Archive for ‘novel’

25/09/2017

Phenomeno

Maaf lama enggak nulis.

Aku ngalamin sedikit kecelakaan kerja beberapa minggu lalu. Aku sampai perlu beberapa kali ke rumah sakit segala. Lalu sejak itu, kondisi kesehatanku gampang naik turun. (Selama beberapa hari terakhir, aku bahkan terkapar karena diare.)

Sehubungan dengan itu, aku jadi ingin bahas soal Phenomeno.

Phenomeno sebenarnya judul yang sudah lama ingin aku bahas. Keluarnya pertama kali di sekitar tahun 2012. Tapi aku mengalami kesulitan, berhubung minimnya informasi yang bisa kutemukan tentangnya.

Alasan aku ingin membahas seri ini adalah entah karena kebetulan atau bukan, semenjak aku… uh, kena kecelakaan di atas, aku berkenalan dengan semakin banyak orang aneh. Salah satunya, (yang bukan yang pertama, dan juga kuragukan apakah bakal jadi yang terakhir) adalah seorang mahasiswa depresi(?) di kota lain yang berkeinginan untuk bisa melihat hantu.

Aku bukan penggila hal-hal supernatural. Tapi aku mengakui kalau sisi dunia lain itu ada. (Heh, aku bahkan melihat sendiri bagaimana salah satu pembantu di rumahku sempat kesurupan.)

Aku bertanya soal alasan keinginan aneh(?)nya itu ke dia. Lalu mahasiswa itu memberi jawaban ngawang soal gimana dia ingin tahu bentuk ‘mereka’ kayak gimana. Jujur, dari sejumlah pengalaman orang yang pernah aku denger, keinginan kayak gini biasanya enggak berujung ke hal baik. Tapi, aku putuskan buat coba telaah lebih jauh soal keinginannya itu. Akhirnya dia mengakui kalau sekalipun dia punya alasan, alasan tersebut sudah lama ia lupakan pada titik ini.

Phenomeno, atau yang juga dikenal dengan judul Phenomeno: Mitsurugi Yoishi wa Kowagaranai (subjudulnya mungkin kira-kira berarti: ‘Mitsurugi Yoishi tidak mengenal takut’) bermula dari seri light novel yang dikarang oleh Ninomae Hajime. Ilustrasinya dibuat oleh ABe Yoshitoshi (ilustrator orisinil untuk Serial Experiments Lain dan NHK no Youkoso!) yang sangat dikenal dengan nuansa karakternya yang khas. Ini seri horor supernatural yang sudah tamat dalam enam buku. Walau begitu, daripada takut-takutan ala jump scare, ceritanya lebih berat ke suspens.

Kayak, perasaan berat menggantung yang mengindikasikan adanya sesuatu yang ‘salah,’ tapi kita enggak bisa mengungkapkan apa.

Phenomeno mulai dikenal di luar Jepang berkat versi visual novel-nya yang sempat dibuat Nitroplus. Versi ini mengadaptasi cerita dari babnya yang paling pertama. VN pendek ini memang dimaksudkan untuk mempromosikan seri novelnya; sifatnya freeware. Karenanya, meski sama sekali enggak jelek, juga enggak sepenuhnya bisa dibilang menonjol.

Tapi karena VN ini pula, aku jadi pertama tahu tentang seri ini. Kebetulan, sejumlah fans telah membuatkan patch untuk terjemahan Bahasa Inggrisnya. Lalu semenjak menuntaskannya, aku beberapa kali mencari terjemahan lanjutan ceritanya.

Soalnya, aku penasaran dengan hal-hal menggantung yang ada di dalamnya.

Bukan Untuk Manusia

Ringkasnya, Phenomeno dibuka dengan rangkaian pengalaman supernatural yang disaksikan oleh seorang mahasiswa baru bernama Yamada Nagito.

Seperti mahasiswa kenalanku yang aku sebutkan di atas, Yamada adalah orang yang penasaran tentang keberadaan dunia lain. Dirinya penasaran apakah ‘dunia lain’ itu benar-benar ada atau tidak. Dia kerap mempertanyakan apa mungkin berbagai fenomena aneh tersebut sebenarnya diakibatkan kondisi kejiwaan manusia belaka.

Karena memang punya minat terhadap occult, Yamada sejak dulu adalah pengunjung berkala suatu situs web bernama Ikaigabuchi. Di Ikaigabuchi, para ahli soal bidang supernatural konon berkumpul dan Yamada seperti menjadi semacam penggemar mereka. Mereka kerap membedah berita-berita kasus supernatural, membedakan apakah sesuatu benar-benar terjadi atau tidak.

Di awal, si Yamada ceritanya baru pindah ke perkotaan untuk urusan kuliah. Dia berusaha mencari tempat menginap yang kira-kira murah. Lalu sesudah dia berulangkali ‘diganggu’ lewat bunyi-bunyi aneh dan mimpi-mimpi aneh di rumah kontrakannya yang baru, akhirnya dia terdorong untuk mencari bantuan.

Yamada berusaha mengangkat kasusnya di Ikaigabuchi. Bahkan sempat memberanikan diri datang ke acara kopi darat segala. Sayangnya, dirinya secara menyedihkan kurang mendapat tanggapan. Tapi berkat itu, Yamada kemudian berkenalan dengan seorang gadis remaja sangat aneh bernama Mitusurugi Yoishi.

Singkat cerita, Yoishi adalah seorang gadis asosial yang—menurut pendapatku pribadi—kadang tidak jelas apakah dirinya benar-benar manusia atau bukan. Kulitnya pucat. Postur tubuhnya aneh. Dirinya adalah pengunjung berkala Ikaigabuchi seperti Yamada, tapi tidak ada seorangpun anggota lain yang tahu tentang latar belakangnyanya. Ada kabar-kabar aneh tentang dirinya, seperti soal bagaimana dirinya hanya muncul pada saat-saat yang paling ganjil. Hanya saja, Yoishi pulalah satu-satunya orang yang mempertimbangkan masalah si Yamada secara serius.

Episode pertama Phenomeno membahas tentang rumah kontrakan si Yamada yang konon berhantu. Membahas tentang awal mula berdirinya, kasus-kasus yang pernah terjadi di dalamnya, lalu, pengamatan Yoishi saat mendatanginya secara langsung, dan apa yang disaksikannya di sana lewat kemampuannya untuk melihat hal-hal gaib.

Orang-orang Hilang

Karena hubungannya dengan Yoishi, dan juga karena rasa penasarannya sendiri, si Yamada ujung-ujungnya terbawa dalam berbagai kasus lain. Mereka mengunjungi berbagai tempat seram ‘bersejarah’ lain, seperti rumah sakit angker, dsb. Semua kelihatannya agak berujung pada pembeberan soal siapa Yoishi sebenarnya. (Aku juga penasaran dengan jawaban ini.)

Tapi, perkembangannya enggak cuma sampai sana. Berbagai karakter lain yang tergabung dalam Ikaigabuchi juga sesekali diperkenalkan. Lalu menariknya, sebagian dari mereka juga terungkap memiliki situasi dan kondisi pribadi yang tidak kalah janggal.

Seperti yang bisa kau harapkan dengan tema-tema kayak gini, cerita Phenomeno dan cara pemaparannya tidak benar-benar bisa dibilang nyaman. Tidak ada perkembangan karakter mencolok di dalamnya. Juga tidak ada konflik yang benar-benar jelas. Ceritanya buat kebanyakan orang juga kurasa agak membosankan. Tapi, buat yang suka cerita-cerita begini, tetap ada daya tarik aneh soal kasus-kasus yang diangkatnya.

Seperti pada bagaimana pengarangnya mengangkat pola berpikir ‘berbeda’ yang berujung ke hal-hal yang suram dan seram gitu.

Pastinya, cerita ini yang menyadarkanku bahwa kamu enggak perlu bisa melihat sesuatu hanya untuk sekedar tahu bahwa sesuatu itu ada atau enggak. (Seperti halnya dengan listrik, udara, dsb.) Memperhatikan jejak dan dampaknya saja cukup. Tapi masalahnya, kebanyakan orang susah nerima karena merasa susah berpindah sesudah mengakuinya.

Balik ke soal mahasiswa kenalanku tersebut, aku sempat mempertimbangkan buat mengenalkan Phenomeno kepadanya. Bagaimanapun, kelihatannya dia juga pemerhati kebudayan visual Jepang. Jadi harusnya bukan masalah kalau aku membicarakan soal ini dengannya.

Tapi… pada akhirnya, aku berubah pikiran.

Entah ya. Sukar menjelaskannya.

Intinya, aku tiba-tiba tersadar bahwa kalau dia emang jadi bisa melihat ‘mereka’ pun, masalah-masalah yang sedang dia hadapi tetap saja enggak akan selesai.

Lebih baik menunggu sampai dia bosan sendiri dengan topik ini daripada memanas-manasinya.

Iklan
15/05/2017

Arifureta Shokugyou de Sekaisaikyou

Belum lama ini, aku jadi anggota J-Novel Club. Intinya, mereka layanan yang menerjemahkan secara resmi seri-seri light novel terbitan Hobby Japan dan Overlap ke Bahasa Inggris.

Keanggotaanku masih biasa sih, bukan premium. Keanggotaan biasa cuma membolehkan baca gratis semua buku yang terjemahannya masih dikerjakan. Dalam artian, buku-buku yang belum terbit digital secara final. (istilahnya, yang masih prepub, atau pre-publikasi) Ada porsi-porsi terjemahan yang mereka sediakan  mingguan. Jadwal rilis per bagiannya sudah mereka atur. Lalu, asal buku itu belum terbit, atau kebetulan sedang ada acara khusus, kita bisa baca bab-bab yang tersedia sepuasnya.

Di sisi lain, buku-buku yang tuntas terjemahan dan pengeditannya dan sudah resmi terbit, selain bab-bab awal yang jadi preview, sifatnya jadi tertutup buat semua anggota. Kalau mau baca, maka kita mesti beli. Kecuali, lagi, dalam kasus-kasus tertentu. (Atau, kalau kalian nyari bajakan.)

Enaknya kalau ada keanggotaan premium, ada kayak kredit yang diberikan tiap bulan gitu. Satu kredit bisa kita pakai untuk beli satu buku yang sudah terbit. Jadinya, kalau dihitung-hitung, bahkan kalau bukan yang premium pun, keanggotaan layanan ini benar-benar balik modal. Yang diterjemahkan di sini bukan versi web novel, melainkan versi light novel yang sudah cetak resmi. Lengkap dengan ilustrasi dan afterword juga. Karena itu, skema bisnis ini benar-benar mendukung para pengarang dan penerbit asli di sana.

Aku sudah menyinggung bagaimana waktu launching, J-Novel Club menggebrak dengan menghadirkan seri novel misteri sains fiksi Occultic;Nine. Animenya baru mulai tayang saat itu. Beberapa judul lain yang menonjol mencakup seri komedi Rokujouma no Shinryakusha?!, fantasi remaja Hai to Gensou no Grimgar, serta Ore ga Heroine o Tasukesugite Sekai ga Little Apocalypse?! yang sudah lumayan lama bikin penasaran sejumlah fans.

Seri novel isekai Smartphone yang animenya akan tayang musim depan juga sudah mereka kerjakan.

Tapi di antara semuanya, satu judul yang kuperhatikan khusus adalah Arifureta Shokugyou de Sekaisaikyou. Ini seri novel isekai agak terkenal karangan Shirakome Ryo. Ilustrasinya buatan Takayaki. Seri ini juga dikenal dengan judul Arifureta – From Commonplace to World’s Strongest. (Terjemahan judulnya kira-kira: ‘dari orang biasa menjadi yang terkuat di dunia.’)

“Apaan Ini?! Ini sampah!”

Aku pertama tahu tentang Arifureta saat mencari bacaan webnovel menjelang akhir 2016 lalu. Aku baru beres membaca bab terkini Kumo desu ga Nani ka?. Aku mau lanjut baca Desumachi, tapi aku masih belum sreg dengan bab-bab awalnya. Makanya, aku berkunjung ke situs novelupdates untuk mencari seri webnovel Jepang lain yang mungkin populer. Dari sana, aku menemukan judul ini.

Mulai ditulis tahun 2013 dan kalau tak salah, sudah tamat di negara asalnya (tapi masih belum tuntas diterjemahkan ke Bahasa Inggris saat ini aku tulis), Arifureta dikarang Shirakome-sensei di situs novel amatir Syosetsuka ni Narou. Nama pena beliau waktu itu Chuuni Suki. Alasan beliau menggunakan nama pena demikian karena beliau, nampaknya, punya gejala-gejala chuunibyou akut. Hal tersebut agaknya terbawa ke tulisan yang beliau buat.

Jadi, buat kalian yang belum tahu, Arifureta agak notorious di kalangan orang-orang yang pernah membacanya. Nuansa ceritanya yang semula edgy terkesan berubah drastis menjelang akhir buku pertamanya. Gampangnya, apa yang semula terkesan gelap dan serius berkembang jadi mengangkat alis dengan hadirnya elemen-elemen keseharian dan harem love comedy. Belum lagi dengan bumbu-bumbu dewasa yang tahu-tahu ada di dalamnya. Ditambah lagi, tokoh utamanya…

Gimana jelasinnya ya.

Intinya, seperti yang judulnya indikasikan, si tokoh utama berubah jadi orang yang sangat kuat. Terlalu kuat, malah. Dia bebas bersikap kayak gimanapun dia mau. Dia bebas membunuh siapapun yang menurut dia menghalangi jalannya. Dia juga bebas memandang rendah siapapun yang minta tolong ke dia (walau ujung-ujungnya, sesudah proses agak berbelit, dia bakal menolong juga.) Intinya, kepribadiannya berubah drastis tapi bukan dengan cara yang berbobot gitu.

Ini membuat segalanya agak aneh. Tema ceritanya di awal, kayaknya, adalah soal hubungan antar karakter dan balas dendam. Tapi, si tokoh utama kemudian berubah jadi orang paling kuat di dunia. Lalu sesudah itu, balas dendam dan hubungan dengan orang kayak bukan lagi jadi hal penting bagi dia. Dia malah berubah jadi terkesan egois dan enggak pedulian kayak sekarang.

Perubahan nuansanya enggak mulus. Makanya, lumayan wajar ada orang-orang yang kecewa dengan perkembangannya. Lalu, ya itu, elemen harem dan komedinya bisa terasa maksa.

Tapi di sisi lain, meski kemampuan penggalian karakter dan pemetaan plot beliau meragukan, ditambah bagaimana ceritanya sebenarnya tak serius pada sejumlah titik, mungkin karena bakat chuunibyou beliau juga, narasi Shirakome-sensei masih terbilang bagus. Ini diperkuat juga dengan pembangunan dunianya yang termasuk menarik.

Begitu cerita dibuka, kita langsung diperkenalkan pada karakter-karakter berjumlah enggak sedikit. Tapi bagusnya, semua karakter tersebut punya konsep yang jelas gitu. Premis ceritanya kuat, yaitu soal bagaimana Nagumo Hajime dan teman-teman sekelasnya tiba-tiba dipanggil ke dunia lain untuk menyelamatkannya dari bahaya. Kita dipaparkan secara runut soal gimana dunianya bekerja. Detil deskripsi latarnya keren. Ini diperkaya dengan konflik hubungan antar karakter yang ada sejak awal. Hasilnya lumayan berkesan.

Dengan kelemahan-kelemahannya, kalau membaca penuturan Shirakome-sensei sendiri, aku jadi memahami kenapa cerita ini sampai perlu ‘diperjuangkan’ oleh editornya untuk bisa terbit. Pada pertengahan 2015, seri ini terbit resmi juga sebagai light novel di bawah bendera Overlap. Penerbitan versi LN setahuku masih berlanjut saat ini kutulis.

Cerita versi LN setahuku tak beda jauh dibandingkan versi WN. Di samping pengeditan lebih rapi, kelebihan utama versi LN adalah adanya bonus cerita-cerita sampingan yang sifatnya tambahan, yang tak terlalu mengubah alur cerita utama.

Dengan kepopulerannya yang lumayan, Arifureta juga memperoleh adaptasi manga yang dibuat RoGa. Seri manganya masih relatif baru, baru mulai terbit pada akhir tahun 2016 (hari Natal?) lalu. Berhubung ilustrasi Takayaki-sensei lebih berfokus ke karakter, adaptasi yang dibuat RoGa-sensei jadi menonjol karena menampilkan desain berbagai monster yang Hajime hadapi.

Aku memutuskan baca Arifureta di J-Novel Club semula karena penasaran. Tapi dari rasa penasaran tersebut, aku lagi-lagi nemu seri yang enggak sepenuhnya bisa dibilang bagus, tapi secara meyakinkan bisa dibilang rame.

Pergi ke Dunia Lain Sana

Arifureta dibuka dengan bagaimana Hajime dikisahkan terjatuh ke dalam jurang gelap yang seolah tak berdasar. Keputusasaan menaungi seiring hilangnya cahaya di depan matanya.

Narasi lalu kembali ke beberapa waktu sebelumnya.

Hari itu adalah hari Senin, waktu yang bikin depresi bagi Nagumo Hajime.

Hajime ceritanya remaja otaku kurus dengan tampang senantiasa mengantuk. Dia sering begadang karena mengutamakan hobi di atas segala-galanya. Ayahnya bekerja di industri game dan ibunya adalah mangaka shoujo. Rencana awalnya dalam hidup adalah untuk bekerja di perusahaan ayahnya atau membantu pekerjaan ibunya. Dia tak gampang terpengaruh orang lain. Pada dasarnya, dia bersifat pendiam. Intinya, dia tipe yang hanya ingin dibiarkan hidup damai.

Masalahnya, Hajime diam-diam dibenci hampir seluruh teman sekelasnya.

Entah kenapa, secara berkelanjutan, sejak pertama kali masuk SMA, Shirasaki Kaori, gadis paling populer di sekolahnya, yang dikenal cantik dan lemah lembut dan baik hati, terus-terusan mendekati Hajime setiap hari.

Kebanyakan orang di sekeliling mereka sulit menerima kenapa orang datar, payah, gagal, dan ‘rendahan’ seperti Hajime bisa-bisanya akrab dengan Kaori. Memang Hajime siapa? Mereka tak bisa membayangkan Kaori benar-benar suka terhadap Hajime. Karenanya, mereka kira Hajime dengan sengaja menyusahkan Kaori agar Kaori mengurusinya setiap hari.

Hanya saja, Hajime juga tak mengerti. Setahunya, dirinya dan Kaori baru kenal pas SMA. Mereka jelas bukan teman masa kecil. Lalu terlepas dari segala isyarat yang coba Hajime berikan, sikap Kaori tak pernah berubah.

Situasi ini membuat Hajime stres karena Kaori merupakan salah satu dari geng empat orang paling menonjol di sekolahnya. Kebetulan, kesemuanya adalah teman sekelas Hajime. Selain Kaori, mereka mencakup:

  • Amanogawa Kouki, cowok paling populer di sekolah. Tampan, pintar, jago olahraga. Seakan sempurna dengan kepribadiannya yang lurus dan caranya membawakan diri. Dirinya juga merasa Hajime keseringan merepotkan Kaori.
  • Sakagami Ryutarou, sahabat Kouki. Sangat jangkung, berbadan besar seperti beruang, dan berdarah panas. Kepribadiannya terbuka dan tak peka. Ia terang-terangan menunjukkan rasa kurang sukanya dengan Hajime yang dianggapnya pemalas.
  • Yaegashi Shizuku, gadis jangkung dan jago kendo, teman dekat Kaori, dan tak kalah populer darinya. Peka terhadap perasaan orang, dan karenanya menjadi satu dari sekian sedikit yang sebenarnya memahami situasi Hajime. Shizuku juga kenal lama dengan Kouki yang pernah berlatih di dojo keluarga Yaegashi, dan mereka berdua pernah sampai ke kejuaraan nasional.

Kedekatan Hajime dengan Kaori juga membuat Hajime diam-diam ditindas oleh geng berandalan di sekolah. Mereka terdiri atas Hiyama Daisuke dan kawan-kawannya: Saitou Yoshiki, Kondou Reichi, dan Nakano Shinji.

Daisuke tak bisa menerima kedekatan Hajime dengan Kaori. Alasannya tentu saja karena Daisuke sendiri diam-diam suka pada Kaori. Daisuke dan gengnya jadi kerap menggencet Hajime dan menjelek-jelekkan namanya.

Hajime di sisi lain tak bisa terang-terangan menolak Kaori. Ia sadar bahwa dengan bagaimana semua orang di sekolah memperhatikan mereka, menyakiti Kaori hanya akan membuat situasinya bertambah runyam.

Hajime sampai-sampai menggerutu. Kalau mereka berempat memang sedemikian sempurnanya, lebih baik mereka dipanggil ke dunia lain sana. Jadi pahlawan atau apa.

Tanpa diduga, ternyata benar-benar itu yang terjadi.

Pas jam homeroom hari itu, tiba-tiba muncul lingkaran sihir bercahaya yang memindahkan mereka semua ke dunia lain.

Esok yang Suram

Hajime dan kawan-kawan sekelasnya, beserta wali kelas mereka yang polos dan masih muda, Hatayama Aiko, tahu-tahu dibawa ke dunia lain bernama Tortus. Di sana, mereka disambut Ishtar Longbard, pria tua yang mewakili gereja suci yang menyembah Ehit, dewa yang melindungi manusia.

Ishtar menjelaskan kalau di Tortus, ada tiga macam ras:

  • ras manusia di utara,
  • ras sihir/iblis di selatan,
  • ras demi-human separuh binatang yang terasing di hutan luas di timur.

Ras manusia dan sihir bermusuhan. Manusia unggul dari segi jumlah karena relatif cepat tumbuh dan berkembang biak. Ras sihir unggul dari segi usia yang panjang dan kekuatan individu. Selama ini, kedudukan mereka seimbang. Tapi belakangan, ras iblis konon menemukan cara untuk menjinakkan monster-monster di alam liar.

Keseimbangan kekuatan antar ras kini terancam. Untuk mengatasinya, dewa Ehit-sama memanggil manusia-manusia dari ‘sebuah dunia lain yang berkedudukan lebih tinggi’ untuk menyeimbangkan kekuatan, yang dalam hal ini adalah Hajime dan kawan-kawannya.

Para remaja SMA pendatang dan guru mereka lalu ditampung di Kerajaan Heileigh. Heileigh adalah salah satu negeri manusia dan adalah negara yang paling dekat hubungannya dengan Gereja Ehit. Kouki yang karismatik dianggap Ishtar sebagai pemimpin. Mereka semua diperlakukan selayaknya tamu kehormatan.

Sesudah sadar bahwa apa yang mereka alami benar-benar terjadi, karena jalan pulang tak ada, Hajime dan kawan-kawannya setuju menjadi pahlawan yang melindungi pihak manusia. Aiko-chan-sensei mengkhawatirkan keselamatan mereka semua, tapi mereka tak punya pilihan. Di samping itu, saat dipanggil ke Tortus, mereka ternyata diberkahi kekuatan-kekuatan luar biasa yang membuat mereka di atas manusia-manusia lain.

Untuk bersiap menghadapi perang, para pendatang kemudian dilatih untuk mengembangkan kekuatan mereka. Mereka dididik Meld Loggins, kapten para ksatria Heileigh yang tegas dan simpatik.

Melalui suatu artefak produksi massal bernama Status Plate, orang bisa mengetahui potensi kekuatan mereka. Setelah ditetesi darah pemiliknya, artefak tersebut berfungsi sebagai tanda pengenal. Tertera padanya, ada sesuatu yang disebut Job yang mengindikasikan bakat alami si pemilik. Selain memperlihatkan apa saja kemampuan (Skill) yang dikuasai, Status Plate juga memperlihatkan angka-angka parameter:

  • Level (Dalam skala 1-100, 100 mengindikasikan potensi puncak mereka yang tak bisa ditingkatkan lagi. Berbeda dari sejumlah seri isekai lain, orang meningkatkan parameter kekuatan untuk meningkatkan Level, bukan sebaliknya. Jadi Level hanya berfungsi sebagai indikator semata.)
  • Strength (kekuatan fisik, tenaga)
  • Vitality (vitalitas, daya hidup)
  • Defense (pertahanan)
  • Agility (kelincahan, kegesitan)
  • Magic (sihir)
  • Magic Defense (pertahanan sihir)

Orang-orang biasa di Tortus punya angka 10 untuk parameter-parameter tersebut. Tapi Kouki dan yang lain punya angka-angka dalam skala ratusan. Itu sekalipun mereka masih di Level 1!

Kouki pun ternyata memiliki Job Hero yang sangat langka, dengan berbagai macam Skill kuat, yang membuatnya seperti manusia super di antara manusia-manusia super. Kouki jadi persis seperti para tokoh utama dengan kemampuan cheat di seri-seri isekai yang Hajime ketahui.

Karenanya, alangkah terpuruknya Hajime saat mendapati bahwa dia jadi pengecualian atas hal ini. Secara mengherankan, semua parameter Hajime bernilai 10. Selain Skill Language Comprehension yang memungkinkannya memahami semua bahasa—yang lazim dimiliki semua pendatang dari dunia lain—Skill yang Hajime punyai hanya Transmute yang membuatnya bisa mengubah sifat bahan-bahan yang ia sentuh. Job yang dipunyainya adalah Synergist, Job tidak istimewa yang memberi bakat mengolah material seperti halnya pandai-pandai besi.

Bahkan sesudah berlatih dua minggu, kemajuan Hajime tidak signifikan. Sementara, teman-teman Hajime yang sudah di atas dirinya terus saja bertambah kuat. Itu termasuk Kaori. Itu termasuk juga Hiyama Daisuke dan gengnya yang terus menindasnya dengan kekuatan mereka yang baru. Hajime jadi semakin dipandang rendah, bahkan oleh orang-orang Tortus juga. Bahkan Aiko-chan-sensei, yang parameter kekuatannya setara Hajime, ternyata punya Job langka Farmer yang memungkinkannya mempengaruhi iklim dan bentang alam, memberinya kedudukan vital dalam perang yang akan datang.

Puncaknya, untuk membuktikan diri, Hajime nekat mempertaruhkan nyawa  melindungi teman-teman sekelasnya ketika ekskursi mereka ke Orcus Labyrinth—satu dari tujuh labirin misterius penuh monster yang ada di dunia—berjalan tidak semestinya. Namun dalam upayanya tersebut, salah seorang teman sekelas Hajime malah dengan licik menyerangnya dari belakang. Terjatuh ke dalam jurang, bahkan jerit tangis Kaori memudar tatkala Hajime ditelan kegelapan.

Lambung Logam

Porsi awal Arifureta memaparkan perjuangan Hajime selama terdampar di lantai-lantai bawah Labirin Orcus.

Hajime ketakutan setengah mati karena kehilangan sebelah tangan dalam serangan monster-monster buas. Tapi tanpa sengaja, Hajime menemukan kristal murni Divine Crystal (yang belum dikenalinya waktu itu) yang meneteskan cairan penyembuh Ambrosia yang kemudian menyelamatkan nyawanya.

Meski tak mengembalikan sebelah tangannya, Ambrosia menyembuhkan segala luka Hajime. Ambrosia sekaligus juga terus mempertahankan nyawanya, walau rasa laparnya tak hilang dan lambat laun semakin tak tertahankan.

Mengandalkan kemampuan Transmute yang terus diasah, Hajime berhasil membuat jebakan dan membunuh monster. Daging monster buruannya lalu dimakannya mentah-mentah karena saking laparnya. Tapi daging tersebut berdampak fatal bagi manusia. Menelan daging itu memberi Hajime penderitaan luar biasa. Hanya berkat Ambrosia, Hajime masih bertahan hidup.

Peristiwa tersebut memicu perubahan mental dan fisik pada diri Hajime.

Selain perubahan pada sifat dan pola berpikirnya (yang kini dengan amarahnya akan menggunakan segala cara untuk bertahan hidup), kerusakan tubuh berulang dari racun daging yang dimakannya sekaligus penyembuhan berulang berkat Ambrosia membuat tubuhnya makin berisi. Tinggi badannya juga bertambah. Lalu karena syok akibat penderitaannya, warna rambut Hajime dari hitam berubah sepenuhnya menjadi putih.

Membaca perubahan di Status Plate miliknya, Hajime juga mendapati bahwa Skill si monster—kilatan petir hitam Lightning Clad—jadi bisa digunakannya, walau dalam versi lebih lemah. Di samping itu, aura mana Hajime yang semula berwarna biru langit juga berubah menjadi hitam seperti layaknya para monster. Hajime memperoleh kemampuan untuk memanipulasi aliran mana di sekelilingnya secara langsung, tanpa perlu lagi menggunakan mantera dan formasi sihir seperti selayaknya manusia lain.

Kemampuan Transmute Hajime ikut berkembang. Kini dirinya punya Skill turunan untuk mengenali logam dan bijih batuan.

Sesudah percobaan berulang, dengan satu tangan, Hajime berhasil menyusun senjata pertamanya. Melalui Transmute, ia menciptakan pistol revolver yang dinamainya Donner dari bahan-bahan yang diperolehnya dari dasar labirin.  Selain dipicu batu api, peluru yang ditembakkan Donner juga dapat dipercepat secara elektromagnetis menggunakan Lightning Clad, menghasilkan daya hancur dahsyat setara railgun.

Berbekal Donner, Hajime menghabisi satu demi satu monster buas yang ditemuinya di Labirin Orcus.

Perjalanan Hajime di dalam Labirin Orcus lalu berujung pada pertemuannya dengan putri vampir yang telah disegel beratus tahun. Belakangan, sesudah dibebaskan, putri tersebut dinamainya Yue dan kemudian menjadi teman seperjalanannya.

Seperti halnya Hajime, Yue adalah korban pengkhianatan. Namun berkat kemampuan regenerasinya yang dahsyat, Yue tak bisa dibunuh. Akhirnya ia hanya sebatas disegel seorang diri oleh keluarganya, selama berabad-abad, dalam ruangan khusus yang mungkin disiapkan hanya untuknya.

Lolos dari berbagai macam monster, karena tak bisa menemukan jalan ke atas, Hajime dan Yue terus menelusuri jalan ke bawah. Lawan-lawan yang mereka hadapi semakin kuat. Hingga akhirnya, mereka menemukan ruang rahasia tersembunyi di dasar labirin milik Oscar Orcus, sang penciptanya. Di dalamnya, terkuaklah kenyataan tentang dunia Tortus yang sesungguhnya.

Gun Fu

Shirakome-sensei memakai sudut pandang ketiga serba tahu dalam Arifureta. Gaya narasinya tak menonjol, tapi antusiasme beliau dalam menjabarkan berbagai rincian di dalam ceritanya terasa pada setiap kalimat.

Bagi banyak orang, ada banyak hal dalam Arifureta yang bakal bikin mengernyit. Tapi buat yang suka hal-hal kayak gini (dan aku percaya jumlah mereka lumayan banyak), Arifureta termasuk rame. Isi ceritanya belum tentu kamu sukai, tapi cara penyampaiannya yang runut dan detil bisa membuat kamu tertarik.

Aku pribadi merasa Shirakome-sensei tipe yang menikmati proses membuat ceritanya. Iya, ada kesan amatiran dan main-main. Tapi tercermin dalam tulisannya kalau beliau sendiri menyadari hal ini, dan memang ada kalangan pembaca tertentu yang takkan mempermasalahkannya.

Begitu-begitu juga, tetap ada bagian-bagian tertentu di Arifureta yang di luar dugaan bagus. Ada pihak-pihak tersembunyi yang bermain di balik Kouki dan kawan-kawannya. Negeri-negeri manusia tak cuma satu, masih ada Kekaisaran Hoelscher dan Republik Fuhren, dan antara mereka terjadi konflik kepentingan. Ada kejelian mata Shizuku yang membuatnya jadi karakter swordswoman yang sangat moe buat beberapa orang. Lalu ada juga Hajime, yang meski kini tak segan bersikap kejam, tetap menjaga integritasnya, bukti bahwa dirinya masih belum berubah sepenuhnya jadi monster seperti yang ditakutkannya.

Itu semua diiringi dengan kehebatan-kehebatan konyol yang jadi bisa Hajime lakukan. Status Plate Hajime tak bisa lagi membaca potensinya. (Level yang tertera adalah ‘??’) Dengan Transmute dan segala turunannya, Hajime bisa menciptakan bermacam senjata yang seakan tak ada habisnya. Dengan dibantu Yue, Hajime menciptakan (semacam) sepeda motor, menciptakan (semacam) mobil, menemukan cara penghancuran struktur sihir, menciptakan (semacam) kapal selam, menciptakan (semacam) drone UAV, hingga nantinya menciptakan (semacam) satelit yang jadi salah satu serangan terkuatnya.

Mungkin keimbaan ini setara dengan hal-hal serupa yang ada di Desumachi. Hanya saja… mungkin Desumachi masih lebih baik pemaparannya? Perkembangan di Arifureta memang terasa tiba-tiba sih.

Mencari Jalan Pulang

Buat yang penasaran, dalam perkembangan cerita, Hajime dan Yue kemudian mendapati bahwa manusia dan seluruh ras lain yang ada di Tortus hanyalah bidak-bidak permainan para dewa. Di masa silam, tujuh ‘pembelot’ yang menyebut diri mereka sebagai Liberators memimpin pemberontakan untuk mengubah nasib rakyat Tortus. Tapi kekalahan para Liberator di tangan para dewa membuat mereka menyembunyikan diri, yang jadi awal mula tujuh labirin misterius yang tersebar.

Mengetahui kenyataan ini, Hajime memutuskan untuk mengabaikan segala konflik. Persetan dengan Tortus. Ia lebih memilih berfokus menemukan jalan pulang ke Bumi.

Cara pulang ini diindikasikan tersembunyi dalam enam labirin lain yang belum dipastikan lokasinya. Di samping perjalanan Hajime untuk menemukan keenam labirin lain, Arifureta lalu berkembang lewat konflik dengan teman-teman lama Hajime, kepentingan bangsa-bangsa lain, sekaligus para dewa.

Buat kalian yang penasaran soal aspek haremnya, total love interest yang akhirnya ‘jadi’ kudengar ada delapan. Tiga dari mereka berasal dari dunianya yang lama. Tadinya, aku mau memaparkan mereka siapa saja, tapi nanti jadinya terlalu spoiler. Hubungan-hubungan yang terjalin menurutku agak maksa sih (usia mereka beragam!), tapi kurasa itu bukan hal aneh buat seri-seri isekai kayak gini.

Soal Arifureta, aku paling terkesan dengan pembahasan soal integritas Hajime. Dalam hal ini, usahanya menjaga keselarasan antara kata-kata dan perbuatan. Pemaparannya memang konyol, tapi itu hal yang semakin langka di masa-masa sekarang. Karenanya, aku senang bisa melihatnya dalam sesuatu kayak gini.

Mungkin kunci untuk bisa menjaga integritas memang adalah dengan bertambah kuat?

Ada lumayan banyak seri isekai lain yang berusaha memaparkan nuansa edgy seperti Arifureta. Tapi anehnya, hanya sedikit yang benar-benar berhasil. Aku juga tak paham. Mungkin Arifureta memang kasus khusus?

Akhir kata, kurasa aku akan tetap mengikuti perkembangan Arifureta untuk saat ini.

Setidaknya, pembangunan dunianya menarik.

25/03/2017

Mobile Suit Gundam Twilight Axis

Pagi hari dua hari lalu, aku mendengar kabar bahwa setelah tuntasnya proyek animasi Gundam Thunderbolt, seri animasi berikutnya yang berlatar di semesta Universal Century sudah dikonfirmasi adalah Kidou Senshi Gundam Twilight Axis.

Twilight Axis (kira-kira berarti ‘senja/akhir Axis’) merupakan seri photonovel yang dicetus Ark Performance (tim yang membuat seri kapal selam futuristik Aoki Hagane no Arpeggio). Mereka dibantu Nakamura Kojiro. Diterbitkannya melalui penerbit Yatate Bunko yang dimiliki khusus oleh studio Sunrise.

Kabar ini mengejutkan karena Twilight Axis merupakan seri yang terbilang masih sangat baru. Walau begitu, kalau mempertimbangkan bagaimana Twilight Axis berlatar tak sampai setahun di kesudahan Insiden Laplace yang dikisahkan di Gundam Unicorn, ditambah lagi mulai membangun latar ke era Gundam F91, keputusan ini masuk akal.

Penasaran, aku langsung mencari informasi lebih banyak.

Untungnya, para spesialis Gundam di situs Zeonic Republic sudah menerjemahkan beberapa babnya ke Bahasa Inggris. Aku langsung meluangkan waktu luang di kantor untuk membaca.

Mengejar Bayangan Merah

Twilight Axis mengetengahkan dua karakter Danton Hyleg dan Arlette Hyleg.

Danton dan Arlette adalah pasangan ayah dan putrinya yang sekilas pandang, kalau menilai dari kehidupan mereka yang bersahaja di Libot Colony—yang terletak di Riah atau koloni luar angkasa Side 5 (sebelumnya, Side 6)—merupakan keluarga kecil biasa. Mereka membuka usaha binatu dan menjalankan hidup dengan damai. Keseharian Danton paling hanya bermain ke kafe yang dibuka tetangganya. Meski demikian, sebenarnya, keduanya sama sekali tak berhubungan darah. Ditambah lagi, Arlette yang tampak masih remaja sebenarnya jauh lebih tua dari usianya.

Keduanya sebenarnya adalah mantan pilot uji Danton Highleg dan teknisi Arlette Almage, dua orang simpatisan pihak Zeon yang telah bekerja sama sejak akhir Perang Satu Tahun. Mereka berada di bawah pengawasan langsung dari komandan mereka, sosok Char Aznable yang legendaris, yang menghilang secara misterius di penghujung Perang Neo Zeon Kedua. Ditambah lagi, Arlette sebenarnya adalah salah seorang Cyber Newtype yang pernah dihasilkan Institut Flanagan. Entah bagaimana, salah satu efek samping dari percobaan-percobaan yang dilakukan terhadapnya adalah tubuh yang menua dengan sangat lambat. Sebagai akibat dari ini, Danton dan Arlette telah berulangkali berpindah domisili sejak Perang Neo Zeon Kedua berakhir karena tak ingin masyarakat sampai mengetahui asal usul mereka.

Kehidupan damai mereka terusik saat pada suatu hari, datang seorang pria necis tapi ramah bernama Mehmet Merca ke toko mereka. Mehmet datang sebagai wakil suatu lembaga yang disebut Departemen Enam dari Kementrian, yang pada dasarnya merupakan badan intelijen Federasi Bumi. Mereka telah mengetahui identitas Danton dan Arlette yang sesungguhnya dan bahkan telah melacak mereka sampai ke Riah. Mehmet rupanya adalah komandan pasukan khusus Mastema yang khusus mendatangi Libot demi meminta bantuan pada Danton dan Arlette.

Singkat cerita, keterlibatan masa lalu Danton dan Arlette dalam pengembangan teknologi Neo Zeon membuat Mehmet ingin merekrut mereka sebagai pemandu untuk menjelajahi apa yang tersisa dari Axis, asteroid raksasa bekas markas faksi Neo Zeon. Tempat lebih spesifik yang ingin dicapai adalah Institut Penelitian Memorial Maharaja Khan, yang merupakan laboratorium peneltian terakhir pula dari Institut Flanagan di mana Danton dan Arlette sama-sama pernah bernaung.

Dalam Perang Neo Zeon Kedua (yang dikisahkan dalam Char’s Counterattack), Axis sempat hendak diluncurkan Neo Zeon ke arah Bumi untuk menimbulkan bencana musim dingin global, yang selanjutnya akan memicu migrasi manusia ke luar angkasa, dan akhirnya melahirkan lebih banyak manusia Newtype yang diyakini dapat menghapuskan peperangan. Berkat upaya kesatuan gerak cepat Londo Bell, bencana tersebut berhasil dicegah dengan dibelahnya Axis, meski salah satu potongannya tetap akan menabrak Bumi kalau bukan karena pengorbanan berbagai pihak yang terlibat.

Sasaran lebih tepat yang ingin Federasi peroleh adalah sampel dari psycho frame, teknologi MS mutakhir yang sempat dibocorkan Char ke kedua belah pihak di Perang Neo Zeon Kedua melalui perusahaan pemroduksi MS Anaheim Electronics. Teknologi ini yang konon menghasilkan keajaiban terselamatkannya Bumi di akhir perang tersebut.

Potensi sesungguhnya teknologi psycho frame akhirnya diketahui Federasi di kesudahan Insiden Laplace. Meyakini keberadaan sisa-sisa rahasia produksinya di Axis, Federasi Bumi menginginkan sampelnya sebelum teknologi tersebut jatuh ke tangan yang salah.

Danton dan Arlette akhirnya menerima tawaran Mehmet. Di samping imbalan berupa uang yang banyak serta dihapuskannya catatan pelanggaran hukum mereka, Danton dan Arlette juga berharap kunjungan kembali mereka ke Axis dapat memberi petunjuk tentang apa sebenarnya yang telah menimpa Sazabi, MS berteknologi psycho frame yang digunakan Char pada saat ia menghilang.

Dikawal Mehmet dan pasukan Mastema, Danton dan Arlette kembali ke Axis setelah bertahun-tahun.

Namun di luar dugaan, ternyata bukan hanya mereka yang di sana. Mereka juga bersimpangan jalan dengan suatu pasukan bersenjata misterius yang bahkan dikawal sejumlah MS Federasi. Salah satu MS tersebut adalah Gundam AN-01 ‘Tristan’, MS tipe-Gundam baru yang tak dikenali Mehmet.

Kalah jumlah dan kalah senjata, Danton, Arlette, dan Mehmet meyakini bahwa pihak misterius tersebut punya tujuan yang sama dengan mereka. Mengandalkan pengetahuan yang mereka punya tentang Axis, mereka berusaha menemukan cara untuk bertahan hidup.

Recollection

Bahkan dari awal, terlihat betapa Twilight Axis merupakan cerita Gundam yang tidak biasa. Di samping mengambil latar utama di Axis, MS tipe Gundam digunakan bukan oleh para tokoh utama, melainkan oleh pihak antagonis yang memburu mereka.

Meski mewakili pihak Federasi, Denton dan kawan-kawannya sebaliknya jadi menggunakan berbagai tipe MS lama peninggalan Neo Zeon untuk melawan mereka. Pertama, dengan Zaku III Custom berwarna merah yang semula dibuat untuk digunakan oleh Char, dan pernah diuji oleh Danton sendiri. Tipe MS yang pernah digunakan Rakan Dahrakan dalam Gundam ZZ ini dirancang untuk produksi massal dalam Perang Neo Zeon Pertama. Sayangnya, rancangan yang punya ciri khas berupa beam gun di mulut ini kalah pamor oleh Doven Wolf dan jadinya diproduksi hanya dalam jumlah terbatas. MS ini sudah sangat fleksibel dan punya performa sangat baik bahkan dibandingkan tipe-tipe MS milik Federasi dan AEUG. Tapi Zaku III Custom yang dikustomisasi oleh Arlette ini konon memiki performa lebih baik lagi dibandingkan Zaku III lain, dan menjadi lawan yang sepadan bagi Gundam Tristan.

Danton juga sempat menggunakan salah satu R-Jarja, MS pengembangan dari Gyan dari era Neo Zeon, tipe yang sama dengan yang pernah digunakan mendiang Chara Soon. Senjata khasnya adalah beam rifle dengan heat bayonet, di samping beam saber dan flexible shield pada bahu.

Di sisi lawan mereka—yang kemudian terungkap merupakan kesatuan (bayaran?) Birnam Wood—Gundam Tristan, yang dikemudikan pilot Cyber Newtype Quentin Fermo, memiliki bentuk luar yang sangat mengingatkan pada Gundam Alex yang sempat diuji untuk Newtype dalam Gundam 0080: War in the Pocket. Namun lebih banyak tentang asal usulnya masih misteri. Hal yang mencolok lain tentangnya adalah ukurannya yang terbilang kecil untuk produksi MS sejenisnya, yang sebenarnya merupakan foreshadowing terhadap tren pengembangan MS berukuran kecil yang ditampilkan dalam Gundam F91. Di samping itu, Birnam Wood juga dikawal oleh sejumlah MS lain yang tipenya dikenal sebagai milik Federasi, yakni beberapa Jegan Custom serta satu MS kustomisasi Byarlant Isolde yang telah disesuaikan secara khusus untuk digunakan di luar angkasa.

Terlepas dari soal mekanis, terlihat bagaimana Twilight Axis membangun konflik yang menarik. Karakter-karakternya unik. Mulai dari bagaimana Arlette selalu bisa membujuk Danton dengan hubungan aneh yang mereka punyai. Atau bagaimana Mehmet orang sangat santun dan simpatik meski jabatannya menyeramkan. Ditambah lagi, dengan pihak misterius di belakang Birnam Wood.

Keputusan Sunrise untuk mengadaptasi seri ini mulai bisa dimaklumi saat kita memperhatikan betapa banyaknya referensi yang Twilight Axis miliki terhadap seri-seri lain. Bukan hanya seri-seri lama ‘di belakang’ melalui sejarah latar, (Seperti soal bagaimana Axis disinggung pernah dikuasai Haman Karn, putri Maharaja Karn, sebelum yang bersangkutan tewas dalam konflik di Gundam ZZ. Terdesak oleh kepungan pasukan Federasi serta keruntuhan faksi Neo Zeon dari dalam, Haman memilih bunuh diri sesudah duel penentuannya dengan Judau, menyebabkan kekosongan kekuasaan di Axis sebelum Char akhirnya tampil.) tapi juga dengan seri-seri ‘ke depan’ di era kekuasaan Crossbone Vanguard.

Dikisahkan bahwa pihak yang membeking Birnam Wood sebenarnya adalah keluarga Ronah, yang kelak mendirikan faksi Crossbone Vanguard dan negeri Cosmo Babylonia, yang pada titik ini memiliki kedekatan dengan perdana menteri Federasi Bumi yang tengah menjabat. Birnam Wood digerakkan oleh Meitzer Ronah, yang kita ketahui belakangan akan menjadi kepala keluarga Ronah dalam Gundam F91. Diperkenalkan pula Engeist Ronah, saudara lelaki Meitzer yang menjaga hubungan dengan Federasi; serta Scharnhorst Ronah, ayah Meitzer dan Engeist, kepala keluarga yang mengadopsi kebangsawanan Eropa dan telah mendirikan perusahaan berkuasa Buch Concern hanya dalam satu generasi.

Kelihatannya, Twilight Axis akan melakukan beberapa retcon sejarah lagi. Kasusnya mungkin serupa dengan yang Gundam: The Origin lakukan terhadap seri TV-nya yang asli. Hanya saja, daripada terhadap Zeon, penyesuaiannya akan diberikan terhadap asal usul Crossbone Vanguard yang menjadi tokoh antagonis di Gundam F91.

Kalau mempertimbangkan ini, mulai terbayang alasan mengapa seri manga populer Crossbone Gundam, yang menjadi sekuel Gundam F91, masih belum dianimasikan juga. Mungkin Sunrise ingin membangun kembali latar dunianya dari awal. Sesudah dengan Gundam Unicorn dan Gundam: The Origin, baru mereka kini mulai menjajaki sejarah era Crossbone Vanguard.

Jadi untuk kalian fans Crossbone Gundam, jangan putus harapan.

Akhir kata, aku menyukai Twilight Axis lebih dari yang kukira saat membaca bab-bab awal novelnya. Meski gaya narasinya ringkas, ceritanya langsung dipenuhi aksi dengan banyak intrik yang terjadi. Ada keselarasan dalam berbagai elemennya gitu. Aku terutama suka dengan bagaimana motivasi Char, yang telah lama menjadi perdebatan di kalangan fans Gundam era UC, sempat disinggung juga menjadi teka-teki bahkan di dalam ceritanya sendiri. Aku benar-benar tertarik dengan perkembangannya ke depan. Mudah-mudahan hasilnya bagus.

Kalau ada perkembangan tambahan, mungkin tulisan ini akan aku sesuaikan lagi.

15/03/2017

Sekai no Owari no Encore

Satu light novel yang membuatku penasaran dalam beberapa tahun terakhir (selain, mungkin, Tokyo Inroaded) adalah Sekai no Owari no Encore.

Dikenal juga dengan judul Sekai no Owari no Sekairoku (‘rekaman dunia (Encore) di ujung/akhir dunia’) ini lagi-lagi seri relatif baru yang sempat kubaca di situs Baka-Tsuki. Dikarang Sazane Kei dengan ilustrasi buatan Fuyuno Haruaki, serta diterbitkan oleh Media Factory semenjak tahun 2014, Sekai no Owari no Encore adalah seri petualangan fantasi yang sebenarnya lumayan generik.

Baguskah? …Sejujurnya, enggak juga. Bukan berarti jelek sih. Menurutku kualitasnya cenderung biasa.

Apa ini seru? …Kalau ditanya begitu, jawabanku lagi-lagi adalah enggak juga. Tapi di sisi lain, seri ini juga enggak bisa dikatakan membosankan.

Lalu alasan aku penasaran?

Susah menjelaskannya. Intinya, ada sesuatu tentangnya yang semata-mata menarik saja.

Dari detik pertama aku melihat ilustrasi dan membaca premis seri ini, aku langsung tertarik untuk tahu lebih lanjut. Aku lumayan bersemangat saat ada fans mulai menerjemahkannya ke Bahasa Inggris. Tapi pengerjaannya belakangan lambat. (Sekalipun kamu udah jago dalam dua bahasa, kerjaan nerjemahin tetep lumayan susah kalo belum dibiasain.) Lalu tanpa terasa, adaptasi manganya yang dikerjakan Usui Ryuu juga sudah mulai dibuat.

Membaca seri ini, aku pernah berpikir kalau mungkin benar kata mereka. Maksudku, soal gimana untuk mengubah keadaanmu, yang kau perlukan cuma satu ide bagus. Sebuah ide saja mungkin bisa membuat hidupmu jadi jauh lebih bermakna.

Yah, terlepas dari itu, cerita seri ini kurang lebih sebagai berikut.

Pada zaman dahulu kala, seorang pemuda manusia bernama Eleline konon menyelamatkan dunia dari suatu ancaman yang tak diketahui. Meski terlahir sebagai manusia, Eleline sedemikian kuatnya sampai-sampai ia disegani oleh para malaikat sang dewi di langit, para naga, dan juga para iblis. Karenanya, dalam perjalanannya menyelamatkan dunia tersebut, ia ditemani tiga sosok perempuan sangat cantik yang terdiri atas: Kyelse, putri para naga putih yang menjadi salah satu yang termuda namun juga yang terkuat dari spesiesnya; Fear (Phia?), sosok archangel terkuat di Langit, yang bahkan melebihi sang dewi sendiri; dan Elise, sang maou yang menguasai makhluk-makhluk dari Dunia Bawah. Berempat, mereka mengakhiri perang besar antara sesama ras mereka dan sekaligus menuntaskan End War yang nyaris menghancurkan dunia.

Namun karena suatu sebab, di akhir perjalanan, Eleline terpisah dari teman-teman seperjalanannya, dan akhirnya meninggal dunia karena sakit.

Sebelum meninggal, Eleline disebut-sebut telah meninggalkan sebuah catatan yang mengungkap sejarah dunia yang sesungguhnya. Catatan ini disebut Encore, dan konon turut mencantumkan kebenaran dari apa yang terjadi semasa End War. Catatan ini dikabarkan tersembunyi di suatu tempat rahasia. Lalu sedemikian berharganya pengetahuan di dalam catatan ini, berbagai pihak berlomba-lomba untuk menemukannya.

Tiga abad kemudian, Kyelse terbebas dari segel yang mengurungnya dan mendapati dirinya hanya seorang diri, tanpa kehadiran Eleline ataupun kawan-kawannya yang lain. Mulailah ia bergerak untuk mencari jejak kawan-kawan lamanya, sekaligus mengathui apa sebenarnya yang terjadi pada Eleline.

Legenda sang Kaisar Pedang (Palsu)

Tokoh utama seri ini sendiri adalah seorang pemuda bernama Ren E. Maxwell.

Di dunia yang mengingat jasa besar Eleline dalam menyelamatkan dunia tersebut, dan sekaligus telah mengabadikan rupanya dalam bentuk pahatan patung, Ren mendapat nasib kompleks karena terlahir dengan wajah sangat mirip Eleline. Dia beruntung karena jadi dipandang mirip dalam banyak sisi dengan sang pahlawan. Tapi dia juga sial karena jadi dibebani pengharapan keterlaluan untuk bisa menjadi sehebat Eleline. Yang lebih menyebalkan lagi, dirinya memang konon masih garis keturunan keluarga Eleline, walau Ren merasa justifikasi ini konyol karena Eleline meninggal dunia sebelum sempat meninggalkan keturunan. Jadi bisa dibilang dirinya hanyalah keturunan dari kerabat jauh Eleline. Lalu karena hal tersebut, Ren jadi menerima banyak ketidakadilan.

Ren adalah murid di Akademi Perjalanan Suci Fiore, satu dari sekian banyak instansi yang mendidik anak-anak muda untuk membentuk kelompok-kelompok yang akan menjelajah dunia demi mencari Encore.

Ren adalah seorang murid pekerja keras, tapi terbukti punya bakat biasa-biasa saja. Nilai-nilai ujian dan kemampuan prakteknya hanya sedikit di atas rata-rata. Lalu dirinya juga pernah tinggal kelas karena gagal dalam ujian praktek gara-gara dipasangkan dengan orang terkuat di angkatannya, semata-mata karena kemiripannya dengan Eleline.

Hanya satu orang di sekolahnya yang tak mencemooh Ren sebagai orang gagal. Orang itu adalah kakak kelasnya, seorang siswi teladan berambut pirang yang seakan sangat sempurna, baik dalam hal nilai maupun penampilan, Fear Nesphilia. Pada suatu titik, Ren telah menjadi akrab dengan Fear (yang jadi senang menggodanya), murid paling jenius di sekolah tersebut. Dari waktu ke waktu, Fear akan menyapa untuk menanyai kabarnya.

Karena kedekatan mereka, Ren selama ini mengira bahwa dirinya benar-benar akan seorang diri di akademi sesudah Fear lulus di akhir tahun nanti. Dengan kemampuan Fear yang luar biasa, Ren mengira pasti akan mudah untuk menemukan kelompok yang mau menerimanya, sehingga Fear bisa langsung berangkat untuk mencari Encore. Namun di luar dugaan, Fear ternyata memiliki rencana lain. Fear ternyata berencana untuk mengundurkan diri dari sekolah bahkan sebelum lulus.

Tapi sebelum Fear sempat menjelaskan, Ren mengalami sebuah kejadian di kota.

Itu adalah awal pertemuan Ren dengan Kyelse, sang putri naga perak, yang berujung pada pembuktian bahwa semua legenda tentang sang Kaisar Pedang yang disukainya sejak kecil benar-benar adalah nyata.

Lindungi Dirimu, Dengan Kekuatanmu Sendiri

Singkat cerita, Sekai no Owari no Encore adalah tentang perjalanan Ren—yang berwajah mirip dengan Eleline—dengan kawan-kawan seperjalanan lama Eleline dalam mencari Encore. Semula, perjalanannya hanya dengan Kyelse dan Fear-senpai (yang segera terbukti ternyata adalah Fear sang archangel). Tapi tak lama kemudian, mereka juga ditemani Elise, sang maou generasi terdahulu, yang telah mereinkarnasikan tubuhnya dan kini berwujud seperti anak perempuan berkulit coklat berusia 10 tahun, meski ia masih memiliki ingatan dan sebagian kekuatan dari wujudnya yang lama.

Kyelse, Fear, dan Elise sama-sama telah menerima bagaimana Ren hanyalah seseorang yang semata-mata mirip dengan Eleline. Meski tergoda untuk berpikir demikian, Ren bukanlah(?) reinkarnasi Eleline, mengingat kaum manusia tak punya kemampuan tersebut. Tapi ketiganya sama-sama bisa melihat ada sesuatu dalam diri Ren yang sedikit banyak mengingatkan mereka pada Eleline, dan membuatnya dipandang layak untuk berpergian bersama mereka.

Ren, yang notabene paling lemah di antara mereka bertiga, bukannya patah arang, malah jadi semakin terpacu untuk berlatih keras. Meski kemampuannya dipandang menengah untuk ukuran ksatria, ketiga putri tersebut melihat adanya potensi belum tergali dalam diri Ren, yang selama ini tersembunyi karena bias yang orang-orang punya terhadapnya. Mereka berpendapat bahwa kalau dilatih secara benar, mungkin saja Ren bisa tumbuh sampai sekuat(!) Eleline di masa lalu.

Hubungan teman seperjalanan sekaligus guru-murid ini yang menjadi salah satu hal khas Sekai no Owari no Encore. Ketiga gadis tersebut secara bergantian akan melatih dan mengajari Ren. Kyelse akan mengajari ilmu pedang yang diingatnya dari Eleline, sementara Fear dan Elise mengajari ilmu-ilmu lainnya.

…Tentu saja dengan diselingi satu-dua adegan fanservice.

Tapi, itu dia.

Satu hal tak biasa lain yang seri ini miliki adalah bahwa terlepas dari sorotan sesekalinya ke ketiga heroine tersebut, ada cerita latar yang cukup komplit yang dipaparkan. Jadi meski semula sering ada kesan “Aiih, lagi-lagi adegan kayak gini!” Lambat laun, terlepas dari betapa sepelenya cara adegan-adegannya dibuka, percakapan antara Kyelse, Fear, dan Elise biasanya jadi mengungkap lebih jauh soal dunia dan para karakternya.

Segera terungkap bahwa ada perjalanan berkelanjutan yang dilakukan oleh berbagai kelompok (party) yang tak terhitung jumlahnya untuk menemukan Encore. Meski telah ada tiga abad berlalu, dunianya tidak bisa dibilang aman dengan banyaknya monster yang berkeliaran, wilayah-wilayah yang belum terjamah, serta berbagai puing peradaban masa lampau yang menyembunyikan rahasia-rahasia yang telah lama terlupa.

Terungkap pula bahwa meski masih terbilang sangat kuat untuk ukuran manusia biasa, ketiga putri tersebut kini berada dalam kondisi jauh lebih lemah dibandingkan sewaktu mereka bersama Eleline tiga abad lalu. Kyelse tersegel, dan tak dapat lagi mengakses wujud naganya. Fear dan Elise diimplikasikan kehilangan seluruh tubuh mereka, dan harus mewujudkan fisik mereka kembali dari awal. (Elise baru berhasil melakukannya sepuluh tahun sebelum cerita dimulai.)

Mereka juga tak tahu soal apa yang menimpa Eleline dan bahkan tak tahu apa itu Encore sebelum mendengar kabar-kabar burung tentangnya. Namun demikian, mereka meyakini bahwa Encore merupakan semacam wasiat yang Eleline tinggalkan untuk mereka. Karenanya, mereka tak sudi bila itu sampai jatuh ke tangan manusia biasa. Apalagi bila digunakan untuk hal tak baik.

Batu Amber dan Bulu Sayap

Selain memaparkan dunia(-dunia) luas yang belum keseluruhannya terjamah yang dipenuhi puing-puing peradaban kuno, ada semacam sistem job/class yang seri ini tonjolkan.

Jadi, ceritanya, sedemikian banyaknya kelompok yang berangkat untuk mencari Encore, sudah ada semacam ‘penjurusan’ untuk peran masing-masing orang di dalamnya. Pembagian peran ini memudahkan komunikasi untuk menyampaikan kelemahan dan keunggulan sebuah kelompok.

Kesemua peran yang diajarkan dalam akademi, dengan istilah masing-masing (ada permainan furigana di sini, jadi istilah yang ‘dibaca’ adalah yang huruf besar), adalah:

  • MASTER (Knight) — Pengguna segala bentuk persenjataan pedang dan kampak yang berperan dalam menghadapi lawan dalam jarak dekat. Karena peran mereka di garis depan, mereka harus paham terhadap seluruh keadaan di sekeliling mereka, dan karenanya, harus memiliki kemampuan menilai keadaan secara sigap dan dingin. Biasanya terdiri atas orang-orang bertubuh besar dan kekar. Meski tingkatannya masih rendah, dan meski ukuran badannya hanya rata-rata, Ren sebenarnya termasuk dalam golongan ini.
  • ARIA (Caster) —Pengguna ritual-ritual kompleks yang memungkinkan manusia menggunakan sihir dan mantera-mantera serang para Iblis. Ketiga putri—khususnya Elise—mampu menjalankan peran ini, walau mungkin dengan mekanisme yang berbeda dari biasa. Ren berkata dirinya tak punya bakat di bidang ini.
  • SPIRIT (Spiriter) —Pengguna mantera-mantera yang berbasis pada pusaka-pusaka armamen roh, yang mengandung kekuatan para roh alam. Ketiga putri sama-sama punya pengetahuan tentang peran ini, tapi tak mendalaminya. Ren berkata dirinya tak punya bakat di bidang ini, walau anehnya, Elise bisa merasakan adanya aroma roh yang kuat dalam diri Ren.
  • FULLTYPE (Fighter) — Ahli pertempuran jarak dekat yang dengan mengkombinasikan mantera-mantera perlindungan serta tubuh mereka sendiri, mengalahkan musuh menggunakan ilmu bela diri. Mereka dinamai demikian karena beratnya latihan yang harus dijalani agar tak perlu mengandalkan senjata ataupun pelindung berlebih. Di luar dugaan Ren, peran khusus yang Fear-senpai dalami ternyata adalah ini.
  • ENCHANTER (Barrierer) — Pengguna mantera-mantera Malaikat yang mampu menyembunyikan, menyegel, mengintersepsi, dan sekaligus melindungi. Tanpa perlu dikata, Fear-senpai ahli dalam peran ini.
  • HEALER (Curer) — Para penyembuh yang menggunakan mantera-mantera yang mempengaruhi aktivitas tubuh dan regenerasi, di samping obat-obatan dan farmasi. Tak ada di kelompok Ren yang secara khusus mendalami peran ini, tapi semuanya sedikit banyak punya pengetahuan tentangnya.
  • HUNTER (Predator) — Petarung yang memiliki pengetahuan mendalam tentang berbagai makhluk yang menjadi buronan. Mereka mendalami kemampuan untuk menggunakan persenjataan jarak jauh dalam pertempuran.Lagi, tak ada di kelompok Ren yang secara khusus mendalami peran ini, tapi semuanya sedikit banyak punya pengetahuan tentangnya.
  • THIEF (Searcher) — Anggota kelompok yang berperan sebagai otak lapangan sekaligus arkeolog. Tak ada di kelompok Ren yang mendalami peran ini, tapi Elise dapat menjalankan peran ini dengan kemampuan alaminya untuk merasakan niat jahat.

Kesemua golongan tersebut juga ada tingkatan-tingatan penguasaannya. Mulai dari tingkat III yang paling rendah, naik menjadi tingkat II, kemudian I, lalu gelar Sword King untuk seorang MASTER, misalnya, hingga akhirnya Sword Emperor seperti halnya Eleline dulu.

Dalam perkembangan cerita, sebenarnya ada satu peran lagi yang tak diajarkan secara formal karena sedemikian langkanya bakat untuk menjalankannya. Peran tersebut adalah ANCIENTER, pengguna mantera-mantera hilang, yakni orang-orang yang punya kemampuan untuk berbicara langsung dengan para roh alam sekaligus memanggil dan meminjam kekuatan mereka.

Ren, tanpa disadarinya sendiri, sebenarnya termasuk dalam golongan ini.

Dari waktu ke waktu, semenjak hari-harinya di Akademi, ternyata ada roh api Salamander yang akan muncul dan menemaninya saat ia sedang sendiri. Roh ini pun rupanya ikut menemani dalam perjalanan mereka mencari Encore.

Kenyataan ini sedemikian mengejutkan ketiga putri. Berbeda dari para manusia, kaum naga, Malaikat, dan Iblis memandang bahwa roh-roh alamlah yang sebenarnya punya kedudukan paling tinggi di alam semesta.  Bahkan sebelum Ren, disebut bahwa hanya ada satu orang di dunia yang punya kemampuan ini, yakni sang petinggi di Tanah Suci Canaan. Tapi besarnya kekuatan yang peran ini miliki tak tersebar luas karena sedemikian langka penguasaannya.

Ini satu-satunya bidang ilmu yang tak bisa diajarkan ketiga putri secara langsung kepada Ren. Karenanya, upaya untuk mempertemukan Ren dengan roh-roh alam lain belakangan menjadi salah satu tujuan tambahan dalam perjalanan mereka.

Nyanyikan, Gerbang Dunia

Karena meyakini Encore adalah wasiat khusus dari Eleline untuk mereka, ketiga putri yakin bahwa Encore berada di tempat yang tak terjangkau oleh manusia biasa. Dugaan ini diperkuat dengan bagaimana keberadaannya masih belum ditemukan meski sudah berabad-abad.

Ren dan kawan-kawan barunya menelusuri satu demi satu petunjuk yang mereka miliki tentang Encore, yang sebagian di antaranya terdapat pada hubungan-hubungan masa lalu yang dimiliki ketiga putri.

Di saat yang sama, mereka juga harus berhadapan dengan kepentingan kelompok-kelompok lain. Ini terutama karena tersebarnya berita tentang mereka seolah menandai terlahirnya kembali Sword Emperor Brigade yang dulu pernah Eleline pimpin. Ren dan kawan-kawannya, yang kini dijuluki kelompok Reincarnated Knight (atau Knight of Reincarnation), jadi mengundang perhatian pihak-pihak seperti Elmekia Dusk, kelompok pencari Encore dengan keanggotaan terbesar di dunia; Saint Eyries, pada pencari dari tanah Canaan yang didorong oleh keyakinan keagamaan mereka; serta Spirit Inspectors, kelompok penelusur jejak para roh di mana Shion, ahli pedang terkuat di zaman ini yang disebut berada paling dekat dengan tingkatan Eleline, tergabung.

Melihatnya sekarang, kurasa tak bisa disangkal bagaimana premis seri ini terdengar sederhana tapi sekaligus begitu menjanjikan.

Secara menyeluruh, Sekai no Owari no Encore, sekali lagi, tak benar-benar bisa dikatakan bagus. Deskripsi dunianya dipertahankan minim. Alur ceritanya terbilang ringan. Perkembangan karakternya juga tak mendalam. Struktur pemaparan ceritanya juga terkadang tak lazim. Ada kesan aneh bahwa Sazane-sensei mengarang cerita ini saat masih remaja. Tapi sekali lagi pula, ada sesuatu tentang ceritanya yang membuat penasaran.

Meski pemaparannya sederhana, ada tema-tema soal persahabatan dan kerja keras. Para tokoh utama wanita, meski kerap bersikap ingin diperhatikan, sepenuhnya mandiri dan tak begitu saja jatuh cinta pada si tokoh utama. Intinya, cerita ini seperti berhasil menumbuhkan keingintahuan soal ke depannya nanti para karakternya akan di bawa ke mana.

Walau secara anatomi mungkin tak cocok dengan sebagian orang, ilustrasi Fuyuno-sensei juga terbilang cantik. Seperti elegan, tanpa terlalu condong ke seksi ataupun imut. Gaya desain beliau mungkin masih belum terlalu variatif. Tapi terasa ada perhatian yang beliau terhadap detil. Hal ini agaknya juga dipunyai Usui-sensei yang mengadaptasinya ke bentuk manga.

Hasilnya, seri ini seperti punya kesan umum ‘netral’ yang membuatnya mudah dinikmati banyak kalangan sekalipun popularitasnya takkan meledak.

Belakangan, perhatian terhadap seri ini mulai tumbuh dan sudah ada kelompok fans yang mulai menerjemahkan lagi.

Yah, nanti kalau ada perkembangan, mungkin akan aku kabar-kabari lagi.

Tag:
25/02/2017

Ankoku Joshi

Pada tahun baru kemarin, aku akhirnya membeli novel Girls in the Dark, atau Ankoku Joshi (kira-kira berarti ‘gadis-gadis di tengah kegelapan’), karya Akiyoshi Rikako.

Novel horor misteri ini sebenarnya sudah lama diterbitkan di sini oleh Penerbit Haru (beserta sejumlah novel misteri karangan Akiyoshi-sensei yang lain). Kualitas terjemahan, pengeditan, dan pengemasan Penerbit Haru juga termasuk bagus. Hanya saja, aku sempat tak kunjung juga membelinya untuk waktu lama berhubung sedang dalam kondisi tak ingin membeli novel apa-apa sebelum menelurkan karya baru.

Jadi aku tak kunjung beli bukan karena merasa novel itu jelek, tapi lebih karena sedang merasa belum butuh.

…Yea, aku masih juga mengalami masa-masa itu.

Tapi aku sempatkan beli kali itu karena tiba-tiba teringat kabar kalau novel tersebut mau diangkat ke bentuk film layar lebar yang naskahnya dipenai Okada Mari. Okada Mari, buat kalian yang belum tahu, adalah spesialis drama karakter yang ternama, yang sebelumnya mempenai naskah-naskah seri anime Anohana dan belakangan, Gundam: Iron-Blooded Orphans. Ditambah lagi, stok buku Girls in the Dark belakangan menipis. Ditambah lagi lagi, di edisi kali ini, ada cerita pendek tambahan baru sebagai bonus. Akhirnya, aku jadi berpikir kalau lebih baik aku beli saat itu daripada tidak.

Novel ini awalnya diterbitkan sebagai cerita bersambung dalam majalah novel bulanan Shosetsu Suiri milik penerbit Futabasha dari Desember 2012 sampai Maret 2013. Aku masih belum terlalu mengenal nama Akiyoshi-sensei di masa-masa itu, walau secara pribadi aku telah merasa kalau cerita cetusan beliau sepertinya menarik. Tapi, waktu aku mendengar kalau novel ini akan diangkat jadi film layar lebar, hal pertama yang terlintas di kepalaku adalah “Sial. Aku masih belum sempat baca.”

Suzuran

Girls in the Dark pada dasarnya berkisah tentang siswi-siswi SMA yang tergabung dalam Klub Sastra di Sekolah Putri Santa Maria. (Seibo Maria)

Klub Sastra ini sebelumnya diketuai oleh Shiraishi Itsumi, putri adminstrator sekolah, yang sangat cantik, cerdas, dan dikagumi. Klub Sastra ini, yang memiliki bangunannya tersendiri di sekolah swasta elit tersebut, dan bahkan dilengkapi tempat duduk megah dengan dapur khusus sekaligus interior berkelas, telah dinilai sebagian besar murid sebagai klub pribadi milik Itsumi yang statusnya tertutup, yang mana keanggotaannya konon hanya bisa diperoleh melalui undangan langsung darinya. Klub ini sebenarnya adalah klub tua yang sempat lama dorman karena ketiadaan anggota, sampai Itsumi mengetahui tentang berkas-berkas peninggalannya sesudah SMA, dan memutuskan untuk membangkitkannya kembali.

Namun demikian, di awal cerita, Itsumi dikisahkan belum lama meninggal dunia.

Kematian Itsumi, yang sukar dipercaya, diyakini sebagian orang terjadi dalam kondisi tak wajar. Salah satu alasannya karena dalam kematiannya, Itsumi menggenggam setangkai bunga suzuran (sejenis bunga lily yang juga dikenal dengan sebutan lily of the valley) yang menyiratkan adanya suatu makna yang tak mereka ketahui.

Sekitar seminggu setelahnya, Klub Sastra rupanya telah menjadwalkan acara Yami-Nabe yang telah menjadi tradisi tahunan klub mereka. Acara Yami-Nabe ini diputuskan untuk tetap dilakukan meski jadinya tanpa kehadiran Itsumi. Penyelenggaraannya akan dilaksanakan di bawah kepemimpinan Sumikawa Sayuri, wakil Itsumi yang kini menjabat sebagai ketua klub, salah seorang siswi di sekolah tersebut yang tak kalah andalnya, sekaligus sahabat terdekatnya.

Acara Yami-Nabe ini pada dasarnya adalah acara kumpul-kumpul tahunan para anggota, yang mana masing-masing dari mereka membawa bahan masakan sendiri-sendiri (yang tidak selalu makanan) untuk ditambahkan ke dalam kuah nabe (hotpot) yang mereka masak sama-sama. Hanya saja, acara masak bersama ini dilakukan sepenuhnya dalam gelap, pada malam hari, sehingga satu sama lain tak bisa mengetahui apa saja bahan yang ditambahkan oleh masing-masing orang. Mengingat status mereka sebagai Klub Sastra, acara Yami-Nabe juga akan diselingi sesi-sesi pembacaan cerita pendek buatan masing-masing anggota.

Hanya saja, mengejutkan semua anggota, tema cerita pendek yang Sayuri wajibkan untuk acara Yami-Nabe tahun ini ternyata adalah “Kematian Shiraishi Itsumi.”

…Alasannya mungkin sekedar untuk mengenang mendiang ketua mereka yang baru saja meninggal.

Kecantikan Ditentukan Oleh Mata yang Melihat

Girls in the Dark dituturkan melalui sesi-sesi ‘pembacaan’ dalam ajang Yami-Nabe ini. Ceritanya dibuka dengan kata-kata sambutan yang dibawakan oleh Sayuri, sebelum dilanjutkan paragraf-paragraf cerpen yang dibacakan masing-masing anggota. Acara diakhiri dengan cerita yang dibacakan Sayuri, dan baru setelahnya ditutup dengan kata-kata dari Sayuri lagi.

Antara tiap cerita, hadir bagian-bagian intermengso pendek yang juga dituturkan Sayuri. Di bagian-bagian ini, Sayuri menyampaikan kesan-kesannya atas tiap cerita dan juga melakukan penunjukkan atas siapa yang membaca cerita berikutnya. Di tengah-tengah itu semua, kegiatan masak dan memakan nabe terus berlangsung. Walau, ya itu, semua orang hampir tak bisa melihat satu sama lain, memperkuat kesan harap-harap cemas yang acara Yami-Nabe punya.

Bersama setiap cerita, kita, sebagai pembaca, jadi mengetahui lebih banyak tentang kehidupan mendiang Itsumi yang kepadanya, acara ini didedikasikan. Seakan menutup rasa duka, Sayuri membuka acara Yami-Nabe dengan suasana riang. Tapi mungkin karena tersembunyi dalam gelap, reaksi-reaksi dari para anggota lain seperti dengan sengaja tak diungkap dalam narasi.

Hanya saja, seiring berjalannya acara, kita bakal tersadar adanya sejumlah hal aneh yang tersirat. Ada fakta-fakta saling bertentangan. Ada perasaan-perasaan yang sebelumnya terpendam. Semua karena para gadis, melalui cerita pendek mereka masing-masing, jadi menuturkan kembali awal pertemuan dan hubungan mereka dengan Itsumi, bagaimana awal mula mereka bergabung dengan Klub Sastra, seperti apa sosok Itsumi yang mereka kenal, dsb. Lalu setiap cerita, lucunya, ditutup dengan pandangan mereka masing-masing tentang apa yang menjadi penyebab kematian Itsumi.

Pembunuhankah? Bunuh dirikah? Akankah kebenarannya terkuak di akhir acara?

Terlepas dari itu, para anggota Klub Sastra, sesuai urutan pembacaan naskah mereka, adalah:

  • Nitani Mirei (Kelas 1-A), anggota klub termuda dan yang paling baru. Berbeda dari kebanyakan murid Santa Maria, Mirei berasal dari keluarga kurang mampu dan bersekolah dengan bantuan beasiswa dari yayasan sekolah. Cerpen karangannya berjudul “Tempat Berada” dan mengungkapkan hubungan Mirei dengan ibunya yang orangtua tunggal, serta bantuan pekerjaan les privat yang Itsumi berikan untuknya.
  • Kominami Akane (Kelas 2-B), seorang siswi yang mendalami pembuatan kue-kue barat meski berasal dari keluarga pengelola restoran masakan Jepang. Cerpen karangannya berjudul “Macaronage” dan memaparkan awal mula bagaimana Itsumi menawari Akane untuk menggunakan dapur ruang klub.
  • Diana Detcheva (Murid Internasional), seorang murid pertukaran dari Rumania yang memiliki kecantikan bagaikan boneka. Cerpen buatannya berjudul “Balkan di Musim Semi” dan menceritakan pertemuan awalnya dengan Itsumi saat Itsumi datang sebagai murid pertukaran pelajar ke desa tempat tinggalnya, yang berujung pada ketertarikan kuat Diana terhadapnya.
  • Koga Sonoko (Kelas 3-B), seorang siswi serius yang memiliki cita-cita ingin menjadi dokter, dan sedikit banyak juga mengenal keluarga Itsumi. Cerpen buatannya berjudul “Perjamuan Lamia” dan mengisahkan bagaimana Sonoko ikut bersama Itsumi dalam kunjungan Itsumi berikutnya ke Rumania.
  • Takaoka Shiyo (Kelas 2-C), seorang penulis light novel dari usia muda yang karyanya telah sukses besar. Karena profesi orangtuanya, pernah menetap cukup lama di luar negeri. Cerpen buatannya berjudul “Pengebirian Raja Langit” yang menceritakan awal mula bergabungnya Shiyo dalam Klub Sastra meski semula ia tak menyukai Itsumi. Cerpen ini mencolok karena menjadi satu-satunya yang diceritakan dengan gaya bahasa light novel.
  • Sumikawa Sayuri (Ketua Klub), yang merupakan sahabat lama Itsumi dan paling terpercaya, sekalipun sifat mereka pada dasarnya bertentangan. Cerpen yang dituturkannya berjudul “Bisikan dari Kubur.”

Kau Tak Bisa Melihat Dalam Gelap

Di samping fakta-fakta yang saling bertentangan, masing-masing cerpen juga menyinggung bagaimana kesehatan Itsumi terus menurun menjelang kematiannya. Sebagian anggota klub jadi menduga bahwa kematian Itsumi sebenarnya disebabkan oleh sesuatu yang supernatural. Lalu acara Yami-Nabe yang semula berkesan cerah perlahan diselimuti kengerian berhubung tak ada di antara mereka yang boleh keluar sebelum Yami-Nabe berakhir, pintu ruangan klub dikunci, semuanya dalam kondisi gelap, dan ada hujan badai yang tahu-tahu tengah berlangsung di luar.

Meski ada sejumlah aspek cerita yang terasa ‘maksa’ (aku sempat ketawa saat Sayuri tanpa sebab jelas mulai mendeskripsikan seperti apa bangunan Sekolah Santa Maria, padahal semua yang hadir jelas-jelas adalah murid di sana), Girls in the Dark lumayan berhasil membawakan nuansa teka-teki kebenaran menyerupai Rashomon karya Akutagawa Ryunosuke yang terkenal, tapi tanpa lupa memaparkan solusinya. Hasilnya lumayan keren.

Teka-tekinya memang enggak susah-susah amat. Tapi pemaparan dan perkembangan ceritanya terus terang menarik dan enak disimak.

Bicara soal filmnya sendiri, penyutradaraannya akan dilakukan oleh Yakumo Saiji dan direncanakan akan tayang pada April 2017 nanti. Produksinya dilakukan melalui kerjasama Toei dan Showgate, dengan Shimizu Fumika berperan sebagai Sayuri dan Iitoyo Marie berperan sebagai mendiang Itsumi. Aku terus terang belum bisa memperkirakan kualitas akhirnya, terlebih dengan bagaimana produksinya kelihatan dibuat cepat. Tapi dengan Okada-san menangani naskah, kurasa ceritanya tak akan sampai jelek.

Girls in the Dark menurutku adalah jenis cerita misteri yang kalau kau kaji dengan pendekatan logis cerita-cerita detektif, jadinya malah tak menarik. Aku mungkin merasa begini karena kerap tsukkomi terhadap hal-hal yang berlebihan. Tapi serius, novel ini menarik. Membacanya juga terbilang enak. Aku terkesan dengan bagaimana kualitas ceritanya dipertahankan secara konsisten dari awal sampai akhir.

Yups. Aku tak menyesal membeli. (Walau mungkin perlu kusebut kalau memang sejumlah aspek ceritanya agak dewasa. Novel ini memang lebih ditujukan bagi remaja.)

Mungkin aku akan membacanya lagi suatu hari nanti.

06/07/2016

NHK ni Youkoso!

Dunia ini suram. Sudah tak lagi ada harapan. Jangankan bertatap muka dengan orang, buat melangkah ke pintu saja aku ketakutan.

Kenapa? Kenapa aku bisa berakhir begini? Aku… tak bisa berhenti gemetaran. Mereka menertawakanku. Aku tahu kalau mereka pasti sebenarnya menertawakanku! Aku selalu jadi aneh kalau harus berbicara. Bahkan sekedar berada di sana, aku bisa merasakan sorot mata merendahkan dari orang-orang!

Tapi tidak… tidak mungkin sesuatu seperti ini bisa semata terjadi karena salahku.

Ya!

Ini pasti terjadi karena mereka! Bagaimana mungkin hal seabsurd ini bisa tahu-tahu terjadi begitu saja? Tak mungkin sesuatu seperti ini bisa terjadi dengan sendirinya!

Hanya ada satu kemungkinannya.

Tanpa kusadari, rupanya aku telah menjadi korban dari sebuah KONSPIRASI.

Mimpi-mimpi dan Harapan

Pada pertengahan dekade 2000an, ada semacam ketidakpastian aneh soal dunia akan bergerak ke arah mana. Itu adalah zaman ketika Internet sudah ada, tapi berbagai aplikasi dan media sosial masih belum merambah kehidupan kita seperti sekarang. Lalu seiring dengan datangnya Internet tersebut, muncul pula berbagai metode yang memungkinkan kita untuk bisa memenuhi barang-brang kebutuhan kita tanpa ke luar rumah.

Hm, mungkin dari sana sindrom hikikomori berasal.

Untuk yang belum tahu, hikikomori adalah sebutan bagi orang-orang yang mengurung diri mereka di dalam rumah atau bahkan kamar mereka. Karena satu dan lain sebab, mereka tahu-tahu menolak segala bentuk interaksi sosial. Mereka berhenti bekerja atau bersekolah. Lalu sebagai akibat dari terlalu lama mengurung diri tersebut, mereka jadi merasakan keengganan atau bahkan ketakutan luar biasa kalau seandainya harus membawa diri ke lingkungan luar.

Fenomena ini mulai mencuat ke permukaan publik Jepang pada dekade 2000an dan tetap mendapat banyak sorotan sampai awal-awal dekade 2010an. Sekarang, pada saat ini aku tulis, fenomenanya sudah agak memudar sih, walau orang-orang yang menderitanya masih ada.

Di sekitaran zaman itu, mulai muncul istilah yang menyebut suatu golongan masyarakat sebagai NEET (not under employment, education, or training). Istilah ini intinya mengacu pada lapisan masyarakat yang tidak memegang pekerjaan tetap, tidak sedang menempuh pendidikan, dan juga tidak sedang menjalani pelatihan. Lalu para hikikomori ini merupakan salah satu subset dari mereka.

NHK ni Youkoso! atau Welcome to the N.H.K. (‘selamat datang ke NHK’) yang dipenai oleh Takimoto Tatsuhiko merupakan seri yang menyoroti tema tersebut. Ceritanya pertama terbit dalam bentuk novel dari Kadokawa Shoten dengan ilustrasi buatan Yoshitoshi ABe yang dikenal lewat ilustrasi beliau di NiEA Under 7 dan Serial Experiments Lain.

Semula, aku dengar novel ini terlahir sebagai semacam karya semi-otobiografi dari Takimoto-sensei sendiri saat menjadi seorang ‘hikikomori dalam pemulihan.’ Versi awal ceritanya kalau tak salah sempat muncul dalam situs cerita Boiled Eggs sebelum diterbitkan secara resmi. (Sayangnya, bahkan setelah menerbitkan ini, Takimoto-sensei konon sempat lama vakum dan tak mengeluarkan karya apa-apa lagi, dan hanya hidup serampangan dengan hasil honor penerbitan yang diperolehnya, karena penyakit hikikomori-nya masih belum sembuh). Tapi kemudian aku juga dengar kalau ide ceritanya konon berasal dari rembukan malam-malam dadakan di suatu family restaurant bersama sahabatnya sesama pengarang, Sato Yuya (Sato Yuya yang membuat novel Dendera itu?!), karena dia sedang kehabisan ide cerita pas dia juga harus berhadapan dengan perwakilan Kadokawa esok harinya.

Pada tahun 2004, seri ini kemudian diadaptasi ke bentuk manga yang dibuat oleh Oiwa Kendi (kalau tak salah, beliau yang membuat adaptasi manga dari seri drama pembunuhan remaja GOTH) dengan naskah yang (sepertinya) masih dipenai Takimoto-sensei. Serialisasinya berlangsung selama tiga tahun di majalah Monthly Shonen Ace punya Kadokawa Shoten, sebelum tamat dengan cerita sebanyak delapan buku.

Lalu pada tahun 2006, seri ini kemudian diangkat ke bentuk anime 24 episode dengan produksi yang ditangani GONZO. Sutradaranya adalah Yamamoto Yuusuke, naskahnya ditangani oleh Nishizono Satoru, dan musiknya diaransemen oleh Pearl Brothers.

Ada beberapa perbedaan agak mencolok antara versi-versinya. Versi novel aslinya terutama, yang hanya terdiri atas satu buku, memiliki kesan lebih suram dan gritty. Versi manganya terasa seperti semacam ekspansi dari versi novelnya, dengan pengembangan cerita lebih lanjut, beberapa penyesuaian karakter, serta tampilnya sejumlah tokoh baru. Sedangkan versi animenya semula terasa lebih mengikuti versi manganya, sebelum menjelang tamat agak berubah haluan ke tamat yang lebih dekat ke versi novel.

Mimpi-mimpi dan Konspirasi

Berlatar di wilayah suburban Tokyo, NHK ni Youkoso! berkisah tentang seorang pemuda hikikomori di usia menjelang pertengahan dua puluhan tahun bernama Satou Tatsuhirou yang pada suatu hari berkesimpulan kalau nasibnya yang menyedihkan sebenarnya akibat manipulasi suatu konspirasi besar dan misterius.

Dalang konspirasi ini diyakininya adalah organisasi rahasia NHK, Nihon Hikikomori Kyoukai (‘organisasi hikikomori Jepang’), yang Satou yakini bertujuan untuk menciptakan suatu lapisan masyarakat hikikomori yang akan ditertawakan dan direndahkan oleh lapisan-lapisan masyarakat lain yang lebih unggul. (Iya, salah satu daya tarik seri ini ada pada bagaimana keyakinan konyolnya ini tak punya dasar jelas, tapi terus senantiasa membayanginya di sepanjang cerita.)

Satou telah menganggur selama empat tahun sejak sindrom social withdrawal-nya muncul. Sindrom ini pula yang menyebabkannya sampai drop out dari kuliah dan menjalani kesehariannya tanpa arah jelas. Sehari-hari, ia hanya berdiam di kamar apartemennya (yang dalam manga dan anime, diperlihatkan sebagai sebuah wisma bernama Mita House). Semenjak itu, Satou hidup hanya dengan uang kiriman dari orangtuanya di pedesaan, dan hanya keluar dari apartemennya pada larut malam saat mau membeli barang-barang kebutuhan hidup dari convenience store.

Meski ‘menyadari’ keberadaan konspirasi ini dan telah bertekad untuk melawan pengaruhnya, Satou sayangnya tetap tak mengalami kemajuan.  Sebulan tahu-tahu saja kembali sudah berlalu. Tapi Satou masih saja belum sanggup menguatkan hati untuk keluar kamar.

Sampai suatu ketika… takdir seakan mempertemukan Satou dengan seorang gadis remaja belasan tahun bernama Nakahara Misaki. Sesudah pertemuan pertama mereka (yang mungkin kebetulan tapi mungkin juga bukan), Misaki menyelipkan lewat lubang surat di pintu Satou sebuah undangan sekaligus tawaran kontrak. Isi kontrak itu adalah tawaran untuk bergabung dalam suatu ‘proyek’ seandainya Satou ingin bisa sembuh dari ke-hikikomori-annya.

“Purupurupururin!”

Sebenarnya, bukan hanya pertemuan dengan Misaki saja yang kemudian mengubah hidup Satou. Dalam kurun waktu hampir sama, Satou juga mengetahui bahwa tetangganya yang selama ini membuatnya terganggu dengan menyetel lagu-lagu anime keras-keras tak lain adalah Yamazaki Kaoru, adik kelasnya semasa SMA yang dulu pernah dekat dengannya semasa tergabung di Klub Literatur.

Begitu menyadari bahwa ternyata Satou yang selama ini bertetangga dengannya, Yamazaki langsung bahagia. Alasannya karena semenjak datang ke Tokyo untuk kuliah, dirinya mengalami kesulitan untuk mendapatkan teman. Bahkan saat Satou tiba-tiba mendobrak masuk ke kamarnya untuk protes soal musiknya yang keras, Yamazaki sebenarnya tengah menangis sedih karena mulai berpikiran untuk pulang ke kampung halaman, yang seketika tergantikan dengan tangisan haru.

Jadilah, lewat pertemuan dengan dua orang ini, dua plot utama NHK ni Youkoso! kemudian terjalin. Satu, hubungan aneh Satou dengan Misaki yang mengklaim kalau dirinya punya kemampuan untuk menyembuhkan Satou (lewat sesi-sesi konseling yang mereka laksanakan malam-malam di taman dekat Mita House). Dua, upaya penuh ketidakpastian Satou dan Yamazaki untuk memberi makna pada hidup mereka dengan menciptakan game erotis terhebat sepanjang masa.

Tentu saja, semua itu bergantung pada perjuangan Satou untuk bisa lepas dari jerat konspirasi NHK.

“Pururu-in!”

Perlu diperhatikan kalau versi novel NHK ni Youkoso! bersifat one shot.  Jadi bukan berseri. Sedangkan versi manganya bisa dibilang semacam versi ‘ekspansi’ yang di dalamnya, Satou dan kawan-kawannya (entah gimana) seakan jadi ‘mengeksplorasi’ satu demi satu bentuk alternatif ‘melarikan diri dari kenyataan’ yang bisa mereka temukan (turut tercakup di dalamnya: soal mendalami BDSM dan hidup sebagai gelandangan). Cerita di manganya lebih panjang. Karakterisasi para tokohnya agak beda. Di samping itu, juga ada lumayan banyak tokoh baru bersifat tambahan.

Adaptasi animenya sendiri semula seperti akan lebih mengangkat cerita versi manganya ini. Ditandai dengan pertemuan kembali Satou dengan Kashiwa Hitomi, kakak kelas cantik yang dengannya Satou sempat menjalin hubungan singkat saat yang bersangkutan patah hati, dan hingga kini ternyata masih dilanda depresi (dia juga karakter menonjol); sampai pertemuan Satou dengan Kobayashi Megumi, bekas ketua kelasnya yang kini menjadi front untuk suatu bisnis MLM mencurigakan. Tapi menjelang akhir, terasa ada sedikit haluan berganti. Lalu akhir ceritanya kembali jadi lebih dekat ke versi novelnya dengan fokus kembali pada misteri latar belakang Misaki yang akhirnya berhasil Satou ketahui.

Bicara soal kualitas teknis animenya, Gonzo sedang terkenal-terkenalnya sebagai studio spesialias animasi CG pada masa itu. Karenanya, bagaimana animasi 2D dan permainan warna lebih banyak ditonjolkan di NHK ni Youkoso! menjadi kejutan yang bagiku mencolok. Gaya visualnya sedehana, tapi memaparkan banyak detil latarnya secara baik. Lalu ini dihiasi dengan penataan audio yang benar-benar bagus.

Satu hal menarik adalah bagaimana paruh awal animenya, yang masih banyak diselingi bumbu komedi, banyak menggunakan warna-warna cerah. Tapi nuansa ini perlahan berubah seiring dengan datangnya musim dingin, yang menandai semakin gelapnya perkembangan cerita. Mulai dari Yamazaki yang tak lagi bisa menolak panggilan ortunya untuk pulang kampung, serta semakin terkuaknya hal-hal yang Satou dan Misaki selama ini sembunyikan dari satu sama lain.

Cerita NHK ni Youkoso! menurutku seriusan bagus. Terlepas dari berbagai hal gila dan mencurigakan dan sesat yang tersirat di dalamnya (seperti bagaimana semua halusinasi Satou, tentang alat-alat rumah tangganya yang berulangkali bisa berbicara dan memberinya nasihat, sebenarnya lebih disebabkan oleh zat-zat halusinogenik ‘legal’ yang dikonsumsinya bersama Yamazaki), ceritanya mengandung pesan moral yang lumayan kuat.

Intinya, mungkin soal… keinginan untuk bisa menjadi lebih baik ‘kan?

Terlepas dari seberat dan sesakit apapun?

Semua karakter, baik sentral maupun sampingan, sama-sama mempunyai kelemahan dan masalah mereka masing-masing. Satou dengan semua delusi dan prasangkanya. Yamazaki dengan egonya dan bawaannya untuk memandang rendah orang. Lalu Misaki dengan masalah ketergantungannya terhadap orang lain, yang berakar dari kondisi keluarganya yang buruk di masa lalu.

Tema-tema yang diangkat juga seputar hubungan-hubungan pribadi, kecendrungan-kecendrungan sosial, sampai falsafah hidup. Lalu semua disampaikan dalam bentuk komedi yang sebenarnya agak ‘hitam’ untuk ditertawakan.

Soal aspek audionya yang beneran keren, BGM yang dibawakan Pearl Brothers lumayan berhasil mencakup beragam emosi. Mulai dari hari-hari lesu di Mita House sampai ke saat-saat penuh suspens ketika Satou harus berhadapan dengan orang asing dan kegugupannya mencengkram. Seri ini juga salah satu yang menonjolkan bakat seiyuu Makino Yui yang sedang tenar-tenarnya di masa itu, walau para seiyuu lainnya juga berperan dengan benar-benar baik. Lagu “Puzzle” yang dibawakan Round Table ft Nino menjadi pembuka yang gampang didengar dengan temanya yang tentang adanya suatu hal tersamar yang harus dipecahkan. Sedangkan lagu penutup pertama “Odoru Akachan Ningen” yang dibawakan Ohtsuki Kenji dan Kitsu Fumihiko adalah lagu yang paling kuat mencerminkan nuansa khas seri ini tentang orang-orang stres dan putus asa.

Singkatnya, bagiku ini seri yang dari awal sudah pasti bakal berkesan.

“Kalau kau tak melihatnya, kau takkan jatuh cinta. Kalau kau tak jatuh cinta, maka kau tak akan tersakiti.”

Aku pertama kali tahu tentang seri ini dari seorang kenalanku yang membicarakannya lewat Internet. Waktu itu, dia kayak cuma nyerocos tentang berita akan diangkatnya seri ini menjadi anime. Hanya saja, tak ada orang lain di komunitas kami yang waktu itu sudah tahu tentangnya.

Makanya, baru agak belakangan aku tahu tentang kebagusan seri ini.

Karena judulnya aneh, tentu saja aku penasaran. Lalu sesudah menggali info, baru aku tahu kalau referensi stasiun televisi NHK di judulnya memang cuma dijelaskan dalam versi novelnya. (Intinya, Satou heran kenapa stasiun televisi yang sangat terhormat ini menayangkan anime-anime yang visualnya kayaknya diperuntukkan bagi anak-anak di jam-jam dini hari saat anak-anak harusnya belum bangun. Satou kemudian menduga bahwa anime tersebut sebenarnya sejak awal memang diperuntukkan bagi para hikikomori. Lalu dari sana, Satou berkesimpulan secara konyol bahwa stasiun televisi itu memang punya peran terselubung untuk menambah jumlah hikikomori di Jepang.)

Yah, soal perbedaan antara versi-versi ceritanya: Satou terpengaruh oleh Yamazaki hingga menjadi seorang otaku kelas berat pada semua versi cerita. Misaki-chan memiliki sisi yang agak manipulatif dalam versi manganya. Versi manganya sendiri memang terasa agak keterlaluan dengan ceritanya yang ke mana-mana (membuat para karakternya berkesan semakin menyedihkan). Lalu… hmm, Hitomi-sempai hanya muncul sekilas di versi novelnya lewat perjumpaan kebetulannya dengan Satou (memberitakan bahwa dirinya baru bertunangan dan sebentar lagi akan menikah), lalu Megumi bahkan tak muncul dalam versi novel sama sekali. Kemudian apa yang kelihatannya adalah referensi ke anime komedi Di Gi Charat kemudian diganti jadi suatu ‘anime dalam anime’ orisinil khusus untuk seri ini yaitu Puru Puru Pururin (lagu temanya sempat menjadi ringtone yang benar-benar terkenal, pengisi suaranya adalah Shishidou Rumi, dan inspirasi soal bagaimana perabotan rumah tangga menjadi hidup kelihatannya datang dari anime ini).

Oh. Berhubung tema ceritanya memang agak ke ranah sana, seri ini memang lebih bisa dimengerti oleh kalangan penggemar berusia lebih dewasa. Jadi, kayak biasa, jangan memaksakan diri.

Sekali lagi, versi novelnya lebih suram dan edgy. Lebih terasa kegilaan dan stres para karakternya pada versi ini. Pemikiran-pemikiran para karakternya juga paling terasa masuk. Sedangkan manganya lebih terasa seperti komedi yang ke mana-mana.

Jadi iya, versi animenya, yang seakan menyeimbangkan semuanya, menurutku yang paling berkesan. Eksekusinya seriusan bagus. Kayak, kita enggak pernah benar-benar tahu selanjutnya kita bakal dibawa ke mana. Tapi kita enggak bisa lepas karena penasaran ingin tahu apa selanjutnya yang bisa terjadi. Lalu semuanya juga kayak berhasil diakhiri di saat yang tepat.

“Tanpa jaminan pangan, sandang, dan papan, kecuali kau sudah siap mati, maka kau tak punya pilihan selain bekerja.”

Yah, akhir kata, sebagai orang yang sedikit banyak pernah depresi, aku mendapat sejumlah pelajaran dari seri ini.

Melihat Satou, yang sebenarnya bukan orang bego dan sebenarnya punya bakat, menjadi menderita berkepanjangan seperti ini benar-benar kayak menggugah beberapa hal. Lalu kayak yang kemudian aku pelajari belakangan dari main Persona 3, benar bahwa makna kita hidup sebenarnya adalah untuk memberi manfaat bagi orang lain.

Saat menghadapi kematian, kita semua pada akhirnya pasti akan kembali sendirian. Di tengah kesendirian, mungkin kita bakal merasa utuh dan alami. Tapi tanpa orang lain, hidup kita takkan memiliki arti. Jadi wajar saja bila sesudah semua yang terjadi, Misaki tetap memutuskan untuk bergantung pada Satou, dan demikian pula sebaliknya.

Lagipula, hanya karena kita berpisah, itu tak berarti kita takkan bertemu lagi.

Jadi, uh, lawanlah konspirasi itu.

Kau pasti bakal bisa melakukannya kalau demi orang lain! (Mungkin.)

(Ngomong-ngomong, ini seri pertama yang juga membuatku menyadari kalau Gonzo sebenarnya lebih bagus mengadaptasi karya yang sudah ada ketimbang membuat keluaran mereka sendiri.)

Penilaian

Konsep: A; Visual: A: Audio: S; Perkembangan: A-; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A

13/05/2016

Mokushiroku Arisu

Di dalam dunia Mokushiroku Arisu, ada tiga jenis orang yang akan datang mendaftar ke SMA Kichijouji, Tokyo:

  • Mereka yang memerlukan kekuatan, apapun bayarannya.
  • Mereka yang memerlukan uang, apapun bayarannya.
  • Mereka yang ingin menyelamatkan dunia, apapun bayarannya.

Disebut ‘apapun bayarannya’ di sini karena memang yang menjadi murid di sana hanyalah orang-orang yang seakan datang untuk mengantarkan nyawa. Lalu disinggung soal ‘menyelamatkan dunia’ di sini itu karena dunia dalam cerita tersebut memang tengah terancam.

Oleh apa?

Oleh suatu penyakit yang hanya akan menyerang gadis-gadis muda: Penyakit Labirin (Labyrinth Disease), yang mana saat sudah menjangkit, akan secara ajaib memunculkan suatu labirin raksasa ke dunia nyata dari dalam ranah kejiwaan sang gadis. Labirin-labirin ekstradimensional tersebut akan ‘membentuk’ di sekeliling si gadis. Lalu sesudah enam jam, labirin itu kemudian stabil menjadi sebuah ‘eternal labyrinth’ (‘labirin abadi’) dan sesudah mencapai bentuk penuhnya tersebut, dunia sudah tak lagi dapat dikembalikan ke bentuk semula.

Dalam radius yang bisa bervariasi mulai dari dua kilometer sampai sekian ratus kilometer dari si gadis, orang-orang akan meninggal secara seketika. Lalu ketika cerita ini dimulai, seperempat daratan di Bumi telah hilang untuk selama-lamanya akibat penyakit ini.

Sementara si gadis, meski diberkahi kekuatan sihir, mereka menjadi kehilangan kendali atas diri mereka sendiri dan menjadi ‘inti’ dari labirin yang mereka ciptakan.

Demi menyelamatkan dunia, berbagai pemerintahan dan perusahaan besar membentuk tim-tim gerak cepat untuk memasuki labirin-labirin. Sekolah-sekolah khusus seperti Perguruan Kichijouji kemudian dibentuk untuk melatih tim-tim gerak cepat ini dan menangani labirin-labirin dengan batasan usia yang hanya memungkinkan orang-orang di bawah usia 19 tahun untuk memasukinya. Baik apakah mereka telah berpengalaman sebelumnya atau masih anak bawang yang baru lulus SD, tugas mereka semua tetap sama: bunuh si gadis, dan selamatkan dunia.

Kemunculan penyakit ini juga menandai munculnya kekuatan sihir yang terwujud dalam bentuk ‘lagu-lagu terkutuk’ (pengkodean dalam gelombang-gelombang suara tertentu?).

Kekuatan sihir diaktifkan melalui perangkat mirip separuh headset yang disebut Headphone Fuzz (Intra-Cerebral Magic Activators) yang akan memainkan lagu-lagu terkutuk itu dan merangsang area otak yang sensitif terhadap sihir. Bila dipasang di telinga kiri, Headphone Fuzz akan merangsang otak kanan manusia, dan membuatnya lebih mudah digunakan orang-orang yang kekuatan sihirnya lebih dipengaruhi oleh emosi. Sebaliknya, bila di dipasang di telinga kanan, Headphone Fuzz akan merangsang otak bagian kiri untuk sihir yang lebih dimanipulasi pemikiran rasional.

Semua labirin dikelompokkan dalam peringkat mulai dari 0 sampai 666. Begitu labirin biasa menjadi labirin abadi, peringkatnya akan melonjak sampai sekurangnya 10 kali lipat. Lalu pada titik tersebut, labirin itu menjadi sumber daya berharga yang meski berbahaya, dari dalamnya dapat diperoleh berbagai kekuatan sihir baru yang menentukan kekuatan militer suatu negara.

Arisu Shinnosuke kembali ke Jepang setelah berkelana 10 tahun dan mendaftar ke SMA Kichijouji sebagai murid baru. Ia menyatakan bahwa yang diinginkannya hanya satu, yaitu uang. Uang, dan hanya uang. Saat teman-teman sekelasnya dibagi ke dalam tim, Shinnosuke  mempertimbangkan tim mana yang akan ia masuki berdasarkan mana yang tawaran bayarannya paling mahal.

Meski demikian, dengan kemampuan yang dimilikinya, dengan cepat Shinnosuke diakui sebagai salah satu remaja paling menonjol dalam kurikulum yang diperuntukkan untuk anak-anak yang akan menjelajahi labirin.

Tapi lambat laun, kehadiran Shinnosuke seakan menandai bahwa ada satu jenis orang lagi di samping tiga jenis di atas:

  • Mereka yang punya maksud rahasia yang ingin dicapai, apapun bayarannya.

Penyakit Seorang Gadis yang Mengakhiri Dunia

Mokushiroku Arisu, atau yang juga dikenal dengan judul Apocalypse Alice, dikarang oleh Kagami Takaya yang belakangan lebih dikenal sebagai pencetus cerita Owari no Seraph (Seraph of the End), yang ditanganinya bersama Yamamoto Yamato dan Furuya Daisuke. Mokushiroku Arisu sendiri diterbitkan dari tahun 2013 oleh penerbit Fujimi Shobo di bawah label Fujimi Fantasia Bunko, dengan ilustrasi buatan Katou Yuuki dari Arc System Works, yang juga mengerjakan desain karakter untuk seri game tarung BlazBlue.

Sebenarnya, sudah lama aku ingin bahas seri ini.

Mokushiroku Arisu sebenarnya tipikal seri karangan Kagami-sensei. Mulai dari tema soal persahabatan dan rasa saling percaya, lengkap dengan cara bercerita khasnya yang menarik bagi satu orang tapi bisa menyebalkan untuk orang yang lain. Tapi dibandingkan dua karya beliau yang sebelumnya, yakni Densetsu no Yuusha no Densetsu dan Itsuka Tenma no Kuro Usagi, terasa kayak ada sesuatu yang lebih ‘matang’ pada Mokushiroku Arisu dan membuatnya lebih bisa dinikmati. Mungkin ini disebabkan karena beliau mulai terlibat dalam proyek Owari no Seraph pada waktu kurang lebih sama.

Di sisi lain, ini jenis cerita yang serupa dengan yang banyak mengangkat soal penjelajahan dungeon belakangan. Labirin-labirin yang Shinnosuke dan kawan-kawan sekelasnya harus hadapi dengan bertaruh nyawa benar-benar seperti dunia lain yang ajaib. Ada monster-monster yang harus mereka kalahkan, ada harta-harta yang bisa mereka temukan, ada wilayah-wilayah ‘aman’ dan ada pemetaan yang bisa mereka buat. Ada sihir Escape untuk lolos yang wajib dibawa semua orang. Di samping itu, masing-masing karakter memiliki kemampuan, kekuatan, dan kelemahan mereka masing-masing.

Jadi ya, ini cerita yang di dalamnya ada banyak elemen serupa seperti dalam game.

Tentu saja juga ada karakter musuh ‘boss’ yang tak lain adalah gadis-gadis tersebut, yang kini tak dapat mengendalikan keinginan mereka sendiri dan sekaligus berkekuatan dahsyat.

…Sekilas, aku juga awalnya kurang begitu tertarik. Tapi membaca terjemahannya waktu itu, aku mendapati perkembangan ceritanya itu cepat.

Kayak, benar-benar cepat.

Para karakternya semula enggak begitu gampang disukai. Shinnosuke misalnya, di awal cerita digambarkan arogan dan sangat materialistis. Hal ini ditekankan berulangkali sampai dalam porsi agak berlebihan. Lalu kawan-kawan sekolah yang kemudian ditemuinya juga tak benar-benar bisa dibilang ‘baik.’ Mizuiro Gunjou, gadis berbadan relatif mungil yang dikenal sebagai siswa paling tangguh di kelas, dan diandalkan banyak orang sebagai pemimpin, berkesan seenaknya dan sok main perintah, apalagi dengan harga dirinya yang sangat tinggi. Meski bermaksud baik, ia jadi suka main prasangka. Lalu di sisi lain, Hishiro Shiro, seorang pemuda bermata merah yang menjadi satu-satunya orang di kelas yang mau menentang Gunjou, juga terkesan menyebalkan dengan sikapnya yang sok akrab dan tak benar-benar jelas tujuannya apa. Dirinya jelas kayak enggan mengungkapkan semua yang dia tahu.

Ceritanya kayak menampilkan beberapa lapis kebenaran gitu, dengan motif tersembunyi yang dimiliki masing-masing orang. Tapi sedikit demi sedikit semuanya terkuak, hingga akhirnya menjadi cerita yang benar-benar seru.  Walau berkesan agak gimanaa gitu di awalnya, aku serius jadi menyukainya lebih dalam dari yang aku sangka.

Dunia Mokushiroku Arisu digambarkan sebagai dunia yang ‘rusak.’ Bukan hanya dalam arti fisik, tapi juga dalam arti mental. Bagi sebagian besar orang, uang dan kekuasaan benar-benar menjadi hal utama. Kedua hal tersebut kayak diutamakan, bahkan bila perlu dengan mengorbankan nyawa orang lain.

Karena itu, kesannya wajar bila Shinnosuke seakan menunjukkan sikap antisosial dan hanya peduli pada dirinya sendiri. Lalu karena alasan yang sama, kesannya aneh juga dengan bagaimana orang-orang yang selamat bersamanya dalam penyerbuan labirin mereka yang pertama, pada akhirnya bisa mengenali bagaimana Shinnosuke sebenarnya orang baik.

Bahkan meski dihadapkan dengan keputusasaan sedemikian kuatnya, mereka mengetuk pintu hati Shinnosuke untuk menjalin persahabatan nyata dengannya.

Enam Slot

Mokushiroku Arisu berkisah tentang perjuangan Arisu Shinnosuke dan teman-teman sekolah barunya yang jadi tergabung dalam kelompok Hero Team karena keberhasilan mereka bertahan di dunia kejam ini. Selain Shinnosuke, anggota tim mereka terdiri atas:

  • Mizuiro Gunjou, siswi elit yang terungkap kerapuhan hatinya di bawah besarnya tekanan mental untuk menanggung nyawa teman-teman sekelasnya yang lain. Ada enam slot sihir yang bisa diisi dalam Headphone Fuzz, dan Gunjou mengisi salah satunya dengan sihir khasnya yang dahsyat berupa kincir-kincir roda air terbang.
  • Hishiro Shiro, pemuda berjiwa pemimpin yang mengisi seluruh slot sihirnya dengan sihir ofensif, yang salah satunya berwujud sebilah tombak(?) raksasa. Seperti Shinnosuke, belakangan terungkap bahwa ia pun memiliki misi pribadinya sendiri dalam memasuki labirin.
  • Kiryuu Kiri, seorang gadis cantik dan ramah yang merupakan orang pertama yang Shinnosuke temui di SMA Kichijouji, sekaligus orang pertama pula yang bisa ‘membaca’ dirinya. Ia terampil menggunakan pedang. Semenjak diselamatkan Shinnosuke, ia berulangkali menyatakan kalau ia jatuh cinta pada dirinya.
  • Endou Yousuke, seorang pemuda berkacamata yang setia pada Shiro dan merupakan salah satu anggota tim asalnya. Ia pribadi ramah yang mengisi seluruh slot Headphone Fuzz-nya dengan sihir-sihir pertahanan dan rela menggunakan tubuhnya sebagai taruhan.
  • Yuuyami Himi, seorang gadis pemalu yang juga menjadi anggota tim asal Shiro. Ia mengisi semua slot Headphone Fuzz dengan konfigurasi sihir untuk support. Salah satu sihirnya adalah kekuatan untuk membuat peta.

Sedangkan si tsundere Shinnosuke sendiri, seperti Kiri dan Gunjou, menggunakan konfigurasi sihir ‘seimbang’ hanya saja yang lebih berorientasi ofensif. Dua sihir yang paling utama digunakannya adalah ‘pedang sihir’ yang mengubah pisau lipat yang sering dibawanya menjadi pedang panjang beraura gelap, yang punya sifat ‘Assassinate’ yang memungkinkannya memburu titik kelemahan lawan secara otomatis; serta sihir akselerasi yang memberikannya kecepatan dewa meski hanya dalam satu detik. Kombinasi dua sihir langka ini menjadikan Shinnosuke pribadi yang sangat berbahaya.

Tapi yang kemudian patut dicatat adalah bagaimana salah satu slotnya juga ia isi dengan suatu sihir eksperimentil yang disebut Holy Sword, sihir belum sempurna yang khusus dikembangkan untuk membebaskan para gadis yang menjadi inti labirin tanpa membunuh mereka.

Sepuluh tahun telah Shinnosuke habiskan semata-mata demi bisa memperoleh sihir ini.

Alasannya kenapa? Karena adik perempuan Shinnosuke, Arisu Saki, adalah korban paling pertama dari Penyakit Labirin.

Saki, adik perempuan yang dulu sangat disayanginya, pasti masih hidup. Shinnosuke yakini itu. Karenanya, Shinnosuke akan melakukan segala cara untuk bisa membebaskan Saki dari dalam labirin paling berbahaya sekaligus keji yang tercipta darinya, Apocalypse Alice, labirin paling diincar di seluruh dunia yang memiliki peringkat 666.

Keputusasaan dan Hati Untuk Mempercayai Sahabat

Selain temponya yang cepat, daya tarik terbesar Mokushiroku Arisu ada pada adegan-adegan aksinya, yang entah bagaimana memang benar-benar seru. Meski banyak yang harus dipaparkan, perkembangan ceritanya beneran cepat. Lalu ada banyak twist tak terduga sepanjang jalan yang membuatnya benar-benar asyik diikuti, meski sekaligus membuat penasaran juga. Ada pengkhianatan, ada prasangka, ada pemalsuan informasi, ada pasukan-pasukan militer yang punya maksud misterius, ada kematian di mana-mana yang terjadi secara tragis.

Tapi di sisi lain, meski langka, ada bagian-bagian ketika kekuatan persahabatan akhirnya menang juga. Lalu Shinnosuke dengan enggan pun mesti akui, bahwa memang ada beberapa hal tertentu yang takkan dapat dilakukannya seorang diri.

Sayangnya, ceritanya saat ini tengah menggantung di buku ketiga, yang mungkin disebabkan kesibukan Kagami-sensei dengan beragam proyeknya juga. Padahal cerita sedang seru-serunya juga, dengan bagaimana Shinnosuke dan Gunjou yang sama-sama disangka tewas berhasil memasuki labirin Apocalypse Alice jauh lebih cepat dari dugaan. Lalu mereka berusaha menyusul rombongan Shiro yang telah pergi lebih dulu, untuk mengungkap apa sebenarnya yang dicari Perusahaan Farmasi Taikou, konglomerat riset raksasa yang menjalin kontrak dengan sekolah mereka untuk berbagai serbuan mereka ke labirin.

Beberapa karakter lain yang menonjol mencakup Honjou Tsukasa-sensei, guru sekolah yang selalu memberi mereka arahan setiap kali ada suatu kasus penyakit labirin terjadi (yang bisa jadi adalah psikopat). Lalu Sanae Yayoi, sepupu Shinnosuke yang jatuh cinta padanya, yang merupakan seorang remaja jenius yang memiliki lab penelitiannya sendiri di Taikou (tapi juga memiliki sifat dingin bila dihadapkan pada orang-orang selain Shinnosuke).

Ceritanya aneh di banyak bagian, dan para karakternya kerap melelahkan. Ada kesan kalau Kagami-sensei seperti gemar mempermainkan kita sebagai pembaca. Tapi aku benar-benar tak bisa menyangkal kalau ceritanya seru.

Agak aneh karena meski Owari no Seraph sudah dibuat anime sebanyak dua season (dengan kualitas sangat baik oleh Wit Studio), kepopuleran Mokushiroku Arisu belum banyak terdengar. Mungkin karena seri bukunya lagi hiatus dengan perkembangan menggantung? Padahal sejauh yang aku tahu, para fans yang suka seri ini termasuk orang-orang yang benar-benar suka. Sekali lagi, karena ceritanya memang seru.

Selain novel aslinya, seri ini juga sudah diangkat ke bentuk manga yang digambar oleh Youko. Nuansanya lumayan unik. Selain karena dialognya yang relatif padat, juga karena gaya gambarnya yang benar-benar mencerminkan nuansa muram dari dunianya.

Selebihnya…

Sial. Mungkin benar aku menulis ini sekarang adalah karena sedang berusaha mencari harapan di tengah keputusasaan.

Yah, siapapun tolong kabari aku kalau ternyata seri ini sudah ada perkembangan.

Tag: ,
29/03/2016

The Shut-Ins are Mocking My Youthful Day

Belakangan, penerbit Shining Rose Media (serta beberapa penerbit lain) mulai menerbitkan beberapa karya light novel di Indonesia. Kualitas mereka lumayan bagus.

Salah satu terbitan mereka yang kubaca adalah The Shut-Ins are Mocking My Youthful Day, atau Hikikomori-tachi ni ore no seisyun honrousareteiru karya Hitsugi Yusuke dengan ilustrasi buatan Non (Non yang ini adalah Non yang itu?! Berarti perkembangan gaya gambarnya luar biasa.) Seri ranobe ini aslinya diterbitkan Ichijinsha dan pertama terbit tahun 2013. (Judulnya kira-kira berarti: ‘para orang ansos/negatif/hikkikomori mengejek hari-hari masa mudaku!’)

Judul ini menjadi yang pertama kubaca karena… yah, alasan ringkasnya karena kelihatannya ini bisa cocok denganku. Maksudku, kalian kan tahu tema-tema ranobe bisa seaneh dan sefantastis apa, apalagi dengan ilustrasi di sampulnya. Jadi kalau ada om-om sepertiku membeli dan membawanya ke kassa, aku jadi sedikit prihatin soal imej pribadiku.

Terlepas dari itu, ini seri komedi romantis yang sempat meraih penghargaan pendatang baru saat pertama terbit. Kalau tak salah, seri ini terdiri atas tiga buku. Aku saat menulis ini dengan antusias sedang menanti terbitnya dua buku sisanya. (Kalau misalnya buku keduanya sudah terbit, tolong ada yang kasih tahu. Belakangan aku terlalu sibuk untuk memantau buku-buku terbitan baru.)

Ceritanya pada dasarnya tentang dua sahabat lama, Aoi Haruya dan Mizudori Shihane. Haruya di masa kecil adalah seorang anak berbadan gemuk dan lemah, yang karenanya dijuluki Nick-kun (diambil dari kata ‘nikku’ yang berarti daging). Sedangkan Shihane adalah seorang gadis cantik, pintar, dan populer yang karena suatu alasan, sangat jago berkelahi. Bahkan sewaktu kecil, Shihane memperoleh julukan Huckebein (yang ketika aku pertama baca ini, hanya aku tahu merupakan salah satu mecha orisinil dari seri Super Robot Taisen—itu loh, yang bentuknya mirip Gundam dan ditenagai Black Hole Engine—tapi ternyata sebenarnya merupakan nama sejenis burung), yang merupakan indikasi dirinya sekuat apa.

Seriusan. Intinya, Shihane saking kuatnya kayak seolah-olah bukan manusia. Mungkin selevel dengan duo Onibaku dari Shonan Junaigumi.

Haruya yang telah berulangkali ditolong Shihane dari bullying mengira dirinya akan bisa menjumpai Shihane kembali sesudah SMA. Terutama ketika keluarganya harus pindah dulu, Haruya berjanji pada Shihane akan menjadi orang kuat yang pantas mendampingi Shihane. Kini sesudah remaja, Haruya telah tampan dan langsing karena rajin berolahraga dan latihan karate. Sekilas, dirinya bahkan kelihatan cocok jadi pemeran utama di salah satu seri Kamen Rider. Di tahun keduanya di SMA, Haruya kembali ke kota tempat asalnya sesudah berhasil membujuk kedua orangtuanya bahwa kini ia bisa hidup mandiri.

Karenanya, Haruya benar-benar berasumsi bisa mendampingi Shihane sekarang.

Tapi tidak. Harapannya ternyata nyaris pupus.

Alasannya karena Shihane telah menjadi seorang hikkikomori yang berhenti bersekolah, yang kerjaannya sepanjang hari hanya bermain eroge dan berotak mesum.

Para Penggemar Jersey

Garis besar cerita seri ini adalah tentang upaya Haruya untuk bisa membuat Shihane bersekolah kembali. Berhubung ini cerita komedi, upaya Haruya banyak diwarnai oleh… bermacam kejadian unik dan ajaib, yang membuat kita maklum kenapa Shining Rose Media memberi rating dewasa untuk buku pertamanya.

…Ahaha, yeah. Walaupun tak mencolok dalam hal adegan-adegan fanservice, dalam ceritanya tetap ada lumayan banyak lelucon mesum.

Menyadari hubungan lama Haruya dengan Shihane, wali kelas mereka, Inukai Toono-sensei—yang menjuluki dirinya Beautiful Teacher Inukai karena menyadari sekaligus disadari bahwa dirinya memang cantik—kemudian menugaskan Haruya dan sekaligus memberi dukungan (finansial) padanya untuk membujuk Shihane agar mau bersekolah lagi. Upayanya tentu saja tak berlangsung mudah karena meski tetap cantik, memiliki pembawaan jenius (nilai-nilainya yang sempurna merupakan salah satu pertimbangan kenapa sekolah mempertahankannya), dan masih kuat kalau berkelahi (walau dirinya ternyata tumbuh menjadi pettan), Shihane benar-benar telah menjadi orang yang depresi dan rendah diri.

Untungnya, ibu Shihane masih mengenali Haruya. Makanya ia diberi keleluasaan untuk membantu membujuk putrinya.

Yah, singkatnya, dalam buku pertama ini, ada tiga cerita yang dihadirkan. Satu, upaya Haruya untuk membuka pintu kamar sekaligus pintu hati Shihane (yang berujung dengan klimaks yang diwarnai baku hantam). Kedua, menyusul keberhasilan Haruya membujuk Shihane (meski belajar di sekolah bukan berarti sudah masuk kelas), Inukai-sensei membeberkan dibentuknya Klub Penanganan Hikkikomori khusus untuk Haruya dan Shihane, dengan syarat mereka perlu membujuk seorang murid bermasalah lain, seorang gadis dengan keterampilan artistik tinggi bernama Tanaka Kaizumi yang dilanda chuunibyou akut, yang menjuluki dirinya Haliet Mucus, reinkarnasi Mitsurugi Marianoth Shion yang telah diangkat menjadi walking corpse. Ketiga, saat semua kelihatan sudah lancar, baru kita dibawa kembali ke awal mula kejadian yang membuat Shihane berhenti bersekolah… dalam suatu klimaks yang lagi-lagi melibatkan… yah, mending lihat saja sendiri.

Soal ceritanya sendiri, ceritanya seriusan termasuk menghibur. (Kalau enggak mengangkat alis.)

Enggak penting-penting amat sih. Tapi enak dibaca dan menghibur. (Aku seriusan soal mengangkat alis.)

Iya. Fanservice-nya lumayan ada dari waktu ke waktu.

Yeah, agak tebal dan terkesan mahal untuk ukurannya sih. (Pasti karena ilustrasinya, walau pada tahap ini, ilustrasi buatan Non-sensei masih belum terlalu mencolok.) Tapi seriusan ini termasuk yang kurekomendasikan kalau kalian jenis orang yang tertarik pada genrenya.

Sebelumnya, perlu kuwanti-wanti, kualitas editan dan terjemahannya meski kubilang bagus masih jelas tak sempurna. Kalian tahu bagaimana gaya narasi dan dialog mudah sekali terasa ‘aneh’ sesudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia? Jadi bagi pembawa awam, akan ada banyak hal yang terasa tak wajar gitu (nuansa formal dan informal atau pola baku dan tidak baku, yang tercampur aduk; lalu penggunaan kata ‘aku’ dan ‘saya’ yang terasa random). Tapi kalau kalian memang sudah jadi penggemar seri-seri sejenisnya, terjemahannya sudah lebih dari cukup untuk memberi kalian gambaran soal apa yang terjadi dalam ceritanya. Buat kalian yang paham, lelucon-leluconnya lumayan bisa bikin ngakak. Lalu sesuai dengan sifatnya sebagai light novel, benar kayak ada kemudahan dalam membacanya secara cepat. Dari pengalamanku membaca, halaman demi halaman beneran bisa berganti dengan mudah gitu.

…Aku juga heran kenapa Shining Rose menggunakan istilah ‘parodi’ di berbagai footnotes-nya, dan bukan ‘referensi.’ Tapi hei, mereka menyertakan footnotes saja sudah jadi tanda kalau mereka benar-benar perhatian!

Akhir kata: Yay! Makin banyak ranobe yang terbit di Indonesia!

Kuharap kualitasnya ke depan bakal bisa makin naik. Terutama dalam menumbuhkan minat orang-orang muda untuk membaca, menulis, belajar, dan berkarya.

… …

Tapi iya. Aku juga cemas.

Kurasa bahaya kalau…

Yah. Soal lelucon-leluconnya.

Yah, sudahlah.

Tag: ,
08/03/2016

Rakudai Kishi no Chivalry

Selain pemanah, aku juga pernah menganggap konsep ksatria berbaju zirah itu benar-benar keren.

Ksatria keren karena mereka harusnya melindungi orang-orang lemah. Mereka bertindak mengikuti kode etik kehormatan yang mengikat. Lalu baju zirah yang mereka kenakan memberi mereka ‘ketahanan’ melampaui manusia biasa. Kayak, kau tahu, Iron Man.

Romantismeku soal ksatria berzirah tentu saja luntur ketika aku belajar lebih jauh tentang sejarah. (Juga, sesudah mengikuti A Song of Ice and Fire karya G. R. R. Martin.) Lalu pada titik ini aku nyadar kalau aku mungkin enggak jauh bedanya dari Kinoko Nasu, Raiku Makoto, dan banyak pengarang Jepang lain yang dengan seenaknya meromantisasi Inggris sebagai negara para ksatria.

Aku teringat kembali akan semua hal di atas sesudah mengikuti perkembangan anime Rakudai Kishi no Chivalry, yang terang-terangan menyebut soal ‘ksatria’ di judulnya. (subjudulnya: A Tale of the Worst One, kira-kira berarti ‘kisah dia yang terburuk’)

Hal yang terlintas di kepalaku: para ‘ksatria’ di sini hampir enggak ada yang pakai armor. Lalu kenyataan tersebut sempat membuatku terdiam untuk beberapa lama.

Terlepas dari itu, Rakudai Kishi no Chivalry (‘chivalry’ ditulis sebagai ‘eiyuutan’, dan karena cara bacanya, kadang judulnya salah ditulis/baca sebagai Rakudai Kishi no Cavalry), atau Chivalry of a Failed Knight (‘kehormatan seorang ksatria gagal’, walau dari cara penulisan aslinya, arti judul yang dimaksudkannya adalah ‘kisah-kisah kepahlawanan seorang ksatria gagal’), berawal dari seri light novel karya Misora Riku dengan ilustrasi yang dibuat Won. Seri ini diterbitkan di bawah label GA Bunko milik penerbit SB Creative sejak pertengahan 2013, dan terbilang berhasil punya pangsa penggemarnya sendiri.

Animenya dibuat studio Silver Link (dengan dibantu Nexus) dan mengudara belum lama ini di cour terakhir tahun 2015. Oonuma Shin yang menyutradarainya dengan dibantu Tamamura Jin. Sedangkan Yasukawa Shogo menangani naskah.

Ada adaptasi manganya juga yang keluar agak lebih awal, dibuat oleh Soramichi Megumu, dan diserialisasikan di Gangan Online milik Square Enix. Saat ini kutulis, manganya telah terbit sebanyak 5 buku.

Tidak Naik Kelas

Cerita Rakudai Kishi no Chivalry berlatar di dunia di mana manusia-manusia berkekuatan supernatural yang disebut Blazer mampu memanifestasikan senjata-senjata yang disebut Device dari dalam jiwa mereka. Mereka yang diakui sebagai ‘ksatria’ kemudian dapat berpartisipasi dalam ajang pertandingan prestisius yang disebut Seven Star Sword Art Festival, yang diadakan oleh tujuh Akademi Mage Knight paling terkemuka di Jepang, untuk menentukan siapa Apprentice Knight terkuat yang akan bergelar Seven Star Sword King.

Garis besar ceritanya sendiri seputar Kurogane Ikki, siswa Blazer F-rank dari Perguruan Hagun, yang pada tahun sebelumnya, secara tidak adil dilarang turut serta dalam pertandingan. Alasan yang diberikan adalah karena kekuatan sihirnya hanya F-rank. Padahal kemampuan bela diri Ikki sebenarnya lebih dari cukup untuk mengimbangi keterbatasan kekuatan sihirnya itu.

Ditambah lagi, ada situasi rumit lain yang mempersulit turut sertanya Ikki dalam pertandingan (yang terkait dengan latar belakang keluarga Kurogane dari mana Ikki berasal). Tapi semua itu berubah pada tahun ajaran baru, seiring dengan pergantian administrasi di Hagun, yang ditandai dengan pertemuan pertama Ikki dengan teman sekamarnya yang baru, Stella Vermilion, seorang Blazer A-rank yang sekaligus merupakan putri (beneran) dari Kerajaan Vermilion.

Singkat ceritanya kurang lebih begitu.

Premis cerita Rakudai Kishi no Chivalry sekilas terkesan sederhana. Ikki, dengan ditemani Stella yang nanti menjadi teman terpercaya serta kekasihnya, harus berjuang pada kesempatan barunya untuk mengikuti ajang Seven Star Sword Art Festival ini.

Ini seri aksi fantasi ala LN yang biasa ‘kan? Jenis yang sesekali diselingi fanservice? Sudah ada banyak seri macam begini! Tapi nyatanya, Rakudai Kishi no Chivalry ternyata berakhir menjadi salah satu adaptasi LN langka yang melampaui perkiraan orang.

Yeah, hasilnya secara umum disepakati lebih bagus dari perkiraan.

Adaptasi animenya dengan lumayan setia mengangkat cerita dari buku pertama sampai ketiga. Garis besarnya kurang lebih memaparkan perjuangan Ikki untuk lolos dari babak penyisihan di Hagun, dan membuktikan pada semua orang bagaimana dirinya sosok yang patut diperhtungkan.

Let’s Go Ahead

Perjuangan untuk membuktikan diri adalah tema klasik yang menarik untuk diangkat. Jujur saja, aku sampai sekarang masih yakin kalau justru itu sebenarnya yang membuat Naruto terkenal. Rakudai Kishi no Chivalry kembali mengangkat tema ini, dengan berulangkali memperlihatkan bagaimana Ikki ditempatkan dalam situasi-situasi tak adil. Tapi walaupun begitu, Ikki dengan tekad luar biasa selalu berhasil melampaui semua tantangan itu.

Sebenarnya, ini seri yang sempat agak malas kubahas berhubung ada sejumlah hal di dalamnya yang membuatku enggak sreg (seperti animasi lagu penutupnya, misalnya). Tapi di sisi lain, ada banyak hal di dalamnya yang sedemikian melampaui perkiraan sehingga aku tetap merasa seri ini baiknya aku ulas.

Anime Rakudai Kishi no Chivalry juga menampilkan adegan-adegan aksi yang benar-benar keren. Meski bobot aksinya mungkin tak sebanyak itu, koreografi semuanya benar-benar keren.

Hal ini tercermin dalam animasi pembukanya yang dibawakan dengan nuansa gekiga, diiringi suara vokal Sakai Mikio yang sudah lama sekali enggak kudengar dalam suatu anisong. Kalau kau perhatikan, ada tiga variasi untuk animasi pembuka ini, sesuai jumlah buku yang diangkat dari seri novelnya. Lalu cara pengarahannya memberikan kesan yang benar-benar kuat.

Sebelum animenya keluar, terjemahan LN-nya yang dibuat fans termasuk salah satu yang sempat kulihat. Lalu sejujurnya, alasan pertama aku tertarik dengan Rakudai Kishi no Chivalry sama sekali tak ada hubungannya dengan soal ksatria, aksi, atau lainnya. Alasannya karena pas aku secara iseng membaca terjemahan novelnya itu, aku berhasil dibuat tertawa ngakak oleh leluconnya yang paling pertama.

…Leluconnya agak fanservice-y, jadi tak akan kusinggung biar enggak spoiler.

Tapi dari sana, lambat laun ceritanya memperkenalkan kita kepada para tokoh dan karakternya. Terlepas dari deskripsi karakter Stella yang mungkin agak wish fulfillment, para karakter utama seri ini ternyata memang benar-benar simpatik. Ikki sangat pekerja keras dan pantang menyerah. Adik perempuannya yang A-rank seperti Stella, Kurogane Shizuku, meski di awal berkesan aneh, digambarkan sangat menyayangi kakaknya karena menjadi saksi semua kerja keras Ikki sekaligus semua ketidakadilan yang ditimpakan padanya. Lalu karakter teman sekamar Shizuku, Arisuin Nagi alias Alice, yang merupakan laki-laki yang merasa jiwanya perempuan, juga menjadi karakter tak biasa dengan caranya menempatkan diri di garis-garis tepi, membuatnya perhatian terhadap hal-hal yang tak disadari oleh kebanyakan orang lain.

Karakter-karakter lawan utama yang perlu Ikki hadapi selama ajang penyisihan di Hagun meliputi Kirihara Shizuya, rival lamanya dari tahun sebelumnya; Ayatsuji Ayase, seorang kakak kelas yang ternyata menjadi pewaris ilmu pedang dari orang yang pernah diidolakan Ikki, serta Toudou Touka, siswi yang telah diakui sebagai ksatria terkuat yang pernah dimiliki Hagun.

Intinya, karakterisasi seri ini di luar dugaan benar-benar tak biasa. Memang masih agak hit or miss buat sebagian orang. Tapi untuk seri-seri aksi/fantasi/komedi/adaptasi LN sejenisnya, para karakter di Rakudai Kishi no Chivalry memang terbilang gampang disukai, dan itu menjadi kekuatan seri ini yang terbesar.

Sedikit catatan biar tak lupa:

  • Kusakabe Kagami, siswi berkacamata yang menempatkan diri sebagai wartawan koran sekolah Hagun, dan selalu bekerja keras untuk bisa mendapat scoop.
  • Shinguuji Kurono-sensei, yang dulu pernah menempati peringkat ketiga sedunia, sekaligus kepala sekolah Hagun yang baru. Dirinyalah pribadi yang memberikan kesempatan baru bagi Ikki, dengan syarat bahwa Ikki harus dapat memenagi seluruh pertandingannya. Ia juga yang memecat seluruh staf yang terlibat penghalangan Ikki pada tahun sebelumnya.
  • Oriki Yuri-sensei, wali kelas Ikki yang pertama memberi Ikki kesempatan untuk bersekolah di Hagun. Karena kondisi fisiknya, ia akan memuntahkan seliter darah setiap hari.
  • Kurashiki Kuraudo, alias Sword Eater, seorang saingan Ikki dari sekolah lain.

Takkan Kubiarkan Siapapun Membantah Identitasku

It’s kinda weird.

Rakudai Kishi no Chivalry karena suatu sebab, tayang pada musim yang sama dengan anime Gakusen Toushi Asterisk yang memiliki banyak sekali kemiripan dengannya. Ini sebenarnya cerita tak asing buat mereka yang kebetulan sedang ‘aktif’ mengikuti perkembangan anime di musim bersangkutan, tapi kayaknya ini tetap patut kusinggung.

Berhubung aku sama-sama mengikuti perkembangan terjemahan versi LN dari keduanya, aku sudah lama menyadari kemiripan antara kedua seri ini. Tapi bagaimana keduanya kemudian tayang di musim yang sama, dengan kemiripan tema, dan sebagainya, seriusan memberikan kesan kalau kedua seri ini sedang ‘diadu.’

Beberapa kemiripannya antara lain:

  • Sama-sama mengetengahkan tentang suatu ajang pertandingan yang para pesertanya saling bertarung dengan kekuatan-kekuatan khusus.
  • Memiliki tokoh utama perempuan seorang putri, yang berambut merah, dan memiliki kekuatan api.
  • Lagu pembuka yang dibawakan sama-sama mengandung frasa ‘brave new world
  • Sama-sama dibuka dengan adegan pertemuan berbau fanservice yang sejenis.

Sekali lagi, kalau ini kebetulan, ini kebetulan yang seriusan aneh. Mungkin ini contoh nyata kalau collective unconciousness umat manusia yang dikemukakan Carl Jung memang benar-benar ada.

Terlepas dari itu, secara pribadi, aku berpendapat kalau Gakusen Toushi Asterisk mempunyai cerita dan pembangunan dunia lebih bagus, tetapi Rakudai Kishi no Chivalry lebih unggul dari segi karakter. Makanya saat dibawa ke bentuk anime, terasa bagaimana Rakudai Kishi no Chivalry sepertinya yang lebih bagus di antara keduanya, meski mungkin penilaian ini agak kurang adil berhubung cakupan cerita Asterisk lebih panjang dan durasinya sejak awal direncanakan sebanyak dua cour.

Pastinya, aku awalnya tak berharap banyak pada seri ini. Pada bagian-bagian komedi dan fanservice-nya, tanggapanku juga lumayan biasa. Tapi kemudian aku tersadar betapa ada bagian-bagian tertentu yang berhasil membuatku agak berpikir. Pertamanya, pada adegan-adegan saat Ikki dan Stella berusaha memperjelas keinginan dan perasaan mereka terhadap satu sama lain. Tapi lalu juga pada bagian-bagian ketika Ikki sampai tertelan oleh kelemahan mentalnya sendiri saat berhadapan dengan trauma lamanya; atau ketika ia pada satu titik mulai meragukan kata-kata yang pernah disampaikan Kurogane Ryoma, kakek buyut yang dulu mengajarkannya untuk tak pernah menyerah dan selalu bersikap kuat.

Di akhir, aku benar mesti mengakui kalau seri ini termasuk bagus.

Mereka enggak bercanda. Kalau misalnya aku mau merekomendasikan suatu anime adaptasi LN untuk mereka yang awam dengan genre ini, Rakudai Kishi no Chivalry benar-benar jadi satu pilihan yang ideal.

Dalam Satu Serangan

Adaptasi animenya sekali lagi, berakhir pada sekitaran cerita buku ketiga, tatkala Ikki akhirnya diakui sebagai orang terkuat di Hagun, yang menjadi perwakilan mereka di ajang Seven Star Sword Art Festival. Ceritanya berakhir dengan nuansa positif, dan secara pas menutup character arc yang dijalani Ikki di sepanjang ceritanya.

Tamatnya sebenarnya agak mengejutkan buatku. Selaku pemerhati anime-anime adaptasi LN, instingku seperti mengingatkan ada sesuatu yang enggak biasa.

Lalu pas kuperiksa terjemahan novelnya, ternyata benar juga. Tamatnya agak beda, berhubung cerita pada buku keempatnya akan langsung nyambung dengan bagian cerita berikutnya yang mulai memaparkan tentang masa lalu Alice. Lalu dari sana, ceritanya akan menyambung lagi dengan pembeberan jati diri Kurogane Ouma, kakak lelaki Ikki dan Shizuku yang di masa lalu menghilang tanpa jejak.

Perkembangannya, yang kali ini berlatar di ajang pertandingan Seven Star Sword Art Festival yang sesungguhnya, terbilang menarik. (Ada juga pemaparan soal Edelweiss, Blazer terkuat di dunia yang seorang kriminal, tapi karena saking kuatnya ia tak tersentuh oleh hukum.)

Yah, perkembangan novelnya juga belum kuikuti lagi sih. Jadi biar soal itu kubahas lain kali.

Hmm, apa bakal ada season keduanya atau enggak?

Yah, kayaknya enggak sih. Tapi kita selalu bisa terus berharap.

(Eh? Aku enggak ngebahas sama sekali soal kekuatan para tokohnya? Iya juga ya. Yah, sekali ini enggak usah deh.)

Penilaian

Konsep: C; Visual; A-; Audio: B+; Perkembangan: B+; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A

16/01/2016

Madan no Ou to Vanadis

Waktu aku kecil, aku suka cerita Robin Hood. Selain karena kepahlawanannya, aku suka karena kagum dengan kehebatannya memanah.

Waktu itu, Mahabarata masih terlalu ribet buatku. Aku belum cukup umur buat nonton First Blood. Seri TV Arrow jelas belum ada. Avengers juga sama sekali belum menonjolkan Hawkeye. Makanya, referensi yang kutahu soal orang yang jago panah itu cuma Robin Hood.

(Belakangan aku tahu kalau pemanah hebat di masa abad pertengahan, yang mengawali legenda ‘memanah apel di atas kepala orang,’ sebenarnya adalah William Tell.)

(…Melihat ke belakang, dunia perkomikan Amerika di dekade 90an itu aneh, man.)

(Sebenernya, lagu Bryan Adams yang jadi soundtrack film Robin Hood: Prince of Thieves-nya Kevin Costner juga membantu.)

Makanya, mungkin karena itu aku merasakan nostalgia aneh saat pertama sadar Madan no Ou to Vanadis itu tentang apa.

Madan no Ou to Vanadis (judulnya kira-kira berarti ‘raja tembakan/peluru sihir dan Vanadis’, dengan ‘Vanadis’ atau senki di sini adalah istilah yang berarti war maiden, atau ‘gadis perang/srikandi’), atau yang juga dikenal dengan judul Lord Marksman and Vanadis (‘bangsawan ahli tembak/panah dan Vanadis’), keluar sebagai anime pada tahun 2014 dengan produksi animasi yang dilakukan Satelight. Ceritanya diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Kawaguchi Tsukasa dengan jumlah episode sebanyak 13. (Salah satu novel one shot karya Kawaguchi-sensei, Leena’s World Map, telah diterbitkan di sini oleh Shining Rose Media lhoo.) Arahannya dilakukan oleh Sato Tatsuo (sutradara veteran Moeretsu Pirates, Stellvia, Rinne no Lagrange, serta Kidou Senkan Nadesico) yang selain sebagai sutradara, juga menangani sendiri naskahnya.

Novel aslinya diterbitkan oleh Media Factory di bawah label MF Bunko J. Ilustrasi dan desain karakternya yang menawan aslinya dibuat oleh Yoshi☆o (sebelum kemudian diteruskan oleh Katagiri Hinata mulai buku kesembilan). Saat ini kutulis, novelnya telah terbit sebanyak 13 buku.

Aku sendiri pertama tahu tentang seri ini dari adaptasi manganya yang dibuat Yanai Nobuhiko. Aku terkesan oleh artwork dan gaya desain karakternya. (Oke, alasan sebenarnya, berhubung aku punya a thing for maids, adalah karena karakter Titta.) Tapi yang kemudian membuatku jadi benar-benar menyukainya adalah besarnya kadar world building di dalamnya dibandingkan seri-seri lain yang sejenis.

Sebenarnya, aku juga ingin mengulas tentang ini lebih awal. Cuma aku sibuk oleh urusan kantor. Lalu pas Natal kemarin, kesehatanku juga sempat drop, dan makanya sejumlah postingan yang mau kusiapkan jadi terbengkalai.

Jadi, uh, sori soal itu.

Menengadah Melihat Bintang-bintang di Langit

Madan no Ou to Vanadis berlatar di suatu versi alternatif dari benua Eropa.

Ceritanya dibuka dengan kekacauan yang menimpa Kerajaan Brune, semenjak penguasanya, Raja Faron, dilanda suatu penyakit misterius. Sakitnya sang raja memicu perebutan kekuasaan antara dua bangsawan (bergelar ‘duke’) yang paling berpengaruh: Felix Aaron Thenardier dan Maximilian Bennusa Ganelon, yang sama-sama memperebutkan posisi sebagai penguasa de facto Brune. Lalu ini memuncak lewat timbulnya konflik dengan negara tetangga Brune, Kerajaan Zchted (sebenarnya, aku masih belum yakin apa mereka statusnya kerajaan atau kekaisaran), yang telah mengirim pasukan mereka untuk bertemu pasukan Brune di Padang Rumput Dinant.

Tokoh utama seri ini sendiri adalah Tigrevurmud Vorn, seorang bangsawan berkedudukan relatif rendah (bergelar ‘count’) yang berkuasa di suatu wilayah Brune yang bernama Alsace. Posisi Alsace bersebelahan dengan Leitmeritz, wilayah Zchted dari mana pasukan musuh datang. Sehingga dengan ditemani penasihatnya yang sudah berusia lanjut, Bertrand, Tigre mau tak mau harus memimpin rakyatnya maju ke medan pertempuran.

Namun setiba di Dinant, sekalipun menang dari segi jumlah, lini belakang Brune diserang mendadak oleh pasukan Zchted pimpinan Eleonora Viltaria, satu dari tujuh Vanadis (Senki)—tujuh perempuan jelita yang telah terpilih oleh tujuh pusaka Viralt (ryuuguu/dragon tool) berkekuatan naga, untuk menjadi panglima perang Zchted—yang sekaligus adalah penguasa wilayah Leitmeritz. Pasukan Brune dengan segera kocar-kacir. Lalu kabar mulai tersiar bahwa pangeran putra mahkota Brune yang turut serta di sana ikut tewas.

Namun, tak banyak diketahui di luar Alsace, Tigre adalah orang yang sangat jago memanah.

Brune adalah negara yang sangat menaruh kehormatan dalam keksatriaannya, dan para bangsawannya bahkan memandang remeh para pemanah karena disamakan dengan kaum pemburu dari rakyat jelata. Karenanya, menjadi kejutan sangat besar saat Tigre, yang menjadi satu-satunya orang yang masih bertahan hidup di kelompoknya, nyaris berhasil membunuh Elen dengan sisa anak-anak panahnya.

Terkesan dengan kehebatan Tigre, Elen memutuskan untuk tidak membunuh Tigre yang telah kehabisan anak panah, dan justru membawanya kembali sebagai tawanan ke Leitmeritz. Sekalipun keputusannya tersebut tidak langsung disetujui oleh Limalisha, ajudan Elen, serta anak-anak buahnya yang lain.

Garis besar Madan no Ou to Vanadis mengisahkan tentang tumbuh kembangnya hubungan antara Tigre dan Elen, yang dari penguasa dan tawanan, mulai berkembang menjadi rekan seperjuangan di medan perang, dan akhirnya (agak belakangan) sepasang kekasih.

Elen di awal cerita berupaya untuk mendorong Tigre untuk berganti pihak. Elen, yang berjiwa bebas dan kadang bisa berangasan, ingin menjadikan Tigre sebagai ‘miliknya’ dalam artian sebagai salah satu jendralnya di Leitmeritz. Terutama sesudah Tigre membuktikan sendiri kemampuan memanahnya yang benar-benar fenomenal. Ditambah kesungguhan yang dimilikinya yang kemudian juga meraih simpati dan kekaguman anak-anak buah Elen sendiri.

Namun berbeda dari kebanyakan bangsawan Brune, Tigre adalah sosok yang memang peduli terhadap rakyatnya. Sehingga meski tawaran Elen benar-benar menarik, Tigre mendapati diri tak bisa menerimanya. Terutama sesudah Bertrand, yang dengan susah payah akhirnya berhasil melacak jejaknya, datang dengan membawa kabar bahwa hilangnya Tigre dipandang ibukota sebagai kekosongan kekuasaan di Alsace. Thenardier kemudian mengutus putranya yang keji, Zion, untuk membawa pasukan demi mengambil alih kepemilikan atas Alsace.

Sadar dengan kehancuran yang dapat terjadi, Tigre membuat kesepakatan dengan Elen demi menyelamatkan Alsace; tanpa sepenuhnya menyadari besarnya dampak dari persekutuan mereka di masa yang akan datang…

Menunduk Melihat Jasad-jasad Mimpi

Adaptasi anime Madan no Ou to Vanadis merangkum cerita buku 1-5 seri novelnya, yang memaparkan berlangsungnya perang sipil Brune.

Dalam perkembangan cerita, timbul komplikasi yang persekutuan Elen dan Tigre akibatkan terkait persekutuan bertahun-tahun keluarga Thenardier dengan seorang Vanadis lain, yakni Ludmila Lourie, penguasa wilayah bersalju Olmütz. Hal tersebut mendatangkan konflik antara Elen dan Mila, yang notabene berasal dari negara yang sama.

Kondisi semakin genting saat Tigre dicap pengkhianat karena aliansinya dengan Zchted, yang terjadi saat sang raja kehilangan akal sehatnya sepeninggal keturunannya. Ini berujung pada bagaimana persekutuan Alsace-Leitmeritz harus berhadapan dengan Orde Ksatria Navarre pimpinan Roland, pemilik pedang pusaka Durandal (yang memiliki kekuatan setara Viralt) yang dikenal sebagai ksatria terhebat Brune.

Baru akhirnya, seiring bertambahnya pengaruh dan popularitas Tigre di kalangan rakyat Brune yang tertindas, semua memuncak dengan konfrontasi terakhir melawan kubu Thenardier dan kubu Ganelon, yang sekaligus membawa kita kembali pada apa sesungguhnya yang terjadi dalam pertempuran di Dinant…

Sepanjang cerita, kita juga diperkenalkan pada satu per satu Vanadis dari Zchted, serta pengaruh yang mereka bawa terhadap konflik di Brune sehubungan keterlibatan Elen di sana. Masing-masing dari mereka meliputi:

  • Eleonora Viltaria, penguasa wilayah Leitmeritz; Viralt miliknya adalah pedang panjang Arifar yang memiliki kekuatan angin. Sebelum terpilih oleh Arifar, semasa kecilnya ia dibesarkan oleh sepasukan tentara bayaran, dan karenanya tak asing dengan medan peperangan. Preferensinya adalah turut maju ke garis depan bersama pasukannya dengan berkuda.
  • Ludmila Lourie, penguasa wilayah Olmütz, Viralt miliknya adalah tombak pendek Lavias yang memiliki kekuatan es. Berbeda dari Viralt lain yang memilih pemilik barunya hampir secara acak, Viralt miliknya telah diwariskan turun temurun dalam keluarganya, dan Mila menjadi Vanadis tak lama sesudah ibunya wafat. Ia ahli siasat yang menjadikannya Vanadis yang paling lihai dalam pertahanan. Ia juga penyuka teh.
  • Sofya Obertas, penguasa wilayah Polesia, ahli negosiasi dan pengumpulan informasi yang tidak menyukai pertumpahan darah. Karena itu juga, ia berperan sebagai penengah sekaligus duta bagi para Vanadis. Viralt miliknya adalah tongkat emas bernama Zaht yang berkekuatan cahaya, yang memiliki kemampuan pertahanan serta penyembuhan.
  • Alexandra Alshavin, penguasa wilayah Legnica, yang dikenal sebagai Vanadis paling senior sekaligus terkuat untuk generasinya. Namun demikian, Sasha menderita suatu penyakit darah yang telah turun-temurun melanda semua perempuan dalam keluarganya, yang membuatnya tahu kalau ia takkan berusia panjang. Kondisinya memburuk dalam kurun waktu terakhir, sehingga perannya sebagai penengah para Vanadis belakangan digantikan Sofy. Dirinya adalah Vanadis yang paling dekat dengan Elen. Viralt miliknya adalah belati kembar Bargan yang berkekuatan api, yang bersikeras enggan meninggalkan dirinya dan memilih pemilik baru sekalipun penyakitnya telah semakin parah.
  • Elizaveta Fomina, penguasa wilayah Lebus, Vanadis yang dikenal karena ambisinya yang kuat dan matanya yang berbeda warna. Karena masa lalu yang penuh derita sebagai anak haram seorang aristokrat korup, Liza memiliki suatu dorongan alami untuk terus mencari kekuatan. Viralt miliknya adalah cambuk panjang Valitsaif berkekuatan petir yang juga dapat berubah menjadi tongkat.
  • Valentina Glinka Estes, penguasa wilayah Osterode sekaligus Vanadis misterius yang asal usulnya tidak diketahui oleh para Vanadis lain. Viralt miliknya adalah sabit besar Ezendeis yang berkuasa atas kehampaan dan bayangan, yang juga memungkinkannya berpindah tempat dalam sekejap. Sebaya dengan Sofy, namun di balik tampilannya yang ramah dan riang, Valentina menyembunyikan kecerdasan dan ambisi yang teramat besar. Dalam perkembangan cerita di novelnya, terungkap bahwa dirinya keturunan bangsawan Zchted, sehingga walau kecil, dirinya tetap berpeluang untuk mewarisi tahta.
  • Olga Tamm, penguasa wilayah Brest, sekaligus Vanadis berusia paling muda, yang terpilih menjadi Vanadis di usia 12 tahun. Viralt miliknya adalah kapak bernama Muma yang memiliki kekuatan tanah dan dapat berubah ukuran. Berasal dari suatu suku di padang rumput, dirinya terampil bertarung meski belum pernah ke medan perang. Meski ditampilkan mencolok di pembuka dan penutup anime, Olga belum berperan dalam cerita karena dikisahkan tengah berkelana.

The Knight of Moonlight

Para Vanadis dikisahkan berkaitan erat dengan awal mula negara Zchted. Penguasa pertama Zchted konon adalah sesosok naga yang membentuk Zchted sesudah akhir suatu perang besar, dan ketujuh Vanadis generasi pertama adalah permaisurinya. Namun di masa kini, raja penguasa Zchted, Viktor Artur Volk Estes Tsar Zhcted, memiliki hubungan kurang baik dengan para Vanadis karena ketakutan terpendamnya terhadap besarnya kekuatan mereka.

Masing-masing Viralt juga diindikasikan bernyawa dan punya kemauan masing-masing. Lalu selain ketujuh Viralt, ada juga pusaka-pusaka lain dengan kekuatan serupa namun asal-usul sudah terlupakan, seperti pedang Durandal milik Roland serta Busur Hitam misterius yang diwariskan turun-temurun sebagai pusaka keluarga Tigre.

Ada world building menarik yang lumayan di luar dugaan untuk seri sejenisnya. Ceritanya lebih ‘dalam’ dari yang sekilas terlihat, lewat penjabarannya terhadap berbagai perkembangan medan perang serta sejumlah misteri lain yang belum terjelaskan. Beberapa yang menonjol meliputi kuil misterius dewi kematian Tir na Va yang tiba-tiba ditemukan Tigre bersama Titta, dan kaitannya dengan Busur Hitam; serta bagaimana pria misterius yang memberikan naga-naga pada Thenardier; sekaligus Duke Ganelon sendiri, mungkin sebenarnya bukan manusia…

Kalau hanya menilai dari gaya ilustrasi dan desain karakternya, mungkin kau takkan menyangka cerita Madan no Ou to Vanadis bisa sedalam ini.

Soal desain karakternya sendiri? Ahaha, ada beberapa temanku yang terganggu. Tapi aku pribadi tak terlalu mempermasalahkannya.

…Uh, terlepas dari itu…

Bicara soal teknis, aku seriusan kagum dengan bagaimana Sato Tatsuo-san berhasil merangkum cerita lima buku ini dalam 13 episode. Pacing-nya terbilang bagus lagi. Walau demikian, berhubung detil perkembangannya yang perlu banyak dipaparkan, cara penyampaiannya mungkin takkan cocok dengan sebagian orang. Kau perlu sedikit imajinasi untuk benar-benar menikmatinya. Beliau banyak menggunakan potongan-potongan CG untuk menggambarkan situasi di medan perang, dengan memakai model bidak-bidak catur untuk mewakili setiap pasukan, lengkap dengan narasi dan sebagainya. Jadi kuakui, memang perlu sedikit waktu untuk terbiasa.

Daripada tampilan perang besarnya sendiri, rasanya seperti kita kerap diberi hanya ringkasannya saja. Meski begitu, untuk memajukan plot, cara ini efektif. Ditambah lagi, tampilan aksi yang sesungguhnya lebih ada pada permainan senjata para Vanadis serta kemampuan memanah Tigre.

Kemampuan memanah Tigre di sini maksudku bukan hanya ‘mengenai sasaran dari tempat yang benar-benar jauh.’ Dengan panahnya, dia lebih kayak, melakukan hal-hal gila yang membuat orang-orang di sekelilingnya bereaksi, “Enggak mungkin!” gitu.

Bicara soal visual, berhubung CG banyak dipakai untuk penggambaran pasukannya yang banyak, hasil akhirnya agak campur aduk. Ada bagian-bagian yang enak dilihat sih. Lalu terlepas dari beberapa aksinya yang keren, ada juga bagian-bagian yang kurang. Untuk benar-benar bisa menghargai, kurasa kau perlu bisa memvisualisasikan ulang  perkembangannya di dalam kepalamu sendiri. Buat aku sendiri, aku sebenarnya lumayan suka apa yang disampaikan.

Aku tak bisa bicara banyak soal audionya. Tapi lambat laun lumayan terasa bagaimana musiknya memang bagus. Lagu pembuka yang dibawakan Suzuki Konomi, serta penutup yang dibawakan Harada Hitomi sama-sama punya iringan orkestra yang memberikan warna kolosal. Rasanya kayak aku enggak langsung suka, tapi ke sananya terasa bagus.

Lalu satu hal yang kusadari; animenya untuk suatu alasan terasa benar-benar lebih serius ketimbang manganya, tapi tanpa melepas selingan komedi serta fanservice-nya. Sejujurnya, ini kali pertama aku menemukan adaptasi anime yang terasa kayak gini.

Kalau Kau Memperlihatkan Kebanggaan, Maka Aku Akan Menunjukkan Kegigihan

Akhir kata, aku telah jadi penggemar seri ini.

Aku suka tema perjuangan yang disampaikannya. Aku suka intrik-intriknya. Aku terkesan dengan penggambaran seperti apa kau harus bangkit kalau melihat orang-orang yang nyata jahatnya sedang mengurus negaramu.

Aku juga suka dengan bagaimana ceritanya secara berkala menampilkan semakin bertambahnya jumlah simpatisan Tigre. Dari yang hanya segilintir, tapi lama-lama jadi banyak, dari tempat-tempat tak disangka, dan semua berjuang untuk tujuan yang sama. Lalu tentu saja, soal bagaimana memiliki keteguhan di hadapan kondisi-kondisi tersulit sekalipun.

Aku tak bisa sepenuhnya bilang ini bagus. Tapi di sisi lain, aku terlanjur sulit buat enggak suka.

Ada satu adegan tertentu yang sempat bikin aku mikir pas ada Tigre ditanya “Apa kau berjuang untuk tujuan yang benar?” Tigre bereaksi dengan tak langsung memberi jawaban. Lalu di adegan itu aku terpikir bagaimana di masa sekarang kita benar-benar kerap susah membedakan mana yang benar dari mana yang salah. Semula kupikir, untuk bisa tahu, yang kau perlukan itu hanya sekedar ilmu. Tapi setelah melihat adegan satu itu, kusadari mungkin ada sesuatu yang lebih dari itu…

Kalau kau berminat mengikuti terjemahan bahasa Inggris novelnya yang dibuat fans, kusarankan untuk segera mencari dan menyimpannya. Terutama sesudah Kadokawa meluncurkan tuntutan DMCA belum lama ini yang ternyata mencakup semua bahasa, dan bukan bahasa Inggris saja.

Kayaknya enggak akan ada season duanya sih. Tapi kurasa itu enggak masalah.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: B; Audio: A; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A