Durarara!! x2 Ketsu

Sekitar awal tahun 2018, aku beresin Durarara!! x2 Ketsu (‘ketsu’ di sini kira-kira berarti ‘penyelesaian’).

Aku telat menyadari ini, tapi penayangan Durarara!! x2 membuat seri ini termasuk LN yang hampir seluruh cerita novelnya tuntas diangkat ke bentuk anime. Enggak banyak (sangat sedikit?) LN yang kayak gitu. Ceritanya memang langsung lanjut ke seri sekuel, Durarara!! SH sih. Tapi, itu cerita lain. Di samping itu, trilogi x2 ini kayaknya memang dibuat buat mempromosikan sekuel tersebut.

Sekali lagi, Durarara!! (atau DRRR!!) diangkat dari seri light novel karangan Narita Ryohgo (Baccano!, Fate/strange fake). Ilustrasinya dikerjakan Yasuda Suzuhito (Yozakura Quartet). Penerbitannya dilakukan dari tahun 2004 oleh ASCII Media Works (di bawah Square Enix) dan tamat semenjak Januari 2014. Jumlah totalnya 13 buku.

Ketsu adalah bagian ketiga sekaligus terakhir dari trilogi x2. Trilogi ini adalah kelanjutan anime Durarara!! pertama yang diproduksi Brain’s Base di tahun 2010. Meski studio produksinya beda, hampir seluruh stafnya sama. Karena sudah ngikutin Shou (yang pertama), kemudian Ten (yang kedua), rasanya sayang kalau aku enggak beresin Ketsu. Tanggung. Apalagi jumlah episodenya enggak banyak, cuma 12.

Total keseluruhan episode Durarara!!x2 bersama Shou dan Ten adalah 36, ditambah 3 episode OVA yang berdiri sendiri. Ditambah lagi lagi, intrik ceritanya benar-benar saling berhubungan. Sehingga sayang banget solusi semua keruwetan ini enggak aku tuntasin.

Sedikit catatan soal situasi pribadi aku, Ketsu mengudara pada Januari 2016, persis setahun sesudah Shou. Aku sibuk pada masa-masa itu. Tanpa terasa, beberapa tahun sudah berlalu semenjak terakhir aku menonton. Karena lagi senggang (waktu itu), aku sekalian berusaha beresin hal-hal yang belum tuntas sebelum aku nikah. Salah satunya ya, termasuk nonton ini.

Sekali lagi, komposisi stafnya sendiri masih sama dengan yang sebelumnya. Diproduksi studio animasi Shuka, sutradaranya Omori Takahiro, komposisi serinya dibuat Takagi Noboru, musik ditangani Yoshimori Makoto. Enggak banyak yang bisa selain itu.

Meski demikian… iya sih, secara menyeluruh, memang terasa ada yang beda pada feel-nya.

Dunia Fiksi Jadi Taman Bermain…

Isi cerita yang diangkat dari novel karya Narita-sensei, kayak biasa, agak susah dirangkum. Ada banyak sekali jalinan cerita yang saling berhubungan. Tapi, dalam Ketsu, poin-poin terpenting yang terjadi menurutku adalah:

  • Bagaimana kepala dullahan Celty Sturluson (yang sempat ketemu, tapi kemudian hilang lagi) mau dikembalikan ke badannya oleh suatu pihak misterius.
  • Bagaimana Saika, pedang katana mistis yang bisa membuat korban-korbannya “jatuh cinta,” tahu-tahu “berkembang biak” dan bertambah jumlah penggunanya.
  • Bagaimana geng Dollars, yang menimbulkan kehebohan beberapa waktu sebelumnya karena konflik dengan geng motor, hendak dihancurkan oleh pendirinya sendiri.

Cerita Ketsu benar-benar jadi puncak seluruh cerita Durarara!! sejauh ini. Karena saking banyaknya yang terjadi, memang kadang susah mengikuti semuanya.

Celty datang jauh-jauh ke Jepang untuk mencari kepalanya yang hilang. Celty menelusuri jejak kepalanya sampai ke Ikebukuro. Tapi, dengan pencarian yang semula berakhir buntu, Celty akhirnya malah jadi membangun kehidupannya sendiri sebagai pengantar barang berkekuatan supernatural untuk orang-orang dunia hitam. Celty bahkan menemukan cinta bersama dokter bawah tanah muda bernama Kishitani Shinra.

Shinra semenjak kecil lalu jatuh cinta pada Celty. (Sekalipun kenyataannya Celty tak punya kepala dan jelas bukan manusia.) Bagaimana ini bisa terjadi? Karena Shinra merupakan anak orang yang bertanggung jawab atas hilangnya kepala tersebut.

Shinra adalah anak dari Kishitani Shingen, ilmuwan agak gila yang tertarik atas kepala Celty dan fenomena-fenomena supernatural lain. Bertahun-tahun silam, Shingen memutus ikatan supernatural antara Celty dan kepalanya dengan sebilah pedang kuno bernama Saika.

Saika, yang kita tahu dimiliki siswa SMA Sonohara Anri, adalah pedang katana berkekuatan ajaib yang bersemayam dalam tubuh pemiliknya. Siapapun yang tertebas Saika akan “jatuh cinta” kepada siapa yang menebas. Siapa yang ditebas akan jadi punya Saika lain di dalam tubuh mereka juga.

Dibeberkan bahwa Saika yang dipakai memotong kepala Celty ini lalu dijual Shingen seorang kenalannya, yang merupakan pedagang barang antik. Anri ternyata adalah putri mendiang pedagang ini, yang kemudian jadi punya pedang tersebut sesudah kedua ortunya wafat.

Sebagai akibat berbagai kekacauan yang terjadi di Ikebukuro (yang dipicu, tapi tidak diperkeruh, oleh informan/orang-di-balik-layar Orihara Izaya). Celty akhirnya mengetahui bagaimana Shinra selama ini ternyata merahasiakan lokasi kepalanya yang hilang. Shinra menyembunyikan ini karena khawatir Celty akan pergi bila memperoleh kepalanya lagi. Jadi, di tengah maraknya peredaran obat terlarang, perseturuan geng-geng jalanan, insiden tabrak lari, serangan terhadap markas yakuza, merebaknya zombie Saika, kemunculan pembunuh-pembunuh dari Russia, dsb., akhirnya terjadilah perpecahan antara pasangan kekasih Celty dan Shinra.

Puncak semuanya adalah… yah, saat Celty dan kepalanya akhirnya bersatu lagi.

Itu juga jadi saat ketika pihak-pihak yang selama ini berseteru akhirnya saling berhadapan untuk menuntaskan konflik mereka.

Rasa Bersalah yang Menjadi Tuhan Kamu

Bicara soal teknis, kualitas Ketsu enggak beda jauh dengan dua pendahulunya. Baik visual maupun audionya sama-sama solid. Entah kenapa, enggak sampai sempat bikin wow kayak di season pertamanya, tapi itu dimaklumi karena struktur ceritanya yang emang enggak biasa.

Ceritanya sangat terkesan episodik gitu. Awalnya, kurang kerasa adanya kesinambungan antara satu episode dengan episode lain. Makanya, trilogi ini terus terang mungkin agak susah diikuti oleh kebanyakan penggemar awam.

Mungkin karena itu pula, secara teknis, seri ini jadi punya kesan benar-benar “rapi.” Staf pembuatnya seperti berhati-hati untuk tidak melakukan kesalahan konyol gitu. Ada sejumlah adegan yang kerasa kayak bisa mereka bikin lebih keren asalkan mereka mau, tapi mereka berakhir enggak melakukannya. Enggak sampai ‘jelek.’ Sekedar ‘menarik’, tapi enggak sampai ‘wah’. (Ini paling kerasa dari penataan musiknya sih; yang di anime pertama terasa sangat cocok, tapi di trilogi ini hanya sekedar masuk saja.)

Fokusnya pada karakter juga membuat latar lokal Ikebukuro jadi kurang tertonjolkan. Ini masih terasa kayak latar yang sama, tapi kita jadi banyak dibawa ke sudut-sudut gelapnya yang kita enggak yakin persisnya di mana. Tapi, itu juga masih sejalan dengan ceritanya yang lebih berat sih.

Meski begitu, kesan tanggung itu sepenuhnya berakhir di episode terakhirnya. Episode terakhir Ketsu itu seriusan keren dan memuaskan. Aku beneran terkesan dengan bagaimana semua jalinan plot utama berhasil dibereskan. Si bartender berkekuatan super Heiwajima Shizuo akhirnya melakukan duel mautnya dengan Izaya, dan aksinya beneran keren. Lalu Ryuugamine Mikado juga menyelesaikan konflik pribadinya dengan dukungan teman-teman dekatnya, dan resolusinya pun muasin.

Dunia Fiksi yang Sama Pentingnya Dengan Kenyataan

Salah satu hal paling berkesan di x2 adalah bagaimana tokoh antagonis yang paling ditonjolkan di sepanjang trilogi, Kujiragi Kasane, sekretaris yang bekerja untuk sosok Yodogiri Jinnai yang sangat misterius, ternyata bukanlah tokoh antagonis utama dari seri ini. Tokoh antagonis utamanya itu seseorang yang lain. Seorang tokoh lama, malah.

Bagaimana semua perkiraan itu dibelokkan menjelang akhir cerita itu beneran keren. Apalagi, saat dibeberkan indikasi tentang asal usul Kasane yang ternyata masihberhubungan dengan seorang karakter lain.

Akhir kata, aku lumayan tak menyesal mengikuti trilogi x2. Tapi, ada kesan sangat kuat kalau mengikuti seri novelnya akan jauh lebih memuaskan. Memang agak disayangkan karena x2 tak semulus anime Durarara!! pertama; atau bahkan Baccano!. Tapi, akhir ceritanya—episode terakhirnya banget—yang memuaskan  seakan menutupi hal ini.

Daripada pelajaran atau pesan moral, cerita Durarara!! secara menyeluruh buatku lebih terasa seperti semacam cerita peringatan. Kayak, apapun yang kau lakukan, sesombong apapun kau tentangnya, ujung-ujungnya nanti pasti ada konsekuensi yang kau terima. Lalu, konsekuensi itu bakal muncul dengan cara-cara rumit dan enggak disangka. Di samping itu, konsekuensi itu mungkin hanya disadari orang-orang bersangkutan dan tak diketahui orang lain.

Lumayan cocok dengan zaman sekarang?

Yah, jaga diri, guys.

Penilaian

Konsep: A-; Visual: B+; Audio: B+; Perkembangan: B+; Eksekusi: B+ ; Kepuasan Akhir: A-

Iklan

About this entry