Archive for ‘shoujo’

07/08/2015

Orange

Maaf lama enggak nulis. Bahkan di musim liburan kemarin, weird things kept on happening one after another.

Terlepas dari itu, bahasan kali ini adalah manga shoujo Orange (‘jingga’, atau ‘jeruk’) karya Takano Ichigo, yang belum lama ini telah dibuat versi live action layar lebarnya (dengan Tsuchiya Tao dan Yamazaki Kento sebagai pemeran utamanya). Manga ini pertama diserialisasikan bulanan di majalah Bessatsu Margaret punya Shueisha di tahun 2012, sebelum kemudian pindah ke majalah Monthly Action (yang anehnya, bergenre seinen) milik penerbit Futabasha pada tahun 2013, dan dijadwalkan akan tamat serialisasinya sebentar lagi. Alasan aku menulis ini mungkin ada kaitannya dengan isu penyesalan yang agak melanda beberapa teman di sekelilingku belakangan.

Yeah, tema manga satu ini sedikit banyak tentang itu.

Semua orang punya penyesalan. Ada orang yang seluruh masa lalunya menjadi penyesalan. Orang yang hidupnya seolah didefinisikan oleh penyesalan itu. Lalu ada juga orang-orang yang menjadikannya sebagai landasan untuk terus maju.

…Atau merasa bego.

Entahlah.

Tapi terlepas dari semuanya, sebelum aku mulai, biar aku nyatakan dulu: manga ini beneran bagus. Ini salah satu manga shoujo paling bagus yang pernah aku baca. Aku sama sekali enggak kaget dengan gimana seri ini akan diangkat menjadi film drama. Artwork-nya beneran keren dan nuansa dunia dan karakternya dapet. Karena temanya yang tentang penyesalan itu, awalnya cerita ini agak susah buat kubaca (karenanya aku menunda-nunda untuk membahas ini, walau sejak akhir tahun lalu, seri ini sudah diterjemahkan di sini oleh M&C). Tapi sesudah dipaksain, hasilnya beneran memikat.

…Uh, yeah, ceritanya agak sedih.

Emang mungkin bikin cerita soal penyesalan tapi membuatnya enggak sedih?

Tapi itu tak menutup kemungkinan kalau ceritanya akan berakhir dengan memuaskan kok.

Surat

Orange berlatar di kota Matsumoto, di perfektur Nagano. Pada musim semi saat ia berusia 16 tahun, pada hari pertama tahun ajaran baru, seorang gadis pemalu bernama Takamiya Naho, yang memiliki hobi menulis diary, mendapat surat dari dirinya sendiri yang berada sepuluh tahun di masa depan.

Surat itu datang melalui pos. Bagaimana surat itu sampai ke rumahnya, Naho tak bisa menjelaskan. Tapi saat ia coba baca, surat itu secara tepat menyebut bagaimana hari itu ia telat menyetel alarm sehingga terlambat bangun. Surat itu juga menyebut bagaimana kelasnya hari itu kedatangan seorang murid pindahan dari Tokyo, seorang anak lelaki bernama Naruse Kakeru. Lalu surat itu dengan tepat menyebutkan juga bagaimana Kakeru kemudian mendapat tempat duduk di sebelah Naho.

Kebingungan, Naho mendapati ada beberapa hal yang kemudian disarankan dalam surat itu. Tentang apa-apa yang akan terjadi, tentang apa-apa yang sebaiknya Naho lakukan. Lalu dengan takut sekaligus penasaran, Naho mencoba mengikuti apa-apa yang ditulis di dalamnya.

Seperti soal ajakan Naho dan teman-temannya untuk mengajak Kakeru pulang bersama-sama, sesuatu yang Naho baiknya coba lakukan soal giliran memukul dalam kegiatan softbol pada pelajaran olahraga. Tapi yang terutama membuat Naho tergetar adalah bagaimana surat itu menyebutkan secara tepat bahwa dua minggu sesudah pertemuan pertama mereka, Naho akan jatuh cinta pada Kakeru.

Lalu itupun, ternyata juga menjadi kenyataan.

Hati yang Menyesal Takkan Berubah Sampai Sepuluh Tahun Berikutnya

Agak sayang kalau aku membahas lebih jauh. Karena seri ini seriusan lebih keren kalau dibaca sendiri.

Di samping Naho yang pemalu, tak percaya diri, punya kecendrungan memendam perasaannya (aku merasa aneh menulis ini karena ada seorang teman dekatku yang sifatnya agak seperti dia; apa ada banyak protagonis manga shoujo yang kayak gini? Apa temanku ini enggak sebaiknya menjadi protagonis sebuah manga shoujo aja?!) tapi sebisa mungkin ini menolong orang; serta Kakeru yang jarang memperlihatkan senyumnya, tapi sangat pemerhati; karakter-karakter utama lain yang berperan besar di seri ini meliputi:

  • Murasaka Azusa; teman dekat Naho yang ceria, yang juga menjadi moodmaker di antara mereka
  • Kayano Takako; teman dekat Takako yang cool dan pendiam, dan memiliki aura seorang kakak perempuan
  • Hagita Saku; sahabat lama Azusa yang agak aneh, dan kadang enggak peka terhadap keadaan, tapi tetap termasuk tampan bila kacamatanya dilepas
  • Suwa Hiroto; sahabat dekat Naho dan lainnya, sangat ramah dan terbuka, pandai sepakbola, pemerhati, orang yang pertama berinisiatif untuk mengajak Kakeru menjadi bagian dari mereka, tapi juga yang telah paling lama memperhatikan Naho sebelum Kakeru datang…

Membahas soal teknis, desain karakter dan dunianya benar-benar keren. Kota Matsumoto ini benar-benar ada, dan di sepanjang cerita kita akan dibawa ke berbagai pelosok yang juga didatangi oleh Naho dan kawan-kawannya. Penggambaran pemandangan dan suasananya benar-benar bagus. Selalu ada suatu perasaan lembut yang terbawa dalam penyampaiannya gitu.

Perkembangan ceritanya juga benar-benar mulus. Dengan sedikit demi sedikit mulai diungkap apa-apa sebenarnya yang telah dialami oleh Naho yang di masa depan, yang dibeberkan lewat kilas balik terhadap apa-apa yang sudah terjadi lewat sudut pandang karakter lain. Kenapa surat itu dikirim dan penyesalan apa yang melanda Naho di masa depan menjadi hal yang terkuak secara menarik dengan tempo yang pas.

Karakterisasinya menarik dan simpatik. Bahkan Hagita yang agak bebal pun bisa kita sukai sesudah kita lebih tahu tentang dia. Pembuatan dialognya itu keren. Bagian awal cerita di mana para karakter membahas soal asal nama Azusa seriusan keren, dan kekeranan pengaturan adegan ini terus terbawa di sepanjang cerita.

Seriusan, ini seri drama yang bagus. Walau temanya sekilas seperti sudah biasa, eksekusi ceritanya benar-benar matang dan mengesankan.

Bagian awalnya aja bisa kerasa udah lumayan menohok.

Lalu Suwa merupakan karakter cowok yang…

Argh. Sudahlah.

Ini seri yang akan aku rekomendasikan buat mereka yang suka cerita-cerita seperti ini.

Ah, buat yang penasaran, judulnya mengacu pada sesuatu yang Kakeru berikan atas kebaikan hati yang Naho perlihatkan padanya. Tapi soal itu kubiarkan kalian mencari tahu sendiri.

Kakeru, karena suatu alasan yang benar-benar pribadi, ternyata bunuh diri. Lalu surat itu dikirimkan agar Naho dan kawan-kawannya dapat mencari cara untuk menolong Kakeru.

Iklan
Tag: ,
08/07/2015

Heroine Shikkaku

Belum lama ini, di dekatku ada orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai Aliansi Dunia Ini Suram. Mereka tipe orang-orang yang setiap ada kesulitan, sedikit-sedikit akan mengatakan, “Dunia ini suraam! Dunia ini suraaam!” Sampai aku jadi mikir kalau mereka ingin menjadi penerus ideologi Itoshiki Nozomu-sensei sesudah ia menemui bad end ketika seri manga Sayonara Zetsubou-sensei tamat.

