Mobile Suit Gundam Narrative [Review]

Mobile Suit Gundam Narrative dapat dipandang dengan beberapa cara.

  • Film bioskop Gundam pertama sejak Gundam 00: A Wakening of the Trail Blazer di tahun 2010.
  • Sekuel seri OVA/TV Gundam Unicorn.
  • Anime yang berdiri sendiri.
  • Film pertama rangkaian proyek animasi UC NexT 100, yang nanti diikuti film-film baru dalam linimasa Universal Century

Kidou Senshi Gundam Narrative disutradarai Yoshizawa Shunichi (sutradara seri Gundam Thunderbolt). Naskahnya ditangani penulis novel militer Fukui Harutoshi berdasarkan novel yang beliau penai sendiri. Musiknya ditangani musisi ternama Sawano Hiroyuki. Film layar lebar (bukan OVA) ini rilis di Jepang pada 30 November 2018. Ceritanya di luar dugaan tuntas dalam 90 menit.

Anime ini merupakan sekuel seri OVA Mobile Suit Gundam Unicorn. Cerita Gundam Narrative mengadaptasi novel kesebelas Gundam Unicorn karya Fukui-sensei, Phoenix Hunting (yang diterbitkan beberapa tahun sesudah cerita utamanya berakhir), meski dengan banyak perubahan signifikan.

Menurutku, Gundam Narrative menempati posisi aneh. Di satu sisi, film ini ingin berdiri sendiri. Tokoh-tokohnya baru. Konfliknya segar. Ceritanya seperti akan jadi awal sesuatu yang lain. Arahannya pun berbeda nuansa (meski mirip) dibandingkan Gundam Unicorn. Di sisi lain, ceritanya sedemikian terkaitnya dengan Gundam Unicorn, sehingga sulit dipandang sebagai sesuatu yang terpisah. Apalagi, film ini lagi-lagi mengangkat tema kemanusiaan dan perdamaian yang sama seperti di seri-seri Gundam semesta UC sebelumnya.

“Apa kamu percaya surga itu ada?”

Cerita dibuka dengan terbangunnya Jona Bashta dari suatu mimpi masa lalu. Mimpi itu berakhir dengan penampakan burung raksasa berwarna keemasan.

Jona yang berusia 25 tahun memiliki masa lalu agak rumit. Melalui penceritaan maju mundur, terungkap bahwa Jona adalah perwira militer muda Federasi Bumi yang tengah ‘dipinjamkan’ kepada Luio & Co., perusahaan dagang multinasional yang berbasis di New Hong Kong, untuk suatu kepentingan rahasia.

Salah satu orang terpenting di Luio & Co. adalah perempuan muda bernama Michelle Luio. Michelle ternyata adalah teman masa kecil Jona. Michelle yang galak dan tegas merupakan anak angkat Woomin Luio, pendiri perusahaan Luio & Co, yang pada saat cerita ini berlangsung, tengah menjalani tidur panjang kriogenik.  

Dikisahkan, Michelle memiliki reputasi sebagai ‘peramal’ yang disegani dunia bisnis karena dengan tepat telah memprediksi berbagai perkembangan dunia dalam dekade terakhir. Dengan kemampuannya, Michelle telah membimbing Luio & Co. menjadi perusahaan yang sangat kaya dan berkuasa.

Kepentingan yang melibatkan Jona, Michelle, dan Luio & Co. rupanya adalah misi untuk memburu MS misterius Unicorn Gundam 03 Phenex. Sedemikian istimewanya misi ini, pelaksanaannya sampai menembus batas-batas kewenangan normal.

Dikisahkan, Phenex merupakan MS berharga yang merupakan unit ketiga dari Unicorn Gundam. Unicorn Gundam yang sangat canggih menjadi pusat rangkaian kejadian Insiden Laplace setahun sebelumnya. Phenex, yang kecanggihannya setara Unicorn, hilang selama dua tahun semenjak lepas kendali dalam suatu upaya uji coba. Setelah sekian lama, Phenex secara misterius akhirnya muncul kembali di luar angkasa.

Kolaborasi Luio & Co. dan kemiliteran Federasi dalam memburu Phenex sayangnya terendus suatu pihak di dalam Republik Zeon. Orang-orang berkepentingan di faksi Zeon yang baru ini mengutus kesatuan pimpinan Zoltan Akkanen, seorang perwira dengan kondisi kejiwaan tidak seimbang. Misi Zoltan adalah untuk mendapatkan Phenex dengan segala cara, apapun yang terjadi, sebelum pasukan Federasi.

Masalahnya, Jona dan Michelle ternyata punya alasan pribadi mereka untuk mengejar Phenex. Pilot uji Phenex, yang berada di dalamnya saat unit tersebut hilang, adalah Rita Bernal, teman masa kecil mereka yang dulu gagal mereka selamatkan.

Apa Kamu Percaya Akhirat Itu Ada?

Meski enggak semua fans Gundam suka Gundam Unicorn, sebagai rilisan pertama proyek UC NexT 100, Gundam Narrative segera menuai hype. Kualitas animasi trailer-nya benar-benar keren. Nilai-nilai produksinya tinggi. Ditambah adanya keterkaitan erat dengan Gundam Unicorn, para penggemar era Universal Century berhasil dibuat penasaran.

Film ini juga menjadi anime bioskop Gundam terbaru semenjak Gundam 00: A Wakening of the Trailblazer (yang dinilai kurang begitu bagus). Sudah hampir 10 tahun sejak Gundam muncul di layar lebar. Apa iya Gundam Narrative bakal bagus?

Untungnya, seakan mewujudkan pengharapan penggemar, Gundam Narrative sama sekali tidak mengecewakan. Cerita Gundam Narrative berbobot. Adegan-adegan aksinya berkesan. Dari konsep sampai eksekusi, Gundam Narrative sama sekali tidak jelek. Cuma… mungkin karena isu durasi, meski dengan semua kelebihan itu, tetap terasa seperti ada yang ‘kurang’ dari Gundam Narrative. Sesuatu yang membuatnya terasa harusnya bisa lebih bagus dari ini.

Sedikit info latar belakang dulu.

Gundam Narrative berlatar di semesta Universal Century. Semua seri Gundam di semesta ini punya keterkaitan sejarah dan tema dengan satu sama lain. Maka dari itu, aku sempat mengira Gundam Narrative bakal susah diikuti oleh penggemar awam. Apalagi, film ini sekuel langsung Gundam Unicorn yang aku nilai bagus, tapi punya tema dan konsep-konsep yang bisa agak sulit dicerna. 

Kenyataannya, tidak. Kamu masih bisa menikmati Gundam Narrative meski belum tahu apa-apa tentang Gundam. Cuman… mungkin kamu bakal agak bingung saja.

Meski Gundam Narrative bisa dinikmati sebagai cerita yang berdiri sendiri (Aksinya keren. Para karakternya baru. Ceritanya tak menggantung. Nasib para karakternya jelas di akhir cerita.), konsep-konsep yang membangun konteks ceritanya ini (menurutku) kurang berhasil tersampaikan.

Jadi, dalam ceritanya, disampaikan ada isu soal teori Newtype. Soal ‘sub-ras’ manusia Newtype. Lalu, soal hak-hak dan pengakuan hukum terhadap kaum Newtype, seperti yang diangkat di penghujung seri Gundam Unicorn. Kemudian, ada juga isu soal mobile suit. Soal teknologi pengembangan MS dan para pilotnya. Soal teknologi psychoframe. Soal sejarah implementasi psychoframe seperti yang dipaparkan di film Char’s Counterattack. Jadi, ada BANYAK info latar belakang yang tak cukup tersampaikan dalam durasi cerita.

Baca-baca tentang sejarah/ringkasan cerita seri-seri Mobile Suit Gundam yang orisinil, Zeta Gundam, Char’s Counterattack, dan Gundam Unicorn—TERUTAMA Gundam Unicorn—ternyata lumayan perlu karena… akan ada separuh daya tariknya yang hilang kalau enggak? Tanpa itu, kalian sebenarnya masih bisa ngerti garis besar ceritanya sih. Tapi, ditambah lagi lagi, Gundam Narrative ternyata memberi perkembangan barunya sendiri seputar hal-hal tersebut, sehingga menuai diskusi lagi di kalangan fans Gundam.

Alasan Phenex diburu dikisahkan karena MS ini menggunakan teknologi psychoframe yang sama seperti dua ‘saudara’-nya, Unicorn dan Banshee. Jadi, di belakang layar, sesudah Insiden Laplace di Gundam Unicorn, semua pihak sedang genting karena terkuaknya potensi teknologi psychoframe yang sesungguhnya.

Dari dulu, diceritakan di berbagai seri Gundam, teknologi psychoframe memang kerap menampilkan fenomena-fenomena aneh yang sulit dipahami dan dipercaya. Kini, daftar fenomena itu bertambah dengan apa yang diintepretasikan sebagai kemampuan memutar balik waktu(!).

Memutar balik waktu itu sesuatu yang baru dalam sejarah Gundam.

Ini perkembangan gila. Makanya, sempat jadi perdebatan.

Kemampuan misterius itu pula yang kemudian melandasi Michelle memaksakan diri untuk melibatkan Jona dalam misi ini.

Apakah Keabadian Itu Ada?

Jadi, ceritanya, belasan tahun silam, Jona, Michelle, dan Rita sempat masuk koran karena memprediksi secara tepat bencana jatuhnya koloni luar angkasa ke Australia (Insiden “Operation British”). Ini terjadi pada masa Perang Satu Tahun (insiden ini disinggung dalam seri Mobile Suit Gundam yang orisinil dan memakan ratusan juta korban), ketika ketiganya masih anak-anak. Berkat prediksi ini, Jona dkk berhasil meloloskan seluruh penduduk kota mereka dari kematian, membuat mereka dikenal sebagai Miracle Children (Anak-anak Ajaib).

Nyatanya, baik Jona maupun Michelle sama-sama tahu bahwa yang mampu meramal masa depan—dan  membagi visi yang dilihatnya—sebenarnya hanyalah Rita.

Ketenaran mereka kemudian justru menyeret ketiganya dalam penelitian gelap Federasi Bumi untuk mengeksperimentasi manusia.

Demi memproduksi manusia-manusia Newtype ‘buatan’ untuk dijadikan senjata perang.

Penelitian-penelitian ini dilakukan ‘di bawah tangan’ dan kerap tidak berperikemanusiaan. Dalam seri-seri terdahulu, penelitian-penelitian Cyber Newtype ini kerap berujung pada terlahirnya karakter-karakter tragis macam Four Murasame, Rosamia Badan, dan Ple bersaudara.

Singkat cerita, terbukti tidak berkemampuan, Jona dan Michelle akhirnya dilepas dari penelitian ini. Tapi, untuk selamanya mereka terpisah dengan Rita, dan selama bertahun-tahun, Jona terbebani rasa bersalah.

Jona mengira dirinya akan terus berakhir sebagai orang biasa yang takkan sanggup menyelesaikan apa-apa… sampai Michelle tiba-tiba muncul lagi dalam hidupnya dan menjadikannya pilot dari MS prototipe Narrative Gundam

Suatu Bukti Adanya Akhirat

Cerita berkembang dengan bagaimana Jona ditunjuk Michelle sebagai pilot Narrative Gundam dengan harapan bisa memicu reaksi dari Rita di dalam Phenex.

Narrative Gundam merupakan MS prototipe yang sebelumnya digunakan sebagai landasan uji untuk Nu Gundam di CCA. Karenanya, meski inferior secara teknologi dari seri RX-0-nya Unicorn, dengan perlengkapan tambahan yang tepat—ditambah dengan dukungan tim Schezar pimpinan Iago Haakana,skuadron MS di kapal induk Damascus dari pasukan Federasi—Narrative diharapkan mampu mengimbangi performa Phenex dan menangkapnya.

Upaya pertama mereka yang gagal berlanjut pada pelacakan Phenex ke koloni luar angkasa Metis di Side 6. Namun, pengejaran mereka di Metis berujung pada mimpi buruk. Di sinilah mereka menjumpai Zoltan yang memulai pertempuran di dalam koloni menggunakan MS Sinanju Stein, memicu jatuhnya ribuan korban sipil.

Kemunculan Phenex di Metis, ditambah amarah Jona terhadap Zoltan sekaligus dirinya sendiri, memicu aktivasi sistem NT-D di Narrative. Aktivasi sistem ini memanggil dan mengambil alih MA raksasa II Neo Zeong (baca: second Neo Zeong) yang rupanya dibawa oleh pasukan Republik Zeon. Hanya berkat kemunculan Rita yang menenangkannya saja, Jona berhasil tidak lepas kendali. Tapi, selanjutnya Phenex pun menghilang lagi.

Kacau balaunya situasi Metis mendorong Federasi untuk menarik misi mereka mengejar Phenex.

Akan tetapi, karena dijadikan kambing hitam pemerintahan Republik Zeon serta dituduh bagian kelompok pemberontak The Sleeves, Zoltan kalap. Zoltan membantai anak-anak buahnya di kapal induk Gulltoppr. Kemudian dengan menggunakan Sinanju Stein, ia membajak II Neo Zeong untuk digunakannya sendiri.

Menggunakan II Neo Zeong, Zoltan mengincar pangkalan penyimpanan bahan bakar Helium 3 dan hendak meluncurkan tabung-tabungnya sebagai bentuk terorisme ke Bumi.

Kini mengetahui kebenaran bahwa teknologi psychosensor Luio & Co. hanya gertakan, dan bagaimana konflik dengan pihak Zeon ternyata dirancang Michelle untuk memancing kemunculan Phenex, Jona meluncur untuk terakhir kali dengan Narrative demi menghentikan Zoltan. Di sana, Jona akhirnya mengetahui kebenaran tentang nasib Rita, serta apa sesungguhnya yang hendak Michelle perbuat selama ini.

Penyesalan, Dengki, Keresahan

Dari segi plot, Gundam Narrative berakhir… lebih ‘pendek’ dari dugaan. Lebih singkat. Lebih sederhana. Cerita utamanya seakan cuma terdiri atas tiga babak pendek, yang sisanya lebih banyak diisi dengan kilas balik tentang masa lalu Jona, Michelle dan Rita. Agak menyebalkannya, adegan-adegan kilas balik ini terkesan menampilkan hal-hal yang sama secara berulang. Baru saat menjelang akhir cerita saja, kebenaran di balik semua kilas balik ini mulai jelas dan akhirnya terungkap.    

Makanya, reaksi kalian terhadap cerita Gundam Narrative bisa beragam.

Aku pribadi, karena awalnya mengira Gundam Narrative bakal jadi seri OVA episodik macam Gundam Unicorn, tadinya mengira kita bakal mendapat porsi cerita lebih banyak lagi. Aku kira kita bakal menghabiskan waktu lebih lama bersama Jona dan yang lain.

Tapi, untuk anime berdurasi satu setengah jam, Gundam Narrative sangat berkesan. Perkembangan cerita di naskahnya mungkin bikin kamu aneh. Tapi, pengarahan adegan-adegannya sendiri benar-benar apik. Setidaknya, presentasinya sama sekali tidak mengecewakan. Jadi, walau kalian bisa agak bingung dengan ceritanya, kalian tidak akan kecewa berkat visualnya yang keren dan aksinya yang rame.

Buat kalian yang masih agak bingung dengan apa-apa yang terjadi (PERINGATAN SPOILER di titik ini), singkat cerita, di masa silam, Michelle-lah yang membebaskan dirinya dan Jona dari institut penelitian Federasi. Michelle melakukan itu dengan membocorkan rahasia kalau Rita adalah Newtype. Tindakannya ini, secara efektif, jadi ‘mengorbankan’ Rita untuk diteliti.

Dengan kecerdasannya, Michelle merancang skenario untuk bisa menolong Rita di masa depan, dengan menjadikan dirinya anak angkat keluarga Luio yang berkuasa. Michelle menjadi peramal lewat berbagai bocoran informasi jalur belakang yang berhasil ia bangun. Tapi, singkatnya, upaya Michelle gagal.

Seperti halnya Jona, Michelle dilanda rasa bersalah, dan tak sanggup bertatap muka dengan Jona untuk waktu sangat lama.

Sampai kemudian, Insiden Laplace (di klimaks Gundam Unicorn) terjadi. Mendengar tentang keajaiban-keajaiban teknologi psychoframe, Michelle terobsesi untuk membuktikan pada Jona bahwa kelak, suatu saat nanti, mereka pasti akan bisa bertemu kembali dengan Rita. Bahwa bila seseorang mati, meski sekian tahun berlalu, jiwa mereka tidak akan hilang.

Jadi, ini yang ternyata jadi poin utama di cerita ini: Michelle terobsesi untuk membuktikan kalau hal-hal ajaib itu ada sebagai bentuk permintaan maafnya terhadap Jona.

Bahwa masih ada sesuatu di luar sana yang tak diketahui manusia.

Banyaknya korban-korban jiwa yang sampai terjatuh akibat upayanya ini bahkan semakin mendorong Michelle untuk mengorbankan diri.

Sehingga di penghujung cerita, perasaan Michelle akhirnya berhasil tersampaikan pada Jona—terutama terlihat pada adegan saat Jona akhirnya menjangkau kokpit Phenex, dan sesudahnya. Lalu, ini yang kemudian mendorong Jona untuk akhirnya memandang masa depan setelah sekian lama terbelenggu masa lalu. 

Kalau kau bisa mencernanya, perkembangan segala sesuatunya di Gundam Narrative sebenarnya lumayan berkesan.

Zoltan sendiri, yang semula sekedar terkesan ‘kurang waras’, di penghujung cerita ditampilkan sebagai karakter simpatik dan tragis. Ia terungkap sebagai korban percobaan untuk melahirkan tiruan Char Aznable, seperti halnya mendiang Full Frontal di Gundam Unicorn. Bedanya, Zoltan tidak sestabil Full Frontal. Dirinya merasa semua pengorbanannya berakhir tidak dihargai. Terlihat jelas bagaimana pengkhianatan Erika Yugo—ajudan yang sekaligus berperan sebagai pengawasnya—sedemikian menyakiti hati.

Dengan demikian, meski berakhir ‘pendek’, cerita Gundam Narrative juga luar biasa ‘padat’. Jona tak menggunakan Narrative Gundam selama yang mungkin kau harap. Hubungan persaingan antara Jona dan Zoltan juga berakhir lebih cepat dari yang disangka. Tapi, ada banyak hal tersirat di antara semua itu.

Buat para fans lama, semua hal tersirat ini juga menarik.

Monaghan Bakharov, menteri luar negeri Republik Zeon yang baru, tampil sebagai karakter antagonis di belakang layar. Kepentingan Monaghan berseberangan dengan keinginan Mineva Lao Zabi, putri keturunan terakhir keluarga Zabi yang dulu berkuasa, yang kini ingin mengutamakan perdamaian. Monaghan (yang kebetulan adalah putra Darcia Bakharov, perdana menteri Republik Zeon yang tengah menjabat) berpandangan bahwa Zeon yang sekarang hanyalah ‘negara boneka’ pemerintahan Federasi. Karena itu, segala tindakan yang dilakukannya di bawah tangan adalah upaya untuk menjaga kedaulatan bangsanya.

Mineva sendiri, begitu menyadari dampak manuver rahasia Monaghan, yang mengakibatkan lepas kendalinya Zoltan, mengutus Banagher Links (tokoh utama Gundam Unicorn) dan awak-awak kapal Granceries untuk memberi dukungan terhadap awak-awak Damascus, satu-satunya kekuatan militer yang sempat mencegah bencana tepat waktu. Banagher dan kawan-kawan inilah yang kemudian hadir sebagai bala bantuan yang diperlukan Jona untuk bisa selamat.

Di awal cerita, sempat ada adegan Michelle dan timnya membebaskan Martha Vist Cabine—bibi Banagher yang menjadi salah satu antagonis di Gundam Unicorn—dari tahanan Federasi. Signifikasi adegan ini tersamar, berhubung Martha sesudahnya tidak muncul lagi. Tapi, sejumlah kalangan berpendapat kalau ini berkaitan dengan pengetahuan Martha soal lokasi kemunculan Phenex, cara kerja teknologi psychoframe yang digunakan MS tersebut, serta bagaimana cara mengimplementasi sistem NT-D ke dalam Narrative Gundam.

Ayah angkat Michelle sendiri, Woomin Luio, secara misterius juga digambarkan tengah menjalani tidur dingin panjang seperti halnya Syam Vist di Gundam Unicorn. Latar belakang ia menjalani terapi ini tidak terungkap. Akan tetapi, putri Woomin, Stephanie Luio—yang secara efektif adalah kakak angkat Michelle—secara mengejutkan turut muncul dalam cerita.

Sebagai informasi, Stephanie merupakan karakter pendukung yang pertama muncul di seri Zeta Gundam. Di seri tersebut, Stephanie, mewakili keluarganya, memberi dukungan terhadap organisasi Karaba pimpinan Hayato Kobayashi pada masa Konflik Grips. Di Gundam Narrative, Stephanie tampil saat menyampaikan terima kasih atas Michelle sekaligus membebaskannya dari tanggung jawab mengemban perusahaan. Cameo-nya mengejutkan sekaligus menyentuh, karena percakapannya dengan Michelle kemudian menjadi percakapan mereka yang terakhir. 

Bicara soal presentasi, visual Gundam Narrative detil dan tajam. Aksi-aksi mekaniknya memukau. Seperti halnya Gundam Unicorn, kerap ada begitu banyak hal yang ditampilkan dalam satu adegan, sehingga terasa ada hal-hal yang mudah terlewat.

Ada kesan tak asing, tapi unik, dari adegan-adegan aksinya ini. Jadi, adegan-adegan aksi yang ditampilkan adalah adegan pertempuran MS khas Gundam Universal Century, tapi ada cara pemaparannya di film ini yang istimewa.

Sori. Agak susah menjabarkannya.

Temponya cepat, dengan pergerakan yang konstan. Kesannya frantic. Berbeda dengan gaya Imanishi Takashi yang terkadang memainkan tempo adegan saat mengarahkan Gundam Unicorn.

Soal audio, aku merasa agak campur aduk dengan irama enerjik dari BGM-nya. Lagu-lagu pengiringnya sangat terasa bergaya ‘Sawano’ sekali. Nuansanya tak semenyentuh irama-irama melarutkan yang hadir di Gundam Unicorn. Tapi, selebihnya, it works. Performa para seiyuu pun oke, meski dalam cerita berdurasi pendek.

Sayap-sayap Emas

Membahas soal mecha, ada banyak pemaparan berkesan.

MS produksi massal Gustav Karl yang sempat menjadi cameo di penghujung Gundam Unicorn kembali hadir di film ini. Untuk yang ketinggalan berita, MS ini sebelumnya hanya muncul di seri novel Hathaway’s Flash. Saat Gustav Karl muncul di anime Gundam Unicorn, fans berspekulasi kalau ini pertanda kalau adaptasi anime Hathaway’s Flash akan dibuat. Segera sesudah Gundam Narrative tayang, harapan fans menjadi nyata lewat pengumuman terpisah sekaligus teaser trailer untuk versi anime Hathaway’s Flash yang disertakan di akhir film ini. (Aku sempat menulis sedikit soal itu di artikel ini.)

Berbagai unit MS produksi massal lain tampil.

Sebagian besar MS kali adalah milik Federasi, berhubung sempat ditampilkannya konflik internal di tubuh mereka. Seperti di Gundam Unicorn, ada nuansa nostalgia kuat, terutama dalam adegan-adegan kilas balik. Yang ditampilkan mencakup Dijeh (yang punya pedang bermata dua, sempat digunakan Amuro Ray di Zeta Gundam, dan di film ini pun sempat digunakan juga oleh Jona), Jesta (dan variasinya yang digunakan tim Shezarr, ini MS produksi massal generasi terbaru keluaran Federasi yang sesungguhnya dirancang untuk mengimbangi kecanggihan MS generasi Unicorn),  Jegan, Anksha, serta ReZEL (yang menjadi desain favoritku di Gundam Unicorn).

Di sisi Zeon, MS produksi massal yang tampil hanyalah Geara Zulu, yang serupa dengan yang digunakan kelompok Sleeves di Gundam Unicorn. Ada variasi Guards Type dan Erika Custom. Agak mengecewakan, tapi masuk akal berhubung porsi cerita faksi Zeon di film ini terbilang sedikit.

Selebihnya, dengan Narrative Gundam sebagai pengecualian, sebagian besar MS utama film ini sebenarnya berasal dari lini MSV. Desain mereka telah lamaaa dibuat, tapi baru belakangan dilibatkan dalam kanonitas anime resmi semesta Universal Century.

MSN-06S-2 Sinanju Stein yang digunakan Zoltan identik secara performa dengan Sinanju milik Full Frontal. Dikisahkan, MS Sinanju sebenarnya satu lini pengembangan dengan Unicorn Gundam (bagian dari UC Project yang rahasia). Dibuat dalam dua unit, MS ini dirancang sebagai lahan uji ketahanan dan performa teknologi psychoframe. Tapi, pengirimannya kemudian dibajak oleh kelompok Sleeves beberapa bulan sebelum awal cerita Gundam Unicorn. Salah satunya menjadi Sinanju yang digunakan Frontal. Satunya lagi, secara misterius, menjadi Sinanju Stein yang kini digunakan Zoltan. MS ini mencolok dengan warnanya yang putih abu-abu. Persenjataannya mencakup Vulcan Gun, Beam Saber, High Beam Rifle, Bazzoka, serta perisai.

RX-9 Narrative Gundam yang digunakan Jona adalah MS ‘rangka’ produksi Anaheim Electronics yang sendirinya tidak bisa apa-apa. MS ini dibuat sebagai prototipe RX-93 Nu Gundam yang digunakan Amuro Ray di Char’s Counterattack. Fungsi Narrative aslinya hanya untuk pengumpulan data. Karena itu, rangkanya ‘telanjang’ dan tidak dilengkapi pelindungan. Akan tetapi, untuk keperluan operasi Phoenix Hunt, Luio & Co. menyediakan sejumlah perangkat tambahan yang membuatnya patut diperhitungkan. Narrative juga dibangun berdasarkan Core Block System yang serupa dengan unit-unit Gundam awal, sehingga kokpitnya dapat memisah menjadi pesawat Core Fighter. Diam-diam, MS ini turut dilengkapi sistem NT-D yang sama dengan yang dipunyai lini RX-0, menjadikannya senjata efektif untuk melawan pilot-pilot Newtype.

Variasi-variasi Narrative Gundam mencakup:

  • RX-9/A Narrative Gundam A-Packs, yang memberi mobilitas tinggi untuk menyamai kecepatan Phenex yang luar biasa. Di samping tambahan persenjataan berupa Large Beam Saber, Medium Missile Pod, dan High Mega Cannon, variasi ini turut dilengkapi perlengkapan Psycho-Capture yang dirancang untuk mengacaukan Psycho Field yang Phenex pancarkan. Bentuknya yang besar mengingatkan akan perlengkapan Dendrobium dari seri Gundam 0083, serta pasangan unit METEOR dari Gundam SEED.
  • RX-9/B Narrative Gundam B-Packs, memiliki bentuk lebih sederhana karena dirancang untuk penggunaan di interior koloni luar angkasa. Variasi ini mengandalkan sepasang Wire-guided Assault Unit berbasis kawat di pundak, yang dikombinasikan dengan Psycho Jammer. Selain itu, turut ada tambahan perisai dengan peluncur misil. Implementasi senjata berbasis kawat mirip INCOM ini membuatnya mirip MS Doven Wolf dan MS Silver Bullet.
  • RX-9/C Narrative Gundam C-Packs, yang merupakan bentuk akhir Narrative Gundam yang digunakan di klimaks cerita. Berbeda dengan Nu Gundam yang hanya memiliki lapisan psychoframe di seputaran kokpit, variasi ini melapisi sekujur tubuh Narrative Gundam dengan psychoframe, membuatnya sangat mirip dengan Unicorn Gundam dengan auranya yang berwarna merah. Tak ada skema atau persenjataan khusus yang dipunyai, tapi performanya meningkat drastis seiring kuatnya psychowave yang dapat dihasilkan, membuatnya bisa dikendalikan hanya dengan pikiran. Akan tetapi, karena dibuat dengan agak asal jadi, variasi ini menjadi yang paling menguras fisik dan mental bagi Jona.

NZ-999 II Neo Zeong, yang digunakan Zoltan bersama Sinanju Stein di akhir cerita, konon dibangun dari suku cadang Neo Zeong pertama milik Full Frontal yang menjadi ‘musuh terakhir’ di Gundam Unicorn. MA raksasa ini konon awalnya sempat disita pasukan Federasi, lalu diserahkan kepada Luio & Co., sebelum dikirimkan kembali ke Republik Zeon untuk digunakan sebagai ‘pancingan’ terhadap Phenex.

II Neo Zeong secara umum sama dengan Neo Zeong, tapi rangkanya dibangun lebih kokoh dan persenjataan Funnel Bit bebasis kawat diimplementasikan pada jari-jari kedua tangan, membuatnya mirip dengan Zeong dari masa Perang Satu Tahun. Seperti Neo Zeong pendahulunya, MA ini dilengkapi berbagai armamen persenjataan, dilengkapi medan pelindung I-Field, serta mampu menghasilkan psychoshard yang mampu mematikan persenjataan sekaligus mengambil alih kendali MS lawan. 

Mecha ini digambarkan sebagai ‘senjata yang tidak seharusnya diciptakan’. Karena itu, kehadirannya memunculkan naluri Rita untuk menghentikannya.

RX-0 Unicorn Gundam 03 Phenex sendiri dikisahkan merupakan unit rahasia yang dikembangkan diam-diam oleh suatu pihak tertentu di dalam Federasi (tidak benar-benar terungkap siapa) yang tidak setuju dengan keterlibatan Yayasan Vist dalam UC Project. MS ini dibuat belakangan, berdasarkan data dari Unicorn dan Banshee, dengan materi psychoframe yang dikumpulkan terpisah. Lepas kendalinya Phenex akibat reaksi NT-D yang pilotnya (Rita) alami menjadi bencana bagi Federasi, membuat keberadaan MS ini banyak ditutupi.

Di samping wujudnya yang keemasan dan motifnya yang mirip phoenix, kekhasan Phenex terdapat pada perangkat Armed Armor DE yang berbentuk sepasang sayap berekor. Di samping melindungi dengan lapisan I-Field dan mampu dikendalikan dari jauh, perangkat ini juga memberi tenaga pendorong yang luar biasa bagi Phenex, menjadikan MS ini sangat sulit dikejar.

(Catatan soal UC Project: ini merupakan proyek pengembangan MS di latar belakang cerita Gundam Unicorn. Proyek ini diprakarsai Federasi sebagai reaksi atas pemberontakan Char di CCA. Filosofi proyek ini adalah untuk menghapus sisa-sisa pemberontak Zeon untuk selamanya dengan menggunakan teknologi yang dapat mengantisipasi kekuatan Newtype. Unit-unit Sinanju dan Unicorn, serta sistem NT-D, merupakan keluaran dari proyek ini. Ironisnya, banyak hal tentang proyek ini yang justru berakhir tidak sejalan dengan bayangan awal.)

MS terakhir yang perlu disebut adalah Silver Bullet Suppressor yang dikemudikan Banagher sendiri. Bala bantuan yang tiba-tiba muncul ini merupakan modifikasi dari Silver Bullet (unit yang sama dengan yang sebelumnya digunakan Gael Chan?) yang muncul di penghujung Gundam Unicorn. Silver Bullet aslinya merupakan modifikasi dari MS Neo Zeon, Doven Wolf, jadi aku terkejut melihat ini dimodifikasi lagi. Selain perubahan di warna dan bentuk kaki dan kepala, lengan Silver Bullet Suppressor dimodifikasi agar dapat menembakkan senjata Beam Magnum milik seri RX-0 yang berkekuatan dahsyat secara beruntun.

Modifikasi lengan Silver Bullet Suppressor itu gila, karena melibatkan bongkar pasang otomatis sebelah lengan setiap melepas satu tembakan, serta adanya lengan-lengan cadangan yang dibawa serta di punggung. Modifikasinya membuktikan betapa fleksibelnya Silver Bullet sebagai MS. Sistemnya ribet, tapi berkesan. Apalagi, dengan bagaimana tembakan yang dilancarkannya nyata-nyata berhasil mengubah sejarah…

Eh? Selama film, apa kabar Unicorn Gundam dan Banshee? Saking dipandang berbahaya, keduanya secara resmi dikabarkan telah ‘disegel’ dan ‘dibongkar’, meski kebenaran soal itu tak ada yang benar-benar tahu…

Akhir Mimpi

Oke. Bahasan ini mulai panjang.

Kayak biasa, makasih karena udah baca sampai sejauh ini.

Hal paling mengejutkan dari Gundam Narrative (buatku) adalah bagaimana ceritanya ternyata membahas soal ada tidaknya akhirat (lebih tepatnya, ada tidaknya ‘sesuatu sesudah kematian’). Aku pribadi merasa adanya akhirat itu obvious, jadi pesan yang disampaikan agak kurang mengena ke aku. Tapi, bila kalian sekuler, kurasa aku mengerti bila apa yang Gundam Narrative sampaikan bisa terasa dalam dan berarti. 

Kebetulan, latar belakang pendidikanku adalah teknik elektro. Dari sana, aku diajari soal adanya hal-hal yang ‘tidak kelihatan tapi ada’, macam gelombang radio dan pergerakan elektron. Karenanya, membayangkan adanya akhirat buatku sama sekali tak susah. Soalnya, dari sana juga bisa ditarik kesimpulan soal bagaimana ‘bila kalian merasa yakin sudah tahu semua, itu justru adalah pertanda kalau kalian masih belum tahu apa-apa’.

Di samping itu, pandangan soal adanya akhirat sendiri cukup sejalan dengan pesan yang Gundam Unicorn sampaikan. Maksudku, tentang pentingnya memiliki harapan akan masa depan lebih baik. Bahkan sesudah kematian sekalipun.

Itu menjadi hal lain dari film ini yang aku kagumi.

Jadi, Gundam Narrative merupakan film Gundam yang bagusnya lebih banyak in retrospect. Kalau kalian fans awam, kemungkinan besar kalian takkan langsung menangkap di mana bagusnya. (Awalnya, kalian mungkin cuma agak bingung dengan film ini.) Tapi, sesudah jadi penggemar yang lebih mengenal Universal Century, kalian bakal bisa menghargai betapa film ini dibuat dengan benar-benar rapi. 

Nuansanya mirip, tapi jelas tidak sama dengan Gundam Unicorn. Kepiawaian Yoshizawa-san sebagai sutradara dalam menangani adegan-adegan aksi sekaligus kondisi psikologis intens—yang sebelumnya terindikasi lewat Gundam Thunderbolt—kembali ditampakkan di film ini. (Tidak, berbeda dengan Gundam Thunderbolt, BGM Gundam Narrative tidak bernuansa jazz.)

Selain itu, kesan nostalgianya, seperti Gundam Unicorn, lagi-lagi kuat. Aku sangat menghargai kemunculan kembali Stephanie dan karakter-karakter lain. Juga, callback dengan bagaimana Hong Kong telah dibangun ulang, sesudah sempat hancur akibat amukan Psyco Gundam di Zeta Gundam. Bahkan kemunculan kembali para karakter utama Gundam Unicorn tak seburuk dugaanku, dengan bagaimana mereka berperan vital, tapi sama sekali tanpa merebut spotlight.

Serius. Kebanyakan hal menarik tentang Gundam Narrative justru kau sadarinya itu belakangan.

Sewaktu aku pertama menontonnya di bioskop, perasaanku, sejujurnya, agak campur aduk.

(Sebagai informasi, aku sudah menikah waktu itu. Dan aku menontonnya sendiri tanpa istri karena dia sedang di kota lain. Tak ada teman dunia nyata yang bisa kuajak pada waktu itu juga.)

Sebagai movie, Gundam Narrative jelas lebih bagus dari Gundam F91 maupun A Wakening of a Trailblazer. Aku SANGAT lega Narrative tidak berakhir seperti Trailblazer. Tapi, aku juga tak benar-benar merasa puas sesudahnya. Tak seperti pengalaman menonton dan mencerna CCA. Lalu, ada isu ekspektasi panjang cerita itu juga.

Baru agak lama sesudahnya, aku sadar kalau ada banyak hal tentang Gundam Narrative yang sebenarnya aku suka.

Tak biasa untuk sebuah seri Gundam, Jona bukanlah pilot yang menonjol. Dia tidak buruk, tapi kemampuannya hanya rata-rata. Yang istimewa dari Jona—yang membuatnya dipilih untuk memiloti Narrative Gundam—semata hanyalah masa lalu dan hubungan emosi yang dimilikinya dengan Rita, yang lalu diharapkan akan dapat mengundang Phenex kepadanya. Namun, sepanjang cerita, Jona menghadapi masa lalunya dan berkembang. Dia tumbuh menjadi sosok yang berani, rela berkorban, dan nekat. Hingga saat Jona menggunakan Phenex dan akhirnya berhasil menghentikan Zoltan, rasanya benar-benar memuaskan.

Pertempuran terakhir antara Jona di Narrative Gundam melawan Zoltan di II Neo Zeong pun sempat terasa seperti pengulangan duel antara Unicorn Gundam dan Neo Zeong. Bedanya, bila konflik antara Unicorn dan Neo Zeong berakhir dengan adu kekuatan mental (dan makanya, bisa terasa agak mengecewakan bagi sebagian orang, termasuk aku sendiri, meski aku bisa menerima logikanya), klimaks di Gundam Narrative lebih terasa seperti kemenangan strategis.

Michelle dan assistennya yang setia, Brick Teclato, mempertaruhkan nyawa untuk menyebar materi psychoframe demi membakar lapisan psychoshard yang dihasilkan II Neo Zeong. Tim Shezarr datang membantu Jona. Rita dengan Phenex hadir untuk membantu Jona. Banagher dan kawan-kawannya pun datang mendukung di saat-saat terakhir. Pokoknya, semua pihak bahu-membahu dan bekerjasama mati-matian demi menghentikan Zoltan, sehingga keberhasilan mereka lebih terasa.

Lalu, akhirnya, ada soal Rita sendiri. Dia tak banyak tampil. Tapi, sifatnya yang baik hati dan pemaaf benar-benar bikin terenyuh. (Walau iya, dia kurang banyak disorot.) Terutama dengan bagaimana ia berharap agar Jona dapat melepaskan diri dari kekangan masa lalu dan hidup untuk masa depan.

Even so…

Oke. Kita sudah hampir di akhir tulisan. Waktunya aku keluarkan sisa uneg-uneg.

Kalau boleh jujur, sejak pertama muncul sebagai MSV, aku sebenarnya kurang suka desain Phenex. Bentuknya keren, tapi konsepnya berlebihan. Sebelumnya, Unicorn dan Banshee dikembangkan sebagai MS rahasia ‘kan. Lalu, sekarang ada MS yang lebih rahasia lagi? Dengan sejarah sedramatis ini? Kemunculannya dalam animasi pendek di latar G-Reco juga semakin menambah kesan berlebihannya. Makanya, aku sempat skeptis. Tapi, cara penggambarannya dalam Gundam Narrative lumayan ‘masuk’ dan boleh juga.

Itu semua terbantu dengan narasi yang terfokus dan padat sih. Jadi, kita tak terlalu terbebani oleh detil-detil kecil. Kurasa itu juga salah satu manfaat dari durasinya yang pendek.

(Belakangan aku punya feeling kalau menjelang peringatan ulang tahun 40 tahun Gundam, para produser itu kayak, “Oi, kita lagi butuh cerita Gundam baru di era UC nih! Ide buat movie ada, engga?” Terus, Fukui-sensei itu kayak, “Oke! Aku ada! Adaptasi baru cerita aku yang lama gapapa?”)

