Waralaba Megaten (Bag I: Megami Tensei)

Keresahan dunia belakangan katanya mirip keresahan era Perang Dingin. Dari tahun 1970an sampai 1990an, persaingan intens antara Amerika Serikat (Blok Barat) dan Uni Soviet (Blok Timur) membuat dunia cemas. Masa depan tak pasti. Semua pihak takut konflik memuncak dengan perang nuklir. Ada yang bilang kalau itulah alasan banyak muncul cerita bergenre post-apocalyptic di zaman itu.

Sehubungan dengan itu, aku pengen bahas soal waralaba Shin Megami Tensei, tapi aku masih agak bingung memulainya bagaimana.

Berbeda dari waralaba game lain, kita kerap dapat misi menyelamatkan dunia. Tapi di Megaten, yang temanya seputar kiamat, ancaman hancurnya dunia itu biasanya pasti. Tak bisa kita apa-apain lagi. Yang jadi masalah lebih pada kapan terjadinya serta bagaimana cara menyikapinya.

Waralaba Shin Megami Tensei dikembangkan perusahan Atlus. Utamanya memang adalah game, tapi dari tahun ke tahun, keluar produk novel dan manga juga. Waralaba ini dicetuskan oleh Okada Kouji (yang juga dikenal sebagai Cozy Okada), Suzuki Ginichiro, dan Suzuki Kazunari pada tahun 1987.

Sebagai catatan, saat tulisan ini kubuat, Atlus berada di bawah naungan Sega. Sega adalah perusahaan bekas saingan Nintendo yang membuat game-game Sonic the Hedgehog dan Valkyria Chronicles. Setelah rangkaian kasus finansial yang menimpa Index Corporation, Sega semenjak beberapa tahun silam yang kini jadi perusahaan induk Atlus. Walau begitu, sebagian game Shin Megami Tensei dulu sempat diterbitkan Namco (yang sekarang sudah menyatu jadi perusahaan raksasa Bandai Namco), Nippon Ichi Software, dan beragam perusahaan lain, khususnya untuk wilayah Eropa.

Berawal Dari Tulisan

Mungkin sekarang susah kebayang. Awalnya, Megaten didasarkan dari novel. Novel tersebut adalah seri novel horor sains fiksi Digital Devil Story  karangan Nishitani Aya.

Megami Tensei, buku Digital Devil Story paling pertama (kira-kira berarti ‘reinkarnasi sang dewi’), menjadi inspirasi sekaligus nama dari gamenya. (Berbeda dengan cetakan huruf katakana di bukunya, kata ‘Story’ dalam game ditulis dengan huruf kanji ‘Monogatari’ walau kalau dari furigana, dibacanya tetap ‘Story’)

Dalam game Megaten yang pertama, Nishitani-sensei berperan dalam penyusunan cerita. Tapi, mulai game-game berikutnya, beliau lepas tangan. Cerita Megami Tensei II ke sana lepas sepenuhnya dari versi cerita di novelnya. Meski demikian, terlihat bagaimana elemen-elemen novelnya menjadi inspirasi berkelanjutan bagi waralaba ini.

Pada novel-novel Digital Devil Story, muncul gagasan tentang bagaimana manusia biasa jadi bisa memakai kekuatan makhluk-makhluk supernatural (Demon) melalui suatu perangkat lunak (Demon Summoning Program) di suatu piranti elektronik portabel (yang gampangnya, sering disebut COMP. Smartphone masih belum diciptakan pada zaman itu). Kemampuan memanggil Demon, dan membuat mereka mematuhi kemauan kita melalui kompromi dan negosiasi, kemudian menjadi ciri khas seri Megaten.

Elemen-elemen khas waralaba Megami Tensei mencakup:

  • Permainan yang mengutamakan perkembangan cerita dengan pendekatan pragmatis.
  • Sistem permainan berbasis giliran (turn-based), dari sudut pandang orang pertama (first person, ala Wizardry), dengan elemen-elemen dungeon crawler.
  • Tingkat kesulitan yang tidak mudah.
  • Fitur negosiasi dengan Demon. Demon yang semula musuh bisa direkrut menjadi kawan.
  • Adanya fitur fusion untuk menggabungkan secara permanen satu Demon dengan Demon lain, menghasilkan Demon baru yang (berpotensi) lebih kuat.
  • Cerita yang mengetengahkan ancaman kiamat atau perubahan besar dalam waktu dekat.
  • Adanya perseteruan berbagai tokoh mitologi kuno yang kembali bermunculan di dunia.
  • Adanya pihak-pihak alignment (mirip ideologi, atau bawaan) yang saling bertentangan. Lazimnya antara Law (yang menginginkan keteraturan) dan Chaos (yang menginginkan kebebasan).
  • Berlatar di dunia kontemporer. Biasanya di kota Tokyo masa kini.
  • Memiliki elemen-elemen cyberpunk, dengan pemaparan soal dunia virtual.

Kalau kalian penasaran, fans di Internet sudah menerjemahkan novel-novel Digital Devil Story ke Bahasa Inggris. Cuma dua dari tiga buku yang tuntas diterjemahkan, tapi ringkasan buku ketiga bisa ditemukan di luar sana.

Menurutku pribadi, walau idenya berkesan, cerita novelnya sebenarnya… kurang begitu bagus. Karakter-karakternya tidak simpatik. Motivasi semua orang janggal. Banyak elemen dewasa yang terkesan dipaksakan. Pemaparannya juga membuat tak nyaman. Walau demikian, tetap ada sesuatu di dalamnya yang bisa beresonansi secara tematis gitu.

Entah ya. Mungkin karena ceritanya dimaksudkan sebagai alegori.

Tetap keren sih. Ada sensasi bertahan hidup di tengah dunia yang semakin gila. Ada keberhasilan memperoleh kekuatan yang membuat kita di ‘atas’ makhluk-makhluk lain. Lalu, ada soal bagaimana kita seolah ditakdirkan berperan besar untuk menentukan masa depan dunia…

Mengiringi kesuksesan gamenya, waralaba Megaten kemudian ‘bercabang.’ Ada beberapa waralaba ‘turunan’ yang muncul, seperti waralaba Persona yang fenomenal. Megaten bahkan sempat menjadi waralaba JRPG terbesar di Jepang sesudah Dragon Quest dan Final Fantasy. Tapi, secara internasional, Megaten tetap kurang dikenal sampai Shin Megami Tensei Nocturne keluar untuk PlayStation 2 di tahun 2003.

WARNING

…Sedikit catatan.

Meski tidak sampai menyerang kelompok tertentu secara khusus, game-game Megaten sempat menuai kontroversi karena caranya memaparkan elemen-elemen keagamaan. Ada kesan campur aduk gitu antara mitologi dan dunia modern. Meski tak perlu ditanggapi serius, mungkin ini tetap perlu sedikit disinggung dengan bagaimana ada tuhan yang ditampilkan sebagai tiran pada beberapa judul.

Selain itu, pada masa-masa awal ekspansi mereka ke luar negeri, di pertengahan dekade 90an, Atlus sempat mengemas waralaba Megaten dengan nama Revelations (kira-kira berarti: ‘pembeberan’, bisa juga diartikan sebagai ‘wahyu’). Baru sesudah kesuksesan mereka di generasi konsol 128-bit di pertengahan dekade 2000an (era PS2, GC, dan XBox), mereka kembali lebih mengusung nama Shin Megami Tensei untuk waralaba ini.

Megami Tensei

Ini keluaran paling awal. Hanya terdiri atas dua game di konsol Famicom (generasi NES 8-bit), yakni:

  • Digital Devil Story: Megami Tensei (Famicom, 1987)
  • Digital Devil Story: Megami Tensei II (Famicom, 1990)

Digital Devil Story: Megami Tensei

Megami Tensei pertama masih berhubungan dengan seri novel Nishitani-sensei meski keterhubungannya tersamar. Kita berperan sebagai tokoh utama di novelnya, yakni pelajar SMA bernama Nakajima Akemi.

Ceritanya berlatar di penghujung dekade 1980an. Nakajima adalah pemuda rupawan yang dikisahkan jenius di bidang komputer. Selain komputer, Nakajima secara amatir juga mendalami ilmu sihir. Kepribadiannya di awal cerita digambarkan agak sosiapatik.

Untuk membalas kelompok berandalan yang menindasnya di sekolah, Nakajima menyusun program komputer yang mengaplikasikan formasi-formasi sihir kuno dalam bentuk digital. Program ciptaannya ini bisa memanggil para Demon dari Makai. (‘Makai’ atau Demon World adalah sebutan untuk alam paralel tempat tinggal para Demon. Belakangan juga dikenal dengan istilah Expanse).

Program komputer Nakajima ternyata bekerja. Tanpa ampun, Nakajima berhasil membalas dendam. Namun Demon yang Nakajima panggil, dewa jahat Loki dari mitologi Norse, ternyata tidak bisa sepenuhnya dikendalikannya.

Karena tipu daya Loki, Shirasagi Yumiko, murid pindahan yang tanpa sengaja mengetahui rahasia pemanggilan Demon Nakajima, kemudian diincar sebagai persembahan Loki yang berikutnya. Alasan Loki mengincar Yumiko ternyata karena Yumiko adalah reinkarnasi dewi kuno mitologi Jepang yang telah melahirkan dunia, Izanami. Tubuh Yumiko mengandung zat Magnetite dalam jumlah besar yang diperlukan Loki untuk bisa mewujud. Tanpa sempat Nakajima cegah, Yumiko akhirnya tewas di tangan Loki, dan dewa tersebut memperoleh tubuh fisik yang memungkinkannya mengacaukan dunia.

Trilogi Tertulis Soal Kehidupan dan Kematian

Novel pertama Megami Tensei membahas pengorbanan Yumiko dan upaya Nakajima menghidupkannya kembali. (Makanya, judulnya demikian.)

Cerita berkembang dengan terungkapnya Nakajima sebagai reinkarnasi dewa Izanagi, pasangan Izanami, dan bagaimana Nakajima mengusung pedang perwujudan dewa api Hi-no-Kagutsuchi bersama Demon setianya, Cerberus, untuk mengalahkan Loki.

Petualangan Nakajima dan Yumiko berlanjut dalam novel kedua Digital Devil Story (subjudulnya: Mazu no Senshi, atau Warrior of the Demon City; kira-kira berarti ‘ksatria kota iblis’). Cerita novel kedua ini soal upaya mencegah bersatunya alam manusia dengan alam Makai, serta soal bagaimana ada pihak-pihak tertentu yang mau membalas dendam pada Yumiko dan Nakajima.

Program ciptaan Nakajima dimanfaatkan ilmuwan komputer sekaligus penyihir jahat Isma Feed untuk memanggil dewa jahat lain, Set, yang berasal dari mitologi Mesir. Cerita berkembang dengan tokoh-tokoh baru yang turut terkena dampak dari program ciptaan Nakajima. Di klimaks, Nakajima dan Yumiko berhasil membunuh Set berkat jubah mistis pemberian Izanami. Tapi, novelnya berakhir dengan masih terhubungnya alam manusia dan alam Makai akibat keengganan Nakajima mengorbankan Yumiko.

Akibatnya, di novel ketiga (subjudulnya: Tensei no Shuuen, atau Demise of the Reincarnation, ‘akhir reinkarnasi’), Demon telah berkeliaran bebas di dunia manusia. Yumiko telah cacat akibat apa yang dialaminya di novel sebelumnya. Terguncang, Nakajima ingin menghadapi dosa-dosanya karena telah menyebabkan berbagai kematian secara tidak langsung akibat tindakannya mendatangkan Loki. Termasuk di antara mereka, kematian ibunya sendiri sekaligus seluruh anggota keluarga Yumiko.

Namun demikian, Raja Demon Lucifer memulai campur tangan untuk menguasai dunia manusia. Lucifer mencuci otak pejabat-pejabat berkuasa di pemerintahan dunia, dan berupaya menampilkan diri sebagai dewa. Nakajima seolah harus bangkit dari keterpurukannya dan mengambil peran sebagai penyelamat umat manusia.

Di penghujung cerita, karena kalap sesudah melihat ayahnya tewas dalam amukan massa, Nakajima terpaksa dibunuh Izanami sebelum yang bersangkutan juga membunuh Yumiko. Yumiko, histeris dengan kematian Nakajima, kemudian menggunakan Hi-no-Kagutsuchi untuk mencabut nyawanya sendiri.

Cerita secara tragis berakhir dengan bagaimana Izanami, yang kini mengendalikan tubuh Yumiko, membawa pergi jasad Nakajima ke Asuka, di mana ia akan dimakamkan.

Kelanjutan perjuangan melawan Lucifer dalam seri novelnya kudengar diceritakan dalam seri sekuelnya, New Digital Devil Story, yang terdiri atas enam buku. Tapi rincian lebih lanjut agak susah didapat. Seri novel NDDS ini konon kurang dikenal dibandingkan prekuelnya.  Tamatnya juga kudengar sama-sama berakhir tragis.

Akhir Alternatif Untuk Umat Manusia

Balik ke soal game, game Megami Tensei seakan mengesampingkan cerita di novel ketiga.

Dikisahkan, sesudah tewasnya Set, Izanami berhasil ditawan Lucifer. Jiwa Izanami diperangkap dalam labirin istana raksasa Daimakyuu yang tahu-tahu telah muncul dari Shirasagi Mound di Asuka. Nakajima, dengan ditemani Yumiko, melakukan perjalanan panjang di dalam Daimakyuu untuk membebaskan Izanami.

Mulai dari Tower of Daedalus, kota melayang Bien, Valhalla Corridor, Mazurka Corridor, Rotting Sea of Flames di mana Izanami ditawan, hingga Infini Palace tempat Lucifer bersemayam. Untuk itu, mereka harus berhadapan dengan para Demon musuh lama mereka, yakni Loki dan Set, yang telah dibangkitkan Lucifer dari kematian. Cerita berakhir dengan takluknya Lucifer di tangan Nakajima, serta sumpahnya kalau ia akan kembali suatu saat di masa depan.

Membahas soal gameplay, game Megami Tensei kudengar termasuk modern untuk zamannya. Permainannya susah dan menantang. Meski dengan random encounter, setiap pertempuran berlangsung cepat. Sudut pandang orang pertama, yang mensimulasikan gerakan tiga dimensi, merupakan hal revolusioner di Jepang pada masanya. Inti permainannya adalah menjelajahi labirin raksasa di mana kita menjumpai monster, benda-benda yang harus dikumpulkan, NPC, serta jebakan.

Meski bisa merekrut Demon, hanya Nakajima dan Yumiko yang bisa kita tingkatkan Level-nya. Keduanya sama-sama bisa dilengkapi senjata dan pelindung, tapi hanya Nakajima yang bisa membuat kontrak dengan para Demon dan memanggil mereka. Di sisi lain, Yumiko punya akses ke sejumlah sihir. Salah satu sihir Yumiko adalah kemampuan Minimap yang vital untuk navigasi.

Para Demon punya Level konstan yang tak bisa berubah. Tapi mereka bisa kita gabungkan dengan Fusion untuk memperoleh Demon baru yang lebih kuat.

Game aslinya berbasis password. Fitur save belum ada. Meski demikian, fitur automap yang memetakan peta otomatis ternyata tersedia.

Game ini pertama memunculkan sejumlah kekhasan bagi waralaba Megami Tensei, di antaranya:

  • Pasangan tokoh utama cowok dan tokoh utama cewek, yang mana si cowok bisa menggunakan Demon sedangkan si cewek bisa memakai sihir.
  • Adanya parameter Magnetite yang diperlukan untuk memanggil Demon.
    • Ada Magnetite dalam jumlah besar yang dikonsumsi untuk memanggil mereka.
    • Ada Magnetite dalam jumlah kecil yang dikonsumsi untuk mempertahankan wujud para Demon setiap kita melangkah. (Bila Magnetite habis, HP para Demon yang justru akan berkurang.)
  • Implementasi pertama sistem navigasi dari sudut pandang orang pertama.
  • Implementasi pertama dari sistem fusion.
  • Implementasi pertama dari sistem negosasi.
  • Implementasi pertama dari sistem fase bulan yang mempengaruhi perilaku para Demon. Fase bulan berbeda akan membuat mereka berperilaku dengan cara berbeda pula.

Sebagai tambahan, novel pertamanya sempat diadaptasi ke bentuk anime dalam format OVA oleh ANIMATE pada tahun 1987. Ceritanya lumayan setia dengan novelnya, tapi anime ini kurang menonjol. Mungkin baiknya kau lihat hanya kalau benar-benar penasaran (dan sudah dewasa).

Digital Devil Story: Megami Tensei II

Cerita game kedua, Megami Tensei II, masih berhubungan dengan game pertama.

Dikisahkan pada tahun 199X, tak lama sesudah Megami Tensei (gamenya, bukan novelnya) berakhir, perang nuklir pecah. Bombardir rudal membuka kembali portal dimensi ke alam Makai secara permanen. Di puing-puing Tokyo, 35 tahun sesudahnya, para Demon bebas berkeliaran di permukaan bumi dan memangsa manusia.

Umat manusia di zaman ini terbagi dalam dua golongan, yaitu Church of Messiah, yang meyakini akan datangnya juru selamat untuk umat manusia yang diutus Tuhan; dan Cult of Deva, yang memuja para Demon dan tunduk pada mereka.

Tokoh utama dan sahabatnya adalah dua anak muda yang hidup di tempat perlindungan bawah tanah pasca perang. Karakter-karakter mereka bisa kita namai sendiri. Mereka ceritanya menamatkan sebuah game bernama Devil Busters (yang secara mencurigakan, sangat mirip game Megami Tensei pertama). Lalu, sesudah berhasil mengalahkan musuh terakhir, tiba-tiba muncullah Demon Pazuzu yang ternyata disegel di dalam game tersebut.

Pazuzu menyatakan keduanya sebagai Messiah yang akan menyelamatkan umat manusia. Tokoh utama diberi Pazuzu kemampuan untuk bicara dengan Demon dan memanggil mereka. Sedangkan sahabatnya diberi kemampuan sihir. Keduanya diberi misi untuk menghancurkan para raja Demon yang telah menguasai Tokyo.

Pazuzu juga memperingatkan akan datangnya bencana dan tempat berlindung mereka tidak lagi aman. Kehilangan tempat tinggal, keduanya lalu berkelana untuk mengalahkan para Demon.

Post Apocalypse Ver.1

Di Tokyo Tower, tokoh utama yang kita mainkan dan kawannya berjumpa dengan tokoh utama perempuan, seorang gadis penyihir (juga bisa kita namai). Gadis tersebut ternyata juga pernah dinyatakan sebagai Messiah oleh Pazuzu. Ia juga menentang para Demon. Namun, si gadis belakangan membangkangi Pazuzu dan menyatakan kalau Pazuzu sebenarnya memanipulasi mereka.

Sahabat si tokoh utama tak bisa menerima kenyataan ini, dan akhirnya berpisah jalan. Si tokoh utama, di sisi lain, mempercayai kata-kata si gadis. Si gadis kemudian ikut dalam perjalanannya.

Sesudah mengalahkan satu per satu raja Demon, termasuk Pazuzu, dan menjatuhkan Cult of Deva, tokoh utama dan si gadis melanjutkan perjalanan mereka ke Makai. Di sana, mereka ceritanya harus menolong dewa-dewa lama yang kini telah tersingkir.

Sahabat kita, selama kurun waktu itu, ternyata telah berhasil membebaskan Lucifer yang Nakajima dan Yumiko telah segel bertahun-tahun silam. Namun sahabat kita kemudian tewas di tangan Bael, musuh lama Pazuzu, yang rupanya bertindak menentang kehendak sang tuhan. Bael-lah yang ternyata sebelumnya menyegel Pazuzu dalam Devil Busters.

Selanjutnya terkuak bahwa Satan, salah satu raja Demon, yang ternyata bertanggung jawab memicu perang nuklir puluhan tahun silam. Kita lalu diberi dua pilihan tentang bagaimana Satan hendak kita kalahkan.

Bila kita mengalahkan Satan begitu saja, yang berarti membuat kita membangkangi Lucifer dan membuat kita berujung harus mengalahkannya juga, kita akan diangkat sebagai dewa. Millenial Kingdom yang telah dijanjikan Church of Messiah selanjutnya akan terbangun bersama kemenangan kita.

Sebaliknya, bila kita merekrut Lucifer dengan menolong Bael, sesudah mengalahkan Satan, kita berkesempatan melawan YHVH, tuhan yang telah mengusir para dewa lain. Bila menang, Lucifer akan menutup portal ke alam Makai, umat manusia akan keluar dari bawah tanah, dan terungkap bahwa Devil Busters yang kita mainkan di awal ternyata diciptakan oleh mendiang Nakajima.

Underground Channels

Dari segi teknis, Megami Tensei II katanya merupakan kemajuan besar dibanding game sebelumnya. Grafisnya lebih bagus dengan pilihan warna lebih baik. Ada peta dunia yang kini bisa kita jelajahi yang bernuansa post apocalyptic, di mana perjalanan ke tempat-tempat lain perlu kita lakukan melalui jalur-jalur kereta bawah tanah.

Kini kita bisa men-save.

Di samping itu, aspek ceritanya juga lebih berbobot.

Beberapa kekhasan Megami Tensei II antara lain:

  • Implementasi pertama sistem peta dunia.
  • Implementasi pertama dari Cathedral of Shadows, kuil misterius di mana Demon bisa kita gabungkan untuk menghasilkan Demon baru. (Di versi awal Megami Tensei pertama, Demon bisa kita gabungkan, tapi bukan melalui tempat ini.)
  • Implementasi sudut pandang dari atas di beberapa bagian permainan.
  • Implementasi pertama dari sistem alignment, meski dalam bentuk sederhana, dengan dua pilihan yang bisa diambil, yakni Law atau Chaos.
  • Implementasi pertama sistem untuk meneruskan permainan bila kita mati, dengan memberi uang ke Charon di sungai arwah.
  • Implementasi pertama toko Rag(?) yang menyediakan barang-barang berkualitas namun hanya menerima bayaran dalam bentuk batu-batu permata berharga.

…Catatan tambahan untuk Megami Tensei dan Megami Tensei II.

Megami Tensei pertama juga pernah dirilis dalam versi yang dikembangkan Telenet. Versi ini berbeda sama sekali dari versi aslinya (dengan pergerakan dilihat dari atas). Karenanya, dipandang sebagai versi yang inferior.

Sesudah kesuksesan game-game Shin Megami Tensei yang menjadi penerusnya, Megami Tensei dan Megami Tensei II dirilis ulang dalam satu bundel bernama Kyuuyaku Megami Tensei (‘Kyuuyaku’ dalam hal ini berarti ‘Old Testament’ atau ‘Perjanjian Lama’). Versi ini dirilis untuk Super Famicom pada tahun 1995.

Versi Kyuuyaku merombak habis grafis untuk kedua game. Memberinya nuansa estetis lebih baru. Karena tergabung jadi satu, kita bahkan jadi bisa menyambungkan data dari game pertama ke game kedua. Megami Tensei pertama juga jadi bisa di-save di versi ini.

Kalau kalian kesampaian main, kurasa versi Kyuuyaku ini yang paling direkomendasikan.

(Bersambung)

Iklan

About this entry