Code Geass: Akito the Exiled (OVA 4-5)

Belum lama ini, aku kesampaian mengikuti dua episode terakhir Code Geass: Boukoku no Akito.

Singkat kata, dua episode ini menguatkan kesan kalau seri gaiden Code Geass: Akito the Exiled kurang memberikan apa yang biasanya disajikan dari sebuah seri Code Geass. (Yang aku pakai buat perbandingan bukan cuma seri asli Lelouch of the Rebellion ya, tapi juga beragam seri  lepasan Code Geass lain.) Menurutku enggak jelek. Enggak mengecewakan juga. Cuma… mengejutkan dan di luar dugaan?

Aku dengar sejumlah fans agak kehilangan minat terhadap Akito the Exiled begitu cerita memasuki dua episode ini. Sesudah melihat sendiri, aku langsung mengerti. Ada banyak porsi cerita yang jadinya terkesan ‘ditumpahin’ ke dua episode ini. Penceritaannya bisa lebih baik. Di samping itu, ada banyak… ‘elemen misterius baru’ yang jadi diperkenalkan? Tapi, kalau ditanya apa aku suka tamatnya apa enggak, maka jawabannya aku lumayan suka.

Demokrasi Orang-orang Bodoh

Episode 4, From the Memories of Hatred (‘dari dalam kenangan kebencian’) dan episode 5, To Beloved Ones (‘bagi orang-orang terkasih’) sebaiknya diikuti tanpa jeda. Dua episode ini secara berkelanjutan memaparkan penyerangan terhadap Kastel Weisswolf, markas kesatuan W-0 sekaligus tempat tinggal Leila Malcal dan rekan-rekannya, dan sekaligus menjadi klimaks cerita.

Rinciannya agak membingungkan. Tapi, singkatnya, atasan Leila di kemiliteran Euro Union, Jendral Gene Smilas (yang diselamatkan Leila dan Hyuga Akito di episode 1), mengkhianati Leila dengan ambisinya untuk menjadi kaisar. Smilas membeberkan lokasi markas Leila ke pihak Euro Britannia, dan menjadikan kabar kematian Leila sebagai wacana untuk memanipulasi opini publik. (Terutama, sesudah kekacauan terorisme palsu yang Julius Kingsley timbulkan di episode 3.)

Pertempuran sengit di pedalaman Eropa untuk mempertahankan Weisswolf pun terjadi. Kastel telah dikepung, dan tak ada bala bantuan yang bisa diharapkan akan datang.

Di balik itu semua, tanpa sepengetahuan siapapun, Shin Hyuga Shaing, kakak lelaki Akito yang kini memimpin pasukan Euro Britannia, ternyata punya alasan pribadi untuk merebut kastel ini. Dia bermaksud mengambil alih teknologi peluncuran roket Weissworlf, yang kesatuan W-0 sebelumnya gunakan untuk transpor cepat, dan menggunakannya untuk meluncurkan senjata pemusnah massal ke Pendragon, ibukota Britannia. Serangan ini diyakininya akan memicu perang dunia baru antara tiga negara adikuasa, dan mewujudkan cita-citanya untuk mendatangkan kekacauaan atas dunia.

Pergi Berlibur

Buat ukuran anime mecha, Akito the Exiled enggak biasa karena klimaksnya adalah pertempuran untuk bertahan. Kastel Weisswolf menjadi latar menarik bukan cuma karena tempatnya keren, tapi juga karena ikatan emosional yang tempat itu punyai dengan para karakternya, terutama saat tempat itu terancam menjadi medan perang. Bagaimana sistem pertahanan dan permesinan canggih mendadak muncul dari dalamnya lumayan kontras dengan arsitekturnya yang megah dan klasik. Hasilnya seriusan unik.

Juga, konsisten dengan episode-episode terdahulu, presentasi teknisnya masih keren. Animasi mekanik di dalamnya termasuk salah satu yang paling mulus yang pernah aku lihat. Sudut pandang kamera dinamis yang secara intens mengejar para karakter, diikuti musik latar yang heboh, masih menjadi ciri khas. Bagaimana masing-masing Knightmare Frame melewati pepohonan dan dinding, menghadapi berbagai jenis persenjataan berat ataupun arsenal pertahanan, betulan menarik secara visual. Kalau kau penggemar mecha, mungkin ini saja bisa bikin kamu lumayan puas.

Masalahnya, ada banyak individu yang jadi dilibatkan dalam cerita. Mengikuti semua yang persisnya terjadi mungkin agak susah. Banyak tokoh yang sebelumnya minor yang kemudian mendapat sorotan. Jean Rowe, ksatria wanita di pihak Euro Britannia yang memendam perasaan terhadap Shin, berperan signifikan seiring dengan kelakuan Shin yang semakin menggila. Claus Warwick, wakil Leila yang sejak awal memang mencurigakan, akhirnya juga memperlihatkan kesetiaannya yang sesungguhnya. Bahkan Anna Clément, sahabat jenius Leila yang telah mengembangkan KF Alexander Type-02, serta Oscar Hamel, yang berwenang atas penjagaan Weisswolf, juga kebagian sorotan.

Setelah kupikir, banyak benang plot yang sebenarnya terselesaikan dalam cerita. Tapi, mungkin kalian takkan langsung menyadarinya karena saking banyaknya yang terjadi. Salah satunya, soal teknologi BRS yang tertanam dalam unit-unit Alexander, yang Sophie Randall aslinya kembangkan bersama Joe Wise untuk memulihkan kondisi suaminya. Apa persisnya yang terjadi juga akhirnya diungkap.

Puncak cerita, tentu saja, ada pada konfrontasi antara Akito dan Shin. Duel antara Alexander milik Akito melawan Vercingetorix yang Shin kemudikan akhirnya terjadi di sekitaran Weisswolf. Tapi, seiring dengan terkuaknya masa lalu sebenarnya antara mereka berdua, itupun tak berjalan sepenuhnya sesuai perkiraan.

Adegan aksinya memukau (walau, oke, mungkin masih belum ngalahin intensnya duel terakhir Kallen dan Suzaku di R2). Tapi, dramanya juga dapet. Dan, begitu kau paham apa yang terjadi, aspek dramanya itulah yang sebenarnya lebih muasin ketimbang aksinya.

Itu hal yang lumayan enggak biasa.

Mungkin Kaulah yang Kelak Membantah Pandanganku

Akito the Exiled juga memunculkan banyak tanda tanya terkait semesta Code Geass sehubungan hal-hal baru yang jadi diperkenalkannya. Berbagai pertanyaan baru ini berakhir tak sepenuhnya terjelaskan, dan aku duga bakal jadi bahasan dalam film layar lebar Code Geass: Lelouch of the Resurrection yang akan tayang 2019 nanti. (Cerita Akito the Exiled juga sempat disinggung berada dalam semesta film layar lebar Code Geass, dan bukan seri TV-nya, dan makanya, mungkin ada beberapa detil yang jadinya enggak masuk.)

Kekuatan Geass yang Shin punyai, misalnya. Meski mirip dengan yang dipunyai Lelouch, sifat dan cara kerjanya sebenarnya sangat berbeda. Ada indikasi kalau bahkan Shin sendiri(!) kurang mengerti cara kerjanya. Geass yang Shin punyai diindikasikan bekerja hanya untuk orang-orang yang Shin sayangi—yang kemudian Shin gunakan untuk “membebaskan” orang-orang tersebut dari dunia yang Shin pandang hanya membawa derita. (Jadi, semua orang yang Shin bunuh itu sebenarnya adalah orang-orang yang dia sayang, indikasi terhadap sudah gilanya dia) Kekuatan itu juga Shin peroleh bukan melalui kontrak dengan sosok seperti C.C. dan V.V., melainkan melalui suatu entitas macam roh yang baru sama sekali, yang tahu-tahu muncul di hadapannya begitu sesudah Shin pertama membantai keluarganya.

Sedangkan kekuatan Geass punya Leila… itu juga dijelaskan kalau itu hanya pecahan kekuatan Geass, dan makanya punya warna berbeda. Mirip kasus di atas, Leila mendapat “benih” Geass itu sebagai pemberian, bukan sebagai bagian kontrak. Leila bebas mau menggunakannya atau tidak, tapi disebutkan kalau “benih” itu akan hilang sendiri bila sampai dewasa Leila tak menggunakannya. Saat Leila akhirnya menggunakannya, apa yang termanifestasi (kayaknya) cuma sebagian. Tapi, tetap berperan penting dalam mengakhiri pertempuran. (Buat yang bingung, Geass punya Leila adalah kekuatan untuk menghubungkan ‘hati’ orang.)

Kenapa Geass dari Shin tidak bekerja pada Akito? Itu diindikasikan karena sewaktu menerimanya sewaktu kecil, Akito masih belum sepenuhnya paham tentang konsep kehidupan dan kematian. Jadi, Geass dari Shin itu agaknya sempat bekerja, tapi tidak dengan cara yang Shin harap. (Makanya Akito bilang kalau dirinya sudah pernah mati.) Lalu, sepanjang hidupnya, Akito mungkin menekan efek Geass itu dengan cara yang serupa seperti yang dilakukan Euphemia di seri TV-nya.

Teka-teki terbesar adalah kehadiran tokoh baru Caretaker of Spacetime yang pertama tampil di episode ketiga. Seakan berkuasa melewati ruang dan waktu, sosok ini (kayaknya) adalah manifestasi dari kesadaran kolektif umat manusia yang hanya bisa dilihat orang-orang tertentu. (Sejauh ini, baru Smilas dan Leila.) Aku menduga kalau interaksi dengan sosok ini adalah awal mula bagaimana manusia bisa bersinggungan dengan kekuatan Geass. Tapi, kayak yang aku bilang, mungkin lebih jauh soal dia bakal dibahas dalam film layar lebar Lelouch yang keempat nanti.

Akhir kata, meski berakhir jauh dari pengharapan, aku enggak bisa benci Akito the Exiled. Selain karena standar yang dibidiknya tinggi, hasil akhirnya memang memuaskan… sekalipun mungkin agak susah dicerna.

Jadi, seri ini kurasa tentang cinta di tengah medan pertempuran? Soal, betapa pentingnya berpegang teguh pada harapan meski seisi dunia terlihat suram? Sebagai orang yang normalnya negatif, aneh rasanya bisa sedemikian bersimpati terhadap Shin meski aku jelas sadar kalau dia sudah enggak waras.

Di samping itu, kalau boleh jujur, hal paling mengejutkan dari Akito the Exiled adalah betapa ceritanya berakhir bahagia. Tamatnya beneran happy ending. Itu enggak begitu kerasa kayak Code Geass.

Sebagai tambahan, aku lupa menyinggung kalau Akito the Exiled juga dibarengi perilisan seri lepasan baru Code Geass: Oz the Reflection. Berlatar dalam kurun waktu hampir sama (sesudah season pertama Lelouch), aku dengar Oz punya “nuansa Code Geass” lebih kuat dibandingkan Akito. Ceritanya tentang pasangan saudara kembar Orpheus Zevon (cowok) dan Oldrin Zevon (cewek) yang terpisah dari kecil, dan kini berada di pihak berseberangan dalam konflik antara Britannia dan berbagai organisasi teroris.

Mirip Gundam SEED Astray, Oz dirilis dalam bentuk manga sekaligus photonovel, yang masing-masing media berfokus pada sudut pandang berbeda. Sebagian besar cerita berlatar di seputaran Mediterania, dan berlanjut ke seri sekuel Code Geass: Oz the Reflection O2 yang di dalamnya, Orpheus dan Oldrin saling bertukar posisi, sebelum berakhir agak tragis pada waktu berbarengan dengan klimaks di seri TV R2.

Mungkin Oz juga nanti akan direferensikan dalam film layar lebar baru nanti.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: X; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A

Iklan

About this entry