Anime-Gataris

Apa pernah kalian merasa ada sesuatu yang aneh, tapi kalian enggak yakin yang aneh itu apa? Semua tampak normal di permukaan. Tak ada yang kelihatan tak wajar. Namun, sesudah menggali lebih jauh, terkuak bahwa ternyata beneran ada yang aneh dan firasat kalian ternyata enggak salah?

Itulah yang aku alami waktu pertama melihat Anime-Gataris.

Anime-Gataris tayang setahun lalu pada musim gugur (Oktober-Desember) tahun 2017 (masa-masa ketika aku baru saja tunangan dan semakin sibuk enggak jelas).  Anime ini dibuat oleh studio animasi Wao World (yang namanya waktu itu belum aku kenal, jadi aku asumsikan adalah pemain baru) dengan bekerjasama dengan DMM Pictures. Jumlah episodenya sebanyak 12.

Aku sedang tak selera menonton apapun pada masa-masa itu. Sedikit sekali seri anime yang menarik perhatianku waktu itu yang akhirnya aku bereskan. Namun, ada ‘sesuatu’ tentang key visual Anime-Gataris yang membuatku penasaran, dan bahkan terus membuatku kepikiran agak lama sesudahnya.

Kata Sandi

Singkat cerita, Anime-Gataris merupakan suatu anime drama komedi. Judulnya kira-kira berarti ‘obrolan(-obrolan) seputar anime.’ Selain key visual-nya yang terbilang benar-benar sederhana (tapi secara aneh terasa enak dilihat), judulnya pun menarik perhatianku karena seperti sama dengan yang aku coba lakukan lewat blog ini.

Ceritanya berlatar di SMA Sakaneko pada awal tahun ajaran baru. Seorang murid baru bernama Asagaya Minoa, yang tidak tahu apa-apa tentang anime, berkenalan dengan Kamiigusa Arisu, teman sekelasnya yang seorang ojou-sama sekalgis seorang penggemar anime berat (dan dengan menjentikkan jari, bisa men-summon butler-nya untuk muncul dalam sekejap).

Uuh, singkat cerita, Minoa kemudian bertanya pada Arisu tentang sebuah seri anime kebetulan sekali pernah dilihatnya sewaktu kecil di TV. Minoa sempat melihat hanya satu episode, tidak ingat/tahu apa judulnya, tapi sedemikian terkesannya oleh anime tersebut dan bahkan sampai bisa mendeskripsikan adegan-adegannya secara jelas karena berulangkali sampai terbawa mimpi. Minoa pernah berusaha mencari tahu sendiri tentang anime ini, tapi upayanya sejauh ini tak berhasil.

Arisu bingung dengan anime yang Minoa berusaha deskripsikan. Tapi, dia kemudian meracuni memperkenalkan pada Minoa berbagai judul anime lain agar Minoa tertarik pada anime lebih jauh. Arisu dengan senang hati kemudian meminjamkan koleksi DVD/BD anime yang dipunyainya!

Hobi baru Minoa berujung pada upaya Arisu dan Minoa untuk membentuk kembali Klub Anime SMA Sakaneko yang nampaknya dulu dikenal, tapi kini telah bubar. Ini membuat mereka bentrok dengan para pengurus Dewan Siswa yang seperti berusaha dengan segala cara untuk mencegah klub itu kembali.

Lalu, ternyata memang ada suatu konspirasi besar di balik dibubarkannya Klub Anime, yang ternyata bahkan ada hubungannya dengan anime misterius yang pernah Minoa tonton tersebut. Tapi, gilanya, itu bukanlah hal terbesar yang terjadi di seri ini.

Minoa, Katharsis

Anime-Gataris agaknya merupakan proyek pribadi Morii Kenshirou, yang juga berperan sebagai sutradara, berdasarkan pengalaman-pengalaman beliau sendiri semasa mengikuti klub anime semasa sekolah.

Konsepnya kudengar sebenarnya berawal dari rangkaian anime pendek (jadi, kurasa, OVA) berjudul Anime-Gatari (tanpa ‘s’) yang ditayangkan sebagai intermengso film-film animasi Toho Cinemas di Shinjuku dari tahun 2015-2016. Yang ditonjolkan tak lain adalah obrolan kilat seputar anime yang dilakukan para anggota menarik di klub anime di Universitas Tokyo. Produksi seri anime pendek ini dilakukan oleh W-Toon Studio. Ceritanya juga dapat dipandang sebagai semacam prekuel(?) dari Anime-Gataris karena menonjolkan dua karakter Asagaya Maya (kakak kandung Minoa yang berbeda sekolah, yang diam-diam adalah otaku) dan Aoyama Erika (kakak kelas Minoa, yang kemudian menjabat sebagai ketua Klub Anime yang Minoa dan Arisu kembali bentuk) sewaktu mereka SMP.

Karenanya, meski ada misteri, drama, sedikit (sekali) bumbu romansa, dan bahkan maskot kucing yang bisa berbicara (dan tahu tentang seluk-beluk dunia anime!) bernama Neko-senpai di dalamnya, sebagian besar bahasan Anime-Gataris benar-benar seputar dunia anime dan turunannya. Ada bahasan tentang beragamnya jenis anime, ada bahasan tentang manga, ada bahasan tentang light novel, ada bahasan tentang cosplay, ada bahasan tentang kalangan penggemar di luar negeri, ada soal comiket, ada soal yaoi dan yuri, ada soal situasi produksinya saat ini, dsb.

Itu semua dituangkan lewat para karakter lain yang kemudian menjadi sesama anggota Klub Anime. Erika, sang ketua yang modis, diam-diam menekuni dunia cosplay dan bahkan terkenal namanya. Teman sekelas penyendiri Kouenji Miko ternyata penyuka light novel dan ingin bisa menulis novelnya sendiri. Kakak kelas Musashisakai Kai atau Kaikai yang agak chuunibyou adalah penyuka manga. Kakak kelas Mitsuteru Nakano alias Aurora yang tampan dan populer ternyata penyuka seri-seri idol.

Kalau dipikir, gila juga banyaknya tema yang berhasil anime ini angkat dalam kurun waktu 12 episode.

Semua bahasan ini sayangnya memang kurang berujung ke mana-mana karena ditutup dengan konspirasi misterius seputar anime di sekolah di atas. Tapi, apa yang seri ini coba paparkan benar-benar berkesan.

Yuicching!

Bicara soal teknis, visual seri ini kurang menonjol, tapi enak dilihat. Jelas terlihat bagaimana pengarahannya kuat. Ini juga didukung dengan audio lumayan, baik dari segi seiyuu maupun BGM.

Kalau ada yang kurang dari anime ini, maka itu kurasa masalah naskah? Anime ini seperti ingin menjadi banyak hal dan akhirnya… enggak jadi apa-apa? Tapi, serius, meski berakhir berantakan, aku terkesan dengan apa yang anime ini coba bidik. Konsepnya menarik. Karakter-karakternya memang kurang berkembang, tapi mereka enak diikuti. Bahkan hal-hal absurd yang terjadi di sekeliling mereka (seperti bagaimana Obata Yui, sahabat Minoa di Klub Atletik, berulangkali ditampilkan sebagai karakter fanservice) bisa dimaklumi. Dan, meski aku bukan penyuka genre idol, aku enggak bisa enggak sedikit terkesan sama animasi CG penutup di mana Minoa, Arisu, dan Miko sama-sama berperan sebagai idol.

Intinya, begitu aku mendengar lagu pembuka “Aikotoba” yang dibawakan Garnidelia, lalu melihat animasi Neko-senpai jadi DJ, aku enggak bisa enggak merasa, wow, ini seri ini pasti punya sesuatu, meski aku enggak tahu sesuatu itu apa.

Naskahnya ditulis oleh Hirota Mitsutaka. Musik ditangani oleh Hoashi Keigo dan Takahashi Kuniyuki. Semuanya adalah nama yang enggak aku kenal. Menelisik lebih jauh, aku sadari kalau ini satu lagi anime yang diproduksi bersama antara Jepang dan Tiongkok. Meski begitu, kesan segala sesuatunya cukup rapi. Kalau kalian bertahan mengikuti seri ini, mungkin… kalian juga bakal agak terkesima dengan arah perkembangannya.

Oke. Mungkin kalian juga bakal dafuq. Jujur saja aku katakan, ini anime yang berakhir dengan tamat Gainax Ending yang mirip seri TV Neon Genesis Evangelion. Mari kita kesampingkan itu saja dulu.

(Setelah aku pikir, ini anime terkini yang mirip kasus Samurai Flamenco? Argh, sudahlah.)

Tapi, serius, sebagai orang yang pernah berkarya kreatif, susah bagiku buat enggak menyukainya. Ada banyak sekali referensi anime terselubung di dalamnya. Kalau kalian penggemar anime lawas, mungkin akan ada hal menarik yang bisa kalian temukan dari anime ini.

Akhir kata, ini kolaborasi langka antara Jepang dan Cina yang aku sukai, tapi bukan karena alasan yang lazim. Aku takkan merekomendasikannya kecuali kalian penggemar anime lawas. Namun, terlepas dari segala keanehannya, kalau kalian memutuskan mengikutinya, mungkin kalian bisa mendapat gambaran lebih utuh, dunia anime itu seperti apa.

Penilaian

Konsep: C+; Visual: C+; Audio: B; Perkembangan: X; Eksekusi: X; Kepuasan Akhir: X

Iklan

About this entry