Kimi no Na wa

Aku baru menonton Kimi no Na wa.

Mungkin bisa dibilang, ini anime paling dibicarakan di tahun 2016.

Hanya beberapa bulan sesudah penayangannya di Jepang, film ini mulai diputar di negara-negara lain. Di Indonesia, kau bisa melihatnya di jaringan bioskop CGV Blitz. Film ini harusnya masih tersedia saat tulisan ini aku terbitkan. Cuma, mungkin kau perlu pandai-pandai merencanakan acara nontonnya berhubung pengaturan jadwalnya agak aneh. Mungkin karena tergantung wilayah.

Juga dikenal dengan judul Your Name (‘namamu’), walau mungkin aku berlebihan dengan berpikir begini, Kimi no Na wa susah untuk enggak kuanggap sebagai magnum opus Shinkai Makoto. Disutradarai sekaligus dipenai secara langsung oleh beliau, beliau seolah mengukuhkan namanya sebagai salah satu sutradara animasi paling ternama lewat film ini. Kalau kau baca-baca berita tentang besarnya pemasukan dan berbagai penghargaan yang film ini raih, mungkin kau juga akan berasumsi sama. Tapi kalau kau menontonnya sendiri, maka kau seolah lebih mempercayainya.

Mempercayainya dengan mata kepalamu sendiri.

Susah menjelaskannya. Tapi, Kimi no Na wa itu kualitasnya gila. Terutama kalau kau menontonnya dengan mindset yang tepat. Film ini… apa ya? Bagus sih bagus. Tapi ‘bagus’ bukan kata yang tepat. ‘Keren’ juga bukan. Ini kayak… bisa kena menghantammu secara telak gitu, tapi dalam artian positif. Kena ke titik sasaran, tapi bukan secara berlebihan juga.

Maka dari itu, kurasa wajar bila film ini sukses karena temanya tak seberat ataupun semisterius film-film Shinkai-sensei yang biasa, namun dengan kualitas visual, arahan, serta bobot cerita yang tetap sama.

Begitu beres menonton, yang terus terbayang di kepalaku adalah betapa film ini seolah menandai ‘puncak’ kemampuan Shinkai-sensei sebagai animator. Mungkin kelak beliau akan membuat film lain dengan mengangkat tema lain yang juga mengandung makna kuat yang mendalam. Namun aku sangat sulit membayangkan keluaran beliau dan studio CoMix Wave Fims sesudahnya akan bisa menandingi kekuatan film ini.

Mimpi yang Nyata dan Tak Jelas Kapan Akan Berakhir

Kimi no Na wa pada dasarnya adalah cerita boy meets girl. Cerita soal cewek ketemu cowok. Premisnya melibatkan pertukaran tubuh.

Agak susah buat menjelaskan kebagusan anime ini secara sederhana. Soalnya, aspek yang membuat ceritanya benar-benar kuat adalah beragam motif dan tema di dalamnya.

Cerita dibuka dengan pemandangan tengah jatuhnya ‘sesuatu’ dari langit. Lalu dengan beberapa kilasan maju mundur, kita secara bergantian diperkenalkan pada kedua tokoh utama: seorang gadis pedesaan yang sebal dengan kehidupannya bernama Miyamizu Mitsuha; dan seorang siswa SMA di Tokyo bernama Tachibana Taki.

Muak dengan betapa terkekangnya kehidupannya di desa—terutama sehubungan ayahnya yang hendak kembali menjabat sebagai walikota, hubungan kurang harmonis Mitsuha dengannya, serta statusnya sendiri sebagai miko kuil Shinto di wilayah tempat tinggalnya, Itomori—Mitsuha secara ceplas-ceplos berujar kalau dirinya ingin jadi seorang cowok tampan di Tokyo dalam kehidupannya yang berikutnya. Lalu tak lama sesudah itu, Mitsuha dan Taki, yang semula tak saling mengenal, secara ajaib mulai sering bertukar tubuh.

Prosesnya bagi mereka terasa seperti mimpi. Ingatan mereka menjadi agak tersamar setiap kali hal itu terjadi. Tapi dari kesaksian orang-orang di sekeliling mereka, fenomena itu tak bisa mereka bantah. Jadilah Mitsuha dan Taki saling berkoordinasi lewat penerapan bermacam aturan dan kesepakatan melalui pesan-pesan yang mereka tinggalkan. Baik lewat catatan-catatn harian ataupun coret-coretan di tubuh mereka masing-masing.

Fenomena ini berlangsung untuk beberapa lama. Dimulai setiap kali mereka bangun dan diakhiri setiap kali mereka tidur. Namun tak ada pola jelas pada kemunculannya.

Sebagai satu sama lain, mimpi Mitsuha untuk bisa menjalani hidup di Tokyo akhirnya terwujud, terutama lewat pengalamannya untuk berkunjung ke sebuah kafe. Mitsuha menjadi berkenalan dengan dua sahabat dekat Taki, yakni Fujii Tsukasa yang berkacamata dan telah lama dekatnya, serta Takagi Shinta yang berbadan besar dan selalu siap membantu. Tak dinyana, Mitsuha, dengan sisi femininnya, juga berhasil mendekatkan Taki dengan senior yang lama ditaksirnya di tempat kerja sambilan, seorang mahasiswi mandiri bernama Okudera Miki yang dikagumi banyak orang. Mitsuha bahkan berhasil mengatur janji kencan dengannya.

Taki sendiri, di dalam tubuh Mitsuha, mulai berkenalan dengan dua sahabat Mitsuha sejak kecil, yakni Natori Sayaka, gadis pemalu yang menjadi anggota Klub Siaran; serta Teshigawara Katsuhiko, remaja berbadan kekar yang menjadi putra pengusaha kontraktor di desanya, rekan kerja ayah Mitsuha, dan karenanya sedikit banyak mengerti beban yang Mitsuha rasakan. Taki, dengan bawaan agresif dan kepandaian motoriknya, sedikit banyak mengubah citra Mitsuha di sekolah yang sebelumnya kurang populer karena status ayahnya.

Taki juga mulai mengenal dua anggota keluarga yang tinggal bersama Mitsuha, yakni: Miyamizu Hitoha, nenek Mitsuha yang bijak, yang karena suatu persoalan di masa lalu telah memutus hubungan dengan ayah Mitsuha, Miyamizu Toshiki; serta adik perempuan Mitsuha berusia SD yang selalu membangunkannya setiap pagi, Miyamizu Yotsuha, yang juga mulai melihat pola bahwa bila kakaknya bangun dengan meraba-raba dadanya sendiri, itu tandanya untuk seharian ia akan berkelakuan aneh.

Memandang ke kehidupan satu sama lain, di tempat dan lingkungan yang jauh berbeda, mata Mitsuha dan Taki seperti dibuka akan hal-hal menyangkut diri mereka masing-masing. Taki, khususnya, mulai mengenal tradisi upacara-upacara Shinto yang dijaga keluarga Mitsuha secara turun-temurun, yang meski telah terlupakan maknanya akibat suatu bencana kebakaran pada satu titik, masih dijaga bentuknya hingga sekarang.

Namun pada suatu ketika, singkat cerita, fenomena pertukaran tubuh ini terhenti. Terhenti tanpa pernah terjadi lagi. Sehingga dimulailah perjalanan panjang Taki dan Mitsuha untuk bisa saling menemukan kembali satu sama lain.

Lalu dalam upaya tersebut, sejumlah hal mengejutkan terungkap. Hal-hal yang menjelaskan mengapa upaya mereka dalam menghubungi satu sama lain secara langsung sejauh ini telah gagal.

Musubi

Minat kuat Shinkai-sensei terhadap benda-benda langit kembali tertuang di Kimi no Na wa, kali ini lewat kehadiran komet terang Tiamat, yang bisa jadi merupakan penyebab fenomena aneh yang Mitsuha dan Taki alami. Ceritanya, diberitakan secara luas bahwa komet tersebut akan melintas dengan jarak dekat ke bumi. Lalu pemandangan lintasannya akan terlihat jelas pada acara festival musim panas yang akan dilangsungkan di tempat tinggal Mitsuha.

Seperti yang bisa diharapkan dari sebuah film keluaran CoMix Wave, kualitas presentasi film ini benar-benar kuat. Faktor pemandangan kembali berperan, dan kita kembali disuguhi berbagai pemandangan indah baik dari dalam maupun luar ruangan. Permainan cahaya, yang awalnya begitu menjadi ciri arahan Shinkai-sensei, tentu saja ada, tapi kini turut diiringi oleh penggambaran latar yang kuat serta eksekusi adegan-adegan yang benar-benar mulus.

Musik di film ini ditangani oleh grup rock RADWIMPS, yang menghadirkan alunan musik ringan yang mudah didengar. Mungkin karena tema film ini yang begitu menyangkut masa muda, pembawaannya pas dan cocok dengan cara yang agak berbeda dibandingkan film-film Shinkai-sensei yang sebelumnya. Jadi… bukan cuma nyambung, tapi sekalian juga melengkapi? Aku terus terang awam soal musik, jadi aku tak pernah bisa bahas banyak soal aspek ini.

Tapi yang membuat aku benar-benar terpikat pada Kimi no Na wa, yang kurasa sulit dipahami kalau tak kalian lihat secara langsung, pertama terdapat pada tema cerita, dan kedua pada cara eksekusinya.

Cerita soal pertukaran tubuh beberapa kali pernah diangkat. Dalam bentuk anime, seri Kokoro Connect menjadikan itu tema utamanya. Lalu untuk manga, Boku wa Mari no Naka karya Oshimi Shuzou yang sekarang masih lanjut setahuku bahkan menjadi salah satu inspirasinya. (Bahkan ada kenalanku yang membandingkannya dengan visual novel misteri klasik Remember 11. Dia menyangkal soal bagaimana kehadiran karakter pembunuh sadis menjadi penentu rasa sukanya.)  Tapi di Kimi no Na wa, Shinkai-sensei mengungkapkan tema di atas lewat bagaimana jiwa-jiwa manusia dan alam seakan terus bertemu dan berpadu seiring berjalannya aliran waktu. Menyadarkan posisi kita di alam semesta, apa peranan kita, serta apa-apa yang mungkin akan kita temui di masa-masa mendatang.

Ada sesuatu tentang pengungkapan itu yang enggak bisa aku jabarkan secara mudah.

Eksekusinya bagus dalam artian penceritaannya jenis yang berhasil membuatmu terus bertanya-tanya. Apa yang akan mereka perbuat? Apa selanjutnya yang akan terjadi? Bahkan saat membahas konsep agak ‘ajaib’ pun, tak ada saat-saat lambat yang membuat ceritanya susah dimasuki. Ditambah lagi, para karakternya benar-benar simpatik. Dunianya juga benar-benar terasa ‘jadi.’ Kimi no Na wa berhasil mempertahankan minat yang timbul karena saat-saat takjub dari awal sampai akhir, meskipun di awal kita belum sepenuhnya yakin cerita ini akan tentang apa.

Dari segi teknis pun, film ini benar-benar solid.

Kataware-doki

Terus terang, aku menonton Kimi no Na wa hampir tanpa tahu apa-apa tentang ceritanya. Aku hanya tahu kalau ini karya paling sukses Shinkai-sensei sejauh ini. Lalu ceritanya ada kaitannya dengan pertukaran tubuh.

Ungkapan ‘paling sukses’ di sinilah yang buatku menarik perhatian.

Aku sudah lama jadi pengagum karya-karya beliau, tapi aku bukan penikmat beratnya. Aku pertama kenal Shinkai-sensei lewat film Kumo no Mukou, Yakusoku no Bashou (atau Beyond the Cloud) yang temanya teramat menarik perhatianku. Aku sempat juga melihat 5 cm per Second. Lalu aku tahu juga ada novel-novel yang kerap melengkapi karya-karya beliau buat. (Novel 5 cm per Second kalau tak salah sudah diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Maaf aku belum baca. Sesudah melihat versi animenya, aku ternyata tak kuat dengan temanya.) Tapi pada satu titik, meski senantiasa dibuat kagum dengan keindahannya, aku merasa tema-tema yang beliau angkat dalam film-film beliau hanya sedikit yang ada relevansinya denganku.

Namun ya itu. Membaca berita-berita tentang berbagai pujian dan penghargaan yang diterima Kimi no Na wa, aku penasaran. Lalu benar juga. Ini film beliau yang mungkin paling nyambung denganku sejauh ini. (Di samping, ehem, 5 cm per Second. Tapi mari kita tak bahas luka-luka mental masa laluku.)

Begitu aku beres menonton Kimi no Na wa, aku tersadar dengan kenapa Jepang bisa menjadi negara dengan banyak dewa. Diumpamakan lewat kesenian anyaman tali yang dilakukan keluarga Mitsuha, aku seperti jadi memahami keyakinan mereka akan banyak dewa tersebut mungkin berasal dari budaya mereka dalam bekerja.

Jadi tak seperti di kebanyakan negara, orang-orang Jepang dikenal memiliki kebanggaan terhadap hasil kerja mereka. Sekecil apapun. Kebanggaan terhadap karya dan hasil kerja tersebut bukan cuma berasal dari ketekunan, tapi juga dari semacam kekhusyuan. Yang kumaksud itu kayak semacam kombinasi dari keikhlasan dan rasa syukur gitu. Karena dalam bidang kerja apapun yang mereka geluti, selalu ada suatu filosofi yang seperti berusaha mereka gali. Suatu filosofi yang membuat mereka terkesan agak berbau spiritual. Suatu ilmu. Suatu cara. Suatu ‘jalan.’ Istilahnya do.

Kalau di Air Gear, ini umpamanya adalah road yang terbentuk dari hasil latihan Air Trek berulang yang dilakukan para karakternya.

Filosofi dalam berkarya itu mereka gali karena dengan terus menggalinya, mereka bisa semakin mengenal diri sendiri. Lalu mungkin kalian pernah dengar ungkapan soal bagaimana untuk mengenal Tuhan, maka yang harus kalian kenali itu diri kalian sendiri? Sehingga kupikir wajar jadinya bila Jepang ujung-ujungnya menjadi masyarakat yang seperti mengenal banyak dewa.

Alasannya mungkin karena mereka telah sedemikian berusahanya dalam mengenal diri mereka sendiri lewat karya-karya mereka.

Meski mungkin penggambarannya abstrak, budaya mereka akhirnya jadi menanamkan keyakinan yang besar akan keberadaan hal-hal gaib. Kalian tahu, baik itu dalam bentuk dewa ataupun youkai? Lalu karena merasakan adanya hal-hal di luar lingkup kuasa mereka, mereka secara tradisional jadi bangsa yang terdorong untuk mementingkan keselarasan . Apalagi karena secara geografis, negara mereka adalah negara yang rentan bencana alam.

Yah. Susah menjelaskannya.

Contoh yang lebih gamblangnya, aku jadi ingat pengalaman-pengalamanku sendiri dalam berlatih kendo semasa kuliah. Ada sensei yang datang dari Jepang dalam rangka mengawasi ujian kenaikan tingkat. Lalu saat aku dan para seniorku minta diberi wejangan, kami diberi semacam kata-kata mutiara yang pada waktu itu, memang terasa agak-agak lebay. Kami semua tak benar-benar yakin itu artinya apa. Aku lupa apa persisnya kata-kata itu. Hanya saja kalau dibaca, rasanya agak-agak menggelikan. Tapi memikirkannya lagi sekarang, aku mulai mengerti kenapa dituturkannya dengan cara demikian. Alasannya karena… ya, karena memang itu bener. Memang seperti demikian ilmunya.

Kau hanya bisa memahaminya sesudah kau cukup menggalinya demi mengenal dirimu sendiri.

Kita Semua Pengarung Waktu

Karena aku menonton ini lebih dengan mindset sebagai penikmat magic realism, aku tak terlalu memperhatikan aspek-aspek sains fiksinya. Tapi walau begitu, sisi sains fiksi Kimi no Na wa kalau mau dibahas itu ada. Lalu kalau mau digali, semua yang terjadi itu kayaknya ada penjelasannya.

Melihat itu, aku jadi mengerti kenapa versi novelnya bisa menjadi salah satu buku paling laku di pasar Jepang di sepanjang tahun ini.

Jadi, tak seperti kebanyakan cerita pertukaran tubuh begini, apa yang Mitsuha dan Taki alami bukan kejadian ‘acak’ yang terjadi begitu saja. Dituturkan dari bagaimana Taki mengetahui bahwa fenomena ini telah terjadi secara berulang dalam keluarga Mitsuha, diindikasikan bahwa ada suatu maksud tertentu dari semua ini. Sesuatu yang sudah digariskan sekaligus besar, yang kemudian tertuang pada bagian akhir film.

Kimi no Na wa memang sangat terasa seperti cerita novel. Kalau ada kelemahan di versi animenya, itu ada pada beberapa elemen cerita latar yang kurang tergali memuaskan, seperti soal ayah Taki yang hanya muncul sebentar, atau teman-teman sekolah Mitsuha yang awalnya diperlihatkan menaruh antipati secara gamblang terhadapnya. Karena itu, versi novelnya mungkin bisa benar-benar melengkapinya.

Moga-moga saja suatu saat nanti novelnya akan ada yang menerbitkan di sini.

Akhir kata, kalau kalian berkesempatan, aku sangat sarankan untuk sempatkan menonton Kimi no Na wa di bioskop. Mungkin akan ada yang berpendapat sebaliknya, tapi aku merasa ini adalah mahakarya Shinkai-sensei. Lalu kapan lagi kita bisa melihat sesuatu sebagus ini di layar besar?

Ditambah lagi, teks terjemahannya bagus! Kayak diterjemahkan dari bahasa Jepangnya yang asli! Semua lagu temanya pun diberikan liriknya karena lirik-liriknya memang seakan melengkapi cerita. Terima kasih untuk siapapun kalian yang telah mengusahakan agar film ini bisa tayang di bioskop sini!

Aku jadi merasa nonton ini mungkin enggak cukup sekali.

Apa?

Iya, ini masih jadi film beliau yang sangat menonjolkan nuansa cinta dalam artian kerinduan dan pengharapan. Kalau soal itu, itu tak berubah kok. Lalu juga, soal bagaimana kita semua sedemikian bergantung pada ingatan.

Itulah hal berharga yang kita ‘bagi’ dengan sedemikian banyak orang.

Kalau dipikir, manusia benar-benar makhluk yang rapuh.

(Iya, itu bu guru yang sama dari yang di Kotonoha no Niwa.)

Penilaian

Konsep: A; Visual: S; Audio: A+; Perkembangan: A; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A+

(Edit: Terima kasih khusus untuk FA yang sudah memperbaiki kualitas teks terjemahan Indonesianya!)

Iklan

6 Komentar to “Kimi no Na wa”

  1. Waaa.. jadi pengen nonton.. 😍
    Sayangnya di sini gak ada bioskop 😂

  2. entah mengapa subtitle-nya drama sekali di sosial media, tapi begitu nonton di layar lebar, bagus-bagus aja koq. dan enak saja membacanya

  3. Iya. itu maksudku, yang bermula dari trailer di youtube yang translatenya berantakan.
    haha.. benar juga, lebih baik kita ambil pelajaran saja dari masalah ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: