Sword Art Online the Movie: Ordinal Scale

Akhir pekan lalu, aku menonton Sword Art Online: Ordinal Scale di salah satu cabang CGV Blitz.

Ordinal Scale (kira-kira berarti ‘skala ordinal’, ‘ordinal’ mengacu kepada ‘angka ordinal’ yang menyatakan peringkat/kedudukan seperti ‘pertama’ dan ‘kedua puluh’ dsb., berbeda dari ‘angka cardinal’ yang menyatakan nilai/kuantitas; sebenernya ada lagi jenis angka nominal yang menyatakan nama/identitas seperti barcode) adalah film layar lebar pertama dari seri Sword Art Online yang terkenal. Masih diangkat dari seri novel fenomenal karangan Kawahara Reki, film layar lebar ini berlatar tak lama sesudah berakhirnya season kedua animenya. Jadi, Ordinal Scale berlangsung sesudah bab Mother’s Rosario, tapi sebelum bab Alicization yang sudah didesas-desuskan akan menjadi inti season ketiga anime SAO yang akan datang.

Salah satu daya tarik movie ini bagi para penggemar SAO adalah sifatnya yang orisinil. Cerita yang dipaparkan movie ini tak berasal dari novel. Seperti halnya film layar lebar Mahouka Koukou no Rettousei yang akan tayang pertengahan tahun ini nanti, ada rentang waktu kosong dalam linimasa cerita asli di seri novelnya yang jadinya dilengkapi.

Berdurasi lumayan lama, sekitar pas dua jam, produksi Ordinal Scale masih dilakukan oleh A-1 Pictures . Penyutradaraannya kembali dilakukan Ito Tomohiko. Naskahnya disusun bersama oleh Ito-san berdasarkan konsep cerita yang disusun Kawahara-sensei sendiri. Penayangan film layar lebar ini di Indonesia pun terbilang cepat, hanya sekitar sebulan sesudah movie ini pertama tayang di Jepang.

Sedikit curhat dulu: aku semula tak berencana menonton film ini.

Sekali lagi, aku menggemari versi novel SAO. Tapi aku sebenarnya tak sebegitu antusias terhadap animenya.

Sempat terlintas di benakku kalau aku mungkin akan nonton Ordinal Scale. Hanya saja, aku tak pernah benar-benar secara khusus meniatkannya karena mengira film ini penayangannya akan terbatas, baik secara waktu dan tempat. Belum lagi sempat ada berita pula kalau distribusinya di Indonesia bakal ditunda. Kusangka ini paling cepat adanya April. Lalu, yah, kesibukanku belakangan rada susah diprediksi (aku sering sekali menyinggung soal gimana aku sibuk, sampai-sampai aku sendiri merasa aku belakangan terdengar kayak bohong).

Tapi akhir pekan lalu, tiba-tiba ada sahabat lamaku, yang sekarang domisilinya di kota lain, tahu-tahu ngontak soal bagaimana hari itu dia mau menonton ini (dan kalau bisa, langsung dilanjutkan dengan Kong: Skull Island). Lalu, saat aku dengar Ordinal Scale sudah tayang, reaksiku adalah: “FUUUUUUGGGGHHHG!!!!!”

Semula, aku merasa temanku itu yang selama ini stres. Sama sepertiku, dia juga masih lajang. Lalu dia lagi sendirian di rumah setelah ditinggal keluarganya touring. Dia menghubungiku juga sambil sesekali mengirim foto kemajuan gambar yang sedang dia buat untuk mengasah kembali skill gambarnya yang sudah tumpul. (Dia punya bakat menggambar bishoujo.)

Tapi menilai reaksiku, aku tersadar bahwa aku juga butuh menonton film ini. Rupanya aku juga lagi stres.

Akhirnya, aku tak peduli apakah hasilnya akan jelek atau bagus. Aku perlu menonton Ordinal Scale.

Sesudah bertekad demikian, aku memutuskan ke luar rumah. Aku bahkan sampai membujuk-bujuk temanku untuk tetap cabut sekalipun cuacanya kelihatannya memburuk. Singkat cerita, aku dan sahabatku yang beda kota ini akhirnya masuk bioskop pada waktu kurang lebih sama, demi menonton film yang sama.

Kami lalu saling bertukar komentar sesudah menonton.

Was it worth it?

Yah. Pada akhirnya, Ordinal Scale tetap SAO. Kalau kalian mengerti maksudku.

“…Switch.”

Ordinal Scale dibuka dengan pemaparan tentang berkembangnya perangkat teknologi baru berbasis augmented reality bernama Augma. Memiliki bentuk berupa kombinasi visor, headphone lalu kamera sekaligus aksesoris tangan, Augma digandrungi karena menjadi alternatif untuk perangkat virtual reality Amusphere (penerus perangkat VR NervGear yang menjadi salah satu penyebab tragedi VMMORPG Sword Art Online beberapa tahun silam).

Untuk kalian yang awam, berbeda dengan virtual reality yang merupakan realitas buatan yang membawa penggunanya ke ‘dunia’ lain, teknologi augmented reality adalah teknologi yang ‘memperkaya’ realitas kita saat ini. Dengan mengedarkan pandangan ke sekeliling saja, ada berbagai informasi tambahan yang bisa kita peroleh terkait apa yang kita lihat. Kita masih bergerak dengan badan sendiri. Tapi apa yang kita lihat, dengar, dan bahkan sentuh telah diperkaya karena ‘informasi’ yang Augma berikan turut menimpa persepsi dunia nyata kita. Dunia bisa terlihat semakin berwarna dan menarik. Ada berbagai aplikasi Augma yang bisa dimanfaatkan, mulai untuk olahraga, bertukar pesan, peluang mendapatkan kupon diskon, membantu diet, info lalu lintas real time, menampilkan peta, membantu menunjukkan arah kalau tersesat, dsb. Bahkan, ada suatu permainan massal berbasis Augma bernama Ordinal Scale yang belakangan menyedot perhatian para penggemar VMMORPG ALfheim Online dan Gun Gale Online.

Melalui Augma, kita juga bisa menyaksikan pesona figur idola virtual Yuna yang konon adalah kecerdasan buatan. Dengan kepribadiannya yang cerah, acara-acara konser Yuna—yang dapat berlangsung nyaris di mana saja—menjadi hal yang banyak diminati dan menjadi satu lagi faktor kesuksesan Augma.

Fitur-fitur baru Augma juga tengah digandrungi teman-teman Kirigaya Kazuto.

Sebagai salah satu yang selamat dari peristiwa SAO, dan bahkan menjadi yang telah menuntaskannya, Kazuto, yang juga dikenal sebagai Kirito, sudah beberapa kali terlibat dalam sejumlah insiden berbahaya di dunia virtual. Mungkin karena itu perasaannya terhadap Augma masih ambivalen.

Di sisi lain, teman-teman lama Kirito—bahkan termasuk mereka yang juga selamat dari peristiwa SAO, seperti Shinozaki Rika (Lizbeth) dan Ayano Keiko (Silica), serta kekasih Kirito sendiri, Yuuki Asuna; terutama karena pembagian perangkat Augma gratis untuk para anggota kepanitiaan di sekolah rehabilitasi mereka—juga menggandrungi Augma sekaligus Ordinal Scale. Teman Kirito yang sudah dewasa, Klein, juga sering ikut serta dalam berbagai event Ordinal Scale bersama teman-teman guild-nya yang bertema samurai, Fuurinkazan. Lalu manfaat lain Augma bagi Kirito dan Asuna, yang mau tak mau harus mereka akui, adalah bagaimana kecerdasan buatan yang menjadi ‘putri’ mereka sesudah insiden SAO, Yui, jadi bisa secara lebih bebas berada di dunia nyata.

Meski masih kurang nyaman dengan Augma, sebagai seorang gamer, Kirito tentu saja juga tertarik dengan Ordinal Scale. Dari sekedar mencoba mengikuti acara Ordinal Scale bersama Asuna, Kirito mulai mendengar sebuah rumor yang mulai mengusiknya: bahwa sejumlah lawan yang dikenali sebagai floor boss dari Sword Art Online telah muncul dalam eventevent Ordinal Scale.

Lalu yang menyadari hal ini hanya para veteran SAO yang pernah terlibat di garis depan.

Trauma Therapy

Sebelum masuk soal bagaimana Kirito, Asuna, dan kawan-kawan mereka jadi diingatkan soal pengalaman di garis depan SAO, baiknya aku menyinggung sedikit dulu tentang Ordinal Scale.

Jelas terinspirasi dari berbagai permainan augmented reality yang belakangan berkembang (salah satunya mungkin demam Pokemon Go), Ordinal Scale sederhananya adalah semacam permainan aksi memburu monster yang mengharuskan para pemainnya keluar rumah (dengan memakai Augma) dan mendatangi berbagai tempat di kota.

Setiap pemain bebas memilih ingin jadi pemain macam apa. Mereka bebas memilih peralatan yang mereka bawa (yang sebagian agaknya bisa ditemukan dari menjelajah tempat-tempat tertentu di sekitar mereka), mulai dari senjata jarak dekat macam pedang atau yang jarak jauh macam pistol dan senapan (Kirito dan Asuna jelas-jelas lebih memilih menggunakan pedang). Di samping senjata, mereka juga bebas mengenakan pelindung. Dengan berkeliaran sambil mengenakan Augma saja, konon para pemain OS bisa menemukan berbagai barang (item), perlengkapan, serta musuh-musuh yang bisa mereka kalahkan.

Satu hal menarik di OS adalah bagaimana tak ada sistem leveling. Semua pemain bermain menggunakan badan mereka sendiri (jadi bukan badan virtual seperti di Amusphere yang parameternya telah disesuaikan). Parameter kekuatan mereka—meski ada beberapa yang mengalami modifikasi oleh perlengkapan yang mereka kenakan—adalah kemampuan fisik nyata mereka sendiri.

Lalu, untuk memantau siapa-siapa yang unggul dalam permainan ini, digunakan semacam sistem peringkat. Masing-masing pemain bersaing untuk meningkatkan peringkat, dan ada berbagai manfaat yang mereka peroleh seiring dengan bertambahnya peringkat mereka. (Sistem ‘peringkat’ ini belakangan terungkap punya signifikasi di dalam cerita.)

(…Bentar. Setelah kupikir, sistem pengembangan diri berbasis peralatan ini, yang tak ada kaitannya dengan sistem level, lumayan mirip dengan yang ada di waralaba Monster Hunter.)

Salah satu aspek terkeren Ordinal Scale adalah bagaimana saat dijalankan, program tersebut dapat sepenuhnya mengubah persepsi pemainnya akan realita. Dalam sekejap, langsung ada dunia lain yang mereka lihat, tapi dunia tersebut tetap tercipta berdasarkan bentuk dunia nyata. Puncak-puncak gedung tinggi bisa berubah menjadi menara kastil. Tempat-tempat terbuka menjadi teras puri. Warna langit bisa berubah dari siang menjadi malam, lengkap dengan terangnya bulan berwarna. Lalu pakaian yang para pemainnya kenakan akan berubah. Handset yang mereka pegang juga berubah jadi senjata yang mereka pilih. Semua konon terwujud berkat keberadaan sepasukan UAV yang seakan membantu proses pemantauan.

Perubahan dunia pada Ordinal Scale lumayan mengingatkan pada perwujudan Unlimited Neutral Field di Accel World yang juga karangan Kawahara-sensei. Tapi meski sama-sama didasarkan pada bentuk dunia nyata, sesuai dengan tingkat kemajuan teknologi di latarnya, Ordinal Scale di seri SAO dihasilkan lewat teknologi yang lebih low key. Ditambah dengan bagaimana kenyataannya, Ordinal Scale berlangsungnya masih di dunia nyata.

Terlepas dari itu, dalam salah satu event Ordinal Scale, ketika sejumlah musuh besar yang tak dapat ditangani sendirian muncul, idola virtual Augma, Yuna, tiba-tiba muncul. Melalui nyanyiannya, Yuna memberi buff bagi parameter para pemain, membuat mereka bersemangat untuk menyelesaikan misi. Lalu sesudah itu, Yuna juga mengumumkan lokasi di mana konser live-nya yang banyak ditunggu akan diadakan.

Dari pengalaman tersebut, kembali muncul tanda tanya soal apakah Yuna adalah makhluk sejenis Yui, dalam artian sama-sama kecerdasan buatan. Di samping itu, turut diperkenalkan pula Eiji, pemain dengan peringkat dua di Ordinal Scale, yang Kirito dan Asuna sadari agaknya mungkin pernah mereka jumpai di masa lalu.

Apakah Melupakan Lebih Baik?

Masalah timbul saat rumor-rumor soal kehadiran floor boss SAO di Ordinal Scale ternyata benar. Asuna, bersama Klein, menjadi saksi langsung hal ini. Asuna, berkat pengalamannya, bahkan berhasil menggalang pemain lainnya untuk menaklukkan boss tersebut. Namun rupanya itu hanya awal dari segala masalah.

Singkat cerita, Kirito, yang tak aktif sebagai pemain Ordinal Scale, secara terlambat mengetahui bahwa para veteran SAO yang memainkan Ordinal Scale bisa kehilangan sebagian ingatan mereka. Persisnya, ingatan mereka tentang SAO. Asuna juga adalah salah satu korbannya. Lalu berbeda dari kebanyakan veteran yang memiliki banyak kenangan tak enak tentang SAO, Asuna juga memiliki kenangan-kenangan bahagia karena pertemuannya dengan Kirito. Lalu hilangnya kenangan-kenangan tersebut sedemikian membebani Asuna, walau ia masih bisa ingat siapa Kirito dan berbagai kenangan mereka di kastil Aincrad baru yang kini ada di ALO.

Marah dengan apa yang menimpa Asuna, Kirito bertekad untuk mengungkap apa yang terjadi. Berkat petunjuk sosok berkerudung misterius yang sesekali terlihat hanya melalui Augma, Kirito menjumpai Shigemura Tetsuhiro, pria paruh baya yang merupakan ilmuwan pengembang piranti Augma. Dari sana, Kirito menyimpulkan bahwa ia harus memanjat ke puncak peringkat Ordinal Scale demi mencegah bencana besar yang akan terjadi.

Maka dengan taruhan ingatannya sendiri pula, Kirito juga perlu berhadapan dengan Eiji, yang ternyata menyembunyikan lebih banyak dari apa yang bersedia ia ungkap.

Janji Bonceng Motor

Masuk ke soal teknis, kalau soal presentasi, Ordinal Scale menghadirkan kualitas visual dan suara seperti yang bisa diharapkan dari sebuah seri SAO. Dari sudut itu, ini film yang terlihat dan terdengar bagus.

Aku tak begitu terkesan dengan key visual-nya. Tapi sesudah melihat sendiri, aku kagum dengan betapa banyaknya detil yang telah diberikan untuk menggambarkan dunia Tokyo masa depan. Kesan futuristis yang dipaparkan terasa sangat dekat sekaligus jauh. Masih serasa membumi. Lalu banyaknya detil ini begitu kentara dibandingkan bab-bab cerita SAO yang lain. Walau cerita Ordinal Scale pada akhirnya berkesan ‘SAO’ sekali (lebih banyak soal itu nanti kusinggung di bawah), sebagai orang yang beberapa kali berkecimpung di dunia arsitek dan iptek, aku merasa sudah balik modal menonton film ini hanya demi melihat dunianya saja. Mulai dari soal fitur-fitur AR Augma, pemandangan keseharian kota Tokyo modern, jalan-jalan layang, halaman-halaman dengan ruang terbuka hijau, dan bahkan vending machine, aku puas dengan bagaimana semua itu ditampilkan. Aku kagum dengan pemandangan overhead kota dari atas berulangkali diperlihatkan untuk mengindikasikan bagaimana Kirito berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain.

Soal suara, aku sempat heran dengan bagaimana karakter Yuna ditampilkan. Aku seperti… “Heh? Lagi-lagi karakter idol?” Aku lebih terbiasa melihat penampilan idola futuristis dalam anime Macross. Lalu sesudah movie Toaru Majutsu no Index beberapa tahun lalu, sekarang SAO mau mengangkat soal itu juga? Perasaanku campur aduk soal ini. Tapi aku bersyukur setidaknya tema konser dan nyanyian ini tak sekedar tempelan. Maksudku, ada signifikasinya dalam cerita. Di samping itu, nuansa musik gubahan Kajiura Yuki kembali ada di movie ini. It’s still good.

Jadi, satu hal unik yang Ordinal Scale miliki, kalau dibandingkan bab-bab cerita lain dalam seri SAO, dan yang mungkin menjadi daya tariknya yang terbesar, adalah bagaimana ceritanya berlatar hampir sepenuhnya di dunia nyata. Bagian pendahuluannya, bagian pengenalan masalah, bagian klimaksnya, lalu juga penyelesaiannya. Maksudku, itu hal yang sangat baru bagi SAO.

Sekali lagi, di dunia nyata. Bukan dunia virtual.

Karenanya, di luar dugaan—lagi, terlepas dari kualitas akhirnya sendiri—Ordinal Scale punya cerita yang terasa segar.

Naskah yang Kawahara-sensei dan Ito-san sudah susun itu beneran kuat. Ya, masih ada kelemahan-kelemahan khasnya. Termasuk soal wish fulfillment dan sebagainya. Ya, perlu kuakui juga kalau klimaksnya sedikit mengecewakan. Itu jelas tak semenegangkan standar SAO yang biasa. Tapi kalau menempatkan diri di sudut pandang produser, naskah Ordinal Scale kurasa berhasil memenuhi segala ekspektasi. Ada banyak callback ke hal-hal lalu. (Seperti soal perintah Switch untuk penggantian posisi depan yang normalnya hanya dipahami oleh para veteran SAO.) Secara mengesankan, ada sejumlah foreshadowing juga ke bab Alicization yang akan datang untuk para penggemar novelnya. Semua karakter signifikan dalam waralaba ini—termasuk si gaijin pemilik toko Andrew Gilbert Mills (Agil), jago kendo Kirigaya Suguha (Leafa) yang merupakan sepupu Kirito, ahli tembak Asada Shino (Sinon), dan pegawai pemerintah yang jadi kontak Kirito, Kikuoka Seijurou—tampil dan berperan. Hal-hal imut tentang SAO, kalau kalian suka dengan itu, juga ada. Aku sendiri memperkirakan bobot fanservice dalam film ini mungkin mencapai 35%.

Aku terutama terkesan dengan bagaimana Kirito ditampilkan seakan kesetanan saat mengejar peringkat ini. Atau saat Asuna menggalang orang-orang yang belum ia kenal dalam melawan boss. Lalu juga pada bagaimana Suguha melatih ulang fisik Kirito dari jauh berhubung sedang mengikuti kamp pelatihan di luar kota.

Jadi kayak, semua yang sejak dulu ada di SAO berhasil dimasukkan secara seimbang ke film ini. Termasuk elemen-elemennya yang mungkin kurang kau sukai. Aku jadi maklum kenapa movie ini terbilang berhasil di Jepang. Bahkan, kalau dibandingkan Endymion no Kiseki dari seri Index beberapa tahun lalu, kurasa Ordinal Scale jauh lebih bisa aku sukai.

Janji Melihat Bintang

Untuk menyimpulkan, untuk kalian yang sudah cukup menyukai SAO apa adanya, maka kalian juga akan menyukai Ordinal Scale. Untuk kalian yang kurang menyukai SAO, film ini takkan membuat kalian berubah pikiran. Sedangkan untuk kalian yang belum pernah tahu tentang SAO sebelumnya, lalu kebetulan melihat film ini, mungkin kalian akan sedikit bingung dengan banyaknya referensi terhadap kejadian yang lalu. Walau begitu, inti ceritanya masih bisa diikuti, lalu mungkin kalian malah jadi tertarik dengan waralaba utamanya.

Akhir kata, aku enggak bisa menilai Ordinal Scale jelek. Memang ada kekurangan-kekurangannya, tapi itu jenis kekurangan yang benar-benar khas SAO.

SAO dari waktu ke waktu kerap menampilkan hal-hal yang menurutku agak berlebihan dan konyol (sejumlah orang menyebutnya ‘lebay’). Tapi sesuatu yang agaknya hanya bisa SAO lakukan bagiku adalah bagaimana hal-hal berlebihan dan konyol tersebut ditampilkannya selalu dengan cara yang tak pernah bisa sepenuhnya aku tertawakan. Kenapa? Karena meski aku merasa hal-hal tersebut berlebihan dan konyol, pada saat yang sama, hal-hal itu jadi mengingatkanku pada hal-hal lain yang lebih serius dan dalam.

Dalam konteks ini, pada bagaimana hilangnya ingatan Asuna jadi mengingatkan pada penderita Alzheimer gitu. Frustrasi yang dirasakannya bukan hal yang mudah diekspresikan. Menariknya, tak semua korban hilangnya ingatan tersebut memperlihatkan reaksi yang sama. Karena hal-hal seperti di atas, kadang aku merasa SAO lumayan penuh dengan alegori.

Apa lagi ya?

Cerita Ordinal Scale berakhir dengan resmi bertunangannya Kirito dan Asuna. Jadi walau ceritanya lepas, Ordinal Scale agak memperbesar pertaruhan dalam bab Alicization nanti. Ada kemungkinan season ketiga animenya bakal memperbaiki beberapa kelemahan di novelnya. Tapi yeah, itu bukan analisa, cuma pengharapanku pribadi.

Klasik untuk kasus SAO, identitas tokoh antagonisnya bukan teka-teki. Mereka sama-sama punya kaitan dengan insiden SAO. Shigemura-sensei adalah guru mendiang Kayaba Akihiko dan Sugou Nobuyuki. Seperti halnya Sugou, Shigemura sekedar memanfaatkan teknologi cetusan Kayaba melalui piranti Augma hasil kembangannya. Lalu Eiji, atau Nochizawa Eiji, yang sebelumnya memakai nama Nautilus, adalah mantan bawahan Asuna. Dia seorang anggota Knights of the Blood yang dulu kurang dikenal karena tak pernah maju ke garis depan.

Keduanya bukanlah karakter yang kompleks atau berbobot. Tapi cara mereka menjutsifikasi tindakan mereka sebagai penanganan trauma, padahal yang ingin mereka pulihkan adalah luka masa lalu mereka sendiri, lumayan menarik. Dalam hal ini, untuk mendatangkan kembali seseorang bernama Shigemura Yuuna, terlepas dari apa konsekuensi yang harus dihadapi.

Selebihnya, hal-hal paling menarik di Ordinal Scale terjadi dengan tersirat.

Pertama, tentang Kayaba Akihiko. Meski secara fisik telah wafat, sekali lagi dikonfirmasi bahwa dirinya masih ‘hidup’ dengan suatu cara. Janggalnya, Shigemura nampaknya tahu juga tentang ini. Lalu anehnya, ia kelihatan tak menaruh dendam atas peranannya dalam insiden SAO.

Kedua, tentang Kikuoka. Kikuoka, yang mewakili pemerintah Jepang, sekali lagi dimintai bantuan oleh Kirito saat terungkap maksud sesungguhnya dikembangkannya Augma itu apa. Tapi di akhir film, terungkap bahwa Kikuoka membebaskan Shigemura dari segala tuntutan. Kikuoka bahkan memperlihatkan pada Shigemura penemuan baru yang telah dikembangkannya, yang lagi-lagi merupakan foreshadowing terhadap bab Alicization.

Terakhir, tentang Yui. Yui yang mungkin berperan paling vital dalam penyelesaian masalah. Sedemikian besar peranannya, aku sampai berpikir bahwa sebagai rogue AI, Yui bisa sangat berbahaya kalau bukan berkat asuhan dan didikan Asuna dan Kirito. Jadi, begitu terungkap bahwa sebenarnya Augma adalah hasil modifikasi dari NervGear, segala solusinya, begitu saja, langsung terlihat di mata Yui. (Ini juga jadi salah satu alasan kenapa klimaks film ini kurang memuaskan.)

Terkait ini, beberapa kali pernah diimplikasikan bahwa Kirito tak sepenuhnya mempercayai Kikuoka. Keduanya sama-sama belum membuka seluruh kartu masing-masing. Lalu lewat film ini, lagi-lagi kita diingatkan bahwa Kikuoka mungkin masih belum juga diberitahu Kirito tentang asal-usul Yui yang sesungguhnya… yang mungkin tanpa disadarinya telah berdampak pada apa-apa yang nanti akan terjadi.

Yah, demikian deh. Kita pantau saja terus perkembangan waralaba ini ke depan.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B

Iklan

2 Komentar to “Sword Art Online the Movie: Ordinal Scale”

  1. Aku mau menanyakan hal yang agak nggak penting. Porsi Sinon banyak nggak?
    Aku juga masih belum sempet nonton nih T_T

    • Sinon memegang peran lumayan. Engga sebanyak Asuna. Kira-kira sebanyak Suguha. Engga jauh beda dibanding Silica dan Lizbeth. Lebih banyak dari Agil. Kurang dari Klein. Mungkin se-Kikuoka. :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: