Hinamatsuri

Aku samar-samar merasa pernah membaca tentang manga Hinamatsuri karya Outake Masao, tapi belum pernah sampai tertarik mengikutinya. Ketika animenya diumumkan keluar pada April 2018, yang membuatku tertarik justru nama penerbit dan staf produksi animenya.

Hinamatsuri (selain mengacu pada nama si tokoh utama, judulnya mereferensikan hina-matsuri, perayaan boneka di Jepang untuk mendoakan pertumbuhan anak perempuan setiap 3 Maret, sesuai tema berkelanjutan yang seri ini punya) diserialisasikan di majalah komik seinen Harta milik Kadokawa dan Enterbrain sejak tahun 2010. Dengan demikian, serialisasi manga Hinamatsuri sudah berlangsung lumayan lama, bahkan semenjak majalah tersebut masih bernama Fellows!.

Jadi, majalah komik Harta terus terang sangat aku ingat. Di samping karena terbit dalam jadwal enggak biasa, seri-seri yang mereka usung selalu unik dan agak ajaib. Nama majalahnya sendiri kudengar benar-benar diambil dari Bahasa Indonesia (Iya, kata ‘harta’ kayak yang ada di ‘harta karun’). Ditambah lagi, ini majalah yang menserialisasikan seri populer Dungeon Meshi. Ya jelas aku bakal ingat.

Reputasi Harta sudah sedemikian dikenal sebagai wadah komik-komik eksentrik, dan aku jarang mendengar ada anime yang diangkat darinya. Makanya, begitu diumumkan, anime Hinamatsuri lumayan jadi kejutan.

Staf produksinya dipimpin Oikawa Kei, yang langsung aku kenali sebagai sutradara anime Outbreak Company yang bagiku sangat wah pada tahun 2013. Produksinya dilakukan studio feel. yang pada tahun-tahun belakangan semakin piawai menangani seri-seri drama. Naskahnya sendiri ditangani Ouchi Keiichirou. Musiknya ditangani Misawa Yasuhiro. Jumlah episodenya sebanyak 12.

Nah, tentang anime Hinamatsuri sendiri…

Singkat cerita, ini seri drama komedi paling ajaib yang pernah aku tahu.

Hidup Adalah Soal Bertahan HIdup

Hinamatsuri berkisah tentang keseharian seorang yakuza bernama Nitta Yoshifumi dengan Hina, anak perempuan yang kemudian diangkat Nitta sebagai anak, meski ia tak pernah benar-benar yakin soal dari mana asal Hina.

Soalnya, Hina secara harfiah benar-benar tiba-tiba muncul begitu saja di apartemen Nitta.

Hina adalah gadis yang lumayan aneh. Ekspresi wajah dan suaranya senantiasa datar. Selain itu, perilakunya juga agak-agak (maaf) bodoh. Tapi Hina memiliki kekuatan supernatural. Dia bisa(?) teleportasi. Dia bisa telekinesis. Dia bisa terbang. Lalu, dengan kekuatan itu, Hina sedikit banyak “mengancam” Nitta untuk… uh, memberinya makan (yang intinya, kemudian jadi berlanjut ke mengasuhnya).

Siapa Hina? Dari mana dia berasal? Siapa pula anak-anak perempuan lain berkekuatan supernatural yang belakangan ikut muncul dan mencari-cari dia? Untuk apa mereka ada?

ITU SEMUA TAK PENTING!

Lupakan itu semua!

Ada banyak urusan lebih penting lain dalam hidup yang harusnya kita perhatikan!

Seperti, soal sekolah. Soal… cita-cita. Soal masa depan! Soal apakah teman sekelasmu yang disiplin kerja sambilan di bidang asusila atau tidak. Soal apakah perempuan cantik kenalan kamu single atau tidak. Soal… kesejahteraan sosial? Soal bagaimana caranya bisa selamat kalau anak perempuan angkat kamu menimbulkan kesalahpahaman yang berujung pada gimana kamu hampir mati. Dan lain sebagainya.

Intinya, yang mau aku katakan, sangat susah buat cerita soal Hinamatsuri tanpa membeberkan apa-apa yang terjadi.

Aku cuma bisa bilang, Hinamatsuri berhasil menyajikan porsi drama dan porsi komedinya secara luar biasa seimbang. Dramanya benar-benar menyentuh dan bisa membuat mikir, tapi tanpa membuat kita merasa terbebani dalam mengikutinya. Komedinya sendiri adalah jenis yang sebenarnya agak absurd gitu, yang hebatnya disajikan dalam latar realistis.

Sehingga, kayak, seri ini seakan menonjolkan bagaimana reality can be stranger than fiction gitu. Itu bahkan tanpa menyinggung soal kekuatan-kekuatan ajaib yang Hina punyai.

Hinamatsuri itu seri tentang kehidupan. Tentang tumbuh besar. Tentang menjadi dewasa dan memahami tanggung jawab (sekalipun kalian tetap saja jadi orang enggak bertanggung jawab.) Iya, ada yakuzanya. Iya, ada soal sekolahnya. Iya, ada komentar-komentar sosialnya. Makanya, karena cakupannya yang multidimensi juga, aku sangat merekomendasikannya.

Bagaikan Sungai Mengalir

Bicara soal teknis, visual Hinamatsuri mempertahankan gaya gambar khas Outake-sensei. Gaya gambar beliau itu… punya kesan sederhana. Tidak dibikin agar terlihat berkesan. Cukup sekedar menyajikan apa yang mau ditampilkan. Tapi, jadinya efektif dalam menyajikan nuansa sureal yang mau dicapai. Dengan begitu, sebagai anime, Hinamatsuri tak punya visual yang wah. Tak membuat kita terkesima atau gimana. Tapi, sama sekali enggak jelek.

Audionya lebih menonjol karena berhasil dalam mengeksekusi kombinasi komedi dan dramanya. Hasilnya termasuk brilian. Serupa dengan visualnya, audionya tak sampai membuat kita takjub gitu. Tapi, hanya sebatas benar-benar sesuai dengan apa yang mau disajikan.

Karena menampilkan cuplikan-cuplikan kehidupan, yang terkadang bukan dari sudut pandang Nitta maupun Hina, tak ada perkembangan plot dramatis yang terus tumbuh. Jadi, tak perlu kuatir soal itu.

Sebagai penutup, sekali lagi, aku enggak enak menjabarkan terlalu banyak, karena salah satu keasyikan Hinamatsuri ada dalam usaha kita dalam memahami apa yang terjadi (meski usaha kita enggak sepenuhnya penting juga). Tapi, secara umum, kurasa ini seri tentang tanggung jawab.

Ditampilkan banyak karakter dewasa yang notabene enggak sepenuhnya dewasa (seperti Sabu, bawahan langsung Nitta yang biang masalah; atau wanita pemilik bar Sakura Utako, love interest dan sekaligus, uh, tokoh antagonis di beberapa bagian). Ada banyak karakter anak tanggung usia SMP awal, terutama anak perempuan, yang memerlukan tanggung jawab lebih untuk diasih (seperti Anzu, yang semula mengejar Hina untuk membunuhnya karena dianggap terlalu bahaya, tapi… yah, begitu; Mishima Hitomi yang sebenarnya anak baik tapi terseret perkembangan situasi yang benar-benar absurd; dan Mao, yang tak peduli pada tugasnya dan cuma berharap bisa bertemu lagi dengan Anzu dan Hina.) Kalau dipikir, jumlah karakternya lumayan banyak.

Jadi, intinya, mengikuti anime ini, aku dibawa ke intepretasi salah satu pertanyaan yang sudah mengganggu aku sejak lama: Tanggung jawab… itu apa? Suatu hari, saat aku sedang kerja di kantor, pertanyaan itu tiba-tiba saja terlintas. Dan itu seriusan begitu mengganggu.

Apa itu tanggung jawab?

Kenapa konsep ini bisa ada?

Aku pertama tahu soal tanggung jawab dalam sebuah pelajaran PKK yang tak terlupakan waktu aku kelas III SD. Dan aku masih enggak yakin ini apa sampai aku mengikuti anime ini.

Jadi, intinya, tanggung jawab itu soal integritas. Soal kesesuaian antara apa yang kamu omongin dengan apa yang kamu lakuin.

Jadi, dalam konteks si Nitta, terlepas dia mengeluh kayak gimanapun sebagai orang tua tunggal soal mengasuh Hina (yang semua orang salah pahami sebagai hasil hubungan luar nikah Nitta dengan seorang perempuan tak dikenal), terlepas pada gimana dia iri soal gimana yang dia dapat bukan Anzu yang notabene lebih manis, perhatian, dan bukan biang masalah; menjelang akhir seri, Nitta tetap man up dan terus bertanggung jawab mengasuh Hina karena DIA SUDAH MEMUTUSKAN UNTUK MELAKUKANNYA. Padahal kerugian material besaaar yang sudah Nitta alami gara-gara mengasuh Hina.

Jadi, Nitta enggak plin-plan gitu. Dan walau sebagai yakuza dia termasuk lunak (dia direkrut lebih karena kelihaiannya dalam administrasi), untuk ukuran seorang laki-laki, menurutku dia lelaki sejati.

(Enggak. Maaf. Penulis blog ini terus terang masih belum jadi lelaki sejati. Masih sedang berkutat ke arah sana.)

Man, jalan yang perlu aku tempuh masih panjang.

Aku enggak boleh malas-malasan.

Aku bersyukur mengikuti seri ini. Ini benar-benar seri yang tak tertebak.

Man, suatu hari nanti, aku mesti coba periksa manganya.

Penilaian

Konsep: A; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B+; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A

Iklan

About this entry