alfare

Archive for 2017|Yearly archive page

Mobile Suit Gundam: Iron Blooded Orphans (Season 2)

In anime, manga on 11/09/2017 at 11:07

Kalian tahu kalau es krim Cornetto? Ada beberapa jenis tertentu yang enaknya cuma di awal-awal. Sesudah dimakan sampai ke dasar cone, meski masih ada cokelatnya, kadang yang tersisa hanya sensasi kering bikin haus yang beda sama sekali dengan kenikmatan manis di awal.

Apa kita puas sehabis memakannya? Yeah, mungkin masih. Tapi tetap saja, belakangnya sedikit mengecewakan karena enggak seenak bagian depannya.

Aku tadinya mau bahas season kedua Kidou Senshi Gundam: Tekketsu no Orphans segera sesudah animenya tamat. Aku bahkan menyiapkan kerangka tulisannya segala. Tapi begitu beres mengikutinya, kata-kata untuk menjabarkannya kayak enggak bisa keluar. (Ini bahasan season kedua, yo. Bahasan season pertama bisa ditemukan di sini.)

Alasannya mirip perumpamaan es krim Cornetto tadi.

Season dua Gundam IBO berdurasi 25 episode. Penyutradaraannya masih ditangani Nagai Tatsuyuki. Naskahnya masih ditangani Okada Mari. Musiknya masih oleh Yokoyama Masaru yang benar-benar sedang naik daun. Produksi animasinya masih oleh studio Sunrise. Musim gugur tahun 2016, episode pertamanya tayang.

Sambutan para penggemar lumayan antusias.

Dibandingkan seri-seri Gundam terdahulu, Gundam IBO benar-benar enggak biasa. Struktur ceritanya ‘ajaib’ dan susah ditebak. Perkembangannya sedemikian berbeda dari seri Gundam manapun sebelumnya. Karena itu, buat mereka yang bisa suka, seri ini benar-benar terbilang berhasil menarik fans lama maupun baru.

Tapi semuanya lalu memuncak dengan tamat yang… uh, agak susah dilupain.

Selain itu, musim tayang kali ini punya kesan lebih eksperimental. Aku bisa mengerti kalau ada banyak juga yang jadinya enggak suka dengan season ini.

Sisi baiknya: cerita Gundam IBO berakhir lumayan tuntas. Enggak banyak plot menggantung yang tersisa.  Tapi lebih banyak soal itu mending aku bahas di bawah.

Senang Bisa Kembali

Musim kedua ini berlatar dua tahun (walau ada sumber yang menyebut enam bulan; kayaknya yang bener dua tahun sih) sesudah berakhirnya Pertempuran Edmonton. Musim kali ini mengisahkan bagaimana kelompok Tekkadan pimpinan Orga Itsuka terlibat lebih jauh dalam intrik perpolitikan dunia internasional Gjallarhorn beserta keempat blok ekonomi (African Union, Oceanian Federation, SAU, dan Arbrau) di zaman Post Disaster.

Rinciannya menyebalkan kalau dipaparkan.

Ringkasnya, Tekkadan telah memperoleh kedudukan mereka di Mars. Mereka kini punya cabang di Bumi. Mereka bahkan berperan sebagai konsultan militer untuk perombakan pertahanan di pemerintahan blok ekonomi yang menaungi mereka, Arbrau.

Kudelia Aina Bernstein hidup terpisah dari keluarganya dan bekerja di Admoss Company, mengelola pengolahan dan distribusi bahan tambang strategis halfmetal dengan Bumi. Suatu panti asuhan telah didirikan untuk anak-anak terlantar di Sakura Farm. Kedua adik perempuan Biscuit Griffon, Cookie dan Cracker, sama-sama telah disekolahkan. Tekkadan sendiri secara resmi telah berada di bawah naungan langsung Teiwaz. Mereka kini memiliki kedudukan sejajar dengan kelompok Turbines yang dulu menampung mereka. Singkatnya, masing-masing berupaya membuat kehidupan di Mars jadi lebih baik.

Tapi, seperti yang Atra Mixta kemukakan di awal cerita, dunia sebenarnya masih belum berubah. Bahkan, keadaan mungkin telah bertambah buruk.

Hilangnya wibawa Gjallarhorn membuat kewenangan mereka diragukan. Pemberontakan dan kerusuhan terjadi di banyak tempat. Lalu yang menyedihkan, kemenangan Tekkadan atas Gjallarhorn seakan memperlihatkan pada dunia besarnya potensi yang dipunyai prajurit anak-anak. Akibatnya, semakin banyak anak-anak terlantar yang jadinya dilibatkan di medan perang dan dipaksa menjalani operasi berbahaya Alaya-Vijnana. Jumlah budak human debris bertambah. Mobile suit sekali lagi dikenali nilai militernya. Suatu balapan seolah dimulai untuk memulihkan dan memperbaiki apa-apa yang tersisa dari zaman perang besar.

Cerita dibuka dengan munculnya pihak-pihak yang, ringkasnya, mengajak Tekkadan berantem.

Sedikit demi sedikit, terindikasi ada pihak-pihak tertentu yang bermain di belakang pihak lain. Terkuak keterhubungan antara satu dengan yang lain. Perpecahan di dalam tubuh Gjallarhorn kemudian terjadi, yang ujung-ujungnya mempertaruhkan masa depan seluruh dunia.

Kajian Proklamasi Vingolf

Tokoh utama season sebelumnya, Mikazuki Augus, kembali berperan sebagai tangan kanan Orga. Mika kini mengemudikan MS Gundam Barbatos Lupus, perombakan baru dari Gundam Barbatos yang sudah lama ia gunakan. Meski sebagian saraf Mika telah cacat dalam pertempuran di Endmonton, itu tak menghalanginya menjalankan misi sekaligus latihan-latihan fisiknya secara konsisten.

Mika masih menjadi tokoh sentral, tapi season kedua ini sebenarnya lebih memakai pendekatan ensemble cast. Secara bergantian, berbagai karakter lain juga mendapat sorotan.

Orga kini lebih banyak bekerja di belakang layar. Orga kini mengurusi dunia asing di mana dia harus lebih banyak pakai jas dan menghadapi formalitas. Untuk itu, Orga banyak dibantu Merribit Stapleton untuk administrasi dan Dexter Culastor untuk keuangan.

Eugene Sevenstark mewakili Orga untuk manajemen langsung di Mars. Bersama-sama Eugene, Norba Shino, Akihiro Altland, dan Dante Mogro serta kawan-kawan lain menjaga penambangan halfmetal di Chryse yang dikelola Admoss Company dan melatih anggota-anggota baru.

Di antara anggota-anggota baru tersebut, termasuk di antaranya Hush Middy, yang sempat bingung dengan bagaimana kenyataan Tekkadan berbeda dari bayangannya; Dane Uhai yang berbadan besar dan pendiam; serta Zack Lowe, yang semula terkesan bergabung dengan Tekkadan lebih karena ikut-ikutan.

Di tempat lain, mantan human debris Chad Chadan dipercaya mengurusi cabang Tekkadan di Bumi. Dia dibantu sepeleton anggota Tekkadan yang dikoordinir Takaki Uno. Takaki merasa menempuh hidup baru karena adik perempuannya, Fuka, kini ikut bersamanya.

Chad sendiri heran dengan kepercayaan ini. Apalagi dengan bagaimana orang berlatar belakang pendidikan minim sepertinya jadi berhadapan dengan para pembesar Arbrau, termasuk sang perdana menteri sendiri, Makanai Togonosuke. Mereka turut dibantu seorang pria rekomendasi Teiwaz bernama Radice Riloto yang mengurusi bidang administrasi dan keuangan.

Masalah timbul saat seorang pria asing bernama Allium Gyojan muncul.

Gyojan adalah perwakilan kelompok aktivis Mars garis keras Terra Liberionis. Dirinya diindikasikan adalah pihak anonim yang sekian tahun silam memasukkan nama Kudelia ke pertemuan Noachis July Assembly. Di pertemuan yang memulai segalanya itu, Kudelia menyampaikan pidatonya soal kondisi Mars yang berujung pada berubahnya banyak hal. Gyojan kini ingin memanfaatkan Kudelia yang kini tenar. Untuk itu, Gyojan bahkan mengancam Kudelia lewat hubungan yang dipunyainya dengan Dawn Horizon Corps.

Dawn Horizon Corps adalah kelompok pembajak berskala besar pimpinan Sandoval Reuters. Mereka berbasis di luar angkasa dengan jumlah pasukan yang besar. Mereka tak senang dengan kemajuan Tekkadan. Karenanya, mereka bersedia untuk bersekongkol dengan Gyojan. Tapi Tekkadan tak tinggal diam dengan ancaman ini.

Lewat koneksi ke Gjallarhorn melalui McGillis Fareed, Tekkadan kemudian mendapat cukup bala bantuan berhadapan dengan Dawn Horizon Corps dan Terra Liberionis sekaligus. Tapi yang tak Tekkadan sadari, ini juga menyeret mereka ke dalam pusaran konflik internal  Gjallarhorn, yang dilandasi ambisi besar McGillis untuk menghancurkan tatanan dunia.

Macam-macam Kekuatan

Satu hal yang sempat bikin kaget dari Gundam IBO adalah premis cerita di season ini.

Berbeda dari seri-seri Gundam lain, konflik utama di seri ini timbul bukan karena alasan pribadi para tokohnya. Pemicunya lebih bersifat eksternal. Para tokohnya bahkan sempat dikasih pilihan untuk terlibat di dalamnya apa enggak.

Konflik ini jadi hal paling menarik sekaligus menyakitkan dari seri ini. Ceritanya tragis, tapi dengan cara berbeda dari seri Gundam manapun sebelumnya. Benar-benar susah mengumpamakan Gundam IBO dengan seri Gundam lain karena ceritanya saking beda sendiri.

Intinya, terjadi perseteruan antara dua pihak paling berpengaruh dalam Gjlallarhorn. Sebagaimana dikisahkan dalam season satu, meski berkuasa di Bumi, kekuatan terbesar Gjallarhorn adanya di luar angkasa. Pasukan di luar angkasa ini terpisah lagi menjadi:

  • Outer Earth Orbit Regulatory Joint Fleet (‘armada gabungan pengelola orbit luar Bumi’) yang kini dipimpin oleh McGillis Fareed, yang ditugaskan di sekitar orbit Bumi.
  • Outer Lunar Orbit Joint Fleet (‘armada gabungan orbit luar Bulan’) atau yang dikenal dengan nama Arianrhod, yang dipimpin oleh karakter baru Rustal Elion. Sempat ditampilkan di season terdahulu, mereka yang ditempatkan di luar orbit Bulan, dengan wilayah pengawasan lebih jauh dari Bumi yang berbeda dari McGillis.

Persaingan hidup mati McGillis melawan Rustal adalah inti konflik sesungguhnya seri ini.

McGillis, karena masa lalu pribadinya, memiliki ambisi untuk menghancurkan tatatan dunia yang sekarang. Sesudah konflik di Edmonton di season sebelumnya, kekuasaan tiga dari tujuh marga Seven Stars yang berkuasa di Gjallarhorn: keluarga Fareed, Bauduin, dan Issue; telah jatuh ke tangannya.

Di belakangnya, McGillis didukung seorang ajudan sangat setia bernama Isurugi Camice yang terlahir di luar angkasa. Kepada McGillis juga, Tekkadan berpihak. Tapi keberpihakan Tekkadan ke McGillis lebih karena alasan balas budi atas bantuannya melalui aliasnya, Montag, dan bersifat give and take, ketimbang karena mendukung ideologinya.

Di sisi lain, Rustal merupakan salah satu pahlawan terbesar yang kini dimiliki Gjallarhorn. Dirinya karismatik, cerdas, dan tangguh. Meski demikian, dirinya hampir tidak bermoral dan cenderung menghalalkan segala cara. Rustal ceritanya telah bisa membaca niat McGillis dan telah pula menduga hal-hal keji yang dilakukannya untuk meraih kekuasaan. Karenanya, Rustal akan melakukan segala yang bisa dilakukannya untuk mendukung dominasi McGillis.

Di pihaknya, Rustal didukung oleh Iok Kujan, salah seorang pemimpin Seven Stars lain yang muda dan karismatik, tapi tidak kompeten; serta Julietta Juris, seorang pilot muda dengan asal usul dari luar Bumi yang juga sangat setia terhadapnya. Di belakang layar, di pihak Rustal juga hadir seorang pria bertopeng besi bernama Vidar yang misterius, yang memiliki misi pribadi untuk menghentikan McGillis.

Season 2 Gundam IBO pada dasarnya mengetengahkan adu siasat dan pengaruh antara dua orang ini. Keduanya sama-sama telah menguasai separuh dari organisasi. Keduanya juga menjalankan ‘perang boneka’ terhadap satu sama lain (salah satunya bahkan antara Arbrau dan SAU) sebelum memuncak dengan perang sesungguhnya antara mereka.

Tekkadan dan sekutu-sekutu mereka hanya terseret-seret saja.

Lalu iya, siapa yang baik dan siapa yang buruk jadinya tidak benar-benar jelas.

“Kita tak lagi bisa berhenti kalaupun kita mau.”

Season 2 IBO susah dibicarakan secara netral dan objektif. Karenanya, mending kita bahas soal teknis saja dulu.

Soal animasi, kualitasnya kurang lebih setara dengan musim lalu. Visualnya secara umum masih enak dilihat. Sebagian aksinya juga masih benar-benar seru. Tapi kualitasnya enggak sepenuhnya bisa aku bilang solid. Alasannya karena ada beberapa bagian yang kualitasnya tiba-tiba melemah atau dalam penggambarannya, tidak jelas apa yang baru saja terjadi. Ini terutama terasa dalam adegan-adegan mecha yang berlatar di luar angkasa.

Hmm. Aku juga belum yakin alasannya kenapa.

Penjelasannya mungkin berkaitan dengan konsep latar zaman Post Disaster. Kalian tahu, yang tidak menggunakan senjata-senjata beam? Mungkin cara koreografinya jadi sedemikian berbeda dibandingkan seri-seri Gundam lain. Intinya, dengan gimana pertempuran melee (jarak dekat) jadi lebih harus diutamakan ketimbang tembak-tembakan.

Alasan lain, mungkin juga ada kaitan dengan ceritanya yang jadi harus dibuat sedemikian padat. Rasanya tidak sampai terburu-buru sih. Tapi lumayan terasa gimana durasi untuk adegan-adegan aksi menjadi sangat terbatas.

Penjabaran lebih jauh buat aspek-aspek mechanya terasa kayak lebih diperlukan. Agar kita tahu MS satu ini kemampuannya segimana, MS lain bisa apa, dan sebagainya.

Di sisi lain, dari segi audio, kualitasnya cukup mencolok sih. Nada-nada BGM yang Yokoyama-san susun masih memikat. Ada banyak rentang emosi yang berhasil dihadirkan. Di samping itu, lagu pembuka pertama “Rage of Dust” yang dibawakan Spyair beneran keren. Lagu juga menandai comeback mereka ke kancah permusikan Jepang. Voice acting-nya pun termasuk solid. (Aku juga termasuk yang suka dubbing bahasa Inggris-nya IBO.)

Hanya saja, kayak sebagian aspek lainnya, ada sejumlah arahan yang jadinya mengundang tanya. Ini terutama terasa menjelang akhir cerita, ketika nuansa seri secara menyeluruh berkesan sendu dan melankolis. Agak susah menjelaskannya sih. Tapi kadang ada bagian-bagian yang terasa mengherankan kenapa dibikinnya demikian.

Tapi tetap saja, kalau ditanya bagus atau enggak, terlepas dari arahan kreatifnya, kualitas teknis IBO selalu lebih condong ke bagus. Meski iya, ada semacam kegajean juga jadinya.

Terlepas dari semuanya, lumayan tercermin bagaimana tim produksinya mengalami keterbatasan. Karenanya, mereka tetap patut mendapat pujian karena berhasil get the job done. Kalau aku tak salah, studio Sunrise juga menangani beberapa proyek lain di waktu yang sama. Mungkin proyek Gundam Thunderbolt yang lumayan memakan cukup banyak sumber daya. Jadi, gimana produksi Gundam IBO (secara argumentatif) masih bisa berakhir  bagus patut dihargai.

Nah, soal pendapatku pribadi: aku sebenarnya enggak punya masalah dengan apa yang diceritakan di seri ini. Dengan kata lain, aku enggak keberatan dengan gimana si A jadi matilah, atau si B jadi bernasib beginilah, dsb. Buatku pribadi, cerita Gundam IBO juga masih terbilang memikat dari awal hingga akhir.

Bahkan soal McGillis, yang di luar dugaan menjadi ‘karakter penggerak’ untuk seluruh cerita di seri ini, terus terang, aku cenderung condong ke pendapat yang menyukai dia. Aku cenderung setuju soal gimana dia salah satu ‘karakter Char’ paling menarik yang pernah diciptakan. Ya, ‘kejatuhan’ McGillis itu sangat menyakitkan. Tapi masa lalunya yang enggak enak, serta bagaimana McGillis sampai sedemikian dibutakan ambisinya sendiri juga sedemikian mirip tragedi masa lalu dan motif misterius Char Aznable di film layar lebar Char’s Counterattack.

(Adegan-adegan aksi menjelang akhir tetap masih kurang memuaskan sih. Enggak sampai jelek, tapi enggak sampai mendebarkan juga.)

Masalah yang sangat aku punya dengan season 2 Gundam IBO  ada pada cara pemaparannya. Pada bagaimana segala sesuatunya ditampilkan dan dijelaskan, terutama di bagian akhir.  Soalnya, entah gimana, pada suatu titik, nilai-nilai cerita yang berusaha disampaikan kayak bisa ambigu atau bahkan melenceng dari semula. Para karakter utama jadi terkesan sengaja disiksa-siksa. Bahkan, bisa-bisa ada yang malah jadi menanggapi kesimpulan ceritanya secara nihilistik.

Aku mengerti ada nuansa ‘abu-abu’ yang mau diberikan. Tapi caranya kayak ada yang… salah gitu? Sesuatu di penyampaiannya menurutku terlalu tiba-tiba dan kurang runut untuk hal sesensitif ini.

Pada akhirnya, meski banyak pengorbanan terjadi—dan aku seriusan enggak keberatan dengan gimana semua pengorbanan dan dendam itu ada—aku pribadi berharap kesannya di akhir bisa lebih dipertegas. Mungkin lebih baik kalau dibuat lebih optimis sekalian.

Aku perhatikan kalau sebagai penulis, Okada Mari-san yang kerap disalahkan dalam hal-hal begini. Tapi garis besar plot Gundam IBO (dan jenis kolaborasi lain seperti ini) kabarnya sudah ditetapkan sutradara dan staf produksi sejak awal. Okada-san hanya sekedar diminta untuk memberikan sentuhan khas beliau saja.

Tapi sudahlah. Apa yang terjadi, sudah terjadi.

Di samping itu, kompilasi layar lebar untuk Gundam IBO sudah diumumkan. Jadi ada kemungkinan kekurangan-kekurangan yang ada sekarang akan diperbaiki dalam film-film layar lebar nanti. Mudah-mudahan hasilnya bagus.

Legenda Agnika Kaieru

Yah, kayak biasa, mari kita singgung sedikit soal mecha.

Tapi sebelum masuk ke pembahasan soal mecha, satu hal yang mungkin luput aku bahas sebelumnya adalah soal kerangka mobile suit. Jadi, sebagai hal baru dalam waralaba Gundam, Gundam IBO memperkenalkan konsep Frame (‘rangka’) yang mendefinisikan sejumlah karakteristik dasar dari berbagai MS yang ada.

Sejumlah kerangka MS yang sudah diperkenalkan di semesta Post Disaster ini antara lain:

  • Gundam Frame, yang memiliki ciri khas berupa keluaran energi sangat besar berkat sepasang (jadi ada dua, bukan yang selazimnya satu) Reaktor Ahab yang bekerja secara bersamaan. Cara produksinya sudah terlupakan sejarah dan hanya ada 72 MS dengan Gundam Frame yang berakhir diciptakan. (Kesemuanya dinamai sesuai nama iblis-iblis Ars Goetia, jadi kalian bisa telusur nama-namanya dalam Wikipedia kalau mau. Tapi sejauh ini, desain yang sudah diungkap belum sampai 10.) Gundam Barbatos dan Gundam Gusion milik Tekkadan adalah contoh MS yang memakai rangka ini.
  • Valkyrja Frame, rangka berbobot ringan yang dikembangkan menjelang akhir Calamity War. Karena baru dikembangkan pada akhir perang, tidak banyak MS dengan rangka ini yang berakhir diciptakan. Salah satu MS dengan rangka ini adalah Grimgerde yang digunakan Montag di penghujung season Konon memiliki performa sangat tinggi, namun sulit digunakan.
  • Geirail Frame, rangka produksi massal yang konon diciptakan berdasarkan Valkyrja Frame. Memiliki keluaran cukup baik sekaligus tahan lama. Meski demikian, pemakaiannya kini terbatas. Jumlah MS dengan kerangka ini di masa ini konon hanya segelintir. Beberapa contohnya adalah Geirail yang diperkenalkan di musim ini dan pengembangannya, Geirail Scharfrichter, yang dilengkapi perlengkapan berat. Keduanya digunakan oleh para personil tentara bayaran Galan Mossa yang misterius.
  • Graze Frame, rangka MS utama yang kini digunakan Gjallarhorn dan telah diproduksi massal. Terutama dikenal karena fleksibelitas fungsionalnya. Ini adalah jenis rangka yang paling banyak ditampilkan dalam cerita. Konon ini adalah pengembangan lebih lanjut kerangka Geirail. Contoh MS yang menggunakannya adalah Graze yang menjadi dasar, Schwalbe Graze yang memiliki performa lebih tinggi tapi penanganan lebih sulit, dan Graze Ritter, modifikasi terbatasnya yang lebih berorientasi untuk pertahanan.
  • Rodi Frame, rangka MS yang dikembangkan di masa pertengahan Calamity War. Di masa kini, rangka ini yang paling banyak dipakai secara umum, terutama oleh jenis-jenis MS pekerja. Karena termasuk teknologi lama, keluarannya relatif tidak besar. Namun demikian, ada keseimbangan dalam berbagai aspek performanya. Man Rodi yang dipakai Brewers di season terdahulu, Spinner Rodi yang dipakai berbagai pihak, Garm Rodi yang dipakai Dawn Horizon Corps, dan MS produksi massal Landman Rodi yang baru milik Tekkadan, sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Teiwaz Frame, kerangka MS relatif baru yang dikembangkan sendiri oleh Teiwaz, dibuat berdasarkan sejumlah cetak biru yang diperoleh dari masa-masa akhir Calamity War. Meski begitu, MS dengan kerangka ini lazimnya memakai Reaktor Ahab kuno karena teknologinya dimonopoli oleh Gjallarhorn. Pengembangan kerangka ini lambat. Di samping itu, produksi MS yang menggunakan kerangka ini sangat terbatas. Asal usulnya pun terpaksa dirahasiakan. Kerangka ini sangat seimbang dalam segala aspek dan juga mampu menangani segala medan. Hyakuren dan Hyakuri (modifikasi Hyakuren dengan fokus ke kecepatan) milik keluarga Turbines, serta keluaran baru Hekija sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Io Frame, kerangka produksi massal yang berhasil dikembangkan dari teknologi Teiwaz Frame yang diperkenalkan di musim ini. Meski baru sama sekali, ada banyak kemiripan yang dimilikinya dengan Teiwaz Frame, seperti Reaktor Ahab kuno yang terpaksa digunakan padanya. MS dengan rangka ini lebih reaktif dibandingkan Teiwaz. Sensor sensitivitas tinggi juga dilengkapi di kepalanya, dan mudah disesuaikan untuk segala medan. Beberapa MS baru yang diperkenalkan di musim ini, Shiden, serta kustomisasinya, Shiden Custom/Ryusei-Go III/Riden Go sama-sama menggunakan kerangka ini.
  • Hexa Frame, kerangka MS paling banyak diproduksi sesudah Rodi Frame semasa Calamity War. Blok kokpitnya bukan di dada seperti rangka lain, melainkan di punggung, kepala, atau titik lainnya. Kerangka ini menonjol karena mengutamakan keselamatan pilot. Contoh MS yang menggunakan kerangka ini adalah Gilda dan Hugo, yang menyusun pasukan Dawn Horizon Corps.

Untuk lebih rinciannya, aku benar-benar suka desain Gundam Barbatos Lupus, tapi aku susah menjelaskan alasannya. Ada motif serigala yang diberikan padanya. Selama menggunakan MS ini, Mika tidak lagi menggunakan gada besar. Kini, dia sepasang pedang gada di masing-masing tangan. Ini juga masih dilengkapi sepasang senapan pendek yang terpasang di kedua tangan, sekaligus senapan laras panjang yang bisa dilipat. Ada sesuatu pada efisiensi desainnya yang benar-benar keren. Tapi yang membuatnya mengerikan, Barbatos Lupus benar-benar lincah dan teramat cepat.

Gundam Gusion Rebake yang digunakan Akihiro juga telah diupgrade menjadi Gundam Gusion Rebake Full City. Dikembangkan berdasarkan informasi baru dari zaman perang yang diperoleh Teiwaz sekaligus data pertempuran Akihiro sendiri, ini intinya adalah versi yang lebih sangar dibandingkan wujud yang sebelumnya.

Desain MS ini menurutku adalah jenis yang biasanya tidak diberikan ke karakter protagonis. Dilengkapi gunting raksasa yang bisa membelah zirah MS lawan, sekaligus juga subarm (lengan tambahan) yang dengannya, meningkatkan daya serang. Sama seperti Barbatos Lupus, Gusion Rebake Full City seimbang untuk segala keadaan, tapi memiliki titik berat lebih untuk pertempuran jarak dekat. Mungkin tidak terbilang cepat, tapi kekurangan itu diimbangi daya serangnya yang luar biasa besar. Apalagi dengan sensor kepalanya yang masih memungkinkan pertempuran jarak jauh.

Membahas MS produki massal, aku suka desain bulat Landman Rodi yang disesuaikan untuk penggunaan di Bumi. MS ini banyak dipakai oleh Dante, Chad, serta Takaki dan kawan-kawan mereka yang lain. Itu adalah desain MS produksi massal yang paling aku sukai di semesta Post Disaster.

Selain itu, Shiden yang baru juga keren. Ada Shiden Custom yang ditandai dengan tanduk satu dan pertahanan kuat yang dikembangkan untuk Orga, tapi ujung-ujungnya digunakan oleh Eugene. Shiden pada dasarnya adalah peningkatan dari Hyakuren, dengan kemampuan reaksinya yang lebih cepat.

Hekija, yang kemudian dipercayakan pada Hush sesudah ia menjadi pengikut setia Mika, menjadi peningkatan dari Hyakuren yang sesungguhnya. MS prototipe ini termasuk menonjol, tapi sayangnya terasa kurang disorot. Dengan keluaran setara Hyakuren, sekaligus kecepatan yang bisa mendekati Hyakuri, MS ini terbilang sangat lincah dengan banyaknya pendorong di berbagai persendiannya. MS ini dilengkapi persenjataan jarak dekat yang banyak berupa bilah-bilah tajam. Aku merasa bisa suka dengan MS ini andai saja ditampilkan lebih jauh.

Mewakili generasi muda Tekkadan, Ride Mass juga kini sudah mulai lebih aktif sebagai pilot. Dia mewarisi MS Graze Custom dan juga Shiden yang sebelumnya digunakan Shino, menamainya menjadi Riden-Go.

Alasan Shino mewariskan adalah karena kini dia jadi menggunakan MS Gundam ketiga yang Tekkadan peroleh, yakni Gundam Flauros (yang belakangan dinamainya Ryusei-Go juga), yang memiliki kemampuan transformasi untuk mewadahi fitur rail cannon-nya yang sangat mengerikan. MS ini ditemukan secara misterius di wilayah penambahan halfmetal. Tapi penemuan tersebut justru menjadi titik balik banyak hal.

Titik balik tersebut adalah penemuan mobile armor dorman yang belakangan diketahui bernama Hashmal.

Mobile armor (MA) ternyata adalah senjata-senjata otomatis berukuran kolosal yang ternyata diciptakan di masa silam. MA yang ditemukan tersebut ternyata masih bekerja, dan segera menarik perhatian Gjallarhorn, karena rupanya keberadaan MA justru adalah pemicu Calamity War. Semuanya diprogram semata-mata untuk memusnahkan umat manusia(!).

Senjata-senjata otomatis tersebut ternyata sedemikian kuatnya. Dengan teknologi nanomesin, mereka punya kemampuan membuat drone-drone berjumlah banyak yang disebut Pluma, kemampuan melepaskan tembakan beam (yang untuknya masih bisa ditangani dengan lapisan nanolaminate armor di kebanyakan MS!), dan bahkan kemampuan regenerasi!

Mereka seolah tak terhentikan di masa silam sebelum ke-72 Gundam Frame akhirnya diciptakan untuk memburu mereka.

Kemenangan atas Hashmal, yang harus dibayar mahal, berujung pada rekonstruksi Barbatos menjadi Gundam Barbatos Lupus Rex, wujud terkuatnya dalam cerita ini. Banyak yang bilang bentuknya menyerupai War Greymon dari waralaba Digimon, tapi aku pribadi lumayan suka.

Untuk pertempuran jarak dekat, Lupus Rex tidak lagi memerlukan senjata karena cakarnya yang terbuat dari logam komposit (yang sama dengan pedang-pedang Grimgerde) sudah cukup untuk mewadahinya. Untuk serangan jarak jauh, MS tersebut masih bisa dilengkapi senapan. Tapi yang paling mengerikan dari Barbatos yang ini, yang dipadukan dengan kecepatannya, adalah ekornya. Ekor tersebut diambil dari ekor Hashmal yang dapat menyasar musuh-musuh secara otomatis. Lewat sistem Alaya Vijnana, Mika bahkan merasa bisa punya ekor secara alami!

Ekor ini seakan jadi ekuivalen persenjataan bit/funnel di seri-seri Gundam lain.

Dari sisi Gjallarhorn, Julieta Juris dan Iok Kujan sama-sama menggunakan Reginlaze, MS produksi massal termutakhir Gjallarhorn. Bentuknya yang aerodinamis beneran menarik perhatian.

Dikembangkan dari Graze, Reginlaze konon didesain untuk memenuhi kebutuhan MS tipe baru selepas kekalahan Gjallarhorn dalam Pertempuran Edmonton. Baru diproduksi dalam jumlah terbatas, MS ini memiliki output dan daya serang lebih besar dari Graze, dengan lapisan pelindung yang lebih tebal. Meski demikian, strukturnya yang lebih sederhana dengan permukaan-permukaannya melengkung membuatnya relatif mudah ditangani bahkan melebihi Graze. Reginlaze tetap dirancang serbaguna seperti pendahulunya, dan dapat digunakan di berbagai medan dengan berbagai armamen.

Reginlaze milik Iok yang berwarna hitam-coklat gelap merupakan varian untuk komandan yang dikhususkan untuk serangan pendukung jarak jauh. Senjata utamanya adalah railgun jarak jauh yang mengandalkan kemampuan sensorik yang MS tipe ini miliki. Bentuk ini kemungkinan besar dipilih karena perhatian besar para pengikut Iok atas keselamatannya. (Terutama, karena Iok sendiri bukan pilot handal.)

Di sisi lain, Reginlaze milik Julieta dikustomisasi agar memiliki output dan mobilitas yang lebih tinggi lagi. Perlengkapan khusus Reginlaze punya Julieta adalah pasangan senjata jarak dekat prototip Twin Pile, yang memungkinkan peluncuran jangkar-jangkar kawat yang dapat menahan gerakan lawan.

Sesudah kekalahannya dalam konflik melawan MA Hashmal, Julieta mengajukan diri untuk menjadi pilot uji dari Reginlaze Julia, MS prototipe yang merupakan pengembangan lebih mutakhir lagi dari Reginlaze.

Dibangun dengan bentuk luar aerodinamis, Reginlaze Julia memiliki mobilitas dan keluaran sangat tinggi yang mengorbankan berbagai aspek dasar dari pendahulunya. Karena sifatnya yang sangat sensitif, MS ini hanya bisa digunakan oleh para pilot yang benar-benar terampil. MS ini juga dibangun dengan data pertempuran yang diperoleh dari Graze Ein, walau filosofi pengembangannya sangat berbeda mengingat penggunaan Reginlaze Julia yang dikhususkan untuk di luar angkasa. Di samping sepasang senapan mesin dan sepasang bilah pisau di kaki, Reginlaze Julia memiliki senjata andalan pedang cambuk Julian Sword di kedua lengannya, yang dibuat dari bahan serupa Valkyrja Sword milik Grimgerde.

Bicara soal Grimgerde, McGillis tidak lagi bisa memakainya dengan kedudukannya yang baru. MS tersebut kemudian dibongkar hingga ke rangka oleh Perusahaan Montag yang misterius, untuk mewujudkan rancangan kuno bernama Helmwige, menjadi MS baru bernama Helmwige Reincar.

MS bertanduk dan berpedang besar tersebut sangat menonjolkan pertahanan dan dirancang untuk tujuan pengawalan. Secara spesifik, pengawalan untuk menghadapi MA. Isurugi yang kemudian dipercaya sebagai pilotnya. Kehadirannya di medan pertempuran ternyata berperan kunci dalam mengalahkan Hashmal.

(Menariknya, Perusahaan Montag yang digunakan McGillis ternyata didasarkan oleh perusahaan yang pernah ada di sejarah Post Disaster, yang konon dibangun seseorang bernama Clive Montag. Siapa dirinya, dan apa signifikasinya bagi McGillis, masih jadi tanda tanya.)

McGillis sendiri menggunakan MS produksi massal biasa sampai ia berhasil menemukan cara untuk mengaktifkan Gundam Bael. Bael adalah MS pusaka milik Gjallarhorn di markas mereka, Vingolf. MS ini yang dulu digunakan oleh pendirinya, Agnika Kaieru, yang konon mengakhiri Calamity War. Didesas-desuskan bahwa barangsiapa yang bisa mengaktifkan Bael akan berhak untuk memerintah Gjallarhorn. Lalu lambat laun, McGillis rupanya telah menjadi terobsesi dengan MS ini.

Aku dulu sempat mengira kalau Bael akan menjadi final boss untuk Gundam IBO. Ada teori lain yang juga sempat berspekulasi kalau Bael nantinya akan digunakan Mika. Tapi tidak, McGillis menggunakannya secara pribadi di pihak yang sama dengan Tekkadan.

Mirip dengan Grimgerde, Bael menggunakan sepasang pedang berbilah emas yang konon tidak mungkin patah. Warna MS-nya yang keren menurutku selaras dengan desainnya yang sederhana dan konvensional. Dengan kecepatannya yang sangat tinggi dan daya pakainya yang lama, satu MS ini saja ternyata setara dengan sepasukan MS Gjallarhorn. Ini memang kurang berhasil ditonjolkan di animenya, tapi sepasang sayap Bael juga menyimpan electromagnetic cannon dengan daya hancur sangat besar.

Terakhir, MS paling misterius di seri ini adalah Gundam Vidar milik Vidar yang bertopeng. MS ini konon ditenagai bukan hanya oleh dua, tapi oleh tiga Reaktor Ahab (dengan yang ketiga untuk fungsi yang tidak diketahui). Waktu pembuatan dan pengembangannya lama. Karenanya, perlu waktu lama sampai Vidar akhirnya bisa menggunakannya. Keberadaannya juga dirahasiakan untuk waktu lama, sama halnya dengan keberadaan Vidar sendiri.

Gundam Vidar mungkin adalah MS dengan desain paling kompleks yang Gundam IBO hadirkan. MS ini dibuat untuk lincah sekaligus responsif ke segala arah. Kesan akhirnya benar-benar orisinil. Senjata utamanya adalah Burst Saber, bilah-bilah pedang ramping yang dapat diletuskan ke arah lawan dan juga diganti mata pedangnya. Selain senapan untuk segala jarak, MS ini juga dilengkapi sepasang pistol untuk aksi jarak dekat, dan juga pisau Hunter’s Edge yang terpasang di lutut.

Sebenarnya, ada upgrade untuk Gundam Vidar. Upgrade tersebut memberikan zirah tambahan dan juga seakan memberi ‘lapisan’ baru dalam persenjatannya. Tapi takkan kusebutkan di sini karena terlalu berpotensi spoiler. (Walau memang gampang ditebak sih.)

“Kita tak punya waktu untuk ragu-ragu. Tapi selama kamu tidak berhenti, aku juga tidak akan.”

Gundam IBO perlu diakui adalah seri yang memancing banyak komentar. Baik itu dengan latar cerita, karakter, plot, sampai desain mechanya. Ditambah lagi, ada banyak tema yang berusaha diangkatnya. Ada soal hubungan seks remaja (yang digali lewat masa lalu Atra yang ternyata dibesarkan di rumah bordil, sebelum ia bertemu dengan Mika dan Orga) dan juga soal LGBT (lewat karakter Yamagi Gilmerton).

Tapi pada akhirnya… entah ya, rasanya sulit berkomentar apa-apa.

Ada banyak yang berusaha disampaikan. Karenanya, kesimpulan yang bisa kita ambil tak boleh kita tarik dengan tergesa-gesa.

Akhir kata, kalau kamu tertarik pada Gundam IBO, ini seri yang sebenarnya oke. Ini jenis seri Gundam yang bisa menarikmu dari awal dan membuatmu takkan lepas hingga akhir. Tapi ini jelas enggak sempurna. Ada banyak kelemahannya. Akhir ceritanya antiklimaks sekaligus sedih. Adegan-adegan aksinya tidak buruk, tapi kurang memuaskan juga. Sisi bagusnya, seperti yang bisa diharapkan dari naskah Okada-san, adalah aspek dramanya yang sangat berkesan dan juga karakterisasi yang ‘jadi.’ Aku terutama terpaku pada adegan menjelang akhir saat Mika sedemikian mensyukuri segala yang akhirnya mereka—dirinya dan orang-orang tersayangnya—berhasil peroleh.

Jadi menurutku pribadi, bagus enggaknya tamat Gundam IBO, yang kontroversial, sebenarnya ditentukan oleh langkah para produsernya ke depan.

Kalau kelak Gundam IBO memperoleh sekuel (apalagi dengan pembangunan dunianya yang benar-benar bagus, dan belum semua rahasia Calamity War yang terkuak), maka tamat season ini bisa diterima. Tapi, kalau hanya sampai sebatas ini, dan jadinya ada semesta Gundam baru yang langsung diperkenalkan sebagai penggantinya, maka ini akhir yang enggak bagus. Soalnya, berbeda dengan kasus Gundam SEED Destiny, meski banyak kelemahannya, Gundam IBO berhasil kena ke hati banyak orang. Di samping itu, pangsa pasarnya ada, dan tak ada kendala berarti dalam hal produksinya.

Tapi memang jadi tanda tanya sih soal apa yang ada di pikiran Nagai-san sebagai sutradara.

Maksudku, karakter mekanik Yamazin Toka di episode terakhir benar-benar mengindikasikan ada suatu rahasia yang masih tersembunyi! Di samping itu, tiga blok ekonomi lain selain Arbrau juga belum disorot! Bagaimana juga dengan Gundam-Gundam lain yang belum terkuak?

Kalau itu semua berakhir tidak digali, kalian juga bakal setuju kan? Akhir cerita ini jadi benar-benar mengecewakan.

“…Aku tunggu kamu di sana.”

Yah, sebagai penutup, aku singgung sedikit tentang manga gaiden-nya, Mobile Suit Gundam: Iron Blooded Orphans Gekko. (‘Gekko’ di sini berarti ‘sinar bulan’)

Manga ini diterbitkan bersama oleh Kadokawa Shoten dan Hobby Japan dan diserialisasikan di majalah Gundam Ace. Sebagaimana halnya seri-seri Gundam lain, di manga ini ada berbagai desain MS variasi (MSV, mirip seri Astray untuk semesta Cosmic Era) yang ditampilkan bersama cerita yang menjadi ‘pelengkap’ cerita utama. Manga ini sendiri ditangani oleh Kamoshida Hajime, dengan desain karakter buatan Terama Hirosuke x Dango, serta desain mekanik oleh Gyoubu Ippei.

Garis besar ceritanya adalah tentang Argi Mirage, seorang pemuda dengan tangan kanan prostetik, yang tengah memburu suatu MS misterius tipe Gundam yang ia yakini telah membantai keluarganya. (Desain karakternya, secara aneh, sangat mirip Hush Middy, hanya saja dengan rambut lebih tebal dan mata lebih tajam.)

Bekerja sebagai tentara bayaran, Argi berselisih jalan dengan Volco Warren, pemuda pincang yang menjadi orang kepercayaan Ted Morugaton. Ted adalah pemimpin perusahan rute dagang  Tantotempo di koloni wisata Avalanche 5, yang berhubungan dengan mafia. Dalam insiden di mana nyawa Ted diincar, Volco membujuk Argi untuk bekerjasama.

Argi akhirnya setuju sesudah terungkap kalau Volco ternyata adalah pemilik apa-apa yang masih tersisa dari Gundam Astaroth. MS tersebut adalah salah satu dari 72 Gundam Frame peninggalan Calamity War, yang tengah berusaha dipulihkan Volco. Tidak lama sesudah pertama ditemukan dan dipulihkan sesudah Calamity War, suatu pihak misterius mencuri Astaroth dan mempreteli bagian-bagiannya. Memperoleh kembali bagian-bagian tersebut dan memulihkan Astaroth menjadi seperti seharusnya akhirnya menjadi misi pribadi Volco, yang terus diperjuangkannya… sampai Ted kemudian tewas.

Volco kesulitan mengemudikan Astaroth dengan kakinya yang cacat. Tapi dengan bantuan Argi dan tangan prostetiknya, yang menjalin koneksi saraf yang mendekati koneksi sistem Alaya-Vijnana, Astaroth bisa mereka fungsikan. Dengan menggunakan bagian-bagian MS lain sebagai pengganti bagiannya yang hilang, rangka tersebut menjadi Gundam Astaroth Rinascimento yang menjadi andalan mereka.

Bersama-sama, Argi dan Volco kemudian menjadi pelindung Liarina Morugaton, gadis remaja yang merupakan anak satu-satunya Ted. Mereka juga berusaha menelusuri pelaku sesungguhnya di balik penyerangan Ted, apa kaitannya dengan Astaroth, serta siapa pemilik MS tipe Gundam misterius yang mungkin telah menewaskan keluarga Argi.

Cerita Gekko banyak menyinggung soal dunia mafia, yang animenya baru sebatas singgung lewat grup Teiwaz. Meski Gjallarhorn berperan, mereka tidak banyak tampil. Lalu mirip seperti di seri-seri manga Gundam Astray, yang menjadi antagonis adalah berbagai pihak lain yang berkepentingan terhadap para tokoh utama.

Nuansa ceritanya sangat mirip manga Gundam MSV yang lain. Kadang perkembangannya memang sarat kebetulan. Tapi ceritanya masih terbilang rame.

Sayangnya, belum banyak info lebih jauh soal Calamity War yang diungkap di dalamnya. Jadi walau menarik, ceritanya mungkin masih belum cukup memenuhi rasa penasaran kamu sesudah animenya berakhir.

Tapi kayak biasa, desain-desain mechanya teramat keren. Itu jadi daya tarik tersendiri.  Gundam Astaroth Rinascimento misalnya, adalah MS asal jadi yang dilengkapi senjata di segala bagian agar ‘siap untuk segala situasi.’ Tapi hasilnya kurasa benar-benar keren.

Selebihnya, berikut terjemahan lirik dari “Rage of Dust” di bawah.

Lagi-lagi ini postingan panjang. Terima kasih udah baca sejauh ini.

Maaf juga karena ulasan ini lama. Ada terlalu banyak yang berusaha aku tangani belakangan.

Terlepas dari gimana parahnya keadaan dunia, jangan tunduk hanya karena kalian bintang-bintang kelas enam, guys. Lindungi yang berharga buat kalian. Kalau ada satu makna yang bisa kalian ambil dari Gundam IBO, ambillah itu.

“Rage of Dust”

by SPYAIR

fukai yoru no yami ni

nomarenai you hisshi ni natte

kagayaita rokutousei

marude bokura no you da

 

kurikaesu nichijou ni orenai you ni

 

kachitoritai mono mo nai

muyoku na baka ni wa narenai

sore de kimi wa iinda yo

girigiri to ikisama o

sono tame ni shineru nanika o

kono jidai ni tatakitsuketeyare

 

doudatte ii nayandatte

umarekawaru wake janai shi

mureru no wa suki janai

jibun ga kieteshimaisou de

 

afurekaetta rifujin ni makenai you ni

 

nakusenai mono mo nai

muryoku na mama dewa owarenai

dakara kimi wa ikunda yo

douse nara kuzu janaku

hoshikuzu no you ni dareka no

negaigoto mo seoi ikiteyare

 

kachitoritai mono mo nai

muyoku na baka ni wa narenai

sore de kimi wa iinda yo

hirihiri to ikisama o

sono tame ni shineru nanika o

kono jidai ni tatakitsuketeyare

 

muryoku na mama dewa owarenai

dakara kimi wa ikunda yo

douse nara kuzu janaku

hoshikuzu no you ni dareka no

negaigoto mo seoi ikiteyare

Agar tak tertelan pekatnya gelap malam

Dia berjuang dengan putus asa

Bintang kelas enam yang bercahaya itu

Bukannya bagaikan kita

Janganlah kalah dengan hari-hari yang terus berulang

Kau bukan orang bodoh yang apatis

Yang tak punya tujuan yang ingin diraih

Dirimu yang sekarang itu tak kurang apapun

Jalani hidup di garis tepi

Punyai sesuatu yang rela diperjuangkan sampai mati

Jadi buanglah itu semua ke muka zaman ini!

Tak ada artinya bagaimanapun juga

Memikirkannya takkan membuatmu bisa mengulang dari awal

Tak menyukai mentalitas kelompok

Jati dirimu terasa seakan hampir sirna

Janganlah tunduk pada dunia yang absurd

Tak punya apapun, selama masih tak berdaya

Jangan biarkan semua ini berakhir

Karenanya, kamu harus pergi!

Kalau memang berakhir sebagai debu

Sekalian saja jadilah debu bintang

Agar kau bisa terus menanggung mimpi orang lain

Kau bukan orang bodoh yang apatis

Yang tak punya tujuan yang ingin diraih

Dirimu yang sekarang itu tak kurang apapun

Jalani hidup di garis tepi

Punyai sesuatu yang rela diperjuangkan sampai mati

Jadi buanglah itu semua ke muka zaman ini!

Jangan biarkan semua berakhir selama kau tak berdaya!

Karenanya, kamu harus pergi!

Tapi kalau harus berakhir sebagai debu

Jadilah sekalian debu bintang

Agar kau bisa terus menanggung mimpi orang lain

Penilaian

Konsep: A; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: X; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B

Iklan

Seiren

In anime on 28/08/2017 at 13:00

Seiren itu aneh.

Aku punya alasan-alasan pribadi untuk mengikuti Seiren (judulnya kira-kira berarti: ‘jujur’, ‘kejujuran’, ‘sungguh-sungguh’), tapi cerita Seiren enggak kusangka bakal seaneh ini. Anehnya itu… mengangkat alis gitu. Jenis yang bikin kamu sedikit enggak nyaman, tapi sekaligus kepikiran di waktu yang sama.

Sedikit info dulu.

Anime orisinil Seiren diproduksi bersama Studio Gokumi dan studio pendatang baru AXsiZ. Pertama tayangnya di musim dingin awal tahun 2017. Aku masih kurang akrab dengan keluaran-keluaran Studio Gokumi, tapi aku tetap antusias saat Seiren diumumkan. Alasannya karena produksinya mengusung nama Takayama Kisai.

Jadi, Takayama-san adalah ilustrator sekaligus salah satu pencetus game romantis Amagami. Adaptasi anime Amagami, Amagami SS dan Amagami SS+, sempat lumayan menarik perhatian beberapa tahun sebelumnya. Agaknya, kesuksesan itu hendak diulang dengan bagaimana Takayama-san mendesain karakter-karakter di Seiren dan sekalian menangani naskah.

Selain beliau, musik seri ini ditangani Nobusawa Nobuaki. Penyutradaraannya juga ditangani Kobayashi Tomoki, sutradara Amagami SS+ yang belakangan lebih dikenal sebagai sutradara anime aksi Akame ga Kill!.

Berbeda dengan Amagami, Seiren murni diproduksi sebagai anime. Sifatnya orisinil. Tidak ada game pendahulu yang padanya ini didasarkan.

Sama halnya Amagami SS dan sekuelnya, Amagami SS+, Seiren pun mengadopsi format omnibus. Dengan kata lain, meski karakter-karakter utama yang diketengahkannya sama, seri ini terbagi ke dalam bab-bab berbeda yang berpusar pada karakter perempuan utama yang berbeda pula. Cerita dalam satu bab tidak benar-benar berhubungan dengan bab lain (meski ada banyak hal sama di dalamnya). Jadi begitu memasuki bab baru, cerita seolah berulang dari awal dan mengambil arah berbeda.

Musim pertama Seiren sepanjang 12 episode. Dengan tiga heroine utama, mengikuti formula Amagami SS, masing-masing bab di anime ini mendapat durasi empat episode. Tiap bab juga punya lagu penutup berbeda yang dinyanyikan pengisi suara heroine terkait.

Aku menyebutnya musim ‘pertama’ karena direncanakan akan ada musim kedua kalau anime ini sukses. Tapi itupun belum pasti. Jadi lebih banyak soal itu mending aku singgung nanti.

Mungkin perlu disinggung juga. Amagami SS dan sekuelnya, Amagami SS+ bisa dibilang romantis dengan sisi-sisi lucu dan aneh. Tapi komedi romantis Seiren itu lebih ke arah… aneh.

Sial. Tetep enggak kepikiran kata lain yang bisa menjabarkannya.

Venison

Seiren berlatar di SMA Kibito, sekolah yang juga menjadi latar Amagami. Bedanya, Seiren berlatar pada masa sembilan tahun sesudahnya. Ada beberapa tempat di Amagami yang bahkan juga dikunjungi lagi di Seiren. Mungkin kau takkan langsung sadar karena arahan visualnya beda, tapi desain seragam para tokohnya itu beneran sama.

Dengan cerita yang berawal di musim panas (berkebalikan dari Amagami, yang lebih banyak berlatar di musim gugur dan musim dingin), Seiren bercerita tentang pengalaman-pengalaman romantis(?) Kamita Shouichi, siswa kelas dua di SMA Kibito yang dihadapkan pada sejumlah perempuan berbeda saat mulai memikirkan tentang masa depannya.

Shouichi ceritanya adalah adik lelaki Kamita Tomoe, siswi kelas tiga populer yang juga bersekolah di sekolah yang sama. Pada tahun sebelumnya, Moe-nee memenangkan juara pertama kontes kecantikan Miss Santa yang diadakan pada Festival Pendiri Sekolah di sekolah mereka. Sifat Moe-nee selalu ramah pada semua orang. Karenanya, berkat hubungannya dengan kakaknya, Shouichi sedikit banyak jadi mulai ikut dikenal di sekolahnya juga.

Di sekolah, Shouichi bersahabat dekat dengan Nanasaki Ikuo, kawannya sejak kecil yang kalem dan pintar (meski dulu sempat dikenal agak liar). Berperan secara konsisten sebagai teman bicara Shouichi, Ikuo juga adalah adik lelaki Nanasaki Ai, salah satu heroine di Amagami yang bisa didekati si tokoh utama.(Untuk kalian yang lupa, Ai itu karakter yang anggota klub renang, gadis cool yang juga salah satu teman dekat Miya, adik perempuan Tachibana Junichi, si tokoh utama. FYI, Junichi juga sempat tampil sebagai cameo di seri ini!)

Karena kegemaran mereka ngegame di game center, Shouichi dan Ikuo juga akrab dengan seorang kakak kelas bernama Araki Tetsuya. Araki-senpai yang tampan banyak dikagumi siswi-siswi di sekolah mereka. Tapi tanpa banyak orang tahu, Araki sebenarnya seorang penyayang binatang. Entah bagaimana, hal itu jadi membuatnya punya sisi kepribadian yang sedikit aneh.

Ada tiga tokoh utama perempuan yang Seiren sajikan (di paruh ini). Masing-masing seolah mewakili angkatan yang berbeda. Sesuai urutan bab mereka, ketiganya adalah:

  • Tsuneki Hikari, teman sekelas sekaligus siswi paling dikenal di angkatan Shouichi. Hikari yang lincah dan memikat menjadi runner up kontes Miss Santa tahun lalu (kalah dari Tomoe, kakak perempuan Shouichi). Sifatnya ceria, senang makan tapi gemar olahraga, dan terkadang keras kepala. Hikari juga diam-diam bekerja paruh waktu sebagai koki dan pelayan di suatu restoran, meski sekolah sebenarnya tidak memperbolehkan. Cerita babnya mengetengahkan bagaimana Hikari dengan enggan mengikuti sekolah musim panas yang juga diikuti Shouichi dan Ikuo. Bagaimana Shouichi tak bisa membiarkan Hikari sendirian lambat laun memunculkan desas-desus tentang mereka. Desas-desus tersebut malah dikompori Hikari sendiri, dan Shouichi akhirnya terdorong untuk bersikap serius tentangnya.
  • Miyamae Toru, kakak kelas dan teman akrab Moe-nee yang diam-diam luar biasa jago ngegame. Meski sering ngegame, nilai-nilai pelajarannya juga terbilang bagus dan ia pun pandai berolahraga. Meski begitu, Toru kerap kesulitan bicara dengan orang kalau tak punya kesamaan. Hal itu ternyata berhubungan dengan suatu pengalamannya di masa lalu. Cerita babnya diawali dengan bagaimana Toru jadi sering bertukar item dengan Shouichi, Ikuo, dan Araki. Saat Shouichi menjadi partnernya dalam suatu game robot-robotan, Shouichi jadi tertarik lebih jauh dengan kepribadiannya. Toru ternyata pernah akrab dengan Hikari di waktu SMP.
  • Touno Kyouko, adik kelas sekaligus teman sejak kecil Shouichi selain Ikuo. Penampilannya cantik dan manis. Dia murid teladan. Tapi dia juga sangat gemar membaca komik cewek, dan mungkin punya jalan pikiran sedikit kekanakan. Cerita babnya diawali dengan bagaimana Kyouko meminta Shouichi menemaninya makan pancake, yang kemudian mengawali serangkaian kejadian yang membuat keduanya sama-sama mulai mengkaji hubungan mereka.

“Rasanya luar biasa saat kamu menendangku dari belakang.”

Secara konseptual, Seiren menurutku lebih bagus dari Amagami. Dalam perkembangannya, memang ini terkadang dikesampingkan sih. Tapi tema yang diangkat Seiren sebenarnya tentang menghadapi masa depan dan inilah yang membuatnya jadi bagus.

Daripada langsung fokus ke hubungan dengan para karakter heroine-nya, Seiren sempat terasa kayak seri drama kehidupan yang lebih umum. Jadi bukan cuma pertanyaan soal hubungan cinta saja yang diangkat. Tapi diangkat juga berbagai hal lain seperti sekolah, hobi, minat, dsb. dalam kehidupan para tokohnya. Secara mengesankan, ini tertuang dalam berbagai pikiran Shouichi. Jadi kayak, sesuatu yang selalu membayang-bayanginya secara bawah sadar gitu.

Masalahnya… mungkin ada di visi konsepnya yang belum mateng kali ya?

Awal cerita Seiren menurutku lebih menarik dari dugaan. Secara tersirat, berbagai hal tentang kehidupan para karakternya tercermin dari sikap, kebiasaan, dan cara bicara mereka. Seiren sama sekali enggak kelihatan kayak anime dating sim yang biasa. Nuansanya beneran kerasa begitu berbeda dari Amagami.

Sayangnya, di sepanjang dua bab yang pertama (bab Hikari dan Toru), fokus ceritanya kayak gagal kebangun gitu. Aspek hubungan antar karaternya kurang berhasil terjalin.  Akibatnya, daya tarik di awal tersebut jadi menurun dalam pelaksanaannya. Kualitasnya juga tak pernah benar-benar sampai berhasil menyamai kesan kuat Amagami SS.

Menyakitkannya, ini tuh benar-benar murni masalah naskah. Masalah ini mungkin bahkan bakal terhindari seandainya Seiren hasil produksi dari satu studio, dan bukan kolaborasi dari dua. Ceritanya enggak jelek, dan bahkan sangat menarik dari banyak segi. Tapi juga belum bisa dibilang bagus.

Di sisi lain, kalau membahas soal teknis sih, animasi Seiren sebenarnya juga punya banyak saat yang terkesan ‘kaku.’ Kualitasnya termasuk biasa.

Pengarahannya—soal gimana visualnya dipadu dengan dialog dan musik dalam satu adegan—terkadang kayak masih kurang pas. Padahal dari segi audio, seri ini termasuk lumayan. Voice acting-nya enggak buruk. Di samping itu, musiknya lumayan dan sejumlah lagu-lagunya juga terbilang enak didengar.

Soal desain karakter Takayama-san, ada yang berpendapat desain karakter Seiren terlalu mirip dengan satu sama lain. (Ketiga heroine sama-sama kurus dan berambut panjang, misalnya.) Aku memang agak merasa beliau terlalu memasukkan selera pribadi beliau di dalam seri ini sih. Tapi aku juga merasa konsep multidimensi yang Seiren usung soal ‘masa depan’ dan ‘kehidupan’ juga agak berperan.

Susah jelasinnya.

Intinya, aku menduga pembagian kerja antara kedua studio menjadi faktor terbesar yang mempengaruhi hasil akhir Seiren. Visi para pembuatnya masih belum menyatu. Jadinya, visi tersebut juga kurang berhasil diterjemahkan saat seri ini sudah harus tayang.

Tapi yang mengejutkan dari Seiren, kualitas teknis dan naskahnya tiba-tiba mengalami kenaikan sekitar pertengahan seri. Para staf seakan menemukan momentum mereka lagi. Seiren jadi punya episode-episode terakhir yang lebih berkesan dari episode-episode awal. Babnya Kyouko ternyata jauh lebih berkesan dibandingkan babnya Hikari dan Toru.

Iya, tetap aja ini terasa aneh karena format ceritanya yang omnibus sih.

Nah, bicara soal itu…

“Aku jadi benar-benar gugup saat membayangkan bisa punya keturunan sama kamu.”

Balik lagi soal cerita, Seiren itu… ceritanya aneh.

Seriusan aneh.

Di atas kertas, memadukan elemen-elemen drama komedi dengan soal cita-cita, impian, sekaligus romansa bukan ide buruk. Tapi untuk Seiren, hasilnya itu aneh. Keanehan ini yang justru jadi kekuatan sekaligus kelemahannya yang terbesar.

Kekuatannya karena… enggak ada anime lain yang mirip Seiren. Bahkan Amagami SS juga enggak!

Kelemahannya karena… yah, Seiren jadi cenderung terlalu datar buat sebagian orang. Dengan kata lain, membosankan. Dan itu sesuatu yang enggak semestinya terjadi buat konsep kayak gini.

Sekali lagi, andai Seiren diproduksi sama satu studio, keanehan yang jadi kelemahannya ini kayaknya bakal langsung disadari dan kemudian diperbaiki. Tapi karena diproduksinya oleh dua, keanehan dalam naskahnya itu kayaknya baru ketahuan belakangan.

Jadi ringkasnya, selain plotnya kerap mengawang, selalu ada sesuatu yang ‘ajaib’ di dialognya. Pas kamu dengerin pertama kali, awalnya kamu akan biasa-biasa saja. Karena dituturkannya memang secara biasa. Tapi sedetik berikutnya, pas kamu memikirkannya lagi, reaksi kamu bisa jadi, “Wut? Barusan dia ngomong apa?” karena saking anehnya apa yang diucapkan. Nah, dialog-dialog kayak gini yang jadi kekhasan Seiren. Dan ini konsisten ada di ketiga bab.

Nah, Amagami SS juga punya fanservice yang ‘aneh’ gitu kan? Kamu nanya apa di dalamnya Seiren juga ada apa enggak? Jawabannya: iya, tapi enggak sebanyak Amagami. Cuman, pas ada, keanehan di Seiren itu bisa sekian kali lipat melebihi Amagami. Seiren seriusan patut dipuji karena bisa kepikiran segala macem inuendo kayak gini.

Lalu, soal plotnya…

Satu hal aneh lain tentang Seiren: kalau dalam Amagami misalnya, seorang heroine tidak akan terlalu berperan dalam bab heroine lain. Kalau dalam Seiren, mereka kayak punya peran lebih aktif. Malah kayak bisa ada konflik antar mereka. Jadi, struktur bab yang katanya omnibus tersebut sebenarnya lebih kayak struktur perkembangan cerita di Fate/stay night ketimbang Amagami.

Hal-hal yang dipaparkan di satu bab terus terbangun sampai ke bab berikutnya begitu. (Seperti soal subplot soal cinta terpendam Ikuo.) Tingkat interaksi antar karakter heroine di Seiren emang jadi lebih banyak. (Terutama dengan adanya Hikari.) Lalu kurun waktunya secara kronologis memang Hikari –> Toru –> Kyouko. (Memberi semacam kesan What if? pada masing-masing skenario.) Tapi iya, buat anime yang harusnya romansa kayak Seiren, ini jadi terasa luar biasa aneh.

Sisi baiknya, sekali lagi, adalah gimana bab Kyouko jadi memuaskan sebagai penuntas seri. Ceritanya Kyouko emang berbeda sendiri. Memang terasa seperti ada elemen-elemen cerita yang dicomot dari babnya Rihoko di Amagami SS dan Amagami SS+. Bahkan sampai ada karakter expy dari dua karakter senpai di Klub PKK segala! Tapi kalo aku ditanya akhirnya bagus apa engga, menurutku pribadi, akhirnya termasuk bagus.

Seandainya Seiren dikasih kesempatan lanjut, mungkin saja season keduanya bakal beneran ngejutin.

Legenda Gudang Pompa

Sebagai penutup, ada lumayan banyak karakter yang berperan dalam Seiren. Tapi tiga karakter berikut yang sebenarnya telah direncanakan sebagai heroine untuk season keduanya.

  • Hiyama Miu, siswi pingitan anggota klub renang SMA Putri Sakuragawa Nishi. Masih awam soal berbagai seluk beluk dunia. Dirinya pertama kali diperkenalkan sebagai sesama peserta sekolah musim panas di bab Hikari.
  • Kamizaki Makoto, siswi kelas satu anggota komite disiplin di Kibito. Teman dekat Kyouko. Dirinya tidak terbiasa berkonfrontasi dengan orang. Dia ditampilkan secara menonjol di bab Toru saat hendak mengambil foto di game center. (Ada indikasi kalau dirinya adalah adik perempuan Kamizaki Risa, karakter rahasia di Amagami.)
  • Sanjou Ruise, ketua komite disiplin yang agak galak, sekaligus atasannya Makoto. Dirinya berperan mencolok di bab Kyouko sebagai sosok yang mendorong Klub PKK untuk membuatkan rancangan hiasan.

Selain mereka, juga ada teman-teman dekat Hikari (yang punya hubungan kompleks dengannya). Ada Nagasawa Shiori, teman Moe-nee dan Toru, yang baik hati membantu dalam hal Comima. Lalu ada… dua orang karakter cowok yang seakan menjadi penggemar para cewek cantik di SMA Kibito. (Sayang mereka enggak lebih banyak berperan.)

Selebihnya, para karakter expy: ada Yoshida Mako di sekolah musim panas yang desainnya hampir sama persis dengan Tanaka Keiko, teman dekat Kaoru di Amagami. Lalu dua kakak kelas Uno Koharu dan Tokioka Nao punya sifat dan tampang yang sama persis dengan Yuzuki Ruriko dan Hiba Manaka di Amagami. Mereka bahkan sama-sama jadi anggota Klub PKK?

…Sejujurnya, aku jadi curiga apakah terjadi perubahan naskah secara mendadak menjelang akhir seri.

Akhir kata, bahkan kalau kau tipe yang minat terhadap anime-anime begini, Seiren mungkin terkesan membosankan. Tapi kalau kau bertahan, yah, ada hal-hal di dalamnya yang enggak akan kamu temukan di tempat lain.

Kalau kau fans Amagami, kamu enggak bener-bener perlu mengikuti Seiren. Tapi kalau kau sudah jadi fans Amagami saat mengikuti Seiren, ada sejumlah hal menarik yang bisa tiba-tiba kau sadari selama mengikutinya.

Sekali lagi, anehnya Seiren bukan aneh gila kayak di seri-seri komedi kocak kayak Excel Saga atau Nichijou gitu. Melainkan ‘aneh’ yang sekilas kelihatan normal, tapi saat kamu nyadar, lambat laun bikin kamu “Hah? Haah? HAAAAAAH?!” gitu.

Itu yang membuatnya jadi menarik.

(Di samping itu, aku lebih dari bersyukur bisa mendengar nyanyian Oku Hanako lagi.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: C+; Audio: B-; Perkembangan: B-; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: B+

Busou Shoujo Machiavellianism

In anime on 17/07/2017 at 17:38

Belakangan, waktuku tersita oleh naskah yang aku lagi kerjain.

Tapi belum lama ini, aku masih sempat mengikuti perkembangan anime Busou Shoujo Machiavellianism.

Juga dikenal dengan judul Armed Girls Machiavellianism (‘Machiavellianisme gadis-gadis bersenjata’; buat yang belum tahu, ‘Machiavellianisme’ adalah suatu paham yang digagas filsuf sekaligus ahli sejarah Niccolò di Bernardo dei Machiavelli pada awal abad ke-16, yang intinya membolehkan—dan mungkin bahkan menekankan—kepalsuan, pemaksaan, manipulasi, dan amoralitas untuk tercapainya suatu tujuan). Ini seri komedi romantis aksi bernuansa ilmu bela diri yang didasarkan seri manga karya Karuna Kanzaki. Ceritanya sendiri dipenai Kurokami Yuuya. Diserialisasikannya di majalah bulanan Monthly Shonen Ace milik penerbit Kadokawa Shoten, dan saat ini aku tulis, serialisasinya masih berlanjut.

Adaptasi animenya sendiri dikerjakan studio animasi Silver Link. Tachibana Hideki yang menyutradarai. Hasil akhirnya, mengingat beliau sebelumnya menangani Chaos Dragon, H2O: Footprints in the Sand, dan BlazBlue Alter Memory, menurutku terbilang bagus. Naskahnya dikerjakan oleh Shimoyama Kento. Musiknya ditangani Mizutani Hiromi dari Team MAX.

Ditayangkan pada musim semi tahun 2017, jumlah episodenya sebanyak 12.

(Sebenarnya, ada cerita panjang soal lisensi anime ini dan beberapa judul lain pada musim bersangkutan, tapi mungkin soal itu enggak usah aku ceritain.)

Bertingkah Seperti Burung-burung Kecil

Sekilas, Busou Shoujo Machiavellianism terkesan punya cerita yang enggak penting. …Tapi kalau dilihat secara menyeluruh pun, cerita seri ini memang sebenarnya enggak terlalu penting.

Seorang remaja SMA santai bernama Nomura Fudou dikeluarkan dari sekolahnya yang lama karena meng-KO 40 orang dalam suatu tawuran hebat. Tapi kemudian, dia pindah ke Akademi Simbiosis Swasta Aichi (apa ini bener terjemahannya?) yang prestisius dan berasrama, yang ternyata secara harfiah dikuasai oleh para siswi.

Alasan anak-anak perempuan menguasai sekolah ini adalah karena mereka semua diizinkan membawa senjata. Senjata beneran. Perguruan Aichi sebelumnya adalah sekolah khusus untuk anak-anak perempuan dari keluarga-keluarga terhormat yang baru pada tahun-tahun belakangan menerima siswa laki-laki. Sebagai langkah untuk melindungi kehormatan para siswi, para siswi diizinkan membawa senjata agar bisa menjaga diri dari para laki-laki.

Lalu entah siapa yang memulai, meski resminya murid-murid laki-laki diterima di sekolah ini, selama bersekolah di perguruan ini, mereka diwajibkan berhenti hidup sebagai laki-laki. Dengan kata lain, mereka semua harus hidup sebagai banci.

Nomura (aksen saat menyebut namanya diberikan pada suku kata pertama) jelas tak bisa menerima aturan ini. Meski mengusung moral yang lurus, Nomura juga menjunjung kebebasan lebih dari apapun. Tapi bahkan sebelum penolakannya, karena prestasinya dalam menghajar 40 orang dalam satu tawuran hanya dengan tangan kosong, Nomura telah menarik perhatian kelompok Tenka Goken (Supreme Five Swords, ‘Lima Pedang Terkuat’).

Tenka Goken adalah kelompok penjaga keamanan yang terdiri atas lima siswi paling kuat di Aichi. Selama bertahun-tahun, mereka menjaga harmoni di perguruan Aichi karena dibolehkan menegakkan aturan dengan membawa pedang sungguhan.

Singkat cerita, meyakini Nomura akan berbuat onar, diprakarsai seorang gadis bertopeng bernama Onigawara Rin yang ternyata menjadi teman sekelas Nomura, masing-masing anggota Tenka Goken memulai langkah-langkah mereka untuk mendisiplinkannya. Sementara di sisi lain, Nomura belakangan mengetahui bahwa untuk memperoleh izin pergi ke luar sekolah, ia perlu melengkapi kartu izin dengan stempel dari kelima anggota Tenka Goken. Karena Nomura ingin memperoleh izin untuk bisa bebas keluar, tanpa dapat dihindari, jalan hidup Nomura dan kelompok ini akhirnya berseberangan.

Namun, meski tak bersenjata apa-apa selain sarung tangan berpelindung yang menjadi andalannya, Nomura ternyata seorang ahli bela diri. Dia telah dididik oleh kakeknya sejak kecil dan digembleng oleh kakeknya untuk menguasai suatu ilmu bela diri tertentu. Hasilnya adalah jurus rahasia yang disebut Madan (‘peluru ajaib’), suatu serangan hentakan telapak dahsyat yang dapat dilepasnya dari kedua belah tangan dari posisi apapun.

Seiring dengan bentrokan demi bentrokan yang terjadi, satu demi satu gadis yang berhadapan dengan Nomura juga lambat laun menyadari kalau dirinya ternyata tidak seburuk yang mereka kira…

Catatan-catatan Skandal

Terlepas dari semuanya, para heroine utama seri ini, yang tergabung dalam Tenka Goken, terdiri atas:

  • Onigawara Rin, gadis berambut hitam pendek yang punya ciri khas berupa separuh topeng oni yang hampir selalu menutupi separuh wajahnya. Rin adalah pemimpin tidak resmi dari Tenka Goken, meski ia berada di kedudukan tersebut lebih karena dirinya yang paling punya inisiatif. Pembawaannya galak. Ia juga selalu lurus dan taat peraturan. Tapi dirinya juga punya sisi rendah diri yang membuatnya terkadang ragu terhadap diri sendiri. Dalam bertarung, Rin menggunakan ilmu pedang aliran Kashima Shinden Jikishinkage-ryuu yang mengutamakan ketepatan bentuk yang dipadukan dengan teknik-teknik pernafasan. Pedangnya berupa katana yang dinamai Onimaru. Adik kelas yang paling dekat dengannya adalah Mozunono Nono, yang kagum terhadap Rin dan menggunakan aliran pedang yang sama, tapi untuk pedang pendek jenis kodachi, meski ia sendiri bersenjatakan baton.
  • Kikakujou Mary, seorang gadis pirang rupawan berdarah campuran Jepang-Perancis. Ke mana-mana, ia senantiasa membawa kamus bahasa Jepang. Ia ahli anggar yang agaknya menggabungkan ilmu pedang konvensional dari Barat dengan ilmu pedang Jepang (aliran Jigen-ryuu?). Dalam bertarung, Mary melancarkan serangan-serangan beruntun yang mengincar titik-titik saraf lawan yang juga dipadukan pengendalian jarak yang lihai. Pedang yang digunakannya sejenis rapier, yang mengutamakan gerakan-gerakan tusukan. Sangat cantik dan anggun meski terkadang pemalu. Dirinya juga bisa bersikap licik saat sedang mau. Adik kelas yang dengan setia mengikutinya adalah si burikko, Chouka U. Baragasaki (bukan nama asli), yang menggunakan senjata cambuk.
  • Hanasaka Warabi, anggota paling senior dalam generasi Tenka Goken saat ini, seorang gadis pendek berambut pirang yang memiliki pembawaan seperti bangsawan. Memiliki seekor beruang peliharaan bernama Kyobo. Sebagai anggota senior, Warabi juga memiliki banyak pengikut serta pengaruh luas. Meski semula berkesan kaku dan tanpa ampun, Warabi bisa menjadi pengertian dan sangat bisa diandalkan kalau sudah kenal. Dalam bertarung, Warabi menggunakan aliran pedang Taisha-ryuu yang menonjolkan serangan kejutan dan gerak tipuan. Pedang yang digunakannya kurasa adalah sejenis nodachi.
  • Tamaba Satori, gadis penyendiri berambut gelap panjang dengan tingkah laku sulit ditebak. Dikenal memiliki perangai sangat aneh dan cenderung berbahaya. Matanya yang membelalak membuatnya pikirannya sulit dibaca. Menaruh rasa permusuhan terhadap Nomura bahkan sebelum mereka pertama berhadapan. (Alasannya ternyata karena ia tak terima bila disamakan dengan Morgan Freeman. Ceritanya panjang.) Dalam bertarung, Satori menggunakan gerakan-gerakan bercabang yang sangat sukar ditebak. Ilmu pedang yang digunakannya sedikit spoiler, tapi pada dasarnya ia merangkai bentuk dan gerakan dari berbagai ilmu pedang lain. Pedang yang digunakannya adalah nihontou polos bergagang dan bersarung kayu, tanpa pelindung tangan. Satori punya masa lalu aneh yang menjadi penyebab ia menjadi seperti demikian.
  • Inaba Tsukuyo, seorang gadis mungil serupa kelinci dengan mata buta yang hampir selalu terpejam. Meski demikian, pendengaran Tsukuyo luar biasa tajam. Hanya dengan mendengar sekelilingnya, Tsukuyo bisa mengintepretasi berbagai kejadian yang terjadi di Aichi. Tsukuyo anggota termuda dari Tenka Goken yang masih duduk di bangku SMP, tapi dirinya sekaligus juga yang paling kuat dengan ilmu pedang paling mengerikan. Gerakan-gerakan kilatnya membuat lawan-lawannya tak mampu berkutik. Ilmu pedang yang digunakannya juga sedikit spoiler. Kalau tak salah, pedang yang digunakannya adalah sejenis tachi. Mungkin karena selalu disegani, diam-diam Tsukuyo terkadang kesepian.

Sebenarnya ada satu heroine lagi, yaitu Amou Kirukiru, seorang gadis jangkung berambut panjang dan sangat cantik yang merupakan murid pindahan seperti halnya Nomura.

Amou di masa lalu dikisahkan berhasil menundukkan Tenka Goken saat mereka berupaya mendisiplinkannya. Dirinya satu-satunya murid di Aichi sebelum Nomura yang tidak bisa Tenka Goken kendalikan. Karenanya, Amou kemudian dikenal dengan julukan Joutei (Empress). Motivasi Amou di sepanjang cerita menjadi tanda tanya besar. Pengetahuannya tentang jurus Madan milik Nomura (dan soal bagaimana aksen diberikan pada suku kata pertama di namanya) mengimplikasikan adanya semacam hubungan masa lalu di antara mereka.

Amou adalah praktisi karate aliran Uechi-Ryu yang menekankan pengerasan tubuh. Setiap gerakan tangannya serupa tebasan pedang. Dalam dirinya telah tertanam teknik Auto Counter yang membuatnya mampu membalas setiap serangan yang ditujukan padanya bahkan secara separuh sadar. Dirinya berperan jadi semacam final boss yang harus Nomura hadapi di penghujung cerita. (Belakangan diimplikasikan Amou terobsesi dengan Nomura karena serangan Nomura bisa memberinya rasa sakit, sesuatu yang sudah lama tak dirasakannya karena sudah lama mati rasa.)

“Buriburi! Buriburi!”

Sekali lagi, Busou Shoujo Machiavellianism itu… aneh.

Garis besar ceritanya enggak penting. Meski ada aksinya, genrenya yang utama sebenarnya adalah komedi romantis. Tapi romansa yang ada di dalamnya enggak bisa dibilang berat juga. Latar ceritanya terkadang sureal. Perkembangan karakternya terkadang mengangkat alis, dan cenderung konyol. Tapi… ada sesuatu tentangnya yang sulit dijelaskan, yang membuatnya berakhir lebih bagus dari dugaan.

Intinya: siapa sih yang nyangka seri tentang cowok yang berantem dengan cewek-cewek semata-mata agar dapet izin buat bisa keluar sekolah akan meninggalkan kesan sedemikian kuatnya tentang persahabatan dan pemahaman jati diri?

It’s weird.

Komedinya, meski benar-benar aneh, sebenarnya lumayan lucu. Jenisnya lebih ke komedi situasi yang lebih berbasis percakapan ketimbang slapstick. Jenis yang lebih mengandalkan interaksi karakter. …Meski memang perkembangan situasinya terkadang absurd.

Walau enggak sampai mengangkat hal-hal pseudo-filosofis seperti berbagai seri bela diri sekolahan lain, di luar dugaan, tetap ada nilai-nilai berbobot yang tersampaikan di ceritanya juga. Ada soal prasangka, ada soal kesetiakawanan. Ada juga soal kerja keras dan pemahaman diri sendiri/penerimaan orang lain.

Iya sih. Ini seri fanservice. Tapi implementasi berbagai elemennya benar-benar efektif. Perkembangan ceritanya juga selalu menarik dan tak selalu gampang ditebak.

Kalau kekurangan, adegan-adegan aksinya lumayan low key sih. Koreografinya sangat sederhana. Sama sekali tidak wah.  Bagaimanapun, ceritanya memang lebih menonjolkan aspek komedi romantisnya. Tapi di sisi lain, seperti ada semacam ‘keaslian’ dalam teknik-teknik bela diri yang digunakan di dalamnya juga.

Makanya, ini aneh.

Awalnya lucu melihat gadis-gadis manis ini melancarkan gerakan-gerakan bela diri yang mungkin saja benar-benar ada di kehidupan nyata. Tapi kalau kau bisa melihat melewati kesan awalnya, kau mungkin bakal ngerasa kalau karakter-karakter di dalamnya itu menarik.

Nomura terutama berhasil mencuri perhatian sebagai karakter utama. Meski lagaknya santai dan semaunya, dia setiakawan dan kuat. Tipe yang tak keberatan bersusah-susah selama itu masih sejalan dengan prinsipnya. Prinsipnya itu yang menggerakkan dia (meski, sekilas, prinsipnya itu kayaknya bener-bener enggak penting) dari awal sampai akhir. Lalu aku terkesan pada gimana dia mengkomunikasikan prinsip itu ke orang lain, menunjukkan posisinya di mana, membuat orang lain ngehargain dia sebagaimana halnya dia juga ngehargain orang lain.

Intinya, dia karakter yang lebih dalam dari yang sekilas terlihat.

Bukti Aku Ada di Sini

Bicara soal teknis, seri ini punya nilai-nilai produksi yang solid.

Visualnya menonjolkan permainan warna-warna cerah dan efek-efek pudar dengan animasi cukup solid. Mungkin kau tak cocok dengan gaya desain karakternya. Tapi secara umum, visual seri ini beneran bagus. Pada setiap adegan aksi, perubahan ekspresi para karakter di luar dugaan menjadi hal yang sangat diperhatikan dan hampir selalu menyiratkan banyak hal.

Dari segi audio, Mizutani-san memberikan good job. BGM-nya keren. Kebanyakan seiyuu-nya juga adalah seiyuu yang belum aku kenal. Tapi kesemuanya menurutku memberikan performa brilian. Mereka berhasil membuat setiap karakter terasa hidup seaneh apapun mereka. Mulai dari tawa khas Warabi sampai nada bicara Satori yang psikopatik, itu juga termasuk teman-teman seasrama Nomura seperti Masuko. Itu lengkap pula dengan nuansa terselubung untuk hal-hal yang semula tak tampak di permukaan.

Aku benar-benar kaget karena sampai dibuat ingin tahu perkembangan seri ini. Soalnya, meski mengetengahkan aksi bela diri, manganya termasuk jenis yang punya dialog banyak. Gimana ya? Jenis yang kesan awalnya sama sekali berbeda dari kesan akhirnya.

Cerita di animenya sendiri berakhir tuntas sih. Kesan akhirnya juga cukup kuat. Tapi yea, manganya masih berlanjut. Ada sejumlah tokoh baru menjelang akhir yang juga sempat ditampilkan sebagai teaser.

Aku tak tahu apa aku akan berkesempatan buat tahu lanjutannya atau tidak sih. Meski animenya terbilang baik, aku tidak melihat gelagat akan dibuatnya season dua soalnya.

Akhir kata, kamu mungkin bisa mendapatkan sesuatu dari seri ini. Mungkin kamu awalnya enggak akan ngerti karena terselubung. Mungkin itu sesuatu yang sederhana dan enggak penting. Tapi itu tetap sesuatu yang bisa kamu ambil.

Ah, pastinya lagu penutup dan pembukanya keren. Terutama lagu penutup “DECIDE” yang dinyanyikan para seiyuu Tenka Goken. Itu lagu yang sederhana, tapi pas banget dengan nuansa seri ini. Aku jadi berharap Tenka Goken sebagai grup musik bakal bisa terus berkarya.

(Uh, buat kalian yang masih bingung dengan arti judulnya, ringkasnya itu tentang bagaimana Nomura menyikapi pendekatan paksa menghalalkan segala cara ala Machiavelli dari para gadis yang mencoba mendisiplinkannya. Perlu kuakui, judulnya sangat menarik perhatian.)

Penilaian

Konsep: C; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A

Saenai Heroine no Sodatekata Flat

In anime on 28/06/2017 at 06:57

Saenai Heroine no Sodate-kata Flat, atau Saekano: How to Raise a Boring Girlfriend Flat (‘flat’ di judulnya kerap ditulis dalam lambang notasi musik ‘flat note’ atau mol, ♭) adalah musim tayang kedua anime drama komedi romantis Saekano.

(Bahasan season pertama di sini.)

Ceritanya sekali lagi diadaptasi dari seri light novel karangan Maruto Fumiaki (White Album 2) yang diilustrasikan oleh Misaki Kurehito dan diterbitkan Fujimi Shobo. Produksinya dilakukan studio animasi A-1 Pictures. Sutradara anime ini kembali adalah Kamei Kanta (Oreshura). Naskahnya kembali ditangani oleh Maruto-sensei sendiri. Musiknya kembali ditangani Hyakkoku Hajime. Berjumlah total 12 episode (termasuk episode 0 enggak penting yang menjadi prolog, seperti di season sebelumnya), anime ini tayang pertama kali di musim semi tahun 2017.

Sebenarnya, aku lumayan terkejut pas sekuel ini diumumkan. Enggak biasa ada seri ranobe drama romantis—apalagi yang bertema harem—diangkat jadi anime sampai dua kali.

Kalau kupikir, mungkin ini berhubungan dengan bagaimana seri ranobenya sudah mau tamat. Ceritanya akan tuntas dalam 13 buku (ditambah tiga buku Girl’s Side yang berstatus gaiden), dengan buku terakhir dijadwalkan keluar sekitar bulan Juli ini. Lalu season pertama animenya memang cukup sukses untuk menghadirkan sekuel.

Episode-episode awalnya, kayak season sebelumnya, punya konten cerita yang minim. Sifatnya lebih seperti fanservice yang berkesan filler. Tapi kalau kau mengikuti perkembangannya, menurutku pribadi, ini seriusan salah satu anime drama romansa terbagus yang aku tahu.

Kejantanan yang Patut Dipertanyakan

Buat kalian yang lupa, Saekano bercerita tentang obsesi remaja SMA otaku Aki Tomoya dalam membuat game komputernya sendiri. Ini terjadi sesudah Tomoya terinspirasi pertemuan tidak sengaja dengan Katou Megumi, gadis minim ekspresi yang ternyata adalah teman sekelasnya sendiri.

Sesudah mengumpulkan sejumlah teman (perempuan) berbakat (yang sedikit banyak ternyata punya semacam hubungan masa lalu dengannya), Aki membentuk grup doujin (circle) Blessing Software, yang membidik untuk merilis game indie buatan mereka sendiri di ajang Comic Market (Comiket) musim dingin (Fuyucomi) pada tahun tersebut.

Pada penghujung season sebelumnya—yang mengambil rentang waktu antara akhir musim semi ke awal musim gugur—semua anggota yang mereka perlukan telah terkumpul. Lalu meski dikejar waktu, draft pertama cerita telah berhasil mereka coba masukkan ke bentuk game. Season pertama anime ini kurang lebih mencakup seperempat pertama dari cerita di novelnya, yakni dari sekitar buku 1-4.

Saekano Flat melanjutkan cerita dari latar musim gugur ke musim semi tahun berikutnya. Ajang Fuyucomi menjadi klimaks di pertengahan seri. Musim tayang yang ini kira-kira mencakup… cerita buku 5-7 dari novelnya, tapi lebih banyak soal ini akan kusinggung nanti.

Kalau boleh aku sajikan dalam bentuk poin agar tak terlalu spoiler, bahasan utama musim ini meliputi:

  • Awal mula konflik(?) antara Kasumigaoka Utaha (penulis) dan Sawamura Eriri Spencer (ilustrator). Tomoya tak sadar kalau konflik itu dipicu oleh hubungan yang keduanya punyai dengan dirinya. (Aku dengar ini aslinya salah satu cerita di seri novel Saekano: Girl’s Side.)
  • Pernyataan perang dari dua teman lama Tomoya, Hashiba Iori dan adik perempuannya, Hashiba Izumi. Mereka kini bernaung di bawah circle Rouge en Rouge pimpinan tokoh besar di dunia doujin, Kosaka Akane, yang menjadi saingan grup Tomoya. Mereka juga hendak mengembangkan game yang bertema sama dengan game yang Tomoya dan kawan-kawannya akan buat.
  • Bagaimana draft cerita final buatan Utaha-senpai menjadi dilema pribadi menjelang kelulusannya dari sekolah. Di dalamnya, Utaha ternyata telah memasukkan cerminan perasaan terpendamnya terhadap Tomoya.
  • Tentang sisa ilustrasi yang perlu Eriri buat. Eriri kesulitan menyelesaikannya karena ia jadi membebani diri sendiri dengan pengharapan Tomoya terhadapnya.
  • Kelanjutan Blessing Software seusai berakhirnya Fuyucomi, dan apa rencana mereka ke depan…

Sejujurnya, agak susah menilai Saekano secara objektif. Ceritanya dengan sengaja bernuansa meta (dengan beberapa kali seakan mendobrak ‘tembok keempat’). Di samping itu, konflik yang diangkatnya lumayan multidimensi. Ada soal bisnis, soal pekerjaan, soal karya, soal cinta, soal ideologi, soal persahabatan. Lalu secara konsisten, itu pun masih diselipi bumbu-bumbu komedi yang bisa membuatnya terkesan enggak serius. (Oh, ada juga bumbu fanservice yang banyak. Tapi oke, itu enggak penting.)

Untuk aspek-aspek individu, season ini menonjolkan makin matangnya Tomoya dan Megumi sebagai pasangan sutradara sekaligus produser. Mereka membuat perencanaan, mereka berkomunikasi dengan anggota-anggota tim.

Di bawah bimbingan Utaha-senpai dan Eriri, Megumi dikisahkan juga sudah jadi semakin cantik mirip heroine.

Dipaparkan lebih lanjut juga perkembangan hubungan Megumi dan Tomoya dengan orang-orang di sekeliling mereka. Persahabatan Megumi dengan Eriri. Hubungan ketergantungan Utaha terhadap Tomoya. Berbagai kelemahan Tomoya ditampakkan. Ditampakkan juga bagaimana Tomoya berusaha memperbaiki diri.

Sisi lemah musim ini… mungkin salah satunya pada bagaimana Hyoudo Michiru (yang menangani musik) tak banyak disorot. Bahkan Hashiba Izumi-chan yang bukan (belum) menjadi bagian Blessing Software rasanya kebagian porsi cerita lebih banyak.

Jadi, ada banyak hal di dalamnya yang bisa kau sukai, tapi ada banyak hal yang bisa kau enggak sukai juga.

Buatku pribadi sih, mungkin aku suka semua? Yea, aku agak terganggu dengan bagaimana para ceweknya bisa sedemikian frontal terhadap Tomoya sih. Man, cewek itu nakutin. Tapi secara umum, dan secara teknis terutama, seri ini menurutku masih benar-benar bagus. Pantesan aja basis penggemarnya kuat.

Dibanding season sebelumnya, Saekano Flat menyajikan pusaran konflik yang lebih dalem. Bener kata mereka. Dramatis, tapi enggak bener-bener berlebihan. Lalu bumbu-bumbu komedinya itu! Bahkan dalam kondisi demikian, komedinya masih aja berhasil membuatku ketawa.

Berada di Sisimu Paling Lama

Bicara soal teknis, aku sempat bingung di awal; nuansa cerah penuh warna di animasi pembuka season sebelumnya tergantikan nuansa lebih kelabu. Tapi kemudian aku sadar, nuansa warna-warninya sebenarnya masih ada, hanya saja ditampilkan lewat pemakaian sejumlah filter. Dikombinasikan alunan vokal merdu Haruna Luna, yang kembali untuk membawakan lagu pembuka (kali ini berjudul “Stella Breeze”), kesannya lama-lama beneran bagus. Hal tersebut juga seakan mempertegas nuansa serius yang musim ini bawakan. Cara para heroine ditampilkan dalam berbagai pose dan ekspresi benar-benar bagus. Kerennya, ada tiga versi dari animasi pembuka ini. Masing-masing menampilkan perubahan gaya rambut Megumi sesuai perkembangan cerita.

(Aku tetap agak kecewa enggak ada lagu baru dari Sawai Miku sebagai penutup. Tapi ya sudahlah.)

Terlepas dari pembukanya, visualnya secara umum juga masih tajam. Ada banyak latar tempat menarik yang ditampilkan. (Kalau dipikir, benar-benar seperti di galge?) Para karakternya juga ditampilkan benar-benar ekspresif.

Dari segi audio, Hyakkoku-san dari F.M.F. kembali menampilkan good job dengan membawakan aransemen yang menyerupai nuansa BGM dalam game-game galge populer. Secara umum, ini masih tak beda dibandingkan season lalu. Tapi berhubung banyaknya perkembangan karakter yang terjadi kali ini, hal tersebut layak disebut. Para seiyuu juga memberi performa bagus.

(Aku ingin bahas lebih banyak soal para seiyuu, tapi enggak ada kata-kata bagus terpikirkan. Matsuoka Yoshitsugu sebagai Tomoya masih benar-benar berkesan dengan ekspresi-ekspresi maniaknya. Demikian juga Yasuno Kiyono sebagai Megumi dengan berbagai ekspresi tersamarnya.)

Dari segi eksekusi… Kamei-san menurutku semakin handal mengarahkan cerita. Memang, ada banyak adegan yang sifatnya komedi dan cenderung plesetan (ada satu referensi bagus terhadap seri anime Monogatari produksi studio SHAFT). Tapi adegan-adegan di Saekano Flat jenisnya sangat beragam. Latar ceritanya juga makin banyak. (Terutama perhatikan banyaknya referensi terhadap seri-seri anime keluaran Aniplex di kamar Tomoya.) Lalu beliau berhasil memaparkan kesemuanya dengan benar-benar brilian.

Hasilnya secara teknis beneran bagus.

Dari segi presentasi, Saekano Flat bener-bener enak dilihat.

Hanya saja, kalau eksekusi yang berhubungan soal naskah… agaknya, itu sempat menjadi perdebatan. Maruto-sensei sendiri memang yang menangani naskahnya (agaknya, para penggemar pun kerap lupa soal ini). Tapi ceritanya kudengar berkembang lumayan berbeda kalau dibandingkan versi novelnya.

Jadi, kalau memakai versi novel sebagai acuan, cerita Saekano terbagi jadi dua bagian besar. Pertama, bagian cerita sebelum game mereka, Cherry Blessing, dirilis di Fuyucomi. Habis itu, paruh cerita kedua sesudahnya, ketika grup mereka sedikit banyak sudah meraih perhatian.

Kebanyakan fans novel sepakat bahwa di paruh kedua cerita versi novel inilah, cerita Saekano mengalami penurunan kualitas signifikan, walau nanti jadi bagus lagi ke sananya.

Sesudah Fuyucomi, selepas kelulusan Utaha-senpai, ceritanya ada perkembangan gede yang terjadi. Jalan hidup para karakternya jadi bercabang.  Lalu di novel, ini berujung pada konflik berkepanjangan antara Megumi dan Eriri yang jadi banyak disorot. (Ada sejumlah penggemar sempat berpendapat kalau karakterisasi para tokoh sampai diubah terlalu jauh.) Hanya saja, versi anime ini menghindari potensi konflik tersebut. Entah siapa yang mengambil keputusan, tapi Saekano Flat memilih resolusi lebih sederhana. Akhir ceritanya juga lebih terbuka.

Akibatnya, meski menutup cerita secara rapi, bagian akhir anime ini jadinya enggak sebagus bagian tengahnya. Di samping itu, kesan menggantungnya juga masih sedikit ada. Masih bagus sih. Tapi enggak sememuaskan yang mungkin kau harapkan.

Sakura Diaries

Akhir kata, kurasa Saekano Flat lagi-lagi anime harem yang sebenarnya lebih cocok buat kalian yang sudah dewasa. Hanya saja, porsi dramanya yang bagus membuatnya jauh lebih berbobot dari yang pertama terlihat.

Ada anekdot yang kudengar sempat beredar di sekitar tahun 2015. Konon, awalnya, kalau dilihat dari aspek novelnya saja (sebelum animenya dibuat), urutan popularitas para tokoh utama wanita adalah Utaha-senpai > Eriri > Megumi. Tapi sesudah animenya tayang, kedudukan Megumi langsung melejit di kalangan fans, mengubah urutannya menjadi: Megumi > Utaha-senpai > Eriri.

Dengan kata lain, season pertama anime Saekano setidaknya sukses memberi konteks soal Megumi orang seperti apa. Para penggemar jadi lebih paham apa yang Maruto-sensei maksudkan tentangnya gitu.

Soal ‘konteks’ itulah yang diperkuat lagi di musim ini. Meski situasi ‘berbahaya’-nya masih lumayan banyak, situasi-situasi yang bikin terenyuh masih banyak juga. Kau tahu, bagaimana semua tokoh utama perempuannya punya alasan kuat buat mencintai Tomoya? Hal-hal tersebut digali lebih dalem. Walau segalanya berakhir agak menggantung, tetap puas rasanya melihat bagaimana paruh pertama cerita di novelnya akhirnya tersampaikan.

Yea. Dengan kata lain lagi, terlepas dari hasil akhirnya, ini sekuel yang lagi-lagi terbilang sukses. Yea, aku puas. Ada pelajaran sangat berharga soal ‘berkarya’ juga di dalamnya.

Para produsen mungkin memberi tulisan ‘tamat’ di akhir ceritanya. Tapi sebagaimana yang para karakternya sendiri implikasikan (secara meta di episode terakhir), usaha mereka baru dua pertiga jalan. Mereka baru mau mencapai babak-babak akhir dari ‘cerita’ untuk menggapai cita-cita mereka yang sesungguhnya. Jadi meski kemungkinan diproduksinya lebih kecil dibanding dulu, materi untuk season ketiga sebenarnya masih bisa diperjuangkan.

Hei. Aku pribadi juga berharap animenya ada kelanjutannya.

Ceritanya sudah terlanjur beda dari novelnya sih.

(Buat kalian yang penasaran soal siapa yang akhirnya Tomoya pilih, di buku 12, dia menyatakan perasaannya pada Megumi. Pada akhirnya, mungkin memang Megumi yang paling memahami dia sih.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A+; Audio: A-; Perkembangan: B+; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A-

Anime Baru Musim Panas 2017

In anime, lists & seasonal previews on 16/06/2017 at 21:59

Aku banyak baca light novel ketimbang mengikuti anime dan manga belakangan. Selain pengaturan waktunya lebih fleksibel, membaca LN lebih efektif buat menenangkan pikiran.

Lalu tahu-tahu, tanpa terasa musim sudah mau ganti lagi. Seseorang mengingatkan agar aku mengupdate blog. Kayak musim sebelumnya, ada banyak judul baru. Aku sempat agak panik. Ada beberapa yang menonjol, tapi kurasa ini bukan musim yang bisa dibilang nge-hype. Pastinya, sejumlah studio animasi baru atau minor mulai banyak tampil di musim ini.

Seperti biasa, daftar ini enggak terlalu bisa diandalkan.

Nanti aku sesuaikan kalau ada kabar-kabar lagi.

18if (Gonzo)

Tsukishiro Haruto terbangun di dalam dunia mimpi. Di sana, Haruto melihat gadis misterius bernama Lily, yang belakangan diketahui ternyata hanya bisa dilihat olehnya saja. Fenomena dunia mimpi yang melanda itu rupanya sedang didalami Kanzaki Katsumi, seorang peneliti. Mendengar tentang kemampuan Haruto untuk melihat Lily, sehubungan desas-desus adanya sosok penyihir di dunia tersebut, Kanzaki kemudian meminta Haruto untuk membantu penyelidikannya.

Animator veteran Morimoto Koji (Magnetic Rose, Ai Monogatari) akan mengawasi seri ini dan setiap episodenya akan ditangani oleh sutradara berbeda. Nuansa dan pendekatan per episodenya diyakini bakal beragam. Naskahnya akan ditangani oleh Tomioka Atsuhiro (Zombie-Loan, Ace Attorney) dengan musik dikomposisi Abe Ryuudai. Anime ini bagian dari waralaba multimedia yang dikembangkan GameSamba. Untuk Android, ini adalah game puzzle berjudul 18: Dream World. Meski kesanku terhadap keluaran Gonzo cenderung campur aduk (kadang mereka terlalu eksperimental), seri ini membuatku tertarik. Mungkin karena temanya tentang dunia mimpi.

Koi to Uso (LIDEN FILMS)

Di masa depan, pasangan pernikahan di Jepang ditentukan oleh pemerintah begitu seseorang menginjak usia 16 tahun. Dengan demikian, setiap orang tak perlu lagi bersusah payah mencari jodoh. Semua orang yakin pemerintah bisa mencarikan jodoh yang tepat bagi mereka. Nejima Yukari adalah remaja usia 15 tahun yang biasa-biasa saja. Tapi di dunia di mana kebohongan terlarang dan cinta lebih terlarang lagi, Nejima menyimpan kobaran cinta yang membara di dadanya.

Juga berjudul Love and Lies, ini diangkat dari seri manga drama romansa karangan Musawo Tsumugi. Takuno Seiki (Poco’s Udon World, Sekkou Boys) akan menyutradarai, dengan naskah dikomposisi oleh staf veteran Takahashi Natsuko. Seperti yang bisa ditebak, fokus utama cerita ada pada cinta segitiga antara Nejima dengan gadis yang disukainya dan gadis yang dijodohkan padanya. Ada banyak hal tentang ceritanya yang bikin enggak nyaman. Visualnya juga mungkin kurang berkesan. Tapi banyak juga yang sepakat kalau ceritanya menarik karena perkembangannya kerap… enggak biasa.  Ada lumayan banyak orang merekomendasikan seri ini, walau ini bukan termasuk seri yang menonjol. Belum lama ini, seri ini juga diangkat jadi film live action layar lebar, dengan premis serupa tapi karakter-karakter utama berbeda. (Cinta segitiga di film antara dua cowok dan satu cewek.)

Keppeki Danshi! Aoyama-kun (STUDIO HIBARI)

Aoyama adalah siswa kelas satu yang merupakan striker andalan dari tim sepakbola SMA Fujimi. Dengan kehandalannya, dia bahkan telah mewakili tim U-16 Jepang sebagai pemain tengah. Namun untuk suatu alasan, Aoyama sangat terobsesi dengan kebersihan. Maka dari itu, dia selalu menolak menyerodot atau menyundul bola.

Juga dikenal dengan judul Cleanliness Boy! Aoyama-kun, ini seri komedi(?) yang didasarkan pada seri manga seinen karangan Sakamoto Taku. Ichikawa Kazuya (Monster Strike the Animation, Tantei Team KZ Jiken Note) akan menyutradarai. Naskah akan ditangani Gotou Midori (The Empire of Corpses). Kesan awalnya agak membingungkan, tapi desain karakternya yang dibuat Matsuura Arisa menurutku benar-benar menarik. Kualitasnya sejauh ini kelihatannya bakal solid.

Isekai wa Smartphone to Tomo ni (Production Reed)

Mochizuki Touya, remaja berusia 15 tahun, terbangun sesudah kecelakaan aneh yang melibatkan halilintar. Berhadapan muka langsung dengan Dewa, Dewa meminta maaf karena tak sengaja menewaskan Touya. Tapi Dewa lalu menawari untuk menghidupkan Touya kembali di suatu dunia fantasi, berhubung Touya tak lagi bisa dihidupkan di dunia asalnya. Untuk membantu, Touya diperbolehkan membawa serta smartphone-nya, yang berbagai aplikasi dan fiturnya telah ditingkatkan Dewa dengan kemampuan-kemampuan istimewa.

Diangkat dari seri novel karangan Fuyuhara Patora dan diilustrasi Usatsuka Eiji, ini jenis seri isekai sangat ringan yang lumayan populer di Jepang. Yanase Takayuki (Himegoto, Onsen Yousei Hakone-chan) akan menyutradarainya dengan Takahashi Natsuko (Ore Monogatari!!) menangani naskah. Ceritanya lumayan konyol dengan tawa, air mata, dan lumayan banyak karakter perempuan. Kayaknya ini jenis seri yang bakal tetap diperhatikan sekalipun kualitasnya biasa-biasa saja. Sejauh ini, gelagatnya tak jelek meski juga tak menonjol. Kurasa ini proyek anime seri TV standar pertama yang studionya prakarsai.

Action Heroine Cheer Fruits (diomedea)

Hinano adalah wilayah damai yang mengembangkan pertanian buah-buahan. Tapi pada tahun-tahun belakangan, kota tersebut seakan kehilangan vitalitasnya. Siswi SMA Shirogane Misaki, atas desakan bibinya yang menjabat sebagai gubernur perfektur, kemudian mengumpulkan sejumlah gadis lain. Bersama-sama, mereka membentuk kembali unit idola heroine lokal yang bertahun-tahun silam pernah tenar, demi membangun kota mereka kembali.

Ini seri idol baru yang bernuansa pahlawan pejuang kebenaran. Visual dan konsep karakternya sama-sama kuat. Kusakawa Keizou (Kancolle) yang akan menyutradarainya. Arakawa Naruhisa (Kingdom, Twin Star Exorcists) akan menangani naskahnya. Berhubung ini anime orisinil (dan juga karena kecendrungan aneh dari studionya) kualitas ceritanya sendiri menurutku masih jadi tanda tanya besar. Terlepas dari itu, kombinasi pendekatan ‘pahlawan’ sekaligus pertanian buah sangat potensial. Mudah-mudahan hasilnya bagus.

Fate/Apocrypha (A-1 Pictures)

Pada penghujung Perang Dunia II, keluarga penyihir Yggdmillenia mengkhianati Mages’ Association dan mencuri infrastruktur ritual Cawan Suci dari kota Fuyuki. Berpuluh tahun sesudah itu, ritual Perang Cawan Suci akan kembali dilakukan, tapi para perwakilan Mages’ Association takkan membiarkan pihak Yggdmillenia begitu saja. Memanfaatkan sisa kekuatan alam di Fuyuki, tujuh pasangan Master-Servant tambahan kemudian disiapkan. Perang Cawan Suci Agung antara 14 pasangan Master-Servant tersebut akhirnya akan pecah di Trifas, Eropa Tengah. Namun, karena ini kejadian yang belum pernah terjadi dalam sejarah, banyak insiden tak terduga kemudian terjadi.

Diangkat dari seri novel berjudul sama karangan Higashide Yuichiro yang diilustrasikan Konoe Ototsugu, mengadaptasi konsep populer yang dicetuskan oleh Type-Moon, ini salah satu anime baru paling ditunggu di tahun ini. Staf veteran Asai Yoshiyuki akan menyutradarainya. Naskahnya akan ditangani Higashide-sensei sendiri. Musiknya ditangani Yokoyama Masaru yang benar-benar sudah naik daun. Meski ini mungkin bukan judul pas untuk masuknya penggemar baru ke waralaba Fate, seri ini punya kesan kuat sejauh ini. Terutama karena jumlah karakternya banyak, mudah-mudahan jumlah episodenya cukup untuk menghasilkan penceritaan bagus.

Nana Maru San Batsu (TMS Entertainment)

Koshiyama Shiki, seorang siswa baru yang kutu buku, tak suka menjadi pusat perhatian. Tapi dia diminta jadi peserta Kompetisi Kuis Siswa Baru di SMA Bunzo. Sudah begitu, dia selalu kalah cepat menjawab dari Fukami Mari, teman sekelasnya. Tapi lambat laun, sesudah mengamati Mari, Shiki mulai menyadari ada cara-cara tertentu yang bisa digunakannya untuk menebak jawaban. Wawasan Shiki berkembang saat ia bertemu para anggota Klub Kuis, dan menjumpai Mikuriya Chisato yang menjadi rivalnya.

Juga dikenal dengan judul 7O3X Fastest Finger First, ini diangkat dari seri manga bertema kuis karangan Sugimoto Iqura. Ini seri tak biasa yang sekilas terkesan tak menonjol. Tapi ini punya potensi untuk berkembang jadi menarik kalau kau perhatikan. Oozora Masaki (12-Sai: Chiccha na Mune no Tokimeki) akan menyutradarainya. Kakihara Yuuko (Orange) akan menangani naskah. Musiknya secara mencolok akan ditangani Hyakkoku Hajime (Saekano, K-ON!).

Ballroom e Youkoso (Production I.G.)

Fujita Tatara adalah remaja biasa yang merasa tak punya keistimewaan. Ia kerap diperas berandalan karena tak punya nyali. Hingga suatu hari, ia ditolong seorang pria tampan bernama Sengoku Kaname. Kaname ternyata adalah penari ballroom professional yang sedang mencari murid untuk les. Terpikat pada dunia dansa ballroom, kehidupan Tatara takkan sama lagi.

Juga dikenal dengan judul Welcome to the Ballroom, ini seri olahraga yang mengetengahkan kompetisi dansa profesional. Diangkat dari manga karya Takeuchi Tomo, gaya visualnya yang hiper-realistik mungkin perlu dibiasakan. Tapi sejauh yang aku tahu, ini seri intens dan berdarah panas. Persaingan antar karakternya benar-benar keras. Itazu Yoshimi akan menyutradarai berdasarkan naskah buatan Suemitsu Kenichi. Aku berharap hasilnya bagus.

Battle Girl High School (SILVER LINK.)

Di tahun 2045, dunia telah terkontaminasi penyerang misterius bernama Irousu. Manusia kini terkungkung dan terkurung. Tapi menghadapi makhluk-makhluk ini dengan berani adalah Hoshitsuki Miki dan kawan-kawannya, gadis-gadis remaja biasa di Akademi Putri Shinjugammine, di mana para Hoshimori dilatih untuk menghadapi takdir mereka dalam mengalahkan Irousu.

Anime ini diangkat dari game ponsel yang dikembangkan COLOPL. Akitaya Noriaki (Bakuman, Joukamachi Dandelion) akan menyutradarai. Naskah akan ditangani Kuroda Yousuke (Gundam Build Fighters). Aku masih kurang tahu tentang seri ini. Biasanya, adaptasi dari game seperti ini kurang meyakinkan. Tapi staf produksi di balik yang satu ini terbilang kuat. Mungkin seri ini akan menjadi kejutan? Ada elemen idol di dalamnya yang juga kuat.

Chronos Ruler (project No.9)

Saat manusia menyesal, mereka kerap berharap bisa memutar balik waktu. Namun ketika manusia berharap bisa memutar balik waktu, makhluk-makhluk pemakan waktu akan hadir. Saat makhluk-makhluk pemakan waktu hadir, Victor Alexandervich Putin dan para Chronos Ruler lain juga akan muncul untuk membasmi mereka dengan kemampuan memanipulasi waktu.

Dikenal juga dengan judul Jikan no Shihaisha, ini diangkat dari manga karya ilustrator Taiwan, PONJEA. Matsune Masato (Chaos Dragon) yang akan menyutradarainya. Tapi beliau juga didukung Yokote Michiko (Shirobako, Handa-kun) dan Yoshino Hiroyuki (Seikon no Qwase). Keluaran-keluaran project No. 9 punya kualitas produksi yang tinggi belakangan, dan judul ini pun sama. Adegan-adegan aksinya meyakinkan. Terlepas dari ceritanya nanti, seri ini bisa menonjol berkat adegan-adegan aksinya saja.

Centaur no Nayami (Emon)

Kimihara Himeno adalah seorang gadis centaur remaja dengan kepribadian pemalu dan lembut. Dia berteman dekat dengan Gokuraku Nozomi, gadis naga yang tangguh, dan Naraku Kyouko, gadis bertanduk yang cool. Bertiga, mereka menjalani kehidupan sekolah bersama teman-teman mereka sesama makhluk supernatural dan menghadapi berbagai persoalan remaja.

Juga dikenal dengan judul A Centaur’s Life atau Centaur’s Worries, ini diangkat dari seri manga karya Murayama Kei. Oizaki Fumitoshi (Aokana, Etotama) akan menjadi sutradara umum dengan Konno Naoyuki (togainu no chi – Bloody Curs) yang menyutradarainya secara langsung. Komposisi seri akan ditangani Machida Touko. (Kurasa beliau sibuk musim ini.) Aku merasa aneh dengan keluarnya seri ini sekarang. Tapi secara teknis, seri ini kelihatannya tak ada masalah.

DIVE!! (Zero-G)

Mizuki Diving Club terancam tutup karena masalah finansial. Tapi pelatih mereka, perempuan bernama Asaki Kayoko, berhasil bernegosiasi dengan perusahaan induk pemilik MDC untuk mempertahankan klub lompat indah itu, asalkan tahun depan salah satu anggotanya bergabung dengan tim Olimpiade Jepang. Saat itulah, takdir Sakai Tomoki dan teman-temannya berubah.

Anime ini diangkat dari seri novel remaja karya Mori Eto yang sudah ada lumayan lama, dan sudah diangkat ke bentuk film live action serta manga. Visualnya memang menonjolkan pria-pria muda dengan bentuk fisik berkualitas; tapi ceritanya sendiri kudengar lumayan berbobot. Suzuki Kaoru (Pupipou!) yang akan menyutradarai, dengan naskah yang ditangani Machida Touko (Lucky Star, Endride). Musiknya akan ditangani Hayashi Yuuki (Kiznaiver, Boku no Hero Academia). Gelagatnya sejauh ini terbilang bagus. Seri ini akan tayang di blok Noitamina musim ini.

Made in Abyss (Kinema Citrus)

Jaringan jurang dan gua yang dikenal sebagai Abyss adalah satu-satunya tempat yang belum terjelajahi di dunia. Berbagai makhluk ganjil dan ajaib bisa ditemukan di sana, bersama berbagai peninggalan berharga yang tidak lagi bisa diciptakan di masa sekarang. Cave Raider adalah sebutan bagi para penjelajah Abyss. Seorang anak perempuan yatim piatu bernama Rico tinggal di kota di tepi Abyss. Dirinya bercita-cita untuk bisa menjadi Cave Raider seperti mendiang ibunya. Suatu hari, dalam penjelajahannya, ia menemukan robot yang berbentuk menyerupai anak laki-laki.

Disutradarai Kojima Masayuki (Black Bullet) dengan naskah yang dibuat Kurata Hideyuki (Samurai Flamenco, TWGOK), ini diangkat dari manga karya Tsukushi Akihito. Gaya desain karakternya imut, tapi penggambaran dunia latarnya cukup megah. Ceritanya mungkin akan berkembang ke arah yang aneh. Tapi menurutku, ini bakal jadi seri petualangan yang solid. Musiknya akan ditangani oleh Kevin Penkin (Norn9, Under the Dog). Meski tak menonjol, ada kalangan penggemar tertentu yang cukup menunggu seri ini dengan antusias.

Clione no Akari (drop)

Minori adalah gadis yatim piatu yang kerap ditindas di sekolah. Suatu hari, ia terkena sakit parah. Sesudah suatu hari berhujan, Minori tidak lagi masuk sekolah karena konon dirawat di rumah sakit di kota yang jauh. Dua bulan sesudah itu, dua teman sekolah Minori yang benar-benar peduli padanya, Takashi dan Kyouko, menerima email misterius dari pengirim tak diketahui. Email itu memberitakan tentang suatu festival musim panas di kota tetangga…

Seri ini diangkat dari novel web berilustrasi karangan Natural-Rain. Ishikawa Naoya dari Ishikawa Pro (Kuttsukiboshi, Magical Chocolate) akan menyutradarai seri ini, dengan naskah yang juga ditangani bersama oleh MOLICE, Tsukasa, Onaka Takeshi, dan Natural-Rain sendiri. Aku masih belum tahu banyak, tapi kelihatannya seri ini akan lebih menonjolkan kualitas penceritaan dibandingkan aspek presentasi. Secara konten, mungkin seri ini juga akan menjadi kejutan.

Hajimete no Gal (NAZ)

Hashiba Junichi adalah siswa SMA yang tidak keren tapi ingin bisa menjalin hubungan dengan perempuan. Didorong teman-temannya, Jun berlutut dan menyatakan cinta pada Yame Yukana, teman sekelasnya yang seorang gyaru. Di luar dugaan, pernyataan cintanya diterima. Jun lalu mendapati dirinya di wilayah asing karena pembawaan Yame yang cantik dan modis.

Fukukawa Hiroyuki (Okusama wa Seitokaicho, Sin Strange Plus) akan menyutradarai dengan naskah yang ditangani Momose Yuiichirou. Seri ini diangkat dari manga komedi romantis karya Ueno Meguru. Musiknya ditangani Yashikin dari MAGES. Secara pribadi, aku tak merasa ceritanya berkesan. Tapi di sisi lain, karena ini diproduksi oleh studio dan staf relatif minor, aku juga berharap hasilnya tak jelek. Terlepas dari itu, meski caranya enggak biasa, nuansanya akan agak dewasa. Kurasa ini anime fanservice paling menonjol di musim ini.

Knight’s & Magic (8-Bit)

Seorang programmer berbakat tewas sepulang kerja dan mendapati diri terlahir di dunia fantasi. Dirinya kini adalah Ernesti Echevarria, seorang anak lelaki berwajah cantik. Mengandalkan pengetahuan otakunya tentang mecha dari dunia sebelumnya, ia bercita-cita membangun Silhouette Knight-nya sendiri, jenis mecha yang ternyata benar-benar ada di dunia ini. Bersama dua sahabat masa kecilnya, Adi dan Kidd, mereka bergabung ke akademi di mana para ksatria dididik.

Diangkat dari seri novel karya Amazake-no Hisago, ini seri yang lebih diperuntukkan bagi para otaku robot raksasa. Meski ini termasuk seri isekai, ada banyak bahasan teknis di dalamnya, jadi ceritanya mungkin agak susah dimasuki. Tapi nuansa dunianya keren dan mecha-mechanya menarik. Sutradara veteran Yamamoto Yusuke (NHK ni Youkoso!, Walkure Romanze) akan menanganinya. Naskahnya ditangani oleh Yokote Michiko. Musiknya dibuat oleh Kouda Masato (Konosuba, Junketsu no Maria). Kesan awalnya lebih kuat dari dugaan. Terlepas dari hasilnya, kurasa ini seri yang akan aku perhatikan.

Kakegurui – Compulsive Gambler (MAPPA)

Akademi Swasta Hyakkaou adalah sekolah untuk orang-orang kaya raya dengan kurikulum yang tak biasa. Sebagai tempat mendidik calon orang-orang berkuasa, sekolah ini meyakini bukan kemampuan atletis atau kepintaran yang membuatmu unggul, melainkan kemampuan membaca lawan serta kemampuan membuat kesepakatan. Keterampilan ini diasah tak lain di meja judi. Namun, saat siswi baru bernama Jabami Yumeko hadir, para siswa Hyakkaou mendapat pelajaran tentang seperti apa judi sesungguhnya.

Disutradarai Hayashi Yuichiro (PES: Peace Eco Smile, Garo the Animation) dan dipenai Kobayashi Yasuko (Shakugan no Shana, Attack on Titan), ini seri bertema judi dengan nuansa agak berbahaya. Ceritanya diangkat dari seri manga karya Kawamoto Homura dan Naomura Tooru. Kurasa, ini seri yang lebih cocok buat dewasa, tapi bukan sekedar karena mengangkat judi sebagai tema… Pastinya, nuansanya jauh berbeda dari manga judi Kaiji yang tenar itu. Berhubung MAPPA yang produksi, kualitas teknisnya diyakini bakal bagus.

Mahoujin Guru Guru (Production I.G.)

Di dunia yang dilanda demam pahlawan sesudah keluarnya pengumuman untuk mengumpulkan pahlawan demi menghadapi Raja Iblis, seorang bocah bernama Nike separuh dipaksa kedua orangtuanya untuk ikut berangkat dan menjadi pahlawan. Sesuai tradisi, sebelum berangkat, Nike berkunjung ke rumah penyihir tua di tepi hutan di kampungnya. Di sana, dia berjumpa dengan anak perempuan bernama Kukuri, keturunan terakhir dari suku Migumigu yang bisa menggunakan lingkaran sihir. Dari sana, perjalanan mereka berdua dimulai.

Dikenal juga dengan judul Magical Circle, ini produksi ulang dari seri manga komedi karangan Eto Hiroyuki yang populer di dekade 1990an. Mengklarifikasi, seri ini adalah pembuatan ulang dan bukan sekuel dari seri sebelumnya. Ceritanya dikenal karena banyak memparodikan elemen-elemen RPG di zaman itu. Ikehata Hiroshi (Akiba’s Trip: The Animation) akan berperan sebagai sutradara seri. Okui Hisaaki (Hacka Doll the Animation) yang akan menangani naskah. Musiknya sendiri akan ditangani TECHNOBOYS PULCRAFT GREEN-FUND. Dengan gaya gambarnya yang manis dan ceritanya yang sederhana, aku benar-benar berharap hasilnya bagus.

Netsuzou Trap – NTR- (Creators in Pack)

Yuma dan Hotaru adalah sepasang gadis yang telah bersahabat sejak anak-anak. Ketika Yuma mendapat pacar untuk pertama kali, ia mengundang Hotaru dan pacar Hotaru untuk kencan ganda demi menghadapi rasa gugupnya. Hotaru lalu menawarkan diri pada Yuma sebagai “teman latihan.” Pada saat itu, mereka menyadari kalau mereka lebih tertarik dengan satu sama lain dibandingkan pacar masing-masing.

Hirasawa Hisayoshi (OZMAFIA!!, Miss Bernard said.) akan menyutradarai. Uchibori Yuuichi bersama WORDS in STEREO akan menangani naskah. Ini seri yuri yang didasarkan manga karya Kodama Naoko. Visualnya termasuk menarik, dan secara teknis kelihatannya akan solid. Kalau tak salah, ini seri pertama keluaran Creators in Pack yang berdurasi standar? Maaf, selebihnya aku kurang tahu. Berhubung kudengar ini jenis yuri yang lebih ditujukan buat cowok, mungkin ada hal-hal tak nyaman tentangnya. Sudah diklarifikasi per episodenya berjumlah 10 menit.

Isekai Shokudou (SILVER LINK)

Restoran Youshoku no Nekoya, yang berada di lantai bawah tanah suatu bangunan tertentu di sudut distrik perbelanjaan dekat perkantoran, biasanya melayani pegawai kantoran sebagai pelanggan. Tapi setiap hari Sabtu, Nekoya buka hanya untuk pelanggan-pelanggan khusus. Bagi para pekerja kantoran, masakan yang Nekoya sediakan tidak asing. Tapi bagi para pelanggan khusus—yang berasal dari dunia lain—kesemuanya adalah hidangan yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya.

Juga dikenal dengan judul Restaurant to Another World, ini seri bertema masakan yang cocok dilihat pada saat sedang ingin lapar. Ceritanya setahuku berkembang dengan datangnya pelanggan-pelanggan tetap. Tapi maaf, selebihnya aku juga belum tahu banyak. Penyutradaraannya akan ditangani Jinbo Masato (Chaos;Child, Prisma Illya) yang sekalian juga akan menangani naskah. Penggambaran interior ruangannya lumayan berkesan.

The Reflection (Studio DEEN)

Suatu insiden yang kini dikenang sebagai The Reflection Event memenuhi dunia dengan asap hitam dan menutup sinar mentari. Banyak orang kehilangan nyawa. Tapi mereka yang bertahan hidup memperoleh kekuatan-kekuatan super. Sebagian di antara mereka menjadi pahlawan, sementara sebagian lagi menjadi penjahat. Xon adalah pahlawan misterius dengan identitas tak dketahui yang selalu muncul secara tiba-tiba. Eleanor Everts, perempuan dengan kemampuan teleportasi jarak pendek dan keahlian mengumpulkan informasi, memliki ketertarikan kuat terhadap Xon. Karenanya, ia berusaha mengumpulkan sebanyak informasi yang bisa diperoleh tentangnya.

Seri ini adalah karya kolaborasi antara Stan Lee (ya, yang pembuat komik Marvel itu), perusahaan Pow! Entertainment, Studio DEEN, serta Nagahama Hiroshi (Mushi-Shi, Aku no Hana) yang akan berperan sebagai sutradara. Sohtome Koichiro akan membantu sebagai sutradara seri. Naskah akan ditangani oleh Suzuki Yasuyuki (Naruto, Yu-Gi-Oh! Zexal). Musisi Inggris Trevor Horn yang akan menangani musik. Aku cukup skeptis di awal. Tapi kemudian kusadari ada beberapa hal tentang premisnya yang benar-benar menarik. Ini akan tayang di saluran NHK.

Shoukoku no Altair (MAPPA)

Dua negara Turkiye Devleti dan Kekaisaran Balt-Rhein telah lama saling bertentangan. Sampai suatu ketika, seorang menteri kekaisaran terbunuh, dan dua negara tersebut akhirnya terancam akan terjerumus ke dalam perang besar. Ketika para jendral Turkiye menuntut perang, seorang pasha muda bernama Mahmut menyadari persekongkolan di balik pembunuhan tersebut.

Dikenal juga dengan judul Altair: A Record of Battles, ini diangkat dari manga berjudul sama bertema militer, politik, dan kenegaraan karangan Katou Kotono. Staf veteran Furuhashi Kazuhiro (Gundam Unicorn, GetBackers) akan menyutradarai seri ini. Komposisi seri akan ditangani oleh Takagi Noboru (Baccano!, Durarara!!). Ini seri yang mungkin awalnya susah dimasuki karena latar Turki-nya yang asing. Tapi begitu kau paham seluk-beluknya, ini seri yang beneran rame. Aku harap seri ini akan jadi kejutan.

Vatican Kiseki Chousakan (J.C. Staff)

Roberto Nicholas dan Josef Kou Hiraga adalah pasangan ahli arsip dan ilmuwan yang bekerja sebagai penyelidik mukjizat untuk Vatikan. Bersama, keduanya berkeliling dunia untuk menyelidiki keaslian dari berbagai klaim mukjizat. Pekerjaan mereka mempertemukan mereka dengan berbagai orang di berbagai pelosok, dan menghadapkan pada peristiwa-peristiwa ganjil yang menguji iman.

Juga dikenal dengan judul Vatican Miracle Examiner, ini seri misteri horor bermotif keagamaan yang diangkat dari seri novel karya Fujiki Rin. Yonetani Yoshitomo (Shokugeki no Souma, Yuusha Ou Gaogaigar) akan menyutradarai. Minakami Seishi (Kamisama Memochou, Toaru Kagaku no Railgun) akan menangani naskah. Aku masih kurang tahu banyak tentang seri ini. Tapi mengenal studionya, kualitasnya bisa diharapkan solid.

Youkai Apato no Yuuga no Nichijou (Shin-Ei Animation)

Inaba Yuushi, remaja 16 tahun yang kehilangan orangtuanya tiga tahun sebelumnya, berkeinginan hidup mandiri. Namun asrama sekolah yang hendak ia tinggali malah hancur dalam kebakaran. Akhirnya, Yuushi menemukan apartemen murah dengan harga sewa 25.000 yen. Sayangnya, Yuushi terlambat mengetahui bahwa apartemennya dihantui makhluk-makhluk supernatural.

Diangkat dari seri light novel karya Kouzuki Hinowa, ini seri yang sudah cukup lama tamat, tapi belum lama ini dicetak ulang. Dengan demkian, adaptasi animenya mungkin bisa diharapkan punya cerita tuntas. Hashimoto Mitsuo yang akan menyutradarai dengan Yamada Yasunori menangani komposisi seri. Secara teknis, seri ini mungkin tak menonjol. Tapi ada banyak karakter cowok menarik di dalamnya yang menjadi daya tarik lebih.

Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e (Lerche)

SMA Koudo Ikusei adalah sekolah ternama dengan berbagai fasilitas canggih. Hampir 100% siswanya melanjutkan ke universitas atau diterima di tempat kerja. Mereka bebas memakai aksesoris atau memakai gaya rambut apapun. Tapi nyatanya, hanya para siswa teratas saja yang mendapat perlakuan baik. Ayanokouji Kiyotaka masuk ke kelas D, yang disebut-sebut adalah kelas buangan. Di sana, ia bertemu sepasang gadis Horikita Suzune dan Kushida Kikyou, yang kemudian mengubah situasi Kiyotaka.

Dikenal juga sebagai Welcome to the Classroom of Superior Ability Doctrine atau Yo Jitsu atau Classroom of the Elite, seri ini diangkat dari seri light novel karangan Kinugasa Syohgo dan ilustrasi buatan Tomose Shunsaku. Kishi Seiji (Ansatsu Kyoushitsu)  akan menyutradarai dengan naskah ditangani Akashiro Aoi (Fuuka). Singkat cerita, premisnya mirip BakaTest, yakni soal persaingan akademis antar kelas, hanya saja bernuansa lebih serius dan tanpa makhluk-makhluk panggilan ajaib. Aku masih belum tahu banyak tentangnya, tapi visual dan desain karakternya menarik.

Satu lagi anime yang ditunggu adalah Katsugeki: Touken Ranbu produksi ufotable. Belum ada info soal ceritanya, tapi kualitas presentasinya benar-benar menjanjikan. Touken Ranbu umumnya digemari wanita, tapi adegan-adegan aksi di anime ini bisa juga menarik pemirsa pria. Meski sama-sama didasarkan permainan online keluaran DMM (tentang pedang-pedang bersejarah Jepang yang dipersonifikasi dalam bentuk pria tampan), anime ini tak berhubungan dengan seri Touken Ranbu: Hanamaru yang keluar belum lama ini. (Hanamaru kudengar akan memperoleh sekuelnya sendiri tahun depan.)

Dogakobo akan memproduksi anime keseharian Hina Logi: From Luck & Logic. Seri ini merupakan lepasan dari proyek multimedia Luck & Logic kembangan Bushiroad. Anime Luck & Logic sebelumnya kurang menonjol. Tapi kualitas lepasannya ini kelihatan benar-benar solid.

Anime band Tenshi no 3P! atau Here Comes the Three Angels dari project no. 9 juga akhirnya tayang. Remaja SMA pembolos bernama Mekui Kyou sebenarnya adalah pencipta lagu-lagu Vocaloid. Suatu hari, tiga gadis SD kelas lima mendatanginya untuk membantu mereka sukses dengan band. Apa? Kau bilang ini kayaknya mirip Ro-Kyu-Bu? Itu pasti cuma perasaanmu!

Akan ada seri yaoi Hitorijime My Hero yang diproduksi Encourage Films. Ceritanya tentang seorang remaja berandalan yang merasakan suatu hubungan dengan guru SMA-nya. …Aku tak yakin apa aku akan memperhatikan ini. Tapi gelagatnya sejauh ini cukup solid.

Gamers!, yang diangkat dari seri novel komedi romantis(?)karangan Aoi Sekina (pengarang Seitokai no Ichizon), juga akan hadir. Okamoto Manabu memulai debutnya sebagai sutradara di sini. Produksinya dilakukan PINE JAM. Naskahnya buatku mencolok karena ditangani Uchida Hiroki, yang mempenai Schwarzesmarken. Ceritanya seputar kehidupan remaja penyendiri Amano Keita, dan remaja-remaja lain seusianya, selaku penggemar game, baik yang mengakuinya atau tidak.

Seri baru Princess Principal juga nanti ada. Produksinya melalui kerjasama Studio 3Hz dan ACTAS. Ini seri orisinal bertema aksi spionase yang berlatar di London pada abad ke-19 alternatif. Di dunia ini, London dikisahkan adalah kota di Kerajaan Albion yang terbagi dua karena adanya sebuah tembok besar. Ceritanya berfokus pada lima gadis yang bersekolah di sekolah ternama Queen’s Mayfair, yang memiliki identitas ganda sebagai mata-mata. Desain para karakternya menarik. Berhubung Okouchi Ichiro (Code Geass, Guilty Crown, Kotetsujou no Kabaneri) yang menangani naskahnya, seri ini setidaknya mungkin akan seru. Musiknya akan ditangani Kajiura Yuki (Fate/Zero). Sutradaranya adalah Tachibana Masaki (Barakamon).

Diomedea juga akan memproduksi Ahogaru: Clueless Girl yang diangkat dari seri manga komedi karya Hiroyuki (Doujin Work, Mangaka-san to Assitant-san to). Ceritanya tentang seorang gadis remaja bernama Yoshiko yang… kurang cerdas, dan soal bagaimana Takkun, teman cowoknya sejak kecil, jadi kerepotan harus mengurusinya.

Untuk para penggemar teka-teki, Kaito x Ansa dari pencipta Nazotokine juga akan diproduksi. Studio animasi Tengu Kobou yang akan memproduksinya. Agak berbeda dari sebelumnya, yang akan ditonjolkan adalah karakter-karakter lelaki tampan dalam sosok Aen Kaito dan Anshin Ansa.

Seri drama romansa berlatar convenience store Konbini Kareshi juga akan diproduksi Studio Pierrot. Meski menonjolkan karakter-karakter cowok, kesannya lumayan mengingatkan akan Niji-iro Days dengan banyaknya karakter cewek yang hubungannya terjalin. Mungkin ini seri baru yang akan aku perhatikan.

Untuk kalian yang sulit menyatakan cinta, manga romansa 4-kotak karya Wakabayashi Toshiya, Tsuredure Children, juga keluar adaptasi animenya. Studio Gokumi yang memproduksi. Ada banyak tokoh dan ceritanya beragam. Meski kurang menonjol, ini termasuk menarik. Kaneko Hiraku yang akan menyutradarai.

Selebihnya, seri-seri anime lama yang akan lanjut meliputi:

  • Senki Zessho Symphogear AXZ (Season 4), kelanjutan dari seri aksi mecha musume dengan kombinasi elemen musik yang masih juga populer. Dalam tahun-tahun terakhir, jumlah penggemar waralaba ini secara konsisten bertambah.
  • Saiyuki Reload Blast (Season 4), sekuel mengejutkan dari Gensoumaden Saiyuki tentang perjalanan Genjo Sanzou dan kawan-kawannya ke barat. Produksinya kali ini akan dilakukan Platinum Vision. Para seiyuu veteran yang berperan dalam musim-musim sebelumnya kudengar juga akan kembali. Musim kali ini kayaknya akan berhubungan dengan inkarnasi masa lampau Sanzo dan kawan-kawannya.
  • Owarimonogatari (Season 2), paruh kedua yang sudah ditunggu dari musim penutup seri Monogatari karya Nisio Isin, yang melanjutkan teka-teki seputar hubungan antara Araragi Koyomi dan Oshino Ougi. Masih oleh studio SHAFT. Update: kudengar ini akan berformat beberapa episode TV spesial.
  • NEW GAME!! (Season 2), kelanjutan suka duka produksi game di perusahaan Eagle Jump yang seluruh karyawannya perempuan. Doga Kobo masih memproduksi. Musim pertamanya lebih sukses dari dugaan.
  • Jigoku Shoujo Yoinotogi (Season 4), seri horor tentang gadis misterius yang menangani situs web untuk layanan jasa balas dendam, juga akan hadir. Ini kembali diproduksi Studio DEEN. Ini termasuk judul baru yang kabarnya dinanti.

Untuk seri-seri anime pendek, seri tenis gadungan Teekyu (Season 9) juga akan ada. Seri horor pendek Yami Shibai juga kudengar akan lanjut, kuharap musim kali ini bisa menunjukkan peningkatan kualitas. Nora to Oujo to Noraneko Heart juga kudengar akan tayang, yang mengisahkan hubungan seseorang dengan kucing liar (walau kudengar ada ratu nerakanya juga?) diangkat dari game dewasa produski Harukaze. Intinya tentang seseorang bernama Nora yang berjumpa putri kegelapan bernama Patricia, yang karena suatu alasan, akhirnya diubah jadi seekor kucing hitam.

…Kalau tak salah, Mobile Suit Gundam: Twilight Axis juga akan mulai tayang secara bulanan menggantikan Gundam Thunderbolt. Ceritanya berlatar sesudah Gundam Unicorn dan akan menghubungkan ke zaman Gundam F91. Tapi jujur saja, formatnya yang tiga episode per menit benar-benar membingungkan.

Bagi kalian yang mencari anime romansa dewasa yang sejenis dengan anime biksu musim lalu, musim ini ada Skirt no Naka wa Kedamono Deshita. Produksinya dilakukan Magic Bus. Ceritanya tentang seorang gadis mungil yang didekati secara agresif oleh seorang perempuan dewasa yang cantik, yang ternyata sebenarnya adalah laki-laki.

Dari segi film layar lebar, yang menonjol antara lain:

  • Mahouka no Koukou no Rettousei: Hoshi no Youbu Shoujo yang diproduksi 8-Bit akan hadir. Berlatar di awal tahun ajaran baru, ceritanya berlatar sesudah seri TV-nya, tapi melompati beberapa bab cerita di novelnya yang belum pernah dianimasikan. Kudengar ini nanti akan diputar juga di Indonesia.
  • Sama halnya juga dengan film pertama dari trilogi baru Eureka Seven Hi-Evolution produksi BONES, yang merupakan penceritaan ulang dari seri TV-nya yang paling pertama ditambah bab prekuel baru. Kudengar ini juga kelak akan diputar di Indonesia.
  • Film layar lebar Seitokai Yakuindomo produksi GoHands juga akan ada. Aku ingin tahu seperti apa ceritanya.
  • Film layar lebar Fate/kaleid liner Prisma Illya: Sekka no Chikai juga akan ada. Langsung melanjutkan cerita dari season seri TV-nya yang terakhir, film ini agaknya akan memaparkan bab masa lalu yang mengungkapkan asal usul Miyu. Salah satu versi paling keren dari Emiya Shirou agaknya akan tampil di film ini.
  • Movie ketiga Nanoha, Magical Girl Lyrical Nanoha Reflection, juga akan tayang dengan diproduksi Seven Arcs.
  • Mary and the Witch’s Flower produksi studio Ponac.
  • Anime romansa remaja produksi SHAFT, Uchiage Hanabi, Shita Kara Miru ka? Yoko Kara Miru ka? juga akan keluar. Kalau tak salah, ini modernisasi dari drama TV berjudul sama dari dekade 90an dulu. Ceritanya berlangsung di seputar pelaksanaan suatu acara kembang api. Aku harap suatu saat kelak aku bisa menonton ini.

Sebagai catatan bawah, meski biasanya aku enggak menyebut ini karena ini produksi barat, kudengar adaptasi animasi dari Castlevania milik Konami akan keluar musim ini. Gelagatnya sejauh ini di luar dugaan bagus.

Tambahan, Musekinin Galaxy Tylor akan diproduksi oleh studio Seven. Ini semacam sekuel(?) dari seri komedi luar angkasa The Irresponsible Captain Tylor yang sempat menarik perhatian di tahun 1993, tentang Tylor yang memenangkan berbagai operasi militer semata-mata berkat keberuntungannya. Seri baru ini agaknya berlatar jauh di masa depan, ketika Kekaisaran sudah lama tumbang dan Aliansi Antar Planet telah hancur, dan mengetengahkan seorang keturunannya, saat dia menjumpai seorang gadis yang ternyata adalah penghancur alam semesta. Formatnya kudengar adalah anime pendek.

Tambahan lagi, Enmusubi Youko-chan, tentang roh rubah ahli perjodohan yang mempertemukan kembali para dewa dengan reinkarnasi kekasih-kekasih manusia mereka, juga mulai ditayangkan di Jepang musim ini. Sebenarnya, ini anime produksi Tiongkok yang diadaptasi dari suatu manhwa. Jumlah episodenya sudah lumayan banyak dan seri ini lumayan populer. Terus terang, seri ini adalah kasus langka.

Tambahan lain lagi, kudengar versi TV romansa fantasi Mahoutsukai no Yome juga tayang. Maaf. Ternyata ini untuk musim gugur nanti. Tapi buat yang mau tahu, ini akan melengkapi episode-episode OAD-nya dan membawa kita lebih jauh ke dunia ajaib yang dianimasikan Wit Studio. 

Kalau ada tambahan, akan aku kabar-kabari lagi.

(Sumber dari ANN dan Anime-Now)

Daftar Seri Shin Megami Tensei

In anime, game, lists & seasonal previews on 15/06/2017 at 17:32

Keresahan dunia zaman sekarang katanya mirip keresahan era Perang Dingin. Dari tahun 1970an sampai 1990an, rebutan pengaruh antara Amerika Serikat (Blok Barat) dan Uni Soviet (Blok Timur) benar-benar intens. Masa depan tak pasti. Semua pihak takut konflik memuncak dengan perang nuklir. Lalu kalau perang nuklir? Musnahlah dunia.

Kurasa, itu alasan banyak muncul cerita bergenre post-apocalyptic di zaman itu.

Sehubungan dengan itu, bahasan kali ini soal waralaba Shin Megami Tensei.

Dalam berbagai waralaba game lain, kita kerap dapat misi menyelamatkan dunia. Tapi di game-game Megaten, ancaman hancurnya dunia itu biasanya pasti. Kehancuran dunia sudah pasti terjadi tanpa bisa kita apa-apain. Yang jadi masalah lebih pada cara menyikapinya.

Waralaba multimedia Shin Megami Tensei dikembangkan perusahan Atlus. Utamanya memang adalah game, tapi dari tahun ke tahun, keluar produk novel dan manga juga. Waralaba ini dicetuskan oleh Okada Kouji (yang juga dikenal sebagai Cozy Okada), Suzuki Ginichiro, dan Suzuki Kazunari pada tahun 1987.

Saat tulisan ini kubuat, Atlus berada di bawah naungan Sega, yang membuat game-game Sonic the Hedgehog dan Valkyria Chronicles, setelah rangkaian kasus finansial beberapa tahun silam yang menimpa Index Corporation, perusahaan induk Atlus yang terdahulu. Jadi, Sega-lah yang kini menerbitkan game-game mereka. Walau begitu, sebagian game Shin Megami Tensei juga sempat diterbitkan Namco (yang sekarang sudah menyatu jadi perusahaan raksasa Bandai Namco), Nippon Ichi Software, dan beragam perusahaan lain, khususnya untuk wilayah Eropa.

Berawal Dari Tulisan

Mungkin sekarang susah kebayang, tapi Megaten awalnya didasarkan dari novel. Novel tersebut adalah seri novel horor sains fiksi Digital Devil Story  karangan Nishitani Aya.

Megami Tensei, buku Digital Devil Story paling pertama (kira-kira berarti ‘reinkarnasi sang dewi’), menjadi inspirasi sekaligus nama dari gamenya yang paling pertama pula. (Berbeda dengan cetakan huruf katakana di bukunya, kata ‘Story’ dalam game ditulis dengan huruf kanji ‘Monogatari’ walau kalau dari furigana, dibacanya tetap ‘Story’)

Meski Nishitani-sensei konon terlibat dalam pembuatan naskah game pertama tersebut, game-game berikutnya sesudah Megami Tensei sudah lepas sepenuhnya dari versi cerita di novelnya. Meski demikian, tetap terlihat bagaimana novel tersebut menjadi inspirasi berkelanjutan bagi waralaba ini.

Pada novel-novel Digital Devil Story, muncul gagasan tentang bagaimana manusia biasa jadi bisa memakai kekuatan makhluk-makhluk supernatural (Demon) melalui suatu perangkat lunak (Demon Summoning Program) yang terpasang pada suatu piranti elektronik portabel (yang gampangnya, sering disebut COMP). Kemampuan memanggil Demon dan membuat mereka mematuhi kemauan kita inilah yang menjadi ciri khas seri Megaten.

Berkat itu, untuk waktu cukup lama, Megaten sempat menjadi waralaba JRPG terbesar di Jepang sesudah Dragon Quest dan Final Fantasy.

Elemen-elemen khas waralaba Megami Tensei mencakup:

  • Permainan yang mengutamakan perkembangan cerita, tapi dengan pendekatan lebih pragmatis.
  • Sistem permainan berbasis giliran (turn-based), dilihat dari sudut pandang orang pertama (first person, ala Wizardry). Adanya elemen-elemen dungeon crawler.
  • Tingkat kesulitan permainan yang tidak mudah.
  • Fitur negosiasi dengan para Demon. Demon yang semula menjadi musuh bisa direkrut untuk dijadikan kawan seperjalanan.
  • Adanya fitur fusion untuk menggabungkan secara permanen satu Demon dengan Demon lain, menghasilkan Demon baru yang (berpotensi) lebih kuat.
  • Adanya ancaman kiamat atau perubahan besar dalam waktu dekat.
  • Adanya perseteruan berbagai tokoh mitologi kuno yang kembali hadir.
  • Adanya dua pihak alignment (mirip ideologi, atau bawaan) yang saling bertentangan, yakni Law (yang menginginkan keteraturan) dan Chaos (yang menginginkan kebebasan). Dalam perkembangannya, ini dilengkapi dengan satu alignment lagi, yaitu Neutral yang tidak berpihak.
  • Berlatar di dunia kontemporer. Biasanya di kota Tokyo masa kini.
  • Diperkaya elemen-elemen cyberpunk, lengkap dengan pemaparan soal dunia virtual.

Kalau kalian penasaran, fans di Internet sudah menerjemahkan novel-novel Digital Devil Story ke Bahasa Inggris, meski cuma dua dari tiga buku yang tuntas diterjemahkan. Buku ketiga cuma dibikin sebatas ringkasannya saja.

Menurutku pribadi, walau idenya benar-benar berkesan, cerita novelnya sebenarnya… kurang begitu bagus. Karakter-karakternya tidak simpatik. Motivasi semua orang janggal. Banyak elemen dewasa yang terkesan dipaksakan. Cara pemaparannya juga membuat tak nyaman. Tapi tetap ada sesuatu di dalamnya yang bisa beresonansi secara tematis gitu. Entah ya. Mungkin karena ceritanya dimaksudkan sebagai alegori atau gimana.

Tetap keren sih.

Dalam adaptasinya game, bisa terlihat bagaimana aspek-aspek keren waralaba ini kemudian tertuang. Ada sensasi bertahan hidup di tengah dunia yang semakin gila. Ada keberhasilan memperoleh kekuatan yang membuat kita di ‘atas’ makhluk-makhluk lain. Lalu, ada soal bagaimana kita seolah ditakdirkan berperan besar untuk menentukan masa depan dunia…

Mengiringi kesuksesan gamenya, waralaba Megaten kemudian ‘bercabang.’ Ada beberapa waralaba ‘turunan’ yang muncul. Lewat daftar ini, aku akan coba membahas seluruh ‘cabang’ tersebut sejauh pengalamanku pribadi.

…Sedikit catatan.

Meski tidak sampai menyerang kelompok tertentu secara khusus, game-game Megaten sempat menuai kontroversi di luar Jepang. Alasannya karena caranya memaparkan elemen-elemen keagamaan. Ada kesan campur aduk gitu antara mitologi dan dunia modern. Meski tak perlu ditanggapi serius, mungkin ini tetap perlu sedikit disinggung, terutama dengan bagaimana ada tuhan yang ditampilkan sebagai semacam tiran pada beberapa judul.

Sedikit catatan lagi.

Pada masa-masa awal ekspansi mereka ke luar negeri, di pertengahan dekade 90an, Atlus sempat mengemas waralaba Megaten di luar Jepang dengan nama Revelations (kira-kira berarti: ‘pembeberan’, bisa juga diartikan sebagai ‘wahyu’). Baru sesudah kesuksesan mereka di generasi konsol 128-bit di pertengahan dekade 2000an (era PS2, GC, dan XBOX), mereka kembali lebih mengusung nama Shin Megami Tensei untuk waralaba ini.

Kalau diamati, tema yang diusungnya bisa lumayan berbobot. Karenanya, kurasa penting untuk mempertimbangkan konteks dan pesan yang ada dalam masing-masing judul.

Seperti biasa, daftar ini panjang dan enggak bisa diandalkan. Daftar ini rencananya akan aku update dari waktu ke waktu.

Waralaba Megami Tensei

Aku belum pernah memainkan kedua game Megami Tensei yang pertama. Karena itu, aku enggak benar-benar bisa mengulasnya.

Ini keluaran paling awal. Hanya terdiri atas dua game di konsol Famicom (generasi NES 8-bit), yakni:

  • Digital Devil Story: Megami Tensei (Famicom, 1987)
  • Digital Devil Story: Megami Tensei II (Famicom, 1990)

>> Megami Tensei

Megami Tensei pertama masih berhubungan dengan seri novel Nishitani-sensei, meski secara agak tersamar. Kita berperan sebagai tokoh utama di novelnya, yakni pelajar SMA bernama Nakajima Akemi.

Ceritanya berlatar di penghujung dekade 1980an. Nakajima adalah pemuda rupawan yang dikisahkan jenius di bidang komputer. Selain komputer, Nakajima juga mendalami ilmu sihir, meski masih secara amatir. Kepribadiannya di awal cerita digambarkan agak sosiapatik.

Untuk membalas perlakuan para berandalan yang menindasnya di sekolah, Nakajima kemudian menyusun program komputer yang mengaplikasikan formasi-formasi sihir kuno dalam bentuk digital. Program ciptaannya ini bisa memanggil para Demon dari Makai. (Makai adalah alam para Demon. Belakangan juga dikenal dengan istilah Expanse).

Program komputer Nakajima ternyata bekerja. Tanpa ampun, Nakajima berhasil pula membalas dendam. Namun Demon yang Nakajima panggil, dewa jahat Loki dari mitologi Norse, ternyata tidak bisa sepenuhnya dikendalikannya. Karena tipu daya Loki, Shirasagi Yumiko, murid pindahan yang tanpa sengaja mengetahui rahasia pemanggilan Demon Nakajima, kemudian diincar sebagai persembahan Loki yang berikutnya.

Alasan Loki mengincar Yumiko ternyata karena Yumiko adalah reinkarnasi dewi kuno mitologi Jepang yang telah melahirkan dunia, Izanami. Tubuh Yumiko mengandung zat Magnetite dalam jumlah besar yang diperlukan Loki untuk bisa mewujud ke dunia.

Mengesampingkan gamenya dulu sedikit.

Novel pertama membahas pengorbanan Yumiko dan upaya Nakajima menghidupkannya kembali. (Makanya, novelnya berjudul Megami Tensei.) Cerita berkembang dengan terungkapnya Nakajima sebagai reinkarnasi dewa Izanagi, pasangan Izanami, dan bagaimana Nakajima mengusung pedang perwujudan dewa api Hi-no-Kagustuchi bersama Demon setianya, Cerberus, untuk mengalahkan Loki.

Petualangan Nakajima dan Yumiko berlanjut dalam novel kedua  Digital Devil Story (subjudulnya: Mazu no Senshi, atau Warrior of the Demon City; kira-kira berarti ‘para ksatria kota iblis’). Cerita novel kedua adalah soal upaya mencegah bersatunya alam manusia dengan Makai.

Program ciptaan Nakajima dimanfaatkan ilmuwan komputer sekaligus penyihir jahat Isma Feed untuk memanggil dewa jahat lain, Set, yang berasal dari mitologi Mesir. Cerita berkembang dengan tokoh-tokoh baru yang terpengaruh oleh program ciptaan Nakajima. Di klimaks cerita, Nakajima dan Yumiko berhasil membunuh Set berkat bantuan jubah mistis pemberian Izanami. Tapi novel berakhir dengan tetap terhubungnya alam manusia dan alam Makai akibat keengganan Nakajima mengorbankan Yumiko.

Di novel ketiga (subjudulnya: Tensei no Shuuen, atau Demise of the Reincarnation, ‘akhir reinkarnasi’), Demon telah berkeliaran bebas di dunia manusia. Yumiko telah cacat akibat apa yang dialaminya di novel sebelumnya. Terguncang, Nakajima ingin menghadapi dosa-dosanya karena telah menyebabkan berbagai kematian secara tidak langsung akibat tindakannya mendatangkan Loki. Termasuk di antara mereka, kematian ibunya sendiri sekaligus seluruh anggota keluarga Yumiko.

Namun demikian, Raja Demon Lucifer memulai campur tangan untuk menguasai dunia manusia. Lucifer mencuci otak pejabat-pejabat berkuasa, dan berupaya menampilkan diri sebagai dewa.

Nakajima seolah harus bangkit dari keterpurukannya dan mengambil peran sebagai penyelamat umat manusia. Namun di penghujung cerita, karena kalap sesudah melihat ayahnya tewas dalam amukan massa, Nakajima terpaksa dibunuh Izanami sebelum yang bersangkutan juga membunuh Yumiko.

Yumiko, histeris dengan kematian Nakajima, kemudian menggunakan Hi-no-Kagutsuchi untuk mencabut nyawanya sendiri. Cerita secara tragis berakhir dengan bagaimana Izanami, yang kini mengendalikan tubuh Yumiko, membawa pergi jasad Nakajima ke Asuka, di mana ia akan dimakamkan.

Dalam seri novelnya, kelanjutan perjuangan melawan Lucifer kudengar diceritakan dalam seri sekuelnya, New Digital Devil Story, yang terdiri atas enam buku. Tapi rincian lebih lanjutnya agak susah didapat. Seri novel ini konon kurang dikenal dibandingkan prekuelnya.  Tamatnya juga kudengar sama-sama berakhir tragis.

Balik ke soal game, game Megami Tensei seakan mengesampingkan cerita di novel ketiga.

Dikisahkan, Izanami ditawan Lucifer. Jiwa Izanami diperangkap dalam labirin istana raksasa Daimakyuu yang tahu-tahu telah muncul dari Shirasagi Mound di Asuka. Nakajima, dengan ditemani Yumiko, melakukan perjalanan panjang di dalam Daimakyuu untuk membebaskan Izanami. Mulai dari Tower of Daedalus, kota melayang Bien, Valhalla Corridor, Mazurka Corridor, Rotting Sea of Flames di mana Izanami ditawan, hingga Infini Palace tempat Lucifer bersemayam. Untuk itu, mereka harus berhadapan dengan Demon musuh lama mereka, yakni Loki dan Set, yang telah dibangkitkan Lucifer dari kematian. Cerita berakhir dengan takluknya Lucifer di tangan Nakajima, serta sumpahnya kalau ia akan kembali suatu saat di masa depan.

Membahas soal gameplay, game Megami Tensei kudengar termasuk modern untuk zamannya. Permainannya susah dan menantang. Meski dengan random encounter, setiap pertempuran berlangsung cepat. Sudut pandang orang pertama, yang mensimulasikan gerakan tiga dimensi, merupakan hal revolusioner di Jepang pada masanya. Inti permainannya adalah menjelajahi labirin raksasa di mana kita menjumpai monster, benda-benda yang harus dikumpulkan, NPC, serta jebakan.

Meski bisa merekrut Demon, hanya Nakajima dan Yumiko yang bisa kita tingkatkan Level-nya. Keduanya sama-sama bisa dilengkapi senjata dan pelindung, tapi hanya Nakajima yang bisa membuat kontrak dengan para Demon dan memanggil mereka. Di sisi lain, Yumiko punya akses ke sejumlah sihir. Salah satu sihir Yumiko adalah kemampuan Minimap yang vital untuk navigasi.

Para Demon punya Level konstan yang tak bisa berubah. Tapi mereka bisa kita gabungkan dengan Fusion untuk memperoleh Demon baru yang lebih kuat.

Game aslinya berbasis password. Fitur save belum ada. Meski demikian, fitur automap yang memetakan peta otomatis ternyata tersedia.

Game ini pertama memunculkan sejumlah kekhasan bagi waralaba Megami Tensei, di antaranya:

  • Pasangan tokoh utama cowok dan tokoh utama cewek, yang mana si cowok bisa menggunakan Demon sedangkan si cewek bisa memakai sihir.
  • Adanya parameter Magnetite yang diperlukan untuk memanggil Demon. Ada Magnetite dalam jumlah besar yang dikonsumsi untuk memanggil mereka. Ada Magnetite dalam jumlah kecil yang dikonsumsi untuk mempertahankan wujud para Demon setiap kita melangkah. (Bila Magnetite habis, HP para Demon yang justru akan berkurang.)
  • Implementasi pertama sistem navigasi dari sudut pandang orang pertama.
  • Implementasi pertama dari sistem fusion.
  • Implementasi pertama dari sistem negosasi.
  • Implementasi pertama dari sistem fase bulan yang mempengaruhi perilaku para Demon. Fase bulan berbeda akan membuat mereka berperilaku dengan cara berbeda pula.

Sebagai tambahan, kudengar novel pertamanya sempat diadaptasi ke bentuk anime dalam format OVA oleh ANIMATE pada tahun 1987. Ceritanya lumayan setia dengan novelnya, tapi anime ini tidak termasuk menonjol. Mungkin baiknya kau lihat hanya kalau kau benar-benar penasaran (dan sudah dewasa).

>> Megami Tensei II

Cerita game kedua, Megami Tensei II, masih berhubungan dengan game pertama.

Dikisahkan pada tahun 199X, tak lama sesudah game pertama Megami Tensei berakhir, perang nuklir pecah. Bombardir rudal membuka kembali portal dimensi ke alam Makai secara permanen. Di puing-puing Tokyo, 35 tahun sesudahnya, para Demon bebas berkeliaran di permukaan bumi dan memangsa manusia.

Umat manusia di zaman ini terbagi dalam dua golongan, yaitu Church of Messiah, yang meyakini akan datangnya juru selamat untuk umat manusia yang diutus Tuhan; dan Cult of Deva, yang memuja para Demon dan tunduk pada mereka.

Tokoh utama dan sahabatnya adalah dua anak muda yang hidup di tempat perlindungan bawah tanah pasca perang. Mereka menamatkan sebuah game bernama Devil Busters (yang secara mencurigakan, sangat mirip game Megami Tensei pertama). Lalu sesudah berhasil mengalahkan musuh terakhir, tiba-tiba muncullah Demon Pazuzu yang ternyata disegel di dalam game tersebut.

Pazuzu menyatakan keduanya sebagai Messiah yang akan menyelamatkan umat manusia. Tokoh utama diberi Pazuzu kemampuan untuk bicara dengan Demon dan memanggil mereka. Sedangkan sahabatnya diberi kemampuan sihir. Keduanya diberi misi untuk menghancurkan para raja Demon yang telah menguasai Tokyo.

Pazuzu juga memperingatkan akan datangnya bencana dan tempat berlindung mereka tidak lagi aman. Kehilangan tempat tinggal, keduanya lalu berkelana untuk mengalahkan para Demon.

Di Tokyo Tower, keduanya berjumpa dengan tokoh utama perempuan, seorang gadis penyihir. Gadis tersebut ternyata juga pernah dinyatakan sebagai Messiah oleh Pazuzu. Ia juga menentang para Demon. Namun, si gadis belakangan membangkangi Pazuzu dan menyatakan kalau Pazuzu sebenarnya memanipulasi mereka.

Sahabat si tokoh utama tak bisa menerima kenyataan ini, dan akhirnya berpisah jalan.

Sesudah mengalahkan satu per satu raja Demon, termasuk Pazuzu, dan menjatuhkan Cult of Deva, perjalanan tokoh utama dan si gadis berlanjut ke Makai. Di sana kita harus menolong dewa-dewa lama yang sebelumnya tersingkir.

Sahabat kita sebelumnya telah berhasil membebaskan Lucifer, yang Nakajima dan Yumiko telah segel bertahun-tahun silam. Namun sahabat kita itu kemudian tewas di tangan Bael, musuh lama Pazuzu, yang rupanya bertindak menentang kehendak sang tuhan. Bael-lah yang ternyata sebelumnya menyegel Pazuzu dalam Devil Busters.

Terkuak bahwa Satan, salah satu raja Demon, yang ternyata bertanggung jawab memicu perang nuklir puluhan tahun silam. Kita lalu diberi pilihan tentang bagaimana cara mengalahkannya. Bila kita mengalahkan Satan begitu saja, yang berarti membuat kita membangkangi Lucifer dan harus mengalahkannya juga, kita dijadikan dewa dan Millenial Kingdom terbangun.

Sebaliknya, bila kita merekrut Lucifer dengan menolong Bael, sesudah mengalahkan Satan, kita berkesempatan melawan YHVH, tuhan yang telah mengusir para dewa lain. Bila menang, Lucifer akan menutup portal ke alam Makai, umat manusia keluar dari bawah tanah, dan terungkap bahwa Devil Busters ternyata diciptakan oleh mendiang Nakajima.

Dari segi teknis, Megami Tensei II katanya merupakan kemajuan besar dibanding game sebelumnya. Grafisnya lebih bagus dengan pilihan warna lebih baik. Ada peta dunia yang kini bisa kita jelajahi yang bernuansa post apocalyptic, di mana perjalanan ke tempat-tempat lain perlu kita lakukan melalui jalur-jalur kereta bawah tanah.

Kini kita bisa men-save. Di samping itu, aspek ceritanya juga lebih berbobot.

Beberapa kekhasan Megami Tensei II antara lain:

  • Implementasi pertama sistem peta dunia.
  • Implementasi pertama dari Cathedral of Shadows, kuil misterius di mana Demon bisa kita gabungkan untuk menghasilkan Demon baru. (Di versi awal Megami Tensei pertama, Demon bisa kita gabungkan, tapi bukan melalui tempat ini.)
  • Implementasi sudut pandang dari atas di beberapa bagian permainan.
  • Implementasi pertama dari sistem alignment, meski dalam bentuk sederhana, dengan dua pilihan yang bisa diambil, yakni Law atau Chaos.
  • Implementasi pertama sistem untuk meneruskan permainan bila kita mati, dengan memberi uang ke Charon di sungai arwah.
  • Implementasi pertama toko Rag(?) yang menyediakan barang-barang berkualitas namun hanya menerima bayaran dalam bentuk batu-batu permata berharga.

Catatan tambahan untuk Megami Tensei dan Megami Tensei II.

Megami Tensei pertama juga pernah dirilis dalam versi yang dikembangkan Telenet. Versi ini berbeda sama sekali dari versi aslinya (dengan pergerakan dilihat dari atas). Karenanya, dipandang sebagai versi yang inferior.

Sesudah kesuksesan game-game Shin Megami Tensei yang menjadi penerusnya, Megami Tensei dan Megami Tensei II dirilis ulang dalam satu bundel bernama Kyuuyaku Megami Tensei (‘Kyuuyaku’ dalam hal ini berarti ‘Old Testament’ atau ‘Perjanjian Lama’). Versi dirilis untuk Super Famicom pada tahun 1995.

Versi Kyuuyaku merombak habis grafis untuk kedua game. Memberinya nuansa estetis lebih baru. Karena tergabung jadi satu, kita bahkan jadi bisa menyambungkan data dari game pertama ke game kedua. Megami Tensei pertama juga jadi bisa di-save di versi ini.

Kalau kalian kesampaian main, kurasa versi Kyuuyaki ini yang paling direkomendasikan.

Waralaba Utama Shin Megami Tensei

Shin Megami Tensei adalah pengembangan dari waralaba Megami Tensei. Settingnya lebih luas dan juga lebih kekinian. Kontribusinya yang paling mencolok adalah implementasi sistem alignment yang bukan hanya menentukan akhir permainan yang kita dapat, tapi juga perkembangan cerita sekaligus Demon-demon yang bisa kita rekrut.

Soal judulnya, game-game era Super Famicom/SNES di masa itu banyak menggunakan kata ‘Super’ di depan judulnya. Waralaba Castlevania misalnya, merilis game keempatnya dengan judul Super Castlevania IV. Dengan cara serupa, nama waralaba ini ditambah dengan kata ‘Shin’ menjadi Shin Megami Tensei (artinya kira-kira jadi ‘kelahiran kembali sang dewi yang sesungguhnya’).

Judul-judulnya terdiri atas:

  • Shin Megami Tensei (Super Famicom, 1992)
  • Shin Megami Tensei II (Super Famicom, 1994)
  • Shin Megami Tensei If… (Super Famicom, 1994)
  • Shin Megami Tensei: Nine (Xbox, 2002)
  • Shin Megami Tensei: Nocturne atau juga dikenal sebagai Shin Megami Tensei: Lucifer’s Call (PlayStation 2, 2003)
  • Shin Megami Tensei: Imagine (PC Windows, 2007)
  • Shin Megami Tensei: Strange Journey (NDS, 2009)
  • Shin Megami Tensei IV (3DS, 2013)
  • Shin Megami Tensei IV: Final atau juga dikenal sebagai Shin Megami Tensei IV: Apocalypse (3DS, 2016)
  • Shin Megami Tensei V (tentatif, dalam pengembangan untuk Nintendo Switch)

>> Shin Megami Tensei

Cerita dibuka dengan adegan mimpi ganjil yang dialami si tokoh utama (Hero, dia dapat kita namai sendiri). Mimpi itu mengisyaratkan pertemuan sang karakter utama dengan para karakter lain (yang juga dapat kita namai, mereka mencakup Law Hero, Chaos Hero, dan sang tokoh utama wanita, Heroine; ini ditambah karakter wanita lain, seorang perempuan misterius bernama Rie yang ingin mengabdikan diri pada kita seumur hidup). Gampangnya, SMT berkisah tentang seorang cowok SMA yang bangun pada suatu hari dan mendapati dunia di ambang kiamat. Segalanya menjadi tak terkendali. Lalu tak ada yang bisa diandalkan selain dirinya sendiri.

Suatu percobaan teleportasi dikisahkan telah membuka portal ke alam Makai, membuat Demon-demon bermunculan. Saat kekacauan di Jepang merajalela, dua faksi lalu terbentuk: pihak yang ingin memusnahkan para Demon yang dipimpin Thorman, dubes Amerika untuk Jepang; dan pihak yang memandang para Demon sebagai kembalinya dewa-dewa kuno Jepang, yang dipimpin seorang jendral bernama Gotou.

Game pertama merombak konsep di game-game sebelumnya. Latarnya dibuat lebih modern, yaitu di penghujung dekade 90an. Sejumlah perbaikan juga diberikan pada sistem permainannya. Secara garis besar, ciri khas terbesar SMT adalah soal pentingnya aspek ‘pilihan’ dalam ceritanya.

Hal baru yang ditonjolkan dalam game ini antara lain:

  • Implementas pertama pilihan ketiga dalam sistem alignment, yakni Neutral.
  • Implementasi sistem alignment yang lebih kompleks, dengan kombinasi dua sumbu yang jadi acuan, yaitu sumbu ‘moral’ Light-Neutral-Dark dan sumbu ‘kecendrungan’ Law-Neutral-Chaos. Sistem ini mempengaruhi perilaku para Demon dalam pertempuran sekaligus kecocokan mereka dengan karakter kita.
  • Implementasi sistem negosiasi yang lebih kompleks. Para Demon akan bereaksi sesuai alignment (Demon yang Light Law beda reaksinya dengan yang Neutral Chaos. Demon yang Dark selalu memusuhi, tidak bisa didapat dari Negosiasi. Apabila karakter utama kita berkecendrungan Law, maka para Demon yang Chaos menolak bergabung dengan kita, dan sebaliknya.)
  • Implementasi pertama dua karakter pendamping Law Hero dan Chaos Hero dalam cerita.
  • Implementasi Terminal untuk penyimpanan permainan dan perjalanan.
  • Implementasi sistem fusion yang lebih kompleks, dengan opsi untuk menggabungkan tiga Demon sekaligus, bukan hanya dua.

Shin Megami Tensei juga menjadi titik awal tenarnya ilustrator Megaten Kaneko Kazuma, yang dikenal dengan gaya visual porselennya yang khas. Beliau turut mengerjakan desain karakter, dunia, monster, dan visualnya secara umum.

Pada tahun 1995, ada anime berformat OVA 2 episode yang diproduksi J.C. Staff berjudul Shin Megami Tensei: Tokyo Mokushiroku (atau, Tokyo Revelations) yang juga pernah dibuat. Ceritanya adalah cerita orisinil yang tak berhubungan sama sekali dengan gamenya. Seperti banyak anime horor sains fiksi untuk dewasa di zaman itu, kualitasnya… tak bisa dibilang bagus. Untuk yang satu ini, aku tak merekomendasikannya.

(Bersambung)

Percabangan Majin Tensei

Singkat cerita, waralaba ini adalah Megaten digabung dengan permainan strategi Fire Emblem. Lebih dominan di Jepang. Ceritanya termasuk yang paling berat nuansa sains fiksinya.

Game-game yang termasuk dalam waralaba ini meliputi:

  • Majin Tensei
  • Majin Tensei II: Spiral Nemesis
  • Ronde
  • Majin Tensei: Blind Thinker
  • Majin Tensei: Blind Thinker II

(Bersambung)

Percabangan Last Bible

Singkat cerita, waralaba ini adalah Megaten digabung dengan JRPG konvensional macam Dragon Quest. Ceritanya lebih banyak berlatar di dunia fantasi, meski motif-motif mitologi dan agamanya tetap ada.

Game-game yang termasuk dalam waralaba ini:

  • Megami Tensei Gaiden: Last Bible atau Revelations: The Demon Slayer
  • Megami Tensei Gaiden: Last Bible II
  • Last Bible III
  • Another Bible
  • Megami Tensei Gaiden: Last Bible Special

(Bersambung)

Percabangan Devil Summoner

Singkat cerita, Megaten berformat RPG yang ceritanya lebih bernuansa detektif. Biasanya ada misteri yang perlu diungkap dan persekongkolan yang harus dihentikan.

Game-game yang termasuk dalam waralaba ini:

  • Devil Summoner
  • Devil Summoner: Soul Hackers
  • Devil Summoner: Kuzunoha Raidou vs The Soulless Army
  • Devil Summoner 2: Kuzunoha Raidou vs King Abaddon

(Bersambung)

Percabangan Persona

Singkat cerita, versi Megaten yang lebih berfokus ke dunia remaja. Temanya banyak membahas soal kepribadian dan masa depan. Tidak dapat dipungkiri, ini adalah waralaba Atlus yang paling sukses saat ini. Bentuk permainannya juga berkembang ke berbagai genre lain.

Game-game yang termasuk dalam waralaba ini:

  • Megami Ibunroku Persona
  • Persona 2: Innocent Sin atau Persona 2: Tsumi
  • Persona 2: Eternal Punishment atau Persona 2: Batsu
  • Persona 3, yang juga dirilis ulang sebagai Persona 3: FES dan Persona 3: Portable
  • Persona 4, yang juga dirilis ulang sebagai Persona 4: The Golden
  • Persona 4: Arena
  • Persona 4: Arena Ultimax
  • Persona 4: Dancing All Night
  • Persona Q: Shadow of the Labyrinth
  • Persona 5

(Bersambung)

Percabangan Digitial Devil Saga

Waralaba yang ini sedikit sulit dideskripsikan. (Ceritanya tak berhubungan sama sekali dengan Digital Devil Story.)

Hanya dua game yang termasuk dalam percabangan ini, yaitu:

  • Digital Devil Saga atau Digital Devil Saga: Avatar Tuner
  • Digital Devil Saga II

(Bersambung)

Percabangan Devil Children/Demi Kids

Singkat cerita, Megaten yang lebih diperuntukkan untuk anak-anak, yang dirilis untuk mengimbangi waralaba pengumpulan monster ala Pokemon dan Digimon. Meski lebih imut dan disederhanakan, ceritanya masih mengusung soal tema kiamat.

Game yang termasuk dalam percabangan ini antara lain:

  • Shin Megami Tensei: Devil Children – Black Book dan Shin Megami Tensei: Devil Children – Red Book
  • Shin Megami Tensei: Devil Children – White Book
  • Shin Megami Tensei: Devil Children – Light Book dan Shin Megami Tensei: Devil Children – Dark Book, atau DemiKids: Light Version dan DemiKids: Dark Version
  • Shin Megami Tensei: Devil Children – Book of Fire dan Shin Megami Tensei: Devil Children – Book of Ice.

Selain yang di atas, terdapat sejumlah game lain di bawah waralaba ini yang genrenya bukan RPG.

(Bersambung)

Percabangan Devil Survivor

Singkat cerita, Megaten versi baru yang digabungkan dengan genre strategi. Berbeda dari Majin Tensei, nuansanya lebih ke dunia kontemporer dengan fokus lebih ke upaya bertahan hidup.

Game yang termasuk dalam waralaba ini mencakup:

  • Devil Survivor, yang sempat dirilis ulang sebagai Devil Survivor: Overclocked
  • Devil Survivor 2, yang sempat dirilis ulang sebagai Devil Survivor 2: Record Breaker

(Bersambung)

Penutup

Sebagai penutup sementara, meski kau bukan reinkarnasi dewa, kau bisa mempengaruhi dunia di masa depan lebih dari dugaanmu.

Nanti tulisan ini dilanjut lagi.

(Bahan dari situs Wikipedia, HG 101, dan Megaten Wikia.)

Blame! (2017)

In anime on 09/06/2017 at 14:45

Menyambung pembahasan sebelumnya, belakangan aku berkesempatan melihat film layar lebar Blame! buatan Polygon Pictures. Untuk di luar Jepang, film ini menonjol karena didistribusikan lewat saluran berbayar Netflix, seperti halnya seri TV Knights of Sidonia dan Kuromukuro dulu.

Berdurasi sekitar 100 menit, hasil akhirnya terbilang bagus.

Disutradarai Seshita Hiroyuki, dengan naskah buatan Murai Sadayuki, dengan masukan dari pengarang aslinya, Nihei Tsutomu sendiri, kesan film CG ini berbeda dibandingkan manga aslinya. Anime ini merupakan versi cerita yang berdiri sendiri, jadi bukan adaptasi langsung dari manganya. Meski begitu, cerita versi ini menurutku lebih gampang dimasuki oleh penggemar awam.

Buat yang belum tahu, anime ini diadaptasi dari manga berjudul sama (dibacanya sebenarnya ‘buramu’) yang dibuat Nihei-sensei di akhir 1990an sampai awal 2000an. Diserialisasikan di majalah Afternoon punya Kodansha, ulasan lebih jauh soal manganya bisa ditemukan di sini.

Modul Pengamanan

Sebenarnya, enggak banyak yang bisa dikatakan soal ceritanya. Ada lumayan banyak hal tersirat dalam dialog-dialognya yang rasanya sayang kalau aku ungkap.

Ceritanya masih berlatar di Kota, dunia penuh bangunan yang maha-kolosal. Kota masih terus saja membesar akibat pertumbuhan robot-robot Builder yang tak terkendali, dari satu lantai ke lantai baru. Para Builder bukan hanya terus membangun Kota, tapi juga terus menciptakan robot-robot Builder baru. Apa yang tersisa dari umat manusia hanya bisa ditemukan di tempat-tempat berjauhan. Genetik mereka terkontaminasi/terinfeksi akibat sesuatu yang telah lama mereka lupakan.

Singkat cerita, anime ini pada dasarnya mengadaptasi bab pertemuan si tokoh utama yang pendiam dan misterius tapi sangat tangguh, Killy, dengan komunitas Electro-Fisher (‘nelayan elektrik’) dari manganya. Hanya saja, perkembangan ceritanya berbeda dan lumayan berdiri sendiri.

Karakter gadis remaja muda Zuru dan pria paruh baya Pops (‘Oyaji’) masih ada. Sebagian besar cerita bahkan diambil dari sudut pandang Zuru (dirinya terihat lebih manis di versi ini). Tapi selain Zuru, hadir juga Tae, seorang gadis lain yang memaksakan ikut dengan penjelajahan Zuru untuk bisa membantu adik perempuannya yang sakit; Fusata, seorang remaja cowok yang menaruh hati terhadap Tae; dan Sutezo, salah seorang pejuang andal yang menjadi semacam wakil dari Pops.

Pertemuan Zuru dengan Killy, yang kemudian dibawa ke desa mereka—yang karena suatu alasan, tak bisa dimasuki oleh mesin-mesin Safeguard yang memburu manusia—lalu berlanjut dengan penemuan jasad Cibo, seorang ilmuwan.

Cibo mengungkapkan bahwa dirinya memiliki kepentingan yang sama dengan Killy, yaitu menemukan Net Terminal Gene yang bisa menghentikan pertumbuhan liar kota, yang mungkin telah berlangsung lebih dari ribuan tahun. (Aku luput menyebut ini sebelumnya, tapi kalau mengacu ke sumber resmi di manganya, ketinggian Kota telah mencapai orbit Jupiter.)

Bagaimana bisa dunia jadi seperti ini? Apa perkataan Cibo benar soal cara untuk menghentikan pertumbuhannya? Bisakah komunitas Zuru bertahan dan menemukan sumber makanan baru?

Seorang Manusia

Bicara soal teknis…

Yah, ini animasi CG ya? CG sepenuhnya.

Jadi, kalau kau pernah mengikuti anime Ajin atau Knights of Sidonia, kalian bisa bayangkan kelemahan-kelemahannya seperti apa. Hanya saja, terlepas dari isu soal frame rate (yang membuat beberapa adegan pergerakan terkesan terpatah-patah), menurutku, mungkin ini anime CG paling bagus yang pernah kulihat sejauh ini.

Visualnya benar-benar keren. Sapuan warna-warnanya tajam. Ada banyak efek cahaya yang muncul dari persenjataan (terutama dari berkas merah Gravitational Beam Emitter), atau pakaian khusus yang dikenakan para Electric Fisher. Aku kagum dengan bagaimana mata Killy memindai genetik orang-orang di hadapannya. Atau soal berbagai fitur virtual ala Iron Man dalam pakaian Zuru dan kawan-kawannya. Cara dunia hasil visualisasi Nihei-sensei diperlihatkan dalam animasi juga benar-benar keren. Warna-warnanya sebelumnya enggak kebayang.

Memang, latarnya mungkin enggak terasa sekolosal dengan di manga. Lingkup ceritanya memang terbilang kecil. Tapi visual film ini tetap lebih keren dari yang aku sangka.

Musiknya ditangani komposer handal Kanno Yugo. Komposisi beliau di film ini menurutku benar-benar keren. Duo Angela menyumbang lagu bernuansa elektronik khas mereka berjudul “Calling You” yang pas untuk film ini. Akting para seiyuu juga memikat dengan sejumlah nama besar bahkan untuk para karakter sampingan. (Akting cool Hanazawa Kana sebagai Cibo terutama, memberi kesan yang benar-benar keren sebagai satu-satunya orang yang bisa membaca maksud Killy.)

Kalau soal eksekusi, maka kesan pertama yang film Blame! berikan adalah western. Atau tepatnya, film-film koboi zaman dulu. Itu loh, yang biasanya mengetengahkan ada masyarakat yang tengah resah. Lalu tahu-tahu hadir pendatang misterius tak dikenal yang kemudian membantu dan membawa perubahan.

Struktur cerita film ini benar-benar terasa seperti itu.

Ajaibnya, dengan sudut pandang penceritaan dipaparkan dari Zuru dan para Electro-Fisher lain, pendekatan ini benar-benar cocok. Ada penggambaran yang cukup buat penjelasan latar belakang. Lalu tanpa banyak cingcong, kita dengan cepat dibawa masuk ke aksi.

Aksinya? Aksinya keren. Mungkin… ini produksi Polygon Pictures dengan aksi terkeren sejauh ini. Aku sedikit kecewa Killy tak beraksi lebih banyak. Tapi sekali lagi, menurutku aksinya keren.

Aku sedikit kecewa dengan bagaimana film berakhir tanpa reuni kembali antara Killy dan Cibo. Akhir ceritanya sendiri cukup keren sih, dengan bagaimana Killy seolah mengorbankan diri, tapi diyakini Zuru masih terus berkelana melanjutkan perjalanannya. Tapi tetap terasa bagaimana film ini hanya mencuil sedikit cerita dari manganya, mengekspansinya sesuai kebutuhan, dan membiarkannya berakhir terbuka. Jadi bisa dilanjutkan dengan sekuel dan bisa juga tidak.

Aksi adu tembak GBE tidak… sedahsyat yang aku harap, meski duel terakhirnya berkesan. Ada robot-robot Exterminator milik para Safeguard. Tapi kaum makhluk silikon dari manganya yang diyakini sebagai biang kerok semua masalah ini tidak ditampilkan. Secara wajar, juga tidak ada tanda-tanda kehadiran Toha Heavy Industries, walau mungkin itu disimpan untuk sekuel nanti.

Di sisi lain, film ini secara tak terduga malah memaparkan beberapa hal yang tidak tersampaikan jelas di manganya. Seperti soal Authority (‘pihak berwenang’) yang berhasil Cibo temui dalam akses terbatasnya ke NetSphere; atau soal jati diri Killy yang Sana-kan blak-blakan ungkapkan berasal dari pihak Safeguard (yang membuat pernyataan Killy kalau dirinya manusia, serta bagaimana ucapannya selalu terpatah-patah, tiba-tiba jadi terasa pahit).

It’s good.

Ini film anime aksi yang benar-benar direkomendasikan.

Kalau ada kekurangan lain… mungkin ada yang akan merasa drama antar manusianya tak ke mana-mana? Perkembangan karakter dan hubungan antar mereka minim sih. Tapi kurasa, bumbu-bumbu drama tersebut memperkaya aspek kemanusiaan di ceritanya.

Yah, mungkin juga akan ada yang mengeluh soal betapa minimnya porsi Sana-kan. Soal itu, aku juga bisa mengerti.

Sebagai penutup, mungkin perlu kusinggung kalau manga Blame! belum lama ini dirilis ulang oleh Kodansha. Dalam beberapa gambar promonya, terlihat jelas bagaimana gaya gambar Nihei-sensei telah lebih berubah dengan penggunaan garis-garis yang lebih luwes.

Berawal dari mengerjakan karya yang bakal diterima enggaknya jelas-jelas enggak jelas, kau kini seolah bisa ngerasain kemajuan kemampuan beliau sebagai pribadi.

Kita beneran ga tau masa depan bakal ngebawa kita ke mana, ya?

Penilaian

Konsep: A; Visual: A; Audio: A; Perkembangan B+; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A-

Bokurano

In anime, manga, seinen on 30/05/2017 at 14:15

Kalau ada satu seri mecha yang sebaiknya tidak kau rekomendasikan ke seorang penggemar mecha, maka itu adalah Bokurano.

Bokurano atau Bokurano: Ours (judulnya kurang lebih berarti ‘milik kita’) berawal dari manga seinen berjumlah 11 buku buatan Kitoh Mohiro. Diterbitkannya oleh Shogakukan dan diserialisasikan di majalah bulanan Ikki. Serialisasinya berlangsung di masa ketika aku kuliah, yakni dari tahun 2003 sampai 2009.

Pada tahun 2007, studio Gonzo mengangkatnya ke bentuk seri anime TV sebanyak 24 episode. Penyutradaraannya dilakukan oleh animator veteran Morita Hiroyuki dengan musik yang ditangani oleh Nomi Yuji. Naskahnya ditangani bersama oleh beberapa orang, dengan pengawasan langsung Morita-san. Ini tak terlalu masalah, berhubung struktur ceritanya mmang menampilkan tokoh utama berbeda secara bergilir. Tapi melihatnya sekarang, kurasa itu juga alasan kenapa kualitas antar episodenya bisa beragam.

Sekitar waktu animenya keluar, juga muncul adaptasi light novel berjudul Bokurano: Alternative yang dipenai Ouki Renji. Terdiri atas lima buku, aku masih kurang tahu tentang versi ini. Kudengar ini penceritaan alternatif dari cerita di manganya, dengan tokoh-tokoh yang sama, tapi juga dengan penambahan banyak tokoh baru.

Aku diperkenalkan pada Bokurano oleh temanku. Kejadiannya terjadi sesudah aku mulai memperhatikan perkembangan dunia anime sesudah lama absen. Temanku sendiri tak begitu mendalami seri ini, hanya soal bagaimana dia sekedar menganggap premisnya menarik.  Ujung-ujungnya, malah aku yang jadi mengikuti perkembangannya hingga akhir. Aku sempat dibuat trauma karenanya, dan perasaanku tentang seri ini masih campur aduk bahkan hingga sekarang.

Kemah Musim Panas

Bokurano pada dasarnya bercerita tentang 15 orang anak SMP, delapan anak lelaki dan tujuh anak perempuan. Mereka menemukan gua di tepi pantai dalam acara perkemahan sekolah alam. Di dalam gua tersebut, mereka menemukan sejumlah peralatan canggih. Lalu tak lama kemudian, mereka juga bertemu pemilik peralatan itu, seorang pria kikuk bernama Kokopelli.

Kepada mereka, Kokopelli mengaku sebagai seorang pengembang game. Ia mengaku sedang membuat game sendirian di dalam gua itu. Ia lalu menawarkan kontrak kepada anak-anak tersebut untuk mengujicoba game buatannya, yang mana si pemain harus mengendalikan sebuah robot raksasa untuk melindungi Bumi dari lima belas serbuan makhluk asing.

Anehnya, sesudah menyepakati kontrak, kesemua anak mendapati diri terbangun secara misterius di pantai. Kebingungan, mereka tak punya pilihan selain menganggap bahwa semuanya hanya mimpi.

Sampai malam harinya, dua robot raksasa muncul begitu saja di tepi laut dalam keadaan saling berhadap-hadapan. Suatu… makhluk aneh bermulut kasar bernama Koyemshi tiba-tiba muncul di hadapan kelima belas anak, dan kemudian menteleportasi mereka ke ruang kokpit robot raksasa yang berwarna hitam.

Di bangku pengendali robot yang belakangan mereka namai Zearth tersebut, ternyata sudah duduk Kokopelli, yang kemudian memperagakan kepada mereka semua bagaimana robot tersebut bisa dikendalikan semata-mata dengan pikiran.

Dimensional Robots

Singkat cerita, anak-anak yang menjalin kontrak dilibatkan sebagai peserta suatu permainan maut yang dicanangkan oleh makhluk-makhluk(?) dari dimensi lain (untuk hiburan?).

Menggunakan Zearth, anak-anak tersebut secara bergantian harus berhadapan satu lawan satu dengan robot-robot yang mewakili dunia lain. Yang dipertaruhkan adalah keselamatan seisi dunia. Apabila robot sebuah dunia gagal menghancurkan kokpit robot lawan (kokpitnya yang berbentuk bulat dihancurkan oleh robot lawan beserta seluruh isinya) dalam batas waktu pertempuran, maka dunia yang diwakilinya beserta isinya akan hancur sekalian.

Koyemshi, ceritanya, berperan sebagai semacam pemandu bagi anak-anak ini. Dia akan menteleportasi mereka dari dan keluar Zearth setiap kali pertarungan akan terjadi, tanya jawab dengan mereka kalau mau, dan juga sedikit banyak mengatur urutan para anak-anak. Tentu saja, dengan kemampuan teleportasi yang dimilikinya, Koyemshi juga bisa sangat berbahaya kalau diancam.

Kenapa harus bergantian?

Alasannya karena masing-masing robot ternyata ditenagai kekuatan jiwa. Lalu sesudah menggunakannya sekali, pengemudi bersangkutan ternyata kemudian akan mati. Membuat mereka karenanya, jadi harus digantikan peserta lain.

Sebagian besar konflik di awal cerita berkembang dari bagaimana para tokoh utama tak mengetahui kenyataan ini. Koyemshi, yang notabene brengsek, rupanya sengaja tak membeberkannya. Ini kemudian memicu berbagai masalah di antara mereka.

Terlepas dari semuanya, para anak-anak yang dipercayakan nasib dunia ini meliputi:

  • Waku Takeshi; anak bersemangat yang bercita-cita jadi pemain sepakbola. Paling tertarik dengan kata-kata Kokopelli, dan karenanya, menjadi pilot pertama.
  • Kodaka Masaru; anak seorang kontraktor sipil, yang menyimpan kekaguman sangat besar terhadap ayahnya. Sifatnya pendiam dan penyendiri.
  • Yamura Daiichi; seorang anak sulung yang bekerja keras menghidupi ketiga adiknya dengan membantu pamannya, sesudah ibunya wafat dan ayahnya meninggalkan rumah. Sifatnya serius dan berkesan kaku.
  • Nakarai Mako; gadis yang mengutamakan kejujuran karena ingin tumbuh jadi orang bertanggung jawab yang dapat diandalkan. Sering ditindas karena dianggap menyebalkan. Ibunya bekerja sebagai wanita penghibur. Mako yang kemudian menjahitkan seragam untuk teman-temannya yang lain.
  • Kako Isao; seorang anak bermasalah yang karena sejumlah alasan, akhirnya jadi berandalan juga bagi orang lain. Nyatanya, dirinya memiliki rasa inferioritas yang teramat dalam.
  • Honda Chizuru; gadis berkesan tenang dan pendiam, yang diam-diam menyimpan rasa jijik terhadap kelakuan teman-temannya yang lelaki. Untuk suatu alasan, dirinya sering membawa pisau.
  • Moji Kunihiko; anak lelaki baik hati yang terbilang bijak untuk usianya, yang kerap membantu orang lain dengan saran-sarannya. Memiliki dua teman masa kecil yang sangat dia perhatikan.
  • Ano Maki; putri angkat seorang otaku anime dan istrinya. Keluarganya tengah menunggu kelahiran adik lelaki Maki. Memiliki perasaan rendah diri sehubungan statusnya sebagai anak angkat. Dalam gilirannya, terungkap kenyataan bahwa musuh-musuh yang mereka lawan sebenarnya juga adalah manusia.
  • Kirie Yousuke; seorang anak lelaki gemuk yang jadi korban penindasan Kako. Memiliki kerabat yang menderita depresi karena berbagai masalah hidup, dan karenanya ia juga kerap mempertanyakan apakah hidup ini benar-benar layak dijalani.
  • Komoda Takami; putri seorang pejabat dan sahabat dekat Maki. Pendiam dan mudah bosan. Hubungannya dengan ayahnya menjadi salah satu sorotan cerita.
  • Tokosumi Aiko; seorang gadis ceria dan enerjik. Orangtuanya bekerja di dunia pers. Dalam gilirannya, keterlibatan anak-anak dengan Zearth mulai terungkap secara luas oleh pemerintahan Jepang.
  • Yoshikawa Kanji; seorang anak lelaki yang memiliki sisi pengertian di balik sikapnya. Memiliki sedikit masalah terkait siapa orangtuanya.
  • Machi Youko; seorang anak perempuan dari keluarga nelayan. Dirinya yang pertama menemukan gua Kokopelli, dan karenanya dihantui rasa bersalah atas apa yang terjadi.
  • Ushiro Jun; seorang anak lelaki pemarah yang kerap melampiaskan kemarahannya pada adik perempuannya. Teman dekat Kanji. Dirinya yang menurutku paling berubah dalam perkembangan cerita.
  • Ushiro Kana; adik perempuan Jun yang memiliki sifat lembut, yang menerima saja perlakuan kakaknya terhadapnya. Dirinya anggota paling muda dalam kelompok.

Kursi-kursi

Bokurano jelas bukan seri untuk anak-anak. Meski menyoroti karekter-karakter utama berusia muda, ceritanya langsung menghadapkan mereka pada kenyataan dunia yang kejam, di mana yang jahat tidak selalu dihukum dan orang-orang baik bisa berakhir tewas.

Untuk mereka yang mengenal Kitoh-sensei, Bokurano mengangkat tema-tema yang mirip dengan karya beliau sebelumnya, Narutaru, yang sekilas memang terkesan ceria dan polos. Bedanya, Bokurano memperlihatkan ‘keasliannya’ lebih awal, dan karenanya relatif lebih mudah ditelan. Tetap saja, Bokurano memberi rasa tak nyaman terlepas dari kau orang kayak apa.

Selain anak-anak yang menjadi tokoh utama, Bokurano juga jadi menyorot peran orang-orang dewasa di sekeliling mereka. Tentu saja sesudah pertarungan-pertarungan yang mereka lewati jadi memakan korban tak bersalah sampai ribuan orang. Selain orangtua masing-masing karakter utama, hadir juga orang-orang pemerintahan dan kemiliteran. Itu terutama karena teknologi asing yang terkandung dalam Zearth dan betapa kecilnya harapan yang anak-anak punya.

Aku mendengar ini belakangan, tapi kabarnya, Morita-san sang sutradara juga tak nyaman dengan cerita asli di manganya. Ceritanya memang benar-benar gelap, dengan banyak perkembangan mengerikan yang terjadi. Karenanya, dengan seizin Kitoh-sensei, Morita-san melakukan sejumlah perubahan dalam upaya untuk memberi akhir cerita yang lebih optimis. (Karenanya, beliau memperingatkan secara eksplisit pada para penggemar manganya untuk menjauhi versi anime).

Versi anime jadi punya cerita yang berbeda cukup jauh dari versi manga. Ada banyak detil karakter yang berbeda. Banyak perkembangan cerita, terutama menjelang akhir, yang juga jadi berbeda, yang sebenarnya wajar kalau mengingat manganya saat itu masih dalam serialisasi.  Singkatnya, versi manga punya nuansa cerita lebih dalam dan konklusif (dan gelap), tapi versi anime punya akhir yang sedikit lebih bahagia.

“Meluncur.”

Bicara soal teknis, versi manganya secara teknis benar-benar keren. Kemampuan Kitoh-sensei dalam memaparkan ceritanya itu menakutkan. Seperti ada daya tarik tertentu yang bisa membuatmu terpikat gitu, padahal itu enggak kelihatan di awal. Penggambaran detilnya rapi, dan terutama keren adalah bagaimana pemaparan latarnya bisa terus bergulir, baik dari dalam kokpit Zearth maupun dari sudut lebih biasa. Juga berkesan adalah bagaimana desain mecha-mechanya yang sekilas abstrak tetap saja bisa berakhir keren.

Untuk versi anime, presentasinya termasuk bagus. Kualitas audio dan videonya solid. Hanya saja menjelang akhir, sesudah sedemikian banyak pembeberan, jadinya terasa kayak masih ada lebih banyak hal penting yang harusnya bisa diungkapkan, tapi jadinya enggak. Yang muncul malah perkembangan yang terasa tangensial dan dipaksa nyambung. Tapi ini juga enggak sampai sepenuhnya jelek.

Bicara soal mecha, tak banyak sebenarnya yang bisa aku bicarakan. Kalau soal Zearth sendiri (yang ukurannya dan ukuran robot-robot sejenisnya bisa melampaui gedung pencakar langit), selain punya fitur laser dalam jumlah sangat banyak yang bisa mengejar target, juga dilengkapi kemampuan untuk mendeteksi keberadaan manusia manapun di dunia. Karena penggunanya yang berbeda-beda, cara pakai Zearth dan kemampuan yang diperlihatkan juga berbeda-beda. Dari sana, timbul juga ketegangan narasi karena betapa tidak pastinya segala hal.

Ada lumayan banyak detil mecha yang sebenarnya disediakan. Menarik juga kalau dibahas. Terutama untuk versi manga. Tapi sorotan utama Bokurano sebenarnya bukan di sana sih.

Bokurano itu… gimana ya?

Di akhir, kau akan bisa merasakan kalau pesan yang disampaikannya positif. Tapi hatimu mungkin akan keburu patah duluan.

Intinya, kurasa, hal-hal buruk itu hampir pasti akan terjadi di dunia. Semua manusia pasti bakal diuji. Kita semua bakal berakhir, tapi terserah kita apakah kita mau berakhir secara keren atau secara buruk.

Aku perlu waktu lama untuk bisa sampai berdamai dengan seri ini. Mungkin itu tandanya aku sudah semakin dewasa?

Mungkin begitu.

Penilaian (untuk anime)

Konsep: A; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B

Arifureta Shokugyou de Sekaisaikyou

In novel on 15/05/2017 at 07:59

Belum lama ini, aku jadi anggota J-Novel Club. Intinya, mereka layanan yang menerjemahkan secara resmi seri-seri light novel terbitan Hobby Japan dan Overlap ke Bahasa Inggris.

Keanggotaanku masih biasa sih, bukan premium. Keanggotaan biasa cuma membolehkan baca gratis semua buku yang terjemahannya masih dikerjakan. Dalam artian, buku-buku yang belum terbit digital secara final. (istilahnya, yang masih prepub, atau pre-publikasi) Ada porsi-porsi terjemahan yang mereka sediakan  mingguan. Jadwal rilis per bagiannya sudah mereka atur. Lalu, asal buku itu belum terbit, atau kebetulan sedang ada acara khusus, kita bisa baca bab-bab yang tersedia sepuasnya.

Di sisi lain, buku-buku yang tuntas terjemahan dan pengeditannya dan sudah resmi terbit, selain bab-bab awal yang jadi preview, sifatnya jadi tertutup buat semua anggota. Kalau mau baca, maka kita mesti beli. Kecuali, lagi, dalam kasus-kasus tertentu. (Atau, kalau kalian nyari bajakan.)

Enaknya kalau ada keanggotaan premium, ada kayak kredit yang diberikan tiap bulan gitu. Satu kredit bisa kita pakai untuk beli satu buku yang sudah terbit. Jadinya, kalau dihitung-hitung, bahkan kalau bukan yang premium pun, keanggotaan layanan ini benar-benar balik modal. Yang diterjemahkan di sini bukan versi web novel, melainkan versi light novel yang sudah cetak resmi. Lengkap dengan ilustrasi dan afterword juga. Karena itu, skema bisnis ini benar-benar mendukung para pengarang dan penerbit asli di sana.

Aku sudah menyinggung bagaimana waktu launching, J-Novel Club menggebrak dengan menghadirkan seri novel misteri sains fiksi Occultic;Nine. Animenya baru mulai tayang saat itu. Beberapa judul lain yang menonjol mencakup seri komedi Rokujouma no Shinryakusha?!, fantasi remaja Hai to Gensou no Grimgar, serta Ore ga Heroine o Tasukesugite Sekai ga Little Apocalypse?! yang sudah lumayan lama bikin penasaran sejumlah fans.

Seri novel isekai Smartphone yang animenya akan tayang musim depan juga sudah mereka kerjakan.

Tapi di antara semuanya, satu judul yang kuperhatikan khusus adalah Arifureta Shokugyou de Sekaisaikyou. Ini seri novel isekai agak terkenal karangan Shirakome Ryo. Ilustrasinya buatan Takayaki. Seri ini juga dikenal dengan judul Arifureta – From Commonplace to World’s Strongest. (Terjemahan judulnya kira-kira: ‘dari orang biasa menjadi yang terkuat di dunia.’)

“Apaan Ini?! Ini sampah!”

Aku pertama tahu tentang Arifureta saat mencari bacaan webnovel menjelang akhir 2016 lalu. Aku baru beres membaca bab terkini Kumo desu ga Nani ka?. Aku mau lanjut baca Desumachi, tapi aku masih belum sreg dengan bab-bab awalnya. Makanya, aku berkunjung ke situs novelupdates untuk mencari seri webnovel Jepang lain yang mungkin populer. Dari sana, aku menemukan judul ini.

Mulai ditulis tahun 2013 dan kalau tak salah, sudah tamat di negara asalnya (tapi masih belum tuntas diterjemahkan ke Bahasa Inggris saat ini aku tulis), Arifureta dikarang Shirakome-sensei di situs novel amatir Syosetsuka ni Narou. Nama pena beliau waktu itu Chuuni Suki. Alasan beliau menggunakan nama pena demikian karena beliau, nampaknya, punya gejala-gejala chuunibyou akut. Hal tersebut agaknya terbawa ke tulisan yang beliau buat.

Jadi, buat kalian yang belum tahu, Arifureta agak notorious di kalangan orang-orang yang pernah membacanya. Nuansa ceritanya yang semula edgy terkesan berubah drastis menjelang akhir buku pertamanya. Gampangnya, apa yang semula terkesan gelap dan serius berkembang jadi mengangkat alis dengan hadirnya elemen-elemen keseharian dan harem love comedy. Belum lagi dengan bumbu-bumbu dewasa yang tahu-tahu ada di dalamnya. Ditambah lagi, tokoh utamanya…

Gimana jelasinnya ya.

Intinya, seperti yang judulnya indikasikan, si tokoh utama berubah jadi orang yang sangat kuat. Terlalu kuat, malah. Dia bebas bersikap kayak gimanapun dia mau. Dia bebas membunuh siapapun yang menurut dia menghalangi jalannya. Dia juga bebas memandang rendah siapapun yang minta tolong ke dia (walau ujung-ujungnya, sesudah proses agak berbelit, dia bakal menolong juga.) Intinya, kepribadiannya berubah drastis tapi bukan dengan cara yang berbobot gitu.

Ini membuat segalanya agak aneh. Tema ceritanya di awal, kayaknya, adalah soal hubungan antar karakter dan balas dendam. Tapi, si tokoh utama kemudian berubah jadi orang paling kuat di dunia. Lalu sesudah itu, balas dendam dan hubungan dengan orang kayak bukan lagi jadi hal penting bagi dia. Dia malah berubah jadi terkesan egois dan enggak pedulian kayak sekarang.

Perubahan nuansanya enggak mulus. Makanya, lumayan wajar ada orang-orang yang kecewa dengan perkembangannya. Lalu, ya itu, elemen harem dan komedinya bisa terasa maksa.

Tapi di sisi lain, meski kemampuan penggalian karakter dan pemetaan plot beliau meragukan, ditambah bagaimana ceritanya sebenarnya tak serius pada sejumlah titik, mungkin karena bakat chuunibyou beliau juga, narasi Shirakome-sensei masih terbilang bagus. Ini diperkuat juga dengan pembangunan dunianya yang termasuk menarik.

Begitu cerita dibuka, kita langsung diperkenalkan pada karakter-karakter berjumlah enggak sedikit. Tapi bagusnya, semua karakter tersebut punya konsep yang jelas gitu. Premis ceritanya kuat, yaitu soal bagaimana Nagumo Hajime dan teman-teman sekelasnya tiba-tiba dipanggil ke dunia lain untuk menyelamatkannya dari bahaya. Kita dipaparkan secara runut soal gimana dunianya bekerja. Detil deskripsi latarnya keren. Ini diperkaya dengan konflik hubungan antar karakter yang ada sejak awal. Hasilnya lumayan berkesan.

Dengan kelemahan-kelemahannya, kalau membaca penuturan Shirakome-sensei sendiri, aku jadi memahami kenapa cerita ini sampai perlu ‘diperjuangkan’ oleh editornya untuk bisa terbit. Pada pertengahan 2015, seri ini terbit resmi juga sebagai light novel di bawah bendera Overlap. Penerbitan versi LN setahuku masih berlanjut saat ini kutulis.

Cerita versi LN setahuku tak beda jauh dibandingkan versi WN. Di samping pengeditan lebih rapi, kelebihan utama versi LN adalah adanya bonus cerita-cerita sampingan yang sifatnya tambahan, yang tak terlalu mengubah alur cerita utama.

Dengan kepopulerannya yang lumayan, Arifureta juga memperoleh adaptasi manga yang dibuat RoGa. Seri manganya masih relatif baru, baru mulai terbit pada akhir tahun 2016 (hari Natal?) lalu. Berhubung ilustrasi Takayaki-sensei lebih berfokus ke karakter, adaptasi yang dibuat RoGa-sensei jadi menonjol karena menampilkan desain berbagai monster yang Hajime hadapi.

Aku memutuskan baca Arifureta di J-Novel Club semula karena penasaran. Tapi dari rasa penasaran tersebut, aku lagi-lagi nemu seri yang enggak sepenuhnya bisa dibilang bagus, tapi secara meyakinkan bisa dibilang rame.

Pergi ke Dunia Lain Sana

Arifureta dibuka dengan bagaimana Hajime dikisahkan terjatuh ke dalam jurang gelap yang seolah tak berdasar. Keputusasaan menaungi seiring hilangnya cahaya di depan matanya.

Narasi lalu kembali ke beberapa waktu sebelumnya.

Hari itu adalah hari Senin, waktu yang bikin depresi bagi Nagumo Hajime.

Hajime ceritanya remaja otaku kurus dengan tampang senantiasa mengantuk. Dia sering begadang karena mengutamakan hobi di atas segala-galanya. Ayahnya bekerja di industri game dan ibunya adalah mangaka shoujo. Rencana awalnya dalam hidup adalah untuk bekerja di perusahaan ayahnya atau membantu pekerjaan ibunya. Dia tak gampang terpengaruh orang lain. Pada dasarnya, dia bersifat pendiam. Intinya, dia tipe yang hanya ingin dibiarkan hidup damai.

Masalahnya, Hajime diam-diam dibenci hampir seluruh teman sekelasnya.

Entah kenapa, secara berkelanjutan, sejak pertama kali masuk SMA, Shirasaki Kaori, gadis paling populer di sekolahnya, yang dikenal cantik dan lemah lembut dan baik hati, terus-terusan mendekati Hajime setiap hari.

Kebanyakan orang di sekeliling mereka sulit menerima kenapa orang datar, payah, gagal, dan ‘rendahan’ seperti Hajime bisa-bisanya akrab dengan Kaori. Memang Hajime siapa? Mereka tak bisa membayangkan Kaori benar-benar suka terhadap Hajime. Karenanya, mereka kira Hajime dengan sengaja menyusahkan Kaori agar Kaori mengurusinya setiap hari.

Hanya saja, Hajime juga tak mengerti. Setahunya, dirinya dan Kaori baru kenal pas SMA. Mereka jelas bukan teman masa kecil. Lalu terlepas dari segala isyarat yang coba Hajime berikan, sikap Kaori tak pernah berubah.

Situasi ini membuat Hajime stres karena Kaori merupakan salah satu dari geng empat orang paling menonjol di sekolahnya. Kebetulan, kesemuanya adalah teman sekelas Hajime. Selain Kaori, Mereka mencakup:

  • Amanogawa Kouki, cowok paling populer di sekolah. Tampan, pintar, jago olahraga. Seakan sempurna dengan kepribadiannya yang lurus dan caranya membawakan diri. Dirinya juga merasa Hajime keseringan merepotkan Kaori.
  • Sakagami Ryutarou, sahabat Kouki. Sangat jangkung, berbadan besar seperti beruang, dan berdarah panas. Kepribadiannya terbuka dan tak peka. Ia terang-terangan menunjukkan rasa kurang sukanya dengan Hajime yang dianggapnya pemalas.
  • Yaegashi Shizuku, gadis jangkung dan jago kendo, teman dekat Kaori, dan tak kalah populer darinya. Peka terhadap perasaan orang, dan karenanya menjadi satu dari sekian sedikit yang sebenarnya memahami situasi Hajime. Shizuku juga kenal lama dengan Kouki yang pernah berlatih di dojo keluarga Yaegashi, dan mereka berdua pernah sampai ke kejuaraan nasional.

Kedekatan Hajime dengan Kaori juga membuat Hajime diam-diam ditindas oleh geng berandalan di sekolah. Mereka terdiri atas Hiyama Daisuke dan kawan-kawannya: Saitou Yoshiki, Kondou Reichi, dan Nakano Shinji.

Daisuke tak bisa menerima kedekatan Hajime dengan Kaori. Alasannya tentu saja karena Daisuke sendiri diam-diam suka pada Kaori. Daisuke dan gengnya jadi kerap menggencet Hajime dan menjelek-jelekkan namanya.

Hajime di sisi lain tak bisa terang-terangan menolak Kaori. Ia sadar bahwa dengan bagaimana semua orang di sekolah memperhatikan mereka, menyakiti Kaori hanya akan membuat situasinya bertambah runyam.

Hajime sampai-sampai menggerutu. Kalau mereka berempat memang sedemikian sempurnanya, lebih baik mereka dipanggil ke dunia lain sana. Jadi pahlawan atau apa.

Tanpa diduga, ternyata benar-benar itu yang terjadi.

Pas jam homeroom hari itu, tiba-tiba muncul lingkaran sihir bercahaya yang memindahkan mereka semua ke dunia lain.

Esok yang Suram

Hajime dan kawan-kawan sekelasnya, beserta wali kelas mereka yang polos dan masih muda, Hatayama Aiko, tahu-tahu dibawa ke dunia lain bernama Tortus. Di sana, mereka disambut Ishtar Longbard, pria tua yang mewakili gereja suci yang menyembah Ehit, dewa yang melindungi manusia.

Ishtar menjelaskan kalau di Tortus, ada tiga macam ras:

  • ras manusia di utara,
  • ras sihir/iblis di selatan,
  • ras demi-human separuh binatang yang terasing di hutan luas di timur.

Ras manusia dan sihir bermusuhan. Manusia unggul dari segi jumlah karena relatif cepat tumbuh dan berkembang biak. Ras sihir unggul dari segi usia yang panjang dan kekuatan individu. Selama ini, kedudukan mereka seimbang. Tapi belakangan, ras iblis konon menemukan cara untuk menjinakkan monster-monster di alam liar.

Keseimbangan kekuatan antar ras kini terancam. Untuk mengatasinya, dewa Ehit-sama memanggil manusia-manusia dari ‘sebuah dunia lain yang berkedudukan lebih tinggi’ untuk menyeimbangkan kekuatan, yang dalam hal ini adalah Hajime dan kawan-kawannya.

Para remaja SMA pendatang dan guru mereka lalu ditampung di Kerajaan Heileigh. Heileigh adalah salah satu negeri manusia dan adalah negara yang paling dekat hubungannya dengan Gereja Ehit. Kouki yang karismatik dianggap Ishtar sebagai pemimpin. Mereka semua diperlakukan selayaknya tamu kehormatan.

Sesudah sadar bahwa apa yang mereka alami benar-benar terjadi, karena jalan pulang tak ada, Hajime dan kawan-kawannya setuju menjadi pahlawan yang melindungi pihak manusia. Aiko-chan-sensei mengkhawatirkan keselamatan mereka semua, tapi mereka tak punya pilihan. Di samping itu, saat dipanggil ke Tortus, mereka ternyata diberkahi kekuatan-kekuatan luar biasa yang membuat mereka di atas manusia-manusia lain.

Untuk bersiap menghadapi perang, para pendatang kemudian dilatih untuk mengembangkan kekuatan mereka. Mereka dididik Meld Loggins, kapten para ksatria Heileigh yang tegas dan simpatik.

Melalui suatu artefak produksi massal bernama Status Plate, orang bisa mengetahui potensi kekuatan mereka. Setelah ditetesi darah pemiliknya, artefak tersebut berfungsi sebagai tanda pengenal. Tertera padanya, ada sesuatu yang disebut Job yang mengindikasikan bakat alami si pemilik. Selain memperlihatkan apa saja kemampuan (Skill) yang dikuasai, Status Plate juga memperlihatkan angka-angka parameter:

  • Level (Dalam skala 1-100, 100 mengindikasikan potensi puncak mereka yang tak bisa ditingkatkan lagi. Berbeda dari sejumlah seri isekai lain, orang meningkatkan parameter kekuatan untuk meningkatkan Level, bukan sebaliknya. Jadi Level hanya berfungsi sebagai indikator semata.)
  • Strength (kekuatan fisik, tenaga)
  • Vitality (vitalitas, daya hidup)
  • Defense (pertahanan)
  • Agility (kelincahan, kegesitan)
  • Magic (sihir)
  • Magic Defense (pertahanan sihir)

Orang-orang biasa di Tortus punya angka 10 untuk parameter-parameter tersebut. Tapi Kouki dan yang lain punya angka-angka dalam skala ratusan. Itu sekalipun mereka masih di Level 1!

Kouki pun ternyata memiliki Job Hero yang sangat langka, dengan berbagai macam Skill kuat, yang membuatnya seperti manusia super di antara manusia-manusia super. Kouki jadi persis seperti para tokoh utama dengan kemampuan cheat di seri-seri isekai yang Hajime ketahui.

Karenanya, alangkah terpuruknya Hajime saat mendapati bahwa dia jadi pengecualian atas hal ini. Secara mengherankan, semua parameter Hajime bernilai 10. Selain Skill Language Comprehension yang memungkinkannya memahami semua bahasa—yang lazim dimiliki semua pendatang dari dunia lain—Skill yang Hajime punyai hanya Transmute yang membuatnya bisa mengubah sifat bahan-bahan yang ia sentuh. Job yang dipunyainya adalah Synergist, Job tidak istimewa yang memberi bakat mengolah material seperti halnya pandai-pandai besi.

Bahkan sesudah berlatih dua minggu, kemajuan Hajime tidak signifikan. Sementara, teman-teman Hajime yang sudah di atas dirinya terus saja bertambah kuat. Itu termasuk Kaori. Itu termasuk juga Hiyama Daisuke dan gengnya yang terus menindasnya dengan kekuatan mereka yang baru. Hajime jadi semakin dipandang rendah, bahkan oleh orang-orang Tortus juga. Bahkan Aiko-chan-sensei, yang parameter kekuatannya setara Hajime, ternyata punya Job langka Farmer yang memungkinkannya mempengaruhi iklim dan bentang alam, memberinya kedudukan vital dalam perang yang akan datang.

Puncaknya, untuk membuktikan diri, Hajime nekat mempertaruhkan nyawa  melindungi teman-teman sekelasnya ketika ekskursi mereka ke Orcus Labyrinth—satu dari tujuh labirin misterius penuh monster yang ada di dunia—berjalan tidak semestinya. Namun dalam upayanya tersebut, salah seorang teman sekelas Hajime malah dengan licik menyerangnya dari belakang. Terjatuh ke dalam jurang, bahkan jerits tangis Kaori memudar tatkala Hajime ditelan kegelapan.

Lambung Logam

Porsi awal Arifureta memaparkan perjuangan Hajime selama terdampar di lantai-lantai bawah Labirin Orcus.

Hajime ketakutan setengah mati karena kehilangan sebelah tangan dalam serangan monster-monster buas. Tapi tanpa sengaja, Hajime menemukan kristal murni Divine Crystal (yang belum dikenalinya waktu itu) yang meneteskan cairan penyembuh Ambrosia yang kemudian menyelamatkan nyawanya.

Meski tak mengembalikan sebelah tangannya, Ambrosia menyembuhkan segala luka Hajime. Ambrosia sekaligus juga terus mempertahankan nyawanya, walau rasa laparnya tak hilang dan lambat laun semakin tak tertahankan.

Mengandalkan kemampuan Transmute yang terus diasah, Hajime berhasil membuat jebakan dan membunuh monster. Daging monster buruannya lalu dimakannya mentah-mentah karena saking laparnya. Tapi daging tersebut berdampak fatal bagi manusia. Menelan daging itu memberi Hajime penderitaan luar biasa. Hanya berkat Ambrosia, Hajime masih bertahan hidup.

Peristiwa tersebut memicu perubahan mental dan fisik pada diri Hajime.

Selain perubahan pada sifat dan pola berpikirnya (yang kini dengan amarahnya akan menggunakan segala cara untuk bertahan hidup), kerusakan tubuh berulang dari racun daging yang dimakannya sekaligus penyembuhan berulang berkat Ambrosia membuat tubuhnya makin berisi. Tinggi badannya juga bertambah. Lalu karena syok akibat penderitaannya, warna rambut Hajime dari hitam berubah sepenuhnya menjadi putih.

Membaca perubahan di Status Plate miliknya, Hajime juga mendapati bahwa Skill si monster—kilatan petir hitam Lightning Clad—jadi bisa digunakannya, walau dalam versi lebih lemah. Di samping itu, aura mana Hajime yang semula berwarna biru langit juga berubah menjadi hitam seperti layaknya para monster. Hajime memperoleh kemampuan untuk memanipulasi aliran mana di sekelilingnya secara langsung, tanpa perlu lagi menggunakan mantera dan formasi sihir seperti selayaknya manusia lain.

Kemampuan Transmute Hajime ikut berkembang. Kini dirinya punya Skill turunan untuk mengenali logam dan bijih batuan.

Sesudah percobaan berulang, dengan satu tangan, Hajime berhasil menyusun senjata pertamanya. Melalui Transmute, ia menciptakan pistol revolver yang dinamainya Donner dari bahan-bahan yang diperolehnya dari dasar labirin.  Selain dipicu batu api, peluru yang ditembakkan Donner juga dapat dipercepat secara elektromagnetis menggunakan Lightning Clad, menghasilkan daya hancur dahsyat setara railgun.

Berbekal Donner, Hajime menghabisi satu demi satu monster buas yang ditemuinya di Labirin Orcus.

Perjalanan Hajime di dalam Labirin Orcus lalu berujung pada pertemuannya dengan putri vampir yang telah disegel beratus tahun. Belakangan, sesudah dibebaskan, putri tersebut dinamainya Yue dan kemudian menjadi teman seperjalanannya.

Seperti halnya Hajime, Yue adalah korban pengkhianatan. Namun berkat kemampuan regenerasinya yang dahsyat, Yue tak bisa dibunuh. Akhirnya ia hanya sebatas disegel seorang diri oleh keluarganya, selama berabad-abad, dalam ruangan khusus yang mungkin disiapkan hanya untuknya.

Lolos dari berbagai macam monster, karena tak bisa menemukan jalan ke atas, Hajime dan Yue terus menelusuri jalan ke bawah. Lawan-lawan yang mereka hadapi semakin kuat. Hingga akhirnya, mereka menemukan ruang rahasia tersembunyi di dasar labirin milik Oscar Orcus, sang penciptanya. Di dalamnya, terkuaklah kenyataan tentang dunia Tortus yang sesungguhnya.

Gun Fu

Shirakome-sensei memakai sudut pandang ketiga serba tahu dalam Arifureta. Gaya narasinya tak menonjol, tapi antusiasme beliau dalam menjabarkan berbagai rincian di dalam ceritanya terasa pada setiap kalimat.

Bagi banyak orang, ada banyak hal dalam Arifureta yang bakal bikin mengernyit. Tapi buat yang suka hal-hal kayak gini (dan aku percaya jumlah mereka lumayan banyak), Arifureta termasuk rame. Isi ceritanya belum tentu kamu sukai, tapi cara penyampaiannya yang runut dan detil bisa membuat kamu tertarik.

Aku pribadi merasa Shirakome-sensei tipe yang menikmati proses membuat ceritanya. Iya, ada kesan amatiran dan main-main. Tapi tercermin dalam tulisannya kalau beliau sendiri menyadari hal ini, dan memang ada kalangan pembaca tertentu yang takkan mempermasalahkannya.

Begitu-begitu juga, tetap ada bagian-bagian tertentu di Arifureta yang di luar dugaan bagus. Ada pihak-pihak tersembunyi yang bermain di baik Kouki dan kawan-kawannya. Negeri-negeri manusia tak cuma satu, masih ada Kekaisaran Hoelscher dan Republik Fuhren, dan antara mereka terjadi konflik kepentingan. Ada kejelian mata Shizuku yang membuatnya jadi karakter swordswoman yang sangat moe buat beberapa orang. Lalu ada juga Hajime, yang meski kini tak segan bersikap kejam, yang tetap menjaga integritasnya, bukti bahwa dirinya masih belum berubah sepenuhnya jadi monster seperti yang ditakutkannya.

Itu semua diiringi dengan kehebatan-kehebatan konyol yang jadi bisa Hajime lakukan. Status Plate Hajime tak bisa lagi membaca potensinya. (Level yang tertera adalah ‘??’) Dengan Transmute dan segala turunannya, Hajime bisa menciptakan bermacam senjata yang seakan tak ada habisnya. Dengan dibantu Yue, Hajime menciptakan (semacam) sepeda motor, menciptakan (semacam) mobil, menemukan cara penghancuran struktur sihir, menciptakan (semacam) kapal selam, menciptakan (semacam) drone UAV, hingga nantinya menciptakan (semacam) satelit yang jadi salah satu serangan terkuatnya.

Mungkin keimbaan ini setara dengan hal-hal serupa yang ada di Desumachi. Hanya saja… mungkin Desumachi masih lebih baik pemaparannya? Perkembangan di Arifureta memang terasa tiba-tiba sih.

Mencari Jalan Pulang

Buat yang penasaran, dalam perkembangan cerita, Hajime dan Yue kemudian mendapati bahwa manusia dan seluruh ras lain yang ada di Tortus hanyalah bidak-bidak permainan para dewa. Di masa silam, tujuh ‘pembelot’ yang menyebut diri mereka sebagai Liberators memimpin pemberontakan untuk mengubah nasib rakyat Tortus. Tapi kekalahan para Liberator di tangan para dewa membuat mereka menyembunyikan diri, yang jadi awal mula tujuh labirin misterius yang tersebar.

Mengetahui kenyataan ini, Hajime memutuskan untuk mengabaikan segala konflik. Persetan dengan Tortus. Ia lebih memilih berfokus menemukan jalan pulang ke Bumi.

Cara pulang ini diindikasikan tersembunyi dalam enam labirin lain yang belum dipastikan lokasinya. Di samping perjalanan Hajime untuk menemukan keenam labirin lain, Arifureta lalu berkembang lewat konflik dengan teman-teman lama Hajime, kepentingan bangsa-bangsa lain, sekaligus para dewa.

Buat kalian yang penasaran soal aspek haremnya, total love interest yang akhirnya ‘jadi’ kudengar ada delapan. Tiga dari mereka berasal dari dunianya yang lama. Tadinya, aku mau memaparkan mereka siapa saja, tapi nanti jadinya terlalu spoiler. Hubungan-hubungan yang terjalin menurutku agak maksa sih (usia mereka beragam!), tapi kurasa itu bukan hal aneh buat seri-seri isekai kayak gini.

Soal Arifureta, aku paling terkesan dengan pembahasan soal integritas Hajime. Dalam hal ini, usahanya menjaga keselarasan antara kata-kata dan perbuatan. Pemaparannya memang konyol, tapi itu hal yang semakin langka di masa-masa sekarang. Karenanya, aku senang bisa melihatnya dalam sesuatu kayak gini.

Mungkin kunci untuk bisa menjaga integritas memang adalah dengan bertambah kuat?

Ada lumayan banyak seri isekai lain yang berusaha memaparkan nuansa edgy seperti Arifureta. Tapi anehnya, hanya sedikit yang benar-benar berhasil. Aku juga tak paham. Mungkin Arifureta memang kasus khusus?

Akhir kata, kurasa aku akan tetap mengikuti perkembangan Arifureta untuk saat ini.

Setidaknya, pembangunan dunianya menarik.

Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku wo! 2

In anime on 05/05/2017 at 07:34

(Ini adalah ulasan untuk musim tayang kedua Konosuba. Ulasan untuk yang pertama bisa dilihat di sini.)

Lagi ada banyak yang kuurusi belakangan. Urusan pribadi (salah satu hubunganku gagal belum lama ini), urusan kantor (ada teman sekantor mau dirumahkan), urusan hubungan sama orang (ada sedikit konflik antar tetangga). Ditambah lagi, belum lama ini komunitas lagi ramai dengan hilangnya salah satu situs paling berarti bagi para penggemar kebudyaan visual Asia. Tapi temanku memintai pendapat soal Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku o! 2 (di samping soal sejumlah hal lain). Lalu aku jadi mikir, mungkin ini waktu tepat untuk mengungkapkannya.

Sebagaimana yang semua penggemar tahu, KONOSUBA – God’s blessing on this wonderful world! 2 adalah musim tayang kedua dari adaptasi anime Konosuba. Ceritanya masih diangkat dari seri novel fantasi komedi karangan Akatsuki Natsume dengan ilustrasi buatan Mishima Kurone. Produksinya masih dibuat Studio DEEN. Staf yang menanganinya juga masih sama; Kanasaki Takaomi sebagai sutradara, Uezu Makoto yang membuat naskah untuk komposisi seri, dan musik oleh Kouda Masato.

Tentu saja, berhubung ini sekuel yang sudah direncanakan, kalau kalian sudah menggemari season pertamanya, enggak banyak yang bisa dikatakan soal season keduanya.

Paling soal bagaimana Satou Kazuma, sang tokoh utama, jadi dihukum mati atau tidak.

Untuk yang lupa, di akhir musim tayang sebelumnya, Kazuma ditahan sesudah (tanpa sengaja) melakukan sesuatu yang membuatnya dituduh (ehem!) makar. (Ini tuduhan yang populer sekali belakangan.) Tapi dengan cepat kita juga tahu kalau kematian pun bukan sesuatu yang agaknya Kazuma permasalahkan…

Terlepas dari itu, jumah episodenya lagi-lagi hanya sebanyak sepuluh. Dengan kata lain, season kali ini kurang lebih mengadaptasi buku 3 dan 4 dari seri novelnya. Lalu enggak, sayangnya, belum ada konfirmasi soal ada apa enggaknya season 3, walau ada lumayan banyak fans mengharapkannya.

Pengalaman Dengan Bank

Enggak rame kalau aku ceritain. Tapi kalau mau sedikit disinggung, paruh pertama Konosuba 2 tentang bagaimana Kazuma harus membersihkan nama baiknya sesudah dituduh yang aneh-aneh. Dua rekan sekelompoknya, Megumin dan Aqua, sama-sama mencoba. Tapi justru Darkness yang menjadi penentu akhir kasus Kazuma saat dirinya mengungkapkan jati dirinya yang sesungguhnya.

Darkness ternyata adalah putri bangsawan keluarga Dustiness yang ternama,  Dustiness Ford Lalatina. Lalu dengan kuasanya sebagai bangsawan, Darkness membantu Kazuma dengan dakwaan yang ditimpakan kepadanya.

Uh, bener ini yang terjadi ‘kan? Darkness membantu Kazuma?

Yah, pada waktu yang hampir sama, ada hal-hal lainnya juga. Ujung-ujungnya, Kazuma dan kawan-kawannya jadi berhadapan dengan Vanir, satu lagi antek Raja Iblis yang merupakan rekan kerja lama Wiz, sang lich pemilik toko.

Paruh keduanya sendiri mengisahkan sesuatu yang sudah lama ditunggu-tunggu, yakni keluarnya Kazuma dan kawan-kawannya dari kota Axel, tempat di mana sebagian besar cerita berlatar selama ini, menuju kota lain! Dalam hal ini, kota indah Arcanretia, walau urusan mereka cuma untuk berwisata ke pemandian air panas sih.

Tapi lagi-lagi di sini pun, banyak hal terjadi! Ujung-ujungnya mereka bertemu dengan Hans, satu lagi antek Raja Iblis yang lain!

Seperti yang Kazuma sendiri bilang, dunia game ini benar-benar punya keseimbangan yang buruk.

“Aku tak keberatan dengan pad!”

Bicara soal teknis, meski sebenarnya enggak jauh beda, Konosuba 2 menurutku sedikit lebih bagus dari season sebelumnya. Selain berhasil mengembangkan lebih jauh fondasi yang sudah terbangun dari musim sebelumnya, ceritanya juga dituntaskan dalam titik yang positif.

Warna-warna cerah dan terang masih banyak digunakan dalam visualnya. Ekspresi muka para karakternya yang fleksibel kali ini dikasi fokus lebih banyak, yang lumayan nyambung dengan berbagai lelucon plesetannya. Ini diseimbangkan dengan penggambaran adegan-adegan aksi dramatis yang benar-benar keren. Tentu saja, meliputi ledakan-ledakan biasa yang dibuat Megumin serta aksi-aksi nekat Kazuma. Eksekusi animenya dalam hal ini benar-benar memuaskan, dan membuat kita kayak bisa memaklumi jumlah episodenya yang relatif sedikit.

Soal audio, Machico kembali hadir membawakan lagu pembuka yang tak kalah menariknya dari yang sebelumnya. Lagu penutupnya, seperti halnya “Chiisana Bokensha”, lagi-lagi adalah jenis yang dinyanyikan bersama oleh Aqua, Megumin, dan Darkness, walau perlu kuakui kalau aku sedikit lebih menyukai lagu penutup yang lama. Tapi yang paling berkesan dalam aspek ini, yang lagi-lagi perlu kusinggung khusus, meski seiyuu para karakter lain juga memberi kerja bagus, adalah peran Fukushima Jun sebagai Kazuma. Beliau benar-benar berhasil menjadi kayak penentu keberhasilan keseluruhan seri ini. Lalu dirinya benar-benar memberikan good job.

Rasanya aneh mengatakan ini. Konosuba 2 memperkenalkan banyak karakter baru dan mereka tampil hanya sebentar. Seperti Yun Yun, teman sekampung Megumin yang diperkenalkan kembali dari OVA-nya, yang agaknya kesepian karena tak punya teman. Lalu Sena, juri Kerajaan Belzerg yang menangani kasus Kazuma. Lalu ada juga ayah Darkness, Dustiness Ford Ignis, serta tunangannya, Alexei Barnes Walter. Belum lagi Eris, sang dewi junior Aqua yang kelembutan hatinya membuat hati Kazuma meleleh. (Dugaan sejauh ini adalah bahwa dirinya saat sedang menitis adalah sebagai Chris, sahabat Darkness yang berprofesi sebagai Thief. Itu, yang celana dalamnya pernah Kazuma curi.) Tapi meski demikian, hasil akhir Konosuba 2 tetap memuaskan.

Maksudku, agak tersamar peran para karakter baru ini apa. Kita juga tak benar-benar bisa bilang mereka mengalami banyak perkembangan. (Atau bisa?) Lalu para karakter utama yang kita ikuti nasibnya juga gitu-gitu aja (walau memang sedikit membaik?).Tapi kepuasan saat kita tiba di akhir cerita Konosuba 2 tetap ada.

Berkah Untuk Dunia Ini AND YOU

Akhir kata, mengikuti Konosuba 2, aku belajar bahwa separah apapun keadaan, segimana kayaknya segalanya enggak ada harapan, betapapun kamu merasa enggak ada lagi yang bisa kamu lakukan, segala sesuatu—secara konyol—masih bisa berakhir baik.

Aku suka dengan gimana Kazuma dkk secara rutin jadi mengacungkan jempol tiap kali mereka berhasil membereskan misi.

Tentu saja, semua para karakter lama, seperti Luna, sang penjaga kasir petualang; mendiang Beldia; si berandalan; dan bahkan Mitsurugi Kyouya juga sama-sama tampil kembali. Jadi singkat cerita, secara enggak terduga, kedua musim tayang anime Konosuba benar-benar adalah waktu menyenangkan.

Lumayan wajar bagaimana para penggemar mengharapkan kelanjutannya.

Apa aku jadi kepengin membaca novelnya atau enggak? Hmm. Mungkin saja ya?

Yah, kita lihat nanti.

Yeah, dunia ini suram. Tapi selalu ada berkah yang bisa kalian dapatkan kalau kalian mencarinya.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A; Audio: A; Perkembangan: B+; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A