Ankoku Joshi

Pada tahun baru kemarin, aku akhirnya membeli novel Girls in the Dark, atau Ankoku Joshi (kira-kira berarti ‘gadis-gadis di tengah kegelapan’), karya Akiyoshi Rikako.

Novel horor misteri ini sebenarnya sudah lama diterbitkan di sini oleh Penerbit Haru (beserta sejumlah novel misteri karangan Akiyoshi-sensei yang lain). Kualitas terjemahan, pengeditan, dan pengemasan Penerbit Haru juga termasuk bagus. Hanya saja, aku sempat tak kunjung juga membelinya untuk waktu lama berhubung sedang dalam kondisi tak ingin membeli novel apa-apa sebelum menelurkan karya baru.

Jadi aku tak kunjung beli bukan karena merasa novel itu jelek, tapi lebih karena sedang merasa belum butuh.

…Yea, aku masih juga mengalami masa-masa itu.

Tapi aku sempatkan beli kali itu karena tiba-tiba teringat kabar kalau novel tersebut mau diangkat ke bentuk film layar lebar yang naskahnya dipenai Okada Mari. Okada Mari, buat kalian yang belum tahu, adalah spesialis drama karakter yang ternama, yang sebelumnya mempenai naskah-naskah seri anime Anohana dan belakangan, Gundam: Iron-Blooded Orphans. Ditambah lagi, stok buku Girls in the Dark belakangan menipis. Ditambah lagi lagi, di edisi kali ini, ada cerita pendek tambahan baru sebagai bonus. Akhirnya, aku jadi berpikir kalau lebih baik aku beli saat itu daripada tidak.

Novel ini awalnya diterbitkan sebagai cerita bersambung dalam majalah novel bulanan Shosetsu Suiri milik penerbit Futabasha dari Desember 2012 sampai Maret 2013. Aku masih belum terlalu mengenal nama Akiyoshi-sensei di masa-masa itu, walau secara pribadi aku telah merasa kalau cerita cetusan beliau sepertinya menarik. Tapi, waktu aku mendengar kalau novel ini akan diangkat jadi film layar lebar, hal pertama yang terlintas di kepalaku adalah “Sial. Aku masih belum sempat baca.”

Suzuran

Girls in the Dark pada dasarnya berkisah tentang siswi-siswi SMA yang tergabung dalam Klub Sastra di Sekolah Putri Santa Maria. (Seibo Maria)

Klub Sastra ini sebelumnya diketuai oleh Shiraishi Itsumi, putri adminstrator sekolah, yang sangat cantik, cerdas, dan dikagumi. Klub Sastra ini, yang memiliki bangunannya tersendiri di sekolah swasta elit tersebut, dan bahkan dilengkapi tempat duduk megah dengan dapur khusus sekaligus interior berkelas, telah dinilai sebagian besar murid sebagai klub pribadi milik Itsumi yang statusnya tertutup, yang mana keanggotaannya konon hanya bisa diperoleh melalui undangan langsung darinya. Klub ini sebenarnya adalah klub tua yang sempat lama dorman karena ketiadaan anggota, sampai Itsumi mengetahui tentang berkas-berkas peninggalannya sesudah SMA, dan memutuskan untuk membangkitkannya kembali.

Namun demikian, di awal cerita, Itsumi dikisahkan belum lama meninggal dunia.

Kematian Itsumi, yang sukar dipercaya, diyakini sebagian orang terjadi dalam kondisi tak wajar. Salah satu alasannya karena dalam kematiannya, Itsumi menggenggam setangkai bunga suzuran (sejenis bunga lily yang juga dikenal dengan sebutan lily of the valley) yang menyiratkan adanya suatu makna yang tak mereka ketahui.

Sekitar seminggu setelahnya, Klub Sastra rupanya telah menjadwalkan acara Yami-Nabe yang telah menjadi tradisi tahunan klub mereka. Acara Yami-Nabe ini diputuskan untuk tetap dilakukan meski jadinya tanpa kehadiran Itsumi. Penyelenggaraannya akan dilaksanakan di bawah kepemimpinan Sumikawa Sayuri, wakil Itsumi yang kini menjabat sebagai ketua klub, salah seorang siswi di sekolah tersebut yang tak kalah andalnya, sekaligus sahabat terdekatnya.

Acara Yami-Nabe ini pada dasarnya adalah acara kumpul-kumpul tahunan para anggota, yang mana masing-masing dari mereka membawa bahan masakan sendiri-sendiri (yang tidak selalu makanan) untuk ditambahkan ke dalam kuah nabe (hotpot) yang mereka masak sama-sama. Hanya saja, acara masak bersama ini dilakukan sepenuhnya dalam gelap, pada malam hari, sehingga satu sama lain tak bisa mengetahui apa saja bahan yang ditambahkan oleh masing-masing orang. Mengingat status mereka sebagai Klub Sastra, acara Yami-Nabe juga akan diselingi sesi-sesi pembacaan cerita pendek buatan masing-masing anggota.

Hanya saja, mengejutkan semua anggota, tema cerita pendek yang Sayuri wajibkan untuk acara Yami-Nabe tahun ini ternyata adalah “Kematian Shiraishi Itsumi.”

…Alasannya mungkin sekedar untuk mengenang mendiang ketua mereka yang baru saja meninggal.

Kecantikan Ditentukan Oleh Mata yang Melihat

Girls in the Dark dituturkan melalui sesi-sesi ‘pembacaan’ dalam ajang Yami-Nabe ini. Ceritanya dibuka dengan kata-kata sambutan yang dibawakan oleh Sayuri, sebelum dilanjutkan paragraf-paragraf cerpen yang dibacakan masing-masing anggota. Acara diakhiri dengan cerita yang dibacakan Sayuri, dan baru setelahnya ditutup dengan kata-kata dari Sayuri lagi.

Antara tiap cerita, hadir bagian-bagian intermengso pendek yang juga dituturkan Sayuri. Di bagian-bagian ini, Sayuri menyampaikan kesan-kesannya atas tiap cerita dan juga melakukan penunjukkan atas siapa yang membaca cerita berikutnya. Di tengah-tengah itu semua, kegiatan masak dan memakan nabe terus berlangsung. Walau, ya itu, semua orang hampir tak bisa melihat satu sama lain, memperkuat kesan harap-harap cemas yang acara Yami-Nabe punya.

Bersama setiap cerita, kita, sebagai pembaca, jadi mengetahui lebih banyak tentang kehidupan mendiang Itsumi yang kepadanya, acara ini didedikasikan. Seakan menutup rasa duka, Sayuri membuka acara Yami-Nabe dengan suasana riang. Tapi mungkin karena tersembunyi dalam gelap, reaksi-reaksi dari para anggota lain seperti dengan sengaja tak diungkap dalam narasi.

Hanya saja, seiring berjalannya acara, kita bakal tersadar adanya sejumlah hal aneh yang tersirat. Ada fakta-fakta saling bertentangan. Ada perasaan-perasaan yang sebelumnya terpendam. Semua karena para gadis, melalui cerita pendek mereka masing-masing, jadi menuturkan kembali awal pertemuan dan hubungan mereka dengan Itsumi, bagaimana awal mula mereka bergabung dengan Klub Sastra, seperti apa sosok Itsumi yang mereka kenal, dsb. Lalu setiap cerita, lucunya, ditutup dengan pandangan mereka masing-masing tentang apa yang menjadi penyebab kematian Itsumi.

Pembunuhankah? Bunuh dirikah? Akankah kebenarannya terkuak di akhir acara?

Terlepas dari itu, para anggota Klub Sastra, sesuai urutan pembacaan naskah mereka, adalah:

  • Nitani Mirei (Kelas 1-A), anggota klub termuda dan yang paling baru. Berbeda dari kebanyakan murid Santa Maria, Mirei berasal dari keluarga kurang mampu dan bersekolah dengan bantuan beasiswa dari yayasan sekolah. Cerpen karangannya berjudul “Tempat Berada” dan mengungkapkan hubungan Mirei dengan ibunya yang orangtua tunggal, serta bantuan pekerjaan les privat yang Itsumi berikan untuknya.
  • Kominami Akane (Kelas 2-B), seorang siswi yang mendalami pembuatan kue-kue barat meski berasal dari keluarga pengelola restoran masakan Jepang. Cerpen karangannya berjudul “Macaronage” dan memaparkan awal mula bagaimana Itsumi menawari Akane untuk menggunakan dapur ruang klub.
  • Diana Detcheva (Murid Internasional), seorang murid pertukaran dari Rumania yang memiliki kecantikan bagaikan boneka. Cerpen buatannya berjudul “Balkan di Musim Semi” dan menceritakan pertemuan awalnya dengan Itsumi saat Itsumi datang sebagai murid pertukaran pelajar ke desa tempat tinggalnya, yang berujung pada ketertarikan kuat Diana terhadapnya.
  • Koga Sonoko (Kelas 3-B), seorang siswi serius yang memiliki cita-cita ingin menjadi dokter, dan sedikit banyak juga mengenal keluarga Itsumi. Cerpen buatannya berjudul “Perjamuan Lamia” dan mengisahkan bagaimana Sonoko ikut bersama Itsumi dalam kunjungan Itsumi berikutnya ke Rumania.
  • Takaoka Shiyo (Kelas 2-C), seorang penulis light novel dari usia muda yang karyanya telah sukses besar. Karena profesi orangtuanya, pernah menetap cukup lama di luar negeri. Cerpen buatannya berjudul “Pengebirian Raja Langit” yang menceritakan awal mula bergabungnya Shiyo dalam Klub Sastra meski semula ia tak menyukai Itsumi. Cerpen ini mencolok karena menjadi satu-satunya yang diceritakan dengan gaya bahasa light novel.
  • Sumikawa Sayuri (Ketua Klub), yang merupakan sahabat lama Itsumi dan paling terpercaya, sekalipun sifat mereka pada dasarnya bertentangan. Cerpen yang dituturkannya berjudul “Bisikan dari Kubur.”

Kau Tak Bisa Melihat Dalam Gelap

Di samping fakta-fakta yang saling bertentangan, masing-masing cerpen juga menyinggung bagaimana kesehatan Itsumi terus menurun menjelang kematiannya. Sebagian anggota klub jadi menduga bahwa kematian Itsumi sebenarnya disebabkan oleh sesuatu yang supernatural. Lalu acara Yami-Nabe yang semula berkesan cerah perlahan diselimuti kengerian berhubung tak ada di antara mereka yang boleh keluar sebelum Yami-Nabe berakhir, pintu ruangan klub dikunci, semuanya dalam kondisi gelap, dan ada hujan badai yang tahu-tahu tengah berlangsung di luar.

Meski ada sejumlah aspek cerita yang terasa ‘maksa’ (aku sempat ketawa saat Sayuri tanpa sebab jelas mulai mendeskripsikan seperti apa bangunan Sekolah Santa Maria, padahal semua yang hadir jelas-jelas adalah murid di sana), Girls in the Dark lumayan berhasil membawakan nuansa teka-teki kebenaran menyerupai Rashomon karya Akutagawa Ryunosuke yang terkenal, tapi tanpa lupa memaparkan solusinya. Hasilnya lumayan keren.

Teka-tekinya memang enggak susah-susah amat. Tapi pemaparan dan perkembangan ceritanya terus terang menarik dan enak disimak.

Bicara soal filmnya sendiri, penyutradaraannya akan dilakukan oleh Yakumo Saiji dan direncanakan akan tayang pada April 2017 nanti. Produksinya dilakukan melalui kerjasama Toei dan Showgate, dengan Shimizu Fumika berperan sebagai Sayuri dan Iitoyo Marie berperan sebagai mendiang Itsumi. Aku terus terang belum bisa memperkirakan kualitas akhirnya, terlebih dengan bagaimana produksinya kelihatan dibuat cepat. Tapi dengan Okada-san menangani naskah, kurasa ceritanya tak akan sampai jelek.

Girls in the Dark menurutku adalah jenis cerita misteri yang kalau kau kaji dengan pendekatan logis cerita-cerita detektif, jadinya malah tak menarik. Aku mungkin merasa begini karena kerap tsukkomi terhadap hal-hal yang berlebihan. Tapi serius, novel ini menarik. Membacanya juga terbilang enak. Aku terkesan dengan bagaimana kualitas ceritanya dipertahankan secara konsisten dari awal sampai akhir.

Yups. Aku tak menyesal membeli. (Walau mungkin perlu kusebut kalau memang sejumlah aspek ceritanya agak dewasa. Novel ini memang lebih ditujukan bagi remaja.)

Mungkin aku akan membacanya lagi suatu hari nanti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: