Archive for ‘seinen’

30/05/2017

Bokurano

Kalau ada satu seri mecha yang sebaiknya tidak kau rekomendasikan ke seorang penggemar mecha, maka itu adalah Bokurano.

Bokurano atau Bokurano: Ours (judulnya kurang lebih berarti ‘milik kita’) berawal dari manga seinen berjumlah 11 buku buatan Kitoh Mohiro. Diterbitkannya oleh Shogakukan dan diserialisasikan di majalah bulanan Ikki. Serialisasinya berlangsung di masa ketika aku kuliah, yakni dari tahun 2003 sampai 2009.

Pada tahun 2007, studio Gonzo mengangkatnya ke bentuk seri anime TV sebanyak 24 episode. Penyutradaraannya dilakukan oleh animator veteran Morita Hiroyuki dengan musik yang ditangani oleh Nomi Yuji. Naskahnya ditangani bersama oleh beberapa orang, dengan pengawasan langsung Morita-san. Ini tak terlalu masalah, berhubung struktur ceritanya mmang menampilkan tokoh utama berbeda secara bergilir. Tapi melihatnya sekarang, kurasa itu juga alasan kenapa kualitas antar episodenya bisa beragam.

Sekitar waktu animenya keluar, juga muncul adaptasi light novel berjudul Bokurano: Alternative yang dipenai Ouki Renji. Terdiri atas lima buku, aku masih kurang tahu tentang versi ini. Kudengar ini penceritaan alternatif dari cerita di manganya, dengan tokoh-tokoh yang sama, tapi juga dengan penambahan banyak tokoh baru.

Aku diperkenalkan pada Bokurano oleh temanku. Kejadiannya terjadi sesudah aku mulai memperhatikan perkembangan dunia anime sesudah lama absen. Temanku sendiri tak begitu mendalami seri ini, hanya soal bagaimana dia sekedar menganggap premisnya menarik.  Ujung-ujungnya, malah aku yang jadi mengikuti perkembangannya hingga akhir. Aku sempat dibuat trauma karenanya, dan perasaanku tentang seri ini masih campur aduk bahkan hingga sekarang.

Kemah Musim Panas

Bokurano pada dasarnya bercerita tentang 15 orang anak SMP, delapan anak lelaki dan tujuh anak perempuan. Mereka menemukan gua di tepi pantai dalam acara perkemahan sekolah alam. Di dalam gua tersebut, mereka menemukan sejumlah peralatan canggih. Lalu tak lama kemudian, mereka juga bertemu pemilik peralatan itu, seorang pria kikuk bernama Kokopelli.

Kepada mereka, Kokopelli mengaku sebagai seorang pengembang game. Ia mengaku sedang membuat game sendirian di dalam gua itu. Ia lalu menawarkan kontrak kepada anak-anak tersebut untuk mengujicoba game buatannya, yang mana si pemain harus mengendalikan sebuah robot raksasa untuk melindungi Bumi dari lima belas serbuan makhluk asing.

Anehnya, sesudah menyepakati kontrak, kesemua anak mendapati diri terbangun secara misterius di pantai. Kebingungan, mereka tak punya pilihan selain menganggap bahwa semuanya hanya mimpi.

Sampai malam harinya, dua robot raksasa muncul begitu saja di tepi laut dalam keadaan saling berhadap-hadapan. Suatu… makhluk aneh bermulut kasar bernama Koyemshi tiba-tiba muncul di hadapan kelima belas anak, dan kemudian menteleportasi mereka ke ruang kokpit robot raksasa yang berwarna hitam.

Di bangku pengendali robot yang belakangan mereka namai Zearth tersebut, ternyata sudah duduk Kokopelli, yang kemudian memperagakan kepada mereka semua bagaimana robot tersebut bisa dikendalikan semata-mata dengan pikiran.

Dimensional Robots

Singkat cerita, anak-anak yang menjalin kontrak dilibatkan sebagai peserta suatu permainan maut yang dicanangkan oleh makhluk-makhluk(?) dari dimensi lain (untuk hiburan?).

Menggunakan Zearth, anak-anak tersebut secara bergantian harus berhadapan satu lawan satu dengan robot-robot yang mewakili dunia lain. Yang dipertaruhkan adalah keselamatan seisi dunia. Apabila robot sebuah dunia gagal menghancurkan kokpit robot lawan (kokpitnya yang berbentuk bulat dihancurkan oleh robot lawan beserta seluruh isinya) dalam batas waktu pertempuran, maka dunia yang diwakilinya beserta isinya akan hancur sekalian.

Koyemshi, ceritanya, berperan sebagai semacam pemandu bagi anak-anak ini. Dia akan menteleportasi mereka dari dan keluar Zearth setiap kali pertarungan akan terjadi, tanya jawab dengan mereka kalau mau, dan juga sedikit banyak mengatur urutan para anak-anak. Tentu saja, dengan kemampuan teleportasi yang dimilikinya, Koyemshi juga bisa sangat berbahaya kalau diancam.

Kenapa harus bergantian?

Alasannya karena masing-masing robot ternyata ditenagai kekuatan jiwa. Lalu sesudah menggunakannya sekali, pengemudi bersangkutan ternyata kemudian akan mati. Membuat mereka karenanya, jadi harus digantikan peserta lain.

Sebagian besar konflik di awal cerita berkembang dari bagaimana para tokoh utama tak mengetahui kenyataan ini. Koyemshi, yang notabene brengsek, rupanya sengaja tak membeberkannya. Ini kemudian memicu berbagai masalah di antara mereka.

Terlepas dari semuanya, para anak-anak yang dipercayakan nasib dunia ini meliputi:

  • Waku Takeshi; anak bersemangat yang bercita-cita jadi pemain sepakbola. Paling tertarik dengan kata-kata Kokopelli, dan karenanya, menjadi pilot pertama.
  • Kodaka Masaru; anak seorang kontraktor sipil, yang menyimpan kekaguman sangat besar terhadap ayahnya. Sifatnya pendiam dan penyendiri.
  • Yamura Daiichi; seorang anak sulung yang bekerja keras menghidupi ketiga adiknya dengan membantu pamannya, sesudah ibunya wafat dan ayahnya meninggalkan rumah. Sifatnya serius dan berkesan kaku.
  • Nakarai Mako; gadis yang mengutamakan kejujuran karena ingin tumbuh jadi orang bertanggung jawab yang dapat diandalkan. Sering ditindas karena dianggap menyebalkan. Ibunya bekerja sebagai wanita penghibur. Mako yang kemudian menjahitkan seragam untuk teman-temannya yang lain.
  • Kako Isao; seorang anak bermasalah yang karena sejumlah alasan, akhirnya jadi berandalan juga bagi orang lain. Nyatanya, dirinya memiliki rasa inferioritas yang teramat dalam.
  • Honda Chizuru; gadis berkesan tenang dan pendiam, yang diam-diam menyimpan rasa jijik terhadap kelakuan teman-temannya yang lelaki. Untuk suatu alasan, dirinya sering membawa pisau.
  • Moji Kunihiko; anak lelaki baik hati yang terbilang bijak untuk usianya, yang kerap membantu orang lain dengan saran-sarannya. Memiliki dua teman masa kecil yang sangat dia perhatikan.
  • Ano Maki; putri angkat seorang otaku anime dan istrinya. Keluarganya tengah menunggu kelahiran adik lelaki Maki. Memiliki perasaan rendah diri sehubungan statusnya sebagai anak angkat. Dalam gilirannya, terungkap kenyataan bahwa musuh-musuh yang mereka lawan sebenarnya juga adalah manusia.
  • Kirie Yousuke; seorang anak lelaki gemuk yang jadi korban penindasan Kako. Memiliki kerabat yang menderita depresi karena berbagai masalah hidup, dan karenanya ia juga kerap mempertanyakan apakah hidup ini benar-benar layak dijalani.
  • Komoda Takami; putri seorang pejabat dan sahabat dekat Maki. Pendiam dan mudah bosan. Hubungannya dengan ayahnya menjadi salah satu sorotan cerita.
  • Tokosumi Aiko; seorang gadis ceria dan enerjik. Orangtuanya bekerja di dunia pers. Dalam gilirannya, keterlibatan anak-anak dengan Zearth mulai terungkap secara luas oleh pemerintahan Jepang.
  • Yoshikawa Kanji; seorang anak lelaki yang memiliki sisi pengertian di balik sikapnya. Memiliki sedikit masalah terkait siapa orangtuanya.
  • Machi Youko; seorang anak perempuan dari keluarga nelayan. Dirinya yang pertama menemukan gua Kokopelli, dan karenanya dihantui rasa bersalah atas apa yang terjadi.
  • Ushiro Jun; seorang anak lelaki pemarah yang kerap melampiaskan kemarahannya pada adik perempuannya. Teman dekat Kanji. Dirinya yang menurutku paling berubah dalam perkembangan cerita.
  • Ushiro Kana; adik perempuan Jun yang memiliki sifat lembut, yang menerima saja perlakuan kakaknya terhadapnya. Dirinya anggota paling muda dalam kelompok.

Kursi-kursi

Bokurano jelas bukan seri untuk anak-anak. Meski menyoroti karekter-karakter utama berusia muda, ceritanya langsung menghadapkan mereka pada kenyataan dunia yang kejam, di mana yang jahat tidak selalu dihukum dan orang-orang baik bisa berakhir tewas.

Untuk mereka yang mengenal Kitoh-sensei, Bokurano mengangkat tema-tema yang mirip dengan karya beliau sebelumnya, Narutaru, yang sekilas memang terkesan ceria dan polos. Bedanya, Bokurano memperlihatkan ‘keasliannya’ lebih awal, dan karenanya relatif lebih mudah ditelan. Tetap saja, Bokurano memberi rasa tak nyaman terlepas dari kau orang kayak apa.

Selain anak-anak yang menjadi tokoh utama, Bokurano juga jadi menyorot peran orang-orang dewasa di sekeliling mereka. Tentu saja sesudah pertarungan-pertarungan yang mereka lewati jadi memakan korban tak bersalah sampai ribuan orang. Selain orangtua masing-masing karakter utama, hadir juga orang-orang pemerintahan dan kemiliteran. Itu terutama karena teknologi asing yang terkandung dalam Zearth dan betapa kecilnya harapan yang anak-anak punya.

Aku mendengar ini belakangan, tapi kabarnya, Morita-san sang sutradara juga tak nyaman dengan cerita asli di manganya. Ceritanya memang benar-benar gelap, dengan banyak perkembangan mengerikan yang terjadi. Karenanya, dengan seizin Kitoh-sensei, Morita-san melakukan sejumlah perubahan dalam upaya untuk memberi akhir cerita yang lebih optimis. (Karenanya, beliau memperingatkan secara eksplisit pada para penggemar manganya untuk menjauhi versi anime).

Versi anime jadi punya cerita yang berbeda cukup jauh dari versi manga. Ada banyak detil karakter yang berbeda. Banyak perkembangan cerita, terutama menjelang akhir, yang juga jadi berbeda, yang sebenarnya wajar kalau mengingat manganya saat itu masih dalam serialisasi.  Singkatnya, versi manga punya nuansa cerita lebih dalam dan konklusif (dan gelap), tapi versi anime punya akhir yang sedikit lebih bahagia.

“Meluncur.”

Bicara soal teknis, versi manganya secara teknis benar-benar keren. Kemampuan Kitoh-sensei dalam memaparkan ceritanya itu menakutkan. Seperti ada daya tarik tertentu yang bisa membuatmu terpikat gitu, padahal itu enggak kelihatan di awal. Penggambaran detilnya rapi, dan terutama keren adalah bagaimana pemaparan latarnya bisa terus bergulir, baik dari dalam kokpit Zearth maupun dari sudut lebih biasa. Juga berkesan adalah bagaimana desain mecha-mechanya yang sekilas abstrak tetap saja bisa berakhir keren.

Untuk versi anime, presentasinya termasuk bagus. Kualitas audio dan videonya solid. Hanya saja menjelang akhir, sesudah sedemikian banyak pembeberan, jadinya terasa kayak masih ada lebih banyak hal penting yang harusnya bisa diungkapkan, tapi jadinya enggak. Yang muncul malah perkembangan yang terasa tangensial dan dipaksa nyambung. Tapi ini juga enggak sampai sepenuhnya jelek.

Bicara soal mecha, tak banyak sebenarnya yang bisa aku bicarakan. Kalau soal Zearth sendiri (yang ukurannya dan ukuran robot-robot sejenisnya bisa melampaui gedung pencakar langit), selain punya fitur laser dalam jumlah sangat banyak yang bisa mengejar target, juga dilengkapi kemampuan untuk mendeteksi keberadaan manusia manapun di dunia. Karena penggunanya yang berbeda-beda, cara pakai Zearth dan kemampuan yang diperlihatkan juga berbeda-beda. Dari sana, timbul juga ketegangan narasi karena betapa tidak pastinya segala hal.

Ada lumayan banyak detil mecha yang sebenarnya disediakan. Menarik juga kalau dibahas. Terutama untuk versi manga. Tapi sorotan utama Bokurano sebenarnya bukan di sana sih.

Bokurano itu… gimana ya?

Di akhir, kau akan bisa merasakan kalau pesan yang disampaikannya positif. Tapi hatimu mungkin akan keburu patah duluan.

Intinya, kurasa, hal-hal buruk itu hampir pasti akan terjadi di dunia. Semua manusia pasti bakal diuji. Kita semua bakal berakhir, tapi terserah kita apakah kita mau berakhir secara keren atau secara buruk.

Aku perlu waktu lama untuk bisa sampai berdamai dengan seri ini. Mungkin itu tandanya aku sudah semakin dewasa?

Mungkin begitu.

Penilaian (untuk anime)

Konsep: A; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B

Iklan
13/04/2017

Blame!

Adaptasi anime layar lebarnya sudah mau keluar. Baiknya, aku bahas sedikit tentang Blame!.

Blame! (judul Jepangnya adalah efek suara bu-ra-mu!; jadi cara baca yang sebenarnya mungkin blam dan bukan bleim) adalah seri manga yang sekilas, kayaknya gampang dibahas. Ceritanya minim. Aksinya banyak. Tokoh-tokoh dan latar ceritanya terbilang keren. Tapi kalau mau bahas lebih dari itu, agak susah. Soalnya…

…Yah, soalnya dialognya benar-benar minim.

Kebanyakan dialognya berupa eksposisi, dengan karakter-karakter yang keren tapi tak begitu digali kepribadiannya. Tapi ini bukan dalam arti buruk ya.

Dari dulu itu memang salah satu ciri khas pengarangnya sih.

Datang ke Kotamu

Blame! berawal dari seri manga aksi sains fiksi karangan Nihei Tsutomu (yang belakangan lebih dikenal berkat seri mecha beliau, Knights of Sidonia). Pertama diterbitkan Kodansha di majalah Afternoon, serialisasi Blame! berlangsung dari tahun 1998 sampai 2003. Cerita utamanya sepanjang sepuluh buku. Seri ini sudah tuntas diterbitkan di Indonesia oleh Level Comics, bersama dengan satu buku prekuelnya, NOiSE.

Blame! pertama aku kenal di awal dekade 2000an.  Seperti halnya Berserk, Blame!  salah satu manga seinen pertama yang aku baca. Semua manga seinen yang kubaca di masa itu seakan memperluas wawasan. Tapi Blame! istimewa karena tidak ada apapun yang pernah kulihat yang mirip dengannya.

Sekali lagi, berhubung aku pertama membacanya di masa sebelum Level Comics ada, Blame! meninggalkan kesan kuat. Yang menonjol tentang Blame!, selain soal aksinya, adalah latar ceritanya.

Blame! berlatar di dunia yang sedemikian penuh bangunan dan gedung. Yang bisa terlihat hanya lorong-lorong panjang, tangga-tangga tak berkesudahan, pemandangan gedung-gedung lain, seakan tak ada akhir. Tak ada langit atau matahari. Tak ada awan atau cakrawala. Tak ada(?) kehijauan. Tak ada(?) binatang-binatang yang kita kenal. Kalaupun ada tempat terbuka, kau masih bisa melihat atap logam raksasa di atasmu. Yang kau bisa temukan paling hanya lampu, jaringan-jaringan kabel, dinding, gedung, lorong, tangga-tangga besi, elevator… intinya, labirin logam indoor yang seakan tak ada habisnya.

Di dunia seperti ini, Killy berkelana.

Killy, sang tokoh utama cerita, adalah pria muda dewasa dengan kulit agak pucat. Ekspresi mukanya selalu serius. Sifatnya pendiam. Benar-benar sangat pendiam. Tinggi badannya sedang. Proporsi badannya biasa. Pakaian yang dikenakannya biasanya hitam. Dari luar, penampilan Killy seperti manusia biasa. Di samping itu, tak terlihat ada perbekalan apapun yang dia bawa selain apa-apa yang bisa masuk ke kantong-kantong saku bajunya.

Kalau ditanya, Killy akan menyatakan kalau dirinya sedang dalam perjalanan untuk mencari sesuatu yang disebut Net Terminal Gene.

Siapa sebenarnya Killy tak benar-benar dijelaskan. Ada kemungkinan dirinya sendiri juga tidak tahu. Intinya, Killy adalah agen dari suatu pihak berwenang yang berkepentingan menghentikan pertumbuhan Kota yang tidak terkendali.

Kota yang menjadi latar cerita Blame! adalah kota harfiah yang berukuran maharaksasa. Kota ini terus tumbuh, tanpa terkendali, karena adanya robot-robot Builder yang secara berkelanjutan memperluasnya. Builder-builder baru terus diciptakan. Bangunan-bangunan baru terus dibangun. Lantai-lantai baru terus ditambah. Bahkan sampai ke luar angkasa.

Tak ada yang tahu persis sudah berapa lama Kota ada. Tapi kalau ditelusur, semua konon bermula dari crash yang dialami sistem dunia maya NetSphere yang sebelumnya mengendalikan dunia. Insiden tersebut menyebabkan NetSphere tidak lagi bisa diakses kalau bukan oleh orang yang punya genetik terminal murni—Net Terminal Gene yang Killy cari—padahal, hanya akses resmi ke NetSphere yang bisa menghentikan pertumbuhan Kota yang tak terkendali tersebut.

Sementara, jumlah populasi manusia semakin menipis. Manusia semakin sedikit, dan manusia murni mungkin bahkan sudah punah. Karenanya, ada keraguan besar soal apakah yang Killy cari benar-benar ada atau tidak.

Kehidupan Silikon

Dalam sebagian besar durasi cerita, Killy hanya berbekal satu senjata.

Senjata tersebut adalah pistol berukuran relatif kecil bernama Gravitational Beam Emitter (‘pemancar sinar gravitasi’). Pistol ini menjadi semacam senjata andalannya karena berkekuatan sangat dahsyat.

Salah satu ciri khas Blame! adalah bagaimana dalam adegan-adegan aksinya, Killy bisa sampai terlempar ke sana kemari karena saking dahsyatnya daya dorong pistol ini. Satu tembakan saja dari GBE mampu menghasilkan lubang-lubang besar yang ukurannya berskala kilometer. Persendian bahu Killy bahkan bisa sampai terlepas. Tapi dengan cueknya (memunculkan tanda tanya apakah dirinya benar-benar manusia), Killy selalu seolah bisa bangkit dan memperbaikinya ke posisi semula.

Sedemikian dahsyatnya GBE, senjata tersebut nampaknya adalah satu-satunya yang dapat melubangi lapisan Megastructure yang teramat tebal. Terletak pada titik-titik ketinggian tertentu di Kota, Megastructure adalah lempengan-lempengan raksasa antara tingkatan-tingkatan kota yang agaknya dibangun para Builder(?) dari bahan-bahan yang tidak diketahui. Megastructure menjadi semacam sistem isolasi antar lantai yang membatasi ruang gerak para penghuni Kota.

Bila ada makhluk hidup mendekati Megastructure, kedekatan mereka konon memicu kemunculan penjaga-penjaga kejam yang disebut Safeguard.

