Archive for ‘tokusatsu’

01/11/2016

Thunderbolt Fantasy

Belum lama ini, aku mengikuti Thunderbolt Fantasy.

Susah buatku untuk tak tertarik pada Thunderbolt Fantasy. Selain mengusung Urobuchi Gen selaku penulis cerita dan Sawano Hiroyuki untuk musik, aku tak pernah bisa benci acara-acara berbasis pertunjukan boneka begini. Meski aku bukan generasi yang besar dengan menonton Si Unyil, aku dulu suka menonton seri-seri ‘marionation’ yang diproduksi Gerry Anderson di Inggris, macam Thunderbirds dan Captain Scarlet. Lalu aku suka Muppets. Di samping itu, aku lumayan menggemari cerita-cerita wuxia.

Diproduksi lewat kerjasama perusahaan-perusahaan Nitroplus dan Good Smile Company dari Jepang dengan perusahaan Pili International Multimedia dari Taiwan, Thunderbolt Fantasy: Touriken Yuuki (subjudulnya kira-kira berarti: ‘pengelanaan pedang dari timur’) merupakan semacam seri pertunjukan boneka tangan yang lagi-lagi sempat memicu perdebatan soal batasan-batasan definisi ‘anime.’ Pertama disiarkan langsung dalam tiga bahasa, Min-Nan Taiwan, Mandarin, dan Jepang, penyutradaraannya dilakukan oleh Chris Huang dan Jia-Shiang Wang. Jumlah episodenya sebanyak 13, dan sudah dikonfirmasi ada sekuelnya yang sedang dibuat.

(Untuk kemudahan pengetikanku, nama-nama yang digunakan dalam ulasan ini adalah nama-nama Jepang.)

Kode Etik Payung

Cerita Thunderbolt Fantasy benar-benar sederhana, dan sekilas terkesan sangat generik.

Kisah dibuka dengan dikejar-kejarnya sepasang kakak beradik dari kelompok penjaga segel Goinshi, Tan Kou dan Tan Hi, dari kejaran orang-orang jahat kelompok Genkishu (‘para iblis onyks’). Meski keduanya sanggup bertahan beberapa lama, terutama berkat kepiawaian Tan Kou dalam bermain pedang, keduanya terdesak saat pemimpin Genkishu, seorang pria bertopeng bernama Betsu Tengai, ikut serta dalam pengejaran.

Betsu Tengai, yang berjulukan Shinra Kokotsu (‘tulang-tulang penciptaan’) berkat penguasaannya atas ilmu bela diri sekaligus ilmu sihir, dengan mudah menaklukkan Tan Kou. Sehingga di ambang kematiannya, Tan Kou kemudian mendorong adik perempuannya, Tan Hi, untuk terjun ke lembah sungai agar melarikan diri.

Singkat cerita, Tan Hi yang masih terguncang oleh kematian kakak laki-lakinya, kemudian bersimpangan jalan dengan dua orang pengelana yang kebetulan juga baru saling bertemu. Yang pertama adalah seorang musafir bernama Shoufukan yang kebetulan sedang lewat. Yang kedua adalah seorang pria tampan berambut perak yang mengaku bernama Kichou, yang kebetulan sedang berteduh di tengah hujan. Karena suatu alasan, Kichou kemudian membujuk Shoufukan yang awalnya ingin menghindar masalah untuk menolong Tan Hi. Tindakan ini tak dinyana malah memaksa Shoufukan terlibat rencana bulus Kichou untuk melawan Genkishu, yang ternyata berkaitan dengan perebutan senjata-senjata pusaka Tankenshi yang telah mengakhiri Kobo no Sen (‘perang senja pudar’) yang berlangsung melawan kaum Iblis beratus tahun lalu.

Dipelopori Kichou, Shoufukan akhirnya terseret dalam upaya membantu Tan Hi, yang berujung pada bagaimana kelompok mereka yang sebanyak tujuh orang menempuh perjalanan melintasi Pegunungan Masekizan (‘tulang punggung iblis’) yang berat, demi mencapai Menara Tujuh Dosa yang menjadi markas kelompok Genkishu.

“Kau ingin berbasa-basi, di saat seperti ini?”

Jadi, sekali lagi, ada tujuh orang yang akhirnya terlibat dalam perseteruan melawan Genkishu. Masing-masing anggotanya semula dipilih karena ada suatu peran tertentu yang Kichou siapkan untuk mereka. Mereka adalah:

  • Kichou, sang pelopor, yang dengan pengaruhnya yang luas, mengundang para anggota kelompoknya yang lain untuk bergabung. Ia menggunakan sebilah pipa yang dengannya, ia bisa menciptakan ilusi.
  • Shoufukan, seorang pengelana dari jauh dengan aksen aneh yang bertemu Kichou secara kebetulan dan karena satu dan lain hal, ikut terseret-seret dalam masalah. Ia bersenjatakan sebilah pedang.
  • Tan Hi, yang akan ditolong. Juga seorang ahli pedang dan kekuatan sihir perlindungan.
  • Shu Unshou, seorang pemanah ternama berjulukan Eigan Senyou (‘ahli tembak bermata tajam’) yang memiliki cakupan penglihatan sangat jauh meski telah kehilangan sebelah matanya.
  • Ken San Un, seorang ahli tombak muda, yang turut bergabung sebagai adik didik Shu Unshou untuk belajar tentang sikap seorang ksatria padanya. Julukannya adalah Kan Kaku (‘ketakjuban beku’).
  • Kei Gai, seorang Iblis wanita yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan jasad orang-orang mati dengan tarian dan nyanyiannya. Julukannya adalah Kyuu Shou (‘malam tangisan’).
  • Setsu Mushou, seorang pembunuh bayaran sekaligus ahli pedang sangat berbahaya, yang ikut bergabung karena mengharapkan kepala Kichou sebagai imbalan. Julukannya adalah Meihou Keisatsu (‘pembantai burung api mengaum’).

Tankenshi yang tengah dicari oleh Betsu Tengai rupanya adalah sebilah pedang bernama Tengyouken. Pedang ini yang rupanya telah disegel oleh kelompok Goinshi. Dua ‘kunci’ untuk melepas segelnya rupanya dibawa oleh kakak beradik Tan Hi dan Tan Kou. Lalu bersama tewasnya Tan Kou, salah satunya telah jatuh ke tangan Betsu Tengai.

Tujuh sekawan pimpinan Kichou ini berhadapan dengan pihak Genkishu, yang sesudah kehilangan salah satu komandannya, Zankyo, di tangan Shoufukan, masih memiliki Betsu Tengai yang dibantu dua bawahannya yang setia, Ryou Mi dan Chou Mei, serta anak-anak buah bertopeng yang tak terhitung jumlahnya.

Ceritanya sekilas terkesan sangat generik, dengan lumayan banyak adegan yang terkesan ‘keju.’ Tapi kalau kalian bisa menikmati yang begini, kalian akan dapati kalau Thunderbolt Fantasy itu bagus.

Seriusan, bagus.

Pada menit-menit awal aku pertama menontonnya, ada rasa takjub aneh karena aku merasa seperti sedang mengikuti sebuah anime, dan bukan acara pertunjukan boneka. Pergerakan kameranya senantiasa dinamis gitu, dengan fokus-fokus yang berpindah. Bahkan ada saat-saat ketika pergerakan kaki digambarkan. Lalu pas ada pertarungan, adegan-adegan aksinya diilustrasikan lewat banyak penggunaan CG gitu.

Terkadang masih terasa batasan-batasan medianya (seperti dalam hal bagaimana hampir semua karakternya kidal karena struktur mekanis untuk pergerakan bonekanya). Tapi dalam berbagai sisi lain, Thunderbolt Fantasy seolah mendobrak batasan-batasan yang semula aku bayangin. Ada karakter-karakter sampingan, seperti banyak penduduk desa, yang muncul. Meski terbatas, pembangunan dunianya beneran terasa jadi. Lalu bahkan ada adegan-adegan minum-minum dengan cairan beneran yang mengalir. Meski lebih condong ke dialog, adegan-adegan aksinya, pas ada, itu seriusan keren. Kadang jurus-jurusnya memang terasa seperti adegan-adegan sihir summon dalam game-game, tapi semua ada penjelasan teknisnya yang bisa kalian gali. Lalu, meski mungkin seri ini dibuat agar bisa cocok untuk anak-anak, sebenarnya ada porsi gore yang lumayan banyak dengan berbagai tangan dan kaki terpotong serta tubuh-tubuh yang meletus (sekali lagi, meletus, bukan meledak).

Soal ceritanya sendiri, meski sentuhan Urobuchi-sensei yang khas sebenarnya terasa sejak awal, kebagusan Thunderbolt Fantasy memang baru terasa sekitar episode delapan. Di sekitar itu, ada momen penentuan ketika terungkap bahwa segala sesuatunya tak persis seperti yang dikira. Sebagian besar karakter utama, yang kita ikuti kisahnya dari awal, ternyata adalah orang-orang brengsek.

Daya tarik itu terutama tertuang lewat konflik yang timbul saat Kichou terungkap sebenarnya adalah Lin Setsuha, berjulukan Ryoufuu Setsujin (kira-kira berarti: ‘pencuri angin’), seorang pencuri legendaris yang padanya, ada banyak orang menaruh dendam. Tapi segala permusuhan terhadapnya tertahan karena tak ada yang tahu siapa Shoufukan sebenarnya, yang secara mengejutkan menyatakan diri berasal dari Seiyuu, negeri yang harusnya telah lama hilang semenjak terpisah dari Tourii selama ratusan tahun semenjak Perang Senja Pudar.

Meski klise, hasil akhirnya beneran keren, dan aku susah buat enggak terkesan karenanya.

Bukan hanya elemen-elemen fantasi generik, elemen-elemen khas wuxia, seperti konflik kepentingan dan harga diri, juga dimiliki Thunderbolt Fantasy, sehingga saat konflik final dengan Betsu Tengai akhirnya terjadi, semuanya berhasil memuncak dengan akhir yang memuaskan.

“Bahkan kau pun tak bisa selamanya menghindari akhirat!”

Kalian tahu, dunia sekarang makin rumit. Ada begitu banyak hal yang tak bisa kita apa-apain tentangnya. Lalu mungkin karena itu, pesan positif yang Thunderbolt Fantasy usung benar-benar ‘kena’ buatku.

Aku suka saat ada karakter-karakter imba yang dengan tegas memperbaiki masalah dan membenarkan yang salah. Lalu aku semakin suka lagi bila karakter-karakter seperti itu bisa muncul dari mana saja, termasuk dari tempat-tempat paling tak disangka.

…Uh, iya. Perkembangan karakternya, agak aneh untuk suatu karya buatan Urobuchi-sensei, tak sebanyak itu sih. Lalu iya, ini bukan seri di mana ada banyak karakter bernama yang mati. (Untuk yang bisa menimbulkan feels yang datang karena death flag gitu, kayaknya kita semua sepakat kalau itu tersedia lewat Gundam: Iron-Blooded Orphans yang sedang tayang season keduanya pas aku ngetik ini. Random shoutout: desain Gundam Vidar itu keren!)

Tapi ini bagus. Seriusan bagus.

Kurasa, siapapun yang tertarik untuk mengikuti Thunderbolt Fantasy pada akhirnya akan menganggapnya bagus sih. Sedangkan mereka yang tidak, akan berpendapat sebaliknya.

Yah, paling baik jika kalian menilainya sendiri.

(Btw, untuk yang mau tahu, cerita wuxia favoritku sepanjang masa adalah The Smiling Proud Wanderer karya Jin Yong, yang di sini dikenal dengan judul Pendekar Hina Kelana.)

Penilaian

(Tidak jadi. Aku bingung bagaimana menilainya.)

Iklan
02/11/2014

Space Sherrif Gavan: The Movie

Sebelum ada yang salah paham, biar aku tegaskan. Sebenarnya, aku bukan penggemar Uchuu Keiji Gavan (terjemahan sederhana ‘Uchuu Keiji’ adalah ‘polisi luar angkasa’).

Yeah, seri ini pernah sangat terkenal di Indonesia pada tahun 1980an sampai awal 1990an. Itu masa-masa saat rental kaset video sedang tenar dulu. Tapi bahkan buatku, ini terjadi di masa sebelum aku… yah, aktif (walau, oke, aku sering mengikuti Getter Robo pada zaman itu). Dengan kata lain, kegemaran terhadap Gavan itu ngetren pada saat aku masih sangat kecil. Sehingga, yah, aku lumayan asing dengan seri tokusatsu Metal Heroes secara umum.

(Buat yang mau tahu, satu-satunya Metal Heroes yang sempat agak kuikuti cuma Kidou Keisatsu Jiban. Yea, aku salah seorang dari generasi itu. Apa? Janperson? Sori, aku enggak ngikutin Janperson.)

Tapi walau begitu, sesudah aku dewasa, aku sempat beberapa kali melihat seri sekuel Gavan, yaitu Space Sheriff Sharivan, dan dalam sekejap saja aku langsung mengerti kenapa dulu seri tokusatsu ini dipandang sangat keren. Terlepas dari kejadulannya, lalu efek-efek khususnya, lalu pesawat-pesawat raksasanya dan adegan terlempar ke dimensi lain, ada karisma nyata yang dimiliki oleh para aktornya. Karismanya itu kayak… luar biasa terpancar gitu dan membuat mereka seriusan terkesan keren. Lalu meski konsepnya simpel, diperankannya itu dengan sungguh-sungguh.

Agak… uh, berbeda dengan kualitas akting yang kerap kulihat di zaman ini.

Siapa lagi nama tokoh antagonis di Sharivan? Intinya, dengan ngelihat sekilas saja aku langsung teringat masa kecilku sendiri, dan langsung ngerti soal gimana anak-anak di zaman itu bisa melihat para monsternya sebagai sosok menakutkan.

Terlepas dari semuanya, sebagian karena dorongan rasa ingin tahu, aku mencoba melihat Space Sheriff Gavan: The Movie, yang merupakan film layar lebar yang dibuat untuk merayakan ulang tahun ketiga puluh dari seri ini. Ini suatu produksi baru, keluaran orang-orang Toei yang secara tahunan menangani seri Kamen Rider dan Super Sentai. Tapi formatnya film layar lebar, dan bukan (belum?) serial TV. Lalu sampai sejauh ini, karakter Gavan yang baru ini baru muncul dalam film-film layar lebar lain yang sifatnya masih crossover.

Alasan aku mencoba lihat movie ini, selain karena nama Gavan sendiri, adalah karena aku cukup ingin tahu soal keseriusan penggarapannya, berhubung mereka bilangnya mau mengenalkan karakter ini ke generasi baru.

Lalu soal hasilnya… enggak, film ini sebenarnya, sayangnya, belum bisa dibilang bagus. Tapi fanboy dalam diriku tetap enggak bisa enggak natap dengan mata berbinar saat Gavan akhirnya muncul dan melancarkan serangan pamungkasnya, Gavan Dynamic.

Jadi walaupun begitu, ini tetap sebuah film tokusatsu yang lumayan bisa aku sukai.

Tiga Kalung Pembawa Keberuntungan

Space Sherrif Gavan: The Movie memperkenalkan seorang Gavan baru, yakni seorang pemuda bernama Jumonji Geki.

Singkat cerita, Gavan adalah semacam gelar yang diberikan oleh kesatuan polisi luar angkasa, Galactic Union Patrol, kepada perwira khusus terbaiknya yang ditugaskan melindungi Bumi—sebelumnya, dari ancaman Sindikat Makuu pimpinan alien berkekuatan dahsyat, Don Horror. Gavan dibekali pesawat ruang angkasa khusus dan berbagai perbekalan lain, termasuk zirah sangat canggih yang dapat ditransfer dan dipindahkan kepadanya sesudah diurai ke bentuk partikel dalam nol koma sekian detik.

Film layar lebar ini mengetengahkan hubungan lama yang Geki punyai dengan dua sahabat lamanya, mendiang Okuma Touya, yang berkacamata dan ternyata sebenarnya ambisius; dan satu-satunya perempuan di antara ketiganya, Kawai Itsuki, yang terus meyakini kelangsungan hidup keduanya sesudah kecelakaan misterius yang menimpa pesawat ruang angkasa yang membawa Geki dan Touya dalam sebuah misi menuju Mars setahun yang lalu.

Ketiganya dulunya bekerja sebagai semacam peneliti dalam bidang fisika ruang angkasa di lembaga riset bernama SARD. Lalu saat lab tempat Itsuki bekerja suatu malam diserang oleh makhluk misterius bernama Zan Vard, Geki, yang ternyata selama setahun terakhir ini dirinya ditolong dan direkrut oleh Galactic Union Patrol, datang sebagai Gavan dan menolong Itsuki.

Pertemuan kembali Geki dengan Itsuki menuai kembali pertanyaan tentang apa persisnya yang terjadi pada insiden setahun sebelumnya.

Geki, yang sebenarnya masih belum matang sebagai Gavan, harus menyelidiki serangkaian insiden misterius yang akan berujung pada kebangkitan kembali kelompok penjahat Makuu lagi.

Return to Makuu Space

Satu poin menarik yang film ini miliki adalah masih belum matangnya Geki sebagai Gavan. Dirinya dilanda keraguan tentang tugasnya saat ini sebagai Gavan akibat hubungan lama yang pernah dimilikinya dengan Touya dan Itsuki, dan membuatnya belum bisa mengeluarkan potensi yang dimilikinya secara penuh.

Poin menarik lainnya adalah kembalinya Ichijoji Retsu, pemilik pertama dari nama Gavan, sekaligus sosok yang telah membuat nama tersebut menjadi legendaris. Dirinya telah menjadi berusia paruh baya sekarang, namun kemampuan yang dimilikinya masih tak diragukan. Melihat kesulitan-kesulitan yang Geki hadapi, Commander Qom kemudian menugaskan Retsu untuk menjadi mentor Geki sampai yang bersangkutan mandiri.

Geki ternyata hanya adalah satu dari tiga kandidat yang akan dipilih untuk mengemban tugas melindungi Bumi. Dua lainnya adalah Hyuga Kai sebagai Sharivan dan Karasuma Shu sebagai Shaider. Seri Sharivan dan Shaider sebelumnya merupakan penerus dari seri TV Gavan. Lalu meski dua karakter tersebut masih belum banyak berperan di film ini, aku dengar sedang dibuat film layar lebar untuk masing-masingnya sendiri.

Brighton, tokoh antagonis utama seri ini yang berupaya membangkitkan kembali Don Horror, memiliki desain yang menurutku lumayan keren. Selain Zan Vard, monster lainnya yang muncul meliputi Witch Kill dan Lizard Doubler yang sampai menjelang akhir menjadi lawan yang lebih dari setara untuk Gavan.

Ada… seorang gadis alien muda bernama Shelly yang menjadi asisten Geki dalam misi-misinya. Agak serupa dengan Mimi terhadap Retsu dulu. Dirinya memiliki selera berpakaian yang lumayan unik.

Lalu, wujud Gavan yang Geki akses berbeda dari yang orisinil, dengan sebutan khusus Gavan Type-G yang sedikit berbeda dengan wujud yang Retsu punyai. (Saat-saat keduanya harus meloloskan diri dari ruang Makuu menurutku adalah bagian terbaik film ini.)

Hmmm. Electronic Starbeast Dol muncul menjelang klimaks cerita, membantu Geki dalam penyerangan terakhir ke puing-puing Makuu Castle. Jadi itu satu hal yang tak mengecewakan.

Tapi, hmmm, kalau aku mempertimbangkan kembali hal-hal di atas, beneran kerasa betapa zaman udah berubah ya? Zaman dulu, semua elemen cerita ini benar-benar terasa luar biasa keren. Sedangkan waktu aku mengunjunginya lagi sekarang…

Hmmm, perasaanku rumit.

Terlepas dari semuanya, aku jarang membahas soal tokusatsu. Lalu apabila aku membahasnya, pasti aku membahasnya dengan malas-malasan karena suatu alasan. Tapi setelah sekian lama, kurasa ini satu film layar lebar yang entah karena apa terasa perlu aku ulas.

Akhir kata, aku enggak merasa kau akan menemukan banyak hal baru selaku penggemar tokusatsu dengan melihat film ini. Kalau aku mesti membandingkan, standar beberapa movie Kamen Rider Den-O yang keluar bertahun-tahun mendahuluinya rasanya masih lebih tinggi. Tapi, di sisi lain, rasanya kayak, “Hei, ini Gavan bo!”

Jadinya, yah…

Padahal sutradaranya masih Kaneda Osamu.

Aku jadi bertanya-tanya apakah suatu saat kelak akan ada penggarapan lebih lanjut untuk karakter ini.

Terlepas dari semuanya, aku seriusan sempat merasa kalau aku mungkin akan menemukan ‘sesuatu’ yang berkaitan dengan kenangan masa laluku kalau menonton ini. Sesuatu yang aku sendiri enggak yakin apa.

Enggak, aku enggak menemukannya sih. Pada akhirnya aku tetap enggak menemukan apa-apa.

Tapi aku enggak bisa membantah kalau memang ada sesuatu yang kerasa agak mengganjal di kepalaku sesudah melihat ini. Sesuatu yang aku enggak yakin apa.

…Mungkin ini serupa dengan perasaan yang diangkat dalam 20th Century Boys.

Tag:
17/01/2009

Kamen Rider the NEXT

Kalau boleh berpendapat, daur ulang dari franchise Kamen Rider klasik dalam bentuk film-film layar lebar merupakan upaya daur ulang (remake) paling nekat yang pernah kulihat. Aku benci film yang pertama (Kamen Rider: The First) karena telah mengacaubalaukan citra kepahlawanan Kamen Rider lewat melodrama sok romantis yang maksudnya enggak jelas. Bukannya aku nganggap produsernya enggak bikin filmnya dengan sungguh-sungguh. Cuma, gimana ya? Ada kesan kalo mereka nyoba maksain khayalan seenaknya mereka ke dalam citra yang sudah lama terbangun, hingga akhirnya malah terkesan merusak.

Sekalipun demikian, saat aku menonton film keduanya (Kamen Rider: The Next), aku merasa mulai mendapat pemahaman akan gambaran Kamen Rider macam apa yang ingin disampaikan pembuatnya. Filmnya secara keseluruhan masih saja terasa hambar dan tak berkesan. Tapi aku harus mengatakan kalau aku lebih suka film yang kedua daripada yang pertama.

Serangkaian pembunuhan…
Dua tahun sesudah akhir film yang pertama, sejumlah pembunuhan sadis yang selalu diiringi rekaman nyanyian idola terkenal Chiharu menggemparkan masyarakat. Hongo Takeshi, kini bekerja sebagai guru IPA di sebuah SMA, menjadi terlibat dalam misteri ini saat berusaha membantu Kikuma Kotomi, salah seorang siswi di kelasnya, yang ternyata merupakan sahabat dekat Chiharu.

Kotomi menyatakan bahwa semenjak hubungan telepon terakhirnya dengan Chiharu, di mana sang idola secara misterius menyatakan bahwa dirinya sebentar lagi akan mati, Chiharu tak pernah lagi berhasil Kotomi hubungi sekalipun Chiharu sendiri masih sering terlihat tampil di berbagai media. Merasa ada kejanggalan di balik semua ini, terlebih dengan semua pembunuhan mengerikan yang terjadi, ia bersama Hongo berupaya menyingkap kebenaran di balik apa yang sesungguhnya terjadi.

Upaya mereka ini (tentu saja) mempertemukan kembali Hongo dengan organisasi rahasia jahat Shocker—orang-orang yang dulu bertanggung jawab atas perubahan yang dialami tubuhnya. Kini diwakili oleh seorang wanita yang disebut Chainsaw Lizard sekaligus enam orang Shocker Rider yang merupakan tiruan dari wujud lain Hongo, Hongo kembali harus berhadapan dengan mereka sebagai jati dirinya yang satu lagi: Kamen Rider.

Tak disangka, perjuangannya rupanya mendapat pertentangan dari kakak Chiharu sendiri, yakni Kazami Shiro, yang seperti halnya Hongo dulu, rupanya telah diubah oleh Shocker menjadi manusia super: Kamen Rider V3. Kini, berdua dengan Chainsaw Lizard, nampaknya Kazami akan menjadi rintangan Hongo yang terberat.

Distopia
Hal menarik pertama tentang film ini adalah bagaimana citra kepahlawanan Kamen Rider benar-benar diobrak-abrik. Jangankan menjadi pembela kebenaran, Hongo Takeshi beserta rekannya, Ichimonji Hayato, sesudah menghancurkan salah satu markas Shocker dua tahun sebelumnya, digambarkan dalam film ini seakan hidup dalam pelarian. Jelas terlihat bahwa mereka berusaha untuk tak menonjolkan diri dengan cara hidup mereka masing-masing. Hongo, yang dulu ilmuwan berprestasi, kini cuma menjadi guru SMA. Sedangkan Ichimonji melewatkan hari-harinya dengan minum-minum di ‘klub kabaret’ langganannya. Ini jelas bertentangan dengan cara hidup kedua Kamen Rider tersebut dalam serial TV orisinal, yang secara nyata memperlihatkan bahwa mereka memang mengadakan ‘gerilya’ terhadap Shocker.

Dunia dalam film ini sendiri notabene digambarkan suram dan gelap. Hongo secara terang-terangan dilecehkan oleh murid-muridnya. Sementara semua rangkaian pembunuhan itu terjadi, orang-orang secara luas digambarkan hampir tak peduli. Kehampaan yang terasa akibat kekayaan melimpah beberapa kali menjadi tema, bersama dengan tindakan-tindakan jahat yang didorong oleh rasa iri dan dengki. Dunia seperti inilah yang ingin Shocker hancurkan, dan kita jadi sedikit banyak merasa simpati terhadap tujuan mereka.

Lewat latar seperti inilah, para produser tampak berusaha menarik keluar semacam nuansa horor dalam mengenalkan V3. Suatu hal yang, bila dipikir-pikir sekarang, sebenarnya cukup selaras dengan tema serial TV Kamen Rider V3 yang memang merupakan salah satu seri Kamen Rider ‘tergelap’ yang pernah ada.

Tak ada masalah dengan hal ini. Hanya saja ada sedikit kesan kalau mereka terlalu larut dalam pembuatan sisi horor itu hingga akhirnya malas membuat penjelasan yang tuntas dari segi cerita.

Ada kekecewaan lain yang datang dari pengenalan V3. V3 di sini menurutku terkesan seperti seorang pahlawan yang ‘maksa’. Dia enggak sampai dicuci otak seperti Hongo dalam film pertama. Tapi di sini terlihat bahwa ia agak plin-plan. Motivasinya lemah. Ia dipilih dari sekian banyak orang untuk menjadi prajurit super Shocker, dll dll dan entah gimana menjelang akhir ia mau saja bekerja membantu para Kamen Rider. Pokoknya, beda jauh sekali dibandingkan kesan orisinilnya sebagai sosok yang digerakkan oleh dendam.

Enggak puas
Aksinya keren sih. Jauh lebih keren dan banyak dibandingin film pertama. Kebut-kebutan dengan sepeda motor. Pertarungan para Rider bersama. Tamatnya juga lumayan berkesan.

Tapi jangan harap kau akan puas dari segi cerita. JANGAN.

Penilaian
Konsep: A-. Eksekusi: B. Visual: A. Audio: C. Perkembangan: B-. Desain: A. Kepuasan Akhir: B-