Isekai wa Smartphone to Tomo ni

Isekai wa Smartphone to Tomo ni, atau yang juga berjudul In Another World With My Smartphone (‘di dunia lain bersama ponsel pintarku’), adalah seri yang agak anomali.

Isekai Smartphone berawal dari seri web novel yang dikarang Fuyuhara Patora dari tahun 2013. Mulai tahun 2015, seri ini diterbitkan resmi oleh Hobby Japan dengan ilustrasi buatan Usatsuka Eiji. Pada awal tahun ini, tahu-tahu saja seri ini diadaptasi ke bentuk anime oleh Production Reed. Sutradaranya Yanase Takeyuki. Naskah ditangani oleh Takahashi Natsuko. Musik dikomposisi oleh Exit Tunes. Jumlah episodenya sebanyak 12 dan animenya pertama tayang pada musim panas tahun 2017.

Masih di sekitar awal 2017, seri ini juga mulai diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan format e-book oleh J-Novel Club. Terjemahan mereka beneran bagus. Dari forum JNC-lah, aku mulai benar-benar tahu tentang Isekai Smartphone.

Jadi, Isekai Smartphone termasuk salah satu dari sekian banyak seri bertema isekai yang menjamur dalam tahun-tahun belakangan. Tak hanya itu. Seri ini konon dipandang sebagai salah satu contoh seri isekai yang paling generik. ‘Generik’ dalam artian enggak terlalu jelek tapi juga enggak terlalu bagus.

Sangat biasa.

Semua yang lazim ada dalam suatu seri isekai ada di seri ini. Ada tokoh utama cowok yang imba. Ada dunia lain. Ada harem yang terdiri atas cewek-cewek cantik. Yah, kalian tahu.

Makanya, saat animenya diumumkan, ini sempat mengherankan banyak pihak. “Wut? Di antara begitu banyak seri isekai di luar sana, kok malah seri ini yang dipilih buat jadi anime sih?” Soalnya, ada banyak pilihan seri isekai lain yang jauh lebih mencolok. Seperti Kumo desu ga, nani ka?, misalnya. Atau Desumachi. (Produksi anime Desumachi sudah diumumkan btw, tapi kabar-kabar kemajuan proses produksinya sejauh ini agak bikin fansnya harap-harap cemas. …Di samping itu, Tate Yuusha no Nariagari, seri isekai lain yang sudah menarik simpati banyak fans, juga sudah dikerjakan proyek adaptasinya.)

Bahkan di forum JNC yang aku sebut di atas, saat perusahaan mereka masih belum lama berdiri dan mereka masih sedang mencari judul-judul baru untuk dilisensi, pendiri JNC menyatakan bahwa Isekai Smartphone menjadi seri yang ‘disodorkan’ padanya. Seolah pihak penerbit aslinya kelihatan yakin sekali dengan seri ini. Dengan kata lain, di negara asalnya, seri ini lumayan populer dan punya basis fans kuat.

Semula, aku juga bukan penggemar Isekai Smartphone. Bahkan dari semenjak terjemahan bahasa Inggris WNnya tersedia dikerjakan fans, aku tidak menaruh perhatian terhadapnya. Namun, semenjak animenya diumumkan, aku mulai penasaran.

Alasan pertama: aku memperhatikan kalau yang memproduksi animenya adalah Production Reed. Aku langsung mengerti kalau hasilnya ternyata tidak wah. Dalam benakku, mereka studio ‘tidak besar’ yang sebelumnya mengerjakan seri-seri sederhana macam Onsen Yousei Hakone-chan dan Niji-iro Days. Meski begitu, aku simpati. Isekai Smartphone seolah menjadi langkah terobosan mereka dalam menangani proyek-proyek lebih besar.

Belakangan aku tahu, Production Reed ternyata tidak sepenuhnya baru. Mereka ‘reinkarnasi’ Ashi Productions, studio sangat veteran yang dulu menangani sejumlah anime terkenal macam seri mahou shoujo legendaris Magical Princess Minky Momo, seri Macross 7 yang masih menjadi seri Macross terpanjang sejauh ini, dan anime super robot lawas dan serius Dancouga. Sebelum tampil kembali sebagai Production Reed di tahun 2015, Ashi Productions rupanya ‘mati suri’ lumayan lama semenjak proyek Dancouga Nova mereka di tahun 2007.

Alasan kedua: meski tanggapan sebagian besar orang terhadapnya animenya lumayan negatif, ternyata ada sejumlah kenalanku yang benar-benar menyukainya. Bahkan sepupuku, yang mendalami seluk-beluk ilmu perfilman, menjadi salah satunya. Aku terus mikir, pasti ada sesuatu tentang anime ini yang menarik perhatian dia ‘kan? Tapi apa?

God’s in His Heaven, all’s right with the world!

Isekai Smartphone berkisah tentang remaja lelaki bernama Mochizuki Touya yang tersambar petir pada suatu hari saat pulang sekolah, lalu mendapati diri dihidupkan kembali oleh Dewa di suatu dunia lain. Alasan dia dihidupkan di dunia lain itu karena sudah jadi ketentuan kalau dirinya tak bisa dihidupkan lagi di dunianya yang semula.

Dewa menawarkan untuk memberi kompensasi pada Touya karena telah mematikannya tanpa sengaja. Karena tak merasa perlu apa-apa yang khusus, Touya kemudian sekedar meminta agar smartphone-nya masih bisa ia gunakan di dunia lain tersebut. Entah terkesan dengan kesederhanaan Touya atau bagaimana, selain memungkinkan smartphone-nya ditenagai kekuatan sihir agar tetap bekerja (dan bisa tersambung ke Internet(!) meski Touya tidak diperbolehkan memposting apa-apa), Dewa kemudian sekalian memberi Touya berbagai keistimewaan lain yang tidak langsung tampak. (Belakangan diketahui itu termasuk afinitas ke semua elemen sihir, peningkatan kemampuan fisik, serta kekuatan sihir laten yang sangat besar.)

Sekalian, Dewa memasukkan info kontaknya ke dalam ponsel Touya agar Touya bisa langsung menghubunginya seandainya ia perlu apa-apa.

Touya lalu mendapati diri berada di wilayah pinggiran Kerajaan Belfast, di mana dia kemudian bertemu bermacam orang dan tanpa sengaja terlibat dengan bermacam urusan konyol sekaligus serius. Berkenalan dengan teman-teman baru, dia mulai bekerja sebagai petualang. Dia mulai belajar tentang sihir. Dia mulai membantu-bantu orang. Berbekal fitur-fitur smartphone-nya yang sudah canggih dan diperkuat, dia juga mencoba menciptakan berbagai barang dan masakan dari dunianya lama agar bisa dipakai di dunianya yang baru.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Brunhilde (Yang Penuh Tawa dan Air Mata)

Cerita Isekai Smartphone lebih digerakkan oleh karakter. Ceritanya ringan dan lumayan bernuansa komedi. Meski ada elemen aksi dan petualangannya, Isekai Smartphone sebenarnya lebih dekat ke cerita keseharian. Di dalamnya, Touya mengetahui beragam hal baru tentang dunianya yang baru.

Isekai Smartphone tidak memiliki struktur plot yang perlahan-lahan membangun konflik. Ceritanya lebih seperti rangkaian cuplikan adegan keseharian yang saling terhubung dan berkesinambungan. Agaknya, hal ini juga yang sempat mematikan minat sebagian orang.

Kalau aku ceritain begini, kedengarannya emang kurang menarik. Dalam bentuk anime, bahkan dengan genrenya yang komedi, jadinya tetap aneh. Tapi, kalau kau coba menepis semua pengharapanmu, dan bersabar dengan bagaimana ceritanya dituturkan, ada hal-hal tertentu tentang Isekai Smartphone yang bisa membuatmu terkesan.

Ada dunia baru yang diperkenalkan. Ada hal-hal baru yang dipelajari. Ada teman-teman baru yang dikenal. Seperti yang bisa diharapkan dari suatu seri isekai, Touya serba bisa. Tapi, Isekai Smartphone juga punya sisi konyol konsisten yang jarang dipunyai seri-seri sejenisnya. Kesan akhirnya lumayan unik.

Terlepas dari itu, mereka yang sudah dikonfirmasi(?) termasuk dalam harem Touya (meski dia sendiri sama sekali semula tidak merencanakan hal ini) meliputi:

  • Elze Silhoueska; onee-chan dari pasangan gadis kembar Silhoueska yang sama-sama berambut perak. Dia salah satu orang pertama yang Touya kenal ketika baru tiba di dunia baru. Berambut panjang, memiliki bawaan bersemangat yang mendahulukan bertindak sebelum berpikir. Meski begitu, terkadang dia bisa tiba-tiba saja merasa rendah diri. Elze memiliki kemampuan Null Magic bernama Boost yang meningkatkan untuk sementara parameter-parameter fisiknya. Elze beraksi dengan sepasang gauntlet raksasa yang digunakannya bersama ilmu bela diri. Dirinya tidak memiliki afinitas dengan elemen-elemen sihir lain. Dalam perkembangan cerita, Elze berstatus sebagai tunangan ketiga
  • Linze Silhoueska; yang lebih muda dari pasangan gadis kembar Silhoueska, sekaligus yang lebih pendiam. Berbeda dari kakaknya, Linze memiliki afinitas elemen yang konvensional, dan karenanya beraksi dengan mengandalkan serangan-serangan sihir. Linze-lah yang mengajari Touya tentang sihir di dunia ini (ada enam elemen, dengan sihir non-elemen Null Magic yang bersifat pribadi dan menjadi kemampuan khusus penggunanya, yang ternyata bisa digunakan sepenuhnya oleh Touya). Linze juga yang mengajari Touya soal cara menulis dan membaca. Elemen-elemen yang Linze kuasai meliputi cahaya, api, dan air. Dalam perkembangan cerita, Linze berstatus tunangan kedua
  • Kokonoe Yae; gadis samurai yang datang dari negeri Eashen yang jauh di timur (yang nuansanya sangat mirip Jepang, dan karenanya, Touya juga kerap disangka berasal dari sana.). Bersenjatakan sepasang katana. Yae sedang dalam perjalanan untuk mengasah kemampuan berpedangnya. Yae sempat ditolong kelompok Touya saat kelaparan sesudah bekal perjalanannya hilang. Yae berbicara dengan cara sedikit aneh. Makannya juga banyak. Meski Yae tidak berbakat sihir, Touya belajar banyak soal ilmu bela diri darinya. Dalam perkembangan cerita, Yae berstatus sebagai tunangan keempat
  • Yumina Urnea Belfast; putri mahkota Kerajaan Belfast yang menjadi teman Touya sesudah Touya secara kebetulan menolong ayahnya. Memiliki sepasang mata berbeda warna yang salah satunya memiliki kemampuan untuk membaca ‘sifat’ masing-masing orang (kemampuan ini, bagian Null Magic-nya, ternyata tidak ada hubungannya dengan warna matanya yang berbeda). Dari ‘penglihatannya,’ Yumina kemudian memilih Touya untuk menjadi calon suaminya. Berbeda dari teman-teman Touya yang lain, Yumina lebih muda beberapa tahun, tapi sifatnya justru yang paling dewasa. Mulai ikut tinggal bersama Touya sebagai petualang, dengan mengandalkan sihir sekaligus kemampuan memanah. Elemen-elemen sihir yang dapat digunakannya mencakup tanah, angin, dan kegelapan. Dalam perkembangan cerita, Yumina berstatus sebagai tunangan pertama (Semenjak pertama berhubungan, Touya kerap dibujuk secara tidak langsung oleh ayah Yumina untuk bersedia mengambil alih mahkota kerajaan.) Yumina juga tidak berkeberatan dengan poligami karena memang itu kebiasaan para raja di dunia ini. (Keluarga Yumina saja yang tidak lazim.)
  • Sushie Urnea Ortlinde; adik sepupu Yumina yang kebetulan sempat ditolong Touya dalam suatu kesempatan terpisah. Anak perempuan dari saudara laki-laki sang raja. Masih anak-anak. Belum banyak berperan di anime ini, tapi aku sebutkan saja karena dia termasuk yang ditonjolkan dalam animasi penutupnya. (Dalam perkembangan cerita di novelnya, Sushie menjadi tunangan keenam Touya karena sedikit isu politik yang melibatkan suatu negara lain.)
  • Leen; gadis mungil yang ternyata berusia ratusan tahun dan merupakan kepala suku peri di negara tetangga Kerajaan Mismede. Memiliki penampilan gothic loli, senantiasa ditemani seekor boneka beruang ‘hidup’ yang dinamainya Paula. Dari Leen, Touya belajar Null Magic Program yang memungkinkannya mengendalikan benda-benda. Leen juga adalah guru penyihir kerajaan di Belfast, Charlotte, dan menjadi tertarik dengan Touya semenjak mengetahui tentangnya. Dari Leen, Touya mengetahui lebih banyak tentang keberadaan puing-puing kuno. Belakangan, Leen menjadi duta besar baru bagi Mismede untuk Belfast. (Dalam perkembangan cerita di novelnya, Leen menjadi tunangan kedelapan)

Selain mereka, Touya juga jadi berteman dengan para pembesar Belfast, dengan keluarga pemilik penginapan tempat mereka dulu menumpang (sebelum mereka punya rumah mereka sendiri di ibukota), dengan pengusaha pakaian yang maniak dengan desan pakaian baru, dengan seorang pemilik toko senjata, dengan pemimpin Kerajaan Mismede yang dihuni beastmen, lalu belakangan… dengan manusia buatan bernama Cesca yang mengakui Touya sebagai pewaris sejumlah artefak kuno yang melayang-layang di angkasa.

