No Game No Life Zero

Pada suatu akhir pekan, sepupuku mengajak nonton film layar lebar No Game No Life: Zero (juga ditulis No Game No Life: 0 )di bioskop CGV.

Sebenarnya, kami sama-sama lagi kesulitan uang. (Sori, itu juga salah satu alasan aku jarang nulis belakangan.) Tapi, kami tetap memilih menonton karena, yah, ini NGNL. Mungkin tayangnya akan lebih sebentar dibandingkan Thor: Ragnarok. Makanya, perlu diprioritaskan. Terlebih, aku masih trauma dengan gimana aku enggak kesampaian menonton film layar lebar Mahouka beberapa bulan lalu. Di samping itu, sejumlah review yang aku baca sudah menyebut kalau kualitas movie ini bagus.

No Game No Life: Zero mengangkat cerita dari buku keenam dari seri novelnya yang dikarang Kamiya Yuu. Ceritanya memaparkan masa lalu dunia Disboard (sebagaimana dikisahkan oleh sang dewa permainan, Tet) dan karenanya diberi embel-embel ‘zero’ di judulnya. Dengan kata lain, sifatnya prekuel dan enggak sepenuhnya melanjutkan cerita di seri TV. Ceritanya enggak berfokus pada kakak beradik Sora dan Shiro. Meski demikian, pengetahuan tentang seri aslinya tetap akan membuatmu lebih bisa menikmatinya.

No Game No Life: Zero masih diproduksi studio animasi Madhouse. Para staf seri TV-nya kembali hadir untuk menangani. Ishizuka Atsuko kembali memberikan kerja bagus sebagai sutradara. Fujisawa Yoshiaki menangani musik. Naskahnya sendiri kembali ditangani oleh Hanada Jukki. Suzuki Konomi juga kembali buat membawakan lagu penutupnya.

Mestinya, aku enggak rugi kalo aku sempetin nonton ini ‘kan?

“Saat aku masih muda, aku percaya kalau enggak ada permainan yang enggak mungkin dimenangkan.”

Berlatar 6000 tahun sebelumnya, para dewa (yang kini dikenal dengan sebutan Old Deus) masing-masing mewakili satu ras di Disboard. Lalu, mereka mengadakan perang dengan satu sama lain, yang lambat laun semakin menghancurkan dunia. Tanah runtuh, langit terbelah, hujan beracun, bintang-bintang sirna, makhluk-makhluk buas menyebar, dan dunia seakan mengalami malam yang tiada akhir.

Umat manusia di dunia ini diyakini telah punah. Mereka tak punya keistimewaan khusus. Karenanya, mereka selalu terjebak di tengah adu kekuatan antara ras-ras lain yang lebih kuat. Tapi, kenyataannya tidak sepenuhnya demikian. Di bawah tanah, menyembunyikan diri dari bahaya hujan, dipimpin seorang pemuda bernama Riku, komunitas mereka terus bergulat untuk bertahan hidup.

Singkat cerita, Riku selama ini bekerja mengumpulkan informasi. Sekalipun telah sampai mengorbankan nyawa sejumlah orang, Riku ingin memahami jalannya perang. Tujuannya? Agar dia bisa menemukan cara untuk menghentikannya.

Riku berusaha melengkapi peta dari apa yang masih tersisa dari dunia, lalu memastikan posisi masing-masing pihak ada di mana. Bersama komunitasnya, mereka secara berkelanjutan telah berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Mengungsi dari satu bahaya ke bahaya lain.

Dalam salah satu kesempatan, saat menjelajahi peninggalan salah satu kota Elf, Riku berjumpa dengan suatu manusia buatan Ex-Machina berbentuk seorang gadis muda, yang kemudian Riku namai Shuvi.

Para Ex-Machina ini bekerja dengan prinsip hive mind. Tapi Shuvi, Ex-Machina satu ini, telah diasingkan dari kesadaran bersama tersebut karena telah dianggap cacat. Alasannya? Karena Shuvi telah berusaha memahami emosi manusia. Shuvi agaknya ingin mengerti rahasia di balik ketangguhan manusia untuk bertahan hidup.

Shuvi kemudian ditampung Riku. Kemudian, dengan keistimewaan-keistimewaan yang Shuvi punyai, keputusan Riku tersebut menjadi awal bagaimana ia memahami latar belakang sesungguhnya di balik perang, dan langkah-langkah yang bisa diambil untuk selamanya menghentikannya.

Asal Aku Bersama Kamu…

Bicara soal teknis, film layar lebar ini seriusan bagus. Visualisasi dunianya benar-benar keren. Pemandangan latar dunia fantasi yang suram beneran keren. Lalu, meski enggak banyak, adegan-adegan aksinya juga wah. Ini diimbangi juga dengan penataan audio yang beneran pas. Kualitas keluaran Madhouse kadang mengalami naik turun aneh, tapi kamu enggak perlu ragu soal yang satu ini.

Satu yang patut disinggung adalah performa Matsuoka Yoshitsugu sebagai pengisi suara Riku. Mempertimbangkan gimana beliau juga berperan sebagai semacam narator, akting beliau di sini seriusan bagus. Ada kayak kombinasi kepercayaan diri, keputusasaan, serta kesedihan dan pengharapan yang berhasil dia gabungin gitu. Mungkin buat selamanya dia bakal dikenal sebagai Kirito dari SAO, tapi kemampuan akting beliau jauh lebih luas dari itu.

Kalian juga mungkin ingat gimana visual seri TV NGNL punya saturasi warna yang khas. Satu hal mencolok yang aku perhatikan adalah gimana saturasi warna itu enggak gitu kelihatan di film ini, sejalan dengan nuansa dunianya yang lebih suram.

Di akhir, aku nyimpulin dua hal sesudah nonton film ini.

  • Meski enggak nampilin ketegangan adu siasat yang aku harapkan dari seri TV-nya, film layar lebar ini tetap bagus.
  • Meski enggak sedalam yang aku harapkan (dan terus terang, nuansanya beda jauh dari seri TV-nya), aspek emosi dari film ini, kalo kamu bisa menikmatinya, terbilang menyentuh.

Jadi, singkat kata, yup, ini direkomendasikan. Apalagi kalau kalian sudah jadi penggemar NGNL sebelumnya.

Kelemahannya ada sih. Mungkin kalian ingat gimana NGNL, bahkan dengan semua kebagusannya, punya fanservice yang sangat berbahaya. Baik itu dari soal adegan maupun desain karakter. Aspek tersebut enggak sepenuhnya sirna di prekuel ini. Aku bahkan di satu titik sempat heran dengan gimana hal ini lolos sensor.

Daripada ‘bagus atau enggak,’ menurutku ini lebih ke kasus ke ‘cocok atau enggak’ sih. Emang mesti diakui, bahkan dengan kebagusan pemaparan dramanya, kita kadang jadi susah menanggapi serius pas kekonyolan-kekonyolan ini muncul. Kalo ngambil istilah pergamean, jadinya lumayan immersion breaking.

Di samping itu, pembangunan dunianya minimum banget. Rasanya kita diperlihatkan hanya segelintir dari keadaan menakjubkan dunia di ambang kehancuran. Ras-ras lain hanya ditampilkan sekilas. Mereka juga berperan hanya secara terbatas pula. Porsinya hanya sebatas ‘cukup’ untuk membawakan plot. Ini mungkin akan terasa gimanaa gitu buat kalian yang suka melihat dunia-dunia fantasi.

Tapi, serius, kalau kalian terlanjur benar-benar suka seri TV NGNL, aku lumayan menyarankan kalian buat melihat NGNL 0. Selama kalian enggak keberatan dengan semua keanehan NGNL (yang emang udah ada dari sananya), film layar lebar ini ngasih insight lumayan mendalam tentang dunia maupun kepribadian para karakternya.

Aku enggak sepenuhnya suka konsepnya, dan aku juga enggak sepenuhnya puas dengan penyelesaian ceritanya. Tapi, sekali lagi, bahkan dengan semua keterbatasan materi aslinya, eksekusi animenya beneran brilian. Aku perlu ngasih pujian semata karena itu.

Lain Kali, Aku Pasti Menang

Terlepas dari sisi-sisi konyolnya, dengan semua drama dan tragedi yang terjadi, NGNL 0 lebih berhasil menekankan pentingnya kegigihan dan perjuangan dibandingkan seri TV-nya. Berbeda dari Sora dan Shiro, Riku dan Shuvi bukanlah sosok-sosok jenius. Mereka hanya sekedar nekad (seriusan nekad) dan pantang menyerah. Ini konsisten bahkan saat mereka dihadapkan pada tantangan-tantangan yang kayaknya enggak mungkin bisa dilewatin.

Di samping itu, semua batasan soal penyelesain konflik lewat permainan (dan tanpa kekerasan) yang Tet atur masih belum ada. Jadi, ada kekejaman sekaligus kematian sekaligus sihir sekaligus senjata-senjata pemusnah massal di sana-sini.

Yea, film ini jadi punya sisi yang agak sadis.

Meski demikian, sekali lagi, itu jadinya memperkuat pesan(?) yang seri ini mungkin punya.

…Aku masih kurang sepenuhnya puas dengan penyelesaiannya sih. (Gimanapun, aku penggemar Liar Game!) Tapi, hasilnya tetap bisa aku terima sekaligus aku hargai.

Ini rada enggak nyambung, tapi mungkin kalian ingat kasus pembajakan menyangkut film ini tempo hari? Aku seriusan marah saat mendengar berita itu. Bila aku sampai ketemu orangnya, aku (dan banyak teman lain) bahkan sampai bersumpah buat nonjok mukanya.

Tapi, agaknya, kasus itu lebih konyol dari yang aku kira. Aku semula ngira itu kasus pembajakan di mana ada yang bawa kamera, terus diam-diam ngerekam buat disebarin di web. Tapi, yang sebenarnya terjadi, yang bersangkutan ternyata sekedar melakukan livestream.

Well, yeah. Prinsipnya secara teknis tetap sama sih, tapi tetap saja, aku lumayan terdiam saat mengetahui ini.

Riku dan Shuvi—dan sekaligus juga Shiro dan Sora—sanggup bertahan karena mereka sadar dengan batasan mereka masing-masing. Tapi, apa kebanyakan orang bahkan tahu soal batasan-batasan mereka sendiri?

Yah, artikel ini (silakan diklik) lumayan mengulas kasus itu secara baik sih. Jadi mending enggak usah kita singgung lagi.

Akhir kata, maaf udah lama ga nulis! Nanti aku nyoba nulis lagi. Mwahahaha.

Penilaian

Konsep: C+; Visual: S; Audio: S; Perkembangan: B; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s