Lanjut ke konten
Iklan

Posts from the ‘manga’ Category

Yamikin Ushijima-kun

Ada beberapa kenalanku yang mengira kalau aku suka mengikuti perkembangan dorama Jepang. Padahal seperti yang para pembaca blog ini mungkin tahu, yang benar-benar aku ikuti perkembangannya itu anime, bukan dorama. Tapi aku enggak terang-terangan membantah ini karena kadang lebih mudah mengobrolnya bila mereka berasumsi demikian.

Terlepas dari itu, bahasan kali ini adalah seri manga Yamikin Ushijima-kun, atau yang juga dikenal dengan judul Ushijima the Loan Shark (‘Ushijima, si lintah darat/rentenir’). Ini seri manga seinen yang dibuat oleh Manabe Shohei dari tahun 2004 dan masih diserialisasikan hingga sekarang. Serialisasinya dilakukan melalui majalah Big Comic Spirits di bawah penerbit Shogakukan. Manga ini setahuku pernah mendapat beberapa nominasi penghargaan. Selain itu, seri ini juga pernah diangkat ke bentuk seri drama TV pada tahun 2010 dan film live action layar lebar pada tahun 2012 yang dibintangi Yamada Takayuki.

Seperti yang judulnya indikasikan, seri ini tentang rentenir dunia hitam yang meminjamkan uang ke orang-orang dengan mematok bunga gila-gilaan. Meski informatif, bahasan ceritanya memang gelap dan lumayan bikin enggak nyaman.

Aku tertarik dengan manga ini karena awalnya aku tak habis pikir soal apa yang bisa diceritakan tentang orang-orang dari dunia gelap ini.

Slave-kun

Yamikin Ushijima-kun adalah seputar seorang rentenir bernama Ushijima dan anak-anak buahnya yang tergabung dalam perusahaan mereka, Kaukau Finance (mungkin terjemahan yang aku baca kurang tepat). Ceritanya mengambil pendekatan yang episodik, dengan menyorot satu demi satu kasus klien yang mereka hadapi.

Ushijima adalah seorang pria muda berbadan sangat besar dengan sejumlah piercing yang punya sorotan mata benar-benar tajam dari balik kacamatanya. Dia adalah ‘bos’ di perusahaan keuangan mereka yang relatif kecil, yang memiliki anak-anak buah yang sangat setia, dan secara pribadi mewawancarai langsung satu demi satu calon debitur yang datang ke perusahaan mereka.

Bab pertama manga ini dibuka dengan bergabungnya seorang pemuda bernama Takada sebagai pegawai baru di Kaukau Finance. Lalu melalui sudut pandangnya, kita dipaparkan tentang berbagai intrik dan metode terkait cara perusahaan-perusahaan keuangan gelap ini bekerja. Itu lengkap dengan konsekuensi bila para peminjam sampai gagal membayar, hubungan perusahaan mereka dengan pihak-pihak lain seperti polisi dan yakuza atau bahkan sesama rentenir, serta drama orang-orang ‘biasa’ yang jalan hidupnya sampai bersinggungan dengan perusahaan ini.

Bunga 50% Setiap 10 Hari

Apa yang menarik dari Ushijima-kun adalah penggambaran ‘sisi lain’ dunianya.

Sekedar mengklarifikasi; Ushijima, anak-anak buahnya, lalu orang-orang dari perusahaan-perusahaan lain seperti mereka, adalah orang-orang jahat.  Mereka nyata-nyata tak berperikemanusiaan. Mereka jelas-jelas mau saja menjebak orang-orang agar sengsara.

Seri ini tak berusaha membuat mereka ditampilkan secara ‘baik’ atau gimana. Seri ini secara pragmatis—tapi informatif—hanya sekedar menjabarkan mereka orang-orang seperti apa, dan di dunia macam apa masing-masing dari mereka ‘bekerja.’ Sekali lagi, awalnya aku heran soal apa yang bisa diceritakan dari orang-orang kayak gini. Lalu bagusnya Ushijima-kun ada pada bagaimana segala sesuatunya dipaparkan dengan cara yang membuat kita kira-kira mengerti kompleksitas semuanya gitu.

Awal segala sesuatunya sederhana: ada orang-orang yang butuh uang.

Tapi saat mulai masuk ke soal kenapa mereka butuh uang, atau untuk apa uang itu kemudian digunakan, atau kenapa mereka yang semula merasa punya uang tahu-tahu saja jadi tak punya uang, bahasannya jadi menarik. Kasusnya ada bermacam-macam. Lalu daripada pembelajaran soal keuangan dan ekonomi, manga ini sebenarnya lebih mengangkat tema-tema psikologis dan sosial gitu.

Anehnya, tak seperti kasus-kasus di Kurosagi misalnya, dan meski yang mereka lakukan memang ilegal, Ushijima dan perusahaannya tak benar-benar bisa dibilang ‘menipu’ para kliennya. Sejak awal mereka sudah terang-terangan soal segala ketentuan peminjaman mereka. Masalahnya, kebanyakan orang yang datang ke mereka itu kayak enggak memperhatikan atau bahkan enggak peduli dengan semua persyaratan ini. Yang mereka pikirkan hanya soal bagaimana mereka bisa mendapatkan uang. Karenanya, mereka juga jadi gagal melihat konsekuensi yang harus ditanggung bila mereka sampai gagal membayar.

Kalau ada yang tak disebutkan dari pihak Ushijima, mungkin itu pada sejauh apa mereka akan berbuat demi mendapatkan uang mereka kembali, plus bunga. Apalagi saat berhadapan dengan orang-orang yang ternyata nekad macam-macam dengan mereka…

“Kamu enggak bisa memandang pelanggan kita sebagai manusia!”

Gaya gambar Manabe-sensei terbilang sederhana, tapi lumayan sarat detil. Kayak, beliau bercerita dengan menampilkan ‘potret’ suatu adegan dari berbagai sudut sehari-hari gitu, tanpa membuatnya terlalu kayak di film. Dengan kata lain, Ushijima-kun termasuk jenis manga yang mencolok semata karena apa yang diceritakan di dalamnya ketimbang karena daya tarik gambarnya.

Saat sedang tidak menampilkan suatu potret drama kehidupan, ceritanya bisa tiba-tiba menjadi thriller dengan perkembangan situasi yang penuh intrik. Karena banyaknya karakter yang terlibat, mengingat siapa saja tokoh yang pernah hadir memang kadang sulit. Ada adegan-adegan kekerasan yang ditampilkan di dalamnya. Tapi dipaparkannya itu lebih kayak dengan maksud untuk menunjukkan kalau adegan-adegan itu akhirnya terjadi, ketimbang secara terang-terangan menyoroti segala ketegangan tentangnya. Jadi pemaparannya dengan cara yang lebih dengan tujuan informatif gitu, dan dengan nuansa benar-benar riil.

Ini sengaja kusebut karena apa yang bisa dilakukan orang-orang di manga ini benar-benar sadis dan tega. Ini mencakup menjerumuskan perempuan ke pelacuran atau membawa orang ke tengah hutan, mengikat mereka ke pohon, lalu meninggalkan mereka di sana.

Lalu soal para karakternya, semuanya terasa benar-benar nyata. Seolah memang sejumlah inspirasinya diangkat dari kasus-kasus yang benar-benar pernah terjadi. Kecanduan pachinko, kecanduan narkoba, atau sekedar enggan melepaskan gaya hidup. Itu kayak hal-hal yang memang bisa terjadi, walau alasan kenapa bisa sampai demikian mungkin kerap sulit dijelaskan akal sehat.

Ushijima-kun memaparkan berbagai intrik dunia hitam menyangkut urusan pinjam-meminjam uang di Jepang. Seri ini sekaligus memberi gambaran tentang modus operandi perusahaan-perusahaan sejenis itu di sana. Hasil akhirnya benar-benar menarik.

Kalau aku seorang dosen, aku akan menyarankan mahasiswa-mahasiswaku untuk membacanya agar mereka seenggaknya tahu apa yang mungkin mereka hadapi di dunia nyata.

Ceritanya tak melulu suram. Pada beberapa bagian, ada juga beberapa bumbu komedi. Seperti di adegan ketika Takada mengetahui usia Ushijima ternyata lebih muda darinya. Atau pada bagaimana subjek yang disorot pada setiap bab manga ini selalu disebut dalam judul dengan akhiran –kun. Tapi kehadiran sisi jenaka ini mungkin tak disadari orang karena saking suramnya nuansa manga ini.

Terus lambat laun, aku sendiri mulai paham kenapa Ushijima bisa sampai lebih mementingkan kelinci-kelinci lucu piaraannya (yang keberadaannya tak diketahui kebanyakan orang) ketimbang manusia-manusia lain pada umumnya. Terutama, bila kebanyakan orang yang berhadapan dengannya adalah orang-orang bebal macam begini. Aku mulai paham kenapa dia bisa sampai berpikir kalau orang-orang seperti mereka memang layak diperbudak.

Kalau aku boleh bicara dari pengalamanku di dunia kerja, orang-orang kayak klien-klien Ushijima itu ada. Lalu di masa mendatang, mungkin jumlah mereka akan terus bertambah.

Menakutkan.

Manga ini memperingatkan kita akan kenyataan menakutkan di zaman ini dan kita enggak bisa berbuat banyak untuk memperbaiki. Masa depan dunia ini suram. Zetsuboshitaaa.

Coba bayangkan kalian yang bisa berpikir jernih sekarang, suatu saat di masa depan, entah bagaimana, misalnya tahu-tahu jadi kacau persepsinya entah karena nafsu atau dendam. Kamu enggak lagi bisa berpikir ‘bener.’ Orang-orang di depanmu enggak cukup peduli untuk membenarkan kesalahpahaman kamu. Terus tahu-tahu kamu terjatuh dalam nasib kayak gini karena urusan uang.

Aku jadi merasa konsep ‘bunga pinjaman’ itu dibikin ada cuma agar bisa dipakai untuk menindas orang lain.

Yah, sisi baiknya, manga ini juga mengajarkan beberapa hal yang bisa dimanfaatkan untuk bertahan hidup. Mata yang jeli, pengetahuan yang bermanfaat, koneksi yang bisa kalian jaga; yah intinya, aku pun tak bisa menyangkal karisma yang Ushijima ditampilkan punyai.

Sial. Seenggaknya aku ingin bisa menambah massa otot.

Iklan

Ouroboros

Sepupuku bertanya soal tamatnya Ouroboros. Dia bilang adaptasi doramanya berakhir dengan bad ending. Makanya, dia penasaran tamat di manga aslinya itu kayak gimana.

Aku perlu mengingat-ingat dulu Ouroboros tentang apa. Lalu baru aku jawab kalau aku enggak tahu.

Aku memang enggak mengikuti seri ini (dan sempat kusangka ini tentang adu kekuatan super remaja). Tapi saat sadar kalau Ouroboros pasti cukup menarik perhatian untuk dibikin jadi dorama, akhirnya aku penasaran dan mencoba mencari tahu ini tentang apa.

Sedikit bicara soal sepupuku, he’s a good guy. Tapi mesti kuakui, ada sesuatu tentangnya yang kurasa ‘enggak sama’ dengan kebanyakan orang. Antusiasmenya kerap sulit ditebak. Lalu sesudah dia bicara soal ini, baru aku tersadar kalau seri ini pasti punya sesuatu yang unik kalau sampai termasuk lingkup minatnya.

Singkat cerita, Ouroboros adalah seri manga seinen bertema kepolisian yang dibuat oleh Kanzaki Yuuya, dan pertama terbit pada tahun 2009 oleh penerbit Shinchosha.

Terjemahan bahasa Indonesianya sudah dikeluarkan Level Comics. Hasilnya lumayan. Seri ini kalau kalau tak salah terbit per babnya bulanan, jadi walau versi Jepangnya sudah lumayan jauh (kalau enggak salah, sudah ada 21 tankoubon saat ini kutulis) sebenarnya kita enggak terlalu ketinggalan dalam serialisasinya.

Segera kuinfokan ke sepupuku kalau manganya di Jepang memang masih lanjut dan belum tamat. Lalu begitu dengar soal ini, untuk suatu alasan dia kelihatan lega.

Buatku pribadi, kurasa memang mesti kuakui kalau Ouroboros lebih menarik dari yang aku kira.

Naga Kembar

Ouroboros berkisah tentang dua sahabat masa kecil, Ikuo Ryuuzaki dan Danno Tatsuya. Keduanya sempat terpisah di masa remaja. Tapi sesudah dewasa, mereka kini menjalani suatu persahabatan rahasia.

Ikuo adalah detektif berpangkat sersan di Divisi Dua Departmen Kepolisian Shinjuku. Di balik sikap luarnya yang telmi dan kekanakan—dan ini juga sulit dipercaya oleh rekan-rekannya—Ikuo adalah detektif dengan catatan penangkapan terbanyak di divisi tersebut.

Sedangkan Tatsuya adalah pria muda necis dan cool yang menjabat sebagai wakil ketua Grup Matsuo, brigade tingkat tiga yang bermarkas di Shinjuku dari klan Abiko. Tatsuya adalah pemimpin muda yang naik jabatan dan meraih pengaruh dengan sangat cepat di klan yakuza tersebut. Dirinya karismatik, cerdas, dan (berbeda dengan Ikuo) sangat dihormati para bawahannya.

Rahasia di balik prestasi Ikuo sebenarnya adalah berkat dukungan diam-diam dari Tatsuya. Secara rahasia, keduanya selama ini memang saling membantu satu sama lain. Keduanya berusaha meraih kedudukan di lingkungan mafia dan kepolisian dengan maksud agar bisa menemukan jejak orang-orang yang telah membunuh pengasuh/guru mereka sewaktu mereka anak-anak, Kashiwaba Yuiko-sensei, dan kemudian membalas dendam.

Ouroboros pada dasarnya bercerita tentang sepak terjang Ikuo dan Tatsuya dalam menghadapi kasus demi kasus. Sedikit demi sedikit, mereka semakin dekat pada kebenaran tentang pria berjam tangan emas yang mereka temui pada malam Yuiko-sensei dibunuh lima belas tahun silam. Pembunuhan itu terjadi di hadapan mata kepala mereka sendiri. Namun meski ada kesaksian mereka, kebenaran kasus itu tak pernah terungkap, dan mereka curiga ada suatu pihak tertentu yang menutup-nutupi penyelidikannya.

Dipenuhi dendam, dan frustrasi oleh korupsi yang melanda masyarakat, keduanya sepakat untuk mendatangkan keadilan lewat nama Ouroboros, sebutan untuk naga kembar yang terjarah di punggung mereka berdua.

Dua Sisi

Meski menghadirkan dua karakter di dua sisi yang berseberangan, cerita Ouroboros sebenarnya lebih banyak memaparkan sisi Ikuo di kepolisian. Terutama dengan bagaimana Ikuo dan Tatsuya sama-sama meyakini bahwa pria berjam tangan emas yang mereka buru adalah seorang petinggi di badan itu.

Di dunia Ouroboros, kepolisian Jepang ditampilkan sedang mengalami masa decline-nya, dengan hanya sekitar 30% dari seluruh kasus kejahatan yang diketahui (bukan yang terjadi) yang berhasil dituntaskan penangkapannya. Selain berhadapan dengan beragam kasus setiap hari, Ikuo dan kawan-kawannya di Divisi Dua harus berurusan juga dengan bermacam tetek-bengek birokrasi, persaingan antar pejabat, serta intrik-intrik perpolitikan di dalam organisasi mereka.

Format ceritanya seringkali formulaik; Ikuo menemui kesulitan membereskan suatu kasus karena suatu sebab di luar kuasanya, akhirnya menemukan penyelesaian berkat uluran tangan vital dari Tatsuya.

Lalu khusus untuk pelaku-pelaku kejahatan tertentu, pasangan Ouroboros akan melakukan pengadilan mereka sendiri. Ikuo yang biasanya cengar-cengir tiba-tiba akan menunjukkan sisi gelapnya sesudah diserahi Tatsuya untuk mengeksekusi mati si pelaku secara pribadi…

Beberapa karakter lain yang penting meliputi: Hibino Mizuki, perempuan muda serius berpangkat letnan yang menjadi partner Ikuo di Divisi Dua (yang sering dikira oleh sekelilingnya bisa maju berkat pengaruh ayahnya, seorang petinggi di kepolisian); Mishima Kaoru, kapten sekaligus kepala seksi Divisi Dua yang easy going; serta Chono Shinichi, letnan dari Divisi Satu Kepolisian Shinjuku (yang selalu dipandang lebih baik dari Divisi Dua) yang menjadi orang pertama yang menaruh kecurigaan atas hubungan rahasia Ikuo dan Tatsuya.

Dalam perkembangan cerita, Ikuo dan Tatsuya mengetahui kalau ada suatu perusahaan bernama Haijima yang nampaknya berhubungan dengan empat pelaku pembunuhan Yuiko-sensei. Namun Haijima di sisi lain ternyata adalah perusahaan fiktif yang tak jelas asal-usulnya… sampai Tatsuya menemukan petunjuk lain yang mengaitkannya dengan perusahaan kosmetik dan kesehatan Arcana Health and Beauty. Dalam penyelidikan, Arcana rupanya didirikan di tanah bekas Mahoroba, bekas tempat tinggal Ikuo dan Tatsuya sekaligus rumah panti yang dulu dikelola mendiang Yuiko-sensei. Lalu dari sana, plot utama Ouroboros secara berangsur mulai terjalin…

Semakin keduanya menyadari betapa besar pengaruh yang dimiliki orang-orang yang mereka kejar (terlebih dengan bagaimana jam tangan emas ternyata ‘dihadiahkan’ pada orang-orang tertentu sebagai simbol kekuasaan dan kemakmuran), tanpa bisa langsung memberitahukannya ke Ikuo, Tatsuya lambat laun menyadari bahwa siapa sebenarnya Yuiko-sensei yang sangat mereka sayang juga tak mereka ketahui…

Dunia Topeng

Waktu aku membuka buku pertama Ouroboros, yang pertama menarik perhatianku adalah halaman sampul dalamnya. Ilustrasi yang terpampang di sana seolah menggambarkan dunia di mana hanya sedikit sekali orang yang dapat dipercaya. Lalu aku teringat sepupuku juga sempat berkomentar kalau cerita doramanya benar-benar gelap.

Aku sedikit heran dengan komentarnya ini.

Soalnya, untuk versi manga, masih ada elemen-elemen komedi di dalam ceritanya. Biasanya datang dari bagaimana Ikuo yang terkesan tak dapat diandalkan kerap jadi agak di-bully. Jadi buatku sendiri, ceritanya tak benar-benar segelap itu. (Walau mungkin juga aku merasa begini karena pernah mengikuti MPD Psycho dan Jiraishin sih. Man, mungkin ini terdengar berlebihan, tapi Jiraishin dulu sempat memberiku trauma mental.)

Tapi terlepas dari itu, kebanyakan kasus yang ditampilkan memang benar-benar suram. Kasus-kasus seperti pembunuhan-pembunuhan dengan darah dingin, obat-obatan terlarang, serta pornografi. Bagaimana ada pengkhianatan oleh orang-orang yang kita percaya. Jadi, mungkin juga pemaparan sisi dunia tersebut yang sepupuku maksud.

Daya tarik utama yang ditonjolkan manga ini memang ada di dua tokoh utamanya.

Tanpa bantuan Tatsuya, Ikuo sebenarnya detektif yang jago dengan intuisi (dan penciuman?) yang benar-benar tajam. Dirinya menyembunyikan fisik yang benar-benar prima. Lalu yang ganjil adalah bagaimana hal-hal tertentu bisa memancing kemarahannya secara khusus. Saat marah, Ikuo seakan benar-benar jadi haus darah. Dalam ‘mode murka’-nya, ia kerap jadi melakukan aksi-aksi keren yang normalnya manusia biasa tak bisa lakukan. Ada sesuatu yang benar-benar buas tentangnya, tapi dengan cara dingin gitu. Lalu pas aku pertama melihatnya, aku enggak bisa enggak terkesan. Terutama dengan bagaimana dipaparkan kalau sisi gelapnya ini kerap menggerogotinya juga, dengan bagaimana dia sendiri ragu apakah yang dia lakukan ini sebenarnya sesuatu yang perlu atau tidak.

Tatsuya di sisi lain lebih menonjol di sisi pencarian informasi dan penyelidikan. Dirinya benar-benar suave, punya pesona yang kuat terhadap lawan jenis, dan kelihatannya punya kesukaan pribadi terhadap penyamaran. Tapi terkadang, saat emosinya menguasai, Tatsuya pun mengambil keputusan-keputusan nekat. Lalu pada beberapa kejadian, dia juga enggan melibatkan Ikuo kalau tak benar-benar perlu.

Soal adegan-adegan aksinya, ciri khas Ouroboros terdapat pada bagaimana Ikuo sering menyudutkan si pelaku, keadaan menjadi genting, lalu Tatsuya tiba-tiba muncul entah dari mana, ada pistol melayang, lalu dor. Lalu ini semua selalu mereka lakukan secara pribadi, tanpa pernah ada perantara, tanpa pernah ada back up selain keberadaan satu sama lain.

Meski singkat, adegan-adegan aksinya benar-benar intens. Ini jenis aksi yang bisa bikin kamu membolak-balik halamannya beberapa kali buat memastikan kembali apa yang baru saja terjadi.

Selebihnya, ciri khas lain yang Ouroboros punyai ada pada bagaimana misteri kasus-kasus besarnya yang hampir selalu lebih besar dari yang tampak di awal (meski, kayak yang kubilang, jadinya bisa agak formulaik sih, tapi itu bisa jadi hal baik sekaligus buruk, tergantung kau sukanya bagaimana), serta bagaimana akhir suatu kasus seringkali berdampak pada penyelesaian kasus berikutnya yang Ikuo dkk hadapi.

Gampangnya, Ouroboros memang seri yang oke kok. Apa yang mungkin normalnya kamu bayangin kalau denger tentang ‘drama polisi’ bisa kurang lebih kamu temukan di seri ini. Lumayan aneh juga karena seri macam Ouroboros tak lebih banyak.

Ada bagian-bagian ceritanya yang kadang bikin aneh sih (seperti pencucian uang di Republik Dominika; lalu kalau tak salah juga sempat ada kasus pengedar obat terlarang yang datangnya dari, uh, Iran…). Lalu cara penceritaannya juga, sekali lagi, kadang bisa jadi aneh (“Hah? Ada kejadian kayak gini lagi?” atau “Ini seriusan jadinya kayak gini?”). Dan meski berusaha menampilkan secara ekstensif dunia kepolisian di sana, aku juga punya perasaan aneh kalau seri ini bakal dipandang gimanaa gitu oleh para polisi beneran di Jepang.

Tapi kalau sekedar seru atau enggaknya, Ouroboros termasuk bacaan seru.

Yea, seri ini termasuk yang kurekomendasikan.

Beban Masa Lalu

Aku sebenarnya sedikit terusik soal alasan Ikuo dan Tatsuya sebegitu dendamnya oleh kematian Yuiko-sensei. Tapi soal itu kurasa tak perlu kupermasalahkan.

Setelah kupikir, aku enggak tahu versi doramanya seperti apa karena aku belum lihat. Tapi kayaknya ada sesuatu tentangnya yang sedikit banyak berpengaruh terhadap sepupuku sedemikian rupa. Mungkin itu tanda kalau adaptasi doramanya memang berkualitas.

Yah, bicara soal artwork, Kanzaki-sensei memiliki gaya gambar yang menurutku efektif. Tak terlalu bisa dibilang atraktif, tapi secara pas mendukung penceritaannya. Sebagai manga tentang kepolisian, Ouroboros termasuk cerita yang dialognya agak banyak, tapi dengan penceritaan yang enggak terlalu berbelit.

Satu hal yang pasti adalah bagaimana Kanzaki-sensei sepertinya betul-betul paham cara mengkoreografikan adegan-adegan aksinya. Serius, karenanya, membaca Ouroboros jadi seperti serasa nonton seri TV yang memuat penyelesaian dendam-dendam pribadi macam ini.

Ouroboros termasuk manga yang membagi ceritanya per season. Walau untuk konteks ini, kayaknya penomoran manganya enggak akan berubah. (Mirip dengan Bloody Monday, tapi sedikit berbeda.)

Season keduanya misalnya, dimulai tak lama sesudah Ikuo dan Hibino dipindahkan dari Shinjuku ke Markas Besar Kepolisian. Perkembangannya turut diiringi dengan kehadiran karakter-karakter baru, seperti Hibino Kunihiko, ayah Hibino yang karismatik namun mengundang sejumlah tanda tanya, serta sejumlah karakter lain yang ditampilkan turut mengenakan jam tangan emas. Pemilik jam tangan emas yang mana sebenarnya, yang menjadi orang di balik pembunuhan Yuiko-sensei, masih menjadi tanda tanya. Lalu semakin tinggi Ikuo dan Hibino beranjak, kelihatannya akan semakin sedikit juga orang yang bisa mereka percaya.

Akhir kata, berhubung aku juga sudah lumayan menyukainya, aku berharap bad ending di versi doramanya enggak sampai terjadi. Yeah, kadang kuharap ceritanya lebih cerdas. Tapi seri ini seru, dan mungkin itu udah cukup.

Madan no Ou to Vanadis

Waktu aku kecil, aku suka cerita Robin Hood. Selain karena kepahlawanannya, aku suka karena kagum dengan kehebatannya memanah.

Waktu itu, Mahabarata masih terlalu ribet buatku. Aku belum cukup umur buat nonton First Blood. Seri TV Arrow jelas belum ada. Avengers juga sama sekali belum menonjolkan Hawkeye. Makanya, referensi yang kutahu soal orang yang jago panah itu cuma Robin Hood.

(Belakangan aku tahu kalau pemanah hebat di masa abad pertengahan, yang mengawali legenda ‘memanah apel di atas kepala orang,’ sebenarnya adalah William Tell.)

(…Melihat ke belakang, dunia perkomikan Amerika di dekade 90an itu aneh, man.)

(Sebenernya, lagu Bryan Adams yang jadi soundtrack film Robin Hood: Prince of Thieves-nya Kevin Costner juga membantu.)

Makanya, mungkin karena itu aku merasakan nostalgia aneh saat pertama sadar Madan no Ou to Vanadis itu tentang apa.

Madan no Ou to Vanadis (judulnya kira-kira berarti ‘raja tembakan/peluru sihir dan Vanadis’, dengan ‘Vanadis’ atau senki di sini adalah istilah yang berarti war maiden, atau ‘gadis perang/srikandi’), atau yang juga dikenal dengan judul Lord Marksman and Vanadis (‘bangsawan ahli tembak/panah dan Vanadis’), keluar sebagai anime pada tahun 2014 dengan produksi animasi yang dilakukan Satelight. Ceritanya diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Kawaguchi Tsukasa dengan jumlah episode sebanyak 13. (Salah satu novel one shot karya Kawaguchi-sensei, Leena’s World Map, telah diterbitkan di sini oleh Shining Rose Media lhoo.) Arahannya dilakukan oleh Sato Tatsuo (sutradara veteran Moeretsu Pirates, Stellvia, Rinne no Lagrange, serta Kidou Senkan Nadesico) yang selain sebagai sutradara, juga menangani sendiri naskahnya.

Novel aslinya diterbitkan oleh Media Factory di bawah label MF Bunko J. Ilustrasi dan desain karakternya yang menawan aslinya dibuat oleh Yoshi☆o (sebelum kemudian diteruskan oleh Katagiri Hinata mulai buku kesembilan). Saat ini kutulis, novelnya telah terbit sebanyak 13 buku.

Aku sendiri pertama tahu tentang seri ini dari adaptasi manganya yang dibuat Yanai Nobuhiko. Aku terkesan oleh artwork dan gaya desain karakternya. (Oke, alasan sebenarnya, berhubung aku punya a thing for maids, adalah karena karakter Titta.) Tapi yang kemudian membuatku jadi benar-benar menyukainya adalah besarnya kadar world building di dalamnya dibandingkan seri-seri lain yang sejenis.

Sebenarnya, aku juga ingin mengulas tentang ini lebih awal. Cuma aku sibuk oleh urusan kantor. Lalu pas Natal kemarin, kesehatanku juga sempat drop, dan makanya sejumlah postingan yang mau kusiapkan jadi terbengkalai.

Jadi, uh, sori soal itu.

Menengadah Melihat Bintang-bintang di Langit

Madan no Ou to Vanadis berlatar di suatu versi alternatif dari benua Eropa.

Ceritanya dibuka dengan kekacauan yang menimpa Kerajaan Brune, semenjak penguasanya, Raja Faron, dilanda suatu penyakit misterius. Sakitnya sang raja memicu perebutan kekuasaan antara dua bangsawan (bergelar ‘duke’) yang paling berpengaruh: Felix Aaron Thenardier dan Maximilian Bennusa Ganelon, yang sama-sama memperebutkan posisi sebagai penguasa de facto Brune. Lalu ini memuncak lewat timbulnya konflik dengan negara tetangga Brune, Kerajaan Zchted (sebenarnya, aku masih belum yakin apa mereka statusnya kerajaan atau kekaisaran), yang telah mengirim pasukan mereka untuk bertemu pasukan Brune di Padang Rumput Dinant.

Tokoh utama seri ini sendiri adalah Tigrevurmud Vorn, seorang bangsawan berkedudukan relatif rendah (bergelar ‘count’) yang berkuasa di suatu wilayah Brune yang bernama Alsace. Posisi Alsace bersebelahan dengan Leitmeritz, wilayah Zchted dari mana pasukan musuh datang. Sehingga dengan ditemani penasihatnya yang sudah berusia lanjut, Bertrand, Tigre mau tak mau harus memimpin rakyatnya maju ke medan pertempuran.

Namun setiba di Dinant, sekalipun menang dari segi jumlah, lini belakang Brune diserang mendadak oleh pasukan Zchted pimpinan Eleonora Viltaria, satu dari tujuh Vanadis (Senki)—tujuh perempuan jelita yang telah terpilih oleh tujuh pusaka Viralt (ryuuguu/dragon tool) berkekuatan naga, untuk menjadi panglima perang Zchted—yang sekaligus adalah penguasa wilayah Leitmeritz. Pasukan Brune dengan segera kocar-kacir. Lalu kabar mulai tersiar bahwa pangeran putra mahkota Brune yang turut serta di sana ikut tewas.

Namun, tak banyak diketahui di luar Alsace, Tigre adalah orang yang sangat jago memanah.

Brune adalah negara yang sangat menaruh kehormatan dalam keksatriaannya, dan para bangsawannya bahkan memandang remeh para pemanah karena disamakan dengan kaum pemburu dari rakyat jelata. Karenanya, menjadi kejutan sangat besar saat Tigre, yang menjadi satu-satunya orang yang masih bertahan hidup di kelompoknya, nyaris berhasil membunuh Elen dengan sisa anak-anak panahnya.

Terkesan dengan kehebatan Tigre, Elen memutuskan untuk tidak membunuh Tigre yang telah kehabisan anak panah, dan justru membawanya kembali sebagai tawanan ke Leitmeritz. Sekalipun keputusannya tersebut tidak langsung disetujui oleh Limalisha, ajudan Elen, serta anak-anak buahnya yang lain.

Garis besar Madan no Ou to Vanadis mengisahkan tentang tumbuh kembangnya hubungan antara Tigre dan Elen, yang dari penguasa dan tawanan, mulai berkembang menjadi rekan seperjuangan di medan perang, dan akhirnya (agak belakangan) sepasang kekasih.

Elen di awal cerita berupaya untuk mendorong Tigre untuk berganti pihak. Elen, yang berjiwa bebas dan kadang bisa berangasan, ingin menjadikan Tigre sebagai ‘miliknya’ dalam artian sebagai salah satu jendralnya di Leitmeritz. Terutama sesudah Tigre membuktikan sendiri kemampuan memanahnya yang benar-benar fenomenal. Ditambah kesungguhan yang dimilikinya yang kemudian juga meraih simpati dan kekaguman anak-anak buah Elen sendiri.

Namun berbeda dari kebanyakan bangsawan Brune, Tigre adalah sosok yang memang peduli terhadap rakyatnya. Sehingga meski tawaran Elen benar-benar menarik, Tigre mendapati diri tak bisa menerimanya. Terutama sesudah Bertrand, yang dengan susah payah akhirnya berhasil melacak jejaknya, datang dengan membawa kabar bahwa hilangnya Tigre dipandang ibukota sebagai kekosongan kekuasaan di Alsace. Thenardier kemudian mengutus putranya yang keji, Zion, untuk membawa pasukan demi mengambil alih kepemilikan atas Alsace.

Sadar dengan kehancuran yang dapat terjadi, Tigre membuat kesepakatan dengan Elen demi menyelamatkan Alsace; tanpa sepenuhnya menyadari besarnya dampak dari persekutuan mereka di masa yang akan datang…

Menunduk Melihat Jasad-jasad Mimpi

Adaptasi anime Madan no Ou to Vanadis merangkum cerita buku 1-5 seri novelnya, yang memaparkan berlangsungnya perang sipil Brune.

Dalam perkembangan cerita, timbul komplikasi yang persekutuan Elen dan Tigre akibatkan terkait persekutuan bertahun-tahun keluarga Thenardier dengan seorang Vanadis lain, yakni Ludmila Lourie, penguasa wilayah bersalju Olmütz. Hal tersebut mendatangkan konflik antara Elen dan Mila, yang notabene berasal dari negara yang sama.

Kondisi semakin genting saat Tigre dicap pengkhianat karena aliansinya dengan Zchted, yang terjadi saat sang raja kehilangan akal sehatnya sepeninggal keturunannya. Ini berujung pada bagaimana persekutuan Alsace-Leitmeritz harus berhadapan dengan Orde Ksatria Navarre pimpinan Roland, pemilik pedang pusaka Durandal (yang memiliki kekuatan setara Viralt) yang dikenal sebagai ksatria terhebat Brune.

Baru akhirnya, seiring bertambahnya pengaruh dan popularitas Tigre di kalangan rakyat Brune yang tertindas, semua memuncak dengan konfrontasi terakhir melawan kubu Thenardier dan kubu Ganelon, yang sekaligus membawa kita kembali pada apa sesungguhnya yang terjadi dalam pertempuran di Dinant…

Sepanjang cerita, kita juga diperkenalkan pada satu per satu Vanadis dari Zchted, serta pengaruh yang mereka bawa terhadap konflik di Brune sehubungan keterlibatan Elen di sana. Masing-masing dari mereka meliputi:

  • Eleonora Viltaria, penguasa wilayah Leitmeritz; Viralt miliknya adalah pedang panjang Arifar yang memiliki kekuatan angin. Sebelum terpilih oleh Arifar, semasa kecilnya ia dibesarkan oleh sepasukan tentara bayaran, dan karenanya tak asing dengan medan peperangan. Preferensinya adalah turut maju ke garis depan bersama pasukannya dengan berkuda.
  • Ludmila Lourie, penguasa wilayah Olmütz, Viralt miliknya adalah tombak pendek Lavias yang memiliki kekuatan es. Berbeda dari Viralt lain yang memilih pemilik barunya hampir secara acak, Viralt miliknya telah diwariskan turun temurun dalam keluarganya, dan Mila menjadi Vanadis tak lama sesudah ibunya wafat. Ia ahli siasat yang menjadikannya Vanadis yang paling lihai dalam pertahanan. Ia juga penyuka teh.
  • Sofya Obertas, penguasa wilayah Polesia, ahli negosiasi dan pengumpulan informasi yang tidak menyukai pertumpahan darah. Karena itu juga, ia berperan sebagai penengah sekaligus duta bagi para Vanadis. Viralt miliknya adalah tongkat emas bernama Zaht yang berkekuatan cahaya, yang memiliki kemampuan pertahanan serta penyembuhan.
  • Alexandra Alshavin, penguasa wilayah Legnica, yang dikenal sebagai Vanadis paling senior sekaligus terkuat untuk generasinya. Namun demikian, Sasha menderita suatu penyakit darah yang telah turun-temurun melanda semua perempuan dalam keluarganya, yang membuatnya tahu kalau ia takkan berusia panjang. Kondisinya memburuk dalam kurun waktu terakhir, sehingga perannya sebagai penengah para Vanadis belakangan digantikan Sofy. Dirinya adalah Vanadis yang paling dekat dengan Elen. Viralt miliknya adalah belati kembar Bargan yang berkekuatan api, yang bersikeras enggan meninggalkan dirinya dan memilih pemilik baru sekalipun penyakitnya telah semakin parah.
  • Elizaveta Fomina, penguasa wilayah Lebus, Vanadis yang dikenal karena ambisinya yang kuat dan matanya yang berbeda warna. Karena masa lalu yang penuh derita sebagai anak haram seorang aristokrat korup, Liza memiliki suatu dorongan alami untuk terus mencari kekuatan. Viralt miliknya adalah cambuk panjang Valitsaif berkekuatan petir yang juga dapat berubah menjadi tongkat.
  • Valentina Glinka Estes, penguasa wilayah Osterode sekaligus Vanadis misterius yang asal usulnya tidak diketahui oleh para Vanadis lain. Viralt miliknya adalah sabit besar Ezendeis yang berkuasa atas kehampaan dan bayangan, yang juga memungkinkannya berpindah tempat dalam sekejap. Sebaya dengan Sofy, namun di balik tampilannya yang ramah dan riang, Valentina menyembunyikan kecerdasan dan ambisi yang teramat besar. Dalam perkembangan cerita di novelnya, terungkap bahwa dirinya keturunan bangsawan Zchted, sehingga walau kecil, dirinya tetap berpeluang untuk mewarisi tahta.
  • Olga Tamm, penguasa wilayah Brest, sekaligus Vanadis berusia paling muda, yang terpilih menjadi Vanadis di usia 12 tahun. Viralt miliknya adalah kapak bernama Muma yang memiliki kekuatan tanah dan dapat berubah ukuran. Berasal dari suatu suku di padang rumput, dirinya terampil bertarung meski belum pernah ke medan perang. Meski ditampilkan mencolok di pembuka dan penutup anime, Olga belum berperan dalam cerita karena dikisahkan tengah berkelana.

The Knight of Moonlight

Para Vanadis dikisahkan berkaitan erat dengan awal mula negara Zchted. Penguasa pertama Zchted konon adalah sesosok naga yang membentuk Zchted sesudah akhir suatu perang besar, dan ketujuh Vanadis generasi pertama adalah permaisurinya. Namun di masa kini, raja penguasa Zchted, Viktor Artur Volk Estes Tsar Zhcted, memiliki hubungan kurang baik dengan para Vanadis karena ketakutan terpendamnya terhadap besarnya kekuatan mereka.

Masing-masing Viralt juga diindikasikan bernyawa dan punya kemauan masing-masing. Lalu selain ketujuh Viralt, ada juga pusaka-pusaka lain dengan kekuatan serupa namun asal-usul sudah terlupakan, seperti pedang Durandal milik Roland serta Busur Hitam misterius yang diwariskan turun-temurun sebagai pusaka keluarga Tigre.

Ada world building menarik yang lumayan di luar dugaan untuk seri sejenisnya. Ceritanya lebih ‘dalam’ dari yang sekilas terlihat, lewat penjabarannya terhadap berbagai perkembangan medan perang serta sejumlah misteri lain yang belum terjelaskan. Beberapa yang menonjol meliputi kuil misterius dewi kematian Tir na Va yang tiba-tiba ditemukan Tigre bersama Titta, dan kaitannya dengan Busur Hitam; serta bagaimana pria misterius yang memberikan naga-naga pada Thenardier; sekaligus Duke Ganelon sendiri, mungkin sebenarnya bukan manusia…

Kalau hanya menilai dari gaya ilustrasi dan desain karakternya, mungkin kau takkan menyangka cerita Madan no Ou to Vanadis bisa sedalam ini.

Soal desain karakternya sendiri? Ahaha, ada beberapa temanku yang terganggu. Tapi aku pribadi tak terlalu mempermasalahkannya.

…Uh, terlepas dari itu…

Bicara soal teknis, aku seriusan kagum dengan bagaimana Sato Tatsuo-san berhasil merangkum cerita lima buku ini dalam 13 episode. Pacing-nya terbilang bagus lagi. Walau demikian, berhubung detil perkembangannya yang perlu banyak dipaparkan, cara penyampaiannya mungkin takkan cocok dengan sebagian orang. Kau perlu sedikit imajinasi untuk benar-benar menikmatinya. Beliau banyak menggunakan potongan-potongan CG untuk menggambarkan situasi di medan perang, dengan memakai model bidak-bidak catur untuk mewakili setiap pasukan, lengkap dengan narasi dan sebagainya. Jadi kuakui, memang perlu sedikit waktu untuk terbiasa.

Daripada tampilan perang besarnya sendiri, rasanya seperti kita kerap diberi hanya ringkasannya saja. Meski begitu, untuk memajukan plot, cara ini efektif. Ditambah lagi, tampilan aksi yang sesungguhnya lebih ada pada permainan senjata para Vanadis serta kemampuan memanah Tigre.

Kemampuan memanah Tigre di sini maksudku bukan hanya ‘mengenai sasaran dari tempat yang benar-benar jauh.’ Dengan panahnya, dia lebih kayak, melakukan hal-hal gila yang membuat orang-orang di sekelilingnya bereaksi, “Enggak mungkin!” gitu.

Bicara soal visual, berhubung CG banyak dipakai untuk penggambaran pasukannya yang banyak, hasil akhirnya agak campur aduk. Ada bagian-bagian yang enak dilihat sih. Lalu terlepas dari beberapa aksinya yang keren, ada juga bagian-bagian yang kurang. Untuk benar-benar bisa menghargai, kurasa kau perlu bisa memvisualisasikan ulang  perkembangannya di dalam kepalamu sendiri. Buat aku sendiri, aku sebenarnya lumayan suka apa yang disampaikan.

Aku tak bisa bicara banyak soal audionya. Tapi lambat laun lumayan terasa bagaimana musiknya memang bagus. Lagu pembuka yang dibawakan Suzuki Konomi, serta penutup yang dibawakan Harada Hitomi sama-sama punya iringan orkestra yang memberikan warna kolosal. Rasanya kayak aku enggak langsung suka, tapi ke sananya terasa bagus.

Lalu satu hal yang kusadari; animenya untuk suatu alasan terasa benar-benar lebih serius ketimbang manganya, tapi tanpa melepas selingan komedi serta fanservice-nya. Sejujurnya, ini kali pertama aku menemukan adaptasi anime yang terasa kayak gini.

Kalau Kau Memperlihatkan Kebanggaan, Maka Aku Akan Menunjukkan Kegigihan

Akhir kata, aku telah jadi penggemar seri ini.

Aku suka tema perjuangan yang disampaikannya. Aku suka intrik-intriknya. Aku terkesan dengan penggambaran seperti apa kau harus bangkit kalau melihat orang-orang yang nyata jahatnya sedang mengurus negaramu.

Aku juga suka dengan bagaimana ceritanya secara berkala menampilkan semakin bertambahnya jumlah simpatisan Tigre. Dari yang hanya segilintir, tapi lama-lama jadi banyak, dari tempat-tempat tak disangka, dan semua berjuang untuk tujuan yang sama. Lalu tentu saja, soal bagaimana memiliki keteguhan di hadapan kondisi-kondisi tersulit sekalipun.

Aku tak bisa sepenuhnya bilang ini bagus. Tapi di sisi lain, aku terlanjur sulit buat enggak suka.

Ada satu adegan tertentu yang sempat bikin aku mikir pas ada Tigre ditanya “Apa kau berjuang untuk tujuan yang benar?” Tigre bereaksi dengan tak langsung memberi jawaban. Lalu di adegan itu aku terpikir bagaimana di masa sekarang kita benar-benar kerap susah membedakan mana yang benar dari mana yang salah. Semula kupikir, untuk bisa tahu, yang kau perlukan itu hanya sekedar ilmu. Tapi setelah melihat adegan satu itu, kusadari mungkin ada sesuatu yang lebih dari itu…

Kalau kau berminat mengikuti terjemahan bahasa Inggris novelnya yang dibuat fans, kusarankan untuk segera mencari dan menyimpannya. Terutama sesudah Kadokawa meluncurkan tuntutan DMCA belum lama ini yang ternyata mencakup semua bahasa, dan bukan bahasa Inggris saja.

Kayaknya enggak akan ada season duanya sih. Tapi kurasa itu enggak masalah.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: B; Audio: A; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A

One Punch Man

Kalau kalian belum lihat adaptasi anime One Punch Man yang menjadi sensasi pada musim gugur 2015 lalu, aku serius menyarankan kalian melihatnya. Termasuk bila kalian sudah menjadi penggemar seri manganya.

Buat yang belum tahu, One Punch Man (kadang juga ditulis One-Punch Man, dan sering dibaca ‘wanpanman’, menjadikannya semacam plesetan Anpanman) paling awalnya sekali keluar dalam bentuk webcomic yang dibuat oleh pengarang aslinya, ONE. Sekalipun kualitas gambar yang ONE-sensei buat sendiri itu pas-pasan (begitu-begitu juga, untuk ukuran gambar pas-pasan, menurutku gaya gambar beliau termasuk yang punya ciri khas), seri ini dengan cepat tenar. Lalu konsepnya yang unik lambat laun menarik perhatian Murata Yuusuke, mangaka yang sebelumnya mengerjakan gambar untuk seri olahraga Eyeshield 21. Beliau kemudian menawarkan untuk menggambar ulang komik web yang ONE buat (yang juga masih berlanjut saat ini kutulis) dengan gaya gambarnya sendiri, untuk akhirnya diterbitkan resmi ke penerbit Shueisha.

Hasilnya beneran luar biasa.

Gampangnya, One Punch Man berkisah tentang seorang pria muda yang botak bernama Saitama, yang pada suatu ketika memutuskan untuk menjadi pahlawan pembela kebenaran sebagai hobi. Dirinya telah berlatih keras untuk hobinya ini, sampai ke tingkat di mana dirinya bisa mengalahkan semua musuhnya hanya dengan satu pukulan (one punch). Meski cita-citanya di satu sisi bisa dibilang tercapai, di sisi lain, Saitama frustrasi karena pekerjaan membasmi kejahatan yang dulu diimpikannya kini lebih terasa seperti rutinitas hampa. Semua keasyikan yang dulu dirasakannya sudah tak ada berhubung dirinya yang sekarang sudah terlampau kuat.

Terlepas dari bobot ceritanya sendiri (yang kumaksud, berhubung ini beratnya ke aksi, kalian enggak akan menemukan banyak drama di cerita ini), Murata-sensei kemudian menjadikan versi baru One Punch Man buatannya sebagai semacam media eksperimentasi untuk membuat adegan-adegan aksi. Diserialisasikan digital (secara tak teratur) di Young Jump Web Comics, adegan-adegan aksi di seri manga barunya ini dibuat jadi benar-benar mencolok, dengan pembangunan suasana yang gila-gilaan, sekalipun di hadapan Saitama, musuh-musuhnya takluk cuma dengan satu pukulan. Ini semua diperkuat dengan gaya desain karakter Murata-sensei yang khas, serta perhatian beliau terhadap koreografi aksi yang benar-benar bagus.

Agak susah jelasinnya. Lalu buat kalian yang lebih berminat pada kejutan-kejutan dalam lika-liku cerita, daya tariknya di awal mungkin memang enggak begitu terasa.

Tapi lalu studio MADHOUSE tampil dengan Natsume Shingo sebagai sutradara, Suzuki Tomohiro sebagai pembuat naskah, dan Miyazaki Makoto sebagai penanggungjawab musik. Mereka lalu membuat adaptasi animasi dari seri ini, dengan jumlah episode sebanyak 12 dengan 7 buah OVA pendek dan 1 episode OVA berdurasi biasa.

Hasilnya, sekali lagi, benar-benar luar biasa.

NOBODY KNOWS WHO HE IS!

Anime One Punch Man mengadaptasi cerita dari manganya kira-kira sampai buku kelima. Saat ini kutulis, versi remake Murata-sensei kalau enggak salah sudah sampai buku kesepuluh. Jadi, menurutku kalian enggak perlu terlalu kecewa dengan bagaimana cerita animenya sudah berakhir.

…Maksudku, cerita animenya berakhir di titik yang pas. Sudah ada separuh dari semua cerita di manganya yang sudah ditampilkan. (Kurang dari separuh kalau membandingkannya dengan versi komik webnya.) Di samping itu, proses serialisasi manganya memang terbilang enggak cepat (komik webnya pertama muncul tahun 2009, sementara remake versi Murata-sensei dari tahun 2012). Lalu hei, dengan ketenaran animenya, kemungkinan besar season dua bakal ada di masa yang akan datang.

Soal ceritanya sendiri, sesudah perkenalan tentang siapa Saitama dan kondisinya yang sekarang sering bosan (sebagian karena keuangan yang pas-pasan), cerita berkembang dengan pertemuannya dengan Genos, seorang cyborg muda dengan suatu misi pribadi. Genos langsung syok dengan besarnya kekuatan Saitama. Lalu sesudah nyawanya sempat Saitama selamatkan, Genos jadi menaruh hormat pada Saitama dan langsung memandangnya sebagai seorang guru.

Singkat cerita, sesudah Saitama dengan sedikit enggan akhirnya menerima Genos sebagai murid, Genos mulai menyelidiki asal mula kekuatan Saitama. Genos curiga kalau Saitama sendiri kelihatannya tak benar-benar sadar dari mana kekuatannya berasal. (Genos tak percaya kalau Saitama menjadi kuat karena melakukan push up 100 kali, squat 100 kali, sit up 100 kali, serta lari 10 km setiap hari, dengan ditambah makan yang benar serta sama sekali tak memakai AC baik di musim panas maupun musim dingin… selama tiga tahun sampai botak.)

Lalu seiring dengan itu, Saitama juga jadi mengetahui bahwa dirinya selama ini tak terkenal mungkin karena tak pernah mendaftar ke Asosiasi Pahlawan, yang menaungi para pahlawan di seluruh dunia. Sesudah Saitama dan Genos sepakat untuk mendaftar ke Asosiasi Pahlawan bersama-sama (salah satunya bagi Saitama karena alasan ekonomi), barulah sedikit demi sedikit orang-orang mulai menaruh perhatian terhadap siapa Saitama. Sekalipun, kebanyakan orang masih sulit mempercayai besarnya kekuatan yang dimilikinya.

Tinju yang Membara

Di dunia One Punch Man, ceritanya sering sekali terjadi bencana-bencana berskala besar yang disebabkan oleh monster, bencana alam, organisasi-organisasi kejahatan dsb. Saking seringnya kehancuran terjadi (monster-monster seakan bisa muncul dari mana saja, mulai dari makhluk-makhluk bawah tanah sampai orang yang kebanyakan makan kepiting), kota-kota dibuat sedemikian rupa agar dapat dibangun kembali secara cepat, dan tiap-tiap kota (yang ukurannya memang besar) akhirnya dinamai hanya dengan huruf. (Seperti Z City di mana Saitama tinggal, dengan A City sebagai pusat pemerintahan.)

Di awal mungkin tak begitu terasa, tapi satu alasan yang membuat anime One Punch Man benar-benar bagus adalah pemaparan dunianya ini. Berbeda dari manganya, yang di dalamnya kadang terasa kalau Saitama menang karena ‘plotnya mengharuskan dia menang,’ versi animenya menurutku berhasil menggambarkan kekuatannya lebih baik dengan mengkontraskan lebih jelas dampak yang diberikannya terhadap alam sekitar. Jadi kadang ada pemandangan keseharian yang agak dipanjangkan, yang baru kemudian disorot kembali sesudah suatu adegan aksi terjadi. Atau pada bagaimana saat ada pertarungan dalam kecepatan tinggi, si musuh berlari dengan meraung-raung sementara Saitama dengan muka datar ditampilkan cukup hanya berjalan cepat. Lalu perhatian pada kesunyian lingkungan, pergerakan awan dan angin, dan sebagainya. Kemudian ada sense of scale yang benar-benar dijaga dengan ditampilkan jelas gitu, dengan kehadiran musuh-musuh berukuran kolosal, yang setiap momen pertarungannya ditampilkan secara padat.

Dengan kata lain, One Punch Man menghadirkan adegan-adegan aksi keren yang terus terang, sudah lama sekali enggak kelihatan dalam bentuk anime. Kau tahu, jenis-jenis adegan aksi yang bikin kau semangat untuk mengungkapkan detilnya ke orang lain.

Selebihnya, para karakternya memang menarik. Selain karena desain yang keren, ada  pesan tersirat yang benar-benar dalam yang sebenarnya seri ini punya. Ringkasnya, tentang melakukan suatu perbuatan baik tanpa pamrih serta untuk tidak menjadi congkak dengan apa-apa yang telah didapatkan.

Selain Saitama dan Genos, beberapa karakter menonjol lain seperti Onsoku no Sonic, seorang ninja modern dengan kecepatan tinggi yang memandang Saitama sebagai rival, Mumen Rider yang membuat simpati dengan sikap pantang menyerah dan sepedanya, serta Tatsumaki yang memang menarik seandainya benar ditempatkan dalam posisi heroine (karena faktor cute-nya).

Faktor lainnya lagi… mungkin lagu pembukanya yang dibawakan JAM Project kali ya? Mereka dari dulu memang dikenal sering membawakan lagu-lagu mereka dengan penuh semangat (biasanya untuk anime-anime mecha). Tapi lewat lagu pembuka “The Hero!! ~Ikareru Ken ni Honō o Tsukero~”, menurutku mereka benar-benar melampaui karya-karya mereka yang terdahulu. Sebelumnya aku sering mikir kalau saking kerennya lagu-lagu JAM Project, jarang ada studio yang bisa membuat animasi pembuka yang mengimbangi. Tapi Madhouse berhasil di sini dengan menciptakan suatu animasi pembuka yang benar-benar keren. (Lalu mereka mengkontraskannya di akhir episode dengan lagu penutup yang benar-benar tenang.)

(Kalau kalian penggemar baru JAM Project, beberapa lagu mereka yang jadi favoritku antara lain “HEATS” dari Getter Robo Armageddon, “Savior in the Dark” dari seri GARO, “Stormbringer” dari Koutetsuhin Jeeg, dan “Break Out” dari Super Robot Wars OG: The Divine Wars.)

Akhir kata, aspek teknis dan eksekusi seri ini benar-benar bagus.

Ceritanya diakhiri dengan bagaimana Saitama akhirnya menemukan lawan yang tahan menerima kekuatan satu pukulannya, dengan keselamatan seisi dunia sebagai taruhan pertarungan mereka. Yea, ceritanya belum bisa dibilang tuntas. Masih ada teka-teki yang menggantung. Tapi dengan visi eksekusi sebagus ini, kurasa orang bakal berminat untuk membuat kelanjutannya.

Yah, mari kita berdoa saja.

Penilaian

Konsep: A; Visual: S; Audio: A+; Perkembangan: B+; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A+

Mobile Suit Gundam Thunderbolt

Menjelang akhir Perang Satu Tahun yang dimulai tahun 0079 U.C., Thunderbolt Sector menjadi medan perang strategis yang dapat menentukan arah berkembangnya perang.

Thunderbolt Sector merupakan suatu kawasan shoal zone di Side 4, yang kepadatan bangkai-bangkai kapal dan koloni luar angkasa di dalamnya sampai menghasilkan fenomena listrik statis menyerupai awan-awan petir. Sektor tersebut pada awalnya dikuasai pihak Zeon, yang menggunakannya sebagai salah satu rute logistik utama ke benteng luar angkasa mereka, A Baoa Qu.

Di antara banyaknya puing-puing koloni luar angkasa yang berterbangan, serta kilatan listrik sesekali, Zeon juga menempatkan sejumlah MS Zaku dan Rick Dom yang berperan sebagai sniper untuk memberi penjagaan. Hal tersebut menjadikan Thunderbolt Sector sebagai suatu wilayah yang sangat sulit ditembus.

Seiring dengan memanasnya konflik antara Zeon dan Federasi Bumi, Thunderbolt Sector kemudian menjadi saksi pertumpahan darah antara dua pilot as yang sama-sama memiliki motivasi kuat untuk menaklukkan wilayah tersebut: Perwira Kepala Daryl Lorenz dari Divisi Living Dead (‘Separuh Hidup’) di pihak Zeon; dan Letnan Muda Io Fleming, dari Moore Brotherhood (‘Persaudaraan Moore’) di pihak Federasi Bumi.

Thunderbolt Station, No Border, No War

Kidou Senshi Gundam Thunderbolt, atau Mobile Suit Gundam Thunderbolt, adalah seri manga yang dibuat oleh Ohtagaki Yasuo yang diserialisasikan di majalah Big Comic Superior milik penerbit Shogakukan sejak tahun 2012. Terkait berita penganimasiannya belum lama ini, aku merasa perlu menyempatkan diri untuk membahasnya.

Ohtagaki-sensei sebelumnya dikenal sebagai pengarang seri astronot Moonlight Mile, yang selain manga, juga sempat dianimasikan di tahun 2007 oleh Studio Hibari (sebuah studio lama yang semenjak tahun 2009, kelihatannya tak mengeluarkan proyek orisinil lagi, dan lebih banyak berkarya lewat kerjasama dengan studio lain). Lalu seperti halnya Moonlight Mile, Gundam Thunderbolt juga berakhir sebagai suatu seri ‘aneh’ yang agak enggak biasa, yang jadi alasan kenapa berita penganimasiannya sempat menarik perhatian.

Jadi, Gundam Thunderbolt adalah satu dari sekian banyak manga yang menjadi side story dari Perang Satu Tahun, yakni era yang ditampilkan dalam seri Mobile Suit Gundam yang orisinil. Meskipun anime Mobile Suit Gundam keluarnya tahun 1979 (aku membahas seri paling awal di sini), seri manga yang mengangkat cerita soal era itu masih terus ada dan dibuat sampai sekarang. (Oke, anime Mobile Suit Gundam: The Origin, yang merupakan versi penceritaan ulangnya, belakangan juga diproduksi sih.)

Beberapa anime seperti The 08th MS Team serta MS Igloo juga mengangkat zaman ini. Tapi keduanya proyek orisinil, dan tidak didasarkan seri lain yang sebelumnya sudah ada.

Makanya, begitu produksi anime Gundam Thunderbolt diumumkan, ada sedikit kesan aneh yang fans rasakan. Soalnya, dari sekian banyak seri manga serupa, apalagi yang telah ada selama puluhan tahun, kenapa baru sekarang ada adaptasi anime dari manga yang sifatnya gaiden kayak gini? Kenapa harus Gundam Thunderbolt? Bukannya Crossbone Gundam yang justru selama ini paling penggemar harapkan untuk dianimasikan? (Soal Crossbone, sebenarnya, ada sejumlah faktor pertimbangan tersendiri sih…)

Bahkan Advance of Zeta, yang selama bertahun-tahun membuatku penasaran dengan desain-desain karakter dan mechanya, selama ini terkesan agak dilupakan.

Tapi terlepas dari itu, kalau ditanya soal apakah Gundam Thunderbolt bagus atau tidak, jawabannya jelas. Seri ini bukan seri yang jelek.

Apa seri ini seru atau enggak?

Jawabannya ya, seri ini bisa dibilang seru.

Jazz Akan Terdengar Pada Saat Dia Datang

Ada dua hal menonjol pada Gundam Thunderbolt. Dua hal ini yang membedakannya—dalam artian baik sekaligus buruk—dari beberapa seri gaiden Gundam yang lain.

Pertama, seri ini menonjolkan karakterisasi yang kuat. Gundam Thunderbolt pada dasarnya menceritakan tentang permusuhan antara Io dan Daryl. Keduanya sama-sama pertama kali saling berhadapan di Thunderbolt Sector. Keduanya sama-sama suka musik. Keduanya sama-sama masih muda, dan memiliki kemampuan mengendalikan MS yang jauh melebihi kolega mereka. (Ada kemungkinan yang tak terlalu dielaborasikan kalau keduanya sama-sama Newtype.) Lalu keduanya juga memiliki kompleksitas situasi mereka masing-masing.

Thunderbolt Sector sebenarnya dulunya adalah wilayah koloni luar angkasa Moore, yang telah hancur berkeping-keping akibat serangan Zeon (yang diindikasikan terjadi karena Moore tidak mendukung kampanye mereka dalam menentang Federasi Bumi). Kehancuran Moore sedemikian parahnya, sampai-sampai fenomena listrik statis di antara puing-puing itu terjadi.

Lalu Moore Brotherhood, tempat Io dan kawan-kawannya dari kapal induk kelas-Columbus Bee Hive (‘sarang tawon’) tergabung, adalah orang-orang yang selamat dari insiden kehancuran koloni ini. Mereka melayani Federasi, demi mengalahkan ‘musuh kejam’ yang telah memusnahkan tanah air mereka. Lalu mereka diutus dalam sesuatu yang sebenarnya adalah rangkaian ‘misi bunuh diri’ demi menaklukkan wilayah ini.

Mengawasi Io adalah Cornelius Caca, salah satu teknisi MS di Bee Hive yang sekaligus merupakan sahabat lamanya. Dirinya yang paling bisa memahami sikap eksentrik Io di antara rekan-rekannya.

Memimpin Bee Hive adalah Letnan Komandan Claudia Peer, seorang wanita muda yang berlaku sebagai kapten sementara (acting captain), berhubung pangkatnya yang dinaikkan sesudah sejumlah seniornya meninggal dalam perang. Dirinya tumbuh besar bersama Io dan Cornelius, dan mungkin pernah menjalin hubungan masa lalu dengan Io. Namun seiring perkembangan cerita, tekanan karena harus mengorbankan nyawa anak-anak buahnya semakin menggerogoti mentalnya.

Mewakili Claudia, adalah Graham, seorang pria yang kehilangan istri dan anaknya dalam serangan Zeon, yang juga memiliki dendam terhadap para pejabat elit di pemerintahan Moore karena keputusan yang mereka ambil dulu. Karena itu pula, Graham juga memiliki antipati terhadap Io dan Claudia yang merupakan keturunan keluarga-keluarga tersebut.

Io belakangan terungkap merupakan putra pemimpin koloni Moore yang melakukan bunuh diri sesudah menyebabkan kematian jutaan penduduknya secara tak langsung. Trauma kejadian itu juga yang membuat Io tak benar-benar merasa ‘pulang ke kampung halaman’ setiba mereka di Thunderbolt Sector. Tapi mungkin itu yang justru membuatnya bisa punya pandangan jernih terhadap situasi pertempuran yang terjadi.

Menjaga Thunderbolt Sector adalah suatu unit eksperimental yang disebut Divisi Living Dead, yang sebenarnya dimotori orang-orang Akademi Sains Zeon. Bermarkas di kapal induk kelas-Papua Dried Fish (‘ikan kering’), para anggotanya terdiri atas orang-orang tunadaksa, yang mengaplikasikan suatu teknologi antarmuka baru dari Zeon yang memungkinkan mereka mengemudikan MS sekalipun tak punya tangan atau kaki.

Keluarga Daryl, meski keturunan Zeon, sebenarnya semula tinggal di Bumi karena status mereka sebagai pengusaha. Tapi mereka diasingkan ke luar angkasa sesudah perang pecah. Lalu agar keluarganya diperbolehkan berizin tinggal di koloni, Daryl diharuskan pemerintah untuk terjun ke medan perang. Dalam serbuan pertama Zeon ke Bumi, Daryl kehilangan kedua belah kakinya…

Memimpin Dried Fish adalah seorang kapten tua bernama Burroughs. Tapi kapal mereka lebih digerakkan oleh teknologi baru yang dibawa tim peneliti Akademi Sains Zeon, yang dimotori Professor Kara Mitchum dan J.J. Sexton. Teknologi ini yang memungkinkan Daryl dan kawan-kawannya yang senasib dengannya untuk tetap bisa berperang.

Meski pernah mendapat medali penghargaan karena hasil penelitiannya, Kara adalah wanita muda yang ayahnya ternyata disandera Zeon sebagai tahanan politik karena paham anti perang yang dianutnya. Kara secara pribadi mengawasi Daryl, terutama selepas hubungannya dengan perwira Hoover, kawan lama Daryl. Sedangkan Sexton adalah rekan sesama peneliti Kara, yang mungkin juga menyimpan kekaguman sekaligus perasaan terhadapnya.

“Kenapa aku tak bisa bunuh orang satu ini?!”

Hal kedua yang menonjol tentang Gundam Thunderbolt, adalah aspek mechanya.

Jadi, singkat cerita, seri ini sempat kontroversial di kalangan penggemar Gundam veteran karena menampilkan teknologi yang kelihatan ‘tak sesuai’ dengan zamannya. Meriam sinar jarak jauh Big Gun yang digunakan Zaku dan Rick Dom milik Divisi Living Dead adalah satu hal, karena konon ditenagai oleh generatornya sendiri. Tapi produksi massal Full Armor GM di sisi Federasi? Ledakan-ledakan raksasa bila ada MS meledak? Beam saber berukuran panjang? Senapan sinar laras ganda di balik tameng yang bisa menembak dan membelah secara kontinyu bagaikan pedang?

Haha. Ada fans yang berpendapat teknologinya seolah melompat sepuluh tahun dari seharusnya. Terutama dengan ditampakkannya meriam-meriam MS bertenaga besar serta tembakan-tembakan misil dalam jumlah banyak.

Sebenarnya, ada beberapa penjelasan (yang bisa terasa agak dipaksa) yang masih membuatnya masuk akal sih. Tapi walau penggemar awam mungkin takkan mempermasalahkannya, tetap saja bagi para penggemar veteran, yang akrab dengan seluk-beluk teknologi era Universal Century, it still kinda weirds you out.

Melihatnya bisa membuatmu merasa aneh gitu.

Kerap ada seri MSV yang terkesan melakukan hal ini. Bahkan seri Gundam 0083: Stardust Memory sempat mendapat tanggapan serupa. Tapi, apa ya? ‘Lompatan’ yang ditampilkan di Gundam Thunderbolt memang terasa lebih ekstrim.

Mungkin juga karena bukan cuma satu-dua MS saja, tapi sepasukan MS yang dilengkapi perlengkapan dan persenjataan berat dari kedua belah pihak yang belum pernah terlihat di seri lain. Seakan pihak Moore Brotherhood dan Divisi Living Dead dipersenjatai dengan teknologi tercanggih yang bahkan tak diberikan kepada tentara Federasi atau Zeon yang utama.

Tapi selama kau tak mempermasalahkannya, desain-desain mekanik di seri ini memang keren-keren. Aksinya, di sela-sela porsi dramanya yang intens, benar-benar berkesan. Penggambaran seluk beluk mekaniknya dilakukan dengan cara yang bikin wow yang sudah lama tak kulihat gitu. Dan memang, kalau mau ditelaah, sebenarnya masih bisa dibilang sesuai dengan zamannya (walau terkesan sedikit maksa).

Singkat cerita, tak lama sesudah pertemuan pertama mereka (yang di dalamnya Daryl dkk membantai habis 24 Full Armor GM yang dikirim khusus untuk memburu timnya), Io dipercaya menggunakan MS Full Armor Gundam untuk memburu jejak divisi Daryl sebelum mereka berpindah tempat. MS ini merupakan versi modifikasi eksperimental dari tipe MS yang kemunculannya telah membalikkan arah perkembangan Perang Satu Tahun. Keluaran yang dapat dihasilkannya besar, namun performanya sepertinya tak stabil.Tapi membalikkan perkiraan semua pihak (yang kelihatannya telah mengirim MS yang canggih tapi susah digunakan ini untuk pejuang yang akan dikorbankan), Io berhasil mengeluarkan potensi sesungguhnya dari FA Gundam, dan untuk pertama kalinya menimbulkan ketidakpastian soal siapa yang berkuasa di Thunderbolt Sector.

Desain FA Gundam sangat mirip dengan Gundam orisinil yang digunakan Amuro Ray. Hanya saja MS versi ini dilengkapi dengan lapisan pelindung tambahan pada sekujur badan. Bentuknya agak beda dari desain MSV Full Armor Gundam yang mungkin telah dikenal sebagian orang. Desain Ohtagaki-sensei di sini tampak lebih padat—seperti halnya FA GM yang dilengkapi perisai-perisai ‘menggantung’ untuk menghadapi debris serta serangan dari arah tak terduga—dan dilengkapi dengan pendorong tambahan, sehingga membuatnya memiliki daya serang dan kecepatan yang lebih di atas rata-rata lagi. (Aku lebih baik tak beberkan semuanya agar tak spoiler.)

Menghadapi ancaman FA Gundam milik Io, Divisi Separuh Hidup mempercepat implementasi teknologi antarmuka baru mereka untuk kendali MS melalui sinyal saraf. Sederhananya, seperti semacam versi awal dari teknologi psycommu yang ditampilkan dalam seri-seri Gundam era UC yang lebih lanjut. Hasilnya adalah Psycho Zaku, Zaku dengan mobilitas luar biasa sekalipun dilengkapi persenjataan berat, yang menjadi ancaman baru bagi pihak Persaudaraan Moore.

Namun saat kedua MS ini saling berhadapan, kondisi kedua belah pihak sama-sama sudah di ujung tanduk.

“Selera musikmu jelek.”

Soal artwork-nya, seperti yang sempat kubilang, seri ini juga termasuk enggak biasa.

Sori. Susah menjelaskannya.

Gaya gambar Ohtagaki-sensei seperti bisa bergulir sesuai keadaan. Mulai dari menggunakan garis-garis tebal penuh lekukan untuk menggambarkan nuansa drama yang old school, sampai ke line art rapi dan lurus saat menggambarkan detail-detail mekanis.

Oke. Mungkin kalian perlu melihatnya sendiri agar kebayang.

Intinya, gaya gambarnya agak beda dari yang biasa dilihat orang. Tapi saat kau lihat, kau masih bisa terpukau kok.

Sebenarnya yang menarik adalah gaya penceritaan yang Ohtagaki-sensei gunakan, yang sekilas terasa melompat-lompat atau tersegmentasi, tapi sebenarnya membentuk gambaran utuh begitu kesinambungan antar bab-babnya terjalin.

Pemaparan karakternya agak enggak biasa buat sebuah seri manga Gundam gitu. Ada kesan melankolis dan putus asa di dalam setiap babnya. Selain aspek-aspek mekaniknya, hal ini yang mungkin menjadi salah satu alasan seri ini dipilih untuk diangkat menjadi anime. Apalagi dengan usia para karakter utamanya yang sudah dewasa dan hubungan rumit yang mereka miliki dengan satu sama lain.

Ada suatu stasiun radio bajakan di suatu tempat di Thunderbolt Sector yang kerap memutar jazz, yang sama-sama sering didengar Io dan Daryl lewat radio pribadi mereka masing-masing. Efek listrik di Thunderbolt Sector nampaknya berpengaruh terhadap kepadatan partikel Minovsky, sehingga siarannya sesekali masih bisa tertangkap. Stasiun radio yang berusaha mengusung suara perdamaian itu ironisnya sama-sama kayak malah menjadi BGM konflik antara Io dan Daryl. Apalagi di tengah bentrokan dua armada besar di wilayah tersebut.

Aku suka cara Ohtagaki-sensei mengangkat kebiasaan Io meminta tisu ke Cornelius untuk hidungnya yang meler sebagai penggambaran atas hubungan mereka. Atau bagaimana beliau menggambarkan pemandangan senapan raksasa berjejer di gudang senjata MS, di mana Cornelius dan Claudia berbicara pribadi karena di sana pintu berlapisnya yang raksasa kedap suara.

Tak ketinggalan, armada Mobile Pod Ball (itu loh, benda bulat yang pernah digunakan Shirou Amada di The 08th MS Team) juga masih banyak digunakan dan dipersenjatai untuk pertahanan jarak dekat.

Ditambah juga dengan bagaimana pihak Zeon yang ditampilkan lebih simpatik dalam cerita ini, lewat nasib tragis para karakternya, serta bagaimana sosok Gundam digambarkan sebagai sosok yang begitu membawa mimpi buruk bagi mereka.

Akhir kata, kalau seri ini jadi dianimasikan, aku seriusan penasaran dengan bagaimana hasilnya.

BGM macam apa yang akan mereka gunakan? Apa mereka akan tetap memakai jazz?

Apa ini langkah lanjut dari pihak produsennya untuk me-retcon tahapan perkembangan teknologi MS era UC seiring dengan keluarnya seri The Origin?

Apa masih ada ‘perang’ antar penggemar sesudah mereka melihat bentuk MS-nya sesudah dianimasikan? (Oke, aku takkan menyinggung dulu soal Atlas Gundam. Soalnya, buset, bahkan aku juga saat pertama melihatnya enggak tahu harus berkomentar apa.)

Kalian tahu? Untuk suatu alasan, aku berharap bisa jadi manusia lebih baik begitu animenya keluar. Entahlah. Aku tak merasa bagaimana-bagaimana tentangnya sih. Tapi hal itu terlintas di kepalaku saat melihat betapa serius dan mendalamnya Ohtagaki-sensei dalam menggarapnya, terlepas dari seperti apapun reaksi yang beliau terima.

Dungeon Meshi

Dalam setahun ini, ada seri manga baru yang belakangan terkenal berjudul Dungeon Meshi.

Judul tersebut mungkin belum terlalu dikenal di luar Jepang berhubung proses serialisasinya yang relatif lambat (walau mulai terbit di awal 2014, tankoubon pertamanya saja baru keluar tahun ini, dan bab 16-nya kalau tak salah baru keluar pada Oktober ini). Tapi semua yang sempat memeriksanya kurasa sama-sama sepakat kalau ini seri yang benar-benar bagus.

Dikarang oleh Kui Ryouko, Dungeon Meshi (‘makanan dungeon’, tapi juga dikenal dengan judul Delicious in Dungeon) adalah salah satu seri yang mengangkat premis penjelajahan sebuah dungeon ajaib, seperti yang sering ada di RPG-RPG (seperti seri Danmachi yang belum lama ini terkenal animenya, misalnya), dan berkisah tentang petualangan sekelompok penjelajah yang menempuh perjalanan untuk menembus suatu dungeon penuh bahaya, hanya saja sambil melakukan wisata kuliner (terhadap monster-monster yang mereka kalahkan).

Diterbitkan di majalah harta terbitan Enterbrain (buat yang belum tahu, majalah ini sebelumnya bernama Fellows! dan namanya memang diambil dari Bahasa Indonesia; seri Emma karangan Mori Kaoru yang terkenal juga sebelumnya diserialisasikan di majalah ini), seri ini dibuka dengan takluknya rombongan sang ksatria, Laios, saat melawan seekor naga api, karena kesalahan fatal yang diakibatkan oleh perut yang lapar. Dalam keadaan terdesak, adik perempuan Laios yang sekaligus jadi cleric/penyembuh di grup mereka, Farlyn, menggunakan sisa-sisa tenaganya yang terakhir untuk menteleportasi kawan-kawannya keluar dungeon sementara dirinya sendiri kemudian dimangsa.

Kekurangan uang, kehabisan perbekalan, serta ditinggal dua orang anggota mereka karena masalah uang, Laios dan dua teman seperjalanannya yang masih tersisa: Marcille sang perempuan elf penyihir beserta Chilchak si halfling yang ahli kunci, nekat untuk menjelajahi dungeon sekali lagi demi menolong Farlyn sebelum yang bersangkutan habis dicerna di perut si naga.

Bagaimana cara mereka mengatasi persoalan kurang biaya dan bekal makanan?

Ya dengan menjadikan monster-monster yang telah mereka kalahkan sebagai santapan! Sesuatu yang sebenarnya sudah lumayan lama ingin Laios coba, tapi jelas tidak langsung disetujui teman-temannya…

Kekurangan Gizi Lebih Menakutkan Dari Monster Apapun

Premisnya sederhana sih. Tapi serius, dalam penceritaannya, jadinya jauh lebih menarik dari yang mungkin kalian sangka. Premisnya juga mungkin terdengar mirip dengan Toriko. Tapi serius, hasil akhirnya juga lumayan berbeda.

Pada awalnya, ide Laios ditolak mentah-mentah oleh teman-temannya yang lain. Apa-apaan? Kata mereka. Ditambah dengan reaksi-reaksi dramatis dari Marcille dan Chilchak (terutama Marcille) yang lumayan bikin ngakak.

Tapi Laios yang notabene memang sedikit eksentrik (dirinya sejak dulu punya ketertarikan aneh terhadap monster), di samping karena sudah bertekad untuk tak mengulang kesalahan yang menyebabkan nyawa adiknya terancam, akhirnya nekat mencoba memasak monster kalajengking dan jamur berjalan, yang bisa ditemukan di lantai dungeon paling awal. Laios mencoba memasak dengan berbekal suatu buku petunjuk soal monster, yang juga menyertakan keterangan soal layak makannya, yang diperolehnya entah dari mana.

Upaya pertama mereka kurang membuahkan hasil. Tapi mereka menarik perhatian Senshi, seorang dwarf yang tak kalah eksentriknya, yang rupanya telah lama mendalami ilmu tentang kuliner monster ini. Dengan bimbingan Senshi, baik secara sukarela maupun terpaksa, mulai terbukalah suatu dunia citarasa baru di hadapan Laios dan kawan-kawannya.

Perjalanan untuk menyelamatkan Farlyn, singkatnya, kemudian dimulai.

Untuk Makan Atau Dimakan

Apa yang menakjubkan dari Dungeon Meshi adalah keseimbangan elemen-elemen ceritanya. Ya, ini seri tentang masakan (meski masakan terkait tak mungkin ada di dunia kita). Tapi ceritanya tak pernah sampai melepas elemen-elemen petualangan, intrik, serta perkembangan karakter juga, dan aku bicara begini untuk sebuah seri yang durasinya masih belum panjang!

Genre utama Dungeon Meshi adalah komedi dan petualangan sih. Sorotan utamanya adalah bagaimana Laios dan kawan-kawan selalu bereksperimentasi untuk memasak atau memanfaatkan suatu ‘makhluk’ baru. Lengkap dengan segala harap-harap cemas soal rasanya, sembari memberi kita yang baca sedikit rasa geli sekaligus jijik (mulai dari “Gyaaaaah!” atau “Hiiiii!”) soal seperti apa wujudnya saat masih ‘mentah.’

Tapi Kui-sensei secara luar biasa juga sampai membayangkan seperti apa anatomi setiap monster, lengkap dengan bagaimana cara ideal untuk mengolahnya. Hasilnya benar-benar imajinatif. Lalu yang kumaksud di sini adalah monster-monster yang sering bisa kita temui dalam berbagai RPG gitu, meliputi slime, basilisk, sampai mandrake serta kelpie.

Hasilnya beneran jadi luar biasa, karena Kui-sensei seakan benar-benar memperhatikan bagaimana reaksi setiap karakter atas jenis masakan baru yang akan mereka makan.

Aspek petualangannya juga terasa pada bagaimana latar dungeon-nya disorot. Dikisahkan bahwa dungeon yang mereka jelajahi merupakan sisa-sisa suatu kerajaan megah yang diyakini pernah ada 1000 tahun sebelumnya sebelum tenggelam ke bawah tanah. Peninggalan kerajaan tersebut mulai ditemukan saat monster-monster mulai didapati keluar dari dasar tanah pemakaman di sebuah desa. Lalu semakin dijelajahi ke dalam, semakin didapati bahwa dungeon tersebut telah membentuk suatu ekosistemnya tersendiri.

Kini ditemani Senshi, Laios dan kawan-kawannya menjelajahi dungeon yang berupa suatu kastil raksasa yang dipenuhi monster gitu. Ada jalan-jalan berliku. Ada kotak-kotak harta. Ada jebakan-jebakan tersamar yang tersebar di sepanjang jalan. Semua demi mencapai tempat terakhir di mana mereka sebelumnya ditaklukkan oleh si naga api.

Di samping mereka, ada banyak pula rombongan petualang lain, yang sama-sama bermaksud mencari ketenaran dan harta. Lalu mereka mulai dibuat penasaran juga dengan kebiasaan baru Laios dkk untuk memasak musuh-musuh mereka.

Menariknya, di dunia tersebut, apabila tewas dalam dungeon, selalu ada peluang untuk ‘dihidupkan kembali’ setiap kali sesudah mati, asalkan jasad yang dihidupkan masih ada. Hanya saja Laios dan teman-temannya masih belum tahu apakah seseorang bisa ‘dihidupkan’ bila yang tersisa dari mereka hanya tinggal ‘bubur’ yang keluar bersama kotoran dari dubur naga. Belum pernah ada yang benar-benar ‘mencobanya.’ Makanya, mereka berjuang sekuat tenaga agar Farlyn yang mereka semua sayangi tak sampai perlu menjadi yang pertama.

Semakin jauh mereka berjalan, mulai terindikasi juga ada sesuatu yang tak biasa dengan perjalanan mereka sekarang. Pergerakan monster-monster mulai berbeda. Lalu si naga api yang mereka kejar juga mulai memasuki wilayah-wilayah dungeon yang biasanya tak ia datangi.

Sepanjang malam, perutnya terasa seolah sedang dipahat dari dalam…

Meski punya gaya artwork yang terkesan sederhana, seri ini ternyata lumayan fleksibel dalam menampilkan ekspresi, latar, serta sekaligus adegan-adegan aksi. …Ya, seri ini juga ada adegan-adegan aksinya. Mungkin enggak sampai kayak di Toriko sih. Tapi bagaimanapun, tetap saja ada adegan-adegan melawan monster. Lalu penggambarannya sering cukup seru.

Ini termasuk seri yang banyak tulisan, jadi kesannya mungkin emang agak bikin keder di awal. Tapi hasilnya jauh dari buruk kok. Bahkan detil-detil proses memasak, yang mungkin jadi apa yang membosankan kalau di konteks lain, malah sering jadi bagian cerita paling menarik di seri ini.

Sekali lagi, karakter-karakternya juga berkembang. Sedikit demi sedikit, semakin dipaparkan seperti apa kepribadian masing-masing karakter utamanya. Laios misalnya, adalah orang aneh tapi dapat diandalkan. Marcille juga handal, andai dirinya mau… um, berpikiran lebih terbuka. Lalu Chilchack intinya hanya ingin teman-temannya tak ingin menyusahkannya. Lalu semakin lama kita ‘berpetualang’ bersama mereka, ceritanya juga makin seru.

Rasanya sulit untuk tak simpati terhadap Marcille setiap kali ada makanan baru yang mau mereka coba.

Jadi, belakangan, mungkin karena aku sudah dewasa sekarang, aku banyak mikir tentang bagaimana aku mesti bisa masak. Tak perlu bisa masak yang rumit-rumit. Intinya, asal bisa cukup menikmati makan. Soalnya, manusia gimanapun akan selalu perlu makan. Aku enggak mau jadi tipe orang yang mati kelaparan hanya karena enggak tahu gimana cara masak beras.

Makanya, seperti yang Laios sadari, yang namanya makanan itu penting.

Pastinya, melalui seri ini, aku jadi tersadarkan akan pentingnya keseimbangan gizi sekaligus rasa syukur sesudah kita makan. Kurasa, dua hal tersebut sebenarnya berdampak besar pada kesehatan kita.

Mudah-mudahan bisa cepat diterbitkan di sini dengan terjemahan bagus.

Wagatsuma-san wa Ore no Yome

Karena suatu alasan (yang juga sebenarnya enggak kupahami), sekitar beberapa bulan lalu, aku mengikuti perkembangan manga Wagatsuma-san wa Ore no Yome (juga dikenal sebagai My Wife is Wagatsuma-san, yang kurang lebih berarti ‘Wagatsuma-san adalah istriku’). Ini seri manga komedi karangan Kuraishi Yuu sebagai pembuat cerita, dan Nishikida Keishi yang membuat gambar; yang diserialisasikan di majalah Weekly Shonen Magazine milik penerbit Kodansha, dan tamat persis setahun lalu.

Jadi, judul ini sempat masuk berita ketika tamat. Kalau enggak salah, disebutkan kalau salah satu alasan tamatnya karena si pengarangnya bilang mereka terlalu capek menulis manga sembari bekerja di supermarket (Kalau kalian baca Bakuman, mungkin kalian sudah tahu kalau bekerja sambilan sambil mengarang manga merupakan hal lumrah. Apalagi kalau manga kalian enggak laku-laku amat.). Lalu entah bagaimana, alasan tersebut kayak menempel di kepalaku. Aku jadi penasaran, sampai akhirnya mencoba mencari tahu soal kayak apa sebenarnya manga ini.

Singkat cerita, si tokoh utama, Aoshima Hitoshi, adalah seorang anak SMA kelas dua yang sama sekali tak keren dan menonjol. Bersama dua orang temannya, Aoshima hanya menduduki bangku cadangan di klub bola voli di sekolah mereka, SMA Zaishou, dan seakan telah ditakdirkan menjalani masa remaja yang sama sekali enggak berkesan. Sampai pada suatu hari, Aoshima mengetahui kalau dirinya ternyata seorang time slipper.

Buat kalian yang enggak tahu time slipper itu apa (kayaknya konsep ini emang udah lama enggak muncul di cerita-cerita sains fiksi), pada dasarnya itu semacam orang yang tiba-tiba bisa terlempar ke titik-titik waktu yang berbeda tanpa sebab yang jelas. Tanpa mesin waktu atau lorong waktu apapun.

Intinya, pada beberapa kali saat akan tertidur, Aoshima tahu-tahu akan mendapati dirinya berada di masa depan, sudah lebih dewasa, dan telah menikah dengan idola sekolah yang cantik dan pandai dan populer dan punya banyak teman, yang telah lama ditaksirnya: Wagatsuma Ai.

Sebelum sempat ada apa-apa yang serius yang dilakukannya terhadap bersama Ai, Aoshima selalu akan mendapati diri terseret kembali ke masa kini kembali dalam keadaan kebingungan. (Jadi kalian yang mengharapkan sedikit fanservice mungkin akan agak kecewa juga). Lalu karena lumayan sering terjadi, mulailah Aoshima penasaran apakah pengalaman-pengalamannya ini nyata atau hanya sekedar delusi/halusinasi belaka.

Jawabannya? Tentu saja nyata. Karena belakangan ia sadar ada poin-poin tertentu dalam setiap pembicaraan yang dilaluinya di masa depan yang entah bagaimana berhubungan dengan situasinya di masa sekarang.

Conflicted Memories

Total bab seri ini adalah 108. Kalau mau jujur, sebenarnya, ini bukan seri manga yang bisa dibilang bagus. Plotnya agak meluber ke mana-mana. Jumlah tokohnya banyak. Lalu karakterisasinya kadang kurang konsisten. Jadi dengan 108 bab saja, ceritanya beneran kerasa udah lumayan panjang. Namun demikian, ada suatu hal mengesankan yang enggak bisa disangkal yang seri ini punya. Hanya saja kalau disuruh menjelaskan hal itu apa, aku juga agak kesusahan menjabarkannya.

…Berhubung ini dimaksudkan sebagai seri komedi, ada lumayan banyak adegan lucu dalam ceritanya sih. Adegan-adegan konyol khas(?) komedi cinta gitu. Ada Aoshima dan teman-teman anehnya yang sama-sama notabene jomblo dan ingin bisa balas dendam pada orang-orang populer di sekolah mereka. Ada soal persahabatan. Ada soal isu-isu sosial juga.  …Ada banyak perkembangan aneh di ceritanya (yang enggak selalu melibatkan urusan perjalanan waktu). Ada banyak karakter menyebalkan. Lalu di antara ini semua, kadang-kadang, ada adegan-adegan romantis dan drama yang sebenarnya lumayan menyentuh.

Jadi intinya, ceritanya adalah soal kehidupan masa SMA si Aoshima, yang enggak benar-benar bisa dibilang memuaskan, tapi juga enggak bisa dibilang mengecewakan.

Daya tarik terbesar seri ini sebenarnya adalah bagaimana melalui kemampuannya ke masa depan, Aoshima jadi tahu ada calon-calon istri lain yang dipunyainya selain Wagatsuma. Semuanya adalah orang-orang yang ditemuinya di zaman SMA. Maka Aoshima berusaha sepenuh hati berjuang agar apapun yang terjadi, Wagatsuma yang tetap kelak jadi istrinya di masa depan. Cuma, kadang semua upayanya ini berujung ke hasil-hasil yang enggak terduga.

Masalahnya, walau premisnya menarik, sekali lagi, suka ada banyak hal yang kerasa enggak konsisten gitu, baik dari sisi karakterisasi atau alur ceritanya. Ditambah lagi, calon-calon istrinya yang lain sebenarnya adalah karakter-karakter yang lebih menarik dari Wagatsuma. Jauh lebih menarik, malah. Makanya, rasanya mengecewakan bagaimana dengan semua itu, tak ada perkembangan cerita berarti yang lebih mendalam lagi.

Memang lumayan mengecewakan. Tapi ceritanya memang lebih baik tamat kayak gini daripada enggak tamat sama sekali.

Soal artwork, gaya gambarnya lumayan rapi dan menarik. Ini salah satu seri yang di dalamnya lumayan kelihatan pertumbuhan kemampuan si pengarangnya. Menjelang akhir cerita, gaya desain karakter Nishikida-sensei juga kayak sudah sepenuhnya berbeda dibandingkan sebelumnya, dengan tampilan beberapa karakter perempuannya yang benar-benar manis (dan tampang si Aoshima yang agak berubah.), serta penggambaran suasana yang bisa benar-benar bagus. Nuansa dramanya, terlepas dari semua kekonyolan yang ada, terkadang bisa benar-benar kena.

Makanya, terlepas dari keluhan-keluhanku, ini seri yang lumayan menempel di kepala. Lalu lagi-lagi aku lumayan kecewa karena tak ada kelanjutan atau karya lebih lanjut dari mereka.

Ahahaha.

“Di masa depan aku kerja sebagai apa?!”

Kayak biasa, alasan aku membahas hal ini sekarang adalah karena aku sedang stres. Ya, aku stres soal kerjaan. Ya, aku juga stres soal hal-hal lain.Tapi mungkin kenyataan aku stres sekarang adalah tanda aku masih hidup dan berjuang. Menulis ini sekarang, aku jadi tersadar sudah lama enggak ada seri komedi yang menurutku berkesan kayak gini lagi. Walau perasaanku terhadap seri ini agak campur aduk, seri ini tanpa bisa disangkal memang mengesankan.

Kembali membahas soal jodoh-jodoh si Aoshima, sampai sekarang, aku masih merasa gimanaa gitu dengan keputusannya menolak para calonnya yang lain. Karena kayaknya dia enggak benar-benar punya alasan kuat buat bersama Wagatsuma juga. Tapi sesudah aku memikirkan lagi… entahlah.

Soalnya, nyatanya, kadang kita enggak benar-benar tahu landasan logis di balik keputusan-keputusan yang kita ambil. Kita seringnya kayak, melakukannya gitu aja. Lalu kita malah yakin dengan keputusan kita gitu.

It’s weird.

Akhir kata, bila ada salah satu dari kalian di luar sana yang merupakan time slipper, tolong jangan terburu-buru memutuskan kalian maunya istri kalian siapa. Soalnya latar belakang buat keputusan-keputusan kayak gitu biasanya jauh lebih rumit daripada yang terduga sih.

(Oya, ngomong-ngomong aku sengaja enggak membahas soal para perempuan lain selain Wagatsuma karena mengetahui soal mereka bisa agak spoiler.)

Soal tamat ceritanya?

Perkembangan karakternya sekali lagi enggak jelas. Tapi tamatnya bisa dibilang happy ending sih. Mungkin kalau mau ngekhayal, bahkan bisa agak mendekati harem end?

Argh, sudahlah.

Gimanapun, terserah siapa yang dipilihnya, laki-laki sejati pokoknya harus sanggup membahagiakan pasangan yang dipilihnya!

Owari no Seraph

(Catatan: bila kau membaca ini karena tertarik untuk membaca seri manganya, tanpa melihat dulu animenya, sangat aku sarankan untuk tak membaca tulisan ini sampai sekurangnya kau sudah membaca sampai bab ketiga.)

Tak jauh di masa depan, suatu wabah penyakit misterius tiba-tiba menyerang dunia dan menewaskan seluruh orang dewasa. Di tengah kekacauan, kaum vampir keluar dari persembunyian mereka dan mulai mengambil alih kekuasaan atas peradaban.

Hyakuya Yuuichirou, salah satu anak manusia yang dijadikan budak untuk diambil darahnya secara teratur oleh para vampir, kemudian melarikan diri bersama keluarganya dari kota bawah tanah di mana mereka ditahan. Namun tragedi terjadi, dan Yuuichirou diselamatkan oleh Ichinose Guren, seorang perwira dari Gekki no Kumi/Moon Demon Company, kesatuan khusus tentara Kekaisaran Jepang yang bertugas melawan vampir.

Bergabung dengan Gekki no Kumi dan mengetahui masih ada manusia yang hidup di atas permukaan tanah, Yuuichirou berusaha keras untuk menjadi kuat agar bisa membalas dendam.

Dunia Urat Nadi

Anime Owari no Seraph, atau Seraph of the End – Vampire Reign (arti judulnya kira-kira adalah: ‘malaikat hari akhir’; subjudul vampire reign kurang lebih berarti: ‘era kekuasaan vampir’), dianimasikan oleh Wit Studio (yang belakangan tenar lewat animasi Attack on Titan dan Houzuki no Reitetsu), dan diangkat dari seri manga aksi fantasi gelap buatan Kagami Takaya dan Yamamoto Yamato, dengan dibantu Furuya Daisuke. Manganya diserialisasikan secara bulanan di majalah Jump Square punya penerbit Shueisha dari perempat akhir tahun 2012, dan sampai kini masih berlanjut.

Pertama ditayangkan pada musim semi 2015 lalu, disutradarai oleh Tokudo Daisuke, dan direncanakan sebanyak 24 episode yang dibagi ke dalam dua musim tayang, season kali ini mengadaptasi cerita manganya kira-kira sampai buku keempat. Adaptasinya lumayan setia, dengan hanya sedikit perubahan urutan dalam penceritaannya saja. Lalu cour berikutnya dijadwalkan untuk tayang pada bulan Oktober ini.

Sebenarnya, aku sempat kebingungan mengetik ini. Satu, karena agak sulit menulis tentangnya tanpa terlalu memberikan spoiler. Dua, karena memang aku agak bingung baiknya mulai dari mana.

Owari no Seraph berlatar di sebuah dunia post-apocalyptic di mana kehancuran besar-besaran telah terjadi. Jalanan aspal sudah rusak ditumbuhi ilalang. Bangunan-bangunan besar sudah rubuh, pecah kacanya, dan hanya tinggal puing-puing. Komunikasi dengan negara-negara lain terputus. Lalu monster-monster besar yang disebut Horsemen of Apocalypse berkeliaran dan membatasi pergerakan manusia.

Mengambil waktu beberapa tahun sesudah pelarian Yuu, ceritanya pada dasarnya mengeksplorasi hubungan Yuuichirou dengan orang-orang di sekelilingnya. Ini meliputi Guren yang telah menyelamatkannya, teman-teman setimnya yang baru di Gekki no Kumi, serta sahabatnya yang dibesarkan di panti asuhan yang sama dengannya, Hyakuya Mikaela, yang tertinggal di pihak kaum vampir dan ‘dibesarkan’ oleh mereka.

Hubungan Yuu dan Mika yang terutama menjadi penggerak cerita. Mereka berkeinginan untuk saling menolong satu sama lain. Tapi ada begitu banyak hal yang tak diketahui oleh masing-masing, yang menyebabkan perbedaan pada tindakan dan cara pandang mereka.

Break it down for me

Aku termasuk yang pertama tahu tentang Seraph of the End dari manganya. Desain artwork Yamamoto-sensei terbilang keren. Tapi yang pertama menarik perhatian bagiku sebenarnya adalah nama Kagami-sensei sebagai pengarangnya.

Kagami-sensei sebelumnya telah dikenal sebagai pencetus cerita untuk seri Densetsu no Yuusha no Densetsu serta Itsuka Tenma no Kuro Usagi. Keduanya pertama keluar sebagai light novel, sebelum diadaptasi ke berbagai media lain, dan keduanya juga sama-sama telah diangkat menjadi anime. Tapi terus terang, sebelum Owari no Seraph keluar, aku sempat punya perasaan campur aduk terhadap karya-karya beliau. Apa yang beliau buat biasanya punya adegan-adegan aksi yang seru sih. Hanya saja, kadang ada sesuatu yang benar-benar aneh dengan tema dan gaya cerita yang beliau angkat. Mungkin ada sesuatu di pemaparannya, atau gimana.

Buat yang belum tahu, membaca sendiri Denyuuden atau Itsutenma mungkin akan langsung membuat kalian paham sih.

Tapi terlepas dari itu, Owari no Seraph, pas pertama keluar sebagai manga, benar-benar mengejutkanku karena kualitasnya seakan jauh melebihi karya-karya beliau yang sebelumnya. Premis dan perkembangan ceritanya langsung menarik perhatian. Adegan-adegan aksinya keren. Lalu para karakternya—yang biasanya, mungkin karena masalah selera, berada di ambang suka dan enggak—lebih bisa kusukai dari karakter-karakter beliau yang sebelumnya.

Karena itu, aku lumayan penasaran begitu mendengar kabar kalau ini akan dianimasikan.

Meski klise, hal paling pertama yang seri ini angkat adalah soal isu persahabatan dan kepercayaan. Yuuichirou, meski terbilang kuat untuk usianya, punya masalah sangat parah dalam kerjasama tim. Lalu meski sangat sederhana pemaparannya, hal ini ternyata disebabkan karena ia masih belum mampu merelakan orang-orang yang ditinggalkannya di masa lalu dulu. Dalam hati ia kayak bertanya, ‘Gimana bisa aku sekarang menikmati pertemanan dengan orang lain kalau teman-temanku yang dulu aja enggak bisa kujaga?’

Lalu ini terutama menjadi isu, karena kaum vampir, selain kemampuan mereka menghisap darah, bahkan yang paling lemahpun, juga memiliki kemampuan fisik yang jauh melebihi manusia. Karenanya, sangat tidak disarankan untuk menghadapi mereka sendirian.

Hal ini yang kemudian coba Guren perbaiki dengan memaksa Yuuichirou untuk bersekolah kembali.

Bagian awal seri ini banyak mengeksplorasi hubungan Yuuichirou dengan teman-teman yang kemudian menjadi anggota timnya: si teman sekelas Hiiragi Shinoa, seorang gadis remaja sebaya Yuu, yang ternyata berpangkat lebih tinggi dalam militer, dan secara khusus telah Guren tugasi untuk mengawasinya; Saotome Yoichi, anak lelaki lemah lembut sasaran bullying, yang bersikeras untuk bisa bergabung dengan Gekki no Kumi; Kimizuki Shihou, remaja tinggi berkacamata yang sama penyendirinya dengan Yuu dan kerap bertengkar dengannya (hanya saja nilai-nilainya lebih bagus); dan Sanguu Mitsuba, gadis muda setara Shinoa yang secara tak disangka kemudian diberi tugas untuk memimpin tim mereka.

Bagi banyak orang, Shinoa terutama yang menjadi karakter paling menarik di seri ini. Terlepas dari kemungilannya, dirinya cantik dan manis, tapi dengan sifat suka menyindir dan mulut yang sangat sarkastis. Shinoa terus terang yang menjadi salah satu daya tarik terbesar Owari no Seraph, dan aku kenal orang-orang tertentu yang menjadi penggemar seri ini semata-mata karena dia doang.

Shinoa juga yang kemudian membeberkan pada Yuu tentang bagaimana pihak tentara Jepang menemukan cara untuk menandingi para vampir, yakni melalui pemakaian Demon Weapon (Cursed Gear, Kiju Soobi).

Demon Weapon merupakan persenjataan khusus yang di dalamnya ada demon bersemayam. Dari dalamnya, si demon meminjamkan kekuatan mereka kepada penggunanya, meningkatkan kekuatan mereka sampai sekian kali lipat. Tapi untuk memperolehnya, masing-masing calon penggunanya harus sanggup menahan ujian mental dari sang demon sebelum menjalin kontrak.

Seperti kebanyakan seri aksi genre shonen lainnya, ada penjelasan teknis lanjut tentang Demon Weapon ini. Secara umum terbagi menjadi dua jenis: tipe manifestasi, yang memunculkan sebagian wujud sang demon dari dalam senjata di sisi penggunanya, yang meski relatif lebih lemah, biasanya turut diimbangi dengan adanya suatu kemampuan khusus; serta tipe perasukan, yang mana sang demon sedikit demi sedikit merasuki si penggunanya dan secara nyata memberikan mereka kekuatan lebih. Lalu ini semua menjadi makin menarik dengan bagaimana asal mula para demon ternyata berkaitan dengan kaum vampir.

Ada lumayan banyak misteri dalam ceritanya. Seperti soal dari mana wabah virus berasal, motivasi kebencian kaum vampir atas manusia, serta perpolitikan di dalam Gekki no Kumi sendiri, terutama sesudah terungkap bagaimana klan-klan paling berkuasa di kemiliteran nampaknya mempunyai agenda mereka masing-masing.

Semuanya kembali berpusar pada suatu proyek rahasia yang kelihatannya dulu dijalankan pihak manusia, dan melibatkan Yuu dan Mika sewaktu mereka masih anak-anak: proyek misterius Seraph of the End, yang mungkin telah menjadi pemicu sesungguhnya kehancuran dunia.

Your salvation has begun

Buat mereka yang tertarik, Demon Weapon masing-masing tokoh utama meliputi:

  • Asuramaru milik Yuu, berbentuk katana, tipe perasukan, yang menguji tekad Yuu lewat visi-visi masa lalu tentang Mika dan kawan-kawan lamanya dari panti asuhan Hyakuya.
  • Shikama Douji milik Shinoa, berbentuk sabit besar, tipe manifestasi, yang secara akrab Shinoa panggil dengan sebutan ‘Shi-chan’.
  • Gekkouin milik Yoichi, berbentuk busur, tipe manifestasi, yang sebelumnya menggoda ketakutan Yoichi dengan traumanya atas kematian kakak perempuannya.
  • Kiseki Ou milik Kimizuki, berbentuk pedang kembar, tipe perasukan, yang menarik sisi gelap Kimizuki lewat gambaran tentang adik perempuannya yang terkena gejala virus dan perlu perawatan medis.
  • Tenjiryuu milik Mitsuba, berbentuk kapak perang raksasa, tipe manifestasi, yang Mitsuba bawa bersama beban rekan-rekan setimnya yang lama, yang tewas mengorbankan nyawa untuknya.

Kesemuanya merupakan Demon Weapon dari Black Demon Series, yang merupakan kelas tertinggi, dan karenanya menjadikan tim yang dipimpin Mitsuba ini semacam tim elit terlepas dari usia muda para anggotanya.

Satu tambahan yang patut disebut adalah Mahiru-no-Yo milik Guren, berbentuk katana dan tipe perasukan, yang di dalamnya diindikasikan bersemayam roh mendiang kakak perempuan Shinoa, Hiiragi Mahiru.

Owari no Seraph memiliki kualitas adegan-adegan aksi yang konsisten. Bukan jenis aksi yang ‘pertarungan,’ melainkan lebih ke aksi jenis ‘pertempuran.’ Di balik semuanya, kelihatan banget betapa rapi penataan segala sesuatunya. Aksinya selalu menceritakan narasinya secara efektif, dengan koreografi yang selalu enak dilihat, meski mungkin akan agak kurang memuaskan buat yang lebih suka aksi tipe ‘pertarungan.’

Para vampir memiliki pedang-pedang khusus mereka sendiri, yang mendapat kekuatan dari menyerap darah mereka, menjadikan bilah mereka mencolok dengan warna merah (secara keren berlawanan dengan kesemua Demon Weapon yang berwarna hijau). Ada monster-monster besar yang dihadapi, ada pesenjataan militer seperti misil dan helikopter yang kemudian digunakan para vampir untuk kepentingan mereka sendiri, ada tembok-tembok besar yang dibangun manusia untuk menyegel wilayah aman mereka. Hasilnya beneran keren, terutama dengan bagaimana semua berlatar di dalam reruntuhan kota Tokyo.

Di pihak para vampir, selain Mika, hadir pula Crowley, vampir maskulin bertubuh kekar yang beberapa kali menjadi lawan yang jauh melampaui kekuatan Yuu dan seluruh timnya; Ferid Bartory, sosok vampir leluhur (ketujuh) yang dianggap sebagai penyebab kemalangan Yuu dan Mika; serta Krull Tepes, vampir leluhur lain (ketiga) yang memprakarsai perang terbuka baru antara para vampir dan umat manusia.

Bahkan Guren dan timnya, yang lebih senior daripada Yuu, tak digambarkan overpowered. Bahkan di hadapan para vampir pun, mereka pun masih bisa terdesak dan nyaris mati.

Ceritanya tertata lebih keren dari yang mungkin kau duga gitu, dengan banyak elemen penting yang baru kelihatan berarti sesudah cerita berkembang.

It’s the pain that makes us all human, after all…

Bicara soal teknis, anime Owari no Seraph mencolok karena gaya visualnya yang mengandalkan lukisan tangan. Ada kesan 2D mulus dari visualnya gitu. Latar belakang dunia yang sudah hancur jadi tergambarkan secara unik, penuh tetumbuhan dan nuansa alam, sembari menonjolkan warna-warna kuat. Ada beberapa adegan di mana lingkungan sekelilingnya jadi terkesan ‘statik’, tapi hasilnya enggak jelek dan tetap punya daya tarik tersendiri.

Dari segi audio, seri ini juga termasuk kuat. Sawano Hiroyuki, yang kini sudah tenar sesudah aransemennya di Guilty Crown dan Aldnoah.Zero, yang menangani sebagian besar soundtracknya. Campuran irama khas beliau lumayan cocok dengan nuansa kesendirian dan pengharapan yang seri ini bawa.

Oke. Walau sejauh ini aku mengatakan hal-hal baik tentangnya, memang ada beberapa alasan mengapa seri ini termasuk yang ‘rata-rata’ pada musim semi lalu sih.

Seperti yang sudah kusebut di atas, meski termasuk yang lebih baik, seri-seri buatan Kagami-sensei memang jenis yang hanya akan cocok buat sebagian orang. Kerap ada sesuatu yang ‘enggak biasa’ pada gaya penceritaan dan fokusnya. Soal ini agak susah menjelaskannya.

Di samping itu, ada juga tema soal vampirismenya, yang juga mungkin membuat kurang nyaman sebagian orang lain. Terutama dengan bagaimana adegan-adegan penghisapan darahnya digambar dengan penuh perhatian di seri ini.

Di samping itu lagi, yang kembali bisa menjadi turn off, adalah adanya beberapa hint BL antara beberapa karakter utamanya. Seperti antara Yoichi dan Yuu (di mana Yoichi yang cengeng memeluk Yuu karena lega bisa melihatnya kembali), antara Kimizuki dan Yuu (seperti saat keduanya dalam keadaan diborgol bersama), dan terutama antara Yuu dan Mika (seperti pada bagaimana Ferid terus-terusan menyebut Yuu sebagai ‘tuan putri’-nya Mika, dan bahkan ada adegan di mana Mika menggendong Yuu dengan gaya princess carry). Tapi semua ini benar-benar terasa lebih seperti fujoshi bait dan fanservice. Sebab anehnya, aku sendiri enggak langsung sadar dengan semua ini sampai temanku menunjukkannya. Adegan-adegan aksinya begitu hati-hati, Shinoa ditampilkan begitu manis, dan bahkan ada adegan tarian gemulai yang Krull lakukan di animasi pembuka, sehingga aku enggak benar-benar bisa bilang seri ini bukan buat cowok.

…Jadi, intinya, kalau kalian termasuk jenis yang bisa suka, ya kalian bakal suka. Tapi mending kalian jangan memaksakan diri.

“Tembak dia, Yoichi! Bunuh keparat itu!”

Season pertama Owari no Seraph berakhir persis sesudah pertemuan kembali antara Yuu dan Mika, dalam suatu insiden yang nyaris menewaskan mereka semua. Kesannya lumayan keren karena ditutup dengan pembeberan soal betapa berkuasanya keluarga Shinoa dan Mitsuba, serta bagaimana keluarga Hiiragi sudah mulai bergerak, yang sampai membuat Guren memperingatkan Yuu tentang pada siapa ia harus menaruh kesetiaannya.

Jadi, apa ya, meski ini seri khas shonen yang ceritanya tak perlu ditanggapi terlalu serius (dan terlepas dari semua elemen itu di dalamnya), aku mesti mengakui kalau ceritanya kadang-kadang bisa menjadi lebih berbobot dari yang aku kira. Aku terutama terkesan dengan bagaimana Yuu dipaksa untuk bisa menerima masa lalu untuk bisa melangkah ke depan.

Aku juga suka musiknya.

… …

Yah, oke. Mungkin itu sih sudah jelas enggak perlu disinggung.

Di samping manga, Owari no Seraph juga memiliki seri light novel yang mengetengahkan kisah masa lalu Guren dan kawan-kawannya sewaktu mereka seusia Yuu. Ceritanya dipenai sendiri oleh Kagami-sensei, dan secara keren lumayan melengkapi apa-apa yang terjadi di manganya. Dalam hal ini, soal nasib sesungguhnya yang menimpa Hiiragi Mahiru, serta sejarah apa yang dimiliki Asuramaru…

Gaya tulisan Kagami-sensei memang takkan cocok dengan semua orang (sebagian mungkin malah menganggap tulisan beliau gampangan). Tapi buat mereka yang bisa menikmatinya, benar-benar terasa seperti ada sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Seri ranobe terbaru Kagami-sensei yang lain, Mokushiroku Arisu/Apocalypse Alice, juga termasuk salah satu yang kusukai.

Akhir kata, aku lumayan penasaran dengan seperti apa season lanjutannya pada Oktober nanti. Manganya masih berlanjut. Jadi apa mereka masih akan mempertahankan ceritanya agar setia?

Lalu ngomong-ngomong soal Oktober dan masa tayang musim gugur nanti, kayaknya ini bakal jadi musim yang benar-benar bisa sarat dengan anime aksi? Yah, kita lihat saja nanti.

Oke. Aku juga suka Shinoa!

Dia chara yang akhirnya mendamaikan aku dan temanku dalam perang abadi kami soal oppai dan pettan!

Puas?

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A; Audio: A+; Perkembangan: B+; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A-

Orange

Maaf lama enggak nulis. Bahkan di musim liburan kemarin, weird things kept on happening one after another.

Terlepas dari itu, bahasan kali ini adalah manga shoujo Orange (‘jingga’, atau ‘jeruk’) karya Takano Ichigo, yang belum lama ini telah dibuat versi live action layar lebarnya (dengan Tsuchiya Tao dan Yamazaki Kento sebagai pemeran utamanya). Manga ini pertama diserialisasikan bulanan di majalah Bessatsu Margaret punya Shueisha di tahun 2012, sebelum kemudian pindah ke majalah Monthly Action (yang anehnya, bergenre seinen) milik penerbit Futabasha pada tahun 2013, dan dijadwalkan akan tamat serialisasinya sebentar lagi. Alasan aku menulis ini mungkin ada kaitannya dengan isu penyesalan yang agak melanda beberapa teman di sekelilingku belakangan.

Yeah, tema manga satu ini sedikit banyak tentang itu.

Semua orang punya penyesalan. Ada orang yang seluruh masa lalunya menjadi penyesalan. Orang yang hidupnya seolah didefinisikan oleh penyesalan itu. Lalu ada juga orang-orang yang menjadikannya sebagai landasan untuk terus maju.

…Atau merasa bego.

Entahlah.

Tapi terlepas dari semuanya, sebelum aku mulai, biar aku nyatakan dulu: manga ini beneran bagus. Ini salah satu manga shoujo paling bagus yang pernah aku baca. Aku sama sekali enggak kaget dengan gimana seri ini akan diangkat menjadi film drama. Artwork-nya beneran keren dan nuansa dunia dan karakternya dapet. Karena temanya yang tentang penyesalan itu, awalnya cerita ini agak susah buat kubaca (karenanya aku menunda-nunda untuk membahas ini, walau sejak akhir tahun lalu, seri ini sudah diterjemahkan di sini oleh M&C). Tapi sesudah dipaksain, hasilnya beneran memikat.

…Uh, yeah, ceritanya agak sedih.

Emang mungkin bikin cerita soal penyesalan tapi membuatnya enggak sedih?

Tapi itu tak menutup kemungkinan kalau ceritanya akan berakhir dengan memuaskan kok.

Surat

Orange berlatar di kota Matsumoto, di perfektur Nagano. Pada musim semi saat ia berusia 16 tahun, pada hari pertama tahun ajaran baru, seorang gadis pemalu bernama Takamiya Naho, yang memiliki hobi menulis diary, mendapat surat dari dirinya sendiri yang berada sepuluh tahun di masa depan.

Surat itu datang melalui pos. Bagaimana surat itu sampai ke rumahnya, Naho tak bisa menjelaskan. Tapi saat ia coba baca, surat itu secara tepat menyebut bagaimana hari itu ia telat menyetel alarm sehingga terlambat bangun. Surat itu juga menyebut bagaimana kelasnya hari itu kedatangan seorang murid pindahan dari Tokyo, seorang anak lelaki bernama Naruse Kakeru. Lalu surat itu dengan tepat menyebutkan juga bagaimana Kakeru kemudian mendapat tempat duduk di sebelah Naho.

Kebingungan, Naho mendapati ada beberapa hal yang kemudian disarankan dalam surat itu. Tentang apa-apa yang akan terjadi, tentang apa-apa yang sebaiknya Naho lakukan. Lalu dengan takut sekaligus penasaran, Naho mencoba mengikuti apa-apa yang ditulis di dalamnya.

Seperti soal ajakan Naho dan teman-temannya untuk mengajak Kakeru pulang bersama-sama, sesuatu yang Naho baiknya coba lakukan soal giliran memukul dalam kegiatan softbol pada pelajaran olahraga. Tapi yang terutama membuat Naho tergetar adalah bagaimana surat itu menyebutkan secara tepat bahwa dua minggu sesudah pertemuan pertama mereka, Naho akan jatuh cinta pada Kakeru.

Lalu itupun, ternyata juga menjadi kenyataan.

Hati yang Menyesal Takkan Berubah Sampai Sepuluh Tahun Berikutnya

Agak sayang kalau aku membahas lebih jauh. Karena seri ini seriusan lebih keren kalau dibaca sendiri.

Di samping Naho yang pemalu, tak percaya diri, punya kecendrungan memendam perasaannya (aku merasa aneh menulis ini karena ada seorang teman dekatku yang sifatnya agak seperti dia; apa ada banyak protagonis manga shoujo yang kayak gini? Apa temanku ini enggak sebaiknya menjadi protagonis sebuah manga shoujo aja?!) tapi sebisa mungkin ini menolong orang; serta Kakeru yang jarang memperlihatkan senyumnya, tapi sangat pemerhati; karakter-karakter utama lain yang berperan besar di seri ini meliputi:

  • Murasaka Azusa; teman dekat Naho yang ceria, yang juga menjadi moodmaker di antara mereka
  • Kayano Takako; teman dekat Takako yang cool dan pendiam, dan memiliki aura seorang kakak perempuan
  • Hagita Saku; sahabat lama Azusa yang agak aneh, dan kadang enggak peka terhadap keadaan, tapi tetap termasuk tampan bila kacamatanya dilepas
  • Suwa Hiroto; sahabat dekat Naho dan lainnya, sangat ramah dan terbuka, pandai sepakbola, pemerhati, orang yang pertama berinisiatif untuk mengajak Kakeru menjadi bagian dari mereka, tapi juga yang telah paling lama memperhatikan Naho sebelum Kakeru datang…

Membahas soal teknis, desain karakter dan dunianya benar-benar keren. Kota Matsumoto ini benar-benar ada, dan di sepanjang cerita kita akan dibawa ke berbagai pelosok yang juga didatangi oleh Naho dan kawan-kawannya. Penggambaran pemandangan dan suasananya benar-benar bagus. Selalu ada suatu perasaan lembut yang terbawa dalam penyampaiannya gitu.

Perkembangan ceritanya juga benar-benar mulus. Dengan sedikit demi sedikit mulai diungkap apa-apa sebenarnya yang telah dialami oleh Naho yang di masa depan, yang dibeberkan lewat kilas balik terhadap apa-apa yang sudah terjadi lewat sudut pandang karakter lain. Kenapa surat itu dikirim dan penyesalan apa yang melanda Naho di masa depan menjadi hal yang terkuak secara menarik dengan tempo yang pas.

Karakterisasinya menarik dan simpatik. Bahkan Hagita yang agak bebal pun bisa kita sukai sesudah kita lebih tahu tentang dia. Pembuatan dialognya itu keren. Bagian awal cerita di mana para karakter membahas soal asal nama Azusa seriusan keren, dan kekeranan pengaturan adegan ini terus terbawa di sepanjang cerita.

Seriusan, ini seri drama yang bagus. Walau temanya sekilas seperti sudah biasa, eksekusi ceritanya benar-benar matang dan mengesankan.

Bagian awalnya aja bisa kerasa udah lumayan menohok.

Lalu Suwa merupakan karakter cowok yang…

Argh. Sudahlah.

Ini seri yang akan aku rekomendasikan buat mereka yang suka cerita-cerita seperti ini.

Ah, buat yang penasaran, judulnya mengacu pada sesuatu yang Kakeru berikan atas kebaikan hati yang Naho perlihatkan padanya. Tapi soal itu kubiarkan kalian mencari tahu sendiri.

Kakeru, karena suatu alasan yang benar-benar pribadi, ternyata bunuh diri. Lalu surat itu dikirimkan agar Naho dan kawan-kawannya dapat mencari cara untuk menolong Kakeru.

Heroine Shikkaku

Belum lama ini, di dekatku ada orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai Aliansi Dunia Ini Suram. Mereka tipe orang-orang yang setiap ada kesulitan, sedikit-sedikit akan mengatakan, “Dunia ini suraam! Dunia ini suraaam!” Sampai aku jadi mikir kalau mereka ingin menjadi penerus ideologi Itoshiki Nozomu-sensei sesudah ia menemui bad end ketika seri manga Sayonara Zetsubou-sensei tamat.

Walau terkesan mendramatisir, aku setuju soal bagaimana dunia ini suram sih. Kelihatannya selalu ada hal-hal enggak enak yang terjadi pada setiap saat, yang kayaknya akan semakin bertambah kalau melihat perkembangan dunia sekarang.

Anehnya, hal-hal tersebutlah yang terpikir olehku saat aku mencoba memeriksa Heroine Shikkaku.

Heroine Shikkaku (‘No Longer (the) Heroine’; ‘bukan lagi sang tokoh utama perempuan’, atau ‘tokoh utama wanita yang gagal’) merupakan seri manga shoujo karangan Kouda Momoko. Seri ini diterbitkan bulanan di majalah bulanan Bessatsu Margaret terbitan Shueisha, berjumlah 10 buku, dan diserialisasikan dari tahun 2010 sampai tahun 2013(?).

Agak mengingatkan pada kasus Strobe Edge dan Ao Haru Ride, aku memeriksa Heroine Shikkaku karena seri ini dikabarkan akan memperoleh film layar lebarnya sendiri pada sekitaran September 2015 nanti, dengan Kiritani Mirei (yang manis dan ekspresif) sebagai karakter utama.

“Naaaaagaaaajimaaaaaaaaaaaaa!” *menangis*

Premis cerita Heroine Shikkaku termasuk sederhana.

Sang tokoh utama, Matsuzaki Hattori, suatu hari syok saat mendapati sahabat cowok dekatnya sejak kecil yang tampan, Terasaka Rita, jadian secara serius dengan seorang gadis berpenampilan datar bernama Adachi Miho.

Terasaka sebenarnya pernah jadian beberapa kali dengan cewek-cewek lain. Tapi biasanya dengan sepintas Hattori bisa melihat bahwa Terasaka tak benar-benar serius dengan mereka. Kenyataannya, Terasaka dan siapapun ceweknya saat itu pasti akan putus baik-baik tak lama kemudian. Karenanya, Hattori selalu merasa peran sebagai heroine bagi Terasaka pasti lambat laun akan jatuh kembali padanya, berhubung rumah mereka dekat dan keduanya sangat akrab sejak kecil.

Tapi Adachi, yang sebelumnya sempat di-bully oleh anak-anak lain di sekolahnya karena keenggakmenarikannya ini, suatu hari ditolong oleh Terasaka, jatuh cinta, dan tak lama kemudian melakukan confession terhadapnya. Yang kemudian dengan ringannya diterima oleh Terasaka seperti yang biasa dia lakukan. Lalu Hattori sedikit demi sedikit mulai panik saat menyadari bahwa kondisi jadian Terasaka kali ini tidak normal, serta mungkin Adachi lebih pantas menjadi heroine bagi Terasaka daripada dirinya.

Untuk Sesaat Benar-benar Terlihat Seperti Pangeran

Tema dasar Heroine Shikkaku benar-benar terbilang menarik. Ada banyak adegan di awal cerita yang lumayan bisa ‘kena’ ke banyak orang. Terutama dengan penggambaran karakter Hattori—yang notabene secara fisik lebih cantik ketimbang Adachi—yang egonya membuatnya memandang rendah Adachi dan sulit menerima kenyataan yang terjadi.

Hattori jelas-jelas menjadi pihak yang ‘salah’ dalam hal ini. Tapi dengan segala tingkah Hattori yang (ehem) putus asa, menangis, mencoba menyabot hubungan Adachi dan Terasaka, menangis lagi, curhat ke Nakajima Kyouko yang adalah sahabat dekatnya, menangis lagi lagi, lari dari kenyataan, mencoba menjalin hubungan sesaat dengan si playboy ganteng Hiromitsu Kousuke (yang diam-diam agak memusuhi Terasaka), menemukan pencerahan lewat zen(?), sampai melarikan diri dari kenyataan lagi; lumayan mudah buat kita untuk simpati dan mengerti posisinya. Semua dilandasi oleh kegalauan soal apakah ia sebaiknya terus memperjuangkan Terasaka atau lebih baik move on. Lalu kalau aku boleh bicara dari pengalamanku pribadi, itu memang pertanyaan yang agak sukar dijawab.

Heroine Shikkaku semula menarik dibaca sebagai manga komedi karena segala tingkah dan ekspresi Hattori yang di satu sisi agak menyedihkan, tapi di sisi lain lumayan kocak. Gaya gambar Kouda-sensei kerap kali berubah-ubah untuk menyamai kondisi mental Hattori; salah satu yang mencolok saat ia mulai menggambar Hattori (saja) dengan gaya gambar manga shoujo tahun 70an untuk menekankan tekad Hattori untuk bersikap sebagai seorang heroine klasik dan ideal (yang akhirnya gagal total ia lakukan).

Serius, ekspresi Hattori sedemikian beragamnya, mulai dari saat-saat ia selalu menangis minta tolong pada Nakajima (yang merupakan karakter favoritku di seri ini, karena betapa cool-nya dia, walau ia lama-lama exasperated juga dengan sahabatnya ini), yang mana Hattori suka digambarkan dengan gaya ala Nobita di Doraemon; sampai ke saat-saat ia bisa tiba-tiba bangkit karena emosinya dan seakan berubah jadi super saiyan.

Tapi baru pada pertengahan seri, segala sesuatunya benar-benar menjadi serius.

Aku agak susah menjelaskannya, dan lagi, mungkin juga ini cuma aku. Tapi tahu-tahu saja, selain karena ekspresi-ekspresi Hattori, ceritanya juga jadi menonjol karena seringnya ada perkembangan situasi yang agak bikin ternganga. Ternganga dalam artian, “Gyah!” yang bisa bikin mikir, “Dosa apa aku ampe bisa di situasi kayak giniii?” yang pokoknya bisa bikin aneh karena saking ‘Apa-apaan?!’-nya.

…Yah, sebagian situasi itu disebabkan memang karena kebodohan Hattori sih.

Sebenarnya, pada titik ini juga mulai kerasa kalau Kouda-sensei memang tak langsung merencanakan kalau ceritanya bakal sepanjang ini. Ada elemen-elemen cerita yang jadi kerasa dimasukin karena ‘bisa masuk,’ meski kurang sesuai dengan tema awalnya. Tapi aku merasa sudah masuk terlalu jauh buat mundur pada titik ini, sekalipun beberapa perkembangan ini rada bikin enggak nyaman.

…Soalnya, meski agak susah buat aku telan, apa yang dikisahkan memang terasa bisa terjadi pada orang-orang di dekatku sih.

“Kita adalah tokoh utama dalam kisah hidup kita masing-masing.”

Akhir kata, aku lumayan penasaran versi film layar lebar live action-nya nanti akan seperti apa. Apa benar Kiritani-san nanti berhasil meniru keragaman ekspresi Hattori? (Walau kabarnya Hattori memang dimodelkan dari Kiritani-san sendiri sih.)

Kalau kalian tanya soal apa seri ini bagus atau enggak, aku cuma bisa sebatas bilang kalau pastinya, seri ini lebih menonjol dari rata-rata. Soal bagus atau enggak, kurasa yang satu ini agak tergantung kalian. Tapi aku pribadi berpendapat kalau ceritanya akan lebih bagus seandainya Kouda-sensei berhasil memfokuskan ceritanya pada bagaimana Hattori berusaha menyikapi hubungan Terasaka dan Adachi.

Perkembangan situasi aneh yang para karakternya alami ini kayak menandai kalau ceritanya enggak akan melulu soal itu. Jadinya, perkembangan ceritanya itu kayak berkesan di satu sisi, tapi menakutkan di sisi lain gitu.

Memang masih mengikuti trope-trope tipikal sebuah seri shoujo. Tapi keanehan-keanehannya itu benar-benar lumayan mengangkat alis. Mulai dari bagaimana Terasaka terungkap sebenarnya bukan cowok yang ‘baik’ juga, bagaimana Hiromitsu mulai jadi cowok yang lebih baik dan berhenti main cewek karena Hattori (soal ini mungkin sudah agak klise sih), soal Nakajima yang mulai agak-agak bisa dibuat ‘deg’ karena Terasaka, sampai ke soal Adachi yang gara-gara semua drama ini, ternyata berubah dari siswi yang dikenal baik di mata para guru menjadi siswi yang agak ‘kurang baik.’

…Yeah, aku jadi terdiam agak lama sesudah membereskan ini. Soalnya, aku merasa ada beberapa hal yang terasa dibuat terlalu seenaknya pada saat menjelang akhir.

Setidaknya, sesudah memeriksa seri ini, aku jadi tersadar kalau aku lebih suka perempuan berambut pendek ketimbang berambut panjang. Jadi meski membuatku merasa suram, hei, seenggaknya aku jadi tahu satu hal baru tentang diriku sendiri!

Karena temanya, mungkin ini jenis seri yang di sini lebih cocok diserialisasikan oleh Level Comics.

Agak tak biasa buat seri-seri shoujo kayak gini, untuk seri satu ini aku mendapati diri ada di camp Hiromitsu. Mungkin karena itu aku kurang puas dengan akhir ceritanya.