Para Safeguard yang mampu berteleportasi ini adalah para penjaga yang semula diciptakan untuk mencegah akses ilegal ke NetSphere. Hanya saja, sesudah sistem tersebut crash, Safeguard cenderung memusuhi siapapun yang tak memiliki NTG, yang dalam hal ini, meliputi hampir(?) semua manusia dan makhluk hidup lain yang masih tersisa. Karenanya, pembantaian kerap terjadi setiap kali Safeguard muncul. Para Safeguard sangat kuat dengan beragam persenjataan canggih yang sulit ditandingi.

Crash yang dialami NetSphere konon terjadi karena ada pihak-pihak tak bertanggungjawab yang berusaha masuk ke dalamnya secara ilegal untuk mencuri teknologi. Hasil akhir dari pencurian tersebut adalah terlahirnya makhluk-makhluk silikon yang meniru fisik Safeguard tapi tidak secara sempurna. Mereka adalah makhluk-makhluk separuh mesin dengan agenda dan komunitas mereka sendiri, yang agaknya punya bawaan memusuhi manusia.

Karena keberadaan mereka yang ilegal, para makhluk silikon ini adalah musuh alami para Safeguard. Tak jelas bagaimana awalnya, tapi makhluk-makhluk ini juga dimusuhi Killy dan terus seakan menjadi duri dalam daging selama perjalanannya.

Seiring perkembangan cerita, pada suatu titik, Killy mulai ditemani Cibo, seorang perempuan jangkung berambut pirang lurus yang bekerja sebagai peneliti.

Berasal dari Ibukota dan sebelumnya bekerja untuk Perusahaan Bio-Elektrik, Cibo punya minat khusus terhadap NTG yang Killy cari karena sebelumnya pernah berupaya mengakses NetSphere menggunakan NTG artifisial ciptaannya sendiri. Upaya Cibo tersebut berujung pada tragedi karena memicu kemunculan Safeguard, yang berujung pada jatuhnya banyak korban jiwa, yang kemudian membuat kesadaran Cibo dipenjarakan untuk waktu sangat lama. Sesudah pertemuannya dengan Killy (dan memperoleh tubuh baru), Cibo memohon pada Killy agar dirinya boleh ikut serta.

Berbeda dari Killy (yang masih saja pendiam), Cibo lebih banyak berbicara. Lalu melalui Cibo-lah sejumlah besar informasi tentang dunia Blame! dipaparkan. Cibo juga tak memiliki petunjuk lebih lanjut tentang NTG karena dirinya, beserta seluruh penduduk lain di masyarakat tempat dia berasal, sudah tak lagi sepenuhnya manusia.

Titik balik terbesar dalam cerita Blame! terjadi saat Killy dan Cibo mengetahui tentang Toha Heavy Industries (nama sebuah perusahaan yang sudah berulangkali muncul dalam karya-karya Nihei-sensei). Wilayah kerja Toha Heavy Industries konon tak berada dalam lingkup pengelolaan NetSphere, dan karenanya pula terbilang aman dari Safeguard, sehingga informasi tentang NTG mungkin saja bisa mereka peroleh andai saja bisa masuk ke dalamnya.

Hanya saja, yang berkepentingan terhadap Toha ternyata bukan hanya mereka.

Di samping berhadapan dengan satu-satunya administrator Toha yang dapat mereka hubungi—suatu kecerdasan buatan bernama Mensab dan manusia pelindungnya yang ahli pedang dan sudah terkikis ingatannya, Seu—para makhluk silikon turut membayangi Killy dan Cibo karena juga mengejar kesempatan untuk bisa mengakses NetSphere. Di sisi lain, meski tak termasuk jurisdiksi mereka, para Safeguard juga mulai menjalankan rencana mereka untuk menginfiltrasi Toha dan menghabisi semua yang di sana.

Pancaran Sinar dan Kecepatan Suara

Sekilas, gaya gambar Blame! terkesan kasar. Ada banyak garis yang terkesan liar. Pewarnaannya terkesan seadanya. Kesan akhirnya benar-benar seperti sketsa. Intinya, visualnya sangat berbeda dibandingkan karya-karya manga lain yang keluar di zamannya. Tapi mungkin berkat latar belakang beliau sebagai arsitek, desain dunia buatan Nihei-sensei tersebut membuat Blame! jadi benar-benar mencolok.

Jadi, di dalam setiap bab Blame! selalu serasa ada sesuatu yang monumental gitu. Terasa demikian dengan bagaimana manusia-manusia yang berukuran kecil seperti dibandingkan dengan dunia teramat besar. Ini berlangsung secara berkelanjutan, selama periode sepuluh buku, dengan diselingi adegan-adegan aksi yang semula agak susah diikuti, tapi sebenarnya berlangsung lumayan keren sesudah kau amati.

Ada banyak latar keren. Ada banyak peralatan yang canggih.  Kudengar, meski agak biasa saja di Jepang, Blame! sangat menarik perhatian para fans manga saat diterbitkan di luar negeri. Apalagi dengan dunianya yang seperti itu ditambah ceritanya yang misterius.

Ceritanya… yah, untuk waktu cukup lama, aku juga sempat kesulitan mencerna ceritanya. Karakter-karakternya kurang tergali. (Bahkan ada banyak karakter yang nama-nama mereka mungkin takkan kita ingat.) Tapi meski banyak detailnya yang hanya sebatas tersirat, Blame! punya alur sains fiksi yang benar-benar menarik.

Killy itu seperti jagoan film aksi yang tak kunjung juga mati terlepas dari betapa seringnya ia mau dibunuh. Adegan-adegan aksinya itu seperti kombinasi tembak-tembakan dan serangan-serangan jarak dekat yang berlangsung dengan kecepatan benar-benar tinggi. Ada aspek-aspek medan pelindung, regenerasi, pergantian tubuh, senjata-senjata suara dan elektromagnetik. Geh, bahkan ada isu dunia paralel yang sempat disinggung juga!

Kalau bicara soal tokoh antagonis, terlepas dari bagaimana setiap tokoh baru hadir dengan afiliasi yang diragukan (seperti Mensab dan Seu di atas, atau seperti Domochovsky dan Iko, yang meski resminya berstatus Safeguard, sama-sama tidak menjadi ancaman terhadap Killy), musuh signifikan pertama yang Killy dan Cibo hadapi adalah Sanakan.

Sanakan, sesosok perempuan berambut hitam pendek, bermula sebagai Safeguard Level 6 yang disusupkan ke Toha untuk memicu pelanggaran yang bisa menyebabkan hilangnya validitas perjanjian antara Toha dan NetSphere. Tapi dalam perkembangannya, suatu hubungan kompleks terjalin antara dirinya dengan pihak Killy dan Cibo. Intinya, Sanakan belakangan jadi sesuatu yang lebih dari sekedar musuh, dan akhirnya berperan besar dalam resolusi cerita.

Singkat cerita, Killy dan Cibo gagal memperoleh apa yang mereka cari di Toha. Tapi di akhir perseteruan di Toha, mereka memperoleh ‘sesuatu’ yang mungkin bisa membantu. Killy dan Cibo kini hanya tinggal mencari cara untuk memanfaatkan ‘sesuatu’ itu. Tapi ‘sesuatu’ tersebut juga membuat mereka dikejar musuh yang baru, yaitu kelompok makhluk silikon pimpinan Davinelulinvega (yang menurutku digambarkan seperti semacam pemimpin sekte). Di sini pula, konflik Killy dan Cibo dengan Sanakan kembali memuncak. Lalu berkat kemampuan meretas Cibo, apa yang belakangan terjadi membuat situasi menjadi benar-benar kompleks…

Ringkasnya, buat yang penasaran, akhir cerita Blame! datang dengan agak tiba-tiba dengan bagaimana Killy dipercaya untuk menjaga peninggalan Cibo dan Sanakan, yakni benih NTG sintetis yang mereka berhasil ciptakan sama-sama. Kini hanya dengan ditemani Mori, semacam kecerdasan peninggalan masyarakat Toha, perjalanan Killy terus berlanjut agar benih tersebut dapat berkembang secara bebas dari kontaminasi Kota.

Komedi Romantis

Blame! sempat beberapa kali diadaptasi menjadi anime, walau bukan dalam format seri TV. Pasar penggemarnya memang lumayan niche, jadi wajar kalau ini tak meledak.

Adaptasi pertama dalam format ONA oleh studio animasi Group TAC. Mereka memproduksi seri enam episode dengan durasi enam menit pada Oktober 2003 dengan disutradarai Inokawa Shintaro. Hasilnya tak menonjol, tapi cukup lumayan dengan nuansa dunianya yang benar-benar sureal. Ada lumayan banyak dialog di dalamnya, tapi garis besar ceritanya masih lumayan menuai tanda tanya.

Kedua, sempat hadir anime CGI Blame! Prologue sebanyak dua episode, masing-masing berdurasi empat menit, pada September 2007. Kali ini, produksinya dilakukan  studio animasi ternama Prodution I.G. Meski ekspresi para karakternya masih kaku dan tak banyak yang dihadirkan selain adegan-adegan aksi, ini berakhir sebagai presentasi lumayan keren.

Ketiga, ehem, Blame! hadir sebagai ‘anime di dalam anime’ yang tayang pada adegan-adegan tertentu di anime Knights of Sidonia beberapa tahun lalu. Hasil akhirnya cukup mencolok. Kudengar episode khususnya disertakan dalam versi DVD Knights of Sidonia.

Selama kurun waktu sesudah tamatnya tersebut, sejumlah materi pelengkap Blame! juga sempat dirilis.

Yang pertama mencolok adalah NOiSE, yang sudah kusinggung di atas. Berlatar di dunia ketika NetSphere masih terkendali, prekuel ini bercerita tentang seorang polwan bernama Musubi Susono yang mengusut suatu kasus pembunuhan, tapi tahu-tahu terjebak dalam konflik kepentingan antara sejumlah pihak. Semuanya terjadi menjelang perilisan NetSphere ke khalayak luas. Karena rupa mereka yang mirip, Musubi diyakini (tapi bisa juga tidak) adalah template kepribadian yang digunakan dalam membentuk Sanakan.

Yang paling menarik selanjutnya adalah Blame! Gakuen, suatu seri spin off yang mengisahkan bagaimana seandainya Killy dan kawan-kawannya para karakter lain adalah remaja-remaja SMA. Di sini, Killy masih pendiam. Cibo jadi semacam sahabat lamanya yang lebih banyak bicara. Sanakan menjadi guru. Lalu para makhluk silikon menjadi semacam teman-teman sekelas. Konyolnya, meski berlatar komedi romantis sekolahan, punya elemen-elemen moe, ditambah dengan baju seragam yang dikenakan para karakternya (meski wujud mereka masih makhluk silikon) dan kelopak-kelopak bunga sakura, hal-hal seperti GBE dan bangunan-bangunan raksasa masih juga ada. Killy juga jadi semacam karakter sial/beruntung yang bisa tiba-tiba kedapatan adegan fanservice dan jadi dihajar para cewek.

Selain dua di atas, ada cerita pendek Net Sphere Engineer yang sempat hadir di majalah Morning Extra dan Blame!2 pada tahun 2008 pada majalah Mandala. Keduanya sama-sama pendek dan menurutku tak terlalu berkontribusi terhadap cerita. Tapi tak dapat dipungkiri, keduanya merangsang imajinasi.

Kalau aku tak salah, bersama beberapa cerita lepasan lain, dua cerita pendek di atas dan dua bab pendek Blame! Gakuen kemudian disatukan dalam satu bundel berjudul Blame! Gakuen and so on. Tankoubon tersebut kurasa menjadi eksperimen Nihei-sensei dalam membuat cerita yang lebih berbasis karakter. Maksudku, sebelum beliau kemudian mengerjakan Knights of Sidonia.

Nelayan Elektrik

Kalau membandingkan Blame! dengan Knights of Sidonia, perkembangan kemampuan Nihei-sensei akan lumayan terlihat. Di samping memiliki artwork lebih bersih, Knights of Sidonia yang lebih baru punya jalinan cerita yang lebih memberi perhatian terhadap karakter.

Iya, itu aja.

Soal karakter itu yang agaknya jadi perbedaan mencolok.

Hasilnya belum sebegitu bagusnya sih, tapi kalau dibandingkan dengan karya-karya lain beliau, seperti Biomega misalnya, Knights of Sidonia adalah yang kayaknya punya kesan paling jauh.

Soal produksi anime Blame! yang akan datang, sebagian besar staf Polygon Pictures yang sebelumnya menangani Knights of Sidonia kudengar akan kembali. Formatnya layar lebar. Seshita Hiroyuki yang akan menangani. Naskahnya dibuat oleh Nihei-sensei sendiri dengan dibantu Murai Sadayuki. Direncanakan tayang pada pertiga akhir Mei 2017 nanti, kudengar ini nanti juga akan tayang di Netflix. Kudengar juga ceritanya akan dirombak habis.

Yah, kita lihat saja nanti.

Akhir kata… ternyata aku bisa menulis lumayan banyak tentang Blame!. Hmm, aneh juga. Aku dari dulu kagum dengan betapa pendiamnya Killy. Maksudku, dia tipe orang yang lebih banyak bertindak daripada ngomong. Berbeda dari kebanyakan orang zaman sekarang.

Man, aku perlu bisa lebih mencontohnya.

Tag: ,
29/11/2016

Kimi Shi ni Tamou Koto Nakare

Kimi Shi ni Tamou Koto Nakare, atau juga dikenal dengan judul Thou Shalt Not Die (kira-kira berarti ‘engkau janganlah mati,’ atau ‘kematianmu janganlah sampai menaklukkanmu;’ kemungkinan judulnya diambil dari puisi klasik Asano Yokiko), sekilas tak terkesan istimewa. Ini seri manga relatif baru dengan cerita yang dibuat Yoko Taro dan digambar oleh Moriyama Daisuke. Ilustrator lepas Kurahana Chinatsu turut berperan sebagai perancang pakaian para karakternya.

Cerita Kimishini, gampangnya, adalah tentang anak-anak remaja yang dilimpahi kekuatan-kekuatan supernatural. Anak-anak remaja ini disuruh berperang menggunakan kekuatan-kekuatan tersebut, di zaman ketika minyak bumi sudah mengering dan sumber daya alam menjadi objek perebutan antar negara.

Seri ini diserialisasikan dari awal tahun 2015 di majalah bulanan Monthly Big Gangan milik Square Enix. Meski relatif baru, dengan perlahan namun pasti seri ini sudah menarik perhatian kalangan-kalangan penggemar tertentu.

Kalangan-kalangan penggemar apa yang aku maksud?

Tentu saja, kalangan-kalangan penggemar Yoko Taro-sensei.

Buat yang belum tahu, Yoko-sensei sebelum ini dikenal sebagai pencetus game-game Drakengard/Drag-On Dragoon yang dikembangkan perusahaan Cavia, biasanya dengan dukungan dari perusahaan Square Enix. Waralaba ini keluarnya di zaman Sony PlayStation 2, jadi kurasa wajar bila kalian tak kenal nama beliau. Drakengard sekilas terlihat seperti  permainan-aksi-satu-orang-melawan-keroyokan-banyak-musuh macam Dynasty Warriors yang dikombinasi dengan aksi-aksi pertempuran udara macam Ace Combat. Banyak yang bilang idenya menarik sih, tapi eksekusinya kelihatan kurang begitu bagus. Namun mereka yang tak mencobanya sendiri, atau tak diberitahu tentangnya, biasanya juga takkan sadar kalau cerita Drakengard itu sebenarnya gelap.

Maksudku, gelap dalam artian lebih dekat ke ‘sakit.’

Cerita game-game Drakengard  biasanya berlatar di dunia dark fantasy muram di mana sedang berlangsung perang yang dapat mengakhiri nasib dunia. Namun segala yang terjadi biasanya berujung jauh lebih aneh dari yang kau bayangkan. Maka dari itu, cerita-cerita beliau amannya kau ikuti kalau kau dewasa dan berpikiran agak terbuka.

Dalam game-game beliau, Yoko-sensei kadang terasa nge-troll. Tapi di balik itu, selalu terkesan kalau dirinya punya maksud yang lebih dalam dari yang terlihat.

Makanya, terlepas dari adaptasi manga bersifat prekuel dari Drakenguard 3 yang belum lama ini juga dibuat, Kimishini bisa dibilang adalah karya manga beliau yang pertama. Atau setidaknya, seri manga pertama di mana beliau terlibat langsung sebagai pencetus cerita. Lalu seperti yang semua penggemar beliau harapkan, hampir semua ciri khas beliau bisa ditemukan di seri ini.

Ciri-ciri khas tersebut biasanya berupa:

  • Perkembangan yang senantiasa segar dan mengejutkan. Pola cerita yang pernah beliau pakai sekali biasanya tak akan beliau pergunakan untuk kedua kalinya.
  • Perkembangan yang lebih ‘dalam’ dari yang terlihat. Terlepas dari apakah itu bagus atau enggak, terlepas dari apakah kau sebagai pemirsa menyukainya atau enggak, selalu ada sesuatu yang tak tampak di permukaan.
  • Karakter-karakter yang kejiwaannya agak sakit.

…Apa lagi ya? Terus terang, belum banyak karya beliau yang telah aku tahu selain itu.

Moriyama Daisuke-sensei sendiri adalah pengarang seri manga aksi eksorsisme Chrno Crusade dan seri sains fiksi World Embryo. Aku belum pernah baca World Embryo, jadi aku tak bisa berkomentar tentang itu. Tapi kalau menilai dari Chrno Crusade, Moriyama-sensei tipe mangaka yang meski karya-karyanya kurang memiliki cerita menonjol, karakter-karakter yang beliau buat selalu seperti punya aura karismatik kuat. Desain-desainnya sekilas tak istimewa, tapi kesemuanya memiliki presence yang kuat dalam konteksnya masing-masing gitu. Hal itu tetap terasa bahkan dengan gaya gambar beliau yang sudah agak berbeda di Kimishini.

Soal Kurahana-san, beliau perancang karakter untuk seri Uta no Prince-sama. Jadi tentu saja rancangan-rancnagan pakaian beliau modis dan bagus.

Tersentuh oleh Perintah Itu

Kimishini bercerita seputar siswa-siswi yang tergabung dalam SMA Swasta Kemampuan Istimewa Nasional. (Iya, disebutnya demikian. Namanya blak-blakan sekali.)

Agak rumit penjelasannya. Tapi intinya, semenjak keringnya pasokan minyak bumi delapan belas tahun sebelumnya, konflik-konflik bersenjata global kemudian melanda dunia. PBB memutuskan untuk mengadakan intervensi-intervensi militer demi memulihkan keadaan di wilayah-wilayah konflik. Lalu Jepang, sebagai salah satu negara paling makmur, terpilih sebagai salah satu negara pelaksananya.

Masalahnya, konstitusi Jepang (semacam undang-undang dasarnya) secara jelas melarang tindakan-tindakan yang menjurus ke arah peperangan dengan negara lain (ini sebagai dampak akhir Perang Dunia II?). Solusi yang kemudian diambil? Gampangnya, kirim saja prajurit-prajurit yang tidak menggunakan senjata api.

Dalam hal ini, prajurit-prajurit yang ditenagai kekuatan-kekuatan supernatural.

Kekuatan-kekuatan seperti telekinesis dan penguatan tubuh ceritanya sudah bisa tercipta lewat penggunaan berbagai obat-obatan. Lalu anak-anak yang dikumpulkan di sekolah tersebut adalah bagian semacam proyek pemerintah untuk pengembangan kekuatan-kekuatan ini.

Resminya, mereka anak-anak remaja yang terpilih sebagai bagian badan amal suatu NGO (organisasi non-pemerintah). Mereka dikirim ke wilayah-wilayah yang dilanda konflik sebagai bentuk ujian atas kekuatan yang telah mereka kembangkan.

Anak-anak ini sendiri pun tahu kenyataannya seperti demikian.

Kenapa remaja-remaja ini yang dikirim, dan bukan orang-orang dewasa yang sudah matang dan lebih terlatih? Alasannya karena kekuatan-kekuatan tersebut konon akan lenyap begitu mereka menginjak usia dua puluh tahun.

Ada lumayan banyak hal yang sebenarnya tersamar pada rinciannya. Terutama dengan bagaimana ceritanya langsung masuk ke porsi adegan-adegan aksi. Tapi sedikit demi sedikit, beragam aspek ceritanya secara perlahan diungkap, memperlihatkan sisi-sisi kenyataan yang lumayan gelap.

Dan Kau Masih Ulurkan Tangan

Cerita Kimishini dibuka di suatu medan perang urban di Amerika Selatan.

Kematian secara brutal terjadi.

Anak-anak sekolahan yang sebelumnya hanya mengenal kedamaian, meski telah dilatih berperang dan membunuh, tiba-tiba harus berhadapan langsung dengan rentetan peluru dan ledakan. Berhubung mereka tak boleh membawa senjata api maupun peledak, selain baju seragam yang mereka gunakan, siswa-siswi tersebut hanya dilengkapi pedang-pedang katana, perbekalan makanan dan minuman, serta peralatan-peralatan komunikasi. Parahnya, kekuatan-kekuatan supernatural yang harusnya bisa mereka andalkan ternyata belum cukup aplikatif untuk dipakai secara nyata. Waktu pengaktifan kekuatan sebagian besar orang masih lamban. Karena itu, meski terlatih sekalipun, mereka masih rentan terhadap kematian.

Remaja-remaja ini menjadi kontingen pertama dari sekolah tersebut yang dicoba di lapangan. Kontingen pertama itu dipimpin para pengurus Dewan Siswa di sekolah itu sendiri.

Para anggota Dewan Siswa itu terdiri atas: Usuki, sang ketua berjiwa pemimpin yang dapat diandalkan (kelas 3, dididik untuk sebagai Gunner, atau pengguna kekuatan jarak jauh, seperti telekinesis); Botan (kelas 3, Attacker, atau pengguna kekuatan jarak dekat, seperti penguatan tubuh), wakil ketua sekaligus kekasih Usuki yang telah bersumpah untuk melindunginya; serta kawan dekat Usuki, seorang cowok berharga diri tinggi bernama Sumi (kelas 3, Scanner, yang memiliki kemampuan jenis pelacakan, seperti penglihatan jarak jauh), yang menjabat sebagai sekretaris.

Selain mereka, cerita perlahan turut mengetengahkan Mashiro, siswi Attacker kelas 1 berambut pendek yang menyimpan perasaan suka terhadap Usuki, yang setidaknya berharap ia bisa menjadi tameng bagi teman-teman sekolahnya yang lain.

Kerap mengitari Mashiro, dan juga sesama Attacker, hadir seorang siswa seangkatannya bernama Kuroi. Kuroi ceritanya pribadi yang agak mistrius. Kuroi, karena suatu alasan, seakan seperti selalu bisa memahami hal-hal yang tak ia ungkap ke orang lain. Karenanya, Mashiro sering mendapati Kuroi tersenyum pada saat-saat yang tak semestinya.

Satu karakter lain yang menonjol adalah seorang siswa kelas dua Scanner berkacamata bernama Asagi. Asagi memiliki kepribadian aneh, karena seringkali seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi, karena ia lupa.

Seluruh karakter yang berperan di Kimishini sejauh ini hanya dikenali dengan satu buah nama. Seakan-akan, sebagaimana yang para karakternya sendiri alami, segalanya hanya diceritakan ‘versi sederhananya’ gitu. Dengan hal-hal yang tak perlu kita ketahui dengan sengaja ditahan.

Karena seri ini pada dasarnya bergenre aksi, tapi diterbitkan bulanan, porsi ceritanya banyak disampaikan melalui dialog-dialog dengan makna terselubung. Kita seperti dibuat mengerti kalau memang ada hal-hal tertentu yang dirahasiakan. Lalu pada bab-bab tertentu, memang ada bagian-bagian eksposisi yang menguak rahasia atau pengetahuan yang dimiliki masing-masing karakter. Tapi tetap saja, dalam jangka panjang, seperti ada benang merah yang benar-benar tak bisa kita tebak gitu.

Benang-benar merah seperti soal tangan prostetik yang Botan miliki setelah ia kehilangan sebelah tangannya, politikus-politikus yang tiba-tiba ditahan, pengetahuan penting yang mungkin Asagi lupakan dari masa lalunya, atau kegilaan terselubung yang Kuroi rasakan terhadap Mashiro karena gadis tersebut seakan telah mengembalikan kemanusiaannya.

Dengan kata lain, benar-benar persis seperti pengharapan kita atas sebuah karya dari Yoko-sensei.

“Tak perlu ingat namaku. Toh, kau takkan melihatku lagi.”

Meski selera dan minat beliau agak aneh, kudengar Yoko-sensei sebenarnya orang yang berwawasan. Beliau mendalami bidang sejarah dan cukup up-to-date dengan perkembangan-perkembangan di bidang kemiliteran. Beliau juga kurang menyukai banyak hal yang umumnya dipandang konvensional. Lalu itu semua benar-benar tercermin dalam topik-topik dan tema yang diangkat dalam Kimishini.

Memang sudah jelas ini genrenya seinen sih. Tapi sekali lagi aku katakan, Kimishini benar-benar lebih cocok untuk dewasa. Pertama, karena berbagai kekerasan sadis yang terjadi di dalamnya. Kedua, adegan-adegan percakapannya juga mungkin membosankan, terutama bagi pembaca awam yang kurang tertarik dialog-dialog penuh ‘ketersiratan’ seperti ini. (Ada satu adegan ketika seorang ilmuwan mengutarakan secara panjang pendapatnya tentang kehebatannya sendiri, sebelum akhirnya tiba-tiba terkuak bagaimana dirinya seorang psikopat.) Lalu, ya, seperti yang mungkin bisa kau bayang, terkadang ada nudity dan bahasan-bahasan yang menyinggung soal seks juga.

Tapi kesemuanya menurutku benar-benar berhasil dipaparkan secara proporsional. Moriyama-sensei seperti berhasil mewujudkan gaya cerita, uh, khasnya Yoko-sensei. Kalau hanya melihatnya sekilas, mungkin aku takkan menyadari kalau manga ini digambar oleh pembuat World Embryo dan Chrno Crusade.

Di samping itu, adegan-adegan dalam ceritanya menurutku kerap benar-benar intens. Disusun sedemikian padatnya, sehingga pada setiap bab terasa ada sesuatu yang tertuntaskan atau terjelaskan.

Mungkin aneh kalau aku bicara begini. Tapi aku baru tersadar sudah betapa lamanya tak ada manga yang membuatku tanpa sadar menahan nafas sampai aku membaca Kimishini.

Kemampuan-kemampuan yang ditampilkan sejauh ini memang terbilang sederhana. Kemampuan ‘umum’ seperti kekuatan mengendalikan api saja tak ada. Mungkin karena terlalu membosankan untuk ukuran Yoko-sensei? Bagaimanapun, dasar kekuatan para karakternya tetap dari sains. Tapi aku tak bisa berkomentar untuk perkembangan-perkembangan cerita ke depan.

Berhubung masih baru, seri ini tentu saja statusnya masih berlanjut saat ini kutulis. Tapi meski jumlah babnya baru belasan, mungkin karena cara ceritanya dipadatkan, rasanya ada begitu banyak hal yang para tokohnya sudah alami.

Aku pribadi tertarik dengan cerita ini karena dari dulu selalu terngiang-ngiang akan jawaban dari Yoko-sensei saat beliau ditanya tentang metode beliau dalam membuat cerita dalam sebuah wawancara. Pada dasarnya, saat sedang bosan—seperti saat sedang berada dalam sebuah rapat, misalnya—beliau sering mengalihkan pikiran dengan mulai memikirkan hal-hal menarik apa saja yang lebih senang ia lakukan.

Dengan kata lain, yang beliau lakukan hanya berusaha membuat apa-apa yang sedang dikerjakannya menjadi menarik.

Sebagai orang yang gampang terseret dalam kemonotonan, aku sebenarnya dibuat cukup terganggu dengan perkataan ini.

Sial. Bahkan hingga kini pun ilmu tersebut masih belum aku kuasai!

Terlepas dari itu lagi, ceritanya mungkin memang terlalu keras untuk ukuran mainstream. Jadi kalau kalian tak suka (karena kalian jadi berasumsi macam-macam, misalnya), jangan paksakan diri.

24/11/2016

Kaguya-sama wa Kokurasetai

Kaguya-sama wa Kokurasetai – Tensai-tachi no Renai Zunousen (‘Nona Kaguya ingin dinyatakan cinta – perang para jenius dalam cinta dan kecerdasan’) adalah seri manga komedi romantis relatif baru buatan Akasaka Aka. Untuk yang belum tahu, Akasaka-sensei adalah pengarang seri manga ib – Instant Bullet yang termasuk bagus, namun mungkin kurang populer karena temanya yang agak abstrak.

Seri Kaguya-sama wa Kokurasetai awalnya diserialisasikan di majalah bulanan Miracle Jump milik penerbit Shueisha. Namun sekitar setahun sesudah serialisasi (bab 11?), seri ini dipindahkan ke majalah mingguan Shuukan Young Jump. Karena itu, walau settingnya sekolahan, seri ini kurasa masuknya kategori seinen.

Terlepas dari itu, seri ini mungkin belum terlalu dikenal oleh khalayak mainstream. Tapi sejauh yang aku dengar, basis penggemarnya benar-benar kuat.

“Cinta adalah perang… dan dia yang jatuh cinta duluan adalah yang kalah!”

Sebagian besar cerita Kaguya-sama wa Kokurasetai berlatar di Perguruan Shuchi’in.

Perguruan Shuchi’in merupakan sekolah elit dengan standar benar-benar tinggi. Sekolah ini seakan selalu menghasilkan lulusan yang benar-benar terpilih. Karena itu pula, kebanyakan siswa Shuchi’in berasal dari kalangan keluarga-keluarga kaya.

Fokus cerita seri ini terdapat pada dua siswa paling dikenal, yakni sang ketua Dewan Siswa, dan wakilnya yang sedang menjabat, Shirogane Miyuki dan Shinomiya Kaguya.

Shirogane Miyuki adalah murid teladan di angkatannya. Meskipun berasal dari kalangan rakyat biasa (dalam artian, berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah), dirinya diakui sebagai salah satu jenius yang terpilih. Sebagai seorang pekerja keras alami, Miyuki bukan hanya memperoleh nilai paling sempurna dalam setiap ujian sekolah (yang membuatnya mampu meraih beasiswa). Miyuki juga bahkan memiliki sertifikasi yang mengakuinya sebagai insinyur yang mampu menangani bahan-bahan kimia berbahaya. Sertifikasi lain yang dimilikinya kebetulan adalah sebagai seorang pengamat kesehatan ayam ternak. Jadi cakupan keilmuannya benar-benar luas.

Sedangkan Shinomiya Kaguya, yang sangat cantik dan anggun, telah terlatih dalam beragam bentuk kesenian dan keilmuan. Di samping nilai-nilai ujian yang berada di peringkat kedua hanya sesudah Miyuki, Kaguya ahli dalam berbagai jenis tarian serta kesenian tangan.

Singkat cerita, Miyuki dan Kaguya sebenarnya telah lama saling menyukai satu sama lain. Keduanya bahkan adalah cinta pertama masing-masing. Namun meskipun sama-sama bisa ‘merasakan’ bahwa target mereka sebenarnya juga merasakan suka terhadap mereka, keduanya enggan untuk menjadi yang menyatakan cinta terlebih dulu.

Kenapa? Mereka bilang alasannya karena harga diri!

Keduanya sama-sama hanya mau saling menunggu. Lalu tahu-tahu saja, setengah tahun sudah kembali berlalu dan hubungan mereka hanya jalan di tempat!

Keduanya sadar mereka tak bisa terus membiarkan keadaan begini. Maka dimulailah bermacam adu siasat dan permainan pikiran antara Kaguya dan Miyuki demi memaksa orang yang mereka sukai untuk menyatakan cinta.

Hasil Setiap Putaran

Kaguya-sama wa Kokurasetai ibarat seri macam Code Geass, Liar Game, dan Death Note. Ceritanya senantiasa dipenuhi dengan spekulasi, akal-akalan bulus, muslihat, perencanaan, persiapan, dan tipu-menipu… hanya saja untuk alasan-alasan yang jauh lebih konyol dan egois.

Hasil-hasilnya juga tentu saja kerap konyol dan egois. Kegagalan berulang. Kesalahpahaman. Luka-luka tak disengaja. Pekerjaan-pekerjaan yang bertambah. Dan sebagainya.

Gaya gambar yang Akasaka-sensei gunakan terutama mendukung hal ini. Gaya gambar beliau sekilas agak mirip gaya gambar pengarang manga shoujo, dengan garis-garis relatif tipis dan gaya gambar karakter cowok yang terkesan kaku. (Sudah jadi pengetahuan umum kalau seri manga shoujo kerap kali punya dialog dan tema bahasan yang lebih banyak dibandingkan komik cowok.) Lalu beliau kerap menggunakan warna-warna gelap dan suram dalam tiap panelnya. Warna-warna ini bahkan dikombinasikan dengan berbagai ekspresi muka ‘kosong’ yang biasa digunakan untuk menyiratkan rasa murka atau keputusasaan, sekalipun para karakter yang digambarnya notabene cantik atau imut. Tapi, kalau kau coba membaca dialog atau monolog atau narasi yang beliau gunakan, kau sebagai pembaca sulit buat enggak ngakak.

Nyatanya, meski gagasannya terkesan konyol, temanya yang ajaib itu benar-benar tidak menjadikan seri ini kalah rame.

Kalau hanya sekedar membaca deskripsinya saja, wajar kalau kalian mengira Miyuki dan Kaguya sama-sama sombong dan sulit disukai. Awalnya memang seperti sengaja dikesankan demikian. Tapi lama-kelamaan, mulai terlihat tanda-tanda yang mengindikasikan sebaliknya.

Apa yang memotivasi mereka (diindikasikan) sebenarnya bukan harga diri, melainkan rasa canggung/malu/bingung/rendah diri biasa. Hal-hal biasa yang biasa orang lazimnya rasakan saat jatuh cinta. Apalagi bila keduanya berasal dari lingkungan yang benar-benar berbeda.

Karena ini cinta pertama masing-masing, baik Miyuki maupun Kaguya (kayaknya) sama-sama masih awam dalam pengetahuan soal lawan jenis. Walau mereka diminta nasihat soal hubungan pun, nasihat mereka tak sepenuhnya bisa dibilang valid! Lalu gara-gara kecerdasan dan beragam kepandaian mereka—ditambah lagi dengan bagaimana sikap keseharian mereka dengan sendirinya membuat ‘orang biasa’ terlihat payah—keduanya malah terdorong untuk berasumsi yang aneh-aneh daripada menyatakan perasaan mereka secara langsung.

Miyuki pribadi memiliki semacam kompleks tentang latar belakangnya. Berhubung ia berasal dari kalangan rakyat jelata (di samping belajar, dirinya sibuk dengan berbagai macam kerja sambilan), ia kerap memiliki delusi mengerikan tentang bagaimana Kaguya dengan dingin nantinya akan menertawakannya bila seandainya jati dirinya yang asli ketahuan.

Sedangkan Kayuga sendiri, sebagai semacam ‘nona besar,’ telah sedemikian hidup terpingit. Sehingga Kaguya benar-benar tak tahu banyak tentang cara hidup orang awam karena telah terlalu sering diurusi para pelayannya. Akibatnya, dirinya lemah sekali dalam menghadapi berbagai produk teknologi modern (termasuk smart phone dan Twitter). Lalu dirinya juga awam dalam berbagai proses masyarakat yang ‘normal.’

Tapi terlepas dari berbagai kekonyolan antara Kaguya dan Miyuki, bintang seri ini yang sesungguhnya mungkin adalah Fujiwara Chika.

Fujiwara ceritanya adalah sekretaris Dewan Siswa. Dirinya orang yang senantiasa ceria dan berbadan bagus. Di samping itu, dirinya semacam sahabat sejak kecil Kaguya, telah lama berteman dengannya, tapi anehnya, seperti tak pernah sadar juga dengan seperti apa Kaguya yang sesungguhnya. Sifat Chika yang riang, disertai ketidakpekaannya akan berbagai macam hal, kerap membuatnya jadi ‘faktor x yang tak terduga’ dalam berbagai permainan siasat Miyuki dan Kaguya.

Segala tingkah Fujiwara itu jadi seperti… seakan langsung merebut sorotan perhatian gitu. Mungkin konsep karakter dia yang paling jenius dari seri ini.

Lalu untuk melengkapi, anggota Dewan Siswa yang terakhir adalah seorang pemuda bernuansa emo bernama Ishigami Yuu. Jabatannya sebagai bendahara Dewan Siswa, karena keahliannya dalam mengelola keuangan.

Ishigami diperkenalkan agak lama sesudah cerita berjalan. Dirinya jarang berlama-lama di ruang Dewan Siswa sesudah tugasnya berakhir.

Namun di balik semua alasannya, alasan Ishigami sering langsung pulang yang sesungguhnya karena dirinya satu-satunya orang yang sadar dengan segala ‘perang rahasia’ yang tengah berlangsung antara Miyuki dan Kaguya. (Semua orang di luar Dewan Siswa malah mengira kalau Kaguya dan Miyuki sudah berpacaran). Sebagai satu-satunya adik kelas di ruang Dewan Siswa, secara konyol Ishigami malah jadi yang sering kena batunya saat ia dimintai untuk mendukung salah seorang dari mereka.

Interaksi antara empat orang ini, dengan orang-orang di sekeliling mereka, benar-benar tergarap secara keren. Tapi meski kerap kali ada konflik kepentingan, keempatnya berteman baik kok.

Atau setidaknya, di permukaannya terlihat demikian.

“Berhubung sepertinya aku mulai merasakan gejala-gejala Stockholm Syndrome, aku minta izin pulang duluan!”

Beberapa karakter lain yang berperan meliputi adik perempuan Miyuki (yang juga agak lama ditahan kemunculannya), saudara-saudara perempuan Fujiwara (yang sama cantiknya dengannya), serta mungkin Hayasaka Ai, seorang siswi modis yang nyatanya diam-diam adalah pelayan pribadi Kaguya yang setia tanpa sepengetahuan orang lain.

Bicara soal artwork, semula, seri ini seriusan bernuansa gelap dan suram. Tapi semua itu sebenarnya tipuan (sampai Fujiwara tampil, setidaknya). Karena ceritanya, nyatanya, konyol, meski kerap sering membuatmu berpikir pada saat yang sama. Rasanya mengesankan karena meski dengan latar cerita yang itu-itu saja, Akasaka-sensei bisa mengembangkan ceritanya dengan sedemikian jauh, dengan permainan-permainan pikiran yang senantiasa seru.

Kalau kau bisa mengikutinya, humor dalam seri ini benar-benar kocak. Sehingga tak heran penggemarnya makin ke sini semakin terus bertambah.

Buatku pribadi, ini contoh seri yang mengingatkanmu kalau sepandai dan sepintar apapun kamu, pasti tetap akan ada hal-hal tertentu yang tak kamu tahu. Apalagi bila urusannya soal cinta. Bila ada hal yang kita enggak tahu, kalau mengikuti contoh Kaguya dan Miyuki, maka mungkin yang bisa kita lakukan hanyalah tetap memberikan yang terbaik.

Aaah, aku pengen muda lagiii.

Tag: ,
10/07/2016

Berserk

Berserk membuatku merasa seperti orang kecanduan waktu aku pertama kali membacanya.

Aku pertama dengar tentangnya sewaktu masih SMA, tapi aku baru benar-benar melihat dan membacanya sekitar sepuluh tahun lalu. Aku masih mahasiswa di kala itu. Itu adalah masa ketika komik-komik josei dan seinen masih terbatas penerbitannya di Indonesia. Level Comics baru akan ada beberapa tahun kemudian. Jadi, sewaktu aku diperkenalkan pada Berserk bersama seabrek manga bergenre seinen lainnya (yang diterjemahkan oleh fans), yang termasuk di antaranya Blame!, Homunculus, dan MPD Psycho, aku benar-benar terkesima. Temuan itu benar-benar kayak harta karun pada masa itu. Soalnya, mengingat komik-komik yang dominan di Indonesia saat itu adalah genre shonen dan shoujo, komik-komik seperti itu belum pernah kutemui sebelumnya.

Di antara temuan tersebut, Berserk adalah yang paling menonjol. Aku terpukau oleh ceritanya. Ilustrasi-ilustrasi latar dan pemandangannya benar-benar indah dan membuatku sampai menahan nafas. Lalu latar dunia abad pertengahannya lumayan kena ke titik lemahku. Tentu saja, adegan-adegan aksi dan kekerasannya membuatku sampai lebih sesak nafas lagi.

Pada awalnya, Berserk memang sekilas berkesan seperti cerita yang sekedar menonjolkan adegan-adegan kekerasannya saja (sama kayak gimana Maken-Ki! hanya menonjolkan soal fanservice, misalnya) . Kekerasannya benar-benar sadis. Monster-monsternya kerap menjijikkan. Lalu apa-apa yang terjadi di dalamnya ditampilkan mengerikan, dan buatku di awal, lumayan menguji batas ketahanan. Lalu dalam perkembangannya, tiba-tiba saja ceritanya jadi bagus.  Tahu-tahu saja ada banyak adegan dialog bermakna mendalam yang bahkan hingga sekarang kadang membuatku berpikir.

Berserk sudah terbit sekitar 20-an buku di masa itu. Pertama terbit tahun 80an, ceritanya termasuk sudah jauh tapi masih belum ada tanda-tanda bakal tamat. Selama sekitar dua minggu (atau mungkin sebulan, kalau dihitung bersama beberapa judul komik lain; iya juga, MPD Psycho juga kabarnya mau tamat), kerjaan utama yang benar-benar aku ingat hanyalah membaca Berserk.

Aku seriusan kecanduan.

Meski ada pelajaran-pelajaran soal kehidupan yang aku dapat dari membaca Berserk (dan manga-manga lainnya di masa itu), aku jadi lumayan mengabaikan soal kuliah. Tapi kalau misalnya aku ditanya apa aku merasa buang-buang waktu dengan membacanya, maka jawabannya kurasa adalah enggak.

Manusia Takkan Bisa Melawan Takdir

…Yah, sedikit bahas soal latar belakangnya dulu.

Berserk adalah manga fantasi gelap karya Miura Kentarou (dengan dibantu Studio Gaga) yang terbit sejak tahun 1989. Penerbitannya dilakukan melalui Hakusensha. Genrenya seinen, dan seri ini dikenal sebagai salah satu manga dark fantasy paling menonjol dan berpengaruh yang pernah dibuat.

Materi ceritanya… sekali lagi, benar-benar untuk dewasa.

Di dalamnya, ada banyak adegan kekerasan yang sampai berulangkali bisa bikin orang berjengit (seperti adegan kepala remuk dan bola mata sampai meloncat keluar). Ditambah lagi, karena dunianya yang memiliki aspek barbar, ada lumayan banyak kekerasan seksual yang digambarkan terjadi di dalam ceritanya.

(Seriusan, mending kamu jangan membacanya kalau kamu belum cukup umur.)

Tapi di antara semua darah yang tertumpah, dan semua tragedi serta kehilangan, ada saat-saat introspeksi yang mengandung makna yang mendalam. Terlepas dari kekerasannya, yang tertuang lewat adegan-adegan aksi dan horornya, kerap ada pembahasan soal falsafah hidup juga. Lalu ada kajian tentang kondisi-kondisi kejiwaan para karakternya. Lalu ada tema berulang soal cita-cita, soal pantang menyerah meski di ambang keputusasaan. Jadi kalau kalian memang belum waktunya untuk memahami hal-hal kayak gini, besar kemungkinan ke sananya kalian tetap bakalan enggak ngerti (dan akhirnya kalian cuma jadi teracuni oleh adegan-adegan kekerasannya saja).

Saat ini kutulis, seri ini telah terbit sebanyak 37 buku dengan bab-bab yang diterbitkan secara agak tak beratur semenjak tahun 2006. Ceritanya sekarang sudah berkembang sangat jauh, dan masih belum benar-benar jelas tamatnya kira-kira kapan. (Selain karena ceritanya yang kompleks, serta artwork-nya yang kedetilannya memukau, salah satu alasan serialisasinya lama konon karena sempat ada masa ketika Miura-sensei tergila-gila main The Idolm@ster.)

Selain manganya, sempat ada adaptasi anime dalam bentuk seri TV yang tayang pada tahun 1997-1998 sebanyak 25 episode. Seri ini dikenal sebagai Berserk: Kenpuu Denki (subjudulnya kira-kira berarti ‘kisah-kisah angin pedang’). Produksinya dilakukan studio Oriental Light and Magic (OLM), Inc. Seri ini disutradarai Takahashi Naohito (sutradara Figure 17 dan Koutetsu Tenshi Kurumi). Naskahnya secara mencolok disusun oleh Imagawa Yasuhiro. Sedangkan musiknya ditangani oleh Hirasawa Susumu (yang musik gubahannya yang bernuansa eksperimental memang menjadi salah satu inspirasi Miura-sensei selama membuat Berserk). Meski ceritanya memodifikasi banyak aspek dari manganya (terutama penekanan lebih ke tema ambisi dan persahabatan ketimbang supernatural, dan hilangnya satu karakter yang menonjol di manganya) berhubung status manganya yang masih berjalan, anime ini tetap menjadi media pertama yang memperkenalkan Berserk ke banyak orang.

Setelah satu dasawarsa lebih, pada tahun 2012-2013, barulah ada adaptasi anime dari Berserk dibuat lagi. Kali ini dalam format trilogi film layar lebar, Berserk: The Golden Age Arc, mengadaptasi bagian cerita paling terkenal dari manganya yang mengetengahkan masa lalu para tokoh utamanya. Anime ini menonjol karena mengimplementasi CG modelling untuk menggambarkan adegan-adegan peperangannya yang kolosal (walau porsi CG-nya yang masih belum sempurna berkurang drastis pada film kedua dan ketiganya). Produksinya kali ini dilakukan Studio 4°C. Sutradaranya adalah Kubooka Toshiyuki. Naskahnya dibuat oleh Okouchi Ichirou. Musiknya kini ditangani Sagisu Shirou dengan masih dibantu Hirasawa Susumu.

Selebihnya, selama pertengahan dekade 90an, ada beberapa adaptasi ke dalam bentuk game yang ceritanya lebih berstatus side story. Kalau tak salah, semuanya muncul di konsol Sega Saturn. Tapi dalam waktu dekat, akan ada game baru lagi yang dibuat oleh Koei Tecmo berjudul Berserk Musou yang bergaya Dynasty Warriors.

Saat ini kutulis, ada adaptasi ke bentuk seri TV baru yang mulai ditayangkan pada musim panas tahun 2016. Akhirnya, ceritanya merupakan kelanjutan dari bab masa lalu yang ditampilkan dalam dua adaptasi sebelumnya. Produksinya diprakarsai oleh Liden Films, dan ditangani lewat kerjasama animasi antara GEMBA dan Millepensee. Sutradaranya kali ini adalah Itagaki Shin (yang sebelumnya paling dikenal sebagai sutradara Basquash!). Naskahnya ditangani oleh Fukami Makoto dan Yamashita Takashi. Lalu musiknya kembali ditangani Sagisu Shirou.

…Tapi Manusia Bisa Terus Menentangnya, Selama yang Mereka Mau

Berlatar di suatu dunia abad pertengahan yang selama bertahun-tahun telah dilanda perang, Berserk berkisah tentang perjalanan seorang ahli pedang misterius bernama Guts.

Guts, yang dikenal sebagai ‘ahli pedang hitam,’ adalah pria besar dan kekar yang senantiasa berzirah gelap dengan jubah berwarna hitam. Mata kanannya senantiasa terpejam, mengindikasikan bola mata yang telah remuk. Tangan kirinya adalah tangan palsu yang terbuat dari logam, yang selain dapat dipasangkan busur otomatis, juga dapat berfungsi sebagai meriam. Di dadanya, tersampir seperangkat pisau lontar. Lalu di punggungnya, Guts membawa sebilah pedang raksasa berukuran sebesar tubuhnya yang ‘terlalu besar, terlalu kasar, dan terlalu berat untuk bisa disebut pedang.’

Karena selalu menyendiri dan bersikap kasar dan kejam, Guts ditakuti orang awam. Lalu konon, ia juga selalu terlihat di tempat-tempat di mana kekacauan pernah terjadi.

Tanpa sepengetahuan banyak orang, di bagian belakang leher Guts, tertoreh sebuah lambang yang dari waktu ke waktu akan nyeri dan berdarah. Terutama terasa saat malam menjelang, lambang tersebut akan mengundang makhluk-makhluk halus dari dimensi kegelapan untuk mencoba memangsa Guts, yang menjadi alasan Guts menyandang pedang raksasanya tersebut. Sayangnya, sedikit sekali saksi mata yang bertahan hidup sesudah menyaksikan langsung hal ini.

Di awal cerita, mengikuti naluri, kabar-kabar burung, serta rasa nyeri yang terasa pada lambang di lehernya, Guts berkelana memburu monster-monster berwujud manusia yang disebut Apostle. Apostle adalah sosok-sosok pemanga manusia, yang sebenarnya telah menjual kemanusiaan mereka untuk bisa berwujud monster-monster menjijikkan.

Siapa sebenarnya Guts, dari mana ia berasal, dan apa sebenarnya yang ia hadapi, merupakan pertanyaan-pertanyaan berulang di bagian-bagian awal cerita. Perlahan terungkap bahwa yang Guts kejar sebenarnya adalah lima sosok misterius yang disebut God Hand, sosok-sosok di atas kaum Apostle yang telah memberikan kekuatan pada mereka, bersemayam di dalam suatu dunia yang lain, dan konon bahkan berkuasa atas takdir.

Kisah Berserk terbagi ke dalam beberapa bagian cerita besar (arc). Masing-masing bagian mengusung periode waktu tertentu, dan terbagi dalam bab-bab lain yang lebih pendek. Sejauh saat ini kutulis, bagian-bagian tersebut adalah:

  • Black Swordsman Arc. Bagian cerita ini memperkenalkan tokoh Guts, wataknya, serta musuh-musuh macam apa yang ia hadapi. Bagian ini juga yang memaparkan pertemuan pertama Guts dengan si peri kecil (elf) Puck yang mulai sering mengikutinya ke mana ia pergi. Bagian ini yang memperkenalkan kita pada latar Kerajaan Midland, serta pada keberadaan pusaka-pusaka Behelit yang berwujud telur dengan fitur-fitur wajah, yang konon digunakan para Apostle untuk memperoleh kekuatan mereka. Bagian cerita ini sempat sedikit ditampilkan dalam adaptasi anime tahun 1997.
  • Golden Age Arc. Bagian cerita ini memaparkan asal-usul Guts sebagai bayi yang dipungut oleh sekelompok tentara bayaran dari bekas medan perang, dan menggambarkan perasaan kompleksnya sebagai anak-anak terhadap Gambino, figur yang menjadi ayah angkatnya, namun menyalahkan Guts atas kematian istrinya. Bagian ini berlanjut dengan memaparkan pertemuan Guts dengan kelompok tentara bayaran legendaris Band of the Hawk (Taka no Dan, kira-kira berarti ‘pasukan elang’) yang berperan besar dalam menuntaskan Perang Seratus Tahun antara Kerajaan Midland dengan Kekaisaran Chudor. Bagian ini memperkenalkan kita pada dua orang yang menjadi sosok paling berarti dalam hidup Guts, yakni Griffith, pemimpin sangat cerdas sekaligus karismatik dari Band of the Hawk yang berasal dari rakyat jelata; serta Casca, perwira perempuan dari Band of the Hawk yang menjadi kekasih Guts. Tokoh-tokoh lain yang diperkenalkan mencakup: Judeau, anggota Band of the Hawk yang merupakan bekas anggota sirkus; Pippin, anggota Band of the Hawk berbadan besar yang merupakan seorang bekas penambang; Corkus, anggota Band of the Hawk merupakan seorang bekas bandit; serta Rickert, salah satu anggota Band of the Hawk paling lama yang sekaligus salah satu yang berusia paling muda. Bagian ini yang juga memperkenalkan Nosferatu Zodd, seorang prajurit bayaran legendaris yang telah hidup sangat lama, yang kemudian memberi ramalan mengerikan tentang jalan takdir yang akan ditempuh oleh Griffith dan Guts. Bagian cerita ini mendapat pemaparan signifikan pada versi anime 1997, serta menjadi basis dari trilogi layar lebar The Golden Age Arc. Bagian cerita ini juga yang dipandang sebagian besar orang sebagai bagian terbaik dari Berserk, karena kompleksitas tema yang diangkat di dalamnya.
  • Conviction Arc. Bagian ini menceritakan kelanjutan perjalanan Guts dan Puck, serta awal diburunya Guts oleh Holy Iron Chain Knights (‘ksatria-ksatria rantai besi suci’) yang telah diutus pihak Gereja, menyusul datangnya tanda-tanda akan berakhirnya dunia. Cerita ini berlanjut dengan perjalanan Guts dan Puck menuju tanah suci Albion di mana menara penghakiman berdiri, demi menelusuri jejak Casca yang hilang. Beberapa tokoh baru signifikan yang diperkenalkan di bagian ini meliputi: Farnese, pemimpin dari Holy Iron Chain Knights (yang secara tradisional dipilih adalah wanita) yang goyah keyakinannya semenjak bertemu Guts; Serpico, pelayan sekaligus pengawal Farnese yang lihai dan tertutup; dan Isidro, seorang bocah lelaki yang terkagum-kagum oleh kekuatan Guts dan mulai mengikutinya dengan harapan bisa diangkat sebagai murid. Secara pribadi, ini merupakan bagian cerita favoritku. Bagian cerita ini yang menjadi basis adaptasi anime tahun 2016 yang sedang tayang saat ini kutulis.
  • Falcon of the Millennium Empire Arc. Bagian cerita yang berlangsung seiring terjadinya invasi Kekaisaran Kushan sebagai puncak suatu konflik agama atas Midland, menyusul masa damai tapi penuh penderitaan yang berlangsung hanya beberapa tahun. Bagian ini menandai munculnya Band of the Hawk baru pimpinan Griffith yang juga tersusun atas anggota-anggota baru. Pada waktu yang sama, Guts dan kawan-kawannya memulai perjalanan ke Elfhelm, kampung halaman Puck, di mana pemimpinnya, Flower Storm King (‘raja badai bunga’), diyakini bukan hanya dapat memberi perlindungan pada Casca, melainkan juga menyembuhkannya. Karakter-karakter penting baru yang diperkenalkan mencakup Schierke, anak perempuan yang menjadi murid satu-satunya dari sang penyihir Spirit Mansion, Flora, yang telah lama menantikan Guts; peri yang menemani Schierke, Ivarella; serta Sonia, seorang gadis muda dengan kekuatan meramal yang sebelumnya telah menyaksikan akan datangnya sosok juru selamat. Bagian ini menonjol karena menjadi awal kesadaran Guts bahwa ia tak lagi bisa berkelana seorang diri, dan mulai menerima kehadiran teman-teman barunya sebagai kawan seperjalanan. Bagian ini juga yang pertama memperkenalkan zirah pusaka Berserker Armor yang kemudian diberikan pada Guts, yang semakin melimpahinya kekuatan luar biasa namun dengan bayaran teramat mahal. Sedikit lebih banyak tentang Skull Knight, sosok ksatria tengkorak berkuda yang selama bertahun-tahun telah mengawasi dan menolong Guts, juga diceritakan pada bagian ini. Demikian juga dengan sesosok anak lelaki tanpa suara yang mulai muncul hanya pada malam-malam bulan purnama.
  • Fantasia Arc. Bagian yang memaparkan berubahnya dunia beserta seluruh hukum alam, lewat bercampurnya dunia khayal dan dunia nyata, seiring kekalahan Kaisar Ganishka di tangan Griffith. Bagian cerita ini masih berlanjut saat ini kutulis. Ceritanya terutama mengisahkan perjalanan laut menuju Elfhelm yang akhirnya bisa ditempuh Guts dan kawan-kawannya berkat bantuan Roderick, bangsawan pelaut dari negeri Ys yang menempatkan diri sebagai tunangan Farnese. Bagian ini terutama menonjol karena semakin banyaknya masuk elemen high fantasy ke dalam cerita.

Orang-orang di Garis Tepi

Ada empat elemen yang bagiku membuat Berserk benar-benar memikat:

  • Perjuangan mati-matian manusia untuk melampaui tantangan-tantangan yang seakan tak mungkin dihadapi.
  • Tentang impian dan cita-cita, serta makna pencapaiannya.
  • Tentang dualitas kebaikan dan keburukan dalam diri manusia.
  • Tentang kausalitas, dan apakah segala sesuatu benar-benar telah mutlak ditakdirkan.

Selain plot utama, juga terdapat banyak subplot yang saling jalin-menjalin, semisal soal pengkhianatan dan persekongkolan antar bangsawan, makna sesungguhnya dari bekerja untuk meraih cita-cita, perbedaan antara orang-orang miskin dan orang-orang berada, tentang keyakinan, tentang makna hidup, tentang persaudaraan dan persahabatan. Semuanya dihiasi dengan artwork yang termasuk gila pada masanya dan masih terbilang gila untuk masa sekarang.

Gaya gambarnya itu dibuat dengan penuh detail. Penggambaran nuansa abad pertengahannya benar-benar kuat. Meski gaya gambar Miura-sensei tentu saja juga berevolusi selama bertahun-tahun pengerjaannya (beliau tak lagi sesuram dulu misalnya, mungkin berkat pengaruh Amami Haruka dan kawan-kawannya?), ada ciri khas konsisten yang bertahan. Lalu terkadang ada gambar-gambar panorama yang menampilkan betapa luas dan kolosalnya pemandangan dalam satu panel.

Ini jenis manga yang berhasil menghadirkan nuansa perjalanan yang dilalui para karakternya. Bahkan tempat-tempat singgah sementara yang tak penting: seperti puing-puing tempat Guts dan Casca pernah beristirahat, atau hutan penuh daun berguguran tempat Farnese dan Casca pernah saling menemani, atau jalan berliku di mana Guts dan kelompok tentara bayarannya yang lama pernah berhadapan dengan tentara yang berlari; tak kalah berkesannya dari kota pelabuhan besar Vritanis atau suram dan rumitnya Windham, ibukota Midland.

Singkatnya, Berserk secara visual benar-benar keren. Miura-sensei mengambil banyak inspirasi dari berbagai sumber, termasuk karya-karya seni tertentu, sehingga berhasil menampilkan dunia yang benar-benar hidup (dan kerap kali menakutkan).

Selain Guts dan orang-orang di sekelilingnya, kerap pula hadir karakter-karakter sampingan yang memainkan peranan mereka sendiri, yang kadang baru tampil kembali setelah hilang lama. Semisal Jendral Laban dan Owen, bangsawan Midland yang menjadi dua dari sekian sedikit bangsawan yang tidak memusuhi Band of the Hawk lama, sebelum kelompok tersebut menghilang secara misterius sesudah dicap sebagai penjahat negara; bekas perdana menteri Foss, yang tahu sejauh apa Griffith dapat bertindak; Mule, keturunan keluarga ksatria yang kerap pusing dengan tugasnnya mengawasi Sonia; Tuan Putri Charlotte, pewaris tahta Midland yang hatinya telah tertambat pada Griffith; Luca, pimpinan pemberani dari kelompok perempuan tuna susila yang sempat menampung Casca; sampai ke ksatria tongkat maut Azan yang berkumis; Silat, pemimpin klan pembunuh Bakiraka asal Kushan yang sempat menjadi rival Guts; Godo, pandai besi penyepi yang kebetulan pernah Guts temui, yang kemudian mempercayakan pedang raksasa Dragonslayer pada Guts (dan nantinya menjadi guru Rickert); Daiva, penyihir Kushan tangan kanan Ganishka; dan Isma, gadis penyelam sebatang kara yang ditemui Isidro di pulau yang mereka singgahi.

Ceritanya kerap suram dan penuh kesedihan. Lalu ini terutama tergambar lewat bagaimana Guts hampir tiap malam terus dibayang-bayangi makhluk gelap dan mimpi buruk, seperti monster gaib kecil bermata satu yang senantiasa memandanginya lama, sosok Skull Knight misterius (yang mungkin saja adalah sosok Kaisar Gaiseric yang namanya disebut pada awal berdirinya Midland, sebelum ia dihukum oleh langit lewat lima ‘malaikat’); sampai sosok serupa anjing hitam bermata merah yang merupakan manifestasi dari murka dan nafsu Guts yang terpendam.

Tapi Miura-sensei memasukkan banyak comic relief untuk mengimbangi ini, berupa humor yang dihadirkan karakter-karakter seperti Puck, Isidro, dan Ivarella. Ada sebagian orang yang berpendapat kehadiran aspek humornya (yang kadang breaking the fourth wall) agak mengganggu alur ceritanya (yang juga menjadi alasan Puck dihilangkan sama sekali dari anime versi 1997). Tapi aku pribadi merasa kehadiran mereka penting karena ceritanya memang sesuram itu.

“Tak pernah kukhianati cita-citaku.”

Sedikit bicara soal adaptasi-adaptasi animenya, mungkin karena cakupannya yang sedemikian kompleks, sebenarnya sampai sekarang masih belum ada adaptasi anime Berserk yang bisa dikatakan berhasil.

Sebenarnya, ada lumayan banyak penggemar yang juga heran dengan hal ini.

Ada yang bilang bahwa cara terbaik untuk mengikuti Berserk adalah dengan mengikuti dulu versi anime tahun 1997, karena ini versi yang paling berhasil menyorot hubungan Guts dan Griffith. Lalu baru sesudah itu kau mengikuti versi manganya. Tapi aku pribadi merasa mengikuti manganya secara langsung tetap yang terbaik. Meski dengan beberapa perubahan cerita di dalamnya, seri TV tahun 1997 ini sebenarnya masih termasuk adaptasi yang lumayan. Sekalipun demikian, ada seorang sahabatku yang tetap ternyata lumayan membenci versi ini.

Trilogi film layar lebar The Golden Age Arc terbilang solid, walau memang tak sempurna. Yang terutama menonjol adalah bagaimana pemakaian animasi CG-nya cukup berhasil menghidupkan nuansa kolosal dalam peperangannya. Walau begitu, ada perdebatan lumayan panas di kalangan penggemar soal CG ini. Ada lumayan banyak orang yang kurang setuju dengan penggunaannya. Memang goyah di awal, tapi adaptasi ini ke sana-sananya masih bisa dibilang semakin bagus.

Sedangkan untuk seri TV tahun 2016 yang sedang tayang, meski secara teknis seriusan enggak bisa kubilang jelek, ada lumayan banyak hal di dalamnya yang berulangkali membuat facepalm para penggemarnya. Untuk suatu alasan yang tak bisa dipahami, teknologi CG yang serupa dengan yang di trilogi movie-nya kembali dipakai. Porsi pemakaiannya agak berlebih, dan membuat aneh karena bahkan dipakai dalam adegan-adegan dialog biasa. Di samping itu, ada pemadatan cerita yang meski mungkin takkan dipermasalahkan para penggemar baru, sempat membuat tak nyaman para penggemar lama. Setidaknya, animasi CG ini berhasil menghadirkan pergerakan dinamis yang belum terlihat sebelumnya dalam adegan-adegan aksinya.

Bagaimanapun, aku membuat ini sebagai bentuk peringatan atas tayangnya anime baru ini. Jadi kurasa aku takkan terlalu memprotes.

Sekali lagi, ada banyak adegan berkesan di Berserk. Seperti bagaimana Guts dan Casca mencuri dengar pembicaraan Griffith dengan Putri Charlotte tentang cita-cita, yang secara tak langsung menjadi pemicu kepergian Guts. Atau, yang membuatku sadar betapa ceritanya lebih dalam dari yang terlihat, adegan penutup di akhir arc pertama saat Puck memprotes kenapa Guts harus bersikap sedemikian kejam dan menyakiti orang, sebelum ia tiba-tiba menyadari bagaimana ekspresi muka Guts seperti hendak menangis.

Adegan-adegan tersebut sayangnya belum benar-benar berhasil tersampaikan sebagus seperti yang di komik.

Mungkin masih lama sampai Berserk berakhir. Tapi di dalamnya sudah ada begitu banyak hal menggugah yang aku dapat.

Aku kerap kepikiran tentang manga ini seiring semakin dewasanya aku belakangan.

Mungkin memang sebatas khayalan. Tapi ini satu judul yang akan terus kuingat karena terus mengingatkan untuk terus bangkit dan menjadi kuat, demi mengejar suatu arti dari keberadaan kita.

Yah, kalau ada perkembangan, mungkin ini akan kutambahkan lagi.

Edit, 22 September 2016

Sedikit tambahan berkenaan seri TV-nya yang baru tayang, berhubung aku pasti malas mengulasnya.

Singkat kata: bahkan kualitas produksi yang sangat di batas rata-rata tetap tak mampu menutup kekuatan cerita yang telah Miura-sensei buat. Intinya, anime Berserk tahun 2016 berakhir dengan mengecewakan banyak penggemar manganya. Tapi di sisi lain, kekuatan ceritanya tetap berhasil menarik banyak penggemar baru.

Kelanjutannya sudah diumumkan akan tayang pada musim semi tahun 2017 mendatang.

Mudah-mudahan hasilnya lebih baik.

06/07/2016

NHK ni Youkoso!

Dunia ini suram. Sudah tak lagi ada harapan. Jangankan bertatap muka dengan orang, buat melangkah ke pintu saja aku ketakutan.

Kenapa? Kenapa aku bisa berakhir begini? Aku… tak bisa berhenti gemetaran. Mereka menertawakanku. Aku tahu kalau mereka pasti sebenarnya menertawakanku! Aku selalu jadi aneh kalau harus berbicara. Bahkan sekedar berada di sana, aku bisa merasakan sorot mata merendahkan dari orang-orang!

Tapi tidak… tidak mungkin sesuatu seperti ini bisa semata terjadi karena salahku.

Ya!

Ini pasti terjadi karena mereka! Bagaimana mungkin hal seabsurd ini bisa tahu-tahu terjadi begitu saja? Tak mungkin sesuatu seperti ini bisa terjadi dengan sendirinya!

Hanya ada satu kemungkinannya.

Tanpa kusadari, rupanya aku telah menjadi korban dari sebuah KONSPIRASI.

Mimpi-mimpi dan Harapan

Pada pertengahan dekade 2000an, ada semacam ketidakpastian aneh soal dunia akan bergerak ke arah mana. Itu adalah zaman ketika Internet sudah ada, tapi berbagai aplikasi dan media sosial masih belum merambah kehidupan kita seperti sekarang. Lalu seiring dengan datangnya Internet tersebut, muncul pula berbagai metode yang memungkinkan kita untuk bisa memenuhi barang-brang kebutuhan kita tanpa ke luar rumah.

Hm, mungkin dari sana sindrom hikikomori berasal.

Untuk yang belum tahu, hikikomori adalah sebutan bagi orang-orang yang mengurung diri mereka di dalam rumah atau bahkan kamar mereka. Karena satu dan lain sebab, mereka tahu-tahu menolak segala bentuk interaksi sosial. Mereka berhenti bekerja atau bersekolah. Lalu sebagai akibat dari terlalu lama mengurung diri tersebut, mereka jadi merasakan keengganan atau bahkan ketakutan luar biasa kalau seandainya harus membawa diri ke lingkungan luar.

Fenomena ini mulai mencuat ke permukaan publik Jepang pada dekade 2000an dan tetap mendapat banyak sorotan sampai awal-awal dekade 2010an. Sekarang, pada saat ini aku tulis, fenomenanya sudah agak memudar sih, walau orang-orang yang menderitanya masih ada.

Di sekitaran zaman itu, mulai muncul istilah yang menyebut suatu golongan masyarakat sebagai NEET (not under employment, education, or training). Istilah ini intinya mengacu pada lapisan masyarakat yang tidak memegang pekerjaan tetap, tidak sedang menempuh pendidikan, dan juga tidak sedang menjalani pelatihan. Lalu para hikikomori ini merupakan salah satu subset dari mereka.

NHK ni Youkoso! atau Welcome to the N.H.K. (‘selamat datang ke NHK’) yang dipenai oleh Takimoto Tatsuhiko merupakan seri yang menyoroti tema tersebut. Ceritanya pertama terbit dalam bentuk novel dari Kadokawa Shoten dengan ilustrasi buatan Yoshitoshi ABe yang dikenal lewat ilustrasi beliau di NiEA Under 7 dan Serial Experiments Lain.

Semula, aku dengar novel ini terlahir sebagai semacam karya semi-otobiografi dari Takimoto-sensei sendiri saat menjadi seorang ‘hikikomori dalam pemulihan.’ Versi awal ceritanya kalau tak salah sempat muncul dalam situs cerita Boiled Eggs sebelum diterbitkan secara resmi. (Sayangnya, bahkan setelah menerbitkan ini, Takimoto-sensei konon sempat lama vakum dan tak mengeluarkan karya apa-apa lagi, dan hanya hidup serampangan dengan hasil honor penerbitan yang diperolehnya, karena penyakit hikikomori-nya masih belum sembuh). Tapi kemudian aku juga dengar kalau ide ceritanya konon berasal dari rembukan malam-malam dadakan di suatu family restaurant bersama sahabatnya sesama pengarang, Sato Yuya (Sato Yuya yang membuat novel Dendera itu?!), karena dia sedang kehabisan ide cerita pas dia juga harus berhadapan dengan perwakilan Kadokawa esok harinya.

Pada tahun 2004, seri ini kemudian diadaptasi ke bentuk manga yang dibuat oleh Oiwa Kendi (kalau tak salah, beliau yang membuat adaptasi manga dari seri drama pembunuhan remaja GOTH) dengan naskah yang (sepertinya) masih dipenai Takimoto-sensei. Serialisasinya berlangsung selama tiga tahun di majalah Monthly Shonen Ace punya Kadokawa Shoten, sebelum tamat dengan cerita sebanyak delapan buku.

Lalu pada tahun 2006, seri ini kemudian diangkat ke bentuk anime 24 episode dengan produksi yang ditangani GONZO. Sutradaranya adalah Yamamoto Yuusuke, naskahnya ditangani oleh Nishizono Satoru, dan musiknya diaransemen oleh Pearl Brothers.

Ada beberapa perbedaan agak mencolok antara versi-versinya. Versi novel aslinya terutama, yang hanya terdiri atas satu buku, memiliki kesan lebih suram dan gritty. Versi manganya terasa seperti semacam ekspansi dari versi novelnya, dengan pengembangan cerita lebih lanjut, beberapa penyesuaian karakter, serta tampilnya sejumlah tokoh baru. Sedangkan versi animenya semula terasa lebih mengikuti versi manganya, sebelum menjelang tamat agak berubah haluan ke tamat yang lebih dekat ke versi novel.

Mimpi-mimpi dan Konspirasi

Berlatar di wilayah suburban Tokyo, NHK ni Youkoso! berkisah tentang seorang pemuda hikikomori di usia menjelang pertengahan dua puluhan tahun bernama Satou Tatsuhirou yang pada suatu hari berkesimpulan kalau nasibnya yang menyedihkan sebenarnya akibat manipulasi suatu konspirasi besar dan misterius.

Dalang konspirasi ini diyakininya adalah organisasi rahasia NHK, Nihon Hikikomori Kyoukai (‘organisasi hikikomori Jepang’), yang Satou yakini bertujuan untuk menciptakan suatu lapisan masyarakat hikikomori yang akan ditertawakan dan direndahkan oleh lapisan-lapisan masyarakat lain yang lebih unggul. (Iya, salah satu daya tarik seri ini ada pada bagaimana keyakinan konyolnya ini tak punya dasar jelas, tapi terus senantiasa membayanginya di sepanjang cerita.)

Satou telah menganggur selama empat tahun sejak sindrom social withdrawal-nya muncul. Sindrom ini pula yang menyebabkannya sampai drop out dari kuliah dan menjalani kesehariannya tanpa arah jelas. Sehari-hari, ia hanya berdiam di kamar apartemennya (yang dalam manga dan anime, diperlihatkan sebagai sebuah wisma bernama Mita House). Semenjak itu, Satou hidup hanya dengan uang kiriman dari orangtuanya di pedesaan, dan hanya keluar dari apartemennya pada larut malam saat mau membeli barang-barang kebutuhan hidup dari convenience store.

Meski ‘menyadari’ keberadaan konspirasi ini dan telah bertekad untuk melawan pengaruhnya, Satou sayangnya tetap tak mengalami kemajuan.  Sebulan tahu-tahu saja kembali sudah berlalu. Tapi Satou masih saja belum sanggup menguatkan hati untuk keluar kamar.

Sampai suatu ketika… takdir seakan mempertemukan Satou dengan seorang gadis remaja belasan tahun bernama Nakahara Misaki. Sesudah pertemuan pertama mereka (yang mungkin kebetulan tapi mungkin juga bukan), Misaki menyelipkan lewat lubang surat di pintu Satou sebuah undangan sekaligus tawaran kontrak. Isi kontrak itu adalah tawaran untuk bergabung dalam suatu ‘proyek’ seandainya Satou ingin bisa sembuh dari ke-hikikomori-annya.

“Purupurupururin!”

Sebenarnya, bukan hanya pertemuan dengan Misaki saja yang kemudian mengubah hidup Satou. Dalam kurun waktu hampir sama, Satou juga mengetahui bahwa tetangganya yang selama ini membuatnya terganggu dengan menyetel lagu-lagu anime keras-keras tak lain adalah Yamazaki Kaoru, adik kelasnya semasa SMA yang dulu pernah dekat dengannya semasa tergabung di Klub Literatur.

Begitu menyadari bahwa ternyata Satou yang selama ini bertetangga dengannya, Yamazaki langsung bahagia. Alasannya karena semenjak datang ke Tokyo untuk kuliah, dirinya mengalami kesulitan untuk mendapatkan teman. Bahkan saat Satou tiba-tiba mendobrak masuk ke kamarnya untuk protes soal musiknya yang keras, Yamazaki sebenarnya tengah menangis sedih karena mulai berpikiran untuk pulang ke kampung halaman, yang seketika tergantikan dengan tangisan haru.

Jadilah, lewat pertemuan dengan dua orang ini, dua plot utama NHK ni Youkoso! kemudian terjalin. Satu, hubungan aneh Satou dengan Misaki yang mengklaim kalau dirinya punya kemampuan untuk menyembuhkan Satou (lewat sesi-sesi konseling yang mereka laksanakan malam-malam di taman dekat Mita House). Dua, upaya penuh ketidakpastian Satou dan Yamazaki untuk memberi makna pada hidup mereka dengan menciptakan game erotis terhebat sepanjang masa.

Tentu saja, semua itu bergantung pada perjuangan Satou untuk bisa lepas dari jerat konspirasi NHK.

“Pururu-in!”

Perlu diperhatikan kalau versi novel NHK ni Youkoso! bersifat one shot.  Jadi bukan berseri. Sedangkan versi manganya bisa dibilang semacam versi ‘ekspansi’ yang di dalamnya, Satou dan kawan-kawannya (entah gimana) seakan jadi ‘mengeksplorasi’ satu demi satu bentuk alternatif ‘melarikan diri dari kenyataan’ yang bisa mereka temukan (turut tercakup di dalamnya: soal mendalami BDSM dan hidup sebagai gelandangan). Cerita di manganya lebih panjang. Karakterisasi para tokohnya agak beda. Di samping itu, juga ada lumayan banyak tokoh baru bersifat tambahan.

Adaptasi animenya sendiri semula seperti akan lebih mengangkat cerita versi manganya ini. Ditandai dengan pertemuan kembali Satou dengan Kashiwa Hitomi, kakak kelas cantik yang dengannya Satou sempat menjalin hubungan singkat saat yang bersangkutan patah hati, dan hingga kini ternyata masih dilanda depresi (dia juga karakter menonjol); sampai pertemuan Satou dengan Kobayashi Megumi, bekas ketua kelasnya yang kini menjadi front untuk suatu bisnis MLM mencurigakan. Tapi menjelang akhir, terasa ada sedikit haluan berganti. Lalu akhir ceritanya kembali jadi lebih dekat ke versi novelnya dengan fokus kembali pada misteri latar belakang Misaki yang akhirnya berhasil Satou ketahui.

Bicara soal kualitas teknis animenya, Gonzo sedang terkenal-terkenalnya sebagai studio spesialias animasi CG pada masa itu. Karenanya, bagaimana animasi 2D dan permainan warna lebih banyak ditonjolkan di NHK ni Youkoso! menjadi kejutan yang bagiku mencolok. Gaya visualnya sedehana, tapi memaparkan banyak detil latarnya secara baik. Lalu ini dihiasi dengan penataan audio yang benar-benar bagus.

Satu hal menarik adalah bagaimana paruh awal animenya, yang masih banyak diselingi bumbu komedi, banyak menggunakan warna-warna cerah. Tapi nuansa ini perlahan berubah seiring dengan datangnya musim dingin, yang menandai semakin gelapnya perkembangan cerita. Mulai dari Yamazaki yang tak lagi bisa menolak panggilan ortunya untuk pulang kampung, serta semakin terkuaknya hal-hal yang Satou dan Misaki selama ini sembunyikan dari satu sama lain.

Cerita NHK ni Youkoso! menurutku seriusan bagus. Terlepas dari berbagai hal gila dan mencurigakan dan sesat yang tersirat di dalamnya (seperti bagaimana semua halusinasi Satou, tentang alat-alat rumah tangganya yang berulangkali bisa berbicara dan memberinya nasihat, sebenarnya lebih disebabkan oleh zat-zat halusinogenik ‘legal’ yang dikonsumsinya bersama Yamazaki), ceritanya mengandung pesan moral yang lumayan kuat.

Intinya, mungkin soal… keinginan untuk bisa menjadi lebih baik ‘kan?

Terlepas dari seberat dan sesakit apapun?

Semua karakter, baik sentral maupun sampingan, sama-sama mempunyai kelemahan dan masalah mereka masing-masing. Satou dengan semua delusi dan prasangkanya. Yamazaki dengan egonya dan bawaannya untuk memandang rendah orang. Lalu Misaki dengan masalah ketergantungannya terhadap orang lain, yang berakar dari kondisi keluarganya yang buruk di masa lalu.

Tema-tema yang diangkat juga seputar hubungan-hubungan pribadi, kecendrungan-kecendrungan sosial, sampai falsafah hidup. Lalu semua disampaikan dalam bentuk komedi yang sebenarnya agak ‘hitam’ untuk ditertawakan.

Soal aspek audionya yang beneran keren, BGM yang dibawakan Pearl Brothers lumayan berhasil mencakup beragam emosi. Mulai dari hari-hari lesu di Mita House sampai ke saat-saat penuh suspens ketika Satou harus berhadapan dengan orang asing dan kegugupannya mencengkram. Seri ini juga salah satu yang menonjolkan bakat seiyuu Makino Yui yang sedang tenar-tenarnya di masa itu, walau para seiyuu lainnya juga berperan dengan benar-benar baik. Lagu “Puzzle” yang dibawakan Round Table ft Nino menjadi pembuka yang gampang didengar dengan temanya yang tentang adanya suatu hal tersamar yang harus dipecahkan. Sedangkan lagu penutup pertama “Odoru Akachan Ningen” yang dibawakan Ohtsuki Kenji dan Kitsu Fumihiko adalah lagu yang paling kuat mencerminkan nuansa khas seri ini tentang orang-orang stres dan putus asa.

Singkatnya, bagiku ini seri yang dari awal sudah pasti bakal berkesan.

“Kalau kau tak melihatnya, kau takkan jatuh cinta. Kalau kau tak jatuh cinta, maka kau tak akan tersakiti.”

Aku pertama kali tahu tentang seri ini dari seorang kenalanku yang membicarakannya lewat Internet. Waktu itu, dia kayak cuma nyerocos tentang berita akan diangkatnya seri ini menjadi anime. Hanya saja, tak ada orang lain di komunitas kami yang waktu itu sudah tahu tentangnya.

Makanya, baru agak belakangan aku tahu tentang kebagusan seri ini.

Karena judulnya aneh, tentu saja aku penasaran. Lalu sesudah menggali info, baru aku tahu kalau referensi stasiun televisi NHK di judulnya memang cuma dijelaskan dalam versi novelnya. (Intinya, Satou heran kenapa stasiun televisi yang sangat terhormat ini menayangkan anime-anime yang visualnya kayaknya diperuntukkan bagi anak-anak di jam-jam dini hari saat anak-anak harusnya belum bangun. Satou kemudian menduga bahwa anime tersebut sebenarnya sejak awal memang diperuntukkan bagi para hikikomori. Lalu dari sana, Satou berkesimpulan secara konyol bahwa stasiun televisi itu memang punya peran terselubung untuk menambah jumlah hikikomori di Jepang.)

Yah, soal perbedaan antara versi-versi ceritanya: Satou terpengaruh oleh Yamazaki hingga menjadi seorang otaku kelas berat pada semua versi cerita. Misaki-chan memiliki sisi yang agak manipulatif dalam versi manganya. Versi manganya sendiri memang terasa agak keterlaluan dengan ceritanya yang ke mana-mana (membuat para karakternya berkesan semakin menyedihkan). Lalu… hmm, Hitomi-sempai hanya muncul sekilas di versi novelnya lewat perjumpaan kebetulannya dengan Satou (memberitakan bahwa dirinya baru bertunangan dan sebentar lagi akan menikah), lalu Megumi bahkan tak muncul dalam versi novel sama sekali. Kemudian apa yang kelihatannya adalah referensi ke anime komedi Di Gi Charat kemudian diganti jadi suatu ‘anime dalam anime’ orisinil khusus untuk seri ini yaitu Puru Puru Pururin (lagu temanya sempat menjadi ringtone yang benar-benar terkenal, pengisi suaranya adalah Shishidou Rumi, dan inspirasi soal bagaimana perabotan rumah tangga menjadi hidup kelihatannya datang dari anime ini).

Oh. Berhubung tema ceritanya memang agak ke ranah sana, seri ini memang lebih bisa dimengerti oleh kalangan penggemar berusia lebih dewasa. Jadi, kayak biasa, jangan memaksakan diri.

Sekali lagi, versi novelnya lebih suram dan edgy. Lebih terasa kegilaan dan stres para karakternya pada versi ini. Pemikiran-pemikiran para karakternya juga paling terasa masuk. Sedangkan manganya lebih terasa seperti komedi yang ke mana-mana.

Jadi iya, versi animenya, yang seakan menyeimbangkan semuanya, menurutku yang paling berkesan. Eksekusinya seriusan bagus. Kayak, kita enggak pernah benar-benar tahu selanjutnya kita bakal dibawa ke mana. Tapi kita enggak bisa lepas karena penasaran ingin tahu apa selanjutnya yang bisa terjadi. Lalu semuanya juga kayak berhasil diakhiri di saat yang tepat.

“Tanpa jaminan pangan, sandang, dan papan, kecuali kau sudah siap mati, maka kau tak punya pilihan selain bekerja.”

Yah, akhir kata, sebagai orang yang sedikit banyak pernah depresi, aku mendapat sejumlah pelajaran dari seri ini.

Melihat Satou, yang sebenarnya bukan orang bego dan sebenarnya punya bakat, menjadi menderita berkepanjangan seperti ini benar-benar kayak menggugah beberapa hal. Lalu kayak yang kemudian aku pelajari belakangan dari main Persona 3, benar bahwa makna kita hidup sebenarnya adalah untuk memberi manfaat bagi orang lain.

Saat menghadapi kematian, kita semua pada akhirnya pasti akan kembali sendirian. Di tengah kesendirian, mungkin kita bakal merasa utuh dan alami. Tapi tanpa orang lain, hidup kita takkan memiliki arti. Jadi wajar saja bila sesudah semua yang terjadi, Misaki tetap memutuskan untuk bergantung pada Satou, dan demikian pula sebaliknya.

Lagipula, hanya karena kita berpisah, itu tak berarti kita takkan bertemu lagi.

Jadi, uh, lawanlah konspirasi itu.

Kau pasti bakal bisa melakukannya kalau demi orang lain! (Mungkin.)

(Ngomong-ngomong, ini seri pertama yang juga membuatku menyadari kalau Gonzo sebenarnya lebih bagus mengadaptasi karya yang sudah ada ketimbang membuat keluaran mereka sendiri.)

Penilaian

Konsep: A; Visual: A: Audio: S; Perkembangan: A-; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A

09/05/2016

Yamikin Ushijima-kun

Ada beberapa kenalanku yang mengira kalau aku suka mengikuti perkembangan dorama Jepang. Padahal seperti yang para pembaca blog ini mungkin tahu, yang benar-benar aku ikuti perkembangannya itu anime, bukan dorama. Tapi aku enggak terang-terangan membantah ini karena kadang lebih mudah mengobrolnya bila mereka berasumsi demikian.

Terlepas dari itu, bahasan kali ini adalah seri manga Yamikin Ushijima-kun, atau yang juga dikenal dengan judul Ushijima the Loan Shark (‘Ushijima, si lintah darat/rentenir’). Ini seri manga seinen yang dibuat oleh Manabe Shohei dari tahun 2004 dan masih diserialisasikan hingga sekarang. Serialisasinya dilakukan melalui majalah Big Comic Spirits di bawah penerbit Shogakukan. Manga ini setahuku pernah mendapat beberapa nominasi penghargaan. Selain itu, seri ini juga pernah diangkat ke bentuk seri drama TV pada tahun 2010 dan film live action layar lebar pada tahun 2012 yang dibintangi Yamada Takayuki.

Seperti yang judulnya indikasikan, seri ini tentang rentenir dunia hitam yang meminjamkan uang ke orang-orang dengan mematok bunga gila-gilaan. Meski informatif, bahasan ceritanya memang gelap dan lumayan bikin enggak nyaman.

Aku tertarik dengan manga ini karena awalnya aku tak habis pikir soal apa yang bisa diceritakan tentang orang-orang dari dunia gelap ini.

Slave-kun

Yamikin Ushijima-kun adalah seputar seorang rentenir bernama Ushijima dan anak-anak buahnya yang tergabung dalam perusahaan mereka, Kaukau Finance (mungkin terjemahan yang aku baca kurang tepat). Ceritanya mengambil pendekatan yang episodik, dengan menyorot satu demi satu kasus klien yang mereka hadapi.

Ushijima adalah seorang pria muda berbadan sangat besar dengan sejumlah piercing yang punya sorotan mata benar-benar tajam dari balik kacamatanya. Dia adalah ‘bos’ di perusahaan keuangan mereka yang relatif kecil, yang memiliki anak-anak buah yang sangat setia, dan secara pribadi mewawancarai langsung satu demi satu calon debitur yang datang ke perusahaan mereka.

Bab pertama manga ini dibuka dengan bergabungnya seorang pemuda bernama Takada sebagai pegawai baru di Kaukau Finance. Lalu melalui sudut pandangnya, kita dipaparkan tentang berbagai intrik dan metode terkait cara perusahaan-perusahaan keuangan gelap ini bekerja. Itu lengkap dengan konsekuensi bila para peminjam sampai gagal membayar, hubungan perusahaan mereka dengan pihak-pihak lain seperti polisi dan yakuza atau bahkan sesama rentenir, serta drama orang-orang ‘biasa’ yang jalan hidupnya sampai bersinggungan dengan perusahaan ini.

Bunga 50% Setiap 10 Hari

Apa yang menarik dari Ushijima-kun adalah penggambaran ‘sisi lain’ dunianya.

Sekedar mengklarifikasi; Ushijima, anak-anak buahnya, lalu orang-orang dari perusahaan-perusahaan lain seperti mereka, adalah orang-orang jahat.  Mereka nyata-nyata tak berperikemanusiaan. Mereka jelas-jelas mau saja menjebak orang-orang agar sengsara.

Seri ini tak berusaha membuat mereka ditampilkan secara ‘baik’ atau gimana. Seri ini secara pragmatis—tapi informatif—hanya sekedar menjabarkan mereka orang-orang seperti apa, dan di dunia macam apa masing-masing dari mereka ‘bekerja.’ Sekali lagi, awalnya aku heran soal apa yang bisa diceritakan dari orang-orang kayak gini. Lalu bagusnya Ushijima-kun ada pada bagaimana segala sesuatunya dipaparkan dengan cara yang membuat kita kira-kira mengerti kompleksitas semuanya gitu.

Awal segala sesuatunya sederhana: ada orang-orang yang butuh uang.

Tapi saat mulai masuk ke soal kenapa mereka butuh uang, atau untuk apa uang itu kemudian digunakan, atau kenapa mereka yang semula merasa punya uang tahu-tahu saja jadi tak punya uang, bahasannya jadi menarik. Kasusnya ada bermacam-macam. Lalu daripada pembelajaran soal keuangan dan ekonomi, manga ini sebenarnya lebih mengangkat tema-tema psikologis dan sosial gitu.

Anehnya, tak seperti kasus-kasus di Kurosagi misalnya, dan meski yang mereka lakukan memang ilegal, Ushijima dan perusahaannya tak benar-benar bisa dibilang ‘menipu’ para kliennya. Sejak awal mereka sudah terang-terangan soal segala ketentuan peminjaman mereka. Masalahnya, kebanyakan orang yang datang ke mereka itu kayak enggak memperhatikan atau bahkan enggak peduli dengan semua persyaratan ini. Yang mereka pikirkan hanya soal bagaimana mereka bisa mendapatkan uang. Karenanya, mereka juga jadi gagal melihat konsekuensi yang harus ditanggung bila mereka sampai gagal membayar.

Kalau ada yang tak disebutkan dari pihak Ushijima, mungkin itu pada sejauh apa mereka akan berbuat demi mendapatkan uang mereka kembali, plus bunga. Apalagi saat berhadapan dengan orang-orang yang ternyata nekad macam-macam dengan mereka…

“Kamu enggak bisa memandang pelanggan kita sebagai manusia!”

Gaya gambar Manabe-sensei terbilang sederhana, tapi lumayan sarat detil. Kayak, beliau bercerita dengan menampilkan ‘potret’ suatu adegan dari berbagai sudut sehari-hari gitu, tanpa membuatnya terlalu kayak di film. Dengan kata lain, Ushijima-kun termasuk jenis manga yang mencolok semata karena apa yang diceritakan di dalamnya ketimbang karena daya tarik gambarnya.

Saat sedang tidak menampilkan suatu potret drama kehidupan, ceritanya bisa tiba-tiba menjadi thriller dengan perkembangan situasi yang penuh intrik. Karena banyaknya karakter yang terlibat, mengingat siapa saja tokoh yang pernah hadir memang kadang sulit. Ada adegan-adegan kekerasan yang ditampilkan di dalamnya. Tapi dipaparkannya itu lebih kayak dengan maksud untuk menunjukkan kalau adegan-adegan itu akhirnya terjadi, ketimbang secara terang-terangan menyoroti segala ketegangan tentangnya. Jadi pemaparannya dengan cara yang lebih dengan tujuan informatif gitu, dan dengan nuansa benar-benar riil.

Ini sengaja kusebut karena apa yang bisa dilakukan orang-orang di manga ini benar-benar sadis dan tega. Ini mencakup menjerumuskan perempuan ke pelacuran atau membawa orang ke tengah hutan, mengikat mereka ke pohon, lalu meninggalkan mereka di sana.

Lalu soal para karakternya, semuanya terasa benar-benar nyata. Seolah memang sejumlah inspirasinya diangkat dari kasus-kasus yang benar-benar pernah terjadi. Kecanduan pachinko, kecanduan narkoba, atau sekedar enggan melepaskan gaya hidup. Itu kayak hal-hal yang memang bisa terjadi, walau alasan kenapa bisa sampai demikian mungkin kerap sulit dijelaskan akal sehat.

Ushijima-kun memaparkan berbagai intrik dunia hitam menyangkut urusan pinjam-meminjam uang di Jepang. Seri ini sekaligus memberi gambaran tentang modus operandi perusahaan-perusahaan sejenis itu di sana. Hasil akhirnya benar-benar menarik.

Kalau aku seorang dosen, aku akan menyarankan mahasiswa-mahasiswaku untuk membacanya agar mereka seenggaknya tahu apa yang mungkin mereka hadapi di dunia nyata.

Ceritanya tak melulu suram. Pada beberapa bagian, ada juga beberapa bumbu komedi. Seperti di adegan ketika Takada mengetahui usia Ushijima ternyata lebih muda darinya. Atau pada bagaimana subjek yang disorot pada setiap bab manga ini selalu disebut dalam judul dengan akhiran –kun. Tapi kehadiran sisi jenaka ini mungkin tak disadari orang karena saking suramnya nuansa manga ini.

Terus lambat laun, aku sendiri mulai paham kenapa Ushijima bisa sampai lebih mementingkan kelinci-kelinci lucu piaraannya (yang keberadaannya tak diketahui kebanyakan orang) ketimbang manusia-manusia lain pada umumnya. Terutama, bila kebanyakan orang yang berhadapan dengannya adalah orang-orang bebal macam begini. Aku mulai paham kenapa dia bisa sampai berpikir kalau orang-orang seperti mereka memang layak diperbudak.

Kalau aku boleh bicara dari pengalamanku di dunia kerja, orang-orang kayak klien-klien Ushijima itu ada. Lalu di masa mendatang, mungkin jumlah mereka akan terus bertambah.

Menakutkan.

Manga ini memperingatkan kita akan kenyataan menakutkan di zaman ini dan kita enggak bisa berbuat banyak untuk memperbaiki. Masa depan dunia ini suram. Zetsuboshitaaa.

Coba bayangkan kalian yang bisa berpikir jernih sekarang, suatu saat di masa depan, entah bagaimana, misalnya tahu-tahu jadi kacau persepsinya entah karena nafsu atau dendam. Kamu enggak lagi bisa berpikir ‘bener.’ Orang-orang di depanmu enggak cukup peduli untuk membenarkan kesalahpahaman kamu. Terus tahu-tahu kamu terjatuh dalam nasib kayak gini karena urusan uang.

Aku jadi merasa konsep ‘bunga pinjaman’ itu dibikin ada cuma agar bisa dipakai untuk menindas orang lain.

Yah, sisi baiknya, manga ini juga mengajarkan beberapa hal yang bisa dimanfaatkan untuk bertahan hidup. Mata yang jeli, pengetahuan yang bermanfaat, koneksi yang bisa kalian jaga; yah intinya, aku pun tak bisa menyangkal karisma yang Ushijima ditampilkan punyai.

Sial. Seenggaknya aku ingin bisa menambah massa otot.

Tag:
22/01/2016

Ouroboros

Sepupuku bertanya soal tamatnya Ouroboros. Dia bilang adaptasi doramanya berakhir dengan bad ending. Makanya, dia penasaran tamat di manga aslinya itu kayak gimana.

Aku perlu mengingat-ingat dulu Ouroboros tentang apa. Lalu baru aku jawab kalau aku enggak tahu.

Aku memang enggak mengikuti seri ini (dan sempat kusangka ini tentang adu kekuatan super remaja). Tapi saat sadar kalau Ouroboros pasti cukup menarik perhatian untuk dibikin jadi dorama, akhirnya aku penasaran dan mencoba mencari tahu ini tentang apa.

Sedikit bicara soal sepupuku, he’s a good guy. Tapi mesti kuakui, ada sesuatu tentangnya yang kurasa ‘enggak sama’ dengan kebanyakan orang. Antusiasmenya kerap sulit ditebak. Lalu sesudah dia bicara soal ini, baru aku tersadar kalau seri ini pasti punya sesuatu yang unik kalau sampai termasuk lingkup minatnya.

Singkat cerita, Ouroboros adalah seri manga seinen bertema kepolisian yang dibuat oleh Kanzaki Yuuya, dan pertama terbit pada tahun 2009 oleh penerbit Shinchosha.

Terjemahan bahasa Indonesianya sudah dikeluarkan Level Comics. Hasilnya lumayan. Seri ini kalau kalau tak salah terbit per babnya bulanan, jadi walau versi Jepangnya sudah lumayan jauh (kalau enggak salah, sudah ada 21 tankoubon saat ini kutulis) sebenarnya kita enggak terlalu ketinggalan dalam serialisasinya.

Segera kuinfokan ke sepupuku kalau manganya di Jepang memang masih lanjut dan belum tamat. Lalu begitu dengar soal ini, untuk suatu alasan dia kelihatan lega.

Buatku pribadi, kurasa memang mesti kuakui kalau Ouroboros lebih menarik dari yang aku kira.

Naga Kembar

Ouroboros berkisah tentang dua sahabat masa kecil, Ikuo Ryuuzaki dan Danno Tatsuya. Keduanya sempat terpisah di masa remaja. Tapi sesudah dewasa, mereka kini menjalani suatu persahabatan rahasia.

Ikuo adalah detektif berpangkat sersan di Divisi Dua Departmen Kepolisian Shinjuku. Di balik sikap luarnya yang telmi dan kekanakan—dan ini juga sulit dipercaya oleh rekan-rekannya—Ikuo adalah detektif dengan catatan penangkapan terbanyak di divisi tersebut.

Sedangkan Tatsuya adalah pria muda necis dan cool yang menjabat sebagai wakil ketua Grup Matsuo, brigade tingkat tiga yang bermarkas di Shinjuku dari klan Abiko. Tatsuya adalah pemimpin muda yang naik jabatan dan meraih pengaruh dengan sangat cepat di klan yakuza tersebut. Dirinya karismatik, cerdas, dan (berbeda dengan Ikuo) sangat dihormati para bawahannya.

Rahasia di balik prestasi Ikuo sebenarnya adalah berkat dukungan diam-diam dari Tatsuya. Secara rahasia, keduanya selama ini memang saling membantu satu sama lain. Keduanya berusaha meraih kedudukan di lingkungan mafia dan kepolisian dengan maksud agar bisa menemukan jejak orang-orang yang telah membunuh pengasuh/guru mereka sewaktu mereka anak-anak, Kashiwaba Yuiko-sensei, dan kemudian membalas dendam.

Ouroboros pada dasarnya bercerita tentang sepak terjang Ikuo dan Tatsuya dalam menghadapi kasus demi kasus. Sedikit demi sedikit, mereka semakin dekat pada kebenaran tentang pria berjam tangan emas yang mereka temui pada malam Yuiko-sensei dibunuh lima belas tahun silam. Pembunuhan itu terjadi di hadapan mata kepala mereka sendiri. Namun meski ada kesaksian mereka, kebenaran kasus itu tak pernah terungkap, dan mereka curiga ada suatu pihak tertentu yang menutup-nutupi penyelidikannya.

Dipenuhi dendam, dan frustrasi oleh korupsi yang melanda masyarakat, keduanya sepakat untuk mendatangkan keadilan lewat nama Ouroboros, sebutan untuk naga kembar yang terjarah di punggung mereka berdua.

Dua Sisi

Meski menghadirkan dua karakter di dua sisi yang berseberangan, cerita Ouroboros sebenarnya lebih banyak memaparkan sisi Ikuo di kepolisian. Terutama dengan bagaimana Ikuo dan Tatsuya sama-sama meyakini bahwa pria berjam tangan emas yang mereka buru adalah seorang petinggi di badan itu.

Di dunia Ouroboros, kepolisian Jepang ditampilkan sedang mengalami masa decline-nya, dengan hanya sekitar 30% dari seluruh kasus kejahatan yang diketahui (bukan yang terjadi) yang berhasil dituntaskan penangkapannya. Selain berhadapan dengan beragam kasus setiap hari, Ikuo dan kawan-kawannya di Divisi Dua harus berurusan juga dengan bermacam tetek-bengek birokrasi, persaingan antar pejabat, serta intrik-intrik perpolitikan di dalam organisasi mereka.

Format ceritanya seringkali formulaik; Ikuo menemui kesulitan membereskan suatu kasus karena suatu sebab di luar kuasanya, akhirnya menemukan penyelesaian berkat uluran tangan vital dari Tatsuya.

Lalu khusus untuk pelaku-pelaku kejahatan tertentu, pasangan Ouroboros akan melakukan pengadilan mereka sendiri. Ikuo yang biasanya cengar-cengir tiba-tiba akan menunjukkan sisi gelapnya sesudah diserahi Tatsuya untuk mengeksekusi mati si pelaku secara pribadi…

Beberapa karakter lain yang penting meliputi: Hibino Mizuki, perempuan muda serius berpangkat letnan yang menjadi partner Ikuo di Divisi Dua (yang sering dikira oleh sekelilingnya bisa maju berkat pengaruh ayahnya, seorang petinggi di kepolisian); Mishima Kaoru, kapten sekaligus kepala seksi Divisi Dua yang easy going; serta Chono Shinichi, letnan dari Divisi Satu Kepolisian Shinjuku (yang selalu dipandang lebih baik dari Divisi Dua) yang menjadi orang pertama yang menaruh kecurigaan atas hubungan rahasia Ikuo dan Tatsuya.

Dalam perkembangan cerita, Ikuo dan Tatsuya mengetahui kalau ada suatu perusahaan bernama Haijima yang nampaknya berhubungan dengan empat pelaku pembunuhan Yuiko-sensei. Namun Haijima di sisi lain ternyata adalah perusahaan fiktif yang tak jelas asal-usulnya… sampai Tatsuya menemukan petunjuk lain yang mengaitkannya dengan perusahaan kosmetik dan kesehatan Arcana Health and Beauty. Dalam penyelidikan, Arcana rupanya didirikan di tanah bekas Mahoroba, bekas tempat tinggal Ikuo dan Tatsuya sekaligus rumah panti yang dulu dikelola mendiang Yuiko-sensei. Lalu dari sana, plot utama Ouroboros secara berangsur mulai terjalin…

Semakin keduanya menyadari betapa besar pengaruh yang dimiliki orang-orang yang mereka kejar (terlebih dengan bagaimana jam tangan emas ternyata ‘dihadiahkan’ pada orang-orang tertentu sebagai simbol kekuasaan dan kemakmuran), tanpa bisa langsung memberitahukannya ke Ikuo, Tatsuya lambat laun menyadari bahwa siapa sebenarnya Yuiko-sensei yang sangat mereka sayang juga tak mereka ketahui…

Dunia Topeng

Waktu aku membuka buku pertama Ouroboros, yang pertama menarik perhatianku adalah halaman sampul dalamnya. Ilustrasi yang terpampang di sana seolah menggambarkan dunia di mana hanya sedikit sekali orang yang dapat dipercaya. Lalu aku teringat sepupuku juga sempat berkomentar kalau cerita doramanya benar-benar gelap.

Aku sedikit heran dengan komentarnya ini.

Soalnya, untuk versi manga, masih ada elemen-elemen komedi di dalam ceritanya. Biasanya datang dari bagaimana Ikuo yang terkesan tak dapat diandalkan kerap jadi agak di-bully. Jadi buatku sendiri, ceritanya tak benar-benar segelap itu. (Walau mungkin juga aku merasa begini karena pernah mengikuti MPD Psycho dan Jiraishin sih. Man, mungkin ini terdengar berlebihan, tapi Jiraishin dulu sempat memberiku trauma mental.)

Tapi terlepas dari itu, kebanyakan kasus yang ditampilkan memang benar-benar suram. Kasus-kasus seperti pembunuhan-pembunuhan dengan darah dingin, obat-obatan terlarang, serta pornografi. Bagaimana ada pengkhianatan oleh orang-orang yang kita percaya. Jadi, mungkin juga pemaparan sisi dunia tersebut yang sepupuku maksud.

Daya tarik utama yang ditonjolkan manga ini memang ada di dua tokoh utamanya.

Tanpa bantuan Tatsuya, Ikuo sebenarnya detektif yang jago dengan intuisi (dan penciuman?) yang benar-benar tajam. Dirinya menyembunyikan fisik yang benar-benar prima. Lalu yang ganjil adalah bagaimana hal-hal tertentu bisa memancing kemarahannya secara khusus. Saat marah, Ikuo seakan benar-benar jadi haus darah. Dalam ‘mode murka’-nya, ia kerap jadi melakukan aksi-aksi keren yang normalnya manusia biasa tak bisa lakukan. Ada sesuatu yang benar-benar buas tentangnya, tapi dengan cara dingin gitu. Lalu pas aku pertama melihatnya, aku enggak bisa enggak terkesan. Terutama dengan bagaimana dipaparkan kalau sisi gelapnya ini kerap menggerogotinya juga, dengan bagaimana dia sendiri ragu apakah yang dia lakukan ini sebenarnya sesuatu yang perlu atau tidak.

Tatsuya di sisi lain lebih menonjol di sisi pencarian informasi dan penyelidikan. Dirinya benar-benar suave, punya pesona yang kuat terhadap lawan jenis, dan kelihatannya punya kesukaan pribadi terhadap penyamaran. Tapi terkadang, saat emosinya menguasai, Tatsuya pun mengambil keputusan-keputusan nekat. Lalu pada beberapa kejadian, dia juga enggan melibatkan Ikuo kalau tak benar-benar perlu.

Soal adegan-adegan aksinya, ciri khas Ouroboros terdapat pada bagaimana Ikuo sering menyudutkan si pelaku, keadaan menjadi genting, lalu Tatsuya tiba-tiba muncul entah dari mana, ada pistol melayang, lalu dor. Lalu ini semua selalu mereka lakukan secara pribadi, tanpa pernah ada perantara, tanpa pernah ada back up selain keberadaan satu sama lain.

Meski singkat, adegan-adegan aksinya benar-benar intens. Ini jenis aksi yang bisa bikin kamu membolak-balik halamannya beberapa kali buat memastikan kembali apa yang baru saja terjadi.

Selebihnya, ciri khas lain yang Ouroboros punyai ada pada bagaimana misteri kasus-kasus besarnya yang hampir selalu lebih besar dari yang tampak di awal (meski, kayak yang kubilang, jadinya bisa agak formulaik sih, tapi itu bisa jadi hal baik sekaligus buruk, tergantung kau sukanya bagaimana), serta bagaimana akhir suatu kasus seringkali berdampak pada penyelesaian kasus berikutnya yang Ikuo dkk hadapi.

Gampangnya, Ouroboros memang seri yang oke kok. Apa yang mungkin normalnya kamu bayangin kalau denger tentang ‘drama polisi’ bisa kurang lebih kamu temukan di seri ini. Lumayan aneh juga karena seri macam Ouroboros tak lebih banyak.

Ada bagian-bagian ceritanya yang kadang bikin aneh sih (seperti pencucian uang di Republik Dominika; lalu kalau tak salah juga sempat ada kasus pengedar obat terlarang yang datangnya dari, uh, Iran…). Lalu cara penceritaannya juga, sekali lagi, kadang bisa jadi aneh (“Hah? Ada kejadian kayak gini lagi?” atau “Ini seriusan jadinya kayak gini?”). Dan meski berusaha menampilkan secara ekstensif dunia kepolisian di sana, aku juga punya perasaan aneh kalau seri ini bakal dipandang gimanaa gitu oleh para polisi beneran di Jepang.

Tapi kalau sekedar seru atau enggaknya, Ouroboros termasuk bacaan seru.

Yea, seri ini termasuk yang kurekomendasikan.

Beban Masa Lalu

Aku sebenarnya sedikit terusik soal alasan Ikuo dan Tatsuya sebegitu dendamnya oleh kematian Yuiko-sensei. Tapi soal itu kurasa tak perlu kupermasalahkan.

Setelah kupikir, aku enggak tahu versi doramanya seperti apa karena aku belum lihat. Tapi kayaknya ada sesuatu tentangnya yang sedikit banyak berpengaruh terhadap sepupuku sedemikian rupa. Mungkin itu tanda kalau adaptasi doramanya memang berkualitas.

Yah, bicara soal artwork, Kanzaki-sensei memiliki gaya gambar yang menurutku efektif. Tak terlalu bisa dibilang atraktif, tapi secara pas mendukung penceritaannya. Sebagai manga tentang kepolisian, Ouroboros termasuk cerita yang dialognya agak banyak, tapi dengan penceritaan yang enggak terlalu berbelit.

Satu hal yang pasti adalah bagaimana Kanzaki-sensei sepertinya betul-betul paham cara mengkoreografikan adegan-adegan aksinya. Serius, karenanya, membaca Ouroboros jadi seperti serasa nonton seri TV yang memuat penyelesaian dendam-dendam pribadi macam ini.

Ouroboros termasuk manga yang membagi ceritanya per season. Walau untuk konteks ini, kayaknya penomoran manganya enggak akan berubah. (Mirip dengan Bloody Monday, tapi sedikit berbeda.)

Season keduanya misalnya, dimulai tak lama sesudah Ikuo dan Hibino dipindahkan dari Shinjuku ke Markas Besar Kepolisian. Perkembangannya turut diiringi dengan kehadiran karakter-karakter baru, seperti Hibino Kunihiko, ayah Hibino yang karismatik namun mengundang sejumlah tanda tanya, serta sejumlah karakter lain yang ditampilkan turut mengenakan jam tangan emas. Pemilik jam tangan emas yang mana sebenarnya, yang menjadi orang di balik pembunuhan Yuiko-sensei, masih menjadi tanda tanya. Lalu semakin tinggi Ikuo dan Hibino beranjak, kelihatannya akan semakin sedikit juga orang yang bisa mereka percaya.

Akhir kata, berhubung aku juga sudah lumayan menyukainya, aku berharap bad ending di versi doramanya enggak sampai terjadi. Yeah, kadang kuharap ceritanya lebih cerdas. Tapi seri ini seru, dan mungkin itu udah cukup.

Tag: ,
16/01/2016

Madan no Ou to Vanadis

Waktu aku kecil, aku suka cerita Robin Hood. Selain karena kepahlawanannya, aku suka karena kagum dengan kehebatannya memanah.

Waktu itu, Mahabarata masih terlalu ribet buatku. Aku belum cukup umur buat nonton First Blood. Seri TV Arrow jelas belum ada. Avengers juga sama sekali belum menonjolkan Hawkeye. Makanya, referensi yang kutahu soal orang yang jago panah itu cuma Robin Hood.

(Belakangan aku tahu kalau pemanah hebat di masa abad pertengahan, yang mengawali legenda ‘memanah apel di atas kepala orang,’ sebenarnya adalah William Tell.)

(…Melihat ke belakang, dunia perkomikan Amerika di dekade 90an itu aneh, man.)

(Sebenernya, lagu Bryan Adams yang jadi soundtrack film Robin Hood: Prince of Thieves-nya Kevin Costner juga membantu.)

Makanya, mungkin karena itu aku merasakan nostalgia aneh saat pertama sadar Madan no Ou to Vanadis itu tentang apa.

Madan no Ou to Vanadis (judulnya kira-kira berarti ‘raja tembakan/peluru sihir dan Vanadis’, dengan ‘Vanadis’ atau senki di sini adalah istilah yang berarti war maiden, atau ‘gadis perang/srikandi’), atau yang juga dikenal dengan judul Lord Marksman and Vanadis (‘bangsawan ahli tembak/panah dan Vanadis’), keluar sebagai anime pada tahun 2014 dengan produksi animasi yang dilakukan Satelight. Ceritanya diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Kawaguchi Tsukasa dengan jumlah episode sebanyak 13. (Salah satu novel one shot karya Kawaguchi-sensei, Leena’s World Map, telah diterbitkan di sini oleh Shining Rose Media lhoo.) Arahannya dilakukan oleh Sato Tatsuo (sutradara veteran Moeretsu Pirates, Stellvia, Rinne no Lagrange, serta Kidou Senkan Nadesico) yang selain sebagai sutradara, juga menangani sendiri naskahnya.

Novel aslinya diterbitkan oleh Media Factory di bawah label MF Bunko J. Ilustrasi dan desain karakternya yang menawan aslinya dibuat oleh Yoshi☆o (sebelum kemudian diteruskan oleh Katagiri Hinata mulai buku kesembilan). Saat ini kutulis, novelnya telah terbit sebanyak 13 buku.

Aku sendiri pertama tahu tentang seri ini dari adaptasi manganya yang dibuat Yanai Nobuhiko. Aku terkesan oleh artwork dan gaya desain karakternya. (Oke, alasan sebenarnya, berhubung aku punya a thing for maids, adalah karena karakter Titta.) Tapi yang kemudian membuatku jadi benar-benar menyukainya adalah besarnya kadar world building di dalamnya dibandingkan seri-seri lain yang sejenis.

Sebenarnya, aku juga ingin mengulas tentang ini lebih awal. Cuma aku sibuk oleh urusan kantor. Lalu pas Natal kemarin, kesehatanku juga sempat drop, dan makanya sejumlah postingan yang mau kusiapkan jadi terbengkalai.

Jadi, uh, sori soal itu.

Menengadah Melihat Bintang-bintang di Langit

Madan no Ou to Vanadis berlatar di suatu versi alternatif dari benua Eropa.

Ceritanya dibuka dengan kekacauan yang menimpa Kerajaan Brune, semenjak penguasanya, Raja Faron, dilanda suatu penyakit misterius. Sakitnya sang raja memicu perebutan kekuasaan antara dua bangsawan (bergelar ‘duke’) yang paling berpengaruh: Felix Aaron Thenardier dan Maximilian Bennusa Ganelon, yang sama-sama memperebutkan posisi sebagai penguasa de facto Brune. Lalu ini memuncak lewat timbulnya konflik dengan negara tetangga Brune, Kerajaan Zchted (sebenarnya, aku masih belum yakin apa mereka statusnya kerajaan atau kekaisaran), yang telah mengirim pasukan mereka untuk bertemu pasukan Brune di Padang Rumput Dinant.

Tokoh utama seri ini sendiri adalah Tigrevurmud Vorn, seorang bangsawan berkedudukan relatif rendah (bergelar ‘count’) yang berkuasa di suatu wilayah Brune yang bernama Alsace. Posisi Alsace bersebelahan dengan Leitmeritz, wilayah Zchted dari mana pasukan musuh datang. Sehingga dengan ditemani penasihatnya yang sudah berusia lanjut, Bertrand, Tigre mau tak mau harus memimpin rakyatnya maju ke medan pertempuran.

Namun setiba di Dinant, sekalipun menang dari segi jumlah, lini belakang Brune diserang mendadak oleh pasukan Zchted pimpinan Eleonora Viltaria, satu dari tujuh Vanadis (Senki)—tujuh perempuan jelita yang telah terpilih oleh tujuh pusaka Viralt (ryuuguu/dragon tool) berkekuatan naga, untuk menjadi panglima perang Zchted—yang sekaligus adalah penguasa wilayah Leitmeritz. Pasukan Brune dengan segera kocar-kacir. Lalu kabar mulai tersiar bahwa pangeran putra mahkota Brune yang turut serta di sana ikut tewas.

Namun, tak banyak diketahui di luar Alsace, Tigre adalah orang yang sangat jago memanah.

Brune adalah negara yang sangat menaruh kehormatan dalam keksatriaannya, dan para bangsawannya bahkan memandang remeh para pemanah karena disamakan dengan kaum pemburu dari rakyat jelata. Karenanya, menjadi kejutan sangat besar saat Tigre, yang menjadi satu-satunya orang yang masih bertahan hidup di kelompoknya, nyaris berhasil membunuh Elen dengan sisa anak-anak panahnya.

Terkesan dengan kehebatan Tigre, Elen memutuskan untuk tidak membunuh Tigre yang telah kehabisan anak panah, dan justru membawanya kembali sebagai tawanan ke Leitmeritz. Sekalipun keputusannya tersebut tidak langsung disetujui oleh Limalisha, ajudan Elen, serta anak-anak buahnya yang lain.

Garis besar Madan no Ou to Vanadis mengisahkan tentang tumbuh kembangnya hubungan antara Tigre dan Elen, yang dari penguasa dan tawanan, mulai berkembang menjadi rekan seperjuangan di medan perang, dan akhirnya (agak belakangan) sepasang kekasih.

Elen di awal cerita berupaya untuk mendorong Tigre untuk berganti pihak. Elen, yang berjiwa bebas dan kadang bisa berangasan, ingin menjadikan Tigre sebagai ‘miliknya’ dalam artian sebagai salah satu jendralnya di Leitmeritz. Terutama sesudah Tigre membuktikan sendiri kemampuan memanahnya yang benar-benar fenomenal. Ditambah kesungguhan yang dimilikinya yang kemudian juga meraih simpati dan kekaguman anak-anak buah Elen sendiri.

Namun berbeda dari kebanyakan bangsawan Brune, Tigre adalah sosok yang memang peduli terhadap rakyatnya. Sehingga meski tawaran Elen benar-benar menarik, Tigre mendapati diri tak bisa menerimanya. Terutama sesudah Bertrand, yang dengan susah payah akhirnya berhasil melacak jejaknya, datang dengan membawa kabar bahwa hilangnya Tigre dipandang ibukota sebagai kekosongan kekuasaan di Alsace. Thenardier kemudian mengutus putranya yang keji, Zion, untuk membawa pasukan demi mengambil alih kepemilikan atas Alsace.

Sadar dengan kehancuran yang dapat terjadi, Tigre membuat kesepakatan dengan Elen demi menyelamatkan Alsace; tanpa sepenuhnya menyadari besarnya dampak dari persekutuan mereka di masa yang akan datang…

Menunduk Melihat Jasad-jasad Mimpi

Adaptasi anime Madan no Ou to Vanadis merangkum cerita buku 1-5 seri novelnya, yang memaparkan berlangsungnya perang sipil Brune.

Dalam perkembangan cerita, timbul komplikasi yang persekutuan Elen dan Tigre akibatkan terkait persekutuan bertahun-tahun keluarga Thenardier dengan seorang Vanadis lain, yakni Ludmila Lourie, penguasa wilayah bersalju Olmütz. Hal tersebut mendatangkan konflik antara Elen dan Mila, yang notabene berasal dari negara yang sama.

Kondisi semakin genting saat Tigre dicap pengkhianat karena aliansinya dengan Zchted, yang terjadi saat sang raja kehilangan akal sehatnya sepeninggal keturunannya. Ini berujung pada bagaimana persekutuan Alsace-Leitmeritz harus berhadapan dengan Orde Ksatria Navarre pimpinan Roland, pemilik pedang pusaka Durandal (yang memiliki kekuatan setara Viralt) yang dikenal sebagai ksatria terhebat Brune.

Baru akhirnya, seiring bertambahnya pengaruh dan popularitas Tigre di kalangan rakyat Brune yang tertindas, semua memuncak dengan konfrontasi terakhir melawan kubu Thenardier dan kubu Ganelon, yang sekaligus membawa kita kembali pada apa sesungguhnya yang terjadi dalam pertempuran di Dinant…

Sepanjang cerita, kita juga diperkenalkan pada satu per satu Vanadis dari Zchted, serta pengaruh yang mereka bawa terhadap konflik di Brune sehubungan keterlibatan Elen di sana. Masing-masing dari mereka meliputi:

  • Eleonora Viltaria, penguasa wilayah Leitmeritz; Viralt miliknya adalah pedang panjang Arifar yang memiliki kekuatan angin. Sebelum terpilih oleh Arifar, semasa kecilnya ia dibesarkan oleh sepasukan tentara bayaran, dan karenanya tak asing dengan medan peperangan. Preferensinya adalah turut maju ke garis depan bersama pasukannya dengan berkuda.
  • Ludmila Lourie, penguasa wilayah Olmütz, Viralt miliknya adalah tombak pendek Lavias yang memiliki kekuatan es. Berbeda dari Viralt lain yang memilih pemilik barunya hampir secara acak, Viralt miliknya telah diwariskan turun temurun dalam keluarganya, dan Mila menjadi Vanadis tak lama sesudah ibunya wafat. Ia ahli siasat yang menjadikannya Vanadis yang paling lihai dalam pertahanan. Ia juga penyuka teh.
  • Sofya Obertas, penguasa wilayah Polesia, ahli negosiasi dan pengumpulan informasi yang tidak menyukai pertumpahan darah. Karena itu juga, ia berperan sebagai penengah sekaligus duta bagi para Vanadis. Viralt miliknya adalah tongkat emas bernama Zaht yang berkekuatan cahaya, yang memiliki kemampuan pertahanan serta penyembuhan.
  • Alexandra Alshavin, penguasa wilayah Legnica, yang dikenal sebagai Vanadis paling senior sekaligus terkuat untuk generasinya. Namun demikian, Sasha menderita suatu penyakit darah yang telah turun-temurun melanda semua perempuan dalam keluarganya, yang membuatnya tahu kalau ia takkan berusia panjang. Kondisinya memburuk dalam kurun waktu terakhir, sehingga perannya sebagai penengah para Vanadis belakangan digantikan Sofy. Dirinya adalah Vanadis yang paling dekat dengan Elen. Viralt miliknya adalah belati kembar Bargan yang berkekuatan api, yang bersikeras enggan meninggalkan dirinya dan memilih pemilik baru sekalipun penyakitnya telah semakin parah.
  • Elizaveta Fomina, penguasa wilayah Lebus, Vanadis yang dikenal karena ambisinya yang kuat dan matanya yang berbeda warna. Karena masa lalu yang penuh derita sebagai anak haram seorang aristokrat korup, Liza memiliki suatu dorongan alami untuk terus mencari kekuatan. Viralt miliknya adalah cambuk panjang Valitsaif berkekuatan petir yang juga dapat berubah menjadi tongkat.
  • Valentina Glinka Estes, penguasa wilayah Osterode sekaligus Vanadis misterius yang asal usulnya tidak diketahui oleh para Vanadis lain. Viralt miliknya adalah sabit besar Ezendeis yang berkuasa atas kehampaan dan bayangan, yang juga memungkinkannya berpindah tempat dalam sekejap. Sebaya dengan Sofy, namun di balik tampilannya yang ramah dan riang, Valentina menyembunyikan kecerdasan dan ambisi yang teramat besar. Dalam perkembangan cerita di novelnya, terungkap bahwa dirinya keturunan bangsawan Zchted, sehingga walau kecil, dirinya tetap berpeluang untuk mewarisi tahta.
  • Olga Tamm, penguasa wilayah Brest, sekaligus Vanadis berusia paling muda, yang terpilih menjadi Vanadis di usia 12 tahun. Viralt miliknya adalah kapak bernama Muma yang memiliki kekuatan tanah dan dapat berubah ukuran. Berasal dari suatu suku di padang rumput, dirinya terampil bertarung meski belum pernah ke medan perang. Meski ditampilkan mencolok di pembuka dan penutup anime, Olga belum berperan dalam cerita karena dikisahkan tengah berkelana.

The Knight of Moonlight

Para Vanadis dikisahkan berkaitan erat dengan awal mula negara Zchted. Penguasa pertama Zchted konon adalah sesosok naga yang membentuk Zchted sesudah akhir suatu perang besar, dan ketujuh Vanadis generasi pertama adalah permaisurinya. Namun di masa kini, raja penguasa Zchted, Viktor Artur Volk Estes Tsar Zhcted, memiliki hubungan kurang baik dengan para Vanadis karena ketakutan terpendamnya terhadap besarnya kekuatan mereka.

Masing-masing Viralt juga diindikasikan bernyawa dan punya kemauan masing-masing. Lalu selain ketujuh Viralt, ada juga pusaka-pusaka lain dengan kekuatan serupa namun asal-usul sudah terlupakan, seperti pedang Durandal milik Roland serta Busur Hitam misterius yang diwariskan turun-temurun sebagai pusaka keluarga Tigre.

Ada world building menarik yang lumayan di luar dugaan untuk seri sejenisnya. Ceritanya lebih ‘dalam’ dari yang sekilas terlihat, lewat penjabarannya terhadap berbagai perkembangan medan perang serta sejumlah misteri lain yang belum terjelaskan. Beberapa yang menonjol meliputi kuil misterius dewi kematian Tir na Va yang tiba-tiba ditemukan Tigre bersama Titta, dan kaitannya dengan Busur Hitam; serta bagaimana pria misterius yang memberikan naga-naga pada Thenardier; sekaligus Duke Ganelon sendiri, mungkin sebenarnya bukan manusia…

Kalau hanya menilai dari gaya ilustrasi dan desain karakternya, mungkin kau takkan menyangka cerita Madan no Ou to Vanadis bisa sedalam ini.

Soal desain karakternya sendiri? Ahaha, ada beberapa temanku yang terganggu. Tapi aku pribadi tak terlalu mempermasalahkannya.

…Uh, terlepas dari itu…

Bicara soal teknis, aku seriusan kagum dengan bagaimana Sato Tatsuo-san berhasil merangkum cerita lima buku ini dalam 13 episode. Pacing-nya terbilang bagus lagi. Walau demikian, berhubung detil perkembangannya yang perlu banyak dipaparkan, cara penyampaiannya mungkin takkan cocok dengan sebagian orang. Kau perlu sedikit imajinasi untuk benar-benar menikmatinya. Beliau banyak menggunakan potongan-potongan CG untuk menggambarkan situasi di medan perang, dengan memakai model bidak-bidak catur untuk mewakili setiap pasukan, lengkap dengan narasi dan sebagainya. Jadi kuakui, memang perlu sedikit waktu untuk terbiasa.

Daripada tampilan perang besarnya sendiri, rasanya seperti kita kerap diberi hanya ringkasannya saja. Meski begitu, untuk memajukan plot, cara ini efektif. Ditambah lagi, tampilan aksi yang sesungguhnya lebih ada pada permainan senjata para Vanadis serta kemampuan memanah Tigre.

Kemampuan memanah Tigre di sini maksudku bukan hanya ‘mengenai sasaran dari tempat yang benar-benar jauh.’ Dengan panahnya, dia lebih kayak, melakukan hal-hal gila yang membuat orang-orang di sekelilingnya bereaksi, “Enggak mungkin!” gitu.

Bicara soal visual, berhubung CG banyak dipakai untuk penggambaran pasukannya yang banyak, hasil akhirnya agak campur aduk. Ada bagian-bagian yang enak dilihat sih. Lalu terlepas dari beberapa aksinya yang keren, ada juga bagian-bagian yang kurang. Untuk benar-benar bisa menghargai, kurasa kau perlu bisa memvisualisasikan ulang  perkembangannya di dalam kepalamu sendiri. Buat aku sendiri, aku sebenarnya lumayan suka apa yang disampaikan.

Aku tak bisa bicara banyak soal audionya. Tapi lambat laun lumayan terasa bagaimana musiknya memang bagus. Lagu pembuka yang dibawakan Suzuki Konomi, serta penutup yang dibawakan Harada Hitomi sama-sama punya iringan orkestra yang memberikan warna kolosal. Rasanya kayak aku enggak langsung suka, tapi ke sananya terasa bagus.

Lalu satu hal yang kusadari; animenya untuk suatu alasan terasa benar-benar lebih serius ketimbang manganya, tapi tanpa melepas selingan komedi serta fanservice-nya. Sejujurnya, ini kali pertama aku menemukan adaptasi anime yang terasa kayak gini.

Kalau Kau Memperlihatkan Kebanggaan, Maka Aku Akan Menunjukkan Kegigihan

Akhir kata, aku telah jadi penggemar seri ini.

Aku suka tema perjuangan yang disampaikannya. Aku suka intrik-intriknya. Aku terkesan dengan penggambaran seperti apa kau harus bangkit kalau melihat orang-orang yang nyata jahatnya sedang mengurus negaramu.

Aku juga suka dengan bagaimana ceritanya secara berkala menampilkan semakin bertambahnya jumlah simpatisan Tigre. Dari yang hanya segilintir, tapi lama-lama jadi banyak, dari tempat-tempat tak disangka, dan semua berjuang untuk tujuan yang sama. Lalu tentu saja, soal bagaimana memiliki keteguhan di hadapan kondisi-kondisi tersulit sekalipun.

Aku tak bisa sepenuhnya bilang ini bagus. Tapi di sisi lain, aku terlanjur sulit buat enggak suka.

Ada satu adegan tertentu yang sempat bikin aku mikir pas ada Tigre ditanya “Apa kau berjuang untuk tujuan yang benar?” Tigre bereaksi dengan tak langsung memberi jawaban. Lalu di adegan itu aku terpikir bagaimana di masa sekarang kita benar-benar kerap susah membedakan mana yang benar dari mana yang salah. Semula kupikir, untuk bisa tahu, yang kau perlukan itu hanya sekedar ilmu. Tapi setelah melihat adegan satu itu, kusadari mungkin ada sesuatu yang lebih dari itu…

Kalau kau berminat mengikuti terjemahan bahasa Inggris novelnya yang dibuat fans, kusarankan untuk segera mencari dan menyimpannya. Terutama sesudah Kadokawa meluncurkan tuntutan DMCA belum lama ini yang ternyata mencakup semua bahasa, dan bukan bahasa Inggris saja.

Kayaknya enggak akan ada season duanya sih. Tapi kurasa itu enggak masalah.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: B; Audio: A; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A

15/01/2016

One Punch Man

Kalau kalian belum lihat adaptasi anime One Punch Man yang menjadi sensasi pada musim gugur 2015 lalu, aku serius menyarankan kalian melihatnya. Termasuk bila kalian sudah menjadi penggemar seri manganya.

Buat yang belum tahu, One Punch Man (kadang juga ditulis One-Punch Man, dan sering dibaca ‘wanpanman’, menjadikannya semacam plesetan Anpanman) paling awalnya sekali keluar dalam bentuk webcomic yang dibuat oleh pengarang aslinya, ONE. Sekalipun kualitas gambar yang ONE-sensei buat sendiri itu pas-pasan (begitu-begitu juga, untuk ukuran gambar pas-pasan, menurutku gaya gambar beliau termasuk yang punya ciri khas), seri ini dengan cepat tenar. Lalu konsepnya yang unik lambat laun menarik perhatian Murata Yuusuke, mangaka yang sebelumnya mengerjakan gambar untuk seri olahraga Eyeshield 21. Beliau kemudian menawarkan untuk menggambar ulang komik web yang ONE buat (yang juga masih berlanjut saat ini kutulis) dengan gaya gambarnya sendiri, untuk akhirnya diterbitkan resmi ke penerbit Shueisha.

Hasilnya beneran luar biasa.

Gampangnya, One Punch Man berkisah tentang seorang pria muda yang botak bernama Saitama, yang pada suatu ketika memutuskan untuk menjadi pahlawan pembela kebenaran sebagai hobi. Dirinya telah berlatih keras untuk hobinya ini, sampai ke tingkat di mana dirinya bisa mengalahkan semua musuhnya hanya dengan satu pukulan (one punch). Meski cita-citanya di satu sisi bisa dibilang tercapai, di sisi lain, Saitama frustrasi karena pekerjaan membasmi kejahatan yang dulu diimpikannya kini lebih terasa seperti rutinitas hampa. Semua keasyikan yang dulu dirasakannya sudah tak ada berhubung dirinya yang sekarang sudah terlampau kuat.

Terlepas dari bobot ceritanya sendiri (yang kumaksud, berhubung ini beratnya ke aksi, kalian enggak akan menemukan banyak drama di cerita ini), Murata-sensei kemudian menjadikan versi baru One Punch Man buatannya sebagai semacam media eksperimentasi untuk membuat adegan-adegan aksi. Diserialisasikan digital (secara tak teratur) di Young Jump Web Comics, adegan-adegan aksi di seri manga barunya ini dibuat jadi benar-benar mencolok, dengan pembangunan suasana yang gila-gilaan, sekalipun di hadapan Saitama, musuh-musuhnya takluk cuma dengan satu pukulan. Ini semua diperkuat dengan gaya desain karakter Murata-sensei yang khas, serta perhatian beliau terhadap koreografi aksi yang benar-benar bagus.

Agak susah jelasinnya. Lalu buat kalian yang lebih berminat pada kejutan-kejutan dalam lika-liku cerita, daya tariknya di awal mungkin memang enggak begitu terasa.

Tapi lalu studio MADHOUSE tampil dengan Natsume Shingo sebagai sutradara, Suzuki Tomohiro sebagai pembuat naskah, dan Miyazaki Makoto sebagai penanggungjawab musik. Mereka lalu membuat adaptasi animasi dari seri ini, dengan jumlah episode sebanyak 12 dengan 7 buah OVA pendek dan 1 episode OVA berdurasi biasa.

Hasilnya, sekali lagi, benar-benar luar biasa.

NOBODY KNOWS WHO HE IS!

Anime One Punch Man mengadaptasi cerita dari manganya kira-kira sampai buku kelima. Saat ini kutulis, versi remake Murata-sensei kalau enggak salah sudah sampai buku kesepuluh. Jadi, menurutku kalian enggak perlu terlalu kecewa dengan bagaimana cerita animenya sudah berakhir.

…Maksudku, cerita animenya berakhir di titik yang pas. Sudah ada separuh dari semua cerita di manganya yang sudah ditampilkan. (Kurang dari separuh kalau membandingkannya dengan versi komik webnya.) Di samping itu, proses serialisasi manganya memang terbilang enggak cepat (komik webnya pertama muncul tahun 2009, sementara remake versi Murata-sensei dari tahun 2012). Lalu hei, dengan ketenaran animenya, kemungkinan besar season dua bakal ada di masa yang akan datang.

Soal ceritanya sendiri, sesudah perkenalan tentang siapa Saitama dan kondisinya yang sekarang sering bosan (sebagian karena keuangan yang pas-pasan), cerita berkembang dengan pertemuannya dengan Genos, seorang cyborg muda dengan suatu misi pribadi. Genos langsung syok dengan besarnya kekuatan Saitama. Lalu sesudah nyawanya sempat Saitama selamatkan, Genos jadi menaruh hormat pada Saitama dan langsung memandangnya sebagai seorang guru.

Singkat cerita, sesudah Saitama dengan sedikit enggan akhirnya menerima Genos sebagai murid, Genos mulai menyelidiki asal mula kekuatan Saitama. Genos curiga kalau Saitama sendiri kelihatannya tak benar-benar sadar dari mana kekuatannya berasal. (Genos tak percaya kalau Saitama menjadi kuat karena melakukan push up 100 kali, squat 100 kali, sit up 100 kali, serta lari 10 km setiap hari, dengan ditambah makan yang benar serta sama sekali tak memakai AC baik di musim panas maupun musim dingin… selama tiga tahun sampai botak.)

Lalu seiring dengan itu, Saitama juga jadi mengetahui bahwa dirinya selama ini tak terkenal mungkin karena tak pernah mendaftar ke Asosiasi Pahlawan, yang menaungi para pahlawan di seluruh dunia. Sesudah Saitama dan Genos sepakat untuk mendaftar ke Asosiasi Pahlawan bersama-sama (salah satunya bagi Saitama karena alasan ekonomi), barulah sedikit demi sedikit orang-orang mulai menaruh perhatian terhadap siapa Saitama. Sekalipun, kebanyakan orang masih sulit mempercayai besarnya kekuatan yang dimilikinya.

Tinju yang Membara

Di dunia One Punch Man, ceritanya sering sekali terjadi bencana-bencana berskala besar yang disebabkan oleh monster, bencana alam, organisasi-organisasi kejahatan dsb. Saking seringnya kehancuran terjadi (monster-monster seakan bisa muncul dari mana saja, mulai dari makhluk-makhluk bawah tanah sampai orang yang kebanyakan makan kepiting), kota-kota dibuat sedemikian rupa agar dapat dibangun kembali secara cepat, dan tiap-tiap kota (yang ukurannya memang besar) akhirnya dinamai hanya dengan huruf. (Seperti Z City di mana Saitama tinggal, dengan A City sebagai pusat pemerintahan.)

Di awal mungkin tak begitu terasa, tapi satu alasan yang membuat anime One Punch Man benar-benar bagus adalah pemaparan dunianya ini. Berbeda dari manganya, yang di dalamnya kadang terasa kalau Saitama menang karena ‘plotnya mengharuskan dia menang,’ versi animenya menurutku berhasil menggambarkan kekuatannya lebih baik dengan mengkontraskan lebih jelas dampak yang diberikannya terhadap alam sekitar. Jadi kadang ada pemandangan keseharian yang agak dipanjangkan, yang baru kemudian disorot kembali sesudah suatu adegan aksi terjadi. Atau pada bagaimana saat ada pertarungan dalam kecepatan tinggi, si musuh berlari dengan meraung-raung sementara Saitama dengan muka datar ditampilkan cukup hanya berjalan cepat. Lalu perhatian pada kesunyian lingkungan, pergerakan awan dan angin, dan sebagainya. Kemudian ada sense of scale yang benar-benar dijaga dengan ditampilkan jelas gitu, dengan kehadiran musuh-musuh berukuran kolosal, yang setiap momen pertarungannya ditampilkan secara padat.

Dengan kata lain, One Punch Man menghadirkan adegan-adegan aksi keren yang terus terang, sudah lama sekali enggak kelihatan dalam bentuk anime. Kau tahu, jenis-jenis adegan aksi yang bikin kau semangat untuk mengungkapkan detilnya ke orang lain.

Selebihnya, para karakternya memang menarik. Selain karena desain yang keren, ada  pesan tersirat yang benar-benar dalam yang sebenarnya seri ini punya. Ringkasnya, tentang melakukan suatu perbuatan baik tanpa pamrih serta untuk tidak menjadi congkak dengan apa-apa yang telah didapatkan.

Selain Saitama dan Genos, beberapa karakter menonjol lain seperti Onsoku no Sonic, seorang ninja modern dengan kecepatan tinggi yang memandang Saitama sebagai rival, Mumen Rider yang membuat simpati dengan sikap pantang menyerah dan sepedanya, serta Tatsumaki yang memang menarik seandainya benar ditempatkan dalam posisi heroine (karena faktor cute-nya).

Faktor lainnya lagi… mungkin lagu pembukanya yang dibawakan JAM Project kali ya? Mereka dari dulu memang dikenal sering membawakan lagu-lagu mereka dengan penuh semangat (biasanya untuk anime-anime mecha). Tapi lewat lagu pembuka “The Hero!! ~Ikareru Ken ni Honō o Tsukero~”, menurutku mereka benar-benar melampaui karya-karya mereka yang terdahulu. Sebelumnya aku sering mikir kalau saking kerennya lagu-lagu JAM Project, jarang ada studio yang bisa membuat animasi pembuka yang mengimbangi. Tapi Madhouse berhasil di sini dengan menciptakan suatu animasi pembuka yang benar-benar keren. (Lalu mereka mengkontraskannya di akhir episode dengan lagu penutup yang benar-benar tenang.)

(Kalau kalian penggemar baru JAM Project, beberapa lagu mereka yang jadi favoritku antara lain “HEATS” dari Getter Robo Armageddon, “Savior in the Dark” dari seri GARO, “Stormbringer” dari Koutetsuhin Jeeg, dan “Break Out” dari Super Robot Wars OG: The Divine Wars.)

Akhir kata, aspek teknis dan eksekusi seri ini benar-benar bagus.

Ceritanya diakhiri dengan bagaimana Saitama akhirnya menemukan lawan yang tahan menerima kekuatan satu pukulannya, dengan keselamatan seisi dunia sebagai taruhan pertarungan mereka. Yea, ceritanya belum bisa dibilang tuntas. Masih ada teka-teki yang menggantung. Tapi dengan visi eksekusi sebagus ini, kurasa orang bakal berminat untuk membuat kelanjutannya.

Yah, mari kita berdoa saja.

Penilaian

Konsep: A; Visual: S; Audio: A+; Perkembangan: B+; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A+