Fireworks

Beberapa bulan lalu, aku lupa gimana persisnya, secara kebetulan aku melihat posternya Fireworks saat lagi jalan di mall.

Aku terdiam beberapa lama. Setengah alasannya karena enggak mengira itu akan tayang di Indonesia. Separuh alasannya lagi, karena poster tersebut menurutku memang keren. Berlatar pantai, di waktu menjelang senja. Si tokoh utama cewek menoleh ke belakang sementara si tokoh utama cowok memanggilnya dari kejauhan. Sementara, di langit di atas mereka, kembang api meletus secara meriah dalam beraneka warna.

Meski aku lagi banyak pikiran (atau, justru karena lagi banyak pikiran?) dan kurang begitu punya duit, aku langsung ngerasain suatu dorongan aneh buat menontonnya.

Anime Fireworks punya judul lengkap Fireworks, Should We See It from the Side or the Bottom?, dan judul asli Uchiage Hanabi, Shita Kara Miru ka? Yoko Kara Miru ka (judulnya secara umum kira-kira berarti, ‘soal kembang api, mending kita lihatnya dari bawah atau samping?’). Sebagai anime, film layar lebar ini termasuk unik karena merupakan pembuatan ulang (sekaligus modernisasi) dari film drama televisi live action berjudul sama yang dibuat Iwai Shunji pada tahun 1993.

Sewaktu pertama membaca berita tentangnya di ANN dulu, aku sempat mencari sedikit info soal film live-action ini. Karena tak ingin di-spoiler, aku hanya sebatas tahu bahwa film aslinya dibintangi oleh Yamazaki Yuta dan Okina Megumi, terbilang bagus, dan mengetengahkan cerita agak aneh yang berhubungan dengan cinta segitiga dan lari dari rumah.

Anime berformat layar lebar ini diproduksi studio Shaft, dengan disutradarai Shinbo Akiyuki (sebagai kepala sutradara) bersama Takeuchi Nobuyuki. Produsernya adalah Kawamura Genki. Naskahnya ditangani oleh Ohne Hitoshi. Musiknya ditangani oleh Kosaki Satoru. Durasinya 90 menit dan pertama dirilis di Jepang pada bulan Agustus 2017.

Moshimo

Fireworks berlatar di awal liburan musim panas, tatkala sekelompok siswa sekolah menengah di sebuah kota di tepi pantai masih harus datang ke sekolah untuk mengikuti pelajaran tambahan. Pada hari yang sama, ada festival musim panas yang ceritanya mau diadakan di kuil. Terus, sebagai puncak festival itu, akan diadakan acara peluncuran kembang api.

Ada dua plot utama yang terjalin. Satu, soal bagaimana sebuah pembicaraan konyol antara sekelompok anak lelaki, yang mencakup Shimada Norimichi dan teman-temannya, berujung pada bagaimana mereka mau mengadakan perjalanan ke mercu suar dekat pantai demi membuktikan apakah letusan kembang api itu ‘bundar’ atau ‘pipih.’ Dua, soal Oikawa Nazuna, seorang siswi populer yang sedikit banyak diidolakan di kelas mereka.

Pada titik ini, ceritanya berkembang jadi agak aneh.

Jadi, sebelum Norimichi dan sahabat dekatnya, Azumi Yuusuke, tiba di ruang kelas dan terlibat pembicaraan konyol seputar kembang api di atas, mereka kebagian tugas untuk membersihkan kolam renang. Tugas ini dengan senang hati mereka emban karena mereka sekalian dibolehkan menggunakan kolam. Lalu di kolam renang itu, secara mengejutkan, mereka kemudian menjumpai Nazuna dalam pakaian renang.

Singkat cerita, Yuusuke sudah lama naksir pada Nazuna. Norimichi juga diam-diam menyukai Nazuna, meski belum sampai mengakuinya. Makanya, saat Nazuna, yang baru selesai berenang, meminta keduanya untuk berlomba renang dengan mempertaruhkan suatu hal, keduanya menurut saja.

Belakangan terungkap, keputusan Nazuna mengajak siapa yang menang lomba tersebut untuk menemaninya pergi ke festival ternyata juga dilandasi pertimbangan lain. Nazuna mengadakan lomba renang itu juga untuk memilih siapa di antara Norimichi dan Yuusuke yang akan diajaknya kawin lari.

“Dunia dengan kembang api pipih itu enggak mungkin ada!”

Film televisi asli Fireworks kabarnya adalah bagian dari seri if moshimo. Tak banyak yang diketahui tentang seri televisi ini di luar Jepang. Tapi, agaknya, premisnya mengeksplorasi jalur-jalur kejadian berbeda yang dialami para karakternya dalam hidup. Andai A yang terjadi, dan bukan B; misalnya.

Mungkin ini mirip film Hollywood lawas Sliding Doors.

Fireworks versi anime juga seperti itu. Titik kejadian ‘berbeda’ yang jadi penentu dalam hal ini (seenggaknya, titik yang ‘utama’ dalam versi animenya) adalah siapa yang memenangkan lomba renang, apakah itu Yuusuke (dalam kejadian asli) atau Norimichi.

Animenya memperkaya premis ini dengan kehadiran batu kristal misterius yang ditemukan Nazuna di tepi laut (yang mungkin berhubungan dengan mendiang ayahnya). Batu kristal ini agaknya memiliki kekuatan aneh untuk memutar balik waktu setiap kali dilempar.

Segala kejadian yang terjadi kemudian dilihat dari sudut pandang Norimichi.

Keinginan Norimichi untuk bisa menolong cewek yang disukainya dieksplorasi. Kemarahan Yuusuke, dengan bagaimana Norimichi tiba-tiba menyembunyikan hal-hal tertentu darinya, juga digali. (Meski, nyatanya, dia ciut sendiri saat kesempatan untuk bersama Nazuna muncul.) Kekecewaan Nazuna terhadap ibunya—yang untuk kesekian kalinya, hendak menikah lagi—juga dipaparkan, membuat kita mengerti landasan berpikirnya, meski sulit untuk bisa menyetujui tindakannya. Penggalian karakter di anime ini benar-benar bagus.

Lalu, mengiringi semua itu, yah… ada soal kembang api.

Soal kembang api—dan bagaimana teman-teman Norimichi pergi ke mercu suar untuk melihat apakah letusan kembang api itu sebenarnya gepeng atau bulat—sebenarnya tak berpengaruh besar dalam cerita. Tapi, secara menarik, awal perjalanan ini seolah menjadi penggerak sejumlah hal.

Perjalanan ke mercu suar berlangsung secara paralel dengan upaya pelarian Norimichi dan Nazuna, menghadirkan sejumlah adegan yang benar-benar menarik. Terutama saat semua karakter di cerita ini (Norimichi, Nazuna, Yuusuke, teman-teman mereka, ibu Nazuna, dan bahkan guru-guru mereka di sekolah) sama-sama bertanya-tanya soal apa sebenarnya yang sedang terjadi.

Terima kasih Untuk Hari Ini

Bicara soal teknis, kalau kalian mengira studio Shaft telah berganti haluan (mengira arahan visual mereka berganti jadi mirip karya-karya Shinkai Makoto-sensei atau semacamnya), maka kalian salah. Ini tetap anime Shaft murni. Gaya visual khas mereka dengan warna-warna berkesan monoton, ditambah dengan banyaknya close up ke wajah, serta sedikit bumbu fanservice, masih tetap ada.

Jadi, iya.

Segala keanehan normal mereka, sekaligus bawaan mereka buat nge-troll, juga masih ada.

Awalnya, mungkin visualnya akan terkesan kurang menonjol. Tapi, seiring pemaparan cerita, dan melihat sendiri semakin anehnya dunia (mimpi?) yang dijelajahi Norimichi bersama Nazuna, mungkin kalian akan mengerti kenapa Shaft mengangkat cerita ini sebagai proyek film layar lebar mereka.

Secara teknis, film ini seriusan bagus. Bahkan dengan segala nuansa melankolisnya, ini komedi romantis yang benar-benar berkesan. Pertaruhan para produser kelihatannya berhasil. Fireworks tercatat sebagai keluaran Shaft dengan pemasukan paling besar sejauh ini.

