Posts tagged ‘8-bit’

03/12/2015

Infinite Stratos 2

Infinite Stratos 2 keluar pada musim gugur tahun 2013 dengan jumlah episode sebanyak 12. Kembali diangkat dari seri light novel populer karangan Yumizuru Izuru, produksi animasinya masih dilakukan oleh studio animasi 8-bit. Perbedaan mencolok dari season pertamanya terutama ada di desain karakternya saja, yang kali ini dibuat oleh Horii Kumi. Tapi sutradaranya kembali adalah Kikuchi Yasuhito di bawah pengawasan Tosaka Susumu. Sedangkan komposisi serinya ditangani oleh Shimo Fumihiko, dan kudengar dengan keterlibatan Yumizuru-sensei sendiri.

Aku beberapa kali pernah ditanya anime apa yang mirip Infinite Stratos. Tapi terus terang, aku enggak benar-benar bisa ngasih jawaban. Sebelumnya, aku lumayan menggemari season pertamanya. Tapi agak tak biasa untuk kasus seri-seri seperti ini, aku tak pernah sampai tertarik untuk mendalami ranobenya. Makanya aku enggak tahu ‘rincian-rincian lebih’ soal ceritanya, dan itu juga jadi satu alasan kenapa seri ini baru aku bahas sekarang.

Anime yang mirip Infinite Stratos? Apa ya?

Kalau mirip dari soal konsep mechanya sih, selain Busou Shinki yang dulu kurang menonjol, dalam waktu dekat bakal ada adaptasi anime Saijaku Muhai no Bahamut dan Hundred yang mengangkat konsep mecha armor lumayan mirip.

Tapi kalau mirip dari soal konsep cerita dan haremnya… apa ya? Kayaknya, Infinite Stratos bisa jadi seri yang lebih unik dari yang aku kira. Soalnya, bahkan seri-seri yang mengangkat tema ‘aku satu-satunya cowok di sini’ enggak banyak yang punya nuansa yang mirip Infinite Stratos. …Itu satu kenyataan yang enggak benar-benar bisa aku jelasin.

Terlepas dari semuanya, season kedua ini kurang lebih mengadaptasi cerita dari buku 5-7 novelnya, yang mana dua karakter utama baru diperkenalkan: sang Ketua Dewan Siswa sekaligus siswi terkuat di IS Academy, Sarashiki Tatenashi yang menggunakan IS Mysterious Lady; beserta adik perempuan yang memiliki hubungan agak renggang dengannya, Sarashiki Kanzashi, yang bersikeras untuk bisa membuktikan diri dengan IS Uchigane Nishiki yang dibangunnya sendiri.

Seperti sebelumnya juga, sejumlah episode OVA spesial yang menyelingi juga menyusul penayangannya. Dalam hal ini: Infinite Stratos 2: Long Vacation Edition dan Infinite Stratos 2: World Purge-hen. (Juga disusul dengan perilisan game Infinite Stratos 2: Ignition Hearts dan Infinite Stratos 2: Love and Purge untuk PlayStation 3 dan PlayStation Vita, masing-masing pada Februari 2014 serta September 2015 lalu.)

Dia Perempuan yang Seperti Kucing

Infinite Stratos 2 berlatar tak lama sesudah season pertamanya berakhir, dan kembali mengetengahkan Orimura Ichika, satu-satunya anak lelaki di dunia yang didapati bisa menggunakan perlengkapan eksoskeleton tempur Inifinite Stratos, yang normalnya hanya bisa digunakan perempuan.

Karena alasan keamanan dan politis, ini membuat Ichika jadi harus digembleng di sekolah multinasional IS Academy, di mana ia menjadi satu-satunya murid lelaki. Lalu di sana, ia juga berhadapan dengan sejumlah siswi yang kemudian menjadi teman-teman dekatnya.

Buat mereka yang lupa, mereka meliputi:

  • Shinonono Houki, gadis jago kendo yang merupakan teman masa kecil Ichika yang untuk waktu lama sempat terpisah darinya. Dirinya juga merupakan adik perempuan Shinonono Tabane, ilmuwan legendaris pencipta teknologi IS, yang keberadaannya saat ini tak diketahui. IS pribadi miliknya adalah Akatsubaki (generasi 4, jarak dekat) yang diberikan Tabane secara khusus untuknya, yang bersenjatakan sepasang katana, dan memiliki kemampuan istimewa dan langka untuk memulihkan energi miliknya sendiri dan IS lain di dekatnya.
  • Cecilia Alcott, gadis kerturunan aristokrat yang merupakan kadet perwakilan IS dari Inggris, yang semula ditugaskan negara asalnya untuk mencari informasi terkait model generasi 3 terbaru Jepang. IS pribadi miliknya adalah Blue Tears (generasi 3, spesialisasi jarak jauh), bersenjatakan utama senapan laser untuk sniper, yang memiliki keistimewaan pada dronedrone yang dapat dikemudikannya secara terpisah dari badannya.
  • Huang Lingyin (‘Rin’), teman masa kecil Ichika yang lain, yang kini hadir di IS Academy sebagai kadet perwakilan dari China. Sempat terpisah lama dari Ichika juga karena sebab pribadi. IS pribadi miliknya adalah Shenlong (generasi 3, jarak dekat-menengah), yang dilengkapi Impact Cannon bernama Ryuhou serta sepasang golok liuyedao yang dapat disatukan menjadi naginata.
  • Charlotte Dunois, kadet perwakilan dari Perancis, yang sebelumnya sempat menyamar sebagai lelaki untuk memata-matai Ichika. IS pribadi miliknya adalah Rafale Revive Custom II (generasi 2, meski yang dimodifikasi berat, membuatnya mampu menangani seluruh jarak), yang memiliki persenjataan dalam jumlah dan jenis sangat banyak yang dapat digantinya secara cepat, sekaligus ‘dipinjamkannya’ pada IS lain dengan seizinnya.
  • Laura Bodewig, kadet perwakilan dari Jerman, seorang manusia ‘buatan’ sekaligus komandan pasukan khusus Schwarzer Hase di negara asalnya. Sangat mengidolakan kakak perempuan Ichika, Orimura Chifuyu, yang menjadi instruktur di IS Academy, dan semula datang ke sana untuk meninjau Ichika secara langsung. IS pribadi miliknya adalah Schwarzer Regen (generasi 3, jarak menengah-jauh) yang memiliki fitur unik Active Inertial Canceller yang dapat menghentikan segala pergerakan.

