Ai Yori Aoshi [Review]

Karena belum lama ini aku menikah, aku mau buka rangkaian tulisan kali ini dengan Ai Yori Aoshi.

Ai Yori Aoshi (‘lebih biru dari indigo,’ tapi judulnya mengandung permainan kata yang membuatnya juga bisa berarti ‘cinta sejati biru’) merupakan seri romansa yang diangkat dari manga karya Fumizuki Kou. Manganya diserialisasikan antara tahun 1998-2005 di majalah seinen Young Animal milik penerbit Hakusensha dengan jumlah total 17 buku.  

Ai Yori Aoshi diangkat jadi anime dua kali oleh studio animasi J.C. Staff. Pertama pada tahun 2002 (24 episode). Kedua, pada tahun 2003 (12 episode), dengan judul Ai Yori Aoshi: Enishi yang berlatar dua tahun sesudah season sebelumnya. Berjumlah total 37 episode (termasuk episode spesial Natal), sutradaranya adalah Shimoda Masami, dengan naskah dipenai Kanemaki Kenichi, serta musik ditangani Masuda Toshio

Aku menulis tentang ini karena Ai Yori Aoshi merupakan anime pertama yang memberi aku gambaran kehidupan pernikahan itu kira-kira kayak gimana.

Suatu Hubungan Takdir

Ai Yori Aoshi dibuka dengan pertemuan kembali Hanabishi Kaoru dan Sakuraba Aoi di stasiun kereta api.

Kaoru dan Aoi adalah dua teman masa kecil yang dulu pernah dijodohkan keluarga masing-masing. Kaoru sekarang adalah seorang mahasiswa di Universitas Meiritsu, yang sekilas terkesan sangat biasa. Sedangkan Aoi adalah seorang gadis pemalu, pewaris kekayaan keluarganya, yang selalu berpakaian kimono tradisional.

Karena situasi keluarga besar yang sangat rumit, Kaoru meninggalkan keluarga Hanabishi yang kaya dan berkuasa sesudah kedua orangtuanya wafat. Akan tetapi, selama 18 tahun, Aoi tak bisa melupakan Kaoru. Sehingga pada suatu hari, Aoi pergi menyusul Kaoru ke Tokyo. Lewat serangkaian kebetulan, Aoi menemukan Kaoru. Sesudah menyadari bahwa pemuda yang menolongnya di stasiun juga adalah orang yang dicarinya, Aoi pun memohon pada Kaoru untuk menikahinya. Alasan Aoi mengejar Kaoru ternyata karena keluarganya sekarang hendak menjodohkannya dengan calon suami yang lain.

Untuk menghindari skandal yang dapat mempengaruhi dua keluarga paling berpengaruh di Jepang, asisten pribadi Aoi, Kagurazaki Miyabi, mengusulkan jalan tengah: Aoi menjadi pengurus suatu asrama tinggal yang keluarganya miliki, kemudian Kaoru akan hidup bersamanya dalam bangunan untuk pegawai.

Dengan demikian, dimulailah kehidupan baru antara mereka.

Aku Ingin Tahu Lebih Banyak Tentangmu

Kalau kalian merasa premis Ai Yori Aoshi familier, itu enggak cuma perasaan kalian. Ai Yori Aoshi memang dirilis saat Love Hina sedang populer. Kesamaan unsur antara Ai Yori Aoshi dan Love Hina (romansa masa kecil, tinggal bersama di asrama/rumah kos) memang mencolok. Sebagian kalangan bahkan menilai Ai Yori Aoshi adalah versi Love Hina yang lebih ‘dewasa.’

(Buat kalian yang belum tahu Love Hina, itu seri komedi romantis awal tahun 2000an yang terkenal. Seri itu melambungkan nama Akamatsu Ken sebelum beliau mengerjakan Negima dan UQ Holder!. Anime Love Hina juga memberikan salah satu penampilan terakhir seiyuu legendaris Hayashibara Megumi sebelum beliau pensiun.)

Menurutku pribadi, penilaian para fans tak salah sih. Ai Yori Aoshi dan Love Hina punya banyak kemiripan. Tapi, terlepas dari kemiripan itu, Ai Yori Aoshi dan Love Hina adalah dua makhuk yang sama sekali berbeda.

Kalau Love Hina lebih dikenal karena kekocakan komedi slapstick-nya (meski memang terkadang romantis), Ai Yori Aoshi lebih dikenal karena porsi romantisnya (meski porsi slapstick-nya juga ada.) Saat sedang romantis, sisi romantis Ai Yori Aoshi itu benar-benar menyentuh. Sisi serius Ai Yori Aoshi ini sebegitu kontras dengan sisi komedinya, sehingga banyak yang curiga sisi komedi harem seri ini adalah sesuatu yang editornya paksakan untuk mengingatkan orang pada Love Hina.

Bagian awal Ai Yori Aoshi mengenalkan kita pada hubungan Kaoru dan Aoi dan masa lalu antara mereka. Kita diperlihatkan betapa berartinya Kaoru bagi Aoi, meski interaksi masa kecil mereka dulu terbatas. Kita dipaparkan bagaimana Aoi tumbuh menjadi sosok calon istri yamato nadeshiko ideal selama perpisahannya dari Kaoru. Kita ditunjukkan bagaimana pertemuan dengan Aoi, dari yang awalnya sekedar membingungkan, kembali mengingatkan Kaoru akan masa lalu sulit dan menyakitkan yang pernah dijalaninya dengan keluarga Hanabishi.

Konflik tumbuh karena bila ingin mewujudkan pengharapan Aoi, Kaoru harus menghadapi orang-orang di masa lalunya lagi. Lalu, ini bukanlah sesuatu yang mudah ia lakukan.

Di animenya, bagian awal cerita ini ditampilkan dalam empat episode. Semua fans yang aku tanya sepakat bahwa empat episode pertama Ai Yori Aoshi itu ISTIMEWA. Ada gabungan emosi-emosi lembut, menyentuh, dan menghanyutkan gitu; yang kemudian memudar saat drama ini mulai berubah jadi… (untuk sementara, seenggaknya) ahem, komedi harem.

(Ah, sebelum kelupaan, perlu aku singgung, Ai Yori Aoshi ada banyak aspek dewasanya. Lalu, aspek dewasanya ini SERIUS dan kerap enggak bersifat sekedar fanservice kayak Love Hina. Jadi, kalian jangan ikuti kalau belum cukup umur.)

Sekali lagi, perubahannya ini… aneh. Sejak awal ditampilkan kalau Kaoru dan Aoi bakalan bersama. Kenapa karakter-karakter cewek lain ini jadi mendadak perlu ditampilkan?

Yah, itu ada penjelasannya sih.

Belakangan ketahuan bahwa Aoi yang selama ini dipingit ternyata kabur(!) dari rumah demi menemukan Kaoru. Asisten pribadi Aoi—Kagurazaki Miyabi di atas—sampai datang menyusul dengan melacaknya. Dari sana, tawaran kehidupan kos itu datang. Lalu dari sana pula, kita melihat bahwa sebelum kedatangan Aoi, Kaoru telah membangun kehidupannya sendiri selepas bebas dari keluarga Hanabishi…

Rumah Tangga Baru

Singkat cerita, dengan Aoi sebagai pemilik dan Miyabi sebagai manajer, di samping Kaoru, orang-orang yang ikut tinggal di kediaman musim panas pegawai keluarga Sakuraba antara lain:

  • Tina Foster, teman kuliah Kaoru yang lahir di Amerika, tapi besar di Hakata, Fukuoka. Mendalami fotografi seperti halnya Kaoru. Kehadirannya pertama semata karena ia kehilangan tempat tinggal di Jepang sesudah keliling dunia selama setahun. Mempunyai sifat perhatian dan protektif di balik sikapnya yang blak-blakan dan suka minum.  
  • Minazuki Taeko, gadis berkacamata yang merupakan teman kuliah Kaoru juga. Kebetulan baru dipecat dari pekerjaannya sebagai pengurus rumah tangga, ia mengisi lowongan pekerjaan yang sama di kediaman musim panas Sakuraba.  Awalnya, ia mendapat banyak kesulitan karena pembawannya yang ceroboh, tapi belakangan membaik. Ia memiliki alasan pribadi untuk memilih pekerjaan tersebut. 
  • Miyuki Mayu, seorang gadis muda kenalan lama Kaoru, yang kemudian satu kampus dengannya. Semacam jenius. Berasal dari keluarga kaya. Memiliki sifat berkebalikan dengan Tina dan sulit akur dengannya.
  • Minazuki Chika, gadis kecil berkulit gelap yang merupakan adik sepupu Taeko. Seorang anak pantai.
Pola-pola bunga di latar menjadi motif berulang di seri ini

Sebagian besar cerita sesudah titik ini mulai menampilkan interaksi keseharian antara mereka. Bagian cerita ini sempat aneh karena… terkesan ‘tak nyambung’ bagian awal cerita sebelumnya. Jadi, seperti ada kesan ‘jalan di tempat’ pada plot yang lebih besar. Terkesan tak perlu. (Seperti dalam episode yang menampilkan ferret peliharaan baru Tina, yang kemudian dinamainya Uzume, dan mendapat pertentangan Miyabi.)

Tapi, melalui interaksi-interaksi keseharian ini, lapisan demi lapisan masing-masing karakter perlahan terangkat. Tina terungkap adalah orang yang dulu mengangkat Kaoru dari keterpurukannya sesudah meninggalkan keluarga Hanabishi, dan menjadi orang yang berarti baginya. Kaoru sendiri menjadi orang berarti bagi Mayu, karena Kaoru yang dulu menolong dalam keterpurukan dia sendiri. Miyabi ternyata yatim piatu yang dibesarkan oleh keluarga Sakuraba, dan memiliki perasaan kompleks terhadap hubungan Aoi dan Kaoru, dan seterusnya.

Kita mulai melihat kedudukan masing-masing di mata satu sama lain. Saat semuanya semakin jalin-menjalin, kita juga mulai bisa membayangkan apa yang mungkin terjadi andai Aoi dan Kaoru tidak bertemu kembali.

Bunga yang Takkan Layu

Bicara soal teknis, Ai Yori Aoshi dan Ai Yori Aoshi: Enishi termasuk anime yang punya kualitas presentasi bagus. Audionya solid dan ada banyak adegan yang ditampilkan menawan.

Anime-anime di periode tersebut punya visual yang cenderung terlihat lebih buruk dengan standar resolusi sekarang (karena masa-masa awal pemakaian digipaint). Tapi, Ai Yori Aoshi berhasil terhindar dari kekurangan itu.

Pada visualnya, ada perhatian lebih terhadap permainan cahaya, transisi latar dan alam, penggunaan motif-motif bentuk dan warna dalam nuansa tradisional Jepang. Hal-hal tersebut memberi penekanan terhadap elemen nostalgia dalam hubungan Aoi dan Kaoru. Tapi, lagi-lagi, kebagusan ini kerap kontras dengan adegan-adegan komedinya. Sebab saat sisi itu muncul, presentasinya tiba-tiba jadi terkesan sangat biasa. Soal desain karakter, Ai Yori Aoshi juga lumayan menengah. Tapi, menurutku, ini setia dengan gaya yang ditampilkan di manganya.

Aku kurang paham alasannya, tapi di manganya, Fumizuki-sensei punya gaya gambar yang tidak konsisten (sesuatu yang juga terulang dalam karya beliau berikutnya, Umi no Misaki). Kadang, beliau menggambar karakter yang semula cool menjadi imut, atau sebaliknya. Perbedaannya, saat dibandingkan, lumayan mencolok. Mungkin karena disesuaikan nuansa cerita saat itu. Mungkin tergantung mood beliau juga.

Hanya saja, kualitas gambar beliau itu bagus. Meski gaya gambar beliau berubah-ubah, panel-panel beliau dengan kombinasi latar fotografisnya tetap indah. Perubahannya pun kerap tak terasa, sehingga hal ini tak benar-benar jadi masalah.

Makanya, kalau kau perhatikan desain karakter di animenya, kau kayak bisa menemukan kesan ‘di antara’ gitu. Desainnya kayak kurang punya ciri khas, tapi bisa sesuai dengan sisi komedi cerita sekaligus sisi seriusnya. Terlepas dari semua kelemahan Ai Yori Aoshi, pihak J.C. Staff menurutku melakukan good job dengan anime satu ini.

Soalnya, pada saat serius, cerita Ai Yori Aoshi jadi beneran serius. Dramanya benar-benar terasa. Rumitnya situasi (serta masa lalu) Kaoru dan Aoi membuat hubungan keduanya semula harus dirahasiakan. Sehingga, saat terungkap, dampaknya besar bagi teman-teman mereka yang lain. Apalagi dengan bagaimana Kaoru membenci keluarga Hanabishi dan selalu menjadi emosional setiap membahas soal mereka.

Penyampaian cerita saat bagus ini ditunjang musik yang bagus serta seiyuu berbakat. Suara Aoi yang lembut diisi oleh Kawasumi Ayako, (yang kini lebih kita kenal sebagai pengisi suara Saber dari Fate/stay night). Suara Kaoru diisi oleh Hoshi Souichirou (yang mengisi suara Kira Yamato di Gundam SEED). Tina, diisi oleh seiyuu senior Yukino Satsuki (yang paling aku ingat sebagai Chidori Kaname dalam Full Metal Panic!), yang meski semula terkesan menjadi karakter main-main, mendapat porsi sorotan besar di Enishi dan benar-benar menjadi karakter menonjol. Lagu pembuka ‘Towa no Hana’ yang dibawakan Isihida Yoko menjadi salah satu lagu anime favoritku. Nadanya selaras dengan nuansa romantis seri ini. Grup musik The Indigo juga mulai dikenal sesudah menyumbangkan lagu penutup untuk seri ini.

Secara umum, meski presentasinya kuat, kualitas Ai Yori Aoshi kurang memuaskan (bahkan aneh) karena campuran komedinya yang maksa itu. Tapi, kalau kau mengikuti ceritanya hingga akhir, ini seri yang berkesan. Mungkin tidak berakhir sebagus yang kau bayangkan, tapi berkesan.

Pertumbuhan para karakter tersirat di desain mereka

Season pertama Ai Yori Aoshi ditutup dengan semacam kesepakatan antara Kaoru dan keluarganya Aoi; dengan bagaimana meski Kaoru bukan lagi bagian keluarga Hanabishi, dia akan membuktikan kalau dirinya pantas bersanding dengan Aoi.

Ai Yori Aoshi: Enishi, buatku, sempat terasa seperti sekuel yang tidak perlu ada sih. Elemen komedinya masih ada. Tapi, dalam perkembangannya, ceritanya memberi resolusi terhadap cinta segi-banyak yang telah terjalin. Terutama, lewat sorotannya ke karakter Tina. (Secara berkesan, season ini tidak mengenalkan karakter utama baru, tapi tetap mengubah status quo hubungan mereka.)

Versi manga, yang meneruskan cerita, memberi penyelesaian yang lebih final lagi. Kaoru digambarkan harus menghadap keluarga Hanabishi untuk mempertahankan Aoi. Kaoru dan Aoi akhirnya menikah sesudah melepas marga masing-masing. Tina memutuskan meninggalkan Jepang, baru kembali lama sesudahnya untuk mengunjungi teman-temannya. Mayu—yang segala situasinya berkebalikan dengan Tina—kini bisa menerima Tina sebagai teman, tapi belum bisa menyerah soal Kaoru. Miyabi diangkat anak oleh keluarga Sakuraba, menggantikan posisi Aoi sebagai pewaris, namun Miyabi tetap menjaga hubungan dengan Kaoru dan Aoi.

Di akhir cerita, Kaoru dan Aoi memilih untuk hidup jadi ‘orang biasa,’ tapi mereka bahagia.

Berdampingan, Hari Ini dan Esok

Ai Yori Aoshi adalah yang membuat aku untuk pertama kalinya memikirkan pernikahan secara serius. Aku memikirkan kehidupan macam apa yang aku inginkan kalau punya istri; ada yang menyapa kalau aku pulang, ada yang membuatkan makanan, ada teman yang bisa bebas mengungkapkan isi pikiran. Ada urusan hubungan suami istri juga.

Aku paham idealnya begitu sih, tapi nyatanya, di dunia ini, jalan hidup orang ada berbagai macam.

Aku dan istriku sendiri menikah lebih karena faktor keadaan. Kami berdua dijodohkan. Jadi, awalnya, kami tak benar-benar menikah atas dasar cinta. (Suatu hal yang ironis, mengingat resepsi pernikahan kami katanya dinilai romantis.) Awalnya, kami sepakat untuk seenggaknya mencoba menjalani peran masing-masing dulu.

Tapi, belakangan aku sadar. Meski hubungan kami berawal demikian pun, istriku sebenarnya tetap berharap ada cinta dalam pernikahannya. Maka dari itu, jadi tugas aku untuk mengusahakannya.

Ai Yori Aoshi adalah seri yang masih ‘lebih buat cowok.’ (Itu kelihatan jelas dari banyaknya artwork yang menampilkan Aoi dan kimononya. Sekali lagi, ini seri dewasa ya.) Tapi, tetap ada beberapa hal di dalamnya yang bisa dipetik. Pertama, dan terutama, kalau kamu mau ‘dapat yang baik,’ kamu sendiri juga harus ‘baik.’ Kedua, isu-isu seputar benturan budaya, seperti yang dipaparkan lewat situasi Tina dan Mayu. Ketiga, jalan keluar yang kelihatan paling gampang seringkali adalah justru yang bakal menyusahkan kamu di akhir-akhir. Karena itu, siapapun kamu, kamu harus mau bersusah payah.

Aku tak tahu apa ini masih jadi seri yang pantas direkomendasikan. Di luar sana, ada banyak seri drama lain yang lebih solid. Tapi, ada hal-hal tertentu yang Ai Yori Aoshi punyai yang enggak dimiliki seri-seri lain.

Kalau kalian tipe yang sentimentil, mungkin kalian bakal suka ini.

Penilaian (untuk anime)

Konsep: B+; Visual: A-; Audio: B+; Perkembangan: C+; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B+

9 tanggapan pada “Ai Yori Aoshi [Review]”

  1. Eka Rohana Dewi

    Cieee…udah nikah….selamat ya….
    Semoga jadi keluarga yang selalu bersama sampai akhir hayat… Dan semoga cepat dapat momongan….amiin..

    Gak bahas Gundam NT ? udah keluar kemaren dvd /bluray nya..

  2. Nggak bahas anime misteri lagi, kak? Kayak umineko, higurashi, atau subete f ga ni naru, kak? Ngikutin reviewnya mantap-mantap kak.

    1. Terima kasih.
      Kebetulan masih trauma dengan tamatnya Chaos;Child, dan banyak isu IRL, jadi belum sanggup ngumpulin tenaga buat ngikutin. Ntar disempetin.

  3. Muhammad Daris Kholishuddin

    Dulu aku sempat nonton ini tapi ga selesai, cuma sampai pertengahan dan bosan banget, tapi baca ulasanmu mungkin bakal kucek lagi ntaran.

    Anyway selamat bro! Semoga langgeng pernikahannya, kendala itu pasti ada tapi yang penting komitmen berdua.

    Kayak komen2 di atas, aku juga nungguin Gundam NT hehe

    1. Ga perlu bro. Bagian tengahnya emang bosenin. (Kayaknya, SEMUA karya pengarang ini punya bagian tengah ngebosenin.)

      IMO lebih mending kerjain yang lain.

      Thanks btw.

      (KENAPA SEMUA NUNGGU ULASAN GUNDAM NT (╯°□°)╯︵ ┻━┻ )

Tinggalkan Balasan ke Eka Rohana Dewi Batalkan balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.