Aku sedikit kecewa dengan bagaimana kembang api kurang memainkan peran dalam klimaks cerita. Tapi, ada banyak arahan visual ini film ini yang beneran aku hargai. Adegan pembuka, yang sama-sama menampilkan Norimichi dan Nazuna di dasar air, dengan perkataan “Andaikan…” dari Norimichi yang terus berulang, memberi kesan benar-benar kuat. Perasaan sesal terpendam, ataupun rasa suka, dari para karakternya berhasil dipaparkan.

Lalu, meski kurang memberikan resolusi sekaligus penjelasan yang jelas (yang agaknya, bisa membuat orang-orang penyuka sains fiksi macam mangaka Gantz Hiroya Oku agak ngamuk sesudah menontonnya; hei, bahkan aku sendiri juga agak kecewa sama tamatnya!), aspek terkuat dari film televisi Fireworks yang membuatnya sebegitu dikenal konon kabarnya berhasil didapat.

Aspek terkuat itu apa?

Jawabannya adalah rasa suka. Cinta terpendam di masa muda yang pahit dan manis, dan sekaligus berujung pada rasa penyesalan.

Hal inilah yang digali lewat tema pengulangan waktu serta pilihan-pilihan yang Norimichi ambil.

Jadinya… apa ya? Film ini berakhir mengesankan, tapi dengan cara yang enggak biasa bagi studio Shaft gitu. (Lalu, ambigu, jadi masih tetap nge-troll.)

Soal audio, film ini termasuk mumpuni. Musiknya benar-benar ‘masuk.’ Lalu akting para seiyuu-nya, akting mereka benar-benar bagus. Aktris dan aktor profesional Hirose Suzu dan Suda Masaki (ahem, yang paling aku kenal sebagai pemeran Phillip dalam Kamen Rider W) berperan benar-benar meyakinkan sebagai Nazuna dan Norimichi. Seiyuu andal Miyano Mamoru juga keren dalam menampilkan beragam sisi kepribadian Yuusuke. Yang paling membuatku terkejut, aktris dorama veteran Matsu Takako juga berperan di film ini sebagai ibu Nazuna. Meski peran beliau terbatas, akting beliau di sini benar-benar alami.

Jadi, kalau kalian merasa punya penyesalan dengan cinta masa lalu kalian yang enggak kesampaian, mungkin kalian akan merasakan sesuatu yang ‘dalam’ saat menonton anime ini. Ada sebagian orang berkomentar bahwa pesan terkuat anime ini adalah caranya menjelaskan bagaimana ada beberapa hal tertentu yang memang sudah ditakdirkan untuk tak terjadi.

Cara Agar Tak Menyesal

Jadi, balik ke soal pengalamanku saat menontonnya, ada isu relationship yang kebetulan sedang aku hadapi. Lalu menonton film ini seriusan tak membantuku sama sekali.

Tapi, apa itu berarti aku menyesal karena telah mengeluarkan uang untuk menontonnya?

Jawabannya, tidak! Aku tidak menyesal!

Meski kadang aku senang di-troll oleh Shaft, itu bukan berarti aku maso! Aku hanya jadi dibuat memikirkan sejumlah hal yang tak terpikirkan olehku sebelumnya. Lalu, itulah yang mendorong aku buat jadi lebih berusaha sungguh-sungguh!

Sebagai penutup, membandingkan dengan versi filmya, kudengar versi filmnya hanya mengangkat dua kemungkinan jalur, yang ditentukan oleh balapan renang itu. Selain memodernisasi latar, animenya juga menaikkan usia para karakternya (dari SD, kelihatannya ke SMP) dan sedikit mengubah isu yang Nazuna hadapi (dari yang aslinya perceraian jadi ke pernikahan kembali). Tapi, selebihnya, katanya, hati yang melandasi keduanya tetap sama.

Kalian belum tentu suka dengan film ini. Tapi, kalau kalian sudah jadi penggemar anime-anime keluaran Shaft (seri Monogatari, Sangatsu no Lion, Zaregoto), anime ini sayang untuk dilewati karena menampilkan Shaft pada performa terbaik mereka.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A-;  Audio: A; Perkembangan: B; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B+

Iklan

About this entry