Hundred

Label light novel GA Bunko dimiliki penerbit SB Creative.

Ketika label tersebut berulang tahun yang kesepuluh, mereka memprakarsai adaptasi anime dari sepuluh seri LN-nya.  Sepuluh anime tersebut diproduksi studio-studio berbeda dalam kurun waktu berbeda pula. Kualitasnya beragam, tapi tetap lumayan berhasil mempromosikan judul-judul keluaran mereka.

Tanpa diurut secara khusus, dan kalau aku enggak salah, kesepuluh seri yang diadaptasi tersebut antara lain adalah:

  • Rakudai Kishi no Chivalry (Seri pertama yang diadaptasi. Lebih bagus dari dugaan.)
  • Dungeon ni Deai o Motomeru no wa Machigatteiru Darou ka? (Dikenal juga sebagai Danmachi. Relatif bagus, tapi kurang banyak.)
  • Haiyore! Nyaruko-san (Menarik.)
  • Hundred (Akan dibahas sebagai berikut.)
  • Inou-Battle wa Nichijou-kei no Naka de (Lumayan, punya beberapa adegan yang benar-benar bagus.)
  • No-Rin (Relatif bagus.)
  • Oda Nobuna no Yabou (Lebih bagus dari dugaan.)
  • Saijaku Muhai no Bahamut (Lumayan.)
  • Seiken Tsukai no World Break (Menarik.)
  • Danmachi Gaiden: Sword Oratoria (Seri terbaru yang diadaptasi saat aku menulis ini. Relatif bagus, tapi kurang banyak.)

Di antara semua judul di atas, yang paling menarik perhatianku saat adaptasinya pertama diumumkan adalah Hundred.

Seri ranobe Hundred ditulis oleh Misaki Jun dan diilustrasikan oleh Oukuma Nekosuke (Oukuma-sensei yang juga membuat desain karakter asli untuk Shinmai Maou no Testament). Hundred pertama terbit pada tahun 2012 dan sejauh ini, telah punya buku sebanyak belasan.

Alasan aku tertarik pada Hundred adalah karena sejumlah kemiripan yang Hundred miliki dengan Infinite Stratos, suatu seri populer lain yang diterbitkan penerbit Overlap. Ada persenjataan eksoskeleton yang dipasang di badan (aku akui, sesudah melihatnya sendiri, istilah ‘eksoskeleton’ ini kurang tepat sih). Ada latar dunia yang futuristis. Ada sekolah khusus yang perlu diikuti oleh para karakter utamanya. Ada pihak-pihak yang bermain di belakang layar.

Intinya, ada banyak hal keren di dalamnya yang membuatku tertarik. (Jadi, bukan. Bukan karena fanservice-nya. Walau, berhubung Oukuma-sensei yang merancang, aku memang sedikit tertarik sih.)

Salah satu perbedaan yang Hundred miliki dibandingkan sejumlah seri lain yang ‘mirip’ adalah bagaimana sekolah khusus yang menjadi latar cerita—yakni kapal induk sekaligus kota terapung di tengah laut bernama Little Garden—adalah sekolah campuran untuk cewek dan cowok. Jadi, tidak ada situasi ‘harem ekstrim’ seperti halnya di Infinite Stratos atau di Saijaku Muhai no Bahamut.

Di samping itu, juga adanya ancaman makhluk-makhluk buas misterius bernama Savage terhadap dunia. Monster-monster ini yang konon hanya bisa dilawan menggunakan senjata-senjata istimewa Hundred yang ditonjolkan seri ini.

Anime Hundred pertama keluar pada musim semi tahun 2016. Jumlah episodenya sebanyak 12. Produksinya dilakukan oleh studio animasi Production IMS. Sutradaranya adalah Kobayashi Tomoki. Naskahnya ditangani Shirane Hideki. Lalu musiknya ditangani oleh Naruse Shuhei.

Sebelum dibahas lebih jauh, Hundred sebenarnya bukan anime yang bagus.

Iya, ini sayangnya bukan judul yang akan aku rekomendasikan. Tapi, ada beberapa hal tentangnya yang sempat lama membuatku penasaran.

“Hundred On!”

Yah, singkat cerita…

Kisaragi Hayato, sang tokoh utama (bentuk Hundred: pedang katana dan pelindung lengan), terpilih masuk ke Little Garden karena memperoleh nilai kecocokan tertinggi sepanjang sejarah dalam tes kecocokan dengan Hundred. Tes kecocokan ini dilakukan untuk mencari bibit-bibit Slayer baru yang akan dididik menggunakan perangkat-perangkat Hundred.

Slayer ceritanya adalah istilah untuk orang-orang yang terlatih menghadapi serangan Savage. Mereka dilengkapi perlengkapan Hundred yang khusus digunakan oleh mereka sendiri.

Savage sendiri… bentuk mereka seperti makhluk-makhluk melata buas berukuran raksasa dengan kulit berwarna gelap dan garis-garis neon. Sejauh yang dipaparkan dalam cerita, belum terungkap dari mana asal mereka.

Hayato, ceritanya, adalah seorang remaja dari negara kepulauan Yamato (yang mirip Jepang). Dia dari sejak awal lumayan terlatih dalam ilmu bela diri. Dirinya juga bersedia menerima tawaran beasiswa di Little Garden karena sekalian bisa mendapatkan fasilitas perawatan mutakhir untuk adik perempuannya yang sakit-sakitan, Kisaragi Karen.

Tapi baru masuk, Hayato langsung mendapat masalah dengan para anggota Dewan Siswa. (Karena Hayato membela sejumlah siswi baru yang hendak langsung dikeluarkan karena terlambat mengikuti upacara.)

Dibeking oleh negara adidaya Liberia (mirip Amerika) yang memprakarsai penelitian terhadap Hundred, para anggota Dewan Siswa ini memiliki otoritas tertinggi di Little Garden. Selain mengatur sekolahan, mereka juga mengatur seluruh aspek komando pertahanan di pulau. Mereka dipimpin seorang perempuan berambut pirang bernama Claire Harvey (bentuk Hundred: drone-drone melayang pemancar sinar, yang bila disatukan bisa membentuk meriam raksasa), yang tidak segan memberi Hayato ‘ujian praktek’ langsung saat ia membangkang.

Untungnya, Hayato sebelumnya berkenalan dengan Emile Crossfode (bentuk Hundred: fleksibel, bisa berubah hampir menjadi bentuk apapun), seorang pemuda rupawan yang menawarkan diri menjadi partner sekaligus teman sekamarnya. Meski seangkatan dengan Hayato, dan berkesan lemah lembut, Emile ternyata seseorang yang sangat ahli dalam menggunakan Hundred.

Emile, bersama Hayato dan bakat alaminya, ternyata bisa menjadi lawan yang sepadan bagi Claire dan rekan-rekannya. Mereka sama-sama berhasil menunjukkan kalau Hayato memang seseorang yang layak dipertahankan.

Sampai ketika… Savage tiba-tiba menyerang. Keadaan darurat terjadi. Lalu, para Slayer harus bersatu karena kurangnya orang.

Lalu dalam aksi yang terjadi, Hayato menyadari kekuatannya yang sesungguhnya sebagai Variant. Lalu, ia memahami pula siapa Emile sesungguhnya…

Teman Lama, Teman Baru

Iya, pembuka ceritanya kurang meyakinkan. Iya, ada kesan “Intinya cuma gini doang?!” Lalu, iya, semua bahan yang diperlukan untuk membuat sesuatu yang rame itu ada, tapi entah gimana, semua jadinya… hanya sebatas demikian.

Ada banyak hal menarik yang terus diperkenalkan dan ditambahkan. Ada karakter-karakter menarik (seperti teman-teman Hayato dan Emile, si penembak jitu Fritz Granz dan teman masa kecilnya yang mungil, Latia Saint-Emillion). Ada teori-teori soal asal-usul Hundred dan manusia-manusia Variant. Ada masa lalu yang dibagi bersama dengan para karakternya (semisal, penyanyi idola Kirishima Sakura, yang ternyata pernah mengenal Hayato dan Karen di masa lalu, sekaligus juga pengguna Hundred). Ada misi-misi ke luar sekolah yang dikerjakan bersama pasukan multilateral. Ada campur tangan orang-orang misterius (seperti Judal Harvey, kakak lelaki Claire, kepala Warsiran Research Facility). Ada rahasia-rahasia yang tersembunyi di bawah Little Garden (seperti soal LiZA, yang konon adalah perwujudan adik perempuan Claire).

Tapi janggalnya, semua itu enggak benar-benar berujung ke mana-mana.

Dengan kata lain, di antara sepuluh anime yang diadaptasi dari seri LN GA Bunko di atas, Hundred adalah yang paling tidak menonjol.

Aku sempat susah menerima ini. Kok bisa sih hal ini terjadi?

Tapi, sesudah melihat perkembangan cerita di episode-episode berikutnya, lalu mengerti kalau ini pasti mengangkat cerita dari seri novelnya, aku kurang lebih jadi mengerti bagaimana staf produksi animenya jadi kurang termotivasi.

Sempat ada fans menerjemahkannya. Jadi aku sempat pula memeriksa versi novelnya seperti apa.

Untuk ukuran LN, narasi Misaki-sensei terbilang lumayan. Ceritanya juga cukup ringan untuk dinikmati. Tapi, sesudah diangkat jadi anime, Hundred memang bermasalah. Soalnya, meski punya banyak elemen menarik, struktur ceritanya kayak emang enggak cocok buat dijadikan anime.

Di samping itu…

Disangka… Demikian

Hundred kurasa semula hendak menonjolkan harem love comedy yang serupa dengan Infinite Stratos. But, it just doesn’t work. Berbagai kekonyolan cinta segi banyak itu enggak bisa ditonjolkan karena para heroine sendiri yang memang enggak(!) dalam posisi untuk terang-terangan memperlihatkan rasa suka mereka.

Oke, Hayato memang bukan karakter yang mencolok. Lalu dia juga bukan karakter yang dibenci juga. Dia archtype biasa untuk tokoh-tokoh LN seperti ini. Tapi, kalau bicara soal para heroine-nya…

Emile, sebagai contoh, memiliki identitas asli sebagai Emilia Hermit, teman masa kecil perempuan Hayato dari masa lampau. Dialah karakter perempuan utama di seri ini. Emile ceritanya pernah bertemu Hayato di masa lalu dan diselamatkan olehnya dalam suatu insiden serangan Savage di Kekaisaran Britannia (yang berujung pada berubahnya biologis tubuh mereka akibat virus Savage menjadi apa yang disebut Variant).

Kenapa Emilia menyamar sebagai lelaki? Aku juga… kurang paham.

Tapi, bukan cuma itu. Emilia juga aslinya adalah Emilia Gudenburg, putri ketiga dari Kekaisaran Gudenburg, suatu negara adidaya di dunia, yang telah disusupkan(?) ke dalam Little Garden. Jadi identitasnya dia itu berlapis tiga!

Di mata kita, sebagai penonton, Emile jelas-jelas perempuan (adegan-adegan fanservice yang menonjolkan Emile bahkan sudah ditampilkan sejak awal!). Tapi di depan umum, di dalam cerita, Emile harus menjaga jaraknya dengan Hayato. (Yang berujung pada bagaimana kedekatan antara mereka berdua membuat mereka terkesan homo.)

Hasilnya jadi… sangat… aneh.

Dia bukan karakter yang bisa kita sukai. Dari kepribadian enggak. Dari fisik, uh, entah, mengingat kebanyakan waktu, dia menyamar sebagai cowok. Tapi, dia juga bukan karakter yang akan kita benci juga. Dia sekedar… membingungkan. Lalu karena itu, jadinya kayak enggak punya daya tarik.

Intinya, kesannya jauh berbeda dari situasi Charlotte Dunois di Infinite Stratos yang untuk beberapa lama juga sempat menyamar sebagai cowok. Kasus Charl lebih berhasil. Aku sempat tak berkeberatan saat mengira dia benar-benar cowok (meski curiga). Tapi, aku juga enggak keberatan saat terungkap kalau dia cewek.

Oke. Aku juga bingung bagaimana harus menjelaskannya.

Selain Emilia, heroine berikutnya adalah Claire. Claire di mataku jelas lebih berkesan dibandingkan Emilia. Tapi, karena alasan jabatan dsb., dia pun enggak bisa terang-terangan mendekati Hayato. Dia itu kepala pasukan di sana. Dia enggak bisa berat sebelah kepada salah satu orang di dekatnya. Apalagi, dengan bagaimana dia selalu diikuti oleh kedua bawahannya, Liddy Steinberg, sang wakil seitokaicho pertama (bentuk Hundred: tombak dan perisai) yang tak kalah galak; dan Erica Candle, sang wakil seitokaicho kedua (bentuk Hundred: mirip yoyo dan kawat? Kurang efektif untuk melawan Savage berukuran besar) yang spesialis strategi dan sangat menghormati Claire.

Jadi, yah, kalian tahu maksudku.

Kemarahan yang Sulit Dimengerti

Production IMS pertama dikenal karena memproduksi season dua dan juga movie dari anime Date A Live. Mereka juga memproduksi Inari, Konkon, Koi Iroha yang terbilang mengesankan. Jadi, kalau soal kualitas, mereka sebenarnya bisa mengusahakannya.

Mempertimbangkan yang di atas, aku sempat terpaku melihat bagaimana Hundred memiliki kualitas teknis pas-pasan. Sesudah memikirkannya, aku curiga alasannya karena di kurun waktu yang sama, Production IMS juga mengerjakan proyek orisinil mereka, Active Raid, yang sayangnya, juga berakhir kurang begitu meledak.

Bicara soal kualitas teknis, animasi Hundred itu luar biasa standar. Sangat biasa. Tidak sampai jadi aneh atau jelek sih, tapi jelas enggak sekeren yang sempat aku bayang. Bahkan kalau mau bahas soal fanservice juga, tidak ada apapun tentangnya yang terbilang berkesan.

Tapi, di antara semua hal ‘biasa’ tersebut, ada dua aspek menonjol yang Hundred punya. Satu, aspek audio yang lumayan. Dua, adegan-adegan aksi.

Soal audio, efeknya bisa gede. Aku enggak bilang seri ini punya musik bagus. Mungkin levelnya hanya sekedar lumayan. Tapi, terasa ada perhatian yang diberikan terhadapnya gitu. Seri ini secara total memiliki empat lagu penutup, suatu hal menonjol untuk anime 12 episode dengan tema kayak gini. Ada tema idol yang tiba-tiba diangkat di tengah cerita. Rasanya aneh, tapi lumayan memperkaya nuansa yang seri ini bisa punya. Akting para seiyuu terbilang lumayan.

Lalu, soal aksi…

Jujur, inilah yang akhirnya paling membuatku penasaran soal Hundred.

Adegan-adegan aksinya enggak bisa dibilang bagus. Koreografinya biasa saja. Kebanyakan adegan juga berakhir dengan bagaimana Hayato intinya sekedar berhasil menyalurkan kekuatan terpendamnya. Tapi, pas lagi ada—dan mungkin juga ini cuma aku—selalu kayak ada beberapa detik—hanya beberapa detik—ketika intensitasnya benar-benar terasa.

Aku enggak mengerti bagaimana ini terjadi. Mungkin hanya akting para seiyuu-nya yang sekedar bagus. Intensitas tiba-tiba ini secara konsisten ada sampai menjelang akhir seri. Karenanya, aku sampai terdorong mengikuti perkembangan Hundred sampai tuntas.

Di samping itu, dengan berbagai misteri yang diangkatnya, pembangunan dunianya sebenarnya termasuk lumayan.

Merah Darah Kita

Akhir kata, Hundred kurasa bukan seri yang perlu kau pikirkan terlalu jauh. Di dunia ini ada lebih banyak hal yang lebih berarti untuk kita pikirkan. Tapi, buatku pribadi, ini lagi-lagi contoh soal gimana suatu kegagalan bisa lebih ‘mengajari’ kamu ketimbang suatu keberhasilan.

Karakter-karakter antagonis HundredVitaly Tnanov dan anak-anak buahnya: Krovanh Olfred, Nesat Olfred, Nakri Olfred; anak-anak yatim piatu Variant yang sempat menjadi budak—sebenarnya termasuk menarik secara konseptual. Lalu, kalau membaca versi novelnya, aku percaya ada banyak detil menarik soal dunianya yang bisa kita gali juga. (Semisal: nama masing-masing Hundred, kemampuan-kemampuan istimewa mereka, dan sebagainya.)

Hundred membuatku tertarik karena mengkhayalkan hal-hal ginian dalam lingkup yang konsisten dan logis ternyata sulit.

Oke. Melakukan apapun secara konsisten emang sulit. Jadi, pelajarannya mungkin juga ada di sana.

Man, aku lumayan kecewa saat sadar bahwa Claire bukan heroine utama.

Yah, sudahlah.

Penilaian

Konsep: E; Visual: C; Audio: B; Perkembangan:C-; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: C-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: