Karakai Jouzu no Takagi-san

Aku orang yang lumayan sensitif perasaannya semenjak kecil. Lalu mungkin karena itu, serta pengalaman-pengalaman yang aku alami di masa sekolah, aku tumbuh jadi orang yang lumayan gampang mengatur perasaan sesudah dewasa.

Dengan kata lain, aku bukan orang yang gampang baper.

Aku masih cenderung moody, tapi kelihatannya emosiku tak lagi mempengaruhi penilaianku sesering dulu. Aku masih gampang tersentuh oleh cerita-cerita mengharukan di manga dan anime, tapi aku tak lagi segampang itu merasa depresi atau terngiang-ngiang karenanya.

Sampai suatu hari, aku mengetahui tentang Karakai Jouzu no Takagi-san karya Yamamoto Souichirou yang diserialisasikan sejak pertengahan 2012 di majalah bulanan Gessan milik penerbit Shogakukan.

Setelah sekian lama, akhirnya aku menemukan sesuatu yang membuatku baper lagi.

Kalau Kau Tersipu, Kau Kalah

Karakai Jouzu no Takagi-san (kira-kira berarti: ‘Takagi-san yang lihai menggoda/menjahili’) berkisah tentang Nishikata dan Takagi, dua orang yang duduk bersebelahan di sebuah ruang kelas sekolah menengah. Nishikata adalah seorang anak lelaki relatif biasa yang… uh, suka sepak bola, tak mau kalah, dan sering dibuat salah tingkah. Sedangkan Takagi adalah siswi perempuan cerdas dan berkesan dewasa yang duduk di sebelah Nishikata dan gemar sekali mengusilinya.

Entah sejak kapan persisnya, Takagi sering sekali mengisengi Nishikata hanya untuk sekedar melihat reaksi-reaksinya. Nishikata berulangkali akan dibuat tersipu dan salah tingkah dengan semua ulah Takagi, yang seketika akan disambut dengan tawa Takagi. Lalu berulang kali Nishikata akan mengatur rencana untuk ‘membalas’-nya, meski kerap kali upayanya tersebut berakhir dengan kegagalan.

Keusilan-keusilan Takagi ini biasanya berupa kata-kata yang memancing-mancing Nishikata. Kadang juga Takagi menjahilinya hal-hal seperti bersembunyi di suatu sudut dan mengagetkannya.

Sebagian besar cerita dituturkan dari sudut pandang Nishikata, yang setiap waktu terus memikirkan siasat untuk membalas Takagi. Meski demikian, buat kita para pembaca, sejak awal sudah terlihat bahwa Takagi memendam rasa suka mendalam terhadap Nishikata, hanya saja Nishikata yang masih belum cukup cermat (dewasa?) untuk menyadari hal tersebut, dan menyadari bahwa dirinya pun sebenarnya merasakan hal yang sama.

Apa yang diceritakan per babnya benar-benar terkesan sederhana. Biasanya hanya menampilkan berbagai interaksi antara Nishikata dan Takagi dalam keseharian mereka di sekolah. Terkadang, meski jarang, muncul karakter-karakter lain, yang memberi kita sedikit acuan soal bagaimana sikon mereka dan hubungan mereka sudah sampai mana.

Aku mengatakannya demikian karena lambat laun, kita akan menyadari bahwa bab-bab ceritanya ternyata tidak selalu dituturkan secara kronologis.  Ada alur maju-mundur yang digunakan. Lalu sedikit demi sedikit, kita akan mulai dibuat penasaran soal apa Nishikata dan Takagi ini pada akhirnya benar-benar akan berakhir bersama atau tidak.

“Karena aku mau pulang sama kamu.”

Jujur saja, alasan aku semula memperhatikan seri ini adalah karena aku iri dengan hubungan yang terjalin antara Nishikata dan Takagi.

Sekali lagi, aku iri.

Mungkin aku perlu menegaskannya kembali. Aku iri dengan hubungan Nishikata dan Takagi.

Yea, sekilas terdengarnya mungkin mirip Tonari no Seki-kun. Tapi hasil akhirnya benar-benar jauh berbeda.

Segala yang dituturkannya terasa begitu… ‘sederhana’ sekaligus ‘berarti’ pada saat yang sama. Gaya gambar yang digunakan Yamamoto-sensei itu bernuansa bersih, ringan dan cerah, memaparkan kehidupan yang seakan tak penting, tapi damai. Lalu kita terus diperlihatkan bagaimana kehidupan Nishikata dan Takagi berlanjut pada berbagai titik yang berbeda. Lalu kita dibuat penasaran setengah mati… soal bagaimana ini semua bakal terjalin dan terbentuk.

Uh, karena aku jarang merasa begini, aku kesusahan mendeskripsikan perasaanku.

Tapi terlepas dari itu, aku mengetahui tentang seri ini saat secara iseng menggugel ‘oniichan’ (yang salah satunya membawaku ke grup translasi oniichanyamete) yang membawaku pada Fudatsuki no Kyoko-chan, salah satu karya Yamamoto-sensei yang lain (tentang seorang anak SMA sangar yang disangka siscon karena berusaha menutupi kenyataan kalau adik perempuannya semacam vampir), yang menampilkan tema keseharian serupa namun dengan nuansa lumayan berbeda. Heh, bahkan gaya gambar beliau di seri ini juga berbeda, padahal keduanya kalau tak salah diserialisasikan sekaligus! Dari sana, aku kemudian mengetahui tentang Yamamoto-sensei, dan akhirnya jadi lumayan penasaran beliau orang seperti apa sampai bisa menghasilkan cerita-cerita macam begini.

Aku terus terngiang lumayan lama dengan seri ini sesudah memeriksanya sendiri.

Lalu karena aku iri, aku memutuskan untuk terus berusaha! Alasannya karena aku tahu seberapa besar rasa penyesalan yang bisa timbul kalau kau menyerah!

Maka dari itu, kalian juga jangan segampang itu menyerah!

Iklan
Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: