Archive for ‘shonen’

15/03/2017

Sekai no Owari no Encore

Satu light novel yang membuatku penasaran dalam beberapa tahun terakhir (selain, mungkin, Tokyo Inroaded) adalah Sekai no Owari no Encore.

Dikenal juga dengan judul Sekai no Owari no Sekairoku (‘rekaman dunia (Encore) di ujung/akhir dunia’) ini lagi-lagi seri relatif baru yang sempat kubaca di situs Baka-Tsuki. Dikarang Sazane Kei dengan ilustrasi buatan Fuyuno Haruaki, serta diterbitkan oleh Media Factory semenjak tahun 2014, Sekai no Owari no Encore adalah seri petualangan fantasi yang sebenarnya lumayan generik.

Baguskah? …Sejujurnya, enggak juga. Bukan berarti jelek sih. Menurutku kualitasnya cenderung biasa.

Apa ini seru? …Kalau ditanya begitu, jawabanku lagi-lagi adalah enggak juga. Tapi di sisi lain, seri ini juga enggak bisa dikatakan membosankan.

Lalu alasan aku penasaran?

Susah menjelaskannya. Intinya, ada sesuatu tentangnya yang semata-mata menarik saja.

Dari detik pertama aku melihat ilustrasi dan membaca premis seri ini, aku langsung tertarik untuk tahu lebih lanjut. Aku lumayan bersemangat saat ada fans mulai menerjemahkannya ke Bahasa Inggris. Tapi pengerjaannya belakangan lambat. (Sekalipun kamu udah jago dalam dua bahasa, kerjaan nerjemahin tetep lumayan susah kalo belum dibiasain.) Lalu tanpa terasa, adaptasi manganya yang dikerjakan Usui Ryuu juga sudah mulai dibuat.

Membaca seri ini, aku pernah berpikir kalau mungkin benar kata mereka. Maksudku, soal gimana untuk mengubah keadaanmu, yang kau perlukan cuma satu ide bagus. Sebuah ide saja mungkin bisa membuat hidupmu jadi jauh lebih bermakna.

Yah, terlepas dari itu, cerita seri ini kurang lebih sebagai berikut.

Pada zaman dahulu kala, seorang pemuda manusia bernama Eleline konon menyelamatkan dunia dari suatu ancaman yang tak diketahui. Meski terlahir sebagai manusia, Eleline sedemikian kuatnya sampai-sampai ia disegani oleh para malaikat sang dewi di langit, para naga, dan juga para iblis. Karenanya, dalam perjalanannya menyelamatkan dunia tersebut, ia ditemani tiga sosok perempuan sangat cantik yang terdiri atas: Kyelse, putri para naga putih yang menjadi salah satu yang termuda namun juga yang terkuat dari spesiesnya; Fear (Phia?), sosok archangel terkuat di Langit, yang bahkan melebihi sang dewi sendiri; dan Elise, sang maou yang menguasai makhluk-makhluk dari Dunia Bawah. Berempat, mereka mengakhiri perang besar antara sesama ras mereka dan sekaligus menuntaskan End War yang nyaris menghancurkan dunia.

Namun karena suatu sebab, di akhir perjalanan, Eleline terpisah dari teman-teman seperjalanannya, dan akhirnya meninggal dunia karena sakit.

Sebelum meninggal, Eleline disebut-sebut telah meninggalkan sebuah catatan yang mengungkap sejarah dunia yang sesungguhnya. Catatan ini disebut Encore, dan konon turut mencantumkan kebenaran dari apa yang terjadi semasa End War. Catatan ini dikabarkan tersembunyi di suatu tempat rahasia. Lalu sedemikian berharganya pengetahuan di dalam catatan ini, berbagai pihak berlomba-lomba untuk menemukannya.

Tiga abad kemudian, Kyelse terbebas dari segel yang mengurungnya dan mendapati dirinya hanya seorang diri, tanpa kehadiran Eleline ataupun kawan-kawannya yang lain. Mulailah ia bergerak untuk mencari jejak kawan-kawan lamanya, sekaligus mengathui apa sebenarnya yang terjadi pada Eleline.

Legenda sang Kaisar Pedang (Palsu)

Tokoh utama seri ini sendiri adalah seorang pemuda bernama Ren E. Maxwell.

Di dunia yang mengingat jasa besar Eleline dalam menyelamatkan dunia tersebut, dan sekaligus telah mengabadikan rupanya dalam bentuk pahatan patung, Ren mendapat nasib kompleks karena terlahir dengan wajah sangat mirip Eleline. Dia beruntung karena jadi dipandang mirip dalam banyak sisi dengan sang pahlawan. Tapi dia juga sial karena jadi dibebani pengharapan keterlaluan untuk bisa menjadi sehebat Eleline. Yang lebih menyebalkan lagi, dirinya memang konon masih garis keturunan keluarga Eleline, walau Ren merasa justifikasi ini konyol karena Eleline meninggal dunia sebelum sempat meninggalkan keturunan. Jadi bisa dibilang dirinya hanyalah keturunan dari kerabat jauh Eleline. Lalu karena hal tersebut, Ren jadi menerima banyak ketidakadilan.

Ren adalah murid di Akademi Perjalanan Suci Fiore, satu dari sekian banyak instansi yang mendidik anak-anak muda untuk membentuk kelompok-kelompok yang akan menjelajah dunia demi mencari Encore.

Ren adalah seorang murid pekerja keras, tapi terbukti punya bakat biasa-biasa saja. Nilai-nilai ujian dan kemampuan prakteknya hanya sedikit di atas rata-rata. Lalu dirinya juga pernah tinggal kelas karena gagal dalam ujian praktek gara-gara dipasangkan dengan orang terkuat di angkatannya, semata-mata karena kemiripannya dengan Eleline.

Hanya satu orang di sekolahnya yang tak mencemooh Ren sebagai orang gagal. Orang itu adalah kakak kelasnya, seorang siswi teladan berambut pirang yang seakan sangat sempurna, baik dalam hal nilai maupun penampilan, Fear Nesphilia. Pada suatu titik, Ren telah menjadi akrab dengan Fear (yang jadi senang menggodanya), murid paling jenius di sekolah tersebut. Dari waktu ke waktu, Fear akan menyapa untuk menanyai kabarnya.

Karena kedekatan mereka, Ren selama ini mengira bahwa dirinya benar-benar akan seorang diri di akademi sesudah Fear lulus di akhir tahun nanti. Dengan kemampuan Fear yang luar biasa, Ren mengira pasti akan mudah untuk menemukan kelompok yang mau menerimanya, sehingga Fear bisa langsung berangkat untuk mencari Encore. Namun di luar dugaan, Fear ternyata memiliki rencana lain. Fear ternyata berencana untuk mengundurkan diri dari sekolah bahkan sebelum lulus.

Tapi sebelum Fear sempat menjelaskan, Ren mengalami sebuah kejadian di kota.

Itu adalah awal pertemuan Ren dengan Kyelse, sang putri naga perak, yang berujung pada pembuktian bahwa semua legenda tentang sang Kaisar Pedang yang disukainya sejak kecil benar-benar adalah nyata.

Lindungi Dirimu, Dengan Kekuatanmu Sendiri

Singkat cerita, Sekai no Owari no Encore adalah tentang perjalanan Ren—yang berwajah mirip dengan Eleline—dengan kawan-kawan seperjalanan lama Eleline dalam mencari Encore. Semula, perjalanannya hanya dengan Kyelse dan Fear-senpai (yang segera terbukti ternyata adalah Fear sang archangel). Tapi tak lama kemudian, mereka juga ditemani Elise, sang maou generasi terdahulu, yang telah mereinkarnasikan tubuhnya dan kini berwujud seperti anak perempuan berkulit coklat berusia 10 tahun, meski ia masih memiliki ingatan dan sebagian kekuatan dari wujudnya yang lama.

Kyelse, Fear, dan Elise sama-sama telah menerima bagaimana Ren hanyalah seseorang yang semata-mata mirip dengan Eleline. Meski tergoda untuk berpikir demikian, Ren bukanlah(?) reinkarnasi Eleline, mengingat kaum manusia tak punya kemampuan tersebut. Tapi ketiganya sama-sama bisa melihat ada sesuatu dalam diri Ren yang sedikit banyak mengingatkan mereka pada Eleline, dan membuatnya dipandang layak untuk berpergian bersama mereka.

Ren, yang notabene paling lemah di antara mereka bertiga, bukannya patah arang, malah jadi semakin terpacu untuk berlatih keras. Meski kemampuannya dipandang menengah untuk ukuran ksatria, ketiga putri tersebut melihat adanya potensi belum tergali dalam diri Ren, yang selama ini tersembunyi karena bias yang orang-orang punya terhadapnya. Mereka berpendapat bahwa kalau dilatih secara benar, mungkin saja Ren bisa tumbuh sampai sekuat(!) Eleline di masa lalu.

Hubungan teman seperjalanan sekaligus guru-murid ini yang menjadi salah satu hal khas Sekai no Owari no Encore. Ketiga gadis tersebut secara bergantian akan melatih dan mengajari Ren. Kyelse akan mengajari ilmu pedang yang diingatnya dari Eleline, sementara Fear dan Elise mengajari ilmu-ilmu lainnya.

…Tentu saja dengan diselingi satu-dua adegan fanservice.

Tapi, itu dia.

Satu hal tak biasa lain yang seri ini miliki adalah bahwa terlepas dari sorotan sesekalinya ke ketiga heroine tersebut, ada cerita latar yang cukup komplit yang dipaparkan. Jadi meski semula sering ada kesan “Aiih, lagi-lagi adegan kayak gini!” Lambat laun, terlepas dari betapa sepelenya cara adegan-adegannya dibuka, percakapan antara Kyelse, Fear, dan Elise biasanya jadi mengungkap lebih jauh soal dunia dan para karakternya.

Segera terungkap bahwa ada perjalanan berkelanjutan yang dilakukan oleh berbagai kelompok (party) yang tak terhitung jumlahnya untuk menemukan Encore. Meski telah ada tiga abad berlalu, dunianya tidak bisa dibilang aman dengan banyaknya monster yang berkeliaran, wilayah-wilayah yang belum terjamah, serta berbagai puing peradaban masa lampau yang menyembunyikan rahasia-rahasia yang telah lama terlupa.

Terungkap pula bahwa meski masih terbilang sangat kuat untuk ukuran manusia biasa, ketiga putri tersebut kini berada dalam kondisi jauh lebih lemah dibandingkan sewaktu mereka bersama Eleline tiga abad lalu. Kyelse tersegel, dan tak dapat lagi mengakses wujud naganya. Fear dan Elise diimplikasikan kehilangan seluruh tubuh mereka, dan harus mewujudkan fisik mereka kembali dari awal. (Elise baru berhasil melakukannya sepuluh tahun sebelum cerita dimulai.)

Mereka juga tak tahu soal apa yang menimpa Eleline dan bahkan tak tahu apa itu Encore sebelum mendengar kabar-kabar burung tentangnya. Namun demikian, mereka meyakini bahwa Encore merupakan semacam wasiat yang Eleline tinggalkan untuk mereka. Karenanya, mereka tak sudi bila itu sampai jatuh ke tangan manusia biasa. Apalagi bila digunakan untuk hal tak baik.

Batu Amber dan Bulu Sayap

Selain memaparkan dunia(-dunia) luas yang belum keseluruhannya terjamah yang dipenuhi puing-puing peradaban kuno, ada semacam sistem job/class yang seri ini tonjolkan.

Jadi, ceritanya, sedemikian banyaknya kelompok yang berangkat untuk mencari Encore, sudah ada semacam ‘penjurusan’ untuk peran masing-masing orang di dalamnya. Pembagian peran ini memudahkan komunikasi untuk menyampaikan kelemahan dan keunggulan sebuah kelompok.

Kesemua peran yang diajarkan dalam akademi, dengan istilah masing-masing (ada permainan furigana di sini, jadi istilah yang ‘dibaca’ adalah yang huruf besar), adalah:

  • MASTER (Knight) — Pengguna segala bentuk persenjataan pedang dan kampak yang berperan dalam menghadapi lawan dalam jarak dekat. Karena peran mereka di garis depan, mereka harus paham terhadap seluruh keadaan di sekeliling mereka, dan karenanya, harus memiliki kemampuan menilai keadaan secara sigap dan dingin. Biasanya terdiri atas orang-orang bertubuh besar dan kekar. Meski tingkatannya masih rendah, dan meski ukuran badannya hanya rata-rata, Ren sebenarnya termasuk dalam golongan ini.
  • ARIA (Caster) —Pengguna ritual-ritual kompleks yang memungkinkan manusia menggunakan sihir dan mantera-mantera serang para Iblis. Ketiga putri—khususnya Elise—mampu menjalankan peran ini, walau mungkin dengan mekanisme yang berbeda dari biasa. Ren berkata dirinya tak punya bakat di bidang ini.
  • SPIRIT (Spiriter) —Pengguna mantera-mantera yang berbasis pada pusaka-pusaka armamen roh, yang mengandung kekuatan para roh alam. Ketiga putri sama-sama punya pengetahuan tentang peran ini, tapi tak mendalaminya. Ren berkata dirinya tak punya bakat di bidang ini, walau anehnya, Elise bisa merasakan adanya aroma roh yang kuat dalam diri Ren.
  • FULLTYPE (Fighter) — Ahli pertempuran jarak dekat yang dengan mengkombinasikan mantera-mantera perlindungan serta tubuh mereka sendiri, mengalahkan musuh menggunakan ilmu bela diri. Mereka dinamai demikian karena beratnya latihan yang harus dijalani agar tak perlu mengandalkan senjata ataupun pelindung berlebih. Di luar dugaan Ren, peran khusus yang Fear-senpai dalami ternyata adalah ini.
  • ENCHANTER (Barrierer) — Pengguna mantera-mantera Malaikat yang mampu menyembunyikan, menyegel, mengintersepsi, dan sekaligus melindungi. Tanpa perlu dikata, Fear-senpai ahli dalam peran ini.
  • HEALER (Curer) — Para penyembuh yang menggunakan mantera-mantera yang mempengaruhi aktivitas tubuh dan regenerasi, di samping obat-obatan dan farmasi. Tak ada di kelompok Ren yang secara khusus mendalami peran ini, tapi semuanya sedikit banyak punya pengetahuan tentangnya.
  • HUNTER (Predator) — Petarung yang memiliki pengetahuan mendalam tentang berbagai makhluk yang menjadi buronan. Mereka mendalami kemampuan untuk menggunakan persenjataan jarak jauh dalam pertempuran.Lagi, tak ada di kelompok Ren yang secara khusus mendalami peran ini, tapi semuanya sedikit banyak punya pengetahuan tentangnya.
  • THIEF (Searcher) — Anggota kelompok yang berperan sebagai otak lapangan sekaligus arkeolog. Tak ada di kelompok Ren yang mendalami peran ini, tapi Elise dapat menjalankan peran ini dengan kemampuan alaminya untuk merasakan niat jahat.

Kesemua golongan tersebut juga ada tingkatan-tingatan penguasaannya. Mulai dari tingkat III yang paling rendah, naik menjadi tingkat II, kemudian I, lalu gelar Sword King untuk seorang MASTER, misalnya, hingga akhirnya Sword Emperor seperti halnya Eleline dulu.

Dalam perkembangan cerita, sebenarnya ada satu peran lagi yang tak diajarkan secara formal karena sedemikian langkanya bakat untuk menjalankannya. Peran tersebut adalah ANCIENTER, pengguna mantera-mantera hilang, yakni orang-orang yang punya kemampuan untuk berbicara langsung dengan para roh alam sekaligus memanggil dan meminjam kekuatan mereka.

Ren, tanpa disadarinya sendiri, sebenarnya termasuk dalam golongan ini.

Dari waktu ke waktu, semenjak hari-harinya di Akademi, ternyata ada roh api Salamander yang akan muncul dan menemaninya saat ia sedang sendiri. Roh ini pun rupanya ikut menemani dalam perjalanan mereka mencari Encore.

Kenyataan ini sedemikian mengejutkan ketiga putri. Berbeda dari para manusia, kaum naga, Malaikat, dan Iblis memandang bahwa roh-roh alamlah yang sebenarnya punya kedudukan paling tinggi di alam semesta.  Bahkan sebelum Ren, disebut bahwa hanya ada satu orang di dunia yang punya kemampuan ini, yakni sang petinggi di Tanah Suci Canaan. Tapi besarnya kekuatan yang peran ini miliki tak tersebar luas karena sedemikian langka penguasaannya.

Ini satu-satunya bidang ilmu yang tak bisa diajarkan ketiga putri secara langsung kepada Ren. Karenanya, upaya untuk mempertemukan Ren dengan roh-roh alam lain belakangan menjadi salah satu tujuan tambahan dalam perjalanan mereka.

Nyanyikan, Gerbang Dunia

Karena meyakini Encore adalah wasiat khusus dari Eleline untuk mereka, ketiga putri yakin bahwa Encore berada di tempat yang tak terjangkau oleh manusia biasa. Dugaan ini diperkuat dengan bagaimana keberadaannya masih belum ditemukan meski sudah berabad-abad.

Ren dan kawan-kawan barunya menelusuri satu demi satu petunjuk yang mereka miliki tentang Encore, yang sebagian di antaranya terdapat pada hubungan-hubungan masa lalu yang dimiliki ketiga putri.

Di saat yang sama, mereka juga harus berhadapan dengan kepentingan kelompok-kelompok lain. Ini terutama karena tersebarnya berita tentang mereka seolah menandai terlahirnya kembali Sword Emperor Brigade yang dulu pernah Eleline pimpin. Ren dan kawan-kawannya, yang kini dijuluki kelompok Reincarnated Knight (atau Knight of Reincarnation), jadi mengundang perhatian pihak-pihak seperti Elmekia Dusk, kelompok pencari Encore dengan keanggotaan terbesar di dunia; Saint Eyries, pada pencari dari tanah Canaan yang didorong oleh keyakinan keagamaan mereka; serta Spirit Inspectors, kelompok penelusur jejak para roh di mana Shion, ahli pedang terkuat di zaman ini yang disebut berada paling dekat dengan tingkatan Eleline, tergabung.

Melihatnya sekarang, kurasa tak bisa disangkal bagaimana premis seri ini terdengar sederhana tapi sekaligus begitu menjanjikan.

Secara menyeluruh, Sekai no Owari no Encore, sekali lagi, tak benar-benar bisa dikatakan bagus. Deskripsi dunianya dipertahankan minim. Alur ceritanya terbilang ringan. Perkembangan karakternya juga tak mendalam. Struktur pemaparan ceritanya juga terkadang tak lazim. Ada kesan aneh bahwa Sazane-sensei mengarang cerita ini saat masih remaja. Tapi sekali lagi pula, ada sesuatu tentang ceritanya yang membuat penasaran.

Meski pemaparannya sederhana, ada tema-tema soal persahabatan dan kerja keras. Para tokoh utama wanita, meski kerap bersikap ingin diperhatikan, sepenuhnya mandiri dan tak begitu saja jatuh cinta pada si tokoh utama. Intinya, cerita ini seperti berhasil menumbuhkan keingintahuan soal ke depannya nanti para karakternya akan di bawa ke mana.

Walau secara anatomi mungkin tak cocok dengan sebagian orang, ilustrasi Fuyuno-sensei juga terbilang cantik. Seperti elegan, tanpa terlalu condong ke seksi ataupun imut. Gaya desain beliau mungkin masih belum terlalu variatif. Tapi terasa ada perhatian yang beliau terhadap detil. Hal ini agaknya juga dipunyai Usui-sensei yang mengadaptasinya ke bentuk manga.

Hasilnya, seri ini seperti punya kesan umum ‘netral’ yang membuatnya mudah dinikmati banyak kalangan sekalipun popularitasnya takkan meledak.

Belakangan, perhatian terhadap seri ini mulai tumbuh dan sudah ada kelompok fans yang mulai menerjemahkan lagi.

Yah, nanti kalau ada perkembangan, mungkin akan aku kabar-kabari lagi.

Iklan
Tag:
12/03/2017

Shibito no Koe o Kiku ga Yoi

Shibito no Koe o Kiku ga Yoi, atau You Will Hear the Voice of the Dead (‘kau akan mendengar suara orang-orang yang mati’) adalah seri manga horor remaja karangan Hiyodori Sachiko (juga dikenal dengan nama Uguisu Sachiko) yang belakangan menarik perhatian. Diterbitkan sejak tahun 2011 oleh Akita Shoten dan diserialisasikan di majalah Champion Red, perlu kuakui ini salah satu manga horor modern paling menarik buatku.

Premisnya benar-benar sederhana.

Kishida Jun adalah seorang siswa SMA yang memiliki tubuh sakit-sakitan sejak kecil. Sebenarnya, dirahasiakan olehnya sendiri, selain kerap mimisan, Kishida juga sering bisa melihat hantu dan roh orang-orang mati. Tapi Kishida sangat enggan mengakui hal ini. Alasannya karena berdasarkan pengalaman-pengalamannya pribadi, berurusan dengan roh orang-orang mati tak pernah berujung pada hal baik.

Pada suatu ketika, terjadi serangkaian kasus menghilangnya siswa di sekolahnya. Lalu salah satu yang menghilang tersebut adalah Hayakawa Ryoko, seorang siswi cantik yang merupakan teman Kishida semasa kecil. Hayakawa dan Kishida dulu sering sekali bermain sama-sama. Namun pada suatu titik, mereka mulai jarang berbicara. Hayakawa lalu menjadi salah satu yang menghilang. Kemudian sejak saat itu, Kishida mulai sering melihat hantunya.

Mengikuti roh Hayakawa, Kishida akhirnya mengetahui tentang penyebab kematiannya. Namun anehnya, meski kebenarannya terungkap, roh Hayakawa semenjak itu menjadi sering mengikuti Kishida ke manapun ia pergi, senantiasa memperingatkannya dan memberinya petunjuk setiap kali Kishida menghadapi bahaya.

Kelihatannya Mereka Bukan Kappa, Tapi Alien

Semenjak kematian Hayakawa, untuk suatu alasan, Kishida menjadi sering menghadapi kasus-kasus aneh yang berhubungan dengan dunia supernatural. Sebagian alasannya mungkin memang karena Koizumi, teman sekelas Kishida yang gemuk dan realis, telah menyeretnya untuk bergabung dengan klub sejarah (yang belakangan, berubah menjadi klub supernatural) pimpinan Shikino, seorang siswi cantik berkacamata (yang sebenarnya bersifat lumayan egois di balik penampilannya). Tapi keberadaan roh Hayakawa sedikit banyak selalu memungkinkan Kishida dan orang-orang di dekatnya untuk bertahan hidup.

Manga ini menonjol karena pemaparan lewat dialognya yang terbilang minim. Setiap kasus biasanya secara khusus dihadirkan hanya dalam satu bab, walau memang dalam perkembangannya, ada kasus-kasus tertentu yang relatif lebih panjang. Hasilnya, Shibito no Koe o Kiku ga Yoi benar-benar terasa seperti manga yang singkat, padat, dan jelas. Menyenangkan untuk dibaca, mudah untuk dimengerti, dan menarik untuk dibaca lagi, terutama dengan bagaimana Hiyodori-sensei sudah disuruh editornya untuk memastikan selalu ada karakter-karakter perempuan (selain Hayakawa) yang imut di dalamnya.

Menariknya, dalam segala interaksi mereka, Kishida dan Hayakawa tak bisa berbicara dengan satu sama lain sama sekali. Jadi terlepas dari judulnya (yang diakui pengarangnya sendiri terdengar gaje, walau ini mungkin juga foreshadowing terhadap perkembangan cerita ke depan), tak ada suara roh mati apapun yang bisa Kishida dengar.  Kishida dan Hayakawa lebih banyak berinteraksi melalui bahasa tubuh dan pandangan mata. Mimik muka Hayakawa senantiasa datar dan tak ada kata-kata yang ia ucapkan, walau sebaliknya, Hayakawa agaknya bisa memahami apa-apa yang Kishida katakan, dan terkadang ia seperti sengaja bersikap dengan cara-cara tertentu.

Karenanya, kerap kali interaksi di antara kedua tokoh utama berujung jadi lucu secara tak disengaja. Sehingga walau dalam setiap babnya hampir selalu ada adegan-adegan kematian mengerikan (yang tak melulu melibatkan hantu, tapi juga berbagai keanehan supernatural yang lain), ada semacam keriangan polos yang dimilikinya, yang bisa bikin kamu seram tanpa sampai meracuni pikiranmu.

Hal lain yang aku sukai dari seri ini adalah bagaimana kasus-kasus yang lalu juga tak pernah dilupakan. Sedikit banyak, semuanya terasa seperti sedang membangun sesuatu ke arah depan. Itu tetap terasa bahkan dengan pemaparan karakter yang terbatas dan minim.

Bicara soal artwork, gaya gambarnya dipertahankan bernuansa suram dengan warna-warna gelap, tapi bagus. Seriusan, bagus sekaligus rapi. Tak ada fanservice disengaja yang mendistraksi juga. Adegan-adegan kematiannya juga, sekalipun mengerikan, bukanlah jenis yang terlalu berlebihan dalam gore. Penceritaannya, sekali lagi, benar-benar efektif. Ada kedetilan yang benar-benar diperhatikan dalam penggalian latar. Di samping itu, mudah untuk menghargai keragaman temanya yang luas. Hiyodori-sensei seakan telah melakukan riset serius terhadap berbagai cerita aneh sebagai materi karyanya.

Waktu aku pertama tahu tentang manga ini, aku sempat aneh karena belum pernah mendengar tentang Hiyodori-sensei sebelumnya. Aku merasa demikian karena ada sesuatu tentang karyanya yang seakan bisa membuat pembacanya ingin bisa mendukungnya.

Aih, aku berharap judul ini makin dikenal di masa depan nanti.

29/09/2016

Karakai Jouzu no Takagi-san

Aku orang yang lumayan sensitif perasaannya semenjak kecil. Lalu mungkin karena itu, serta pengalaman-pengalaman yang aku alami di masa sekolah, aku tumbuh jadi orang yang lumayan gampang mengatur perasaan sesudah dewasa.

Dengan kata lain, aku bukan orang yang gampang baper.

Aku masih cenderung moody, tapi kelihatannya emosiku tak lagi mempengaruhi penilaianku sesering dulu. Aku masih gampang tersentuh oleh cerita-cerita mengharukan di manga dan anime, tapi aku tak lagi segampang itu merasa depresi atau terngiang-ngiang karenanya.

Sampai suatu hari, aku mengetahui tentang Karakai Jouzu no Takagi-san karya Yamamoto Souichirou yang diserialisasikan sejak pertengahan 2012 di majalah bulanan Gessan milik penerbit Shogakukan.

Setelah sekian lama, akhirnya aku menemukan sesuatu yang membuatku baper lagi.

Kalau Kau Tersipu, Kau Kalah

Karakai Jouzu no Takagi-san (kira-kira berarti: ‘Takagi-san yang lihai menggoda/menjahili’) berkisah tentang Nishikata dan Takagi, dua orang yang duduk bersebelahan di sebuah ruang kelas sekolah menengah. Nishikata adalah seorang anak lelaki relatif biasa yang… uh, suka sepak bola, tak mau kalah, dan sering dibuat salah tingkah. Sedangkan Takagi adalah siswi perempuan cerdas dan berkesan dewasa yang duduk di sebelah Nishikata dan gemar sekali mengusilinya.

Entah sejak kapan persisnya, Takagi sering sekali mengisengi Nishikata hanya untuk sekedar melihat reaksi-reaksinya. Nishikata berulangkali akan dibuat tersipu dan salah tingkah dengan semua ulah Takagi, yang seketika akan disambut dengan tawa Takagi. Lalu berulang kali Nishikata akan mengatur rencana untuk ‘membalas’-nya, meski kerap kali upayanya tersebut berakhir dengan kegagalan.

Keusilan-keusilan Takagi ini biasanya berupa kata-kata yang memancing-mancing Nishikata. Kadang juga Takagi menjahilinya hal-hal seperti bersembunyi di suatu sudut dan mengagetkannya.

Sebagian besar cerita dituturkan dari sudut pandang Nishikata, yang setiap waktu terus memikirkan siasat untuk membalas Takagi. Meski demikian, buat kita para pembaca, sejak awal sudah terlihat bahwa Takagi memendam rasa suka mendalam terhadap Nishikata, hanya saja Nishikata yang masih belum cukup cermat (dewasa?) untuk menyadari hal tersebut, dan menyadari bahwa dirinya pun sebenarnya merasakan hal yang sama.

Apa yang diceritakan per babnya benar-benar terkesan sederhana. Biasanya hanya menampilkan berbagai interaksi antara Nishikata dan Takagi dalam keseharian mereka di sekolah. Terkadang, meski jarang, muncul karakter-karakter lain, yang memberi kita sedikit acuan soal bagaimana sikon mereka dan hubungan mereka sudah sampai mana.

Aku mengatakannya demikian karena lambat laun, kita akan menyadari bahwa bab-bab ceritanya ternyata tidak selalu dituturkan secara kronologis.  Ada alur maju-mundur yang digunakan. Lalu sedikit demi sedikit, kita akan mulai dibuat penasaran soal apa Nishikata dan Takagi ini pada akhirnya benar-benar akan berakhir bersama atau tidak.

“Karena aku mau pulang sama kamu.”

Jujur saja, alasan aku semula memperhatikan seri ini adalah karena aku iri dengan hubungan yang terjalin antara Nishikata dan Takagi.

Sekali lagi, aku iri.

Mungkin aku perlu menegaskannya kembali. Aku iri dengan hubungan Nishikata dan Takagi.

Yea, sekilas terdengarnya mungkin mirip Tonari no Seki-kun. Tapi hasil akhirnya benar-benar jauh berbeda.

Segala yang dituturkannya terasa begitu… ‘sederhana’ sekaligus ‘berarti’ pada saat yang sama. Gaya gambar yang digunakan Yamamoto-sensei itu bernuansa bersih, ringan dan cerah, memaparkan kehidupan yang seakan tak penting, tapi damai. Lalu kita terus diperlihatkan bagaimana kehidupan Nishikata dan Takagi berlanjut pada berbagai titik yang berbeda. Lalu kita dibuat penasaran setengah mati… soal bagaimana ini semua bakal terjalin dan terbentuk.

Uh, karena aku jarang merasa begini, aku kesusahan mendeskripsikan perasaanku.

Tapi terlepas dari itu, aku mengetahui tentang seri ini saat secara iseng menggugel ‘oniichan’ (yang salah satunya membawaku ke grup translasi oniichanyamete) yang membawaku pada Fudatsuki no Kyoko-chan, salah satu karya Yamamoto-sensei yang lain (tentang seorang anak SMA sangar yang disangka siscon karena berusaha menutupi kenyataan kalau adik perempuannya semacam vampir), yang menampilkan tema keseharian serupa namun dengan nuansa lumayan berbeda. Heh, bahkan gaya gambar beliau di seri ini juga berbeda, padahal keduanya kalau tak salah diserialisasikan sekaligus! Dari sana, aku kemudian mengetahui tentang Yamamoto-sensei, dan akhirnya jadi lumayan penasaran beliau orang seperti apa sampai bisa menghasilkan cerita-cerita macam begini.

Aku terus terngiang lumayan lama dengan seri ini sesudah memeriksanya sendiri.

Lalu karena aku iri, aku memutuskan untuk terus berusaha! Alasannya karena aku tahu seberapa besar rasa penyesalan yang bisa timbul kalau kau menyerah!

Maka dari itu, kalian juga jangan segampang itu menyerah!

Tag: ,
20/05/2015

ARMS

Sebenarnya, aku sudah lama ingin menulis tentang seri manga aksi ARMS (yang juga dikenal dengan judul Project ARMS, untuk versi animenya yang diproduksi TMS Entertainment). Tapi aku selalu bingung menulisnya mau bagaimana.

Manga ini dibuat oleh Minagawa Ryoji bersama Nanatsuki Kyoichi, dua nama yang mungkin sudah kalian kenal dari seri-seri manga bertema militer mereka (seperti Spriggan atau Aegis in the Dark). Aslinya, ARMS (yang harfiahnya dapat berarti ‘lengan’ dan ‘persenjataan’ sekaligus) diterbitkan di majalah Weekly Shonen Sunday terbitan Shogakukan, dan diserialisasikan dari tahun 1997 sampai 2002. Tapi untuk suatu alasan, di sini diterbitkannya oleh Level Comics, yang demografinya lebih dtujukan buat pembaca dewasa.

Sekalipun mungkin tak terlalu dikenal lagi (dan mungkin terhitung klasik untuk ukuran zaman sekarang—wow, padahal ini berarti manga ini sezaman sama Rurouni Kenshin!), manga ini di tahun 1999 sempat meraih Penghargaan Manga Shogakukan untuk genre shonen. Alasan aku terus penasaran buat mengulasnya adalah karena manga ini…

…Gimana ngungkapinnya ya?

Ringkasnya, buatku, ini satu-satunya manga aksi buat cowok yang berulangkali bikin aku ngerasa kalau para tokoh utamanya enggak mungkin bisa lolos dari situasi mereka. Jadi, para karakter utamanya akan terdesak. Mereka enggak cuma sekali, tapi berulangkali, ngehadepin situasi yang benar-benar gila, di mana enggak kebayang gimana mereka bisa lolos dari bahaya. Tapi mereka berhasil melakukannya. Lalu ini terjadi enggak karena deus ex machina!

Jadi, kalau di manga-manga lain, perasaanku bakal kayak: “Oke, keadaan gawat. Aku penasaran ama lanjutannya. Aku pengen tahu si pengarangnya bakal ngebikin para karakternya lolos kayak apa.” Tapi kalau di manga satu ini, aku kayak, “ENGGAK MUNGKIN! INI ENGGAK MUNGKIN! GIMANA CARANYA INI BISA DIATASIN?!”

Gitu.

Maksudku, ini sensasi yang bahkan enggak pernah kutemui lagi di manga-manga aksi shonen lain yang lebih tenar. Alasannya mungkin karena aspek realisme di ARMS yang dipertahankan dengan benar-benar kuat…

Para karakternya ngatasi situasi mereka semata dengan apa-apa yang sejak awal memang mereka punya gitu. Enggak melulu dengan suatu kekuatan baru dahsyat yang tiba-tiba mereka muncul dan punyai. Jadi mungkin itu yang membuat seri ini begitu berkesan.

Oya. Prinsip-prinsip fisika dari apa yang terjadi juga kerap dijabarkan sih.

“Apa kau menginginkan kekuatan?”

Ehem.

Baiknya aku mulai singgung soal ceritanya.

ARMS berkisah seputar remaja bernama Takatsuki Ryo dan kawan-kawan yang kelak ditemuinya: Shingu Hayato, Tomoe Takeshi, dan agak belakangan, satu-satunya perempuan di antara mereka, Kuruma Kei—yang mendapati diri mereka ternyata telah menjadi subjek percobaan suatu senjata biologis baru yang disebut ARMS, oleh suatu organisasi misterius yang sangat berkuasa bernama Egrigori.

ARMS berwujud seperti kumpulan nanomesin dan mineral yang menyatu dengan tubuh penggunanya, biasanya pada bagian tungkai mereka, tangan atau kaki, dan dapat berubah-ubah bentuk dan fungsi. Jenis kekuatan ARMS bervariasi, mulai dari memberi penggunanya kekuatan super sampai mewujud menjadi suatu senjata pemusnah massal.

…Baiknya kalian baca sendiri langsung sih untuk lebih jelasnya.

Persenjataan ARMS ini dinamai berdasarkan karakter-karakter dari Alice in Wonderland-nya Lewis Carrol. Jadi ada banyak referensi dalam ceritanya yang mengarah ke sana. Lalu seiring dengan waktu, kekuatan masing-masing ARMS mulai berevolusi dan bertambah. Pada saat yang sama, di dalam masing-masing ARMS, bersemayam semacam kecerdasan buatan yang juga berinteraksi dengan pemiliknya, bisa menjadi kawan atau lawan di saat yang sama.

Egrigori ceritanya organisasi sangat raksasa yang secara diam-diam berupaya ‘mempercepat evolusi manusia.’ Karenanya, ada banyak penelitian lain terhadap manusia yang mereka kembangkan. Sehingga ada banyak kekuatan ajaib lain yang dikembangkan selain ARMS, yang juga menjadi lawan bagi Ryo dan lainnya.

Pada akhirnya, Ryo, bersama Hayato yang impulsif dan ingin membalas dendam atas keluarganya yang dibantai; dan Takeshi, yang awalnya lemah, pengecut, karena selalu ditindas; melakukan perjalanan panjang keliling dunia untuk mengetahui jati diri mereka yang sebenarnya. Mereka juga sekaligus harus lolos dari pengejaran Egrigori, yang telah mengendus jejak keberadaan mereka. Lalu pada satu titik dalam cerita, mereka juga mulai mencari jejak keberadaan Akagi Katsumi, teman masa kecil Ryo, yang telah diculik Egrigori untuk dijadikan sandera.

Ryo yang sopan dan ramah memiliki ARMS di tangan kanannya, yang seakan bisa berubah-ubah wujud sesuai kebutuhan, mulai dari perisai sampai ke meriam udara. ARMS milik Hayato ada di tangan kiri, yang lazimnya berbentuk mata-mata pedang. Sedangkan ARMS milik Takeshi ada di kaki, memberikannya kemampuan bergerak melebihi manusia normal. Ketiga ARMS juga memberi pemiliknya kemampuan pemulihan di atas rata-rata. (Untuk Kei, tak aku ungkap dulu deh.)

Satu hal lain yang aku suka dari ini adalah bagaimana Ryo dan kawan-kawannya bisa unggul tak semata karena kekuatan ARMS mereka saja. Tanpa ngasih spoiler, Hayato mendalami ilmu bela diri, Takeshi memiliki kepintarannya, lalu Ryo punya pengalaman bertahan hidup di alam liar karena seringnya ia diajak berkemah oleh ayahnya. Tapi ini cuma sebagian kecil dari apa-apa yang mereka punya.

Ada cukup banyak lawan yang mereka hadapi di sepanjang perjalanan, dengan sosok agen Egrigori misterius Keith Black sebagai salah satu yang menonjol. Tapi cerita kemudian berkembang dengan semakin banyaknya pihak lain yang tak mereka kenal, tokoh-tokoh lain yang tak jelas aliansinya yang turut berperan dalam cerita, menimbulkan semacam pusaran intrik dan kecurigaan bagi para karakternya.

Kekuatan yang Sesungguhnya

Secara menyeluruh, ARMS terdiri atas 22 buku.

Animenya berakhir beberapa waktu sebelum manganya tamat, dengan total sekitar 50 episode, terbagi menjadi dua bagian, dan berakhir penayangannya kalau enggak salah tahun 2001. Tapi ceritanya secara garis besar lumayan tuntas.

Aku belum pernah melihat animenya. Jadi maaf karena soalnya aku enggak bisa komentar banyak.

Tapi bicara soal manganya sendiri, ini seriusan termasuk seri yang memuaskan. Ceritanya berawal dan berakhir secara pas. Bagian akhir ceritanya mungkin memang tak sekuat bagian-bagian awal dan tengahnya, berhubung perkembangan karakter yang Ryo dan kawan-kawannya telah tuntas. Tapi tamatnya menurutku tetap memberi penutup yang memuaskan.

Apa? Karakterisasinya agak klise? Tapi aku baca ini buat aksinya, man!

Pada mulanya, aku juga tak merasa temanya menarik sih. Aku juga tak merasa bakal terkesan dengan animenya (padahal kesannya agak mirip S-CRY-ed?). Tapi sesudah membacanya sendiri, aku benar-benar terpukau. Pertama karena nuansanya yang enggak biasa, apalagi kalau mengingat karya-karya lain dari duo pengarangnya. Jadi ceritanya ‘berat,’ tapi enggak ‘segelap’ yang kusangka. Namun alasan sebenarnya seri ini begitu berkesan buatku mungkin karena hatinya kuat.

Oke. Itu ungkapannya mungkin enggak jelas. Tapi intinya demikian.

Akhir kata, kalau kalian bingung ingin baca seri manga cowok yang seru, ini salah satu seri yang bakal aku rekomendasikan.

Soal kenapa ini diterbitkan oleh Level. Satu, mungkin karena gaya gambarnya yang lebih cocok buat orang-orang yang sudah berusia. Dua, karena ceritanya memang bisa seintens itu.

…Enggak, aku enggak bercanda!

Omong-omong, kualitas terjemahan dari Level cukup lumayan. Tapi aku ingat soal betapa penerbitannya kalau enggak salah berlangsung dengan lumayan lambat, agak tak sesuai dengan tempo cerita cepat yang seri ini punya. Yah, tapi seenggaknya mereka menerbitkannya tuntas sampai tamat.

Sesudah Naruto tamat, aku sedang berusaha mengingat-ingat kembali semua manga aksi shonen yang pernah kuanggap keren.

Tag: ,
09/02/2015

Yu Yu Hakusho

Karena suatu alasan, aku baru memeriksa tamatnya versi komik Yu Yu Hakusho (‘buku putih si Yu?’) belum lama ini.

Buat yang belum tahu atau sudah tak ingat, Yu Yu Hakusho merupakan manga shonen karangan Togashi Yoshihiro yang terbit di Weekly Shonen Jump punya penerbit Shueisha di dekade 1990an (dan sudah diterbitkan di sini sampai tamat oleh Elex), sebelum beliau meluapkan lebih banyak keanehan seleranya melalui Level E dan tenar lebih jauh melalui Hunter x Hunter. Ceritanya tentang petualangan-petualangan seorang remaja SMP berandalan bernama Urameshi Yusuke, yang dibangkitkan kembali dari kematian untuk memburu siluman-siluman penjahat sebagai detektif alam roh.

Sebenarnya, daripada manganya, yang dulu tenar banget dari Yu Yu Hakusho adalah animenya sih. Animenya dulu pernah sempat ditayangkan di televisi sini, dan dianimasikan sebanyak 110an episode dengan lumayan sukses oleh studio Pierrot. Animenya cukup keren dengan desain monsternya yang beragam dan aksi-aksinya yang bisa berdarah-darah. Tapi cerita asli dalam manganya…

Ehm.

Lebih banyak soal itu biar kubahas nanti.

Gimanapun, konsep ceritanya, yang menampilkan empat sahabat cowok yang bertarung dan bertambah kuat dalam menumpas musuh-musuh, untuk suatu alasan sangat menarik perhatian pada masa itu. Lalu karena suatu alasan juga, beberapa minggu lalu, aku tiba-tiba terpikir untuk memeriksa cerita di versi manganya yang sudah lama kudengar agak beda ketimbang versi animenya.

Oke, sebenarnya aku sudah lama tahu tentang tamat animenya sih. Ringkasnya: tamat versi animenya meski adegannya mirip tetap jauh lebih bagus. Cuma, pada suatu hari aku benar-benar penasaran saja soal tamat manganya kayak apa.

Lalu buat yang mau tahu juga, bicara soal judul-judul manga lawas, sebenarnya aku baru mulai baca manga REAL karangan Inoue Takehiko. Tapi mending soal itu dibahas lain kali.

Telor Cahaya

Ringkasnya: Urameshi Yusuke yang dikenal sebagai berandalan paling keji di SMP Sarayashiki pada suatu hari tiba-tiba mati dalam suatu kecelakaan lalu lintas demi menolong seorang anak kecil yang nyaris ditabrak. Kematiannya ini (hampir secara harfiah) menggegerkan seluruh alam, karena dirinya dipandang sebagai pemuda nakal yang tak bisa diatur dan teramat kejam.

Cuma ada satu orang yang sungguh-sungguh menangis keras-keras saat Yusuke meninggal. Orang itu adalah sahabat masa kecil Yusuke, Yukimura Keiko, yang mungkin satu-satunya orang yang masih menganggap Yusuke orang baik.

Sementara ibu Yusuke, yang merupakan single parent, kurang begitu layak mengurus dirinya sendiri, apalagi berperan sebagai orangtua. Dan, yah, intinya, tindakan Yusuke benar-benar di luar dugaan.

Lalu saat roh Yusuke masih dalam keadaan melayang-layang dan separuh percaya bahwa dirinya sudah mati, tiba-tiba muncul seorang gadis manis utusan alam roh bernama Botan, yang merupakan salah seorang pemandu roh melewati Sungai Sanzu. Botan lalu menjelaskan duduk perkara tentang kematian Yusuke padanya, dan…

…Oke. Kita lewatin saja cerita beberapa buku.

Intinya, beberapa buku kemudian, Yusuke diharuskan menjabat sebagai detektif alam roh yang harus memecahkan kasus-kasus yang melampaui batasan dunia orang mati dan dunia orang hidup. Ada semacam komplikasi situasi yang memaksanya mengambil jabatan itu, yang terutama berkaitan dengan siapa dirinya sebenarnya.

Lalu selain ketangguhan fisiknya, Yusuke juga dibekali dengan senjata khusus para detektif (salah satu ciri khas seri ini), yaitu kemampuan untuk menembakkan energi roh bernama Rei Gun, yang akan terlepas bila ia mengarahkan telunjuk kanannya ke depan dengan posisi jempol ke atas.

Yusuke kemudian berhadapan dengan berbagai kawan dan lawan, dan berhadapan dalam suatu konspirasi berkepanjangan untuk membuka pintu dunia manusia dengan dunia iblis Makai.

Cerita yang Baru Dimulai Dengan Tokoh Utama yang Mati

Membaca ulang cerita Yu Yu Hakusho, aku sulit buat enggak melihat beberapa elemen prototip yang kemudian muncul kembali dalam Hunter x Hunter. Teknik bertarung yang mengandalkan tenaga dalam, pertarungan-pertarungan urat saraf yang menguji mental, sampai ke desain-desain karakter aneh yang bervariasi dari seksi sampai agak menjijikkan.

Bicara soal ceritanya, terus terang, kalau kau baca manganya, kelihatan banget kalau Yu Yu Hakusho adalah jenis seri yang ceritanya ‘dibikin sambil jalan.’ Jadi, bukan jenis yang ceritanya sudah direncanakan sejak awal.

Genrenya, dari drama supernatural keseharian, tiba-tiba berubah menjadi seri aksi ala Dragon Ball begitu Yusuke diangkat sebagai detektif. Kualitasnya sebagai sebuah manga aksi—apalagi kalau menilai dari kualitas gambarnya—sebenarnya enggak bisa dibilang bagus-bagus amat. Tapi ada sesuatu yang benar-benar unik tentang elemen-elemen ceritanya, yang walau enggak bikin kamu wow, di saat yang sama juga enggak akan bisa kamu temuin dalam seri-seri manga lain. (Seenggaknya, sampai Hunter x Hunter keluar.)

Ada yang bilang itu karena ada satu arc penting dalam ceritanya yang memaparkan suatu turnamen bela diri (Dark World Tournament) yang lagi-lagi mirip Dragon Ball. (Yang kemudian juga membuatnya mirip Flame of Recca karya Anzai Nobuyuki. Tapi berbeda dari Yu Yu Hakusho, Flame of Recca lebih tenar karena komiknya, btw.) Tapi terus terang, kupikir alasannya bukan itu.

Meski banyak, adegan-adegan aksinya sebenarnya tak menonjol amat. Ada cukup banyak saat ketika Yusuke menang semata karena keberuntungan semata—walau ini enggak lagi terjadi begitu mencapai pertengahan seri.

Kalau aku menebak, mungkin karena para karakternya. Soalnya para karakternya, bahkan yang sampingan, emang beneran menarik.

Yusuke, meski berandalan, adalah orang baik, pekerja keras, dan bertanggung jawab. Lalu dari yang hanya mengandalkan keberuntungan, sedikit demi sedikit dirinya benar-benar bertambah kuat.

Ada teman sekolah Yusuke bernama Kuwabara Kazuma, yang sok mengaku adalah rival Yusuke, yang di luar dugaan menjadi satu-satunya orang di dekatnya yang punya kepekaan supernatural. (Ada satu bagian cerita di mana Kuwabara didorong untuk berciuman dengan Yusuke demi menghidupkannya kembali.)

Botan adalah gadis cantik namun agak aneh yang dari waktu ke waktu memberi kabar kerjaan yang malas Yusuke hadapi.

Lalu ada dua orang bekas lawan Yusuke yang menjadi kawan: yakni Kurama, alias Minamio Shuuichi, yang merupakan siluman rubah legendaris yang bereinkarnasi menjadi remaja manusia bishonen pengguna tumbuhan-tumbuhan siluman; serta Hiei, seorang siluman berbadan kecil pencari kekuatan yang sekaligus ahli pedang, yang sebenarnya menanamkan mata ketiga pada dahinya demi menemukan adik perempuannya yang hilang.

Bos Botan adalah Koenma, anak kecil yang mengisap dot yang merupakan putra Enma Daioh, dewa alam baka. (Koenma juga berubah menjadi bishonen saat menampilkan wujud manusianya, walau masih tetap dengan mengisap dot. Tapi dotnya kemudian nanti berperan penting dalam cerita!)

Ada seorang nenek-nenek ahli roh bernama Genkai, yang sempat mengadakan turnamen juga untuk menemukan penerus ilmu bela diri Reiko Hadouken (tinju gelombang energi roh?).

Lalu ada juga Keiko, yang dengan setia terus menantikan kepulangan kembali Yusuke terlepas dari hal-hal gila yang ia hadapi.

“Mana ada musuh yang tiba-tiba curhat soal kekuatannya padamu!”

Musuh besar pertama yang Yusuke dan kawan-kawannya hadapi—dalam suatu kasus yang melibatkan Yukina, seorang yuki onna yang merupakan adik Hiei—adalah pasangan kakak beradik Toguro yang bekerja untuk suatu pihak misterius. Toguro ‘kakak’ yang berbadan kecil sanggup mengatur otot-otot di tubuhnya agar bisa berubah menjadi bentuk apapun (dirinya konon tak bisa mati.). Sedangkan Toguro ‘adik’ yang berkacamata hitam dan teramat kekar ternyata adalah teman seperguruan Genkai yang jatuh ke jalan yang salah, yang mampu memanipulasi bentuk ototnya seolah dirinya siluman.

Keduanya sebenarnya bekerja untuk seorang konglomerat sangat kaya bernama Sakyo, pemimpin Black Book Club yang terlibat dalam penyelundupan siluman dan perdagangan budak. Cita-cita Sakyo untuk membuka gerbang antar dunia adalah plot tersembunyi dalam turnamen besar yang dijalankannya. Tapi ternyata kemudian ada penerusnya: seorang pemuda berbahaya bernama Sensui Shinobu, yang ternyata pernah menjadi detektif alam roh untuk Koenma seperti Yusuke juga.

