Darling in the Franxx

Kehilangan tujuan hidup itu menakutkan. Mungkin itu enggak kebayang kalau kalian masih remaja. Tapi, jujur, itu suatu hal yang mengerikan. Kehilangan tujuan hidup berujung pada retaknya identitas. Retaknya identitas berujung pada hilangnya makna/arti keberadaan.  Bila tak berarti, kau tak lagi diperlukan. Kalau kau tak diperlukan, kau ada atau enggak, enggak ada bedanya. Kau hidup atau mati, enggak ada bedanya. Kau tiba-tiba mati pun tak apa-apa.

Pikiran yang berlangsung itu kira-kira kayak gitu. Itulah alasan kenapa kasus-kasus PHK dan tuna wisma (terutama di luar negeri) bisa menjadi musibah besar. (Dan disusul kasus-kasus bunuh diri.)

Darling in the Franxx adalah anime yang dengan apik berhasil memaparkan soal kehilangan tujuan hidup.

Darling in the Franxx merupakan proyek anime mecha drama romansa orisinil yang diproduksi lewat kolaborasi Studio Trigger dan CloverWorks (Sebelumnya, A-1 Pictures; studio cabang A-1 Pictures yang menangani seri ini berubah status menjadi independen di pertengahan masa produksi.). Berjumlah total 24 episode dan ditayangkan dalam dua cour, seri ini lumayan menarik perhatian (kontroversial) pada paruh awal 2018. Sutradaranya adalah Nishigori Atsushi (sebelumnya dikenal lewat IDOLM@STER). Naskahnya dikerjakan Nishigori-san barengan bersama Hayashi Naotaka, Ohtsuka Masahiko, Yamazaki Rino, dan Seko Hiroshi (secara bersama menggunakan nama Code:000). Musiknya ditangani Tachibana Asami. Ada adaptasi manga juga, dengan kualitas lebih bagus dari dugaan, yang dibuat Yabuki Kentaro (mangaka To-Love-Ru!). Ada juga manga lepasan 4-kotak bergenre komedi yang dibuat oleh Mato.

Karena keberhasilannya memaparkan soal kehilangan tujuan hidup di awal cerita, aku langsung merasa bahwa kayak gimanapun hasilnya ntar, Darifura pasti punya ‘sesuatu’ yang bagus. Aku enggak salah sih, tapi bagus enggaknya seri ini di akhir ternyata lumayan patut diperdebatkan.

Selain soal pemaparan temanya, lagu pembukanya, “Kiss of Death”, dinyanyikan Nakashima Mika juga ngemunculin nuansa yang jarang kamu temuin di anime-anime lain. Secara mencolok, lagu itu diproduksi Hyde, musisi Jepang ternama yang menjadi pentolan band L’Arc-en-Ciel. Perlu kuakui, sebagian daya tarik seri ini juga berasal dari lagu tersebut.

Jadiiiii, meski mengangkat tema demikian, berhubung Studio Trigger yang memproduksi, pasti ada elemen komedi yang seri ini punyai ‘kan? Elemen komedinya itu ada, tapi itu dibarengi dengan porsi drama yang ternyata sangaaaat banyak.

Kalau boleh jujur, sewaktu pertama mengumumkan proyek ini di panel mereka di ajang AX 2017, kebanyakan pemerhati tak yakin harus bereaksi bagaimana terhadap seri ini. Di satu sisi, isu yang diangkat itu kayaknya serius. Sedangkan, di sisi lain, mengenal kecendrungan Trigger, kita sebagai fans juga pengen teriak, “Kalian tuh serius enggak sih?!” Dan kesan tersebut berlanjut sesudah seri ini mulai ditayangkan.