Kalau bicara soal versi cerita di novel aslinya, terus terang, aku juga kurang tahu banyak. Aku hanya sebatas tahu beberapa perbedaannya, yang mencakup:

  • Waktu kejadian berbeda. Versi novel berlatar menjelang klimaks cerita di Gundam Unicorn (dengan Phenex menghilang selama enam bulan). Sedangkan Gundam Narrative berlatar satu setengah tahun sesudahnya, di tahun UC 0097.
  • Jona menggunakan MS produksi massal Jegan di novel asli. Narrative Gundam dan II Neo Zeong tidak ada.
  • Dengan demikian, karakter Michelle dan Zoltan juga tidak ada. Keterlibatan Luio & Co. dalam misi tidak ada dalam versi novel. Tokoh antagonis utama di versi novel adalah Full Frontal sendiri (yang di titik ini, masih hidup).
  • Monaghan di versi novel menjabat sebagai menteri pertahanan, sedangkan di Gundam Narrative, jabatannya menteri luar negeri.

Kudengar sekarang ada versi novel Gundam Narrative juga. Detil ceritanya mungkin lebih banyak. Tapi, aku masih kurang tahu soal itu.

Soal apa yang ada di depan? Selain Hathaway’s Flash yang sudah jelas (dan akan mengangkat tema soal terorisme ketimbang perang besar), aku juga tak terbayang. Salah satu alasan aku tertarik Gundam Narrative adalah karena aku tak terbayangkan akan ada konflik macam apa di era ini, sampai datangnya masa Crossbone Vanguard (era Gundam F91) di koloni-koloni luar angkasa terjauh.

Rasanya sayang bila para karakternya tak digunakan lagi sih. Aku menduga itu bakal jadi bagian materi cerita Gundam Unicorn 2 yang (kayaknya) Fukui-sensei tengah ramu.

Akhir kata, Gundam Narrative adalah film yang bagus tapi bisa berkesan agak campur aduk. Bisa sangat berkesan, tapi tergantung kalian siapa dan sejauh mana kalian akrab dengan waralaba ini. Ada beberapa hal tentangnya yang terasa kurang, tapi sebagai proyek one shot yang dibikin dalam kondisi mendesak, hasilnya bagus. Aku lumayan menyukainya

Sesudah dipikirkan, film ini kayak… bisa membuatmu berdamai dengan diri sendiri gitu.

Kemunculan Narrative Gundam di game Super Robot Wars akan sangat aku nantikan.

Penilaian

Konsep: A-; Visual: S; Audio: A+; Perkembangan: B+; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: B+

6 thoughts on “Mobile Suit Gundam Narrative [Review]

  1. Eka Rohana Dewi says:

    Terima kasih sudah review,
    Soal cerita bagi aku lumayan lah,
    Untuk karakter2 utama agak gimana ya bilangnya,disatu sisi rada bikin sebel tapi disisi lain bikin simpatik,
    Soal mecha nya entah MS bagi aku gak seterkesan waktu nonton Unicorn,cuma Phenex sama Supresor doang yg curi perhatian aku,
    Dan musik aku setuju sama kamu,kurang megah dan epik kayak di Unicorn pdhl komposernya orang yg sama,dan visual nya sih bikin seger mata emang,dan asik juga liat mansion Vist yg direhab jadi lebih terang gak suram kyk di Unicorn
    Dan satu lagi twist soal Unicorn Gundam sumpah bikin aku ketawa :v serius lah
    Itu aja sih kesanku pas nonton

    • alfare says:

      Terima kasih juga udah bacaaa.

      Kalau soal karakter dan mecha utama, IMO itu disengaja deh. Mereka perlu bikin main chara yang kelemahannya jelas dan perkembangannya cepat mengingat pendeknya durasi cerita.

      Soal mecha, aku nebaknya mereka narik banyak konsep dari lini MSV karena cerita masuk periode teknologi baru yg dulunya belum kegarap.

      Twist soal Unicorn yg dimaksud itu yg pas di akhir ya? Wkwkwk. Aku juga rada “Wut” pas di bagian itu.

      • Eka Rohana Dewi says:

        Sorry bru blas,
        Mungkin karena durasi pendek gitu ya jd karakterisasinya ringkas gt ya yg penting dpt fellnya,kalo soal mecha aku kangen MS keren kyk Khsatriya atau Delta Plus gitu yg unik2 lah pokoknya,makanya agak kecewa di Narrative gak ada MS yg kyk gitu,
        Twist nya Iya dialog terakhir Mineva yg kumaksud,gak nyangka aja jdnya begitu,
        Ngomong2 aku penasaran sama nasib Riddhe dan Alberto sih

      • alfare says:

        Bener sekali. Delta Plus di Unicorn kayaknya cuma muncul bentar bangeet. Makanya, aku juga heran kenapa kebanyakan desain MS-nya yang udah pernah ada semua? Aku curiga karena berusaha ngejar waktu rilis. Soalnya kalo buat desain baru, pasti lama lagi. (Soalnya nanti kan harus bikin mainan segala.)

        Alberto aku engga penasaran, tapi Riddhe sih iya.

  2. Eka Rohana Dewi says:

    Haha.. Iya sih Delta + beraksi gak banyak ,sekali beraksi banyak cuma buat diancurin,
    Aku malah mikir Bandai pgn hemat produksi plamo,modif yg ada trus jual,budget kecil untung gede…haha…apalagi Bandai + Sunrise banyak project gila tahun depan
    Alberto penasaran aja apa dia jadi tahanan juga kyk bibi nya apa enggak,mengingat dia sekongkol sama bibi nya sih…Soalnya liat di ending Unicorn kyk bebas2 aja dia…

    • alfare says:

      Kayaknya sih dia dilanda rasa bersalah karena kematian Marida. Tapi ga tau juga deh. Mungkin nanti diungkap.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.