Konflik utama seri ini datang dari tampilnya grup misterius Phantom Task. Grup ini yang menyatakan bertanggung jawab atas insiden terorisme di turnamen Mondo Grosso yang di dalamnya Ichika sempat diculik pada awal cerita.

Dimotori oleh perempuan misterius yang menyebut dirinya Autumn, mereka berupaya mencuri IS pribadi milik Ichika, Byakushiki. Pada penghujung season sebelumnya, dalam insiden Silver Gospel, Byakushiki yang semula dipandang sebagai generasi ketiga mengalami Second Shift hingga mewujud menjadi IS generasi keempat, Byakushiki Setsura, satu dari dua IS tercanggih di dunia selain Akatsubaki milik Houki. Lalu perkembangan ini yang membuat Ichika kembali menjadi sasaran Phantom Task.

Atas dasar itu, Tatenashi, yang merupakan pilot IS terkuat di Akademi saat ini (yang sekaligus merupakan kadet perwakilan dari Russia), kemudian ditugaskan Chifuyu-nee menjadi pengawal pribadi Ichika. Berawal dari bagaimana mereka menjadi… kau tahu, teman sekamar. (Menggantikan Charlotte yang sekarang menjadi teman sekamar Laura.)

…Yah, seperti yang para penggemarnya tahu, separuh (atau malah lebih dari separuh) fokus cerita IS juga ada pada keseharian Ichika dan gadis-gadis yang mengelilinginya, di samping segala konflik multinasional ini sendiri. Jadi seperti yang bisa dibayangkan, ceritanya tak benar-benar seberat itu.

Ya, masih soal bagaimana para gadis di sekelilingnya telah jatuh cinta pada Ichika dan saling memperebutkan perhatiannya.

Ya, masih soal bagaimana Ichika dengan kepala tebalnya seakan tak pernah menyadari semua hal ini. (Walau semakin kuikuti, kadang aku dapat perasaan kalau Ichika sebenarnya dengan sengaja melakukannya…)

Melodi Jernih pada Mata Kaki Cinderella

Infinite Stratos 2 bukan seri yang langsung aku ikuti. Soalnya, aku sempat kecewa duluan dengan ceritanya. Aspek harem dan fanservice jujur saja memang jadi satu alasan kenapa season sebelumnya buatku terasa fun. Tapi keseimbangan antara aksi dan komedi(?) yang sebelumnya ada itu lumayan goyah di musim ini. Ya, aku lumayan kecewa. Apalagi dengan bagaimana jumlah heroine-nya jadi bertambah, dan karakter mereka pun bukan yang benar-benar langsung aku sukai.

Tapi kalau melihat di balik itu, terlepas dari aspek naskahnya sendiri, kurasa ada peningkatan tak disangka pada sisi teknis. Di satu sisi, koreografi adegan-adegan aksinya serasa jauh lebih baik. Bukan di soal ‘apa yang terjadi’-nya, tapi lebih di soal ‘bagaimana menggambarkan’-nya gitu. Meski jumlah aksinya enggak banyak, pas lagi ada, hasilnya sempat lumayan bikin aku terkesima.

Sekalian bahas sedikit soal mecha, sekalipun telah memperoleh Byakushiki Setsura yang sebenarnya bisa dibilang imba, Ichika digambarkan masih belum berhasil menggali segenap potensinya. Jadi dirinya masih punya banyak kelemahan gitu. Sehingga di kalangan teman-teman dekatnya, Ichika masih jelas bukan karakter yang paling kuat, walau kerja kerasnya tak dapat dipungkiri.

Dalam adegan latih tandingnya melawan Rin, aku masih belum memahami apa maksud para pembuatnya. Tapi dalam konfrontasi dadakannya melawan Autumn yang menggunakan IS curian Arachne (generasi 2, menengah) yang menyerupai laba-laba, bagaimana kondisi tekad Ichika yang diuji malah membuatnya semakin harus diperhitungkan berhasil membuatku lebih terkesan dari yang aku kira.