Sensui menjalankan plot berbahaya yang melibatkan sejumlah orang dengan kemampuan khusus (Game Master, Sniper, Doctor, Gatekeeper, Dark Angel, Seaman… aku lupa sisanya). Yusuke bersama sejumlah kawan lama maupun baru harus bekerjasama untuk mengejar jejaknya dan menghentikan rencananya.

Sesudah bab melawan Sensui inilah, cerita pada manga dan animenya mulai agak mencolok perbedaannya, meski secara umum alurnya benar-benar mirip.

Ceritanya sama-sama mengetengahkan konflik antara tiga kekuatan besar di Makai yang hendak merebut kekuasaan, dengan Yusuke, Kurama, dan Hiei sama-sama mendukung pihak yang berbeda. (Yusuke berada di pihak Raizo; yang secara genetik merupakan leluhur Yusuke dan tengah sekarat; Kurama berada di pihak Yomi, yang merupakan mantan bawahannya semasa dirinya masih menjadi pencuri keji; sedangkan Hiei di pihak Mukuro, yang sebenarnya adalah perempuan) Tapi ada lumayan banyak yang berbeda pada detil dan nuansa pemaparannya.

Pastinya, animenya memaparkan aksinya dengan lebih baik. Terutama pada bagian ceritanya yang paling akhir di Makai. Tapi di manganya, semuanya itu kayak… terlepas-lepas? Entah ya. Mungkin ada beberapa yang akan punya pendapat berbeda. Ceritanya sama-sama berakhir antiklimatik, tapi dengan cara ‘enggak disangka’ yang bisa dibilang benar-benar khas Togashi. Bab-bab terakhir manganya lebih kerasa kayak filler, tapi jenis fillerfiller pendek yang bikin kita agak “Hah?” dan mesti kuakui emang menarik.

Lalu saat semua berakhir, keduanya sama-sama memberi rasa puas di akhir yang (agak) sama. Meski versi manganya beneran kerasa dipercepat temponya (pertarungan terakhir enggak ditunjukin, tapi hanya dibeberkan hasilnya aja dalam dialog) dan ada kesan ‘berantakan’ dan ‘seenaknya’ pada apa-apa yang terjadi.

Foto Lama di Atas Meja

Akhir kata, kurasa ini memang seri shonen yang bakal kukenang. Alasannya terutama karena enggak benar-benar ada seri lain yang serupa dengan seri ini sebelumnya. Kalau kalian penggemar Hunter x Hunter dan mulai membaca seri ini, maka kalian mungkin bakal mulai paham kenapa Togashi-sensei menjadi satu pengarang yang begitu disegani di redaksi Shonen Jump. Soalnya, kayaknya, emang hampir enggak ada lagi pengarang yang bisa bikin cerita kayak yang beliau buat.

Sejak awal ada kesan kalau Yu Yu Hakusho emang enggak dimaksudkan buat jadi manga aksi yang penuh pertarungan. Kelihatan gimana Togashi kayak bertahan menuruti kemauan editornya dan sedikit banyak meluapkan keinginannya sendiri. Terlihat pada adegan-adegan pertarungannya yang bisa sangat ‘seadanya.’ Tapi hasil akhirnya berakhir keren.

Memang adegan aksinya tak pernah panjang dan kerap hampir tanpa koreografi. Tapi empat sekawan Yusuke, Kuwabara, Kurama, dan Hiei, bisa benar-benar berkesan dengan perbedaan kepribadian mereka dan kemampuan mereka masing-masing. Ada banyak sekali perkembangan yang enggak keduga. Ada sejumlah karakter jahat yang nasib akhirnya agak di luar bayangan.

Ya, bahkan ada aksi-aksi sadis dan tema agak berat dan gelap di dalamnya. Semuanya kayak beneran anti-mainstream.

Lalu kalau ada satu tema yang secara konsisten tetap ada dalam ceritanya dari awal sampai akhir, maka kurasa itu cuma tumbuhnya hubungan cinta antara Yusuke dan Keiko yang tergarap dengan benar-benar baik dalam versi animenya. Jadi pada dasarnya, Yu Yu Hakusho itu sebenarnya suatu kisah cinta?

Yah sudahlah.

Oh. Lalu lagu tema animenya yang berjudul ‘Daydream Generation’ terkadang masih aku putar cuma buat sedikit mengenang apa yang telah lalu. Nuansa dekade 90annya benar-benar sangat kental.

Omong-omong, belum lama ini aku berusaha meniru gaya rambut Toguro ‘adik’, cuma agak gagal. Jadi sudahlah juga kalau soal itu.

…Ngomong-ngomong lagi, dari sisi anime, belakangan kita kayak lagi ngalamin kebangkitan era 90an gitu ya? Pertama Sailor Moon, lalu Jojo’s Bizarre Adventure, kemudian ada Parasyte, dan lagi-lagi akan ada Saint Seiya. Bahkan kudengar Ushio and Tora juga tak lama lagi akan dianimasikan.

Kurasa benar kata mereka soal bagaimana sejarah akan berulang.

 

06/10/2014

Baby Steps

…Aku jarang mengikuti seri manga olahraga.

Ya, dulu aku penggemar Slam Dunk karangan Inoue Takehiko. (Gimana caranya kau bisa enggak jadi penggemar Slam Dunk sesudah baca sekali?!) Baik anime maupun komiknya dulu sama-sama pernah kuikuti. Tapi makin ke sini, hmm, minatku terhadap seri-seri olahraga kelihatannya agak menurun.

Ya, sesekali aku baca manga bertema baseball karangan Adachi Mitsuru. Tapi ceritanya kan banyak dipadu dengan drama, jadi paling cuma itu. Prince of Tennis tak pernah benar-benar aku minati, walau animenya sempat cukup meledak. Lalu meski harus mengakui kebagusan dan keseruan Kuroko no Basuke serta Haikyuu!, aku tak pernah benar-benar sampai jadi penggemar keduanya. (Oh, manga Kuroko sempat tamat belakangan.) Kalau kupikir lagi, aku juga enggak pernah terlalu menggemar manga-manga yang mengangkat tema soal sepakbola.

Makanya, apa yang kualami sekarang mungkin memang sesuatu yang agak aneh.

Memang jarang-jarang sih. Tapi secara berkala aku mengikuti perkembangan manga tenis Baby Steps (‘langkah-langkah bayi/kecil’) karangan Katsuki Hikaru, yang sudah diterbitkan di sini oleh Elex, dan aslinya diterbitkan mingguan oleh Weekly Shonen Magazine punya Kodansha.

Segala Sesuatu Bisa Diatasi Dengan Akal dan Kemauan

Baby Steps, ringkasnya, mengisahkan pengalaman-pengalaman seorang remaja SMA bernama Maruo Eiichirou yang mulai menggeluti dunia tenis.

Premis ini sekilas kedengaran biasa. Tapi kalau kalian pernah mendapat pelatihan tenis formal sebelumnya, mungkin kalian akan terenyuh karena dalam pandangan umum, mengejar dunia tenis profesional pada usia SMA tidak dipandang sebagai ide yang bagus. Tenis itu, singkatnya, merupakan olahraga yang idealnya turut ‘membentuk’ badan selama masa pertumbuhan. Jadi para petenis dunia yang beneran jago konon telah ditentukan masa depan mereka semenjak mereka masih kecil. Sehingga status Ei-chan (demikian dirinya dipanggil, salah satunya karena sebelumnya berkat nilai-nilai pelajarannya yang bagus dan catatan-catatannya yang teramat rapi ia dikenal sebagai seorang straight A student) sebagai seseorang yang belum lama mendalami tenis berulangkali membuat terkesima orang-orang baru di sekelilingnya. Terlebih saat bagaimana kekurangan pengalaman dan fisiknya ia imbangi lewat kemampuan analitiknya serta kontrol bolanya yang benar-benar jauh di atas rata-rata.

Ei-chan memutuskan untuk tenis saat ia bergabung dengan klub tenis di dekat rumahnya yang bernama Southern Tennis Club atau STC. Semula, dirinya bergabung semata-mata karena merasa dirinya kurang olahraga. Tapi kemudian ia mendapati bahwa ada teman sekolahnya, seorang siswi populer bernama Takasaki Natsu, yang ternyata menjadi anggota pelatihan di sana.

Natchan inilah, yang bercita-cita menjadi seorang petenis profesional, yang kemudian menyadarkan Ei-chan akan adanya jalur kehidupan lain selain mendapat nilai bagus dan kemudian mendapat pekerjaan bagus.

Mungkin separuh agak terpikat olehnya, Ei-chan kemudian mulai serius mendalami tenis demi bisa mengejar Natchan. Terutama sesudah Ei-chan mengetahui bahwa tujuan Natchan tak lain adalah karena ingin mengejar teman masa kecilnya sendiri, Ike Souji, yang seusia dengan mereka, tapi kini telah menjadi rising star dalam dunia tenis profesional internasional.

Antara Akal dan Naluri

Aku pernah menekuni tenis waktu SMP. Bahkan pada waktu itupun aku sudah dikomentari tentang bagaimana aku sudah ketinggalan dibandingkan anak-anak lain yang sejak SD sudah tergabung dalam sekolah tenis ternama di kotaku. Yah, aku enggak merasa ada banyak dari mereka yang kemudian maju ke jenjang profesional sih. Tapi mungkin kalian bisa bayangkan maksudku.

Dulu pelajaran tenis yang kudapat itu lewat les privat. Kalau kupikir, keadaanku dulu beruntung juga. Aku enggak pernah sampai merasa aku jadi benar-benar langsing. Tapi tanpa sadar, ototku terbentuk dengan sendirinya pada masa itu. Lalu walau aku dikelilingi anak-anak yang lebih muda, ada seorang cewek sebayaku yang tomboi yang menjadi teman main.

…Aku agak menyesal karena les privat itu aku akhiri dengan begitu saja sih. Dalam artian, kayak, aku berhenti datang sama sekali, dan berhenti begitu saja tanpa pamit ataupun penjelasan. Kepada kedua orangtuaku, aku memakai kesibukan pelajaran sekolahku sesudah masuk SMA sebagai alasan (walau memang nyatanya ini enggak salah). Tapi sesudah aku dewasa sekarang dan mikir ke belakang, ini keputusan yang pada akhirnya aku sesali.

Aku benar-benar bersikap lemah (dan pengecut) pada waktu itu, dan dampak keputusan itu terasa bahkan sampai sekarang.

Membaca Baby Steps, membandingkan diriku sendiri terhadap Maruo, terutama dengan melihat perkembangan hubungannya dengan para rivalnya, dan juga dengan Natchan sendiri, aku benar-benar jadi merasa payah.

Di sisi lain, ini manga olahraga yang terbilang langka karena porsi cerita yang berfokus pada olahraganya sendiri benar-benar besar.

Yah, tenis memang olahraga yang relatif individualis sih. Jadi enggak banyak faktor hubungan antar karakter yang bisa diangkat sebagai drama.

Tapi bila dibandingkan dengan cabang-cabang olahraga lain yang banyak diangkat dalam suatu fokus pada manga, lumayan terasa perbedaan warna yang tenis punya.

Konfliknya lebih banyak ada pada mental. Segala pergulatannya cukup banyak di dalam pikiran dan hati para pemainnya sendiri. Lalu walau kau kalah di satu kesempatan, itu sama sekali enggak serta merta berarti kau lebih lemah dari lawanmu. Tenis itu olahraga di mana dua pemain yang berhadapan di dalamnya sama-sama mengalami semacam evolusi di sepanjang permainannya.

Singkatnya, bahkan saat Ei-chan kalah pun, dia enggak pernah benar-benar ‘kalah.’ Ada sesuatu yang selalu didapatkan olehnya dan lawan-lawannya seusai bertanding. Sesuatu yang bisa dibilang bersifat pribadi.

Makanya, walau sekilas membosankan, dan karenanya tak begitu meledak, ini seri yang bisa dibilang seru bagi mereka yang bisa mengikutinya.

Oh, dan agak berbeda dari Prince of Tennis, aspek realismenya lumayan besar. Jadi enggak ada jurus-jurus maupun teknik aneh yang ditampilkan di dalamnya. Semuanya murni ada pada parameter fisik, kecendrungan bermain, gaya dan filosofi permainan yang dipegang, serta kekuatan mental masing-masing karakternya.

Metode Termudah Untuk Menjadi Riajuu

Baby Steps sempat memenangkan penghargaan manga Kodansha sebagai manga shonen terbaik. Sesudah aku ikuti, lumayan mudah untuk tahu alasannya kenapa.

Judulnya mengacu pada perkataan salah seorang karakter di dalamnya, yang bilang bahwa dari langkah-langkah bayi yang kecil dan teratur dapat tercipta lompatan-lompatan raksasa yang besar, dan persis itulah yang Ei-chan alami dalam manga ini.

Jumlah karakternya tak benar-benar sedikit. Tapi lingkup perkembangannya memang difokuskan lebih banyak pada Ei-chan, dan pada bagaimana ia mencoba membuktikan pada kedua orangtuanya dan sekaligus pada dirinya sendiri tentang cita-citanya ini.

Aku sempat mengira kalau Takasaki Natsu lebih banyak dipakai sebagai karakter pemanis. Tapi kenyataannya sama sekali enggak.

Hmmm… porsi elemen-elemen cerita di dalamnya memang agak enggak biasa untuk sebuah manga olahraga. Tapi ini seriusan seri yang bagus.

Dari segi gambar dan desain karakter, sekilas kesannya tak menonjol sih. Tapi saat kau perhatikan detil-detil yang ditampilkan di dalamnya, hasilnya sama sekali enggak jelek. Bahkan ada perhatian tak disangka, meski enggak dalam jumlah banyak, terhadap hal-hal sampingan yang ada di dalamnya juga. Dan yea, ini seri yang terbilang ‘bersih’ dari elemen-elemen aneh yang bisa ditemukan pada banyak seri belakangan.

Season 1 dari adaptasi animenya yang dibuat oleh Pierrot belum lama ini berakhir semenjak penayangan dari Oktober lalu. Berhubung ditayangkannya di saluran NHK-E, yeah, kalian tahu animenya adalah jenis yang kayak apa. Season 2 dari animenya sudah diumumkan. Tapi berhubung aku belakangan sibuk dan sudah mengikuti cerita dari manganya, maaf karena aku enggak mengikuti perkembangannya.

You know, alasan aku mengangkat pembahasan soal ini adalah karena kayak yang sebelumnya aku bilang, aku sedang berusaha melakukan pembenahan terhadap hidupku. Dan Baby Steps termasuk seri yang banyak ngasih pengaruh positif sekaligus ide tentang bagaimana baiknya cara aku melakukannya.

Ini serius telah menjadi salah satu manga olahraga favoritku untuk sekarang ini.

Tag:
25/11/2013

Kamisama no Iutoori

Sebenarnya, selain Attack on Titan, ada satu seri manga lain yang belakangan lumayan terkenal dari majalah komik bulanan Bessatsu Shonen Magazine. Seri tersebut adalah Kamisama no Iutoori (‘sesuai yang dewa bilang’) karangan Kaneshiro Muneyuki yang menangani cerita dan Fujimura Akeji yang menangani gambar.

Aku sedikit mencari tahu tentangnya benar-benar murni karena iseng. Lalu sesudah memperhatikannya sendiri, aku mulai paham kenapa seri ini bisa tenar.

Apa Kau Merasa Hidup?

Seri ini mengisahkan tentang serangkaian fenomena supenatural ganjil yang melanda di seluruh SMA seantero Jepang (dan belakangan diketahui, di seluruh dunia) yang tiba-tiba saja terjadi suatu hari.

Takahata Shun yang datar menjalani hari-harinya yang monoton di sekolah. Sampai suatu ketika, guru wali kelasnya pada saat hendak memulai pelajaran tiba-tiba saja meledak kepalanya, dan dari dalam sisa badannya, keluarlah sebuah boneka daruma yang kemudian menguji Shun dan teman-teman sekelasnya dengan sebuah permainan maut.

…Mungkin kalian merasa aneh kenapa aku menceritakannya ‘begitu saja’ kayak gini. Tapi dalam manganya juga penceritaannya memang demikian.

Seri ini tak membuang waktu sama sekali dalam menyajikan aksi-aksi yang terjadi. Shun, beserta satu demi satu teman-teman sekolahnya yang berhasil selamat, harus melewati permainan demi permainan aneh yang harus mereka menangkan semata-mata untuk bertahan hidup.

Karakterisasi dalam seri ini tak banyak tergarap karena memang yang ditonjolkan seri ini lebih pada betapa banyaknya ‘kematian sia-sia’ yang terjadi. Bahkan kerap ada eksposisi karakter yang lumayan ekstensif hanya untuk semata-mata diakhiri dengan bagaimana karakter bersangkutan mati.

Artwork-nya sendiri enggak jelek. Tapi sama sekali enggak menonjol. Lalu ada kesan kalau gambarnya sama sekali enggak dibuat biar seenggaknya kelihatan ‘menarik.’ Dan hal ini lumayan ngedukung aspek-aspek yang ditonjolkan ini dengan begitu banyaknya adegan repulsif yang terjadi.

Seluruh jalan untuk keluar masuk ke sekolah secara misterius tertutup. Seluruh metode komunikasi terputus. Lalu dengan segera apa yang terjadi segera mendapat sorotan dari seluruh agensi berita di seluruh dunia.  Apa-apa yang mereka hadapi beragam mulai dari boneka daruma ‘hidup’ sampai ke makhluk-makhluk serupa kokeshi seukuran manusia. Keadaannya secara bertahap semakin aneh; terutama dengan kemunculan medan-medan pembatas atau ruangan-ruangan yang jelas-jelas tak mengikuti hukum fisika. Kerap kali apa yang harus mereka lakukan dalam setiap permainan tak benar-benar jelas. Lalu berulangkali ada semacam twist yang kelihatannya terjadi semata-mata karena si pelaku di balik semua ini—siapapun sebenarnya dia—memang berkeinginan buat membuat hidup para pesertanya menjadi lebih susah.

Shun dengan segera menyadari bahwa orang-orang yang masih bertahan hidup nampaknya adalah orang-orang yang khusus memiliki ‘sesuatu’ yang tak orang lain miliki. Lalu kualitas ‘sesuatu’ tersebut menjadi penentu utama nasib mereka.

Apa yang terjadi pokoknya gila deh.

Pada saat yang sama, beragam pihak mulai melakukan penyelidikan mereka sendiri-sendiri terhadap apa yang tengah terjadi ini, dan pembahasannya semakin lama semakin memasuki ranah kabar-kabar burung dan supernatural.

Mereka Takkan Memberitahu Siapapun Kecuali Para Malaikat

Aku sebenarnya pengen membeberkan soal ceritanya lebih banyak. Tapi sehubungan banyaknya karakter yang tewas serta durasi seri ini yang tak (belum?) begitu panjang (hanya lima buku), jadinya benar-benar bisa spoiler parah.

Tema yang diangkatnya lumayan menyerupai tema ‘hidup-mati’ seperti yang sudah pernah kita lihat dalam banyak seri lain (seperti Gantz dan Btooom!). Lalu ditambah kemunculan elemen-elemen dari ‘permainan’ tersebut yang lumayan vulgar di dalam ceritanya, beberapa kali terbersit dalam pikiran kalau seri ini sebenarnya tak layak untuk diikuti.

Tapi… perkembangan seri ini terus terang lumayan mengejutkan.

Enggak sampai bisa kubilang ‘bagus’ sih. Tapi… mengejutkan. Apa ya? Memang sangat sering terkesan kalau pengarang Kaneshiro-sensei seperti sedang men-troll kita. Tapi di saat yang sama, ada perkembangan-perkembangan yang benar-benar tak disangka dalam ceritanya.

Terutama di sini menyangkut akhir ceritanya, yang menggantung dengan cara yang lumayan memukau, pada adegan saat Shun mengkonfrontasi sosok yang menjadi dalang(?) semua ini: Kamimaro. Misterinya itu begitu aneh dan ajaib, melibatkan tokoh-tokoh variety show, geng bermotor, hingga para pembuat doujin di Comiket.

Dalam proses yang, sekali lagi, lumayan mengejutkan dan mengangkat alis, seri ini ‘tamat’ begitu saja setelah 21 bab dan sekuelnya(?), Kamisama no Iutoori Ni (‘ni’ berarti ‘dua’), kemudian diumumkan akan diserialisasikan di majalah mingguan Weekly Shonen Magazine dan masih berlanjut hingga sekarang. Sekuelnya ini memutar waktu kembali ke hari pertama rangkaian insiden gila ini, namun dari sudut pandang sejumlah karakter baru, dan kemudian membeberkan jawaban dari sejumlah teka-teki yang belum terungkap dari seri sebelumnya.

Sebenarnya, aku juga masih belum tahu alasan sesungguhnya dari perubahan publikasi ini sih. Tapi siapa peduli. Dampak akhirnya keren. Jadi mungkin penyebabnya adalah betapa besarnya pangsa pembaca majalah mingguan ketimbang bulanan.

Masih terlalu awal juga untuk berkomentar lebih jauh tentang kualitas ceritanya (walau secara resmi seri ini terbilang ‘tamat’). Tapi format ceritanya yang aneh serta arah perkembangannya yang begitu ‘seenaknya’ telah lumayan membuat seri ini meraih perhatian.

Memang ironis. Tapi nampaknya memang untuk merasa ‘hidup’ kita memang terlebih dahulu harus mengetahui apa itu ‘mati.’

13/11/2013

Beet the Vandel Buster

…Kalian tahu, kepopuleran Shingeki no Kyojin dalam setengah tahun terakhir ini sempat membuatku mikir: rasanya, tema ‘kota-kota bertembok’ bukan pertama kalinya kutemui di seri itu. Baru belakangan, sesudah aku mengubek-ubek beberapa berkas pekerjaanku yang lama, aku sadar bahwa tema tersebut pernah kutemui sebelumnya dalam satu anime lain. Judul anime tersebut adalah Beet the Vandel Buster (‘Beet, sang pembasmi Vandel), atau yang juga dikenal dengan judul Jepangnya, Boken Ou Beet (‘Raja Petualangan Beet’).

Anime ini pertama keluar pada September tahun 2004 dan dengan total 52 episode. Durasinya yang selama setahun penuh lumayan mengindikasikan tingkat kepopulerannya. Ceritanya dibuat berdasarkan seri manga berjudul sama karya Sanjo Riku sebagai penulis naskah dan Inada Koji selaku penggambar dan diterbitkan di majalah Monthly Shonen Jump (yang sekarang sudah diganti perannya oleh Jump SQ) semenjak tahun 2002. Nama kedua pengarang itu yang menjadi salah satu pendorong ketertarikan utamaku terhadap seri ini. Keduanya adalah pengarang seri manga Dragon Quest: Dai no Daibouken yang dulu kugemari sewaktu kecil. Lalu dari judulnya, mungkin kalian bakal langsung sadar kalau ini seri yang lebih ditujukan buat anak-anak.

Sebenarnya, aku tak langsung tahu tentang keterlibatan kedua sensei di atas. Aku tak menyadarinya pas awal. Awalnya, bahkan kukira ini seri yang (mungkin karena judulnya) bahkan hampir sama sekali enggak akan kulirik. Tapi kemudian… apa ya? Ada sesuatu di bawah sadarku yang secara perlahan ‘mengarahkanku’ ke seri ini.

Mungkin sesuatu yang naluriah gitu.

Saat itu, di pertengahan akhir tahun 2006, aku dan seorang temanku sedang berdiri bersebelahan sembari melihat daftar anime-anime baru yang sudah keluar. Lalu secara hampir bersamaan, sembari mengernyit, kami sama-sama bertanya, “Hei, tau Beet the Vandel Buster ini tentang apa, enggak?”

Yah, pokoknya pengalamannya kira-kira kayak begitu.

Tapi seriusan. Awalnya aku benar-benar enggak sadar.

Aku baru mulai mencari info tentang seri ini sesudah melihat banyaknya elemen RPG Jepang yang ada di dalam ceritanya. Ada soal monster. Ada soal level up(!). Ada soal senjata-senjata sakti. Lalu aku pertama mengikuti seri ini bahkan tanpa tahu apa-apa tentangnya sebelumnya sama sekali.

Ditambah lagi, bahkan temanku berkomentar kalau ini jenis seri yang sebenarnya punya banyak potensi buat jadi enggak bagus. Tapi buat jenisnya, Beet the Vandel Buster beneran termasuk seri yang bagus. Aku normalnya bakal mempertanyakan apakah premis cerita kayak begini bakal berhasil. Tapi kenyataannya, Beet memang terbukti menjadi salah satu seri anime fantasi aksi paling efektif yang aku tahu.

Menuju Cakrawala Hitam

Cerita Beet berlatar di sebuah dunia fantasi serupa abad pertengahan dicampur industri yang disebut Zaman Kegelapan. Di masa ini, makhluk-makhluk jahat yang menggunakan Kekuatan Kegelapan (meiryoku?) yang disebut Vandel bermunculan dan mulai menggerakkan para monster untuk membunuhi manusia-manusia di muka bumi.

Bagi para Vandel, menciptakan penderitaan bagi manusia adalah raison d’etre mereka. Di ujung dunia, ada suatu tempat yang disebut Hotel Vandel (atau Kediaman Sihir Kegelapan) yang dikelola Vandel berwujud kelinci bernama Shagie, di mana para Vandel akan dianugrahi uang sekaligus permata ‘Bintang’ berdasarkan banyaknya manusia yang berhasil mereka bunuh dan banyaknya kota yang berhasil mereka hancurkan. Jumlah permata Bintang ini akan menentukan tingginya kedudukan yang dipunyai seorang Vandel. Lalu uang yang mereka peroleh mereka pergunakan untuk membeli monster-monster dari Ensiklopedi Monster, yang akan mereka gunakan kembali dalam tindak-tanduk mereka meneror manusia.

Para manusia di masa ini berlindung di dalam kota-kota bertembok besar yang mana gerbang-gerbangnya (yang berwajah dan bisa berbicara) melindungi mereka dari ancaman para monster. Namun melawan para Vandel, harapan para manusia untuk selamat jatuh pada orang-orang berkemampuan khusus yang disebut Buster, yang menggunakan Kekuatan Langit (‘tengeki’) untuk melindungi para manusia.

Ciri khas seorang Buster terdapat pada senjata-senjata istimewa yang disebut Saiga yang merupakan perwujudan dari ‘roh’ mereka. Sebuah Saiga terbentuk melalui Kekuatan Langit dan biasanya dengan sendirinya akan diperoleh seorang Buster begitu mereka menginjak level 30 ke atas.

…Enggak, kalian enggak salah baca.

Serupa dengan para Vandel (atau lebih tepatnya, kayak di game-game RPG), seorang Buster akan diberi penghargaan uang dan dinilai levelnya berdasarkan tingkatan pengalaman yang mereka punyai. Level seorang Buster akan dirajah secara ajaib dengan angka-angka romawi oleh para Appraiser di tiap-tiap desa yang mampu ‘melihat’ melalui bola mata pengalaman-pengalaman masa lalu mereka.

Boken Ou Beet berfokus pada petualangan sekelompok Buster yang dipimpin seorang pemuda berusia lima belas tahun bernama Beet yang telah bertekad untuk mematahkan dominasi kaum Vandel sekaligus mengakhiri Zaman Kegelapan.

Suatu insiden telah membuat Beet mewarisi kelima Saiga dari suatu kelompok Buster elit yang disebut Zenon Warriors (‘Zenon no Senshi’), yang dahulu kala sangat diidolakan Beet. Para anggotanya, yang dipimpin Buster legendaris bernama Zenon, telah mengorbankan nyawa sekaligus Saiga mereka demi melindungi dan menyelamatkan Beet di masa lalu saat Vandel berbintang lima bernama Raja Tragedi Belltorze menyerang kota tempat tinggal Beet waktu itu.

Dimotivasi rasa bersalah sekaligus cita-citanya pribadi, Beet kemudian berkelana dari kota tempat tinggalnya untuk berlatih menjadi Buster hebat.

Emotion

Porsi utama cerita seri ini diawali dengan kepulangan kembali Beet ke desa tempat tinggalnya tiga tahun sesudah lenyapnya Beltorze dan para Zenon Warriors, pertemuan kembalinya dengan Poala, sahabat semenjak kecilnya, yang juga telah memperoleh rajah dan bertekad menjadi Buster sepeninggal Beet (dan untuk suatu alasan telah didesas-desuskan di kalangan para Buster sebagai gadis yang akan menjadi istri Beet), serta konfrontasi keduanya dengan Mugain, Vandel yang belakangan itu mengancam keselamatan desa mereka. Selanjutnya, Beet dan Poala berkelana di bawah nama kelompok Beet Warriors yang baru untuk mengumpulkan kawan dan mengakhiri Zaman Kegelapan.

Plotnya memang terbilang sederhana. Tapi walau belum mencapai tarafnya Dai no Daibouken, ada cukup banyak detil di dalam ceritanya yang membuatnya menarik. Para monsternya, baik dari yang berstatus Vandel maupun para kroco, sama-sama ‘berkarakter.’ Mereka kayak punya cara menyerang, temperamen, serta kelemahan mereka masing-masing. Mungkin agak susah dibayangkan kalau belum dilihat sendiri. Tapi intinya, aku enggak heran saat melihat bagaimana dunia fantasi di mana Beet bernaung teramat menarik perhatian anak-anak lelaki.

Lalu walau ceritanya sederhana, perkembangan plotnya enggak segampang itu.

Ada kenyataan seputar bagaimana Beet dan Zenon rupanya memiliki hubungan kakak beradik, yang tampak dari bagaimana  Beet mewarisi keanehan fisiologis kakaknya yang membuat dirinya hanya bisa tidur (secara agak tiba-tiba) sekali setiap tiga hari. Ada soal stigma negatif yang para Buster miliki karena dipandang hanya akan menolong bila ada imbalan. Lalu hubungan antar karakternya, baik antara sesama Buster atau bahkan sesama Vandel, tanpa membuat ceritanya menjadi terlalu gelap, tidak terjadi begitu saja tanpa konflik.

Ada juga dilema dengan kenyataan bagaimana Beet telah mempunyai lima buah Saiga sekalipun dirinya belum mencapai level 30. Ditambah lagi dengan kenyataan dirinya belum pandai menggunakan tengeki, yang padahal menjadi sumber pembentukan setiap Saiga dari dalam diri setiap Buster.

Beet terbilang kuat dengan kelima Saiga di dalam dirinya, yang terdiri atas:

  • Excellion Blade; pedang cahaya dengan motif sayap milik Zenon, yang sekaligus menjadi perlambang seri ini; disebut-sebut sebagai Saiga terkuat yang pernah dikenal yang konon sekaligus meningkatkan kemampuan si penggunanya.
  • Burning Lance; tombak berkekuatan api yang diwarisinya dari Laio, anggota Zenon Warriors paling akrab dengannya, yang memiliki kekuatan untuk dapat memanjang.
  • Cyclone Gunner; pistol berkekuatan angin milik Alside yang pendiam dan kemudian Beet ketahui mampu berubah bentuk sesuai keadaan.
  • Crown Shield; perisai berkekuatan air milik Cruss yang disebut-sebut sebagai perisai terkuat di dunia; memiliki kekuatan penyembuhan dan dapat berubah bentuk menjadi bola baja.
  • Boltic Axe; kapak raksasa berkekuatan petir yang sebelumnya digunakan oleh Bluezam yang berbadan tinggi besar, yang teramat berbahaya karena mampu menghasilkan gelombang kejut setiap kali diayun.

Tapi Beet sendiri juga bukan jenis karakter ‘dewa’ yang tak mempunyai kelemahan. Belum semua Saiga di atas telah bisa Beet gunakan dalam pertarungan apalagi kuasai.

Dan ceritanya emang seru. Benar-benar seru dan bisa keren dengan cara-cara yang enggak terbayangin. Ada banyak desain monster yang unik sekaligus orisinil. Lalu tantangan-tantangan yang Beet dan kawan-kawannya memang menarik.

Memang di dalamnya ada banyak elemen RPG. Tapi eksekusi cerita di Beet the Vandel Buster bener-bener bagus. Enggak ada perasaan aneh sama sekali dengan semua sistem leveling dan permainan antar elemennya.

Maka dari itu, elemen-elemen petualangan dan perkembangan karakternya benar-benar jadi lumayan terasa, dan kurasa itulah yang membuat seri ini menjadi salah satu yang paling menarik untuk anak-anak pada masanya.

Adakah Saiga di dalam hatimu?

Adaptasi anime dari Beet the Vandel Buster memasukkan filler lumayan banyak ke dalam ceritanya. Tapi mengingat materi komiknya sendiri yang terbit secara bulanan, ini enggak bisa dikatakan sebagai hal yang buruk. Perjalanan Beet dan Poala diperpanjang dan ada lebih banyak hal di tengah perjalanan yang mereka hadapi.

Ini bahkan mungkin enggak akan disadari oleh mereka yang tak membaca komiknya. Tapi karakter Jiiku, yang berkelana di bawah bendera Jiiku Warriors bersama si kembar Ryuku (spesialis air) dan Raku (spesialis api) dan menjadi semacam sahabat sekaligus rival bagi Beet (Saiga: Blaster Edge, semacam pedang tebal yang memiliki fungsi ganda sebagai senapan), adalah karakter khusus yang hanya muncul di versi anime. Jiiku tampil sebagai karakter yang lumayan menarik dengan harga dirinya yang tinggi sekaligus masa lalunya sebagai seseorang yang pernah ditolong oleh Zenon dan kawan-kawannya sewaktu kecil.

Selain soal filler, seperti sejumlah anime lain yang diangkat dari manga, ada bagian-bagian cerita dengan pemuluran-pemuluran waktu dalam adegan-adegannya. Tapi mengingat statusnya sebagai tontonan hari libur untuk anak-anak, ini bukan hal yang sepenuhnya buruk.

Bicara soal teknis, visual anime ini termasuk yang lumayan untuk masanya. Mengingat usianya, kurasa kalian takkan menemukan versi video dengan layar melebar. Tapi warna dan efek-efeknya, mulai dari kekuatan Saiga-Saiga Beet maupun tengeki-tengeki api yang dilepaskan Poala, masih lumayan bisa dinikmati terakhir kali aku melihat.

Audionya termasuk lumayan. Sebagian besar lagu pembukanya dibawakan oleh grup musik SunSet Swish yang tengah mulai tenar di masa itu (mereka juga membawakan soundtrack buat Ookiku Furikabute, Code Geass, serta Bleach). Tapi lagu penutup pertamanya yang dibawakan oleh Mizuki Nana menjadi salah satu penutup anime paling berkesan; ditampilkan gimana satu per satu Vandel yang Beet hadapi di seri ini memandang wajah Beet dan kawan-kawannya yang penuh luka pertarungan secara bergantian melalui sebuah bola kaca. Jadinya menurutku benar-benar keren.

Cerita dalam animenya hanya mencakup kira-kira sampai manga buku ketujuh (dari dua belas buku yang mana seri manga ini kemudian menggantung). Tepatnya, tak lama sesudah konfrontasi Beet dan kawan-kawannya dengan Grineed, Vandel berbintang tujuh penguasa Cakrawala Hitam yang senantiasa berusaha bersikap cool, yang telah menetapkan Beet sebagai sasaran sebagai bentuk metode kerjanya untuk menghapus Buster-Buster menjanjikan sebelum mereka tumbuh dan berkembang. Ceritanya terputus persis sesudah reuni kembali Beet dan kawan-kawannya dengan BB Milfa (seorang gadis cantik yang dibalik sikap genitnya, adalah seorang Broad Buster, Buster dengan level di atas 40 yang telah diberi wewenang untuk menangani para Buster yang bertindak melenceng. Saiga miliknya adalah bilah penjepit raksasa Lightbolt Grasper yang berkekuatan petir). Ceritanya terputus saat Beet dan kawan-kawannya baru hendak memulai perjalanan mereka melintasi laut menuju Gransista, ibukota para Buster, di mana mereka akan menuntaskan kasus pengkhianatan yang pernah dilakukan Kissu, sahabat lama Beet yang memiliki bakat luar biasa dalam menggunakan tengeki, yang bahkan pada level di bawah 30 telah mampu menggunakan kelima elemen tengeki sekaligus.

Tapi, meski agak terputus secara menggantung (kelihatannya kabar soal bagaimana manganya kemudian hiatus baru terdengar di pertengahan masa tayang) ada juga sejumlah perkembangan cerita, bahkan pada episode-episode filler, yang menurutku pribadi menjadi benar-benar keren. Beet secara menyeluruh tetap menjadi salah satu seri paling berkesan yang aku tahu.

Adegan penutupnya juga benar-benar keren, dengan bagaimana sesudah kekalahan Grineed, ada hadiah yang kemudian ditawarkan kepada Vandel manapun yang berhasil membawa kepala Beet—–yang  memicu persaingan baru antar para Vandel berbintang tujuh yang kini tinggal enam—-dan bagaimana sosok(-sosok?) misterius pencipta Vandel ditampakkan di akhir seri, saat Vandel pengelola Vandel Hotel, Shagie yang bertelinga kelinci dan tak kalah misteriusnya, akhirnya bertemu kembali dengannya setelah sekian lama.

Seakan menjadi pengakuan atas kepopulerannya, bahkan sempat dibuat season lanjutannya, Beet the Vandel Buster Excelion. Tapi lebih lanjut soal itu, mungkin akan kuceritakan setelah menontonnya sendiri.

Soal Excelion, sekalipun statusnya memang sebagai filler, sebenarnya aku sudah terlanjur agak kecewa dari awal berhubung tak semua karakter berperan dari musim sebelumnya akan tampil kembali.

Salah satu yang secara mencolok absen adalah karakter pendiam dan penyendiri bernama Slade, yang menjadi semacam rival Beet dengan Saiga-nya, tombak angin Silent Glaive yang tak terlihat. Meski sebelumnya datang dan pergi, ia telah dipandang oleh fans sebagai bagian tak terpisahkan dari Beet Warriors yang juga dipandang terdiri atas lima orang.

Terlepas dari semuanya, berhubung hingga kini manganya masih belum berlanjut, masih belum jelas pula bagaimana masa depan seri ini. Dengan telah tumbuhnya target penggemar awalnya dari usia anak-anak, mungkin saja status seri inpun sampai akhir pun bakal terputus kayak begini.

Manga ini hiatus konon karena sakitnya Inada-sensei. Aku tak tahu detilnya sih. Tapi kalau membaca penuturan beliau pada manga buku 11, ada cedera tangan yang sempat beliau alami yang kemudian membuatnya khawatir soal karirnya sebagai manga-ka.

Beet adalah sebuah seri yang menunjukkan sejauh apa sikap pantang menyerah bisa membuatmu maju. Yang seriusan bikin aku kagum adalah bagaimana pesan penting ini bisa tersampaikan dengan cara yang lugas dan tak terlampau ribet.

Manganya tak buruk walau yang pertama kusukai adalah animenya sih.

Yah, kalau kalian tertarik dengan hal-hal kayak begini, mungkin ada baiknya kalian coba melihatnya sendiri.

Penilaian (untuk anime)

Konsep: C-; Visual: B; Audio: B; Perkembangan: B; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: B+

10/08/2013

Mobile Suit Crossbone Gundam

Aku lagi ingin ngebahas sesuatu yang menyenangkan. Jadi ayo kita bahas Kidou Senshi Crossbone Gundam.

Mungkin ini judul yang kedengaran agak asing. Soalnya ini bukan seri Gundam yang pernah keluar sebagai anime, melainkan sebagai manga. (Ada banyak banget seri Gundam yang cuma keluar sebagai manga, dan kebanyakan enggak cuma manga adaptasi anime saja. Jumlah cerita orisinilnya terlalu banyak buat dihitung pakai jari.)

Tapi di antara begitu banyak seri Gundam yang hanya keluar sebagai manga, Crossbone Gundam termasuk salah satu yang menonjol. Pertama, desain mechanya ‘beda’ buat ukuran zamannya. Kedua, karena ditangani secara langsung oleh bapak pencipta Gundam, Tomino Yoshiyuki. Ketiga, walau secara umum punya plot yang sederhana dan ringan, seri ini secara enggak langsung merupakan sekuel ‘resmi’ dari anime Kidou Senshi Gundam F91, yang di tahun 1992, konon berakhir ‘hanya’ sebagai film layar lebar dan bukannya seri TV seperti konsepnya semula.

Makanya, buat ngebahas Crossbone Gundam, aku perlu sedikit menyinggung Gundam F91 dulu.

Ceritanya, di tahun-tahun awal dekade 90an, sesudah berakhirnya kisah Amuro dan Char dalam film layar lebar Char’s Counterattack, ide buat menciptakan seri Gundam baru, yang terbebas sepenuhnya dari cerita-cerita lama, pada suatu waktu sempat diusulkan (Asal tahu saja, seri Gundam orisinil, lalu seri Zeta Gundam, kemudian seri Gundam ZZ, meski agak beda satu sama lain, sebenarnya saling sambung-menyambung. Seri-seri AU macam Gundam SEED dan Gundam Wing masih belum ada yang keluar di masa ini.). Tapi kemudian pihak studio animasi Sunrise selaku pembuat anime Gundam katanya terhambat masalah pendanaan, terkait dengan akusisi studio tersebut oleh pihak konglomerasi Bandai. Dana untuk menganimasikan konsep Gundam F91, yang semula disiapkan sebagai seri TV 50-an episode, nggak tau gimana ceritanya, akhirnya modal yang ada hanya cukup untuk membuatnya jadi film layar lebar berdurasi 90-an menit (kalo durasi ditotal jadi sekitar… 3-4 episode?).

Konten Gundam F91 yang sudah disiapkan buat jadi banyak itu konon akhirnya dipotong dan diedit hingga akhirnya bisa tertampung dalam hanya 90 menit(!). Tentu saja, hasilnya jadi enggak benar-benar bisa dibilang bagus… (Sekali lagi, semua kabar ini berbasis rumor dari Internet. Mungkin kenyataan sebenarnya enggak serumit ini.)

Tapi konsep awal Gundam F91 itu dipandang menarik banget oleh beberapa kalangan. Dan ditambah lagi, kalo kita ngelihatnya dari sudut pandang ini, hasil akhir Gundam F91 enggak bisa dibilang jelek-jelek amat.

Sempat ada beberapa manga side story yang dibikin untuk mengisi latar cerita di era ini. Kayak, buat ngejelasin lebih jauh soal gimana situasi di film tersebut sampai terjadi. Di antaranya, Kidou Senshi Gundam F90 dan Kidou Senshi Gundam Silhouette Formula 91. Tapi cerita yang kemudian mewadahi bayangan sesungguhnya akan visi yang Tomino-sensei miliki akan seri Gundam F91, tak lain adalah seri Crossbone Gundam yang manganya ditangani oleh Hasegawa Yuuichi.

Sebuah Insiden

Crossbone Gundam berlatar sepuluh tahun sesudah kekalahan faksi aristokratik Crossbone Vanguard yang dikisahkan dalam Gundam F91, yang menandai kandasnya ideologi pembentukan negara Cosmo Baylonia. Cerita seri ini mengetengahkan soal bagaimana kelompok Crossbone Vanguard yang telah dibentuk kembali oleh perempuan keturunan langsung terakhir keluarga Ronah, Berah Ronah, dan tangan kanannya, Kincadau Nau, mengangkat senjata untuk menghadapi ancaman baru terhadap koloni-koloni: Kekaisaran Jupiter.

Tokoh utama seri ini sendiri adalah Tobia Arronax, seorang murid yang tergabung dalam program pertukaran pelajar antara Federasi Bumi dan koloni-koloni luar angkasa di Jupiter Sphere.

Tobia menjadi saksi aksi kelompok ‘perompak’ Crossbone Vanguard saat kelompok tersebut menyerang kapal induk Smashion yang ditumpangi Tobia dan kawan-kawannya. Namun Tobia kemudian mengetahui bahwa imej ‘perompak’ yang selama ini Crossbone Vanguard usung sebenarnya adalah kedok. Program pertukaran pelajar yang dicanangkan bersama Kekaisaran Jupiter ternyata digunakan untuk menyelundupkan senjata-senjata biologis dari koloni menuju Bumi. Lalu satu-satunya pihak yang mengetahui kebenaran akan hal ini hanyalah faksi Crossbone Vanguard yang selama ini dicap sebagai penjahat.

Sesudah terlibat dalam pertempuran yang dimiliki pasukan MS Crossbone Vanguard, Kincadau memberi Tobia dua pilihan: melupakan segala yang telah dilihatnya dan kembali bersama para penumpang Smashion lain ke kehidupan yang damai di Bumi; atau ikut bergabung bersama mereka sebagai bagian Crossbone Vanguard.

Tak memiliki keluarga lain di Bumi, sekaligus telah melihat sendiri kekejaman yang Kekaisaran Jupiter dapat perlihatkan, Tobia kemudian menerima tawaran Kincadau untuk menjadi bagian dari Crossbone Vanguard. Ia kemudian turut serta bergabung sebagai awak kapal induk mereka, Mother Vanguard. Di sisi lain, Tobia penasaran dengan apa andil yang profesornya, Karas, miliki dalam semua ini. Terutama sesudah ia syok dengan bagaimana Karas yang selama ini membanggakan Tobia sebagai murid terbaiknya bisa semudah itu mengorbankan nyawanya.

Agak Enggak Biasa

Meski gaya gambarnya mungkin agak terkesan kekanakkan, ada beberapa hal tak biasa yang dimiliki Crossbone Gundam bila dibandingkan seri-seri Gundam lain. Meski dituturkan secara sederhana dan terkesan punya plot yang ‘gampang’, kalau kau perhatikan baik-baik, cerita Crossbone Gundam sebenarnya lumayan memiliki bobotnya sendiri.

Lalu pada sebagian besar durasi seri, Tobia tak memiliki MS yang tetap. Lebih tepatnya, ia berganti-ganti MS secara berkelanjutan sampai memperoleh Gundam-nya sendiri menjelang penghujung cerita. Jadi ini bukan cerita Gundam tipikal tentang bagaimana hidup seorang pemuda berubah sesudah memperoleh sebuah mecha.

Ada seorang gadis misterius bernama Bernadette Briet yang Tobia sempat lihat di insiden Smashion, yang kemudian ditemukannya sebagai penyusup di Mother Vanguard, dan memaksa untuk turut bisa bergabung bersama mereka. Seiring perkembangan cerita, Tobia kemudian mendapati bahwa Berah Ronah dan Kincadau Nau sebenarnya adalah Cecilly Fairchild dan Seabook Arno, kedua tokoh utama Gundam F91 yang disangka tewas pada penghujung konflik seputar pendirian Cosmo Babylonia. Bila Kincadau alias Seabook mengemudikan MS Crossbone Gundam X-1, rival lamanya, pilot andal Zabine Chareux, yang bergabung bersama mereka seiring pergantian kepemimpinan di Crossbone Vanguard, mengemudikan MS setipe berwarna hitam, Crossbone Gundam X-2. Tapi hubungan antara keduanya tak sepenuhnya mulus. Sebab selain karena ia bekas musuh, alasan bergabungnya Zabine semata-mata karena harapannya bahwa Berah akan membangun pemerintahan aristokratik absolut yang diimpikannya di kemudian hari—suatu cita-cita yang tak benar-benar Berah usung.

Kekaisaran Jupiter dipimpin oleh sosok misterius bernama Crux Dogatie. Lalu sebagian besar konflik di seri ini terdapat pada bagaimana Tobia dan kawan-kawannya berusaha menelusuri jejak-jejak keberadaannya.Mereka meyakini bahwa dengan menyingkirkan Dogatie, rencana Kekaisaran Jupiter untuk menyerang Bumi dengan sendirinya akan terhentikan. Namun ada lebih banyak rahasia tentang rencana itu serta tentang diri Dogatie yang tak mereka sangka…

Identitas Bernadette kemudian terkuak sebagai Tetenith Dogatie, anak perempuan Dogatie sekaligus putri Kekaisaran Jupiter. Tetenith selama ini rupanya berupaya menghubungi Crossbone Vanguard karena pada suatu titik, ayahnya ‘berubah’, dan ia hendak meminta pertolongan pada mereka untuk membantu menghentikan kegilaan ayahnya.

Cerita semakin berkembang dengan terbentuknya Death Gale Squad, tim pemburu khusus dari Kekaisaran Jupiter yang ditugasi memburu Crossbone Vanguard. Beranggotakan Giri Kadyuga Aspis (MS: Quavarze), seorang pemuda Newtype maniak; Rosemary Raspberry (MS: Abijo), seorang wanita pemburu hadiah yang hanya tergerak oleh uang; serta Burns Garnsback (MS: Tortuga), seorang pilot veteran simpatik yang seakan bisa melihat sosok mendiang anaknya pada diri Tobia. Giri belakangan terungkap sebagai sesama murid Karas seperti halnya Tobia, dan dengannya Tobia kemudian membentuk semacam hubungan persaingan.

Berulang kali Crossbone Vanguard menemui hambatan dalam upaya mereka menghentikan Dogatie. Namun hambatan paling tak disangka hadir dengan kemunculan Sherindon Ronah, sepupu jauh Berah, yang mengusung paham aristokratik dan mewakili kepentingan koloni-koloni luar angkasa.

Sherindon yang memimpin kapal induk Eos Nyx mewarisi ideologi Newtype yang dicetuskan Zeon Zum Daikun. Karena itu ia berupaya menghentikan perlawanan Crossbone Vanguard karena tak ingin konflik perang terbawa sampai ke Bumi, yang dipandangnya tempat sakral yang menjadi asal-usul kehidupan. Karena Sherindon tak mempermasalahkan siapa yang berkuasa di Bumi sampai masa bangkitnya kaum Newtype, bersama masuknya Federasi Bumi dalam konflik kepentingan, Crossbone Vanguard akhirnya terpojokkan dalam suatu situasi tanpa sekutu.

Namun di penghujung cerita, Dogatie akhirnya mengkhianati semua pihak. Sehingga oleh Sherindon, Tobia terpaksa dipercayakan variasi termutakhir dari Gundam F-97, yakni Crossbone Gundam X-3.

Saat pertempuran terakhir akhirnya pecah di atas orbit Bumi seiring dengan kedatangan kapal induk Jupitris 9, Tobia dan kawan-kawannya terpanggil kembali ke luar angkasa. Sementara Kincadau menuntaskan konfliknya dengan Zabine, Tobia menjadi harapan terakhir untuk menghentikan MA Divinidad yang telah Dogatie produksi dalam jumlah banyak, yang satu unitnya saja telah sanggup untuk berperan sebagai satu senjata pemusnah massal.

Klasik

Seri Crossbone Gundam sudah agak lama diterbitkan oleh Kadokawa Comics. Kalau tak salah sekitar tahun 1997? Lalu berakhir dalam hanya enam buku. Lalu untuk waktu lumayan lama sempat luput dari perhatian sebagian besar penggemar. Konon, seri ini baru menarik kembali banyak perhatian sesudah plamo Crossbone Gundam X-1 keluar dan seri Crossbone Gundam dimunculkan, kalau enggak salah, dalam game Super Robot Wars Alpha 2.

Walau durasinya bisa dibilang singkat, ceritanya benar-benar padat. Terlepas dari gaya artwork-nya yang sederhana dan mungkin kurang menarik perhatian orang, dari awal sampai akhir ini benar-benar terasa kayak sebuah seri Gundam ‘murni.’ Seperti beberapa seri Gundam klasik lainnya, para jagoannya menghadapi peperangan yang sulit dimenangkan melawan faksi jahat yang menggunakan MS-MS berbentuk aneh. Lalu secara mengejutkan, ceritanya itu seru.

Beneran seru.

Aku tahu ada orang-orang yang skeptis soal bagaimana adegan-adegan aksi antar robot-robot raksasa bisa ditampilkan secara keren dalam bentuk manga (aku sendiri masih merasakan kendalanya kalau membaca manga-manga mecha terkenal, macam Broken Blade, Kurogane no Linebarrel, atau FSS, misalnya). Tapi serius, Crossbone Gundam menurutku adalah salah satu manga langka yang berhasil menampilkan adegan-adegan aksi mecha keren yang sekaligus mudah diikuti.

Mecha-mechanya tak digambar dengan terlampau detil sih. Tapi sebatas cukup untuk menyampaikan apa yang diceritakan dalam komik ini.

Mengikuti latar ceritanya yang berada di luar angkasa lebih jauh, ukuran MS-MS di seri ini jauh lebih kecil dibandingkan yang muncul di tahun 0080an UC, misalnya. Konon itu untuk mengurangi bobot rangka, sekaligus meningkatkan kecepatan agar tak mudah tertarik oleh gravitasi planet-planet besar. Karena itu pula masing-masing Crossbone Gundam memiliki pendorong khas berbentuk ‘x’ di belakangnya yang memudahkannya dalam melakukan manuver-manuver sulit. Persenjataannya juga lebih berat ke persenjataan yang berbasis beam. Walau mungkin karena aspek peningkatan kecepatan tiap MS dan penghematan energi, seluruh Crossbone Gundam juga lebih didesain untuk pertempuran jarak dekat.

Sebagaimana yang sebagian penggemar tahu, Crossbone Gundam menjembatani era Universal Century di film layar lebar Gundam F91 dan dengan seri TV Victory Gundam yang muncul sesudahnya. Meski disamarkan asal-usulnya, Crossbone Gundam merupakan MS yang disuplai diam-diam oleh SNRI, yang menggantikan Anaheim Electronics sebagai pemasok MS utama Federasi pada era Gundam F91. Lalu ditampilkan pula implementasi pertama teknologi ‘layar cahaya’ Minovsky Drive yang nantinya dalam bentuk kecil terpasang pada V2 Gundam, walau pada titik ini, karena ukurannya yang besar, masih baru terpasang pada kapal induk Mother Vanguard (buat yang lebih paham Gundam era C.E. dari seri Gundam SEED, ini mirip teknologi Voltuire Lumiere yang muncul pada seri C.E. 73 Stargazer dan Gundam SEED Destiny).

Aku masih belum menemukan konfirmasinya. Tapi kudengar Crux Dogatie sebenarnya memiliki hubungan dengan Fonse Kagatie, tokoh antagonis yang menjadi biang kerok semua kerusakan/kematian pada seri Victory Gundam. Lalu Kekaisaran Jupiter juga sebenarnya merupakan ‘pemodal’ dari semua tindak perlawanan/pemberontakan yang pernah dilakukan terhadap Federasi Bumi, baik dari zaman Zeon maupun Cosmo Babylonia. Patut diingat pula bahwa Paptimus Scirocco, pedagang senjata yang mendukung (dan mengambil alih kekuasaan) faksi Titans pada Zeta Gundam, juga berasal dari Jupiter. Lalu Judau dan Roux pada akhir cerita Gundam ZZ juga dikisahkan melakukan perjalanan ke Jupiter, walau kelanjutan nasib mereka tak dibeberkan lagi.

Sails of Light

Beralih ke soal mecha, ada lumayan banyak teknologi yang mungkin agak membingungkan pembahasannya.

Ketiga mecha Crossbone Gundam memiliki motif ‘perompak’, dengan pola tengkorak tergambar pada badannya. Ada juga motif ornamen klasik pada desainnya, dengan senjata sinar mereka dibentuk menyerupai flintlock pistol, misalnya. Satu hal menarik adalah bahwa meski tak menampilkan banyak variasi dalam implementasinya, seluruh Crossbone Gundam merupakan MS yang ‘padat’ oleh fitur. Ada banyak sekali senjata dan perlengkapan yang tersebar di sekujur tubuhnya.

Crossbone Gundam X-1 milik Kincadau identik dengan Crossbone Gundam X-2 yang digunakan Zabine. Perbedaan mencolok hanya warna X-2 yang berwarna hitam dan seperti halnya MS-MS Crossbone Vanguard dulu, X-2 mengandalkan tombak dalam pertempurannya. Keduanya sama-sama memiliki beam shield yang dapat dibentuk dari tangan kirinya serta rantai pengait yang dapat dilontarkan dari torsonya. Pedang sinar beam zanber memiliki ketebalan ‘lebih’ dibandingkan beam saber pada umumnya, dan dengan cara yang agak berkesan ‘super robot’, dapat dikombinasikan dengan pistol apabila serangan-serangan jarak jauh perlu dilakukan. Terdapat pula suatu anti-beam mantle yang digunakan oleh X-1 untuk menutupi identitasnya. (Aku baru nyadar, desain Gundam Exia R yang tampil di awal musim tayang kedua Gundam 00 mungkin terinspirasi juga dari desain bermantel ini?)

Crossbone Gundam X-3 tak beda jauh dengan X-1 dan X-2. Namun sebagai pengganti beam shield, X-3 memiliki generator I-Field berukuran kecil yang terpasang pada kedua tangannya dan digunakan secara bergantian karena batasan waktu. Fitur ini yang menjadikannya hampir kebal terhadap segala bentuk serangan beam dan membuatnya mampu bertarung setara dengan MA ‘monster’ macam Divinidad. MS ini juga dilengkapi suatu pedang sinar besar yang aku lupa namanya yang dapat menghasilkan sesuatu seperti bilah-bilah sinar sisir sekaligus suatu pedang sinar panjang yang dapat digerakkan.

Gundam F91 yang prototipe-nya dulu digunakan Seabook tampil kembali sebagai MS produksi massal yang digunakan Federasi. Senapan VSBR (variable speed beam rifle) masih menjadi ancaman berbahaya dengan kemampuannya untuk mempenetrasi beam shield bahkan sepuluh tahun sesudah penciptaannya. Tapi, sebagaimana merosotnya wibawa Federasi seperti yang diperlihatkan dalam Victory Gundam, hanya segilintir pilot yang mampu mengeluarkan potensinya secara penuh.

Seluruh Gundam di atas (dengan ‘mulut’ yang kemudian membuka) masih memiliki fitur heat sink yang memungkinkannya melepas panas yang terakumulasi, meningkatkan kecepatan, sekaligus menghasilkan after image dalam pertempuran-pertempuran intens.

Soal MS-MS dari Kekaisaran Jupiter, ahaha, aku agak bingung membahasnya dari mana. Kesemuanya punya bentuk yang ajaib dan sukar dipercaya, yang agak mirip dengan MS-MS dari Kekaisaran Zanscare di Victory Gundam yang muncul belakangan. Aku pastinya ingat ada yang berbentuk seperti mata kampak dan ada lagi yang berbentuk seperti trenggiling.

Sebagai tambahan, muncul pula perkembangan lebih lanjut dari teknologi cangkok otak yang Cagnozzo Ronah di Gundam F91 sebelumnya implementasikan. Tapi bicara lebih lanjut soal itu bisa spoiler.

(Buat mereka yang penasaran, sekali lagi, ya, MS Gundam AGE-2 Dark Hound yang digunakan Asemu Asuno di bab ketiga Gundam AGE jelas terpengaruh oleh desain Crossbone Gundam.)

Sebagian besar desain mechanya dibuat dengan bantuan veteran desainer mecha Sunrise, Katoki Hajime. Makanya secara konseptual (sekali lagi, konseptual) semua terlihat keren kok.

Donkey Bakery

Buat semua yang mengikutinya, Crossbone Gundam mungkin merupakan seri Gundam yang paling diharapkan bisa muncul animasinya. Kalau bisa sih, lengkap dengan perombakan desain karakter, desain mecha, desain dunia, dsb.

Soalnya, seriusan, ini seri yang bagus.

Mungkin ini cuma aku, tapi aku juga ngerasa kayak bisa melihat ide-ide yang Tomino-sensei sebelumnya hendak tuangkan di Gundam F91 akhirnya jadi dituangkan di sini.

Waktu pertama baca, aku juga kurang begitu memperhatikannya. Tapi di samping adegan-adegan aksi, plot cerita dan karakterisasinya juga lumayan dalam.

Seabook/Kincadau dan Cecilly/Berah sama-sama karakter yang simpatik. Kalau kupikir sekarang, kisah cinta mereka lumayan romantis. Seabook menghabiskan lebih dari sekedar 10 tahun dari usianya untuk kepentingan perempuan yang dia cintai semenjak cerita Gundam F91. Situasi Cecilly, seorang gadis biasa yang sebelumnya hanya menginginkan kehidupan sederhana dengan hobinya membuat roti, juga lumayan membuat tercenung saat dipikir bagaimana ia masih harus terseret dalam segala konflik soal kekuasaan dan sebagainya, bahkan sesudah ia dan Seabook ‘memberontak’ dalam Gundam F91. Seri Crossbone Gundam bisa dibilang adalah penutup cerita yang diperuntukkan bagi keduanya, daripada ke soal Tobia dan Bernadette sendiri. (Sebenarnya, sifat Seabook dan Cecilly digambarkan agak berbeda dibandingkan di Gundam F91 sih, tapi soal ini enggak terlalu masalah.)

Memang ada kelemahan di sana-sini pada ceritanya. Kayak soal perkembangan karakter yang minim dan penggambaran teknologi yang agak bikin ‘hah?’. Tapi kalau kau menikmatinya, susah buat enggak memaafkan kelemahan-kelemahan seri ini.

Ceritanya memang luar biasa simpel. Tapi luar biasa ‘enggak jelek’ juga.

Cerita Crossbone Gundam memang berakhir dengan bagaimana Seabook dan Cecilly menyepi di Bumi dan menggunakan kembali nama lama mereka masing-masing, sementara Tobia mewarisi X-1 sebagai pengganti X-3-nya yang hancur dan bersama kawan-kawannya yang lain kembali ke luar angkasa. Tapi kemudian sekuel-sekuel dari Crossbone Gundam muncul. Jadi meski tamatnya memuaskan, bisa dibilang kisah Tobia dan kawan-kawannya masih berlanjut sesudah itu.

Minovsky Drives

Dengan cara agak sporadis, masih dipenai Hasegawa-sensei, beberapa sekuel untuk Crossbone Gundam kemudian keluar di dekade 2000an. Ceritanya agak kalah berbobot karena Tomino-sensei tak lagi terlibat dalam pembuatan cerita. Tapi ceritanya tetap lumayan menarik bagi mereka yang suka.

Kidou Senshi Crossbone Gundam Skullheart merupakan kumpulan cerita lepas sebanyak satu buku yang mengetengahkan aksi sisa-sisa Crossbone Vanguard yang dimotori Tobia sekitar setahun sesudah akhir cerita Crossbone Gundam. Mereka melawan pengaruh sisa-sisa Kekaisaran Jupiter di koloni-koloni luar angkasa terjauh dengan menggunakan kedok Blackrow Shipping Company. X-1 Kai dari Seabook telah dikustomisasi lebih lanjut oleh Tobia (bernama lengkap Crossbone Gundam X-1 Kai Kai) dan dijuluki ‘Skullheart’ oleh penduduk-penduduk sipil yang menyaksikannya karena pola tengkorak yang ada pada dadanya. Cerita-ceritanya relatif ringan dan tak terlalu berkesinambungan (walau agak terkesan konyol dengan perkembangan sukar dipercaya; seperti adanya biocomputer yang menyimpan kesadaran Amuro Ray serta MS-MS yang dikendalikan oleh monyet).

Kidou Senshi Crossbone Gundam Koutetsu no Shichinin, atau yang juga dikenal sebagai Mobile Suit Crossbone Gundam Steel 7, mungkin baru bisa dibilang merupakan sekuel sesungguhnya dari seri yang pertama. Cerita ini berjumlah tiga buku, dan memaparkan misi berbahaya yang harus ditempuh Tobia dan kawan-kawannya dengan hanya tujuh orang, yang sekaligus menutup cerita tentang sisa-sisa Crossbone Vanguard yang sebelumnya didirikan Berah.

Ceritanya berlatar sekitar tiga tahun sesudah akhir Crossbone Gundam. Pemerintahan Kekaisaran Jupiter yang dilanda perpecahan dikisahkan telah diambil alih oleh sepasang figur bernama Callisto, sepasang saudara kembar dengan kekuatan psikis. Lalu keduanya berupaya menjalankan operasi terakhir peninggalan Dogatie, suatu senjata colony laser raksasa bernama Shinwatz sebagai perwujudan proyek Zeus’s Thunderbolt. Menghadapi senjata pemusnah massal yang dapat menjangkau Bumi dari orbit Jupiter(?!), Tobia dan kawan-kawannya bertemu kawan-kawan baru dan musuh-musuh lama dan berpacu melawan waktu dalam upaya menemukan Icarus, suatu kapal percobaan terlantar buatan Anaheim Electronics yang konon menyimpan teknologi Minovsky Drive di Bumi. Kapal tersebut menjadi harapan terakhir mereka untuk bisa sampai di Jupiter tepat waktu sesudah tiga MS prototipe F-99 Recordbreaker beserta semua data berkenaan Minovsky Drive milik SNRI hancur di tangan Callisto, yang sekaligus menjelaskan lambatnya implementasi teknologi Minovsky Drive sampai datangnya masa Victory Gundam.

Kabar tentang proyek ini mereka peroleh dari Europa Dogatie, ibu tiri Bernadette (yang masih muda) yang harus menghadapi kecurigaan sebagai mata-mata di sepanjang cerita. Lalu rekan-rekan yang berhasil dikumpulkan antara lain Giri, Rosemary, dan Burns yang sama-sama telah menjadi pelarian dari Kekaisaran Jupiter di Bumi, serta instruktur veteran SNRI, Suzuki Minoru, dan pilot terakhir yang tersisa dari proyek F-99, Michel Drake Nah (mungkin ini cuma aku, tapi mungkin nama Drake merupakan suatu referensi terhadap seri Aura Battler Dunbine, satu anime mecha lain yang pernah disutradarai Tomino-sensei).

MS-MS yang Tobia dan kawan-kawannya gunakan kali ini meliputi Crossbone Gundam X-1 Full Cloth, yang merupakan perwujudan terakhir sekaligus terkuat dari seluruh MS Crossbone Gundam (4 generator I-Field, satu beam shield, dsb.) untuk Tobia; Barra Tortuga yang berukuran besar untuk Burns; Alana Abeja yang mendukung serangan jarak jauh untuk Rosemary; Vigna Ghina II, yang merupakan pengembangan dari MS yang dulu digunakan Cecilly, untuk Giri; Angel Diona yang mirip pula dengan yang dulu digunakan Bernadette, untuk Europa; serta satu unit Gundam F90 oleh Minoru dan satu unit Gundam F91 oleh Michel. Kesemua MS ini dikustomisasi habis-habisan dan membuatnya terlihat lumayan keren bahkan dengan gaya gambar Hasegawa-sensei yang sederhana.

Steel 7 menampilkan plot cerita yang cepat serta aksi-aksi lumayan seru. Karakterisasinya agak lemah, seperti sebelumnya. Tapi adegan-adegan pertempurannya intens, dengan musuh-musuh yang berkesan teramat imba. Walaupun bagian-bagian awalnya agak ringan, ceritanya secara mengejutkan berakhir tragis dengan Tobia dan Bernadette sama-sama menempuh jalan yang serupa dengan yang dulu Seabook dan Cecilly ambil.

Sekuel terkini Crossbone Gundam, Kidou Senshi Crossbone Gundam Ghost, kalau enggak salah masih berlanjut pada saat tulisan ini kubuat. Berlatar di Universal Century 0153, dua puluh tahun sesudah berakhirnya Crossbone Gundam, seri ini mengetengahkan masa-masa awal invasi Kekaisaran Zanscare yang ditampilkan dalam Victory Gundam.

Font Baud, pelajar SMA yang hidup damai di Side 3, koloni luar angkasa yang dulu menjadi awal lahirnya faksi Zeon, mendapat masalah sesudah hobinya meneliti teknologi MS dari masa-masa lama untuk situs webnya membuatnya diburu oleh agen-agen Zanscare. Ia berhasil dihubungi terlebih dahulu oleh seorang pria misterius bernama Curtis Rothko dari agensi rahasia Serpiente Tacon, yang menemukannya berkat kemampuan psikis dari gadis remaja yang menemaninya, Belle. Bersama, ketiganya kemudian terlibat pencarian terhadap sesuatu yang disebut Angel Call, yang merupakan komponen penting dari Angel Halo, senjata penentuan yang ditampilkan pada klimaks cerita Victory Gundam yang secara tak sengaja telah Font temukan.

MS utama yang ditampilkan dalam seri ini adalah Crossbone Gundam Ghost yang berwarna putih perak, yang merupakan MS Crossbone Gundam terakhir yang semestinya tidak lagi ada.

(Mungkin lagi-lagi ini cuma aku, tapi Font mungkin merupakan protagonis seri Gundam pertama yang berkacamata.)

Belum banyak yang bisa kukatakan tentang sekuel terbaru ini, selain soal nuansa dunianya yang mulai menyerupai nuansa dunia di Victory Gundam, dengan masyarakat-masyarakat dunia yang seakan terpecah-belah serta mecha-mecha Zanscare berbentuk serangga. Aku merasa artwork-nya agak kalah menarik dibandingkan sebelum-sebelumnya, apalagi mengingat bagaimana seri ini dibikin belakangan. Tapi ceritanya masih menarik dengan menonjolkan aksi-aksi lumayan seru yang menjadi kekhasan seri ini.

Aku belum akan merekomendasikan sekuel-sekuelnya seperti aku merekomendasikan Crossbone Gundam sih. Tapi kurasa kalian tahu maksudku.

Antara Manusia dan Para Pewarisnya

Akhir kata, terlepas dari kelemahan-kelemahannya, Crossbone Gundam merupakan seri yang benar-benar menarik. Kerasa kayak ada semacam ‘cinta’ dalam pembuatannya. Lalu Crossbone Gundam konon merupakan satu-satunya seri manga Gundam di mana Tomino-sensei terlibat secara langsung. Kualitas versi terjemahan yang kau baca berpengaruh sih. Tapi kalau kau sanggup mengikutinya, kepuasan membacanya bisa diibaratkan setara dengan kepuasan sehabis menonton seri-seri TV Gundam yang terbaik.

Seri-seri sekuelnya sayangnya belum terlalu mengimbangi dari segi durasi maupun cerita sih. Terutama dari segi karakterisasi serta tempo cerita. Tapi kalau kau penggemar mecha, kurasa tetap menarik untuk melihat desain-desain MS-nya.

Yang paling aku suka dari cerita ini? Jangan menyerah, apapun yang terjadi.

Ntar kalau ada perkembangan lebih lanjut, tulisan ini akan kuedit lagi.

04/07/2013

Air Gear

Aku punya sahabat seorang arsitek yang punya kecendrungan aneh buat menarik perhatian orang lewat karya-karyanya dia. Dia memulai biro arsiteknya sendiri dari nol, jadi sekarang ini dirinya belum terlalu dikenal. Tapi gambar-gambar yang dia bikin ngasih efek kayak gitu, terutama ke orang-orang dari luar negeri.

Lalu ceritanya, sekitar sepuluh tahun lalu, di awal-awal dekade 2000an, beberapa gambar yang dia bikin menarik perhatian beberapa orang yang kemudian mengundang dia buat bergabung ke dalam sebuah online art forum rahasia(?) yang namanya enggak akan kusebutkan, berhubung aku juga masih enggak yakin apa ini forum beneran ada apa enggak. Intinya, forum tersebut sesuatu yang mungkin mirip Deviant Art, tapi aksesnya konon dibatasi hanya untuk orang-orang tertentu. Mencari lewat search engine pun enggak bisa. Di sanalah, dia kemudian berkorespondensi dengan sejumlah orang, yang entah kebetulan atau enggak, salah satunya adalah Oh! Great (nama aslinya konon adalah ‘Ogure Ito’), manga-ka yang karyanya akan kubahas sekarang.

Enggak. Aku serius enggak bercanda.

Bahkan sampai beberapa tahun lalu, Ogure-sensei secara random masih secara berkala (namun jarang) mengirimi sahabatku e-mail untuk memamerkan link ke karya-karya terbarunya dia. (Soal sahabat arsitekku itu, gambar-gambarnya sebenernya ga memukau. Tapi bagi orang-orang yang ngedalamin art, di dalamnya mereka sering menemukan ‘sesuatu’ di dalemnya gitu.)

Waktu itu, Ogure-sensei baru mulai naik daun sebagai manga-ka lewat seri bela diri Tenjho Tenge. Beliau masih belum terlalu dikenal secara luas. Tapi, yea, dia mulai menarik perhatian di barat berkat desain-desain karakter ceweknya yang beneran seksi—serta jalan-jalan cerita buatannya yang filosofis(?) dan enggak semudah itu dipahami orang.

Ini terjadi di masa ketika anime dan manga lagi mulai booming-nya di dunia. Jadi ya, Ogure-sensei orang yang sebenarnya lumayan prolific.

Lalu seiring dengan hiatus-nya Tenjho Tenge untuk beberapa lama, para penggemar beliau tiba-tiba saja langsung “Haaaah?!” saat diumumkan bahwa beliau memulai serialisasi baru di majalah Weekly Shonen Magazine-nya Kodansha, lewat karya barunya, Air Gear.

You gotta grab the sky!

Secara visual, Air Gear itu keren loh.

Aku tahu memang ada banyak hal aneh dan enggak masuk akal di dalam ceritanya. Apalagi kalau kau pertama mengenal seri ini melalui versi anime-nya. (Segala aspek aneh ini kayaknya udah jadi ciri khas pengarangnya) Tapi kalau kau membaca sendiri manga-nya, perasaan ‘keren’ tersebut benar-benar kerasa.

Buat kali ini aku mulai dari artwork-nya dulu deh.

Dalam Air Gear, Ogure-sensei banyak memaparkan pemandangan perkotaan dengan gedung-gedung pencakar langit yang dipadu dengan adegan-adegan akrobatis para karakternya gitu. Keahlian beliau dalam menggambar proporsi sekaligus perspektif membuat panel-panel gambar buatannya di sini benar-benar memukau.

Walau masih terkesan agak seenaknya dalam mendesain karakter (ke-suka-suka-annya beliau dalam mendesain karakter agak mengingatkanku pada pendekatan yang Kubo Tite gunakan dalam Bleach), beliau agak men-tone down keseksian para karakternya di sini. Sehingga meski ada nudity dan segala macamnya di dalamnya, adegan-adegan tersebut masih tak menyamai apa yang terdapat pada Tenjho Tenge kok.

Uh, maksudku, dibandingkan pada Tenjho Tenge, daya tarik visual para karakternya sudah bukan hanya dari keseksian mereka belaka.

Sial, kenapa kalo aku ngatainnya kayak gitu, kesannya malah jadi tambah parah ya?!

Yah, pokoknya gitu deh.

Di samping itu, Level Comics telah melakukan kerja lumayan bagus dalam mengeditnya. Dan lagi, ini bukan jenis seri yang fanservice-nya ditonjolkan segitunya sampai-sampai perbedaannya terlalu kentara.

Beralih soal ceritanya, Air Gear berlatar di masa depan yang enggak terlalu jauh saat sebuah olahraga ekstrim baru yang bernama Air Trek (disingkat AT) mulai banyak digunakan. AT pada dasarnya itu kayak semacam sepatu roda ‘bermesin,’ yang memungkinkan para penggunanya menggapai kecepatan-kecepatan yang lebih tinggi gitu. Memakai AT, para penggunanya (yang dikenal dengan istilah Storm Riders) bisa sampai memanjat dinding, melakukan lompatan-lompatan tinggi, dan pada tingkatan yang lebih ekstrim memanipulasi gelombang udara serta elektromagnetik.

Air Gear mengetengahkan soal bagaimana seorang remaja SMP (walau ini agak sukar dipercaya kalau menilai dari tinggi badan dan perkembangan tubuh mereka) bernama Minami ‘Ikki’ Itsuki dan teman-temannya  di SMP Higashi, kota Shinonome, memasuki dunia AT yang digambarkan mendebarkan dan penuh misteri ini.

Ikki ceritanya adalah seorang anak yatim piatu yang karena suatu alasan, tinggal bersama empat bersaudari Noyamano, yang terdiri atas: Rika (paling tua, usia dua puluhan, melakukan berbagai macam pekerjaan untuk menghidupi mereka), Mikan (tomboi, kuat, seenaknya, sudah SMA), Ringo (berkacamata, alim, seusia dengan Ikki), dan Ume (masih SD, suka boneka, seleranya agak aneh). Noyamano bersaudara ini sempat disebutkan merupakan kerabat jauh dari orangtua Ikki, walau kenyataan sebenarnya tak pernah benar-benar dijelaskan secara eksplisit (di dalam komiknya).

Ikki dari waktu ke waktu sering memperhatikan aksi seorang Storm Rider perempuan yang sering dilihatnya di kota. Nama Storm Rider tersebut adalah Simca, dan ia dikenal dengan julukan ‘Tsubame.’

Meski sudah lama tertarik dengan AT, Ikki belum pernah terpikir untuk benar-benar menekuninya. Tapi saat geng yang dipimpinnya di sekolah, East Side Gunz, diserang habis-habisan oleh Skull Saders, tim AT yang dikenal sering berbuat kerusakan. Barulah sesudah itu ketertarikan Ikki terhadap AT memuncak dan ia terdorong untuk mencobanya sendiri.

Pada waktu yang sama, kemudian terungkap bahwa Ringo, Mikan, dan Ume selama ini merupakan anggota terkini dari tim AT legendaris, Sleeping Forest, dan mereka kemudian meminjamkan AT pada Ikki agar ia bisa melihat sendiri dunia malam yang selama ini mereka sembunyikan darinya…

Don’t be afraid…

Air Gear gampangnya mengisahkan berbagai pengalaman Ikki selama ia menekuni AT.

Aturan di dunia Storm Riders menegaskan bahwa setiap tim AT memiliki emblem yang dengannya, nama, keanggotaan, serta wilayah kekuasaan tim tersebut dipertaruhkan. Ikki di awal cerita lebih banyak beraksi dengan menggunakan emblem Sleeping Forest yang dipinjamkan Ringo dan kawan-kawan. Tapi belakangan ia memutuskan untuk membentuk tim AT-nya sendiri, Kogarasumaru, yang beranggotakan anggota-anggota gengnya yang lama (Kazu, paling cepat; Buccha, babi hitam; Onigiri, babi putih; Agito/Akito, ikan hiu; belakangan anggota perempuan Adachi Emiri juga turut bergabung).

Untuk itu, ia perlu memperlihatkan keahliannya sendiri dalam menggunakan AT dalam suatu ajang yang disebut Parts War, di mana tim-tim AT saling berseteru dengan satu sama lain, mempertaruhkan berbagai hal yang dimiliki tim, mulai dari wilayah, anggota, suku cadang AT, dan sebagainya.

Detilnya agak ribet untuk dibahas di sini. Maksudku, bukan cuma soal hal-hal teknisnya, kayak gimana tingkatan sebuah tim AT dan penghargaan yang mereka terima gampangnya banyak ditentukan oleh performa mereka di ajang Parts War ini. Tapi kayak, dunia AT ini lebih dari sekedar ‘main-main’ belaka begitu.

Aku ngerti narasi Ogure-sensei mungkin agak terlalu avant garde buat bisa membuat orang memahaminya. Tapi dalam Air Gear, aku ngerasa beliau berusaha ngangkat hal-hal yang sebenarnya menurut beliau lumayan berarti. Menjadi Storm Rider bukan cuma soal kesenangan. Tapi ini juga kayak ada hubungannya dengan filosofi dan cara hidup. Ada kode etik yang dijaga. Ada semacam keyakinan yang diyakini. Hal-hal kayak gitu deh.

Ogure-sensei kemudian mengeksplorasi hal tersebut lebih jauh dengan pembeberan asal-mula AT serta seberapa besar dampak yang ditimbulkannya terhadap dunia. Terungkap bahwa ada suatu komponen AT yang disebut Regalia dan ada posisi yang disebut Raja bagi mereka-mereka yang telah diakui Road-nya di dunia AT.

Road (harfiah berarti ‘jalan’) itu kayak… trik AT apa yang seorang Storm Rider dalami. Bisa juga dijabarkan sebagai intepretasi terhadap jati dirinya sendiri. Ikki, misalnya, pada awal cerita mendalami Wing Road yang memungkinkan AT-nya ‘menunggangi’ permukaan-permukaan yang normalnya tak bisa dilewati (termasuk aliran udara!), dan ini kayak menggambarkan bagaimana Ikki merupakan wujud personifikasi dari ‘hilangnya kekangan’ serta ‘kebebasan.’ Lalu orang yang paling ahli dalam suatu Road dipandang sebagai ‘penguasa’ Road tersebut, dan karenanya digelari Raja (King). Melengkapi gelar seorang Raja, terdapat Regalia yang menjadi simbol kekuasaan Raja tersebut yang sekaligus memungkinkan peningkatan performa AT-nya dalam mewujudkan Road yang diwakilinya.

Lalu di atas semua itu, ada Regalia dari semua Regalia yang menjadi sasaran perebutan semua orang: Air Gear, yang diyakini hanya akan dianugrahi pada Sky King, yakni dia yang memenangkan suatu pertandingan antar tim AT terbesar Gram Scale Tournament yang ditandai dengan membukanya Menara Trophaeum di kota Shinonome.

…Pada titik ini, ceritanya yang dari sananya sudah agak susah dipercaya memang menjadi lebih susah dipercaya lagi sih.

Agak mirip dengan cerita Tenjho Tenge, ada pengungkapan bab masa lalu agak panjang yang berujung pada pengkhianatan dan harapan terpendam. Konflik masa lalu yang melibatkan tim legendaris Sleeping Forest itu kembali mencuat di masa kini dan kini melibatkan Ikki dan kawan-kawannya. Cerita kemudian berhubungan dengan sisa-sisa suatu konspirasi masa lalu, hasil-hasil eksperimentasi terhadap manusia, hingga bahkan sampai ke munculnya kekuatan militer dari negara-negara asing. Pada satu titik bahkan sempat muncul robot raksasa. Damn, aku juga masih belum ngerti bangunan apa Menara Trophaeum sesungguhnya. Intinya, ada bangunan jam dibangun di atas bekas fasilitas penelitian kan? Tapi buat apa/ngapain/siapa sih yang kepikiran ngelakuin itu?!

Semuanya jadi… aneh, man.

Tapi karena lucu dan gambarnya keren dan desain para karakter ceweknya seksi, aku enggak ngerasa ada orang yang bener-bener ngemasalahin.

Hei, bahkan ada presiden Amerika yang up-to-date di dalamnya!

Meski durasinya lumayan lama, dengan hiatus beberapa kali, (serialisasinya di Weekly Shonen Magazine milik Kodansha kalau enggak salah, dari 2002 sampai akhir 2012, pas 10 tahun?) dengan total buku sebanyak 37 (mestinya terjemahan lokalnya tamat dalam waktu dekat ini), Air Gear tetap berakhir dengan cara yang agak enggak terbayangkan kebanyakan orang.

Yah, di samping karena agak sulit memahami apa sebenarnya yang terjadi di akhir cerita, ada juga sedikit kesan kalau Ogure-sensei beberapa kali kayak mentok soal dengan cara gimana seri ini mau diakhiri.

Menjelang puncak final GST, Ikki akhirnya dari Wing Road mewakili Road baru, yakni Hurricane Road dan bergelar Storm King. Tapi, kerennya, finalnya, para petarung utamanya tak memakai Regalia milik mereka sama sekali dan bahkan kayak…

Sial. Nanti spoiler.

Intinya, aku terkesan ama gimana Ogure-sensei kayak membantah perkiraan (pengharapan?) sebagian besar pembacanya. Dan kayak berusaha menekankan kembali, apa sebenarnya yang dia anggap penting.

…Mungkin.

Yang Hilang Cuma Sepatu

Ampe sekarang aku enggak bener-bener yakin aku dulu ngikutin Air Gear karena apa.

Heh, aku bahkan ga tau apa aku bisa disebutin ‘ngikutin.’ Rasanya kayak, itu semua terjadi gitu aja.

Jadi, sebagai penutup, apa yang perlu dibahas ya?

Air Gear itu lebih banyak kayak semacam ekspresi diri Ogure-sensei ketimbang sebuah manga shonen?

Itu manga shonen yang karena banyak muatan rumitnya, akhirnya malah jadi diterbitin sama Level Comics begitu dilisensi di sini?

Ini kayak, seri yang ngasih kau banyak alasan buat tertarik padanya. Tertarik doang, belum nyampe suka. Lalu cuma mereka yang mau sedikit ngedalamin aja, sembari bertanya-tanya soal apa sebenarnya maksud pembuatnya, yang mungkin bakal nemu hal-hal kecil menarik sesungguhnya yang seri ini punya. Dan hal-hal kecil menarik tersebut sebenarnya banyak.

Tapi mungkin juga aku merasa begini karena bukan Sumeragi Kururu yang akhirnya dipilih. Atau juga karena tamatnya yang bukan harem ending. Mungkin.

Tag: ,