Posts tagged ‘07thExpansion’

14/03/2011

Umineko no Naku Koro ni (VN5)

Melanjutkan bahasan tentang VN Umineko no Naku Koro ni yang tengah kumainkan…

Episode kedua berlanjut dengan adu argumentasi antara Battler dan Beatrice. Battler yang masih belum sepenuhnya memahami ‘aturan permainan’ mengalami kesulitan dalam menghadapi kelicikan sang penyihir. Dirinya dengan susah payah mencoba menjelaskan bagaimana orangtua para sepupu bisa terbunuh secara sekaligus di chapel, bagaimana mereka bisa sampai ditinggalkan dalam sebuah ruangan yang terkunci, lalu bagaimana semua itu berakibat pada kecurigaan terhadap para pelayan, serta bagaimana sisa pembunuhan bisa dilakukan sesudah adanya jasad-jasad yang hilang, yang menciptakan ilusi bahwa ada seseorang yang telah memalsukan kematiannya sendiri.

Dihadapkan pada trik alibi yang Beatrice gunakan, Battler nantinya memahami bahwa tujuan utamanya bukanlah menemukan sang pelaku, melainkan menunjukkan bahwa pembunuhan-pembunuhan yang terjadi bisa dilakukan tanpa menggunakan sihir. Pemahaman barunya inilah yang menjadi awal perkembangannya menjadi lawan yang sepadan bagi Beatrice.

Tapi meski telah berusaha keras, episode kedua tetap berakhir dengan kekalahan telak bagi Battler. Pintu ke Negeri Emas terbuka. Harapan Kinzo tercapai. Tapi seperti halnya Genji, Kinzo pun hanya berakhir sebagai korban persembahan di mata Beatrice. Battler tunduk sebagai budak peliharaan sang penyihir. Tapi pada saat mendengar teriakan penuh derita dari Rosa dan Maria—dua orang terakhir yang masih tersisa—Battler dengan tegar bangkit kembali dan menantang Beatrice sekali lagi. Dengan demikian, melenyapkan sihir yang telah tercipta, dan membuat segala ritual harus diulang kembali dari awal.

The Seven Sisters of Purgatory

Episode kedua sebenarnya dibuka dengan beberapa pembeberan baru melalui kilas balik sejumlah kejadian yang terjadi lama sebelum hari pertemuan keluarga. Awal mula jalinan cinta diam-diam antara Shannon dan George diungkap. Awal hubungan buruk antara masing-masing anak Kinzo diangkat ke permukaan. Kenyataan bahwa Shannon, Kanon, serta Genji bukan ‘manusia’ juga diindikasikan. Lalu melalui mata Shannon dan Kanon, Beatrice diperlihatkan selama ini telah lama berdiam di Rokkenjima, meski bukan dalam wujud kasat mata.

Kita juga mengetahui bahwa sihir di dunia Umineko bergantung pada kekuatan keyakinan. Ada sesuatu yang disebut ‘toksin anti-sihir’ yang terkandung dalam diri tiap manusia dengan kadar berbeda-beda, yang menentukan keberhasilan dari setiap tindakan sihir. Dalam keluarga Ushiromiya, toksin ini terkandung dengan kuat dalam diri Battler oleh Kinzo—menjadikan mereka teramat sulit mempelajari sihir, tetapi pada waktu yang sama melindungi mereka dari pengaruh-pengaruh sihir dari luar. Toksin inilah yang menjadi alasan mengapa dalam keadaan ‘normal’ sihir seakan tidak pernah ada, dan sihir hanya dapat muncul dalam lingkungan orang tertentu yang mempercayai keberadaannya.

Titik penting dalam episode ini mungkin adalah dipecahkannya cermin yang tersimpan di kuil kecil tepi karang Rokkenjima oleh Shannon, beberapa waktu sebelum ia dan George bahkan berhubungan. Cermin yang dikatakan ajaib ini diduga berhubungan dengan segel yang mengunci kekuatan Beatrice. Shannon melakukan ini sebagai bentuk pembayarannya atas bantuan Beatrice dalam membantu hubungannya dengan George.

Kemunculan Beatrice dalam wujud ragawi di Rokkenjima mematahkan salah satu ‘senjata potensial’ Battler yaitu keberadaan Beatrice yang tak bisa dipastikan. Dengan hadirnya Beatrice di papan permainan, Battler tidak bisa menggunakan alasan bahwa semua yang terjadi hanyalah permainan yang diskenariokan oleh kakeknya belaka.

Di episode ini, kita secara resmi diperkenalkan juga terhadap Seven Stakes of Purgatory, senjata-senjata pasak yang merupakan ‘perabotan’ ciptaan Beatrice yang dibuat khusus untuk keperluan ritual ini. Ketujuhnya berbentuk pasak-pasak logam yang hidup dan dapat meluncur sendiri di udara ke arah sasaran mereka dengan kecepatan tinggi. Mereka dengan ganas akan memburu sasaran-sasaran mereka dan menancapkan diri di bagian tubuh korban sesuai ketentuan ‘senja’ yang sedang berlaku. Mereka-lah wujud sebenarnya dari senjata pasak misterius yang membingungkan Battler pada permainan pertama. Bila sedang tak berwujud pasak, mereka mengambil sosok tujuh bersaudari muda berseragam merah dengan rok sangat pendek yang memiliki kepribadian masing-masing. Ketujuhnya dinamai sesuai nama suatu ‘setan’ (duh, aku enggak enak nulis ini) dan masing-masing dari mereka mewakili salah satu dari tujuh ‘dosa besar.’

Konsep pasak ini mulanya membuatku agak gimanaa gitu. Kenapa sih misteri pembunuhannya enggak pake senjata-senjata biasa aja? Tapi aku mulai memahami maksud Ryukishi07 seiring dengan berlangsungnya cerita.

Terlepas dari semuanya, episode kedua ini kembali berakhir secara menggantung dan memunculkan lebih banyak pertanyaan. Battler ingin menyangkal sang penyihir, tetapi pada waktu yang sama tak ingin membiarkan salah satu anggota keluarganya dituduh sebagai pelaku. Kontradiksi inilah yang kemudian menjadi penyebab kekalahannya.

Omong-omong, belakangan aku sadar. VN Umineko ini agak susah kuulas karena ada begitu banyak detil yang bermain di dalam ceritanya. Di samping itu, karena ada begitu banyak tokoh di dalamnya dan ada berbagai sudut pandang yang diambil dalam satu episode, tak ada fokus khusus yang bisa ‘mengikat.’ Sehingga yang tersisa hanya aspek misteri dan teka-tekinya saja yang bisa diandalkan untuk memikat pembaca, yang sebenarnya belum tentu juga bisa mencerna semua cerita ini.

Tapi, yah, aku tetap akan menulis tentangnya kok. Hanya tinggal dua episode lagi yang perlu kuulas sebelum bisa mulai mempelajari Umineko Chiru.

Iklan
14/02/2011

Umineko no Naku Koro ni (VN4)

Aku lupa cerita. Di akhir episode pertama, sebelum kedua epilog, dikisahkan bahwa jenazah setiap anggota keluarga Ushiromiya akhirnya ditemukan para penduduk sekitar yang datang untuk menengok di Rokkenjima sesudah badai berakhir. Mirip seperti kasus surat wasiat Maebara Keiichi pada episode pertama Higurashi, tak ada satupun orang luar yang bisa menjelaskan apa kira-kira yang telah terjadi.

Tapi beberapa bulan berikutnya, dikatakan bahwa sebuah surat dalam botol ditemukan di suatu wilayah lepas pantai. Surat tersebut rupanya surat wasiat yang konon ditulis dan ditanda tangani oleh Maria Ushiromiya di akhir hayatnya, yang memohon agar siapapun yang menemukan dan membaca surat tersebut bisa menemukan kebenaran dari peristiwa menyedihkan yang menimpa keluarganya.