Aku sebenarnya berharap Infinite Stratos 2 ada lebih banyak sisi seriusnya (tanpa melepas sisi harem-nya, tentu saja), karena perkembangan cerita seriusnya sebenarnya memang menarik.

Autumn terungkap mengabdi pada pemimpin sesungguhnya(?) Phantom Task, seorang wanita elegan bernama Squall Meusel (IS miliknya adalah Golden Dawn, generasinya sulit diperkirakan), yang padanya Autumn menaruh kesetiaan penuh.

Namun selain mereka, hadir pula sesosok figur yang menyebut dirinya M, yang bukan hanya memiliki penampilan sangat mirip dengan Chifuyu-nee sewaktu muda, namun juga menaruh suatu dendam pribadi pada Ichika untuk alasan yang tak diketahui. M menggunakan IS bernama Silent Zephyrs, yang langsung dikenali Cecilia sebagai ‘saudari’ IS Blue Tears miliknya yang rupanya hilang dicuri Phantom Task. Lalu dalam perkembangannya, M mengungkapkan nama aslinya adalah Orimura Madoka. Hanya saja, sampai akhir, tetap tak terkuak bagaimana hubungan Madoka dengan dua bersaudara Ichika dan Chifuyu.

Sama seperti bagaimana alasan Shinonono Tabane mendadak muncul dan mempercayakan IS Black Knight (kembaran sosok IS generasi 1 White Knight yang pernah dilihat Ichika?) kepada Madoka sampai akhir juga tak terkuak.

Sama juga dengan bagaimana apa sebenarnya White Knight, dan alasan Ichika bisa menggunakan IS, hingga sekarang juga masih tak terkuak.

Yeah, itu sebenarnya… sedikit menyebalkan. Tapi aku bisa memaafkannya karena berbagai fanservice-nya.

Jadi, meski aku tak sepenuhnya memahami apa yang terjadi dalam adegan-adegan aksinya, aspek mechanya sendiri di luar dugaan mengalami peningkatan dibanding musim sebelumnya.

Di samping kemampuan bela dirinya, Sarashiki-sempai terlihat kehebatannya dengan kemampuannya menggunakan Mysterious Lady yang memiliki fitur unik untuk mengendalikan air. Terutama dalam duel habis-habisannya melawan Golden Dawn.

Konflik Tatenashi dengan adik perempuannya, Kanzashi, juga sebenarnya tak buruk. Berakar dari bagaimana sang kakak yang jenius seakan tak tergapai oleh adiknya. Lalu memuncak ketika Kanzashi, yang ternyata sebenarnya merupakan kadet perwakilan Jepang yang resmi, ternyata tertunda untuk punya IS pribadinya sendiri, karena produsennya malah mendahulukan produksi Byakushiki sesudah kemampuan Ichika untuk menggunakan IS terungkap.

Porsinya tak banyak. Tapi bagaimana Ichika, atas permintaan Tatenashi, berusaha memperbaiki hubungan dengan Kanzashi, termasuk bagian cerita yang menurutku menarik. Khususnya dengan bagaimana Ichika berakhir membantunya menyelesaikan Uchigane Nishiki.

Mereka yang Sunyi

Infinite Stratos 2 menurutku berakhir campur aduk. Ada bagian komedinya, ada bagian aksinya, ada sedikit bagian dramanya. Tapi berbeda dibandingkan musim sebelumnya, ini tak tersatukan secara mulus gitu. Secara keseluruhan, jadinya lebih terasa seperti sesuatu yang kurang serius, meski nyatanya enggak juga.

Aku tak tahu apa ini benar atau tidak, tapi ada yang menilai kalau pada season pertamanya, panitia produksinya melakukan beberapa penyesuaian pada cerita dengan maksud agar ini menjadi seri yang one off gitu. Langsung bisa terasa tuntas pada satu season. Sehingga pas mereka ternyata dapat kesempatan untuk membuat season berikutnya, mereka malah jadi tak benar-benar yakin ceritanya mau mereka apakan.

Still, they got the job done. Produksi animenya tuntas dengan hasil lumayan. Para fans juga kayaknya tak benar-benar bisa dibilang kecewa.

Dari sisi musik, musim ini serupa dengan musim sebelumnya. Lagu pembukanya sekali lagi dibawakan suara merdu Kuribayashi Minami, dengan lagu penutup yang juga dibawakan bersama oleh para pengisi suara para heroine-nya. Tapi memang kuakui daya tariknya entah kenapa agak berkurang dibandingkan season pertamanya.

Tapi di akhir seri, aku pribadi tetap sempat berharap kelanjutannya bakal ada lagi. Sesudah aku teringat dengan sejumlah hal menarik terkait karakternya yang aku lupakan (seperti bagaimana Ichika dan Chifuyu secara misterius ditelantarkan kedua orangtua mereka, Cecilia yang sebatang kara dan sampai membuat perjanjian dengan pemerintahannya untuk mempertahankan aset-aset keluarganya, atau bagaimana Houki menyalahkan kakaknya karena secara tak langsung menyebabkan terpisahnya dia dari Ichika dulu), perasaan berharap ini malah jadi tambah kuat.

