bunko yang belum lama ini menuai kesuksesan besar dengan karya romansanya, Koisuru Metronome!

Sedangkan Eriri Spencer Sawamura, yang merupakan putri keluarga diplomat, dengan bapak orang Inggris dan ibu orang Jepang, selama ini dikenal sebagai sosok putri anggun dengan kecantikan menawan. Tapi dirinya sebenarnya juga adalah otaku rahasia penyuka game yang sekaligus pengarang doujin terkenal, Kashiwagi Eri dari grup Egoistic-Lily! (Ya, dia juga mengarang doujin dengan genre dewasa. Sori, aku lupa bilang. Meski tak sampai menjurus ke arah sana, ada lumayan banyak hal bertema dewasa yang beberapa kali disinggung dalam cerita.)

Utaha-senpai, Eri, serta Tomoya, notabene sebenarnya merupakan tiga orang paling terkenal di sekolah mereka (meski tak satupun dari mereka kelihatannya menyadari hal ini). Lalu kita, dari sudut pandang Megumi, melihat berbagai kekocakan yang terjadi saat Megumi dengan sedikit kebingungan dipaksa turut terlibat dengan orang-orang ini.

Hubungan antara Utaha-senpai dan Eri sejak awal memang tak akur. Mereka memang bisa dianggap saingan, karena menjadi dua siswi paling cantik di sekolah. Tapi alasan sebenarnya mereka ‘saingan’ tak lain karena hubungan masa lalu yang mereka punya dengan Tomoya.

Singkat cerita, dua-duanya sama-sama (‘pernah’ dan ‘masih’) suka pada Tomoya. Situasi mereka sama-sama dijabarkan lebih lanjut pada sejumlah episode flashback.

Tapi makanya, sesudah sekian lama ‘sunyi’ dan tahu-tahu saja Tomoya menjalin kontak lagi dengan mereka, namun kali dengan membawa-bawa seorang gadis lain (Megumi) yang belum pernah mereka kenal, posisi keduanya langsung sulit. Ini terutama soal apakah mereka mau bantu atau tidak, karena tak bersedia membantu berarti memberi kesempatan pada saingan lain untuk ‘mengembat’ Tomoya. Sekalipun Tomoya sendiri, dengan segala antusiasmenya akan proyek ini, hampir bisa dibilang tak menyadari hal ini.

(Sekali lagi, sepertinya cuma Megumi seorang yang sepenuhnya menyadari apa-apa yang terjadi.)

Membidik Musim Dingin

Saekano bisa dibilang adalah seri yang sangat meta. Maksudku, dengan bagaimana sisi fiksi dan nonfiksi dari ceritanya jadi saling bersinggungan dan mempengaruhi.

Ada banyak leluconnya yang sebenarnya lebih dibidik untuk para otaku. Karenanya, meski secara teknis bagus, dengan aspek drama yang benar-benar kuat, aku enggak benar-benar bisa merekomendasikannya untuk kalangan penonton awam. Soalnya banyak leluconnya yang mempelesetkan pola-pola yang sudah umum diketahui otaku, tapi mungkin takkan langsung dipahami oleh kalangan non-otaku. (…Itu juga yang jadi alasan kenapa semua reaksi Megumi jadi menarik sih.)

Bicara soal teknisnya sendiri, seri ini banyak menggunakan warna-warni yang cerah. Daya tarik para karakternya lebih ditonjolkan melalui sikap dan interaksi mereka ketimbang desainnya. Tapi itu tak berarti visualnya tak bagus. Visualnya terbilang sangat bagus, malah. Cuma, kerennya di mana itu enggak terlalu kelihatan kalau kau cuma sekilas melihat. (Setelah kupikir lagi, kayaknya semua seri yang disutradarai Kamei-san memberi kesan seperti ini?)

Dari segi audio, seri ini menampilkan musik latar yang lumayan sejalan dengan gaya musik tipikal visual novel. Jenis pop ringan yang mencoba menampilkan nuansa kuat gitu, dengan kesan agak berulang. Tapi itu pas dengan temanya, dan justru jadi mengimbangi performa para seiyuu yang beneran terbilang keren. (Hyakkoku Hajime yang menangani musiknya, dengan Haruna Luna dan Sawai Miku membawakan lagu pembuka dan penutupnya.)

Matsuoka Yoshitsugu, pengisi suara Kirito dari seri Sword Art Online, menampilkan apa yang menurutku merupakan salah satu performa terbaiknya sebagai Tomoya. Intensitas yang dibawakannya untuk hal-hal yang bagi kita enggak penting itu bisa luar biasa. Lalu Yasuno Kiyono, pengisi suara yang belum terlalu dikenal saat Saekano keluar, berperan keren dengan suara sangat datarnya sebagai Megumi.

Arahan dari Kamei-sensei benar-benar kelihatan dalam eksekusinya. Apa ya? Jadi ceritanya berakhir dengan beberapa subplot menggantung tapi ceritanya tetap terasa tuntas secara memuaskan. Lalu bahkan episode-episode tengahnya juga menampilkan kesan kuat gitu.

Ada satu adegan mengesankan ketika Megumi ditanya oleh Hashima Izumi yang kira-kira seperti ini:

H: “Eh, Katou-san, jadi kau bukan pacarnya? Kalau begitu hubungan kalian seperti apa?”

M: “Um, aku main heroine-nya.”

H: “Eeh? Maksudnya?”

M: “Ahaha. Aku juga tak yakin?”

Dengan cara ringan Megumi menanggapinya, adegan itu jadi kayak menyiratkan sejumlah hal sekaligus. Lalu itu juga jadi kayak bikin kita paham kenapa Megumi yang Tomoya pilih sebagai karakter utama, dan bukan yang lain.

Cerita animenya memaparkan bagaimana tim Blessing Software yang dibangun Tomoya akhirnya terbentuk, dengan upaya untuk bisa mengejar jadinya game mereka sebelum ajang Comicket musim dingin. Komposisi lengkapnya adalah:

  • Tomoya sebagai produser utama yang mencetuskan konsep, sehingga dia juga perlu belajar soal pemrograman.
  • Megumi, sebagai model tokoh utama wanita di gamenya, Kanou Meguri (belakangan Megumi belajar pemrograman juga).
  • Eri sebagai ilustrator utama yang mendesain karakter dan latar.
  • Utaha-senpai yang mematangkan naskah dari konsep yang telah digagas Tomoya
  • Hyoudou Michiru, sepupu Tomoya dari sekolah lain sekaligus anggota grup band Icy Trail, yang bergabung sebagai anggota terakhir yang menangani musik.

Akhir kata, ini seri keren yang benar-benar lebih ditujukan bagi otaku.

Seri novel aslinya diterbitkan sejak pertengahan tahun 2012 di bawah label Fujimi Fantasia Bunko yang dimiliki penerbit Fujimi Shobo. Ilustrasi karakter aslinya yang keren dibuat oleh Misaki Kurehito. Lalu adaptasi manganya juga sudah ada lumayan lama, yang langsung diiringi dua seri manga spin off yang masing-masing berfokus pada Utaha dan Eriri. Pada tahun ini juga mulai terbit seri novel spin off lain yang menampilkan sisi cerita dari para karakter perempuannya. Jadi kurasa seri ini tetap terbilang populer.

Mungkin seri ini tak perlu season 2. Tapi kalau season dua itu ada, aku yakin penggemarnya takkan mengeluh.

Seperti yang bisa dibayangkan, selain drama persahabatan dan romansa, ada banyak tema soal kerja keras yang diangkat, terutama dalam soal mengejar dan mewujudkan cita-cita. Ada sesuatu yang keren dengan bagaimana Tomoya bekerja sambilan ekstra keras untuk apa yang disukainya. Atau pada bagaimana Utaha-senpai dan Eri kerap begadang untuk membereskan karya masing-masing.

Terkait Saekano, aku pribadi jadi teringat dengan seorang sahabatku yang mempertahankan suatu hubungan tak jelas dengan salah seorang teman perempuannya. Sahabatku ini memang kayak… susah buat enggak bersikap kayak gitu, karena suatu hal yang terjadi di masa lalunya. Makanya dia juga kerap pakai kesibukan kerjaannya sebagai alasan untuk tak mengejar dulu soal hubungan. Padahal dirinya sendiri jelas-jelas kesepian.

Lalu aku jadi mulai membanding-bandingkan sahabatku ini dengan karakter Tomoya, yang dari satu sudut pandang tertentu, juga jadi kayak mempertahankan hubungan enggak jelas sembari mengejar cita-citanya. Aku jadi kerap mikir, apa enggak apa-apa bila sahabatku dibiarkan kayak gini? Apa sikapnya bisa dibenarkan? Apa bukannya dia sama saja dengan Tomoya?

Sampai akhirnya aku tersadar: berbeda dari sahabatku, Tomoya sejak awal telah memilih heroine utamanya siapa.

Dan aku jadi merasa, waktuku untuk memilih juga kian dekat.

Penilaian

Konsep: X; Visual: A+; Audio: A; Perkembangan: A; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A

01/04/2015

Aldnoah.Zero (Season 2)

Sekali lagi buat yang belum tahu. (Walau kayaknya kebanyakan yang baca di sini pasti udah tahu sih.)

Aldnoah.Zero merupakan seri anime mecha yang diproduksi lewat kerjasama A-1 Pictures dan Troyca. Musim keduanya (episode 13-24) belum lama ini ditayangkan pada awal tahun 2015 lalu. Seri ini dulu menarik perhatian karena ceritanya digagas oleh Urobuchi Gen, yang sebelumnya tenar melalui Puella Magi Madoka Magica serta Fate/Zero. Ditambah lagi, sutradara Ei Aoki, bersama beberapa staf lain yang dulu menangani Fate/Zero, juga turut berperan dalam penanganan seri ini.

Sebelum lanjut, aku katakan ini dulu di awal: jangan tonton season kedua ini sebelum season pertamanya.

Seriusan. Lebih baik kamu lupain kalau anime ini ada kalau season pertamanya belum kamu lihat.

Meski bener-bener menarik, ini jenis cerita yang memang agak hit or miss. Seandainya season sebelumnya kamu enggak suka, kamu kemungkinan besar juga enggak akan suka dengan season ini. Jadi lebih baik jangan membuang waktu.

Di samping itu, juga ada pergeseran tema yang lumayan kentara di season kedua ini, yang sangat terasa apalagi sesudah season pertamanya ditutup dengan perkembangan memukau yang lumayan ngegantung. Jadinya sayang banget kalau di-spoiler kalau kamu langsung melompat ke season ini.

Yah, intinya itu dulu.

“Semua yang kau punya akan menjadi milikku.”

Paruh kedua seri ini berlatar satu setengah tahun sesudah klimaks di season sebelumnya.

Di sisi pasukan Kekaisaran Vers, Slaine Troyard telah membuat kesepakatan dengan Count Saazbaum sesudah membawa pergi Putri Asseylum Vers Allusia yang kini koma. Nyawa Asseylum berhasil dipertahankan dengan peralatan penyokong kehidupan. Tapi Slaine sadar bahwa kerjasamanya dengan Saazbaum berlangsung di bawah todongan senjata. Karenanya, dirinya tak bisa hanya berdiam diri dengan keadaannya yang sekarang.

Sedangkan di sisi pasukan Bumi, Kaizuka Inaho telah menyelesaikan masa rehabilitasinya dan bergabung kembali dengan teman-teman lamanya di kapal induk Deucalion, yang secara resmi kini telah menjadi bagian dari pasukan PBB. Inaho telah diakui sebagai pahlawan yang telah membalikkan keadaan perang, dan dalam mata kirinya kini tertanam sesuatu yang disebut analytical engine, yang bisa dibilang merupakan senjata rahasia baru pihak Bumi.

Kedudukan dan pengaruh Slaine semakin naik dalam peperangan yang kembali berlangsung, melalui tindakan-tindakan yang mau tak mau harus dilakukannya untuk memastikan nasib dirinya dan sang putri. Lalu Inaho juga kembali ke garis depan dengan memanfaatkan mata barunya untuk misi pribadinya menemukan jejak Asseylum.Terutama sesudah sosok putri yang dikenalnya telah digantikan sosok yang diyakininya palsu, yang memotori propaganda untuk penyerangan Vers ke Bumi.

“Pembohong.”

Mungkin susah buatku menilai Aldnoah.Zero tanpa agak bias. Sama kayak temanya sendiri, ceritanya kayak dipaparkan sedemikian rupa sehingga bisa menimbulkan kesan subjektif yang beda-beda di masing-masing orang.

Aku suka sih. Tapi alasan aku suka bisa beda jauh dengan alasan suka orang lain misalnya.

Terlepas dari naskahnya, kualitas eksekusinya sih yang pertama kali menarik perhatian. Seri ini menurutku termasuk berhasil memanfaatkan seoptimal mungkin jumlah episodenya yang enggak banyak, tanpa lupa memberi perhatian pada sejumlah karakter sampingannya. Ada bagian-bagian yang jelas terasa dipersingkat, terutama yang terkait dengan skala konflik yang terjadi—mulai dari ukuran kapal sampai cakupan medan perang—sehingga tak dinyana, cakupan konflik antara Kekaisaran Vers dan Pasukan Gabungan Bumi punya kesan lebih sempit dibandingkan season lalu.

Tapi pada saat temponya mesti melambat, ceritanya juga melambat, memberi kesan kuat pada momen-momen lembut yang dirasakan para karakter sentralnya. Lalu saat lagi intens, keintensannya juga lumayan berhasil dipaparkan, walaupun saking banyaknya detil yang ada bisa membuat apa yang terjadi agak luput dari mata sejumlah orang; bahkan buat orang-orang yang udah kebiasa dengan adegan-adegan mecha bertempo cepat kayak aku.

…Oke. Mungkin itu agak susah dijelaskan.

Paling kerasanya: jadinya ada lumayan banyak latar cerita yang berakhir kurang terpaparkan. Seperti soal struktur komando di pasukan PBB, kondisi di planet asal Mars, dan sebagainya. Fokusnya hanya bolak-balik dari Bumi ke Bulan, lalu Bulan ke Bumi, sehingga enggak banyak pemandangan eksotis yang bisa dilihat.

Tapi mengingat materi ceritanya yang kayak gini, ditambah dengan keterbatasan jumlah episode yang ada, sekali ini aku mesti ngasih pujian terhadap kualitas eksekusinya.

Ada beberapa kelemahan. Tapi sisi-sisi positifnya kayak berhasil ditonjolkan semaksimal mungkin.

Untuk lain-lainnya, kualitas presentasinya masih sama solidnya dengan season sebelumnya. Lalu soal ceritanya sendiri…

…Seperti yang kubilang, ceritanya di luar dugaan lumayan beda dibandingkan season sebelumnya, man.

“Mata kiriku yang bilang begitu.”

Paruh kedua ini memberi fokus yang lebih banyak pada diri Slaine.

Slaine memainkan permainan berbahaya di mana ia membohongi semua orang, memanfaatkan segala yang bisa ia ambil, hingga ia menjadi tokoh antagonis berkesan yang melupakan apa hal penting yang harusnya ia pertahankan. Semua akibat latar belakang masa lalu yang ia alami, yang lumayan berhasil disampaikan secara efektif tanpa jadi terlalu berkesan menceramahi.

Jadinya, bila season pertama menonjolkan seri ini sebagai seri mecha aksi di mana yang lemah harus bisa menjatuhkan yang kuat, season keduanya berubah jadi lebih seperti political thriller. Aku belum pernah membacanya sebelumnya, tapi perkembangan ini seriusan mengingatkanku akan novel Gundam (yang sejauh ini dinilai non-canon) Hathaway’s Flash yang konon menampilkan hubungan antar karakter serupa.

Adegan-adegan mechanya tetap ada kok. Seriusan, seri ini masih tetap bagus. Tapi season ini jadi lumayan beda dibanding seri sebelumnya, juga dalam hal gimana analytical engine di mata Inaho memberinya kemampuan yang benar-benar beda. Maksudku, dia jadi kayak cyborg gitu, dengan kemampuan pemrosesan data yang terhubung langsung ke otaknya, dengan sejumlah konsekuensi pada dirinya sendiri juga tentunya.

Ceritanya berpusar pada karakter-karakter sentral Inaho, Slaine, serta sejumlah karakter baru, yang terutama meliputi Harklight, ajudan yang setia pada Slaine semenjak yang bersangkutan mulai melayani Saazbaum; serta Putri Lemrina, adik perempuan beda ibu dari Asseylum yang bertubuh lemah.

Lemrina terutama, perlu mendapat perhatian khusus karena menjadi karakter yang berada di posisi yang paling enggak enak di sepanjang cerita. Bahkan sampai adegan-adegan yang menampilkan pikiran-pikiran paling jahatnya bisa menuai simpati dari kita.

Satu yang dulu lupa kusinggung adalah tentang bagaimana sesudah insiden Heaven’s Fall menghancurkan Bulan, peperangan terhenti karena besarnya skala kehancuran yang terjadi. Lalu para bangsawan Orbital Knights yang sudah bersiaga dengan Landing Castle mereka di orbit Bumi jadi terperangkap di sana, selama bertahun-tahun, tanpa dapat kembali ke Vers sesudah hypergate hancur.

Karenanya, dengan Asseylum berada dalam keadaan koma, Lemrina yang sebelumnya hanya ‘putri buangan’ langsung melejit nilai dirinya, karena darah bangsawan yang dimilikinya diperlukan untuk aktivasi teknologi Aldnoah yang melandasi kemiliteran pasukan Vers. Karenanya pula, dirinya, tanpa bisa melawan, menjadi bagian dari rencana matang Saazbaum yang merupakan dalang dari pengkhianatan terhadap Kaisar sekaligus penyerangan Vers ke Bumi di season pertama.

Di sisi pasukan Bumi, awak kapal Deucalion pimpinan Dalzana Magbaredge mengalami reuni seiring pulihnya Inaho. Amifumi Inko dan Rayet Areash (yang kini dikenal sebagai ‘si cewek Mars’) menjadi pilot Kataphraktos tetap. Calm Craftman menjadi engineer yang diandalkan dalam perawatannya. Kaizuka Yuki kembali menjadi bagian pasukan dan sangat mengkhawatirkan kondisi adiknya. Marito Koichiro juga telah pulih dari traumanya, dan ketergantungannya terhadap alkohol, kini aktif dalam kemiliteran kembali.