Pada awalnya, aku mengernyit saat membaca keterangan soal surat ini. Ada sesuatu yang jelas-jelas tak beres tentangnya (seperti: apa benar dengan semua yang terjadi, Maria yang menulis surat tersebut?), dan akhirnya hanya berpikir bahwa ini hanya menjadi semacam ‘tanda pembuka’ misteri semata.

Tapi siapa sangka surat ini nantinya justru akan memainkan fungsi yang begitu besar di dalam cerita….

Revelations

Pada episode kedua, Turn of the Golden Witch, Ushiromiya Battler menantang Beatrice untuk membuatnya mengakui bahwa para penyihir benar-benar ada.  Sesudah segala yang terjadi di episode pertama, hanya Battler seorang yang masih tersisa dalam menghalangi kebangkitan Beatrice secara sepenuhnya. Beatrice takkan membiarkan Battler begitu saja, dan berjanji akan menyiksa dan membuat dirinya begitu menderita, sampai pendiriannya akhirnya goyah dan hancur.

Sesudah dibawa ke ‘alam sementara’ bernama Purgatorio (dan secara mengerikan dibunuh kemudian dihidupkan kembali secara berulangkali) Battler bersama Beatrice menghadiri permainan ‘reka ulang’ dari masa dua hari dirinya di Rokkkenjima, di mana waktu seolah berulang dan Battler berkesempatan melihat dirinya dan keluarganya di masa lalu sebelum peristiwa pembantaian, yang mungkin saja akan berakhir dengan cara yang berbeda dari ‘sebelumnya’…

Ini mungkin agak membingungkan bagi yang belum tahu. Tapi intinya, Battler dan Beatrice saling duduk berhadapan di sebuah meja, dan mereka akan saling bertukar teori tentang segala perkembangan yang terjadi di ‘papan permainan’.

Syarat kemenangan Battler adalah sepenuhnya membuktikan pada Beatrice bahwa segala trik pembunuhan yang berlangsung di Rokkenjima dapat dilakukan dengan tangan manusia, sama sekali tanpa campur tangan ‘sihir.’ Sebaliknya, syarat kemenangan Beatrice hanyalah membuat Battler sepenuhnya menerima bahwa penyihir dan kekuatan sihir benar-benar ada. Ada implikasi lebih mendalam dari kedua syarat kemenangan ini. Tapi soal itu akan kubahas lebih lanjut lagi.

‘Papan permainan’ yang dimaksud adalah Rokkenjima sebagai ‘panggung drama’ di mana peristiwa pembantaian dua hari itu kemudian dilangsungkan. Di dalam ‘papan permainan’ itu, waktu dimulai dari hari kedatangan Battler dan keluarganya di Rokkenjima. Lalu insiden-insiden aneh mulai terjadi seperti dalam episode sebelumnya, dan seterusnya. Di ‘papan permainan’ ini, ada ‘Battler lain’ yang berbeda dar Battler yang sedang berada di Purgatorio. ‘Battler’ inilah yang jadi pion langsung Battler karena memiliki sifat, pembawaan, serta ingatan masa lalu sama persis dengannya. ‘Battler’ ini sepertinya memang tak bisa dikendalikan langsung oleh Battler di Purgatorio. Karena meski Battler di Purgatorio, seperti Beatrice, dapat melihat segala yang terjadi secara omniscient,dalam permainan logika ini, ‘Battler di papan permainan’ harus bergerak mengikuti kerangka hukum kewajaran yang berlaku. Tapi argh, kau perlu berdiskusi untuk bisa memahami konsep ini. Jadi pembahasan ceritanya untuk sekarang kulanjutkan dulu saja.

Episode kedua ini sebenarnya dimulai dengan pembeberan sejumlah hal yang tak disinggung dalam episode pertama.

Hubungan kasih antara George dan Shannon ternyata dimulai oleh Shannon bertahun-tahun sebelumnya. Sebagaimana yang telah diindikasikan pada episode pertama, perasaan cinta Shannon ditentang oleh Kanon. Tapi alasan Kanon menentang perasaan itu ternyata lebih dari sekedar karena status keduanya sebagai pelayan saja…  (buat yang belum tahun, alasannya yang pasti bukan cemburu; hubungan antara Kanon dan Shannon sepenuhnya adalah hubungan kakak-beradik)

Terungkap bahwa kedudukan Shannon dan Kanon memang rendah, karena keduanya di permukaan dipungut dari panti asuhan, dilatih dan diberi pendidikan secara khusus oleh Kinzo untuk menjadi pelayan bagi keluarga Ushiromiya sampai masa pensiun mereka yang telah ditetapkan.

Dilanda kesedihan akibat cintanya yang nyaris dipastikan kandas, Shannon (entah hanya di episode ini atau di seluruh episode juga) ternyata kemudian didekati oleh roh Beatrice, yang lalu menggodanya dengan peluang untuk memuluskan cintanya. Prasyarat yang Beatrice minta hanyalah agar Shannon pergi ke kuil kecil di salah satu tanjung Rokkenjima, dan memecahkan cermin yang tersimpan di sana.

Kuil kecil ini tidak lain adalah kuil yang Maria keluhkan hilang setibanya ia dan keluarganya di Rokkenjima pada episode pertama! Kuil ini dikatakan hancur tersambar petir dalam hujan deras yang terjadi beberapa lama sebelum acara pertemuan keluarga ini dilangsungkan.

Ada indikasi bahwa cermin ini menjadi semacam segel yang menahan Beatrice untuk bisa keluar dari Rokkenjima. Sepertinya, dengan pecahnya cermin tersebut, Beatrice menjadi semakin bisa memanifestasikan dirinya secara materil.

Kanon marah besar pada Shannon tatkala ia akhirnya mengetahui tentang pecahnya cermin ini. Terungkap pula bahwa Shannon, Kanon, beserta Genji (sang kepala pelayan) sesungguhnya adalah ‘perabot’ yang dibuat Kinzo dengan tujuan untuk melayaninya. Ketiganya adalah hasil dari percobaan Kinzo dalam mempraktekkan ilmu sihir yang tengah dipelajarinya. Kenyataan bahwa mereka ‘bukan manusia’ dan memiliki takdir (masa pensiun?) mereka sendiri inilah yang membuat Kanon begitu menentang perasaan Shannon. Kanon lebih marah lagi karena Shannon membuat kesepakatan dengan Beatrice, yang Kanon yakini entah bagaimana kelak akan memanfaatkan suatu celah dalam kesepakatan mereka dan akhirnya membuat Shannon menderita.

Tapi keadaan sudah terlambat, karena George (berkat jimat pemberian Beatrice?) telah membalas perasaan Shannon. Sebagaimana yang diceritakan di episode pertama, George tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya, bahkan telah berniat untuk melamar Shannon ke jenjang pernikahan. Shannon pun di sisi lain menegaskan bahwa asalkan ia berkesempatan untuk bisa bersama George, ia tak peduli kemalangan apapun yang menantinya di masa depan karena percaya ia pasti akan bisa melaluinya. Shannon juga menyanggah pendapat Kanon soal bagaimana mereka ‘bukan manusia,’ karena sekalipun dibuat sebagai ‘perabot,’ keduanya sama-sama memiliki hati yang punya kemampuan untuk mencinta. Shannon pun balas menyinggung soal perasaan Kanon sendiri yang dipendamnya terhadap Jessica.

Kanon sadar bahwa pada akhirnya ia hanya bisa berupaya melindungi Shannon dari Beatrice sebisa mungkin. Tapi ketakutannya terbukti nyata saat melihat Beatrice sendiri hadir sebagai tamu undangan ke-19 pada hari dilangsungkannya pertemuan keluarga.

Orang Kesembilan Belas

Kehadiran Beatrice secara ragawi di Rokkenjima memicu perkembangan cerita yang berbeda dari apa yang terjadi di episode pertama.

Di Purgatorio, Beatrice seakan mengejek Battler dengan menunjukkan secara jelas bahwa orang kesembilan belas secara nyata ada. Seiring perkembangan yang terjadi di Rokkenjima, Beatrice juga menantangnya untuk membuat argumen tentang bagaimana orang kesembilan belas tersebut bisa membunuh delapan belas orang lainnya tanpa menggunakan kekuatan sihir.

Untuk membatasi argumentasi Battler, menjaganya dari berargumentasi ngawur dan membuat permainan berjalan di tempat, Beatrice membuat ketetapan bahwa dirinya akan menandai dengan warna merah setiap pernyataannya yang merupakan kebenaran. Dengan kata lain, setiap kalimat yang diucapkan Beatrice dengan warna merah merupakan kebenaran mutlak yang tak boleh ditentang lagi.

Urusan kalimat merah ini mungkin agak sulit dipahami. Tapi pada dasarnya, meski sekilas kelihatan seperti dapat digunakan sembarangan, ada batasan-batasan tertentu bagi Beatrice untuk menggunakan kalimat-kalimat merah ini, sebagaimana yang Battler kemudian sadari nanti. Sejauh yang bisa kutangkap, kalimat-kalimat merah ini tak boleh menyinggung apapun soal sihir, dan hanya boleh menyinggung soal kebenaran dari akibat atau fakta yang sudah terjadi. Sebagai contoh kalimat-kalimat merah yang valid: Ruangan ini hanya dapat dimasuki lewat pintu dan jendela. Saat ditemukan, seluruh pintu dan jendela di ruangan ini berada dalam keadaan terkunci. Tak ada jalan keluar rahasia yang tersembunyi. Pintu tak dapat didobrak paksa atau dibuka dengan cara selain dengan menggunakan kunci, dsb. Menyatakan ‘sihir itu ada’ atau ‘si Anu dilenyapkan dengan kekuatan sihir’ dengan warna merah hanya akan menghasilkan pernyataan tak berarti, karena pernyataan-pernyataan seperti itu masih belum cukup untuk Battler takluk, dan hanya akan berakibat pada bekunya permainan, membuatnya berakhir tanpa hasil. Asal tahu saja, meski butuh sedikit waktu untuk mencerna, pertarungan argumentasi yang berlandaskan pada kalimat-kalimat merah inilah yang justru menjadi daya tarik utama cerita Umineko.

Beatrice yang kini hadir sebagai tamu dengan segera menuai kegemparan di kalangan anggota-anggota keluarga Ushiromiya. Pertanyaan-pertanyaan bermunculan. Apakah benar dirinya Beatrice yang menuliskan surat pernyataan pengambilan hutang itu? Ataukah surat itu tetap akal-akalan buatan Kinzo, dan Beatrice ini orang lain yang menyaru sebagai dirinya? Apakah Beatrice ini kerabat wanita idaman lain yang didesas-desuskan pernah dimiliki Kinzo? Bagaimana mungkin ia bisa secara tiba-tiba hadir di sini sekarang? Tahukah ia tentang keberadaan emas tersembunyi itu?

Beatrice disambut oleh para pelayan lama yang dengan segera melihat kesamaan wajahnya dengan potret Beatrice yang telah disiapkan Kinzo. Ia ditempatkan di ruang VIP rumah utama yang secara keras tak boleh digunakan oleh siapapun sebelumnya. Genji, Shannon, dan Kanon—pelayan-pelayan lama yang memiliki izin untuk memasuki ruangan tersebut—meski memiliki reaksi mereka sendiri-sendiri, dengan segera mengenali dirinya sebagai penyihir yang telah mengikat kontrak dengan Kinzo.

Kanon tersadar bahwa Beatrice ingin tertawa kegirangan saat nanti melihat hubungan cinta yang sudah susah payah Shannon ciptakan diakhiri secara paksa melalui ritual kematian Kinzo.

Lalu seperti halnya dalam episode pertama, pada saat badai menyerang pulau dan memerangkap mereka yang berada di sana, namun kini di gereja kecil (chapel) yang ternyata dimiliki keluarga Ushiromiya di belakang rumah utama Rokkenjima, Krauss, Natsuhi, Eva, Hideyoshi, Rudolf, dan Kyrie terpilih sebagai enam korban persembahan untuk senja yang pertama.

11/02/2011

Umineko no Naku Koro ni (VN3)

Aku tahu aku punya kecendrungan untuk malas. Tapi buat yang satu ini, alasan aku lama tak meng-update adalah karena ada banyak hal tentangnya yang jadi bahan pemikiran. Aku jadi perlu waktu untuk menyortir apa yang persisnya kupikirkan tentang VN ini. Intinya begitu.

Aku memang pernah menonton anime-nya, jadi sudah tahu garis besar ceritanya. Tapi mengikutinya dalam bentuk VN, tanpa dibatasi durasi episode dengan keleluasaan untuk berhenti sejenak dan memikirkan inti ceritanya sendiri, benar-benar merupakan sebuah pengalaman tersendiri.

Di samping itu, untuk suatu alasan, ini salah satu VN paling melelahkan yang pernah kuikuti. Mungkin karena otak kita terus dirangsang untuk berpikir demi mencerna apa yang sedang terjadi? Sebab bagaimanapun juga, ini… gimana ya ngomongnya? Ini sangat membuka pikiran tentang bagaimana orang bisa berpikir dan memandang hidup.

Kurang lebih begitu.

Tea Parties 1

Game pertama Umineko, sebagaimana yang bisa dikira, berakhir menggantung. Sehingga tak banyak yang bisa diceritakan tentangnya. Strukturnya dibuat sedemikian rupa agar pemain bertanya-tanya tentang apa persisnya yang terjadi. Jadi bila ada banyak hal yang tak kita mengerti, maka kita memang dimaksudkan demikian.

Pada malam hari pertama, terungkap bahwa orangtua masing-masing sepupu memiliki alasan kuat mereka masing-masing untuk mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat. Krauss, anak sulung Kinzo, dicurigai saudara-saudaranya telah menggelapkan uang sang ayah. Lalu kita disuguhi permainan adu akal antara dirinya dengan adik-adiknya saat mereka berupaya untuk memeras keuntungan dari dirinya. Semua perdebatan mereka kembali berujung pada teka-teki keberadaan emas Beatrice, yang mereka yakini seandainya bisa ditemukan, akan menyelamatkan mereka semua dari apapun krisis finansial yang sedang mereka lalui.

Pada malam hari kedua, saat serangkaian keanehan terjadi, semua yang tersisa tak bisa tak mengira insiden-insiden berdarah yang melibatkan hilangnya orang-orang yang mereka kasihi berkaitan dengan perdebatan alot soal kekayaan yang berlangsung sebelumnya. Sesudah klimaks yang berakhir dengan stand off menggetarkan, kita sepenuhnya akan memahami garis besar hubungan setiap karakter dengan lainnya. Semenjak dulu, di balik sikap ramah-tamah yang semuanya perlihatkan, hubungan antara anggota-anggota keluarga Ushiromiya jauh dari harmonis dan sebenarnya dipenuhi saling curiga. Ada suatu mitos di pulau itu yang menyebut soal adanya penyihir yang tinggal di hutan. Maria memiliki kepribadian yang tak sesuai untuk anak seusianya. Dan sebagainya.

Lalu dengan berakhirnya cerita utama, kejutan terbesar dibeberkan melalui dua opsi baru yang akan terbuka di menu utama.

Pertama, adalah Tea Party, yang berupa semacam ‘epilog’ dari cerita utama. Di sini, Battler, Jessica, George, Kanon, Shannon, dan Maria, dalam sebuah acara minum teh(!?), dengan ceria membahas segala pembunuhan yang mereka alami dsb. dan berkomentar bahwa semenjak awal memang tak ada artinya mereka mencoba melawan Beatrice. Pada titik inilah, segalanya berubah muram, saat Battler marah melihat sikap para sepupunya yang menanggapi akhir cerita ini dengan begitu santai. Keheranan akan sikap mereka yang tak berkeinginan untuk mencari tahu sendiri apa yang terjadi, sekaligus bersikeras untuk menolak kesimpulan bahwa semuanya dilakukan oleh Beatrice (yang bahkan tak jelas ada atau tidak) dengan, Battler pada akhirnya malah jadi mengundang kehadiran Beatrice sendiri dalam sosoknya yang asli.

Singkatnya, kita disuguhi twist yang menunjukkan bahwa Beatrice benar-benar ada; bukan sekedar tokoh rekaan yang namanya digunakan dalam rangkaian pembunuhan ini.

Berpijak pada kenyataan bahwa satu-satunya cara untuk melawan penyihir adalah dengan menyangkal kenyataan mereka ada, Battler ditantang Beatrice untuk menjelaskan setiap trik yang digunakan dalam masing-masing pembunuhan, melalui permainan ajaib lain yang akan dibukanya sesaat lagi. Pertandingan adu akal antara Battler dan Beatrice inilah yang menjadi inti cerita episode-episode Umineko yang berikutnya.

Epilog kedua adalah ????, yang akan terbuka begitu Tea Party diselesaikan. Epilog ini memperkenalkan keberadaan dua penyihir lain, yakni Bernkastel dan Lambdadelta, yang diceritakan memiliki pengaruh lebih besar daripada Beatrice. Keduanya diceritakan hadir atas undangan Beatrice untuk menjadi pirsawan atas permainan yang akan Beatrice buka. Di sini pula kita dikenalkan kembali akan konsep kakera (fragmen), yang merupakan istilah yang digunakan dalam seri When They Cry untuk menyebut dunia-dunia paralel.

Belakangan kita akan tahu bahwa Bernkastel (yang berkuasa atas segala bentuk keajaiban) dan Lambdadelta (yang berkuasa atas segala hal yang absolut) sama-sama adalah penyihir yang memiliki kapasitas untuk berpindah dari satu kakera ke kakera lainnya, yang dengan demikian menjadikan diri mereka lebih unggul daripada Beatrice yang sejauh ini masih terkungkung dalam kakera yang sama. Namun kuasa Beatrice di kakera ini lebih besar daripada mereka. Sehingga sekalipun Bernkastel kemudian diperlihatkan menaruh simpati pada Battler, ia tak dapat melakukan intervensi secara langsung untuk menolongnya dalam permainan yang akan ia hadapi.

Bernkastel berpenampilan sangat mirip dengan Furude Rika dari Higurashi no Naku Koro ni, seri When They Cry pertama yang 07th Expansion telah keluarkan sebelumnya. Dengan cara serupa, Lambdadelta juga berwajah sama dengan Takano Miyo, tokoh antagonis dari game yang sama. Belakangan diindikasikan bahwa kisah Higurashi pada dasarnya memang mengetengahkan konflik masa lalu antara kedua tokoh ini, yang serupa dengan apa yang Battler dan Beatrice sama-sama akan hadapi sekarang. Bernkastel konon juga dikenal sebagai penyihir yang sangat kuat berkat kemenangannya atas Lambdadelta dalam pertandingan lama mereka ini (Higurashi?). Tapi lebih banyak soal itu setahuku baru akan dijelaskan dalam episode-episode mendatang.

Beli!

Di bagian berikutnya, aku akan mengulas soal pengalamanku memainkan episode 2 dan berbagai pendapatku tentangnya.

Omong-omong, belum lama ini aku nyadar bahwa seri Umineko bisa dibeli secara unduh untuk harga yang relatif murah melalui situsnya 07th Expansion. Proyek penerjemahan seri Umineko ke bahasa Inggris oleh grup The Witch Hunt telah didukung secara pribadi oleh Ryukishi07. Jadi bagi mereka yang tertarik akan game ini, kalau bisa, beli ya! Bukan hanya sebagai bentuk ungkapan terima kasih, melainkan untuk dukungan juga.

04/11/2010

Umineko no Naku Koro ni (VN1)

Belum lama ini aku berkesempatan untuk memainkan versi visual novel dari Umineko no Naku Koro ni (waktunya kebetulan pas banget menjelang Halloween, ya, aku tau). Sebagaimana yang pernah kuceritakan sebelumnya, akibat keterbatasan durasi dan sebagainya, sepertinya ada banyak penjelasan detil yang terpaksa dilewat di dalam versi anime-nya. Di sisi lain, aku agak jenuh belakangan, dan sudah lama aku tak memainkan sebuah VN. Jadi kurasa sudah saatnya aku memberi diriku sedikit hiburan.

Bagi yang belum tahu, Umineko merupakan sound novel (jenis VN yang lebih memberi penekanan pada bunyi-bunyian daripada gambar) terkenal yang merupakan instalasi ketiga dari seri When They Cry. Di dalam Umineko, kita disuguhi sebuah drama misteri pembunuhan di pulau terpencil yang semakin lama berkembang menjadi sesuatu yang jauh melebihi bayangan. Berbeda dengan beberapa game lain, Umineko bersifat linier, dalam artian tak ada pilihan rute sama sekali yang perlu kita ambil. Kita hanya perlu membaca dan membaca, sembari berusaha mencerna setiap perkembangan tak terduga yang terjadi. Karena ceritanya memang ditulis dengan bagus, dengan begini saja Umineko sudah seru kok. Memang agak menguras pikiran sih. Tapi seru.

Maka sesudah mengaplikasikan patch terjemahannya yang telah lama beredar di Internet (yang secara menakjubkan mendapat dukungan dari Ryukishi 07 sendiri dari 07th Expansion), aku mempersiapkan pikiran dan kesabaranku kembali untuk berkunjung ke Rokkenjima sekali lagi.

Bidak

Pada episode pertama Umineko, Legend of the Golden Witch, kita diperkenalkan kepada 17 pemain utama yang berperan dalam intrik pembagian harta warisan dan teka-teki pencarian harta karun keluarga Ushiromiya. Latarnya adalah tahun 1985, di acara pertemuan keluarga tahunan yang diadakan di rumah kediaman utama di sebuah pulau bernama Rokkenjima. Segera mereka terperangkap di pulau tersebut akibat badai yang pada malam harinya menyerang. Lalu selama dua hari ketika badai berlangsung itu, serangkaian kejadian di luar nalar mulai menimpa mereka satu per satu…

Peralihan sudut pandang cerita antara masing-masing tokoh—yang selalu berlangsung secara tiba-tiba—bisa jadi agak membingungkan. Tapi jika ada yang pantas disebut sebagai tokoh sentral, maka itu adalah Ushiromiya Battler, pemuda 17 tahun yang baru pada tahun ini hadir kembali dalam acara pertemuan keluarga sesudah bertahun-tahun mengasingkan diri.

Perlu diperhatikan bahwa meski dari luar kesemuanya bisa bersikap seperti keluarga yang harmonis dan bahagia, dengan segera kita dapati bahwa masing-masing anggota keluarga Ushiromiya memiliki ‘sisi lain’ mereka sendiri-sendiri.

Status mereka diurutkan berdasarkan tingkat kedudukan mereka di hadapan sang kepala keluarga, dan mereka dibedakan antara ‘orang-orang dalam’ dan ‘orang-orang luar’ melalui pemberian bordiran lambang ‘Elang Bersayap Satu’ pada pakaian-pakaian mereka.

Para bidak yang bermain tersebut adalah sebagai berikut:

—————————-

Ushiromiya Kinzo; kepala keluarga Ushiromiya, lelaki jenius yang mengembalikan seluruh kekayaan dan kejayaan keluarga Ushiromiya hanya dalam satu generasi, sesudah insiden gempa besar Kanto yang menghabiskan seluruh aset keluarga dulu. Konon, modal pinjaman untuk memperoleh kembali semua kekayaan itu berupa batangan-batangan emas murni yang Kinzo dapatkan dari seorang penyihir wanita bernama Beatrice.

Tak ada yang tahu apakah batangan-batangan emas itu betul-betul ada atau tidak. Sebagian besar pihak juga berpendapat bahwa ‘Beatrice’ sesungguhnya adalah nama wanita simpanan Kinzo yang telah meninggal. Tetapi obsesi abnormal Kinzo terhadap Beatrice, serta hobinya mempelajari ilmu-ilmu sihir dan hal-hal lain berbau occult, memunculkan tanda tanya besar tentang siapakah Beatrice sesungguhnya…

Di usianya yang telah lanjut, Kinzo tengah sekarat akibat suatu penyakit yang sudah lama dideritanya. Hanya ada sedikit sekali orang yang ia percayai, dan ia memandang anak-anak dan cucu-cucunya tidak kompeten dan hanya mengejar warisan hartanya saja.

Ia memiliki sebuah cincin khusus yang memperlihatkan statusnya sebagai kepala keluarga, yang pola capnya dapat digunakan sebagai segel surat yang menandai kedudukannya. Tentu saja, sebagai kepala keluarga, ia menyandang Elang Bersayap Satu.

Ushiromiya Krauss; putra sulung Kinzo, yang meski memiliki pandangan seorang visioner, tidak memiliki cukup kemampuan untuk mengeksekusi gagasan-gagasannya secara baik. Ia selalu menegaskan bahwa kondisi keuangannya baik-baik saja, tetapi kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya dan ia tengah dikejar-kejar utang. Selama Kinzo sakit, ia-lah yang berperan sebagai wakil dalam menangani aset-aset keluarga. Karena itulah, timbul kecurigaan dari adik-adiknya bahwa ia secara diam-diam menggelapkan sebagian kekayaan Kinzo.

Apabila Kinzo meninggal, maka kedudukan sebagai kepala keluarga akan jatuh ke tangannya.  Semenjak kecil, ia memiliki hubungan yang buruk dengan adik-adiknya. Ia tinggal di Rokkenjima bersama istri dan anaknya.

Sebagai garis keturunan pertama Kinzo, ia juga menyandang Elang Bersayap Satu.

Natsuhi; istri Krauss yang berusia jauh lebih muda darinya. Berasal dari sebuah keluarga terpandang lain, pernikahannya dengan Krauss adalah pernikahan yang telah diatur untuk kepentingan masing-masing keluarga. Tetapi ia senantiasa berusaha mendukung suaminya dengan segala cara. Ia pulalah yang bertanggung jawab mengelola urusan rumah tangga di kediaman utama di Rokkenjima.

Kerap didera sakit kepala, yang besar kemungkinan timbul akibat tekanan-tekanan batin yang dirasakannya. Memiliki hubungan kurang baik dengan putrinya. Merasakan semacam beban dalam mendidik putrinya untuk menjadi calon kepala keluarga yang layak.

Ia tidak menyandang Elang Bersayap Satu, mengingat ia bukan berasal dari garis keturunan keluarga Ushiromiya. Tetapi Kinzo mengakui segala kerja kerasnya untuk kepentingan keluarga, dan terlihat menghargainya sampai ke tingkatan tertentu.

Jessica; putri tunggal Natsuhi dan Krauss yang masih berusia remaja. Sifatnya tomboi dan pemberontak terhadap kedua orangtuanya. Tetapi ia populer di sekolah berkat sifat supelnya, dan sebenarnya ia tidak peduli dengan segala urusan warisan dan kedudukan keluarga. Mungkin karena alasan-alasan itu, nilai-nilai akademisnya sayangnya tidak terlalu menonjol.

Akrab dengan sepupu-sepupunya yang lain. Memiliki penyakit asma bawaan. Sebagai gadis remaja, ia juga merasakan keinginan untuk jatuh cinta. Tapi jarangnya ia berinteraksi dengan anak-anak lelaki (karena ia disekolahkan di sekolah khusus putri) membuatnya kerap kebingungan bila harus berurusan soal ini.

Sebagai keturunan langsung Krauss, ia menyandang Elang Bersayap Satu.

Ushiromiya Eva; adik pertama Krauss dan putri pertama Kinzo. Sosok luarnya elegan dan ramah. Ia sangat cerdas. Tetapi mungkin akibat masa kecilnya yang keras, ia sebenarnya ambisius dan tak segan-segan melukai siapapun yang ia anggap mengancam kehormatannya.

Sebagai seorang anak perempuan, lazimnya sesudah menikah ia akan menjadi bagian dari keluarga suaminya. Tetapi karena Jessica yang akan menjadi pewaris pada saat itu masih belum lahir, ia mengusulkan pada Kinzo agar boleh tetap menggunakan Ushiromiya sebagai nama keluarga.

Sebagai keturunan langsung Kinzo, ia menyandang Elang Bersayap Satu.

Hideyoshi; suami Eva, pengusaha restoran siap saji yang berpembawaan ceria dan menyenangkan. Berdasarkan permintaan Eva, ia mengganti marganya menjadi Ushiromiya. Ia-lah yang biasanya menjadi ‘penyeimbang’ pada saat sifat ketus Eva sedang kumat, dan Eva memandang dirinya sebagai sumber kebahagiaannya yang palng utama.

Ia mulai menjual saham perusahaannya agar memiliki cukup dana untuk mengekspansi waralabanya. Tetapi keputusan manajemen yang salah membuatnya terancam kehilangan kepemilikan atas perusahaannya tersebut. Ia membutuhkan dana sangat besar dalam waktu segera agar dapat membeli kembali mayoritas saham perusahaannya dari orang-orang yang bermaksud buruk terhadap dirinya.

Sama seperti Natsuhi, sebagai orang luar, ia tidak menyandang Elang Bersayap Satu.

George; putra tunggal Eva, sekaligus cucu tertua Kinzo, yang dengan sukses telah dipersiapkan sejak kecil sebagai pewaris mengingat waktu itu Jessica masih belum lahir. Berusia di awal usia dua puluhan. Sosoknya berpengetahuan luas, rasional, ramah, dan sangat pandai dalam berhadapan dengan orang lain.

Ia dipandang sebagai ‘kakak’ dan dihormati oleh sepupu-sepupunya yang lain. Tetapi meski kompeten, ia juga sebenarnya tak terlalu mempermasalahkan masalah kedudukan dan pembagian warisan. Pilihan calon istri-nya menuai konflik di antara anggota-anggota keluarganya yang lain…

Sebagai keturunan langsung Eva, ia menyandang Elang Bersayap Satu.

Ushiromiya Rudolf; lelaki santai adik Krauss dan Eva, yang dulunya seorang playboy. Battler, sang tokoh sentral, merupakan putranya dengan mendiang isrinya yang terdahulu. Sesudah menikah lagi, hubungannya dengan Battler sempat memburuk. Tetapi sesudah kakek-nenek Battler dari pihak ibu meninggal, Battler terpaksa tinggal kembali bersamanya dan  kini mereka sudah berdamai dan bisa kembali saling menghargai.

Ia menjalankan suatu perusahaan di Amerika yang bergerak di suatu bidang yang tak lazim. Akibat suatu kasus, perusahaannya terancam dijerat ke pengadilan, dan ia diharuskan menyediakan uang ganti rugi dalam jumlah teramat sangat besar. Dengan kata lain, iapun memerlukan uang dalam jumlah teramat banyak dalam waktu singkat.

Sebagai anak ketiga Kinzo, ia menyandang Elang Bersayap Satu.

Kyrie; istri kedua Rudolf yang sekaligus seorang kenalan lamanya. Sifatnya mandiri, intelek, dan berpandangan tajam. Meski tidak membencinya, Battler kesulitan memandang Kyrie sebagai pengganti ibunya. Karena itu Battler memanggilnya dengan ‘Kyrie-san’ alih-alih dengan sebutan ‘Ibu.’ Kyrie sendiri tampak tak keberatan dengan hal ini, selama ia dan Battler masih bisa berinteraksi.

Cara berpikirnya yang terbuka membuatnya mudah bergaul dengan semua orang. Di awal cerita, ia masih belum tahu apa-apa soal masalah yang dihadapi Rudolf.

Sebagai orang luar, ia tak memiliki Elang Bersayap Satu.

Battler; putra Rudolf dengan mendiang istri pertamanya, Asumu. Dari sudut pandang Battler-lah, lika-liku pertemuan keluarga dan perkembangannya paling banyak kita lihat. Sebaya dengan Jessica. Sifatnya ramah dan suka bercanda. Ia agak lemah bila menaiki kendaraan, tak begitu pandai di pelajaran, dan terkadang kurang peka membaca situasi. Ia juga sebenarnya tak terlalu menghormati Rudolf sebagai ayahnya. Tetapi ada satu keistimewaan tertentu pada dirinya yang membedakannya dari sepupu-sepupunya yang lain, yang perlahan akan terungkap sepanjang cerita…

Sama seperti sepupu-sepupunya, ia juga tak peduli dengan status keluarga Ushiromiya ataupun pembagian harta warisan. Sesudah enam tahun tak berjumpa, ia hanya berharap bisa meluangkan waktu yang menyenangkan bersama sepupu-sepupunya yang lain  Battler juga memiliki adik perempuan tiri bernama Ange, yang pada dua hari naas itu, tak bisa ikut bersama keluarganya ke Rokkenjima akibat penyakit yang dideritanya.

Sebagai putra Rudolf, ia menyandang Elang Bersayap Satu.

Ushiromiya Rosa; anak perempuan bungsu Kinzo yang berbeda usia cukup jauh dari kakak-kakaknya. Pada dasarnya, ia perempuan yang baik hati dan penyayang. Namun tekanan-tekanan hidup yang dirasakannya, terutama sebagai orangtua tunggal, sepertinya telah membuatnya pada waktu-waktu tertentu kehilangan kendali diri.

Ia mengelola butik pakaian miliknya sendiri, tapi tampaknya wirausahanya tersebut sedang mengalami masalah. Tak banyak yang diketahui tentang identitas suaminya, dan tampaknya topik tersebut telah menjadi sesuatu yang tabu dibicarakan di antara anggota-anggota keluarganya yang lain.

Sebagai keturunan langsung Kinzo, ia menyandang Elang Bersayap Satu.

Maria; putri tunggal Rosa yang berusia sembilan tahun. Sifatnya polos dan jauh lebih kekanak-kanakan daripada usianya. Serupa dengan kakeknya, Kinzo, Maria juga memiliki kesukaan terhadap sihir dan hal-hal occult. Tetapi berbeda dari prasangka banyak orang, Maria juga sungguh-sungguh mendalaminya, dan sikapnya yang ceria berubah menjadi menakutkan apabila topik pembicaraannya menyangkut hal-hal berbau sihir. Ia juga merupakan orang pertama yang tanpa ragu percaya bahwa si penyihir Beatrice benar-benar ada.

Maria sebenarnya mengalami banyak kesulitan di sekolah, besar kemungkinan akibat kondisi ibunya yang bipolar. Pembelajarannya terhadap sihir menjadi semacam pelariannya, dan kenyataan tersebut membuatnya semakin dipandang aneh hingga ia sampai dikucilkan oleh anak-anak sebayanya. Perkataan khasnya adalah “Uuu!” yang nadanya menjadi ungkapan perasaannya. Pada dasarnya, Maria sebenarnya anak periang yang teramat cerdas.

Sebagai keturunan langsung Rosa, Maria menyandang Elang Bersayap Satu.

Genji Ronove; kepala pelayan di kediaman utama di Rokkenjima. Ia orang paling lama yang pernah melayani Kinzo, serta semestinya menjadi salah satu orang yang paling mengenalnya. Sebagai pelayan, Genji sangat setia dan kompeten. Dia juga merupakan satu dari sekian sedikit orang yang masih Kinzo percayai dan pandang sebagai teman.

Meski tak pernah bermaksud buruk, ada beberapa hal tentang kondisi Kinzo yang senantiasa enggan dikemukakannya kepada anggota-anggota keluarga Ushiromiya yang lain. Sebagai pelayan paling senior yang telah paling lama mengabdi, Genji juga tak pernah meragukan keberadaan Beatrice sekalipun dirinya belum pernah melihatnya secara langsung.

Sebagai bentuk tanda jasa atas pengabdiannya, Genji telah dianugrahi Kinzo hak untuk menyandang Elang Bersayap Satu.

Shannon; salah satu gadis pelayan yang bekerja di Rokkenjima. Meski sebenarnya sangat terampil, ia mudah sekali goyah dan gugup apabila melakukan suatu kesalahan. Ia bersama sejumlah pelayan lainnya konon adalah anak-anak yatim piatu yang praktis telah ‘dibesarkan’ di rumah tangga Ushiromiya sesudah cukup usia untuk meninggalkan panti asuhan. Ia sebaya dengan Jessica. Karena itu mereka berdua bersahabat dekat. Iapun secara relatif bisa bergaul dengan mudah bersama sepupu-sepupu yang lainnya. ‘Shannon’ adalah nama yang diberikan padanya saat bekerja. Nama tersebut bukanlah nama aslinya.

Shannon jatuh cinta pada George, tetapi ia sadar perbedaan status di antara mereka akan menjadi halangan. Ia juga berpendapat bahwa teka-teki soal keberadaan si penyihir Beatrice bukanlah sesuatu yang boleh disepelekan.

Sama seperti Genji, sebagai tanda atas kesetiaan dan pengabdiannya, ia juga menyandang Elang Bersayap Satu. Nama asli Shannon adalah Sayo.

Kanon; seorang pelayan muda yang bekerja di Rokkenjima. Ia sedikit lebih muda dibandingkan Battler dan Jessica. Sifatnya pendiam dan penyendiri, tapi ia senantiasa mengemban pekerjaan-pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab. Ia berasal dari panti asuhan yang sama seperti Shannon, dan ia memandang Shannon sebagai suatu figur ‘kakak.’ Terdapat sejumlah pelayan lain seperti Shannon dan Kanon, tetapi kebetulan pada hari pertemuan keluarga itu, hanya mereka berdua yang mendapat giliran bekerja. Serupa dengan Shannon, ‘Kanon’ juga bukanlah nama aslinya.

Kanon menentang hubungan Shannon dengan George, karena ia sadar bahwa Eva akan melakukan segalanya agar hubungan mereka kandas, sedangkan Kanon tak ingin Shannon sampai terluka. Tetapi di sisi lain, Kanon telah memikat perhatian Jessica, dan ia senantiasa berada dalam penyangkalan tentang apa yang ia sendiri rasakan terhadap anak majikannya tersebut. Ia memiliki pendapat yang sama dengan Shannon soal teka-teki tentang keberadaan Beatrice, tetapi cara pandangnya terhadap urusan tersebut sama sekali tidak sama.

Sama seperti Genji dan Shannon, sebagai tanda atas kesetiaan dan pengabdiannya, ia juga menyandang Elang Bersayap Satu.

Gohda; seorang pelayan relatif baru sekaligus koki berpengalaman luas yang telah dipekerjakan Natsuhi di Rokkenjima. Sifatnya tinggi hati dan ingin menarik perhatian. Ia juga tak segan menimpakan kesalahan-kesalahannya kepada pelayan-pelayan lain. Meski secara teknis kedudukannya lebih rendah, ia memandang remeh Shannon dan Kanon yang berusia jauh lebih muda darinya, karena merasa bahwa pengalaman bertahun-tahunnya bekerja di hotel-hotel ternama membuatnya lebih pantas dihormati.

Karena masih belum lama bekerja untuk keluarga Ushiromiya, ia tak menyandang Elang Bersayap Satu.

Kumasawa; seorang wanita tua yang telah puluhan tahun bekerja untuk keluarga Ushiromiya di Rokkenjima. Sifatnya ceria, dan ia senang bercanda untuk meramaikan suasana. Tetapi karena ia punya kebiasaan buruk untuk menguping pembicaraan orang dan melalaikan pekerjaan, tingkatannya sebagai pelayan tak pernah berubah ke kedudukan yang lebih tinggi.

Karena alasan yang telah disebutkan di atas, ia juga tak menyandang Elang Bersayap Satu.

Nanjo; dokter pribadi Kinzo sekaligus temannya dalam bermain catur. Ia telah mengenal Kinzo selama bertahun-tahun dan telah lama mendiagnosis bahwa usia Kinzo sudah tak panjang lagi. Tetapi nyawa Kinzo yang masih bertahan dan kekuatan tekad yang masih ia perlihatkan membuatnya sadar bahwa analisis ilmu kedokteran biasa sudah tak lagi berlaku terhadap Kinzo.

Tentu saja, sebagai orang luar yang tak terikat dengan keluarga Ushiromiya, ia tak menyandang Elang Bersayap Satu.

—————————–

(bersambung)

 

Rokkenjima sendiri konon merupakan satu di antara gugusan pulau yang terletak di laut selatan Jepang. Pulau tersebut dimiliki secara pribadi oleh keluarga Ushiromiya, dan legenda menyebutkan bahwa pemilik pulau itu yang satunya tidak lain adalah penyihir wanita bernama Beatrice.

 

Kediaman utama keluarga Ushiromiya dan area-area di sekelilingnya hanya mencakup sebagian kecil pulau. Sisa bentang alam Rokkenjima masih diselimuti hutan yang belum terjamah, yang berbahaya untuk dimasuki tanpa persiapan atau pengetahuan terlebih dahulu. Di suatu tempat di kedalaman hutan itu, Beatrice diyakini bersemayam.

 

Pada dua hari tatkala pertemuan keluarga ini dilangsungkan, taifun menyerang pulau dan pulau kehilangan koneksi dengan dunia luar. Di sinilah segala drama yang melibatkan keluarga Ushiromiya kemudian terjadi.

11/02/2010

Umineko no Naku Koro ni (end)

Berlatar di tahun 1986, sesudah bertahun-tahun sengaja menjauhkan diri, Battler Ushiromiya kembali ke rumah utama keluarga Ushiromiya di pulau terpencil Rokkenjima untuk menghadiri rapat perihal pembagian harta warisan sekaligus penentuan kepala keluarga Ushiromiya yang baru, bersama ayah kandung dan ibu tirinya, Rudolf dan Kyrie. Kakek Battler, Kinzo Ushiromiya, kepala keluarga Ushiromiya saat ini, tengah dilanda penyakit keras dan diperkirakan takkan hidup lama lagi. Karena itu, sebagai keluarga kaya-raya yang terpandang dan berpengaruh dalam dunia percaturan bisnis, penetapan siapa yang akan menjadi penerus Kinzo dipandang sebagai sesuatu yang penting.

Namun, apa yang semula direncanakan sebagai acara keluarga biasa tersebut dengan segera berubah menjadi mimpi buruk saat serangkaian kejadian aneh tiba-tiba terjadi. Hadirnya sepucuk surat misterius dari seseorang yang mengaku bernama Beatrice, wanita misterius yang konon meminjamkan emas sebagai modal usaha kepada Kinzo, dengan segera disusul insiden pembunuhan yang memakan korban dari pihak anggota keluarga maupun pelayan.

Battler dan sepupu-sepupunya, yang berada di pulau ini hanya karena keikutsertaan mereka bersama orangtua masing-masing, dengan segera menyadari bahwa intrik yang telah lama ada di tengah keluarga mereka sebenarnya memiliki sejarah yang jauh lebih dalam dari yang mereka sangka. Semua berawal berpuluh tahun lalu dan terkait dengan asal-mula kekayaan keluarga Ushiromiya, yang berhubungan dengan sebuah perjanjian yang pernah dilakukan dengan seorang penyihir…

The mysterious words make the witches smirk…

Jika yang kau bayangkan adalah drama misteri pembunuhan, maka apa yang kau bayangkan sebenarnya agak salah. Bahasan Umineko no Naku Koro ni (yang berarti ‘Tatkala Camar Menangis’) berkembang sedikit lebih dalam daripada itu. Masih diangkat dari ‘sound novel’ buatan 07thExpansion, Umineko menawarkan sesuatu yang sebenarnya ‘lebih dalam dari apa yang dari luar terlihat’ tapi dengan cara yang sedikit berbeda dari apa yang dulu Higurashi no Naku Koro Ni lakukan.

Baca pelan-pelan ya, karena ini agak memusingkan.

Pada episode-episode awal, dengan segera kita akan mengetahui bahwa mereka yang meninggal dibunuh sebagai korban persembahan bagi Beatrice. Rangkaian pembunuhan itu dilakukan sebagai semacam bentuk pembayaran atas emas yang pernah ia berikan pada Kinzo dulu. Sesudah semua ritual pengorbanan usai, Beatrice akan “bangkit kembali sebagai penyihir dengan nama yang diagungkan oleh semuanya, kemudian pintu ke ‘Negeri Emas’ akan sepenuhnya terbuka.”

Satu-satunya jalan bagi para calon korban untuk selamat katanya adalah dengan menemukan sendiri emas yang telah Kinzo sembunyikan, kemudian  mengembalikannya pada Beatrice. Hanya saja Kinzo, yang menjadi satu-satunya orang yang semestinya tahu di mana emas tersebut berada, secara misterius telah menghilang…

Battler, tokoh sentral cerita, yang hingga menjelang ajalnya menolak untuk percaya bahwa pembunuhan-pembunuhan itu dilakukan bukan oleh tangan manusia (dalam hal ini, melalui kekuatan supernatural), kemudian diseret oleh Beatrice ke suatu alam dimensi lain di mana ia kemudian dipaksa Beatrice untuk membuktikan pendirian realis yang ia pegang.

Beatrice mengajak Battler untuk melawannya dalam suatu permainan ajaib, di mana mereka me-reka ulang pembunuhan-pembunuhan yang baru terjadi dengan penambahan berbagai faktor baru. Sasaran Beatrice: membuat Battler mengakui bahwa semua pembunuhan yang sebelumnya terjadi, beserta pembunuhan-pembunuhan yang terjadi kemudian dalam permainan reka ulang yang mereka mainkan, sama sekali tidak mungkin dilakukan oleh tangan manusia biasa. Sedangkan sasaran Battler: membuktikan sebaliknya; bahwa sekalipun terlihat mustahil, semua itu memang bisa dilakukan dengan tangan manusia.

Semua ini dilakukan karena keinginan Beatrice untuk membuka pintu ke Negeri Emas gagal tercapai akibat Battler yang masih belum sudi ‘mengagungkan namanya’ sebagaimana ketentuan yang telah dibuat.

Menyaksikan permainan mereka adalah dua orang penyihir lain: Bernkastel, yang memiliki kuasa terhadap segala bentuk keajaiban; dan Lambdadelta, yang menguasai segala yang bersifat absolut. Perlu diperhatikan bahwa Bernkastel dan Lambdadelta masing-masing memiliki wajah yang mirip sekali dengan kedua tokoh Furude Rika dan Takano Miyo dari Higurashi. Terlebih lagi diceritakan bahwa Lambdadelta tengah sebal pada Bernkastel, karena dirinya yang selama ini tak pernah kalah baru saja takluk oleh Bernkastel dalam permainan mereka yang terakhir.

Demi memenangkan permainan aneh ini, kecerdasan, pendirian, serta ketabahan Battler berulangkali sampai diuji. Tapi bahkan Beatrice pun tidak memiliki kendali terhadap perkembangan-perkembangan baru yang terjadi di dalam permainan mereka berdua. Bersama setiap babak baru, terbuka pula kemungkinan-kemungkinan baru yang selanjutnya semakin mempengaruhi permainan mereka ke depan.

Pertanyaan terakhirnya adalah…’Siapakah Aku?’

Jujur saja, pada saat aku menonton ini, pertanyaan yang semula hanyalah: ‘Apakah Beatrice benar-benar ada?’ atau ‘Apa iya emas itu betulan ada?’ dengan segera berubah menjadi ‘Ini maksudnya apaan sih?!’ seiring dengan semua perkembangan cerita yang terjadi. Sebab meski yang di atas terdengar menarik, cerita ini ternyata tidak hanya berkisar soal permainan antara Beatrice dan Battler saja.

Melalui permainan ini (yang di dalamnya ada ‘Battler lain lagi,’ yang terlepas dari Battler yang sedang bermain melawan Beatrice, jadi semacam avatar-nya gitu), terungkap berbagai kenyataan mengejutkan tentang masing-masing anggota keluarga Ushiromiya, seringkali dalam bentuk flashback. Dari sini cerita seringkali menjadi lebih berat ke sisi drama, dengan plot yang agak tangensial dengan plot utama. Karena itu, mengingat maksud semua pembeberan ini belum jelas adalah apa, para penonton yang kurang bisa menyimak apa yang terjadi dengan mudah akan menjadi bosan.

Di sisi lain, ada banyak visualisasi berdarah-darah dan permainan sihir yang menyala-nyala, membuat orang-orang yang menyukainya lumayan tertarik. Apalagi tokoh-tokoh baru yang muncul belakangan (yang… uh, ‘bukan manusia’) seringkali mengenakan outfit yang lumayan revealing. Jadi para penonton yang menyukai sedikit fanservice atau butuh inspirasi untuk membuat doujin juga kurang lebih akan menikmatinya.

Terlepas dari itu semua, Umineko adalah seri yang lumayan menarik. Karena diangkat dari ide yang dari awalnya sudah orisinil, seri ini lumayan ‘beda’ dari seri-seri anime lain yang pernah ada. Kenyataan itu saja menurutku sudah cukup untuk membuatnya layak ditonton.

Alliance of the Golden Witch

Di akhir seri, Battler memang berhasil mematahkan serangan-serangan Beatrice dengan memunculkan argumen yang menunjukkan bahwa semua pembunuhan bisa dilakukan oleh tangan manusia. Tapi hingga akhir, masih banyak teka-teki yang belum terjawab. Seperti halnya Higurashi yang mendapatkan jawaban-jawabannya dalam bentuk Higurashi Kai, Umineko memiliki Umineko no Naku Koro ni Chiru yang menjelaskan semua teka-teki dengan memberikan sudut pandang berbeda berkenaan semua hal yang telah terjadi, termasuk permainan antara Battler dan Beatrice.

Hingga saat tulisan ini dibuat, pembuatan rangkaian seri sound novel Umineko Chiru masih berlanjut. Jadi kurasa masih bakal agak lama sampai versi adaptasi anime Umineko Chiru akan muncul. Bagaimanapun, kalau sudah menonton hingga akhir dan dibiarkan penasaran seperti ini, rasanya agak merana juga.

Penilaian

Konsep: S; Visual: A; Audio: B+; Perkembangan: X; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B+

(BTW, sebelumnya aku memang bermaksud mengulas ini per babak, tapi perkembangan cerita yang berlangsung di dalamnya membuat aku malas melakukannya)

28/01/2009

Higurashi no Naku Koro ni Kai

Higurashi no Naku Koro ni Kai, atau yang juga dikenal sebagai When They Cry: Kai, diproduksi pada paruh akhir 2007 dari Studio DEEN dengan jumlah episode sebanyak 24. Seri ini merupakan kelanjutan dari anime Higurashi no Naku Koro ni yang muncul sebelumnya, dan bisa dibilang merupakan season keduanya yang diadaptasi dari game berjudul sama.

Seperti yang judulnya indikasikan (yang kira-kira berarti ‘saat para tonggeret memekikkan penyelesaian’), seri ini menawarkan ‘jawaban’ atas rangkaian misteri pembunuhan sadis yang terjadi di desa Hinamizawa pada pertengahan tahun 1983. Seri ini masih diadaptasi dari sound novel berjudul sama dari 07th Expansion yang sempat laku keras di Jepang dulu, dan season ini merupakan paruh kedua ceritanya.

Apa benar letupan gas vulkanis beracun yang membantai habis semua orang itu terjadi? Apa benar itu merupakan bentuk kutukan dari dia yang disebut-sebut sebagai Oyashiro-sama? Siapa sebenarnya pelaku pembunuhan yang terjadi setiap tahun menjelang Festival Watanagashi? Benarkah ini semua masih berkaitan dengan konflik pembangunan bendungan yang terjadi bertahun-tahun lalu? Semua pertanyaan itu terungkap jawabannya beserta pembeberan atas kelanjutan nasib tokoh-tokohnya.

Ada kejutan-kejutan besar yang ditampilkan. Terutama terkait ‘sifat’ sesungguhnya dari kejadian-kejadian yang lalu. Lalu ini melibatkan adanya suatu pihak misterius yang memang ‘mencelakakan’ para penduduk desa dengan sejumlah kaitan pada penelitian sebuah penyakit yang berakhir tak terungkap.

Perkembangan terbesar yang Higurashi Kai punyai adalah diperkenalkannya tokoh Hanyuu, sosok gaib(!) yang dikisahkan selama ini telah menemani Furude Rika dalam menjalani semuanya. Furude Rika menjadi karakter sentral di seri ini, yang secara mengejutkan dipaparkan mengetahui jauh lebih banyak dibandingkan para karakter lain. Namun demikian, Rika tetap berada dalam tanda tanya terkait siapa pelaku yang sesungguhnya, sekalipun dirinya sudah berkali-kali berada di ambang keputusasaannya.

Keberadaan Hanyuu semata yang mungkin saja menjadi kunci bagi Rika dan kawan-kawannya untuk bisa lepas dari takdir buruk yang mereka jalani.

“Hauu~~~! “

Seperti pendahulunya, Higurashi Kai juga terdiri atas beberapa bab. dengan satu bab tambahan khusus di anime ini untuk melengkapi beberapa plot detil yang tak sempat masuk dalam season anime terdahulu. Bab-bab di season ini meliputi:

  • Meakashi-hen (‘Bab Pembuka Mata’), yang membeberkan lebih banyak tentang masa lalu Sonozaki Shion.
  • Tsumihoroboshi-hen (‘Bab Penebusan Dosa’), yang berfokus pada Ryuugu Rena dan mengungkap bahwa dirinya pun melalui sesuatu yang serupa dengan yang Maebara Keiichi alami.
  • Yakusamashi-hen (‘Bab Menjelang Bencana’), bab tambahan untuk anime, yang di dalamnya Houjou Satoko mulai memperhatikan perilaku-perilaku aneh Rika. Rahasia Rika disadari Satoko menjelang wafatnya ia di rumah sakit.
  • Minagoroshi-hen (‘Bab Pembantaian’), yang berfokus pada Rika, yang di dalamnya, jawaban dari sebagian besar misteri akhirnya terbeberkan. Pelakunya adalah Takano Miyo.
  • Matsuribayashi-hen (‘Bab Pengiring Festival’), yang mengisahkan bagaimana Rika dan kawan-kawannya menyatukan kepingan-kepingan teka-teki dan melakukan perjuangan terakhir untuk bisa melewati Juni 1983.

Secara garis besar, karena bahkan sebelum pertengahan seri ini sebagian teka-teki telah terindikasi jawabannya, Higurashi Kai sayangnya tidak menimbulkan rasa penasaran sebesar dulu. Ada kesan seperti kita dibawa-bawa ke sejumlah bagian cerita yang tak benar-benar terlihat signifikasinya, walau mungkin memang ada makna tersembunyi yang luput kita sadari. Aspek supernaturalnya kurang benar-benar terjelaskan. Mungkin ada sesuatu tentang arahan yang dilakukan Kon Satoshi, ada beberapa hal terkait pengaturan temponya yang juga agak aneh.

Meski demikian, dari segi konsepnya sendiri, terasa bagaimana Higurashi Kai punya daya tarik yang kuat. Rasanya berkesan bagaimana para tokohnya bersatu demi mengatasi masalah mereka bersama. Ada pesan soal bagaimana ikatan persahabatan dan keteguhan yang tak tergoyahkan bisa memutarbalikkan roda nasib.

Buatku tak sebagus season pertamanya karena sebagian besar faktor suspens dan psikologisnya hilang, digantikan oleh sejumlah aspek supernatural yang mungkin agak membingungkan. Tapi Higurashi Kai tetap merupakan tontonan wajib bagi mereka yang telah menonton seri pertamanya.

Penilaian

Konsep: A+; Visual: A-; Audio: A; Perkembangan: A; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A