Ini sempat luput dari perhatianku. Tapi serialisasi novel Infinite Stratos ternyata sempat mengalami masalah, sehingga publikasinya memang sempat tertahan untuk beberapa lama. Mulai buku ke-8 pada sekitar pertengahan 2013, penerbitnya bukan lagi Media Factory (dengan label MF Bunko J), melainkan Overlap (dengan label Overlap Bunko; kalau enggak salah, penerbit ini ada di bawah Kodansha). Karenanya, ilustratornya juga kini berganti, dari semula okiura menjadi CHOCO. Semua buku sebelumnya juga jadi diterbitkan ulang dengan ilustrasi yang berbeda. Kudengar kasusnya karena pelisensian ke penerbit luar negeri yang dilakukan tanpa sepengetahuan Yumizuru-sensei.

Jadi yah, untuk sekarang kita cuma bisa terus berharap.

Kalau kalian sudah jadi fans seri ini, season dua ini memberikan lebih banyak dari apa yang mungkin kalian harap. Tapi kalau kalian pendatang baru (dan penasaran kegilaan para fans terhadap Charl itu karena apa)…

Hmm. Entah ya.

Sekali lagi, nuansa animenya agak beda ketimbang novelnya soalnya. Tapi entah, mungkin itu cuma aku.

Penilaian

Konsep: C+; Visual: A-; Audio: B+; Perkembangan: C+; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B

Iklan
15/06/2015

Absolute Duo

Sebenarnya, aku kurang cocok dengan Absolute Duo.

Animenya diangkat dari seri light novel buatan Hiiragiboshi Takumi (bagian ‘boshi’ pada nama beliau suka ditulis dengan tanda bintang). Ilustrasi orisinilnya dibuat Asaba Yuu, dan diterbitkan di bawah label MF Bunko J. Produksi animenya dibuat oleh studio 8-Bit, dengan Nakayama Atsushi sebagai sutradara, dengan jumlah episode total sebanyak 12, dan ditayangkan pertama kali di awal tahun 2015.

Alasan aku merasa kurang cocok karena ada terlalu banyak hal di dalamnya yang enggak ‘masuk’ buatku. Tema ceritanya kurang berarti. Perkembangannya kurang mengesankan. Lalu karakterisasinya juga tak sedalam yang aku harap.

Aku sempat baca terjemahan buku pertama dari ranobenya. Aku kira mungkin yang membuatnya bagus adalah perkembangan ceritanya ke depan. Tapi meski aku ada beberapa hal di dalamnya yang memang menarik, beberapa perkembangannya buatku tetap agak terlalu tak masuk akal. (Seperti… adanya guru bergelagat psikopat yang selalu mengenakan usamimi, tapi anehnya tak dipermasalahkan siapa-siapa. Atau tentang bagaimana sang karakter utama menjadi yang satu-satunya yang dipasangkan sekamar dengan perempuan, tapi tak ada karakter cowok lain yang protes.)

Bagiku, Absolute Duo itu contoh seri ranobe yang benar-benar generik dan ‘biasa.’ Karenanya, buatku kurang menarik, meski mungkin aku merasa gini karena faktor usiaku juga. Menurutku, cerita Absolute Duo memang kayak paling cocok buat remaja-remaja berusia belasan tahun awal.

Tapi saat aku melihat key visual dalam promo animenya (aku bahkan sempat enggak habis pikir soal gimana bisanya seri ini diangkat jadi anime), ada sesuatu yang beneran menarik perhatianku.

Key visual-nya keren.

Aku enggak bisa jelasin kerennya di mana. Tapi ada nuansa keren yang enggak kusangka yang ada di dalamnya.

Aku memperhatikan nama-nama staf yang menangani adaptasi animenya. Lalu saat melihat kalau studio 8-Bit yang terlibat, aku kembali teringat dengan pengalamanku mengikuti season pertama Infinite Stratos, yang secara enggak disangka karena suatu sebab termasuk sangat kunikmati.

Aku akhirnya mencoba mengikuti perkembangan animenya. Lalu sesuai dugaanku, kualitas eksekusinya ternyata benar-benar lebih bagus dari yang aku kira.

…Walau sayangnya, aku tetap enggak bisa suka sih.

Apple Tea and Norse Mythology

Di dunia Absolute Duo, ada jenis persenjataan yang disebut Blaze, yang merupakan hasil manifestasi dari ‘jiwa’ seseorang, dan karenanya bersifat unik dan memiliki sifat-sifat khusus. Blaze bisa dimunculkan dari suatu rajahan yang disebut Luciful, dan akan pertama keluar dari dalamnya melalui manifestasi kobaran api. Lalu orang-orang yang dapat menggunakan Blaze dari Luciful mereka disebut sebagai kaum Exceed, dengan kemampuan fisik mereka yang jauh melebihi manusia normal sebagai dampak dari Luciful yang diberikan dipinjamkan kepada mereka.

Akademi Koryo adalah sekolah yang dibangun khusus untuk membesarkan kaum Exceed. Di samping pendidikan formal, para murid di sekolah ini secara khusus dilatih untuk menjadi prajurit yang dapat bertempur menggunakan Blaze.