Walau terkesan mendramatisir, aku setuju soal bagaimana dunia ini suram sih. Kelihatannya selalu ada hal-hal enggak enak yang terjadi pada setiap saat, yang kayaknya akan semakin bertambah kalau melihat perkembangan dunia sekarang.

Anehnya, hal-hal tersebutlah yang terpikir olehku saat aku mencoba memeriksa Heroine Shikkaku.

Heroine Shikkaku (‘No Longer (the) Heroine’; ‘bukan lagi sang tokoh utama perempuan’, atau ‘tokoh utama wanita yang gagal’) merupakan seri manga shoujo karangan Kouda Momoko. Seri ini diterbitkan bulanan di majalah bulanan Bessatsu Margaret terbitan Shueisha, berjumlah 10 buku, dan diserialisasikan dari tahun 2010 sampai tahun 2013(?).

Agak mengingatkan pada kasus Strobe Edge dan Ao Haru Ride, aku memeriksa Heroine Shikkaku karena seri ini dikabarkan akan memperoleh film layar lebarnya sendiri pada sekitaran September 2015 nanti, dengan Kiritani Mirei (yang manis dan ekspresif) sebagai karakter utama.

“Naaaaagaaaajimaaaaaaaaaaaaa!” *menangis*

Premis cerita Heroine Shikkaku termasuk sederhana.

Sang tokoh utama, Matsuzaki Hattori, suatu hari syok saat mendapati sahabat cowok dekatnya sejak kecil yang tampan, Terasaka Rita, jadian secara serius dengan seorang gadis berpenampilan datar bernama Adachi Miho.

Terasaka sebenarnya pernah jadian beberapa kali dengan cewek-cewek lain. Tapi biasanya dengan sepintas Hattori bisa melihat bahwa Terasaka tak benar-benar serius dengan mereka. Kenyataannya, Terasaka dan siapapun ceweknya saat itu pasti akan putus baik-baik tak lama kemudian. Karenanya, Hattori selalu merasa peran sebagai heroine bagi Terasaka pasti lambat laun akan jatuh kembali padanya, berhubung rumah mereka dekat dan keduanya sangat akrab sejak kecil.

Tapi Adachi, yang sebelumnya sempat di-bully oleh anak-anak lain di sekolahnya karena keenggakmenarikannya ini, suatu hari ditolong oleh Terasaka, jatuh cinta, dan tak lama kemudian melakukan confession terhadapnya. Yang kemudian dengan ringannya diterima oleh Terasaka seperti yang biasa dia lakukan. Lalu Hattori sedikit demi sedikit mulai panik saat menyadari bahwa kondisi jadian Terasaka kali ini tidak normal, serta mungkin Adachi lebih pantas menjadi heroine bagi Terasaka daripada dirinya.

Untuk Sesaat Benar-benar Terlihat Seperti Pangeran

Tema dasar Heroine Shikkaku benar-benar terbilang menarik. Ada banyak adegan di awal cerita yang lumayan bisa ‘kena’ ke banyak orang. Terutama dengan penggambaran karakter Hattori—yang notabene secara fisik lebih cantik ketimbang Adachi—yang egonya membuatnya memandang rendah Adachi dan sulit menerima kenyataan yang terjadi.

Hattori jelas-jelas menjadi pihak yang ‘salah’ dalam hal ini. Tapi dengan segala tingkah Hattori yang (ehem) putus asa, menangis, mencoba menyabot hubungan Adachi dan Terasaka, menangis lagi, curhat ke Nakajima Kyouko yang adalah sahabat dekatnya, menangis lagi lagi, lari dari kenyataan, mencoba menjalin hubungan sesaat dengan si playboy ganteng Hiromitsu Kousuke (yang diam-diam agak memusuhi Terasaka), menemukan pencerahan lewat zen(?), sampai melarikan diri dari kenyataan lagi; lumayan mudah buat kita untuk simpati dan mengerti posisinya. Semua dilandasi oleh kegalauan soal apakah ia sebaiknya terus memperjuangkan Terasaka atau lebih baik move on. Lalu kalau aku boleh bicara dari pengalamanku pribadi, itu memang pertanyaan yang agak sukar dijawab.

Heroine Shikkaku semula menarik dibaca sebagai manga komedi karena segala tingkah dan ekspresi Hattori yang di satu sisi agak menyedihkan, tapi di sisi lain lumayan kocak. Gaya gambar Kouda-sensei kerap kali berubah-ubah untuk menyamai kondisi mental Hattori; salah satu yang mencolok saat ia mulai menggambar Hattori (saja) dengan gaya gambar manga shoujo tahun 70an untuk menekankan tekad Hattori untuk bersikap sebagai seorang heroine klasik dan ideal (yang akhirnya gagal total ia lakukan).

Serius, ekspresi Hattori sedemikian beragamnya, mulai dari saat-saat ia selalu menangis minta tolong pada Nakajima (yang merupakan karakter favoritku di seri ini, karena betapa cool-nya dia, walau ia lama-lama exasperated juga dengan sahabatnya ini), yang mana Hattori suka digambarkan dengan gaya ala Nobita di Doraemon; sampai ke saat-saat ia bisa tiba-tiba bangkit karena emosinya dan seakan berubah jadi super saiyan.

Tapi baru pada pertengahan seri, segala sesuatunya benar-benar menjadi serius.

Aku agak susah menjelaskannya, dan lagi, mungkin juga ini cuma aku. Tapi tahu-tahu saja, selain karena ekspresi-ekspresi Hattori, ceritanya juga jadi menonjol karena seringnya ada perkembangan situasi yang agak bikin ternganga. Ternganga dalam artian, “Gyah!” yang bisa bikin mikir, “Dosa apa aku ampe bisa di situasi kayak giniii?” yang pokoknya bisa bikin aneh karena saking ‘Apa-apaan?!’-nya.

…Yah, sebagian situasi itu disebabkan memang karena kebodohan Hattori sih.

Sebenarnya, pada titik ini juga mulai kerasa kalau Kouda-sensei memang tak langsung merencanakan kalau ceritanya bakal sepanjang ini. Ada elemen-elemen cerita yang jadi kerasa dimasukin karena ‘bisa masuk,’ meski kurang sesuai dengan tema awalnya. Tapi aku merasa sudah masuk terlalu jauh buat mundur pada titik ini, sekalipun beberapa perkembangan ini rada bikin enggak nyaman.

…Soalnya, meski agak susah buat aku telan, apa yang dikisahkan memang terasa bisa terjadi pada orang-orang di dekatku sih.

“Kita adalah tokoh utama dalam kisah hidup kita masing-masing.”

Akhir kata, aku lumayan penasaran versi film layar lebar live action-nya nanti akan seperti apa. Apa benar Kiritani-san nanti berhasil meniru keragaman ekspresi Hattori? (Walau kabarnya Hattori memang dimodelkan dari Kiritani-san sendiri sih.)

Kalau kalian tanya soal apa seri ini bagus atau enggak, aku cuma bisa sebatas bilang kalau pastinya, seri ini lebih menonjol dari rata-rata. Soal bagus atau enggak, kurasa yang satu ini agak tergantung kalian. Tapi aku pribadi berpendapat kalau ceritanya akan lebih bagus seandainya Kouda-sensei berhasil memfokuskan ceritanya pada bagaimana Hattori berusaha menyikapi hubungan Terasaka dan Adachi.

Perkembangan situasi aneh yang para karakternya alami ini kayak menandai kalau ceritanya enggak akan melulu soal itu. Jadinya, perkembangan ceritanya itu kayak berkesan di satu sisi, tapi menakutkan di sisi lain gitu.

Memang masih mengikuti trope-trope tipikal sebuah seri shoujo. Tapi keanehan-keanehannya itu benar-benar lumayan mengangkat alis. Mulai dari bagaimana Terasaka terungkap sebenarnya bukan cowok yang ‘baik’ juga, bagaimana Hiromitsu mulai jadi cowok yang lebih baik dan berhenti main cewek karena Hattori (soal ini mungkin sudah agak klise sih), soal Nakajima yang mulai agak-agak bisa dibuat ‘deg’ karena Terasaka, sampai ke soal Adachi yang gara-gara semua drama ini, ternyata berubah dari siswi yang dikenal baik di mata para guru menjadi siswi yang agak ‘kurang baik.’

…Yeah, aku jadi terdiam agak lama sesudah membereskan ini. Soalnya, aku merasa ada beberapa hal yang terasa dibuat terlalu seenaknya pada saat menjelang akhir.

Setidaknya, sesudah memeriksa seri ini, aku jadi tersadar kalau aku lebih suka perempuan berambut pendek ketimbang berambut panjang. Jadi meski membuatku merasa suram, hei, seenggaknya aku jadi tahu satu hal baru tentang diriku sendiri!

Karena temanya, mungkin ini jenis seri yang di sini lebih cocok diserialisasikan oleh Level Comics.

Agak tak biasa buat seri-seri shoujo kayak gini, untuk seri satu ini aku mendapati diri ada di camp Hiromitsu. Mungkin karena itu aku kurang puas dengan akhir ceritanya.

16/03/2015

Ao Haru Ride

….Nama pengarang manga shoujo Sakisaka Io pertama kukenal melalui seri Ao Haru Ride.

Suatu hari, aku merasa tertarik dengan judulnya yang ‘aneh.’ Lalu setelah aku coba baca, aku lumayan terkesima dengan pemaparan ceritanya yang kayak bisa kena ke banyak orang.

Setelah itu, baru aku mulai mencari tahu lebih banyak tentang beliau. Kemudian aku dapati kalau karya-karya beliau sebelumnya—terutama seri Strobe Edge yang membuat beliau terkenal—memang terbilang mengesankan. Tapi aku seriusan baru tahu tentang beliau melalui Ao Haru Ride.

Ao Haru Ride, atau yang juga dikenal sebagai Blue Spring Ride (mungkin kira-kira berarti: ‘perjalanan musim semi biru’, yang dalam hal ini kelihatannya dimaksudkan sebagai ‘perjalanan masa muda’), dimulai dengan bab prolog yang memaparkan gagalnya hubungan cinta pertama di masa kelas 1 SMP antara Yoshioka Futaba dan Tanaka Kou.

Futaba di masa SMP adalah anak perempuan yang manis dan pendiam, dan karenanya sering mendapat perhatian dari anak-anak laki-laki. Tapi hanya Kou seorang, di antara semua anak lelaki di sekolahnya, yang tidak membuat Futaba gentar atau terintimidasi. Mungkin karena Kou pada masa itu, berukuran relatif kecil dari segi badan dan suara, sementara teman-teman lelakinya yang lain relatif berisik. Sampai lambat laun, Futaba menyadari pandangan mata dirinya dan Kou mulai sering bertemu…

Singkat cerita, sebelum ada apa-apa yang sempat dimulai, sekaligus juga di ambang suatu kesalahpahaman, Kou secara mendadak pindah sekolah.

Tak ada yang benar-benar tahu penyebabnya.

Berhubung dirinya termasuk populer di kalangan cowok, Futaba semenjak itu juga mulai dijauhi oleh teman-teman perempuannya yang lain selama dua tahun terakhirnya di SMP. Ia dianggap sombong karena menolak semua cowok yang mendekatinya. Meski alasan sesungguhnya ia bersikap demikian lebih karena dirinya yang masih belum bisa melupakan Kou. Sehingga pada tahun-tahun tersebut, diawali dengan patah hatinya, Futaba menjalani kehidupan sekolahnya di tengah keterasingan.

Aroma Udara Sesudah Hujan

Cerita utama seri ini baru dimulai sesudah Futaba masuk SMA.

Futaba pada masa ini dengan sengaja berusaha menghilangkan sifat ‘anggun’-nya, agar tidak lagi dipandang ‘manis’ oleh anak-anak lelaki di sekelilingnya. Futaba dengan begitu jadi lebih bisa bergaul beberapa anak-anak perempuan lain di kelasnya, sekalipun dirinya sadar persahabatan mereka dengannya lebih bersifat superfisial.

Sampai kemudian, menjelang akhir tahun pertamanya di SMA, Futaba berjumpa kembali Kou. Ternyata Kou selama ini telah satu sekolah lagi dengannya, namun Kou yang ini berbeda jauh dari Kou yang diingatnya dulu.

Kou kini bertubuh jangkung dan memiliki sikap sangat sinis. Meskipun Kou mengakui kalau dirinya pernah suka Futaba pada masa lalu, tapi Futaba yang sekarang sama sekali tidak disukainya. Di samping itu, namanya kini bukan lagi Tanaka Kou, melainkan Mabuchi Kou.

Tanaka Kou yang dulu sudah tak ada lagi.

Tapi semenjak pertemuan itu, sesuatu yang sebelumnya tertahan di masa lalu bagi mereka keduanya secara perlahan mulai kembali bergerak.

Denyutmu Kudengar, Cahayanya Kulihat

Ao Haru Ride pada dasarnya berkisah tentang jalinan hubungan antara Futaba dan Kou kembali, sekalipun sosok mereka kini sudah berbeda jauh dari sosok mereka yang dulu.

Kayak biasa, kalau aku menjabarkannya demikian, kesannya kalau cerita seri ini biasa-biasa saja. Tapi kenyataannya, yang membuatnya bagus adalah eksekusi ceritanya gitu. Meski rentang waktu ceritanya agak panjang, pada setiap babnya selalu terasa seperti ada perkembangan berarti.

Ada beberapa subplot lain yang juga terjalin. Seperti pada bagaimana pertemuan kembali Futaba dan Kou juga mengawali persahabatan Futaba dengan Makita Yuuri, seorang gadis manis bertubuh mungil yang sempat diasingkan di kelasnya seperti halnya Futaba dulu. Serta pada bagaimana sesudah mereka naik kelas, Futaba juga sekelas dengan Murao Shuuko, seorang gadis cantik, tapi dingin dan enggan bergaul, yang memendam perasaan pada guru sekolah mereka, Tanaka Yoichi—yang selama itu ternyata adalah kakak kandung Kou, yang memang sangat mengingatkan Futaba akan Kou di masa lalu dulu. Ada seorang anak lelaki lain, Kominato Aya, yang punya perasaan suka bertepuk sebelah tangan pada Shuuko, tapi nantinya berperan besar pada bagaimana Kou membuka diri.

Kemudian semua menyatu dan bergulir pada bagaimana Futaba menemukan asal muasal rasa sakit yang Kou alami di masa lalunya, yang pada masa kini terwujud pada hubungan Kou dengan sahabat lamanya, Narumi Yui, yang merupakan satu-satunya orang yang juga memahami apa yang Kou dulu alami. Di waktu yang sama, Kikuchi Touma, seseorang yang dengan tulus jatuh cinta pada Futaba yang sekarang, telah bertekad untuk menyembuhkan luka hati Futaba dan membantunya secara perlahan melupakan Kou.

Gampangnya, ini manga tentang masa-masa ketika orang menjadi ‘sulit’ karena apa-apa yang mereka alami dalam hidup mereka. Tapi bagusnya, ceritanya enggak pernah berkembang jadi terlalu dramatis atau aneh. Semuanya benar-benar terpapar dalam cakupan sewajarnya, dan karenanya benaran jadi cerita yang gampang disukai.

Seri ini sebelumnya diserialisasikan secara bulanan di majalah Bessatsu Margaret terbitan Shueisha, sebelum kemudian sempat dianimasikan paruh pertama ceritanya oleh Production I.G. sebanyak 12 episode dengan Yoshimura Ai sebagai sutradara (yang juga berhasil mengeluarkan yang terbaik dari season pertama anime Oregairu). Film layar lebar live action-nya juga pernah dibuat, dengan Honda Tsubasa sebagai Futaba dan Higashide Masahiro sebagai Kou. Lalu pernah dibuat versi light novel-nya yang dipenai oleh Abe Akiko.

Seri ini mencapai puncak ketenarannya pada paruh akhir tahun 2014 lalu. Lalu sayang juga karena kelihatannya masih belum ada pengumuman soal apa season kedua animenya bakal keluar.

Seri ini berulangkali mengangkat tema soal memulai kembali. Soal enggak terikat pada apa yang pernah terjadi. Tentang move on, dsb. Pesan yang disampaikan seri ini biasanya bagus, walau kadang enggak mulus, dan kadang tersampaikan dengan cara yang bisa bikin kau salah paham. Tapi ini bagus. Ini seriusan seri shoujo yang bagus.

Ini cerita yang agak maksa kamu mikir sembari melarutkan kamu pada saat yang sama.

Aku diingatkan pada beberapa pengalamanku sendiri saat mengikuti perkembangan seri ini. Tapi meski apa yang aku ingat relatif pahit, aku mengingatnya bukan dengan cara yang bikin aku enggak nyaman gitu. Makanya, terlepas dari beberapa kelemahan yang mungkin seri ini punya, aku enggak bisa enggak menilainya secara lumayan tinggi.

Kayak pada gimana cepatnya Futaba mengambil keputusan terakhirnya. Kayak gimana Touma sebenarnya termasuk orang yang benar-benar baik. Kayak gimana ada orang yang bisa kita paham sisi baiknya, tapi tetap enggak akan bisa benar-benar kita sukai.

Aku enggak benar-benar bisa ngungkapin kayak gimana rinciannya. Jadi bahasan aku cukupkan saja sampai di sini.

18/04/2014

Strobe Edge

Aku membaca Strobe Edge (‘strobe’ kira-kira berarti ‘bagian cahaya yang lebih terang/berkilat dari lainnya.’ Jadi arti judulnya kira-kira, ‘tepian kilatan cahaya?’ Mungkin mengacu pada citra ‘menyilaukan’ yang dimiliki beberapa tokoh utamanya.) karangan Sakisaka Io belum lama ini.

Ini salah satu manga shoujo lama yang sudah cukup lama dikenal, yang karena satu dan lain hal, kelihatannya masih belum juga akan masuk ke sini.

Aku pertama tertarik pada seri ini sebenarnya lebih karena nama pengarangnya. Sekitar setahun lalu, karena suatu alasan aku mulai memperhatikan perkembangan Ao Haru Ride yang juga dibuat oleh pengarang yang sama, yang masih berlanjut saat ini kutulis. Lalu aku seketika dibuat terkesima oleh teknik penceritaan dan gaya gambar yang dimiliki Sakisaka-sensei.

Apa ya? Beliau jenis pengarang yang karakter-karakternya unik gitu. Kayak, tokoh-tokoh utama yang beliau ciptakan biasanya bukan karakter-karakter yang akan langsung kau sukai. Malah sebaliknya, mungkin bikin kau agak “Heh?” dan baru seiring perkembangan cerita kita mulai memahami dan mengenalinya.

Lalu di samping artwork beliau yang memang menarik, gaya gambarnya mampu menghadirkan campuran emosi yang kompleks gitu. Beliau bisa menyampaikan hal-hal tersirat saat memang sedang ada hal-hal tersirat. Kayak saat ada karakter yang tersenyum tapi sebenarnya sedang menutupi sesuatu gitu.

Aku sempat memeriksa salah satu karya lamanya, yang judulnya aku lupa. Kalau aku enggak salah ceritanya tentang rasa rendah diri seorang cewek terhadap kakak perempuannya. Lalu bahkan sejak awal, ternyata kecenderungan beliau untuk memilih hal-hal rumit kayak gini memang sudah ada.

Balik ke soal Strobe Edge, yeah, judulnya mungkin akan membuat orang awam agak aneh. Aku pribadi teringat akan kapal terbang karena suatu alasan. (Sori, kalo itu sih mungkin Cluster Edge.) Jadi siapapun yang pertama mendengar tentang seri ini mungkin dibuat agak tak yakin soal seri ini sebenarnya tentang apa.

Pertama diterbitkan pada tahun 2007 secara bulanan di majalah Bessatsu Margaret milik Shueisha, durasi Strobe Edge cukup lumayan karena baru berakhir pada tahun 2010.

Aku pertama memeriksa manga ini karena, singkat cerita, aku enggak sabar menunggu kelanjutan Ao Haru Ride. Jadi aku perlu sesuatu (seri shoujo lain, maksudnya) untuk mengalihkan perhatian.

Dibandingkan Ao Haru Ride yang sejak awal bikin aku wow dengan segala hal enggak biasa yang dari awal aku temuin, Strobe Edge lebih dekat ke tipikal manga shoujo , walau sentuhan hal-hal terselubung yang ada padanya lumayan dalem juga.

“Dan pertama kali aku menyadarinya, adalah waktu aku mencobanya sendiri.”

Strobe Edge dibuka secara tak langsung dengan pertanyaan sang tokoh utama, seorang gadis berbadan agak mungil bernama Kinoshita Ninako, tentang apa itu cinta.

Sahabat-sahabat dekatnya, Tsukasa, Noriko (alias Non-chan), Sayu (nama lengkap: Uehara Sayuri), dan Tamaki, dengan seketika menggodanya seputar hubungannya dengan teman sekelas sekaligus sahabatnya semenjak kecil, Korenaga Daiki, yang jelas-jelas memperlihatkan rasa suka terhadap Ninako, dan diyakini oleh teman-teman Ninako lambat laun pasti akan jadian dengannya juga. Tapi Ninako sendiri tak yakin apakah yang dirasakannya terhadap Daiki memang benar adalah cinta. Memang selama ini Ninako akrab dan tak benci terhadap Daiki. Tapi apa iya hanya karena semua orang mengatakannya, maka apa yang dirasakannya terhadap Daiki benar-benar cinta?

Ninako mulai bertanya-tanya tentang hal ini. Terutama sesudah membandingkan perasaannya saat berhadapan dengan Ichinose Ren, anak lelaki berkesan cool yang merupakan cowok terpopuler yang dipuja semua siswi di sekolahnya. Ninako merasa ada sesuatu yang sepertinya berbeda…

Suatu ketika, serangkaian kebetulan di atas kereta membuat Ninako secara tak dinyana berkesempatan mengenal Ren lebih jauh. Sekalipun ia tahu bahwa Ren telah mempunyai pacar cantik yang bekerja sebagai model, sekalipun ia juga tahu bila bertindak lebih jauh mungkin ia akan ‘melangkahi’ kesepakatan yang telah ada antara siswi-siswi di sekolahnya, Ninako lambat laun sadar bahwa perasaan yang dimilikinya terhadap Ren lambat laun semakin tumbuh. Terlebih saat ia mendapati betapa Ren ternyata tak sedingin yang dikira orang-orang…

Strobe Edge pada dasarnya bercerita soal perkembangan hubungan antara Ninako dan Ren di antara orang-orang di sekitar mereka. Ada beberapa hal yang memperumit keadaan. Tapi seiring berjalannya waktu, mereka lambat laun semakin menyadari kalau keduanya memang ‘nyambung’ dengan satu sama lain, sekalipun ada begitu banyak hal yang tak mudah diungkap di antara mereka.

Angin Dengan Aroma Separuh Musim Semi

Walau ini mengangkat tema-tema yang tipikal untuk manga shoujo, seperti yang sudah kusinggung, eksekusi ceritanya emang beneran bagus.

Sebenarnya, aku pernah mengobrol tentang seri ini dengan salah seorang teman perempuanku. Uh, dia mandang aku sebagai gurunya, jadi kurasa buatku dia semacam murid? Eniwei, berhubung temanku yang satu ini lumayan pemalu dan rendah diri, dirinya mengakui bahwa yang paling kena dari Strobe Edge adalah intensnya perasaan unrequited love-nya, serta bayangan-bayangan soal bagaimana seandainya cinta yang terkesan tak kesampaian ini bisa saja menjadi nyata.

Sekali lagi, eksekusi ceritanya itu beneran bagus. Dan hal tersebut seakan enggak tampak dari kesan gambar sampulnya, yang sebaliknya sempat membuatku ngira kalau ini manga tentang persaingan di dunia modelling. (Jangan tanya kenapa aku bisa mikir kayak gini.)

Mungkin cara aku ngungkapin ini bakal terasa agak gimanaa berhubung aku cowok. Tapi Ren digambarkan sebagai tipe cowok berkarisma yang bisa bikin cewek langsung degdegan dan salah tingkah. Mungkin mirip idol?

Sekali lagi, aku cowok. Jadi aku engga terlalu memahami soal ini.

Maksudku, aku bahkan pernah suatu saat sangsi soal apa hal kayak gini beneran mungkin terjadi.

Tapi suatu saat pas aku SMA, ceritanya pernah ada syuting sinetron di dekat sekolahku, lalu kuperhatikan ada seorang siswi yang hanya terdiam seorang diri sembari terpana memperhatikan tampang si pemeran cowok utamanya. Jadi, yea, kurasa hal-hal kayak gini memang terjadi.

Maksudku, for better or for worse, Ren digambarkan sebagai seseorang yang meninggalkan impresi yang begitu kuatnya ke cewek-cewek di sekelilingnya, sampai-sampai mereka pada tersesat dalam persepsi mereka masing-masing. Sehingga bila dibandingkan dengan orang kayak gini, Ninako yang mungil dan tak terlampau bisa dibilang cantik wajar saja bila merasakan dilema.

Lalu ada cukup banyak dilema yang kerasa nyata yang ditampilkan di cerita (enggak semuanya, tapi cukup banyak). Mulai soal Ren yang sebenarnya sudah punya pacar tadi; soal bagaimana Daiki memandang Ninako berharga karena telah menjadi dukungan emosionalnya saat kedua orangtuanya bercerai; soal hubungan Ren dengan cowok tampan lain, si playboy di sekolah, Andou Takumi, yang menyadari ada yang berbeda pada Ren setiap kali ada kaitannya dengan Ninako; perasaan Sayu terhadap Daiki bila memang Ninako menganggapnya hanya teman; serta kenyataan bahwa pacar Ren ternyata tak lain adalah Korenaga Mayuka, kakak perempuan Daiki sendiri.

Satu yang kusukai dari Strobe Edge adalah perkembangannya yang enggak bikin ilfil. Semua karakternya sama-sama tumbuh gitu, dengan kesemuanya menyadari kelemahan dan kesalahan masing-masing.

Teman-teman Ren, Miyoshi Manabu alias Gacchan (badan agak kecil, tapi selalu ceria), dan Terada Yuutaro alias Yuu-kun (pendiam, ramah, berkesan dewasa), menyadari perubahan yang dialami Ren dan mencoba membuat yang bersangkutan menyadarinya sendiri. Tapi sikap berbeda yang mereka ambil membawa dampak dan implikasi masing-masing. Mulai dari soal bagaimana Ren bersikeras untuk bertahan bersama Mayuka sampai ke soal Andou yang menghentikan cara hidup main-mainnya karena mulai suka secara serius terhadap Ninako.

Lewat apa yang dirasakan oleh Ren dan Sayu, diangkat tema soal bagaimana menerima dan menyikapi cinta lama dibandingkan cinta baru.

Lalu semua memuncak pada bagaimana Ninako berkeinginan menengahi Andou dan Ren, serta memperbaiki hubungan lama yang pernah ada antara keduanya.

Ada juga beberapa bab sampingan yang menengahkan cerita-cerita para karakter lain.

Jadi secara umum, yeah, buat ukuran komik cewek, it’s a pretty good read. Ceritanya termasuk jenis yang membuka pikiran dan sudut pandang. Memang enggak sekuat Ao Haru Ride. Tapi aku seriusan agak heran karena merasa seri ini tak setenar seharusnya.

Dengan pulihnya gejala-gejala withdrawal terhadap shoujo manga yang kualami, aku kemudian mendapati pengumuman bahwa Ao Haru Ride akan diangkat jadi anime sekaligus film layar lebar pada musim panas 2014 yang akan datang. Wow, itu sesuatu yang enggak kusangka! Tapi yeah, kurasa itu berita bagus.

(Mungkin karena aku cowok, tapi berlawanan dengan pendapat teman perempuanku di atas, aku lumayan bisa simpati terhadap apa yang dirasakan karakter Sugimoto Mao. Tapi sekali lagi, mungkin itu karena aku cowok.)

24/07/2013

Kare Kano

Kareshi Kanojo no Jijou, biasa disingkat Kare Kano, atau dikenal juga sebagai His and Her Circumstances (kira-kira berarti ‘keadaan si cewek dan keadaan si cowok’) merupakan salah satu seri shoujo pertama yang pernah kuikuti. Seri ini berawal dari manga yang dibuat oleh Tsuda Masami. Durasinya cukup panjang (21 buku), dan bertahun-tahun lalu (2007?) sudah diterbitkan sampai di sini sampai tamat oleh MnC. Genre ceritanya drama komedi romantis. Tapi seiring perkembangan cerita, entah disengaja atau enggak, muncul muatan psikologis lumayan banyak di dalamnya, yang secara menonjol bisa membuat ceritanya jadi lumayan gelap. Penerbit aslinya Hakusensha dan selama di Jepang diserialisasikan di majalah komik LaLa mulai tahun 1996.

Aku sendiri pertama kenal judul ini lewat tayangan animenya.

Animenya sendiri, yang keluar di sekitar tahun 1998 terbilang agak istimewa. Produksinya dilakukan oleh studio animasi Gainax dan disutradarai tak lain oleh Anno Hideaki yang saat itu telah terkenal sebagai sutradara anime Neon Genesis Evangelion (dan kemudian oleh Tsurumaki Kazuya, soal ini akan kubahas di bawah). Terkait dengan muatan psikologisnya tadi, ditemukan lumayan banyak elemen penyutradaraan yang serupa dengan yang ditemukan pada anime seri TV orisinil Evangelion. Cerita animenya sendiri dengan patuh lumayan mengikuti cerita di manganya, sehingga inti ceritanya, anehnya, menurutku enggak beda-beda amat; sekalipun dengan rasa dan nuansa Evangelion yang dimiliki di dalamnya.

“Catatan: Dalam beberapa detik lagi, bersiaplah buat ngebaca cepet, dan maksudku di sini bener-bener cepet.”

Cerita dibuka dengan diperkenalkannya kita terhadap dua orang siswa yang hanya dapat digambarkan sebagai murid teladan sekaligus idola sekolah: Miyazawa Yukino dan Arima Soichirou. Dua orang yang seakan ‘sempurna’ baik dalam hal penampilan, pergaulan, maupun nilai-nilai pelajaran ini merupakan siswa kelas satu baru di SMA mereka, yang seketika menarik perhatian dan kekaguman para siswa lain.

Walau begitu, di balik semua kesempurnaannya, Yukino sebenarnya orang yang manja, berantakan, serta keras kepala bila di rumah. Kesehariannya hanya dipakai untuk belajar habis-habisan demi mempertahankan nilai-nilainya. Bagi Yukino, memperoleh nilai bagus akan mendatangkan pujian dari lingkungannya, dan pujian-pujian dari orang-orang di sekitarnya ini yang ia merasa perlukan untuk ‘bertahan hidup.’

Walau demikian, meski telah berusaha keras, untuk pertama kali dalam hidupnya, Yukino mendapati dirinya tersingkir dari posisi rangking satu oleh Arima. Merasa kegagalannya memperoleh rangking satu sebagai celaan terhadap harga dirinya, Yukino (di belakang punggung semua orang) kemudian bersumpah untuk menjatuhkan Arima dan merebut kembali posisi rangking satu darinya.

Tapi kemudian, sesuatu yang tak ia sangka terjadi. Arima tiba-tiba saja menyatakan rasa sukanya terhadap Yukino.

Yukino, yang sama sekali tak memperhitungkan hal ini, pada awalnya mengira bahwa dengan berhasil membuatnya jatuh cinta, dirinya telah berhasil ‘menundukkan’ Arima. Tapi di saat yang sama, ia juga mulai ragu tentang apa sesungguhnya yang ia rasakan terhadap dirinya.

Sebuah omongan basa-basi dari Yukino secara konyol berujung pada bagaimana Arima kemudian mengetahui rahasia kelakuan Yukino yang sesungguhnya. Arima kemudian memanfaatkan pengetahuannya ini untuk memaksanya ikut membantu-bantu menangani urusannya di Dewan Siswa.

Hubungan di antara mereka menegang. Sebab Yukino merasa dimanfaatkan sekaligus dipermainkan.

Tapi pada titik ini pula, Yukino juga mulai menyadari bahwa Arima sendiri mungkin sebenarnya bukan pribadi seperti yang semua orang bayangkan…

Dari sana, hubungan antara keduanya, dan teman-teman mereka, kemudian bermula.

Aku Belum Mati Wooi!

Mungkin ini terdengar aneh. Tapi aku sempat lupa dengan keberadaan seri ini pada beberapa tahun terakhir. Padahal Kare Kano termasuk salah satu seri yang paling mempengaruhi pola pikirku dulu, dan sedikit banyak mengubahku menjadi aku yang sekarang.

Aku teringat soal seri ini sesudah menulis soal Evangelion tempo hari. Lalu kalau mengingat lagi apa yang disampaikan dalam seri itu sekarang, jujur saja aku merasa agak terbebani. Soalnya Kare Kano memaparkan orang-orang muda yang menjalani hidup mereka secara penuh dan akhirnya berhasil mewujudkan mimpi-mimpi mereka setelah melampaui berbagai rintangan. Baru di usia sekarang aku menyadari betapa hebatnya tokoh-tokoh di seri ini, dan terus terang saja, itu menyebalkan.

Itu teramat sangat luar biasa menyebalkan.

Bicara soal ceritanya sendiri, ada lumayan banyak hal yang tak disangka di dalamnya sih. Kemudian tokoh-tokohnya bertambah, kemudian ceritanya terus berkembang dan berkembang. Sehingga walau sempat ke mana-mana untuk mengklarifikasi hal-hal tertentu tentang tokoh-tokoh lain di sekitar Yukino dan Arima, semuanya akan kembali berpusar pada mereka berdua, dan cerita berakhir dengan lumayan memuaskan lewat pemaparan nasib mereka sekitar 15 tahun sesudah pertemuan pertama keduanya.

Kembali bicara soal cerita, Arima, seperti Yukino, rupanya sama sekali jauh dari imej sempurna yang orang-orang lain bayangkan terhadapnya. Arima rupanya diangkat anak oleh pamannya sendiri, sesudah kekacauan hubungan yang terjadi antara ayahnya yang meninggalkannya dan ibunya yang abusif.

Masa lalu yang dialami Arima dulu itu bener-bener enggak enak. Dan karenanya wajar sekaligus aneh saat Arima secara perlahan menjadi semakin dingin dan posesif.

Sial. Kayaknya aku mending enggak bicara lebih banyak. Soalnya kayaknya sayang bila ceritanya ku-spoiler.

…Aku berusaha mikir apakah memang akunya yang mungkin terlalu lebay dalam menanggapi isi ceritanya. Tapi kurasa enggak. Aku memang jarang mengikuti perkembangan seri-seri shoujo. Tapi kayaknya memang hingga sekarang aku belum pernah nemuin yang seri shoujo lain yang nampilin kebagusan perkembangan cerita serta bobot karakter seperti Kare Kano.

Cerita Kare Kano itu sebenarnya… gelap. Beneran bisa gelap. Kaitannya ke soal gimana para karakternya bersama-sama berusaha melepas diri dari ikatan dan kekangan masa lalu.

Sempat ada kabar kalau Tsuda-sensei merasa kurang sreg dengan bagaimana adaptasi animenya dipaparkan. Tapi kalau melihat cerita Kare Kano secara menyeluruh, aku enggak heran soal gimana orang-orang di Gainax kemudian jadi menghadirkan ceritanya ala Evangelion.

Maksudku, bahkan dalam surat-surat pembaca yang diterima Tsuda-sensei, konon ibu-ibu yang baca Kare Kano sampai merasa bisa lebih memahami situasi anak-anak remaja mereka ketimbang sebelumnya.

Bicara soal animenya, adaptasinya lumayan keren. Agak abstrak sih, dan pada beberapa titik lumayan mengganggu. Tapi enggak bisa dipungkiri lumayan menarik. Eksekusinya lebih diberatkan di dialog, dan sempat apa yang ditampilkan lebih kayak simbolisme-simbolisme gitu. Jumlah kata-kata yang mengalir bisa lumayan ramai. Tapi eksekusi adegan-adegan komedinya benar-benar pas. Penggambaran adegan penentuan saat Arima mengetahui rahasia Yukino benar-benar klasik dan patut dikenang. Animenya memaparkan cerita dari buku 1 hingga 7, dan berakhir lumayan menggantung di saat sedang ramai. Total episodenya sendiri padahal sebanyak 26.

Hal-hal yang membuat Kare Kano patut diingat:

  • Pero-pero
  • Komedinya
  • Adanya karakter yang sepenuhnya berhasil merubah dirinya yang gemuk dan pendek menjadi kurus dan tinggi
  • Kerealistisan kasus-kasus yang mungkin terjadi di dalamnya
  • Akhir cerita yang bisa bahagia

Akhir kata, sebenarnya aku ingin menulis lebih banyak tentang seri ini. Terutama soal karakter-karakter lain yang muncul. Tapi di sisi lain aku ngerasa itu enggak akan banyak gunanya. Soalnya, bila situasi yang berlangsung antara Arima dan Yukino tak cukup buat membuatmu tertarik, maka kemungkinan besar apa yang berlangsung sesudahnya juga enggak akan kau pandang menarik.

Soal animenya, kemungkinan yang suka Evangelion bakal tertarik untuk melihat alur pemaparannya juga sih. Tapi animenya, dalam jangka panjang, bisa terasa agak “Uuh…” karena kita agak enggak jelas bakal diseret ke mana. Ini terutama terasa pada episode-episode ke sananya, saat Anno-sensei memilih berhenti menjadi sutradara (kemungkinan karena ungkapan kurang sregnya Tsuda-sensei). Tapi sekali lagi, ini seri yang menarik.

Sesuatu yang mungkin ingin kau lihat saat kau ingin berpikir ulang soal apa-apa yang terjadi di masa lalu.

Penilaian (untuk anime)

Konsep: A; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B+; Eksekusi: X; Kepuasan Akhir: B

04/04/2013

Zekkyou Gakkyuu

Cinta itu beneran bisa membutakan.

jadi, belum lama ini, aku mendengar kabar tentang pembuatan adaptasi live action dari sebuah seri horor berjudul Zekkyou Gakkyuu (screaming lessons; ‘pelajaran menjerit’) karangan Ishikawa Emi. Aku belum tahu apa-apa tentang seri ini sebelumnya. Tapi premisnya terdengar menarik, jadi secara iseng aku kemudian memeriksanya.

Terus, yah, aku semacam jatuh cinta. Zekkyou Gakkyuu benar-benar bagus.

Dulu ada teman yang pernah mencibir soal adanya genre horor dalam bentuk manga. Tapi segala aspek terbaik yang bisa ditemukan dalam sebuah cerita horor benar-benar bisa ditemukan di seri ini. Daripada aspek menakutkannya, Zekkyou Gakkyuu terutama lebih bisa memikat pembaca dengan membuat mereka penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Ceritanya sendiri memang tak menakutkan-menakutkan amat. Tapi rasa penasaran soal apa yang terjadi selanjutnya itu loh.

Premis dasarnya kurang lebih begini. Seri ini kumpulan kisah-kisah horor lepas yang ‘dituturkan’ oleh sesosok gadis hantu yang bersemayam di sekolah(-sekolah?) bernama Yomi, yang memiliki wajah dan senyuman yang teramat cantik, namun tak memiliki apa-apa di tubuh bagian bawahnya.

Berhubung ini sebuah manga shoujo yang diserialisasikan (bulanan?) di majalah Ribon Mascot terbitan Shueisha,  ceritanya lebih banyak mengetengahkan anak-anak perempuan sebagai tokoh utama. Kebanyakan tokohnya berusia SD atau SMP, walau ada beberapa cerita yang memaparkan tokoh-tokoh berusia SMA sebagai fokusnya. Biasanya ceritanya berhubungan soal pergaulan antar teman atau timbulnya perasaan suka atau iri dengki. Tema ceritanya tak pernah sampai menjadi berat-berat amat. Tapi seringkali ada semacam faktor moral yang jadi tantangan utama yang harus dihadapi para tokohnya. Selayaknya bisikan-bisikan setan gitu. Lalu terutama yang paling kusukai adalah gimana segala sesuatunya enggak selalu seperti yang pada awalnya terlihat. Ceritanya juga banyak menampilkan sisi ‘dunia lain’ yang seakan emang kelam dan sewaktu-waktu bisa mencelakakan manusia. Ini emang bukan seleraku yang biasa, tapi bukan berarti aku enggak bisa menikmatinya.

Gaya gambar Ishikawa-sensei benar-benar bagus. Rapi, enak dilihat, dan bisa terlihat menakutkan baik secara ekspresif atau konseptual saat benar-benar perlu. Dulu aku pernah bilang kalau komik cewek manapun yang bisa membuat pembaca cowok tertarik dengan desain-desain karakter ceweknya adalah komik cewek yang dipastikan bakal di atas rata-rata. Zekkyou Gakkyuu termasuk salah satu yang seperti itu.

Desain-desain karakter Ishikawa-sensei benar-benar enak dilihat, dan selalu terasa fresh di setiap bab. Ini hal yang menurutku beneran luar biasa, apalagi mengingat sifat seri ini yang episodik. (Mendaur ulang desain karakter dalam sebuah komik adalah hal lumrah dan juga bukan hal salah. Makanya, orang-orang yang bisa terlihat seakan enggak melakukan ini benar-benar luar biasa.)

Salah satu hal menarik lain adalah bagaimana Yomi, dengan mata bulatnya yang besar, selalu digambarkan tersenyum memikat. Yomi bukan karakter jahat atau bagaimana. Tapi.. man, senyuman-terlepas-dari-semua-hal-nakutin-yang-diceritainnya-itu loh (bukan, dia juga bukan karakter loli. Plis deh.).  Lalu di akhir setiap bab, dia selalu dengan ceria lagi ngelakuin sesuatu yang menarik dengan ditemani sosok-sosok bayangan hitam aneh yang sepertinya dengan hati menemaninya.

Rasanya kayak, sebagai cowok, aku enggak bisa jadi enggak ketarik sama karakternya.

Pada saat ini kutulis, seri ini sudah tiga tahun berjalan dan kelihatannya belum akan berhenti.

Makin ke belakang mulai sedikit kerasa nuansa Umezo Kazuo di dalamnya, tapi enggak pernah ampe bener-bener berlebihan. Mulai dari penemuan sebuah konsol game tak berpemilik di pinggir jalan sampai ke cara-cara yang akan seorang cewek lakukan untuk mendapat balasan coklat valentine, cerita-ceritanya juga enggak selalu berakhir dengan bad end sih.

Kalau seri ini sudah dilisensi di sini, siapapun, tolong kabari ya.

EDIT, Februari 2016

Sudah diterjemahkan di sini oleh MnC dengan judul Scary Lessons dan saat ini kuedit, sudah terbit beberapa buku.

(Gyah, kadang kebijakan pemilihan judul penerbit lokal di sini bisa sedikit membingungkan.)

 

Tag: ,
06/02/2012

Distance to a Kiss

Belum lama ini, aku membaca Distance to a Kiss (judul asli: Kiss Made no Kyori, terjemahannya kurang lebih berarti: ‘jarak untuk mencapai sebuah ciuman’) karya Yoshinaga Yuu yang diterbitkan oleh mnc. Ya, ya, ini komik shoujo, dan ini satu lagi saat aneh ketika aku sedang merasa ingin membaca komik-komik cinta untuk remaja cewek.

Ceritanya tentang seorang gadis remaja yang bernama Yuzuha yang telah lama memendam rasa cinta pada Kaji, sahabat karib semenjak SD dari saudara kembar Yuzuha yang cowok, Suguru. Tatkala Yuzuha mendapati dirinya sekelas dengan Kaji sesudah sama-sama masuk SMA, ia dilanda kebingungan tentang bagaimana ia menghilangkan jarak antara mereka berdua, yang telah terbentuk oleh lamanya waktu mereka jarang berjumpa.

Seperti biasa, aku suka cara penggambaran artwork-nya Yoshinaga-sensei. Cuma, bila dibandingkan dengan Sinful Love, kumpulan cerita pendek beliau yang benar-benar kuanggap istimewa, komik one-shot ini menurutku masih terbilang biasa, baik dari segi gambar maupun cerita.

Berbeda dari Suguru yang outgoing dan gaul, Yuzuha terkesan polos dan pemalu. Dan aku jadi merasa agak aneh saja dengan segala interaksinya dengan Kaji. Mungkin karena tak banyak kesamaan di antara mereka yang ditampilkan. Dalam perkembangannya, cerita mengangkat pertanyaan soal adanya sisi-sisi Kaji yang tak diketahui Yuzuha, yang luput diketahuinya sekalipun mereka telah lama saling mengenal. Hal ini terutama berkaitan dengan masa SMP Kaji dan rumor tentang hubungannya bersama seorang gadis lain bernama Mukai.

Konflik ini sama sekali enggak buruk, tapi di sisi lain tak bisa dibilang mengesankan juga. Sinful Love dulu menampilkan cerita-cerita yang pendek tapi entah gimana berkesan kuat. Sedangkan Distance to a Kiss itu… hmm. Karakterisasi tokoh Kaji dan Suguru sebagai cowok juga agak terlalu ‘khas’ komik cewek.

Oke deh. Aku akui bahwa meski aku telah menjadi penggemar karya-karyanya, belum banyak karya Yoshinaga-sensei yang telah kubaca gara-gara aku selalu kehabisan komiknya di toko buku. Komik Distance to a Kiss ini pun kubeli karena resolusiku untuk langsung membeli karyanya kapanpun aku menemukannya. Biar enggak sampai kehabisan lagi.

Desain sampulnya juga untuk suatu alasan sayangnya kurang menonjol. Ini cuma aku atau memang terkadang kualitas penataan sampul komik mnc agak turun-naik?

Yah, gimanapun, demikian ulasan komik cewek yang kubeli secara random(?) kali ini.

Kayak biasa, kalau ada yang punya rekomendasi komik cewek lain yang menarik, tolong kabari ya. Kalau bisa, jangan yang terlalu gelap.

03/03/2011

Watashi ni xx Shinasai!

