Archive for ‘manga’

11/09/2017

Mobile Suit Gundam: Iron Blooded Orphans (Season 2)

Kalian tahu kalau es krim Cornetto? Ada beberapa jenis tertentu yang enaknya cuma di awal-awal. Sesudah dimakan sampai ke dasar cone, meski masih ada cokelatnya, kadang yang tersisa hanya sensasi kering bikin haus yang beda sama sekali dengan kenikmatan manis di awal.

Apa kita puas sehabis memakannya? Yeah, mungkin masih. Tapi tetap saja, belakangnya sedikit mengecewakan karena enggak seenak bagian depannya.

Aku tadinya mau bahas season kedua Kidou Senshi Gundam: Tekketsu no Orphans segera sesudah animenya tamat. Aku bahkan menyiapkan kerangka tulisannya segala. Tapi begitu beres mengikutinya, kata-kata untuk menjabarkannya kayak enggak bisa keluar. (Ini bahasan season kedua, yo. Bahasan season pertama bisa ditemukan di sini.)

Alasannya mirip perumpamaan es krim Cornetto tadi.

Season dua Gundam IBO berdurasi 25 episode. Penyutradaraannya masih ditangani Nagai Tatsuyuki. Naskahnya masih ditangani Okada Mari. Musiknya masih oleh Yokoyama Masaru yang benar-benar sedang naik daun. Produksi animasinya masih oleh studio Sunrise. Musim gugur tahun 2016, episode pertamanya tayang.

Sambutan para penggemar lumayan antusias.

Dibandingkan seri-seri Gundam terdahulu, Gundam IBO benar-benar enggak biasa. Struktur ceritanya ‘ajaib’ dan susah ditebak. Perkembangannya sedemikian berbeda dari seri Gundam manapun sebelumnya. Karena itu, buat mereka yang bisa suka, seri ini benar-benar terbilang berhasil menarik fans lama maupun baru.

Tapi semuanya lalu memuncak dengan tamat yang… uh, agak susah dilupain.

Selain itu, musim tayang kali ini punya kesan lebih eksperimental. Aku bisa mengerti kalau ada banyak juga yang jadinya enggak suka dengan season ini.

Sisi baiknya: cerita Gundam IBO berakhir lumayan tuntas. Enggak banyak plot menggantung yang tersisa.  Tapi lebih banyak soal itu mending aku bahas di bawah.

Senang Bisa Kembali

Musim kedua ini berlatar dua tahun (walau ada sumber yang menyebut enam bulan; kayaknya yang bener dua tahun sih) sesudah berakhirnya Pertempuran Edmonton. Musim kali ini mengisahkan bagaimana kelompok Tekkadan pimpinan Orga Itsuka terlibat lebih jauh dalam intrik perpolitikan dunia internasional Gjallarhorn beserta keempat blok ekonomi (African Union, Oceanian Federation, SAU, dan Arbrau) di zaman Post Disaster.

Rinciannya menyebalkan kalau dipaparkan.

Ringkasnya, Tekkadan telah memperoleh kedudukan mereka di Mars. Mereka kini punya cabang di Bumi. Mereka bahkan berperan sebagai konsultan militer untuk perombakan pertahanan di pemerintahan blok ekonomi yang menaungi mereka, Arbrau.

Kudelia Aina Bernstein hidup terpisah dari keluarganya dan bekerja di Admoss Company, mengelola pengolahan dan distribusi bahan tambang strategis halfmetal dengan Bumi. Suatu panti asuhan telah didirikan untuk anak-anak terlantar di Sakura Farm. Kedua adik perempuan Biscuit Griffon, Cookie dan Cracker, sama-sama telah disekolahkan. Tekkadan sendiri secara resmi telah berada di bawah naungan langsung Teiwaz. Mereka kini memiliki kedudukan sejajar dengan kelompok Turbines yang dulu menampung mereka. Singkatnya, masing-masing berupaya membuat kehidupan di Mars jadi lebih baik.

Tapi, seperti yang Atra Mixta kemukakan di awal cerita, dunia sebenarnya masih belum berubah. Bahkan, keadaan mungkin telah bertambah buruk.

Hilangnya wibawa Gjallarhorn membuat kewenangan mereka diragukan. Pemberontakan dan kerusuhan terjadi di banyak tempat. Lalu yang menyedihkan, kemenangan Tekkadan atas Gjallarhorn seakan memperlihatkan pada dunia besarnya potensi yang dipunyai prajurit anak-anak. Akibatnya, semakin banyak anak-anak terlantar yang jadinya dilibatkan di medan perang dan dipaksa menjalani operasi berbahaya Alaya-Vijnana. Jumlah budak human debris bertambah. Mobile suit sekali lagi dikenali nilai militernya. Suatu balapan seolah dimulai untuk memulihkan dan memperbaiki apa-apa yang tersisa dari zaman perang besar.

Cerita dibuka dengan munculnya pihak-pihak yang, ringkasnya, mengajak Tekkadan berantem.

Sedikit demi sedikit, terindikasi ada pihak-pihak tertentu yang bermain di belakang pihak lain. Terkuak keterhubungan antara satu dengan yang lain. Perpecahan di dalam tubuh Gjallarhorn kemudian terjadi, yang ujung-ujungnya mempertaruhkan masa depan seluruh dunia.

Kajian Proklamasi Vingolf

Tokoh utama season sebelumnya, Mikazuki Augus, kembali berperan sebagai tangan kanan Orga. Mika kini mengemudikan MS Gundam Barbatos Lupus, perombakan baru dari Gundam Barbatos yang sudah lama ia gunakan. Meski sebagian saraf Mika telah cacat dalam pertempuran di Edmonton, itu tak menghalanginya menjalankan misi sekaligus latihan-latihan fisiknya secara konsisten.

Mika masih menjadi tokoh sentral, tapi season kedua ini sebenarnya lebih memakai pendekatan ensemble cast. Secara bergantian, berbagai karakter lain juga mendapat sorotan.

Orga kini lebih banyak bekerja di belakang layar. Orga kini mengurusi dunia asing di mana dia harus lebih banyak pakai jas dan menghadapi formalitas. Untuk itu, Orga banyak dibantu Merribit Stapleton untuk administrasi dan Dexter Culastor untuk keuangan.

Eugene Sevenstark mewakili Orga untuk manajemen langsung di Mars. Bersama-sama Eugene, Norba Shino, Akihiro Altland, dan Dante Mogro serta kawan-kawan lain menjaga penambangan halfmetal di Chryse yang dikelola Admoss Company dan melatih anggota-anggota baru.

Di antara anggota-anggota baru tersebut, termasuk di antaranya Hush Middy, yang sempat bingung dengan bagaimana kenyataan Tekkadan berbeda dari bayangannya; Dane Uhai yang berbadan besar dan pendiam; serta Zack Lowe, yang semula terkesan bergabung dengan Tekkadan lebih karena ikut-ikutan.

Di tempat lain, mantan human debris Chad Chadan dipercaya mengurusi cabang Tekkadan di Bumi. Dia dibantu sepeleton anggota Tekkadan yang dikoordinir Takaki Uno. Takaki merasa menempuh hidup baru karena adik perempuannya, Fuka, kini ikut bersamanya.

Chad sendiri heran dengan kepercayaan ini. Apalagi dengan bagaimana orang berlatar belakang pendidikan minim sepertinya jadi berhadapan dengan para pembesar Arbrau, termasuk sang perdana menteri sendiri, Makanai Togonosuke. Mereka turut dibantu seorang pria rekomendasi Teiwaz bernama Radice Riloto yang mengurusi bidang administrasi dan keuangan.

Masalah timbul saat seorang pria asing bernama Allium Gyojan muncul.

Gyojan adalah perwakilan kelompok aktivis Mars garis keras Terra Liberionis. Dirinya diindikasikan adalah pihak anonim yang sekian tahun silam memasukkan nama Kudelia ke pertemuan Noachis July Assembly. Di pertemuan yang memulai segalanya itu, Kudelia menyampaikan pidatonya soal kondisi Mars yang berujung pada berubahnya banyak hal. Gyojan kini ingin memanfaatkan Kudelia yang kini tenar. Untuk itu, Gyojan bahkan mengancam Kudelia lewat hubungan yang dipunyainya dengan Dawn Horizon Corps.

Dawn Horizon Corps adalah kelompok pembajak berskala besar pimpinan Sandoval Reuters. Mereka berbasis di luar angkasa dengan jumlah pasukan yang besar. Mereka tak senang dengan kemajuan Tekkadan. Karenanya, mereka bersedia untuk bersekongkol dengan Gyojan. Tapi, Tekkadan juga tak tinggal diam dengan ancaman ini.

Lewat koneksi ke Gjallarhorn melalui McGillis Fareed, Tekkadan kemudian mendapat cukup bala bantuan untuk berhadapan dengan Dawn Horizon Corps dan Terra Liberionis sekaligus. Tapi yang tak Tekkadan sadari, ini juga menyeret mereka ke dalam pusaran konflik internal  Gjallarhorn, yang dilandasi ambisi besar McGillis untuk menghancurkan tatanan dunia.

Macam-macam Kekuatan

Satu hal yang sempat bikin kaget dari Gundam IBO adalah premis cerita di season ini.

Berbeda dari seri-seri Gundam lain, konflik utama di seri ini timbul bukan karena alasan pribadi para tokohnya. Pemicunya lebih bersifat eksternal. Para tokohnya bahkan sempat dikasih pilihan untuk terlibat di dalamnya apa enggak.

Konflik ini jadi hal paling menarik sekaligus menyakitkan dari seri ini. Ceritanya tragis, tapi dengan cara berbeda dari seri Gundam manapun sebelumnya. Benar-benar susah mengumpamakan Gundam IBO dengan seri Gundam lain karena ceritanya saking beda sendiri.

Intinya, terjadi perseteruan antara dua pihak paling berpengaruh dalam Gjlallarhorn. Sebagaimana dikisahkan dalam season satu, meski berkuasa di Bumi, kekuatan terbesar Gjallarhorn adanya di luar angkasa. Pasukan di luar angkasa ini terpisah lagi menjadi:

  • Outer Earth Orbit Regulatory Joint Fleet (‘armada gabungan pengelola orbit luar Bumi’) yang kini dipimpin oleh McGillis Fareed, yang ditugaskan di sekitar orbit Bumi.
  • Outer Lunar Orbit Joint Fleet (‘armada gabungan orbit luar Bulan’) atau yang dikenal dengan nama Arianrhod, yang dipimpin oleh karakter baru Rustal Elion. Sempat ditampilkan di season terdahulu, mereka yang ditempatkan di luar orbit Bulan, dengan wilayah pengawasan lebih jauh dari Bumi yang berbeda dari McGillis.

Persaingan hidup mati McGillis melawan Rustal adalah inti konflik sesungguhnya seri ini.

McGillis, karena masa lalu pribadinya, memiliki ambisi untuk menghancurkan tatatan dunia yang sekarang. Sesudah konflik di Edmonton di season sebelumnya, kekuasaan tiga dari tujuh marga Seven Stars yang berkuasa di Gjallarhorn: keluarga Fareed, Bauduin, dan Issue; telah jatuh ke tangannya.

Di belakangnya, McGillis didukung seorang ajudan sangat setia bernama Isurugi Camice yang terlahir di luar angkasa. Kepada McGillis juga, Tekkadan berpihak. Tapi keberpihakan Tekkadan ke McGillis lebih karena alasan balas budi atas bantuannya melalui aliasnya, Montag, dan bersifat give and take, ketimbang karena mendukung ideologinya.

Di sisi lain, Rustal merupakan salah satu pahlawan terbesar yang kini dimiliki Gjallarhorn. Dirinya karismatik, cerdas, dan tangguh. Meski demikian, dirinya hampir tidak bermoral dan cenderung menghalalkan segala cara. Rustal ceritanya telah bisa membaca niat McGillis dan telah pula menduga hal-hal keji yang dilakukannya untuk meraih kekuasaan. Karenanya, Rustal akan melakukan segala yang bisa dilakukannya untuk menghalangi dominasi McGillis.

Di pihaknya, Rustal didukung oleh Iok Kujan, seorang pemimpin Seven Stars lain yang muda dan karismatik, tapi tidak kompeten; serta Julietta Juris, seorang pilot muda dengan asal usul dari luar Bumi yang juga sangat setia terhadapnya. Di belakang layar, di pihak Rustal juga hadir seorang pria bertopeng besi bernama Vidar yang misterius, yang memiliki misi pribadi untuk menghentikan McGillis.

Season 2 Gundam IBO pada dasarnya mengetengahkan adu siasat dan pengaruh antara dua orang ini. Keduanya sama-sama telah menguasai separuh dari organisasi. Keduanya juga menjalankan ‘perang boneka’ terhadap satu sama lain (salah satunya bahkan antara Arbrau dan SAU) sebelum memuncak dengan perang sesungguhnya antara mereka.

Tekkadan dan sekutu-sekutu mereka hanya terseret-seret saja.

Lalu iya, siapa yang baik dan siapa yang buruk jadinya tidak benar-benar jelas.

“Kita tak lagi bisa berhenti kalaupun kita mau.”

Season 2 IBO susah dibicarakan secara netral dan objektif. Karenanya, mending kita bahas soal teknis saja dulu.

Soal animasi, kualitasnya kurang lebih setara dengan musim lalu. Visualnya secara umum masih enak dilihat. Sebagian aksinya juga masih benar-benar seru. Tapi kualitasnya enggak sepenuhnya bisa aku bilang solid. Alasannya karena ada beberapa bagian yang kualitasnya tiba-tiba melemah atau dalam penggambarannya, tidak jelas apa yang baru saja terjadi. Ini terutama terasa dalam adegan-adegan mecha yang berlatar di luar angkasa.

Hmm. Aku juga belum yakin alasannya kenapa.

Penjelasannya mungkin berkaitan dengan konsep latar zaman Post Disaster. Kalian tahu, yang tidak menggunakan senjata-senjata beam? Mungkin cara koreografinya jadi sedemikian berbeda dibandingkan seri-seri Gundam lain. Intinya, dengan gimana pertempuran melee (jarak dekat) jadi lebih harus diutamakan ketimbang tembak-tembakan.

Alasan lain, mungkin juga ada kaitan dengan ceritanya yang jadi harus dibuat sedemikian padat. Rasanya tidak sampai terburu-buru sih. Tapi lumayan terasa gimana durasi untuk adegan-adegan aksi menjadi sangat terbatas.

Penjabaran lebih jauh buat aspek-aspek mechanya terasa kayak lebih diperlukan. Agar kita tahu MS satu ini kemampuannya segimana, MS lain bisa apa, dan sebagainya.

Di sisi lain, dari segi audio, kualitasnya cukup mencolok sih. Nada-nada BGM yang Yokoyama-san susun masih memikat. Ada banyak rentang emosi yang berhasil dihadirkan. Di samping itu, lagu pembuka pertama “Rage of Dust” yang dibawakan Spyair beneran keren. Lagu tersebut juga menandai comeback mereka ke kancah permusikan Jepang. Voice acting-nya pun termasuk solid. (Aku juga termasuk yang suka dubbing bahasa Inggris-nya IBO.)

Hanya saja, kayak sebagian aspek lainnya, ada sejumlah arahan yang jadinya mengundang tanya. Ini terutama terasa menjelang akhir cerita, ketika nuansa seri secara menyeluruh berkesan sendu dan melankolis. Agak susah menjelaskannya sih. Tapi kadang ada bagian-bagian yang terasa mengherankan kenapa dibikinnya demikian.

Tapi tetap saja, kalau ditanya bagus atau enggak, terlepas dari arahan kreatifnya, kualitas teknis IBO selalu lebih condong ke bagus. Meski iya, ada semacam kegajean juga jadinya.

Terlepas dari semuanya, lumayan tercermin bagaimana tim produksinya mengalami keterbatasan. Karenanya, mereka tetap patut mendapat pujian karena berhasil get the job done. Kalau aku tak salah, studio Sunrise juga menangani beberapa proyek lain di waktu yang sama. Mungkin proyek Gundam Thunderbolt yang lumayan memakan cukup banyak sumber daya. Jadi, gimana produksi Gundam IBO (secara argumentatif) masih bisa berakhir  bagus patut dihargai.

Nah, soal pendapatku pribadi: aku sebenarnya enggak punya masalah dengan apa yang diceritakan di seri ini. Dengan kata lain, aku enggak keberatan dengan gimana si A jadi matilah, atau si B jadi bernasib beginilah, dsb. Buatku pribadi, cerita Gundam IBO juga masih terbilang memikat dari awal hingga akhir.

Bahkan soal McGillis, yang di luar dugaan menjadi ‘karakter penggerak’ untuk seluruh cerita di seri ini, terus terang, aku cenderung condong ke pendapat yang menyukai dia. Aku cenderung setuju soal gimana dia salah satu ‘karakter Char’ paling menarik yang pernah diciptakan. Ya, ‘kejatuhan’ McGillis itu sangat menyakitkan. Tapi masa lalunya yang enggak enak, serta bagaimana McGillis sampai sedemikian dibutakan ambisinya sendiri juga sedemikian mirip tragedi masa lalu dan motif misterius Char Aznable di film layar lebar Char’s Counterattack.

(Adegan-adegan aksi menjelang akhir tetap masih kurang memuaskan sih. Enggak sampai jelek, tapi enggak sampai mendebarkan juga.)

Masalah yang sangat aku punya dengan season 2 Gundam IBO  ada pada cara pemaparannya. Pada bagaimana segala sesuatunya ditampilkan dan dijelaskan, terutama di bagian akhir.  Soalnya, entah gimana, pada suatu titik, nilai-nilai cerita yang berusaha disampaikan kayak bisa ambigu atau bahkan melenceng dari semula. Para karakter utama jadi terkesan sengaja disiksa-siksa. Bahkan, bisa-bisa ada yang malah jadi menanggapi kesimpulan ceritanya secara nihilistik.

Aku mengerti ada nuansa ‘abu-abu’ yang mau diberikan. Tapi caranya kayak ada yang… salah gitu? Sesuatu di penyampaiannya menurutku terlalu tiba-tiba dan kurang runut untuk hal sesensitif ini.

Pada akhirnya, meski banyak pengorbanan terjadi—dan aku seriusan enggak keberatan dengan gimana semua pengorbanan dan dendam itu ada—aku pribadi berharap kesannya di akhir bisa lebih dipertegas. Mungkin lebih baik kalau dibuat lebih optimis sekalian.

Aku perhatikan kalau sebagai penulis, Okada Mari-san yang kerap disalahkan dalam hal-hal begini. Tapi garis besar plot Gundam IBO (dan jenis kolaborasi lain seperti ini) kabarnya sudah ditetapkan sutradara dan staf produksi sejak awal. Okada-san hanya sekedar diminta untuk memberikan sentuhan khas beliau saja.

Tapi sudahlah. Apa yang terjadi, sudah terjadi.

Di samping itu, kompilasi layar lebar untuk Gundam IBO sudah diumumkan. Jadi ada kemungkinan kekurangan-kekurangan yang ada sekarang akan diperbaiki dalam film-film layar lebar nanti. Mudah-mudahan hasilnya bagus.

Legenda Agnika Kaieru

Yah, kayak biasa, mari kita singgung sedikit soal mecha.

Tapi sebelum masuk ke pembahasan soal mecha, satu hal yang mungkin luput aku bahas sebelumnya adalah soal kerangka mobile suit. Jadi, sebagai hal baru dalam waralaba Gundam, Gundam IBO memperkenalkan konsep Frame (‘rangka’) yang mendefinisikan sejumlah karakteristik dasar dari berbagai MS yang ada.

Sejumlah kerangka MS yang sudah diperkenalkan di semesta Post Disaster ini antara lain:

  • Gundam Frame, yang memiliki ciri khas berupa keluaran energi sangat besar berkat sepasang (jadi ada dua, bukan yang selazimnya satu) Reaktor Ahab yang bekerja secara bersamaan. Cara produksinya sudah terlupakan sejarah dan hanya ada 72 MS dengan Gundam Frame yang berakhir diciptakan. (Kesemuanya dinamai sesuai nama iblis-iblis Ars Goetia, jadi kalian bisa telusur nama-namanya dalam Wikipedia kalau mau. Tapi sejauh ini, desain yang sudah diungkap belum sampai 10.) Gundam Barbatos dan Gundam Gusion milik Tekkadan adalah contoh MS yang memakai rangka ini.
  • Valkyrja Frame, rangka berbobot ringan yang dikembangkan menjelang akhir Calamity War. Karena baru dikembangkan pada akhir perang, tidak banyak MS dengan rangka ini yang berakhir diciptakan. Salah satu MS dengan rangka ini adalah Grimgerde yang digunakan Montag di penghujung season pertama. Konon memiliki performa sangat tinggi, namun sulit digunakan.
  • Geirail Frame, rangka produksi massal yang konon diciptakan berdasarkan Valkyrja Frame. Memiliki keluaran cukup baik sekaligus tahan lama. Meski demikian, pemakaiannya kini terbatas. Jumlah MS dengan kerangka ini di masa ini konon hanya segelintir. Beberapa contohnya adalah Geirail yang diperkenalkan di musim ini dan pengembangannya, Geirail Scharfrichter, yang dilengkapi perlengkapan berat. Keduanya digunakan oleh para personil tentara bayaran Galan Mossa yang misterius.
  • Graze Frame, rangka MS utama yang kini digunakan Gjallarhorn dan telah diproduksi massal. Terutama dikenal karena fleksibelitas fungsionalnya. Ini adalah jenis rangka yang paling banyak ditampilkan dalam cerita. Konon ini adalah pengembangan lebih lanjut kerangka Geirail. Contoh MS yang menggunakannya adalah Graze yang menjadi dasar, Schwalbe Graze yang memiliki performa lebih tinggi tapi penanganan lebih sulit, dan Graze Ritter, modifikasi terbatasnya yang lebih berorientasi untuk pertahanan.
  • Rodi Frame, rangka MS yang dikembangkan di masa pertengahan Calamity War. Di masa kini, rangka ini yang paling banyak dipakai secara umum, terutama oleh jenis-jenis MS pekerja. Karena termasuk teknologi lama, keluarannya relatif tidak besar. Namun demikian, ada keseimbangan dalam berbagai aspek performanya. Man Rodi yang dipakai Brewers di season terdahulu, Spinner Rodi yang dipakai berbagai pihak, Garm Rodi yang dipakai Dawn Horizon Corps, dan MS produksi massal Landman Rodi yang baru milik Tekkadan, sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Teiwaz Frame, kerangka MS relatif baru yang dikembangkan sendiri oleh Teiwaz, dibuat berdasarkan sejumlah cetak biru yang diperoleh dari masa-masa akhir Calamity War. Meski begitu, MS dengan kerangka ini lazimnya memakai Reaktor Ahab kuno karena teknologinya dimonopoli oleh Gjallarhorn. Pengembangan kerangka ini lambat. Di samping itu, produksi MS yang menggunakan kerangka ini sangat terbatas. Asal usulnya pun terpaksa dirahasiakan. Kerangka ini sangat seimbang dalam segala aspek dan juga mampu menangani segala medan. Hyakuren dan Hyakuri (modifikasi Hyakuren dengan fokus ke kecepatan) milik keluarga Turbines, serta keluaran baru Hekija sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Io Frame, kerangka produksi massal yang berhasil dikembangkan dari teknologi Teiwaz Frame yang diperkenalkan di musim ini. Meski baru sama sekali, ada banyak kemiripan yang dimilikinya dengan Teiwaz Frame, seperti Reaktor Ahab kuno yang terpaksa digunakan padanya. MS dengan rangka ini lebih reaktif dibandingkan Teiwaz. Sensor sensitivitas tinggi juga dilengkapi di kepalanya, dan mudah disesuaikan untuk segala medan. Beberapa MS baru yang diperkenalkan di musim ini, Shiden, serta kustomisasinya, Shiden Custom/Ryusei-Go III/Riden Go sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Hexa Frame, kerangka MS paling banyak diproduksi sesudah Rodi Frame semasa Calamity War. Blok kokpitnya bukan di dada seperti rangka lain, melainkan di punggung, kepala, atau titik lainnya. Kerangka ini menonjol karena mengutamakan keselamatan pilot. Contoh MS yang menggunakan kerangka ini adalah Gilda dan Hugo, yang menyusun pasukan Dawn Horizon Corps.

Untuk lebih rinciannya, aku benar-benar suka desain Gundam Barbatos Lupus, tapi aku susah menjelaskan alasannya. Ada motif serigala yang diberikan padanya. Selama menggunakan MS ini, Mika tidak lagi menggunakan gada besar. Kini, dia sepasang pedang gada di masing-masing tangan. Ini juga masih dilengkapi sepasang senapan pendek yang terpasang di kedua tangan, sekaligus senapan laras panjang yang bisa dilipat. Ada sesuatu pada efisiensi desainnya yang benar-benar keren. Tapi yang membuatnya mengerikan, Barbatos Lupus benar-benar lincah dan teramat cepat.

Gundam Gusion Rebake yang digunakan Akihiro juga telah diupgrade menjadi Gundam Gusion Rebake Full City. Dikembangkan berdasarkan informasi baru dari zaman perang yang diperoleh Teiwaz sekaligus data pertempuran Akihiro sendiri, ini intinya adalah versi yang lebih sangar dibandingkan wujud yang sebelumnya.

Desain MS ini menurutku adalah jenis yang biasanya tidak diberikan ke karakter protagonis. Dilengkapi gunting raksasa yang bisa membelah zirah MS lawan, sekaligus juga subarm (lengan tambahan) yang dengannya, meningkatkan daya serang. Sama seperti Barbatos Lupus, Gusion Rebake Full City seimbang untuk segala keadaan, tapi memiliki titik berat lebih untuk pertempuran jarak dekat. Mungkin tidak terbilang cepat, tapi kekurangan itu diimbangi daya serangnya yang luar biasa besar. Apalagi dengan sensor kepalanya yang masih memungkinkan pertempuran jarak jauh.

Membahas MS produki massal, aku suka desain bulat Landman Rodi yang disesuaikan untuk penggunaan di Bumi. MS ini banyak dipakai oleh Dante, Chad, serta Takaki dan kawan-kawan mereka yang lain. Itu adalah desain MS produksi massal yang paling aku sukai di semesta Post Disaster.

Selain itu, Shiden yang baru juga keren. Ada Shiden Custom yang ditandai dengan tanduk satu dan pertahanan kuat yang dikembangkan untuk Orga, tapi ujung-ujungnya digunakan oleh Eugene. Shiden pada dasarnya adalah peningkatan dari Hyakuren, dengan kemampuan reaksinya yang lebih cepat.

Hekija, yang kemudian dipercayakan pada Hush sesudah ia menjadi pengikut setia Mika, menjadi peningkatan dari Hyakuren yang sesungguhnya. MS prototipe ini termasuk menonjol, tapi sayangnya terasa kurang disorot. Dengan keluaran setara Hyakuren, sekaligus kecepatan yang bisa mendekati Hyakuri, MS ini terbilang sangat lincah dengan banyaknya pendorong di berbagai persendiannya. MS ini dilengkapi persenjataan jarak dekat yang banyak berupa bilah-bilah tajam. Aku merasa bisa suka dengan MS ini andai saja ditampilkan lebih jauh.

Mewakili generasi muda Tekkadan, Ride Mass juga kini sudah mulai lebih aktif sebagai pilot. Dia mewarisi MS Graze Custom dan juga Shiden yang sebelumnya digunakan Shino, menamainya menjadi Riden-Go.

Alasan Shino mewariskan adalah karena kini dia jadi menggunakan MS Gundam ketiga yang Tekkadan peroleh, yakni Gundam Flauros (yang belakangan dinamainya Ryusei-Go juga), yang memiliki kemampuan transformasi untuk mewadahi fitur rail cannon-nya yang sangat mengerikan. MS ini ditemukan secara misterius di wilayah penambahan halfmetal. Tapi penemuan tersebut justru menjadi titik balik banyak hal.

Titik balik tersebut adalah penemuan mobile armor dorman yang belakangan diketahui bernama Hashmal.

Mobile armor (MA) ternyata adalah senjata-senjata otomatis berukuran kolosal yang ternyata diciptakan di masa silam. MA yang ditemukan tersebut ternyata masih bekerja, dan segera menarik perhatian Gjallarhorn, karena rupanya keberadaan MA justru adalah pemicu Calamity War. Semuanya diprogram semata-mata untuk memusnahkan umat manusia(!).

Senjata-senjata otomatis tersebut ternyata sedemikian kuatnya. Dengan teknologi nanomesin, mereka punya kemampuan membuat drone-drone berjumlah banyak yang disebut Pluma, kemampuan melepaskan tembakan beam (yang untuknya masih bisa ditangani dengan lapisan nanolaminate armor di kebanyakan MS!), dan bahkan kemampuan regenerasi!

Mereka seolah tak terhentikan di masa silam sebelum ke-72 Gundam Frame akhirnya diciptakan untuk memburu mereka.

Kemenangan atas Hashmal, yang harus dibayar mahal, berujung pada rekonstruksi Barbatos menjadi Gundam Barbatos Lupus Rex, wujud terkuatnya dalam cerita ini. Banyak yang bilang bentuknya menyerupai War Greymon dari waralaba Digimon, tapi aku pribadi lumayan suka.

Untuk pertempuran jarak dekat, Lupus Rex tidak lagi memerlukan senjata karena cakarnya yang terbuat dari logam komposit (yang sama dengan pedang-pedang Grimgerde) sudah cukup untuk mewadahinya. Untuk serangan jarak jauh, MS tersebut masih bisa dilengkapi senapan. Tapi yang paling mengerikan dari Barbatos yang ini, yang dipadukan dengan kecepatannya, adalah ekornya. Ekor tersebut diambil dari ekor Hashmal yang dapat menyasar musuh-musuh secara otomatis. Lewat sistem Alaya Vijnana, Mika bahkan merasa bisa punya ekor secara alami!

Ekor ini seakan jadi ekuivalen persenjataan bit/funnel di seri-seri Gundam lain.

Dari sisi Gjallarhorn, Julieta Juris dan Iok Kujan sama-sama menggunakan Reginlaze, MS produksi massal termutakhir Gjallarhorn. Bentuknya yang aerodinamis beneran menarik perhatian.

Dikembangkan dari Graze, Reginlaze konon didesain untuk memenuhi kebutuhan MS tipe baru selepas kekalahan Gjallarhorn dalam Pertempuran Edmonton. Baru diproduksi dalam jumlah terbatas, MS ini memiliki output dan daya serang lebih besar dari Graze, dengan lapisan pelindung yang lebih tebal. Meski demikian, strukturnya yang lebih sederhana dengan permukaan-permukaannya melengkung membuatnya relatif mudah ditangani bahkan melebihi Graze. Reginlaze tetap dirancang serbaguna seperti pendahulunya, dan dapat digunakan di berbagai medan dengan berbagai armamen.

Reginlaze milik Iok yang berwarna hitam-coklat gelap merupakan varian untuk komandan yang dikhususkan untuk serangan pendukung jarak jauh. Senjata utamanya adalah railgun jarak jauh yang mengandalkan kemampuan sensorik yang MS tipe ini miliki. Bentuk ini kemungkinan besar dipilih karena perhatian besar para pengikut Iok atas keselamatannya. (Terutama, karena Iok sendiri bukan pilot handal.)

Di sisi lain, Reginlaze milik Julieta dikustomisasi agar memiliki output dan mobilitas yang lebih tinggi lagi. Perlengkapan khusus Reginlaze punya Julieta adalah pasangan senjata jarak dekat prototip Twin Pile, yang memungkinkan peluncuran jangkar-jangkar kawat yang dapat menahan gerakan lawan.

Sesudah kekalahannya dalam konflik melawan MA Hashmal, Julieta mengajukan diri untuk menjadi pilot uji dari Reginlaze Julia, MS prototipe yang merupakan pengembangan lebih mutakhir lagi dari Reginlaze.

Dibangun dengan bentuk luar aerodinamis, Reginlaze Julia memiliki mobilitas dan keluaran sangat tinggi yang mengorbankan berbagai aspek dasar dari pendahulunya. Karena sifatnya yang sangat sensitif, MS ini hanya bisa digunakan oleh para pilot yang benar-benar terampil. MS ini juga dibangun dengan data pertempuran yang diperoleh dari Graze Ein, walau filosofi pengembangannya sangat berbeda mengingat penggunaan Reginlaze Julia yang dikhususkan untuk di luar angkasa. Di samping sepasang senapan mesin dan sepasang bilah pisau di kaki, Reginlaze Julia memiliki senjata andalan pedang cambuk Julian Sword di kedua lengannya, yang dibuat dari bahan serupa Valkyrja Sword milik Grimgerde.

Bicara soal Grimgerde, McGillis tidak lagi bisa memakainya dengan kedudukannya yang baru. MS tersebut kemudian dibongkar hingga ke rangka oleh Perusahaan Montag yang misterius, untuk mewujudkan rancangan kuno bernama Helmwige, menjadi MS baru bernama Helmwige Reincar.

MS bertanduk dan berpedang besar tersebut sangat menonjolkan pertahanan dan dirancang untuk tujuan pengawalan. Secara spesifik, pengawalan untuk menghadapi MA. Isurugi yang kemudian dipercaya sebagai pilotnya. Kehadirannya di medan pertempuran ternyata berperan kunci dalam mengalahkan Hashmal.

(Menariknya, Perusahaan Montag yang digunakan McGillis ternyata didasarkan oleh perusahaan yang pernah ada di sejarah Post Disaster, yang konon dibangun seseorang bernama Clive Montag. Siapa dirinya, dan apa signifikasinya bagi McGillis, masih jadi tanda tanya.)

McGillis sendiri menggunakan MS produksi massal biasa sampai ia berhasil menemukan cara untuk mengaktifkan Gundam Bael. Bael adalah MS pusaka milik Gjallarhorn di markas mereka, Vingolf. MS ini yang dulu digunakan oleh pendirinya, Agnika Kaieru, yang konon mengakhiri Calamity War. Didesas-desuskan bahwa barangsiapa yang bisa mengaktifkan Bael akan berhak untuk memerintah Gjallarhorn. Lalu lambat laun, McGillis rupanya telah menjadi terobsesi dengan MS ini.

Aku dulu sempat mengira kalau Bael akan menjadi final boss untuk Gundam IBO. Ada teori lain yang juga sempat berspekulasi kalau Bael nantinya akan digunakan Mika. Tapi tidak, McGillis menggunakannya secara pribadi di pihak yang sama dengan Tekkadan.

Mirip dengan Grimgerde, Bael menggunakan sepasang pedang berbilah emas yang konon tidak mungkin patah. Warna MS-nya yang keren menurutku selaras dengan desainnya yang sederhana dan konvensional. Dengan kecepatannya yang sangat tinggi dan daya pakainya yang lama, satu MS ini saja ternyata setara dengan sepasukan MS Gjallarhorn. Ini memang kurang berhasil ditonjolkan di animenya, tapi sepasang sayap Bael juga menyimpan electromagnetic cannon dengan daya hancur sangat besar.

Terakhir, MS paling misterius di seri ini adalah Gundam Vidar milik Vidar yang bertopeng. MS ini konon ditenagai bukan hanya oleh dua, tapi oleh tiga Reaktor Ahab (dengan yang ketiga untuk fungsi yang tidak diketahui). Waktu pembuatan dan pengembangannya lama. Karenanya, perlu waktu lama sampai Vidar akhirnya bisa menggunakannya. Keberadaannya juga dirahasiakan untuk waktu lama, sama halnya dengan keberadaan Vidar sendiri.

Gundam Vidar mungkin adalah MS dengan desain paling kompleks yang Gundam IBO hadirkan. MS ini dibuat untuk lincah sekaligus responsif ke segala arah. Kesan akhirnya benar-benar orisinil. Senjata utamanya adalah Burst Saber, bilah-bilah pedang ramping yang dapat diletuskan ke arah lawan dan juga diganti mata pedangnya. Selain senapan untuk segala jarak, MS ini juga dilengkapi sepasang pistol untuk aksi jarak dekat, dan juga pisau Hunter’s Edge yang terpasang di lutut.

Sebenarnya, ada upgrade untuk Gundam Vidar. Upgrade tersebut memberikan zirah tambahan dan juga seakan memberi ‘lapisan’ baru dalam persenjatannya. Tapi takkan kusebutkan di sini karena terlalu berpotensi spoiler. (Walau memang gampang ditebak sih.)

“Kita tak punya waktu untuk ragu-ragu. Tapi selama kamu tidak berhenti, aku juga tidak akan.”

Gundam IBO perlu diakui adalah seri yang memancing banyak komentar. Baik itu dengan latar cerita, karakter, plot, sampai desain mechanya. Ditambah lagi, ada banyak tema yang berusaha diangkatnya. Ada soal hubungan seks remaja (yang digali lewat masa lalu Atra yang ternyata dibesarkan di rumah bordil, sebelum ia bertemu dengan Mika dan Orga) dan juga soal LGBT (lewat karakter Yamagi Gilmerton).

Tapi pada akhirnya… entah ya, rasanya sulit berkomentar apa-apa.

Ada banyak yang berusaha disampaikan. Karenanya, kesimpulan yang bisa kita ambil tak boleh kita tarik dengan tergesa-gesa.

Akhir kata, kalau kamu tertarik pada Gundam IBO, ini seri yang sebenarnya oke. Ini jenis seri Gundam yang bisa menarikmu dari awal dan membuatmu takkan lepas hingga akhir. Tapi ini jelas enggak sempurna. Ada banyak kelemahannya. Akhir ceritanya antiklimaks sekaligus sedih. Adegan-adegan aksinya tidak buruk, tapi kurang memuaskan juga. Sisi bagusnya, seperti yang bisa diharapkan dari naskah Okada-san, adalah aspek dramanya yang sangat berkesan dan juga karakterisasi yang ‘jadi.’ Aku terutama terpaku pada adegan menjelang akhir saat Mika sedemikian mensyukuri segala yang akhirnya mereka—dirinya dan orang-orang tersayangnya—berhasil peroleh.

Jadi menurutku pribadi, bagus enggaknya tamat Gundam IBO, yang kontroversial, sebenarnya ditentukan oleh langkah para produsernya ke depan.

Kalau kelak Gundam IBO memperoleh sekuel (apalagi dengan pembangunan dunianya yang benar-benar bagus, dan belum semua rahasia Calamity War yang terkuak), maka tamat season ini bisa diterima. Tapi, kalau hanya sampai sebatas ini, dan jadinya ada semesta Gundam baru yang langsung diperkenalkan sebagai penggantinya, maka ini akhir yang enggak bagus. Soalnya, berbeda dengan kasus Gundam SEED Destiny, meski banyak kelemahannya, Gundam IBO berhasil kena ke hati banyak orang. Di samping itu, pangsa pasarnya ada, dan tak ada kendala berarti dalam hal produksinya.

Tapi memang jadi tanda tanya sih soal apa yang ada di pikiran Nagai-san sebagai sutradara.

Maksudku, karakter mekanik Yamazin Toka di episode terakhir benar-benar mengindikasikan ada suatu rahasia yang masih tersembunyi! Di samping itu, tiga blok ekonomi lain selain Arbrau juga belum disorot! Bagaimana juga dengan Gundam-Gundam lain yang belum terkuak?

Kalau itu semua berakhir tidak digali, kalian juga bakal setuju kan? Akhir cerita ini jadi benar-benar mengecewakan.

“…Aku tunggu kamu di sana.”

Yah, sebagai penutup, aku singgung sedikit tentang manga gaiden-nya, Mobile Suit Gundam: Iron Blooded Orphans Gekko. (‘Gekko’ di sini berarti ‘sinar bulan’)

Manga ini diterbitkan bersama oleh Kadokawa Shoten dan Hobby Japan dan diserialisasikan di majalah Gundam Ace. Sebagaimana halnya seri-seri Gundam lain, di manga ini ada berbagai desain MS variasi (MSV, mirip seri Astray untuk semesta Cosmic Era) yang ditampilkan bersama cerita yang menjadi ‘pelengkap’ cerita utama. Manga ini sendiri ditangani oleh Kamoshida Hajime, dengan desain karakter buatan Terama Hirosuke x Dango, serta desain mekanik oleh Gyoubu Ippei.

Garis besar ceritanya adalah tentang Argi Mirage, seorang pemuda dengan tangan kanan prostetik, yang tengah memburu suatu MS misterius tipe Gundam yang ia yakini telah membantai keluarganya. (Desain karakternya, secara aneh, sangat mirip Hush Middy, hanya saja dengan rambut lebih tebal dan mata lebih tajam.)

Bekerja sebagai tentara bayaran, Argi berselisih jalan dengan Volco Warren, pemuda pincang yang menjadi orang kepercayaan Ted Morugaton. Ted adalah pemimpin perusahan rute dagang  Tantotempo di koloni wisata Avalanche 5, yang berhubungan dengan mafia. Dalam insiden di mana nyawa Ted diincar, Volco membujuk Argi untuk bekerjasama.

Argi akhirnya setuju sesudah terungkap kalau Volco ternyata adalah pemilik apa-apa yang masih tersisa dari Gundam Astaroth. MS tersebut adalah salah satu dari 72 Gundam Frame peninggalan Calamity War, yang tengah berusaha dipulihkan Volco. Tidak lama sesudah pertama ditemukan dan dipulihkan sesudah Calamity War, suatu pihak misterius mencuri Astaroth dan mempreteli bagian-bagiannya. Memperoleh kembali bagian-bagian tersebut dan memulihkan Astaroth menjadi seperti seharusnya akhirnya menjadi misi pribadi Volco, yang terus diperjuangkannya… sampai Ted kemudian tewas.

Volco kesulitan mengemudikan Astaroth dengan kakinya yang cacat. Tapi dengan bantuan Argi dan tangan prostetiknya, yang menjalin koneksi saraf yang mendekati koneksi sistem Alaya-Vijnana, Astaroth bisa mereka fungsikan. Dengan menggunakan bagian-bagian MS lain sebagai pengganti bagiannya yang hilang, rangka tersebut menjadi Gundam Astaroth Rinascimento yang menjadi andalan mereka.

Bersama-sama, Argi dan Volco kemudian menjadi pelindung Liarina Morugaton, gadis remaja yang merupakan anak satu-satunya Ted. Mereka juga berusaha menelusuri pelaku sesungguhnya di balik penyerangan Ted, apa kaitannya dengan Astaroth, serta siapa pemilik MS tipe Gundam misterius yang mungkin telah menewaskan keluarga Argi.

Cerita Gekko banyak menyinggung soal dunia mafia, yang animenya baru sebatas singgung lewat grup Teiwaz. Meski Gjallarhorn berperan, mereka tidak banyak tampil. Lalu mirip seperti di seri-seri manga Gundam Astray, yang menjadi antagonis adalah berbagai pihak lain yang berkepentingan terhadap para tokoh utama.

Nuansa ceritanya sangat mirip manga Gundam MSV yang lain. Kadang perkembangannya memang sarat kebetulan. Tapi ceritanya masih terbilang rame.

Sayangnya, belum banyak info lebih jauh soal Calamity War yang diungkap di dalamnya. Jadi walau menarik, ceritanya mungkin masih belum cukup memenuhi rasa penasaran kamu sesudah animenya berakhir.

Tapi kayak biasa, desain-desain mechanya teramat keren. Itu jadi daya tarik tersendiri.  Gundam Astaroth Rinascimento misalnya, adalah MS asal jadi yang dilengkapi senjata di segala bagian agar ‘siap untuk segala situasi.’ Tapi hasilnya kurasa benar-benar keren.

Selebihnya, berikut terjemahan lirik dari “Rage of Dust” di bawah.

Lagi-lagi ini postingan panjang. Terima kasih udah baca sejauh ini.

Maaf juga karena ulasan ini lama. Ada terlalu banyak yang berusaha aku tangani belakangan.

Terlepas dari gimana parahnya keadaan dunia, jangan tunduk hanya karena kalian bintang-bintang kelas enam, guys. Lindungi yang berharga buat kalian. Kalau ada satu makna yang bisa kalian ambil dari Gundam IBO, ambillah itu.

“Rage of Dust”

by SPYAIR

fukai yoru no yami ni

nomarenai you hisshi ni natte

kagayaita rokutousei

marude bokura no you da

 

kurikaesu nichijou ni orenai you ni

 

kachitoritai mono mo nai

muyoku na baka ni wa narenai

sore de kimi wa iinda yo

girigiri to ikisama o

sono tame ni shineru nanika o

kono jidai ni tatakitsuketeyare

 

doudatte ii nayandatte

umarekawaru wake janai shi

mureru no wa suki janai

jibun ga kieteshimaisou de

 

afurekaetta rifujin ni makenai you ni

 

nakusenai mono mo nai

muryoku na mama dewa owarenai

dakara kimi wa ikunda yo

douse nara kuzu janaku

hoshikuzu no you ni dareka no

negaigoto mo seoi ikiteyare

 

kachitoritai mono mo nai

muyoku na baka ni wa narenai

sore de kimi wa iinda yo

hirihiri to ikisama o

sono tame ni shineru nanika o

kono jidai ni tatakitsuketeyare

 

muryoku na mama dewa owarenai

dakara kimi wa ikunda yo

douse nara kuzu janaku

hoshikuzu no you ni dareka no

negaigoto mo seoi ikiteyare

Agar tak tertelan pekatnya gelap malam

Dia berjuang dengan putus asa

Bintang kelas enam yang bercahaya itu

Bukannya bagaikan kita

Janganlah kalah dengan hari-hari yang terus berulang

Kau bukan orang bodoh yang apatis

Yang tak punya tujuan yang ingin diraih

Dirimu yang sekarang itu tak kurang apapun

Jalani hidup di garis tepi

Punyai sesuatu yang rela diperjuangkan sampai mati

Jadi buanglah itu semua ke muka zaman ini!

Tak ada artinya bagaimanapun juga

Memikirkannya takkan membuatmu bisa mengulang dari awal

Tak menyukai mentalitas kelompok

Jati dirimu terasa seakan hampir sirna

Janganlah tunduk pada dunia yang absurd

Tak punya apapun, selama masih tak berdaya

Jangan biarkan semua ini berakhir

Karenanya, kamu harus pergi!

Kalau memang berakhir sebagai debu

Sekalian saja jadilah debu bintang

Agar kau bisa terus menanggung mimpi orang lain

Kau bukan orang bodoh yang apatis

Yang tak punya tujuan yang ingin diraih

Dirimu yang sekarang itu tak kurang apapun

Jalani hidup di garis tepi

Punyai sesuatu yang rela diperjuangkan sampai mati

Jadi buanglah itu semua ke muka zaman ini!

Jangan biarkan semua berakhir selama kau tak berdaya!

Karenanya, kamu harus pergi!

Tapi kalau harus berakhir sebagai debu

Jadilah sekalian debu bintang

Agar kau bisa terus menanggung mimpi orang lain

Penilaian

Konsep: A; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: X; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B

Iklan
30/05/2017

Bokurano

Kalau ada satu seri mecha yang sebaiknya tidak kau rekomendasikan ke seorang penggemar mecha, maka itu adalah Bokurano.

Bokurano atau Bokurano: Ours (judulnya kurang lebih berarti ‘milik kita’) berawal dari manga seinen berjumlah 11 buku buatan Kitoh Mohiro. Diterbitkannya oleh Shogakukan dan diserialisasikan di majalah bulanan Ikki. Serialisasinya berlangsung di masa ketika aku kuliah, yakni dari tahun 2003 sampai 2009.

Pada tahun 2007, studio Gonzo mengangkatnya ke bentuk seri anime TV sebanyak 24 episode. Penyutradaraannya dilakukan oleh animator veteran Morita Hiroyuki dengan musik yang ditangani oleh Nomi Yuji. Naskahnya ditangani bersama oleh beberapa orang, dengan pengawasan langsung Morita-san. Ini tak terlalu masalah, berhubung struktur ceritanya mmang menampilkan tokoh utama berbeda secara bergilir. Tapi melihatnya sekarang, kurasa itu juga alasan kenapa kualitas antar episodenya bisa beragam.

Sekitar waktu animenya keluar, juga muncul adaptasi light novel berjudul Bokurano: Alternative yang dipenai Ouki Renji. Terdiri atas lima buku, aku masih kurang tahu tentang versi ini. Kudengar ini penceritaan alternatif dari cerita di manganya, dengan tokoh-tokoh yang sama, tapi juga dengan penambahan banyak tokoh baru.

Aku diperkenalkan pada Bokurano oleh temanku. Kejadiannya terjadi sesudah aku mulai memperhatikan perkembangan dunia anime sesudah lama absen. Temanku sendiri tak begitu mendalami seri ini, hanya soal bagaimana dia sekedar menganggap premisnya menarik.  Ujung-ujungnya, malah aku yang jadi mengikuti perkembangannya hingga akhir. Aku sempat dibuat trauma karenanya, dan perasaanku tentang seri ini masih campur aduk bahkan hingga sekarang.

Kemah Musim Panas

Bokurano pada dasarnya bercerita tentang 15 orang anak SMP, delapan anak lelaki dan tujuh anak perempuan. Mereka menemukan gua di tepi pantai dalam acara perkemahan sekolah alam. Di dalam gua tersebut, mereka menemukan sejumlah peralatan canggih. Lalu tak lama kemudian, mereka juga bertemu pemilik peralatan itu, seorang pria kikuk bernama Kokopelli.

Kepada mereka, Kokopelli mengaku sebagai seorang pengembang game. Ia mengaku sedang membuat game sendirian di dalam gua itu. Ia lalu menawarkan kontrak kepada anak-anak tersebut untuk mengujicoba game buatannya, yang mana si pemain harus mengendalikan sebuah robot raksasa untuk melindungi Bumi dari lima belas serbuan makhluk asing.

Anehnya, sesudah menyepakati kontrak, kesemua anak mendapati diri terbangun secara misterius di pantai. Kebingungan, mereka tak punya pilihan selain menganggap bahwa semuanya hanya mimpi.

Sampai malam harinya, dua robot raksasa muncul begitu saja di tepi laut dalam keadaan saling berhadap-hadapan. Suatu… makhluk aneh bermulut kasar bernama Koyemshi tiba-tiba muncul di hadapan kelima belas anak, dan kemudian menteleportasi mereka ke ruang kokpit robot raksasa yang berwarna hitam.

Di bangku pengendali robot yang belakangan mereka namai Zearth tersebut, ternyata sudah duduk Kokopelli, yang kemudian memperagakan kepada mereka semua bagaimana robot tersebut bisa dikendalikan semata-mata dengan pikiran.

Dimensional Robots

Singkat cerita, anak-anak yang menjalin kontrak dilibatkan sebagai peserta suatu permainan maut yang dicanangkan oleh makhluk-makhluk(?) dari dimensi lain (untuk hiburan?).

Menggunakan Zearth, anak-anak tersebut secara bergantian harus berhadapan satu lawan satu dengan robot-robot yang mewakili dunia lain. Yang dipertaruhkan adalah keselamatan seisi dunia. Apabila robot sebuah dunia gagal menghancurkan kokpit robot lawan (kokpitnya yang berbentuk bulat dihancurkan oleh robot lawan beserta seluruh isinya) dalam batas waktu pertempuran, maka dunia yang diwakilinya beserta isinya akan hancur sekalian.

Koyemshi, ceritanya, berperan sebagai semacam pemandu bagi anak-anak ini. Dia akan menteleportasi mereka dari dan keluar Zearth setiap kali pertarungan akan terjadi, tanya jawab dengan mereka kalau mau, dan juga sedikit banyak mengatur urutan para anak-anak. Tentu saja, dengan kemampuan teleportasi yang dimilikinya, Koyemshi juga bisa sangat berbahaya kalau diancam.

Kenapa harus bergantian?

Alasannya karena masing-masing robot ternyata ditenagai kekuatan jiwa. Lalu sesudah menggunakannya sekali, pengemudi bersangkutan ternyata kemudian akan mati. Membuat mereka karenanya, jadi harus digantikan peserta lain.

Sebagian besar konflik di awal cerita berkembang dari bagaimana para tokoh utama tak mengetahui kenyataan ini. Koyemshi, yang notabene brengsek, rupanya sengaja tak membeberkannya. Ini kemudian memicu berbagai masalah di antara mereka.

Terlepas dari semuanya, para anak-anak yang dipercayakan nasib dunia ini meliputi:

  • Waku Takeshi; anak bersemangat yang bercita-cita jadi pemain sepakbola. Paling tertarik dengan kata-kata Kokopelli, dan karenanya, menjadi pilot pertama.
  • Kodaka Masaru; anak seorang kontraktor sipil, yang menyimpan kekaguman sangat besar terhadap ayahnya. Sifatnya pendiam dan penyendiri.
  • Yamura Daiichi; seorang anak sulung yang bekerja keras menghidupi ketiga adiknya dengan membantu pamannya, sesudah ibunya wafat dan ayahnya meninggalkan rumah. Sifatnya serius dan berkesan kaku.
  • Nakarai Mako; gadis yang mengutamakan kejujuran karena ingin tumbuh jadi orang bertanggung jawab yang dapat diandalkan. Sering ditindas karena dianggap menyebalkan. Ibunya bekerja sebagai wanita penghibur. Mako yang kemudian menjahitkan seragam untuk teman-temannya yang lain.
  • Kako Isao; seorang anak bermasalah yang karena sejumlah alasan, akhirnya jadi berandalan juga bagi orang lain. Nyatanya, dirinya memiliki rasa inferioritas yang teramat dalam.
  • Honda Chizuru; gadis berkesan tenang dan pendiam, yang diam-diam menyimpan rasa jijik terhadap kelakuan teman-temannya yang lelaki. Untuk suatu alasan, dirinya sering membawa pisau.
  • Moji Kunihiko; anak lelaki baik hati yang terbilang bijak untuk usianya, yang kerap membantu orang lain dengan saran-sarannya. Memiliki dua teman masa kecil yang sangat dia perhatikan.
  • Ano Maki; putri angkat seorang otaku anime dan istrinya. Keluarganya tengah menunggu kelahiran adik lelaki Maki. Memiliki perasaan rendah diri sehubungan statusnya sebagai anak angkat. Dalam gilirannya, terungkap kenyataan bahwa musuh-musuh yang mereka lawan sebenarnya juga adalah manusia.
  • Kirie Yousuke; seorang anak lelaki gemuk yang jadi korban penindasan Kako. Memiliki kerabat yang menderita depresi karena berbagai masalah hidup, dan karenanya ia juga kerap mempertanyakan apakah hidup ini benar-benar layak dijalani.
  • Komoda Takami; putri seorang pejabat dan sahabat dekat Maki. Pendiam dan mudah bosan. Hubungannya dengan ayahnya menjadi salah satu sorotan cerita.
  • Tokosumi Aiko; seorang gadis ceria dan enerjik. Orangtuanya bekerja di dunia pers. Dalam gilirannya, keterlibatan anak-anak dengan Zearth mulai terungkap secara luas oleh pemerintahan Jepang.
  • Yoshikawa Kanji; seorang anak lelaki yang memiliki sisi pengertian di balik sikapnya. Memiliki sedikit masalah terkait siapa orangtuanya.
  • Machi Youko; seorang anak perempuan dari keluarga nelayan. Dirinya yang pertama menemukan gua Kokopelli, dan karenanya dihantui rasa bersalah atas apa yang terjadi.
  • Ushiro Jun; seorang anak lelaki pemarah yang kerap melampiaskan kemarahannya pada adik perempuannya. Teman dekat Kanji. Dirinya yang menurutku paling berubah dalam perkembangan cerita.
  • Ushiro Kana; adik perempuan Jun yang memiliki sifat lembut, yang menerima saja perlakuan kakaknya terhadapnya. Dirinya anggota paling muda dalam kelompok.

Kursi-kursi

Bokurano jelas bukan seri untuk anak-anak. Meski menyoroti karekter-karakter utama berusia muda, ceritanya langsung menghadapkan mereka pada kenyataan dunia yang kejam, di mana yang jahat tidak selalu dihukum dan orang-orang baik bisa berakhir tewas.

Untuk mereka yang mengenal Kitoh-sensei, Bokurano mengangkat tema-tema yang mirip dengan karya beliau sebelumnya, Narutaru, yang sekilas memang terkesan ceria dan polos. Bedanya, Bokurano memperlihatkan ‘keasliannya’ lebih awal, dan karenanya relatif lebih mudah ditelan. Tetap saja, Bokurano memberi rasa tak nyaman terlepas dari kau orang kayak apa.

Selain anak-anak yang menjadi tokoh utama, Bokurano juga jadi menyorot peran orang-orang dewasa di sekeliling mereka. Tentu saja sesudah pertarungan-pertarungan yang mereka lewati jadi memakan korban tak bersalah sampai ribuan orang. Selain orangtua masing-masing karakter utama, hadir juga orang-orang pemerintahan dan kemiliteran. Itu terutama karena teknologi asing yang terkandung dalam Zearth dan betapa kecilnya harapan yang anak-anak punya.

Aku mendengar ini belakangan, tapi kabarnya, Morita-san sang sutradara juga tak nyaman dengan cerita asli di manganya. Ceritanya memang benar-benar gelap, dengan banyak perkembangan mengerikan yang terjadi. Karenanya, dengan seizin Kitoh-sensei, Morita-san melakukan sejumlah perubahan dalam upaya untuk memberi akhir cerita yang lebih optimis. (Karenanya, beliau memperingatkan secara eksplisit pada para penggemar manganya untuk menjauhi versi anime).

Versi anime jadi punya cerita yang berbeda cukup jauh dari versi manga. Ada banyak detil karakter yang berbeda. Banyak perkembangan cerita, terutama menjelang akhir, yang juga jadi berbeda, yang sebenarnya wajar kalau mengingat manganya saat itu masih dalam serialisasi.  Singkatnya, versi manga punya nuansa cerita lebih dalam dan konklusif (dan gelap), tapi versi anime punya akhir yang sedikit lebih bahagia.

“Meluncur.”

Bicara soal teknis, versi manganya secara teknis benar-benar keren. Kemampuan Kitoh-sensei dalam memaparkan ceritanya itu menakutkan. Seperti ada daya tarik tertentu yang bisa membuatmu terpikat gitu, padahal itu enggak kelihatan di awal. Penggambaran detilnya rapi, dan terutama keren adalah bagaimana pemaparan latarnya bisa terus bergulir, baik dari dalam kokpit Zearth maupun dari sudut lebih biasa. Juga berkesan adalah bagaimana desain mecha-mechanya yang sekilas abstrak tetap saja bisa berakhir keren.

Untuk versi anime, presentasinya termasuk bagus. Kualitas audio dan videonya solid. Hanya saja menjelang akhir, sesudah sedemikian banyak pembeberan, jadinya terasa kayak masih ada lebih banyak hal penting yang harusnya bisa diungkapkan, tapi jadinya enggak. Yang muncul malah perkembangan yang terasa tangensial dan dipaksa nyambung. Tapi ini juga enggak sampai sepenuhnya jelek.

Bicara soal mecha, tak banyak sebenarnya yang bisa aku bicarakan. Kalau soal Zearth sendiri (yang ukurannya dan ukuran robot-robot sejenisnya bisa melampaui gedung pencakar langit), selain punya fitur laser dalam jumlah sangat banyak yang bisa mengejar target, juga dilengkapi kemampuan untuk mendeteksi keberadaan manusia manapun di dunia. Karena penggunanya yang berbeda-beda, cara pakai Zearth dan kemampuan yang diperlihatkan juga berbeda-beda. Dari sana, timbul juga ketegangan narasi karena betapa tidak pastinya segala hal.

Ada lumayan banyak detil mecha yang sebenarnya disediakan. Menarik juga kalau dibahas. Terutama untuk versi manga. Tapi sorotan utama Bokurano sebenarnya bukan di sana sih.

Bokurano itu… gimana ya?

Di akhir, kau akan bisa merasakan kalau pesan yang disampaikannya positif. Tapi hatimu mungkin akan keburu patah duluan.

Intinya, kurasa, hal-hal buruk itu hampir pasti akan terjadi di dunia. Semua manusia pasti bakal diuji. Kita semua bakal berakhir, tapi terserah kita apakah kita mau berakhir secara keren atau secara buruk.

Aku perlu waktu lama untuk bisa sampai berdamai dengan seri ini. Mungkin itu tandanya aku sudah semakin dewasa?

Mungkin begitu.

Penilaian (untuk anime)

Konsep: A; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B

13/04/2017

Blame!

Adaptasi anime layar lebarnya sudah mau keluar. Baiknya, aku bahas sedikit tentang Blame!.

Blame! (judul Jepangnya adalah efek suara bu-ra-mu!; jadi cara baca yang sebenarnya mungkin blam dan bukan bleim) adalah seri manga yang sekilas, kayaknya gampang dibahas. Ceritanya minim. Aksinya banyak. Tokoh-tokoh dan latar ceritanya terbilang keren. Tapi kalau mau bahas lebih dari itu, agak susah. Soalnya…

…Yah, soalnya dialognya benar-benar minim.

Kebanyakan dialognya berupa eksposisi, dengan karakter-karakter yang keren tapi tak begitu digali kepribadiannya. Tapi ini bukan dalam arti buruk ya.

Dari dulu itu memang salah satu ciri khas pengarangnya sih.

Datang ke Kotamu

Blame! berawal dari seri manga aksi sains fiksi karangan Nihei Tsutomu (yang belakangan lebih dikenal berkat seri mecha beliau, Knights of Sidonia). Pertama diterbitkan Kodansha di majalah Afternoon, serialisasi Blame! berlangsung dari tahun 1998 sampai 2003. Cerita utamanya sepanjang sepuluh buku. Seri ini sudah tuntas diterbitkan di Indonesia oleh Level Comics, bersama dengan satu buku prekuelnya, NOiSE.

Blame! pertama aku kenal di awal dekade 2000an.  Seperti halnya Berserk, Blame!  salah satu manga seinen pertama yang aku baca. Semua manga seinen yang kubaca di masa itu seakan memperluas wawasan. Tapi Blame! istimewa karena tidak ada apapun yang pernah kulihat yang mirip dengannya.

Sekali lagi, berhubung aku pertama membacanya di masa sebelum Level Comics ada, Blame! meninggalkan kesan kuat. Yang menonjol tentang Blame!, selain soal aksinya, adalah latar ceritanya.

Blame! berlatar di dunia yang sedemikian penuh bangunan dan gedung. Yang bisa terlihat hanya lorong-lorong panjang, tangga-tangga tak berkesudahan, pemandangan gedung-gedung lain, seakan tak ada akhir. Tak ada langit atau matahari. Tak ada awan atau cakrawala. Tak ada(?) kehijauan. Tak ada(?) binatang-binatang yang kita kenal. Kalaupun ada tempat terbuka, kau masih bisa melihat atap logam raksasa di atasmu. Yang kau bisa temukan paling hanya lampu, jaringan-jaringan kabel, dinding, gedung, lorong, tangga-tangga besi, elevator… intinya, labirin logam indoor yang seakan tak ada habisnya.

Di dunia seperti ini, Killy berkelana.

Killy, sang tokoh utama cerita, adalah pria muda dewasa dengan kulit agak pucat. Ekspresi mukanya selalu serius. Sifatnya pendiam. Benar-benar sangat pendiam. Tinggi badannya sedang. Proporsi badannya biasa. Pakaian yang dikenakannya biasanya hitam. Dari luar, penampilan Killy seperti manusia biasa. Di samping itu, tak terlihat ada perbekalan apapun yang dia bawa selain apa-apa yang bisa masuk ke kantong-kantong saku bajunya.

Kalau ditanya, Killy akan menyatakan kalau dirinya sedang dalam perjalanan untuk mencari sesuatu yang disebut Net Terminal Gene.

Siapa sebenarnya Killy tak benar-benar dijelaskan. Ada kemungkinan dirinya sendiri juga tidak tahu. Intinya, Killy adalah agen dari suatu pihak berwenang yang berkepentingan menghentikan pertumbuhan Kota yang tidak terkendali.

Kota yang menjadi latar cerita Blame! adalah kota harfiah yang berukuran maharaksasa. Kota ini terus tumbuh, tanpa terkendali, karena adanya robot-robot Builder yang secara berkelanjutan memperluasnya. Builder-builder baru terus diciptakan. Bangunan-bangunan baru terus dibangun. Lantai-lantai baru terus ditambah. Bahkan sampai ke luar angkasa.

Tak ada yang tahu persis sudah berapa lama Kota ada. Tapi kalau ditelusur, semua konon bermula dari crash yang dialami sistem dunia maya NetSphere yang sebelumnya mengendalikan dunia. Insiden tersebut menyebabkan NetSphere tidak lagi bisa diakses kalau bukan oleh orang yang punya genetik terminal murni—Net Terminal Gene yang Killy cari—padahal, hanya akses resmi ke NetSphere yang bisa menghentikan pertumbuhan Kota yang tak terkendali tersebut.

Sementara, jumlah populasi manusia semakin menipis. Manusia semakin sedikit, dan manusia murni mungkin bahkan sudah punah. Karenanya, ada keraguan besar soal apakah yang Killy cari benar-benar ada atau tidak.

Kehidupan Silikon

Dalam sebagian besar durasi cerita, Killy hanya berbekal satu senjata.

Senjata tersebut adalah pistol berukuran relatif kecil bernama Gravitational Beam Emitter (‘pemancar sinar gravitasi’). Pistol ini menjadi semacam senjata andalannya karena berkekuatan sangat dahsyat.

Salah satu ciri khas Blame! adalah bagaimana dalam adegan-adegan aksinya, Killy bisa sampai terlempar ke sana kemari karena saking dahsyatnya daya dorong pistol ini. Satu tembakan saja dari GBE mampu menghasilkan lubang-lubang besar yang ukurannya berskala kilometer. Persendian bahu Killy bahkan bisa sampai terlepas. Tapi dengan cueknya (memunculkan tanda tanya apakah dirinya benar-benar manusia), Killy selalu seolah bisa bangkit dan memperbaikinya ke posisi semula.

Sedemikian dahsyatnya GBE, senjata tersebut nampaknya adalah satu-satunya yang dapat melubangi lapisan Megastructure yang teramat tebal. Terletak pada titik-titik ketinggian tertentu di Kota, Megastructure adalah lempengan-lempengan raksasa antara tingkatan-tingkatan kota yang agaknya dibangun para Builder(?) dari bahan-bahan yang tidak diketahui. Megastructure menjadi semacam sistem isolasi antar lantai yang membatasi ruang gerak para penghuni Kota.

Bila ada makhluk hidup mendekati Megastructure, kedekatan mereka konon memicu kemunculan penjaga-penjaga kejam yang disebut Safeguard.

Para Safeguard yang mampu berteleportasi ini adalah para penjaga yang semula diciptakan untuk mencegah akses ilegal ke NetSphere. Hanya saja, sesudah sistem tersebut crash, Safeguard cenderung memusuhi siapapun yang tak memiliki NTG, yang dalam hal ini, meliputi hampir(?) semua manusia dan makhluk hidup lain yang masih tersisa. Karenanya, pembantaian kerap terjadi setiap kali Safeguard muncul. Para Safeguard sangat kuat dengan beragam persenjataan canggih yang sulit ditandingi.

Crash yang dialami NetSphere konon terjadi karena ada pihak-pihak tak bertanggungjawab yang berusaha masuk ke dalamnya secara ilegal untuk mencuri teknologi. Hasil akhir dari pencurian tersebut adalah terlahirnya makhluk-makhluk silikon yang meniru fisik Safeguard tapi tidak secara sempurna. Mereka adalah makhluk-makhluk separuh mesin dengan agenda dan komunitas mereka sendiri, yang agaknya punya bawaan memusuhi manusia.

Karena keberadaan mereka yang ilegal, para makhluk silikon ini adalah musuh alami para Safeguard. Tak jelas bagaimana awalnya, tapi makhluk-makhluk ini juga dimusuhi Killy dan terus seakan menjadi duri dalam daging selama perjalanannya.

Seiring perkembangan cerita, pada suatu titik, Killy mulai ditemani Cibo, seorang perempuan jangkung berambut pirang lurus yang bekerja sebagai peneliti.

Berasal dari Ibukota dan sebelumnya bekerja untuk Perusahaan Bio-Elektrik, Cibo punya minat khusus terhadap NTG yang Killy cari karena sebelumnya pernah berupaya mengakses NetSphere menggunakan NTG artifisial ciptaannya sendiri. Upaya Cibo tersebut berujung pada tragedi karena memicu kemunculan Safeguard, yang berujung pada jatuhnya banyak korban jiwa, yang kemudian membuat kesadaran Cibo dipenjarakan untuk waktu sangat lama. Sesudah pertemuannya dengan Killy (dan memperoleh tubuh baru), Cibo memohon pada Killy agar dirinya boleh ikut serta.

Berbeda dari Killy (yang masih saja pendiam), Cibo lebih banyak berbicara. Lalu melalui Cibo-lah sejumlah besar informasi tentang dunia Blame! dipaparkan. Cibo juga tak memiliki petunjuk lebih lanjut tentang NTG karena dirinya, beserta seluruh penduduk lain di masyarakat tempat dia berasal, sudah tak lagi sepenuhnya manusia.

Titik balik terbesar dalam cerita Blame! terjadi saat Killy dan Cibo mengetahui tentang Toha Heavy Industries (nama sebuah perusahaan yang sudah berulangkali muncul dalam karya-karya Nihei-sensei). Wilayah kerja Toha Heavy Industries konon tak berada dalam lingkup pengelolaan NetSphere, dan karenanya pula terbilang aman dari Safeguard, sehingga informasi tentang NTG mungkin saja bisa mereka peroleh andai saja bisa masuk ke dalamnya.

Hanya saja, yang berkepentingan terhadap Toha ternyata bukan hanya mereka.

Di samping berhadapan dengan satu-satunya administrator Toha yang dapat mereka hubungi—suatu kecerdasan buatan bernama Mensab dan manusia pelindungnya yang ahli pedang dan sudah terkikis ingatannya, Seu—para makhluk silikon turut membayangi Killy dan Cibo karena juga mengejar kesempatan untuk bisa mengakses NetSphere. Di sisi lain, meski tak termasuk jurisdiksi mereka, para Safeguard juga mulai menjalankan rencana mereka untuk menginfiltrasi Toha dan menghabisi semua yang di sana.

Pancaran Sinar dan Kecepatan Suara

Sekilas, gaya gambar Blame! terkesan kasar. Ada banyak garis yang terkesan liar. Pewarnaannya terkesan seadanya. Kesan akhirnya benar-benar seperti sketsa. Intinya, visualnya sangat berbeda dibandingkan karya-karya manga lain yang keluar di zamannya. Tapi mungkin berkat latar belakang beliau sebagai arsitek, desain dunia buatan Nihei-sensei tersebut membuat Blame! jadi benar-benar mencolok.

Jadi, di dalam setiap bab Blame! selalu serasa ada sesuatu yang monumental gitu. Terasa demikian dengan bagaimana manusia-manusia yang berukuran kecil seperti dibandingkan dengan dunia teramat besar. Ini berlangsung secara berkelanjutan, selama periode sepuluh buku, dengan diselingi adegan-adegan aksi yang semula agak susah diikuti, tapi sebenarnya berlangsung lumayan keren sesudah kau amati.

Ada banyak latar keren. Ada banyak peralatan yang canggih.  Kudengar, meski agak biasa saja di Jepang, Blame! sangat menarik perhatian para fans manga saat diterbitkan di luar negeri. Apalagi dengan dunianya yang seperti itu ditambah ceritanya yang misterius.

Ceritanya… yah, untuk waktu cukup lama, aku juga sempat kesulitan mencerna ceritanya. Karakter-karakternya kurang tergali. (Bahkan ada banyak karakter yang nama-nama mereka mungkin takkan kita ingat.) Tapi meski banyak detailnya yang hanya sebatas tersirat, Blame! punya alur sains fiksi yang benar-benar menarik.

Killy itu seperti jagoan film aksi yang tak kunjung juga mati terlepas dari betapa seringnya ia mau dibunuh. Adegan-adegan aksinya itu seperti kombinasi tembak-tembakan dan serangan-serangan jarak dekat yang berlangsung dengan kecepatan benar-benar tinggi. Ada aspek-aspek medan pelindung, regenerasi, pergantian tubuh, senjata-senjata suara dan elektromagnetik. Geh, bahkan ada isu dunia paralel yang sempat disinggung juga!

Kalau bicara soal tokoh antagonis, terlepas dari bagaimana setiap tokoh baru hadir dengan afiliasi yang diragukan (seperti Mensab dan Seu di atas, atau seperti Domochovsky dan Iko, yang meski resminya berstatus Safeguard, sama-sama tidak menjadi ancaman terhadap Killy), musuh signifikan pertama yang Killy dan Cibo hadapi adalah Sanakan.

Sanakan, sesosok perempuan berambut hitam pendek, bermula sebagai Safeguard Level 6 yang disusupkan ke Toha untuk memicu pelanggaran yang bisa menyebabkan hilangnya validitas perjanjian antara Toha dan NetSphere. Tapi dalam perkembangannya, suatu hubungan kompleks terjalin antara dirinya dengan pihak Killy dan Cibo. Intinya, Sanakan belakangan jadi sesuatu yang lebih dari sekedar musuh, dan akhirnya berperan besar dalam resolusi cerita.

Singkat cerita, Killy dan Cibo gagal memperoleh apa yang mereka cari di Toha. Tapi di akhir perseteruan di Toha, mereka memperoleh ‘sesuatu’ yang mungkin bisa membantu. Killy dan Cibo kini hanya tinggal mencari cara untuk memanfaatkan ‘sesuatu’ itu. Tapi ‘sesuatu’ tersebut juga membuat mereka dikejar musuh yang baru, yaitu kelompok makhluk silikon pimpinan Davinelulinvega (yang menurutku digambarkan seperti semacam pemimpin sekte). Di sini pula, konflik Killy dan Cibo dengan Sanakan kembali memuncak. Lalu berkat kemampuan meretas Cibo, apa yang belakangan terjadi membuat situasi menjadi benar-benar kompleks…

Ringkasnya, buat yang penasaran, akhir cerita Blame! datang dengan agak tiba-tiba dengan bagaimana Killy dipercaya untuk menjaga peninggalan Cibo dan Sanakan, yakni benih NTG sintetis yang mereka berhasil ciptakan sama-sama. Kini hanya dengan ditemani Mori, semacam kecerdasan peninggalan masyarakat Toha, perjalanan Killy terus berlanjut agar benih tersebut dapat berkembang secara bebas dari kontaminasi Kota.

Komedi Romantis

Blame! sempat beberapa kali diadaptasi menjadi anime, walau bukan dalam format seri TV. Pasar penggemarnya memang lumayan niche, jadi wajar kalau ini tak meledak.

Adaptasi pertama dalam format ONA oleh studio animasi Group TAC. Mereka memproduksi seri enam episode dengan durasi enam menit pada Oktober 2003 dengan disutradarai Inokawa Shintaro. Hasilnya tak menonjol, tapi cukup lumayan dengan nuansa dunianya yang benar-benar sureal. Ada lumayan banyak dialog di dalamnya, tapi garis besar ceritanya masih lumayan menuai tanda tanya.

Kedua, sempat hadir anime CGI Blame! Prologue sebanyak dua episode, masing-masing berdurasi empat menit, pada September 2007. Kali ini, produksinya dilakukan  studio animasi ternama Prodution I.G. Meski ekspresi para karakternya masih kaku dan tak banyak yang dihadirkan selain adegan-adegan aksi, ini berakhir sebagai presentasi lumayan keren.

Ketiga, ehem, Blame! hadir sebagai ‘anime di dalam anime’ yang tayang pada adegan-adegan tertentu di anime Knights of Sidonia beberapa tahun lalu. Hasil akhirnya cukup mencolok. Kudengar episode khususnya disertakan dalam versi DVD Knights of Sidonia.

Selama kurun waktu sesudah tamatnya tersebut, sejumlah materi pelengkap Blame! juga sempat dirilis.

Yang pertama mencolok adalah NOiSE, yang sudah kusinggung di atas. Berlatar di dunia ketika NetSphere masih terkendali, prekuel ini bercerita tentang seorang polwan bernama Musubi Susono yang mengusut suatu kasus pembunuhan, tapi tahu-tahu terjebak dalam konflik kepentingan antara sejumlah pihak. Semuanya terjadi menjelang perilisan NetSphere ke khalayak luas. Karena rupa mereka yang mirip, Musubi diyakini (tapi bisa juga tidak) adalah template kepribadian yang digunakan dalam membentuk Sanakan.

Yang paling menarik selanjutnya adalah Blame! Gakuen, suatu seri spin off yang mengisahkan bagaimana seandainya Killy dan kawan-kawannya para karakter lain adalah remaja-remaja SMA. Di sini, Killy masih pendiam. Cibo jadi semacam sahabat lamanya yang lebih banyak bicara. Sanakan menjadi guru. Lalu para makhluk silikon menjadi semacam teman-teman sekelas. Konyolnya, meski berlatar komedi romantis sekolahan, punya elemen-elemen moe, ditambah dengan baju seragam yang dikenakan para karakternya (meski wujud mereka masih makhluk silikon) dan kelopak-kelopak bunga sakura, hal-hal seperti GBE dan bangunan-bangunan raksasa masih juga ada. Killy juga jadi semacam karakter sial/beruntung yang bisa tiba-tiba kedapatan adegan fanservice dan jadi dihajar para cewek.

Selain dua di atas, ada cerita pendek Net Sphere Engineer yang sempat hadir di majalah Morning Extra dan Blame!2 pada tahun 2008 pada majalah Mandala. Keduanya sama-sama pendek dan menurutku tak terlalu berkontribusi terhadap cerita. Tapi tak dapat dipungkiri, keduanya merangsang imajinasi.

Kalau aku tak salah, bersama beberapa cerita lepasan lain, dua cerita pendek di atas dan dua bab pendek Blame! Gakuen kemudian disatukan dalam satu bundel berjudul Blame! Gakuen and so on. Tankoubon tersebut kurasa menjadi eksperimen Nihei-sensei dalam membuat cerita yang lebih berbasis karakter. Maksudku, sebelum beliau kemudian mengerjakan Knights of Sidonia.

Nelayan Elektrik

Kalau membandingkan Blame! dengan Knights of Sidonia, perkembangan kemampuan Nihei-sensei akan lumayan terlihat. Di samping memiliki artwork lebih bersih, Knights of Sidonia yang lebih baru punya jalinan cerita yang lebih memberi perhatian terhadap karakter.

Iya, itu aja.

Soal karakter itu yang agaknya jadi perbedaan mencolok.

Hasilnya belum sebegitu bagusnya sih, tapi kalau dibandingkan dengan karya-karya lain beliau, seperti Biomega misalnya, Knights of Sidonia adalah yang kayaknya punya kesan paling jauh.

Soal produksi anime Blame! yang akan datang, sebagian besar staf Polygon Pictures yang sebelumnya menangani Knights of Sidonia kudengar akan kembali. Formatnya layar lebar. Seshita Hiroyuki yang akan menangani. Naskahnya dibuat oleh Nihei-sensei sendiri dengan dibantu Murai Sadayuki. Direncanakan tayang pada pertiga akhir Mei 2017 nanti, kudengar ini nanti juga akan tayang di Netflix. Kudengar juga ceritanya akan dirombak habis.

Yah, kita lihat saja nanti.

Akhir kata… ternyata aku bisa menulis lumayan banyak tentang Blame!. Hmm, aneh juga. Aku dari dulu kagum dengan betapa pendiamnya Killy. Maksudku, dia tipe orang yang lebih banyak bertindak daripada ngomong. Berbeda dari kebanyakan orang zaman sekarang.

Man, aku perlu bisa lebih mencontohnya.

Tag: ,
15/03/2017

Sekai no Owari no Encore

Satu light novel yang membuatku penasaran dalam beberapa tahun terakhir (selain, mungkin, Tokyo Inroaded) adalah Sekai no Owari no Encore.

Dikenal juga dengan judul Sekai no Owari no Sekairoku (‘rekaman dunia (Encore) di ujung/akhir dunia’) ini lagi-lagi seri relatif baru yang sempat kubaca di situs Baka-Tsuki. Dikarang Sazane Kei dengan ilustrasi buatan Fuyuno Haruaki, serta diterbitkan oleh Media Factory semenjak tahun 2014, Sekai no Owari no Encore adalah seri petualangan fantasi yang sebenarnya lumayan generik.

Baguskah? …Sejujurnya, enggak juga. Bukan berarti jelek sih. Menurutku kualitasnya cenderung biasa.

Apa ini seru? …Kalau ditanya begitu, jawabanku lagi-lagi adalah enggak juga. Tapi di sisi lain, seri ini juga enggak bisa dikatakan membosankan.

Lalu alasan aku penasaran?

Susah menjelaskannya. Intinya, ada sesuatu tentangnya yang semata-mata menarik saja.

Dari detik pertama aku melihat ilustrasi dan membaca premis seri ini, aku langsung tertarik untuk tahu lebih lanjut. Aku lumayan bersemangat saat ada fans mulai menerjemahkannya ke Bahasa Inggris. Tapi pengerjaannya belakangan lambat. (Sekalipun kamu udah jago dalam dua bahasa, kerjaan nerjemahin tetep lumayan susah kalo belum dibiasain.) Lalu tanpa terasa, adaptasi manganya yang dikerjakan Usui Ryuu juga sudah mulai dibuat.

Membaca seri ini, aku pernah berpikir kalau mungkin benar kata mereka. Maksudku, soal gimana untuk mengubah keadaanmu, yang kau perlukan cuma satu ide bagus. Sebuah ide saja mungkin bisa membuat hidupmu jadi jauh lebih bermakna.

Yah, terlepas dari itu, cerita seri ini kurang lebih sebagai berikut.

Pada zaman dahulu kala, seorang pemuda manusia bernama Eleline konon menyelamatkan dunia dari suatu ancaman yang tak diketahui. Meski terlahir sebagai manusia, Eleline sedemikian kuatnya sampai-sampai ia disegani oleh para malaikat sang dewi di langit, para naga, dan juga para iblis. Karenanya, dalam perjalanannya menyelamatkan dunia tersebut, ia ditemani tiga sosok perempuan sangat cantik yang terdiri atas: Kyelse, putri para naga putih yang menjadi salah satu yang termuda namun juga yang terkuat dari spesiesnya; Fear (Phia?), sosok archangel terkuat di Langit, yang bahkan melebihi sang dewi sendiri; dan Elise, sang maou yang menguasai makhluk-makhluk dari Dunia Bawah. Berempat, mereka mengakhiri perang besar antara sesama ras mereka dan sekaligus menuntaskan End War yang nyaris menghancurkan dunia.

Namun karena suatu sebab, di akhir perjalanan, Eleline terpisah dari teman-teman seperjalanannya, dan akhirnya meninggal dunia karena sakit.

Sebelum meninggal, Eleline disebut-sebut telah meninggalkan sebuah catatan yang mengungkap sejarah dunia yang sesungguhnya. Catatan ini disebut Encore, dan konon turut mencantumkan kebenaran dari apa yang terjadi semasa End War. Catatan ini dikabarkan tersembunyi di suatu tempat rahasia. Lalu sedemikian berharganya pengetahuan di dalam catatan ini, berbagai pihak berlomba-lomba untuk menemukannya.

Tiga abad kemudian, Kyelse terbebas dari segel yang mengurungnya dan mendapati dirinya hanya seorang diri, tanpa kehadiran Eleline ataupun kawan-kawannya yang lain. Mulailah ia bergerak untuk mencari jejak kawan-kawan lamanya, sekaligus mengathui apa sebenarnya yang terjadi pada Eleline.

Legenda sang Kaisar Pedang (Palsu)

Tokoh utama seri ini sendiri adalah seorang pemuda bernama Ren E. Maxwell.

Di dunia yang mengingat jasa besar Eleline dalam menyelamatkan dunia tersebut, dan sekaligus telah mengabadikan rupanya dalam bentuk pahatan patung, Ren mendapat nasib kompleks karena terlahir dengan wajah sangat mirip Eleline. Dia beruntung karena jadi dipandang mirip dalam banyak sisi dengan sang pahlawan. Tapi dia juga sial karena jadi dibebani pengharapan keterlaluan untuk bisa menjadi sehebat Eleline. Yang lebih menyebalkan lagi, dirinya memang konon masih garis keturunan keluarga Eleline, walau Ren merasa justifikasi ini konyol karena Eleline meninggal dunia sebelum sempat meninggalkan keturunan. Jadi bisa dibilang dirinya hanyalah keturunan dari kerabat jauh Eleline. Lalu karena hal tersebut, Ren jadi menerima banyak ketidakadilan.

Ren adalah murid di Akademi Perjalanan Suci Fiore, satu dari sekian banyak instansi yang mendidik anak-anak muda untuk membentuk kelompok-kelompok yang akan menjelajah dunia demi mencari Encore.

Ren adalah seorang murid pekerja keras, tapi terbukti punya bakat biasa-biasa saja. Nilai-nilai ujian dan kemampuan prakteknya hanya sedikit di atas rata-rata. Lalu dirinya juga pernah tinggal kelas karena gagal dalam ujian praktek gara-gara dipasangkan dengan orang terkuat di angkatannya, semata-mata karena kemiripannya dengan Eleline.

Hanya satu orang di sekolahnya yang tak mencemooh Ren sebagai orang gagal. Orang itu adalah kakak kelasnya, seorang siswi teladan berambut pirang yang seakan sangat sempurna, baik dalam hal nilai maupun penampilan, Fear Nesphilia. Pada suatu titik, Ren telah menjadi akrab dengan Fear (yang jadi senang menggodanya), murid paling jenius di sekolah tersebut. Dari waktu ke waktu, Fear akan menyapa untuk menanyai kabarnya.

Karena kedekatan mereka, Ren selama ini mengira bahwa dirinya benar-benar akan seorang diri di akademi sesudah Fear lulus di akhir tahun nanti. Dengan kemampuan Fear yang luar biasa, Ren mengira pasti akan mudah untuk menemukan kelompok yang mau menerimanya, sehingga Fear bisa langsung berangkat untuk mencari Encore. Namun di luar dugaan, Fear ternyata memiliki rencana lain. Fear ternyata berencana untuk mengundurkan diri dari sekolah bahkan sebelum lulus.

Tapi sebelum Fear sempat menjelaskan, Ren mengalami sebuah kejadian di kota.

Itu adalah awal pertemuan Ren dengan Kyelse, sang putri naga perak, yang berujung pada pembuktian bahwa semua legenda tentang sang Kaisar Pedang yang disukainya sejak kecil benar-benar adalah nyata.

Lindungi Dirimu, Dengan Kekuatanmu Sendiri

Singkat cerita, Sekai no Owari no Encore adalah tentang perjalanan Ren—yang berwajah mirip dengan Eleline—dengan kawan-kawan seperjalanan lama Eleline dalam mencari Encore. Semula, perjalanannya hanya dengan Kyelse dan Fear-senpai (yang segera terbukti ternyata adalah Fear sang archangel). Tapi tak lama kemudian, mereka juga ditemani Elise, sang maou generasi terdahulu, yang telah mereinkarnasikan tubuhnya dan kini berwujud seperti anak perempuan berkulit coklat berusia 10 tahun, meski ia masih memiliki ingatan dan sebagian kekuatan dari wujudnya yang lama.

Kyelse, Fear, dan Elise sama-sama telah menerima bagaimana Ren hanyalah seseorang yang semata-mata mirip dengan Eleline. Meski tergoda untuk berpikir demikian, Ren bukanlah(?) reinkarnasi Eleline, mengingat kaum manusia tak punya kemampuan tersebut. Tapi ketiganya sama-sama bisa melihat ada sesuatu dalam diri Ren yang sedikit banyak mengingatkan mereka pada Eleline, dan membuatnya dipandang layak untuk berpergian bersama mereka.

Ren, yang notabene paling lemah di antara mereka bertiga, bukannya patah arang, malah jadi semakin terpacu untuk berlatih keras. Meski kemampuannya dipandang menengah untuk ukuran ksatria, ketiga putri tersebut melihat adanya potensi belum tergali dalam diri Ren, yang selama ini tersembunyi karena bias yang orang-orang punya terhadapnya. Mereka berpendapat bahwa kalau dilatih secara benar, mungkin saja Ren bisa tumbuh sampai sekuat(!) Eleline di masa lalu.

Hubungan teman seperjalanan sekaligus guru-murid ini yang menjadi salah satu hal khas Sekai no Owari no Encore. Ketiga gadis tersebut secara bergantian akan melatih dan mengajari Ren. Kyelse akan mengajari ilmu pedang yang diingatnya dari Eleline, sementara Fear dan Elise mengajari ilmu-ilmu lainnya.

…Tentu saja dengan diselingi satu-dua adegan fanservice.

Tapi, itu dia.

Satu hal tak biasa lain yang seri ini miliki adalah bahwa terlepas dari sorotan sesekalinya ke ketiga heroine tersebut, ada cerita latar yang cukup komplit yang dipaparkan. Jadi meski semula sering ada kesan “Aiih, lagi-lagi adegan kayak gini!” Lambat laun, terlepas dari betapa sepelenya cara adegan-adegannya dibuka, percakapan antara Kyelse, Fear, dan Elise biasanya jadi mengungkap lebih jauh soal dunia dan para karakternya.

Segera terungkap bahwa ada perjalanan berkelanjutan yang dilakukan oleh berbagai kelompok (party) yang tak terhitung jumlahnya untuk menemukan Encore. Meski telah ada tiga abad berlalu, dunianya tidak bisa dibilang aman dengan banyaknya monster yang berkeliaran, wilayah-wilayah yang belum terjamah, serta berbagai puing peradaban masa lampau yang menyembunyikan rahasia-rahasia yang telah lama terlupa.

Terungkap pula bahwa meski masih terbilang sangat kuat untuk ukuran manusia biasa, ketiga putri tersebut kini berada dalam kondisi jauh lebih lemah dibandingkan sewaktu mereka bersama Eleline tiga abad lalu. Kyelse tersegel, dan tak dapat lagi mengakses wujud naganya. Fear dan Elise diimplikasikan kehilangan seluruh tubuh mereka, dan harus mewujudkan fisik mereka kembali dari awal. (Elise baru berhasil melakukannya sepuluh tahun sebelum cerita dimulai.)

Mereka juga tak tahu soal apa yang menimpa Eleline dan bahkan tak tahu apa itu Encore sebelum mendengar kabar-kabar burung tentangnya. Namun demikian, mereka meyakini bahwa Encore merupakan semacam wasiat yang Eleline tinggalkan untuk mereka. Karenanya, mereka tak sudi bila itu sampai jatuh ke tangan manusia biasa. Apalagi bila digunakan untuk hal tak baik.

Batu Amber dan Bulu Sayap

Selain memaparkan dunia(-dunia) luas yang belum keseluruhannya terjamah yang dipenuhi puing-puing peradaban kuno, ada semacam sistem job/class yang seri ini tonjolkan.

Jadi, ceritanya, sedemikian banyaknya kelompok yang berangkat untuk mencari Encore, sudah ada semacam ‘penjurusan’ untuk peran masing-masing orang di dalamnya. Pembagian peran ini memudahkan komunikasi untuk menyampaikan kelemahan dan keunggulan sebuah kelompok.

Kesemua peran yang diajarkan dalam akademi, dengan istilah masing-masing (ada permainan furigana di sini, jadi istilah yang ‘dibaca’ adalah yang huruf besar), adalah:

  • MASTER (Knight) — Pengguna segala bentuk persenjataan pedang dan kampak yang berperan dalam menghadapi lawan dalam jarak dekat. Karena peran mereka di garis depan, mereka harus paham terhadap seluruh keadaan di sekeliling mereka, dan karenanya, harus memiliki kemampuan menilai keadaan secara sigap dan dingin. Biasanya terdiri atas orang-orang bertubuh besar dan kekar. Meski tingkatannya masih rendah, dan meski ukuran badannya hanya rata-rata, Ren sebenarnya termasuk dalam golongan ini.
  • ARIA (Caster) —Pengguna ritual-ritual kompleks yang memungkinkan manusia menggunakan sihir dan mantera-mantera serang para Iblis. Ketiga putri—khususnya Elise—mampu menjalankan peran ini, walau mungkin dengan mekanisme yang berbeda dari biasa. Ren berkata dirinya tak punya bakat di bidang ini.
  • SPIRIT (Spiriter) —Pengguna mantera-mantera yang berbasis pada pusaka-pusaka armamen roh, yang mengandung kekuatan para roh alam. Ketiga putri sama-sama punya pengetahuan tentang peran ini, tapi tak mendalaminya. Ren berkata dirinya tak punya bakat di bidang ini, walau anehnya, Elise bisa merasakan adanya aroma roh yang kuat dalam diri Ren.
  • FULLTYPE (Fighter) — Ahli pertempuran jarak dekat yang dengan mengkombinasikan mantera-mantera perlindungan serta tubuh mereka sendiri, mengalahkan musuh menggunakan ilmu bela diri. Mereka dinamai demikian karena beratnya latihan yang harus dijalani agar tak perlu mengandalkan senjata ataupun pelindung berlebih. Di luar dugaan Ren, peran khusus yang Fear-senpai dalami ternyata adalah ini.
  • ENCHANTER (Barrierer) — Pengguna mantera-mantera Malaikat yang mampu menyembunyikan, menyegel, mengintersepsi, dan sekaligus melindungi. Tanpa perlu dikata, Fear-senpai ahli dalam peran ini.
  • HEALER (Curer) — Para penyembuh yang menggunakan mantera-mantera yang mempengaruhi aktivitas tubuh dan regenerasi, di samping obat-obatan dan farmasi. Tak ada di kelompok Ren yang secara khusus mendalami peran ini, tapi semuanya sedikit banyak punya pengetahuan tentangnya.
  • HUNTER (Predator) — Petarung yang memiliki pengetahuan mendalam tentang berbagai makhluk yang menjadi buronan. Mereka mendalami kemampuan untuk menggunakan persenjataan jarak jauh dalam pertempuran.Lagi, tak ada di kelompok Ren yang secara khusus mendalami peran ini, tapi semuanya sedikit banyak punya pengetahuan tentangnya.
  • THIEF (Searcher) — Anggota kelompok yang berperan sebagai otak lapangan sekaligus arkeolog. Tak ada di kelompok Ren yang mendalami peran ini, tapi Elise dapat menjalankan peran ini dengan kemampuan alaminya untuk merasakan niat jahat.

Kesemua golongan tersebut juga ada tingkatan-tingatan penguasaannya. Mulai dari tingkat III yang paling rendah, naik menjadi tingkat II, kemudian I, lalu gelar Sword King untuk seorang MASTER, misalnya, hingga akhirnya Sword Emperor seperti halnya Eleline dulu.

Dalam perkembangan cerita, sebenarnya ada satu peran lagi yang tak diajarkan secara formal karena sedemikian langkanya bakat untuk menjalankannya. Peran tersebut adalah ANCIENTER, pengguna mantera-mantera hilang, yakni orang-orang yang punya kemampuan untuk berbicara langsung dengan para roh alam sekaligus memanggil dan meminjam kekuatan mereka.

Ren, tanpa disadarinya sendiri, sebenarnya termasuk dalam golongan ini.

Dari waktu ke waktu, semenjak hari-harinya di Akademi, ternyata ada roh api Salamander yang akan muncul dan menemaninya saat ia sedang sendiri. Roh ini pun rupanya ikut menemani dalam perjalanan mereka mencari Encore.

Kenyataan ini sedemikian mengejutkan ketiga putri. Berbeda dari para manusia, kaum naga, Malaikat, dan Iblis memandang bahwa roh-roh alamlah yang sebenarnya punya kedudukan paling tinggi di alam semesta.  Bahkan sebelum Ren, disebut bahwa hanya ada satu orang di dunia yang punya kemampuan ini, yakni sang petinggi di Tanah Suci Canaan. Tapi besarnya kekuatan yang peran ini miliki tak tersebar luas karena sedemikian langka penguasaannya.

Ini satu-satunya bidang ilmu yang tak bisa diajarkan ketiga putri secara langsung kepada Ren. Karenanya, upaya untuk mempertemukan Ren dengan roh-roh alam lain belakangan menjadi salah satu tujuan tambahan dalam perjalanan mereka.

Nyanyikan, Gerbang Dunia

Karena meyakini Encore adalah wasiat khusus dari Eleline untuk mereka, ketiga putri yakin bahwa Encore berada di tempat yang tak terjangkau oleh manusia biasa. Dugaan ini diperkuat dengan bagaimana keberadaannya masih belum ditemukan meski sudah berabad-abad.

Ren dan kawan-kawan barunya menelusuri satu demi satu petunjuk yang mereka miliki tentang Encore, yang sebagian di antaranya terdapat pada hubungan-hubungan masa lalu yang dimiliki ketiga putri.

Di saat yang sama, mereka juga harus berhadapan dengan kepentingan kelompok-kelompok lain. Ini terutama karena tersebarnya berita tentang mereka seolah menandai terlahirnya kembali Sword Emperor Brigade yang dulu pernah Eleline pimpin. Ren dan kawan-kawannya, yang kini dijuluki kelompok Reincarnated Knight (atau Knight of Reincarnation), jadi mengundang perhatian pihak-pihak seperti Elmekia Dusk, kelompok pencari Encore dengan keanggotaan terbesar di dunia; Saint Eyries, pada pencari dari tanah Canaan yang didorong oleh keyakinan keagamaan mereka; serta Spirit Inspectors, kelompok penelusur jejak para roh di mana Shion, ahli pedang terkuat di zaman ini yang disebut berada paling dekat dengan tingkatan Eleline, tergabung.

Melihatnya sekarang, kurasa tak bisa disangkal bagaimana premis seri ini terdengar sederhana tapi sekaligus begitu menjanjikan.

Secara menyeluruh, Sekai no Owari no Encore, sekali lagi, tak benar-benar bisa dikatakan bagus. Deskripsi dunianya dipertahankan minim. Alur ceritanya terbilang ringan. Perkembangan karakternya juga tak mendalam. Struktur pemaparan ceritanya juga terkadang tak lazim. Ada kesan aneh bahwa Sazane-sensei mengarang cerita ini saat masih remaja. Tapi sekali lagi pula, ada sesuatu tentang ceritanya yang membuat penasaran.

Meski pemaparannya sederhana, ada tema-tema soal persahabatan dan kerja keras. Para tokoh utama wanita, meski kerap bersikap ingin diperhatikan, sepenuhnya mandiri dan tak begitu saja jatuh cinta pada si tokoh utama. Intinya, cerita ini seperti berhasil menumbuhkan keingintahuan soal ke depannya nanti para karakternya akan di bawa ke mana.

Walau secara anatomi mungkin tak cocok dengan sebagian orang, ilustrasi Fuyuno-sensei juga terbilang cantik. Seperti elegan, tanpa terlalu condong ke seksi ataupun imut. Gaya desain beliau mungkin masih belum terlalu variatif. Tapi terasa ada perhatian yang beliau terhadap detil. Hal ini agaknya juga dipunyai Usui-sensei yang mengadaptasinya ke bentuk manga.

Hasilnya, seri ini seperti punya kesan umum ‘netral’ yang membuatnya mudah dinikmati banyak kalangan sekalipun popularitasnya takkan meledak.

Belakangan, perhatian terhadap seri ini mulai tumbuh dan sudah ada kelompok fans yang mulai menerjemahkan lagi.

Yah, nanti kalau ada perkembangan, mungkin akan aku kabar-kabari lagi.

Tag:
12/03/2017

Shibito no Koe o Kiku ga Yoi

Shibito no Koe o Kiku ga Yoi, atau You Will Hear the Voice of the Dead (‘kau akan mendengar suara orang-orang yang mati’) adalah seri manga horor remaja karangan Hiyodori Sachiko (juga dikenal dengan nama Uguisu Sachiko) yang belakangan menarik perhatian. Diterbitkan sejak tahun 2011 oleh Akita Shoten dan diserialisasikan di majalah Champion Red, perlu kuakui ini salah satu manga horor modern paling menarik buatku.

Premisnya benar-benar sederhana.

Kishida Jun adalah seorang siswa SMA yang memiliki tubuh sakit-sakitan sejak kecil. Sebenarnya, dirahasiakan olehnya sendiri, selain kerap mimisan, Kishida juga sering bisa melihat hantu dan roh orang-orang mati. Tapi Kishida sangat enggan mengakui hal ini. Alasannya karena berdasarkan pengalaman-pengalamannya pribadi, berurusan dengan roh orang-orang mati tak pernah berujung pada hal baik.

Pada suatu ketika, terjadi serangkaian kasus menghilangnya siswa di sekolahnya. Lalu salah satu yang menghilang tersebut adalah Hayakawa Ryoko, seorang siswi cantik yang merupakan teman Kishida semasa kecil. Hayakawa dan Kishida dulu sering sekali bermain sama-sama. Namun pada suatu titik, mereka mulai jarang berbicara. Hayakawa lalu menjadi salah satu yang menghilang. Kemudian sejak saat itu, Kishida mulai sering melihat hantunya.

Mengikuti roh Hayakawa, Kishida akhirnya mengetahui tentang penyebab kematiannya. Namun anehnya, meski kebenarannya terungkap, roh Hayakawa semenjak itu menjadi sering mengikuti Kishida ke manapun ia pergi, senantiasa memperingatkannya dan memberinya petunjuk setiap kali Kishida menghadapi bahaya.

Kelihatannya Mereka Bukan Kappa, Tapi Alien

Semenjak kematian Hayakawa, untuk suatu alasan, Kishida menjadi sering menghadapi kasus-kasus aneh yang berhubungan dengan dunia supernatural. Sebagian alasannya mungkin memang karena Koizumi, teman sekelas Kishida yang gemuk dan realis, telah menyeretnya untuk bergabung dengan klub sejarah (yang belakangan, berubah menjadi klub supernatural) pimpinan Shikino, seorang siswi cantik berkacamata (yang sebenarnya bersifat lumayan egois di balik penampilannya). Tapi keberadaan roh Hayakawa sedikit banyak selalu memungkinkan Kishida dan orang-orang di dekatnya untuk bertahan hidup.

Manga ini menonjol karena pemaparan lewat dialognya yang terbilang minim. Setiap kasus biasanya secara khusus dihadirkan hanya dalam satu bab, walau memang dalam perkembangannya, ada kasus-kasus tertentu yang relatif lebih panjang. Hasilnya, Shibito no Koe o Kiku ga Yoi benar-benar terasa seperti manga yang singkat, padat, dan jelas. Menyenangkan untuk dibaca, mudah untuk dimengerti, dan menarik untuk dibaca lagi, terutama dengan bagaimana Hiyodori-sensei sudah disuruh editornya untuk memastikan selalu ada karakter-karakter perempuan (selain Hayakawa) yang imut di dalamnya.

Menariknya, dalam segala interaksi mereka, Kishida dan Hayakawa tak bisa berbicara dengan satu sama lain sama sekali. Jadi terlepas dari judulnya (yang diakui pengarangnya sendiri terdengar gaje, walau ini mungkin juga foreshadowing terhadap perkembangan cerita ke depan), tak ada suara roh mati apapun yang bisa Kishida dengar.  Kishida dan Hayakawa lebih banyak berinteraksi melalui bahasa tubuh dan pandangan mata. Mimik muka Hayakawa senantiasa datar dan tak ada kata-kata yang ia ucapkan, walau sebaliknya, Hayakawa agaknya bisa memahami apa-apa yang Kishida katakan, dan terkadang ia seperti sengaja bersikap dengan cara-cara tertentu.

Karenanya, kerap kali interaksi di antara kedua tokoh utama berujung jadi lucu secara tak disengaja. Sehingga walau dalam setiap babnya hampir selalu ada adegan-adegan kematian mengerikan (yang tak melulu melibatkan hantu, tapi juga berbagai keanehan supernatural yang lain), ada semacam keriangan polos yang dimilikinya, yang bisa bikin kamu seram tanpa sampai meracuni pikiranmu.

Hal lain yang aku sukai dari seri ini adalah bagaimana kasus-kasus yang lalu juga tak pernah dilupakan. Sedikit banyak, semuanya terasa seperti sedang membangun sesuatu ke arah depan. Itu tetap terasa bahkan dengan pemaparan karakter yang terbatas dan minim.

Bicara soal artwork, gaya gambarnya dipertahankan bernuansa suram dengan warna-warna gelap, tapi bagus. Seriusan, bagus sekaligus rapi. Tak ada fanservice disengaja yang mendistraksi juga. Adegan-adegan kematiannya juga, sekalipun mengerikan, bukanlah jenis yang terlalu berlebihan dalam gore. Penceritaannya, sekali lagi, benar-benar efektif. Ada kedetilan yang benar-benar diperhatikan dalam penggalian latar. Di samping itu, mudah untuk menghargai keragaman temanya yang luas. Hiyodori-sensei seakan telah melakukan riset serius terhadap berbagai cerita aneh sebagai materi karyanya.

Waktu aku pertama tahu tentang manga ini, aku sempat aneh karena belum pernah mendengar tentang Hiyodori-sensei sebelumnya. Aku merasa demikian karena ada sesuatu tentang karyanya yang seakan bisa membuat pembacanya ingin bisa mendukungnya.

Aih, aku berharap judul ini makin dikenal di masa depan nanti.

29/11/2016

Kimi Shi ni Tamou Koto Nakare

Kimi Shi ni Tamou Koto Nakare, atau juga dikenal dengan judul Thou Shalt Not Die (kira-kira berarti ‘engkau janganlah mati,’ atau ‘kematianmu janganlah sampai menaklukkanmu;’ kemungkinan judulnya diambil dari puisi klasik Asano Yokiko), sekilas tak terkesan istimewa. Ini seri manga relatif baru dengan cerita yang dibuat Yoko Taro dan digambar oleh Moriyama Daisuke. Ilustrator lepas Kurahana Chinatsu turut berperan sebagai perancang pakaian para karakternya.

Cerita Kimishini, gampangnya, adalah tentang anak-anak remaja yang dilimpahi kekuatan-kekuatan supernatural. Anak-anak remaja ini disuruh berperang menggunakan kekuatan-kekuatan tersebut, di zaman ketika minyak bumi sudah mengering dan sumber daya alam menjadi objek perebutan antar negara.

Seri ini diserialisasikan dari awal tahun 2015 di majalah bulanan Monthly Big Gangan milik Square Enix. Meski relatif baru, dengan perlahan namun pasti seri ini sudah menarik perhatian kalangan-kalangan penggemar tertentu.

Kalangan-kalangan penggemar apa yang aku maksud?

Tentu saja, kalangan-kalangan penggemar Yoko Taro-sensei.

Buat yang belum tahu, Yoko-sensei sebelum ini dikenal sebagai pencetus game-game Drakengard/Drag-On Dragoon yang dikembangkan perusahaan Cavia, biasanya dengan dukungan dari perusahaan Square Enix. Waralaba ini keluarnya di zaman Sony PlayStation 2, jadi kurasa wajar bila kalian tak kenal nama beliau. Drakengard sekilas terlihat seperti  permainan-aksi-satu-orang-melawan-keroyokan-banyak-musuh macam Dynasty Warriors yang dikombinasi dengan aksi-aksi pertempuran udara macam Ace Combat. Banyak yang bilang idenya menarik sih, tapi eksekusinya kelihatan kurang begitu bagus. Namun mereka yang tak mencobanya sendiri, atau tak diberitahu tentangnya, biasanya juga takkan sadar kalau cerita Drakengard itu sebenarnya gelap.

Maksudku, gelap dalam artian lebih dekat ke ‘sakit.’

Cerita game-game Drakengard  biasanya berlatar di dunia dark fantasy muram di mana sedang berlangsung perang yang dapat mengakhiri nasib dunia. Namun segala yang terjadi biasanya berujung jauh lebih aneh dari yang kau bayangkan. Maka dari itu, cerita-cerita beliau amannya kau ikuti kalau kau dewasa dan berpikiran agak terbuka.

Dalam game-game beliau, Yoko-sensei kadang terasa nge-troll. Tapi di balik itu, selalu terkesan kalau dirinya punya maksud yang lebih dalam dari yang terlihat.

Makanya, terlepas dari adaptasi manga bersifat prekuel dari Drakenguard 3 yang belum lama ini juga dibuat, Kimishini bisa dibilang adalah karya manga beliau yang pertama. Atau setidaknya, seri manga pertama di mana beliau terlibat langsung sebagai pencetus cerita. Lalu seperti yang semua penggemar beliau harapkan, hampir semua ciri khas beliau bisa ditemukan di seri ini.

Ciri-ciri khas tersebut biasanya berupa:

  • Perkembangan yang senantiasa segar dan mengejutkan. Pola cerita yang pernah beliau pakai sekali biasanya tak akan beliau pergunakan untuk kedua kalinya.
  • Perkembangan yang lebih ‘dalam’ dari yang terlihat. Terlepas dari apakah itu bagus atau enggak, terlepas dari apakah kau sebagai pemirsa menyukainya atau enggak, selalu ada sesuatu yang tak tampak di permukaan.
  • Karakter-karakter yang kejiwaannya agak sakit.

…Apa lagi ya? Terus terang, belum banyak karya beliau yang telah aku tahu selain itu.

Moriyama Daisuke-sensei sendiri adalah pengarang seri manga aksi eksorsisme Chrno Crusade dan seri sains fiksi World Embryo. Aku belum pernah baca World Embryo, jadi aku tak bisa berkomentar tentang itu. Tapi kalau menilai dari Chrno Crusade, Moriyama-sensei tipe mangaka yang meski karya-karyanya kurang memiliki cerita menonjol, karakter-karakter yang beliau buat selalu seperti punya aura karismatik kuat. Desain-desainnya sekilas tak istimewa, tapi kesemuanya memiliki presence yang kuat dalam konteksnya masing-masing gitu. Hal itu tetap terasa bahkan dengan gaya gambar beliau yang sudah agak berbeda di Kimishini.

Soal Kurahana-san, beliau perancang karakter untuk seri Uta no Prince-sama. Jadi tentu saja rancangan-rancnagan pakaian beliau modis dan bagus.

Tersentuh oleh Perintah Itu

Kimishini bercerita seputar siswa-siswi yang tergabung dalam SMA Swasta Kemampuan Istimewa Nasional. (Iya, disebutnya demikian. Namanya blak-blakan sekali.)

Agak rumit penjelasannya. Tapi intinya, semenjak keringnya pasokan minyak bumi delapan belas tahun sebelumnya, konflik-konflik bersenjata global kemudian melanda dunia. PBB memutuskan untuk mengadakan intervensi-intervensi militer demi memulihkan keadaan di wilayah-wilayah konflik. Lalu Jepang, sebagai salah satu negara paling makmur, terpilih sebagai salah satu negara pelaksananya.

Masalahnya, konstitusi Jepang (semacam undang-undang dasarnya) secara jelas melarang tindakan-tindakan yang menjurus ke arah peperangan dengan negara lain (ini sebagai dampak akhir Perang Dunia II?). Solusi yang kemudian diambil? Gampangnya, kirim saja prajurit-prajurit yang tidak menggunakan senjata api.

Dalam hal ini, prajurit-prajurit yang ditenagai kekuatan-kekuatan supernatural.

Kekuatan-kekuatan seperti telekinesis dan penguatan tubuh ceritanya sudah bisa tercipta lewat penggunaan berbagai obat-obatan. Lalu anak-anak yang dikumpulkan di sekolah tersebut adalah bagian semacam proyek pemerintah untuk pengembangan kekuatan-kekuatan ini.

Resminya, mereka anak-anak remaja yang terpilih sebagai bagian badan amal suatu NGO (organisasi non-pemerintah). Mereka dikirim ke wilayah-wilayah yang dilanda konflik sebagai bentuk ujian atas kekuatan yang telah mereka kembangkan.

Anak-anak ini sendiri pun tahu kenyataannya seperti demikian.

Kenapa remaja-remaja ini yang dikirim, dan bukan orang-orang dewasa yang sudah matang dan lebih terlatih? Alasannya karena kekuatan-kekuatan tersebut konon akan lenyap begitu mereka menginjak usia dua puluh tahun.

Ada lumayan banyak hal yang sebenarnya tersamar pada rinciannya. Terutama dengan bagaimana ceritanya langsung masuk ke porsi adegan-adegan aksi. Tapi sedikit demi sedikit, beragam aspek ceritanya secara perlahan diungkap, memperlihatkan sisi-sisi kenyataan yang lumayan gelap.

Dan Kau Masih Ulurkan Tangan

Cerita Kimishini dibuka di suatu medan perang urban di Amerika Selatan.

Kematian secara brutal terjadi.

Anak-anak sekolahan yang sebelumnya hanya mengenal kedamaian, meski telah dilatih berperang dan membunuh, tiba-tiba harus berhadapan langsung dengan rentetan peluru dan ledakan. Berhubung mereka tak boleh membawa senjata api maupun peledak, selain baju seragam yang mereka gunakan, siswa-siswi tersebut hanya dilengkapi pedang-pedang katana, perbekalan makanan dan minuman, serta peralatan-peralatan komunikasi. Parahnya, kekuatan-kekuatan supernatural yang harusnya bisa mereka andalkan ternyata belum cukup aplikatif untuk dipakai secara nyata. Waktu pengaktifan kekuatan sebagian besar orang masih lamban. Karena itu, meski terlatih sekalipun, mereka masih rentan terhadap kematian.

Remaja-remaja ini menjadi kontingen pertama dari sekolah tersebut yang dicoba di lapangan. Kontingen pertama itu dipimpin para pengurus Dewan Siswa di sekolah itu sendiri.

Para anggota Dewan Siswa itu terdiri atas: Usuki, sang ketua berjiwa pemimpin yang dapat diandalkan (kelas 3, dididik untuk sebagai Gunner, atau pengguna kekuatan jarak jauh, seperti telekinesis); Botan (kelas 3, Attacker, atau pengguna kekuatan jarak dekat, seperti penguatan tubuh), wakil ketua sekaligus kekasih Usuki yang telah bersumpah untuk melindunginya; serta kawan dekat Usuki, seorang cowok berharga diri tinggi bernama Sumi (kelas 3, Scanner, yang memiliki kemampuan jenis pelacakan, seperti penglihatan jarak jauh), yang menjabat sebagai sekretaris.

Selain mereka, cerita perlahan turut mengetengahkan Mashiro, siswi Attacker kelas 1 berambut pendek yang menyimpan perasaan suka terhadap Usuki, yang setidaknya berharap ia bisa menjadi tameng bagi teman-teman sekolahnya yang lain.

Kerap mengitari Mashiro, dan juga sesama Attacker, hadir seorang siswa seangkatannya bernama Kuroi. Kuroi ceritanya pribadi yang agak mistrius. Kuroi, karena suatu alasan, seakan seperti selalu bisa memahami hal-hal yang tak ia ungkap ke orang lain. Karenanya, Mashiro sering mendapati Kuroi tersenyum pada saat-saat yang tak semestinya.

Satu karakter lain yang menonjol adalah seorang siswa kelas dua Scanner berkacamata bernama Asagi. Asagi memiliki kepribadian aneh, karena seringkali seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi, karena ia lupa.

Seluruh karakter yang berperan di Kimishini sejauh ini hanya dikenali dengan satu buah nama. Seakan-akan, sebagaimana yang para karakternya sendiri alami, segalanya hanya diceritakan ‘versi sederhananya’ gitu. Dengan hal-hal yang tak perlu kita ketahui dengan sengaja ditahan.

Karena seri ini pada dasarnya bergenre aksi, tapi diterbitkan bulanan, porsi ceritanya banyak disampaikan melalui dialog-dialog dengan makna terselubung. Kita seperti dibuat mengerti kalau memang ada hal-hal tertentu yang dirahasiakan. Lalu pada bab-bab tertentu, memang ada bagian-bagian eksposisi yang menguak rahasia atau pengetahuan yang dimiliki masing-masing karakter. Tapi tetap saja, dalam jangka panjang, seperti ada benang merah yang benar-benar tak bisa kita tebak gitu.

Benang-benar merah seperti soal tangan prostetik yang Botan miliki setelah ia kehilangan sebelah tangannya, politikus-politikus yang tiba-tiba ditahan, pengetahuan penting yang mungkin Asagi lupakan dari masa lalunya, atau kegilaan terselubung yang Kuroi rasakan terhadap Mashiro karena gadis tersebut seakan telah mengembalikan kemanusiaannya.

Dengan kata lain, benar-benar persis seperti pengharapan kita atas sebuah karya dari Yoko-sensei.

“Tak perlu ingat namaku. Toh, kau takkan melihatku lagi.”

Meski selera dan minat beliau agak aneh, kudengar Yoko-sensei sebenarnya orang yang berwawasan. Beliau mendalami bidang sejarah dan cukup up-to-date dengan perkembangan-perkembangan di bidang kemiliteran. Beliau juga kurang menyukai banyak hal yang umumnya dipandang konvensional. Lalu itu semua benar-benar tercermin dalam topik-topik dan tema yang diangkat dalam Kimishini.

Memang sudah jelas ini genrenya seinen sih. Tapi sekali lagi aku katakan, Kimishini benar-benar lebih cocok untuk dewasa. Pertama, karena berbagai kekerasan sadis yang terjadi di dalamnya. Kedua, adegan-adegan percakapannya juga mungkin membosankan, terutama bagi pembaca awam yang kurang tertarik dialog-dialog penuh ‘ketersiratan’ seperti ini. (Ada satu adegan ketika seorang ilmuwan mengutarakan secara panjang pendapatnya tentang kehebatannya sendiri, sebelum akhirnya tiba-tiba terkuak bagaimana dirinya seorang psikopat.) Lalu, ya, seperti yang mungkin bisa kau bayang, terkadang ada nudity dan bahasan-bahasan yang menyinggung soal seks juga.

Tapi kesemuanya menurutku benar-benar berhasil dipaparkan secara proporsional. Moriyama-sensei seperti berhasil mewujudkan gaya cerita, uh, khasnya Yoko-sensei. Kalau hanya melihatnya sekilas, mungkin aku takkan menyadari kalau manga ini digambar oleh pembuat World Embryo dan Chrno Crusade.

Di samping itu, adegan-adegan dalam ceritanya menurutku kerap benar-benar intens. Disusun sedemikian padatnya, sehingga pada setiap bab terasa ada sesuatu yang tertuntaskan atau terjelaskan.

Mungkin aneh kalau aku bicara begini. Tapi aku baru tersadar sudah betapa lamanya tak ada manga yang membuatku tanpa sadar menahan nafas sampai aku membaca Kimishini.

Kemampuan-kemampuan yang ditampilkan sejauh ini memang terbilang sederhana. Kemampuan ‘umum’ seperti kekuatan mengendalikan api saja tak ada. Mungkin karena terlalu membosankan untuk ukuran Yoko-sensei? Bagaimanapun, dasar kekuatan para karakternya tetap dari sains. Tapi aku tak bisa berkomentar untuk perkembangan-perkembangan cerita ke depan.

Berhubung masih baru, seri ini tentu saja statusnya masih berlanjut saat ini kutulis. Tapi meski jumlah babnya baru belasan, mungkin karena cara ceritanya dipadatkan, rasanya ada begitu banyak hal yang para tokohnya sudah alami.

Aku pribadi tertarik dengan cerita ini karena dari dulu selalu terngiang-ngiang akan jawaban dari Yoko-sensei saat beliau ditanya tentang metode beliau dalam membuat cerita dalam sebuah wawancara. Pada dasarnya, saat sedang bosan—seperti saat sedang berada dalam sebuah rapat, misalnya—beliau sering mengalihkan pikiran dengan mulai memikirkan hal-hal menarik apa saja yang lebih senang ia lakukan.

Dengan kata lain, yang beliau lakukan hanya berusaha membuat apa-apa yang sedang dikerjakannya menjadi menarik.

Sebagai orang yang gampang terseret dalam kemonotonan, aku sebenarnya dibuat cukup terganggu dengan perkataan ini.

Sial. Bahkan hingga kini pun ilmu tersebut masih belum aku kuasai!

Terlepas dari itu lagi, ceritanya mungkin memang terlalu keras untuk ukuran mainstream. Jadi kalau kalian tak suka (karena kalian jadi berasumsi macam-macam, misalnya), jangan paksakan diri.

24/11/2016

Kaguya-sama wa Kokurasetai

Kaguya-sama wa Kokurasetai – Tensai-tachi no Renai Zunousen (‘Nona Kaguya ingin dinyatakan cinta – perang para jenius dalam cinta dan kecerdasan’) adalah seri manga komedi romantis relatif baru buatan Akasaka Aka. Untuk yang belum tahu, Akasaka-sensei adalah pengarang seri manga ib – Instant Bullet yang termasuk bagus, namun mungkin kurang populer karena temanya yang agak abstrak.

Seri Kaguya-sama wa Kokurasetai awalnya diserialisasikan di majalah bulanan Miracle Jump milik penerbit Shueisha. Namun sekitar setahun sesudah serialisasi (bab 11?), seri ini dipindahkan ke majalah mingguan Shuukan Young Jump. Karena itu, walau settingnya sekolahan, seri ini kurasa masuknya kategori seinen.

Terlepas dari itu, seri ini mungkin belum terlalu dikenal oleh khalayak mainstream. Tapi sejauh yang aku dengar, basis penggemarnya benar-benar kuat.

“Cinta adalah perang… dan dia yang jatuh cinta duluan adalah yang kalah!”

Sebagian besar cerita Kaguya-sama wa Kokurasetai berlatar di Perguruan Shuchi’in.

Perguruan Shuchi’in merupakan sekolah elit dengan standar benar-benar tinggi. Sekolah ini seakan selalu menghasilkan lulusan yang benar-benar terpilih. Karena itu pula, kebanyakan siswa Shuchi’in berasal dari kalangan keluarga-keluarga kaya.

Fokus cerita seri ini terdapat pada dua siswa paling dikenal, yakni sang ketua Dewan Siswa, dan wakilnya yang sedang menjabat, Shirogane Miyuki dan Shinomiya Kaguya.

Shirogane Miyuki adalah murid teladan di angkatannya. Meskipun berasal dari kalangan rakyat biasa (dalam artian, berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah), dirinya diakui sebagai salah satu jenius yang terpilih. Sebagai seorang pekerja keras alami, Miyuki bukan hanya memperoleh nilai paling sempurna dalam setiap ujian sekolah (yang membuatnya mampu meraih beasiswa). Miyuki juga bahkan memiliki sertifikasi yang mengakuinya sebagai insinyur yang mampu menangani bahan-bahan kimia berbahaya. Sertifikasi lain yang dimilikinya kebetulan adalah sebagai seorang pengamat kesehatan ayam ternak. Jadi cakupan keilmuannya benar-benar luas.

Sedangkan Shinomiya Kaguya, yang sangat cantik dan anggun, telah terlatih dalam beragam bentuk kesenian dan keilmuan. Di samping nilai-nilai ujian yang berada di peringkat kedua hanya sesudah Miyuki, Kaguya ahli dalam berbagai jenis tarian serta kesenian tangan.

Singkat cerita, Miyuki dan Kaguya sebenarnya telah lama saling menyukai satu sama lain. Keduanya bahkan adalah cinta pertama masing-masing. Namun meskipun sama-sama bisa ‘merasakan’ bahwa target mereka sebenarnya juga merasakan suka terhadap mereka, keduanya enggan untuk menjadi yang menyatakan cinta terlebih dulu.

Kenapa? Mereka bilang alasannya karena harga diri!

Keduanya sama-sama hanya mau saling menunggu. Lalu tahu-tahu saja, setengah tahun sudah kembali berlalu dan hubungan mereka hanya jalan di tempat!

Keduanya sadar mereka tak bisa terus membiarkan keadaan begini. Maka dimulailah bermacam adu siasat dan permainan pikiran antara Kaguya dan Miyuki demi memaksa orang yang mereka sukai untuk menyatakan cinta.

Hasil Setiap Putaran

Kaguya-sama wa Kokurasetai ibarat seri macam Code Geass, Liar Game, dan Death Note. Ceritanya senantiasa dipenuhi dengan spekulasi, akal-akalan bulus, muslihat, perencanaan, persiapan, dan tipu-menipu… hanya saja untuk alasan-alasan yang jauh lebih konyol dan egois.

Hasil-hasilnya juga tentu saja kerap konyol dan egois. Kegagalan berulang. Kesalahpahaman. Luka-luka tak disengaja. Pekerjaan-pekerjaan yang bertambah. Dan sebagainya.

Gaya gambar yang Akasaka-sensei gunakan terutama mendukung hal ini. Gaya gambar beliau sekilas agak mirip gaya gambar pengarang manga shoujo, dengan garis-garis relatif tipis dan gaya gambar karakter cowok yang terkesan kaku. (Sudah jadi pengetahuan umum kalau seri manga shoujo kerap kali punya dialog dan tema bahasan yang lebih banyak dibandingkan komik cowok.) Lalu beliau kerap menggunakan warna-warna gelap dan suram dalam tiap panelnya. Warna-warna ini bahkan dikombinasikan dengan berbagai ekspresi muka ‘kosong’ yang biasa digunakan untuk menyiratkan rasa murka atau keputusasaan, sekalipun para karakter yang digambarnya notabene cantik atau imut. Tapi, kalau kau coba membaca dialog atau monolog atau narasi yang beliau gunakan, kau sebagai pembaca sulit buat enggak ngakak.

Nyatanya, meski gagasannya terkesan konyol, temanya yang ajaib itu benar-benar tidak menjadikan seri ini kalah rame.

Kalau hanya sekedar membaca deskripsinya saja, wajar kalau kalian mengira Miyuki dan Kaguya sama-sama sombong dan sulit disukai. Awalnya memang seperti sengaja dikesankan demikian. Tapi lama-kelamaan, mulai terlihat tanda-tanda yang mengindikasikan sebaliknya.

Apa yang memotivasi mereka (diindikasikan) sebenarnya bukan harga diri, melainkan rasa canggung/malu/bingung/rendah diri biasa. Hal-hal biasa yang biasa orang lazimnya rasakan saat jatuh cinta. Apalagi bila keduanya berasal dari lingkungan yang benar-benar berbeda.

Karena ini cinta pertama masing-masing, baik Miyuki maupun Kaguya (kayaknya) sama-sama masih awam dalam pengetahuan soal lawan jenis. Walau mereka diminta nasihat soal hubungan pun, nasihat mereka tak sepenuhnya bisa dibilang valid! Lalu gara-gara kecerdasan dan beragam kepandaian mereka—ditambah lagi dengan bagaimana sikap keseharian mereka dengan sendirinya membuat ‘orang biasa’ terlihat payah—keduanya malah terdorong untuk berasumsi yang aneh-aneh daripada menyatakan perasaan mereka secara langsung.

Miyuki pribadi memiliki semacam kompleks tentang latar belakangnya. Berhubung ia berasal dari kalangan rakyat jelata (di samping belajar, dirinya sibuk dengan berbagai macam kerja sambilan), ia kerap memiliki delusi mengerikan tentang bagaimana Kaguya dengan dingin nantinya akan menertawakannya bila seandainya jati dirinya yang asli ketahuan.

Sedangkan Kayuga sendiri, sebagai semacam ‘nona besar,’ telah sedemikian hidup terpingit. Sehingga Kaguya benar-benar tak tahu banyak tentang cara hidup orang awam karena telah terlalu sering diurusi para pelayannya. Akibatnya, dirinya lemah sekali dalam menghadapi berbagai produk teknologi modern (termasuk smart phone dan Twitter). Lalu dirinya juga awam dalam berbagai proses masyarakat yang ‘normal.’

Tapi terlepas dari berbagai kekonyolan antara Kaguya dan Miyuki, bintang seri ini yang sesungguhnya mungkin adalah Fujiwara Chika.

Fujiwara ceritanya adalah sekretaris Dewan Siswa. Dirinya orang yang senantiasa ceria dan berbadan bagus. Di samping itu, dirinya semacam sahabat sejak kecil Kaguya, telah lama berteman dengannya, tapi anehnya, seperti tak pernah sadar juga dengan seperti apa Kaguya yang sesungguhnya. Sifat Chika yang riang, disertai ketidakpekaannya akan berbagai macam hal, kerap membuatnya jadi ‘faktor x yang tak terduga’ dalam berbagai permainan siasat Miyuki dan Kaguya.

Segala tingkah Fujiwara itu jadi seperti… seakan langsung merebut sorotan perhatian gitu. Mungkin konsep karakter dia yang paling jenius dari seri ini.

Lalu untuk melengkapi, anggota Dewan Siswa yang terakhir adalah seorang pemuda bernuansa emo bernama Ishigami Yuu. Jabatannya sebagai bendahara Dewan Siswa, karena keahliannya dalam mengelola keuangan.

Ishigami diperkenalkan agak lama sesudah cerita berjalan. Dirinya jarang berlama-lama di ruang Dewan Siswa sesudah tugasnya berakhir.

Namun di balik semua alasannya, alasan Ishigami sering langsung pulang yang sesungguhnya karena dirinya satu-satunya orang yang sadar dengan segala ‘perang rahasia’ yang tengah berlangsung antara Miyuki dan Kaguya. (Semua orang di luar Dewan Siswa malah mengira kalau Kaguya dan Miyuki sudah berpacaran). Sebagai satu-satunya adik kelas di ruang Dewan Siswa, secara konyol Ishigami malah jadi yang sering kena batunya saat ia dimintai untuk mendukung salah seorang dari mereka.

Interaksi antara empat orang ini, dengan orang-orang di sekeliling mereka, benar-benar tergarap secara keren. Tapi meski kerap kali ada konflik kepentingan, keempatnya berteman baik kok.

Atau setidaknya, di permukaannya terlihat demikian.

“Berhubung sepertinya aku mulai merasakan gejala-gejala Stockholm Syndrome, aku minta izin pulang duluan!”

Beberapa karakter lain yang berperan meliputi adik perempuan Miyuki (yang juga agak lama ditahan kemunculannya), saudara-saudara perempuan Fujiwara (yang sama cantiknya dengannya), serta mungkin Hayasaka Ai, seorang siswi modis yang nyatanya diam-diam adalah pelayan pribadi Kaguya yang setia tanpa sepengetahuan orang lain.

Bicara soal artwork, semula, seri ini seriusan bernuansa gelap dan suram. Tapi semua itu sebenarnya tipuan (sampai Fujiwara tampil, setidaknya). Karena ceritanya, nyatanya, konyol, meski kerap sering membuatmu berpikir pada saat yang sama. Rasanya mengesankan karena meski dengan latar cerita yang itu-itu saja, Akasaka-sensei bisa mengembangkan ceritanya dengan sedemikian jauh, dengan permainan-permainan pikiran yang senantiasa seru.

Kalau kau bisa mengikutinya, humor dalam seri ini benar-benar kocak. Sehingga tak heran penggemarnya makin ke sini semakin terus bertambah.

Buatku pribadi, ini contoh seri yang mengingatkanmu kalau sepandai dan sepintar apapun kamu, pasti tetap akan ada hal-hal tertentu yang tak kamu tahu. Apalagi bila urusannya soal cinta. Bila ada hal yang kita enggak tahu, kalau mengikuti contoh Kaguya dan Miyuki, maka mungkin yang bisa kita lakukan hanyalah tetap memberikan yang terbaik.

Aaah, aku pengen muda lagiii.

Tag: ,
29/09/2016

Karakai Jouzu no Takagi-san

Aku orang yang lumayan sensitif perasaannya semenjak kecil. Lalu mungkin karena itu, serta pengalaman-pengalaman yang aku alami di masa sekolah, aku tumbuh jadi orang yang lumayan gampang mengatur perasaan sesudah dewasa.

Dengan kata lain, aku bukan orang yang gampang baper.

Aku masih cenderung moody, tapi kelihatannya emosiku tak lagi mempengaruhi penilaianku sesering dulu. Aku masih gampang tersentuh oleh cerita-cerita mengharukan di manga dan anime, tapi aku tak lagi segampang itu merasa depresi atau terngiang-ngiang karenanya.

Sampai suatu hari, aku mengetahui tentang Karakai Jouzu no Takagi-san karya Yamamoto Souichirou yang diserialisasikan sejak pertengahan 2012 di majalah bulanan Gessan milik penerbit Shogakukan.

Setelah sekian lama, akhirnya aku menemukan sesuatu yang membuatku baper lagi.

Kalau Kau Tersipu, Kau Kalah

Karakai Jouzu no Takagi-san (kira-kira berarti: ‘Takagi-san yang lihai menggoda/menjahili’) berkisah tentang Nishikata dan Takagi, dua orang yang duduk bersebelahan di sebuah ruang kelas sekolah menengah. Nishikata adalah seorang anak lelaki relatif biasa yang… uh, suka sepak bola, tak mau kalah, dan sering dibuat salah tingkah. Sedangkan Takagi adalah siswi perempuan cerdas dan berkesan dewasa yang duduk di sebelah Nishikata dan gemar sekali mengusilinya.

Entah sejak kapan persisnya, Takagi sering sekali mengisengi Nishikata hanya untuk sekedar melihat reaksi-reaksinya. Nishikata berulangkali akan dibuat tersipu dan salah tingkah dengan semua ulah Takagi, yang seketika akan disambut dengan tawa Takagi. Lalu berulang kali Nishikata akan mengatur rencana untuk ‘membalas’-nya, meski kerap kali upayanya tersebut berakhir dengan kegagalan.

Keusilan-keusilan Takagi ini biasanya berupa kata-kata yang memancing-mancing Nishikata. Kadang juga Takagi menjahilinya hal-hal seperti bersembunyi di suatu sudut dan mengagetkannya.

Sebagian besar cerita dituturkan dari sudut pandang Nishikata, yang setiap waktu terus memikirkan siasat untuk membalas Takagi. Meski demikian, buat kita para pembaca, sejak awal sudah terlihat bahwa Takagi memendam rasa suka mendalam terhadap Nishikata, hanya saja Nishikata yang masih belum cukup cermat (dewasa?) untuk menyadari hal tersebut, dan menyadari bahwa dirinya pun sebenarnya merasakan hal yang sama.

Apa yang diceritakan per babnya benar-benar terkesan sederhana. Biasanya hanya menampilkan berbagai interaksi antara Nishikata dan Takagi dalam keseharian mereka di sekolah. Terkadang, meski jarang, muncul karakter-karakter lain, yang memberi kita sedikit acuan soal bagaimana sikon mereka dan hubungan mereka sudah sampai mana.

Aku mengatakannya demikian karena lambat laun, kita akan menyadari bahwa bab-bab ceritanya ternyata tidak selalu dituturkan secara kronologis.  Ada alur maju-mundur yang digunakan. Lalu sedikit demi sedikit, kita akan mulai dibuat penasaran soal apa Nishikata dan Takagi ini pada akhirnya benar-benar akan berakhir bersama atau tidak.

“Karena aku mau pulang sama kamu.”

Jujur saja, alasan aku semula memperhatikan seri ini adalah karena aku iri dengan hubungan yang terjalin antara Nishikata dan Takagi.

Sekali lagi, aku iri.

Mungkin aku perlu menegaskannya kembali. Aku iri dengan hubungan Nishikata dan Takagi.

Yea, sekilas terdengarnya mungkin mirip Tonari no Seki-kun. Tapi hasil akhirnya benar-benar jauh berbeda.

Segala yang dituturkannya terasa begitu… ‘sederhana’ sekaligus ‘berarti’ pada saat yang sama. Gaya gambar yang digunakan Yamamoto-sensei itu bernuansa bersih, ringan dan cerah, memaparkan kehidupan yang seakan tak penting, tapi damai. Lalu kita terus diperlihatkan bagaimana kehidupan Nishikata dan Takagi berlanjut pada berbagai titik yang berbeda. Lalu kita dibuat penasaran setengah mati… soal bagaimana ini semua bakal terjalin dan terbentuk.

Uh, karena aku jarang merasa begini, aku kesusahan mendeskripsikan perasaanku.

Tapi terlepas dari itu, aku mengetahui tentang seri ini saat secara iseng menggugel ‘oniichan’ (yang salah satunya membawaku ke grup translasi oniichanyamete) yang membawaku pada Fudatsuki no Kyoko-chan, salah satu karya Yamamoto-sensei yang lain (tentang seorang anak SMA sangar yang disangka siscon karena berusaha menutupi kenyataan kalau adik perempuannya semacam vampir), yang menampilkan tema keseharian serupa namun dengan nuansa lumayan berbeda. Heh, bahkan gaya gambar beliau di seri ini juga berbeda, padahal keduanya kalau tak salah diserialisasikan sekaligus! Dari sana, aku kemudian mengetahui tentang Yamamoto-sensei, dan akhirnya jadi lumayan penasaran beliau orang seperti apa sampai bisa menghasilkan cerita-cerita macam begini.

Aku terus terngiang lumayan lama dengan seri ini sesudah memeriksanya sendiri.

Lalu karena aku iri, aku memutuskan untuk terus berusaha! Alasannya karena aku tahu seberapa besar rasa penyesalan yang bisa timbul kalau kau menyerah!

Maka dari itu, kalian juga jangan segampang itu menyerah!

Tag: ,
10/07/2016

Berserk

Berserk membuatku merasa seperti orang kecanduan waktu aku pertama kali membacanya.

Aku pertama dengar tentangnya sewaktu masih SMA, tapi aku baru benar-benar melihat dan membacanya sekitar sepuluh tahun lalu. Aku masih mahasiswa di kala itu. Itu adalah masa ketika komik-komik josei dan seinen masih terbatas penerbitannya di Indonesia. Level Comics baru akan ada beberapa tahun kemudian. Jadi, sewaktu aku diperkenalkan pada Berserk bersama seabrek manga bergenre seinen lainnya (yang diterjemahkan oleh fans), yang termasuk di antaranya Blame!, Homunculus, dan MPD Psycho, aku benar-benar terkesima. Temuan itu benar-benar kayak harta karun pada masa itu. Soalnya, mengingat komik-komik yang dominan di Indonesia saat itu adalah genre shonen dan shoujo, komik-komik seperti itu belum pernah kutemui sebelumnya.

Di antara temuan tersebut, Berserk adalah yang paling menonjol. Aku terpukau oleh ceritanya. Ilustrasi-ilustrasi latar dan pemandangannya benar-benar indah dan membuatku sampai menahan nafas. Lalu latar dunia abad pertengahannya lumayan kena ke titik lemahku. Tentu saja, adegan-adegan aksi dan kekerasannya membuatku sampai lebih sesak nafas lagi.

Pada awalnya, Berserk memang sekilas berkesan seperti cerita yang sekedar menonjolkan adegan-adegan kekerasannya saja (sama kayak gimana Maken-Ki! hanya menonjolkan soal fanservice, misalnya) . Kekerasannya benar-benar sadis. Monster-monsternya kerap menjijikkan. Lalu apa-apa yang terjadi di dalamnya ditampilkan mengerikan, dan buatku di awal, lumayan menguji batas ketahanan. Lalu dalam perkembangannya, tiba-tiba saja ceritanya jadi bagus.  Tahu-tahu saja ada banyak adegan dialog bermakna mendalam yang bahkan hingga sekarang kadang membuatku berpikir.

Berserk sudah terbit sekitar 20-an buku di masa itu. Pertama terbit tahun 80an, ceritanya termasuk sudah jauh tapi masih belum ada tanda-tanda bakal tamat. Selama sekitar dua minggu (atau mungkin sebulan, kalau dihitung bersama beberapa judul komik lain; iya juga, MPD Psycho juga kabarnya mau tamat), kerjaan utama yang benar-benar aku ingat hanyalah membaca Berserk.

Aku seriusan kecanduan.

Meski ada pelajaran-pelajaran soal kehidupan yang aku dapat dari membaca Berserk (dan manga-manga lainnya di masa itu), aku jadi lumayan mengabaikan soal kuliah. Tapi kalau misalnya aku ditanya apa aku merasa buang-buang waktu dengan membacanya, maka jawabannya kurasa adalah enggak.

Manusia Takkan Bisa Melawan Takdir

…Yah, sedikit bahas soal latar belakangnya dulu.

Berserk adalah manga fantasi gelap karya Miura Kentarou (dengan dibantu Studio Gaga) yang terbit sejak tahun 1989. Penerbitannya dilakukan melalui Hakusensha. Genrenya seinen, dan seri ini dikenal sebagai salah satu manga dark fantasy paling menonjol dan berpengaruh yang pernah dibuat.

Materi ceritanya… sekali lagi, benar-benar untuk dewasa.

Di dalamnya, ada banyak adegan kekerasan yang sampai berulangkali bisa bikin orang berjengit (seperti adegan kepala remuk dan bola mata sampai meloncat keluar). Ditambah lagi, karena dunianya yang memiliki aspek barbar, ada lumayan banyak kekerasan seksual yang digambarkan terjadi di dalam ceritanya.

(Seriusan, mending kamu jangan membacanya kalau kamu belum cukup umur.)

Tapi di antara semua darah yang tertumpah, dan semua tragedi serta kehilangan, ada saat-saat introspeksi yang mengandung makna yang mendalam. Terlepas dari kekerasannya, yang tertuang lewat adegan-adegan aksi dan horornya, kerap ada pembahasan soal falsafah hidup juga. Lalu ada kajian tentang kondisi-kondisi kejiwaan para karakternya. Lalu ada tema berulang soal cita-cita, soal pantang menyerah meski di ambang keputusasaan. Jadi kalau kalian memang belum waktunya untuk memahami hal-hal kayak gini, besar kemungkinan ke sananya kalian tetap bakalan enggak ngerti (dan akhirnya kalian cuma jadi teracuni oleh adegan-adegan kekerasannya saja).

Saat ini kutulis, seri ini telah terbit sebanyak 37 buku dengan bab-bab yang diterbitkan secara agak tak beratur semenjak tahun 2006. Ceritanya sekarang sudah berkembang sangat jauh, dan masih belum benar-benar jelas tamatnya kira-kira kapan. (Selain karena ceritanya yang kompleks, serta artwork-nya yang kedetilannya memukau, salah satu alasan serialisasinya lama konon karena sempat ada masa ketika Miura-sensei tergila-gila main The Idolm@ster.)

Selain manganya, sempat ada adaptasi anime dalam bentuk seri TV yang tayang pada tahun 1997-1998 sebanyak 25 episode. Seri ini dikenal sebagai Berserk: Kenpuu Denki (subjudulnya kira-kira berarti ‘kisah-kisah angin pedang’). Produksinya dilakukan studio Oriental Light and Magic (OLM), Inc. Seri ini disutradarai Takahashi Naohito (sutradara Figure 17 dan Koutetsu Tenshi Kurumi). Naskahnya secara mencolok disusun oleh Imagawa Yasuhiro. Sedangkan musiknya ditangani oleh Hirasawa Susumu (yang musik gubahannya yang bernuansa eksperimental memang menjadi salah satu inspirasi Miura-sensei selama membuat Berserk). Meski ceritanya memodifikasi banyak aspek dari manganya (terutama penekanan lebih ke tema ambisi dan persahabatan ketimbang supernatural, dan hilangnya satu karakter yang menonjol di manganya) berhubung status manganya yang masih berjalan, anime ini tetap menjadi media pertama yang memperkenalkan Berserk ke banyak orang.

Setelah satu dasawarsa lebih, pada tahun 2012-2013, barulah ada adaptasi anime dari Berserk dibuat lagi. Kali ini dalam format trilogi film layar lebar, Berserk: The Golden Age Arc, mengadaptasi bagian cerita paling terkenal dari manganya yang mengetengahkan masa lalu para tokoh utamanya. Anime ini menonjol karena mengimplementasi CG modelling untuk menggambarkan adegan-adegan peperangannya yang kolosal (walau porsi CG-nya yang masih belum sempurna berkurang drastis pada film kedua dan ketiganya). Produksinya kali ini dilakukan Studio 4°C. Sutradaranya adalah Kubooka Toshiyuki. Naskahnya dibuat oleh Okouchi Ichirou. Musiknya kini ditangani Sagisu Shirou dengan masih dibantu Hirasawa Susumu.

Selebihnya, selama pertengahan dekade 90an, ada beberapa adaptasi ke dalam bentuk game yang ceritanya lebih berstatus side story. Kalau tak salah, semuanya muncul di konsol Sega Saturn. Tapi dalam waktu dekat, akan ada game baru lagi yang dibuat oleh Koei Tecmo berjudul Berserk Musou yang bergaya Dynasty Warriors.

Saat ini kutulis, ada adaptasi ke bentuk seri TV baru yang mulai ditayangkan pada musim panas tahun 2016. Akhirnya, ceritanya merupakan kelanjutan dari bab masa lalu yang ditampilkan dalam dua adaptasi sebelumnya. Produksinya diprakarsai oleh Liden Films, dan ditangani lewat kerjasama animasi antara GEMBA dan Millepensee. Sutradaranya kali ini adalah Itagaki Shin (yang sebelumnya paling dikenal sebagai sutradara Basquash!). Naskahnya ditangani oleh Fukami Makoto dan Yamashita Takashi. Lalu musiknya kembali ditangani Sagisu Shirou.

…Tapi Manusia Bisa Terus Menentangnya, Selama yang Mereka Mau

Berlatar di suatu dunia abad pertengahan yang selama bertahun-tahun telah dilanda perang, Berserk berkisah tentang perjalanan seorang ahli pedang misterius bernama Guts.

Guts, yang dikenal sebagai ‘ahli pedang hitam,’ adalah pria besar dan kekar yang senantiasa berzirah gelap dengan jubah berwarna hitam. Mata kanannya senantiasa terpejam, mengindikasikan bola mata yang telah remuk. Tangan kirinya adalah tangan palsu yang terbuat dari logam, yang selain dapat dipasangkan busur otomatis, juga dapat berfungsi sebagai meriam. Di dadanya, tersampir seperangkat pisau lontar. Lalu di punggungnya, Guts membawa sebilah pedang raksasa berukuran sebesar tubuhnya yang ‘terlalu besar, terlalu kasar, dan terlalu berat untuk bisa disebut pedang.’

Karena selalu menyendiri dan bersikap kasar dan kejam, Guts ditakuti orang awam. Lalu konon, ia juga selalu terlihat di tempat-tempat di mana kekacauan pernah terjadi.

Tanpa sepengetahuan banyak orang, di bagian belakang leher Guts, tertoreh sebuah lambang yang dari waktu ke waktu akan nyeri dan berdarah. Terutama terasa saat malam menjelang, lambang tersebut akan mengundang makhluk-makhluk halus dari dimensi kegelapan untuk mencoba memangsa Guts, yang menjadi alasan Guts menyandang pedang raksasanya tersebut. Sayangnya, sedikit sekali saksi mata yang bertahan hidup sesudah menyaksikan langsung hal ini.

Di awal cerita, mengikuti naluri, kabar-kabar burung, serta rasa nyeri yang terasa pada lambang di lehernya, Guts berkelana memburu monster-monster berwujud manusia yang disebut Apostle. Apostle adalah sosok-sosok pemanga manusia, yang sebenarnya telah menjual kemanusiaan mereka untuk bisa berwujud monster-monster menjijikkan.

Siapa sebenarnya Guts, dari mana ia berasal, dan apa sebenarnya yang ia hadapi, merupakan pertanyaan-pertanyaan berulang di bagian-bagian awal cerita. Perlahan terungkap bahwa yang Guts kejar sebenarnya adalah lima sosok misterius yang disebut God Hand, sosok-sosok di atas kaum Apostle yang telah memberikan kekuatan pada mereka, bersemayam di dalam suatu dunia yang lain, dan konon bahkan berkuasa atas takdir.

Kisah Berserk terbagi ke dalam beberapa bagian cerita besar (arc). Masing-masing bagian mengusung periode waktu tertentu, dan terbagi dalam bab-bab lain yang lebih pendek. Sejauh saat ini kutulis, bagian-bagian tersebut adalah:

  • Black Swordsman Arc. Bagian cerita ini memperkenalkan tokoh Guts, wataknya, serta musuh-musuh macam apa yang ia hadapi. Bagian ini juga yang memaparkan pertemuan pertama Guts dengan si peri kecil (elf) Puck yang mulai sering mengikutinya ke mana ia pergi. Bagian ini yang memperkenalkan kita pada latar Kerajaan Midland, serta pada keberadaan pusaka-pusaka Behelit yang berwujud telur dengan fitur-fitur wajah, yang konon digunakan para Apostle untuk memperoleh kekuatan mereka. Bagian cerita ini sempat sedikit ditampilkan dalam adaptasi anime tahun 1997.
  • Golden Age Arc. Bagian cerita ini memaparkan asal-usul Guts sebagai bayi yang dipungut oleh sekelompok tentara bayaran dari bekas medan perang, dan menggambarkan perasaan kompleksnya sebagai anak-anak terhadap Gambino, figur yang menjadi ayah angkatnya, namun menyalahkan Guts atas kematian istrinya. Bagian ini berlanjut dengan memaparkan pertemuan Guts dengan kelompok tentara bayaran legendaris Band of the Hawk (Taka no Dan, kira-kira berarti ‘pasukan elang’) yang berperan besar dalam menuntaskan Perang Seratus Tahun antara Kerajaan Midland dengan Kekaisaran Chudor. Bagian ini memperkenalkan kita pada dua orang yang menjadi sosok paling berarti dalam hidup Guts, yakni Griffith, pemimpin sangat cerdas sekaligus karismatik dari Band of the Hawk yang berasal dari rakyat jelata; serta Casca, perwira perempuan dari Band of the Hawk yang menjadi kekasih Guts. Tokoh-tokoh lain yang diperkenalkan mencakup: Judeau, anggota Band of the Hawk yang merupakan bekas anggota sirkus; Pippin, anggota Band of the Hawk berbadan besar yang merupakan seorang bekas penambang; Corkus, anggota Band of the Hawk merupakan seorang bekas bandit; serta Rickert, salah satu anggota Band of the Hawk paling lama yang sekaligus salah satu yang berusia paling muda. Bagian ini yang juga memperkenalkan Nosferatu Zodd, seorang prajurit bayaran legendaris yang telah hidup sangat lama, yang kemudian memberi ramalan mengerikan tentang jalan takdir yang akan ditempuh oleh Griffith dan Guts. Bagian cerita ini mendapat pemaparan signifikan pada versi anime 1997, serta menjadi basis dari trilogi layar lebar The Golden Age Arc. Bagian cerita ini juga yang dipandang sebagian besar orang sebagai bagian terbaik dari Berserk, karena kompleksitas tema yang diangkat di dalamnya.
  • Conviction Arc. Bagian ini menceritakan kelanjutan perjalanan Guts dan Puck, serta awal diburunya Guts oleh Holy Iron Chain Knights (‘ksatria-ksatria rantai besi suci’) yang telah diutus pihak Gereja, menyusul datangnya tanda-tanda akan berakhirnya dunia. Cerita ini berlanjut dengan perjalanan Guts dan Puck menuju tanah suci Albion di mana menara penghakiman berdiri, demi menelusuri jejak Casca yang hilang. Beberapa tokoh baru signifikan yang diperkenalkan di bagian ini meliputi: Farnese, pemimpin dari Holy Iron Chain Knights (yang secara tradisional dipilih adalah wanita) yang goyah keyakinannya semenjak bertemu Guts; Serpico, pelayan sekaligus pengawal Farnese yang lihai dan tertutup; dan Isidro, seorang bocah lelaki yang terkagum-kagum oleh kekuatan Guts dan mulai mengikutinya dengan harapan bisa diangkat sebagai murid. Secara pribadi, ini merupakan bagian cerita favoritku. Bagian cerita ini yang menjadi basis adaptasi anime tahun 2016 yang sedang tayang saat ini kutulis.
  • Falcon of the Millennium Empire Arc. Bagian cerita yang berlangsung seiring terjadinya invasi Kekaisaran Kushan sebagai puncak suatu konflik agama atas Midland, menyusul masa damai tapi penuh penderitaan yang berlangsung hanya beberapa tahun. Bagian ini menandai munculnya Band of the Hawk baru pimpinan Griffith yang juga tersusun atas anggota-anggota baru. Pada waktu yang sama, Guts dan kawan-kawannya memulai perjalanan ke Elfhelm, kampung halaman Puck, di mana pemimpinnya, Flower Storm King (‘raja badai bunga’), diyakini bukan hanya dapat memberi perlindungan pada Casca, melainkan juga menyembuhkannya. Karakter-karakter penting baru yang diperkenalkan mencakup Schierke, anak perempuan yang menjadi murid satu-satunya dari sang penyihir Spirit Mansion, Flora, yang telah lama menantikan Guts; peri yang menemani Schierke, Ivarella; serta Sonia, seorang gadis muda dengan kekuatan meramal yang sebelumnya telah menyaksikan akan datangnya sosok juru selamat. Bagian ini menonjol karena menjadi awal kesadaran Guts bahwa ia tak lagi bisa berkelana seorang diri, dan mulai menerima kehadiran teman-teman barunya sebagai kawan seperjalanan. Bagian ini juga yang pertama memperkenalkan zirah pusaka Berserker Armor yang kemudian diberikan pada Guts, yang semakin melimpahinya kekuatan luar biasa namun dengan bayaran teramat mahal. Sedikit lebih banyak tentang Skull Knight, sosok ksatria tengkorak berkuda yang selama bertahun-tahun telah mengawasi dan menolong Guts, juga diceritakan pada bagian ini. Demikian juga dengan sesosok anak lelaki tanpa suara yang mulai muncul hanya pada malam-malam bulan purnama.
  • Fantasia Arc. Bagian yang memaparkan berubahnya dunia beserta seluruh hukum alam, lewat bercampurnya dunia khayal dan dunia nyata, seiring kekalahan Kaisar Ganishka di tangan Griffith. Bagian cerita ini masih berlanjut saat ini kutulis. Ceritanya terutama mengisahkan perjalanan laut menuju Elfhelm yang akhirnya bisa ditempuh Guts dan kawan-kawannya berkat bantuan Roderick, bangsawan pelaut dari negeri Ys yang menempatkan diri sebagai tunangan Farnese. Bagian ini terutama menonjol karena semakin banyaknya masuk elemen high fantasy ke dalam cerita.

Orang-orang di Garis Tepi

Ada empat elemen yang bagiku membuat Berserk benar-benar memikat:

  • Perjuangan mati-matian manusia untuk melampaui tantangan-tantangan yang seakan tak mungkin dihadapi.
  • Tentang impian dan cita-cita, serta makna pencapaiannya.
  • Tentang dualitas kebaikan dan keburukan dalam diri manusia.
  • Tentang kausalitas, dan apakah segala sesuatu benar-benar telah mutlak ditakdirkan.

Selain plot utama, juga terdapat banyak subplot yang saling jalin-menjalin, semisal soal pengkhianatan dan persekongkolan antar bangsawan, makna sesungguhnya dari bekerja untuk meraih cita-cita, perbedaan antara orang-orang miskin dan orang-orang berada, tentang keyakinan, tentang makna hidup, tentang persaudaraan dan persahabatan. Semuanya dihiasi dengan artwork yang termasuk gila pada masanya dan masih terbilang gila untuk masa sekarang.

Gaya gambarnya itu dibuat dengan penuh detail. Penggambaran nuansa abad pertengahannya benar-benar kuat. Meski gaya gambar Miura-sensei tentu saja juga berevolusi selama bertahun-tahun pengerjaannya (beliau tak lagi sesuram dulu misalnya, mungkin berkat pengaruh Amami Haruka dan kawan-kawannya?), ada ciri khas konsisten yang bertahan. Lalu terkadang ada gambar-gambar panorama yang menampilkan betapa luas dan kolosalnya pemandangan dalam satu panel.

Ini jenis manga yang berhasil menghadirkan nuansa perjalanan yang dilalui para karakternya. Bahkan tempat-tempat singgah sementara yang tak penting: seperti puing-puing tempat Guts dan Casca pernah beristirahat, atau hutan penuh daun berguguran tempat Farnese dan Casca pernah saling menemani, atau jalan berliku di mana Guts dan kelompok tentara bayarannya yang lama pernah berhadapan dengan tentara yang berlari; tak kalah berkesannya dari kota pelabuhan besar Vritanis atau suram dan rumitnya Windham, ibukota Midland.

Singkatnya, Berserk secara visual benar-benar keren. Miura-sensei mengambil banyak inspirasi dari berbagai sumber, termasuk karya-karya seni tertentu, sehingga berhasil menampilkan dunia yang benar-benar hidup (dan kerap kali menakutkan).

Selain Guts dan orang-orang di sekelilingnya, kerap pula hadir karakter-karakter sampingan yang memainkan peranan mereka sendiri, yang kadang baru tampil kembali setelah hilang lama. Semisal Jendral Laban dan Owen, bangsawan Midland yang menjadi dua dari sekian sedikit bangsawan yang tidak memusuhi Band of the Hawk lama, sebelum kelompok tersebut menghilang secara misterius sesudah dicap sebagai penjahat negara; bekas perdana menteri Foss, yang tahu sejauh apa Griffith dapat bertindak; Mule, keturunan keluarga ksatria yang kerap pusing dengan tugasnnya mengawasi Sonia; Tuan Putri Charlotte, pewaris tahta Midland yang hatinya telah tertambat pada Griffith; Luca, pimpinan pemberani dari kelompok perempuan tuna susila yang sempat menampung Casca; sampai ke ksatria tongkat maut Azan yang berkumis; Silat, pemimpin klan pembunuh Bakiraka asal Kushan yang sempat menjadi rival Guts; Godo, pandai besi penyepi yang kebetulan pernah Guts temui, yang kemudian mempercayakan pedang raksasa Dragonslayer pada Guts (dan nantinya menjadi guru Rickert); Daiva, penyihir Kushan tangan kanan Ganishka; dan Isma, gadis penyelam sebatang kara yang ditemui Isidro di pulau yang mereka singgahi.

Ceritanya kerap suram dan penuh kesedihan. Lalu ini terutama tergambar lewat bagaimana Guts hampir tiap malam terus dibayang-bayangi makhluk gelap dan mimpi buruk, seperti monster gaib kecil bermata satu yang senantiasa memandanginya lama, sosok Skull Knight misterius (yang mungkin saja adalah sosok Kaisar Gaiseric yang namanya disebut pada awal berdirinya Midland, sebelum ia dihukum oleh langit lewat lima ‘malaikat’); sampai sosok serupa anjing hitam bermata merah yang merupakan manifestasi dari murka dan nafsu Guts yang terpendam.

Tapi Miura-sensei memasukkan banyak comic relief untuk mengimbangi ini, berupa humor yang dihadirkan karakter-karakter seperti Puck, Isidro, dan Ivarella. Ada sebagian orang yang berpendapat kehadiran aspek humornya (yang kadang breaking the fourth wall) agak mengganggu alur ceritanya (yang juga menjadi alasan Puck dihilangkan sama sekali dari anime versi 1997). Tapi aku pribadi merasa kehadiran mereka penting karena ceritanya memang sesuram itu.

“Tak pernah kukhianati cita-citaku.”

Sedikit bicara soal adaptasi-adaptasi animenya, mungkin karena cakupannya yang sedemikian kompleks, sebenarnya sampai sekarang masih belum ada adaptasi anime Berserk yang bisa dikatakan berhasil.

Sebenarnya, ada lumayan banyak penggemar yang juga heran dengan hal ini.

Ada yang bilang bahwa cara terbaik untuk mengikuti Berserk adalah dengan mengikuti dulu versi anime tahun 1997, karena ini versi yang paling berhasil menyorot hubungan Guts dan Griffith. Lalu baru sesudah itu kau mengikuti versi manganya. Tapi aku pribadi merasa mengikuti manganya secara langsung tetap yang terbaik. Meski dengan beberapa perubahan cerita di dalamnya, seri TV tahun 1997 ini sebenarnya masih termasuk adaptasi yang lumayan. Sekalipun demikian, ada seorang sahabatku yang tetap ternyata lumayan membenci versi ini.

Trilogi film layar lebar The Golden Age Arc terbilang solid, walau memang tak sempurna. Yang terutama menonjol adalah bagaimana pemakaian animasi CG-nya cukup berhasil menghidupkan nuansa kolosal dalam peperangannya. Walau begitu, ada perdebatan lumayan panas di kalangan penggemar soal CG ini. Ada lumayan banyak orang yang kurang setuju dengan penggunaannya. Memang goyah di awal, tapi adaptasi ini ke sana-sananya masih bisa dibilang semakin bagus.

Sedangkan untuk seri TV tahun 2016 yang sedang tayang, meski secara teknis seriusan enggak bisa kubilang jelek, ada lumayan banyak hal di dalamnya yang berulangkali membuat facepalm para penggemarnya. Untuk suatu alasan yang tak bisa dipahami, teknologi CG yang serupa dengan yang di trilogi movie-nya kembali dipakai. Porsi pemakaiannya agak berlebih, dan membuat aneh karena bahkan dipakai dalam adegan-adegan dialog biasa. Di samping itu, ada pemadatan cerita yang meski mungkin takkan dipermasalahkan para penggemar baru, sempat membuat tak nyaman para penggemar lama. Setidaknya, animasi CG ini berhasil menghadirkan pergerakan dinamis yang belum terlihat sebelumnya dalam adegan-adegan aksinya.

Bagaimanapun, aku membuat ini sebagai bentuk peringatan atas tayangnya anime baru ini. Jadi kurasa aku takkan terlalu memprotes.

Sekali lagi, ada banyak adegan berkesan di Berserk. Seperti bagaimana Guts dan Casca mencuri dengar pembicaraan Griffith dengan Putri Charlotte tentang cita-cita, yang secara tak langsung menjadi pemicu kepergian Guts. Atau, yang membuatku sadar betapa ceritanya lebih dalam dari yang terlihat, adegan penutup di akhir arc pertama saat Puck memprotes kenapa Guts harus bersikap sedemikian kejam dan menyakiti orang, sebelum ia tiba-tiba menyadari bagaimana ekspresi muka Guts seperti hendak menangis.

Adegan-adegan tersebut sayangnya belum benar-benar berhasil tersampaikan sebagus seperti yang di komik.

Mungkin masih lama sampai Berserk berakhir. Tapi di dalamnya sudah ada begitu banyak hal menggugah yang aku dapat.

Aku kerap kepikiran tentang manga ini seiring semakin dewasanya aku belakangan.

Mungkin memang sebatas khayalan. Tapi ini satu judul yang akan terus kuingat karena terus mengingatkan untuk terus bangkit dan menjadi kuat, demi mengejar suatu arti dari keberadaan kita.

Yah, kalau ada perkembangan, mungkin ini akan kutambahkan lagi.

Edit, 22 September 2016

Sedikit tambahan berkenaan seri TV-nya yang baru tayang, berhubung aku pasti malas mengulasnya.

Singkat kata: bahkan kualitas produksi yang sangat di batas rata-rata tetap tak mampu menutup kekuatan cerita yang telah Miura-sensei buat. Intinya, anime Berserk tahun 2016 berakhir dengan mengecewakan banyak penggemar manganya. Tapi di sisi lain, kekuatan ceritanya tetap berhasil menarik banyak penggemar baru.

Kelanjutannya sudah diumumkan akan tayang pada musim semi tahun 2017 mendatang.

Mudah-mudahan hasilnya lebih baik.

06/07/2016

NHK ni Youkoso!

Dunia ini suram. Sudah tak lagi ada harapan. Jangankan bertatap muka dengan orang, buat melangkah ke pintu saja aku ketakutan.

Kenapa? Kenapa aku bisa berakhir begini? Aku… tak bisa berhenti gemetaran. Mereka menertawakanku. Aku tahu kalau mereka pasti sebenarnya menertawakanku! Aku selalu jadi aneh kalau harus berbicara. Bahkan sekedar berada di sana, aku bisa merasakan sorot mata merendahkan dari orang-orang!

Tapi tidak… tidak mungkin sesuatu seperti ini bisa semata terjadi karena salahku.

Ya!

Ini pasti terjadi karena mereka! Bagaimana mungkin hal seabsurd ini bisa tahu-tahu terjadi begitu saja? Tak mungkin sesuatu seperti ini bisa terjadi dengan sendirinya!

Hanya ada satu kemungkinannya.

Tanpa kusadari, rupanya aku telah menjadi korban dari sebuah KONSPIRASI.

Mimpi-mimpi dan Harapan

Pada pertengahan dekade 2000an, ada semacam ketidakpastian aneh soal dunia akan bergerak ke arah mana. Itu adalah zaman ketika Internet sudah ada, tapi berbagai aplikasi dan media sosial masih belum merambah kehidupan kita seperti sekarang. Lalu seiring dengan datangnya Internet tersebut, muncul pula berbagai metode yang memungkinkan kita untuk bisa memenuhi barang-brang kebutuhan kita tanpa ke luar rumah.

Hm, mungkin dari sana sindrom hikikomori berasal.

Untuk yang belum tahu, hikikomori adalah sebutan bagi orang-orang yang mengurung diri mereka di dalam rumah atau bahkan kamar mereka. Karena satu dan lain sebab, mereka tahu-tahu menolak segala bentuk interaksi sosial. Mereka berhenti bekerja atau bersekolah. Lalu sebagai akibat dari terlalu lama mengurung diri tersebut, mereka jadi merasakan keengganan atau bahkan ketakutan luar biasa kalau seandainya harus membawa diri ke lingkungan luar.

Fenomena ini mulai mencuat ke permukaan publik Jepang pada dekade 2000an dan tetap mendapat banyak sorotan sampai awal-awal dekade 2010an. Sekarang, pada saat ini aku tulis, fenomenanya sudah agak memudar sih, walau orang-orang yang menderitanya masih ada.

Di sekitaran zaman itu, mulai muncul istilah yang menyebut suatu golongan masyarakat sebagai NEET (not under employment, education, or training). Istilah ini intinya mengacu pada lapisan masyarakat yang tidak memegang pekerjaan tetap, tidak sedang menempuh pendidikan, dan juga tidak sedang menjalani pelatihan. Lalu para hikikomori ini merupakan salah satu subset dari mereka.

NHK ni Youkoso! atau Welcome to the N.H.K. (‘selamat datang ke NHK’) yang dipenai oleh Takimoto Tatsuhiko merupakan seri yang menyoroti tema tersebut. Ceritanya pertama terbit dalam bentuk novel dari Kadokawa Shoten dengan ilustrasi buatan Yoshitoshi ABe yang dikenal lewat ilustrasi beliau di NiEA Under 7 dan Serial Experiments Lain.

Semula, aku dengar novel ini terlahir sebagai semacam karya semi-otobiografi dari Takimoto-sensei sendiri saat menjadi seorang ‘hikikomori dalam pemulihan.’ Versi awal ceritanya kalau tak salah sempat muncul dalam situs cerita Boiled Eggs sebelum diterbitkan secara resmi. (Sayangnya, bahkan setelah menerbitkan ini, Takimoto-sensei konon sempat lama vakum dan tak mengeluarkan karya apa-apa lagi, dan hanya hidup serampangan dengan hasil honor penerbitan yang diperolehnya, karena penyakit hikikomori-nya masih belum sembuh). Tapi kemudian aku juga dengar kalau ide ceritanya konon berasal dari rembukan malam-malam dadakan di suatu family restaurant bersama sahabatnya sesama pengarang, Sato Yuya (Sato Yuya yang membuat novel Dendera itu?!), karena dia sedang kehabisan ide cerita pas dia juga harus berhadapan dengan perwakilan Kadokawa esok harinya.

Pada tahun 2004, seri ini kemudian diadaptasi ke bentuk manga yang dibuat oleh Oiwa Kendi (kalau tak salah, beliau yang membuat adaptasi manga dari seri drama pembunuhan remaja GOTH) dengan naskah yang (sepertinya) masih dipenai Takimoto-sensei. Serialisasinya berlangsung selama tiga tahun di majalah Monthly Shonen Ace punya Kadokawa Shoten, sebelum tamat dengan cerita sebanyak delapan buku.

Lalu pada tahun 2006, seri ini kemudian diangkat ke bentuk anime 24 episode dengan produksi yang ditangani GONZO. Sutradaranya adalah Yamamoto Yuusuke, naskahnya ditangani oleh Nishizono Satoru, dan musiknya diaransemen oleh Pearl Brothers.

Ada beberapa perbedaan agak mencolok antara versi-versinya. Versi novel aslinya terutama, yang hanya terdiri atas satu buku, memiliki kesan lebih suram dan gritty. Versi manganya terasa seperti semacam ekspansi dari versi novelnya, dengan pengembangan cerita lebih lanjut, beberapa penyesuaian karakter, serta tampilnya sejumlah tokoh baru. Sedangkan versi animenya semula terasa lebih mengikuti versi manganya, sebelum menjelang tamat agak berubah haluan ke tamat yang lebih dekat ke versi novel.

Mimpi-mimpi dan Konspirasi

Berlatar di wilayah suburban Tokyo, NHK ni Youkoso! berkisah tentang seorang pemuda hikikomori di usia menjelang pertengahan dua puluhan tahun bernama Satou Tatsuhirou yang pada suatu hari berkesimpulan kalau nasibnya yang menyedihkan sebenarnya akibat manipulasi suatu konspirasi besar dan misterius.

Dalang konspirasi ini diyakininya adalah organisasi rahasia NHK, Nihon Hikikomori Kyoukai (‘organisasi hikikomori Jepang’), yang Satou yakini bertujuan untuk menciptakan suatu lapisan masyarakat hikikomori yang akan ditertawakan dan direndahkan oleh lapisan-lapisan masyarakat lain yang lebih unggul. (Iya, salah satu daya tarik seri ini ada pada bagaimana keyakinan konyolnya ini tak punya dasar jelas, tapi terus senantiasa membayanginya di sepanjang cerita.)

Satou telah menganggur selama empat tahun sejak sindrom social withdrawal-nya muncul. Sindrom ini pula yang menyebabkannya sampai drop out dari kuliah dan menjalani kesehariannya tanpa arah jelas. Sehari-hari, ia hanya berdiam di kamar apartemennya (yang dalam manga dan anime, diperlihatkan sebagai sebuah wisma bernama Mita House). Semenjak itu, Satou hidup hanya dengan uang kiriman dari orangtuanya di pedesaan, dan hanya keluar dari apartemennya pada larut malam saat mau membeli barang-barang kebutuhan hidup dari convenience store.

Meski ‘menyadari’ keberadaan konspirasi ini dan telah bertekad untuk melawan pengaruhnya, Satou sayangnya tetap tak mengalami kemajuan.  Sebulan tahu-tahu saja kembali sudah berlalu. Tapi Satou masih saja belum sanggup menguatkan hati untuk keluar kamar.

Sampai suatu ketika… takdir seakan mempertemukan Satou dengan seorang gadis remaja belasan tahun bernama Nakahara Misaki. Sesudah pertemuan pertama mereka (yang mungkin kebetulan tapi mungkin juga bukan), Misaki menyelipkan lewat lubang surat di pintu Satou sebuah undangan sekaligus tawaran kontrak. Isi kontrak itu adalah tawaran untuk bergabung dalam suatu ‘proyek’ seandainya Satou ingin bisa sembuh dari ke-hikikomori-annya.

“Purupurupururin!”

Sebenarnya, bukan hanya pertemuan dengan Misaki saja yang kemudian mengubah hidup Satou. Dalam kurun waktu hampir sama, Satou juga mengetahui bahwa tetangganya yang selama ini membuatnya terganggu dengan menyetel lagu-lagu anime keras-keras tak lain adalah Yamazaki Kaoru, adik kelasnya semasa SMA yang dulu pernah dekat dengannya semasa tergabung di Klub Literatur.

Begitu menyadari bahwa ternyata Satou yang selama ini bertetangga dengannya, Yamazaki langsung bahagia. Alasannya karena semenjak datang ke Tokyo untuk kuliah, dirinya mengalami kesulitan untuk mendapatkan teman. Bahkan saat Satou tiba-tiba mendobrak masuk ke kamarnya untuk protes soal musiknya yang keras, Yamazaki sebenarnya tengah menangis sedih karena mulai berpikiran untuk pulang ke kampung halaman, yang seketika tergantikan dengan tangisan haru.

Jadilah, lewat pertemuan dengan dua orang ini, dua plot utama NHK ni Youkoso! kemudian terjalin. Satu, hubungan aneh Satou dengan Misaki yang mengklaim kalau dirinya punya kemampuan untuk menyembuhkan Satou (lewat sesi-sesi konseling yang mereka laksanakan malam-malam di taman dekat Mita House). Dua, upaya penuh ketidakpastian Satou dan Yamazaki untuk memberi makna pada hidup mereka dengan menciptakan game erotis terhebat sepanjang masa.

Tentu saja, semua itu bergantung pada perjuangan Satou untuk bisa lepas dari jerat konspirasi NHK.

“Pururu-in!”

Perlu diperhatikan kalau versi novel NHK ni Youkoso! bersifat one shot.  Jadi bukan berseri. Sedangkan versi manganya bisa dibilang semacam versi ‘ekspansi’ yang di dalamnya, Satou dan kawan-kawannya (entah gimana) seakan jadi ‘mengeksplorasi’ satu demi satu bentuk alternatif ‘melarikan diri dari kenyataan’ yang bisa mereka temukan (turut tercakup di dalamnya: soal mendalami BDSM dan hidup sebagai gelandangan). Cerita di manganya lebih panjang. Karakterisasi para tokohnya agak beda. Di samping itu, juga ada lumayan banyak tokoh baru bersifat tambahan.

Adaptasi animenya sendiri semula seperti akan lebih mengangkat cerita versi manganya ini. Ditandai dengan pertemuan kembali Satou dengan Kashiwa Hitomi, kakak kelas cantik yang dengannya Satou sempat menjalin hubungan singkat saat yang bersangkutan patah hati, dan hingga kini ternyata masih dilanda depresi (dia juga karakter menonjol); sampai pertemuan Satou dengan Kobayashi Megumi, bekas ketua kelasnya yang kini menjadi front untuk suatu bisnis MLM mencurigakan. Tapi menjelang akhir, terasa ada sedikit haluan berganti. Lalu akhir ceritanya kembali jadi lebih dekat ke versi novelnya dengan fokus kembali pada misteri latar belakang Misaki yang akhirnya berhasil Satou ketahui.

Bicara soal kualitas teknis animenya, Gonzo sedang terkenal-terkenalnya sebagai studio spesialias animasi CG pada masa itu. Karenanya, bagaimana animasi 2D dan permainan warna lebih banyak ditonjolkan di NHK ni Youkoso! menjadi kejutan yang bagiku mencolok. Gaya visualnya sedehana, tapi memaparkan banyak detil latarnya secara baik. Lalu ini dihiasi dengan penataan audio yang benar-benar bagus.

Satu hal menarik adalah bagaimana paruh awal animenya, yang masih banyak diselingi bumbu komedi, banyak menggunakan warna-warna cerah. Tapi nuansa ini perlahan berubah seiring dengan datangnya musim dingin, yang menandai semakin gelapnya perkembangan cerita. Mulai dari Yamazaki yang tak lagi bisa menolak panggilan ortunya untuk pulang kampung, serta semakin terkuaknya hal-hal yang Satou dan Misaki selama ini sembunyikan dari satu sama lain.

Cerita NHK ni Youkoso! menurutku seriusan bagus. Terlepas dari berbagai hal gila dan mencurigakan dan sesat yang tersirat di dalamnya (seperti bagaimana semua halusinasi Satou, tentang alat-alat rumah tangganya yang berulangkali bisa berbicara dan memberinya nasihat, sebenarnya lebih disebabkan oleh zat-zat halusinogenik ‘legal’ yang dikonsumsinya bersama Yamazaki), ceritanya mengandung pesan moral yang lumayan kuat.

Intinya, mungkin soal… keinginan untuk bisa menjadi lebih baik ‘kan?

Terlepas dari seberat dan sesakit apapun?

Semua karakter, baik sentral maupun sampingan, sama-sama mempunyai kelemahan dan masalah mereka masing-masing. Satou dengan semua delusi dan prasangkanya. Yamazaki dengan egonya dan bawaannya untuk memandang rendah orang. Lalu Misaki dengan masalah ketergantungannya terhadap orang lain, yang berakar dari kondisi keluarganya yang buruk di masa lalu.

Tema-tema yang diangkat juga seputar hubungan-hubungan pribadi, kecendrungan-kecendrungan sosial, sampai falsafah hidup. Lalu semua disampaikan dalam bentuk komedi yang sebenarnya agak ‘hitam’ untuk ditertawakan.

Soal aspek audionya yang beneran keren, BGM yang dibawakan Pearl Brothers lumayan berhasil mencakup beragam emosi. Mulai dari hari-hari lesu di Mita House sampai ke saat-saat penuh suspens ketika Satou harus berhadapan dengan orang asing dan kegugupannya mencengkram. Seri ini juga salah satu yang menonjolkan bakat seiyuu Makino Yui yang sedang tenar-tenarnya di masa itu, walau para seiyuu lainnya juga berperan dengan benar-benar baik. Lagu “Puzzle” yang dibawakan Round Table ft Nino menjadi pembuka yang gampang didengar dengan temanya yang tentang adanya suatu hal tersamar yang harus dipecahkan. Sedangkan lagu penutup pertama “Odoru Akachan Ningen” yang dibawakan Ohtsuki Kenji dan Kitsu Fumihiko adalah lagu yang paling kuat mencerminkan nuansa khas seri ini tentang orang-orang stres dan putus asa.

Singkatnya, bagiku ini seri yang dari awal sudah pasti bakal berkesan.

“Kalau kau tak melihatnya, kau takkan jatuh cinta. Kalau kau tak jatuh cinta, maka kau tak akan tersakiti.”

Aku pertama kali tahu tentang seri ini dari seorang kenalanku yang membicarakannya lewat Internet. Waktu itu, dia kayak cuma nyerocos tentang berita akan diangkatnya seri ini menjadi anime. Hanya saja, tak ada orang lain di komunitas kami yang waktu itu sudah tahu tentangnya.

Makanya, baru agak belakangan aku tahu tentang kebagusan seri ini.

Karena judulnya aneh, tentu saja aku penasaran. Lalu sesudah menggali info, baru aku tahu kalau referensi stasiun televisi NHK di judulnya memang cuma dijelaskan dalam versi novelnya. (Intinya, Satou heran kenapa stasiun televisi yang sangat terhormat ini menayangkan anime-anime yang visualnya kayaknya diperuntukkan bagi anak-anak di jam-jam dini hari saat anak-anak harusnya belum bangun. Satou kemudian menduga bahwa anime tersebut sebenarnya sejak awal memang diperuntukkan bagi para hikikomori. Lalu dari sana, Satou berkesimpulan secara konyol bahwa stasiun televisi itu memang punya peran terselubung untuk menambah jumlah hikikomori di Jepang.)

Yah, soal perbedaan antara versi-versi ceritanya: Satou terpengaruh oleh Yamazaki hingga menjadi seorang otaku kelas berat pada semua versi cerita. Misaki-chan memiliki sisi yang agak manipulatif dalam versi manganya. Versi manganya sendiri memang terasa agak keterlaluan dengan ceritanya yang ke mana-mana (membuat para karakternya berkesan semakin menyedihkan). Lalu… hmm, Hitomi-sempai hanya muncul sekilas di versi novelnya lewat perjumpaan kebetulannya dengan Satou (memberitakan bahwa dirinya baru bertunangan dan sebentar lagi akan menikah), lalu Megumi bahkan tak muncul dalam versi novel sama sekali. Kemudian apa yang kelihatannya adalah referensi ke anime komedi Di Gi Charat kemudian diganti jadi suatu ‘anime dalam anime’ orisinil khusus untuk seri ini yaitu Puru Puru Pururin (lagu temanya sempat menjadi ringtone yang benar-benar terkenal, pengisi suaranya adalah Shishidou Rumi, dan inspirasi soal bagaimana perabotan rumah tangga menjadi hidup kelihatannya datang dari anime ini).

Oh. Berhubung tema ceritanya memang agak ke ranah sana, seri ini memang lebih bisa dimengerti oleh kalangan penggemar berusia lebih dewasa. Jadi, kayak biasa, jangan memaksakan diri.

Sekali lagi, versi novelnya lebih suram dan edgy. Lebih terasa kegilaan dan stres para karakternya pada versi ini. Pemikiran-pemikiran para karakternya juga paling terasa masuk. Sedangkan manganya lebih terasa seperti komedi yang ke mana-mana.

Jadi iya, versi animenya, yang seakan menyeimbangkan semuanya, menurutku yang paling berkesan. Eksekusinya seriusan bagus. Kayak, kita enggak pernah benar-benar tahu selanjutnya kita bakal dibawa ke mana. Tapi kita enggak bisa lepas karena penasaran ingin tahu apa selanjutnya yang bisa terjadi. Lalu semuanya juga kayak berhasil diakhiri di saat yang tepat.

“Tanpa jaminan pangan, sandang, dan papan, kecuali kau sudah siap mati, maka kau tak punya pilihan selain bekerja.”

Yah, akhir kata, sebagai orang yang sedikit banyak pernah depresi, aku mendapat sejumlah pelajaran dari seri ini.

Melihat Satou, yang sebenarnya bukan orang bego dan sebenarnya punya bakat, menjadi menderita berkepanjangan seperti ini benar-benar kayak menggugah beberapa hal. Lalu kayak yang kemudian aku pelajari belakangan dari main Persona 3, benar bahwa makna kita hidup sebenarnya adalah untuk memberi manfaat bagi orang lain.

Saat menghadapi kematian, kita semua pada akhirnya pasti akan kembali sendirian. Di tengah kesendirian, mungkin kita bakal merasa utuh dan alami. Tapi tanpa orang lain, hidup kita takkan memiliki arti. Jadi wajar saja bila sesudah semua yang terjadi, Misaki tetap memutuskan untuk bergantung pada Satou, dan demikian pula sebaliknya.

Lagipula, hanya karena kita berpisah, itu tak berarti kita takkan bertemu lagi.

Jadi, uh, lawanlah konspirasi itu.

Kau pasti bakal bisa melakukannya kalau demi orang lain! (Mungkin.)

(Ngomong-ngomong, ini seri pertama yang juga membuatku menyadari kalau Gonzo sebenarnya lebih bagus mengadaptasi karya yang sudah ada ketimbang membuat keluaran mereka sendiri.)

Penilaian

Konsep: A; Visual: A: Audio: S; Perkembangan: A-; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A