Di satu sisi, aku merasa agak sayang karena karakter-karakter yang ada tak dapat dikembangkan lebih jauh. Di sisi pasukan Bumi, hubungan antar karakter yang disorot paling hanya hubungan Inaho dengan Yuki dan juga dengan Inko. Lalu ini juga termasuk para karakter bangsawan Vers yang jumlahnya enggak cuma satu-dua orang. Tapi di sisi lain, aku juga terpukau dengan perkembangan plot yang disajikan, yang sama sekali jauh dari bayanganku semula.

Jadi di akhir, aku ngerasa, sebenernya ada lebih banyak dari ceritanya yang disiratkan daripada dibeberkan, yang bisa saja lebih keungkap andai saja jumlah episodenya enggak segitu terbatas.

Kenapa Langit Berwarna Biru

Akhir kata, serupa dengan season pendahulunya, Aldnoah.Zero season ini tetap menjadi satu dari sekian sedikit anime yang secara teratur masih kuikuti di tengah kesibukanku belakangan.

Adegan-adegan mechanya yang sangat down to earth mungkin tak se-wah seri-seri mecha lain. Tapi karakterisasi dan perkembangan situasinya yang tak terduga buatku lebih dari cukup untuk mengimbanginya. Masih agak tersimplifikasi di beberapa bagian. Tapi kayak sebelumnya juga, aku enggak terlalu peduli.

Soal mecha-mechanya, dua yang mendapat sorotan adalah Kataphraktos Sleipnir milik Inaho yang sudah dirombak ke bentuk yang teramat mengesankan; serta Tharsis milik mendiang Count Cruhteo yang kini digunakan secara pribadi oleh Slaine (dan memberinya kemampuan untuk sedikit memprediksi masa depan). Adegan pertarungan antar keduanya yang akhirnya berujung menjadi melee cukup mengesankan, karena begitu beda dari sejumlah adegan aksi mecha lain yang aku kenal.

…Apa aku kecewa ama ending-nya?

Sebenernya enggak terlalu sih. Ending-nya kuakui mungkin enggak sememukau yang aku harap. Tapi cukup segitu di luar perkiraan, sehingga jujur aja, sampai saat ini, aku masih enggak bener-bener yakin dengan gimana mesti bereaksi. Terutama menyangkut kesudahan akhir para karakternya.

…Ini pasti paling kerasa buat kalian-kalian yang hobi melakukan pairing.

Aku jadi merasa mungkin kalian terkhianati pengharapannya.

Tapi selebihnya, Aldnoah.Zero menurutku berakhir cukup baik. Cukup mengesankan. Cukup beda dari yang lain.

Aku seriusan berharap penuntasannya bisa lebih berbobot sih. Tapi sudahlah. Aku merasa sudah dikasih lebih dari yang aku minta, lagian.

Omong-omong, ini cuma aku, atau memang jumlah anime baru untuk spring nanti bener-bener banyak?

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A; Audio: A; Perkembangan: A-; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A-

28/03/2015

Sword Art Online II

Sword Art Online II merupakan musim tayang kedua dari seri anime Sword Art Online, yang diadaptasi dari seri light novel berjudul sama karangan Kawahara Reki dengan ilustrasi yang dibuat abec. Itou Tomohiko kembali sebagai sutradara untuk seri ini, dengan penganimasian kembali dilakukan oleh A-1 Pictures, dengan jumlah episode total sebanyak 24 (ditambah 1 episode rekap).

Ceritanya mengadaptasi cerita utama di buku 5-7 dari seri novelnya (untuk bagian cerita Phantom Bullet dan Mother’s Rosario), dengan sedikit tambahan dari buku 8 yang merupakan kumpulan cerita-cerita pendek (untuk bagian cerita Caliber).

Sebagai orang yang sudah menikmati novelnya, alasan aku menonton lebih karena ingin melihat hasil adaptasi animenya ketimbang mengetahui kelanjutan ceritanya. Karenanya, aku tak langsung mengikuti perkembangan seri ini saat pertama keluar pada paruh akhir tahun 2014 lalu.

Kalau aku mengikutinya pada waktu itu, aku bakal merasa kayak… “Hmmmmmmmmmm.” dan mungkin bakal lebih bias menilainya ketimbang sekarang. …Atau mungkin juga kondisinya aja pada waktu itu lagi enggak tepat.

Character Builds

Kayak yang sudah aku sampaikan di atas (dan di suatu postingan lain), Sword Art Online II terdiri atas tiga bagian cerita utama. Kesemuanya masih berpusar pada insiden-insiden yang berlangsung dalam realita-realita dunia virtual yang tercipta lewat teknologi konsol Amusphere. Garis besar ceritanya kurang lebih membeberkan aftermath dari insiden Sword Art Online yang melibatkan para tokoh utamanya pada season pertama.

Phantom Bullet berlatar sekitar setengah tahun sesudah akhir season sebelumnya.

Kirigaya Kazuto, Yuuki Asuna, dan para korban insiden SAO lain diceritakan sudah mulai menjalani kehidupan normal mereka kembali. Mereka bersekolah di suatu fasilitas khusus yang sudah disiapkan pemerintah untuk mereka. Namun suatu insiden di VRMMORPG baru yang bertema senjata api di dunia futuristis yang sedang hit, Gun Gale Online, mengundang perhatian pegawai pemerintah Kikuoka Seijurou, yang membuatnya meminta bantuan Kazuto—alias Kirito, ‘pahlawan’ yang setahun sebelumnya ‘menuntaskan’ permainan maut Sword Art Online ciptaan ilmuwan fenomenal Kayaba Akihiko—untuk menyelidiki insiden ini.

Meninggalkan lagi kehidupan normalnya untuk sementara waktu, Kirito harus menyelami suatu dunia virtual lain yang masih asing baginya, untuk menelusuri insiden pembunuhan(?) terhadap seorang pemain GGO ternama bernama XeXeeD. Penyelidikan ini kemudian membawanya berhadapan dengan sosok misterius bertopeng Death Gun, yang entah dengan cara apa, bisa jadi merupakan pelakunya.

Dalam upayanya, Kirito berkenalan dengan Sinon—yang dalam dunia nyata adalah gadis remaja dingin bernama Asada Shino—seorang sniper andal yang menjadi harapannya dalam menemukan jejak Death Gun. Death Gun diketahui konon akan beraksi di turnamen Bullet of Bullets yang diadakan secara berkala. Lalu suatu trauma masa lalu ternyata membuat Sinon juga memiliki alasan pribadi untuk berada di dunia virtual ini dan ikut serta dalam turnamen itu juga. Trauma Sinon memberinya pemahaman akan masa lalu Kirito semasa ia masih terperangkap di SAO. Lalu bersama, keduanya berupaya menguak identitas Death Gun yang sesungguhnya sebelum ada korban lain yang jatuh.

Calibur merupakan semacam episode ‘penyegar’ sesudah bab Phantom Bullet yang agak berat dan intens.

Berlatar di dunia ALfheim Online—yang kini telah diimplementasikan sistem sword skills dari SAO seiring tambahan ekspansi New Aincrad—rumor beredar tentang telah ditemukannya pedang pusaka terkuat(?) Excaliber, dan Kirito dan kawan-kawannya kemudian menjalani suatu misi agak misterius untuk menemukannya. Quest ini merupakan suatu sentimen yang sangat ingin Kirito penuhi, semenjak pedang itu membantunya menyelamatkan Asuna pada klimaks season sebelumnya.

Mother’s Rosario—yang mungkin merupakan bagian cerita SAO yang paling banyak drama karakternya sejauh ini—berfokus pada perkembangan karakter Asuna dalam menghadapi konflik pribadi dengan ibunya.

Cerita ini membawa Asuna berkenalan dengan sosok yang disebut Zekken, pemain pedang terkuat di ALO saat ini, yang sebenarnya adalah seorang gadis lima belas tahun bernama Yuuki, alias Konno Yuuki, pemimpin dari guild Sleeping Knights. Pertemuan ini membawa Asuna pada suatu petualangan baru, yang juga membeberkan kenyataan mengejutkan tentang latar belakang Yuuki dan teman-temannya yang sesungguhnya.

Affinity & Proficiency

Tema-tema sains fiksi, seperti soal persepsi terhadap realita dan soal eksistensi pribadi, kembali hadir di season kali ini. Secara pribadi, aku berpendapat kalau SAO II adalah salah satu anime langka yang musim keduanya lebih baik daripada season pertamanya.

Apa ya?

Pemilihan cara mempresentasikan adegan-adegannya sangat menarik perhatian. Bagaimana para animatornya memberi perhatian khusus terhadap kemisteriusan karakter Death Gun (mulai dari gimana seringnya ia muncul di animasi pembukanya), berujung pada banyaknya pencarian kata kunci soal siapa identitasnya selama separuh 2014. Lalu mereka yang mengeluh soal gimana season pertama SAO kurang baik menggambarkan implementasi sword skills yang harusnya menjadi highlight-nya, kurasa akan terpuaskan dengan koreografi-koreografi keren yang dihadirkan season ini.

Gelagatnya sudah terlihat dengan gimana kerennya pedang sinar Kirito dianimasikan dalam bab cerita GGO. Tapi baru pas bab Phantom Bullet berakhir dan latar cerita kembali ke ALO, aku lumayan terpukau dengan cara penganimasian jurus-jurus pedangnya yang cepat dan dinamis

Ceritanya juga lebih terfokus pemaparannya. Enggak ada lagi episode berkala yang berdiri sendiri, yang lumayan mempengaruhi momentum penceritaan di season sebelumnya. Lalu temponya mungkin enggak secepat yang aku kira sih, tapi sama sekali enggak lambat.

Beberapa kelemahan SAO, yang meliputi soal gimana ceritanya memang enggak cocok buat sebagian orang, tetap masih ada. Tapi yang membuatku tetap suka SAO adalah sekalipun ceritanya emang kadang bisa cheesy dan didramatisir, pesan yang disampaikan di dalamnya menurutku enggak benar-benar bisa dibilang ‘salah.’

Hmm. Itu agak subjektif pembahasannya. Jadi soal itu mungkin enggak usah terlalu didalami.

Satu hal lain yang membuatku terkesan adalah gimana season ini dibuka dengan percakapan Kazuto dan Asuna tentang perbedaan antara dunia nyata dan virtual (soal jumlah cakupan datanya), dan kemudian ditutup pula dengan percakapan lain antara mereka tentang hal yang sama. Itu kayak… beneran nyambung dengan tema utama yang dibawa oleh seri ini, dan membuatnya kerasa jadi satu kesatuan.

…Sekalipun ada tonal shift yang lumayan kerasa seiring beralihnya satu bagian cerita ke bagian cerita lain sih.

Elemen-elemen plot untuk pembangunan cerita dalam skala lebih besar: seperti teka-teki perusahaan Zasker yang berbasis di Amerika, yang bertanggung jawab atas pengembangan GGO; lalu soal sosok Koujiro Rinko, asisten mendiang Kayaba, yang ditemui Kirito pada penghujung season sebelumnya; serta apakah ALO, GGO, dan dunia-dunia virtual lain yang dikembangkan dari paket The Seed, benar-benar semata adalah permainan belaka—terutama dengan bagaimana Death Gun menyatakan bahwa ‘semua ini’ masih belum berakhir; dihadirkan dengan lebih baik kali ini.

Bab Caliber juga terus terang bagiku agak jadi kejutan, karena sebenarnya berawal dari suatu adegan di seri novelnya, yang kemudian dipotong dari adaptasinya di season pertama animenya. Jadi aku lumayan terkesan dengan betapa mulus mereka menanganinya.

Measuring Worth–Caliber

Beralih ke soal teknis… animasinya masih berkualitas tinggi seperti musim sebelumnya. Penggambaran dunia futuristis GGO enggak semegah yang kuharapkan, tapi sama sekali enggak buruk. Matsuoka Yoshitsugu dan Tomatsu Haruka kembali berperan mengesankan sebagai Kirito dan Asuna. Mereka berhasil membawakan adegan-adegan dramatis yang bagiku mungkin agak ‘terlalu’ dengan cara yang agak bikin aku takjub. (Terutama juga dengan bagaimana Tomatsu-san membawakan lagu pembuka keduanya.)

Lebih lanjut soal musiknya, ada sesuatu yang memuaskan dengan gimana Kajiura Yuki mengaransemen BGM ‘Swordland’ menjadi bergaya western selama bab Phantom Bullet. Entahlah, ada sesuatu yang benar-benar keren saat mendengar irama itu kembali setelah sekian lama.

Satu hal lain yang patut dipuji adalah penggarapan karakter Sinon. Kesendiriannya, kesedihannya, rasa frustrasinya, penindasan yang dialaminya, serta hubungannya dengan Shinkawa Kyouji alias Spiegel, yang menjadi satu-satunya temannya di awal cerita, terpaparkan dengan sangat baik di seri ini. Ada motif balet yang secara enggak disangka ditampilkan dengan cukup menarik di visualisasi kepribadiannya, yang mungkin akan kau sadari berawal dari keserupaan cara pembacanya dengan bullet.

Lagu ‘Startear’ yang Haruna Luna bawakan sebagai penutup pertama seri ini pastinya mewarnai nuansanya secara baik.

Kesimpulannya, SAO II merupakan sekuel yang sangat kuat dalam menyusul season sebelumnya. Mereka yang sudah menjadi penggemar musim tayang pertama animenya besar kemungkinan akan terpuaskan juga dengan season kali ini; sekalipun terus terang saja kukatakan, aksinya enggak sebanyak yang ada sebelumnya, dan Mother’s Rosario bahkan bisa dibilang berakhir dengan antiklimaks.

Tapi seriusan, ini hasil adaptasi yang berakhir lebih bagus dari dugaanku semula. Jadinya benar-benar terbilang memuaskan untuk para penggemarnya.

11-hit

Sebagai penutup, aku sebenarnya beberapa kali ditanya soal apa SAO bakal ada season ketiganya atau enggak.

Terus terang, itu pertanyaan yang agak susah dijawab.

Soalnya, begitu bagian ini berakhir, cerita novelnya langsung memasuki bagian cerita yang disebut Alicization Arc yang: 1) berdurasi benar-benar lebih panjang, salah satunya karena segala pemaparan dalam novelnya disajikan secara lebih mendetail, dan 2) bahkan saat ini kutulis pun, ceritanya kalau enggak salah masih belum beres.

Intinya, bagian cerita berikutnya mungkin akan agak lebih tricky untuk bisa dianimasikan, apalagi kalau dengan kualitas sebagus yang ada saat ini. Jumlah episodenya jadi harus lebih banyak. Penggarapan naskahnya juga harus lebih hati-hati. Kalau jadipun, kurasa masih belum akan dalam waktu dekat.

Soalnya, dari suatu percobaan teknologi baru, ceritanya berkembang lebih jauh lagi dengan bahasan soal ingatan-ingatan hilang, AI yang lepas kendali, serta intervensi pasukan bersenjata asing dalam sengketa teknologi antar negara.

…Pada titik ini, aku terus terang bahkan malah lebih berharap akan ada season kedua untuk anime Accel World.

Tapi argh, ya sudahlah.

Syukuri dulu saja apa yang ada.

(Eh? Apa? Kenapa aku enggak ada komentar apa-apa soal kenapa Kirito bisa jadi perempuan? Uh, percayalah, stuff like that just kinda happens.)

Penilaian

Konsep: B-, Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan B-; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A+

06/10/2014

Aldnoah.Zero

Aldnoah.Zero lumayan menarik untuk sebuah kasus anime mecha.

Musim tayang pertamanya keluar pada musim panas tahun 2014. Disutradai oleh Ei Aoki, yang sebelumnya menangani adaptasi anime dari Fate/Zero, dengan cerita yang digagas oleh Urobuchi Gen, yang menangani novel asli Fate/Zero juga, dan masih ditambah dengan keterlibatan grup Kalafina serta Sawano Hiroyuki untuk aransemen musiknya, ini adalah seri yang sudah sedemikian sensasionalnya berkat susunan orang-orang yang terlibat di dalamnya, sampai-sampai…

…Mungkin sampai-sampai kesuksesannya seakan sudah hampir terjamin.

Urobuchi Gen pernah menangani cerita anime mecha sebelumnya, lewat seri Suisei no Gargantia. Tapi, yah, kita tahu kalau Gargantia enggak benar-benar bisa dipandang sebagai sebuah anime mecha murni.

Intinya, bahkan dengan segala kesibukanku dalam bulan-bulan terakhir, Aldnoah.Zero menjadi satu-satunya seri yang tetap aku ikuti perkembangannya pada musim panas lalu. Aku hampir enggak nonton anime apa-apa selain Aldnoah.Zero, bahkan termasuk Barakamon yang diakui banyak orang bagus maupun Mahouka yang terjemahan seri novel aslinya dengan setia aku ikuti.

Jadi yea, itu pasti berarti sesuatu.

Ini seri yang memang termasuk di atas rata-rata. Komposisi staf yang ternama memang enggak selamanya menjamin kualitas akhir yang bagus, seperti pada kasus Brain Powerd di penghujung dekade 90-an dulu. Tapi Aldnoah.Zero, secara teknis seenggaknya, termasuk seri yang bagus.

Soal apa ini seri yang bakal kau suka … yah, itu masih relatif.

Ada beberapa poin ceritanya yang agak kontroversial. Tapi itu seperti sudah menjadi khasnya Urobuchi-sensei. Jadi sudahlah. Terima saja.

Hanya saja… kalau kau termasuk orang yang bisa suka, maka kau memang enggak akan peduli lagi dengan apapun kata orang tentang seri ini. Kau tetap bakal menganggap Aldnoah.Zero sebagai suatu seri yang istimewa. Soalnya, ini jenis seri mecha yang kayak bisa ngemunculin fanatisme terpendam kamu gitu sih.

Alasan kenapa seri ini bisa sampai begitu, kurasa lumayan sederhana…

Cahaya Aldnoah

Dalam dunia Aldnoah.Zero, dikisahkan ada teknologi super canggih yang suatu ketika ditemukan saat manusia berhasil mendarat di Bulan pada tahun 1972. Pada misi pertama manusia ke sana, ditemukan suatu hypergate yang didapati terhubung dengan planet Mars. Di planet Mars inilah, akar teknologi hypergate ini, yang disebut Aldnoah, akhirnya ditemukan, yang diduga ditinggalkan oleh suatu peradaban makhluk asing yang kini sudah terlupakan.

Berkat penemuan teknologi ini, ada proses migrasi yang terjadi. Negara baru yang dikenal sebagai Kekaisaran Vers terlahir di Mars. Namun konflik (dalam memperebutkan teknologi ini?) kemudian pecah antara pemerintahan Bumi dan Mars, yang berujung pada meledaknya hypergate tersebut dalam suatu pertempuran yang berlangsung di permukaan Bulan.

Peristiwa tersebut, yang juga memecahkan Bulan di atas Bumi menjadi puing-puing, yang dalam sejarah kemudian dikenal sebagai insiden Heaven’s Fall.

Lima belas tahun kemudian, pada tahun 2014, ketegangan mulai tumbuh kembali antara Bumi dan Mars. Putri Asseylum Vers Allusia, cucu Kaisar Rayregalia Vers Rayvers, datang berkunjung ke Bumi untuk suatu misi perdamaian. Namun hasil dari kunjungan tersebut malah memicu berlangsungnya peperangan kembali antara Mars dan Bumi…

Keadilan Harus Ditegakkan

Ada dua sudut pandang utama yang ditampilkan dalam cerita ini: Pertama, dari sudut pandang Kaizuka Inaho, seorang pelajar SMA di Jepang yang minim emosi dan memiliki cara bertindak yang sangat dipengaruhi logika. Ia bersama kawan-kawannya mencoba menemukan tempat berlindung sesudah rangkaian insiden yang terjadi. Kedua, adalah dari Slaine Troyard, seorang remaja baik hati dan rendah diri kelahiran Bumi yang karena faktor keadaan, menjalani hidupnya di tengah para bangsawan Mars—para ksatria Orbital Knights—dan menerima perlakuan diskriminatif dan melecehkan dari orang-orang di sana.

Hidup Putri Asseylum bersimpangan dengan jalan hidup kedua remaja lelaki di atas, dan memberi pengaruh besar terhadap nasib keduanya.

Soal cerita, aku enggak akan masuk ke detil lebih dari itu. Tapi berhubung ceritanya memang enggak sebanyak itu juga dalam durasinya yang meliputi 12 episode, bicara lebih banyak bisa berujung pada spoiler.

Ibaratnya… hmm, tempo penceritaan yang dipakai di episode-episode awal Aldnoah.Zero adalah tempo penceritaan yang biasa dipakai untuk anime-anime mecha berdurasi 52 episode. Padahal, kayak yang aku bilang, jumlah episodenya jauh lebih sedikit daripada itu. Jadi yea, porsi ceritanya memang enggak banyak.

Selain ketiga karakter utamanya, karakter-karakter sampingannya pun menarik, dan mereka memiliki latar belakang mereka masing-masing. Para karakternya yang berusia sekolah dikisahkan telah menjalani kurikulum pelatihan militer di sekolah mereka sebagai bentuk antisipasi bila serangan dari Mars terjadi lagi. Lalu bagaimana semua ini berkembang saat orang-orang kemiliteran asli terlibat buatku benar-benar memikat. Untuk ringkasnya, para karakter lainnya, di sisi Inaho saja, meliputi:

  • Amifumi Inko; teman masa kecil Inaho yang juga bagian Dewan Siswa. Sifatnya ceria dan optimis, dan ia menjadi partner yang sering Inaho andalkan sebagai sesama pilot Kataphrakt; sebutan untuk robot-robot raksasa humanoid yang dipiloti di seri ini.
  • Calm Craftman; teman sekelas Inaho yang bule yang berlawanan dengan namanya, bersifat ceria dan pembawa semangat, yang keluarganya berasal dari salah satu negara yang terkena dampak terparah dari Heaven’s Fall.
  • Nina Klein; sahabat Inko yang juga keturunan negara yang sama dengan Calm.
  • Kaizuka Yuki; kakak perempuan Inaho yang berpangkat Warrant Officer (Semacam perwira siaga? Jadi kedudukan mereka di bawah perwira militer yang telah mendapatkan penugasan tapi di atas perwira militer yang belum mendapat penugasan.) yang bekerja sebagai instruktur Kataphrakt di sekolah Inaho. Dirinya pun dibuat terkesima oleh kemampuan luar biasa yang dimiliki adiknya.
  • Marito Koichirou; seorang letnan di Pasukan Persatuan Bumi yang juga menjadi instruktur pelatihan seperti Yuki. Dirinya adalah veteran dari pertempuran tahun 1999 dan menjadi saksi hidup dari kengerian yang pasukan Kataphrakt Mars miliki di Tanegashima, yang membuatnya menjadi orang sinis akibat PTSD dan kecanduan minuman keras yang kini dideritanya.
  • Darzana Magbaredge; kapten, dan nantinya kolonel, dari Pasukan Persatuan Bumi yang ditugaskan untuk mengungsikan warga sipil sesudah pertempuran dengan Mars pecah kembali. Ia wanita yang dingin dan jarang menunjukkan ekspresinya, dan telah tahu tentang Marito dari masa lalu.

Sedangkan untuk sisi Slaine, hahaha, menariknya adalah keberadaan dirinya di tengah-tengah musuh. Ia hidup di bawah naungan seorang bangsawan ringan tangan bernama Count Cruhteo, yang memandang Slaine dengan hina, namun menjunjung tinggi Putri Asseylum. Keadaan Slaine semakin diperumit saat Count Saazbaum yang setingkatan dengan Cruhteo, turut mulai masuk dalam cerita, dan semakin menambah kecurigaan dan kebingungannya.

Orange and Bat

Apa yang membuat Aldnoah.Zero seru adalah satu konsep sederhana yang diusungnya: mengalahkan yang teramat kuat menggunakan sesuatu yang dianggap lemah.

Uh, yeah, mungkin sesuatu yang sering digaungkan juga dalam seri To Aru Majutsu no Index.

Untuk ukuran anime mecha, jenis-jenis mecha yang tampil di Aldnoah.Zero punya jumlah yang lumayan terbatas. Tapi pemaparannya, dalam ceritanya, terbilang efektif.

Jadi, para Kataphrakt yang digunakan oleh Pasukan Bumi bisa diibaratkan sebagai real robot, dalam artian mereka hasil produksi massal dan punya kekuatan rata-rata. Tapi para Kat yang dimiliki pasukan Mars adalah super robot, dengan teknologi ajaib yang benar-benar melampaui bayangan, yang memperlihatkan perbedaan kekuatan yang sedemikian besarnya sampai-sampai terkesan konyol.

Aldnoah.Zero itu seru karena mengetengahkan soal bagaimana Inaho, dengan kemampuan analitisnya yang dingin, bisa menemukan kelemahan dari setiap mecha musuh yang mengejar dirinya dan kawan-kawannya, dan kemudian mengalahkannya dengan menggunakan mecha biasa yang notabene jauh lebih lemah.

Sesimpel itu. Tapi pada saat yang sama beneran seru karena eksekusi dari konsepnya yang benar-benar efektif.

Cuma ada dua jenis Kat yang dipakai oleh Pasukan Bumi, yakni KG-6 Sleipnir yang berwarna standar oranye, yang kini digunakan lebih untuk pelatihan di sekolah-sekolah; serta penerusnya, KG-7 Areion berwarna standar hitam yang memiliki performa umum lebih baik, dan kini menjadi Kat yang lebih banyak dipakai. Masing-masing darinya dapat dilengkapi persenjataan dan peralatan yang fleksibel seperti senapan dan peluncur granat.

Sedangkan di pihak Mars, sekurangnya ada lima Kat yang ditenagai teknologi Aldnoah—yang pengaktifannya menjadi hak khusus yang dimiliki keluarga Kekaisaran Vers—yang masing-masing darinya memiliki kemampuan khusus yang seakan hanya ada dalam novel-novel sains fiksi.

Tak hanya Kat, secara umum teknologi Aldnoah mencakupi segala sesuatu yang mereka gunakan, meliputi kendaraan-kendaraan yang seakan menggunakan anti-gravitasi serta struktur-struktur Landing Castle berukuran kolosal yang masing-masing bangsawan gunakan dalam persaingan mereka menginvasi Bumi.

Satu per satu dari Kat buatan Mars yang ditenagai Aldnoah dan mengejar mereka harus dikalahkan oleh Inaho dan kawan-kawannya selama pelarian mereka dari Jepang ke markas utama Pasukan Bumi di Russia. Suatu upaya perjuangan yang semula terkesan sia-sia sedikit demi sedikit mulai berujung pada harapan seiring dengan bagaimana kemenangan-kemenangan Inaho semakin tampak bukan sekedar kebetulan belaka; meski tetap saja untuk mencapai kemenangan ada begitu banyak korban yang harus jatuh. …Kurasa terutama karena itu seri ini dinamai Aldnoah.Zero.

…Sekalipun Langit Runtuh

Bicara soal teknis, ini seri yang visualnya memukau dengan begitu banyaknya detil yang ditampilkan di dalamnya. Adegan di episode pertama saat invasi dimulai terlihat mencengangkan dengan begitu banyaknya kehancuran massal yang terjadi, yang secara pribadi agak mengingatkanku akan adegan jatuhnya koloni luar angkasa Junius Seven di Gundam SEED Destiny. Tapi pada hal-hal kecillah, seperti pada pantulan cahaya kaca saat ada rudal yang meluncur di antara gedung-gedung, atau ekspresi campur aduk di muka Slaine saat ia melakukan tindakan tanpa sadar untuk mengambil pistol, Aldnoah.Zero terasa paling mencolok.

Desain mechanya terbilang keren. Sleipnir yang dengan keras kepala terus Inaho gunakan memang bukan mecha yang kuat. Tapi ada semacam keindahan pada desain badan dan persayapan di kakinya. Nuansa produksi massal, keluaran industri beratnya benar-benar terasa; dan ini kontras dengan kesan ‘pusaka’ yang dipunyai Kat keluaran Mars, seperti Nilokeras milik Trillram yang teramat dibanggakan olehnya misalnya. Aku seriusan terkesan pada desain Sleipnir, serta pada bagaimana bermacam persenjataan dan peralatan bisa dilengkapi pada badannya. Ini hal simpel yang jarang kuperhatikan selama ini.

Tentu saja ini berarti kalau adegan-adegan aksi di Aldnoah.Zero relatif mencengangkan. Dengan episode terakhir sebagai pengecualian, yang lucunya agak mengingatkan akan adegan konfrontasi terakhir antara Saber dan Berserker di Fate/Zero yang juga disutradarai Ei Aoki, secara umum aksi di Aldnoah.Zero terbilang rapi dan keren.

Memang ada beberapa kelemahan yang mungkin dirasa orang di ceritanya sih. Seperti soal sikap dan tindakan beberapa tokohnya. Atau soal perkembangan dan struktur ceritanya. Seperti soal bagaimana Inaho bisa jadi orang kayak demikian. Tapi seperti yang kubilang, bisa jadi kau enggak akan peduli terhadap kekurangan-kekurangan ini dan sudah lebih dari puas dengan apa yang ada.

…Cuma kalau kau termasuk yang peduli sih, yah, apa boleh buat. Terima saja deh.

Lalu, memang mesti kuakui kalau andai saja ada tambahan satu episode lagi untuk menutup ceritanya, hasil akhirnya kayaknya bakal lebih optimal…

Oh, sebagian desain karakternya buatan Shimura Takako yang merupakan mangaka pembuat seri drama pencarian jati diri Hourou Musuko. Nuansanya terus terang sempat membuatku agak aneh untuk cerita jenis ini. Tapi di hasil akhirnya, kurasa tak ada masalah.

Akhir kata, ini seri yang takkan menyesal diikuti oleh para penyuka genre mecha. Memang durasinya terbilang pendek sih, tapi musim tayang kedua sudah dikonfirmasi akan mulai tayang pada Januari 2015 nanti.

Satu hal tambahan yang mungkin perlu kusinggung adalah soal karakter Marito. Dia seseorang yang punya cukup pengetahuan dan pemahaman untuk bisa mengkritik. Tapi karena kondisinya, hanya itu yang jadinya bisa ia lakukan. Dan aku terus terang merasa agak ‘tertusuk’ karena dari semua karakter yang ada di seri ini, aku merasa dialah yang punya kemiripan paling banyak denganku.

..

Eh? Apa? Pendapatku soal tamatnya sejauh ini?

Yah. Ini memang jenis seri yang aku beneran tak tega untuk kasih spoiler. Tapi gampangnya, bahkan dengan tamat kayak gitu, itu masih tamat yang lebih bahagia dari yang sempat kubayangin.

Apa? Musiknya? Uh, aku udah nyebutin Sawano Hiroyuki dan Kalafina dan aku masih perlu ngebahas soal musiknya?

Penilaian

Konsep: B; Visual: A; Audio: A; Perkembangan: B; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: A-

25/04/2013

Ore no Kanojo to Osananajimi ga Shuraba Sugiru

Kidou Eita adalah remaja SMA yang mulai memandang cinta dan romansa secara negatif semenjak kedua orangtuanya bercerai. Sesudah perceraian itu, ia kemudian lebih memilih untuk hidup bersama bibinya yang lajang, Kiryuu Saeko, dan berubah menjadi murid yang rajin belajar untuk mewujudkan cita-citanya masuk ke sekolah kedokteran.

Eita memiliki seorang teman semenjak SD yang ia perlakukan seperti adiknya sendiri, anak tunggal tetangga dekat rumahnya yang memiliki badan petite, Harusaki Chiwa, yang telah lama memendam rasa suka terhadap dirinya. Meski demikian, karena kedekatan lama mereka, Eita selalu menanggapi segala pernyataan cintanya sebagai candaan.

Kemudian, suatu ketika, sekolah mereka kedatangan murid pindahan berupa seorang gadis blasteran teramat cantik dengan rambut perak bernama Natsukawa Mazusu. Satu dan lain hal terjadi, tatkala Mazusu menempati tempat duduk di sebelah Eita, yang entah bagaimana kemudian berakhir dengan keduanya ‘jadian.’

Mendengar berita tersebut, Chiwa syok. Mencium adanya sesuatu yang tak beres, ia memutuskan bahwa dirinya tak bisa menerima berita tersebut begitu saja…

“Ei-kun, aishiteru!”

Ore no Kanojo to Osananajimi ga Shuraba Sugiru, disingkat sebagai OreShura,  atau yang juga dikenal sebagai My Girlfriend and Childhood Friend Fight Too Much (kurang lebih berarti ‘pacarku dan teman lamaku terlalu bermusuhan’), berawal sebagai seri light novel karangan Yuji Yuji dengan ilustrasi buatan Ruroo. Animenya hasil produksi studio A-1 Pictures, dan pertama ditayangkan pada musim dingin tahun 2013 sebanyak 13 episode.

Sekilas, premis di atas memang enggak terdengar istimewa. Pada awalnya, aku juga sempat bertanya-tanya soal apa sebenarnya yang membuat seri ini lumayan populer. Aku mikir, ini tipikal seri komedi romantis yang kemudian berkembang ke arah harem, ‘kan? Animasi pembukanya yang warna-warni itu aja udah mengindikasikannya!

Tapi, aku kemudian merasa ada sesuatu yang janggal. Aku coba memperhatikan baik-baik aspek perkembangan serta eksekusi ceritanya. Lalu serius, aku kemudian dapati kalau seri ini termasuk yang bagus.

Maksudku, terutama untuk seri-seri sejenisnya.

Beneran bagus.

Ada dua faktor istimewa yang pada awalnya ‘enggak kelihatan’ tentang seri ini. Pertama, adalah gimana seri ini tak ragu memelesetkan konvensi-konvensi genre romansa harem untuk ngehasilin komedi. Hasilnya seringkali lumayan berhasil bikin aku ngakak. Lalu kedua, konseptualisasi karakternya bagus. Baik Eita, Chiwa, Masuzu, maupun dua cewek lain yang kemudian menyusul, mereka sama-sama punya semacem ‘ketulusan’ dalam diri mereka, dan itu yang bisa bikin aku sedikit banyak ngerasa agak simpati.

Aku enggak gitu bisa ngejelasin.

Contohnya, gini deh. Di awal-awal masa promosi anime ini, saat para tokohnya baru mulai diperkenalkan lewat promo dan berita-berita, aku agak merasa Chiwa yang clingy dan kekanakan itu sebagai karakter yang agak menyebalkan. Sebagai heroine pertama yang muncul, aku spontan ngerasain semacam antipati, dan udah kelanjur berprasangka kalau seri ini akan berakhir enggak memuaskan karena aku jelas ngerasa bakal lebih mendukung Masuzu daripada dia (maksudku, biasanya yang akhirnya jadian dengan si tokoh utama adalah si heroine yang pertama muncul ‘kan?).

Tapi seiring perkembangan ceritanya, aku beneran jadi terkejut sendiri.

Masuzu, meski cantik dan memikat, ternyata adalah karakter yang manipulatif sekaligus nakutin (sekalipun dirinya adalah penggemar berat Jojo’s Bizarre Adventure–makanya terkadang dia suka melakukan pose-pose aneh). Lalu Chiwa, saat dibeberkan awal mula tumbuhnya rasa suka dia terhadap Eita, aku langsung ngerasain simpati terhadap keadaannya dia. Maksudku, walau mungkin keadaannya enggak ideal bagi dirinya, dia sebenernya tetap bahagia karena sehari-harinya masih bisa ia lewatin bersama Eita. Dia ngerasa asal dia tetap berjuang, dia tetap bakal punya harapan. Tapi kemudian tiba-tiba Masuzu muncul dan mengacaukan segalanya.

Tentu saja, fokus lain cerita ini adalah bagaimana hubungan Eita dan Masuzu yang semula palsu dan dipaksakan (dengan Eita diperbudak oleh Masuzu) secara perlahan kemudian berkembang jadi agak nyata. Tapi sebelum itu muncul dua karakter cewek lain yang—karena suatu dan lain hal—juga mengajukan ‘klaim’ mereka atas Eita.

Burning Fighting Fighter

Dari segi plot maupun realisme, seri ini tak benar-benar bisa dikatakan istimewa sih. Tapi ceritanya maju. Beneran maju. Hubungan dan kepribadian para karakternya berkembang—dan itu sesuatu yang termasuk lumayan buat anime-anime sejenis ini.

Daya tarik sesungguhnya yang seri ini punyai sebenarnya lebih terletak pada para karakternya. Mereka tak sepenuhnya bisa disukai di awal-awal. Maksudku—kesemuanya punya sisi yang bener-bener aneh. Tapi, mereka tulus gitu dalam tindakan maupun keinginan mereka.

They’re good people.

Dan lama-lama aku jadi penasaran dengan gimana akhir cerita mereka.

Ngomong-ngomong soal akhir, seri ini tak benar-benar bisa dikatakan berakhir memuaskan. Memang ada resolusi di akhir ceritanya, tapi ceritanya sendiri termasuk salah satu yang menggantung. Mungkin karena belum semua cerita di novelnya diadaptasi? Tapi ini menggantung dengan perkembangan jelas yang telah dialami oleh para karakternya, jadi hasil akhirnya enggak bisa dibilang buruk-buruk amat.

Beralih ke soal teknis, meski tampil warna-warni, visual OreShura mempunyai semacam nuansa pucat aneh yang aku tak yakin dimaksudkannya karena apa. Seperti ada semacam filter yang menahan ketajaman warnanya. Tapi terlepas dari itu, secara visual ini termasuk salah satu seri yang enak dilihat, dengan banyak permainan warna dan efek yang digunakan untuk mendukung perkembangan dalam cerita.

Soal audio, yang benar-benar agak mengejutkanku adalah bagaimana setiap seiyuu memainkan peranan masing-masing dengan luar biasa baik. Tamura Yukari yang biasanya memerankan karakter-karakter agak manja lumayan berhasil tampil stoic sebagai Masuzu (perlu diperhatikan bahwa yang sebelumnya mengisi suara Masuzu di drama CD OreShura adalah Chiwa Saitou, yang juga mengisi suara Senjougahara Hitagi di seri Monogatari), dan itu lumayan membuatku terkesan. Tapi peranan semua seiyuu di seri ini memang mengesankan. Soalnya setiap karakter yang tampil—meski agak-agak aneh—sama-sama punya semacam aspek multidimensi gitu. Maksudku, kayak, Eita yang biasanya serius secara tiba-tiba bisa bicara secara frantic seakan lepas kendali. Itu kayak salah satu aspek lain yang bagus dari seri ini.

Lagu pembukanya (yang bernuansa harem) mungkin memang enggak istimewa. Tapi lagu penutupnya, ‘W: Wondertale’ menurutku kasih kesan ‘serius’ sekaligus ‘berarti’ yang lumayan pas buat anime sejenis ini.

Ada saat-saat tertentu ketika seri ini terasa lamban, terutama pada episode-episode masuknya Akishino Himeka (pendiam, misterius, memiliki ‘janji’ dengan Eita) dan Fuyuumi Ai (ceroboh, tsundere, memiliki janji(?) dengan Eita) ke dalam cerita. Tapi semua itu terbangun untuk perkembangan-perkembangan situasi yang lumayan enggak ketebak.

Aku memang mengikuti OreShura semula buat lelucon-leluconnya. Tapi secara ngejutin ini berkembang jadi sesuatu yang secara konsisten ngingetin aku untuk mulai bersikap serius terhadap hal-hal yang sebelumnya aku take for granted.

Soalnya, entah dari mana, bila waktunya tiba, suatu ‘perubahan’ pasti bakal terjadi. Dan, saat itu terjadi, maka mau tak mau kita harus… yah, ngelakuin sesuatu buat ngebuktiin kalau hal-hal yang berharga bagi kita memang sepenuhnya kita syukuri.

Penilaian

Konsep: C; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B+; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B+

24/03/2013

Sword Art Online

Sebelum musim tayang baru, baiknya aku menuntaskan pembahasan soal ini.

Aku sudah beberapa kali bahas seri novelnya. Tapi untuk kali ini, akan kubahas versi anime Sword Art Online.

Anime ini diangkat dari seri novel hit karangan Kawahara Reki yang diterbitkan ASCII Media Works. Novelnya terbit di bawah label Dengeki Bunko setelah sebelumnya sukses sebagai web novel. Produksi animenya dilakukan oleh studio A-1 Pictures dengan durasi total 25 episode, dan ditayangkan pertama kali pada paruh akhir tahun 2012.

Berlatar beberapa waktu di masa depan (tahun 2022-2024), SAO  berkisah seputar permainan VMMORPG (game online virtual) bernama Sword Art Online yang telah memerangkap jiwa-jiwa para pemainnya dalam suatu permainan hidup-mati. Permainan ini secara misterius diciptakan seorang ilmuwan jenius bernama Kayaba Akihiko, yang juga telah menggagas konsol permainan generasi terbaru fenomenal NerveGear di mana permainan ini dimainkan. Tokoh utamanya adalah seorang pemuda penyendiri (solo player) bernama Kirito, yang menjadi satu dari sekitar enam ribu orang yang masih bertahan hidup dalam dunia virtual ini.

Porsi besar ceritanya memaparkan hubungan Kirito dengan Asuna, wakil komandan dari guild terkuat, Knights of Blood, yang juga merupakan salah satu yang tercantik sekaligus terkuat dari sejumlah kecil pemain wanita yang ada. Pertemuan mereka seakan mengubah takdir Kirito, yang pada akhirnya menjadikannya pahlawan yang akan menuntaskan SAO sekaligus membebaskan mereka semua.

Tersesat di Kedalaman Mimpi

SAO itu pertama terbit tahun… 2009 kalau enggak salah. Aku mulai membaca terjemahan novel-novelnya pada tahun 2010 di situs Baka-Tsuki, dan seri itu benar-benar berkesan buatku.

Alih-alih plotnya, yang menonjol dalam novel-novel SAO adalah pemaparan rinci tentang dunia dan karakternya. Seperti ada temanmu yang bercerita soal game bagus, dan mendengarnya kau jadi ingin main juga. Makanya, saat adaptasi anime untuk SAO (bersama Accel World, seri novel Kawahara-sensei yang lain) diumumkan pada musim gugur tahun 2011, ada banyak sekali perhatian tentang hasil visualisasinya.

Studio animasi A-1 Pictures dikenal sebagai studio yang piawai menangani anime dari berbagai macam jenis. Mulai dari Ookiku Furikabute (tentang bisbol) hingga Senkou no Night Raid (tentang perang di Asia Pasifik). Tapi seri keluaran mereka yang paling mendekati penggambaran dunia fantasi sebelum SAO setahuku cuma Fractale. Makanya, aku sempat merasakan keskeptisan soal bagaimana hasil akhirnya.

Tapi adaptasi anime SAO belakangan terbukti sukses besar. SAO mungkin menjadi anime paling populer di sepanjang tahun 2012. Versi anime ini yang melambungkan ketenaran seri SAO, serta membuka jalan bagi perilisannya di berbagai media lain, terutama game adaptasi SAO pertama, Sword Art Online: Infinity Moment buatan Banpresto, yang belum lama ini juga sukses besar. (Buat yang mau tahu, game ini menyajikan penuntasan 25 lantai sisa dari SAO. Tapi soal itu mending kubahas di lain waktu.)

Pada awalnya, aku tak terkejut dengan perkembangan ini. Maksudku, aku sendiri sadar materi asli di novel-novelnya memang sekeren itu.

Tapi sejujurnya, secara pribadi, episode-episode awal animenya lumayan kurang dalam banyak hal. Desain karakter animenya, misalnya. Aku tahu alasannya mungkin untuk kepraktisan. Tapi desain karakter di animenya kehilangan sisi ‘tajam’ dan ‘keren’ yang ada pada ilustrasi-ilustrasi orisinil buatan abec. Ada kesan… ‘imut’ yang menurutku tak seharusnya ada, dan itu hal paling pertama yang menggangguku.

Kelemahan berikutnya yang kutemukan terdapat pada pemaparan premis SAO sendiri. Pada novel-novelnya, penggambaran dunia kastil raksasa melayang Aincrad, yang menjadi latar permainan, sejak awal terasa seperti sesuatu yang mencengangkan sekaligus bikin stres.

Maksudku, belum apa-apa sudah terasa overwhelming gitu.

Nah, nuansa khas yang yang membuat novel-novel SAO terasa menarik itu yang tiba-tiba saja seakan absen dalam animenya. Premis ceritanya jadi sedikit kurang meyakinkan.

Faktor kontribusi terjadinya hal ini mungkin kebijakan untuk memaparkan cerita SAO secara kronologis sih. Jadi, pada awalnya, novel pertama SAO sendiri sudah memaparkan awal cerita sekaligus penuntasan Aincard. Sedangkan novel keduanya pada dasarnya adalah kumpulan cerita pendek yang berlangsung pada titik-titik waktu berbeda di Aincrad, sebelum dan pada saat cerita di novel pertamanya berlangsung.

Adaptasi animenya memilih untuk mengabaikan pemaparan alur maju-mundur ini. Seluruhnya jadi digantikan dengan alur maju.

Kasusnya mungkin jadi mirip adaptasi film-film layar lebar Berserk yang baru. Atau kayak kalau kau memaksakan diri menonton anime Fate/Zero sebelum Fate/stay-night.

Biasanya alur maju-mundur digunakan agar kejadian-kejadian yang terjadi lebih dahulu justru jadi bisa dimaknai belakangan.  Lalu hal itu yang kayak jadi berdampak pada pembangunan setting di SAO. Kesulitan-kesulitan yang ditemukan dalam cara permainan SAO (adanya pertaruhan nyawa, adanya sistem permainan yang berbeda dari MMORPG pada umumnya, dsb) seakan jadi gagal terpaparkan di episode-episode awal. Kita paham kalau SAO mempertaruhkan nyawa. Tapi alasan kenapa hal itu menjadi such a big deal menjadi kurang tersampaikan.