Sangkar Burung

Darifura dibuka dengan perkenalan terhadap Hiro, atau yang secara resmi dikenal dengan nama Code:016. Hiro adalah anak remaja yang merupakan satu dari sekian banyak anak Parasite yang hidup dan dibesarkan bersama. Anak-anak Parasite diindikasikan tercipta melalui proses rekayasa genetik (jadi, bukan dilahirkan secara alami). Bersama, mereka dibesarkan di suatu instansi rumah taman bernama Mistilteinn. Di awal cerita, Hiro sedang memikirkan nasibnya karena telah gagal dalam suatu ujian yang instansi berikan, sementara semua temannya yang lain lulus.

…Agak, susah menceritakan detilnya.

Pokoknya, adegan pembuka ini, yang secara puitis memaparkan perasaan Hiro, kayak bisa mengingatkan kamu sama sejumlah hal berbeda, tergantung kamu orang yang kayak gimana (dan makanya, anime ini berakhir jadi sesuatu yang kontroversial). Tren ini berlanjut di sepanjang seri (baik dalam arti baik maupun buruk). Maka dari itu, terlepas dari apa kau bisa menyukainya atau enggak, Darifura tetap bisa berakhir jadi sesuatu yang berkesan.

Meski galau dan bimbang, di permukaan, Hiro terbilang tenang. Dia sangat tenang dan tetap sopan. Dia tak marah. Dia tak meledak-ledak. Dia hanya… sangat kecewa, mungkin? Jadinya, dia secara halus menolak simpati teman-temannya, dan kemudian memutuskan untuk menyendiri. Sehingga, walau kita belum terlalu kenal Hiro, ada nuansa manusiawi (yang di awal) lumayan berhasil dipaparkan. Pemaparan psikologis dan suasananya itu keren. Mirip seperti gaya arahan di Neon Genesis Evangelion.

Hiro ingin menyendiri. Kemudian di tengah hutan, dia kebetulan berjumpa dengan sosok gadis lebih tua berambut pink bernama Zero Two. Lalu dari sanalah, cerita ini berjalan.

Singkat cerita, latar Darifura adalah dunia pasca bencana di mana tanah di seluruh dunia kering kerontang. Umat manusia hanya bisa hidup dalam kota-kota besar berkubah yang terus berpindah bernama Plantation. Plantation bergerak dengan mengandalkan sesuatu yang disebut magma energy. Namun, untuk bisa menggunakan magma energy, umat manusia harus berhadapan dengan makhluk-makhluk buas yang disebut Klaxosaur (Kyoryuu).

Di sinilah anak-anak Parasite itu berperan. Untuk bisa menghadapi Klaxosaur, yang dapat diandalkan hanyalah mecha-mecha raksasa Franxx (yang nyata-nyata digambarkan lebih mirip perempuan raksasa ketimbang mesin). Franxx ini hanya bisa dikemudikan berpasangan oleh anak-anak Parasite, seperti Hiro dan kawan-kawannya.

Karena gagal dalam ujian kelulusan penentuan untuk bisa memiloti Franxx inilah, Hiro—yang sebelumnya dipandang sebagai murid paling berpotensi di antara teman-temannya—menjadi merana. Hiro tak bisa mencapai tingkat sinkronisasi yang dibutuhkan dengan partnernya, Naomi (Code:703) untuk bisa mengendalikan Franxx. Karena dinilai gagal, keduanya akhirnya mau dikesampingkan dan “dipindahkan” ke luar Plantation.

Namun, sesudah bertemu Zero Two, dan ada Klaxosaur tiba-tiba menyerang, Hiro ternyata terbukti masih bisa memiloti Franxx, asalkan partnernya adalah Zero Two. Situasipun berubah. Keputusan Hiro untuk dipindahkan dari Mistilteinn pun tertunda.

Penyebabnya, yang sekaligus jadi akar masalah utama seri ini, adalah bagaimana kemudian terungkap juga bahwa dari pengalaman lalu-lalu, siapapun yang berpartner dengan Zero Two sebagai pilot Franxx pada akhirnya akan tewas lebih awal dari waktunya.

Itu nasib agaknya akan kelak dialami Hiro juga bila bersikeras berpartner dengan Zero Two.

Mati Dengan Arti Lebih Baik Ketimbang Hidup Tanpa Arti

Membahas soal teknis dulu (karena itu yang paling gampang diangkat), presentasi Darifura benar-benar keren. Kalau menilai dari key visual-nya saja memang enggak terlalu kelihatan. Apalagi, dengan gaya desain karakter yang dipakai. Tapi, kalau melihatnya dalam bentuk animasi, Darifura memiliki visual apik dengan pemilihan warna yang selalu pas. Desain karakternya simpel, tapi dengan kuat menunjukkan identitas masing-masing karakter sekaligus beragam ekspresi mereka.

Kerasa bagaimana ada banyak simbolisme ditampilkan dalam adegan-adegannya, yang sekali lagi, mengingatkan pada anime-anime psikologis lawas dari Gainax (yang menjadi awal mula Trigger), macam Neon Genesis Evangelion atau Kareshi Kanojo no Jijou. Baik dalam nuansa warnanya, penataan audionya, dan sebagainya. (Tapi, tidak sampai kayak di Shoujo Kakumei Utena.) Saking udah lamanya enggak ada lagi anime (mecha) psikologis kayak begini, aku seriusan susah mengatakan Darifura sebagai anime yang jelek.

Mengecewakan? Mungkin iya. Aneh? Agak mesum? Jelas! Tapi jelek? Kayaknya enggak.

Salah satu hal berkesan dari presentasi Darifura adalah pada bagaimana pada adegan-adegan dramatis tertentu, visualnya akan mendadak berubah jadi layar lebar gitu. Bagian atas dan bawahnya dipotong, sehingga cakupan pandangan kita dipersempit secara vertikal dan diperlebar secara horizontal. Efeknya secara emosional benar-benar keren. Terutama dengan beragamnya tema yang seri ini berusaha angkat.

Tema-tema Darifura setahuku meliputi:

  • Soal menjalani hidup panjang tanpa makna atau menjalani hidup pendek dengan makna.
  • Soal menerima kenyataan dan keikhlasan melepas hubungan masa lalu.
  • Soal makna peradaban manusia.
  • Soal membesarkan anak dan makna punya keturunan.
  • Soal seksualitas dan mengenal lawan jenis.
  • Soal pelampiasan amarah bila masa lalu kamu enggak enak, dsb.

Sayangnya, meski sangat apik menghadirkan hal-hal tersebut per episode, dalam gambaran besarnya, Darifura kurang berhasil menyatukan itu semua. Jadinya, Darifura di akhir berkesan kayak proyek yang enggak benar-benar jelas mau tentang apa, meski berhasil memaparkan semua temanya secara baik (dan bahkan sampai berulangkali menuai kontroversi dan meme segala).

Namun, kalau membayangkan apa yang seri ini berhasil capai, menurutku ini tetap seri yang berhasil kok. Maksudku, sangat jarang ada anime kolaborasi dua studio yang berakhir sebagus ini. (Terlepas dari sejumlah penundaan yang episode-episodenya alami.)

Di samping itu, dengan luasnya cakupan tema yang ada, seakan sudah terjamin sejak awal bahwa akhir ceritanya takkan memuaskan.

Dalam perkembangannya, ceritanya tak lagi seputar hubungan antar karakter dan rahasia-rahasia yang tersembunyi dari permukaan. Melainkan jadi soal serangan alien. Semua drama dan kegalauan soal cinta dan persahabatan di paruh awal tergantikan dengan kegentingan soal serbuan alien! (Dalam hal ini, ras luar angkasa spiritual VIRM yang dikisahkan pernah menyerang bumi di masa lalu.)

Maksudku, memang ada misteri-misteri yang jadinya terjawab. Tapi, tetap saja, itu jadinya luar biasa aneh ‘kan?

Hanya saja, berhubung cerita Darifura memang sudah aneh sejak awal, aku tak benar-benar kaget. Malah, aku lebih kaget dengan kenyataan bagaimana ceritanya berakhir dengan semacam penghormatan terhadap Gunbuster—anime mecha klasik Gainax yang lain, terkenal karena memaparkan satu robot raksasa di luar angkasa yang melawan sepasukan alien di tempat yang sangat jauh dari Bumi—ketimbang memberikan tamat membingungkan khas Gainax (Gainax Ending) ala seri TV Neon Genesis Evangelion.

Argh. Aku udah ngomong kepanjangan.

Intinya, susah diskusi soal Darifura secara adil. Mungkin kalian suka. Mungkin kalian benci. Potensinya luar biasa besar di awal, tapi semua berakhir dengan… yah, aneh.

Burung-burung Bersayap Satu

Berlanjut ke soal mecha.

Kita tak bisa membahas soal mecha-mecha Darifura tanpa membahas soal para karakternya. Alasannya karena… uh, yang juga jadi salah satu poin konrtoversial seri ini, untuk memilotinya, para cewek seakan harus ‘menyatu’ dengan mecha Franxx dan kemudian baju pilot mereka menjadi antarmuka kendali(!) bagi para cowok dalam kokpit sempit yang sama. Pokoknya, jadinya ada kesan benar-benar mesum (karena buat mengendalikan Franxx, para pilot cowok jadi harus memegang pegangan di pantat partner cewek mereka), sekalipun para karakternya dikisahkan sangat awam seputar seks.

Kukatakan saja. Seluruh perkembangan karakter yang Hiro alami, dengan mechanya sebagai metafora, bahkan bisa dilihat sebagai alegori seorang cowok yang mengalami disfungsi ereksi dan mendapati diri jadi hanya bisa berhubungan bersama seorang cewek yang kelakuannya kurang baik.

Ya, jelas saja seri ini jadi memicu kontroversi!

Sayangnya, kalau kita mau mengesampingkan semua itu pun, aspek mecha Darifura sebenarnya tak bisa dibilang memuaskan juga. Menarik sih, dan animasinya enak dilihat. Hanya saja, karena kesannya yang organik, kalian yang menyukai visual-visual berbau permesinan akan kecewa berat terhadap seri ini.

Ditambah lagi, pertempuran-pertempuran dengan Klaxosaur, meski terkadang keren, kerap terkesan generik. Klaxosaur digambarkan sebagai makhluk-makhluk abstrak dengan warna hitam atau biru, yang memiliki ‘inti’ yang harus bisa dihancurkan kalau mau dikalahkan. Frekuensi pertempurannya cukup jarang. Kalaupun ada, sekali lagi, yang disorot lebih seputar dramanya, jadi seri ini kurang disarankan bila kalian meminati aksi. Terutama dengan bagaimana potensi untuk adegan-adegan aksi besar itu sebenarnya ada, tapi berakhir kurang tergali. (Meski kalau dibandingkan seri mecha ‘berat’ macam Gasaraki atau Patlabor, kurasa porsi aksinya tetap lebih banyak ini.)

Terlepas dari itu, mecha-mecha Franxx utama beserta para karakter yang mengendalikannya antara lain:

  • Strelizia, yang bermotif merah, bersenjatakan tombak raksasa berkawat Queen Pike. Dapat berubah menjadi wujud binatang berkaki empat saat pilot cowoknya tewas/pingsan. Dikemudikan oleh:
    • Hiro, Code:016, tokoh utama yang terkesan kosong karena merasa ada sesuatu yang hilang darinya jauh di masa lalu.
    • Zero Two alias Nine Iota, Code:002. Gadis bertanduk dan berambut pink yang liar dan di awal cerita, membenci sekelilingnya. Tengah mencari seseorang yang dia sebut sebagai darling-nya. (‘darling‘: salah satu panggilan sayang terhadap seseorang dalam Bahasa Inggris)
  • Delphinium, bermotif biru, menggunakan sepasang pedang pendek bernama Envy Shop. Berperan sebagai pemimpin pasukan. Dikemudikan oleh:
    • Ichigo, Code:015, gadis berambut pendek yang sebelumnya sangat dekat dengan Hiro, dan menjadi yang paling terpukul dengan kondisi Hiro sekaligus hubungan barunya dengan Zero Two.
    • Goro, Code:056, pemuda jangkung berkacamata yang baik hati dan merupakan teman terdekat Hiro. Diam-diam menyukai Ichigo, tapi menghormati perasaan yang Ichigo pendam terhadap Hiro.
  • Argantea, bermotif pink, mengutamakan kecepatan, bersenjatakan sepasang cakar pelindung tangan Night Claw. Dikemudikan oleh:
    • Zorome, Code:666, anak lelaki pendek dan berisik yang juga gegabah. Sangat kagum terhadap para orang dewasa di Plantation, terutama sosok bertopeng Papa yang membina mereka, dan berharap suatu hari bisa bergabung dengan mereka kelak.
    • Miku, Code:390, gadis berkuncir dua yang sedikit centil. Menganggap Zorome menyebalkan, tapi menerima partnernya apa adanya.
  • Genista, bermotif hijau gelap, dilengkapi lapisan pelindung berat, bersenjatakan bayonet artileri Rook Sparrow yang dapat menimbulkan kerusakan besar. Di awal cerita, dikemudikan oleh:
    • Futoshi, Code:214, anak gemuk yang sangat suka makan. Baik hati dan ceria. Sangat suka pada partnernya.
    • Kokoro, Code:556, lemah lembut dan feminin, cenderung perhatian terhadap orang lain. Menjadi orang pertama yang menyadari kejanggalan-kejanggalan tentang masa depan mereka.
  • Chlorophytum, bermotif ungu, ramping dan dikhususkan untuk pertempuran jarak jauh, bersenjatakan deretan peluncur Wing Span. Di awal cerita, dikemudikan oleh:
    • Mitsuru, Code:326, anak penyendiri yang berkesan tinggi hati. Pernah akrab dengan Hiro di masa lalu.
    • Ikuno, Code:196, perempuan berkacamata yang rapi dan tertutup. Memendam perasaan istimewa terhadap Ichigo.

Hiro dan kawan-kawannya diawasi keseharian dan pendidikannya oleh dua orang dewasa yang hanya dikenal dengan sebutan Nana (perempuan, ramah dan perhatian) serta Hachi (lelaki, pendiam, bersifat logis). Nana dan Hachi melapor langsung kepada Dr Franxx, alias Werner Frank, ilmuwan legendaris pencipta Franxx sekaligus ahli di bidang magma energy. Lalu seiring perkembangan cerita, terungkap berbagai hal tak biasa tentang Hiro dan kawan-kawannya bahkan dalam ranah dunianya sendiri. Apalagi sesudah diperkenalkan juga anak-anak dari kesatuan-kesatuan lain. Khususnya, dari kesatuan elit Nines pimpinan Nine Alpha, pasukan lama di mana Zero Two pernah tergabung, yang sama sekali berbeda dari Hiro dan kawan-kawannya.

Seiring banyaknya pertanyaan tentang siapa Hiro dan kawan-kawannya, apa yang telah terjadi pada dunia, siapa sebenarnya Zero Two, apa sebenarnya organisasi misterius APE, apa iya Hiro akhirnya bakal mati, apa sebenarnya yang sedang terjadi; kita lalu dibawa ke perjalanan aneh seputar hubungan masa lalu yang manusia punyai dengan Klaxosaur.

…Iya, ujung-ujungnya tetap aneh.

Bulan Madu Panjang

Kalau ada satu hal tentang Darifura yang jelas unggul, maka itu adalah bagaimana dinamika karakternya berhasil dipaparkan. Hubungan yang terjalin kompleks. Ada porsi-porsi masa lalu yang terlupakan. Ada dendam-dendam yang belum terbayar. Pemaparan dinamika karakternya beneran luar biasa. (Hubungan Futoshi dan Kokoro, hubungan Ichigo dan Hiro, sampai hubungan Dr Franxx dengan Code:001 mendiang istrinya?) Sedemikian bisa kena ke orang, dan karenanya terkadang bisa tak nyaman untuk ditonton. Karena itu, yah, Darifura lumayan susah direkomendasikan. Apalagi dengan bagaimana paruh akhir ceritanya tak sekuat paruh awalnya.

Emang enggak biasa aku menyebut soal tamatnya begini. Tapi, aku merasa perlu menyinggung bagaimana Darifura berakhir dengan keberhasilan kawan-kawan Hiro menghidupkan lagi dunia, serta reuni kembali Hiro dan Zero Two jauh di masa depan. Itu tamat yang… enggak jelek, tapi terasa kurang pas? Apalagi dibandingkan segala yang telah terjadi di sepanjang seri ini. Soalnya… apa ya?

Darifura jadi terasa kayak… hasil eksperimen yang agak lepas kendali. Awal ceritanya benar-benar berkesan. Aku sangat menghormatinya dengan kemiripan nuansanya dengan Neon Genesis Evangelion. Tapi, memasuki paruh kedua cerita, meski aku mengerti kenapa mereka jadi membuatnya demikian (mereka kehabisan ide?), kesan kuat yang seri ini sebelumnya punya jadi memudar. Aku tak lagi terkesima olehnya, tapi aku tak sampai bisa membencinya juga. Hanya sebatas… senang bahwa seri ini akhirnya tamat saja.

Aku paham kehilangan tujuan hidup itu berat. Tapi, sebagai cowok, punya tujuan hidup di samping punya pasangan itu penting. Malah, sebagai cowok yang mau nikah, aku dengan ini menyatakan bahwa pasanganku mungkin bahkan enggak akan ngelirik aku andai aku enggak punya tujuan hidup. Bukannya tersanjung, dia bahkan mungkin bakal muntah kalau aku bilang tujuan hidupku adalah untuk nikah sama dia.

Makanya, melihat arti hidup Hiro adalah bersanding dengan Zero Two, oke, mungkin itu agak romantis. Tapi, itu aneh. Apalagi dalam konteks realistis yang seri ini angkat. Hiro memang berjuang melawan VIRM demi masa depan umat manusia. Tapi, dalam ceritanya, dia seperti melakukannya lebih agar bisa bersama Zero Two ketimbang alasan lain. (Zero Two seperti punya alasan lebih kuat untuk bisa bersama Hiro, tapi sudahlah.)

Bahkan penayangan SSSS. Gridman di musim ini kini memberikan nuansa Evangelion yang lebih kental dibandingkan Darifura dulu. Sangat disayangkan, karena Darifura menurutku hanya lemah di soal naskah pada bagian-bagian akhir. Sayang, karakter Hiro tak berkembang lebih jauh. Aku kecewa dengan bagaimana Hiro tak menamai Zero Two lagi. Di samping itu, bagaimana Tomatsu Haruka menyuarakan Zero Two juga terasa… tak lazim?

Eniwei, kalau kalian penyuka segala isu soal relationship, mungkin kalian bakal suka Darifura. Kalau tidak, ini bakal jadi seri yang berat untuk dimasuki.

Kayak biasa, apa aku menyesal telah mengikutinya? Ahahaha. Kayak biasa, jawabannya enggak.

Penilaian

Konsep: B-; Visual: A;  Audio: A; Perkembangan: B-; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: B

Iklan

About this entry