Lanjut ke konten
Iklan

Posts from the ‘anime’ Category

Anime Baru Musim Panas 2018

Seiring dengan makin dekatnya hari pernikahanku, dan seiring dengan datang dan perginya berbagai perdebatan dan salah paham dengan tunanganku, ada saat-saat ketika aku benar-benar pengen ngerokok.

Masalahnya, aku enggak ngerokok.

Tapi, itu semua bukan hal penting. Toh, ada musim anime baru di depan mata.

Kayak biasa, daftar ini enggak terlalu bisa diandalkan. Akan di-update dari waktu ke waktu.

___

Hanebad! (LIDEN FILMS)

Tachibana Kentarou adalah pelatih tim bulutangkis SMA Kitakomachi. Hanya saja, anggota tim yang berjumlah sedikit menyulitkannya ikut pertandingan. Suatu hari, ia melihat siswi bernama Hanesaki Ayano memanjat pohon besar di sekolah dengan keterampilan motorik yang tinggi. Tachibana ingin memasukkan Ayano ke dalam tim bulutangkis, tapi ia terkendala dengan kebencian Ayano terhadap olahraga tersebut.

Diangkat dari manga olahraga karya Hamada Kosuke, yang juga dikenal dengan judul The Badminton Play of Ayano Hanesaki!), ini seri menarik buat kalian yang sudah lama pengen lihat anime tentang bulutangkis. Ezaki Shinpei (Monster Strike The Movie) yang akan menyutradarai. Naskahnya ditangani Kishimoto Taku (Haikyu!!). Ceritanya lebih mengambil sudut pandang pemain perempuan (jadi, kebanyakan karakternya cewek). Tapi terlepas dari itu, eksekusi bulutangkisnya kelihatan menjanjikan. Aku senang LIDEN FILMS masih konsisten mempertahankan kualitas mereka.

ISLAND (feel.)

Lima tahun silam, di Pulau Urashima yang jauh dan terkucil, tiga keluarga besar yang berkuasa sama-sama mengalami serangkaian nasib malang, mengakibatkan mereka saling curiga terhadap satu sama lain. Kondisi kehidupan di pulau berangsur memburuk. Hanya tiga gadis keturunan tiga keluarga tersebut saja yang dapat membalikkan keadaan, tapi ketiganya sama-sama terkekang oleh tradisi-tradisi kuno. Sampai suatu hari,  seorang lelaki bernama Setsuna ditemukan hanyut di tepi pantai, dan mengaku berasal dari masa depan…

Diangkat dari game relatif baru keluaran Frontwing dan Prototype (yang sebelumnya memproduksi seri Grisaia no Kajitsu), ini seri drama yang mengangkat motif legenda cinta tragis. Kawaguchi Keiichiro (Sket Dance) yang akan menyutradarai. Arakawa Naruhisa (Outbreak Company, MAOYU) yang akan menangani naskah. Musik ditangani Tateyama Akiyuki (Kumamiko, Yurucamp). Aku agak kaget karena feel. (Tsuki ga Kirei, Outbreak Company) yang menangani adaptasinya. Ini bukan seri yang mudah direkomendasikan, tapi tetap patut dilihat untuk kalian yang suka adaptasi visual novel macam ini. Ceritanya kayaknya akan mengambil arah berbeda dari gamenya lewat kehadiran karakter-karakter orisinil.

The Thousand Noble Musketeers (TMS Entertainment)

Sesudah perang nuklir meluluhlantakkan dunia, Kekaisaran Dunia yang berkuasa menekan rakyat jelata dengan kekuatan yang diperoleh dari inkarnasi senapan-senapa kontemporer. Lambat laun, muncul kelompok pemberontak yang menggunakan senapan-senapan antik yang ditinggalkan sebagai karya seni. Menggunakan jiwa Musketeer yang bermunculan dari senjata-senjata antik tersebut, mereka memberi harapan bagi dunia untuk melawan inkarnasi senapan-senapan kontemporer milik Kekaisaran.

Juga dikenal dengan judul Senjuushi, ini diangkat dari game ponsel keluaran Marvelous. Singkat cerita, ini menampilkan berbagai personifikasi pistol dan senapan antik dalam wujud lelaki-lelaki tampan. Kasai Kenichi (Honey and Clover, Bakuman) yang akan menyutradarai. Naskah akan ditangani Aoshima Takashi (Sanrio Boys, Himouto! Umaru-chan). Musik ditangani Takaki Hiroshi (Devils and Realist). Selain soal parade seiyuu dan pelajaran-pelajaran sejarah, maaf, aku tak bisa komentar banyak soal seri ini.

Back Street Girls (J.C. Staff)

Tiga yakuza muda melakukan kesalahan fatal yang mengakibatkan kerugian jutaan yen bagi bos mereka. Tapi, bukannya memotong kelingking mereka sesuai tradisi, si bos yang juga adalah produser mengirimkan mereka ke Thailand untuk menjalani operasi plastik ekstensif, kemudian mendatangkan mereka kembali ke Jepang sebagai gadis-gadis muda untuk dipromosikan sebagai grup idola.

Diangkat dari seri manga seinen komedi hitam karya Jasmine Gyuh, ini seri idola(?) yang menonjolkan perbedaan antara ‘atas panggung’ dan ‘belakang panggung’ dalam contoh yang agak ekstrim. Kon Chiaki (When They Cry: Higurashi, Junjou Romantica) yang akan menyutradarai. Yamakawa Susumi (Tantei Opera Milky Holmes Dai-Ni-Maku) yang akan menangani naskah. Sebagian musiknya akan ditangani oleh Gesshoku Kaigi. Benar ini komedi? Mendengar tentangnya saja membuatku ngeri. Agak tak biasa untuk J.C. Staff, keluaran mereka kali ini tak menampilkan visual mencolok.

Sunohara-Sou no Kanrinin-san (SILVER LINK)

Shiina Aki adalah remaja SMP berbadan kurus yang berharap bisa lebih jantan. Karena satu dan lain hal, ia mulai sering berinteraksi dengan Sunohara Ayaka, pengelola asrama Sunohara yang keibuan, beserta teman-teman sekolah Aki lainnya yang lebih tua.

Juga berjudul Miss caretaker of Sunahara-sou, ini diangkat dari manga komedi romantis empat-kotak karya Nekoume. Menonjolkan warna-warna cerah dan lembut, Oonuma Shin (Kokoro Connect, Prisma Illya) menjadi sutradara kepala, Minato Mirai (Masamune-kun no Revenge) sebagai sutradara langsung, dengan naskah ditangani Shimo Fumihiko (Kokoro Connect, New Game!). Musiknya akan ditangani Kawada Ruka (Is the order a rabbit?). Meski bukan jenis seri yang biasa aku ikuti, staf di balik produksinya kelihatan handal.

How NOT to Summon a Demon Lord (Ajiado)

Di MMORPG Cross Reverie, Sakamoto Takuma adalah pemain terkuat yang berjulukan Raja Iblis Diablo. Tapi, di kehidupan nyata, Takuma secara psikis sangat payah dalam berkomunikasi, dan bahkan hanya bisa bicara kalau menghayati perannya dalam game sebagai Diablo. Suatu hari, Takuma, dalam wujud Diablo, didatangkan ke dunia yang sangat mirip Cross Reverie. Di hadapannya, hadir dua gadis petualang yang sama-sama mengaku sebagai pemanggilnya. Lalu, gara-gara kemampuan pasif yang Diablo punyai, ritual pembudakan yang seharusnya diarahkan kepadanya malah berbalik dan mengenai mereka.

Juga berjudul Isekai Maou to Shoukan Shoujo no Dorei Majutsu, ini seri isekai fanservice yang diangkat seri light novel karangan Murasaki Yukiya yang diilustrasikan Tsurusaki Takahiro. Studio produksinya masih baru, jadi tak banyak yang bisa dikatakan, tapi gelagatnya sejauh ini cukup meyakinkan. Murano Yuuta (Brave Beats, Dream Festival!) yang akan menyutradarai. Fudeyasu Kazuyuki (Black Clover, Monster Musume) yang menangani komposisi seri. Setahuku, ceritanya tak separah yang kesan awalnya indikasikan. Tapi, iya, ini masih seri “berbahaya.”

Seven Senses of the Reunion (Lerche)

Dalam MMORPG populer Union, pernah hadir kelompok pemain elit bernama Subaru yang melegenda. Sayangnya, terjadi insiden yang mengakibatkan meninggal dunianya seorang pemain, berujung pada diberhentikannya layanan Union. Enam tahun sesudahnya, Amou Haruto yang kini duduk di bangku SMA, tapi telah kehilangan semangat hidup, diajak teman sekelasnya untuk mencoba Re’Union, peluncuran ulang dari Union yang dulu ia tekuni. Haruto mengalami reuni yang tak disangka dengan para anggota Subaru yang lain, termasuk dengan sosok virtual sahabat masa kecilnya, Kuga Asahi, yang seharusnya telah wafat.

Kombinasi Anohana dengan SAO? Juga berjudul Shichisei no Subaru, seri ini diadaptasi dari ranobe karangan Tao Noritake yang diilustrasikan booota. Nishouji Yoshito (Koro Teacher Quest!) yang akan menyutradarai. Komposisi seri akan ditangani Yoshioka Takao (High School DxD, Shinmai Maou no Testament). Aku berharap bisa lihat lebih banyak desain dunianya. Ini termasuk seri baru yang kualitasnya masih agak sulit diukur.

Banana Fish (MAPPA)

Okamura Eiji, seorang fotografer muda yang polos dari Jepang, terlibat konflik jalanan dengan Ash Lynx, remaja pembunuh berdarah dingin. Ash yang tampan ternyata diperbudak sekaligus dijadikan pewaris oleh bos mafia “Papa” Dino Golzine. Beranjak dewasa, Ash berusaha memberontak melawan iblis yang telah membesarkannya. Tapi, rahasia kelam yang merenggut kewarasan mendiang kakak Ash kemudian terkuak saat suatu benda tertentu jatuh ke tangan Papa. Karena persahabatan barunya dengan Ash, Eiji pun ikut terseret dalam bahaya.

Seri manga drama thriller karya Yoshida Akimi yang menjadi landasan anime ini dikenal karena menjadi salah satu seri berkarakter LGBT pertama yang menonjol. Ceritanya sepertinya bakal dimodernisasi dari latar aslinya di tahun 80an (pasca perang Vietnam). Selebihnya, masih perlu dilihat nanti. Tapi kualitasnya kelihatannya benar-benar solid. Utsumi Hiroko (Free!) yang akan menyutradarai. Naskah akan ditangani Seko Hiroshi (Ajin, Mob Psycho 100).  Musik akan ditangani Osawa Shinichi (Ninja Slayer From Animation). Hisagi Akitsugu menjadi “pengawas umum.” Aksi dan latar ceritanya terasa beneran kuat.

Angels of Death (J.C. Staff)

Rachel adalah gadis yang berharap bisa mati. Pada suatu malam, dirinya terbangun di dasar bangunan misterius dalam keadaan terkurung dan hilang ingatan. Di dalam bangunan tersebut, berkeliaran pembunuh-pembunuh kejam yang sama-sama terkurung. Tapi, salah seorang dari mereka, seseorang bernama Zack, mengajukan tawaran: asal Ray membantunya keluar hidup-hidup dari gedung itu, maka Zack akan bersedia mencabut nyawa Ray dengan tangannya sendiri. Keduanya lalu bekerja sama mewujudkan keinginan masing-masing.

Berawal dari game petualangan horor (yang sudah diterjemahkan resmi ke Bahasa Inggris) buatan Hoshikuzu KRNKRN (Sanada Makoto), seri ini berkembang jadi waralaba multimedia. Suzuki Kentarou (MARGINAL #4  the Animation) yang akan menyutradarai. Fujioka Yoshinobu (Requiem from the Darkness) yang akan menangani naskah. Ini sederhana, dan jadinya kayaknya enggak akan jelek.

Ongaku Shoujo (Studio DEEN)

Ongaku Shoujo adalah unit idola C-list beranggotakan 11 orang yang masih tak laku dan kurang dikenal. Sang produser, Ikehashi, percaya bahwa yang mereka perlukan sebenarnya hanyalah seorang anggota baru. Harapannya terwujud saat mereka tanpa sengaja bertemu dengan Yamadaki Hanako.

Seri ini didasarkan pada anime pendek yang Studio DEEN produksi untuk proyek Anime Mirai 2015. Staf veteran Nishimoto Yukio (Najica Blitz Tactics, The Galaxy Railways) akan menyutradarai. Naskahnya akan dipenai Akao Deko (Noragami, Flying Witch). Musiknya akan diproduksi King Records.  Meski kurang menonjol, kayaknya ini bakal jadi seri idol yang beneran solid. Perlu diperhatikan bahwa anime pendeknya hanya mengetengahkan dua anggota tim, yaitu Eri dan Haru, dan berkisah tentang awal pertemuan mereka. Juga dikenal dengan judul Music Girls.

The Master of Ragnarok & Blesser of Einherjar (EMT Squared)

Suoh Yuuto terlempar ke dunia bermotif mitologi Norse saat menguji legenda urban tentang cermin di kuil dekat rumahnya. Dengan hanya berbekal pengetahuan dari sekolah serta ponsel pintarnya yang bertenaga matahari (yang samar-samar masih mendapat sinyal), Yuuto tumbuh menjadi penguasa Klan Serigala yang memberi kemenangan bagi mereka dalam konflik melawan klan-klan lain.

Juga berjudul Hyakuren no Haou to Seiyaku no Valkyria, seri isekai ini diangkat dari seri novel karangan Takayama Seiichi yang diilustrasikan Yukisan. Entah gimana eksekusi animenya nanti, berhubung kesan key visual-nya kurang kuat. Tapi, novelnya dikenal punya cerita lebih bagus dari dugaan di balik kesan awalnya yang  generik. Si tokoh utama tak punya kelebihan selain pengetahuan dan sedikit karisma. Ceritanya sendiri menonjolkan strategi-strategi perang di antara prajurit-prajurit Einherjar berkekuatan istimewa. Nuansa harem di novelnya ada, tapi ternyata tak banyak. Kobayashi Kosuke (Alice of Alice, Idol Time Pripara) yang akan menyutradarai. Naskah akan ditangani Takahashi Natsuko (Romeo x Juliet, Love Tyrant).

Harukana Receive (C2C)

Haruka peka dengan badannya yang tinggi. Sedangkan Kanata berpikir untuk berhenti menekuni bola voli pantai karena badannya yang pendek. Tapi, saat kedua gadis itu bertemu, keduanya menjadi pasangan yang patut diperhitungkan dalam ajang bola voli pantai di Okinawa.

Diangkat dari manga olahraga bola voli pantai karya Nyojizai, seri ini menonjolkan karakter-karakter perempuan berpakaian renang dalam latar pantai yang cerah. Kubooka Toshiyuki (Berserk: The Golden Age Arc) yang akan menyutradarai dengan naskah ditangani Machida Touko (Wake Up, Girls!). Rasmus Faber akan menangani musik. Kalau tak salah, ini produksi solo pertama dari studio animasinya. Hasilnya kelihatannya takkan jelek.

Planet With (J.C. Staff)

Sesudah kota tempat tinggalnya diserbu senjata raksasa misterius, seorang anak SMA bernama Kuroi Soya terseret dalam pertempuran bersama seorang gadis berpakaian gothic lolita dan sejenis makhluk yang mirip kucing.

…Seri ini sulit dijelaskan. Tapi, yang istimewa adalah bagaimana ini proyek orisinal mangaka sains fiksi Mizukami Satoshi (Lucifer and the Biscuit Hammer) yang telah digarapnya selama empat tahun. Beliau sekaligus menangani komposisi seri. Sutradaranya sendiri adalah Suzuki Youhei (Urara Meirochou, SHIMONETA). Musiknya ditangani Tanaka Kouhei. Mungkin di dalamnya nanti ada robot raksasa. Selain itu, juga sudah dijamin bakal ada banyak tokoh aneh. Adaptasi manganya juga nanti ada. Mungkin ini semacam balas dendam karena karya-karya beliau sebelumnya tak ada yang diangkat jadi anime.

Asobi Asobase (Lerche)

Tiga gadis SMP, Honda Hanako (yang sangat ingin jadi biasa saja), Nomura Kasumi (yang rajin belajar), dan Olivia (yang pura-pura tak bisa Bahasa Jepang); kerap berkumpul di jam istirahat untuk memainkan permainan-permainan tangan sederhana. Karena pembawaan dan latar belakang masing-masing, ketiganya punya pandangan sangat berbeda tentang apa-apa yang mereka mainkan.

Kesan awalnya yang lembut adalah tipuan. Seri ini penuh dengan ekspresi-ekspresi wajah ajaib dari para karakternya. Sutradara serba bisa Kishi Seiji (Persona 4 The Animation, Tsuki ga Kirei) yang akan menyutradarai dengan dibantu Kinome Yuu (Shool-Live!). Kakihara Yuuko (Tsuki ga Kirei) yang akan menangani naskah. Musiknya akan ditangani Kouda Masato (KONOSUBA). Diadaptasi dari manga komedi surreal karya Suzukawa Rin. Juga dikenal sebagai Asobi Asobase – workshop of fun.

Jashin-chan Dropkick (Nomad)

Hanazono Yurine adalah mahasiswi yang suatu hari mendatangkan Jashin-chan, seorang iblis dari dunia bawah. Karena satu dan lain hal, mereka berakhir tinggal bersama di apartemen kumuh di distrik Jinbouchou, Tokyo. Selama Yurine hidup, Jashin-chan takkan pernah bisa pulang. Maka dari itu, ia mulai berkomplot untuk membunuhnya.

Juga berjudul Dropkick on My Devil!, seri komedi ini diadaptasi dari manga karya Yukiwo. Sato Hikaru (Kitakubu) akan menyutradarai. Fudeyasu Kazuyuki (Milky Holmes) yang akan menangani naskah. Rasanya sudah lama Nomad tak mengeluarkan sesuatu. Kelihatannya ini akan jadi seri dengan banyak adegan slapstick.

Phantom in the Twilight (LIDEN FILMS)

Café Forbidden di London adalah kafe misterius yang hanya buka saat malam. Baileu adalah seorang gadis yang datang ke kota tersebut untuk belajar. Di kafe tersebut, ia kemudian menjumpai sekelompok pria tampan yang ternyata adalah penjaga perbatasan antara dunia manusia dan dunia bayangan.

Diproduksi perusahaan game ponsel Happy Elements, ini anime orisinal hasil kolaborasi Jepang dan Cina. Untuk anime supernatural yang menonjolkan karakter pria tampan, kualitas teknisnya kelihatan meyakinkan. Bahkan desain monster-monsternya lumayan keren. Mori Kunihiro (Mars Daybreak) yang menyutradarai (nama yang udah lama enggak aku lihat). Maruto Fumiaki (Saekano) yang menggagas ide dasarnya, dan sekaligus akan menangani komposisi seri bersama Yano Shunsaku. Ada manganya juga yang berlatar sebelum anime, yang belum lama ini dirilis lewat aplikasi LINE.

Holmes at Kyoto Teramachi Sanjou (Seven)

Di toko antik di distrik belanja Teramachi Sanjou, seorang siswi SMA bernama Mashiro Aoi berkenalan dengan Yagashira Kiyotaka, anak pemilik toko tersebut. Aoi mulai bekerja sambilan di toko tersebut sesudah mengetahui bagaimana Kiyotaka kerap diminta menyelesaikan berbagai kasus aneh yang datang dari bermacam klien.

Juga dikenal dengan judul Kyoto Teramachi Sanjou no Holmes, ini seri misteri ringan bertema barang antik yang diadaptasi dari novel karya Mochizuki Mai. Novelnya sempat memenangkan penghargaan Kyoto Book Grand Prix 2016. Sasaki Noriyoshi (Ojisan to Marshmallow, Okusama wa Seitokaicho) yang akan menyutradarai. Naskahnya akan ditangani Yamashita Kenichi (Ishida and Asakura). Di balik tampilannya yang sederhana, bisa jadi ceritanya lumayan bagus. Juga dikenal dengan judul Holmes of Kyoto.

Angolmois: Genkou Kassen-ki (NAZ)

Pada tahun 1274, Mongolia melakukan invasi pertama mereka terhadap Jepang. Jinzaburou Kuchii, seorang samurai Kamakura yang terusir, dipaksa berhadapan dengan ancaman invasi tersebut bersama sekelompok pejuang lain.

Diangkat dari seri manga petualangan bersejarah karya Takagi Nanahiko, ini salah satu anime baru yang dipromosikan Kadokawa beberapa waktu lalu. Kuriyama Takayuki (pernah terlibat Re:CREATORS) tampil sebagai sutradara seri ini. Yasukawa Shogo (Rakudai Kishi no Chivalry) akan menangani naskah. Sesuatu tentang seri ini membuat aku penasaran. Sejauh ini kelihatannya cukup menjanjikan. Judulnya kalau tak salah mengacu pada semacam dewa yang akan menghancurkan dunia.

Shoujo Kageki Revue Starlight (Kinema Citrus)

Starlight adalah kelompok pentas tari dan lagu yang terkenal di  dunia. Ketika anak-anak, Karen dan Hikari berjanji akan berdiri bersama di panggung Starlight. Menjelang remaja, Hikari pindah sekolah, tapi Karen antusias belajar dan terus berpegang pada janji mereka. Roda-roda takdir berputar ketika keduanya mengikuti audisi misterius bersama gadis-gadis lain untuk menentukan apakah mereka akan diterima Starlight atau tidak.

Dikembangkan dari waralaba baru milik Bushiroad dan Nelke Planning, seri idol ini agak tak biasa dengan fokusnya pada panggung pertunjukan. Furukawa Tomohiro (terlibat dalam Yuri Kuma Arashi) akan menyutradarai. Naskahnya akan ditangani Higuchi Tatsuto (Cross Ange, Schwarzesmarken). Jumlah keseluruhan tokoh utamanya kelihatannya ada sembilan. Staf di belakangnya terbilang solid. Mungkin seri ini akan jadi kejutan.

Happy Sugar Life (Ezo’la)

Matsuzaka Satou, seorang siswi SMA yang cantik, selama ini menolak pendekatan dari lelaki manapun. Tapi, semenjak tinggal bersama gadis kecil misterius bernama Shio, perasaannya mulai berubah. Perasaan teramat manis dirasakan Satou setiap bersama Shio, dan ia bersedia melakukan apa saja demi menjaga perasaan tersebut.

Ini drama horor psikologis bertema yuri yang pertama keluar dalam bentuk manga karangan Kagisora Tomiyaki. Berhubung desain karakternya imut, kesan nakutinnya enggak terlalu kelihatan di awal. Kusakawa Keizou (Kancolle, Fuuka) menjadi sutradara kepala, dengan dibantu Nagayama Nobuyoshi (My Girlfriend is Shobitch). Naskahnya akan ditangani Machida Touko (DIVE!!). Musiknya ditangani Kameyama Koiichiro. Studionya juga relatif baru, jadi belum bisa komentar banyak.

Hi Score Girl (J.C. Staff)

Pada tahun 1991, kepopuleran game tarung 2D meledak lewat perilisan Street Fighter II. Haruo, seorang anak kelas VI SD, menghabiskan waktu senggangnya setiap hari di tempat permainan, tanpa menghiraukan dunia di sekelilingnya. Suatu hari, seorang murid pindahan bernama Akira, yang cantik dan berasal dari keluarga kaya (tapi sedikit aneh), muncul dan dengan mudah menaklukkan Haruo dalam Street Fighter II. Ini ternyata menjadi awal dari hubungan panjang mereka berdua.

Manga karya Oshikiri Rensuke yang melandasi anime ini sempat terkena persoalan hak cipta. Makanya, aku senang anime buat drama komedi romantis ini akhirnya jadi juga. Gimana footage game asli dimasukkan ke dalamnya kayaknya bakal keren. Yamakawa Toshiki (Kill Me Baby, Little Busters!) yang akan menyutradarai. Urahata Tatsuhiko (Saki, Tsuredure Children) yang menangani naskah. Shimomura Yoko (Napping Princess), yang juga membuat musik buat Street Fighter II, menangani musiknya. Seri ini direkomendasikan kalau kau seorang gamer. Apalagi, kalau kalian sempat mendalami game-game tarung dua dimensi di era 90an. (Eh? Aku? Uh, aku tipe yang dulu condong ke platformer dan RPG…)

Grand Blue (Zero-G)

Kitahara Iori pindah ke kediaman keluarga pamannya di suatu kota di tepi pantai untuk memulai kehidupan kuliah. Meski semula tidak yakin soal masa depannya (dan juga tidak bisa berenang), Iori terseret dalam kegiatan klub menyelam, berkenalan dengan orang-orang baru, dan dipaksa bergabung dalam pesta-pesta minum-minum yang selalu berakhir konyol.

Pertama, aku mengira ini bakal jadi seri drama kehidupan. Kemudian, aku mengira ini seri tentang menyelam. Tapi ternyata, ini lebih ke komedi. Lalu, begitu melihat nama penulis Inoue Kenji (BakaTesto) di samping Yoshioka Kimitake yang menggambar manganya, barulah aku maklum. Spesialis komedi Takamatsu Shinji yang akan menyutradarai sekaligus menangani komposisi seri. Juga dikenal dengan judul Grand Blue Dreaming. Tak perlu berharap banyak pada visualnya, tapi seenggaknya keindahan dasar lautnya dapet. Komiknya dikenal benar-benar lucu. Tapi seri ini enggak direkomendasikan kalau kalian pecandu alkohol yang lagi dalam pemulihan.

Tsukumogami Kashimasu (Telecom Animation Film)

Wilayah Fukagawa, di kota tua Edo, rawan kebakaran dan banjir. Para penduduk setempat karenanya lebih sering menyewa barang-barang keseharian macam pakaian, pot, dan futon, dari berbagai toko penyewaan ketimbang membeli. Maksudnya, agar tak menjadi beban saat harus mengungsi. Okou dan Seiji adalah sepasang kakak beradik yang menjalankan toko sewa barang Izumoya. Namun, tercampur dalam dagangan mereka, dan menjadi subjek bisnis mereka yang sebenarnya, adalah tsukumogami, siluman jelmaan benda-benda sehari-hari yang menjadi ‘hidup’ setelah hadir selama ratusan tahun.

Diangkat dari seri novel karya Hatakenaka Megumi, visualnya sejauh ini indah dan desain makhluk-makhluknya pun menarik. Aku seriusan kagum dengan gimana konsistennya kualitas keluaran Telecom sejauh ini. Murata Masahiko (Baby Steps, Gilgamesh) yang akan menyutradarai. Shimoyama Kento (Shinkalion, Desumachi) yang akan menangani naskah. Direkomendasikan buat kalian yang suka yokai dan latar Jepang kuno, apalagi dengan keterlibatan Hoshino Lily di dalamya. Bertema supernatural, ini anime baru NHK untuk musim ini.

Lord of Vermiliion: Guren no Ou (asread, Tear Studio)

Pada tahun 2030, suatu kabut merah menyelubungi Tokyo seiring terdengarnya bunyi resonansi berfrekuensi tinggi. Siapa saja yang mendengar bunyi itu akan hilang kesadaran dan baru terjaga enam hari kemudian… tanpa menyadari bangkitnya kekuatan-kekuatan darah dalam diri mereka dan datangnya takdir kejam yang harus mereka hadapi.

Seri ini diadaptasi dari waralaba permainan TCG keluaran Square Enix. Desain karakter-karakternya sangat menarik, tapi belum banyak yang bisa dinilai selain itu. (Selain, tentunya, gimana para seiyuu dari gamenya kembali berperan.) Suganuma Eiji (B-PROJECT, Karneval) yang akan menyutradarai. Suzuki Masashi (Shuffle!, The Sacred Blacksmith) yang akan menangani naskah.

Sirius the Jaeger (P.A. Works)

Pada tahun 1930, sekelompok orang aneh yang membawa kotak-kotak perangkat musik tiba di stasiun Ibukota Kekaisaran. Mereka sesungguhnya adalah kelompok Jaeger, yang hendak menyelidiki keterkaitan suatu partai politik dengan kelompok vampir. Sasaran kepentingan mereka yang sesungguhnya adalah pusaka suci misterius bernama Arc of Sirius. Seorang manusia serigala bernama Yuliy tergabung bersama untuk membalas dendam.

Ini proyek orisinil baru dari P.A. Works bertema aksi thriller, dan makanya, ini lagi-lagi sesuatu yang istimewa. Ando Masaomi (Under the Dog, Sword of the Stranger) yang akan menyutradarai. Naskahnya akan ditangani Koyanagi Keigo (Tate Yuusha, Regalia). Yokoyama Masaru (Love and Lies, Fate/Apocrypha) yang akan menangani musik. Aksi, cerita, dan latarnya kelihatan benar-benar keren. Kualitasnya sejauh ini benar-benar menjanjikan.

Aguu: Tensai Ningyou (Studio DEEN)

Ai dan Machi sama-sama penari. Ai yang biasa kagum terhadap Machi yang berbakat. Sampai suatu hari, Ai mengetahui bahwa bakat menari Machi adalah berkat kehadiran Aguu, makhluk-makhluk seukuran tangan yang memberi bakat jenius kepada siapapun pemilik mereka. Demi menolong Machi yang menjadi “Penjahit” yang menciptakan Aguu, Ai kemudian bergabung dengan kelompok “Penolong” yang selama berbagai generasi melawan para Penjahit.

…Belum banyak info beredar tentang seri ini. Sutradaranya adalah staf veteran Bob Shirohata (Diamond Daydreams, Hetalia, Hiiro no Kakera). Naskahnya ditangani oleh Katou Yuiko. Kalau menilai dari gaya visualnya yang klasik, apa ini masih ada kaitan dengan karya-karya Nagai Go? Singkat cerita, ini diangkat dari komik horor karangan Yichun Jun yang diluncurkan di situs web Tencent. Mirip Reikenzan, ini kolaborasi terbaru antara DEEN dan Tencent. Presentasinya enggak wah, tapi punya ciri khas unik. Musiknya ditangani Shibasaki Yuuki. Juga dikenal dengan judul Devil Dolls.

Yuragi-sou no Yuuna-san (XEBEC)

Kogarashi ditakdirkan sejak lahir untuk bisa melihat makhluk halus dan sesudah remaja, berakhir menjadi pembasmi roh. Dalam upaya menemukan tempat tinggal, Kogarashi menemukan penginapan bekas pemandian air panas yang menawarkan kamar bebas sewa, asalkan ia bisa mengusir roh lepas yang berdiam di dalamnya. Roh lepas tersebut ternyata hantu gadis polos bernama Yuuna. Memutuskan untuk membantu Yuuna move on ketimbang mengusirnya, Kogarashi terlibat berbagai urusan supernatural yang melibatkan para penghuni penginapan yang lain.

Juga berjudul Yuuna and the Haunted Hot Springs, ini diangkat dari manga komedi romantis supernatural karangan Miura Tadahiro yang naik daun di Weekly Shonen Jump beberapa tahun ini. Sebagai seri harem, fanservice-nya lumayan banyak, dan aku pribadi kurang mengikuti, tapi karakter utamanya simpatik dan para karakter lainnya pun bervariasi. Nagasawa Tsuyoshi (MM!, Nyaruko) akan menyutradarai. Komposisi seri ditangani Koyasu Hideaki (GJ Club, Lance N’Masques). Sudah agak lama sejak XEBEC mengeluarkan seri fanservice. Seri ini mungkin lebih menonjol dari yang kukira.

Calamity of a Zombie Girl (GONZO, Stingray)

Sebuah peti mati dari suatu keluarga bangsawan dibuka di ruang penyimpanan universitas. Euphrosyne, mayat hidup berwujud gadis cantik yang berada di dalamnya, terbangun, dan didorong pelayannya untuk membantai para mahasiswa demi mengambil kembali batu pusaka yang diambil dari mereka.

Juga berjudul Aru Zombie Shoujo no Sainan, ini anime proyek baru GONZO sesudah sekian lama, yang akan tayang sebagai net anime. Ceritanya diangkat dari seri light novel horor karya Ikehata Ryou. Nama baru Iwami Hideaki akan menyutradarai. Naskahnya akan ditangani Kanemaki Kenichi (Pretear, Sayonara, Zetsubou-sensei).  Tampilan visualnya sederhana, tapi efektif. Patut dilihat.

Sekurangnya, ada dua seri baru yang sudah tayang lebih awal: Future Card Buddyfight Ace (sebagai TCG, ini beneran kurang populer di sini ya?) dan FLCL Progressive (sekuel anime surreal legendaris FLCL keluaran Gainax tentang masa remaja, yang keluar belasan tahun lalu).

Masih ada beberapa seri lain yang menonjol.

Chuukan Kanriroku Tonegawa, lepasan dari seri judi thriller psikologis Kaiji karya Fukumoto Nobuyuki, akan tayang. Ceritanya mengetengahkan latar belakang Tonegawa, salah satu tokoh antagonis di seri aslinya yang sangat pandai mematikan motivasi orang. Madhouse yang akan memproduksi. Sudah diumumkan akan tayang dua cour. Kawaguchi Keiichro (Sket Dance, Hayate no Gotoku) yang menyutradarai. Hirota Mitsutaka (Anime-Gataris) yang menangani komposisi seri.

diomedea musim ini memproduksi seri komedi Chio’s School Road, atau Chio-chan no Tsuugakuro, tentang remaja SMA Miyamo Chio yang selalu saja mengalami petualangan aneh setiap perjalanannya ke sekolah. Diangkat dari seri manga karya Kawasaki Tadataka.

Ada anime baru dari seri bela diri lawas Baki (Grappler Baki). TMS Entertainment akan memproduksi, dengan staf veteran Hirano Toshiki (Rayearth, Dangaioh) sebagai sutradara. Anime kali ini mengangkat bab ketika Baki berhadapan dengan para terdakwa hukuman mati. Ini aslinya diangkat dari seri manga Baki The Grappler karangan Itagaki Keisuke,  yang bagian cerita baru untuk komiknya kudengar sedang digodok.

Adaptasi anime dari komik Shonen Jump Muhyo to Roji no Mahouritsu Soudan Jimusho (Muhyo & Roji’s Bureau of Supernatural Investigation) karya Nishi Yoshiyuki juga hadir. Ini lagi-lagi kasus komik lawas yang akhirnya diangkat jadi anime. Studio DEEN akan memproduksi dengan Kondo Nobuhiro (Nobunagun, Cerberus) sebagai sutradara. Desain karakternya unik, jadi mungkin kalian enggak akan langsung tertarik. Tapi, ceritanya setahuku menarik. Komiknya juga kudengar dibuat sekuelnya belum lama ini.

Anime mecha binatang baru yang diproduksi perusahaan mainan Takara Tomy, Zoids Wild, akan hadir. Oriental Light and Magic akan memproduksi. Staf veteran Sudo Norihiko (ToHeart2, Yaiba) akan menyutradarai. Apa masih bisa sebagus yang lalu-lalu?

Anime pengetahuan Cells at Work atau Hataraku Saibou juga akan tayang. Diangkat dari manga karya Shimizu Akane, ini berkisah tentang perjuangan sel-sel darah merah di tubuh kita dalam mengerjakan tugas mereka dengan dukungan sel-sel lain. David Production yang akan memproduksi. Ini kudengar jauh lebih epic dari yang sekilas terlihat.

Adaptasi baru dari Bakabon dan Papanya yang “bodoh tapi jenius,” Shinya! Tensai Bakabon, juga akan tayang. Pierrot Plus yang akan memproduksi. Meski sedikit, ini sebaiknya kalian sempatkan lihat. Ini penting buat bekal di zaman sekarang.

Dari yang sebelumnya web anime, seri TV 100 Sleeping Princes and the Kingdom of Dreams: The Animation (atau, Yume Oukoku to Nemureru 100 nin no Ouji-sama) akhirnya dibuat. Ini diangkat dari permainan ponsel puzzle RPG buatan GCREST.

Bicara soal sekuel untuk anime-anime lama:

  • Shingeki no Kyojin atau Attack on Titan (season 3) woooi! Rahasia yang disembunyikan tentang para raksasa akan terungkap! Ini anime baru paling ditunggu di musim ini.
  • Overlord III (season 3) yang melanjutkan pembeberan tentang dunia baru yang kini ditempati Ainz dan pengikutnya.
  • Free! Dive to the Future (season 3) yang langsung melanjutkan cerita movie-nya, mengisahkan kehidupan para lulusan klub renang Iwatobi sesudah mereka mahasiswa. Masih bakal ada kilas baliknya kok.
  • Gintama (season 7), paruh kedua dari bab Silver Soul yang katanya menjadi klimaks seri kocak ini.
  • Yama no Susume (season 3) tentang pecinta alam dan semangat untuk maju.
  • One Room (season 2), tentang kehidupan berapartemen dengan tetangga-tetangga cantik yang waktu itu sempat menarik perhatian. Musim kali ini dari sudut pandang cowok lagi.
  • Hataraku Oniisan! no 2! (season 2) tentang kucing-kucing yang bekerja.
  • Musim baru dari seri cerita-cerita horor pendek Yamishibai: Japanese Ghost Stories (season 6).
  • Marvel Future Avengers (season 2) tentang Makoto dan kawan-kawannya yang memperoleh kekuatan super dan menjadi tim baru yang dilatih di bawah kelompok superhero Avengers.
  • Sekuel seri ajaib tentang dunia peri, Oshiete Mahou no Pendulum: Rilu Rilu Fairilu (season 3).

Selebihnya untuk anime pendek, yang menonjol musim ini adalah BanG Dream! Girls Band Party! Pico dan The Idolm@ster Cinderalla Girls Gekijou (season 3).

Sebagai tambahan, episode spesial Fate/Extra Last Encore:Illustrias Tendosetsu yang berdurasi dua jam, kelanjutan dari seri TV Last Encore, juga akan tayang. Aku beneran telat mengikuti yang satu ini.

Dari segi movie, beberapa yang menonjol antara lain:

  • My Hero Academia: Two Heroes yang mengetengahkan kamp musim panas bagi para murid UA. Mengingat kepopuleran animenya belakangan, ini lumayan ditunggu.
  • penguin highway yang merupakan cerita aneh tentang kenapa penguin mulai bermunculan di lingkungan sekitar si tokoh utama, seorang anak kelas 4 SD.
  • Non Non Biyori Vacation tentang masa liburan para anak perempuan di desa.
  • Nanatsu no Taiza: Tenkuu no Torawarbito yang membawa Meliodas dan kawan-kawannya ke suatu negeri jauh di atas awan.
  • Kimi no Suizou o Tabetai atau I Want to Eat Your Pancreas, tentang seorang remaja SMA yang suatu hari menemukan buku harian teman sekelasnya yang ternyata mengidap penyakit mematikan. Dengan animasi yang indah dan cerita yang melankolis, ini didesas-desuskan menjadi anime gaya Makoto Shinkai yang berikutnya.

Dari segi OVA, tak banyak yang menonjol. Mungkin yang menarik hanya seri fanservice Queen’s Blade Unlimited serta Iya na Kao Sare Nagara Opantsu Misete Moraitai.

Info tentang di mana bisa nonton bisa dilihat di sini.

Akan dikabari kalau ada perkembangan lagi.

Iklan

Anime Baru Musim Semi 2018

Maaf lama enggak nulis. Maaf juga preview berkala ini telat. Ada urusan ke luar negeri, ada kemungkinan perlu pindah pekerjaan, serta aku baru bertunangan beberapa bulan lalu. Jadinya, aku enggak sempat mengikuti macam-macam perkembangan yang terjadi belakangan.

Alasan lain; karena ada BANYAK BANGET anime baru untuk musim depan. Ada sekitar LIMA PULUH seri baru. Sepanjang aku jadi pemerhati (baca: otaku), aku yakin jumlah seri baru belum pernah ada sebanyak sekarang.

Semakin bergesernya ekosistem produksi turut berpengaruh. Layanan-layanan streaming macam Netflix kini ikut memproduksi, terkadang menggeser jadwal rilis. (Sebagai catatan, seri misteri B: The Beginning produksi Production I.G dan seri aksi sains fiksi A.I.C.O.: Incarnation produksi BONES serta seri aksi aneh Sword Gai keluaran LandQ baru Netflix rilis sepanjang Maret lalu. Kesemuanya produksi orisinil dengan kualitas lumayan bagus.)

Musim semi ini—dan sisa tahun 2018 ini—kelihatannya bakal sibuk.

Kayak biasa, daftar ini kurang bisa diandalkan.

Akan diupdate berkala apabila perlu.

Juushinki Pandora (Satelight)

Pada tahun 2031, Krisis Xianglong terjadi ketika reaktor kuantum yang menjadi sumber energi generasi baru meledak. Suatu energi tak dikenal terlepas. Lingkungan dunia berubah dalam semalam. Makhluk baru B.R.A.I muncul dan mengancam kelangsungan manusia. Manusia menghadapi B.R.A.I. dengan unit-unit M.O.E.V. yang dapat berubah bentuk. Ilmuwan terasing Leon Lau, saksi langsung krisis ini, menjalankan penelitiannya dengan damai untuk menghadapi B.R.A.I. bersama “adik perempuannya,” Chloe Lau. Tanpa mereka sadari, ancaman masa lalu kian mendekat.

Ini seri mecha yang merupakan proyek orisinil baru dari Kawamori Shoji. Sutradaranya Sato Hidekazu (Aquarion Logos, Nobunaga The Fool) dengan naskah ditangani Nemoto Toshizo (Log Horizon, Macross Delta). Dunianya post-apocalyptic dengan gaya visual yang mengingatkan ke keluaran Satelight yang lalu-lalu. Desain karakter dan mechanya punya nuansa mirip Aquarion. Sejujurnya, aku kurang yakin dengan Satelight belakangan, tapi mudah-mudahan hasilnya bagus.

Omae wa Mada Gunma o Shiranai (Asahi Production, CJT)

Kamitsuki Nori, yang berasal dari Perfektur Chiba, pindah ke Perfektur Gunma di barat laut Tokyo. Semula, dirinya khawatir dengan reputasi menakutkan yang Gunma punyai di Internet. Tapi, dia kemudian berkenalan dengan para penduduk setenpat yang memperkenalkannya pada kebudayaan Gunma yang sebenar(?)nya.

Juga berjudul You don’t know GUNMA yet., ini diangkat dari manga komedi karya Ida Hiroto. Sutradaranya Mankyuu (The Idolm@ster Cinderella Girls Gekijou) yang sekalian menangani naskah. Musiknya ditangani Matsuno Kyouhei. Yang menarik adalah adanya staf veteran Kogawa Tomonori (Space Runaway Ideon, Aura Battler Dunbine) yang terlibat sebagai desainer karakter. Ini kelihatan jelas anime promosi wisata, tapi durasi lumayan panjang manganya mengindikasikan cerita yang menarik. Selain itu, juga sudah dibuat film dan seri TV live-action. Update: Ini anime format pendek.

Magical Girl Boy (Pierrot Plus)

Uno Saki adalah siswi SMA sekaligus rookie idol yang naksir pada Mohiro, kakak lelaki sahabatnya. Ketika Mohiro tiba-tiba diculik monster, Saki menyetujui kontrak mencurigakan untuk memperoleh kekuatan mahou shoujo. Di luar dugaan, kontrak tersebut juga mengubahnya menjadi pemuda tampan.

Juga berjudul Mahou Shojo Ore atau Magical Girl Ore, ini diadaptasi dari manga komedi plesetan mahou shoujo karya Moukon Icchokusen. Singkatnya, ini tentang cewek-cewek manis yang berubah wujud menjadi cowok-cowok tampan berbadan kekar dan berpakaian imut (lengkap dengan berubahnya pengisi suara dari cewek ke cowok). Kawasaki Itsuro (Shining Hearts, Rental Magica) akan menyutradarai. Meski fokusnya jelas-jelas lebih ke komedi, ada kemungkinan kualitas presentasinya lebih bagus dari dugaan.

Real Girl (Hoods Entertainment)

Tsustui Hikari adalah remaja SMA yang merasa puas dengan perempuan-perempuan khayalan yang ditemuinya di anime dan game. Sampai suatu ketika, saat ia terjebak dengan tugas membersihkan kolam renang, Iroha, seorang perempuan ‘nyata’ yang mencolok dan populer, tiba-tiba mendekatinya.

Juga berjudul 3D Kanojo, ini diangkat dari seri manga komedi romantis karya Nanami Mao yang diserialisasikan di majalah josei Dessert milik Kodansha. Sutradaranya Naoya Takashi (Touken Ranbu: Hanamaru) dengan naskah ditangani Akao Deko (Flying Witch, Noragami). Film live-action untuk seri ini juga sudah diumumkan. Sesudah Drifters dan If Her Flag Breaks, seri ini kayaknya bisa jadi keluaran Hoods yang solid, tapi proyek Märchen Mädchen mereka yang masih ngegantung mungkin bisa berdampak.

Gundam Build Divers (Sunrise)

Gunpla Battle di masa depan dilakukan melalui suatu permainan MMO virtual bernama Gunpla Battle Nexus Online (GBN). Di dalamnya, para pemain mempertandingkan Gunpla buatan mereka melawan beragam pemain lain dari seluruh penjuru dunia. Ingin mengikuti jejak idolanya, Kujo Kyoya yang menjadi Gunpla Diver juara dunia, siswa 14 tahun bernama Minami Riku memulai langkahnya sebagai Gunpla Diver dengan Gunpla buatannya, Gundam 00 Diver.

Ini sekuel terbaru dari seri mecha Gundam Build Fighters yang terbilang sukses pada tahun-tahun belakangan. Watada Shinya (Gundam Build Fighters Try) kembali menjadi sutradara, tapi komposisi seri kali ini ditangani Kimura Noboru (Amagami SS+, Seikoku no Dragonar). Di samping itu, ada dukungan animator veteran Obari Masami sebagai koreografer aksi. Dari gelagat episode prekuel, nuansanya lebih mirip ke seri GBF yang pertama dengan penekanan ke strategi, tapi dengan latar cerita lebih fantastis. Ceritanya juga terlepas dari seri-seri GBF terdahulu. Dengan dukungan staf yang kuat, ini seri baru yang kelihatan benar-benar menjanjikan. Jarang suatu promo mainan bisa sampai sekeren ini.

Legend of the Galactic Heroes: Die Neue These Kaikou (Production I.G)

Selama puluhan tahun, Kekaisaran Galaktik yang aristokratik dan Aliansi Planet Merdeka yang demokratis telah berseteru, melibatkan ribuan kapal dan jutaan prajurit dari kedua pihak, tanpa adanya titik terang berakhirnya konflik. Jalannya perang berubah seiring kemunculan dua laksamana besar, Reinhard von Lohengramm dari pihak Kekaisaran dan Yang Wen Li dari pihak Aliansi, yang seakan telah ditakdirkan untuk bersaing di tengah jalinan politik, strategi, dan kerasnya realita perang.

Ini adaptasi baru seri novel sains fiksi epik bertema space opera karya Tanaka Yoshiki (Arslan Senki, Tytania). Sebelumnya, seri ini secara legendaris pernah dianimasikan oleh Artland ke bentuk OVA dengan jumlah episode sebanyak 110. Adaptasi baru Die Neue These ini akan diawali seri TV 12 episode, sebelum dilanjutkan season kedua dalam format tiga film layar lebar (masing-masing dengan durasi empat episode). Tada Shunsuke (Kuroko no Basuke, STARMYU) akan berperan sebagai sutradara. Takagi Noboru (Durarara!!, Kuroko no Basuke) akan menangani naskah. Musiknya ditangani Hashimoto Sin dengan kontribusi dari Sawano Hiroyuki. Ceritanya berat, dan versi ini pasti dibanding-bandingin dengan versi OVA, tapi kalau bisa ngikutin, ada suatu pencerahan yang mungkin bakal kamu dapat. Selain itu, efek CG futuristis dan pertempuran antar kapalnya sudah lebih bagus. (Ini jelas enggak mengikuti gaya manga adaptasi buatan Fujisaki Ryu btw.)

Waka Okami wa Shougakusei! (Madhouse, DLE)

Okko adalah siswi SD kelas enam yang baru kehilangan orangtuanya dalam kecelakaan lalu lintas. Dia kemudian pindah ke penginapan dan pemandian air panas Haru no Ya milik neneknya, dan dilatih untuk bisa menjalankan penginapan. Okko lambat laun tumbuh besar dengan bantuan si anak lelaki hantu Uri-bo serta berbagai teman misterius mereka yang lain.

Diadaptasi dari buku anak-anak karya Reijou Hiroko yang diilustrasikan Asami, Masuhara Mitsuyuki (Ace of Diamond, Shirokuma Café) dan Tani Azuma (Haiyoru! Nyaru-Ani, Honto ni Atta! Reibai-Sensei) akan bekerjasama menyutradarai. Naskahnya akan ditangani Yokote Michiko (RIN-NE, Genshiken). Meski sekilas sederhana, kualitas teknisnya jauh melebihi dugaan. Penggambaran latar sekolah, penginapan, serta detil kecil lainnya benar-benar bagus. Ini seri yang mungkin akan jadi kejutan.

Tokyo Ghoul:re (Pierrot)

Sebagai satu-satunya organisasi yang melawan ancaman Ghoul, Komisi Polisi Penanganan Ghoul menggunakan segala cara untuk melindungi umat manusia dari pemangsa alami mereka. Senjata terbaru komisi tersebut adalah prosedur eksperimental untuk menanamkan Kagune dari Ghoul ke badan manusia. Baik prosedur tersebut maupun Kesatuan Qs yang baru dibentuk sama-sama masih belum teruji. Sasaki Haise ditugaskan sebagai pembina Kesatuan Qs. Tapi, tugas Haise diperumit oleh kepribadian para bawahan yang menyusahkan. Selain itu, masih ada masalah keterbatasan pemahamannya akan kekuatan para Ghoul.

Seri ini diadaptasi dari seri manga seinen populer karya Ishida Sui yang diserialisasikan di Weekly Young Jump. Sebagai sekuel, memang kurang jelas bagaimana seri ini akan nyambung dengan akhir anime Tokyo Ghoul sebelumnya. Meski demikian, mungkin itu bukan masalah karena ceritanya hampir bisa dikatakan reboot. Watanabe Odahiro (Soul Buster, Valkyrie Drive: Mermaid) menggantikan Morita Shuhei sebagai sutradara, tapi naskahnya kembali ditangani Mikasano Chuuji. Perlu diperhatikan, desain karakternya dibuat ulang oleh Nakajima Atsuko, mungkin agar lebih ramah CG. Nuansa horor, psikologis suram, serta aksi-aksi keren kayaknya akan kembali ada. Belum jelas perkembangannya, tapi ini patut diperhatikan karena ini Tokyo Ghoul.

Tada-kun wa Koi o Shinai (Doga Kobo)

Tada Mitsuyoshi belum pernah mengenal cinta. Dirinya sedang memfoto mekarnya bunga sakura saat ia menjumpai Teresa Wagner, seorang murid pindahan dari Luxembourg yang terpisah dari temannya. Mitsuyoshi kemudian membawa gadis tersebut ke toko kopi kakeknya, tanpa menyadari dampak yang mungkin akan terjadi.

Juga berjudul Tada Never Falls in Love, ini seri orisinil bergenre komedi romantis yang digagas oleh para staf Gekkan Shoujo Nozaki-kun. Sebagian besar staf produksinya juga sama. Yamazaki Mitsue (Nozaki-kun, Magic-kyun Rennaissance) akan berperan sebagai sutradara. Naskahnya akan ditangani Nakamura Yoshiko (Nozaki-kun, Super Lovers). Seri ini punya visual cerah dan keragaman desain karakter yang keren. Aku bukan fans Nozaki-kun, tapi aku tertarik dengan seri ini.

Saredo Tsumibito wa Ryuu to Odoru: Dances with the Dragons (Seven Arcs Pictures)

Gayus yang tetap cool meski kerap sial, dan Gigina yang rupawan namun keji, adalah sepasang spell equationists. Mereka mampu mengubah persamaan-persamaan hukum alam untuk menciptakan dampak-dampak berbahaya sekaligus menakjubkan. Kedua pemburu bayaran tersebut kemudian terseret dalam pertempuran melawan para naga di kota Eridana, di mana mereka juga terbawa dalam intrik berbagai negara.

Diangkat dari seri light novel karya Labo Asai yang diilustrasikan Miyagi dan diterbitkan Shogakukan, ini seri dark fantasy yang konon telah mengubah konsep ranobe di masanya. Penayangannya sempat ditunda dari yang sebelumnya dijadwalkan untuk Oktober lalu. Nishikiori Hiroshi (Azumanga Daioh, Toaru Majutsu no Index) bekerjasama dengan pendatang baru Hanai Hirokazu (The Pilot’s Love Song) sebagai sutradara. Ikami Takayo (Mawaru Penguindrum, Beautiful Bones – Sakurako Investigations) menangani naskah. Visualnya terlihat meyakinkan, tapi jumlah episodenya yang cuma 12 mengundang tanda tanya soal cakupan ceritanya. Menurutku, ini paling aman diperhatikan kalau kalian penggemar light novel.

Layton Mystery Tanteisha: Katori no Nazotoki File (LIDEN FILMS)

Katriell “Kat” Layton adalah anak perempuan detektif ternama Professor Hershel Layton. Seperti ayahnya, Kat dan teman-temannya juga terlibat penyelesaian berbagai kasus.

Diangkat dari game terbaru waralaba misteri/teka-teki Professor Layton keluaran perusahaan Level 5, Layton’s Mystery Journey: Katrielle and the Millionaires’ Conspiracy, desain karakter yang unik dan penggambaran latar Inggris yang cerah menjadi daya tarik utama seri ini. Hino Akihiro, CEO Level 5, terlibat sebagai sutradara kreatif, yang sekalian juga membantu kompsisi seri. Mitsunaka Susumu (Haikyu!!, Cuticle Detective Inaba) akan berperan sebagai sutradara. Ada anjing yang bisa bicara di ceritanya. Nuansa gamenya kelihatannya dengan sukses berhasil tergambar. Kudengar game-game Layton yang lebih ke sini benar-benar bagus. Seri ini punya gelagat solid dan mungkin akan jadi seri misteri yang tak biasa.

Magical Girl Site (production doA)

Asagiri Aya telah lama ditindas di sekolah. Untuk sekian lama, dirinya berharap bisa mati. Saat membuka Internet dalam upaya menghibur diri, Aya sampai ke Mahou Shoujo Site, situs misterius yang memberinya kekuatan, tapi sekaligus menyeretnya ke dunia saling bunuh antar gadis penyihir.

Juga dikenal dengan judul Mahou Shoujo Site, ini diangkat dari seri manga horor karya Satou Kentarou (Magical Girl Apocalypse) terbitan Akita Shoten. Matsubayashi Tadahito (Tokyo Ghoul: Pinto) akan menyutradarai. Naskahnya akan ditangani Ikami Takayo (Yuri Kuma Arashi). Musiknya akan ditangani Inai Keiji (Outbreak Company). Studio yang memproduksi terbilang baru, tapi gelagat sejauh ini terbilang solid. Tokoh YouTube virtual Kizuna Ai juga terlibat sebagai salah satu pengisi suara. Setahuku, ceritanya punya banyak perkembangan gila. Seri ini menarik bagi kalian yang suka thriller dan tak keberatan dengan hal-hal aneh.

Hinamatsuri (feel.)

Nitta, pria dewasa berhati baik yang menjadi anggota yakuza, mendapati ada anak perempuan bernama Hina tiba-tiba muncul di dalam kamarnya. Hina semula mengancam Nitta dengan kekuatan supernatural yang dia punya. Tapi, karena satu dan lain hal, keduanya malah berakhir tinggal bersama sebagai bapak dan anak. Lambat laun, sejumlah anak perempuan lain yang punya urusan dengan Hina juga ikut hadir dalam kehidupan mereka.

Diangkat dari manga karya Ohtake Masao, ini seri keseharian yang terkadang serius seperti layaknya seri-seri lain yang diserialisasikan di majalah Fellows! (dan Harta) milik Enterbrain. Sutradara andal Oikawa Kei (Outbreak Company, Oregairu season 2) yang akan menyutradarai. Naskahnya akan ditangani Ouchi Keiichirou (La Corda d’Oro Blue Sky, Outbreak Company). Musiknya akan ditangani Misawa Yasuhiro (Kokoro Connect, Yuruyuri – Happy Go Lily) di Nippon Columbia. Terutama karena asal usul dan stafnya, ini seri tak biasa yang benar-benar patut diperhatikan.

Devil’s Line (Platinum Vision)

Taira Tsukasa, seorang mahasiwi, diselamatkan dari iblis oleh satu dari sekian banyak vampir yang membaur di antara manusia. Anzai Yuuki, penyelamatnya, adalah separuh iblis yang menggunakan kemampuan supernaturalnya untuk membantu kepolisian menangani kejahatan-kejahatan terkait iblis di Tokyo. Seiring dekatnya hubungan mereka, sesudah penugasan Anzai sebagai pengawal Tsukasa, aturan pribadi Anzai untuk tidak meminum darah manusia mulai diuji.

Diangkat dari manga karya Hanada Ryo, yang diserialisasikan di majalah Monthly Morning Two milik Kodansha, ini seri fantasi gelap yang mungkin lebih menarik buat pemirsa wanita. Kualitas animasinya kurang menonjol. Tapi, di sisi lain, ada banyak seiyuu ternama di dalamnya. Tokumoto Yoshinobu (Nagasarete Airantou) yang akan menyutradarai, dengan dibantu Nakano Hideaki (Aoharu x Machinegun). Konuta Kenji (Servamp) dan Hisao Ayumu yang menangani naskah. Ini seri yang menarik buat kalangan yang suka anime karena seiyuu.

Tachibanakan To-Lie-Angle (Creators in Pack, Studio Lings)

Hanabi Natsuno pulang ke kota kelahirannya dengan harapan bisa memulai SMA di asrama Tachibana Mansion yang megah. Tapi, karena sejumlah komplikasi, Natsuno malah terdampar di asrama Tachibana House yang bobrok tapi ramai. Di sana pula, dirinya terjebak antara sahabat masa kecilnya dan seorang gadis cantik misterius.

Diangkat dari manga karya merryhachi terbitan Ichijinsha, ini seri komedi fanservice berbau yuri yang diserialisasikan di Comic Yuri-Hime. Hirasawa Hisayoshi (Miss Bernard said., Netsuzou Trap -NTR-) yang akan menjadi sutradara. Naskahnya akan dibuat oleh WORDS in STEREO. Soal ini, aku tak bisa komentar banyak. Tapi, aku senang Creators in Pack terus berkembang.

Butlers: Chitose Momotose Monogatari (SILVER LINK)

Jinguji Koma, yang biasa dipanggil Jay, adalah ketua dewan siswa yang cerdas dan tampan. Hayakawa Tsubasa adalah asisten toko sebuah kafe yang serba bisa dan lemah lembut. Di balik kehidupan damai mereka di sekolah, keduanya adalah Butlers, pengelana waktu yang menjalani berbagai pertempuran supernatural, yang telah ditakdirkan untuk menjadi musuh satu sama lain.

Juga dikenal dengan judul Butlers x Battlers, ini adalah proyek orisinil yang digagas SummerACG. Nuansanya lebih ke aksi komedi. Ada banyak karakter cowok tampan, jadi sasarannya lebih untuk pemirsa wanita. Takahashi Masaru (Tasogare Otome x Amnesia, Masamune-kun’s Revenge) memulai debut sebagai sutradara dengan seri ini. Naskahnya akan ditangani Shimizu Megumi (Soul Eater, Eureka Seven, Akagami no Shirayukihime). Musiknya akan ditangani TOMISIRO (Macross Delta, Isekai Shokudou). Semula dijadwalkan buat bulan Januari, tapi jadi diundur ke musim ini. Sejujurnya, ini seri yang menurutku susah ditebak. Pastinya, ini menarik buat yang suka karakter-karakter cowok tampan.

Otaku no Koi wa Muzukashii (A-1 Pictures)

Narumi adalah perempuan kantoran yang diam-diam menyembunyikan gaya hidupnya sebagai fujoshi. Suatu hari, dia mendapati bahwa Hirotaka, kenalannya dari masa sekolah, ternyata sekantor dengannya. Setahu Narumi, Hirotaka yang tampan dan bisa diandalkan sebenarnya adalah otaku game. Rahasia masing-masing kemudian menjadi landasan hubungan mereka berdua.

Juga berjudul Wotakoi: Love is Hard for Otaku, ini diangkat dari manga karya Fujita yang diterbitkan Ichijinsha. Setahuku ini seri komedi romantis yang lumayan bagus. Hiraike Yoshimasa (Amagami SS, Working!!) akan menyutradarai sekaligus menangani komposisi seri. Daripada drama dunia kerja, ceritanya lebih menonjolkan kecanggungan hubungan antar karakter. Ini menarik buat yang nyari seri dewasa tapi enggak terlampau berat.

Golden Kamuy (Geno Studio)

Seusai berakhirnya Perang Russia-Jepang di penghujung zaman Meiji, veteran perang Sugimoto Saichi berkelana di belantara Hokkaido, mencari penghidupan untuk keluarga mendiang teman seperjuangannya. Secara kebetulan, ia mendengar kisah aneh tentang persembunyian emas curian Suku Ainu dari seorang lelaki setempat. Ini mengawali keterlibatan Sugimoto dalam perburuan harta karun penuh bahaya, sekaligus awal perjumpaannya dengan Asirpa, gadis Ainu yang menjadi harapan terbesar bagi Sugimoto untuk bertahan hidup.

Diangkat dari manga seinen peraih penghargaan Manga Taisho karya Noda Satoru, yang diserialisasikan di majalah Young Jump punya Shueisha, ini menjadi proyek seri TV kedua Geno Studio sesudah Kokokku. Nanba Hitoshi (Gosick, Baki the Grappler) akan menyutradarai. Takagi Noboru (Baccano!, Durarara!!) akan menangani naskah. Musiknya akan ditangani oleh Suehiro Kenichiro. Selain latarnya yang historis, di belantara bersalju Hokkaido, seri ini menonjol karena adegan-adegan aksinya yang keras serta perkembangan ceritanya yang keren. Ini salah satu seri baru yang paling dinantikan di musim ini. Direkomendasikan buat yang nyari sesuatu yang benar-benar berbeda. Mudah-mudahan hasilnya bagus. 

Doreiku The Animation (Zero-G, TNK)

Suatu perangkat misterius bernama SCM tahu-tahu telah beredar dalam masyarakat. Perangkat tersebut konon memungkinkan siapapun memanfaatkan rasa bersalah sesama pemakainya dan menjadikannya budak, dengan syarat sederhana bisa memenangkan tantangan atasnya. Seorang gadis cerdas bernama Arakawa Eia diminta menjadi jaminan oleh seseorang yang hendak menguji alat ini. Tak disangka, ini menyeret Eia ke dalam persaingan antara 23 orang pemilik lain.

Ini seri thriller dewasa yang diangkat dari seri novel Dorei-ku: Boku to 23-nin no Dorei karya Okada Shinichi dan Ouishi Hiroto yang diterbitkan Futabasha. Seperti King’s Game, temanya lumayan membuat tak nyaman. Kuraya Ryouichi yang akan menyutradarai sekaligus menangani komposisi seri. Tak banyak yang bisa dikatakan selain itu. Dengan sudut pandang cerita yang terus bergantian, seri ini menurutku relatif lebih cerdas dibandingkan seri-seri sejenis. Tapi, mending jangan memaksakan diri.

Caligula (Satelight)

Suatu dunia virtual yang disebut Mobius diciptakan oleh idola virtual μ (‘myu’) dengan harapan bisa menolong manusia dari segala ketidakadilan dunia nyata. Tapi, sebagian remaja yang terjebak di dalamnya kemudian membentuk Klub Pulang dengan harapan untuk bisa kembali ke kenyataan.

Didasarkan pada game PSV The Caligula Effect yang dikembangkan FuRyu, anime ini kelihatannya dibuat sehubungan pembuatan ulang gamenya untuk PS4. Seri ini menarik karena punya motif musik independen, yang ceritanya, menjadi landasan terbentuknya kepribadian μ. Masing-masing karakter komposer di dalam gamenya bahkan mewakili komposer musik indie di dunia nyata. Selain itu, aku pribadi tertarik karena naskah game aslinya dibuat Satomi Tadashi, penulis cerita dari game-game Persona awal kembangan Atlus. Anime ini disutradarai Wada Jun’ichi (WoldEnd, The Disappearance of Nagato Yuki-chan). Komposisi serinya ditangani Machida Touko (The IDOLM@STER, A Centaur’s Life). Musiknya akan dikolaborasi bersama oleh Masuko Tsukasa, Takanashi Yasuharu, Funta7, RegaSound, dan Iwata Kenji. Konsepnya aneh, tapi gelagatnya sejauh ini bakal lebih bagus dari perkiraan.

Lost Song (LIDEN FILMS, Dwango)

Rin, gadis enerjik yang suka makan, tinggal di desa perbatasan yang hijau. Sementara Finis, sang penyanyi, berdiam di istana kerajaan dan menjalani hari-harinya dalam kesendirian. Keduanya menyimpan kekuatan yang tidak dimiliki manusia lain dalam bentuk nyanyian mereka. Dibawa takdir dan ancaman pecahnya perang, keduanya menjalani perjalanan penuh bahaya dengan kekuatan tersebut.

Ini adalah proyek orisinil yang digagas oleh duo (misterius?) Junpei dan Morita (nama samaran?) dari MAGES(?), yang akan menyutradarai sekaligus menangani naskah. Nuansanya lebih dekat ke drama fantasi dengan titik berat lumayan ke musik. Musiknya sendiri ditangani oleh Shirato Yuusuke. Yang menarik adalah bagaimana seri ini mengusung nama penyanyi Suzuki Konomi dan pengisi suara/penyanyi Tamura Yukari untuk kedua tokoh utama. Seri ini juga menandai debut Suzuki-san sebagai pengisi suara. Nuansanya lebih mengingatkanku pada game? Ini termasuk seri yang distream Netflix. Kualitas akhirnya susah ditebak; tapi secara teknis, seri ini solid.

Last Period: Owari naki Rasen no Monogatari (J.C. Staff)

Makhluk-makhluk ajaib yang disebut Spiral terlahir dari isolasi. Mereka yang bisa mengalahkan makhluk-makhluk ini dikenal sebagai Period. Haru adalah seorang siswa Period yang tergabung dalam Arc End Cabang Kedelapan. Tapi, sesudah insiden pencurian misterius, terjadi krisis ekonomi yang menyebabkan markas pusat menelantaran Divisi Kedelapan. Dengan hanya tiga Period tersisa, termasuk Haru, mereka kemudian bekerja sama membangun kembali Divisi Kedelapan.

Diangkat dari game ponsel kembangan Happy Elements (yang telah diunduh lima juta kali), ini seri fantasi komedi bernuansa cerah dengan desain karakter imut dan warna-warni. Iwasaki Yoshiaki (Love Hina, Miss Monochrome) yang akan menyutradarai. Komposisi seri akan ditangani oleh Shirane Hideki (Danmachi, Hayate no Gotoku). Desain karakter orisinil buatan whoopin menjadi daya tarik utama. Musiknya akan ditangani Manual of Errors (Tamako Love Story) di NBCUniversal Entertainment. Kayaknya ini bakal jadi seri yang cocok sebagai hiburan di kala stres.

Rokuhōdō Yotsuiro Biyori (ZEXCS)

Ada empat spesialis di rumah teh Rokuhoudou: Sui membuatkan teh, Gure ahli dalam membuat latte, Tsubaki membuat panganan manis, dan Tokitaka memasak. Selain melayani pengunjung, terkadang mereka juga membantu menyelesaikan masalah.

Diadaptasi dari manga karya Shimizu Yuu yang diserialisasikan di Go Go Bunch terbitan Shinchosha, ini seri santai yang menyajikan wajah-wajah tampan dan hidangan-hidangan enak. Kamiya Tomomi (Daitoshokan no Hitsujikai) akan menyuradarai. Naskahnya ditangani Akao Deko (Noragami). Desain masakan disediakan Itou Noriko. Seri ini punya kesan benar-benar rapi.

Gurazeni (Studio DEEN)

Bonda Natsunosuke, relief pitcher untuk tim bisbol Spiders, telah berperan di posisi tersebut selama delapan tahun semenjak lulus SMA. Dirinya pemain kidal yang memiliki lemparan menyamping yang tak biasa. Penghasilan tahunannya sekitar 18 juta yen, dan Bonda sangat memikirkan tentang itu dengan bagaimana dirinya tak punya apa-apa selain bisbol untuk mengusung kehidupannya.

Diangkat dari seri manga olahraga peraih penghargaan Kodansha tentang dunia bisbol profesional karya Moritaka Yuuji dan Adachi Keiji, seri ini menarik karena membahas segala aspek bisbol dari sudut pandang keuangan. Selain soal permainan, karena berhubungan soal cara bertahan hidup dari segi finansial, ceritanya juga jadi berujung ke soal kehidupan. Watanabe Ayumu (Space Brothers, If Her Flag Breaks) yang akan menyutradarai. Sementara Takayashiki Hideo (Kaiji, Rideback, One Outs) yang akan menangani naskah. Seri ini patut diperhatikan kalau kalian ngerti permainan bisbol atau menggemari intrik psikologis.

Piano no Mori (Fukushima Gainax)

Shuuhei, seorang anak yang dididik untuk bisa memainkan piano sejak kecil, merasa tertekan oleh keterbatasan bakatnya. Suatu hari, ia berjumpa dengan Kai, seorang anak miskin sekaligus liar yang anehnya, menjadi satu-satunya orang yang mampu menghasilkan melodi dari sebuah piano rusak yang dibuang di hutan.

Diangkat dari manga karya Isshiki Makoto (Hanada Shonen-shi), yang juga berjudul The Piano Forest, seri ini sebelumnya sempat diadaptasi ke format movie oleh Madhouse dan sekarang diadaptasi ke format seri TV. Manganya baru tamat belum lama ini. Ini seri drama bertema musik yang diserialisasikan di majalah Young Magazine Uppers dan majalah Morning punya Kodansha. Ceritanya memaparkan kehidupan Kai dan Shuuhei dari anak-anak sampai menjelang dewasa. Seri ini juga menarik karena sempat mengadakan audisi untuk para pianis beneran untuk menyediakan permainan piano bagi para karakternya. Ini akan tayang di saluran NHK. Nakatani Gaku akan tampil sebagai sutradara. Itami Aki (Rainbow Days, Aku no Hana) dan Abe Mika (Danchi Tomoo) akan bekerjasama menangani naskah. Ceritanya bisa agak berat, tapi ini direkomendasikan kalau suka musik atau drama kehidupan. Gelagatnya benar-benar solid.

Hisone to Masotan (BONES)

Amakasu Hisone yang polos dan jujur adalah rekrutan baru JSDF di pangkalan udara Gifu. Niat awalnya mendaftar ke angkatan udara adalah agar dia bisa menjaga jarak dengan orang-orang karena kecenderungannya menyakiti perasaan dengan kata-kata terlampau jujur. Keputusan ini malah mempertemukannya dengan naga OTF (Organic Transformed Flyer) yang tersembunyi di pangkalan itu. Secara mengejutkan, naga itu kemudian memilih Hisone sebagai pilotnya.

Ini seri orisinal yang diawasi langsung oleh pendiri Gainax, Higuchi Shinji. Kobayashi Hiroshi (Kiznaiver) yang akan menyutradarai. Naskahnya akan ditangani oleh spesialis drama Okada Mari (anohana, The Anthem of the Heart). Desain karakter orisinilnya yang sederhana, yang dibuat Aoki Toshinao, menjadi daya tarik lebih. Kawamori Shoji terlibat untuk desainer mekanik, dengan Koyama Shigeto untuk desain konsep monster. Kelihatannya ini akan jadi seri drama bertema militer yang menonjolkan hubungan antar karakter. Kualitasnya kelihatan solid. Seri ini patut diperhatikan karena kombinasi elemen-elemennya yang sangat enggak biasa.

Kakuriyo Yadomeshi (GONZO)

Aoi, seorang mahasiswi yang pandai memasak, mewarisi kemampuan melihat makhluk gaib yang dimiliki mendiang kakeknya. Namun suatu hari, saat Aoi sedang memberi makan roh-roh tani, dewa pemilik penginapan Tenshinya tiba-tiba muncul untuk memperistri Aoi karena kakeknya ternyata punya hutang yang gagal dilunasi. Aoi menolak diperistri dan memilih bekerja di Tenshinya sebagai upaya membayar hutang.

Juga berjudul Kakuriyo – Bed & Breakfast for Spirits, ini diangkat dari seri light novel karya Yuuma Midori yang diilustrasikan Laruha. Terbitnya di bawah label Fujimi L Bunko milik Kadokawa. Seri ini sudah dikonfirmasi akan tayang dua cour. Ini jenis seri yang lebih ditujukan untuk cewek, tapi kelihatannya akan punya cerita lumayan berbobot. Okuda Yoshiko akan tampil sebagai sutradara untuk seri ini. Konparu Tomoko (Kimi ni Todoke) akan menangani komposisi seri. Musik akan ditangani oleh Iga Takurou (Fuuka, Aria the Scarlet Ammo AA). Ini termasuk keluaran GONZO yang enggak biasa.

Sword Art Online Alternative: Gun Gale Online (Studio 3Hz)

Kohiruimaki Karen adalah mahasisiwi yang risau dengan tinggi badannya yang 183 cm. Saat berkesempatan memasuki dunia virtual bertema senjata api Gun Gale Online, Karen membuat avatarnya yang bernama Llen berkesan imut, bertinggi badan kurang dari 150 cm dan selalu berpakaian pink. Keganasan performa Llen menarik perhatian Pitohui, seorang pemain wanita lain, yang kemudian mendesak Llen untuk berpartisipasi dalam Squad Jam, versi tim dari turnamen Bullet of Bullets.

Diangkat dari seri light novel karya Sigsawa Keiichi (Kino no Tabi), ini seri drama aksi yang merupakan lepasan dari waralaba Sword Art Online karya Kawahara Reki, tapi sebenarnya tak berhubungan dari segi cerita sama sekali (hanya berbagi latar dunia VMMORPG, dari novel 5 dan 6 SAO).  Sakoi Masayuki (Celestial Method, Princess Resurrection) yang akan menyutradarai. Naskah akan ditangani Kuroda Yousuke (Gundam 00, My Hero Academia). Studio 3Hz sedang naik daun sesudah proyek Flip Flappers dan Princess Principal. Karenanya, ini proyek yang kelihatannya benar-benar diharapkan bagus. Kesannya sejauh ini terbilang solid.

Comic Girls (Nexus)

Moeta Kaoruko, siswi SMA sekaligus pembuat manga dengan nama pena Chaos, terpuruk saat mengetahui karyanya menempati urutan terbawah survei pembaca. Editor Kaoruko kemudian menyarankan agar dia tinggal di suatu asrama perempuan khusus pembuat manga, di mana Kaoruko bisa bertemu gadis-gadis lain sesama pengarang komik, dan saling membantu untuk menjadi lebih baik.

Diangkat dari manga 4-kotak karya Hanzawa Kaori yang diserialisasikan di majalah Manga Time Kirara Max punya Houbunsha, ini seri komedi yang sempat jadi kandidat penghargaan Manga Taisho tahun lalu.  Tokumoto Yoshinobu (sutradara episode untuk WATAMOTE, Rakudai Kishi no Chivalry) akan memulai debut sebagai sutradara dengan seri ini. Takahashi Natsuko (Koi to Uso, Yuyushiki) yang akan menangani naskah. Menariknya, penulis-penulis naskah ternama Machida Touko (Lucky Star), Yokote Michiko (Patlabor, Shirobako), dan Hanada Jukki (Love Live!, Sound! Euphonium) akan berkontribusi juga. Musiknya akan ditangani oleh Suehiro Kenichiro. Ini seri yang mungkin bisa jadi kejutan.

Megalobox (TMS Entertainment)

JD (Junk Dog) adalah petinju yang mencari nafkah dengan ikut serta dalam pertandingan-pertandingan tinju ilegal yang sudah diatur. Suatu hari, di tengah ring, dia bertemu seorang pria tertentu yang membuatnya rela mempertaruhkan segalanya lagi.

Ini proyek orisinil yang menjadi lepasan dari seri manga tinju legendaris Ashita no Joe karya Kajiwara Ikki dan Chiba Tetsuya, memperingati 50 tahun terbitnya manga tersebut. Latar ceritanya kali ini futuristis, dengan bagaimana para petinju menggunakan permesinan untuk memperkuat gerakan. Moriyama You (pernah terlibat dalam Master Keaton sebagai sutradara animasi, desainer konsep di Attack on Titan) yang akan menyutradarai. Naskahnya akan ditangani Manabe Katsuhiko (Hokuto no Ken: Raoh) dan penulis naskah live action Kojima Kensaku. Musiknya akan ditangani mabanua (Kids on the Slope). Desain karakternya yang old school menghasilkan kombinasi menarik dengan latarnya yang modern. Aku semula kurang yakin, tapi gelagatnya sejauh ini lebih kuat dari perkiraan.

Libra of Nil Admirari (Zero-G)

Di semesta di mana zaman Taisho di Jepang berlangsung hingga 1936 (dan bukan berakhir di 1926), seorang gadis bernama Kuze Tsugumi didatangi Biro Manajemen Aset Informasi Perpustakaan Kekaisaran berkenaan buku-buku yang disebut Maremono, yang konon mampu mempengaruhi pikiran para pembacanya. Buku-buku tersebut kemungkinan berkaitan dengan insiden pembakaran diri yang adik laki-lakinya lakukan.

Juga berjudul Nil Admirari no Tenbin, ini diangkat dari game otome keluaran Idea Factory dan Otomate. Ini termasuk seri untuk cewek yang gaya visualnya menarik bahkan buatku. Takata Masahiro (Super Seisyun Brothers) yang akan menyutradarai. Konparu Tomoko (Uta no Prince-sama – Maji Love 1000%) yang akan menangani naskah. Musiknya akan ditangani oleh Hasegawa Tomoki (NANA). Meski tak menonjol, kudengar gamenya termasuk lumayan. Mungkin ini patut diperhatikan oleh penggemar game otome.

Uchuu Senkan Tiramisu (GONZO)

Ichinose Subaru adalah pilot as dari kapal luar angkasa Tiramisu. Masalahnya, karena tak tahan dikelilingi oleh pilot-pilot yang lebih tua, sehari-hari ia mengurung diri di dalam kokpit pesawat pribadinya, Durandal.

Juga dikenal dengan judul Space Battleship Tiramisu, ini seri komedi sains fiksi yang merupakan adaptasi dari manga karya Miyakawa Satoshi dan Itou Kei yang diserialisasikan di situs web Kurage Bunch milik Shinchosha. Ikehata Hiroshi (Robot Girls Z) yang akan menyutradarai. Satou Yuu yang akan menangani naskah. Aku tak bisa komentar banyak, tapi ini kelihatannya seri yang beneran konyol.

Isekai Izakaya: Japanese Food From Another World (Sunrise)

Sebuah bar bernama “Nobu” di Kyoto, Jepang, memiliki pintu yang terhubung ke bar di suatu dunia lain. Minuman keras Toriaezu Nama serta berbagai hidangan lain yang disediakan Yazawa Nobuyuki, sang pengelola, banyak dicari baik di dunia sini maupun dunia sana.

Juga dikenal dengan judul Isekai Izakaya “Nobu” atau Otherworldly Izakaya “Nobu”, ini sangat mirip dengan Isekai Shokudou beberapa waktu lalu, dengan orang-orang dunia lain menikmati beragam hidangan dunia kita, tapi dengan fokus ke izakaya, bar/restoran Jepang. Seri ini juga kabarnya akan dilengkapi segmen pencarian resto-resto izakaya berkualitas di kehidupan nyata. Ini diangkat dari seri light novel karya Semikawa Natsuya yang diterbitkan Takarajimasha dengan ilustrasi buatan Kururi. Ono Katsumi (Hataraki Man) akan menyutradarai. Naskahnya akan ditangani Yoshida Shin (Speed Grapher). Ini seri yang menarik diikuti bila kalian gemar makan.

Juga akan tayang Steins;Gate 0 (White Fox) yang diadaptasi dari game berjudul sama buatan 5pb. Sutradaranya kali ini Kawamura Kenichi (Qualidea Code, SoniAni), tapi seluruh staf yang lama akan kembali. Ini seri sains fiksi yang menjadi midkuel dari seri perjalanan waktu Steins;Gate yang legendaris. Susah membahas ceritanya, tapi ini berlatar di semesta di mana Okabe Rintarou tak lagi sanggup berjuang untuk menyelamatkan Makise Kurisu. Versi gamenya banyak sekali dipuji, jadi ada pengharapan sangat besar terhadap anime ini.

Uma Musume Pretty Derby (P.A. Works) juga tayang. Seri ini pada dasarnya menampilkan kuda-kuda balap sebagai gadis-gadis muda. Didasarkan pada game mobile keluaran Cygames, promonya yang tayang beberapa tahun lalu sempat menarik perhatian. Aku tak bisa komentar banyak, tapi kualitas visualnya bagus.

Juga tayang Persona 5 the Animation (A-1 Pictures) yang diangkat dari game buatan Atlus yang sangat ngehit. Ceritanya tentang remaja-remaja yang menghadapi kebobrokan masyarakat modern dengan berperan sebagai pencuri terhormat. Aku lebih ingin memainkan gamenya, jadi kurang tertarik dengan anime ini. Tapi, ada gelagat kalau versi animasinya akan berbeda dibandingkan anime-anime Persona yang lalu. Ishihama Masashi yang menyutradarai dengan Inostume Shinichi menangani naskah. Meguro Shoji menangani musik. Nama tokoh utama yang dipilih adalah Amamiya Ren. Secara teknis, ini kelihatan keren.

Anime kolaborasi Tiongkok-Jepang musim ini adalah Jikken-hin Kazoku: Creatures Family Days. Ini diangkat dari manga karya Yanai (kelahiran Taiwan) yang diserialisasikan di majalah Comic Bunch milik Shinchosha. Ceritanya tentang remaja lima bersaudara, anak-anak pasangan ilmuwan gila, yang gen-gennya telah dikombinasikan dengan gen-gen makhluk-makhluk lain. Seri ini punya kesan awal lebih bagus dari yang aku kira.

Ada tiga seri lawas yang animenya dibuat ulang di musim ini:

  • GeGeGe no Kitarou (Toei Animation) tentang bocah youkai yang terlahir di pemakaman, diangkat dari manga supernatural klasik karya Mizuki Shigeru. Latar ceritanya dibuat modern dan desain karakter barunya keren. Aku selalu suka adegan-adegan aksinya. Seri ini yang menggantikan waktu tayang Dragon Ball Super.
  • Captain Tsubasa (David Production) tentang bocah lelaki bernama Oozora Tsubasa yang mendalami sepakbola. Ya, ini dibuat ulang lagi dari awal dengan modernisasi. Melihat studio yang menangani, kelihatannya durasinya juga bakal agak panjang.
  • Cutie Honey Universe (Production Reed) tentang Cutie Honey, android ciptaan Prof Kisaragi yang memiliki perangkat Fixed System of Air Elements yang mampu menciptakan apapun dari udara. Ketika organisasi jahat Panther Claw menginginkan perangkat ini, konflik Honey melawan Panther Claw dimulai. Mirip kasus Devilman CRYBABY dan Mazinger Z: Infinity, ini juga dibuat sebagai penghormatan atas 50 tahun karya-karya Nagai Go. Hanya saja, ini lebih tak serius dengan banyak elemen fanservice. Kudengar akan muncul karakter-karakter Honey lain yang sama sekali baru.

Seri-seri lama yang mendapat sekuel ada BANYAK. Tak semuanya sempat aku komentari. Ini mencakup

  • Full Metal Panic! Invisible Victory (XEBEC) Kelanjutan yang sangat tak disangka dari seri mecha komedi lawas Full Metal Panic yang diangkat dari seri novel karya Gatoh Shoji. Agak susah diikuti kalau belum menonton seri-seri sebelumnya. Tentang pasukan penjaga perdamaian yang menggunakan teknologi lebih maju dibandingkan seluruh dunia lain. Juga tentang remaja cowok yang tumbuh besar di medan perang yang dengan kikuk harus menjalani hidup damai sebagai pengawal seorang siswi SMA. Season pertama dibuat oleh GONZO Digimation, spin off komedi dan season ketiga dibuat oleh Kyoto Animation. Jadi, iya, ini kasus yang aneh. Juga agak mengkhawatirkan karena durasinya baru dikonfirmasi satu cour.
  • Boku no Hero Academia (BONES) Musim baru yang SANGAT banyak ditunggu dari My Hero Academia. Seri bertema pahlawan ini berkembang dengan benar-benar bagus. BONES juga sangat konsisten dengan kualitas keluaran mereka. Kelihatannya akan mengadaptasi bab cerita tentang wisata sekolah.
  • Aikatsu Friends! Seri Aikatsu ketiga sekaligus. Yuuki Aine pandai berteman, masuk ke jalur umum di Star Harmony Academy, di mana ia berteman dengan Minato Mio, idola teratas, dan berjuang menjadi idola terbaik pula. Diangkat dari game arcade Bandai Namco.
  • Binan Koukou Chikyuu Bouei-bu Happy Kiss! (diomedea) yang menjadi semacam lepasan dari seri komedi Cute High Earth Defense Club. (Tapi, kayaknya isinya sama aja?)
  • Food Wars! The Third Plate (2) Paruh kedua dari season ketiga seri memasak Shokugeki no Souma: San no Sara, dengan ceritanya semakin serius, dengan bagaimana sekolah Souma dan kawan-kawan diambil alih.
  • Houzuki no Reitetsu (Studio DEEN) Paruh kedua dari season kedua dari seri komedi tentang alam baka. Kualitasnya DEEN lumayan konsisten.
  • Amanchu! Advance Kelanjutan seri keseharian tentang menyelam yang diangkat dari manga karya Amano Kozue.
  • Lupin the Third: Part 5 Proyek kolaborasi tentang pencuri legendaris Lupin dan kawan-kawannya dengan cerita yang lagi-lagi baru. Belum ada info lebih lanjut.
  • Fist of the Blue Sky Regenesis (POLYGON PICTURES) Kelanjutan seri anime sebelumnya, tapi kini ditangani POLYGON PICTURES dengan keahlian CG mereka. Menariknya, ini cerita yang sama sekali baru. Versi manganya bahkan sampai dilanjutkan lagi dengan proyek ini. Selain itu, kudengar ceritanya akan berlatar di Indonesia. Buat yang belum tahu, ini prekuel seri bela diri Hokuto no Ken yang berlatar tiga generasi sebelum dunia hancur.
  • Major 2nd (NHK Enterprises) Kelanjutan seri bisbol lawas Major yang diangkat dari manga karya Mitsuda Takuya yang diserialisasikan di Weekly Shonen Sunday. Ada tokoh-tokoh lama yang akan muncul kembali.
  • Lostorage conflated WIXOSS (J.C. Staff) Kelanjutan dari Lostorage incited WIXOSS yang diangkat dari permainan kartu Takara Tomy. Terutama dikenal karena dramatisasinya. Kali ini ditangani Yoshida Risako sebagai sutradara.
  • High School DxD Hero (Passione) Sekuel mengejutkan dari adaptasi seri light novel fanservice karya Ishibumi Ichiei, tapi dengan ditangani staf baru. Banyak yang protes dengan desain karakternya yang baru, tapi aku tak keberatan karena lebih bisa memuluskan adegan-adegan aksi.
  • Beyblade Burst Chōzetsu
  • Shōnen Ashibe GO! GO! Goma-chan
  • Nobunaga no Shinobi: Anegawa Ishiyama-hen
  • Yo-kai Watch: Shadowside
  • Koneko no Chi Ponponra Dairyokō Seri manis tentang kucing, lanjutan Chi’s Sweet Home.
  • Kiratto Pri*Chan Momoyama Mirai dan Moegi Emo, sepasang siswi SMP, menggunakan Pri*Chan System untuk menyiarkan acara-acara ciptaan mereka sendiri. Dengan menjadi produser dari saluran mereka sendiri, mereka berupaya menjadi idola Pri*Chan.
  • Inazuma Eleven: Ares no Tenbin Klub sepakbola Inamori Asuto bubar setelah lapangan sepakbola mereka dihancuran. Dia dan teman-temannya kemudian menuju ke Tokyo untuk masuk SMP Daimon demi bermain sepakbola.
  • Future Card Buddyfight X: All-Star Fight

Seri-seri pendek lain yang akan tayang.

  • Alice or Alice (EMT Squared) tentang sepasang gadis kembar, Rise dan Airi, yang sangat disayang kakak lelaki mereka. Diadaptasi dari seri manga Alice or Alice – Siscon Nii-san to Futago no Imouto karya Korie Riko. Ini seri komedi dengan nuansa cerah yang lumayan ringan. Kobayashi Kousuke (Idol Time Pripara) maju sebagai sutradara. Naskah ditangani Fujimoto Saeka.
  • Fumikiri Jikan (EKACHI EPILKA) yang menampilkan serangkaian cerita pendek tentang perempuan-perempuan muda yang menunggu jalan di perlintasan rel kereta. Diangkat dari manga komedi karya Sato yang diterbitkan di Monthly Action milik FUTABASHA. Visualnya keren dan karakter-karakternya kelihatan menarik. Sesuatu tentang ini mengingatkanku pada Oshiete! Galko-chan.
  • Akkun to Kanojo (Yumeta Company) tentang Kagari “Akkun” Katsuhiro yang sangat tsundere. Kepada pacarnya, Katagiri “Nontan” Non, Akkun kerap berkata kasar dan bersikap tidak perhatian. Meski nyatanya, Akkun suka berat dan kerap bertingkah seperti stalker. Diangkat dari manga komedi romantis karangan Kakitsubata Waka di majalah josei Monthly Comic Gene milik Kadokawa. Ini punya tokoh-tokoh yang aneh.

Seri dewasa keluaran Magic Bus untuk musim ini adalah Sweet Punishment, yang berkisah tentang seorang karyawati yang dipenjara meski tak bersalah, dan jadi didominasi oleh sipir penjaranya.

Dari segi film layar lebar, enggak banyak yang bisa dikomentar, tapi yang mencolok antara lain:

  • Batman Ninja yang kudengar SANGAT KEREN.
  • Servamp: Alice in the Garden
  • Liz to Aoitori
  • Godzilla: Kessen Kidou Zoushoku Toshi yang merupakan kelanjutan film animasi Godzilla: Kaiju Wakusei.
  • Peacemaker Kurogane: Belief
  • Donten ni Warau Gaiden: Shukumei, Soutou no Fuuma

Dari segi OVA, yang mencolok antara lain:

  • Queen’s Blade Unlimited
  • Asagao to Kase-san

Seperti biasa, akan diedit lagi kalau ada tambahan.

(Ini Gunpla Age 2 Magnum yang dipakai Kyoya Kujo di Gundam Build Divers btw. Idenya oke.)

 

Anime Baru Musim Dingin 2017-2018

Maaf enggak nulis belakangan. Lagi banyak berbenah di kehidupan nyata. Aku bakal tetap nyoba ngeblog sih, walau mungkin enggak bisa sesering dulu.

Seperti biasa, winter menghadirkan judul-judul anime baru dalam jumlah agak banyak. Patut diperhatikan bagaimana kebanyakan judul menonjol adalah seri-seri sekuel. Selain itu, ada banyak anime drama keseharian yang mencolok di musim ini.

Mungkin kalian udah tahu, industri anime sedang mengalami pergeseran. Biaya produksi belakangan meningkat, studio-studio kecil cenderung tutup, lalu layanan-layanan streaming besar Netflix dan Amazon membawa perubahan-perubahan yang enggak disangka.

Yah, kayak biasa, daftar ini kurang bisa diandalkan.

Akan diupdate berkala apabila perlu.

Koi wa Ameagari ni You ni (Wit Studio)

Tachibana Akira adalah siswi SMA berusia 17 tahun yang jarang mengekspresikan diri. Dia bekerja sambilan di sebuah restoran keluarga. Di sana, dia menemukan cinta terpendam sesudah turunnya hujan terhadap Kondou Masami, manajernya yang berusia 45 tahun.

Juga dikenal dengan judul After the Rain, anime ini diangkat dari seri manga drama seinen karya Mayuzuki Jun dari penerbit Shogakukan. Ceritanya kudengar lumayan berkesan. Animasinya sejauh ini menghadirkan penggambaran suasana yang kuat. Watanabe Ayumu (Uchuu Kyoudai, Gurazeni) yang akan menyutradarai. Ditambah dengan bagaimana Wit Studio (Attack on Titan) yang memproduksinya, gelagatnya sejauh ini terbilang bagus. Penyanyi ternama Aimer akan membawakan lagu temanya.

Citrus (Passione)

Yuzu adalah seorang remaja perempuan modis yang baru pindah sekolah sesudah ibunya menikah lagi. Sekolahnya yang baru ternyata sekolah khusus putri dengan aturan-aturan sangat ketat dan konservatif. Yuzu akhirnya bentrok dengan Mei, kepala dewan siswa yang ternyata merupakan saudara tirinya di rumah. Namun, saat di rumah, Mei memperlihatkan ketertarikan tak disangka terhadapnya.

Diangkat dari seri manga yuri karya Saburouta, kudengar ini salah satu seri baru yang ditunggu oleh para penggemar genre ini. Grup band nano.RIPE akan membawakan lagu pembukanya. Takahashi Takeo (Spice and Wolf, Hinako Note) yang akan menyutradarai. Hayashi Naoki (Flip Flappers) yang akan menangani naskah. Meski aku bukan penggemar genre ini, kualitasnya sejauh ini juga kelihatan solid. Keluaran-keluaran Passione dari dulu memang cenderung bagus meski kurang menonjol.

BEATLESS (Diomedea)

Kecerdasan buatan ultra-canggih yang melampaui kecerdasan manusia telah ditemukan. Makhluk-makhluk hidup baru bernama hIE tercipta dari teknologi material yang belum sepenuhnya dipahami. Lacia, hIE berwujud perempuan yang mengusung semacam perangkat berbentuk peti mati hitam, berjumpa dengan remaja 17 tahun Endo Arato dan kemudian mengubah hidupnya.

BEATLESS berawal dari novel sains-fiksi remaja karya Hase Satoshi. Ilustrasi aslinya dibuat oleh Redjuice, dan karenanya, kesan futuristiknya agak mirip Guilty Crown. Berhubung novel aslinya terbit sekitar tahun 2014 dan kurang begitu menonjol, pengumuman soal anime ini seakan keluar entah dari mana. Key visual-nya kurang berkesan. Kualitas akhirnya juga masih jadi tanda tanya. Tapi sutradara andal Mizushima Seiji (Gundam 00, Concrete Revolutio) yang akan menangani. Sedangkan naskahnya ditangani bersama Zappa Go (Blend S, Koihime Musou) dan Takahashi Tatsuya (Rewrite, Eromanga Sensei). Aku pribadi tertarik dengan seri ini sekedar untuk tahu akhir ceritanya.

DARLING in the FRANXX (Trigger, A-1 Pictures)

Jauh di masa depan, umat manusia mendirikan kota benteng bergerak Plantation karena kerusakan alam. Makhluk-makhluk raksasa yang disebut Kyouryuu kini mengancam, dan hanya bisa dilawan menggunakan robot-robot Franxx yang raksasa. Pilot-pilot Franxx dididik di suatu lembaga bernama Mistilteinn. Hiro, alias Code: 016, dahulu dikenal sebagai murid paling jenius di Mistilteinn, tapi ia kehilangan kedudukannya karena suatu alasan. Sampai suatu ketika, seorang gadis misterius bertanduk dua bernama Zero Two muncul di hadapannya…

Disutradarai Nishigori Atsushi (The IDOLM@STER) dengan dibantu Akai Toshifumi, ini anime super robot orisinil yang menjadi proyek kolaborasi dua studio. Kekhasan animasi Trigger dan A-1 Pictures sama-sama tertuang, sehingga nuansanya kelihatannya bakal lumayan unik. Soal cerita masih menjadi tanda tanya, tapi Nishigori akan mengerjakannya dengan dibantu Hayashi Naotaka (Girl Friend BETA, Morita-san wa Mukuchi). Karena Koyama Shigeto menangani desain mecha, ada nuansa Star Driver di dalamnya juga. Aku berharap hasilnya bagus.

Devilman crybaby (Science SARU)

Di zaman purba, dunia kita ternyata pernah dikuasai kaum iblis. Remaja SMA berhati murni, Fudo Akira, diperingatkan oleh sahabatnya, Asuka Ryo, bahwa kaum iblis kuno sebentar lagi akan bangkit. Satu-satunya jalan untuk mencegah mereka menguasai bumi kembali adalah dengan menyatu dengan salah satu dari mereka. Dengan begitu, terlahirlah Devilman, makhluk dengan kekuatan iblis tapi dengan jiwa seorang manusia.

Diangkat dari seri manga dewasa apokaliptik legendaris karya Nagai Go, seri ini merupakan penceritaan baru yang akan ditangani oleh ahli animasi 2D, Yuasa Masaaki (Ping Pong, The Tatami Galaxy). Ceritanya berbeda sepenuhnya dari anime Devilman yang klasik, dengan nuansa yang lebih dekat ke manganya. Kelihatannya ini akan dibuat sedemikian rupa agar mudah dimasuki pendatang baru. Okouchi Ichirou (Code Geass, Valvrave) yang akan menangani naskahnya, jadi ada pengharapan kalau penceritaannya seru. Temanya berat dan jelas enggak cocok untuk semua orang, tapi ini salah satu judul paling ditunggu di musim ini. Ini tayang lebih cepat dari rencana (sebelumnya dijadwalkan musim semi), dan berformat ONA di Netflix.

Miira no Kaikata (8-Bit)

Kashiwagi Sora, pelajar SMA dengan cara pandang agak berbeda dari kebanyakan orang, pada suatu hari dikirimi mumi (makhluk berperban) dari Mesir oleh ayahnya yang “petualang.” Ukurannya kecil, hanya 12 cm, dan dengan segera menarik simpati Sora. Kehadiran Mi-kun yang misterius, mumi mungil tersebut, ternyata menjadi awal dari berbagai hal tak biasa lain yang terjadi pada Sora dan teman-temannya.

Dikenal juga dengan judul How to Keep a Mummy, ini diangkat dari seri manga komedi karya Utsugi Kakeru yang diserialisasikan di aplikasi Comico. Sutradara pendatang relatif baru Kaori (Yuyushiki) yang akan menanganinya. Naskahnya akan ditangani Akao Deko (Flying Witch, Noragami). Singkat kata, ini seri yang patut direkomendasikan kalau kalian penggemar makhluk-makhluk cute.

Hakata Tonkotsu Ramens (Satelight)

Fukuoka sekilas pandang merupakan kota yang damai. Tapi, di balik permukaan, kriminalitas merajaela. Wilayah Hakata, sarang penjahat profesional di kota tersebut, memiliki bermacam jenis orang: pembunuh bayaran, detektif, informan, pengatur balas dendam profesional. Tapi, bahkan di antara mereka, ada suatu legenda urban. Apabila kisah-kisah tentang para tokoh di dunia rahasia ini diceritakan, sang “pembunuh pembunuh bayaran” akan muncul.

Seri ini diangkat dari seri novel peraih penghargaan Dengeki karya Kisaki Chiaki dan Ichiiro Hako. Yasuda Kenji (Arata Kangatari) yang akan menyutradarai. Yasukawa Shogo (Alderamin on the Sky) yang akan menangani naskah. Ini jenis seri yang punya tokoh agak banyak dengan cerita berjalan setahap demi setahap. Visual animenya mungkin kurang berkesan, tapi aku pribadi sangat tertarik dengan seri novelnya. Musiknya yang ditangani Nakagawa Kotaro (Code Geass, Hayate no Gotoku) terbilang menjanjikan. Mudah-mudahan hasilnya bagus.

Idolish 7 (TROYCA)

Takanashi Tsumugi, seorang gadis biasa, mendapat pekerjaan sebagai manajer Idolish 7, suatu grup idola baru. Tsumugi harus membantu melatih tujuh pemuda yang menjadi personilnya, masing-masing dengan kepribadian dan persoalan pribadi sendiri-sendiri, dan menjadikan mereka bintang idola.

Idolish 7 diangkat dari game irama buatan Bandai Namco Online lewat kolaborasi dengan Lantis. Kudengar seri ini menonjol karena ceritanya yang penuh drama serta desain karakter buatan mangaka ternama Tanemura Arina (Full Moon wo Sagashite). Sutradara veteran Bessho Makoto (Shangri-La, Armitage: Dual-Matrix) yang akan menyutradarai. Sekine Ayumi (Makura no Danshi, Fate/Grand Order: First Order) yang akan menangani naskah. Singkatnya, ini anime idol yang kasusnya agak enggak biasa. Kualitas produksinya di atas rata-rata. Selain itu, sejauh yang aku dengar dari adik perempuanku, aspek ceritanya sendiri memang terbilang menjanjikan. Ini layak diperhatikan buat yang suka genre ini.

Death March Kara Hajimaru Isekai Kyousoukyoku  (CONNECT, SILVER LINK)

Suzuki Ichirou, yang kerap dipanggil Satou, sedang menjalani death march demi menyelesaikan program RPG yang akan dirilis perusahaannya. Saat berniat tidur sebentar untuk istirahat, Satou mendapati diri di suatu dunia lain yang memiliki fitur-fitur mirip dengan RPG yang ia kembangkan. Meski semula mengira sedang bermimpi, karena keadaan, ia melepas fitur bantuan meteor shower yang sebelumnya ia tambahkan. Di luar dugaan, hal ini membantai sejumlah besar musuh dan dengan segera mengubahnya menjadi sosok yang sangat kuat.

Diadaptasi dari seri novel karangan Ainana Hiro dengan ilustrasi buatan Shri, Desumachi termasuk salah satu seri isekai paling menonjol dengan pembangunan dunia yang rinci, karakter-karakter menarik, serta perkembangan cerita yang luas. Basis penggemarnya kudengar lumayan kuat. Connect dan Silver Link kembali bekerja sama untuk proyek ini. Meski tak pernah sampai wah, kualitas mereka cenderung solid. Di samping itu, sutradara handal Oonuma Shin (No-Rin, BakaTesto) yang akan menangani. Shimoyama Kento (Gintama, Servant x Service) yang akan menangani naskah. Musik akan ditangani MONACA. Aku pribadi merasa format animenya mungkin takkan optimal. Tapi, sebagai penggemar seri novelnya, judul ini akan aku perhatikan. Juga dikenal dengan judul Death March to the Parallel World Rhapsody.

Fate/Extra: Last Encore (SHAFT)

Kishinami Hakuno adalah seorang siswa SMA biasa di Perguruan Tsukumihara yang kemudian mendapati bahwa dunianya ternyata adalah dunia virtual. Sesudah menyadari diirnya tak memiliki ingatan masa lalu, Hakuno terpilih sebagai salah satu peserta kompetisi Perang Cawan Suci. Dengan iming-iming permohonan apapun yang bisa diwujudkan, dengan ditemani Saber yang misterius, Hakuno terlibat kompetisi hidup mati yang dapat menentukan masa depan dunia.

Last Encore diadaptasi dari game PSP Fate/Extra yang dikembangkan oleh Type-Moon bersama Image Epoch. Singkat cerita, game aslinya memiliki permainan kurang bagus, tapi memiliki cerita yang benar-benar menarik dengan penjabarannya soal eksistensi dan realita. Last Encore menjadi semacam penceritaan ulang dari cerita di gamenya tersebut. Berhubung SHAFT sebelumnya menangani animasi pembuka di gamenya, Last Encore jadi salah satu seri baru paling diperhatikan di musim ini. Miyamoto Yukihiro (Arakawa Under the Bridge) yang akan menyutradarai, dengan diawasi oleh Simbo Akiyuki (Sangatsu no Lion, Puella Magi Madoka Magica). Perlu diperhatikan bahwa naskahnya akan ditangani sendiri oleh Nasu Kinoko yang telah mencetuskan cerita di gamenya. Musik akan ditangani Kosaki Satoru (Bakemonogatari). Seperti Fate/Apocrypha, cerita Fate/Extra berdiri sendiri dan terpisah dari seri-seri Fate yang lain.

Gakuen Babysitters (Brains Base)

Sesudah meninggalnya kedua orangtua mereka dalam kecelakaan pesawat terbang, Kashima Ryuuichi, beserta adiknya yang masih balita, Kotarou, dibolehkan tinggal bersama kepala Akademi Morinomiya, yang juga kehilangan anak dan menantunya dalam kecelakaan yang sama. Syaratnya, Ryuuichi harus mau bekerja sebagai babysitter di daycare center di akademi tersebut.

Diangkat dari seri drama karya Tokeino Hari, dikenal juga dengan judul School Babysitters, ini seri manga berdurasi lumayan panjang yang akhirnya dianimasikan juga. Pendatang baru Morishita Shuusei yang akan menyutradarai. Naskahnya akan ditangani oleh Kakihara Yuuko (Chihayafuru 2, Orange). Daya tarik seri ini agak susah dijelaskan kalau kalian tak suka anak-anak. Intinya soal bagaimana kehidupan SMA Ryuuichi jadi bercampur dengan kehadiran anak-anak yang diasuhnya. Meski tak menonjol, kualitasnya sejauh ini kelihatannya cukup solid.

Karakai Jouzu no Takagi-san (Shinei Animation)

Nishikata adalah siswa SMP yang berkali-kali merasa dipermalukan karena sehari-hari dijahili Takagi, gadis manis yang duduk di sebelahnya di kelas. Pada suatu hari, Nishikata bersumpah untuk bisa membalas Takagi. Tapi Takagi membuktikan diri sebagai lawan yang tangguh.

Diangkat dari manga komedi romantis karya Yamamoto Souichirou yang sudah banyak direkomendasikan, anime ini juga akan mengangkat cerita seri lepasannya, Ashita wa Doyoubi, yang memberi fokus pada karakter-karakter berbeda.  Akagi Hiroaki (Hinalogi) yang akan menyutradarai. Komposisi seri akan ditangani Yokote Michko (Genshiken, RIN-NE). Visualnya sejauh ini benar-benar menjanjikan, dengan latar cerita yang cerah dan desain karakter yang manis. Mudah-mudahan hasilnya bagus.

Killing Bites (LIDEN FILMS)

Dalam suatu insiden, Nomoto Yuuya berkenalan dengan Uzaki Hitomi, seorang perempuan yang lengan dan kakinya mampu berubah menjadi lengan dan kaki binatang honey badger. Ini awal pertemuan Yuuya dengan dunia Killing Bites, turnamen rahasia di mana duel-duel antara hibrida manusia dan binatang dilakukan.

Seri aksi ini didasarkan dari seri manga seinen hasil kolaborasi Sumita Kazasa (Witchblade Takeru) dan Murata Shunya (Jackals). Terlepas dari kecendrungannya untuk menghadirkan fanservice, aku dengar adegan-adegan aksinya terbilang seru. Nishikata Yasuto (sutradara episode Arslan Senki, Nanatsu no Taizai) yang akan menangani. Naskahnya akan ditangani Akashiro Aoi (Youjitsu, Fuuka). Musiknya ditangani Takanashi Yasuharu (Naruto Shippuden, Fairy Tail). Kualitas keluaran LIDEN FILMS cenderung gampang turun naik, tapi yang ini kelihatannya solid. …Iya, visualnya yang mencolok memang memberi kesan awal yang sedikit kurang nyaman. Grup musik fripSide akan membawakan lagu pembukanya.

Kokkoku: Moment by Moment (Geno Studio)

Suatu aliran kepercayaan misterius bernama Genuine Love Society telah menculik saudara lelaki dan keponakan Yukawa Juri. Demi menolong mereka, Juri dan keluarganya kemudian menggunakan batu pusaka turun-temurun untuk membaca mantera yang membukakan dunia paralel Stasis, di mana waktu terhenti. Alangkah herannya mereka saat mendapati bahwa di markas para penculik, ada orang-orang lain selain mereka yang bisa bergerak. Di samping itu, hadir makhluk-makhluk mengerikan berkeliaran yang kini mengancam keselamatan mereka semua.

Diangkat dari seri manga sains fiksi karya Horio Seita yang diserialisasikan Kodansha dari tahun 2008-2014, anime ini akan menjadi seri TV pertama keluaran Geno Studio, studio animasi baru yang terbentuk dari staf studio Manglobe (yang tutup sesudah mengerjakan proyek anime Gangsta. dan separuh proyek Genocidal Organ). Ohashi Yoshimitsu (Sacred Seven, Galaxy Angel) yang akan menyutradarai. Kimura Noboru (Amagami SS+, Nyaruko) yang menangani komposisi seri. Musiknya akan ditangani MICHIRU. Desain karakter aslinya dibuat oleh Umetsu Yasuomi (Mezzo, Kite). Karena latar belakang di balik proses pembuatannya, ada lumayan banyak orang memperhatikan seri ini.

Märchen Mädchen (Hoods Entertainment)

Kagimura Hazuki kerap menyendiri untuk membaca buku karena merasa kurang nyaman dengan lingkungan keluarganya yang baru.  Di sekolah, pada suatu hari, salah satu buku di rak perpustakaan membawanya ke dunia lain dengan sekolah ajaib di mana ia berjumpa dengan Tsuchimikado Shizuka. Hazuki kemudian mengetahui bahwa gadis-gadis seperti Shizuka yang menjadi siswi di sekolah tersebut dipilih oleh dongeng-dongeng dan cerita rakyat kuno untuk bisa menggunakan sihir.

Seri ini diangkat dari seri light novel karya mendiang Matsu Tomohiro yang meninggal dunia beberapa waktu lalu. Ilustrasinya dibuat oleh Kantoku. Saito Hisashi (Haganai, Bamboo Blade) yang akan menyutradarai seri ini, dengan dibantu oleh Ueda Shigeru (RIN – Daughters of Mnemosyne, Senran Kagura). Naskah dan komposisi seri ditangani bersama oleh Asaura, Monda Yuuichi, dan Kingetsu Ryunosuke, dengan kredit diberikan pada mendiang Matsu juga. Karena bersifat separuh passion project, anime ini mungkin takkan mencolok. Tapi seri ini bisa tetap menarik bagi yang suka.

Ramen Daisuki Koizumi-san (Studio Gokumi, AXsiZ)

Koizumi, seorang siswi SMA, sekilas pandang terlihat seperti gadis cantik yang cool. Tapi, di luar dugaan, dirinya benar-benar suka makan ramen.

Diangkat dari seri manga karya Narumi Naru, juga dikenal dengan judul Ms Koizumi Loves Ramen Noodles, ini seri komedi kuliner yang mengikuti keseharian para tokoh utamanya. Seto Kenji (Gakusen Toushi Asterisk) yang akan menyutradarai. Naskahnya akan ditangani Takahashi Tatsuya. Kurasa ini bukan seri yang akan menonjol, tapi menarik sebagai selingan. Perlu diperhatikan bahwa lagu pembukanya akan menjadi debut solo Suzuki Minori, pengisi suara Freyja Wion dari Macross Delta.

Mitsuboshi Colors (SILVER LINK)

Di suatu taman yang terletak di suatu sudut di wilayah Ueno, Tokyo, terdapat markas rahasia suatu ‘kelompok keadilan’ yang menyebut diri mereka Colors. Colors beranggotakan tiga anak perempuan usia SD: Kotoha, Yui, dan Sacchan, yang siang-malam (sebenarnya, hanya sampai sore) menjaga kedamaian taman tersebut.

Diangkat dari seri manga karya Katsuwo, ini seri terbilang ringan yang mengetengahkan tiga pengisi suara Hioka Natsumi, Takada Yuuki, dan Kouno Marika. Kawamura Tomoyuki (Binbougami-ga!) yang akan menyutradarai. Naskah akan ditangani Yasukawa Shogo (Hyperdimension Neptunia, Alderamin on the Sky). Ada gelagat kalau seri ini akan lebih bagus dari yang dikira.

Sora Yorimo Tooi Basho (Madhouse)

Tamaki Mari, yang biasa dipanggil Kimari, bersama tiga siswi SMA lain berkesempatan untuk bergabung dalam ekspedisi ke Antarctica, Kutub Selatan. Demi menjangkau tempat yang bahkan lebih jauh dari alam semesta, mereka berjuang dan tumbuh bersama dalam menghadapi kondisi-kondisi alam ekstrim.

Juga dikenal dengan judul A Place Further Than the Universe, ini proyek orisinil yang digawangi oleh para staf dari anime No Game, No Life. Sutradara andal Ishizuka Atsuko yang akan menangani, dengan Hanada Jukki menangani naskah dan komposisi seri. Musiknya akan ditangani oleh Fujisawa Yoshiaki. Sekilas, seri ini mungkin terdengar kurang menarik. Tapi menurutku, seri ini berpotensi besar menjadi kejutan. Mungkin akan ada banyak pelajaran bertahan hidup di alam liar yang bakal bisa diambil dari seri ini.

Grancrest Senki (A-1 Pictures)

Kekuatan chaos yang tersebar di alam senantiasa membawa bencana. Tapi, kekuatan tersebut dapat dikendalikan dengan bantuan lambang Crest, yang mampu menenangkan chaos dan melindungi masyarakat. Sayangnya, para penguasa di masa kini telah melupakan tugas mereka untuk memurnikan chaos. Mereka sebaliknya menggunakan kekuatan Crest masing-masing untuk memperbutkan kekuasaan. Siluka, seorang gadis penyihir yang terasing, suatu hari berjumpa dengan Theo, seorang pemuda pengelana yang tengah berlatih untuk membebaskan kampung halamannya. Saat mengetahui bahwa Theo, sekalipun rakyat jelata, ternyata memiliki sebuah Crest, Siluka bersumpah setia pada Theo dan bertekad menjadikannya penguasa yang adil.

Juga dikenal dengan judul Record of Grancrest War, anime ini diangkat seri novel fantasi yang dipenai oleh Mizuno Ryo, yang juga mengarang seri fantasi klasik Record of Lodoss War. Hatakeyama Mamoru (Shouwa Genroku Rakugo Shinjuu, Sankarea) yang akan berperan sebagai sutradara. Mizuno, dengan dibantu penulis RPG meja Yano Shunsaku, yang akan menangani komposisi seri. Meski mungkin tak sempurna, kemungkinan besar ini akan jadi seri anime fantasi yang sudah lama enggak kelihatan.

Ryuuou no Oshigoto! (Project No.9)

Remaja SMA Kuzuryuu Yaichi, yang memegang gelar Ryuo, adalah pemain shogi terkuat di Jepang meski masih berusia muda. Pada suatu hari, seorang gadis SD pecinta shogi bernama Hinatsuru Ai tiba-tiba muncul dan menuntut Yaichi memenuhi janji untuk menjadi gurunya. Yaichi tidak ingat akan janji tersebut, tapi hubungan guru dan murid kemudian terjalin antara keduanya.

Juga dikenal dengan judul The Ryuo’s Work is Never Done!, buat yang belum tahu, ini diangkat dari seri light novel karangan Shirow Shiratori dan Shirabi yang telah menduduki posisi puncak selama dua tahun berturut-turut dalam ranking LN di Jepang. Meski kehadiran anak-anak perempuan usia SD di dalamnya agak aneh, aspek shogi-nya konon dikaji dan dijabarkan dengan benar-benar keren. Yanagi Shinsuke (Momo Kyun Sword, And you thought there is never a girl online?) yang akan menyutradarai. Naskah akan ditangani oleh Shimo Fumihiko (Clannad, Infinite Stratos, New Game!). Musik akan ditangani oleh Kawai Kenji (Ghost in the Shell, Fate/stay night). Tanpa dapat disangkal, gelagat seri ini sejauh ini benar-benar bagus.

Katana Maidens – Toji no Miko (Studio Gokumi)

Para miko berpedang telah melindungi manusia dari aratama sejak zaman kuno. Para miko ini dikenal dengan sebutan Toji, dan mengabdi di dalam kesatuan kepolisian. Pemerintah telah mendirikan lima sekolah yang khusus untuk mendidik para Toji. Etou Kanami yang berusia 13 tahun adalah salah satu gadis ini. Mereka menjalani kehidupan sekolah biasa, meski sesekali menggunakan pedang untuk melindungi masyarakat. Lalu pada musim semi, suatu turnamen antara mereka akan digelar.

Ini adalah proyek orisinil Studio Gokumi yang sudah direncanakan agak lama. Kalau kalian suka dengan karakter-karakter gadis cantik berpedang, dengan gaya tarung dan filosofi pedang beragam, seri ini mungkin patut diperhatikan. Kakimoto Koudai (Cyborg 009 Call of Justice) yang akan menyutradarai. Takahashi Tatsuya (Eromanga Sensei, The IDOLM@STER Cinderella Girls) yang akan menangani komposisi seri.

Slow Start (A-1 Pictures)

Ichinose Hana, berusia 16 tahun, karena suatu alasan, terlambat setahun memulai SMA. Walau hal tersebut bukan masalah besar bagi orang-orang di sekelilingnya, kenyataan itu menjadi hal besar bagi dirinya sendiri. Ichinose ingin segera bisa mengejar teman-temannya yang lain suatu hari nanti.

Seri ini diangkat dari seri manga karya Tokumi Yuiko yang diserialisasikan di Manga Time Kirara milik penerbit Houbunsha. Jadi, iya, ini jenis seri yang bisa imut sekaligus berbobot. Hashimoto Hiroyuki (Magical Girl Raising Project) yang akan menangani. Naskahnya akan ditangani oleh Inoue Mio. Kualitasnya sejauh ini kelihatannya solid.

Yurucamp (C-Station)

Shima Rin senang berkemah sendirian di seputaran danau-danau yang menghadirkan pemandangan Gunung Fuji. Kagamihara Nadeshiko senang bersepeda sendirian ke tempat-tempat di mana ia bisa menyaksikan pemandangan yang sama. Dua perempuan ini kemudian berkenalan, mulai sering berkemah bersama, menikmati cup ramen, sekaligus menikmati pemandangan.

Ini diangkat dari seri manga keseharian karya Afro yang juga dikenal dengan judul Yurukyan atau Laid-Back Camp Δ. Faktor pemandangan alam akan berperan penting di seri ini, seiring dengan bertambahnya jumlah karakter berperan. Kyougoku Yoshiaki (Tokyo Ghoul, Kuroko’s Basketball) akan memulai debut sebagai sutradara di seri ini. Naskah akan ditangani oleh Tanaka Jin (Anne-Happy). Musiknya akan ditangani oleh Tateyama Akiyuki (Kumamiko, Idol Jihen). Untuk kalian yang rindu ketenangan, seri ini mungkin patut diperhatikan. Aku berharap hasilnya bagus.

Violet Evergarden (Kyoto Animation)

Pada suatu watu, di benua Telesis, perang besar yang memisahkan daratan menjadi Utara dan Selatan akhirnya usai sesudah empat tahun. Masyarakat menyambut datangnya generasi baru. Seorang gadis muda, Violet Evergarden, memulai hidupnya yang baru di CH Postal Service. Berperan sebagai Auto Memories Doll, ia mengusung kenangan orang dan mengubah kenangan tersebut menjadi kata-kata. Dalam perjalanannya, Violet berhadapan dengan beragam emosi orang dan berbagai bentuk kasih sayang. Itu mencakup rangkaian kata-kata yang juga pernah didengarnya di medan pertempuran, yang hingga kini berusaha ia pahami maknanya.

Ini bisa jadi adalah anime paling ditunggu di musim ini semenjak trailer-nya yang sangat menakjubkan diperlihatkan setahun lalu. Seri ini diangkat dari novel karya Akatsuki Kana yang diilustrasikan Takase Akiko, yang secara menakjubkan memenangkan penghargaan novel KyoAni tahun 2014 (yang biasanya, enggak pernah ada yang menang). Pentolan KyoAni, Ishidate Taichi yang akan menyutradarai, dengan naskah dipenai oleh Yoshida Reiko (Yowamushi Pedal, Bakuman). Kualitas visualnya luar biasa. (Ini juga semula dijadwalkan musim semi, tapi tetap akan keluar musim ini?)

Satu judul lain yang patut diperhatikan adalah seri komedi sureal (satir?) Pop Team Epic. Produksinya dilakukan studio animasi Kamikaze Douga. Ceritanya tentang sepasang siswi SMP(!) yang melakukan serangkaian hal gila yang sulit aku jelaskan di sini. Seri ini diangkat dari manga 4-kotak karya Oukawa Bkub dan patut dilihat semata karena desain karakternya yang enggak biasa. Seri ini cukup terkenal bahkan di luar Jepang, meski dalam kalangan terbatas.

Kisah dua gadis kurcaci hutan mungil dari seri manga karya Kashiki Takuto, Hakumei to Mikochi, juga akan tayang. Ceritanya sederhana dan berkesan keseharian. Meski begitu, staf produksinya meyakinkan. Ando Masaomi (School-Live!) akan menyutradarai dengan Yoshida Reiko (Bakuman, K-ON!) menangani naskah. Studio Lerche yang akan memproduksi. Ini layak jadi pilihan kalau kalian suka cerita-cerita dengan latar hutan.

Karya klasik Fujisaki Ryu di Shonen Jump, yang diangkat dari sastra Cina klasik Fengshen Yanyi, Houshin Engi (juga dikenal dengan judul Soul Hunters), akan diadaptasi ulang dalam bentuk anime oleh C-Station. Meski masih diragukan (apalagi dengan jumlah episodenya yang diumumkan hanya 23), aku seriusan berharap hasilnya bagus. Hakyuu Houshin Engi berkisah tentang perjuangan panjang Taikoubo menjatuhkan siluman rubah Daiki yang telah mengambil alih kekuasaan dinasti. Kelihatannya, versi ini akan punya cerita yang lebih dekat ke manganya. Seperti halnya karya-karya FujiRyu lain, ceritanya lumayan nyeleneh.

Studio DEEN akan menganimasikan Junji Ito Collection. Ini merupakan kumpulan cerita pendek dari mangaka horor terkenal Itou Junji (Tomie, Uzumaki). Kekhasan dari horor beliau adalah keganjilan-keganjilannya yang di luar nalar. Bagaimanapun hasilnya, ini kurasa patut dilihat.

Studio Pierrot membawakan seri baru Sanrio Danshi. Ini berkisah tentang sekelompok cowok SMA yang secara kebetulan mendapati satu sama lain sangat, sangat suka karakter-karakter Sanrio (macam Hello Kitty dan Pom Pom Purin.) Aku pribadi juga suka karakter-karakter Sanrio, jadi aku mungkin bakal memperhatikan seri ini.

Untuk suatu alasan, studio animasi Bridge memproduksi Nanatsu no Bitoku, yang mengetengahkan tujuh kebaikan yang diwujudkan dalam bentuk manusia. Ini, uh, semacam lepasan dari seri fanservice sin Nanatsu no Taizai yang keluar beberapa waktu lalu.

Buat kalian yang masih haus dengan anime mecha, seri super robot untuk anak-anak bertema kereta Shinkansen Henkei Robo Shinkalion the Animation akan diproduksi oleh Oriental Light & Magic. Desain mekanisnya cukup berkesan. Susah membayangkan ceritanya, tapi kesannya sejauh ini lebih menarik dari dugaan. Perlu disinggung kalau idola virtual Hatsune Miku akan berperan sebagai karakter di dalam ceritanya.

Soal anime-anime sekuel… kebanyakan yang menonjol di musim ini justru adalah anime sekuel.

  • Overlord II (Season 2) akan tampil. Madhouse masih akan memproduksi. Kita bisa kembali menjumpai Ainz dan anak-anak buahnya di musim ini, dan kelanjutan upaya mereka menanamkan kedudukan mereka dunia. (Wow, Madhouse sibuk musim ini.)
  • Babak baru dari kisah tragis penuh darah tentang dua klan ninja yang diharuskan saling membunuh, Basilisk: Ouka Ninpouchou, juga hadir. Ini lumayan enggak disangka. Agak susah berkomentar, berhubung para karakternya baru semua meski latar ceritanya sama. Kudengar ini emang diangkat dari novel sekuel karangan Yamada Futarou. Tapi, entah ya. Kesannya lumayan berbeda dibanding Basilisk: Kouga Ninpouchou yang jadi pendahulunya. Seven Arcs yang kali ini memproduksi.
  • Cardcaptor Sakura: Clear Card, yang diangkat dari seri manga terkenal buatan CLAMP, juga akan dianimasikan! Ceritanya mengetengahkan pengalaman Sakura semasa SMP, dan langsung melanjutkan cerita sesudah tamatnya seri asalnya. Madhouse kembali memproduksi. Semua seiyuu lama bahkan tampil kembali. (Madhouse beneran sibuk belakangan.)
  • Nanatsu no Taizai: Imashime no Fukkatsu (Season 2… eh, bener kan?), mengetengahkan bab baru perjuangan Meliodas dan kawan-kawan sesudah menolong sang putri, akan hadir. A-1 Pictures kembali memproduksi. Iya, mereka melawan musuh baru, memberi indikasi soal apa yang telah dialami Meliodas di masa lalu.
  • Kokonatsu dan kawan-kawannya dan keseharian mereka di toko permen, Dagashikashi (Season 2) akan kembali hadir. Tezuka Productions akan menggantikan feel. dalam produksi. Ada sejumlah orang yang skeptis soal kualitasnya, tapi kita harapkan saja yang terbaik.
  • Juga akan ada anime balap sepeda Yowamushi Pedal GLORY LINE (Season 4). Produksi masih oleh Studio DEEN.
  • Menyusul berakhirnya versi keluaran Ufotable yang menitikberatkan aksi, Zoku Touken Ranbu – Hanamaru (Season 2) yang menitikberatkan keseharian para cowok personifikasi pedang, juga akan tayang. Doga Kobo kembali memproduksi.
  • Gin no Guardian (Season 2) juga akan hadir dari Emon.
  • Kaiju Girls (Season 2)yang memunculkan versi cewek manis dari monster-monster raksasa klasik, akan kembali hadir.
  • Seri terbaru waralaba gadis ajaib penuh aksi, Hugtto! Precure, juga akan tayang. Toei Animation akan kembali memproduksi.

Beberapa seri lain yang muncul adalah seri bishounen DamexPrince ANIME CARAVAN, seri dewasa agak bahaya 25-Sai no Joshi Kousei – Kodomo ni wa Oshierarenai Koto Shite Yaru yo tentang perempuan dewasa yang menyamar sebagai gadis SMA, Hataraku Onii-san! yang merupakan komedi soal kucing-kucing yang mengambil beragam kerja sambilan, serta Pochitto Hatsumei Pikachin-Kit tentang seorang anak yang menggunakan sejumlah piranti misterius untuk menghadirkan penemuan baru.

Dari segi anime pendek, juga akan ada:

  • Saiki Kusuo no Psi Nan (Season 2), kelanjutan seri komedi yang banyak ditunggu tentang remaja SMA Saiki Kusuo dan beragam kekacauan yang diakibatkan kekuatan supernaturalnya. Anime ini lebih sukses dari yang aku duga.
  • Takunomi, tentang perempuan-perempuan berusia 20an tahun yang menikmati bir di rumah mereka.
  • Mameneko, tentang anjing shiba inu yang diadopsi sebuah keluarga yang telah memelihara dua ekor kucing. Ini menarik buat penyuka binatang.
  • gdgd men’s party… tentang dua cowok yang terbawa ke dunia lain dan terjebak dalam situasi harus menyelamatkan seorang putri.

Dari segi film layar lebar, ada lumayan banyak judul menonjol.

  • Tokimeki Restaurant *** Miracle6 keluaran Production I.G. Ceritanya tentang seorang gadis yang mengambil alih sebuah restoran yang kerap disambangi sejumlah idola tampan.
  • Sayonara no Asa ni Yakusoku no Hana wo Kazarou, film drama keluaran orisinil P.A. Works yang mengangkat tentang bagaimana orang-orang berjumpa dan berpisah jalan.
  • Infini-T Force Gatchaman Saraba Tomoyo, keluaran Tatusnoko Productions dan Digital Frontier, yang kembali mengetengahkan para karakter superhero klasik Tatsunoko, dengan sedikit fokus pada Ken.
  • Mazinger Z/Infinity, yang merupakan soft reboot dari seri super robot klasik Mazinger Z, dengan para karakter utama yang kini telah dewasa.
  • Chuunibyou Demo Koi ga Shitai –Take On Me-, keluaran KyoAni, yang akan menjadi sekuel dari seri televisinya! Dengan kata lain, ini cerita yang sepenuhnya baru.

Selain itu, juga akan ada kelanjutan film kompilasi Macross Delta: Gekijo no Walkure dari Satelight (aku serius berharap akan ada adegan-adegan yang diperbaiki); dua film kompilasi Full Metal Panic! dari GONZO untuk menyambut seri TV-nya yang baru, yakni One Night Stand dan Into the Blue; serta bagian kedua dari trilogi film kompilasi Code Geass: Hangyaku no Lelouch.

Dari segi OVA dan lainnya, game terkenal soal gadis-gadis kucing NEKOPARA akan keluar animenya. Production IMS akan mengeluarkan babak terakhir(?) konflik iblis dengan Basara dan adik-adik tirinya lewat Shinmai Maou no Testament DEPARTURES. ReLife Kanketsu-hen produksi TMS Entertainment juga akan menghadirkan babak terakhir dari kisah obat masa muda ReLife. Dari sisi Type-Moon dan FGO, Lay-duce kembali mengeluarkan anime spesial Fate/Grand Order – Moonlight/Lostroom yang menjadi kelanjutan anime spesial tahun lalu. Ufotable juga merilis seri lepasan komedi Fate/Grand Order x Himuro no Tenchi ~7-nin no Saikyou Ijin-Hen yang mempertemukan para karakternya dengan sejumlah karakter sampingan dari Fate/stay night.

Tambahan, episode-episode spesial dari Emiya-sanchi no Kyou no Gohan, atau Today’s Menu for Emiya Family, drama keseharian bertema masakan karya TAa yang menjadi lepasan dari Fate/stay night, akan mulai tayang secara bulanan. Ufotable yang akan memproduksi. Ini di luar dugaan.

Kayak biasa, hal-hal baru akan ditambahkan nanti.

(Sumber dari ANN dan Anime Now!.)

(Anime Now! mau tutup! Tidaaaaak!)

Fireworks

Beberapa bulan lalu, aku lupa gimana persisnya, secara kebetulan aku melihat posternya Fireworks saat lagi jalan di mall.

Aku terdiam beberapa lama. Setengah alasannya karena enggak mengira itu akan tayang di Indonesia. Separuh alasannya lagi, karena poster tersebut menurutku memang keren. Berlatar pantai, di waktu menjelang senja. Si tokoh utama cewek menoleh ke belakang sementara si tokoh utama cowok memanggilnya dari kejauhan. Sementara, di langit di atas mereka, kembang api meletus secara meriah dalam beraneka warna.

Meski aku lagi banyak pikiran (atau, justru karena lagi banyak pikiran?) dan kurang begitu punya duit, aku langsung ngerasain suatu dorongan aneh buat menontonnya.

Anime Fireworks punya judul lengkap Fireworks, Should We See It from the Side or the Bottom?, dan judul asli Uchiage Hanabi, Shita Kara Miru ka? Yoko Kara Miru ka (judulnya secara umum kira-kira berarti, ‘soal kembang api, mending kita lihatnya dari bawah atau samping?’). Sebagai anime, film layar lebar ini termasuk unik karena merupakan pembuatan ulang (sekaligus modernisasi) dari film drama televisi live action berjudul sama yang dibuat Iwai Shunji pada tahun 1993.

Sewaktu pertama membaca berita tentangnya di ANN dulu, aku sempat mencari sedikit info soal film live-action ini. Karena tak ingin di-spoiler, aku hanya sebatas tahu bahwa film aslinya dibintangi oleh Yamazaki Yuta dan Okina Megumi, terbilang bagus, dan mengetengahkan cerita agak aneh yang berhubungan dengan cinta segitiga dan lari dari rumah.

Anime berformat layar lebar ini diproduksi studio Shaft, dengan disutradarai Shinbo Akiyuki (sebagai kepala sutradara) bersama Takeuchi Nobuyuki. Produsernya adalah Kawamura Genki. Naskahnya ditangani oleh Ohne Hitoshi. Musiknya ditangani oleh Kosaki Satoru. Durasinya 90 menit dan pertama dirilis di Jepang pada bulan Agustus 2017.

Moshimo

Fireworks berlatar di awal liburan musim panas, tatkala sekelompok siswa sekolah menengah di sebuah kota di tepi pantai masih harus datang ke sekolah untuk mengikuti pelajaran tambahan. Pada hari yang sama, ada festival musim panas yang ceritanya mau diadakan di kuil. Terus, sebagai puncak festival itu, akan diadakan acara peluncuran kembang api.

Ada dua plot utama yang terjalin. Satu, soal bagaimana sebuah pembicaraan konyol antara sekelompok anak lelaki, yang mencakup Shimada Norimichi dan teman-temannya, berujung pada bagaimana mereka mau mengadakan perjalanan ke mercu suar dekat pantai demi membuktikan apakah letusan kembang api itu ‘bundar’ atau ‘pipih.’ Dua, soal Oikawa Nazuna, seorang siswi populer yang sedikit banyak diidolakan di kelas mereka.

Pada titik ini, ceritanya berkembang jadi agak aneh.

Jadi, sebelum Norimichi dan sahabat dekatnya, Azumi Yuusuke, tiba di ruang kelas dan terlibat pembicaraan konyol seputar kembang api di atas, mereka kebagian tugas untuk membersihkan kolam renang. Tugas ini dengan senang hati mereka emban karena mereka sekalian dibolehkan menggunakan kolam. Lalu di kolam renang itu, secara mengejutkan, mereka kemudian menjumpai Nazuna dalam pakaian renang.

Singkat cerita, Yuusuke sudah lama naksir pada Nazuna. Norimichi juga diam-diam menyukai Nazuna, meski belum sampai mengakuinya. Makanya, saat Nazuna, yang baru selesai berenang, meminta keduanya untuk berlomba renang dengan mempertaruhkan suatu hal, keduanya menurut saja.

Belakangan terungkap, keputusan Nazuna mengajak siapa yang menang lomba tersebut untuk menemaninya pergi ke festival ternyata juga dilandasi pertimbangan lain. Nazuna mengadakan lomba renang itu juga untuk memilih siapa di antara Norimichi dan Yuusuke yang akan diajaknya kawin lari.

“Dunia dengan kembang api pipih itu enggak mungkin ada!”

Film televisi asli Fireworks kabarnya adalah bagian dari seri if moshimo. Tak banyak yang diketahui tentang seri televisi ini di luar Jepang. Tapi, agaknya, premisnya mengeksplorasi jalur-jalur kejadian berbeda yang dialami para karakternya dalam hidup. Andai A yang terjadi, dan bukan B; misalnya.

Mungkin ini mirip film Hollywood lawas Sliding Doors.

Fireworks versi anime juga seperti itu. Titik kejadian ‘berbeda’ yang jadi penentu dalam hal ini (seenggaknya, titik yang ‘utama’ dalam versi animenya) adalah siapa yang memenangkan lomba renang, apakah itu Yuusuke (dalam kejadian asli) atau Norimichi.

Animenya memperkaya premis ini dengan kehadiran batu kristal misterius yang ditemukan Nazuna di tepi laut (yang mungkin berhubungan dengan mendiang ayahnya). Batu kristal ini agaknya memiliki kekuatan aneh untuk memutar balik waktu setiap kali dilempar.

Segala kejadian yang terjadi kemudian dilihat dari sudut pandang Norimichi.

Keinginan Norimichi untuk bisa menolong cewek yang disukainya dieksplorasi. Kemarahan Yuusuke, dengan bagaimana Norimichi tiba-tiba menyembunyikan hal-hal tertentu darinya, juga digali. (Meski, nyatanya, dia ciut sendiri saat kesempatan untuk bersama Nazuna muncul.) Kekecewaan Nazuna terhadap ibunya—yang untuk kesekian kalinya, hendak menikah lagi—juga dipaparkan, membuat kita mengerti landasan berpikirnya, meski sulit untuk bisa menyetujui tindakannya. Penggalian karakter di anime ini benar-benar bagus.

Lalu, mengiringi semua itu, yah… ada soal kembang api.

Soal kembang api—dan bagaimana teman-teman Norimichi pergi ke mercu suar untuk melihat apakah letusan kembang api itu sebenarnya gepeng atau bulat—sebenarnya tak berpengaruh besar dalam cerita. Tapi, secara menarik, awal perjalanan ini seolah menjadi penggerak sejumlah hal.

Perjalanan ke mercu suar berlangsung secara paralel dengan upaya pelarian Norimichi dan Nazuna, menghadirkan sejumlah adegan yang benar-benar menarik. Terutama saat semua karakter di cerita ini (Norimichi, Nazuna, Yuusuke, teman-teman mereka, ibu Nazuna, dan bahkan guru-guru mereka di sekolah) sama-sama bertanya-tanya soal apa sebenarnya yang sedang terjadi.

Terima kasih Untuk Hari Ini

Bicara soal teknis, kalau kalian mengira studio Shaft telah berganti haluan (mengira arahan visual mereka berganti jadi mirip karya-karya Shinkai Makoto-sensei atau semacamnya), maka kalian salah. Ini tetap anime Shaft murni. Gaya visual khas mereka dengan warna-warna berkesan monoton, ditambah dengan banyaknya close up ke wajah, serta sedikit bumbu fanservice, masih tetap ada.

Jadi, iya.

Segala keanehan normal mereka, sekaligus bawaan mereka buat nge-troll, juga masih ada.

Awalnya, mungkin visualnya akan terkesan kurang menonjol. Tapi, seiring pemaparan cerita, dan melihat sendiri semakin anehnya dunia (mimpi?) yang dijelajahi Norimichi bersama Nazuna, mungkin kalian akan mengerti kenapa Shaft mengangkat cerita ini sebagai proyek film layar lebar mereka.

Secara teknis, film ini seriusan bagus. Bahkan dengan segala nuansa melankolisnya, ini komedi romantis yang benar-benar berkesan. Pertaruhan para produser kelihatannya berhasil. Fireworks tercatat sebagai keluaran Shaft dengan pemasukan paling besar sejauh ini.

Aku sedikit kecewa dengan bagaimana kembang api kurang memainkan peran dalam klimaks cerita. Tapi, ada banyak arahan visual ini film ini yang beneran aku hargai. Adegan pembuka, yang sama-sama menampilkan Norimichi dan Nazuna di dasar air, dengan perkataan “Andaikan…” dari Norimichi yang terus berulang, memberi kesan benar-benar kuat. Perasaan sesal terpendam, ataupun rasa suka, dari para karakternya berhasil dipaparkan.

Lalu, meski kurang memberikan resolusi sekaligus penjelasan yang jelas (yang agaknya, bisa membuat orang-orang penyuka sains fiksi macam mangaka Gantz Hiroya Oku agak ngamuk sesudah menontonnya; hei, bahkan aku sendiri juga agak kecewa sama tamatnya!), aspek terkuat dari film televisi Fireworks yang membuatnya sebegitu dikenal konon kabarnya berhasil didapat.

Aspek terkuat itu apa?

Jawabannya adalah rasa suka. Cinta terpendam di masa muda yang pahit dan manis, dan sekaligus berujung pada rasa penyesalan.

Hal inilah yang digali lewat tema pengulangan waktu serta pilihan-pilihan yang Norimichi ambil.

Jadinya… apa ya? Film ini berakhir mengesankan, tapi dengan cara yang enggak biasa bagi studio Shaft gitu. (Lalu, ambigu, jadi masih tetap nge-troll.)

Soal audio, film ini termasuk mumpuni. Musiknya benar-benar ‘masuk.’ Lalu akting para seiyuu-nya, akting mereka benar-benar bagus. Aktris dan aktor profesional Hirose Suzu dan Suda Masaki (ahem, yang paling aku kenal sebagai pemeran Phillip dalam Kamen Rider W) berperan benar-benar meyakinkan sebagai Nazuna dan Norimichi. Seiyuu andal Miyano Mamoru juga keren dalam menampilkan beragam sisi kepribadian Yuusuke. Yang paling membuatku terkejut, aktris dorama veteran Matsu Takako juga berperan di film ini sebagai ibu Nazuna. Meski peran beliau terbatas, akting beliau di sini benar-benar alami.

Jadi, kalau kalian merasa punya penyesalan dengan cinta masa lalu kalian yang enggak kesampaian, mungkin kalian akan merasakan sesuatu yang ‘dalam’ saat menonton anime ini. Ada sebagian orang berkomentar bahwa pesan terkuat anime ini adalah caranya menjelaskan bagaimana ada beberapa hal tertentu yang memang sudah ditakdirkan untuk tak terjadi.

Cara Agar Tak Menyesal

Jadi, balik ke soal pengalamanku saat menontonnya, ada isu relationship yang kebetulan sedang aku hadapi. Lalu menonton film ini seriusan tak membantuku sama sekali.

Tapi, apa itu berarti aku menyesal karena telah mengeluarkan uang untuk menontonnya?

Jawabannya, tidak! Aku tidak menyesal!

Meski kadang aku senang di-troll oleh Shaft, itu bukan berarti aku maso! Aku hanya jadi dibuat memikirkan sejumlah hal yang tak terpikirkan olehku sebelumnya. Lalu, itulah yang mendorong aku buat jadi lebih berusaha sungguh-sungguh!

Sebagai penutup, membandingkan dengan versi filmya, kudengar versi filmnya hanya mengangkat dua kemungkinan jalur, yang ditentukan oleh balapan renang itu. Selain memodernisasi latar, animenya juga menaikkan usia para karakternya (dari SD, kelihatannya ke SMP) dan sedikit mengubah isu yang Nazuna hadapi (dari yang aslinya perceraian jadi ke pernikahan kembali). Tapi, selebihnya, katanya, hati yang melandasi keduanya tetap sama.

Kalian belum tentu suka dengan film ini. Tapi, kalau kalian sudah jadi penggemar anime-anime keluaran Shaft (seri Monogatari, Sangatsu no Lion, Zaregoto), anime ini sayang untuk dilewati karena menampilkan Shaft pada performa terbaik mereka.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A-;  Audio: A; Perkembangan: B; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B+

No Game No Life Zero

Pada suatu akhir pekan, sepupuku mengajak nonton film layar lebar No Game No Life: Zero (juga ditulis No Game No Life: 0 )di bioskop CGV.

Sebenarnya, kami sama-sama lagi kesulitan uang. (Sori, itu juga salah satu alasan aku jarang nulis belakangan.) Tapi, kami tetap memilih menonton karena, yah, ini NGNL. Mungkin tayangnya akan lebih sebentar dibandingkan Thor: Ragnarok. Makanya, perlu diprioritaskan. Terlebih, aku masih trauma dengan gimana aku enggak kesampaian menonton film layar lebar Mahouka beberapa bulan lalu. Di samping itu, sejumlah review yang aku baca sudah menyebut kalau kualitas movie ini bagus.

No Game No Life: Zero mengangkat cerita dari buku keenam dari seri novelnya yang dikarang Kamiya Yuu. Ceritanya memaparkan masa lalu dunia Disboard (sebagaimana dikisahkan oleh sang dewa permainan, Tet) dan karenanya diberi embel-embel ‘zero’ di judulnya. Dengan kata lain, sifatnya prekuel dan enggak sepenuhnya melanjutkan cerita di seri TV. Ceritanya enggak berfokus pada kakak beradik Sora dan Shiro. Meski demikian, pengetahuan tentang seri aslinya tetap akan membuatmu lebih bisa menikmatinya.

No Game No Life: Zero masih diproduksi studio animasi Madhouse. Para staf seri TV-nya kembali hadir untuk menangani. Ishizuka Atsuko kembali memberikan kerja bagus sebagai sutradara. Fujisawa Yoshiaki menangani musik. Naskahnya sendiri kembali ditangani oleh Hanada Jukki. Suzuki Konomi juga kembali buat membawakan lagu penutupnya.

Mestinya, aku enggak rugi kalo aku sempetin nonton ini ‘kan?

“Saat aku masih muda, aku percaya kalau enggak ada permainan yang enggak mungkin dimenangkan.”

Berlatar 6000 tahun sebelumnya, para dewa (yang kini dikenal dengan sebutan Old Deus) masing-masing mewakili satu ras di Disboard. Lalu, mereka mengadakan perang dengan satu sama lain, yang lambat laun semakin menghancurkan dunia. Tanah runtuh, langit terbelah, hujan beracun, bintang-bintang sirna, makhluk-makhluk buas menyebar, dan dunia seakan mengalami malam yang tiada akhir.

Umat manusia di dunia ini diyakini telah punah. Mereka tak punya keistimewaan khusus. Karenanya, mereka selalu terjebak di tengah adu kekuatan antara ras-ras lain yang lebih kuat. Tapi, kenyataannya tidak sepenuhnya demikian. Di bawah tanah, menyembunyikan diri dari bahaya hujan, dipimpin seorang pemuda bernama Riku, komunitas mereka terus bergulat untuk bertahan hidup.

Singkat cerita, Riku selama ini bekerja mengumpulkan informasi. Sekalipun telah sampai mengorbankan nyawa sejumlah orang, Riku ingin memahami jalannya perang. Tujuannya? Agar dia bisa menemukan cara untuk menghentikannya.

Riku berusaha melengkapi peta dari apa yang masih tersisa dari dunia, lalu memastikan posisi masing-masing pihak ada di mana. Bersama komunitasnya, mereka secara berkelanjutan telah berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Mengungsi dari satu bahaya ke bahaya lain.

Dalam salah satu kesempatan, saat menjelajahi peninggalan salah satu kota Elf, Riku berjumpa dengan suatu manusia buatan Ex-Machina berbentuk seorang gadis muda, yang kemudian Riku namai Shuvi.

Para Ex-Machina ini bekerja dengan prinsip hive mind. Tapi Shuvi, Ex-Machina satu ini, telah diasingkan dari kesadaran bersama tersebut karena telah dianggap cacat. Alasannya? Karena Shuvi telah berusaha memahami emosi manusia. Shuvi agaknya ingin mengerti rahasia di balik ketangguhan manusia untuk bertahan hidup.

Shuvi kemudian ditampung Riku. Kemudian, dengan keistimewaan-keistimewaan yang Shuvi punyai, keputusan Riku tersebut menjadi awal bagaimana ia memahami latar belakang sesungguhnya di balik perang, dan langkah-langkah yang bisa diambil untuk selamanya menghentikannya.

Asal Aku Bersama Kamu…

Bicara soal teknis, film layar lebar ini seriusan bagus. Visualisasi dunianya benar-benar keren. Pemandangan latar dunia fantasi yang suram beneran keren. Lalu, meski enggak banyak, adegan-adegan aksinya juga wah. Ini diimbangi juga dengan penataan audio yang beneran pas. Kualitas keluaran Madhouse kadang mengalami naik turun aneh, tapi kamu enggak perlu ragu soal yang satu ini.

Satu yang patut disinggung adalah performa Matsuoka Yoshitsugu sebagai pengisi suara Riku. Mempertimbangkan gimana beliau juga berperan sebagai semacam narator, akting beliau di sini seriusan bagus. Ada kayak kombinasi kepercayaan diri, keputusasaan, serta kesedihan dan pengharapan yang berhasil dia gabungin gitu. Mungkin buat selamanya dia bakal dikenal sebagai Kirito dari SAO, tapi kemampuan akting beliau jauh lebih luas dari itu.

Kalian juga mungkin ingat gimana visual seri TV NGNL punya saturasi warna yang khas. Satu hal mencolok yang aku perhatikan adalah gimana saturasi warna itu enggak gitu kelihatan di film ini, sejalan dengan nuansa dunianya yang lebih suram.

Di akhir, aku nyimpulin dua hal sesudah nonton film ini.

  • Meski enggak nampilin ketegangan adu siasat yang aku harapkan dari seri TV-nya, film layar lebar ini tetap bagus.
  • Meski enggak sedalam yang aku harapkan (dan terus terang, nuansanya beda jauh dari seri TV-nya), aspek emosi dari film ini, kalo kamu bisa menikmatinya, terbilang menyentuh.

Jadi, singkat kata, yup, ini direkomendasikan. Apalagi kalau kalian sudah jadi penggemar NGNL sebelumnya.

Kelemahannya ada sih. Mungkin kalian ingat gimana NGNL, bahkan dengan semua kebagusannya, punya fanservice yang sangat berbahaya. Baik itu dari soal adegan maupun desain karakter. Aspek tersebut enggak sepenuhnya sirna di prekuel ini. Aku bahkan di satu titik sempat heran dengan gimana hal ini lolos sensor.

Daripada ‘bagus atau enggak,’ menurutku ini lebih ke kasus ke ‘cocok atau enggak’ sih. Emang mesti diakui, bahkan dengan kebagusan pemaparan dramanya, kita kadang jadi susah menanggapi serius pas kekonyolan-kekonyolan ini muncul. Kalo ngambil istilah pergamean, jadinya lumayan immersion breaking.

Di samping itu, pembangunan dunianya minimum banget. Rasanya kita diperlihatkan hanya segelintir dari keadaan menakjubkan dunia di ambang kehancuran. Ras-ras lain hanya ditampilkan sekilas. Mereka juga berperan hanya secara terbatas pula. Porsinya hanya sebatas ‘cukup’ untuk membawakan plot. Ini mungkin akan terasa gimanaa gitu buat kalian yang suka melihat dunia-dunia fantasi.

Tapi, serius, kalau kalian terlanjur benar-benar suka seri TV NGNL, aku lumayan menyarankan kalian buat melihat NGNL 0. Selama kalian enggak keberatan dengan semua keanehan NGNL (yang emang udah ada dari sananya), film layar lebar ini ngasih insight lumayan mendalam tentang dunia maupun kepribadian para karakternya.

Aku enggak sepenuhnya suka konsepnya, dan aku juga enggak sepenuhnya puas dengan penyelesaian ceritanya. Tapi, sekali lagi, bahkan dengan semua keterbatasan materi aslinya, eksekusi animenya beneran brilian. Aku perlu ngasih pujian semata karena itu.

Lain Kali, Aku Pasti Menang

Terlepas dari sisi-sisi konyolnya, dengan semua drama dan tragedi yang terjadi, NGNL 0 lebih berhasil menekankan pentingnya kegigihan dan perjuangan dibandingkan seri TV-nya. Berbeda dari Sora dan Shiro, Riku dan Shuvi bukanlah sosok-sosok jenius. Mereka hanya sekedar nekad (seriusan nekad) dan pantang menyerah. Ini konsisten bahkan saat mereka dihadapkan pada tantangan-tantangan yang kayaknya enggak mungkin bisa dilewatin.

Di samping itu, semua batasan soal penyelesain konflik lewat permainan (dan tanpa kekerasan) yang Tet atur masih belum ada. Jadi, ada kekejaman sekaligus kematian sekaligus sihir sekaligus senjata-senjata pemusnah massal di sana-sini.

Yea, film ini jadi punya sisi yang agak sadis.

Meski demikian, sekali lagi, itu jadinya memperkuat pesan(?) yang seri ini mungkin punya.

…Aku masih kurang sepenuhnya puas dengan penyelesaiannya sih. (Gimanapun, aku penggemar Liar Game!) Tapi, hasilnya tetap bisa aku terima sekaligus aku hargai.

Ini rada enggak nyambung, tapi mungkin kalian ingat kasus pembajakan menyangkut film ini tempo hari? Aku seriusan marah saat mendengar berita itu. Bila aku sampai ketemu orangnya, aku (dan banyak teman lain) bahkan sampai bersumpah buat nonjok mukanya.

Tapi, agaknya, kasus itu lebih konyol dari yang aku kira. Aku semula ngira itu kasus pembajakan di mana ada yang bawa kamera, terus diam-diam ngerekam buat disebarin di web. Tapi, yang sebenarnya terjadi, yang bersangkutan ternyata sekedar melakukan livestream.

Well, yeah. Prinsipnya secara teknis tetap sama sih, tapi tetap saja, aku lumayan terdiam saat mengetahui ini.

Riku dan Shuvi—dan sekaligus juga Shiro dan Sora—sanggup bertahan karena mereka sadar dengan batasan mereka masing-masing. Tapi, apa kebanyakan orang bahkan tahu soal batasan-batasan mereka sendiri?

Yah, artikel ini (silakan diklik) lumayan mengulas kasus itu secara baik sih. Jadi mending enggak usah kita singgung lagi.

Akhir kata, maaf udah lama ga nulis! Nanti aku nyoba nulis lagi. Mwahahaha.

Penilaian

Konsep: C+; Visual: S; Audio: S; Perkembangan: B; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A-

Isekai wa Smartphone to Tomo ni

Isekai wa Smartphone to Tomo ni, atau yang juga berjudul In Another World With My Smartphone (‘di dunia lain bersama ponsel pintarku’), adalah seri yang agak anomali.

Isekai Smartphone berawal dari seri web novel yang dikarang Fuyuhara Patora dari tahun 2013. Mulai tahun 2015, seri ini diterbitkan resmi oleh Hobby Japan dengan ilustrasi buatan Usatsuka Eiji. Pada awal tahun ini, tahu-tahu saja seri ini diadaptasi ke bentuk anime oleh Production Reed. Sutradaranya Yanase Takeyuki. Naskah ditangani oleh Takahashi Natsuko. Musik dikomposisi oleh Exit Tunes. Jumlah episodenya sebanyak 12 dan animenya pertama tayang pada musim panas tahun 2017.

Masih di sekitar awal 2017, seri ini juga mulai diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan format e-book oleh J-Novel Club. Terjemahan mereka beneran bagus. Dari forum JNC-lah, aku mulai benar-benar tahu tentang Isekai Smartphone.

Jadi, Isekai Smartphone termasuk salah satu dari sekian banyak seri bertema isekai yang menjamur dalam tahun-tahun belakangan. Tak hanya itu. Seri ini konon dipandang sebagai salah satu contoh seri isekai yang paling generik. ‘Generik’ dalam artian enggak terlalu jelek tapi juga enggak terlalu bagus.

Sangat biasa.

Semua yang lazim ada dalam suatu seri isekai ada di seri ini. Ada tokoh utama cowok yang imba. Ada dunia lain. Ada harem yang terdiri atas cewek-cewek cantik. Yah, kalian tahu.

Makanya, saat animenya diumumkan, ini sempat mengherankan banyak pihak. “Wut? Di antara begitu banyak seri isekai di luar sana, kok malah seri ini yang dipilih buat jadi anime sih?” Soalnya, ada banyak pilihan seri isekai lain yang jauh lebih mencolok. Seperti Kumo desu ga, nani ka?, misalnya. Atau Desumachi. (Produksi anime Desumachi sudah diumumkan btw, tapi kabar-kabar kemajuan proses produksinya sejauh ini agak bikin fansnya harap-harap cemas. …Di samping itu, Tate Yuusha no Nariagari, seri isekai lain yang sudah menarik simpati banyak fans, juga sudah dikerjakan proyek adaptasinya.)

Bahkan di forum JNC yang aku sebut di atas, saat perusahaan mereka masih belum lama berdiri dan mereka masih sedang mencari judul-judul baru untuk dilisensi, pendiri JNC menyatakan bahwa Isekai Smartphone menjadi seri yang ‘disodorkan’ padanya. Seolah pihak penerbit aslinya kelihatan yakin sekali dengan seri ini. Dengan kata lain, di negara asalnya, seri ini lumayan populer dan punya basis fans kuat.

Semula, aku juga bukan penggemar Isekai Smartphone. Bahkan dari semenjak terjemahan bahasa Inggris WNnya tersedia dikerjakan fans, aku tidak menaruh perhatian terhadapnya. Namun, semenjak animenya diumumkan, aku mulai penasaran.

Alasan pertama: aku memperhatikan kalau yang memproduksi animenya adalah Production Reed. Aku langsung mengerti kalau hasil produksinya ternyata tidak akan wah. Dalam benakku, mereka studio ‘tidak besar’ yang sebelumnya mengerjakan seri-seri sederhana macam Onsen Yousei Hakone-chan dan Niji-iro Days. Meski begitu, aku simpati. Isekai Smartphone seolah menjadi terobosan mereka dalam menangani proyek-proyek lebih besar.

Belakangan aku tahu, Production Reed ternyata tidak sepenuhnya baru. Mereka ‘reinkarnasi’ Ashi Productions, studio sangat veteran yang dulu menangani sejumlah anime terkenal macam seri mahou shoujo legendaris Magical Princess Minky Momo, seri Macross 7 yang masih menjadi seri Macross terpanjang sejauh ini, dan anime super robot lawas dan serius Dancouga. Sebelum tampil kembali sebagai Production Reed di tahun 2015, Ashi Productions rupanya ‘mati suri’ cukup lama semenjak proyek Dancouga Nova mereka di tahun 2007.

Alasan kedua: meski tanggapan sebagian besar orang terhadap animenya lumayan negatif, ternyata ada sejumlah kenalanku yang benar-benar menyukainya. Bahkan sepupuku, yang mendalami seluk-beluk ilmu perfilman, menjadi salah satunya. Aku terus mikir, pasti ada sesuatu tentang anime ini yang menarik perhatian dia ‘kan? Tapi apa?

God’s in His Heaven, all’s right with the world!

Isekai Smartphone berkisah tentang remaja lelaki bernama Mochizuki Touya yang tersambar petir pada suatu hari saat pulang sekolah, lalu mendapati diri dihidupkan kembali oleh Dewa di suatu dunia lain. Alasan dia dihidupkan di dunia lain itu karena sudah jadi ketentuan kalau dirinya tak bisa dihidupkan lagi di dunianya yang semula.

Dewa menawarkan untuk memberi kompensasi pada Touya karena telah mematikannya tanpa sengaja. Karena tak merasa perlu apa-apa yang khusus, Touya kemudian sekedar meminta agar smartphone-nya masih bisa ia gunakan di dunia lain tersebut. Entah terkesan dengan kesederhanaan Touya atau bagaimana, selain memungkinkan smartphone-nya ditenagai kekuatan sihir agar tetap bekerja (dan bisa tersambung ke Internet(!), meski Touya tidak diperbolehkan memposting apa-apa), Dewa kemudian sekalian memberi Touya berbagai keistimewaan lain yang tidak langsung tampak. (Belakangan diketahui itu termasuk afinitas ke semua elemen sihir, peningkatan kemampuan fisik, serta kekuatan sihir laten yang sangat besar.)

Sekalian, Dewa memasukkan info kontaknya ke dalam ponsel Touya agar Touya bisa langsung menghubunginya kalau ada apa-apa.

Touya lalu mendapati diri berada di wilayah pinggiran Kerajaan Belfast, di mana dia kemudian bertemu bermacam orang dan tanpa sengaja terlibat bermacam urusan konyol sekaligus serius. Berkenalan dengan teman-teman baru, Touya mulai bekerja sebagai petualang. Dia mulai belajar tentang sihir. Dia mulai bantu-bantu orang. Berbekal fitur-fitur smartphone-nya yang canggih dan diperkuat, dia juga mencoba menciptakan berbagai barang dan masakan dari dunianya yang lama agar bisa dipakai di dunianya yang baru.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Brunhilde (Yang Penuh Tawa dan Air Mata)

Cerita Isekai Smartphone lebih digerakkan oleh karakter. Ceritanya ringan dan lumayan bernuansa komedi. Meski ada elemen-elemen aksi dan petualangan, Isekai Smartphone sebenarnya lebih dekat ke cerita keseharian.

Isekai Smartphone tidak memiliki struktur plot yang perlahan membangun konflik (pada awalnya). Ceritanya lebih seperti rangkaian cuplikan adegan keseharian yang saling terhubung dan berkesinambungan. Agaknya, hal ini juga yang sempat mematikan minat sebagian orang.

Kalau aku ceritain begini, kedengarannya emang kurang menarik. Dalam bentuk anime, bahkan dengan genrenya yang komedi, jadinya tetap saja aneh. Tapi, kalau kau menepis semua pengharapanmu, dan bersabar dengan bagaimana ceritanya dituturkan, ada hal-hal tertentu tentang Isekai Smartphone yang bisa bikin terkesan.

Ada dunia baru yang diperkenalkan. Ada hal-hal baru yang dipelajari. Ada teman-teman baru yang dikenalkan. Seperti yang bisa diharapkan dari suatu seri isekai, Touya serba bisa. Tapi, yang menjadikannya istimewa dibandingkan seri-seri isekai lain kebanyakan, Isekai Smartphone punya sisi konyol konsisten yang ringan dan menghibur, yang membuatnya cocok sebagai bacaan untuk melepas penat. Kesan akhirnya lumayan unik.

Terlepas dari itu, mereka yang sudah dikonfirmasi(?) termasuk dalam harem Touya (meski dia sendiri sama sekali semula tidak merencanakan hal ini) meliputi:

  • Elze Silhoueska; onee-chan dari pasangan gadis kembar Silhoueska yang sama-sama berambut perak. Dia salah satu orang pertama yang Touya kenal ketika baru tiba di dunia baru. Berambut panjang, memiliki bawaan bersemangat yang mendahulukan bertindak sebelum berpikir. Meski begitu, terkadang dia bisa tiba-tiba saja merasa rendah diri. Elze memiliki kemampuan Null Magic bernama Boost yang meningkatkan untuk sementara parameter-parameter fisiknya. Elze beraksi dengan sepasang gauntlet yang digunakannya bersama ilmu bela diri. Dirinya tidak memiliki afinitas dengan elemen-elemen sihir lain. Dalam perkembangan cerita, Elze berstatus sebagai tunangan ketiga.
  • Linze Silhoueska; yang lebih muda dari pasangan gadis kembar Silhoueska, sekaligus yang lebih pendiam. Berbeda dari kakaknya, Linze memiliki afinitas elemen yang konvensional, dan karenanya beraksi dengan mengandalkan serangan sihir. Linze-lah yang mengajari Touya tentang sihir di dunia ini (ada enam elemen, dengan sihir non-elemen Null Magic yang bersifat pribadi dan menjadi kemampuan khusus penggunanya, yang ternyata bisa digunakan sepenuhnya oleh Touya). Linze juga yang mengajari Touya soal cara menulis dan membaca. Elemen-elemen yang Linze kuasai meliputi cahaya, api, dan air. Dalam perkembangan cerita, Linze berstatus sebagai tunangan kedua.
  • Kokonoe Yae; gadis samurai yang datang dari negeri Eashen yang jauh di timur (yang nuansanya sangat mirip Jepang, dan karenanya, Touya kerap disangka berasal dari sana.). Bersenjatakan sepasang katana. Yae sedang dalam perjalanan untuk mengasah kemampuan berpedangnya. Yae sempat ditolong kelompok Touya saat kelaparan sesudah bekal perjalanannya hilang. Yae berbicara dengan cara sedikit aneh. Makannya juga banyak. Meski Yae tidak berbakat sihir, Touya belajar banyak soal ilmu bela diri dari dia. Dalam perkembangan cerita, Yae berstatus sebagai tunangan keempat.
  • Yumina Urnea Belfast; putri mahkota Kerajaan Belfast yang menjadi teman Touya sesudah Touya secara kebetulan menolong ayahnya. Memiliki sepasang mata berbeda warna yang salah satunya memiliki kemampuan untuk membaca ‘sifat’ masing-masing orang (kemampuan ini adalah bagian Null Magic yang Yumina miliki). Dari ‘penglihatannya,’ Yumina kemudian memilih Touya untuk menjadi pasangannya. Berbeda dari teman-teman Touya yang lain, usia Yumina termasuk yang agak muda, tapi sifatnya justru yang paling dewasa. Mulai ikut tinggal bersama Touya sebagai petualang, dengan mengandalkan sihir sekaligus kemampuan memanah. Elemen-elemen sihir yang dapat digunakannya mencakup tanah, angin, dan kegelapan. Yumina yang pertama mengajari Touya sihir pemanggilan. Dalam perkembangan cerita, Yumina berstatus tunangan pertama. (Semenjak pertama berhubungan, Touya kerap dibujuk oleh ayah Yumina untuk bersedia mengambil alih mahkota kerajaan.) Yumina juga tidak berkeberatan dengan poligami karena memang itu kebiasaan para raja di dunia ini. (Keluarga Yumina saja yang tidak lazim.)
  • Sushie Urnea Ortlinde; adik sepupu Yumina yang kebetulan sempat ditolong Touya dalam kesempatan terpisah. Anak perempuan dari saudara laki-laki raja Belfast. Masih anak-anak. Belum banyak berperan di anime, tapi aku sebutkan saja karena dia termasuk yang ditonjolkan dalam animasi penutup. (Dalam perkembangan cerita di novel, Sushie menjadi tunangan keenam Touya karena sedikit isu politik yang melibatkan suatu negara lain. Dia diyakini akan tumbuh dengan penampilan mirip Yumina kelak.)
  • Leen; gadis mungil yang ternyata berusia ratusan tahun dan merupakan kepala suku peri di negara tetangga Kerajaan Mismede. Memiliki penampilan gothic loli, senantiasa ditemani seekor boneka beruang ‘hidup’ yang dinamainya Paula. Dari Leen, Touya belajar Null Magic Program yang memungkinkannya mengendalikan benda-benda. Leen juga adalah guru penyihir kerajaan di Belfast, Charlotte, dan menjadi tertarik dengan Touya semenjak mengetahui tentangnya. Dari Leen, Touya mengetahui lebih banyak tentang keberadaan puing-puing kuno. Belakangan, Leen menjadi duta besar baru bagi Mismede untuk Belfast. (Dalam perkembangan cerita di novelnya, Leen menjadi tunangan kedelapan.)

Selain mereka, Touya juga jadi berteman dengan para pembesar Belfast, keluarga pemilik penginapan tempat mereka dulu menumpang (sebelum mereka punya rumah mereka sendiri di ibukota), pengusaha pakaian yang maniak dengan desan pakaian baru, seorang pemilik toko senjata, pemimpin Kerajaan Mismede yang dihuni beastmen, lalu belakangan… juga dengan manusia buatan bernama Cesca yang mengakui Touya sebagai pewaris sejumlah artefak kuno yang melayang-layang di angkasa milik mendiang Regina Babylon. (Yang kemudian harus dipersatukan Touya sebagai semacam bentuk ujian baginya sebagai pewaris.)

Jumlah tokoh yang diperkenalkan seri ini lumayan banyak. Di luar dugaan, kesemuanya berperan banyak dalam keseharian Touya. Terutama sesudah Touya diberi wilayah kosong yang kemudian menjadi negeri Brunhilde yang dikelolanya sendiri.

Bagi yang penasaran (sesudah mereka ditampilkan di teaser di akhir anime), dua tunangan Touya lainnya adalah Hilde, ksatria putri dari Kerajaan Ksatria Lestia, yang jatuh cinta pada pandangan pertama saat Touya kebetulan menolong negerinya dari serangan musuh; dan Sakura, gadis hilang ingatan bersuara jernih, yang sebenarnya adalah putri tersembunyi dari negeri iblis Xenoah. Keduanya diperkenalkan seiring pencarian Touya terhadap artefak-artefak yang melayang di udara di atas, sebelum kemudian ikut tinggal bersama Touya dan keluarganya yang baru di Brunhilde.

Pulau-pulau Babylon

Membahas soal teknis, anime Isekai Smartphone mengangkat cerita dari sekitar buku pertama sampai ketiga dari seri novelnya. Dari segi alur, adaptasi ceritanya, secara mengesankan, lumayan setia dengan novel. Yang enggak aku sangka, cerita-cerita sampingan yang ada di novel-novelnya (meski tidak semua) ternyata juga ikut diadaptasi. Penempatannya lumayan mulus. Terasa bagaimana cerita-cerita sampingan itu menyatu dengan cerita utama.

Sisi buruknya, cerita utama tersebut enggak berkembang sejauh yang aku harap. Beberapa karakter yang tampil di animasi pembuka luput terjelaskan peranannya. Ada beberapa benang alur yang berakhir tak terselesaikan. (Seperti soal monster-monster Fraze/Phrase, yang sempat disinggung mungkin akan mendatangkan hancurnya dunia.)

Kalau dipikir, keputusan ini wajar. Cerita-cerita sampingan itu memang lumayan memaparkan kekhasan seri ini.

Meski begitu, adaptasi anime ini tetap berhasil mengemas ceritanya agar berakhir di titik yang enak, tanpa menutup kemungkinan ceritanya masih berlanjut.

Soal visual, kualitasnya tidak istimewa, tapi tetap menarik. Pemilihan warnanya yang beragam lumayan selaras dengan nuansa cerah yang seri ini bawakan. Meski tidak sampai detil, penggambaran berbagai latar tempatnya juga terbilang indah dan beragam. Ada puing-puing ibukota lama (yang di bawahnya mereka pertama menemukan monster berbahaya penyerap sihir Fraze/Phrase secara tanpa sengaja), ada kota petualang Reflet tempat Touya pertama kali tiba, ada ibukota Belfast yang lokasinya benar-benar enak. Meski tidak berat di soal perjalanan, nuansa perjalanan yang seri ini lumayan terasa.

Animasinya juga biasa sih. Mungkin malah ada yang akan menganggapnya sangat kurang. (Ada proporsi badan aneh, ada adegan menebas yang aneh, ada gerakan pertarungan yang bisa dibikin jauh lebih baik.) Tapi, sepupuku sempat menyinggung bagaimana dia terkesan dengan cara adegan-adegannya dibawakan. Dengan kata lain, kalau soal menyampaikan narasi, seri ini sebenarnya enggak punya kekurangan. (Meski, narasi yang dibawakannya memang enggak istimewa sih.)

Mungkin perlu kusinggung, seri ini juga punya beberapa karakter… uh, maskot. Jadi, meski ada fanservice-nya (serta beberapa dialog yang agak menjurus), ada juga semacam aspek imut dan lucu yang seri ini punya. Selain beruang Paula yang sudah aku sebut di atas, juga ada Kohaku, harimau putih kecil yang sesungguhnya adalah White Monarch, salah satu dari empat makhluk sihir terkuat yang berkuasa di alam. Dalam perkembangan cerita di novel, jumlah karakter-karakter maskot ini nanti terus bertambah.

Soal audio, kesan Isekai Smartphone lebih campur aduk. Musik pembuka dan penutupnya tak buruk. (Lagu penutup “Junjou Emotion” dinyanyikan bergantian oleh para heroine.) Para seiyuu juga secara umum juga berperan baik. (Kecuali Touya, tapi nanti aku bahas lebih lanjut soal itu.) Tapi, musik latarnya… sebagian ada yang pas dan sebagian lagi enggak. Secara umum, semuanya enak didengar sih. Aku suka dengan penekanannya terhadap alat-alat musik tiup. Namun di beberapa bagian, tetap terasa ada yang sesuatu yang kurang.

Intinya, dari segi teknis, menurutku lumayan terasa bagaimana Production Reed masih meraba-raba cara terbaik dalam proses mereka. Tapi, serius, hasil akhir Isekai Smartphone menurutku enggak buruk.

Aku masih aneh dengan segmen-segmen komedi di peralihan adegan-adegannya sih. Tapi, kalau menyangkut soal ceritanya sendiri, meski mengikuti detil-detil yang terasa enggak penting agak susah, aku lambat laun berhasil dibuat penasaran soal kelanjutan ceritanya.

Yea, aku jadi penasaran dengan seri-seri novelnya!

Mengingat suatu anime belakangan diproduksi sebagai ‘iklan’ untuk seri aslinya, bisa dibilang misi para produsernya sebenarnya sukses.

Lalu, kalau boleh jujur, meski ada bagian-bagian cerita yang kualitasnya meragukan, seri novelnya secara umum asyik. Kayak ringan dan gampang diikuti gitu. Benar-benar hiburan yang pas buat melepas stres. Ceritanya juga lambat laun berkembang dan menjadi lebih serius.

Sesudah menyatukan seluruh bagian Babylon, Touya harus memikirkan cara untuk menghalau serbuan Phrase. Langkah yang dia lakukan adalah membangun robot-robot raksasa Frame Gear. Namun, langkahnya diperumit saat ada dewa liar membagi kekuatan dewatanya bersama musuhnya, dan sebagainya. Ceritanya semakin menarik saat dewa-dewa lain tertarik pada Touya dan mulai tampil sebagai “anggota-anggota keluarganya.”

Slime Tidak Populer Dengan Wanita

Sesudah mengikuti Isekai Smartphone, aku jadi sedikit mikir: apakah kunci sukses kita di dunia sebenarnya ditentukan oleh seberapa dekat kita dengan ‘dia yang berkuasa’? Tapi, dari sini, kita ada dua pertanyaan. Satu: siapakah yang berkuasa? Dua: bagaimana cara kita bisa dekat dengannya?

Kalau mikir ini lebih jauh, aku jadinya kepikiran soal agama.

…Yah, Terlepas dari itu, kayak biasa untuk kasus-kasus begini, meski versi anime punya sisi-sisi baiknya, versi novel Isekai Smartphone masih lebih bagus ketimbang animenya.

Perbedaan paling kentara terdapat pada cara pemaparan pribadi Touya sendiri. Meski Touya nyata-nyata memang orang baik—dan alur animenya hampir sama persis dengan yang di novelnya—versi novelnya secara umum diceritakan dari sudut pandang orang pertama. Monolog internal Touya inilah yang membuat versi novelnya jadi beneran menarik, karena Touya ternyata punya sedikit sisi nyinyir dan sinis yang kurang berhasil ditampilkan di anime.

Ceritanya enggak pernah jadi sangat bagus. Tapi, untuk ukuran novel isekai, versi novel Isekai Smartphone seriusan termasuk yang gampang dinikmati. Meski kesan permukaannya datar, reaksi internal Touya terhadap segala sesuatu benar-benar kocak. Iya, aspek romansanya agak maksa. (Menarik gimana malah aspek ini yang justru jadi ditonjolkan di animenya.) Namun, dengan segala kesederhanaannya, ini bacaan fun yang di dalamnya ada saja hal unik yang terjadi.

Perlu disinggung elemen per-game-an yang biasa ada di suatu seri isekai juga sama sekali absen di seri ini.

Ngomong-ngomong, Fuyuhara-sensei konon mengetik novel ini menggunakan smartphone-nya juga. Aku seriusan heran gimana orang bisa sampai kayak gini.

Eh? Soal smartphone Touya?

Oh. Iya.

Smartphone nanti beneran berperan dalam cerita. Dengan menggabungkan fungsi-fungsinya dengan Null Magic, Touya jadi menemukan berbagai cara kreatif untuk fitur-fitur dan aplikasi ponselnya.  Awal-awalnya memang enggak menonjol. Tapi, makin ke sana, jadi makin menarik.

Eh? Cowok misterius yang muncul di akhir itu jadinya siapa?

Namanya Ende, pengelana dari dunia lain yang kehadirannya terkait dengan ancaman serangan Phrase akibat sesuatu-sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan cintanya. Ende lebih banyak berperan sebagai sekutu bagi Touya ketimbang musuh sih. (Salah satu mecha raksasa Frame Gear yang Touya dapatkan nantinya dikasih ke dia.) Kalau anime ini dapat season baru, mungkin dia bakal dapat porsi lebih banyak.

Penilaian

Konsep: C-; Visual: C+; Audio: B-; Perkembangan: C+; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: B

Anime Baru Musim Gugur 2017

Maaf (sangat) telat. Maaf belakangan ga nulis. Kesehatanku menurun. Soal pekerjaan bermasalah. Lalu aku sedang dilanda ketidakpastian soal masa depan.

Terlepas dari itu, jumlah seri baru di fall kali ini mungkin enggak banyak, tapi seri-seri baru yang keluar terbilang unik. Pastinya, banyak nama sutradara baru yang bermunculan.

Mungkin ini musim yang bagus untuk mengejar ketertinggalan seri-seri lama?

Kayak biasa, daftar ini enggak bisa diandalkan.

Akan diupdate berkala apabila perlu.

Mahou Tsukai no Yome (Wit Studio)

Seorang gadis muda bernama Hatori Chise menjadikan dirinya budak karena berbagai kesedihan semasa hidup. Chise lalu dibeli oleh Elias Ainsworth, pria misterius berdarah manusia sekaligus peri yang juga seorang penyihir. Elias rupanya telah memilih Chise untuk dijadikan murid sekaligus pengantinnya. Maka dimulailah kehidupan bersama mereka, yang sebenarnya dilandasi keinginan Elias untuk mencegah Chise meninggal dunia.

Dikenal juga dengan judul The Ancient Magus’s Bride, ini proyek unggulan Wit Studio selama beberapa tahun terakhir yang juga sempat dibuat OVA. Cerita OVA-nya berdiri sendiri, jadi kalian tak perlu melihatnya dulu untuk bisa mengikuti seri TV ini. Certanya diangkat dari manga buatan Yamazaki Kore di majalah Monthly Comic Blade dan Monthly Comic Garden. Seluruh staf dari OVA akan kembali, dipimpin Naganuma Norihiro sebagai sutradara. Ceritanya menakjubkan dalam artian fantastis. Ada banyak hal ajaib dan karakter-karakter menarik. Kualitas teknisnya kelihatannya menjanjikan. Tapi, mungkin ini tipe seri yang memerlukan alasan pribadi dari kalian sebelum bisa diikuti. Kudengar ini salah satu seri paling dinanti di musim ini

Anime-Gataris (Wao World)

Asagaya Minoa, pelajar baru di SMA Swasta Sakaneko, diundang ke Klub Penelitian Anime oleh teman sekelasnya, Kamiigusa Arisu yang kaya raya. Minoa lama-lama menjadi penggemar anime juga berkat perbincangan dengan berbagai sempainya (yang notabene orang-orang aneh). Bersama, mereka berusaha mencegah klub mereka dibubarkan, mengabaikan kehancuran dunia, serta membicarakan soal anime di manapun mereka berada.

Ini seri orisinil baru dari studio yang relatif baru pula. Genrenya komedi. Tokohnya banyak dan juga beragam. Morii Kenshiro yang pernah terlibat di Gakumon! dan Wake Up Girl Zoo! yang akan menyutradarai. Naskahnya ditangani Hirota Mitsutaka (Sweetness & Lightning). Aku pribadi belum yakin ini akan dibawa ke mana, tapi gelagatnya sejauh ini termasuk kuat. Mungkin bakal ada kejutan-kejutan enggak disangka dalam ceritanya.

Blend S (A-1 Pictures)

Sakuranomiya Maika memiliki tatapan tidak suka yang alami di wajahnya. Lalu suatu hari, ia diterima kerja di suatu kafe di mana para pelayan wanitanya diberikan atribut-atribut tertentu. Manajer kafe tersebut kemudian memberi Maika atribut “Do S” (kesadisan ekstrim) sebagai pelayan. Maka dari itu, Maika jadi harus belajar menjadi lebih dominan dan agresif.

Masuyama Ryouji yang pernah terlibat dalam The IDOLM@STER dan Gurren Lagann Parallel Works yang akan menyutradarai, dengan Zappa Go (Nakaimo, Koihime Musou) yang menangani naskah. Kikuya Tomoki (Eromanga Sensei) akan menangani musik. Ini berawal dari seri tamu di majalah Manga Time Kirara Carat yang dikarang Nakayama Miyuki. Intinya, ini seri komedi tentang orang-orang yang bersikap tidak sesuai tampang luar mereka. …Aku lumayan kesusahan menilai seri-seri seperti ini.  Iya, desain karakter-karakternya manis.

Shoujo Shuumatsu Ryokou (White Fox)

Peradaban telah berakhir. Mesin-mesin telah mati. Kota-kota telah berubah menjadi labirin-labirin lapuk. Sebagian besar umat manusia telah meninggal dunia. Tapi dua gadis, Chito dan Yuuri, masih berkelana, keliling dunia, menggunakan motor traktor Kettenkraftrad kesayangan mereka. Bersama, mereka berusaha bertahan hidup di tengah dunia dingin yang semakin suram.

Dikenal juga dengan judul Girl’s Last Tour, ini seri post-apocalyptic menghangatkan hati yang diangkat dari seri manga karya Tsukumizu di majalah digital Kurage Bunch. Desain karakternya imut dan ada banyak pemandangan latar menarik penuh detil di dalamnya. Ozaki Takaharu (Persona 5 the Animation – The Day Breakers) yang akan menyutradarai. Fudeyasu Kazuyuki (Monmusu) yang akan menangani naskah. Musik ditangani Suehiro Kenichiro (Re: ZERO). Sejauh ini, kualitas teknisnya kayaknya benar-benar kuat.

Dies irae (ACGT)

Pada suatu hari, Fujii Ren tiba-tiba berkelahi dan nyaris saling bunuh dengan sahabatnya, Yusa Shirou, karena alasan yang berakhir tak terungkap. Dua bulan kemudian, pada bulan Desember di kota Suwahara, Ren yang sudah keluar rumah sakit mulai dihantui mimpi-mimpi ganjil tentang guilotin. Serangkaian pembunuhan sadis terjadi di jalanan, mengingatkan Ren akan kata-kata Shirou sebelum ia menghilang. Semua misteri ternyata berhubungan dengan ritual yang dicanangkan kelompok Nazi Reichskanzlei pada penghujung Perang Dunia II, yang dilakukan demi mendatangkan Order of 13 Lances untuk menghancurkan dunia.

Diangkat dari visual novel dewasa yang dikembangkan Light, perlu disinggung kalau anime ini diproduksi berkat upaya pengumpulan dana yang Light canangkan, yang berujung menjadi salah satu crowdfunding paling sukses di Jepang (target 30 juta yen, terkumpul 96,5 juta). Kudo Susumu (Mardock Scramble, Coppelion) yang akan menyutradarainya. Naskahnya akan ditangani Masada Takashi yang juga menangani naskah untuk gamenya. Yonao Keiji juga kembali untuk mengkomposisi musik. Buat yang belum tahu, ini pada dasarnya cerita aksi yang penuh elemen chuunibyou. Tapi, pemaparannya dibuat sedemikian rupa sehingga ujung-ujungnya malah berakhir lumayan keren. Common route untuk visual novel-nya dalam Bahasa Inggris tersedia secara gratis di Steam. Seri ini dikabarkan berjumlah 18 episode. Dua belas episode pertama akan disiarkan, sedangkan sisanya akan tersedia lewat stream.

Code: Realize – Sousei no Himegimi (M.S.C)

Seorang gadis bernama Cardia mengurung diri di sebuah rumah besar di tepi kota London. Dalam tubuhnya, tersimpan racun berbahaya yang bisa meluluhkan apapun yang kulitnya sentuh. Satu hari, keterasingannya terusik saat Pasukan Pengawal Kerajaan tiba-tiba datang dengan maksud untuk menangkapnya. Saat itulah, Arsène Lupin, pencuri budiman, datang untuk menolongnya. Bersama, mereka melakukan perjalanan untuk menemukan ayah Cardia yang mungkin memnyimpan jawaban terhadap kondisinya.

Didasarkan pada game bernuansa steampunk keluaran Idea Factory dan Design Factory, seri ini menghadirkan berbagai karakter terkenal lain seperti Abraham Van Helsing dan Victor Frankenstein sebagai lelaki-lelaki tampan yang menjadi kawan-kawan seperjalanan Cardia. Sori, aku belum tahu banyak tentang gamenya. Yamamoto Hideyo yang menyutradarai Strike the Blood yang akan menyutradarainya. Harada Sayaka (STARMYU) yang akan menangani komposisi seri. Studionya masih baru, jadi belum banyak yang bisa aku komentari. Gelagatnya sejauh ini tidak akan jelek, walau mungkin tidak sampai bagus juga.

Just Because! (PINE JAM)

Musim dingin tiba. Waktu yang para siswa kelas tiga punyai di SMA sudah semakin sedikit. Semua orang di kelas kini hanya tinggal menunggu kelulusan. Tapi, di masa inilah, Izumi Eita kembali ke kota kelahirannya setelah meninggalkannya selama empat tahun. Reuninya dengan teman-teman lamanya mengubah banyak hal di hari-hari terakhir menjelang kelulusan mereka.

Seri drama ini adalah anime orisinil keluaran studio PINE JAM yang masih relatif baru. Seri ini menonjolkan desain karakter buatan mangaka Himura Kiseki (yang belum lama ini terkenal berkat Getsuyoubi no Tawawa). Di samping itu, PINE JAM berhasil menarik perhatian di musim lalu lewat Gamers!, sehingga gelagat seri baru ini termasuk kuat. Kobayashi Atsushi (Girls & Panzer) akan memulai debut sutradaranya lewat seri ini. Kamoshida Hajime (The Pet Girl of Sakurasou) yang menangani naskahnya. Yanagi Nagi akan memproduksi musiknya.

Inuyashiki: Last Hero (MAPPA)

Inuyashiki Ichirou adalah kepala rumah tangga berusia lanjut yang telah bekerja keras, tapi dipandang sebelah mata oleh keluarganya sendiri. Dia tidak dihargai di rumah maupun di tempat kerjanya. Tubuhnya menua lebih cepat dari usianya. Lalu, dia pun didiagnosa mengidap penyakit mematikan. Tapi… semua berubah saat suatu UFO tanpa sengaja menabraknya di taman, dan membangun ulang tubuhnya dari awal.

Diangkat dari seri manga seinen serius karangan Oku Hiroya (pengarang seri aksi sains fiksi Gantz), kau bisa mengharapkan banyak komentar sosial sekaligus aksi-aksi menakjubkan. Sejauh ini, key visual-nya kelihatannya berhasil mengadopsi gaya visual Oku-sensei yang khas. Satou Keiichi (Tiger & Bunny, GANTZ:O) menjadi sutradara utama. Yabuta Shuhei (Highschool of the Dead, Attack on Titan) akan menjadi sutradara seri. Naskahnya akan ditangani Seko Hiroshi (Ajin, Kotetsujou no Kabaneri). Berhubung seri manganya sudah tamat, ditambah dengan kualitas animasi MAPPA yang dikenal mumpuni, bakal ada lumayan banyak pengharapan untuk seri ini. Berhubung sifat ceritanya, ini mungkin bukan seri yang cocok untuk semua kalangan.

Imouto Sae Iireba Ii (SILVER LINK)

Hashima Itsuki adalah novelis dan juga “Pygmalion zaman modern” yang bekerja siang dan malam karena terobsesi menciptakan sosok adik perempuan yang sempurna. Dia dikelilingi seorang penulis cantik dan jenius yang jatuh hati padanya, teman kuliahnya yang bagaikan kakak perempuan, sesama teman penulis, seorang akuntan pajak yang sadis, editornya sendiri; dan mereka semua diurusi oleh Chihiro, “adik tiri laki-laki” Itsuki, yang menyimpan suatu rahasia besar.

Diangkat dari seri novel komedi karangan Hirasaka Yomi (pengarang Haganai)… yah, kalau kalian kenal pengarangnya, mungkin kalian bisa menebak kira-kira seperi apa perkembangannya. Sutradara andal Oounuma Shin (WATAMOTE, Anne-Happy) yang akan menangani produksinya dengan dibantu Tamamura Jin (Rakudai Kishi no Chivalry). Musik ditangani Kikuya Tomoki (Hentai Ouji to Warawanai Neko). Naskahnya akan ditangani oleh Hirasaka-sensei sendiri. Kalau kalian tidak keberatan dengan tema ceritanya, kualitas produksinya sejauh ini terbilang meyakinkan.

Konohana Kitan (Lerche)

Kokohana-tei adalah hotel dengan pemandian air panas yang terletak di kota penginapan yang terletak di batas antar dunia. Yuzu, seorang pekerja baru, bergabung bersama gadis-gadis siluman rubah lain dalam mengelola penginapan tersebut. Bersama-sama, mereka berusaha menyembuhkan keletihan jiwa para tamu yang datang.

Diangkat dari manga karya Amano Sakuya, yang diserialisasikan di majalah Comic Yuri Hime S milik Ichijinsha sebelum diserialisasi ulang di Comic Birz milik Gentosha, kudengar ini lumayan ditunggu oleh penyuka seri-seri ringan dan manis semacam ini. Okamoto Hideki (Da Capo II, Nagasarete Airantou) akan kembali menyutradarai setelah sekian lama, dengan Yoshioka Takao (WATAMOTE, Ikki Tousen) menangani komposisi seri.  Aku masih belum tahu banyak tentang seri ini, tapi karakter-karakternya yang manis dan nuansa dunia lainnya menjadi daya tariknya yang terbesar.

Ousama Game The Animation (Seven)

Seluruh siswa di suatu kelas SMA yang sama, berjumlah 32 orang, pada suatu hari memperoleh pesan yang sama lewat ponsel dari seseorang yang menyebut dirinya “Raja.” Pesan tersebut berisi perintah yang wajib dituruti oleh semua murid di kelas tersebut, dengan resiko kematian sebagai hukuman bila tidak dipenuhi. Awalnya, hal tersebut terkesan main-main. Tapi, saat orang-orang benar-benar mulai terbunuh dan perintah-perintah yang diberikan semakin keji, Kanazawa Nobuaki dan kawan-kawannya berusaha mencari cara untuk bertahan hidup.

Juga dikenal dengan judul King’s Game, ini diangkat dari seri novel ponsel karangan Kanazawa Nobuaki (iya, pengarangnya menggunakan nama yang sama dengan nama karakter utama) terbitan Futabasha yang sempat menarik perhatian bertahun-tahun silam dari tahun 2009. Ada adaptasi manga, live action, dan pembuatan sekuel dan prekuel segala. Ceritanya, setahuku, sebenarnya lumayan mengandalkan shock value dan kurang bisa dikatakan bagus. Karenanya, ada harapan kalau versi anime ini akan memberi perbaikan pada ceritanya. Sasaki Noriyoshi (Ojisan to Marshmallow) yang akan menyutradarainya. Konuta Kenji (Haitai Nanafa, Daiya no Ace) yang akan menangani komposisi seri. Jujur saja, gelagatnya sejauh ini lebih meyakinkan dari keluaran-keluaran Seven yang terdahulu. Ini menarik buat para penyuka thriller.

Houseki no Kuni (Orange)

Jauh di masa depan, suatu bentuk kehidupan baru yang dikenal sebagai “houseki” (permata) telah terlahir. Mereka harus berhadapan dengan kaum “tsukijin” (orang-orang bulan) yang menyerang mereka karena hendak mengubah mereka menjadi hiasan. Masing-masing houseki karenanya mendapat peran dalam pertempuran. Namun Phos, seorang houseki yang berharap bisa ikut bertarung, tidak mendapat peran. Kongo, manajer mereka, di luar dugaan kemudian menyuruhnya menjadi editor suatu majalah sejarah alam.

Ini seri yang sulit kelihatan daya tariknya sebelum kalian melihatnya sendiri. Diangkat dari manga buatan Ichikawa Haruko, yang diserialisasikan di majalah Afternoon milik Kodansha, premisnya mungkin aneh, tapi perkembangan ceritanya benar-benar menarik. Berhubung Orange yang menganimasikannya, kualitas animasinya juga diharapkan bagus. Dikenal juga dengan judul Land of the Lustrous. Sutradaranya adalah Kyougoku Takahiko (Love Live!, GATE). Naskahnya akan ditangani Ono Toshiya (Gatchaman Crowds, Subete ga F ni Naru). Beberapa tahun lalu juga sempat keluar adaptasi OVA-nya yang diproduksi Studio Hibari. Serius, kalian mending melihatnya sendiri. Nuansa fantasinya lebih menarik yang aku kira.

Boku no Kanojo ga Majime Sugiru Shoujo Bitch na Ken (Diomedea, Studio Blanc)

Karena terlanjur naksir, remaja SMA bernama Shinozaki Haruka akhirnya menyatakan perasaannya pada ketua kelasnya yang cantik dan sangat serius, Kosaka Akiho. Di luar dugaan, Kosaka menerima perasaan Shinozaki. Tapi, berhubung Kosaka orang yang sangat serius, ia berusaha mempelajari berbagai cara agar hubungan mereka awet. Hal ini berujung pada bagaimana Kosaka dengan polosnya mempraktekkan berbagai tips soal menjalin hubungan yang sebenarnya nakal.

Juga dikenal dengan judul My Girlfriend is Shobitch, ini diangkat dari seri manga karya Matsumoto Namiru. Iya, ini seri komedi berbahaya yang agak aneh. Nagayama Nobuyoshi (Hinako Note) akan tampil sebagai sutradara untuk seri ini. Naskahnya akan ditangani Shirane Hideki (Kill Me Baby, Date A Live). Kelihatannya, ini akan jadi jenis seri yang lumayan menonjol di satu bagian, tapi kurang menonjol di bagian lain.

Netoju no Susume (Signal.MD)

Morioka Moriko, seorang perempuan lajang berusia 30 tahun, memutuskan keluar dari perusahaannya akibat stres kerja. Ujung-ujungnya, dia malah menjadi NEET. Muak dengan dunia nyata, dia mulai menggandrungi permainan-permainan MMO di mana dia bermain sebagai karakter lelaki bernama Hayashi. Sampai suatu ketika, Hayashi berkenalan dengan Lily, karakter perempuan sangat menawan bagaikan bidadari. Berkat Lily, Moriko mulai menemukan tempat berada sekaligus semacam kepuasan dalam hidupnya. Sampai ketika Moriko tanpa sengaja berkenalan di dunia nyata dengan Sakurai Yuta, seorang pebisnis tampan, yang lagi-lagi mengawali semacam perubahan dalam hidupnya.

Juga dikenal dengan judul Recovery of an MMO Junkie atau Recommendation of the Wonderful Virtual Life, ini diangkat dari manga karya Kokuyorin yang diserialisasikan lewat aplikasi Comico. Studio animasi Signal.MD selama ini mungkin kurang menonjol. Kualitas teknisnya juga mungkin tidak wah. Tapi, ada sesuatu tentang seri ini yang lumayan berkesan. Yaginuma Kazuyoshi (Bokurano) akan tampil sebagai sutradara untuk seri ini. Komposisi serinya akan ditangani oleh Fudeyasu Kazuyuki (Gochiusa, Denkigai). Noto Mamiko yang handal yang akan mengisi suara tokoh utamanya.

Black Clover (Studio Pierrot)

Di dunia di mana sihir merupakan segalanya, Asta dan Yuno adalah dua anak lelaki yatim piatu yang ditelantarkan di pintu gereja pada hari yang sama. Yuno memiliki bakat sihir yang luar biasa, sementara Asta terlahir tanpa bakat sedikitpun. Sesudah mereka menginjak usia 15 tahun, keduanya menerima grimoire masing-masing yang memperkuat sihir yang mereka miliki. Sesudah sedikit konflik, Asta kemudian menerima grimoire langka yang memberinya kekuatan anti-sihir. Persaingan mereka dalam keksatriaan untuk menjadi Raja Penyihir di masa mendatang pun dimulai.

Diangkat dari seri manga shonen karya Tabata Yuuki yang diserialisasikan di Weekly Shonen Jump, ini seri aksi untuk cowok yang sebenarnya sangat generik, tapi sama sekali enggak jelek juga. Menilai kasus Naruto, Bleach, dan One Piece, mungkin adaptasi seri ini bakal panjang. Tapi, kalau melihat gelagat My Hero Academia, mungkin juga enggak. Sutradara muda Yoshihara Tatsuya (Monmusu, Yatterman Night) akan menyutradarai. Fudeyasu Kazuyuki (Gochiusa, Milky Holmes) yang akan menangani komposisi seri. Potensinya sejauh ini terlihat lebih menjanjikan dari dugaan.

Two Car (SILVER LINK)

Miyata Yuri dan Meguro Megumi adalah sepasang gadis remaja yang mengikuti kejuaraan balap motor sespan di Pulau Miyake, suatu pulau kecil dan terpencil sekitar 200 km di selatan pusat Tokyo, tapi masih termasuk wilayah Tokyo Metropolitan. Meski kepribadian mereka bertentangan, mereka saling melengkapi selama balapan. Bersama, mereka menghadapi berbagai tim balap motor sespan lain dari seluruh Jepang dengan kepribadian mereka masing-masing.

Dikenal juga dengan judul Two Car: Racing Sidecar, ini sekilas terlihat seperti tipikal anime tentang gadis-gadis manis yang melakukan suatu kegiatan. Tapi, kalau kau perhatikan baik-baik, ada banyak detilnya yang benar-benar menarik. Tamura Masafumi (Ange Vierge) yang akan menyutradarai. Naskahnya akan ditangani Takayama Katsuhiko (Hanbun no Tsuki ga Noboru Sora, Ga-Rei: Zero). Musiknya akan ditangani Takahashi Ryo (ACCA, Oshiete! Galko-chan). Menurutku, ini seri yang sulit diperkirakan bagus tidaknya. Meski begitu, ada banyak hal yang patut dilihat di dalamnya.

Garo – Vanishing Line (MAPPA)

Seorang pria tangguh bernama Sword datang ke Russell City yang makmur dengan maksud untuk menyelidiki suatu konspirasi yang dapat mengguncang dunia. Petunjuk yang dimilikinya hanya kata kunci misterius “El Dorado.” Sword bersimpangan jalan dengan Sophie, seorang perempuan yang mencari kakak lelakinya yang menghilang sesudah meninggalkan kata-kata kunci yang sama. Mencari jejak adik perempuannya sendiri, Sword bersama Sophie terseret dalam perang bayangan yang tersembunyi di balik El Dorado.

Vanishing Line akan disutradarai oleh Seong Ho Park (Terror in Resonance, Yuri!!! on Ice), yang akan memulai debutnya sebagai sutradara lewat seri ini. Naskahnya akan ditangani oleh Yoshimura Kiyoko (Dogs: Bullets & Carnage, Riddle Story of Devil). Musiknya akan ditangani monaca. Seri ini menarik karena punya nuansa yang sangat mirip dengan anime-anime aksi keluaran Gonzo di seputaran tahun 2007. Meski menjadi bagian waralaba seri tokusatsu aksi horor supernatural dewasa Garo, kelihatannya kau tak perlu tahu tentang pendahulunya untuk menikmati seri ini. Grup musik JAM Project juga kembali terlibat dalam membawakan lagunya. Kelihatannya ini bisa menjadi seri aksi yang benar-benar solid.

Infini-T Force (Tatsunoko Productions, Digital Frontier)

Sosok jahat Z yang misterius ingin menghancurkan semua semesta kecuali satu. Tapi, untuk melakukannya, suatu benda khusus diperlukan, yang ternyata jatuh ke tangan seorang gadis bernama Kaido Emi. Empat orang pahlawan legendaris dari dunia-dunia berbeda kemudian bersatu demi melindungi Emi dan menghentikan rencana jahat Z.

Seri animasi CG ini dibuat untuk memperingati ulang tahun ke-55 dari studio Tatsunoko. Seri ini istimewa karena akan menyatukan empat pahlawan dari seri-seri klasik Tatsunoko, yakni ksatria luar angkasa Tekkaman (yang orisinil, bukan yang dari seri Tekkaman Blade yang lebih terkenal), manusia robot Casshern, ninja canggih Gatchaman (yang orisinil, bukan yang dari Gacthaman Crowds), dan Polymar yang bisa mengubah bentuk badan. Penyutradaraannya akan ditangani Suzuki Kiyotaka dengan naskah ditangani Ono Toshiya. Desain konsep karakternya yang baru ditangani oleh mangaka Oh! great. Bagaimanapun hasilnya, karena nostalgia masa kecil, aku benar-benar berminat terhadap seri ini. Sejauh ini, kabarnya interaksi antar karakter (dan aksinya) menjadi apa yang ditonjolkan.

Kujira no Ko-ra wa Sajou ni Utau (J.C. Staff)

Di dunia yang diselimuti pasir, seorang bocah bernama Chakuro hidup di atas kapal raksasa Paus Lumpur yang mengambang melintasi lautan pasir. Chakura dan kawan-kawannya belum pernah menjumpai siapapun dari dunia luar, dan mereka bercita-cita agar suatu hari bisa menjelajahinya. Suatu hari, puing-puing sebuah kapal terdampar ditemukan, dan di dalamnya, Chakura menjumpai seorang gadis.

Dikenal juga dengan judul Children of the Whales, seri ini diangkat dari manga shoujo karya Umeda Abi yang diserialisasikan di majalah Monthly Mystery Bonita milik Akita Shoten. Sapuan warna yang digunakan dalam penggambaran latarnya benar-benar indah. Kualitas teknisnya terbilang benar-benar menjanjikan. Ishiguro Kyouhei (Shigatsu wa Kimi no Uso, Occultic;Nine) yang akan menyutradarainya. Yokote Michiko (Shirobako) yang akan menangani naskahnya. Musiknya ditangani oleh Tsutsumi Hiroaki (Kuromukuro, Orange, Ao Haru Ride). Kurasa, seri ini terutama menarik bagi kalian yang suka anime karena ingin melihat tempat-tempat yang beda. Mudah-mudahan hasilnya bagus.

Urahara (Shirogumi Inc., EMT Squared)

Beberapa tahun dari sekarang, kota-kota besar yang ada di dunia akan hancur oleh serbuan makhluk-makhluk planet lain. Target makhluk-makhluk itu yang berikutnya adalah… distrik Harajuku di Tokyo yang terkenal! Hanya tiga gadis toko pencari harta karun, Suda Rito dan kawan-kawannya, yang bisa menyelamatkan Harajuku. Tapi, sebelum itu, mereka terlebih dahulu harus berperan sebagai anggota PARK Harajuku: Crisis Team.

Urahara diangkat dari komik web PARK Harajuku: Crisis Team yang dibuat lewat kerjasama Patrick Marcias, Tanaka Mugi, dan Crunchyroll. Dengan warna-warninya yang terang dan cerah, desain dunianya yang penuh hal aneh, serta pakaian-pakaian para karakternya yang modis, bisa jadi ini adalah anime paling… uh, ‘ajaib’ di musim ini. Iwasaki Yasunori akan berperan menangani musik. Animator pendatang baru sekaligus peraih penghargaan, Kubo Amika, akan berperan sebagai sutradara, membantu Arakawa Masatsugu (Nurse Witch Komugi) sebagai sutradara kepala. Takahashi Natsuko (Renai Boukun, Kenka Banchou Otome) yang akan menangani naskah. Selain itu, anime ini menandai debut penyanyi terkenal Haruna Luna sebagai pengisi suara (dia berperan sebagai tokoh utama). Mudah-mudahan hasilnya bagus.

Buat kalian yang mencari info tentang adaptasi anime dari LN fantasi Saredo Tsumibito wa Ryuu to Odoru: Dances With Dragons, itu secara mendadak ditunda sampai pertengahan 2018. Semoga saja enggak ada masalah besar di produksinya.

Sebagai tambahan, DYNAMIC CHORD yang dikerjakan Studio Pierrot menjadi seri anime otome lain musim ini. Diangkat dari game bernuansa dunia rock band keluaran honeybee, ini jenis seri yang memperkenalkan berbagai karakter tampan yang terbagi dalam empat grup band terpisah. Kesemua band yang saling bersaing tersebut ceritanya bernaung di bawah label rekaman Dynamic Chord. Aku masih kurang tahu tentang seri ini, tapi kelihatannya lumayan. Musiknya mungkin mencolok.

Juuni Taisen: Zodiac War keluaran Graphinica menjadi seri yang mungkin menarik perhatian. Ini diangkat dari seri novel buatan Nisio Isin (Monogatari, Medaka Box) yang diilustrasikan Nakamura Hikaru (Arakawa Under the Bridge, Saint Young Men). Ceritanya tentang Turnamen Dua Belas kedua belas yang dihadirkan setiap dua belas tahun sekali, yang mana dua belas ksatria pemberani yang mewakili masing-masing dari dua belas shio melakukan pertarungan hidup mati melawan satu sama lain. Ringkasnya, katanya ini seperti Fate/stay night dengan suasana Monogatari. Ini seri yang sangat aneh, tapi gelagatnya sejauh ini meyakinkan. Salah satu sutradara favoritku, Hosada Naoto (Hataraku Maou-sama!), yang ternyata akan menyutradarai.

Sengoku Night Blood yang dikembangkan dari waralaba game otome keluaran Marvelous, Kadokawa, dan Otomate, juga akan tayang. Produksi animasinya dilakukan Typhoon Graphics, yang belakangan menarik perhatian dengan One Room dan Room Mate. Ringkasnya, ini fantasi romansa di zaman Sengoku (Negara Berperang) yang mana para karakter dalam keenam kubu juga punya sisi manusia serigala (Uesugi, Takeda, Sanada, Date) atau vampir (Oda dan Toyotomi). Iya, si gadis yang menjadi tokoh utama konon punya keistimewaan yang bisa mengubah jalannya perang. Jumlah karakternya terbilang banyak. Kikuchi Katsuya (The Royal Tutor) yang akan menjadi sutradara.

RoboMasters the Animated Series yang mengisahkan tentang anak-anak kuliahan yang ikut dalam dunia kompetisi robot juga akan tayang. Ini diproduksi lewat kerjasama Cina dan Jepang. Yamamoto Yasutaka (Jitsu wa Watashi wa…) yang menjadi sutradara. Naskahnya ditangani Yamashita Kenichi (D.Gray-man Hallow). Seri ini tidak menonjol, tapi patut diperhatikan oleh kalian yang berminat terhadap robotika. Produksinya ditangani Dandelion Animation Studio.

UQ Holder! Magister Negi Magi! 2 juga akan tayang. Meski disebut sebagai sekuel manga komedi aksi Negima, ini cerita dengan karakter-karakter berbeda yang lumayan berdiri sendiri. Produksinya akan dilakukan oleh J.C. Staff. Buat yang belum tahu, ceritanya mengetengahkan Konoe Touta, cucu bocah penyihir Negi Springfield (tokoh utama seri sebelumnya), dan berlatar berpuluh tahun kemudian. Touta ingin meninggalkan desanya dan mengunjungi space elevator di kota. Tapi sebelum itu, ia harus bisa mengalahkan gurunya, sang vampir abadi, Evangeline. Akamatsu Ken, pengarang manga aslinya, juga akan membantu untuk komposisi seri. Suzuki Youhei yang akan menyutradarainya. Meski enggak sangat terkenal, seri ini punya basis penggemar lumayan kuat.

Akan ada juga Kino no Tabi – the Beautiful World – the Animated Series, reboot dari seri drama klasik bertema perjalanan Kino’s Journey, yang dibuat berdasarkan seri novel populer karangan Sigsawa Keiichi. Ceritanya tentang Kino, seorang petualang muda yang berkelana menggunakan sepeda motornya yang bisa berbicara, Hermes. Mereka menjelajahi berbagai tempat dan masyarakat, dengan aturan ketat hanya melewatkan tiga hari di satu tempat. Ceritanya punya nuansa dongeng dan parabel yang kuat. Lerche yang akan memproduksi. Secara teknis, kualitasnya akan ada peningkatan. Tapi, ada gelagat nuansa khas dari versi anime sebelumnya akan berkurang. Para penggemar lama tak perlu khawatir karena sebagian cerita dari buku-buku yang lebih ke sini (yang tidak diangkat dalam versi anime sebelumnya) juga akan digarap.

Anime-anime sekuel di musim ini lumayan banyak. Kesemuanya meliputi:

  • Kelanjutan komedi musik klasik gado-gado ClassicaLoid keluaran Sunrise. (Season 2) Kudengar ini lumayan lucu.
  • Kehidupan drama komedi bersama siluman Youkai Apartment no Yuuga no Nichijou (Season 2). Kudengar ini juga lumayan lucu.
  • Blood Blockade Battlefront & BEYOND, musim tayang kedua dari anime aksi supernatural berlatar New York Kekkai Sensen. Ceritanya kudengar akan lebih mengikuti cerita di manganya, yang bisa jadi hal baik sekaligus buruk. BONES yang masih akan memproduksi.
  • Seri permainan kartu Cardfight!! Vanguard GZ. Sori, aku tak mengikuti.
  • ame-con!!, kelanjutan dari seri Rainy Cocoa, yang berlatar di kafe dan menonjolkan pembicaraan cute antar cowok-cowok tampan. Maaf, aku juga tak mengikuti, tapi kudengar latarnya berpindah ke Hawaii?!
  • Seri perjuangan grup idola WUG dari wilayah Tohoku, Wake Up, Girls! Shin Shou, yang kali ini diproduksi tanpa campur tangan sutradara kontroversial Yamakan. Desain karakter dan nuansanya akan berbeda, tapi ini masih karakter-karakter yang sama. Akan ada karakter-karakter baru. Millepensee yang akan memproduksi, menggantikan Ordet. Itagaki Shin yang akan… uh, menyutradarai.
  • Kelanjutan cerita gadis-gadis pahlawan Yuuki Yuuna wa Yuusha de Aru: Washio Sumi no Shou. Kudengar ini akan jadi versi kompilasi dari seri layar lebarnya. (Penanganan yang mirip kasus Gundam Unicorn) Studio Gokumi yang masih memproduksi. Yuuki Yuuna menjadi kejutan di masa tayangnya. Karena itu, sekuel ini juga termasuk yang diantisipasi.
  • Seri komedi enggak serius tentang perjalanan waktu mengkaji sejarah asli dan palsu dengan mesin-mesin tempur aneh Time Bokan: Gyakushuu no San-Okunin. (Semacam season 2 dari Time Bokan 24.) Tatsunoko masih memproduksi.
  • Seri tentang sekolah kompetisi memasak Shokugeki no Souma: San no Sara (Season 3) keluaran J.C. Staff juga akan ada. Membandingkan perkembangan manganya, aku terkesan karena adaptasinya sudah ada secepat ini.
  • Kelanjutan cerita tentang adik perempuan merepotkan tapi cute di Himouto! Umaru-chan R. (Season 2) Semua staf lama di Doga Kobo kembali untuk menangani.
  • Kelanjutan komedi supernatural tentang para pengurus arwah di alam baka dan tangan kanannya yang senantiasa cool, Houzuki no Reitetsu (Season 2). Studio DEEN akan menggantikan Wit Studio dalam memproduksi. Sutradara dan desainer karakternya ganti, walau penulis naskah dan komposer musiknya sama. Perbedaan dengan season sebelumnya pasti bakal ada.
  • Gintama (Season 5) yang masih ada juga. Kali ini akan mengetengahkan bagian cerita Poppori.
  • Kelanjutan seri drama psikologis tentang kehidupan dan kesepian berlatar dunia kompetisi shogi, Sangatsu no Lion (Season 2), juga akan ada.
  • Kelanjutan anime tentang cinta dan nasi, Love Kome (Season 2) juga ada.
  • Musim kedua dari perjuangan gadis idola di Love Live! Sunshine!! (Season 2) keluaran Sunrise.
  • Kembalinya anime komedi tentang para kembar enam tak berguna yang sempat menghebohkan, Osomatsu-san (Season 2). Studio Pierrot kembali untuk memproduksi.

Selebihnya, Sanzigen akan memproduksi Monster Strike: The Fading Cosmos. Seri tentang aplikasi dan hilang ingatan ini ternyata punya basis penggemar kuat.

Versi cowok dari waralaba game sosial bertema idola milik Bandai Namco, The iDOLM@STER SideM, juga akan ada. Yang akan diketengahkan adalah para pemuda yang masuk agensi talenta 315 Production. Yang kudengar menarik dari seri ini (selain para cowoknya) adalah bermacam latar belakang karir berbeda yang sebelumnya dimiliki para tokohnya.

TsukiPro the Animation juga akan ada. Diproduksi lewat kerjasama AZ Creative dan PRA, ini lagi-lagi seri idola yang akan mengetengahkan banyak kelompok, dalam hal ini, empat grup yang berbeda, SOARA, Growth, SolidS, dan Quell, yang bernaung di bawah label yang sama. Motonaga Keitaro (Date A Live) yang akan memproduksi. Yoshida Reiko juga yang akan menangani komposisi naskah. Ini didasarkan proyek idola virtual. Aku benar-benar belum tahu banyak tentang seri ini. Studio animasinya juga masih kurang aku kenal.

Untuk para penggemar anime dewasa yang belakangan ini dibuat, Omiai Aite wa Oshiego, Tsuyoki na, Mondaiji yang bertema soal hubungan guru wanita dan murid lelaki juga akan tayang. Seven kembali akan memproduksi.

Lay-duce juga akan memproduksi seri romansa Itsudatte Bokura no Koi 10 Centi Datta, yang merupakan karya lanjutan dari komite soal pernyataan cinta itu yang dicanangkan Honeyworks. Jumlah episodenya sebanyak enam dan akan mulai ada pertengahan musim nanti.

Tambahan yang terlewat, Evil or Live, yang dibuat berdasarkan komik web Li Xiaonan, juga akan diproduksi Emon. Dikisahkan ada semacam “penyakit” baru yang disebut Net Addiction, yang mengharuskan para penderitanya harus dirawat di suatu fasilitas rehabilitasi yang mirip penjara. Hibiki, pemuda yang dulu pernah menjadi juara atletik, diharuskan masuk ke salah satu fasilitas ini. Di sana, seorang pemuda misterius bernama Shin mendekatinya untuk melibatkannya dalam suatu rencana. Di sana juga ia menjumpai Shiori, kawan lamanya yang perangainya telah sangat berubah. Jumlah episodenya telah dikonfirmasi sebanyak 12.

Dari segi anime pendek, juga akan ada:

  • Seri komedi Ore-tacha Youkai Ningen, yang merupakan semacam penerus dari seri klasik Youkai Ningen Bem. DLE yang akan memproduksi.
  • Komedi romantis bertema minuman beralkohol Osake wa Fuufu ni Natte kara, tentang perjalanan seorang wanita dalam menikmati racikan-racikan cocktail buatan suaminya. Creators in Pack yang akan memproduksi.
  • Sylvanian Families, yang diangkat dari lini boneka buatan Epoch (yang bisa berharga sangat mahal), juga akan tayang. Produksinya dilakukan oleh Shogakukan Music & Digital Entertainment. Aku serius tertarik pada seri ini karena aku suka hal-hal yang lucu. Buat kalian yang suka kelinci, tupai, dan binatang-binatang hutan lain, mungkin kalian juga bakal suka.
  • Penerus spiritual animasi penguin buatan Inggris-Swiss, Pingu in the City juga akan diproduksi Polygon Pictures. Ini mungkin akan lucu.
  • Taishou Chicchai-san, tentang anak yang pindah dari Tokyo di era Taishou untuk masuk kuliah, dan kemudian terlibat persekongkolan yang melibatkan tentara. Studio A-CAT yang akan memproduksi.
  • Dia Horizon, waralaba multimedia terbaru keluaran Square Enix, juga akan mengeluarkan seri anime pendek yang memperkenalkan para karakternya. Mengingat promonya yang keluar tempo hari, lengkap dengan visualisasi fantasinya yang indah, pengumuman tentang seri anime pendek ini sempat membuat sejumlah pemerhati langsung terdiam.

Dari segi film layar lebar, Brains Base akan memproduksi Dance with Devils – Fortuna, yang merupakan film baru dari waralaba game otome yang sudah ada ini. Akan ada DC Super Heroes vs. Eagle Talon yang merupakan komedi dengan bintang tamu enggak terduga. Wit Studio juga akan memproduksi Donten ni Warau Gaiden, yang merupakan film pertama dari cerita lepasan dari seri TV-nya. Lalu, ada film layar lebar sekuel untuk anime renang Free! Take Your Marks. Juga akan tayang film kompilasi Touken Ranbu – Hanamaru ~ Makuai Kaisouroku. (Season 2-nya sudah dikonfirmasi kalau tak salah.). Juga ada film kompilasi drama aksi mecha bernuansa jazz Mobile Suit Gundam Thunderbolt: Bandit Flower, yang mengetengahkan paruh kedua cerita yang kini berlatar di Bumi.

Untuk film layar lebar, kurasa yang paling mencolok adalah film romansa sejarah berlatar awal abad 20 Haikara-san ga Tooru keluaran Nippon Animation yang akan diputar film pertamanya, Fate/stay night Heaven’s Feel: presage flower yang merupakan film pertama dari trilogi baru keluaran Ufotable, serta Godzilla – Kaijuu Wakusei, film aksi sains fiksi produksi Polygon Pictures yang melibatkan Urobuchi Gen, berlatar di Bumi yang telah dikuasai monster jauh di masa depan.

Dari segi OVA, ada episode tambahan untuk Busou Shoujo Machiavellism, episode pertama dari bab penutup Girls und Panzer das Finale, episode tambahan untuk Kabukibu!, dan episode tambahan pula untuk Netojuu no Susume.

Kayak biasa, hal-hal baru akan ditambahkan nanti.

(Sumber dari ANN dan Anime Now!)

Hundred

Label light novel GA Bunko dimiliki penerbit SB Creative.

Ketika label tersebut berulang tahun yang kesepuluh, mereka memprakarsai adaptasi anime dari sepuluh seri LN-nya.  Sepuluh anime tersebut diproduksi studio-studio berbeda dalam kurun waktu berbeda pula. Kualitasnya beragam, tapi tetap lumayan berhasil mempromosikan judul-judul keluaran mereka.

Tanpa diurut secara khusus, dan kalau aku enggak salah, kesepuluh seri yang diadaptasi tersebut antara lain adalah:

  • Rakudai Kishi no Chivalry (Seri pertama yang diadaptasi. Lebih bagus dari dugaan.)
  • Dungeon ni Deai o Motomeru no wa Machigatteiru Darou ka? (Dikenal juga sebagai Danmachi. Relatif bagus, tapi kurang banyak.)
  • Haiyore! Nyaruko-san (Menarik.)
  • Hundred (Akan dibahas sebagai berikut.)
  • Inou-Battle wa Nichijou-kei no Naka de (Lumayan, punya beberapa adegan yang benar-benar bagus.)
  • No-Rin (Relatif bagus.)
  • Oda Nobuna no Yabou (Lebih bagus dari dugaan.)
  • Saijaku Muhai no Bahamut (Lumayan.)
  • Seiken Tsukai no World Break (Menarik.)
  • Danmachi Gaiden: Sword Oratoria (Seri terbaru yang diadaptasi saat aku menulis ini. Relatif bagus, tapi kurang banyak.)

Di antara semua judul di atas, yang paling menarik perhatianku saat adaptasinya pertama diumumkan adalah Hundred.

Seri ranobe Hundred ditulis oleh Misaki Jun dan diilustrasikan oleh Oukuma Nekosuke (Oukuma-sensei yang juga membuat desain karakter asli untuk Shinmai Maou no Testament). Hundred pertama terbit pada tahun 2012 dan sejauh ini, telah punya buku sebanyak belasan.

Alasan aku tertarik pada Hundred adalah karena sejumlah kemiripan yang Hundred miliki dengan Infinite Stratos, suatu seri populer lain yang diterbitkan penerbit Overlap. Ada persenjataan eksoskeleton yang dipasang di badan (aku akui, sesudah melihatnya sendiri, istilah ‘eksoskeleton’ ini kurang tepat sih). Ada latar dunia yang futuristis. Ada sekolah khusus yang perlu diikuti oleh para karakter utamanya. Ada pihak-pihak yang bermain di belakang layar.

Intinya, ada banyak hal keren di dalamnya yang membuatku tertarik. (Jadi, bukan. Bukan karena fanservice-nya. Walau, berhubung Oukuma-sensei yang merancang, aku memang sedikit tertarik sih.)

Salah satu perbedaan yang Hundred miliki dibandingkan sejumlah seri lain yang ‘mirip’ adalah bagaimana sekolah khusus yang menjadi latar cerita—yakni kapal induk sekaligus kota terapung di tengah laut bernama Little Garden—adalah sekolah campuran untuk cewek dan cowok. Jadi, tidak ada situasi ‘harem ekstrim’ seperti halnya di Infinite Stratos atau di Saijaku Muhai no Bahamut.

Di samping itu, juga adanya ancaman makhluk-makhluk buas misterius bernama Savage terhadap dunia. Monster-monster ini yang konon hanya bisa dilawan menggunakan senjata-senjata istimewa Hundred yang ditonjolkan seri ini.

Anime Hundred pertama keluar pada musim semi tahun 2016. Jumlah episodenya sebanyak 12. Produksinya dilakukan oleh studio animasi Production IMS. Sutradaranya adalah Kobayashi Tomoki. Naskahnya ditangani Shirane Hideki. Lalu musiknya ditangani oleh Naruse Shuhei.

Sebelum dibahas lebih jauh, Hundred sebenarnya bukan anime yang bagus.

Iya, ini sayangnya bukan judul yang akan aku rekomendasikan. Tapi, ada beberapa hal tentangnya yang sempat lama membuatku penasaran.

“Hundred On!”

Yah, singkat cerita…

Kisaragi Hayato, sang tokoh utama (bentuk Hundred: pedang katana dan pelindung lengan), terpilih masuk ke Little Garden karena memperoleh nilai kecocokan tertinggi sepanjang sejarah dalam tes kecocokan dengan Hundred. Tes kecocokan ini dilakukan untuk mencari bibit-bibit Slayer baru yang akan dididik menggunakan perangkat-perangkat Hundred.

Slayer ceritanya adalah istilah untuk orang-orang yang terlatih menghadapi serangan Savage. Mereka dilengkapi perlengkapan Hundred yang khusus digunakan oleh mereka sendiri.

Savage sendiri… bentuk mereka seperti makhluk-makhluk melata buas berukuran raksasa dengan kulit berwarna gelap dan garis-garis neon. Sejauh yang dipaparkan dalam cerita, belum terungkap dari mana asal mereka.

Hayato, ceritanya, adalah seorang remaja dari negara kepulauan Yamato (yang mirip Jepang). Dia dari sejak awal lumayan terlatih dalam ilmu bela diri. Dirinya juga bersedia menerima tawaran beasiswa di Little Garden karena sekalian bisa mendapatkan fasilitas perawatan mutakhir untuk adik perempuannya yang sakit-sakitan, Kisaragi Karen.

Tapi baru masuk, Hayato langsung mendapat masalah dengan para anggota Dewan Siswa. (Karena Hayato membela sejumlah siswi baru yang hendak langsung dikeluarkan karena terlambat mengikuti upacara.)

Dibeking oleh negara adidaya Liberia (mirip Amerika) yang memprakarsai penelitian terhadap Hundred, para anggota Dewan Siswa ini memiliki otoritas tertinggi di Little Garden. Selain mengatur sekolahan, mereka juga mengatur seluruh aspek komando pertahanan di pulau. Mereka dipimpin seorang perempuan berambut pirang bernama Claire Harvey (bentuk Hundred: drone-drone melayang pemancar sinar, yang bila disatukan bisa membentuk meriam raksasa), yang tidak segan memberi Hayato ‘ujian praktek’ langsung saat ia membangkang.

Untungnya, Hayato sebelumnya berkenalan dengan Emile Crossfode (bentuk Hundred: fleksibel, bisa berubah hampir menjadi bentuk apapun), seorang pemuda rupawan yang menawarkan diri menjadi partner sekaligus teman sekamarnya. Meski seangkatan dengan Hayato, dan berkesan lemah lembut, Emile ternyata seseorang yang sangat ahli dalam menggunakan Hundred.

Emile, bersama Hayato dan bakat alaminya, ternyata bisa menjadi lawan yang sepadan bagi Claire dan rekan-rekannya. Mereka sama-sama berhasil menunjukkan kalau Hayato memang seseorang yang layak dipertahankan.

Sampai ketika… Savage tiba-tiba menyerang. Keadaan darurat terjadi. Lalu, para Slayer harus bersatu karena kurangnya orang.

Lalu dalam aksi yang terjadi, Hayato menyadari kekuatannya yang sesungguhnya sebagai Variant. Lalu, ia memahami pula siapa Emile sesungguhnya…

Teman Lama, Teman Baru

Iya, pembuka ceritanya kurang meyakinkan. Iya, ada kesan “Intinya cuma gini doang?!” Lalu, iya, semua bahan yang diperlukan untuk membuat sesuatu yang rame itu ada, tapi entah gimana, semua jadinya… hanya sebatas demikian.

Ada banyak hal menarik yang terus diperkenalkan dan ditambahkan. Ada karakter-karakter menarik (seperti teman-teman Hayato dan Emile, si penembak jitu Fritz Granz dan teman masa kecilnya yang mungil, Latia Saint-Emillion). Ada teori-teori soal asal-usul Hundred dan manusia-manusia Variant. Ada masa lalu yang dibagi bersama dengan para karakternya (semisal, penyanyi idola Kirishima Sakura, yang ternyata pernah mengenal Hayato dan Karen di masa lalu, sekaligus juga pengguna Hundred). Ada misi-misi ke luar sekolah yang dikerjakan bersama pasukan multilateral. Ada campur tangan orang-orang misterius (seperti Judal Harvey, kakak lelaki Claire, kepala Warsiran Research Facility). Ada rahasia-rahasia yang tersembunyi di bawah Little Garden (seperti soal LiZA, yang konon adalah perwujudan adik perempuan Claire).

Tapi janggalnya, semua itu enggak benar-benar berujung ke mana-mana.

Dengan kata lain, di antara sepuluh anime yang diadaptasi dari seri LN GA Bunko di atas, Hundred adalah yang paling tidak menonjol.

Aku sempat susah menerima ini. Kok bisa sih hal ini terjadi?

Tapi, sesudah melihat perkembangan cerita di episode-episode berikutnya, lalu mengerti kalau ini pasti mengangkat cerita dari seri novelnya, aku kurang lebih jadi mengerti bagaimana staf produksi animenya jadi kurang termotivasi.

Sempat ada fans menerjemahkannya. Jadi aku sempat pula memeriksa versi novelnya seperti apa.

Untuk ukuran LN, narasi Misaki-sensei terbilang lumayan. Ceritanya juga cukup ringan untuk dinikmati. Tapi, sesudah diangkat jadi anime, Hundred memang bermasalah. Soalnya, meski punya banyak elemen menarik, struktur ceritanya kayak emang enggak cocok buat dijadikan anime.

Di samping itu…

Disangka… Demikian

Hundred kurasa semula hendak menonjolkan harem love comedy yang serupa dengan Infinite Stratos. But, it just doesn’t work. Berbagai kekonyolan cinta segi banyak itu enggak bisa ditonjolkan karena para heroine sendiri yang memang enggak(!) dalam posisi untuk terang-terangan memperlihatkan rasa suka mereka.

Oke, Hayato memang bukan karakter yang mencolok. Lalu dia juga bukan karakter yang dibenci juga. Dia archtype biasa untuk tokoh-tokoh LN seperti ini. Tapi, kalau bicara soal para heroine-nya…

Emile, sebagai contoh, memiliki identitas asli sebagai Emilia Hermit, teman masa kecil perempuan Hayato dari masa lampau. Dialah karakter perempuan utama di seri ini. Emile ceritanya pernah bertemu Hayato di masa lalu dan diselamatkan olehnya dalam suatu insiden serangan Savage di Kekaisaran Britannia (yang berujung pada berubahnya biologis tubuh mereka akibat virus Savage menjadi apa yang disebut Variant).

Kenapa Emilia menyamar sebagai lelaki? Aku juga… kurang paham.

Tapi, bukan cuma itu. Emilia juga aslinya adalah Emilia Gudenburg, putri ketiga dari Kekaisaran Gudenburg, suatu negara adidaya di dunia, yang telah disusupkan(?) ke dalam Little Garden. Jadi identitasnya dia itu berlapis tiga!

Di mata kita, sebagai penonton, Emile jelas-jelas perempuan (adegan-adegan fanservice yang menonjolkan Emile bahkan sudah ditampilkan sejak awal!). Tapi di depan umum, di dalam cerita, Emile harus menjaga jaraknya dengan Hayato. (Yang berujung pada bagaimana kedekatan antara mereka berdua membuat mereka terkesan homo.)

Hasilnya jadi… sangat… aneh.

Dia bukan karakter yang bisa kita sukai. Dari kepribadian enggak. Dari fisik, uh, entah, mengingat kebanyakan waktu, dia menyamar sebagai cowok. Tapi, dia juga bukan karakter yang akan kita benci juga. Dia sekedar… membingungkan. Lalu karena itu, jadinya kayak enggak punya daya tarik.

Intinya, kesannya jauh berbeda dari situasi Charlotte Dunois di Infinite Stratos yang untuk beberapa lama juga sempat menyamar sebagai cowok. Kasus Charl lebih berhasil. Aku sempat tak berkeberatan saat mengira dia benar-benar cowok (meski curiga). Tapi, aku juga enggak keberatan saat terungkap kalau dia cewek.

Oke. Aku juga bingung bagaimana harus menjelaskannya.

Selain Emilia, heroine berikutnya adalah Claire. Claire di mataku jelas lebih berkesan dibandingkan Emilia. Tapi, karena alasan jabatan dsb., dia pun enggak bisa terang-terangan mendekati Hayato. Dia itu kepala pasukan di sana. Dia enggak bisa berat sebelah kepada salah satu orang di dekatnya. Apalagi, dengan bagaimana dia selalu diikuti oleh kedua bawahannya, Liddy Steinberg, sang wakil seitokaicho pertama (bentuk Hundred: tombak dan perisai) yang tak kalah galak; dan Erica Candle, sang wakil seitokaicho kedua (bentuk Hundred: mirip yoyo dan kawat? Kurang efektif untuk melawan Savage berukuran besar) yang spesialis strategi dan sangat menghormati Claire.

Jadi, yah, kalian tahu maksudku.

Kemarahan yang Sulit Dimengerti

Production IMS pertama dikenal karena memproduksi season dua dan juga movie dari anime Date A Live. Mereka juga memproduksi Inari, Konkon, Koi Iroha yang terbilang mengesankan. Jadi, kalau soal kualitas, mereka sebenarnya bisa mengusahakannya.

Mempertimbangkan yang di atas, aku sempat terpaku melihat bagaimana Hundred memiliki kualitas teknis pas-pasan. Sesudah memikirkannya, aku curiga alasannya karena di kurun waktu yang sama, Production IMS juga mengerjakan proyek orisinil mereka, Active Raid, yang sayangnya, juga berakhir kurang begitu meledak.

Bicara soal kualitas teknis, animasi Hundred itu luar biasa standar. Sangat biasa. Tidak sampai jadi aneh atau jelek sih, tapi jelas enggak sekeren yang sempat aku bayang. Bahkan kalau mau bahas soal fanservice juga, tidak ada apapun tentangnya yang terbilang berkesan.

Tapi, di antara semua hal ‘biasa’ tersebut, ada dua aspek menonjol yang Hundred punya. Satu, aspek audio yang lumayan. Dua, adegan-adegan aksi.

Soal audio, efeknya bisa gede. Aku enggak bilang seri ini punya musik bagus. Mungkin levelnya hanya sekedar lumayan. Tapi, terasa ada perhatian yang diberikan terhadapnya gitu. Seri ini secara total memiliki empat lagu penutup, suatu hal menonjol untuk anime 12 episode dengan tema kayak gini. Ada tema idol yang tiba-tiba diangkat di tengah cerita. Rasanya aneh, tapi lumayan memperkaya nuansa yang seri ini bisa punya. Akting para seiyuu terbilang lumayan.

Lalu, soal aksi…

Jujur, inilah yang akhirnya paling membuatku penasaran soal Hundred.

Adegan-adegan aksinya enggak bisa dibilang bagus. Koreografinya biasa saja. Kebanyakan adegan juga berakhir dengan bagaimana Hayato intinya sekedar berhasil menyalurkan kekuatan terpendamnya. Tapi, pas lagi ada—dan mungkin juga ini cuma aku—selalu kayak ada beberapa detik—hanya beberapa detik—ketika intensitasnya benar-benar terasa.

Aku enggak mengerti bagaimana ini terjadi. Mungkin hanya akting para seiyuu-nya yang sekedar bagus. Intensitas tiba-tiba ini secara konsisten ada sampai menjelang akhir seri. Karenanya, aku sampai terdorong mengikuti perkembangan Hundred sampai tuntas.

Di samping itu, dengan berbagai misteri yang diangkatnya, pembangunan dunianya sebenarnya termasuk lumayan.

Merah Darah Kita

Akhir kata, Hundred kurasa bukan seri yang perlu kau pikirkan terlalu jauh. Di dunia ini ada lebih banyak hal yang lebih berarti untuk kita pikirkan. Tapi, buatku pribadi, ini lagi-lagi contoh soal gimana suatu kegagalan bisa lebih ‘mengajari’ kamu ketimbang suatu keberhasilan.

Karakter-karakter antagonis HundredVitaly Tnanov dan anak-anak buahnya: Krovanh Olfred, Nesat Olfred, Nakri Olfred; anak-anak yatim piatu Variant yang sempat menjadi budak—sebenarnya termasuk menarik secara konseptual. Lalu, kalau membaca versi novelnya, aku percaya ada banyak detil menarik soal dunianya yang bisa kita gali juga. (Semisal: nama masing-masing Hundred, kemampuan-kemampuan istimewa mereka, dan sebagainya.)

Hundred membuatku tertarik karena mengkhayalkan hal-hal ginian dalam lingkup yang konsisten dan logis ternyata sulit.

Oke. Melakukan apapun secara konsisten emang sulit. Jadi, pelajarannya mungkin juga ada di sana.

Man, aku lumayan kecewa saat sadar bahwa Claire bukan heroine utama.

Yah, sudahlah.

Penilaian

Konsep: E; Visual: C; Audio: B; Perkembangan:C-; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: C-

Mobile Suit Gundam: Iron Blooded Orphans (Season 2)

Kalian tahu kalau es krim Cornetto? Ada beberapa jenis tertentu yang enaknya cuma di awal-awal. Sesudah dimakan sampai ke dasar cone, meski masih ada cokelatnya, kadang yang tersisa hanya sensasi kering bikin haus yang beda sama sekali dengan kenikmatan manis di awal.

Apa kita puas sehabis memakannya? Yeah, mungkin masih. Tapi tetap saja, belakangnya sedikit mengecewakan karena enggak seenak bagian depannya.

Aku tadinya mau bahas season kedua Kidou Senshi Gundam: Tekketsu no Orphans segera sesudah animenya tamat. Aku bahkan menyiapkan kerangka tulisannya segala. Tapi begitu beres mengikutinya, kata-kata untuk menjabarkannya kayak enggak bisa keluar. (Ini bahasan season kedua, yo. Bahasan season pertama bisa ditemukan di sini.)

Alasannya mirip perumpamaan es krim Cornetto tadi.

Season dua Gundam IBO berdurasi 25 episode. Penyutradaraannya masih ditangani Nagai Tatsuyuki. Naskahnya masih ditangani Okada Mari. Musiknya masih oleh Yokoyama Masaru yang benar-benar sedang naik daun. Produksi animasinya masih oleh studio Sunrise. Musim gugur tahun 2016, episode pertamanya tayang.

Sambutan para penggemar lumayan antusias.

Dibandingkan seri-seri Gundam terdahulu, Gundam IBO benar-benar enggak biasa. Struktur ceritanya ‘ajaib’ dan susah ditebak. Perkembangannya sedemikian berbeda dari seri Gundam manapun sebelumnya. Karena itu, buat mereka yang bisa suka, seri ini benar-benar terbilang berhasil menarik fans lama maupun baru.

Tapi semuanya lalu memuncak dengan tamat yang… uh, agak susah dilupain.

Selain itu, musim tayang kali ini punya kesan lebih eksperimental. Aku bisa mengerti kalau ada banyak juga yang jadinya enggak suka dengan season ini.

Sisi baiknya: cerita Gundam IBO berakhir lumayan tuntas. Enggak banyak plot menggantung yang tersisa.  Tapi lebih banyak soal itu mending aku bahas di bawah.

Senang Bisa Kembali

Musim kedua ini berlatar dua tahun (walau ada sumber yang menyebut enam bulan; kayaknya yang bener dua tahun sih) sesudah berakhirnya Pertempuran Edmonton. Musim kali ini mengisahkan bagaimana kelompok Tekkadan pimpinan Orga Itsuka terlibat lebih jauh dalam intrik perpolitikan dunia internasional Gjallarhorn beserta keempat blok ekonomi (African Union, Oceanian Federation, SAU, dan Arbrau) di zaman Post Disaster.

Rinciannya menyebalkan kalau dipaparkan.

Ringkasnya, Tekkadan telah memperoleh kedudukan mereka di Mars. Mereka kini punya cabang di Bumi. Mereka bahkan berperan sebagai konsultan militer untuk perombakan pertahanan di pemerintahan blok ekonomi yang menaungi mereka, Arbrau.

Kudelia Aina Bernstein hidup terpisah dari keluarganya dan bekerja di Admoss Company, mengelola pengolahan dan distribusi bahan tambang strategis halfmetal dengan Bumi. Suatu panti asuhan telah didirikan untuk anak-anak terlantar di Sakura Farm. Kedua adik perempuan Biscuit Griffon, Cookie dan Cracker, sama-sama telah disekolahkan. Tekkadan sendiri secara resmi telah berada di bawah naungan langsung Teiwaz. Mereka kini memiliki kedudukan sejajar dengan kelompok Turbines yang dulu menampung mereka. Singkatnya, masing-masing berupaya membuat kehidupan di Mars jadi lebih baik.

Tapi, seperti yang Atra Mixta kemukakan di awal cerita, dunia sebenarnya masih belum berubah. Bahkan, keadaan mungkin telah bertambah buruk.

Hilangnya wibawa Gjallarhorn membuat kewenangan mereka diragukan. Pemberontakan dan kerusuhan terjadi di banyak tempat. Lalu yang menyedihkan, kemenangan Tekkadan atas Gjallarhorn seakan memperlihatkan pada dunia besarnya potensi yang dipunyai prajurit anak-anak. Akibatnya, semakin banyak anak-anak terlantar yang jadinya dilibatkan di medan perang dan dipaksa menjalani operasi berbahaya Alaya-Vijnana. Jumlah budak human debris bertambah. Mobile suit sekali lagi dikenali nilai militernya. Suatu balapan seolah dimulai untuk memulihkan dan memperbaiki apa-apa yang tersisa dari zaman perang besar.

Cerita dibuka dengan munculnya pihak-pihak yang, ringkasnya, mengajak Tekkadan berantem.

Sedikit demi sedikit, terindikasi ada pihak-pihak tertentu yang bermain di belakang pihak lain. Terkuak keterhubungan antara satu dengan yang lain. Perpecahan di dalam tubuh Gjallarhorn kemudian terjadi, yang ujung-ujungnya mempertaruhkan masa depan seluruh dunia.

Kajian Proklamasi Vingolf

Tokoh utama season sebelumnya, Mikazuki Augus, kembali berperan sebagai tangan kanan Orga. Mika kini mengemudikan MS Gundam Barbatos Lupus, perombakan baru dari Gundam Barbatos yang sudah lama ia gunakan. Meski sebagian saraf Mika telah cacat dalam pertempuran di Edmonton, itu tak menghalanginya menjalankan misi sekaligus latihan-latihan fisiknya secara konsisten.

Mika masih menjadi tokoh sentral, tapi season kedua ini sebenarnya lebih memakai pendekatan ensemble cast. Secara bergantian, berbagai karakter lain juga mendapat sorotan.

Orga kini lebih banyak bekerja di belakang layar. Orga kini mengurusi dunia asing di mana dia harus lebih banyak pakai jas dan menghadapi formalitas. Untuk itu, Orga banyak dibantu Merribit Stapleton untuk administrasi dan Dexter Culastor untuk keuangan.

Eugene Sevenstark mewakili Orga untuk manajemen langsung di Mars. Bersama-sama Eugene, Norba Shino, Akihiro Altland, dan Dante Mogro serta kawan-kawan lain menjaga penambangan halfmetal di Chryse yang dikelola Admoss Company dan melatih anggota-anggota baru.

Di antara anggota-anggota baru tersebut, termasuk di antaranya Hush Middy, yang sempat bingung dengan bagaimana kenyataan Tekkadan berbeda dari bayangannya; Dane Uhai yang berbadan besar dan pendiam; serta Zack Lowe, yang semula terkesan bergabung dengan Tekkadan lebih karena ikut-ikutan.

Di tempat lain, mantan human debris Chad Chadan dipercaya mengurusi cabang Tekkadan di Bumi. Dia dibantu sepeleton anggota Tekkadan yang dikoordinir Takaki Uno. Takaki merasa menempuh hidup baru karena adik perempuannya, Fuka, kini ikut bersamanya.

Chad sendiri heran dengan kepercayaan ini. Apalagi dengan bagaimana orang berlatar belakang pendidikan minim sepertinya jadi berhadapan dengan para pembesar Arbrau, termasuk sang perdana menteri sendiri, Makanai Togonosuke. Mereka turut dibantu seorang pria rekomendasi Teiwaz bernama Radice Riloto yang mengurusi bidang administrasi dan keuangan.

Masalah timbul saat seorang pria asing bernama Allium Gyojan muncul.

Gyojan adalah perwakilan kelompok aktivis Mars garis keras Terra Liberionis. Dirinya diindikasikan adalah pihak anonim yang sekian tahun silam memasukkan nama Kudelia ke pertemuan Noachis July Assembly. Di pertemuan yang memulai segalanya itu, Kudelia menyampaikan pidatonya soal kondisi Mars yang berujung pada berubahnya banyak hal. Gyojan kini ingin memanfaatkan Kudelia yang kini tenar. Untuk itu, Gyojan bahkan mengancam Kudelia lewat hubungan yang dipunyainya dengan Dawn Horizon Corps.

Dawn Horizon Corps adalah kelompok pembajak berskala besar pimpinan Sandoval Reuters. Mereka berbasis di luar angkasa dengan jumlah pasukan yang besar. Mereka tak senang dengan kemajuan Tekkadan. Karenanya, mereka bersedia untuk bersekongkol dengan Gyojan. Tapi, Tekkadan juga tak tinggal diam dengan ancaman ini.

Lewat koneksi ke Gjallarhorn melalui McGillis Fareed, Tekkadan kemudian mendapat cukup bala bantuan untuk berhadapan dengan Dawn Horizon Corps dan Terra Liberionis sekaligus. Tapi yang tak Tekkadan sadari, ini juga menyeret mereka ke dalam pusaran konflik internal  Gjallarhorn, yang dilandasi ambisi besar McGillis untuk menghancurkan tatanan dunia.

Macam-macam Kekuatan

Satu hal yang sempat bikin kaget dari Gundam IBO adalah premis cerita di season ini.

Berbeda dari seri-seri Gundam lain, konflik utama di seri ini timbul bukan karena alasan pribadi para tokohnya. Pemicunya lebih bersifat eksternal. Para tokohnya bahkan sempat dikasih pilihan untuk terlibat di dalamnya apa enggak.

Konflik ini jadi hal paling menarik sekaligus menyakitkan dari seri ini. Ceritanya tragis, tapi dengan cara berbeda dari seri Gundam manapun sebelumnya. Benar-benar susah mengumpamakan Gundam IBO dengan seri Gundam lain karena ceritanya saking beda sendiri.

Intinya, terjadi perseteruan antara dua pihak paling berpengaruh dalam Gjlallarhorn. Sebagaimana dikisahkan dalam season satu, meski berkuasa di Bumi, kekuatan terbesar Gjallarhorn adanya di luar angkasa. Pasukan di luar angkasa ini terpisah lagi menjadi:

  • Outer Earth Orbit Regulatory Joint Fleet (‘armada gabungan pengelola orbit luar Bumi’) yang kini dipimpin oleh McGillis Fareed, yang ditugaskan di sekitar orbit Bumi.
  • Outer Lunar Orbit Joint Fleet (‘armada gabungan orbit luar Bulan’) atau yang dikenal dengan nama Arianrhod, yang dipimpin oleh karakter baru Rustal Elion. Sempat ditampilkan di season terdahulu, mereka yang ditempatkan di luar orbit Bulan, dengan wilayah pengawasan lebih jauh dari Bumi yang berbeda dari McGillis.

Persaingan hidup mati McGillis melawan Rustal adalah inti konflik sesungguhnya seri ini.

McGillis, karena masa lalu pribadinya, memiliki ambisi untuk menghancurkan tatatan dunia yang sekarang. Sesudah konflik di Edmonton di season sebelumnya, kekuasaan tiga dari tujuh marga Seven Stars yang berkuasa di Gjallarhorn: keluarga Fareed, Bauduin, dan Issue; telah jatuh ke tangannya.

Di belakangnya, McGillis didukung seorang ajudan sangat setia bernama Isurugi Camice yang terlahir di luar angkasa. Kepada McGillis juga, Tekkadan berpihak. Tapi keberpihakan Tekkadan ke McGillis lebih karena alasan balas budi atas bantuannya melalui aliasnya, Montag, dan bersifat give and take, ketimbang karena mendukung ideologinya.

Di sisi lain, Rustal merupakan salah satu pahlawan terbesar yang kini dimiliki Gjallarhorn. Dirinya karismatik, cerdas, dan tangguh. Meski demikian, dirinya hampir tidak bermoral dan cenderung menghalalkan segala cara. Rustal ceritanya telah bisa membaca niat McGillis dan telah pula menduga hal-hal keji yang dilakukannya untuk meraih kekuasaan. Karenanya, Rustal akan melakukan segala yang bisa dilakukannya untuk menghalangi dominasi McGillis.

Di pihaknya, Rustal didukung oleh Iok Kujan, seorang pemimpin Seven Stars lain yang muda dan karismatik, tapi tidak kompeten; serta Julietta Juris, seorang pilot muda dengan asal usul dari luar Bumi yang juga sangat setia terhadapnya. Di belakang layar, di pihak Rustal juga hadir seorang pria bertopeng besi bernama Vidar yang misterius, yang memiliki misi pribadi untuk menghentikan McGillis.

Season 2 Gundam IBO pada dasarnya mengetengahkan adu siasat dan pengaruh antara dua orang ini. Keduanya sama-sama telah menguasai separuh dari organisasi. Keduanya juga menjalankan ‘perang boneka’ terhadap satu sama lain (salah satunya bahkan antara Arbrau dan SAU) sebelum memuncak dengan perang sesungguhnya antara mereka.

Tekkadan dan sekutu-sekutu mereka hanya terseret-seret saja.

Lalu iya, siapa yang baik dan siapa yang buruk jadinya tidak benar-benar jelas.

“Kita tak lagi bisa berhenti kalaupun kita mau.”

Season 2 IBO susah dibicarakan secara netral dan objektif. Karenanya, mending kita bahas soal teknis saja dulu.

Soal animasi, kualitasnya kurang lebih setara dengan musim lalu. Visualnya secara umum masih enak dilihat. Sebagian aksinya juga masih benar-benar seru. Tapi kualitasnya enggak sepenuhnya bisa aku bilang solid. Alasannya karena ada beberapa bagian yang kualitasnya tiba-tiba melemah atau dalam penggambarannya, tidak jelas apa yang baru saja terjadi. Ini terutama terasa dalam adegan-adegan mecha yang berlatar di luar angkasa.

Hmm. Aku juga belum yakin alasannya kenapa.

Penjelasannya mungkin berkaitan dengan konsep latar zaman Post Disaster. Kalian tahu, yang tidak menggunakan senjata-senjata beam? Mungkin cara koreografinya jadi sedemikian berbeda dibandingkan seri-seri Gundam lain. Intinya, dengan gimana pertempuran melee (jarak dekat) jadi lebih harus diutamakan ketimbang tembak-tembakan.

Alasan lain, mungkin juga ada kaitan dengan ceritanya yang jadi harus dibuat sedemikian padat. Rasanya tidak sampai terburu-buru sih. Tapi lumayan terasa gimana durasi untuk adegan-adegan aksi menjadi sangat terbatas.

Penjabaran lebih jauh buat aspek-aspek mechanya terasa kayak lebih diperlukan. Agar kita tahu MS satu ini kemampuannya segimana, MS lain bisa apa, dan sebagainya.

Di sisi lain, dari segi audio, kualitasnya cukup mencolok sih. Nada-nada BGM yang Yokoyama-san susun masih memikat. Ada banyak rentang emosi yang berhasil dihadirkan. Di samping itu, lagu pembuka pertama “Rage of Dust” yang dibawakan Spyair beneran keren. Lagu tersebut juga menandai comeback mereka ke kancah permusikan Jepang. Voice acting-nya pun termasuk solid. (Aku juga termasuk yang suka dubbing bahasa Inggris-nya IBO.)

Hanya saja, kayak sebagian aspek lainnya, ada sejumlah arahan yang jadinya mengundang tanya. Ini terutama terasa menjelang akhir cerita, ketika nuansa seri secara menyeluruh berkesan sendu dan melankolis. Agak susah menjelaskannya sih. Tapi kadang ada bagian-bagian yang terasa mengherankan kenapa dibikinnya demikian.

Tapi tetap saja, kalau ditanya bagus atau enggak, terlepas dari arahan kreatifnya, kualitas teknis IBO selalu lebih condong ke bagus. Meski iya, ada semacam kegajean juga jadinya.

Terlepas dari semuanya, lumayan tercermin bagaimana tim produksinya mengalami keterbatasan. Karenanya, mereka tetap patut mendapat pujian karena berhasil get the job done. Kalau aku tak salah, studio Sunrise juga menangani beberapa proyek lain di waktu yang sama. Mungkin proyek Gundam Thunderbolt yang lumayan memakan cukup banyak sumber daya. Jadi, gimana produksi Gundam IBO (secara argumentatif) masih bisa berakhir  bagus patut dihargai.

Nah, soal pendapatku pribadi: aku sebenarnya enggak punya masalah dengan apa yang diceritakan di seri ini. Dengan kata lain, aku enggak keberatan dengan gimana si A jadi matilah, atau si B jadi bernasib beginilah, dsb. Buatku pribadi, cerita Gundam IBO juga masih terbilang memikat dari awal hingga akhir.

Bahkan soal McGillis, yang di luar dugaan menjadi ‘karakter penggerak’ untuk seluruh cerita di seri ini, terus terang, aku cenderung condong ke pendapat yang menyukai dia. Aku cenderung setuju soal gimana dia salah satu ‘karakter Char’ paling menarik yang pernah diciptakan. Ya, ‘kejatuhan’ McGillis itu sangat menyakitkan. Tapi masa lalunya yang enggak enak, serta bagaimana McGillis sampai sedemikian dibutakan ambisinya sendiri juga sedemikian mirip tragedi masa lalu dan motif misterius Char Aznable di film layar lebar Char’s Counterattack.

(Adegan-adegan aksi menjelang akhir tetap masih kurang memuaskan sih. Enggak sampai jelek, tapi enggak sampai mendebarkan juga.)

Masalah yang sangat aku punya dengan season 2 Gundam IBO  ada pada cara pemaparannya. Pada bagaimana segala sesuatunya ditampilkan dan dijelaskan, terutama di bagian akhir.  Soalnya, entah gimana, pada suatu titik, nilai-nilai cerita yang berusaha disampaikan kayak bisa ambigu atau bahkan melenceng dari semula. Para karakter utama jadi terkesan sengaja disiksa-siksa. Bahkan, bisa-bisa ada yang malah jadi menanggapi kesimpulan ceritanya secara nihilistik.

Aku mengerti ada nuansa ‘abu-abu’ yang mau diberikan. Tapi caranya kayak ada yang… salah gitu? Sesuatu di penyampaiannya menurutku terlalu tiba-tiba dan kurang runut untuk hal sesensitif ini.

Pada akhirnya, meski banyak pengorbanan terjadi—dan aku seriusan enggak keberatan dengan gimana semua pengorbanan dan dendam itu ada—aku pribadi berharap kesannya di akhir bisa lebih dipertegas. Mungkin lebih baik kalau dibuat lebih optimis sekalian.

Aku perhatikan kalau sebagai penulis, Okada Mari-san yang kerap disalahkan dalam hal-hal begini. Tapi garis besar plot Gundam IBO (dan jenis kolaborasi lain seperti ini) kabarnya sudah ditetapkan sutradara dan staf produksi sejak awal. Okada-san hanya sekedar diminta untuk memberikan sentuhan khas beliau saja.

Tapi sudahlah. Apa yang terjadi, sudah terjadi.

Di samping itu, kompilasi layar lebar untuk Gundam IBO sudah diumumkan. Jadi ada kemungkinan kekurangan-kekurangan yang ada sekarang akan diperbaiki dalam film-film layar lebar nanti. Mudah-mudahan hasilnya bagus.

Legenda Agnika Kaieru

Yah, kayak biasa, mari kita singgung sedikit soal mecha.

Tapi sebelum masuk ke pembahasan soal mecha, satu hal yang mungkin luput aku bahas sebelumnya adalah soal kerangka mobile suit. Jadi, sebagai hal baru dalam waralaba Gundam, Gundam IBO memperkenalkan konsep Frame (‘rangka’) yang mendefinisikan sejumlah karakteristik dasar dari berbagai MS yang ada.

Sejumlah kerangka MS yang sudah diperkenalkan di semesta Post Disaster ini antara lain:

  • Gundam Frame, yang memiliki ciri khas berupa keluaran energi sangat besar berkat sepasang (jadi ada dua, bukan yang selazimnya satu) Reaktor Ahab yang bekerja secara bersamaan. Cara produksinya sudah terlupakan sejarah dan hanya ada 72 MS dengan Gundam Frame yang berakhir diciptakan. (Kesemuanya dinamai sesuai nama iblis-iblis Ars Goetia, jadi kalian bisa telusur nama-namanya dalam Wikipedia kalau mau. Tapi sejauh ini, desain yang sudah diungkap belum sampai 10.) Gundam Barbatos dan Gundam Gusion milik Tekkadan adalah contoh MS yang memakai rangka ini.
  • Valkyrja Frame, rangka berbobot ringan yang dikembangkan menjelang akhir Calamity War. Karena baru dikembangkan pada akhir perang, tidak banyak MS dengan rangka ini yang berakhir diciptakan. Salah satu MS dengan rangka ini adalah Grimgerde yang digunakan Montag di penghujung season pertama. Konon memiliki performa sangat tinggi, namun sulit digunakan.
  • Geirail Frame, rangka produksi massal yang konon diciptakan berdasarkan Valkyrja Frame. Memiliki keluaran cukup baik sekaligus tahan lama. Meski demikian, pemakaiannya kini terbatas. Jumlah MS dengan kerangka ini di masa ini konon hanya segelintir. Beberapa contohnya adalah Geirail yang diperkenalkan di musim ini dan pengembangannya, Geirail Scharfrichter, yang dilengkapi perlengkapan berat. Keduanya digunakan oleh para personil tentara bayaran Galan Mossa yang misterius.
  • Graze Frame, rangka MS utama yang kini digunakan Gjallarhorn dan telah diproduksi massal. Terutama dikenal karena fleksibelitas fungsionalnya. Ini adalah jenis rangka yang paling banyak ditampilkan dalam cerita. Konon ini adalah pengembangan lebih lanjut kerangka Geirail. Contoh MS yang menggunakannya adalah Graze yang menjadi dasar, Schwalbe Graze yang memiliki performa lebih tinggi tapi penanganan lebih sulit, dan Graze Ritter, modifikasi terbatasnya yang lebih berorientasi untuk pertahanan.
  • Rodi Frame, rangka MS yang dikembangkan di masa pertengahan Calamity War. Di masa kini, rangka ini yang paling banyak dipakai secara umum, terutama oleh jenis-jenis MS pekerja. Karena termasuk teknologi lama, keluarannya relatif tidak besar. Namun demikian, ada keseimbangan dalam berbagai aspek performanya. Man Rodi yang dipakai Brewers di season terdahulu, Spinner Rodi yang dipakai berbagai pihak, Garm Rodi yang dipakai Dawn Horizon Corps, dan MS produksi massal Landman Rodi yang baru milik Tekkadan, sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Teiwaz Frame, kerangka MS relatif baru yang dikembangkan sendiri oleh Teiwaz, dibuat berdasarkan sejumlah cetak biru yang diperoleh dari masa-masa akhir Calamity War. Meski begitu, MS dengan kerangka ini lazimnya memakai Reaktor Ahab kuno karena teknologinya dimonopoli oleh Gjallarhorn. Pengembangan kerangka ini lambat. Di samping itu, produksi MS yang menggunakan kerangka ini sangat terbatas. Asal usulnya pun terpaksa dirahasiakan. Kerangka ini sangat seimbang dalam segala aspek dan juga mampu menangani segala medan. Hyakuren dan Hyakuri (modifikasi Hyakuren dengan fokus ke kecepatan) milik keluarga Turbines, serta keluaran baru Hekija sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Io Frame, kerangka produksi massal yang berhasil dikembangkan dari teknologi Teiwaz Frame yang diperkenalkan di musim ini. Meski baru sama sekali, ada banyak kemiripan yang dimilikinya dengan Teiwaz Frame, seperti Reaktor Ahab kuno yang terpaksa digunakan padanya. MS dengan rangka ini lebih reaktif dibandingkan Teiwaz. Sensor sensitivitas tinggi juga dilengkapi di kepalanya, dan mudah disesuaikan untuk segala medan. Beberapa MS baru yang diperkenalkan di musim ini, Shiden, serta kustomisasinya, Shiden Custom/Ryusei-Go III/Riden Go sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Hexa Frame, kerangka MS paling banyak diproduksi sesudah Rodi Frame semasa Calamity War. Blok kokpitnya bukan di dada seperti rangka lain, melainkan di punggung, kepala, atau titik lainnya. Kerangka ini menonjol karena mengutamakan keselamatan pilot. Contoh MS yang menggunakan kerangka ini adalah Gilda dan Hugo, yang menyusun pasukan Dawn Horizon Corps.

Untuk lebih rinciannya, aku benar-benar suka desain Gundam Barbatos Lupus, tapi aku susah menjelaskan alasannya. Ada motif serigala yang diberikan padanya. Selama menggunakan MS ini, Mika tidak lagi menggunakan gada besar. Kini, dia sepasang pedang gada di masing-masing tangan. Ini juga masih dilengkapi sepasang senapan pendek yang terpasang di kedua tangan, sekaligus senapan laras panjang yang bisa dilipat. Ada sesuatu pada efisiensi desainnya yang benar-benar keren. Tapi yang membuatnya mengerikan, Barbatos Lupus benar-benar lincah dan teramat cepat.

Gundam Gusion Rebake yang digunakan Akihiro juga telah diupgrade menjadi Gundam Gusion Rebake Full City. Dikembangkan berdasarkan informasi baru dari zaman perang yang diperoleh Teiwaz sekaligus data pertempuran Akihiro sendiri, ini intinya adalah versi yang lebih sangar dibandingkan wujud yang sebelumnya.

Desain MS ini menurutku adalah jenis yang biasanya tidak diberikan ke karakter protagonis. Dilengkapi gunting raksasa yang bisa membelah zirah MS lawan, sekaligus juga subarm (lengan tambahan) yang dengannya, meningkatkan daya serang. Sama seperti Barbatos Lupus, Gusion Rebake Full City seimbang untuk segala keadaan, tapi memiliki titik berat lebih untuk pertempuran jarak dekat. Mungkin tidak terbilang cepat, tapi kekurangan itu diimbangi daya serangnya yang luar biasa besar. Apalagi dengan sensor kepalanya yang masih memungkinkan pertempuran jarak jauh.

Membahas MS produki massal, aku suka desain bulat Landman Rodi yang disesuaikan untuk penggunaan di Bumi. MS ini banyak dipakai oleh Dante, Chad, serta Takaki dan kawan-kawan mereka yang lain. Itu adalah desain MS produksi massal yang paling aku sukai di semesta Post Disaster.

Selain itu, Shiden yang baru juga keren. Ada Shiden Custom yang ditandai dengan tanduk satu dan pertahanan kuat yang dikembangkan untuk Orga, tapi ujung-ujungnya digunakan oleh Eugene. Shiden pada dasarnya adalah peningkatan dari Hyakuren, dengan kemampuan reaksinya yang lebih cepat.

Hekija, yang kemudian dipercayakan pada Hush sesudah ia menjadi pengikut setia Mika, menjadi peningkatan dari Hyakuren yang sesungguhnya. MS prototipe ini termasuk menonjol, tapi sayangnya terasa kurang disorot. Dengan keluaran setara Hyakuren, sekaligus kecepatan yang bisa mendekati Hyakuri, MS ini terbilang sangat lincah dengan banyaknya pendorong di berbagai persendiannya. MS ini dilengkapi persenjataan jarak dekat yang banyak berupa bilah-bilah tajam. Aku merasa bisa suka dengan MS ini andai saja ditampilkan lebih jauh.

Mewakili generasi muda Tekkadan, Ride Mass juga kini sudah mulai lebih aktif sebagai pilot. Dia mewarisi MS Graze Custom dan juga Shiden yang sebelumnya digunakan Shino, menamainya menjadi Riden-Go.

Alasan Shino mewariskan adalah karena kini dia jadi menggunakan MS Gundam ketiga yang Tekkadan peroleh, yakni Gundam Flauros (yang belakangan dinamainya Ryusei-Go juga), yang memiliki kemampuan transformasi untuk mewadahi fitur rail cannon-nya yang sangat mengerikan. MS ini ditemukan secara misterius di wilayah penambahan halfmetal. Tapi penemuan tersebut justru menjadi titik balik banyak hal.

Titik balik tersebut adalah penemuan mobile armor dorman yang belakangan diketahui bernama Hashmal.

Mobile armor (MA) ternyata adalah senjata-senjata otomatis berukuran kolosal yang ternyata diciptakan di masa silam. MA yang ditemukan tersebut ternyata masih bekerja, dan segera menarik perhatian Gjallarhorn, karena rupanya keberadaan MA justru adalah pemicu Calamity War. Semuanya diprogram semata-mata untuk memusnahkan umat manusia(!).

Senjata-senjata otomatis tersebut ternyata sedemikian kuatnya. Dengan teknologi nanomesin, mereka punya kemampuan membuat drone-drone berjumlah banyak yang disebut Pluma, kemampuan melepaskan tembakan beam (yang untuknya masih bisa ditangani dengan lapisan nanolaminate armor di kebanyakan MS!), dan bahkan kemampuan regenerasi!

Mereka seolah tak terhentikan di masa silam sebelum ke-72 Gundam Frame akhirnya diciptakan untuk memburu mereka.

Kemenangan atas Hashmal, yang harus dibayar mahal, berujung pada rekonstruksi Barbatos menjadi Gundam Barbatos Lupus Rex, wujud terkuatnya dalam cerita ini. Banyak yang bilang bentuknya menyerupai War Greymon dari waralaba Digimon, tapi aku pribadi lumayan suka.

Untuk pertempuran jarak dekat, Lupus Rex tidak lagi memerlukan senjata karena cakarnya yang terbuat dari logam komposit (yang sama dengan pedang-pedang Grimgerde) sudah cukup untuk mewadahinya. Untuk serangan jarak jauh, MS tersebut masih bisa dilengkapi senapan. Tapi yang paling mengerikan dari Barbatos yang ini, yang dipadukan dengan kecepatannya, adalah ekornya. Ekor tersebut diambil dari ekor Hashmal yang dapat menyasar musuh-musuh secara otomatis. Lewat sistem Alaya Vijnana, Mika bahkan merasa bisa punya ekor secara alami!

Ekor ini seakan jadi ekuivalen persenjataan bit/funnel di seri-seri Gundam lain.

Dari sisi Gjallarhorn, Julieta Juris dan Iok Kujan sama-sama menggunakan Reginlaze, MS produksi massal termutakhir Gjallarhorn. Bentuknya yang aerodinamis beneran menarik perhatian.

Dikembangkan dari Graze, Reginlaze konon didesain untuk memenuhi kebutuhan MS tipe baru selepas kekalahan Gjallarhorn dalam Pertempuran Edmonton. Baru diproduksi dalam jumlah terbatas, MS ini memiliki output dan daya serang lebih besar dari Graze, dengan lapisan pelindung yang lebih tebal. Meski demikian, strukturnya yang lebih sederhana dengan permukaan-permukaannya melengkung membuatnya relatif mudah ditangani bahkan melebihi Graze. Reginlaze tetap dirancang serbaguna seperti pendahulunya, dan dapat digunakan di berbagai medan dengan berbagai armamen.

Reginlaze milik Iok yang berwarna hitam-coklat gelap merupakan varian untuk komandan yang dikhususkan untuk serangan pendukung jarak jauh. Senjata utamanya adalah railgun jarak jauh yang mengandalkan kemampuan sensorik yang MS tipe ini miliki. Bentuk ini kemungkinan besar dipilih karena perhatian besar para pengikut Iok atas keselamatannya. (Terutama, karena Iok sendiri bukan pilot handal.)

Di sisi lain, Reginlaze milik Julieta dikustomisasi agar memiliki output dan mobilitas yang lebih tinggi lagi. Perlengkapan khusus Reginlaze punya Julieta adalah pasangan senjata jarak dekat prototip Twin Pile, yang memungkinkan peluncuran jangkar-jangkar kawat yang dapat menahan gerakan lawan.

Sesudah kekalahannya dalam konflik melawan MA Hashmal, Julieta mengajukan diri untuk menjadi pilot uji dari Reginlaze Julia, MS prototipe yang merupakan pengembangan lebih mutakhir lagi dari Reginlaze.

Dibangun dengan bentuk luar aerodinamis, Reginlaze Julia memiliki mobilitas dan keluaran sangat tinggi yang mengorbankan berbagai aspek dasar dari pendahulunya. Karena sifatnya yang sangat sensitif, MS ini hanya bisa digunakan oleh para pilot yang benar-benar terampil. MS ini juga dibangun dengan data pertempuran yang diperoleh dari Graze Ein, walau filosofi pengembangannya sangat berbeda mengingat penggunaan Reginlaze Julia yang dikhususkan untuk di luar angkasa. Di samping sepasang senapan mesin dan sepasang bilah pisau di kaki, Reginlaze Julia memiliki senjata andalan pedang cambuk Julian Sword di kedua lengannya, yang dibuat dari bahan serupa Valkyrja Sword milik Grimgerde.

Bicara soal Grimgerde, McGillis tidak lagi bisa memakainya dengan kedudukannya yang baru. MS tersebut kemudian dibongkar hingga ke rangka oleh Perusahaan Montag yang misterius, untuk mewujudkan rancangan kuno bernama Helmwige, menjadi MS baru bernama Helmwige Reincar.

MS bertanduk dan berpedang besar tersebut sangat menonjolkan pertahanan dan dirancang untuk tujuan pengawalan. Secara spesifik, pengawalan untuk menghadapi MA. Isurugi yang kemudian dipercaya sebagai pilotnya. Kehadirannya di medan pertempuran ternyata berperan kunci dalam mengalahkan Hashmal.

(Menariknya, Perusahaan Montag yang digunakan McGillis ternyata didasarkan oleh perusahaan yang pernah ada di sejarah Post Disaster, yang konon dibangun seseorang bernama Clive Montag. Siapa dirinya, dan apa signifikasinya bagi McGillis, masih jadi tanda tanya.)

McGillis sendiri menggunakan MS produksi massal biasa sampai ia berhasil menemukan cara untuk mengaktifkan Gundam Bael. Bael adalah MS pusaka milik Gjallarhorn di markas mereka, Vingolf. MS ini yang dulu digunakan oleh pendirinya, Agnika Kaieru, yang konon mengakhiri Calamity War. Didesas-desuskan bahwa barangsiapa yang bisa mengaktifkan Bael akan berhak untuk memerintah Gjallarhorn. Lalu lambat laun, McGillis rupanya telah menjadi terobsesi dengan MS ini.

Aku dulu sempat mengira kalau Bael akan menjadi final boss untuk Gundam IBO. Ada teori lain yang juga sempat berspekulasi kalau Bael nantinya akan digunakan Mika. Tapi tidak, McGillis menggunakannya secara pribadi di pihak yang sama dengan Tekkadan.

Mirip dengan Grimgerde, Bael menggunakan sepasang pedang berbilah emas yang konon tidak mungkin patah. Warna MS-nya yang keren menurutku selaras dengan desainnya yang sederhana dan konvensional. Dengan kecepatannya yang sangat tinggi dan daya pakainya yang lama, satu MS ini saja ternyata setara dengan sepasukan MS Gjallarhorn. Ini memang kurang berhasil ditonjolkan di animenya, tapi sepasang sayap Bael juga menyimpan electromagnetic cannon dengan daya hancur sangat besar.

Terakhir, MS paling misterius di seri ini adalah Gundam Vidar milik Vidar yang bertopeng. MS ini konon ditenagai bukan hanya oleh dua, tapi oleh tiga Reaktor Ahab (dengan yang ketiga untuk fungsi yang tidak diketahui). Waktu pembuatan dan pengembangannya lama. Karenanya, perlu waktu lama sampai Vidar akhirnya bisa menggunakannya. Keberadaannya juga dirahasiakan untuk waktu lama, sama halnya dengan keberadaan Vidar sendiri.

Gundam Vidar mungkin adalah MS dengan desain paling kompleks yang Gundam IBO hadirkan. MS ini dibuat untuk lincah sekaligus responsif ke segala arah. Kesan akhirnya benar-benar orisinil. Senjata utamanya adalah Burst Saber, bilah-bilah pedang ramping yang dapat diletuskan ke arah lawan dan juga diganti mata pedangnya. Selain senapan untuk segala jarak, MS ini juga dilengkapi sepasang pistol untuk aksi jarak dekat, dan juga pisau Hunter’s Edge yang terpasang di lutut.

Sebenarnya, ada upgrade untuk Gundam Vidar. Upgrade tersebut memberikan zirah tambahan dan juga seakan memberi ‘lapisan’ baru dalam persenjatannya. Tapi takkan kusebutkan di sini karena terlalu berpotensi spoiler. (Walau memang gampang ditebak sih.)

“Kita tak punya waktu untuk ragu-ragu. Tapi selama kamu tidak berhenti, aku juga tidak akan.”

Gundam IBO perlu diakui adalah seri yang memancing banyak komentar. Baik itu dengan latar cerita, karakter, plot, sampai desain mechanya. Ditambah lagi, ada banyak tema yang berusaha diangkatnya. Ada soal hubungan seks remaja (yang digali lewat masa lalu Atra yang ternyata dibesarkan di rumah bordil, sebelum ia bertemu dengan Mika dan Orga) dan juga soal LGBT (lewat karakter Yamagi Gilmerton).

Tapi pada akhirnya… entah ya, rasanya sulit berkomentar apa-apa.

Ada banyak yang berusaha disampaikan. Karenanya, kesimpulan yang bisa kita ambil tak boleh kita tarik dengan tergesa-gesa.

Akhir kata, kalau kamu tertarik pada Gundam IBO, ini seri yang sebenarnya oke. Ini jenis seri Gundam yang bisa menarikmu dari awal dan membuatmu takkan lepas hingga akhir. Tapi ini jelas enggak sempurna. Ada banyak kelemahannya. Akhir ceritanya antiklimaks sekaligus sedih. Adegan-adegan aksinya tidak buruk, tapi kurang memuaskan juga. Sisi bagusnya, seperti yang bisa diharapkan dari naskah Okada-san, adalah aspek dramanya yang sangat berkesan dan juga karakterisasi yang ‘jadi.’ Aku terutama terpaku pada adegan menjelang akhir saat Mika sedemikian mensyukuri segala yang akhirnya mereka—dirinya dan orang-orang tersayangnya—berhasil peroleh.

Jadi menurutku pribadi, bagus enggaknya tamat Gundam IBO, yang kontroversial, sebenarnya ditentukan oleh langkah para produsernya ke depan.

Kalau kelak Gundam IBO memperoleh sekuel (apalagi dengan pembangunan dunianya yang benar-benar bagus, dan belum semua rahasia Calamity War yang terkuak), maka tamat season ini bisa diterima. Tapi, kalau hanya sampai sebatas ini, dan jadinya ada semesta Gundam baru yang langsung diperkenalkan sebagai penggantinya, maka ini akhir yang enggak bagus. Soalnya, berbeda dengan kasus Gundam SEED Destiny, meski banyak kelemahannya, Gundam IBO berhasil kena ke hati banyak orang. Di samping itu, pangsa pasarnya ada, dan tak ada kendala berarti dalam hal produksinya.

Tapi memang jadi tanda tanya sih soal apa yang ada di pikiran Nagai-san sebagai sutradara.

Maksudku, karakter mekanik Yamazin Toka di episode terakhir benar-benar mengindikasikan ada suatu rahasia yang masih tersembunyi! Di samping itu, tiga blok ekonomi lain selain Arbrau juga belum disorot! Bagaimana juga dengan Gundam-Gundam lain yang belum terkuak?

Kalau itu semua berakhir tidak digali, kalian juga bakal setuju kan? Akhir cerita ini jadi benar-benar mengecewakan.

“…Aku tunggu kamu di sana.”

Yah, sebagai penutup, aku singgung sedikit tentang manga gaiden-nya, Mobile Suit Gundam: Iron Blooded Orphans Gekko. (‘Gekko’ di sini berarti ‘sinar bulan’)

Manga ini diterbitkan bersama oleh Kadokawa Shoten dan Hobby Japan dan diserialisasikan di majalah Gundam Ace. Sebagaimana halnya seri-seri Gundam lain, di manga ini ada berbagai desain MS variasi (MSV, mirip seri Astray untuk semesta Cosmic Era) yang ditampilkan bersama cerita yang menjadi ‘pelengkap’ cerita utama. Manga ini sendiri ditangani oleh Kamoshida Hajime, dengan desain karakter buatan Terama Hirosuke x Dango, serta desain mekanik oleh Gyoubu Ippei.

Garis besar ceritanya adalah tentang Argi Mirage, seorang pemuda dengan tangan kanan prostetik, yang tengah memburu suatu MS misterius tipe Gundam yang ia yakini telah membantai keluarganya. (Desain karakternya, secara aneh, sangat mirip Hush Middy, hanya saja dengan rambut lebih tebal dan mata lebih tajam.)

Bekerja sebagai tentara bayaran, Argi berselisih jalan dengan Volco Warren, pemuda pincang yang menjadi orang kepercayaan Ted Morugaton. Ted adalah pemimpin perusahan rute dagang  Tantotempo di koloni wisata Avalanche 5, yang berhubungan dengan mafia. Dalam insiden di mana nyawa Ted diincar, Volco membujuk Argi untuk bekerjasama.

Argi akhirnya setuju sesudah terungkap kalau Volco ternyata adalah pemilik apa-apa yang masih tersisa dari Gundam Astaroth. MS tersebut adalah salah satu dari 72 Gundam Frame peninggalan Calamity War, yang tengah berusaha dipulihkan Volco. Tidak lama sesudah pertama ditemukan dan dipulihkan sesudah Calamity War, suatu pihak misterius mencuri Astaroth dan mempreteli bagian-bagiannya. Memperoleh kembali bagian-bagian tersebut dan memulihkan Astaroth menjadi seperti seharusnya akhirnya menjadi misi pribadi Volco, yang terus diperjuangkannya… sampai Ted kemudian tewas.

Volco kesulitan mengemudikan Astaroth dengan kakinya yang cacat. Tapi dengan bantuan Argi dan tangan prostetiknya, yang menjalin koneksi saraf yang mendekati koneksi sistem Alaya-Vijnana, Astaroth bisa mereka fungsikan. Dengan menggunakan bagian-bagian MS lain sebagai pengganti bagiannya yang hilang, rangka tersebut menjadi Gundam Astaroth Rinascimento yang menjadi andalan mereka.

Bersama-sama, Argi dan Volco kemudian menjadi pelindung Liarina Morugaton, gadis remaja yang merupakan anak satu-satunya Ted. Mereka juga berusaha menelusuri pelaku sesungguhnya di balik penyerangan Ted, apa kaitannya dengan Astaroth, serta siapa pemilik MS tipe Gundam misterius yang mungkin telah menewaskan keluarga Argi.

Cerita Gekko banyak menyinggung soal dunia mafia, yang animenya baru sebatas singgung lewat grup Teiwaz. Meski Gjallarhorn berperan, mereka tidak banyak tampil. Lalu mirip seperti di seri-seri manga Gundam Astray, yang menjadi antagonis adalah berbagai pihak lain yang berkepentingan terhadap para tokoh utama.

Nuansa ceritanya sangat mirip manga Gundam MSV yang lain. Kadang perkembangannya memang sarat kebetulan. Tapi ceritanya masih terbilang rame.

Sayangnya, belum banyak info lebih jauh soal Calamity War yang diungkap di dalamnya. Jadi walau menarik, ceritanya mungkin masih belum cukup memenuhi rasa penasaran kamu sesudah animenya berakhir.

Tapi kayak biasa, desain-desain mechanya teramat keren. Itu jadi daya tarik tersendiri.  Gundam Astaroth Rinascimento misalnya, adalah MS asal jadi yang dilengkapi senjata di segala bagian agar ‘siap untuk segala situasi.’ Tapi hasilnya kurasa benar-benar keren.

Selebihnya, berikut terjemahan lirik dari “Rage of Dust” di bawah.

Lagi-lagi ini postingan panjang. Terima kasih udah baca sejauh ini.

Maaf juga karena ulasan ini lama. Ada terlalu banyak yang berusaha aku tangani belakangan.

Terlepas dari gimana parahnya keadaan dunia, jangan tunduk hanya karena kalian bintang-bintang kelas enam, guys. Lindungi yang berharga buat kalian. Kalau ada satu makna yang bisa kalian ambil dari Gundam IBO, ambillah itu.

“Rage of Dust”

by SPYAIR

fukai yoru no yami ni

nomarenai you hisshi ni natte

kagayaita rokutousei

marude bokura no you da

 

kurikaesu nichijou ni orenai you ni

 

kachitoritai mono mo nai

muyoku na baka ni wa narenai

sore de kimi wa iinda yo

girigiri to ikisama o

sono tame ni shineru nanika o

kono jidai ni tatakitsuketeyare

 

doudatte ii nayandatte

umarekawaru wake janai shi

mureru no wa suki janai

jibun ga kieteshimaisou de

 

afurekaetta rifujin ni makenai you ni

 

nakusenai mono mo nai

muryoku na mama dewa owarenai

dakara kimi wa ikunda yo

douse nara kuzu janaku

hoshikuzu no you ni dareka no

negaigoto mo seoi ikiteyare

 

kachitoritai mono mo nai

muyoku na baka ni wa narenai

sore de kimi wa iinda yo

hirihiri to ikisama o

sono tame ni shineru nanika o

kono jidai ni tatakitsuketeyare

 

muryoku na mama dewa owarenai

dakara kimi wa ikunda yo

douse nara kuzu janaku

hoshikuzu no you ni dareka no

negaigoto mo seoi ikiteyare

Agar tak tertelan pekatnya gelap malam

Dia berjuang dengan putus asa

Bintang kelas enam yang bercahaya itu

Bukannya bagaikan kita

Janganlah kalah dengan hari-hari yang terus berulang

Kau bukan orang bodoh yang apatis

Yang tak punya tujuan yang ingin diraih

Dirimu yang sekarang itu tak kurang apapun

Jalani hidup di garis tepi

Punyai sesuatu yang rela diperjuangkan sampai mati

Jadi buanglah itu semua ke muka zaman ini!

Tak ada artinya bagaimanapun juga

Memikirkannya takkan membuatmu bisa mengulang dari awal

Tak menyukai mentalitas kelompok

Jati dirimu terasa seakan hampir sirna

Janganlah tunduk pada dunia yang absurd

Tak punya apapun, selama masih tak berdaya

Jangan biarkan semua ini berakhir

Karenanya, kamu harus pergi!

Kalau memang berakhir sebagai debu

Sekalian saja jadilah debu bintang

Agar kau bisa terus menanggung mimpi orang lain

Kau bukan orang bodoh yang apatis

Yang tak punya tujuan yang ingin diraih

Dirimu yang sekarang itu tak kurang apapun

Jalani hidup di garis tepi

Punyai sesuatu yang rela diperjuangkan sampai mati

Jadi buanglah itu semua ke muka zaman ini!

Jangan biarkan semua berakhir selama kau tak berdaya!

Karenanya, kamu harus pergi!

Tapi kalau harus berakhir sebagai debu

Jadilah sekalian debu bintang

Agar kau bisa terus menanggung mimpi orang lain

Penilaian

Konsep: A; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: X; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B

Seiren

Seiren itu aneh.

Aku punya alasan pribadi untuk mengikuti Seiren (judulnya kira-kira berarti: ‘kejujuran’, ‘sungguh-sungguh’), tapi cerita Seiren enggak kusangka bakal seaneh ini.

Sedikit info dulu.

Seiren diproduksi bersama oleh Studio Gokumi dan AXsiZ. Pertama tayangnya di musim dingin awal tahun 2017.

Aku antusias saat Seiren diumumkan. Alasannya, karena produksinya mengusung nama Takayama Kisai.

Takayama-san adalah ilustrator sekaligus pencetus game Amagami. Adaptasi anime Amagami, Amagami SS dan Amagami SS+, sempat menarik perhatian beberapa tahun lalu. Aku sempat suka. Lalu begitu tahu kesuksesan itu hendak diulang dengan bagaimana Takayama-san mendesain karakter sekaligus menangani naskah Seiren, aku tentu saja jadi tertarik.

Selain beliau, musik ditangani Nobusawa Nobuaki. Penyutradaraannya ditangani Kobayashi Tomoki yang belakangan dikenal berkat anime aksi Akame ga Kill!.

Berbeda dengan Amagami, Seiren murni diproduksi sebagai anime. Tidak ada game pendahulu yang padanya ini didasarkan.

Meski begitu, sama halnya Amagami SS dan sekuelnya, Amagami SS+, Seiren mengadopsi format omnibus. Seri ini terbagi ke dalam bab-bab berbeda yang berpusar pada karakter perempuan utama yang berbeda pula. Cerita dalam satu bab tidak berhubungan dengan bab lain (meski ada banyak hal yang sama di dalamnya). Jadi begitu memasuki bab baru, cerita seolah berulang dari awal dengan arah perkembangan yang berbeda.

Musim pertama Seiren sepanjang 12 episode. Dengan tiga heroine utama, mengikuti formula Amagami SS, masing-masing bab mendapat durasi empat episode. Tiap bab juga punya lagu penutup berbeda yang dinyanyikan pengisi suara heroine terkait.

Aku menyebutnya ‘musim pertama’ karena direncanakan ada musim kedua kalau anime ini sukses. Tapi lebih banyak soal itu mending aku singgung nanti.

Sekali lagi, Amagami SS dan sekuelnya, Amagami SS+, adalah komedi romantis dengan sisi-sisi lucu dan unik. Tapi komedi romantis di Seiren itu lebih ke arah… aneh.

Aneh… gimana ya?

Enggak kepikiran kata lain yang bisa menjabarkannya.

Venison

Seiren berlatar di SMA Kibito, sekolah yang juga menjadi latar Amagami. Bedanya, Seiren berlatar pada masa sembilan tahun sesudahnya. Ada beberapa tempat di Amagami yang bahkan dikunjungi lagi di Seiren. Mungkin kau takkan langsung sadar, tapi desain seragam para tokohnya juga sama.

Seiren bercerita tentang pengalaman-pengalaman romantis(?) Kamita Shouichi, siswa kelas dua di SMA Kibito yang dihadapkan pada sejumlah perempuan berbeda saat mulai memikirkan tentang masa depan.

Shouichi ceritanya adalah adik lelaki Kamita Tomoe, siswi kelas tiga populer yang juga bersekolah di Kibito.

Moe-nee adalah pemenang kontes kecantikan Miss Santa pada Festival Pendiri Sekolah tahun sebelumnya. Karenanya, berkat hubungannya dengan kakaknya, Shouichi sedikit banyak mulai ikut dikenal juga.

Di sekolah, Shouichi bersahabat dekat dengan Nanasaki Ikuo, kawan sejak kecilnya yang kalem dan pintar.

Meski enggak blak-blakan diungkapkan, Ikuo ceritanya adalah adik lelaki Nanasaki Ai, salah satu heroine di Amagami. Jadi lagi-lagi ada sedikit keterhubungan di sini. (Untuk kalian yang lupa, Ai itu yang anggota klub renang, gadis cool salah satu teman dekat Miya, adik perempuan Tachibana Junichi, si tokoh utama. FYI, Junichi juga sempat tampil sebagai cameo.)

Karena kegemaran mereka ke game center, Shouichi dan Ikuo juga akrab dengan seorang kakak kelas bernama Araki Tetsuya. Araki-senpai yang tampan banyak dikagumi siswi-siswi di sekolah mereka. Tapi tanpa banyak orang tahu, Araki sebenarnya penyayang binatang. Entah bagaimana, hal itu jadi membuatnya punya sisi kepribadian yang sedikit aneh.

Ada tiga tokoh utama perempuan yang Seiren sajikan (di paruh ini). Masing-masing seolah mewakili angkatan yang berbeda. Sesuai urutan bab mereka, ketiganya adalah:

  • Tsuneki Hikari, teman sekelas sekaligus siswi paling dikenal di angkatan Shouichi. Hikari yang lincah dan memikat menjadi runner up kontes Miss Santa tahun lalu (kalah dari Tomoe, kakak perempuan Shouichi). Sifatnya ceria, senang makan tapi gemar olahraga, dan terkadang keras kepala. Hikari juga diam-diam bekerja paruh waktu sebagai koki dan pelayan di suatu restoran, meski sekolah sebenarnya tidak memperbolehkan. Cerita babnya mengetengahkan bagaimana Hikari dengan enggan mengikuti sekolah musim panas yang juga diikuti Shouichi dan Ikuo. Bagaimana Shouichi tak bisa membiarkan Hikari sendirian lambat laun memunculkan desas-desus tentang mereka. Desas-desus tersebut malah dikompori Hikari sendiri, mendorong Shouichi untuk bersikap serius tentang hubungan mereka.
  • Miyamae Toru, kakak kelas dan teman akrab Moe-nee yang diam-diam jago ngegame. Meski sering ngegame, nilai-nilai pelajarannya juga terbilang bagus dan ia pun pandai berolahraga. Meski begitu, Toru kerap kesulitan bicara dengan orang kalau tak punya kesamaan. Cerita babnya diawali dengan bagaimana Toru jadi sering bertukar item dengan Shouichi, Ikuo, dan Araki. Saat Shouichi menjadi partnernya dalam suatu game robot-robotan, Shouichi jadi tertarik lebih jauh dengan kepribadiannya. Toru ternyata pernah akrab dengan Hikari di waktu SMP.
  • Touno Kyouko, adik kelas sekaligus teman sejak kecil Shouichi selain Ikuo. Penampilannya cantik dan manis. Dia murid teladan. Tapi dia juga gemar membaca komik cewek dan punya jalan pikiran sedikit kekanakan. Cerita babnya diawali dengan bagaimana Kyouko meminta Shouichi menemaninya makan pancake. Ini mengawali serangkaian kejadian yang membuat keduanya sama-sama mulai mengkaji hubungan mereka.

“Rasanya luar biasa saat kamu menendangku dari belakang.”

Secara konseptual, Seiren menurutku lebih bagus dari Amagami.

Dalam perkembangannya, memang ini terkadang dikesampingkan sih. Tapi tema yang diangkat Seiren sebenarnya tentang menghadapi masa depan. Inilah yang kemudian membuatnya jadi bagus.

Daripada soal hubungan dengan para heroine-nya, Seiren sempat terasa kayak seri drama kehidupan yang lebih umum. Jadi bukan cuma soal hubungan cinta saja yang diangkat. Diangkat juga berbagai hal lain seperti sekolah, hobi, minat, dsb. dalam kehidupan para tokohnya.

Secara mengesankan, ini tertuang dalam berbagai pikiran Shouichi. Jadi kayak, sesuatu yang selalu membayang-bayanginya secara bawah sadar gitu.

Masalahnya… mungkin ada di visi konsepnya yang belum mateng kali ya?

Awal cerita Seiren menurutku lebih menarik dari dugaan. Secara tersirat, berbagai hal tentang kehidupan para karakternya tercermin dari sikap, kebiasaan, dan cara bicara mereka.

Seiren sama sekali enggak kelihatan kayak anime dating sim yang biasa. Nuansanya beneran kerasa begitu berbeda dari Amagami.

Sayangnya, di sepanjang dua bab pertama (bab Hikari dan Toru), fokus ceritanya kayak gagal kebangun gitu. Aspek hubungan antar karaternya kurang berhasil terjalin. Akibatnya, daya tarik di awal tersebut jadi menurun dalam pelaksanaannya. Kualitasnya tak pernah benar-benar sampai berhasil menyamai kesan kuat Amagami SS.

Menyakitkannya, ini tuh benar-benar murni masalah naskah. Masalah ini juga mungkin terhindari seandainya Seiren hasil produksi dari satu studio, dan bukan kolaborasi dari dua.

Kalau membahas soal teknis sih, animasi Seiren sebenarnya punya banyak saat yang terkesan ‘kaku.’ Kualitasnya termasuk biasa. Pengarahannya—soal gimana visualnya dipadu dengan dialog dan musik dalam satu adegan—terkadang kayak masih kurang pas.

Padahal dari segi audio, seri ini termasuk lumayan. Voice acting-nya enggak buruk. Di samping itu, musiknya lumayan dan sejumlah lagu-lagunya juga terbilang enak didengar.

Soal desain karakter Takayama-san, ada yang berpendapat desain karakter Seiren terlalu mirip dengan satu sama lain. (Ketiga heroine sama-sama kurus dan berambut panjang, misalnya.)

Aku memang agak merasa beliau terlalu memasukkan selera pribadi beliau di dalam seri ini sih. Tapi aku juga merasa konsep multidimensi yang Seiren usung soal ‘masa depan’ dan ‘kehidupan’ juga agak berperan.

Susah jelasinnya.

Intinya, aku menduga pembagian kerja antara kedua studio menjadi faktor terbesar yang mempengaruhi hasil akhir Seiren. Visi para pembuatnya masih belum menyatu. Jadinya, visi tersebut juga kurang berhasil diterjemahkan saat seri ini sudah harus tayang.

Tapi yang mengejutkan dari Seiren, kualitas teknis dan naskahnya tiba-tiba mengalami kenaikan sekitar pertengahan seri. Para staf seakan menemukan momentum mereka lagi.

Seiren jadi punya episode-episode terakhir yang lebih berkesan dari episode-episode awal. Babnya Kyouko ternyata jauh lebih berkesan dibandingkan babnya Hikari dan Toru.

Iya, tetap aja ini terasa aneh karena format ceritanya yang omnibus sih.

Nah, bicara soal itu…

“Aku jadi benar-benar gugup saat membayangkan bisa punya keturunan sama kamu.”

Balik lagi soal cerita, Seiren itu… ceritanya aneh.

Seriusan aneh.

Di atas kertas, memadukan elemen-elemen drama komedi dengan soal cita-cita, impian, sekaligus romansa bukan ide buruk. Tapi untuk Seiren, keanehan ini yang justru jadi kekuatan sekaligus kelemahannya yang terbesar.

Kekuatannya karena… enggak ada anime lain yang mirip Seiren. Bahkan Amagami SS juga enggak!

Kelemahannya karena… Seiren jadi cenderung datar buat sebagian orang. Agak membosankan. Inti ceritanya jadi agak sukar dipahami. Itu sesuatu yang enggak semestinya terjadi buat konsep kayak gini.

Sekali lagi, andai Seiren diproduksi sama satu studio, keanehan yang jadi kelemahannya ini kayaknya bakal langsung disadari dan kemudian diperbaiki. Tapi karena diproduksinya oleh dua, keanehan dalam naskahnya itu kayak baru ketahuan belakangan.

Ringkasnya, selain plotnya kerap mengawang, selalu ada sesuatu yang ‘ajaib’ di dialognya.

Pas kamu dengerin pertama kali, awalnya kamu akan biasa-biasa saja. Tapi sedetik berikutnya, pas kamu memikirkannya lagi, reaksi kamu bisa jadi, “Wut? Barusan dia ngomong apa?” karena saking anehnya apa yang diucapkan.

Nah, dialog-dialog kayak gini yang jadi kekhasan Seiren. Dan ini konsisten ada di ketiga bab.

Amagami SS juga punya fanservice yang ‘aneh’ gitu kan? Kamu nanya apa di dalamnya Seiren juga ada apa enggak? Jawabannya: iya, tapi enggak sebanyak Amagami. Cuman, pas ada, keanehan di Seiren itu bisa sekian kali lipat melebihi Amagami.

Seiren seriusan patut dipuji karena bisa kepikiran segala macem inuendo kayak gini.

Lalu, soal plotnya…

Satu hal aneh lain tentang Seiren: kalau dalam Amagami misalnya, seorang heroine tidak akan terlalu berperan dalam bab heroine lain. Kalau dalam Seiren, mereka kayak punya peran lebih aktif. Malah kayak bisa ada konflik antar mereka.

Jadi, struktur bab yang katanya omnibus tersebut sebenarnya lebih kayak struktur perkembangan cerita di Fate/stay night ketimbang Amagami. Hal-hal yang dipaparkan di satu bab terus terbangun sampai ke bab berikutnya begitu. (Seperti soal subplot soal cinta terpendam Ikuo.)

Tingkatinteraksi antar karakter heroine di Seiren emang jadi lebih banyak. (Terutama dengan adanya Hikari.) Lalu kurun waktunya secara kronologis memang Hikari –> Toru –> Kyouko. (Memberi semacam kesan What if? pada masing-masing skenario.) Tapi iya, buat anime yang harusnya romansa kayak Seiren, ini jadi terasa luar biasa aneh.

Sisi baiknya, sekali lagi, adalah gimana bab Kyouko jadi memuaskan sebagai penuntas seri.

Ceritanya Kyouko emang berbeda sendiri. Memang terasa seperti ada elemen-elemen cerita yang dicomot dari babnya Rihoko di Amagami SS dan Amagami SS+. Bahkan sampai ada karakter expy dari dua karakter senpai di Klub PKK segala! Tapi kalo aku ditanya akhirnya bagus apa engga, menurutku pribadi, akhirnya termasuk bagus.

Seandainya Seiren dikasih kesempatan lanjut, mungkin saja season keduanya bakal beneran ngejutin.

Legenda Gudang Pompa

Sebagai penutup, ada lumayan banyak karakter yang berperan dalam Seiren. Tapi tiga karakter berikut yang sebenarnya telah direncanakan sebagai heroine untuk season keduanya.

  • Hiyama Miu, siswi pingitan anggota klub renang SMA Putri Sakuragawa Nishi. Masih awam soal berbagai seluk beluk dunia. Dirinya pertama kali diperkenalkan sebagai sesama peserta sekolah musim panas di bab Hikari.
  • Kamizaki Makoto, siswi kelas satu anggota komite disiplin di Kibito. Teman dekat Kyouko. Dirinya tidak terbiasa berkonfrontasi dengan orang. Dia ditampilkan secara menonjol di bab Toru saat hendak mengambil foto di game center. (Ada indikasi kalau dirinya adalah adik perempuan Kamizaki Risa, karakter rahasia di Amagami.)
  • Sanjou Ruise, ketua komite disiplin yang agak galak, sekaligus atasannya Makoto. Dirinya berperan mencolok di bab Kyouko sebagai sosok yang mendorong Klub PKK untuk membuatkan rancangan hiasan.

Selain mereka, juga ada teman-teman dekat Hikari (yang punya hubungan kompleks dengannya). Ada Nagasawa Shiori, teman Moe-nee dan Toru, yang baik hati membantu dalam hal Comima. Lalu ada… dua orang karakter cowok yang seakan menjadi penggemar para cewek cantik di SMA Kibito. (Sayang mereka enggak lebih banyak berperan.)

Selebihnya, para karakter expy: ada Yoshida Mako di sekolah musim panas yang desainnya hampir sama persis dengan Tanaka Keiko, teman dekat Tanamichi Kaoru di Amagami. Lalu dua kakak kelas Uno Koharu dan Tokioka Nao punya sifat dan tampang yang sama persis dengan Yuzuki Ruriko dan Hiba Manaka di Amagami. Mereka bahkan sama-sama jadi anggota Klub PKK?

…Sejujurnya, aku jadi curiga apakah terjadi perubahan naskah secara mendadak menjelang akhir seri.

Akhir kata, Seiren mungkin terkesan membosankan. Tapi kalau kau bertahan, yah, ada hal-hal di dalamnya yang enggak akan kamu temukan di tempat lain.

Kalau kau fans Amagami, kamu enggak bener-bener perlu mengikuti Seiren. Tapi kalau kau sudah jadi fans Amagami saat mengikuti Seiren, ada sejumlah hal menarik yang bisa tiba-tiba kau sadari selama mengikutinya.

Sekali lagi, anehnya Seiren bukan aneh gila kayak di seri-seri komedi kocak kayak Excel Saga atau Nichijou gitu. Melainkan ‘aneh’ yang sekilas kelihatan normal, tapi saat kamu nyadar, lambat laun bikin kamu “Hah? Haah? HAAAAAAH?!”

Itu yang membuatnya jadi menarik.

(Di samping itu, aku lebih dari bersyukur bisa mendengar nyanyian Oku Hanako lagi.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: C+; Audio: B-; Perkembangan: B-; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: B+