Kokonoe Tooru adalah salah seorang murid baru yang mendaftar ke akademi ini. Tapi berbeda dari murid-murid lainnya, karena suatu alasan, Blaze yang keluar dari dalam dirinya berbentuk tameng, dan bukan senjata serang normal semisal pedang dan kampak seperti kebanyakan murid lainnya. Dirinya karena itu kemudian mendapat sebutan Irregular (‘tidak biasa, tidak wajar’), sekalipun dirinya datang ke akademi ini karena ingin mencari kekuatan akibat sesuatu yang pernah terjadi di masa lalunya…

Ada suatu upacara kenaikan Level yang diadakan secara berkala, yang hanya dapat dijalani oleh seorang murid apabila dirinya telah cukup siap, yang ditandai dengan cukupnya latihan yang telah ia lalui. Apabila Level Luciful yang dipunyai seseorang dinaikkan, maka dengan sendirinya kekuatan Blaze yang dimilikinya akan (jauh) bertambah, meski fisik mereka sendiri mesti harus sudah cukup terlatih untuk mewadahi peningkatan kekuatan ini.

Lalu untuk mendukung peningkatan keterampilan ini, di Koryo ada sistem pasangan yang disebut Duo, yang mengharuskan setiap murid memiliki semacam partner yang dengannya mereka akan hidup dan berlatih bersama. (Aspek ‘bersama’ di sini sebenarnya perlu agak aku tekankan.)

Absolute Duo pada dasarnya berkisah tentang pengalaman-pengalaman Tooru di Koryo sesudah ia mendapatkan seorang gadis dari luar negeri bernama Julie Sigtuna sebagai pasangan Duo-nya, yang mempunyai Blaze berwujud pedang kembar. Mereka sempat mengalami kesulitan mencari pasangan karena kemampuan tempur keduanya yang sama-sama di atas rata-rata. Lalu rasa keterikatan Tooru terhadap Julie semakin bertambah kuat sesudah mengetahui bahwa Julie mempunyai misi balas dendam pribadi yang serupa seperti dirinya.

…sampai maut memisahkan kita.

Anime Absolute Duo mengangkat cerita novelnya kira-kira dari buku pertama sampai buku keempat. Mulai dari hari pertama ujian masuk ke Akademi Koryo, pertemuan Tooru dengan Lilith Bristol, gadis bangsawan yang disebut Exception (‘pengecualian’) karena Blaze miliknya mewujud menjadi senjata modern yang langka, yaitu senapan, yang juga membebaskannya dari aturan-aturan yang mengekang beberapa siswa lain; sampai ke akhir konflik Tooru dan kawan-kawannya melawan sosok K yang mewakili pihak Equipment Smith. Ceritanya diakhiri dengan bagaimana Julie kemudian membeberkan pada Tooru bahwa sebenarnya dirinya bukan Exceed seperti teman-temannya, karena Blaze miliknya timbul secara alami tanpa Luciful sesudah tragedi yang menimpa keluarganya terjadi.

Dalam perkembangan cerita, Tooru terungkap sering mendapat mimpi buruk tentang terbunuhnya adik perempuannya, Otoha, oleh seseorang yang belum terungkap identitasnya dalam cerita. Insiden tersebut yang mengawali obsesi Tooru untuk mencari kekuatan, yang dilakukannya dengan mendalami ilmu bela diri. Sedangkan Julie, di balik semua kepolosannya, juga ternyata pernah mengalami hal serupa, sesudah ayahnya juga terbunuh oleh suatu pihak yang belum terungkap di negeri Gimle tempat asalnya.

Seperti yang biasa terjadi untuk kasus anime-anime yang diangkat dari LN, subplot yang menggerakkan para karakternya untuk balas dendam ini masih berakhir tanpa dituntaskan. Tapi ceritanya cukup terpapar secara apik, dengan visualisasi latar yang lumayan konsisten serta adegan-adegan aksi yang cukup mencolok.

Absolute Duo sempat memukau sejumlah orang dengan kualitas koreografi aksinya yang lumayan enggak disangka. Meski kadang masih agak ‘bolong’ di beberapa bagian, kualitas koreografi ini tetap ada di atas rata-rata untuk ukuran anime sejenisnya (benar-benar sampai membuatku mengingat nama Nakayama-san yang menjadi sutradaranya). Lalu kerennya adegan-adegan aksi ini lumayan kontras dengan gaya desain karakternya yang dipenuhi bishoujo (yang sempat membuat seorang kenalanku bahkan membuatnya mengira ini seri romansa seperti Da Capo), dan mungkin di sana daya tarik seri ini terletak.

Bicara soal teknis, baik untuk visual maupun audio, presentasinya lumayan di atas rata-rata, walau sempat agak goyah menjelang akhir. Tapi di atas rata-rata di sini beneran di atas rata-rata. Ada bagian-bagian animasi dan musiknya yang seriusan terbilang memukau buat mereka yang biasa suka seri-seri kayak gini. Kenyataan kalau seri yang cuma sebatas satu cour ini punya tiga lagu penutup misalnya, lalu dua dari tiga lagu tersebut terbilang bisa aku sukai, kayak nunjukin para produsernya seserius apa.

Aku sempat agak bingung dengan desain persenjataan Blaze-nya (tameng Tooru ukurannya lebih kecil dari bayanganku). Tapi lambat laun aku terbiasa. Penggarapan ceritanya juga lumayan. Animenya merangkum banyak porsi cerita di novelnya dengan cara yang membuatnya tak terlampau terasa aneh.