Hal lain yang mungkin berpengaruh terhadap pengambilan pendekatan ini adalah reboot dari bab Aincrad di novel-novel SAO sendiri, lewat diterbitkannya seri relatif baru Sword Art Online: Progressive. Subseri ini menceritakan ulang sejumlah kisah yang terjadi dalam masa cerita buku satu dan buku dua SAO, namun kali ini secara kronologis. Di dalamnya, terdapat beberapa perbedaan dibandingkan apa yang terdapat pada versi web novel aslinya, dan mungkin itu jadi berdampak pada pembentukan struktur cerita di animenya. (Contoh hal ini adalah dimasukkannya sebagian episode Aria in the Starless Night yang tidak termasuk bagian seri novel utamanya ke dalam cerita di anime.)

Tapi begitu semua episode awal yang ‘tanggung’ ini terlewati–kurang lebih saat plot utama di buku satu SAO dimulai pada episode delapan–para staf seakan menemukan kembali arah mereka. Saat bab Aincrad berakhir dan bab Fairy Dance (yang mengetengahkan VMMORPG baru ALfheim Online atau ALO yang dikembangkan dari teknologi SAO) dimulai, aku akhirnya merasa para pembuatnya managed to do it right.

Memanggil Seseorang di Dunia Nyata Dengan User Name Mereka Kurang Sesuai Sopan Santun

Beralih ke soal teknis, aku kecewa dengan bagaimana jurus-jurus pedang di SAO kurang mendapat sorotan dalam versi anime ini. Dalam novelnya, setiap jurus pedang di SAO mempunyai nama dan efek khas dan dijabarkan dengan cukup lumayan. Dari sana, aku kemudian tersadar bagaimana secara umum, aspek gameplay dari SAO memang kurang begitu gamblang dijabarkan. Adegan-adegan pertempurannya sendiri memang terpaparkan dengan lumayan baik. Aksinya masih terbilang seru. Keganasan pertarungan-pertarungan yang harus Kirito lalui masih lumayan tergambar. Tapi bagiku, tetap serasa ada sesuatu yang sedikit hilang kalau dibandingkan dengan adegan-adegan di novelnya.

Selain adegan aksi, ada beberapa adegan lain (lagi-lagi di episode-episode awal) yang sempat bikin aku mengernyit. Bukan karena ‘jelek,’ tapi mungkin lebih karena seharusnya bisa dieksekusi dengan lebih baik lagi.

Tapi itu hanya ada di beberapa episode awal. Ada perbaikan signifikan yang tampak di episode-episode selanjutnya yang cukup membuatku bersyukur.

Soal visual, penggambaran dunianya bagus. Beneran bagus. Cuma, dari seluruh lantai yang Aincrad miliki, hanya segelintir yang pada akhirnya benar-benar tergambar. Mungkin ini menjadi isu lain yang mengecewakan bagi beberapa orang. Tapi kekurangan ini diimbangi di duaperlima akhir cerita, lewat penggambaran dunia dongeng Alfheim yang lumayan memikat.

Dari segi audio, aku sempat lupa kalau yang menangani soundtrack-nya adalah Kajiura Yuki (Beliau pernah menangani soundtrac k untuk anime bertema serupa, yakni .hack//sign). Gaya musiknya lumayan berbeda dibandingkan musik beliau sebelumnya. Tapi gubahan-gubahan beliau tetap cocok dan menggerakkan hati.

Lebih lanjut soal eksekusi, ada perbedaan tone yang lumayan terasa dengan masuknya cerita ke bab Fairy Dance. Di samping pergantian latar cerita dari SAO ke ALfheim Online, karakter Kirigaya Suguha, alias Leafa, turut ditonjolkan sebagai heroine menggantikan Asuna. Ada subplot yang berlangsung di dunia nyata juga. Tapi yang patut dipuji adalah bagaimana semua transisi itu dilakukan dengan bagus.

Ada satu bagian cerita favoritku dari novelnya yang sayangnya terpotong untuk versi anime (tepatnya saat Kirito dan Leafa harus melalui detour melalui ‘dunia bawah’ sebelum bisa sampai ke kota Aln, di mana mereka menemukan mekanisme jalan pintas yang melibatkan monster, sekaligus penemuan sebuah dungeon rahasia). Tapi sekali lagi, eksekusi cerita di bab Fairy Dance terbilang benar-benar bagus jadi ketiadaan bagian tersebut buatku tak terlalu kentara.

Seluruh theme song SAO terbilang cocok dengan nuansa yang A-1 Pictures coba bawakan. Tapi lagu ‘Overfly’ yang dibawakan oleh Haruna Luna sebagai lagu penutup kedua seri ini perlu kusebutkan secara khusus karena kebagusannya dalam memaparkan nuansa dunianya, terutama terkait perkembangan karakter yang dialami Suguha.

(Perlu kusebutkan bahwa belakangan aku telat sadar bagaimana fokus yang diberikan terhadap detil dunia ALO ini agak kurang dibandingkan SAO. Jadinya, mungkin wajar bila mereka yang tahu SAO hanya dari animenya agak ilfil dengan bagian kedua ini.)

Bicara soal kekurangannya, beberapa kelemahan pada versi novelnya secara lucu masih terbawa ke versi anime. Perkembangan hubungan antara Kirito dan Asuna masih agak aneh. Elemen-elemen berbau ‘dewasa’ di novelnya tetap masih dimasukkan (meski sudah agak diperingan). Lalu ada sejumlah aspek sains fiksinya yang akan dipertanyakan oleh beberapa orang. Tapi semuanya masih terasa dalam batas yang bisa diterima.

Fanbase untuk seri novel SAO sebelumnya sudah lumayan besar. Jadi dengan hasil sekarang yang bisa memuaskan para penggemar kasual (sepertiku) saja, hasil akhirnya sudah jadi prestasi besar.

Satu keunggulan dari perombakan urutan penceritaannya adalah bagaimana kita dimudahkan dalam mencerna sejumlah detil plotnya (seperti soal karakter Kibaou dan kudeta yang dilakukannya). Jadi pada akhirnya, kurasa perombakan urutan cerita ini mendatangkan sisi baiknya juga.

Perbedaan lainnya lagi pada adaptasi animenya adalah pada peningkatan signfikan dari jumlah pemain wanitanya (meski jumlah cowok tetap lebih banyak). Tapi yang satu ini kurasa hal minor dan bisa jadi hanya perasaanku.

Progress

SAO itu kusukai karena penggambarannya soal ‘menerima keadaan’ dan ‘menghadapi kenyataan.’ Seberapa sering dalam hidup kita langsung menerima kesusahan yang harus dilalui, tanpa mencari-cari alasan atau melarikan diri?

Akhir kata, versi anime SAO dalam banyak arti memang layak untuk terkenal.

Baik secara sadar atau enggak, ada nilai-nilai di dalamnya yang memang patut dipikirkan atau direnungin. Bab Fairy Dance merupakan salah satu bagian cerita terbaik dari novelnya. Jadi aku enggak tahu apakah season keduanya (bila dibuat) akan bisa menyaingi kualitas season yang ini. Tapi lebih baik itu dipikirkannya nanti.

Toh, bagaimanapun juga, pada saat tulisan ini kubuat, perjalanan Kirito melintasi dunia-dunia virtual dalam novel-novelnya pun masih belum sepenuhnya berakhir.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A; Audio: A; Perkembangan: B+; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: A+

Edit 13 Jan 2014

Sword Art Online: Extra Edition merupakan episode khusus berdurasi dua jam yang ditayangkan pada pergantian tahun 2013-2014. Episode ini memaparkan ringkasan cerita season pertama SAO melalui dialog penuh kilas balik yang berlangsung antara Kirigaya Kazuto dan si pegawai pemerintahan, Kikuoka Seijurou. Di samping ringkasan cerita tersebut, ada juga sedikit cerita sampingan soal bagaimana kawan-kawan Kirito melatih Suguha berenang.

Musim tayang kedua SAO yang akan berlatar di MMORPG baru, Gun Gale Online, turut diumumkan di akhir penayangannya dan dijadwalkan untuk mulai tayang pada pertengahan 2014.

Sedikit tambahan lagi, belum lama ini aku nyadar soal gimana bagi sebagian (kebanyakan?) orang, episode-episode cerita yang berlatar di SAO dinilai lebih bagus ketimbang yang di ALO. Secara pribadi, aku berpendapat sebaliknya. Tapi mungkin juga aku merasa begini karena sebelumnya sudah tahu cerita lengkap dari novelnya, sehingga yang lebih kuperhatikan itu kualitas teknis adaptasinya aja.

(Ada porsi cerita ALO yang memang tak muncul di animenya, yang memang tak berdampak pada pencarian Kirito atas Asuna, tapi memberi indikasi lumayan mendalam soal bagaimana ALO yang dikembangkan perusahaan RECTO Progress—salah satu divisi dari perusahaan RECTO milik keluarga Asuna yang dikelola tokoh antagonis Sugou Nobuyuki—punya sisi ‘tersembunyi’ di balik permukaannya, seperti halnya SAO.)

Intinya, yang ingin kukatakan: Sword Art Online telah jadi seri yang secara umum memang disukain orang. Tapi alasan mereka suka atau enggak sukanya itu sangat berbeda-beda. Jadi kalau misalnya kau penggemar baru dan mau mencoba masuk ke seri ini, inget-inget aja soal itu dan jangan terlalu mengkhawatirin pendapat orang lain.