Belum lama ini aku mencoba membaca manga Watashi ni xx Shinasai! karangan Toyama Ema, alias xx Me! sebagaimana yang ditampilkan di majalah Nakayoshi Gress (judulnya kurang lebih berarti ‘lakukan xx padaku!’ dengan ‘xx’ mengacu pada suatu frasa atau kata kerja).  Manga bergenre shoujo terbitan Kodansha ini kudengar menjadi sebuah ‘super hit’ di kalangan pembacanya di Jepang. Aku agak malu mengakui ini, tapi aku beneran membuka beberapa jilid Nakayoshi lama pada saat mendengar betapa seri ini menarik perhatian.

Ceritanya sendiri seputar Himuro Yukina, seorang gadis remaja eksentrik yang memiliki identitas rahasia sebagai penulis novel ponsel terkenal Yupina (lebih lanjut soal novel ponsel, atau cell phone novel, akan kutulis di bawah). Dalam kehidupan nyata, Yukina dikenal sebagai pribadi dingin-bebas-emosi yang lebih suka melewatkan waktunya dengan mengamati orang lain–sehingga ia akhirnya dicap ‘aneh’ oleh teman-teman sekolahnya yang lain.

Satu-satunya orang yang dekat dengan Yukina adalah Shimotsuki Akira, cowok culun hobi makan berponi panjang hingga menutupi mata. Akira dikisahkan adalah sepupu Yukina, yang telah dibesarkan keluarga Yukina sedari kecil semenjak wafatnya kedua orangtuanya.  Akira juga merupakan satu-satunya orang yang mengetahui rahasia Yukina sebagai Yupina, dan sedikit banyak menjadi satu-satunya orang yang terhadapnya Yukina bisa sedikit terbuka.

Pada suatu hari, Yukina mengetahui bahwa kekurangan terbesar novelnya–menurut para penggemarnya–adalah lemahnya nuansa percintaan di dalamnya. Yukina–yang jangankan soal cinta, dalam hubungan sosial biasa saja lemah–kemudian memutuskan bahwa ia harus tahu lebih banyak soal cinta dan interaksi antara pasangan-pasangan kekasih untuk bisa menutupi kekurangan di novelnya tersebut. Bagaimana lagi cara terbaik untuk memahami semua itu selain mengalami semuanya sendiri?

Maka Yukina kemudian memeras Kitami Shigure, murid teladan/ketua OSIS/cowok populer/teman sekelasnya yang sebenarnya bukan orang yang sebaik kelihatannya. Yukina untuk suatu alasan memandang Kitami sebagai orang yang tepat dibutuhkannya untuk saat ini. Lalu secara kebetulan dan licik ia berhasil meraih barang-barang bukti yang dapat menguak siapa pribadi Kitami sesungguhnya. Sehingga dengan enggan dan marah, Kitami tak punya pilihan selain menuruti keinginan Yukina.

Apa keinginan Yukina? Tentu saja, membuat Kitami berperilaku seperti kekasih terhadapnya! Yukina memberi Kitami serangkaian ‘misi’ (seperti ‘Pegang tanganku!’ ‘Peluk aku!’ dsb.) yang diharapkannya dapat membantu memberikan inspirasi untuk menciptakan nuansa cinta dalam novelnya (sekarang kalian sudah memahami arti judulnya). Dan tentu saja misi-misi gila Yukina ini menimbulkan rentetan implikasi yang tak dibayangkannya sebelumnya.

Sebagaimana yang bisa kita tebak, Kitami yang tak kalah liciknya mulai merasakan ketertarikan sungguh-sungguh terhadap Yukina. Sementara Akira, yang semenjak kecil memang telah suka pada Yukina, dengan segera hilang imej culunnya saat ia menampakkan sebelah matanya dari balik poni rambutnya yang panjang, kemudian menjelma menjadi bishounen dingin yang merayu Yukina untuk menjalankan permainan cinta ini dengan dirinya juga.

Yukina yang akhirnya merasakan debaran hati itu dibuat kegirangan karena segala perkembangan hubungan segitiga ini menjadi bahan yang hangat untuk cerita novelnya (Yukina=Lilia, putri raja berkekuatan es yang memikat hati; Kitami=sang Earl, yang tertarik pada Lilia dan sesungguhnya adalah seorang vampir; Akira=Cain, sang ksatria yang dengan setia melindungi sang putri). Tapi ia mulai kelimpungan saat menyadari bahwa emosi yang dirasakannya terhadap kedua cowok ini semakin tak terkendali juga…

It’s kinda flirty…

Aku sejak dulu suka waswas bila membaca komik-komik cewek, karena kita enggak pernah tahu kapan kita tiba-tiba dihadapkan dengan suatu perkembangan cerita yang berakhir disturbing.  Tapi bahkan dengan kesadaran itu, xx Me! adalah sebuah seri yang bagiku agak terlalu menarik untuk tak dibaca.

Plot dan perkembangan ceritanya klise dan memang agak-agak tak masuk akal. Tapi premis ceritanya yang menarik serta adegan-adegan ‘misi’-nya entah gimana selalu berhasil digambarkan dengan cara yang membuat pembaca tersipu sambil berkedip-kedip.

Oke, mungin aku sedikit melebih-lebihkan. Tapi aku tak salah bila mengatakan bahwa artwork Toyama-sensei berkontribusi besar terhadap ketenaran seri ini. Desain karakter beliau itu proporsional, dan aku sedang membicarakan soal sebuah komik cewek di sini! Yah, singkatnya, di mata cowokpun, seri ini terlihat enak buat dilihat dan diikuti (aku bukan satu-satunya orang yang berpendapat begini). Buat mereka yang masih belum paham, ya, yang kumaksudkan di sini adalah desain karakter-karakter ceweknya.

Soal cerita, jujur saja, tak banyak yang bisa kukatakan. Ini  jenis manga yang khasnya begitu gampang kau temukan dalam majalah seperti Nakayoshi. Tapi ada daya tarik lebih di dalamnya, yang untuk gampangnya, terlebih mengingat bahwa seri ini masih baru, lebih baik kalian nilai sendiri.

Cerita sedikit bertambah seru dengan munculnya Mizuno Mami, gadis teman semenjak kecil Kitami yang karena suatu alasan tertentu sudah lama tak masuk sekolah. Dia digambarkan sebagai gadis yang dari luar terlihat baik-baik namun sebenarnya ‘berbahaya,’ yang memiliki cara pandangnya sendiri dalam menyikapi permainan antara tiga orang di atas.

Bicara soal bahaya, iya, seri ini memang agak berbahaya. Tapi seberbahaya apapun seri ini, ini tetap sebuah seri yang diserialisasikan di Nakayoshi. (Argh, kuharap kalian paham sendiri yang kumaksud apa.)

Tentang novel ponsel…

Berbeda dari kebanyakan negara, text messaging handphone di Jepang dilakukan bukan melalui media SMS, melainkan media e-mail. Jadi tak heran kemudian muncul layanan info/berita/apapun berkala yang disampaikan lewat mail, yang salah satu bentuknya adalah layanan novel/cerita bersambung ini.

Di Jepang, terdapat huruf-huruf kanji yang memungkinkan satu karakter huruf digunakan untuk mewakili satu kata. Sehingga kalimat-kalimat dalam bahasa Jepang secara efektif bisa dipadatkan hanya menjadi beberapa huruf. Di sinilah letak keunggulan bahasa yang dimanfaatkan novel ponsel, karena satu bagian cerita dapat disampaikan dalam cukup banyak huruf secara menarik tanpa melebihi kuota karakter yang diperbolehkan dalam e-mail.

Sejauh yang aku tahu, siapapun yang mempunyai ponsel dapat berkontribusi untuk membuat cerita. Bahkan dengan bayaran!

Bagi mereka yang penasaran, asal kalian cukup rajin mencari di Internet, ada beberapa contoh cell phone novel terkenal yang telah diterjemahkan ke bahasa Inggris kok. Aku tak menganjurkan pengimplementasian layanan ini selain di Jepang sih. Mungkin nanti, suatu saat kelak di masa depan.

Tag: ,