Uchouten Kazoku

Ossu.

Berhubung season keduanya sudah akan diproduksi, bahasan kali ini soal Uchouten Kazoku.

Uchouten Kazoku, atau yang juga dikenal dengan judul The Eccentric Family (‘keluarga yang nyentrik’) berawal dari novel buatan Morimi Tomohiko. Seri ini sekilas terkesan seperti cerita komedi ringan. Tapi sebenarnya ini termasuk seri drama bertema keluarga yang menggugah dengan cara yang tak biasa.

Pertama diterbitkan pada September 2007 oleh penerbit Gentosha, Uchouten Kazoku mulai lebih dikenal semenjak adaptasi anime TV-nya dibuat studio P.A.Works pada pertengahan 2013. Penyutradaraannya dilakukan oleh Yoshihara Masayuki. Naskah ceritanya ditangani oleh Suga Shoutarou. Musiknya dikomposisi oleh Fujisawa Yoshiaki. Lalu jumlah episodenya sebanyak 13.

Ada dua alasan kenapa aku tertarik pada Uchouten Kazoku. Pertama, karena statusnya sebagai karya Morimi-sensei. Beliau penulis asli cerita Yojou-han Shinwa Taikei, yang pada tahun 2011 diadaptasi ke bentuk anime oleh studio Madhouse. Seri drama aneh yang juga berbagi latar dengan Uchouten Kazoku ini berakhir menjadi salah satu seri favoritku.

Alasan kedua, karena desain karakter orisinil untuk anime ini dibuat oleh Kumeta Kouji. Kumeta-sensei adalah pengarang manga komedi satir Sayonara, Zetsubou-sensei. Meski karya-karya beliau tak pernah bisa sepenuhnya aku sukai, gaya gambar beliau yang terkesan sederhana selalu punya kesan atraktif. Sayonara, Zetsubou-sensei dulu cukup populer untuk diadaptasi sampai tiga season oleh studio SHAFT. Makanya, begitu proyek anime Uchouten Kazoku diumumkan, aku berpikir, kapan lagi gaya gambar Kumeta-sensei akan dianimasikan lagi? (Maksudku, yang tanpa diiringi keluhan-keluhan khas beliau soal zaman sekarang.)

Singkat kata, aku jadi merasa Uchouten Kazoku satu anime yang benar-benar perlu aku ikuti.

Noryo-Yuka no Megami

Walau mengangkat tema keluarga, Uchouten Kazoku agak susah dijelaskan tentang apa.

Latarnya di Kyoto, di zaman modern. Lalu ceritanya berfokus pada suka duka keluarga tanuki (semacam musang) marga Shimogamo yang berasal dari wilayah sekitar kuil Shinto bernama sama. Seperti dalam cerita-cerita rakyat, makhluk-makhluk tanuki tersebut memiliki kemampuan berubah wujud. Mereka dapat berubah baik menjadi benda hidup maupun benda mati. Lalu berbekal kemampuan berubah wujud inilah, mereka menjalani hidup di tengah keselarasan tak biasa antara komunitas tanuki mereka sendiri, peradaban manusia, dan kalangan tengu.

…Sekali lagi, buat kalian yang masih belum sepenuhnya terbayang, ada tiga jenis ras yang saling berinteraksi, yakni:

  • Tanuki
  • Manusia
  • Tengu (Siluman… gagak berhidung panjang? Dengan kemampuan mereka untuk terbang dan berubah ke wujud manusia juga, mereka dipandang keramat dan dalam mitologi sering dianggap sebagai utusan dewata.)

Ketiga ras tersebut sama-sama tinggal di Kyoto.

Semua tanuki dan tengu tahu tentang keberadaan ras-ras lain. Namun dari kalangan manusia, hanya individu-individu tertentu saja yang tahu tentang adanya tanuki dan tengu di tengah-tengah mereka.

Salah satu individu tertentu tersebut adalah seorang wanita sangat cantik yang dikenal dengan sebutan Benten.

Benten, yang bernama asli Suzuki Satomi, adalah perempuan muda yang bukan hanya disegani, tapi juga bahkan agak ditakuti oleh orang-orang yang mengenalnya dari ketiga pihak. Selain cantik bagaikan dewi, ada kekuatan supernatural juga yang Benten punyai, yang membuatnya bisa terbang seperti halnya para tengu. Di samping itu, Benten juga teramat cerdas, dan hampir tak ada orang yang benar-benar tahu tentang maksud di balik berbagai tindakan dan ucapannya.

Keluarga Shimogamo sendiri adalah salah satu keluarga tanuki paling dikenal di Kyoto. Alasannya karena mendiang pemimpin keluarga tersebut, Shimogamo Souichirou, sewaktu memegang jabatan sebagai Nise-emon, berhasil menyelesaikan konflik antar para klan tanuki sekaligus mempersatukan mereka. Beliau orang yang dikenal dengan karisma dan wibawanya. Namun demikian, pada suatu titik, Souichirou meninggalkan keluarganya dan menghilang tanpa kabar. Lalu sesudah bertahun-tahun, dirinya kini diyakini sudah meninggal.

Anggota-anggota keluarga yang Souichirou tinggalkan antara lain:

  • Ibu Shimogamo, istri mendiang Souichirou yang kini mendedikasikan hidupnya untuk kesejahteraan anak-anaknya. Hobinya (yang sebenarnya juga caranya mengatasi duka) adalah mewujudkan kecintaannya terhadap pentas teater Takarazuka dengan crossdress sebagai lelaki. Nama aslinya sampai akhir tak pernah terungkap.
  • Shimogamo Yaichirou, putra pertama yang kini menjabat sebagai pemimpin keluarga. Ingin bisa mengikuti jejak ayahnya sebagai Nise Emon, namun ia belum cukup matang dari segi kepribadian, kemampuan, maupun pikiran.
  • Shimogamo Yajirou; putra kedua, yang karena suatu alasan, telah kehilangan kemampuannya untuk berubah wujud. Kini berwujud katak dan menjalani hidupnya di dasar sebuah sumur, sembari sesekali memberikan nasihat-nasihat kehidupan pada orang-orang yang datang berkunjung.
  • Shimogamo Yosaburou, putra ketiga sekaligus tokoh utama cerita. Simpatik, cerdas, namun memiliki kepribadian bebas yang tak mau terikat tanggung jawab. Meski demikian, pada saat yang sama, Yosaburou juga yang secara umum dipandang punya paling banyak kemiripan dengan mendiang ayahnya.
  • Shimogamo Yashirou, putra keempat yang masih anak-anak. Masih sangat kecil saat ayahnya menghilang dan kurang begitu ingat tentangnya. Masih belum ahli dalam mempertahankan perubahan wujudnya, dan bila sedang gugup, wujud ekor dan telinga aslinya dapat tiba-tiba muncul.

Dari sudut pandang Yosaburou, kita secara bertahap diperlihatkan berbagai isu menyangkut keluarga Shimogamo. Isu-isu ini mencakup:

  • Keterpikatan terpendam Yosaburou terhadap Benten dan semacam hubungan persahabatan yang terjalin antara keduanya.
  • Hubungan lama Benten dengan guru anak-anak Shimogamo, yakni seorang tengu tua yang disebut Akadama-sensei (alias Nyoigatake Yakushibou) yang masih belum sudi melepasnya.
  • Permusuhan anak-anak Shimogamo dengan keluarga tanuki lain bernama Ebisugawa.
  • Soal Kaisei, satu-satunya anak perempuan Ebisugawa Soun, yang menjadi satu-satunya anggota yang berhubungan baik dengan keluarga Shimogamo.
  • Bagaimana Yosaburou pernah dijodohkan dengan Kaisei, namun Kaisei tak pernah sekalipun mau memperlihatkan sosoknya kepada Yosaburou.
  • Adanya sekelompok manusia bernama Friday Fellows (Kinyou Kurabu) yang hobi menyantap daging tanuki setiap akhir tahun.
  • Pemilihan Nise Emon baru dan bagaimana Yaichirou terlibat di dalamnya.
  • Pusaka-pusaka berkekuatan ajaib yang dahulu dimiliki Akadama-sensei namun kini dipegang Benten.
  • Penyebab Yajirou terjebak di wujudnya yang sekarang.
  • Penyebab Benten, bahkan dengan segala yang telah dimilikinya, dalam kesendiriannya terkadang menampakkan kesedihan.
  • Kemungkinan adanya pihak tertentu yang dengan sengaja hendak mencelakakan anggota-anggota keluarga Shimogamo…

Mencoba Lagi Lebih Keras

Aku mengikuti Uchouten Kazoku terutama karena berusaha memahami apa-apa yang dipaparkan di dalamnya. Bukan dalam artian narasinya jelek. Tapi, lebih dalam artian, bahwa apa-apa yang disampaikan di dalamnya adalah hal-hal yang terasa ‘dekat’ denganku, namun asing dan tak sepenuhnya aku pahami pada saat yang sama.

Ini bukan jenis seri yang dengan mudah bisa aku rekomendasikan. Tapi kalau misalnya aku ditanya apakah ini seri yang bagus atau tidak, maka jawaban singkatnya, tanpa keraguan sedikitpun, ini bagus.

Melalui mata Yosaburou, kita mulai menjelajah hal-hal tersembunyi dalam masa lalu keluarga Shimogamo, yang kesemuanya berakar dari hilangnya Souichirou, sang ayah. Maksudku, ini terasa seperti pengalaman yang bisa dilalui siapa saja yang pernah kehilangan anggota keluarga mereka sendiri. Yosaburou bertanya-tanya pada orang-orang yang dia kenal, berbagai kerabat dan saudara yang dia kenal, soal apa-apa yang mereka lihat dan tahu soal mendiang ayahnya. Intinya jadi ke soal menggali sisi lain orang-orang dekat yang kita sangka sudah kita kenal gitu. Lalu walau prosesnya terlihat menakutkan, hasil akhirnya akan kembali memperkuat kita sebagai keluarga.

Gampangnya, ini seri yang lumayan sukses membuatku berpikir soal anggota-anggota keluargaku sendiri. Soal apa-apa yang telah mereka lalui, soal sejauh mana mereka telah kita kenal. Lalu yang paling bagus adalah saat seri ini membawa kita ke momen ketika kita mikir, “Aku enggak bisa percaya kalo ternyata si A dulu pernah melakukan ini!”

Serius, itu pengalaman yang aku tak sangka akan dapatkan dari menonton anime.

Aku mengerti bahwa kemampuan kita menyelami ‘sampah’ dan sisi gelap orang lain ada batasnya. Makanya, salah satu alasan lain yang membuat Uchouten Kazoku bagus adalah keseimbangan aneh yang dimiliki aspek komedi dan dramanya, yang memuncak dengan keonaran yang lumayan mengguncang pada penghujung cerita.

Kau Cuma Perlu Membuatnya Menarik

Bicara soal teknis, visual seri ini jelas berbeda dari gaya visual Yojou-Han Shinwa Taikei. Iya, sekalipun yang ditampilkan tetap pemandangan kota Kyoto dengan subjek-subjek latar yang itu-itu juga. Gaya gambar Uchouten Kazoku lebih berkesan dua dimensi dengan lebih menonjolkan warna-warni gitu. Tapi itu tak berarti gambar-gambar pemandangan khas P.A. Works absen di seri ini. Pemandangan-pemandangan itu secara mengesankan tetap ada, hanya saja dengan gaya visual yang berbeda saja.

Secara audio, seri ini pun kuat. Grup musk Fhana membawakan lagu penutup yang pas dengan nuansa pengharapan seri ini. Aku perlu menyinggung khusus seiyuu veteran Noto Mamiko dalam perannya sebagai Benten, yang kembali meyakinkanku bahwa kemampuan mengisi suara seiyuu veteran bisa sedemikian jauhnya dari orang normal.

Kalau membahas soal eksekusi, ceritanya kelihatannya mengikuti dengan patuh alur cerita di novelnya. Kita tak pernah bisa-bisa menebak apa selanjutnya yang akan Yosaburou dan keluarganya temui pada episode berikut yang kita lihat.

Aku mengerti kalau temanya bukan jenis yang dengan mudah diikuti oleh kebanyakan orang. Aku juga mengerti kalau Uchouten Kazoku juga tak berakhir sebagai seri yang menonjol. Tapi untuk para penggemarnya, dan kebanyakan penggemar karya Morimi-sensei lain, ada sesuatu di dalamnya yang terasa sangat berarti secara pribadi.

Kalian tahu, jenis hal pribadi yang tak perlu kau ungkapkan pada orang lain.

Oh. Iya juga.

Meski penyelesaian ceritanya dibeberkan kepada kita, kelihatannya memang sengaja ada banyak pertanyaan yang dibiarkan tak terjawab. Apalagi, setelah kita memikirkannya, bahasannya bisa mengarah ke wilayah yang cenderung gelap.

Maksudku, sesuatu yang benar-benar gelap untuk ukuran seri dengan banyak warna seperti ini.

Yah, mungkin musim tayang keduanya kelak akan memberi lebih banyak jawaban.

Penilaian

Konsep: A; Visual: A; Audio: B+; Perkembangan: B+; Eksekusi: A- ; Kepuasan Akhir: B+


About this entry