Buatku pribadi, ini seri yang masih jauh dari memuaskan. Tapi mungkin karena aku tak berharap banyak juga, aku berakhir sedikit lebih terkesan dari yang aku kira.

Twin Blades and Aegis Desire

Selain jalan ceritanya sendiri, yang mungkin agak menentukan buat sebagian orang mungkin karakterisasinya sih. Karakterisasinya, terus terang, sebenarnya cenderung seperti di kebanyakan seri ranobe.

Nagakura Imari, orang pertama yang Tooru kenal di Koryo, yang memiliki sebilah katana sebagai Blaze-nya, adalah karakter lumayan menarik. Tapi sayangnya dirinya tak termasuk sebagai karakter utama.

Tsukimi Rito, guru wali kelas Tooru yang hobi berkostum kelinci dan seperti punya kepribadian ganda, tampil sebagai first boss yang Tooru dan kawan-kawannya harus lalui dengan Blaze-nya yang berwujud pedang (yang dapat menjadi rantai?).

Soal teman-teman Tooru dan Julie, Tooru bertemu kembali dengan kawan lamanya Torasaki “Tora” Aoi, yang sinis dan berkacamata, yang Blaze-nya berbentuk katar. Sedangkan Tora membentuk pasangan Duo dengan Tatsuno “Tatsu” Ryutaro (yang hobinya mengekspresikan diri lewat memamerkan otot daripada kata-kata) yang mempunya Blaze berbentuk naginata.

Pasangan Duo lain yang dekat dengan Tooru adalah pasangan Tachibana Tomoe dan Hotaka Miyabi. Tomoe adalah satu dari sekian sedikit murid baru di Koryo yang telah terlatih ilmu bela dirinya sebelumnya, dan karenanya menjadi sering berlatih dengan Julie dan Tooru dengan Blaze miliknya yang berbentuk rantai kusarigama. Sedangkan Miyabi, meski rendah diri dan pemalu, memiliki Blaze berbentuk lance yang membuatnya memiliki daya penghancur paling besar di antara mereka semua (ukuran Blaze Miyabi jauh lebih besar dari yang aku bayangkan dari novelnya).

Selebihnya, ini jenis cerita yang temanya menurutku lagi-lagi diangkat dengan cara terlalu sederhana (ada sekolah yang melatih ilmu militer, tapi nuansanya masih kalah jauh dengan yang ditampilkan di Final Fantasy VIII atau Chrome Shelled Regios, misalnya). Tapi setelah aku balik, mungkin kesederhanaan dan kejelasan konfliknya ini mungkin menjadi daya tariknya untuk sejumlah orang.

Dalam perkembangannya, Tooru dan para murid lainnya di Koryo terungkap hanyalah bidak-bidak yang dikumpulkan oleh Tsukumo Sakuya, kepala Akademi Koryo yang berwujud seperti seorang gadis kecil yang mengenakan pakaian gothic lolita, yang dengan kejamnya dapat menyuruh Tooru dan lain-lainnya saling bertarung dan mempertaruhkan nyawa mereka. Tapi ini status yang dengan rela diterima Tooru asalkan dirinya bisa mendapat kekuatan yang dijanjikan padanya sebagai imbalan.

Sakuya, yang juga berjulukan Blaze Diabolica, kemudian juga terungkap sebagai satu dari beberapa pihak—seperti halnya Equipment Smith yang menggunakan perangkat-perangkat perlengkapan tempur Unit daripada Luciful—yang berupaya menjangkau sesuatu yang disebut Absolute Duo, yakni manifestasi kekuatan tertinggi dari jiwa.

Apa persisnya Absolute Duo ini masih belum terungkap sampai akhir cerita. Tapi mesti diakui, perkembangan ke sananya memang jadi semakin menarik…

Akhir kata, kalau kau suka seri-seri aksi fantasi yang diangkat dari LN macam begini, Absolute Duo termasuk yang agak kurang dari segi cerita, tapi agak lebih dalam hal-hal lainnya. Kalau kalian merasa bisa suka dengan para karakternya, mungkin kalian bisa suka.

…Kalau aku merasa kayak gini, apa ini tanda kalau aku akhirnya telah menjadi riajuu? Hmm.

Penilaian

Konsep: E+; Visual: B+; Audio: B+; Perkembangan: B-; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: C+

Update, Agustus 2015

Omong-omong, versi novel Absolute Duo sudah dikonfirmasi akan diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Star Rose Media. Aku sudah lihat preview mereka. Hasil terjemahannya keren!

…Sesudah membaca ceritanya dalam bentuk teks buku, aku mulai bisa agak mengerti kenapa seri ini terkenal. Bahkan untuk ukuran LN, ini benar-benar cerita selingan pengisi waktu yang luar biasa gampang dibaca. Ceritanya ringan, enggak terlalu berat, ada aksinya.

Lalu buat standar ranobe di Jepang, mungkin itu semata sudah cukup.

13/04/2011

IS – Infinite Stratos

Anime Infinite Stratos, atau biasa disingkat IS, dibuat berdasarkan seri ranobe karangan Izuru Yumizuru yang berjudul sama. Ceritanya seputar kehidupan sang tokoh utama, remaja laki-laki tak terlalu peka yang jago membereskan pekerjaan rumah tangga, Orimura Ichika, yang menjadi satu-satunya siswa lelaki di boarding school internasional elit: IS Academy.

Anime ini keluar di masa tayang musim dingin tahun 2011 (musim dengan cukup banyak anime yang lumayan), dan kalau aku tak salah, menjadi seri anime pertama yang dikeluarkan studio animasi 8-bit. Terdiri atas 12 episode, sebagaimana yang bisa tertebak dari premisnya, ini seri yang pada dasarnya bergenre harem love comedy, meski ada bumbu-bumbu mecha yang menjadi bagian dari daya tarik utamanya juga.

Semua Teman Sekelasku Perempuan

Berlatar lumayan jauh di masa depan, dikisahkan bahwa telah ditemukan suatu sistem persenjataan exoskeletal canggih yang kemudian merevolusi ‘balapan senjata’ di seluruh dunia. Sistem yang semula dikembangkan untuk penjelajahan antariksa ini dikenal sebagai Infinite Stratos (IS), dan sesudah potensinya sebagai alat perang diketahui, suatu kesepakatan internasional sampai dicanangkan untuk membatasi penggunaannya di bidang olahraga saja. (bayangkan IS sebagai versi futuristik dari jubah-jubah perisai di Saint Seiya dengan persenjataan sinar dan perisai energi, yang bisa terpasang di tubuh pemiliknya kapanpun dibutuhkan, yang dengan demikian menjadikan para gadis yang memakainya agak-agak mirip mecha musume…)

Sekolah internasional IS Academy yang setara SMA kemudian didirikan di Jepang sebagai lembaga yang mendidik para calon pengguna IS. Di sini, remaja-remaja yang dipandang berpotensi sebagai pilot IS dikumpulkan dari seluruh penjuru dunia.

Tapi terlepas dari seluruh kehebatannya, ada satu kekurangan(?) yang IS miliki. Untuk suatu alasan, penggunaannya hanya terbatas untuk kaum perempuan! Tak ada seorangpun lelaki di dunia yang mampu mengaktifkan sistem IS, dan kenyataan ini secara tak langsung telah merombak struktur sosial berkenaan gender di seluruh dunia.

Karena itu, menjadi suatu kejutan luar biasa tatkala di hari ujian saringan masuk SMA, Ichika secara tak sengaja mendapati dirinya bisa mengaktifkan sistem sebuah IS. Icihika langsung menjadi buah bibir dalam semalam, dan dirinya sampai diperiksa dan diinterogasi orang-orang misterius yang mengklarifikasi kebenaran hal ini. Pemerintah Jepang secara sepihak kemudian memaksa Icihika untuk masuk IS Academy, dan demikian, kehidupannya sebagai satu-satunya siswa lelaki di sana pun bermula.

Kukira Tiga Sudah Cukup!

Sebagai orang yang lain sendiri, Ichika harus bekerja ekstra keras untuk mengejar ketertinggalan materi-materi pelajarannya dibandingkan teman-teman sekolahnya yang lain. Terlebih saat ia mengetahui bahwa wali kelasnya tak lain adalah Orimura Chifuyu, kakak perempuannya sendiri, yang selama ini telah merahasiakan profesinya sebagai pilot sekaligus instruktur IS sangat andal yang berwatak keras. Sebagai timbal baliknya, Ichika juga menjadi murid paling dikenal di sekolah itu, yang senantiasa menarik perhatian teman-teman sekolahnya yang lain (ehem!), dan mau tak mau harus menjadi ‘hebat’ agar tak mengecewakan pengharapan orang-orang di sekitarnya. Terlebih saat Ichika dipercaya sebagai pengguna IS melee custom Byakushiki, yang bersenjatakan pedang sinar yang sama dengan yang dulu pernah digunakan Chifuyu, Yukihira Niigata.

Untungnya, membantu Ichika, adalah teman masa kecilnya, gadis berwatak keras bernama Shinonono Houki, yang telah terpisahkan darinya sesudah delapan tahun. Houki, yang pernah menjadi juara kendo nasional, meski semula enggan karena malu, secara teratur melatih ulang fisik Ichika dan sekaligus membantunya dalam soal pelajaran. Houki belakangan juga menjadi salah satu murid yang paling dikenal saat terungkap bahwa dirinya tak lain adalah adik kandung dari Shinonono Tabane, ilmuwan wanita super jenius penemu teknologi IS yang melegenda karena keberadaannya yang misterius dicari-cari oleh berbagai pemerintahan dan agensi rahasia di seluruh dunia.

Aspek harem seri ini mulai muncul saat kepopuleran(?) Ichika mengundang perhatian Cecilia Alcott, gadis bangsawan asal Inggris yang tak bisa menerima orang dari kalangan ‘rendahan’ seperti Ichika menjadi ketua kelas. Dengan IS-nya yang custom, Blue Tears yang dilengkapi berbagai persenjataan sinar dan bit, Cecilia menantang Ichika untuk berduel dalam pertandingan IS. Sebagaimana yang bisa ditebak, belakangan keduanya bisa berteman juga.

