Blame!

Adaptasi anime layar lebarnya sudah mau keluar. Baiknya, aku bahas sedikit tentang Blame!.

Blame! (judul Jepangnya adalah efek suara bu-ra-mu!; jadi cara baca yang sebenarnya mungkin blam dan bukan bleim) adalah seri manga yang sekilas, kayaknya gampang dibahas. Ceritanya minim. Aksinya banyak. Tokoh-tokoh dan latar ceritanya terbilang keren. Tapi kalau mau bahas lebih dari itu, agak susah. Soalnya…

…Yah, soalnya dialognya benar-benar minim.

Kebanyakan dialognya berupa eksposisi, dengan karakter-karakter yang keren tapi tak begitu digali kepribadiannya. Tapi ini bukan dalam arti buruk ya.

Dari dulu itu memang salah satu ciri khas pengarangnya sih.

Datang ke Kotamu

Blame! berawal dari seri manga aksi sains fiksi karangan Nihei Tsutomu (yang belakangan lebih dikenal berkat seri mecha beliau, Knights of Sidonia). Pertama diterbitkan Kodansha di majalah Afternoon, serialisasi Blame! berlangsung dari tahun 1998 sampai 2003. Cerita utamanya sepanjang sepuluh buku. Seri ini sudah tuntas diterbitkan di Indonesia oleh Level Comics, bersama dengan satu buku prekuelnya, NOiSE.

Blame! pertama aku kenal di awal dekade 2000an.  Seperti halnya Berserk, Blame!  salah satu manga seinen pertama yang aku baca. Semua manga seinen yang kubaca di masa itu seakan memperluas wawasan. Tapi Blame! istimewa karena tidak ada apapun yang pernah kulihat yang mirip dengannya.

Sekali lagi, berhubung aku pertama membacanya di masa sebelum Level Comics ada, Blame! meninggalkan kesan kuat. Yang menonjol tentang Blame!, selain soal aksinya, adalah latar ceritanya.

Blame! berlatar di dunia yang sedemikian penuh bangunan dan gedung. Yang bisa terlihat hanya lorong-lorong panjang, tangga-tangga tak berkesudahan, pemandangan gedung-gedung lain, seakan tak ada akhir. Tak ada langit atau matahari. Tak ada awan atau cakrawala. Tak ada(?) kehijauan. Tak ada(?) binatang-binatang yang kita kenal. Kalaupun ada tempat terbuka, kau masih bisa melihat atap logam raksasa di atasmu. Yang kau bisa temukan paling hanya lampu, jaringan-jaringan kabel, dinding, gedung, lorong, tangga-tangga besi, elevator… intinya, labirin logam indoor yang seakan tak ada habisnya.

Di dunia seperti ini, Killy berkelana.

Killy, sang tokoh utama cerita, adalah pria muda dewasa dengan kulit agak pucat. Ekspresi mukanya selalu serius. Sifatnya pendiam. Benar-benar sangat pendiam. Tinggi badannya sedang. Proporsi badannya biasa. Pakaian yang dikenakannya biasanya hitam. Dari luar, penampilan Killy seperti manusia biasa. Di samping itu, tak terlihat ada perbekalan apapun yang dia bawa selain apa-apa yang bisa masuk ke kantong-kantong saku bajunya.

Kalau ditanya, Killy akan menyatakan kalau dirinya sedang dalam perjalanan untuk mencari sesuatu yang disebut Net Terminal Gene.

Siapa sebenarnya Killy tak benar-benar dijelaskan. Ada kemungkinan dirinya sendiri juga tidak tahu. Intinya, Killy adalah agen dari suatu pihak berwenang yang berkepentingan menghentikan pertumbuhan Kota yang tidak terkendali.

Kota yang menjadi latar cerita Blame! adalah kota harfiah yang berukuran maharaksasa. Kota ini terus tumbuh, tanpa terkendali, karena adanya robot-robot Builder yang secara berkelanjutan memperluasnya. Builder-builder baru terus diciptakan. Bangunan-bangunan baru terus dibangun. Lantai-lantai baru terus ditambah. Bahkan sampai ke luar angkasa.

Tak ada yang tahu persis sudah berapa lama Kota ada. Tapi kalau ditelusur, semua konon bermula dari crash yang dialami sistem dunia maya NetSphere yang sebelumnya mengendalikan dunia. Insiden tersebut menyebabkan NetSphere tidak lagi bisa diakses kalau bukan oleh orang yang punya genetik terminal murni—Net Terminal Gene yang Killy cari—padahal, hanya akses resmi ke NetSphere yang bisa menghentikan pertumbuhan Kota yang tak terkendali tersebut.

Sementara, jumlah populasi manusia semakin menipis. Manusia semakin sedikit, dan manusia murni mungkin bahkan sudah punah. Karenanya, ada keraguan besar soal apakah yang Killy cari benar-benar ada atau tidak.

Kehidupan Silikon

Dalam sebagian besar durasi cerita, Killy hanya berbekal satu senjata.

Senjata tersebut adalah pistol berukuran relatif kecil bernama Gravitational Beam Emitter (‘pemancar sinar gravitasi’). Pistol ini menjadi semacam senjata andalannya karena berkekuatan sangat dahsyat.

Salah satu ciri khas Blame! adalah bagaimana dalam adegan-adegan aksinya, Killy bisa sampai terlempar ke sana kemari karena saking dahsyatnya daya dorong pistol ini. Satu tembakan saja dari GBE mampu menghasilkan lubang-lubang besar yang ukurannya berskala kilometer. Persendian bahu Killy bahkan bisa sampai terlepas. Tapi dengan cueknya (memunculkan tanda tanya apakah dirinya benar-benar manusia), Killy selalu seolah bisa bangkit dan memperbaikinya ke posisi semula.

Sedemikian dahsyatnya GBE, senjata tersebut nampaknya adalah satu-satunya yang dapat melubangi lapisan Megastructure yang teramat tebal. Terletak pada titik-titik ketinggian tertentu di Kota, Megastructure adalah lempengan-lempengan raksasa antara tingkatan-tingkatan kota yang agaknya dibangun para Builder(?) dari bahan-bahan yang tidak diketahui. Megastructure menjadi semacam sistem isolasi antar lantai yang membatasi ruang gerak para penghuni Kota.

Bila ada makhluk hidup mendekati Megastructure, kedekatan mereka konon memicu kemunculan penjaga-penjaga kejam yang disebut Safeguard.

Para Safeguard yang mampu berteleportasi ini adalah para penjaga yang semula diciptakan untuk mencegah akses ilegal ke NetSphere. Hanya saja, sesudah sistem tersebut crash, Safeguard cenderung memusuhi siapapun yang tak memiliki NTG, yang dalam hal ini, meliputi hampir(?) semua manusia dan makhluk hidup lain yang masih tersisa. Karenanya, pembantaian kerap terjadi setiap kali Safeguard muncul. Para Safeguard sangat kuat dengan beragam persenjataan canggih yang sulit ditandingi.

Crash yang dialami NetSphere konon terjadi karena ada pihak-pihak tak bertanggungjawab yang berusaha masuk ke dalamnya secara ilegal untuk mencuri teknologi. Hasil akhir dari pencurian tersebut adalah terlahirnya makhluk-makhluk silikon yang meniru fisik Safeguard tapi tidak secara sempurna. Mereka adalah makhluk-makhluk separuh mesin dengan agenda dan komunitas mereka sendiri, yang agaknya punya bawaan memusuhi manusia.

Karena keberadaan mereka yang ilegal, para makhluk silikon ini adalah musuh alami para Safeguard. Tak jelas bagaimana awalnya, tapi makhluk-makhluk ini juga dimusuhi Killy dan terus seakan menjadi duri dalam daging selama perjalanannya.

Seiring perkembangan cerita, pada suatu titik, Killy mulai ditemani Cibo, seorang perempuan jangkung berambut pirang lurus yang bekerja sebagai peneliti.

Berasal dari Ibukota dan sebelumnya bekerja untuk Perusahaan Bio-Elektrik, Cibo punya minat khusus terhadap NTG yang Killy cari karena sebelumnya pernah berupaya mengakses NetSphere menggunakan NTG artifisial ciptaannya sendiri. Upaya Cibo tersebut berujung pada tragedi karena memicu kemunculan Safeguard, yang berujung pada jatuhnya banyak korban jiwa, yang kemudian membuat kesadaran Cibo dipenjarakan untuk waktu sangat lama. Sesudah pertemuannya dengan Killy (dan memperoleh tubuh baru), Cibo memohon pada Killy agar dirinya boleh ikut serta.

Berbeda dari Killy (yang masih saja pendiam), Cibo lebih banyak berbicara. Lalu melalui Cibo-lah sejumlah besar informasi tentang dunia Blame! dipaparkan. Cibo juga tak memiliki petunjuk lebih lanjut tentang NTG karena dirinya, beserta seluruh penduduk lain di masyarakat tempat dia berasal, sudah tak lagi sepenuhnya manusia.

Titik balik terbesar dalam cerita Blame! terjadi saat Killy dan Cibo mengetahui tentang Toha Heavy Industries (nama sebuah perusahaan yang sudah berulangkali muncul dalam karya-karya Nihei-sensei). Wilayah kerja Toha Heavy Industries konon tak berada dalam lingkup pengelolaan NetSphere, dan karenanya pula terbilang aman dari Safeguard, sehingga informasi tentang NTG mungkin saja bisa mereka peroleh andai saja bisa masuk ke dalamnya.

Hanya saja, yang berkepentingan terhadap Toha ternyata bukan hanya mereka.

Di samping berhadapan dengan satu-satunya administrator Toha yang dapat mereka hubungi—suatu kecerdasan buatan bernama Mensab dan manusia pelindungnya yang ahli pedang dan sudah terkikis ingatannya, Seu—para makhluk silikon turut membayangi Killy dan Cibo karena juga mengejar kesempatan untuk bisa mengakses NetSphere. Di sisi lain, meski tak termasuk jurisdiksi mereka, para Safeguard juga mulai menjalankan rencana mereka untuk menginfiltrasi Toha dan menghabisi semua yang di sana.

Pancaran Sinar dan Kecepatan Suara

Sekilas, gaya gambar Blame! terkesan kasar. Ada banyak garis yang terkesan liar. Pewarnaannya terkesan seadanya. Kesan akhirnya benar-benar seperti sketsa. Intinya, visualnya sangat berbeda dibandingkan karya-karya manga lain yang keluar di zamannya. Tapi mungkin berkat latar belakang beliau sebagai arsitek, desain dunia buatan Nihei-sensei tersebut membuat Blame! jadi benar-benar mencolok.

Jadi, di dalam setiap bab Blame! selalu serasa ada sesuatu yang monumental gitu. Terasa demikian dengan bagaimana manusia-manusia yang berukuran kecil seperti dibandingkan dengan dunia teramat besar. Ini berlangsung secara berkelanjutan, selama periode sepuluh buku, dengan diselingi adegan-adegan aksi yang semula agak susah diikuti, tapi sebenarnya berlangsung lumayan keren sesudah kau amati.

Ada banyak latar keren. Ada banyak peralatan yang canggih.  Kudengar, meski agak biasa saja di Jepang, Blame! sangat menarik perhatian para fans manga saat diterbitkan di luar negeri. Apalagi dengan dunianya yang seperti itu ditambah ceritanya yang misterius.

Ceritanya… yah, untuk waktu cukup lama, aku juga sempat kesulitan mencerna ceritanya. Karakter-karakternya kurang tergali. (Bahkan ada banyak karakter yang nama-nama mereka mungkin takkan kita ingat.) Tapi meski banyak detailnya yang hanya sebatas tersirat, Blame! punya alur sains fiksi yang benar-benar menarik.

Killy itu seperti jagoan film aksi yang tak kunjung juga mati terlepas dari betapa seringnya ia mau dibunuh. Adegan-adegan aksinya itu seperti kombinasi tembak-tembakan dan serangan-serangan jarak dekat yang berlangsung dengan kecepatan benar-benar tinggi. Ada aspek-aspek medan pelindung, regenerasi, pergantian tubuh, senjata-senjata suara dan elektromagnetik. Geh, bahkan ada isu dunia paralel yang sempat disinggung juga!

Kalau bicara soal tokoh antagonis, terlepas dari bagaimana setiap tokoh baru hadir dengan afiliasi yang diragukan (seperti Mensab dan Seu di atas, atau seperti Domochovsky dan Iko, yang meski resminya berstatus Safeguard, sama-sama tidak menjadi ancaman terhadap Killy), musuh signifikan pertama yang Killy dan Cibo hadapi adalah Sanakan.

Sanakan, sesosok perempuan berambut hitam pendek, bermula sebagai Safeguard Level 6 yang disusupkan ke Toha untuk memicu pelanggaran yang bisa menyebabkan hilangnya validitas perjanjian antara Toha dan NetSphere. Tapi dalam perkembangannya, suatu hubungan kompleks terjalin antara dirinya dengan pihak Killy dan Cibo. Intinya, Sanakan belakangan jadi sesuatu yang lebih dari sekedar musuh, dan akhirnya berperan besar dalam resolusi cerita.

Singkat cerita, Killy dan Cibo gagal memperoleh apa yang mereka cari di Toha. Tapi di akhir perseteruan di Toha, mereka memperoleh ‘sesuatu’ yang mungkin bisa membantu. Killy dan Cibo kini hanya tinggal mencari cara untuk memanfaatkan ‘sesuatu’ itu. Tapi ‘sesuatu’ tersebut juga membuat mereka dikejar musuh yang baru, yaitu kelompok makhluk silikon pimpinan Davinelulinvega (yang menurutku digambarkan seperti semacam pemimpin sekte). Di sini pula, konflik Killy dan Cibo dengan Sanakan kembali memuncak. Lalu berkat kemampuan meretas Cibo, apa yang belakangan terjadi membuat situasi menjadi benar-benar kompleks…

Ringkasnya, buat yang penasaran, akhir cerita Blame! datang dengan agak tiba-tiba dengan bagaimana Killy dipercaya untuk menjaga peninggalan Cibo dan Sanakan, yakni benih NTG sintetis yang mereka berhasil ciptakan sama-sama. Kini hanya dengan ditemani Mori, semacam kecerdasan peninggalan masyarakat Toha, perjalanan Killy terus berlanjut agar benih tersebut dapat berkembang secara bebas dari kontaminasi Kota.

Komedi Romantis

Blame! sempat beberapa kali diadaptasi menjadi anime, walau bukan dalam format seri TV. Pasar penggemarnya memang lumayan niche, jadi wajar kalau ini tak meledak.

Adaptasi pertama dalam format ONA oleh studio animasi Group TAC. Mereka memproduksi seri enam episode dengan durasi enam menit pada Oktober 2003 dengan disutradarai Inokawa Shintaro. Hasilnya tak menonjol, tapi cukup lumayan dengan nuansa dunianya yang benar-benar sureal. Ada lumayan banyak dialog di dalamnya, tapi garis besar ceritanya masih lumayan menuai tanda tanya.

Kedua, sempat hadir anime CGI Blame! Prologue sebanyak dua episode, masing-masing berdurasi empat menit, pada September 2007. Kali ini, produksinya dilakukan  studio animasi ternama Prodution I.G. Meski ekspresi para karakternya masih kaku dan tak banyak yang dihadirkan selain adegan-adegan aksi, ini berakhir sebagai presentasi lumayan keren.

Ketiga, ehem, Blame! hadir sebagai ‘anime di dalam anime’ yang tayang pada adegan-adegan tertentu di anime Knights of Sidonia beberapa tahun lalu. Hasil akhirnya cukup mencolok. Kudengar episode khususnya disertakan dalam versi DVD Knights of Sidonia.

Selama kurun waktu sesudah tamatnya tersebut, sejumlah materi pelengkap Blame! juga sempat dirilis.

Yang pertama mencolok adalah NOiSE, yang sudah kusinggung di atas. Berlatar di dunia ketika NetSphere masih terkendali, prekuel ini bercerita tentang seorang polwan bernama Musubi Susono yang mengusut suatu kasus pembunuhan, tapi tahu-tahu terjebak dalam konflik kepentingan antara sejumlah pihak. Semuanya terjadi menjelang perilisan NetSphere ke khalayak luas. Karena rupa mereka yang mirip, Musubi diyakini (tapi bisa juga tidak) adalah template kepribadian yang digunakan dalam membentuk Sanakan.

Yang paling menarik selanjutnya adalah Blame! Gakuen, suatu seri spin off yang mengisahkan bagaimana seandainya Killy dan kawan-kawannya para karakter lain adalah remaja-remaja SMA. Di sini, Killy masih pendiam. Cibo jadi semacam sahabat lamanya yang lebih banyak bicara. Sanakan menjadi guru. Lalu para makhluk silikon menjadi semacam teman-teman sekelas. Konyolnya, meski berlatar komedi romantis sekolahan, punya elemen-elemen moe, ditambah dengan baju seragam yang dikenakan para karakternya (meski wujud mereka masih makhluk silikon) dan kelopak-kelopak bunga sakura, hal-hal seperti GBE dan bangunan-bangunan raksasa masih juga ada. Killy juga jadi semacam karakter sial/beruntung yang bisa tiba-tiba kedapatan adegan fanservice dan jadi dihajar para cewek.

Selain dua di atas, ada cerita pendek Net Sphere Engineer yang sempat hadir di majalah Morning Extra dan Blame!2 pada tahun 2008 pada majalah Mandala. Keduanya sama-sama pendek dan menurutku tak terlalu berkontribusi terhadap cerita. Tapi tak dapat dipungkiri, keduanya merangsang imajinasi.

Kalau aku tak salah, bersama beberapa cerita lepasan lain, dua cerita pendek di atas dan dua bab pendek Blame! Gakuen kemudian disatukan dalam satu bundel berjudul Blame! Gakuen and so on. Tankoubon tersebut kurasa menjadi eksperimen Nihei-sensei dalam membuat cerita yang lebih berbasis karakter. Maksudku, sebelum beliau kemudian mengerjakan Knights of Sidonia.

Nelayan Elektrik

Kalau membandingkan Blame! dengan Knights of Sidonia, perkembangan kemampuan Nihei-sensei akan lumayan terlihat. Di samping memiliki artwork lebih bersih, Knights of Sidonia yang lebih baru punya jalinan cerita yang lebih memberi perhatian terhadap karakter.

Iya, itu aja.

Soal karakter itu yang agaknya jadi perbedaan mencolok.

Hasilnya belum sebegitu bagusnya sih, tapi kalau dibandingkan dengan karya-karya lain beliau, seperti Biomega misalnya, Knights of Sidonia adalah yang kayaknya punya kesan paling jauh.

Soal produksi anime Blame! yang akan datang, sebagian besar staf Polygon Pictures yang sebelumnya menangani Knights of Sidonia kudengar akan kembali. Formatnya layar lebar. Seshita Hiroyuki yang akan menangani. Naskahnya dibuat oleh Nihei-sensei sendiri dengan dibantu Murai Sadayuki. Direncanakan tayang pada pertiga akhir Mei 2017 nanti, kudengar ini nanti juga akan tayang di Netflix. Kudengar juga ceritanya akan dirombak habis.

Yah, kita lihat saja nanti.

Akhir kata… ternyata aku bisa menulis lumayan banyak tentang Blame!. Hmm, aneh juga. Aku dari dulu kagum dengan betapa pendiamnya Killy. Maksudku, dia tipe orang yang lebih banyak bertindak daripada ngomong. Berbeda dari kebanyakan orang zaman sekarang.

Man, aku perlu bisa lebih mencontohnya.

Iklan
Tag: ,

2 Komentar to “Blame!”

  1. Ceritain maksud ending manganya dong, masih gak nyambung nih setelah baca 66 chapternya…

    • Katanya sih anak cewek yang Killy kawal adalah “anak” dari Cibo dan Sanakan yang udah punya NTG. Genetik anak itu diciptain dari gabungan info genetik sisa-sisa Toha dan apa yang Sanakan sendiri tau selama dia jadi Safeguard.

      Killy ceritanya ngawal si anak ke tempat aman agar bisa tumbuh dan ngehentiin pertumbuhan Kota.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: