Archive for ‘Uncategorized’

18/02/2014

Omna Magni

Dari waktu ke waktu, di daftar kata kunci yang dicari yang muncul di stat blog ini, aku mendapati ada orang-orang yang mencari info tentang lagu ini.

Buat yang belum tahu, lagu ini dikenal sebagai lagu penutup dari seri Sousei no Aquarion (alias Genesis of Aquarion) yang pertama. Lalu walau animenya sendiri sudah lama sekali keluarnya, rasa ingin tahu tentang lagu ini nampaknya masih juga ada. (Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, musik buat satu seri ini memang sekeren itu.)

Terlepas dari semuanya, lagu ini diciptakan oleh komposer super keren Kanno Yoko dan dinyanyikan oleh Makino Yui. Apa yang menarik dari lagu ini adalah segala kemisteriusan yang dibawakannya. Semula, kukira lagunya dalam bahasa Latin. Lalu kemudian ada yang bilang bahasa Rusia. Lalu ada yang bilang lagi kalau liriknya malah sama sekali bukan bahasa.

Tapi terlepas dari itu, berikut lirik-liriknya, beserta apa yang konon adalah terjemahannya dari bahasa Jepang sesuai yang ditemukan dalam buklet albumnya.

(Tenang, bahkan sesudah menonton animenya beberapa kalipun, aku juga tak yakin soal apa artinya.)

Lirik Asli

Halta de manna, cinca de manna, horahoraho

Horto prier, blos’d’ita

Omna magni

 

Crietros, strientropo, horahoraho

Altinique, ortono, florq d’ ermenita

 

(Hiho detarmeno hiha)

Miha trava lafladitu

(Hiho detarmeno hiha)

Plient, Plient, plientu hora

 

(Halta de manna, cinca de manna)

Horahoraho

 

Horto prier, blos’d’ita

Omna magni

 

(Halta de manna, cinca de manna)

Cripar intari

 

Aquarion, Aquarion

 

Terjemahan Lirik dari Bahasa Jepang

Ekor kadal

Embun di malam

Malam sunyi

Cahaya mentari

Tetesan air mata putri duyung

Bayangan manusia mati

Derita manusia hidup

Kebahagiaan kegelapan

Kegilaan cahaya

Mari menyatu

Mari menelan diri dalam ikatan yang indah

(Halta de manna, cinca de manna)

Di tepi bayang-bayang

Aku terseret dalam kelam

Jeritan aku keluarkan

(Halta de manna, cinca de manna)

Aku gila karena Keheningan

Aquarion, Aquarion

Iklan
Tag:
11/09/2012

Kasus Ichiki di Kokoro Connect

Kalian sudah dengar soal peristiwa yang dialami Mitsuhiro Ichiki?

Mungkin kalian sudah denger soal ini, tapi beberapa hari sesudah AFA, aku nemu berita yang agak bikin aku gimanaa gitu di Twitter. Pertama, karena emang sedikit disturbing. Kedua, karena itu berhubungan dengan salah satu anime yang menarik perhatianku di musim ini, yaitu Kokoro Connect.

Sebelumnya, aku minta maaf karena lama enggak nulis. Ada banyak hal yang terjadi belakangan. Dan maksudku banyak di sini itu banyak. Aku juga minta maaf karena pada akhirnya aku enggak dateng ke AFA. Aku bisa aja maksain sih. Tapi keadaan yang lagi kuhadapi pas hari itu kebetulan lebih memerlukan prioritas.

Balik ke soal Kokoro Connect, bagi yang belum tahu, ini seri drama persahabatan/percintaan tentang lima orang anak SMA (dua cowok, tiga cewek) yang tergabung dalam satu klub ekskul yang sama. Animenya diangkat dari seri ranobe karangan Sadamatsu Anda.

Soal ceritanya sendiri, kelima orang di atas dari latar belakang dan kelompok yang beda-beda, tapi sama-sama terdampar di satu klub yang menjadi semacam ‘buangan’ karena minat mereka enggak tersalurkan lewat klub-klub ekskul lain yang ada (jadi anggota di sebuah klub ekskul merupakan sesuatu yang wajib di sekolah mereka). Lalu, muncul semacam entitas misterius berkekuatan dahsyat yang melakukan serangkaian percobaan aneh terhadap kelimanya. Percobaan-percobaan ini jadi semacam ujian terhadap persahabatan dan keteguhan hati mereka gitu, dan yah, ceritanya kemudian berkembang dari sana.

Jadi di berita yang kubaca tersebut, ada seorang pengisi suara muda bernama Mitsuhiro Ichiki yang disebut menjadi korban bullying dari sang produser anime dan beberapa staf yang lain. Nama Ichiki memang belum terlalu dikenal. Tapi dia sempat memperoleh sejumlah peran pendukung dalam beberapa judul anime yang beredar belakangan.

Ichiki, sekitar dua bulan sebelum anime Kokoro Connect tayang, ceritanya dijanjikan akan memainkan peran seorang karakter original yang akan dihadirkan khusus untuk versi animenya ini. Dijanjikannya itu lengkap dengan proses audisi, pembacaan naskah, dibikinnya desain karakter, dan sebagainya. Intinya, segalanya dibuat semeyakinkan mungkin.

Tapi pada suatu acara panggung khusus yang diadakan belakangan (yang juga di-stream secara langsung lewat saluran NicoNico dan ustream), kemudian terungkap kalau kegiatan audisinya itu cuma main-main, alias sandiwara. Rekaman kegiatan audisinya, yang dibikin pakai kamera tersembunyi, diputar ulang dalam bentuk terpotong-potong, dipeleset-pelesetkan dengan narasi dari Terashima Takuma (salah satu pengisi suara animenya), dan dijadikan, singkatnya, bahan ejekan dan lelucon. Pada Ichiki kemudian diungkapkan kalau tugas sesungguhnya yang diberikan padanya dari sang produser adalah untuk menjadi ‘promotor utama’ anime ini, yang tugasnya adalah berkeliling ke berbagai daerah di Jepang untuk mempromosikan anime Kokoro Connect.  Dia juga diberi berbagai tugas tambahan yang akan diganjari berbagai ‘permainan hukuman’ bila ada salah satunya yang gagal ia penuhi. Salah satunya adalah memperoleh 30.000 follower untuk akun Twitter resmi Kokoro Connect.

Lalu ada dialog antara Kanemoto Hisako (pengisi suara lain di anime tersebut) dan Terashima Takuma dalam episode kedua acara radio Kokoro Connect yang kalau dikaji, isinya agak enggak enak didengar. Terutama saat sampai ke pertanyaan soal apakah peran yang akan dijanjikan pada Ichiki pada akhirnya akan ia dapatkan atau tidak.

Lalu dalam acara promosi di Osaka, ada video Ichiki dan Kanemoto yang diunggah ke ustream yang menampilkan Ichiki menjalani salah satu permainan hukumannya, yakni disetrum. Ichiki berbincang-bincang menanggapi pertanyaan-pertanyaan dari Kanemoto. Dalam jawaban-jawabannya, tersirat kalau Ichiki kurang menyukai keadaannya sekarang. Tapi sebelum ia mengungkap hal tersebut lebih lanjut, dirinya disetrum.

Lalu dalam sebuah acara radio yang lebih terkini, sekali lagi ada pembicaraan antara Terashima dan Kanemoto soal peranan Ichiki yang, sekali lagi, lumayan enggak enak didengar. Kali ini seputar bagaimana dirinya dirasa enggak diperlukan hadir dalam suatu acara, dan soal bagaimana komentar mereka masing-masing terhadap apa yang dilakukannya sejauh ini.

Segala sesuatu soal bagaimana Ichiki ‘dipermainkan’ oleh produser dan sejumlah staf Kokoro Connect baru terangkat ke permukaan saat ada tweet dari Kikuchi Hajime (dari grup band Eufonius, yang menyajikan lagu pembuka Kokoro Connect) yang sedikit banyak menyinggung (memandang rendah?) soal bagaimana penyanyi Momoi Haruko (Nurse Witch Nanako, serta grup Ever17 yang sempat nyanyiin lagu pembuka Kujibiki Unbalance) bahagia mengetahui orang-orang menyanyikan lagu-lagunya di karaoke. Tweet Kikuchi yang satu ini menarik perhatian sejumlah orang (begitu-begitu juga, dengan suara imutnya, Momoi terkenal lho) dan memicu mereka untuk memeriksa timeline-nya lebih jauh lagi. Lalu orang-orang tersebut kemudian menemukan satu tweet soal bagaimana Kikuchi menyinggung betapa mudahnya “seseorang” dimanipulasi karena mengira bisa eksis di industri pengisi suara Jepang semata-mata dengan kerja keras. “Seseorang” tersebut tak lain adalah Ichiki.

Penyelidikan di forum 2ch (forum online terbesar di Jepang, sekaligus “saksi” sejumlah kejadian historis lain, seperti legenda Densha Otoko) kemudian dimulai. Ichiki ceritanya kemudian didapati menjadi tamu dalam acara radio Anigera, yang membahas seputar game, yang dipandu oleh Tomokazu Sugita (salah satu pengisi suara paling terkenal saat ini, salah satu peran terbesarnya adalah sebagai Kyon dalam seri-seri Suzumiya Haruhi). Ada seorang pendengar perhatian yang kemudian mengirimkan surat ke acara tersebut untuk menanyai Ichiki soal insiden penjahilan yang dialaminya ini. Sugita kemudian penasaran, dan akhirnya mendorong Ichiki untuk menceritakan kejadiannya selengkapnya. Disebutkan kalau Sugita yang biasanya cerah dan banyak bicara kali ini menjadi sangat pendiam  dan dengan sabar mendengarkan segala pemaparan Ichiki. Kemudian di penghujung pemaparannya, Sugita mengatakan sesuatu seperti, “Seandainya aku yang menyalami itu, aku pasti akan mengingat muka semua orang yang ada di sana selama-lamanya.”

Dalam sebuah acara webcast untuk Namco Bandai Live, sekali lagi tentang game, Sugita tampil sebagai tamu bersama Terashima. Sugita di sini bersikap sangat dingin terhadap Terashima di sepanjang acara.

Ichiki kemudian tampil juga dalam acara bincang-bincang Asami Imai yang juga tentang game, di mana Imai turut mewawancarai Ichiki tentang kejahilan yang dialaminya juga. Pada mulanya, Imai mengira itu semuanya semacam lelucon canggih dan Ichiki pastinya mendapatkan peran yang dijanjikan padanya di akhir. Tapi saat Ichiki menyampaikan bahwa peran tersebut tidak ia dapatkan dan ia malah ditunjuk sebagai orang humas, Imai berkata perbuatan yang mereka lakukan itu sesuatu yang sangat rendah.

Sebagai tambahan di akhir pembeberan ini, disebutkan kalau dua tahun sebelumnya, ada semacam acara untuk anime Onii-chan no Koto Zenzen Suki Janain Dakara ne!. Ichiki dan Kitamura Eri (salah seorang pengisi suara lain) ceritanya hadir dalam acara ini. Lalu di acara tersebut, si produser (yang masih sama dengan si produser buat semua masalah di atas), Yamanaka Takahiro (bekerja buat King Records), secara tiba-tiba mengumumkan kalau rekaman audisi keduanya untuk anime ini akan diputar, sesuatu yang jelas-jelas diprotes oleh Ichiki dan Kitamura bersamaan. (Ichiki mengikuti audisi untuk mendapatkan peran utama, tapi akhirnya ia mendapatan peran pendukung sebagai salah satu anggota “AGE Team”)

Singkat cerita, rekaman dialog keduanya diputar. Untuk Kitamura, apa yang diputar adalah perkataan “Tapi aku masih belum bermain dokter dengan Oni-chan!” sedangkan untuk Ichiki, “Aku cuma ingin ngelihat tubuh telanjang seorang cewek!” Intinya, keduanya bukanlah sesuatu yang kau mau diputar secara terang-terangan di sebuah jalanan ramai di Tokyo, terlebih dengan bagaimana orang Jepang sangat perhatian terhadap citra yang mereka miliki.

(sumber: http://pastebin.com/Pu2hADMc , diakses pada 3 September 2012)

Pada akhirnya, insiden ini memicu reaksi keras dari banyak pihak, terutama dari para otaku yang mangkal di 2ch. Topik bullying kabarnya menjadi sesuatu yang sedang hangat dibicarakan di Jepang saat itu, terutama berkenaan kasus bunuh dirinya seorang siswa akibat kasus penganiayaan di sekolah yang ia alami, yang kabarnya sempat ditutup-tutupi pemerintah.

Ada beberapa orang dari 4chan (iya, 4chan) yang bahkan mengirimkan lewat Twitter hal-hal tak senonoh pada Kitamura Eri yang digosipkan mengencani si produser Yamanaka ini, yang padahal sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan insiden bullying ini, dan singkatnya, ini berujung pada ditutupnya akun Twitter dari yang bersangkutan. Akun twitter Kikuchi Hajime dan Momoi Haruko juga ditutup sebagai dampak peristiwa ini.

Dalam kabar terkini yang aku baca di ANN (kurasa tanggal 5-7 September lalu), Ichiki telah menyatakan permohonan maafnya secara resmi atas segala kehebohan yang diakibatkan segala peristiwa ini. Dirinya menyatakan bahwa dirinya tak merasakan emosi buruk apa-apa dari segala perlakuan yang ia alami, dan konon skenario yang semula dipersiapkan untuknya adalah bahwa dirinya akan melampaui segala tantangan yang dibebankan kepadanya selaku orang humas dan mendapatkan rasa hormat di akhir. Dirinya juga menyatakan bahwa segala insidennya dibesar-besarkan oleh media dan forum sedemikian rupa, dan bila memang segalanya seburuk itu, pastilah tanggapan negatif ini seharusnya datang lebih awal.

Tetapi bagaimanapun, nama baik sejumlah orang sudah tercoreng. Anime Kokoro Connect,yang saat kutulis ini masih separuh tayang, sebagus apapun hasil akhirnya nanti, sudah terlanjur mendapat citra negatif di kalangan penggemar. Lalu Kikuchi Hajime bahkan mengundurkan diri dari Eufonius sebagai reaksinya atas semua ini.

Tentu saja, kenyataan yang paling mengganggu, mau dibilang diskenariokan seperti apapun juga, adalah bisa-bisanya sesuatu kayak gini dipandang sebagai “hiburan” oleh sejumlah pihak. Terlepas dari segala glamornya di Jepang, ada yang pernah bilang kalau menjadi pengisi suara itu benar-benar memerlukan kerja keras. Makanya peran seperti apapun juga, sekecil apapun, sebenarnya memiliki kontribusi besar terhadap kemajuan karir yang bersangkutan.

Alasan aku mengutarakan semua ini sebenarnya adalah karena pada beberapa hari menjelang AFA, aku kebetulan diajak ke sebuah pertemuan antara beberapa orang hebat. Salah satu orang hebat itu kebetulan ada di posisi sebagai salah satu panitia penyelenggara AFA Indo. Lalu dia bercerita kalau sejumlah orang Jepang yang waktu itu bakalan datang ke acara ini, melihat besarnya potensi pasar budaya visual di Indonesia, sebenarnya juga berminat mencari intellectual property (IP) lokal yang bisa mereka bantu besarkan. Alasannya karena segala hal baru yang bermunculan di Jepang belakangan itu cenderung tipikal. Seakan stagnan. Seakan ada semacam yang aneh di demografinya gitu, yang kurang lebih terindikasi oleh insiden Ichiki di atas.

Yaps, di satu sisi, ketertarikan mereka akan IP lokal kita bisa dibilang kabar baik. Bukan berarti sudah ada IP lokal yang bisa dibilang cukup menarik buat diangkat sih.

Cuma, intinya, kadang aku mikir kalo mungkin saja ada sesuatu tentang semua ini yang lebih dari sekedar yang terlihat di permukaan. Sesuatu yang mestinya bisa kita perhatikan dan ambil pelajarannya lebih dari ini.

Kurang lebih kayak gitu.

27/08/2012

AFA Indo 2012

Dalam waktu kurang satu minggu dari sekarang, Anime Festival Asia (AFA) Indonesia akan diadakan di Jakarta selama dua hari, tanggal 1-2 September 2012.

Aku tahu penyelenggaraan acara ini sudah diumumkan dari jauh-jauh hari sebelumnya, dan aku juga tahu acaranya diadakan hanya sekitar seminggu setelah masa liburan nasional Idul Fitri tahun ini usai, tapi jujur saja, aku masih belum melakukan persiapan apapun untuk menghadiri acara ini.

Tiket masih belum kubeli.

Aku masih belum tahu apa saja isi stand yang akan mengisi acara tersebut selama dua hari itu.

Aku bahkan terlambat tahu kalau Angela dan Kotoko bakalan manggung. Haaah. Padahal aku berharap bisa mendengar secara langsung bagaimana Kotoko menyanyikan lagu ‘Oboetete Ii Yo’ dari Mahou Shoujo Tai; atau yang mungkin yang lebih mungkin, ‘Unfinished’ dari Accel World yang jelas-jelas lebih baru. Lalu kalo misalnya Angela menyanyikan ‘Aoi Haru’ dari Seitokai Yakuindomo, aku kepengen menjadi salah satu yang ikut nyanyiin koor “Seishun no hibi yo!”

Tapi apa boleh buat.

Things (and shit?) happen.

Aku bahkan enggak merasakan apa-apa saat tahu kalo Moe Moe Kyun Maid Café beneran bakal buka di sana selama berlangsungnya ajang tersebut (padahal selama ini kukira aku punya semacam maid fetish). Mungkin karena aku emang udah ngelewatin usia di mana aku bisa sepenuhnya menikmati hal-hal kayak gini?

Aku juga lagi enggak ada mobil yang bisa kubawa. SIM-ku yang udah kadaluwarsa masih belum juga kuurus. Tapi bawa mobil pun, aku pasti bakalan males menghadapi kemacetan di Jakarta-nya sih.

Belum ada temen yang bisa kuajak buat pergi ke sana. Salah satu faktornya adalah karena harga tiket masuknya (belum termasuk konser Anisong) yang lumayan mahal.

Hmm. Mana acaranya dua hari lagi ya?

Hmm. Aku mulai mikir kalo daripada nyari kos atau hotel, bakal lebih ekonomis kalo aku numpang tidur di salah satu kursi stasiun Gambir.

Well, sejujurnya, aku lumayan sibuk belakangan karena satu dan lain hal. Aku, entah gimana kejadiannya, tau-tau aja kelibat dalam sebuah proyek agak besar…

Err, eniwei!

Aku masih belum tahu apa bakalan bisa dateng apa engga. Aku harap aku bisa menyempatkan diri buat dateng sih. Ada beberapa kenalan jauh dan beberapa pembaca blog ini yang kukenal yang mengatakan kalau mereka bakalan dateng juga.

Mungkin bagi kita, para penggemar kebudayaan visual modern Jepang di Indonesia, hadir di AFA akan menjadi semacam holy pilgrimage.

Tentu saja, bakalan ada cosplay (nampaknya) dan Danny Choo datang juga loh (buat yang belum tahu, dia blogger anime PALING TERKENAL SEDUNIA. Beda denganku yang ngeblog secara iseng, orang ini adalah the real thing). Ini juga bakal jadi kesempatan bagus buat nambah-nambah kenalan (dari dunia ini) yang memiliki minat dan hobi yang sama. Yah, ini kayaknya bakalan jadi acara yang layak didatengin cuma buat foto-foto dan pengalamannya aja.

Yah, jadi emang masih belum jelas kepastiannya.

Tapi apabila Tuhan memang berkenan, sampai ketemu kelak di ajang AFA Indonesia 2012!

(Buat kalian yang ingin ikut bersekongkol soal gimana cara ngeliat konser Anisong tanpa perlu membeli tiket—bersekongkolnya doang—mungkin aku bakalan make bandana atau ikat kepala putih selama acara berlangsung.)

21/02/2012

Futakotome – Chiwa Saito

Aku benar-benar suka lagu ini.

—–

今だって 君の隣で

いつだって 不安になるよ

窓の外 見ているふりで

ガラスに映る君を見ていた

君は私のどんなとこを 好きになってくれたのとか

今日もそんな私でちゃんと いられてるかいられてないか

行ったり来たり もうグルグルグルグル

その一言でね ほら全部全部忘れちゃって

その二言目で またもっともっと欲張りになる

君の前だと全部 解かれてくの どこまでも

——-

ima datte kimi no tonari de

itsudatte fuan ni naru yo

mado no soto miteiru furi de

GARASU ni utsuru kimi o miteita

 

kimi wa watashi no donna toko o suki ni natte kureta no toka

kyou mo sonna watashi de chanto irareteru ka iraretenai ka

ittari kitari mou GURUGURUGURUGURU

 

sono hitokoto de ne hora zenbu zenbu wasurechatte

sono futakotome de mata motto motto yokubari ni naru

kimi no mae da to zenbu hodokareteku no doko made mo

 

—–

Bahkan saat ini, saat sedang berada di sebelahmu,

kecemasanku akan kembali melanda

Pada saat aku berpura-pura memandang ke luar jendela

sebenarnya aku memperhatikan pantulan wajahmu di kaca

Apa sebenarnya dari diriku yang membuatmu jatuh cinta?

Sebab untuk hari ini juga, apa boleh orang sepertiku tetap berada di sisimu? Ataukah tidak?

Kita datang, kita pergi, semua terlanjur berputar-putar-putar-putar…

Dengan satu hal yang kau ucap saja, lihat, segalanya–segalanya–kemudian menjadi sirna

Dengan setiap tanggapan yang kau ucapkan, aku semakin–semakin–menginginkanmu

Setiap kali aku berada di hadapanmu, segalanya terus terurai sampai akhir masa

—-

Ini adalah lagu tema utama(?) dari anime Nisemonogatari yang tengah tayang pada musim ini dan sekaligus menjadi lagu tema dari karakter perempuan utamanya, Senjougahara Hitagi (yang disuarakan juga oleh Chiwa Saito).

Yang sejak dulu kukagumi dari hasil adaptasi animenya oleh SHAFT  adalah bagaimana sekalipun ada banyak adegan dari novel aslinya yang terpaksa dipotong karena durasi per episode, nuansa yang dihadirkannya berhasil dipertahankan. Salah satunya adalah melalui pilihan lagu-lagu tema yang dihadirkan pada pembuka dan penutup seri ini.

Lagu ini menurutku secara persis menggambarkan perasaan yang Senjougahara miliki terhadap kekasihnya, Araragi Koyomi, pada titik saat cerita ini terjadi. Mungkin perlu sedikit waktu untuk memahaminya, karena cara intepretasi aneh para animatornya benar-benar membuat sejumlah hal penting dalam cerita menjadi hanya sebatas tersirat. Tapi kurasa memang demikian halnya, terutama setelah apa-apa yang dibeberkan melalui bab Tsubasa Cat, terkait perasaan yang tokoh perempuan lain, Hanekawa Tsubasa, miliki terhadap Araragi.

Yang membuatku agak heran adalah semenjak mendengar lagu ini, aku entah bagaimana tak bisa lagi menikmati Staple Stable dengan cara sama seperti sebelumnya.

01/01/2012

Tahun Baru 2012

Huaho. Lama enggak ada kabar.

Aku malas basa-basi, jadi ayo langsung pasang mode business as usual.

Enggak banyak yang kuingat tentang tahun 2011, selain dari kenyataan aku berusaha nge-blog dengan lebih serius. Kurasa beberapa kali aku sempat kelepasan make mode seenaknya dan tulisan-tulisanku berasa ga objektif atau ga guna lagi. Tapi terlepas dari semua itu, kurasa tahun 2011 merupakan tahun yang penuh kejadian, dan karenanya sebenarnya ada banyak materi yang bisa ditulis.

Mungkin aku bisa menulis lebih banyak seandainya aku bisa lebih disiplin dalam membagi waktu sih.

Eniwei, di tahun yang lalu, pasaran anime sudah mulai saturasi dengan segala sesuatu yang moe. Tapi ada banyak juga hal menarik yang muncul darinya kok. Kuperhatikan, di sekitar pertengahan tahun, muncul semacam semangat nostalgia akan hal-hal lama yang sudah berlalu. Seri baru Last Exile: Ginyoku no Fam menjadi hal pertama yang bisa kukatakan menyangkut hal ini. Diikuti sejumlah seri lain yang merupakan remake atau reboot yang terdahulu. Aquarion Evol, HxH, lalu yang terkini adalah kabar mengenai Eureka Seven Ao. Hei, apa Fate/Zero masuk ke dalam hitungan? Tahun 2010 mungkin berakhir dengan agak stagnan, tapi tahun 2011 kurasa ditandai dengan lumayan banyak harapan.

Dari segi manga, yang paling jelas kuingat dari tahun ini kurasa adalah semakin tenarnya Shingeki no Kyojin serta berakhirnya Fullmetal Alchemist. Damn, dari segala hal ga jelas yang beredar sekarang, nampaknya suatu karya berkualitas pasti akan muncul dari waktu ke waktu.

Kalau tak salah, ada banyak tokoh hebat yang wafat di sepanjang tahun ini. Seperti penulis manga Alive serta sutradara anime thriller psikologis itu.

Segi game? Hmm, aku tak akan terlalu masuk ke sana. Aku cuma memainkan game-game lama. Selebihnya, kurserahkan pada masing-masing orang. (Love Plus, anyone?)

Buatku pribadi, kurasa sepanjang tahun ini aku lumayan menekuni Umineko no Naku Koro Ni serta kelanjutannya, Umineko no Naku Koro Ni Chiru. Aku belum lama ini sadar betapa sampahnya ulasan yang pernah kubuat tentang dua itu. Jadi aku akan membuat tulisan baru yang lebih baik tentang keduanya dalam waktu dekat. Visual novel itu benar-benar mempengaruhiku sedemikian rupa. Membuatku sadar betapa dengan kekuatan pemahaman, kita bisa menaklukkan segalanya, termasuk tragedi-tragedi paling menyakitkan sekalipun. Gara-gara itu pula aku jadi kehilangan minat akan beragam VN lain. Nanti saja kita lihat apakah aku bisa menulis lebih banyak tentang media ini tahun depan.

Kurasa… aku lumayan mengikuti perkembangan Gundam Unicorn juga. Serta menga Crossbone Gundam yang telah ada di Web cukup lama ini akhirnya kubaca juga. Iya juga ya, kurasa aku bahkan menonton Gundam F91, dan bahkan Char’s Conterattack lagi. Mungkin karena kini aku sudah lebih dewasa, ceritanya juga lebih bisa kudalami. Kurasa aku perlu secepatnya menulis sesuatu tentang ini.

Dari semua koleksi anime lama yang dengan susah payah kukumpulkan dan tinggal kutonton, masih tersisa Xabungle dan Cowboy Bebop yang benar-benar ingin kulihat.

Oh ya. Dari segi light novel, wow, kayaknya ada lumayan banyak yang bisa kuulas. Di samping dengan semakin tenarnya sejumlah judul lama, satu kejadian penting pada tahun 2011 ini adalah terbitnya seri terbaru Suzumiya Haruhi setelah sekian lama (dan bahkan terjemahan fansnya!). Tapi aku sendiri belum baca, jadi maaf karena aku juga belum menulis apa-apa tentang ini.

Kalo kupikir lagi, berkat Supercell, kurasa di tahun ini juga aku diperkenalkan lebih jauh pada dunia program penyanyi manga (Vocaloid) di Web. Ada banyak lagu lepas yang lumayan kusuka.

Yah, kehidupan pribadiku sendiri lumayan mengalami gonjang-ganjing.

Jadi buat tahun ke depan, mari kita berusaha jadi orang yang lebih baik lagi.

Stay good and healthy, guys. Thanks for all your visits and support to my humble blog.

Make yourselves a great new year!

Tag:
21/09/2011

Playlist? (September 2011)

Ini lagu-lagu yang belakangan kudengar saat perlu menulis. Karena kebanyakan adalah lagu yang dihasilkan dari perangkat lunak pensintesis vokal (macam uhukvocaloiduhuk), kupikir menarik kalau aku mencantumkannya di sini. (kalian bisa mencari sendiri lagu-lagunya di Youtube, dan kalo beruntung kalian bisa sekalian nemu tautan buat ngunduhnya)

  • Yowamushi Montblanc – Gumi
  • Double Lariat – Megurine Luka
  • Namae no nai Uta – Kagamine Len
  • Alice – Hatsune Miku

Ah, dan kayak biasa, dengan empat lagu favoritku dari band Supercell:

  • Kimi no Shiranai Monogatari
  • Love & Roll
  • Sayonara Memories
  • Melt

(Ya, ini postingan yang engga penting banget)

12/04/2011

9 April 2011, I-GECO Cosplay Competition

Oke, aku mengalami hari yang menarik pada tanggal di atas.

Jadi ceritanya, temanku yang pemerhati mainan itu diwisuda Sabtu lalu, dan kebetulan pada hari yang sama digelar acara I-GECO Cosplay Competition (I-GECO: informatics game and cosplay competition?) yang ingin dilihatnya di Union Square, Cihampelas Walk, Bandung. Jadilah kami segeng pergi ke sana sesudah acara foto-foto dan penerimaan ijazahnya beres.

Soal acara ini, aku sudah dengar kabar tentangnya semenjak seminggu sebelumnya. Penyelenggaranya kali ini adalah himpunan mahasiswa dari jurusan teknik informatika UNPAR, dan sesuai perkiraan, acaranya berlangsung lumayan meriah. Selain orang-orang cosplay, ada juga stand-stand makanan dan kompetisi band. Masalah yang bisa kulihat paling cuma soal di tata suara di beberapa segmen  pertunjukan. Tapi dibanding segala masalah yang mungkin terjadi, dari mata orang awam, kurasa acara ini bisa dibilang lumayan sukses.

Terlepas dari hobiku, aku sebenarnya jarang memperhatikan acara-acara begini. Bukan hanya karena aku tak tergabung dalam komunitas penggemar anime apapun, tapi juga karena aku kesukaanku terhadap bidang ini hanya sebatas kemudahannya untuk dijadikan bahan tulisan belaka. Maksudku, aku selalu merasa daripada mendatangi acara beginian waktuku lebih baik dipakai untuk hal-hal lain. Tapi mengingat aku agak penasaran dengan perkembangan komunitasnya, dan aku memang sedang ingin melewatkan waktu bersama teman-temanku, aku tetap datang juga. Makanya, begitu datang ke lokasi, aku lebih banyak memperhatikan acara dari kejauhan sembari berusaha untuk tak terlalu ilfil. (Kalau mengacu pada Neku Sakuraba dari game NDS The World Ends With You, soal acara-acara ginian, “I just don’t get people.”)

Berbicara soal kualitas cosplaynya, kostum-kostumnya relatif bagus kok. Aku sempat melihat Nanoha dari Mahou Shoujo Lyrical Nanoha, Edward Elric dan Olivier Armstrong dari Fullmetal Alchemist, Inuyasha dan Kikyo dari Inuyasha, serta beberapa orang berpakaian seragam yang sesudah mendekat baru kusadari berpakaian sebagai murid-murid Akademi Zuelhi dari Chrome Shelled Regios. Tokoh-tokoh Vocaloid juga lumayan populer di acara ini dengan orang yang hadir sebagai Megurine Luka (kalo aku ga salah liat), si kembar pirang, serta tentu saja Hatsune Miku (yang ternyata dikostumi oleh seorang cowok…). Ada banyak chara lain yang sayangnya tak kukenal. Ada juga orang berbaju hitam putih misterius yang bawa-bawa plang rambu jalan, yang baru belakangan kusadari orang yang lagi cosplay sebagai Heiwajima Shizuo dari Durarara!!. Dua peserta paling berkesan menurutku adalah dua orang yang menjadi Cloud Strife versi Kingdom Hearts serta Vincent Valentine dari Final Fantasy VII. Keduanya tampil mencolok dengan aksesoris persenjataan mereka yang benar-benar lengkap. Postur tubuh mereka sesuai dengan keduanya. Pembawaannya enggak terlalu sih, tapi aku enggak akan komentar banyak soal itu.

Hal lain yang menarik adalah hadirnya Keiko, seorang seorang cosplayer perempuan yang belakangan semakin dikenal dalam komunitas acara-acara ini. Dia bergabung dengan kelompok cosplay apaa gitu, yang namanya untuk suatu alasan susah diingat semua orang karena saking anehnya, dan sempat menjadi bahan pembicaraan teman-temanku yang hobi mengikuti ajang ini.

Aku tak pandai menilai orang dari penampilan, tapi bahkan akupun mesti mengakui bahwa terutama sebagai cosplayer, dirinya berpembawaan menarik (hampir seperti model; karena dia keturunan Jepang?). Sejujurnya, aku sempat dibuat penasaran tentang cara ia meraih kepercayaan diri yang dimilikinya. Cuma pas melihatnya, aku terlanjur sudah harus pergi lagi (boleh percaya atau tidak, aku sepakat melakukan sebuah pekerjaan stake out hari itu). Sejujurnya lagi, aku sempat terpuruk karena termasuk salah satu orang yang salah dalam menebak usianya (sebenarnya dia benar-benar lebih muda dari penampilannya). Cuma selanjutnya aku sadar aku enggak pantas terpuruk karena pada saat seusianya, badanku juga lumayan bongsor  Sayangnya juga, aku tak yakin saat itu dia cosplay sebagai siapa (Sheryl Nome dari Macross Frontier?). Eniwei, kuharap tumitnya gapapa.

Aku sempat dikenalkan pada teman-temannya temanku yang ternyata bahkan lebih senior dariku! Dan di sana aku sempat mengira bahwa aku sudah terlalu tua untuk mengikuti acara-acara ini. Dari mereka aku kemudian dengar bahwa cosplay crossdressing pertama di Indonesia sebenarnya terjadi karena ‘kecelakaan.’ Dia mau dandan sebagai penjaga kuil. Tapi hakama yang dia buat berwarna merah alih-alih hitam, dan jadilah dia malah cosplay sebagai miko. Barulah sesudah kasus itu kalau aku enggak salah, ada seorang cowok terinspirasi dan secara terbuka cosplay sebagai Mahoro dari Mahoromatic

Eniwei, bagi kalian-kalian yang penasaran ama berlangsungnya acara ini, dengan bangga aku menyatakan aku tak mengambil foto satupun! (Mwahahaha!) Tapi tenang, banyak yang meliput acara ini kok. Kalau perhitunganku tepat, nanti juga bahasannya bakal keluar di edisi Animonster yang baru. Aku juga yakin sebagian foto pas acara ini lambat laun juga akan bisa ditemukan di Internet.

…Tolong ntar jangan lihat foto-foto itu dengan penuh nafsu. Terutama yang foto-foto Hatsune Miku.

15/03/2011

Fenomena Hatsune Miku

Jadi, sekitar tiga minggu lalu, aku menghabiskan suatu sore bersama dua teman baikku yang sebenarnya lebih ‘maniak’ daripada aku. Salah satu dari mereka adalah pemerhati produk-produk ‘mainan.’ Sedangkan yang satunya lagi adalah pemerhati artwork. Ceritanya, aku baru beres kerja, dan kebetulan saja mereka sedang berada di tempat yang tak jauh di kantorku. Sehingga aku sekalian diajak hang out sama mereka.

Sembari menunggu kedatanganku, ceritanya mereka mengobrol soal perkembangan tren budaya visual Jepang. Aku enggak inget gimana kejadiannya, tetapi pembicaraan akhirnya berujung ke soal bagaimana karakter-karakter pettan (berdada rata) menjadi tren zaman sekarang. Maksudku, secara kasar, bagaimana karakter-karakter (perempuan) yang muncul dalam seri-seri anime sekarang sengaja dibentuk ke arah ‘imut’ (loli) alih-alih ‘seksi’ atau sekedar ‘cantik.’

Semula aku mengira bahwa itu dampak dari meluasnya pengaruh Touhou Project secara internasional. Buat yang belum tahu, Touhou Project adalah seri game tembak-tembakan danmaku independen buatan tim Shanghai Alice yang hanya dikomandoi satu orang, yakni ZUN. Kita memilih satu dari beberapa karakter yang ada dan menggerakkannya dalam satu layar bergerak sembari menghindari tembakan musuh (dalam jumlah banyak) dan balas menembak. Seri ini teramat dikenal karena jalinan ceritanya yang secara mengejutkan bagus dan cast karakternya yang sebagian besar terbentuk atas cewek-cewek muda nan imut (err… loli; berdada rata; bahkan ada lagu terkenal yang bercerita tentang ke-dada rata-an ini—‘pettan, pettan tsurupettan’).

Tapi temanku yang pemerhati mainan itu menyatakan bahwa seperti halnya fesyen dan musik, memang ada siklus tren dalam hal  desain karakter. Dia lalu bercerita ke soal bagaimana dia pernah menemukan gambar skema perbandingan karakter-karakter anime perempuan populer dari masa ke masa. Dia menjelaskan bagaimana ukuran dada karakter perempuan secara umum ‘berkembang’ dari kecil menjadi besar pada tahun 70-an, mengecil pada era 80-an, membesar pada paruh awal tahun 90-an, mengecil kembali pada paruh akhir 90-an untuk membesar lagi menjelang tahun 2000-an, sampai mengecil lagi hingga sekarang.

Meski aku pribadi sulit mempercayainya, tapi pembicaraan ini kemudian berlanjut ke bagaimana tren ini bertahan lebih lama akibat sejumlah faktor eksternal lain yang muncul pada dekade ini. Kejutan terbesar buatku adalah saat bagaimana temanku yang suka mainan itu bercerita bahwa kepopuleran karakter maskot Hatsune Miku dari seri program synthesizer suara Vocaloid terjelaskan lewat faktor-faktor ini!

Miku ternyata merupakan kombinasi ultimate dari

  • Rambut twin-tail
  • Pettan
  • Kneesocks
  • Ketiak
  • Lengan baju kebesaran

Yang tak lain merupakan faktor-faktor populer yang ada dalam karakter-karakter anime/manga/game dalam 6-7 tahun belakangan ini! Jelas saja pada saat pertama dimunculkan karakter Miku ini langsung meledak. Hal serupa dapat dikatakan pada karakter Black Rock Shooter yang dibuat oleh artis grup musik Supercell, yang secara langsung ataupun tidak memang terinspirasi oleh desain Miku.

Ada satu hal menarik lain yang temanku yang suka mainan itu katakan. Dia bilang, desain karakter di seri Lucky Star kurang lebih menjadi ‘ramalan’ akan archtype karakter apa saja yang akan populer dalam tahun-tahun ke depan. Dan tanpa dapat kusangkal, ‘ramalan’ yang ditampilkan di seri tersebut secara garis besar terbukti benar. Banyak elemen karakter populer yang lagi dan lagi bisa kita temukan di berbagai seri. Mulai dari chococornet yang direferensikan di mana-mana, yang bahkan menyaingi roti melon yang dengan enggak jelasnya dipopulerkan Shakugan no Shana. (argh, jangan harapkan aku ngasi contohnya yang jelas juga dong)

Mendengar semua ini, dalam sekejap saja aku merasa putus asa karena mengira trend zaman sekarang ternyata digerakkan oleh alasan-alasan konyol. Kesukaan individualis tiap individu sepertinya tergeser oleh pengaruh kesukaan massa. Cara pandang pemirsa tidak lagi bisa dikatakan objektif, dsb. dsb.

Tapi parahnya, siang tadi, aku berdiskusi kembali dengan temanku yang pemerhati artwork itu. Lalu tiba-tiba saja dia berkomentar betapa kalau dia pikir-pikir lagi sekarang, berbeda dibandingkan sebelumnya, belakangan entah mengapa dirinya memang lebih menyukai karakter-karakter pettan dibandingkan karakter-karakter berdada besar. ‘C-cup adalah ukuran maksimal!’ katanya.

Mengingat-ingat kembali preferensi karakterku sendiri belakangan, sialnya entah mengapa aku tak bisa tak sependapat…

03/01/2011

2011*

Tahun sudah berganti lagi ya? Apa iya sudah setahun semenjak aku mulai mengurusi secara aktif blog ini?

Kalau melihat ke belakang, kurasa tahun ini bisa dibilang lumayan berkesan. Secara umum, berbagai karya yang keluar pada tahun ini mengalami peningkatan dari segi kualitas. Untuk anime, buatku tahun 2010 mungkin bisa dicatat sebagai tahun untuk Gundam Unicorn (karena OVA-nya mulai beredar di tahun ini?) dan Katanagatari (karena mengudara per bulan selama setahun penuh). Dari segi manga, ini tahun yang agak muram karena Psyren karya Iwashiro Toshiaki akhirnya (terpaksa?) tamat persis pada saat-saat ketika penggemarnya semakin banyak. Dari segi yang lainnya, seakan mengiringi bencana yang terjadi di dunia pada sepanjang tahun, 2010 bisa dikatakn tahun yang lebih muram lagi karena ada banyak sekali tokoh yang berperan di dunia visual modern Jepang yangwafat tahun ini. Terutama di antaranya adalah Satoshi Kon, sutradara yang menangani anime-anime thriller psikologi terkenal macam Perfect Blue, Paprika, dan Paranoia Agent. Menengok lagi ke paruh lebih awal, Tadashi Kawashima, penulis manga shonen Alive juga wafat di tahun ini, hanya beberapa waktu setelah menuntaskan karya terakhirnya tersebut.

Terlepas dari itu semua, seperti halnya kebanyakan orang, mari kita memandang pergantian tahun dengan penuh semangat dan keoptimisan.

Eniwei, tadi aku menerima kiriman email dari WordPress, yang isinya kurang lebih menilai bagaimana performa blog-ku selama tahun 2010. Sejujurnya, aku enggak pernah tahu hal yang kayak gini ada. Tapi pas membaca dan menerima penilaian bahwa ‘I’m doing great,’ aku jadi merasa sedikit keren juga.

Aku bukan tipe orang yang punya kebiasaan ngerayain akhir tahun sih. Tapi aku tetep pengen ngucapin syukur dan makasih atas semua pengunjung yang selama setahun ini sudah dateng ke sini. Baik itu untuk alasan yang sehat atau enggak.

Danke!

EDIT

Oya. Aku lupa mengulas soal tahun ini sendiri.

Sebagaimana yang kebanyakan orang tahu, dari segi anime, ini tahun yang lumayan lesu. Alasannya karena menjamurnya anime bertipe moe yang banyak mengandalkan banyak fanservice daripada cerita. Lalu beberapa judul yang sebenarnya ‘bagus’ entah mengapa sepertinya berakhir dengan tak terlalu menonjol. Meski begitu, sejauh yang aku tangkap, kurasa banyak yang setuju bahwa ini tahun bagus untuk jenis Noitamina (slot waktu di saluran Fuji TV untuk anime-anime yang ditayangkan pada malam hari).

Sebagian besar di antaranya tak kuikuti, jadi aku tak bisa memberikan ulasan . Tapi sejauh yang kudengar, sebagai catatan, judul-judul yang secara umum ‘mengguncang’ pada tahun ini (untuk alasan-alasan yang berbeda, beserta sekuel-sekuelnya) meliputi:

  • Shiki
  • Armed Librarians: Book of Bantorra
  • Full Metal Alchemist: Brotherhood
  • Letter Bee
  • Star Driver
  • Highschool of the Dead
  • Kimi ni Todoke
  • Cross Game
  • Kuroshitsuji
  • Gundam Unicorn
  • Katanagatari
  • Arakawa Under the Bridge
  • Ore no Imouto ga Konna ni Kawaii Wake ga Nai!

Dari segi manga, satu-satunya hal yang kuikuti belakangan hanya Nurse Aoi, jadi terus terang aku tak bisa berkata banyak. Aku sempat dengar bahwa Aizen di Bleach akhirnya kalah juga, tapi kurasa itu bukan berita yang penting. One Piece mencapai titik baliknya dengan hiatus selama sebulan. Naruto kini sudah memasuki bab-bab akhir. Tapi selain dari itu tak ada lagi yang bisa kukatakan.

Dari segi lainnya, yah, juga tak ada banyak hal yang bisa kukatakan. Toh, lagian aku menulis blog ini BUKAN untuk menghadirkan berita secara up-to-date.

Mungkin ada hal-hal lain yang akan kutulis nanti. Tapi untuk sekarang, marilah kita memandang ke depan ke sisa tahun 2011!

22/12/2010

Tokyo Ban 2010 (news)*

Belakangan kehebohan soal sebuah aturan baru yang diajukan dan disetujui DPR (?) di Tokyo tentang pengumbaran aspek-aspek seks dan kekerasan dalam anime dan manga sedang marak. Aturan baru ini mendapat protes banyak pihak, dan berujung pada pemboikotan banyak pihak terhadap Tokyo Anime Fair yang akan dilangsungkan tahun depan.  Soal detilnya aku belum tahu banyak. Tapi intinya sih, katanya ini upaya pembatasan terhadap aspek-aspek kekerasan dan fanservice, dan segala media yang mengandung elemen-elemen itu nantinya secara jelas harus dicantumkan label ‘dewasa.’

Sebatas ini, apa yang terjadi masih bisa dimengerti sih. Cuma kayaknya ada sejumlah kalangan yang salah mengartikan cakupan situasi ini, sehingga timbul banyak simpang-siur soal apa yang terjadi.

Dari apa yang kudengar sih, intinya begini.

  1. Aturan baru itu ingin membatasi pengumbaran seks dan kekerasan terhadap generasi muda, cuma penataan kalimat yang terkandung di dalamnya ‘ambigu’ dan tidak dijelaskan batasannya.
  2. Akibatnya, ada kesimpangsiuran mengenai apa yang ‘boleh’ dan apa yang ‘enggak’.
  3. Karena keenggakjelasan ini, ada pembatasan ruang gerak kreatifitas karena ketidakpastian batasan sejauh apa tema seks dan kekerasan boleh diangkat.
  4. Manga cowok mungkin takkan terlalu terkena masalah. Tapi manga buat cewek (shoujo) dan wanita (josei) akan terkena dampak cukup besar.
  5. Akan ada masalah pembedaan antara seri-seri yang hanya ‘menyinggung’ soal itu dengan seri-seri yang emang soal itu.

Hal-hal lain yang katanya dipermasalahkan meliputi:

  • Luas cakupan aturan. Meski hanya ditetapkan di wilayah Toyko, mengingat sebagian besar penerbit berdomisili di sana, bisa jadi dampaknya akan berskala nasional.
  • Rentang waktu cakupan aturan. Apakah ini akan berlaku juga buat judul-judul lama atau terbitan ulangnya. (ada seri-seri lama yang agak menjurus, macam Harenchi Gakuen yang sebenarnya tak separah itu.)

Yah. Sejauh yang kutangkap kesimpulannya gini deh. Ini bukan berarti bahwa seluruh anime dan manga akan dihapus. Ini hanya semacam masa transisi sampai suatu titik temu dari semua perdebatan akhirnya akan ditemukan.

Sejujurnya, aku sendiri tak terlalu mempermasalahkannya sih.

Mungkin aku akan memposting lagi sesudah aku memahami info lebih banyak.

EDIT

Sedikit tambahan sesudah penggalian lagi. Aku tak ingat awal persisnya gimana, tapi aku mulai membaca sejumlah artikel secara serius dan mendapati ada sejumlah hal yang beneran menarik. Aku agak susah menjelaskannya sih. Tapi intinya begini.

Tokyo Youth Ordinance, atau Bill 156 (PP I56) yang aku sebutkan di atas, mempermasalahkan soal perlindungan generasi muda dan pembatasan peredaran materi-materi ‘dewasa.’ Beberapa hal menarik yang patut diketahui tentangnya meliputi:

  • Sudah dipermasalahkan semenjak Maret lalu.
  • Dipicu oleh mudahnya mendapatkan materi-materi bernuansa dewasa di Tokyo (sekalipun secara teknis materi-materi tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai pornografi).
  • Sempat gagal sekali, namun sejumlah revisi dilakukan, dan jadilah PP 156 ini yang diloloskan ini. Ada sejumlah implikasi ‘mengancam’ yang sebelumnya tak disadari sesudah perbaikan-perbaikan ini. Tetapi tak ada lagi yang bisa dilakukan berkenaan kesadaran tersebut, mengingat protes telah dilakukan dan dipatuhi sekali.
  • Ada kepelikan politik di dalamnya. Pihak legislatif yang menyetujui PP ini sebenarnya bergerak lebih karena dorongan-dorongan politik. (ini enggak aneh sih)
  • Dampak dari pembuatan PP ini cukup terlambat diketahui oleh pihak-pihak yang terkait.
  • Penggunaan kata-kata bermakna ambigu yang memiliki cakupan arti terlalu luas (seperti ‘tokoh-tokoh muda yang tak ada’ (fiksi) dan ‘situasi seksual’).
  • Pihak-pihak yang menentang PP ini juga berbeda pendapat mengenai situasi saat ini.

Informasi lebih lanjut bisa ditemukan dalam bahasa Inggris di situs ANN.