Selain Houki yang menjaga jarak dan Cecilia yang percaya diri, jumlah gadis yang berebut menjadi sasaran perhatian Ichika bertambah dengan kehadiran Huang Lingyin (Fan Rinin), teman masa kecil lain Ichika yang berasal dari China, yang sudah lama naksir padanya. Teman sekamar Ichika sekaligus murid pindahan baru, Charles Dunois, keturunan termuda keluarga Dunois asal Perancis yang menjadi penghasil IS terbesar di dunia, belakangan terungkap jati dirinya sebagai perempuan bernama asli Charlotte Dunois, saat maksud sebenarnya menghadiri IS Academy diketahui Ichika. Charlotte yang relatif lebih level-headed pun tanpa segan-segan menunjukkan bahwa Ichika telah menjadi orang yang ia sukai. Para pemeran utama terkumpul lengkap dengan hadirnya Laura Boedwig, perwira khusus muda asal Jerman, yang mengkonfrontasi Ichika karena menyalahkannya sebagai alasan Chifuyu berhenti menjadi pilot IS.

Ketiga gadis di atas, sebagai perwakilan negara masing-masing, juga memiliki IS custom mereka sendiri-sendiri. Rinin memiliki Shen Long, IS melee untuk jarak dekat ke menengah, yang bersenjatakan sepasang Impact Cannon yang memanipulasi tekanan udara serta sepasang liuyedao (golok kembar) yang dapat disatukan. Charlotte menggunakan Rafale Revive Custom II, modifikasi canggih dari IS produksi massal yang paling banyak digunakan, yang memungkinkan dirinya sekaligus teman-temannya menggunakan berbagai jenis senjata dalam jumlah banyak. Laura memiliki Schwarzer Regen, IS tipe artileri untuk jarak menengah dan jauh, yang menyimpan daya ofensif dahsyat dan fitur khusus medan AIC yang melumpuhkan gerakan lawan.

Menjelang akhir cerita, Houki pun mendapatkan IS custom miliknya sendiri, yakni Akatsubaki pemberian Tabane yang sejauh ini menjadi IS paling mutakhir yang pernah tercipta. Meski Houki belum mahir menggunakannya, Akatsubaki dinilai setara dengan Byakushiki. Persenjataannya meliputi sepasang katana yang Houki gunakan bersamaan serta kemampuan unik untuk memulihkan energi IS lain.

Mungkin… Jumlah Ceweknya Masih Akan Bertambah

Sebagai anime, aku tak bisa berkomentar banyak tentang IS dari segi cerita. Dua belas episode ini memaparkan berbagai pengalaman Ichika dalam bertemu dan berhadapan dengan bermacam tantangan dan orang yang hadir di IS Academy, hingga puncak seri ini ketika Ichika dan kawan-kawannya secara mendadak harus menghentikan amukan Silverio Gospel, IS tak berawak buatan Israel yang lepas kendali.

Plot ceritanya lumayan tertebak dan pada beberapa bagian, sejujurnya, agak tak masuk akal. Tapi meski para produsernya jelas-jelas memberi penekanan lebih pada sisi interaksi antar karakter (sisi harem-nya…), sejumlah poin cerita penting tak dikesampingkan kok. Masa lalu ‘ajaib’ para karakternya, terutama Ichika dan Chifuyu, dipaparkan. Lalu sejumlah misteri dimasukkan pula ke dalamnya. Ada kemunculan IS tak berawak misterius di IS Academy yang ternyata memiliki core tak dikenali, serta keberadaan sosok misterius dalam benak Ichika (Byakushiki?) yang bisa jadi merupakan ‘ksatria putih’ yang Chifuyu dan Tabane pernah sebut-sebut. Masih banyak sisi dari dunia futuristik di dalam ceritanya yang belum terjamahi. Agak sayang juga bila cerita dengan latar semenarik ini dibiarkan hanya sampai sini.

Dari segi visual, meski desain dan konseptualisasi karakternya tak istimewa, tampilannya tajam kok. Animasinya halus dan enak dilihat. Setiap adegan pertempuran IS terlihat keren dan seru, meski sejujurnya aku merasa koreografi pertempurannya masih bisa lebih baik.

Aku agak malu mengakuinya, terlebih dengan tingkat fanservice-nya yang berada di ambang batas, tapi adegan-adegan komedi saat para gadis berebut perhatian Ichika benar-benar menjadi sisi paling menarik dari seri ini. Adegan-adegan komedinya tereksekusi baik. Aspek ini diperkuat dari kualitas seiyuu-nya serta jenis musik yang digunakan yang memantapkan nuansa cerah(?) yang dimiliki seri ini.

Aku tak tahu banyak soal versi ranobe-nya, mengingat aku belum menemukan info lebih banyak. Tapi seperti biasa memang ada perbedaan detil cerita di antara keduanya (di LN misalnya, Silverio Gospel dikisahkan diawaki oleh seorang perempuan bernama Natasha Fairs).

Singkat kata, aku kecewa tentang banyak hal yang ada di seri ini. Tapi di sisi lain, ada sejumlah hal yang membuatku terpuaskan juga. Ini jelas bukan seri buat semua orang, dan lagi-lagi aku mengikutinya karena minat khususku semata. Tapi asal kau tahu apa yang kau mau, ini bisa jadi sesuatu yang kau anggap lumayan kok.

(Sial, aku terlalu sensitif terhadap nyanyian Kuribayashi Minami…)

Penilaian

Konsep: D; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: C; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B-