Jumlah tokoh yang diperkenalkan seri ini lumayan banyak. Di luar dugaan, kesemuanya juga banyak berperan dalam keseharian Touya.

Pulau-pulau Babylon

Membahas soal teknis, anime Isekai Smartphone mengangkat cerita dari sekitar buku pertama sampai ketiga dari seri novelnya. Dari segi alur, adaptasi ceritanya, secara mengesankan, lumayan setia dengan novel. Yang enggak aku sangka, cerita-cerita sampingan yang ada di novel-novelnya (meski tidak semua) ternyata juga ikut diadaptasi. Penempatannya lumayan mulus. Terasa bagaimana cerita-cerita sampingan itu menyatu dengan cerita utamanya.

Sisi buruknya, cerita utamanya enggak berkembang sejauh yang aku harap. Beberapa karakter yang tampil di animasi pembuka luput terjelaskan peranannya. Ada beberapa benang alur yang berakhir tak terselesaikan. (Seperti soal monster-monster Fraze/Phrase, yang sempat disinggung mungkin akan mendatangkan hancurnya dunia.) Kalau dipikir, keputusan ini masih wajar sih. Cerita-cerita sampingan itu memang lumayan memaparkan kekhasan seri ini. Meski begitu, adaptasi anime ini tetap berhasil mengemas ceritanya agar berakhir di titik yang enak. Dalam artian, tanpa menutup kemungkinan ceritanya masih berlanjut.

Soal visual, kualitasnya tidak istimewa, tapi tetap bisa menarik. Pemilihan warnanya yang beragam lumayan selaras dengan nuansa cerah yang seri ini bawakan. Meski tidak sampai detil, penggambaran berbagai latar tempatnya juga terbilang indah dan beragam. Ada puing-puing ibukota lama (yang di bawahnya mereka pertama menemukan monster berbahaya penyerap sihir Fraze/Phrase secara tanpa sengaja), ada kota petualang Reflet tempat Touya pertama kali tiba, ada ibukota Belfast yang lokasinya benar-benar enak. Meski tidak berat di soal perjalanan, nuansa perjalanan yang seri ini punya lumayan terasa.

Animasinya juga biasa saja sih. Mungkin malah ada yang akan menganggapnya sangat kurang. (Ada sedikit proporsi badan aneh, ada adegan menebas yang dibikin tak mencolok, ada gerakan pertarungan yang bisa dibikin jauh lebih baik.) Tapi, sepupuku sempat menyinggung bagaimana dia terkesan dengan cara adegan-adegannya dibawakan. Dengan kata lain, kalau soal menyampaikan narasi, seri ini sebenarnya enggak punya kekurangan. (Meski, narasi yang dibawakannya memang enggak istimewa sih.)

Mungkin perlu kusinggung, seri ini juga punya beberapa karakter… uh, maskot. Jadi, meski ada fanservice-nya (serta beberapa dialog yang agak menjurus), ada juga semacam aspek imut dan lucu yang seri ini punya. Selain beruang Paula yang sudah aku sebut di atas, juga ada Kohaku, harimau putih kecil yang sesungguhnya adalah White Monarch, salah satu dari empat makhluk sihir terkuat yang berkuasa di alam. Dalam perkembangan cerita di novel, agaknya, jumlah karakter-karakter maskot ini juga terus bertambah.

Bicara soal audio, kesan Isekai Smartphone lebih campur aduk. Musik pembuka dan penutupnya tak buruk. (Lagu penutup “Junjou Emotion” bahkan dinyanyikan bergantian oleh para heroine.) Para seiyuu juga secara umum juga berperan dengan baik. (Kecuali Touya, tapi nanti aku bahas lebih lanjut soal itu.) Tapi, musik latarnya… sebagian ada yang pas dan sebagian lagi enggak. Secara umum, semuanya enak didengar sih. Aku suka dengan penekanannya terhadap alat-alat musik tiup. Namun di beberapa bagian, tetap terasa ada yang agak aneh.

Intinya, dari segi teknis, menurutku lumayan terasa bagaimana Production Reed masih meraba-raba cara terbaik dalam menjalankan usaha mereka. Tapi, serius, hasil akhir Isekai Smartphone menurutku enggak buruk.

Aku masih aneh dengan segmen-segmen komedi di peralihan adegan-adegannya sih. Tapi, kalau menyangkut soal ceritanya sendiri, meski mengikuti detil-detil yang terasa enggak penting agak susah, aku lambat laun berhasil dibuat penasaran soal kelanjutan ceritanya.

Yea, aku jadi penasaran dengan seri-seri novelnya!

Mengingat suatu anime belakangan diproduksi sebagai ‘iklan’ untuk seri aslinya, bisa dibilang misi para produsernya sebenarnya sukses.

Slime Tidak Populer Dengan Wanita

Sesudah mengikuti Isekai Smartphone, aku jadi sedikit mikir: apakah kunci sukses tidaknya kita di dunia sebenarnya ditentukan oleh seberapa dekat kita dengan ‘dia yang berkuasa’? Tapi, dari sini, kita ada dua pertanyaan. Satu: siapakah yang berkuasa? Dua: bagaimana cara kita bisa dekat dengannya?

Kalau mikir ini lebih jauh, aku jadinya kepikiran soal agama.

Yah, Terlepas dari itu, kayak biasa untuk kasus-kasus begini, meski versi anime tetap punya sisi-sisi baiknya, versi novel Isekai Smartphone masih lebih bagus ketimbang animenya.

Perbedaan paling kentara terdapat pada pribadi Touya sendiri. Meski Touya nyata-nyata emang orang baik—dan alur animenya hampir sama persis dengan yang di novelnya—versi novelnya secara umum diceritakan dari sudut pandang orang pertama. Lalu, monolog internal Touya inilah yang membuat versi novelnya jadi beneran menarik.

Ceritanya enggak pernah jadi sangat bagus. Tapi, apalagi untuk ukuran novel isekai, versi novel Isekai Smartphone seriusan termasuk gampang dimasuki dan dinikmati. Meski kesan permukaannya datar, reaksi internal Touya terhadap segala sesuatu benar-benar kocak. Iya, aspek romansanya agak maksa. (Dan menarik gimana aspek ini jadi ditonjolkan di animenya.) Tapi, dengan segala kesederhanaannya, ini bacaan fun yang di dalamnya ada saja hal unik yang terjadi. Perlu disinggung elemen per-game-an yang biasa ada di suatu seri isekai juga sama sekali absen di seri ini.

Ngomong-ngomong, Fuyuhara-sensei konon mengetik novel ini menggunakan smartphone-nya juga. Aku seriusan heran gimana orang bisa sampai kayak gini.

Eh? Soal smartphone-nya?

Oh. Iya. Smartphone itu beneran berperan dalam cerita. Dengan menggabungkan dengan Null Magic, Touya jadi menemukan berbagai cara pemakaian kreatif untuk fitur-fitur dan aplikasi ponselnya.  Awal-awalnya memang enggak menonjol. Tapi makin ke sana, jadi makin bagus.

Penilaian

Konsep: C-; Visual: C+; Audio: B-; Perkembangan: C+; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: B

Iklan

3 Komentar to “Isekai wa Smartphone to Tomo ni”

  1. Yes! Isekai Smartphone (begitu Gigit nyebutnya) jadi anime favorit Gigit musim kemaren, selain Isekai Gundam (hihi, pasti tahu). Ceritanya ringan pake banget, tapi entah kenapa terasa epik bagi Gigit. Dan juga…, ada beberapa “kejutan”, salah satunya ketika Touya bertemu Cesca. Itu adegan memorable yang “traumatis” bagi Gigit yang udah terlanjur menganggap anime ini serial yang bersahaja. Satu adegan itu sempet bikin Gigit mikir ulang, kalau BD-nya dirilis sama Funimation, apakah akan Gigit koleksi? Haha!^^

    • Belum lama ini saya baca novelnya yang sudah terbit resmi bahasa Inggrisnya kan gitu. Ternyata adegan traumatis di novelnya sedikit lebih banyak. 😐

      Tapi kalau bisa suka animenya, cenderung bisa suka novelnya juga sih. Selain itu novelnya relatif lebih lucu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: