Blame! (2017)

Menyambung pembahasan sebelumnya, belakangan aku berkesempatan melihat film layar lebar Blame! buatan Polygon Pictures. Untuk di luar Jepang, film ini menonjol karena didistribusikan lewat saluran berbayar Netflix, seperti halnya seri TV Knights of Sidonia dan Kuromukuro dulu.

Berdurasi sekitar 100 menit, hasil akhirnya terbilang bagus.

Disutradarai Seshita Hiroyuki, dengan naskah buatan Murai Sadayuki, dengan masukan dari pengarang aslinya, Nihei Tsutomu sendiri, kesan film CG ini berbeda dibandingkan manga aslinya. Anime ini merupakan versi cerita yang berdiri sendiri, jadi bukan adaptasi langsung dari manganya. Meski begitu, cerita versi ini menurutku lebih gampang dimasuki oleh penggemar awam.

Buat yang belum tahu, anime ini diadaptasi dari manga berjudul sama (dibacanya sebenarnya ‘buramu’) yang dibuat Nihei-sensei di akhir 1990an sampai awal 2000an. Diserialisasikan di majalah Afternoon punya Kodansha, ulasan lebih jauh soal manganya bisa ditemukan di sini.

Modul Pengamanan

Sebenarnya, enggak banyak yang bisa dikatakan soal ceritanya. Ada lumayan banyak hal tersirat dalam dialog-dialognya yang rasanya sayang kalau aku ungkap.

Ceritanya masih berlatar di Kota, dunia penuh bangunan yang maha-kolosal. Kota masih terus saja membesar akibat pertumbuhan robot-robot Builder yang tak terkendali, dari satu lantai ke lantai baru. Para Builder bukan hanya terus membangun Kota, tapi juga terus menciptakan robot-robot Builder baru. Apa yang tersisa dari umat manusia hanya bisa ditemukan di tempat-tempat berjauhan. Genetik mereka terkontaminasi/terinfeksi akibat sesuatu yang telah lama mereka lupakan.

Singkat cerita, anime ini pada dasarnya mengadaptasi bab pertemuan si tokoh utama yang pendiam dan misterius tapi sangat tangguh, Killy, dengan komunitas Electro-Fisher (‘nelayan elektrik’) dari manganya. Hanya saja, perkembangan ceritanya berbeda dan lumayan berdiri sendiri.

Karakter gadis remaja muda Zuru dan pria paruh baya Pops (‘Oyaji’) masih ada. Sebagian besar cerita bahkan diambil dari sudut pandang Zuru (dirinya terihat lebih manis di versi ini). Tapi selain Zuru, hadir juga Tae, seorang gadis lain yang memaksakan ikut dengan penjelajahan Zuru untuk bisa membantu adik perempuannya yang sakit; Fusata, seorang remaja cowok yang menaruh hati terhadap Tae; dan Sutezo, salah seorang pejuang andal yang menjadi semacam wakil dari Pops.

Pertemuan Zuru dengan Killy, yang kemudian dibawa ke desa mereka—yang karena suatu alasan, tak bisa dimasuki oleh mesin-mesin Safeguard yang memburu manusia—lalu berlanjut dengan penemuan jasad Cibo, seorang ilmuwan.

Cibo mengungkapkan bahwa dirinya memiliki kepentingan yang sama dengan Killy, yaitu menemukan Net Terminal Gene yang bisa menghentikan pertumbuhan liar kota, yang mungkin telah berlangsung lebih dari ribuan tahun. (Aku luput menyebut ini sebelumnya, tapi kalau mengacu ke sumber resmi di manganya, ketinggian Kota telah mencapai orbit Jupiter.)

Bagaimana bisa dunia jadi seperti ini? Apa perkataan Cibo benar soal cara untuk menghentikan pertumbuhannya? Bisakah komunitas Zuru bertahan dan menemukan sumber makanan baru?

Seorang Manusia

Bicara soal teknis…

Yah, ini animasi CG ya? CG sepenuhnya.

Jadi, kalau kau pernah mengikuti anime Ajin atau Knights of Sidonia, kalian bisa bayangkan kelemahan-kelemahannya seperti apa. Hanya saja, terlepas dari isu soal frame rate (yang membuat beberapa adegan pergerakan terkesan terpatah-patah), menurutku, mungkin ini anime CG paling bagus yang pernah kulihat sejauh ini.

Visualnya benar-benar keren. Sapuan warna-warnanya tajam. Ada banyak efek cahaya yang muncul dari persenjataan (terutama dari berkas merah Gravitational Beam Emitter), atau pakaian khusus yang dikenakan para Electric Fisher. Aku kagum dengan bagaimana mata Killy memindai genetik orang-orang di hadapannya. Atau soal berbagai fitur virtual ala Iron Man dalam pakaian Zuru dan kawan-kawannya. Cara dunia hasil visualisasi Nihei-sensei diperlihatkan dalam animasi juga benar-benar keren. Warna-warnanya sebelumnya enggak kebayang.

Memang, latarnya mungkin enggak terasa sekolosal dengan di manga. Lingkup ceritanya memang terbilang kecil. Tapi visual film ini tetap lebih keren dari yang aku sangka.

Musiknya ditangani komposer handal Kanno Yugo. Komposisi beliau di film ini menurutku benar-benar keren. Duo Angela menyumbang lagu bernuansa elektronik khas mereka berjudul “Calling You” yang pas untuk film ini. Akting para seiyuu juga memikat dengan sejumlah nama besar bahkan untuk para karakter sampingan. (Akting cool Hanazawa Kana sebagai Cibo terutama, memberi kesan yang benar-benar keren sebagai satu-satunya orang yang bisa membaca maksud Killy.)

Kalau soal eksekusi, maka kesan pertama yang film Blame! berikan adalah western. Atau tepatnya, film-film koboi zaman dulu. Itu loh, yang biasanya mengetengahkan ada masyarakat yang tengah resah. Lalu tahu-tahu hadir pendatang misterius tak dikenal yang kemudian membantu dan membawa perubahan.

Struktur cerita film ini benar-benar terasa seperti itu.

Ajaibnya, dengan sudut pandang penceritaan dipaparkan dari Zuru dan para Electro-Fisher lain, pendekatan ini benar-benar cocok. Ada penggambaran yang cukup buat penjelasan latar belakang. Lalu tanpa banyak cingcong, kita dengan cepat dibawa masuk ke aksi.

Aksinya? Aksinya keren. Mungkin… ini produksi Polygon Pictures dengan aksi terkeren sejauh ini. Aku sedikit kecewa Killy tak beraksi lebih banyak. Tapi sekali lagi, menurutku aksinya keren.

Aku sedikit kecewa dengan bagaimana film berakhir tanpa reuni kembali antara Killy dan Cibo. Akhir ceritanya sendiri cukup keren sih, dengan bagaimana Killy seolah mengorbankan diri, tapi diyakini Zuru masih terus berkelana melanjutkan perjalanannya. Tapi tetap terasa bagaimana film ini hanya mencuil sedikit cerita dari manganya, mengekspansinya sesuai kebutuhan, dan membiarkannya berakhir terbuka. Jadi bisa dilanjutkan dengan sekuel dan bisa juga tidak.

Aksi adu tembak GBE tidak… sedahsyat yang aku harap, meski duel terakhirnya berkesan. Ada robot-robot Exterminator milik para Safeguard. Tapi kaum makhluk silikon dari manganya yang diyakini sebagai biang kerok semua masalah ini tidak ditampilkan. Secara wajar, juga tidak ada tanda-tanda kehadiran Toha Heavy Industries, walau mungkin itu disimpan untuk sekuel nanti.

Di sisi lain, film ini secara tak terduga malah memaparkan beberapa hal yang tidak tersampaikan jelas di manganya. Seperti soal Authority (‘pihak berwenang’) yang berhasil Cibo temui dalam akses terbatasnya ke NetSphere; atau soal jati diri Killy yang Sana-kan blak-blakan ungkapkan berasal dari pihak Safeguard (yang membuat pernyataan Killy kalau dirinya manusia, serta bagaimana ucapannya selalu terpatah-patah, tiba-tiba jadi terasa pahit).

It’s good.

Ini film anime aksi yang benar-benar direkomendasikan.

Kalau ada kekurangan lain… mungkin ada yang akan merasa drama antar manusianya tak ke mana-mana? Perkembangan karakter dan hubungan antar mereka minim sih. Tapi kurasa, bumbu-bumbu drama tersebut memperkaya aspek kemanusiaan di ceritanya.

Yah, mungkin juga akan ada yang mengeluh soal betapa minimnya porsi Sana-kan. Soal itu, aku juga bisa mengerti.

Sebagai penutup, mungkin perlu kusinggung kalau manga Blame! belum lama ini dirilis ulang oleh Kodansha. Dalam beberapa gambar promonya, terlihat jelas bagaimana gaya gambar Nihei-sensei telah lebih berubah dengan penggunaan garis-garis yang lebih luwes.

Berawal dari mengerjakan karya yang bakal diterima enggaknya jelas-jelas enggak jelas, kau kini seolah bisa ngerasain kemajuan kemampuan beliau sebagai pribadi.

Kita beneran ga tau masa depan bakal ngebawa kita ke mana, ya?

Penilaian

Konsep: A; Visual: A; Audio: A; Perkembangan B+; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A-

Iklan

2 Komentar to “Blame! (2017)”

  1. ok, ini di rekomendasiin banget.. ane udh nonton animenya, thx buat review nya min. (kykny framerate rendah itu jadi daya tarik tersendiri buat ane.. :v jadi semacam efek keren gitu..)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: