Re: Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu

Pikiranku tersita belakangan. Tapi kalau ada satu seri anime baru yang benar-benar aku rekomendasikan untuk tahun ini, maka itu adalah Re: Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu, atau yang juga dikenal dengan judul Re: Zero –Starting Life in Another World- atau juga Re: Life in a different world from zero. (Judulnya kira-kira berarti: ‘memulai hidup baru di dunia lain dari nol’).

Anime ini diadaptasi dari seri novel berjudul sama (seperti banyak seri lain belakangan, yang semula web novel, tapi kemudian diterbitkan resmi secara cetak sebagai light novel) terbitan Kadokawa Shoten. Pengarang aslinya adalah Nagatsuki Tappei dan ilustrasi orisinilnya dibuat oleh Otsuka Shinichirou.

Produksi animasinya sendiri dilakukan oleh studio animasi White Fox, dengan penyutradaraan dilakukan oleh  Watanabe Masaharu, komposisi seri dilakukan oleh Yokotani Masahiro, dan musik oleh Suehiro Kenichiro. Total jumlah episodenya sebanyak 25. Tapi kalau kau menghitung jumlah efektif penceritaannya, termasuk episode awal yang berdurasi dua kali lipat yang lain, durasinya secara efektif mungkin mencapai 27 episode anime normal.

Mungkin aku sudah tak perlu mengatakan ini, berhubung kebanyakan fans pasti sudah tahu, tapi jujur, ini termasuk salah satu adaptasi novel ke anime paling bagus yang pernah dibuat dalam tahun-tahun terakhir.

Waiting for your touch

Tanpa terlalu masuk ke detil, cerita Re: Zero dibuka dengan tiba-tiba tersadarnya seorang remaja laki-laki bernama Natsuki Subaru di tengah sebuah pasar di dunia lain. Hal terakhir yang diingatnya adalah bahwa dirinya baru pulang dari convenience store. Pakaian yang dikenakannya adalah track suit biasa yang sering dikenakannya. Lalu di tangannya ada kantong plastik berisi sejumlah belanjaan.

Ide cerita Re: Zero sekilas memang terkesan biasa-biasa saja. Tapi jujur, perkembangannya ternyata bisa ke mana-mana.

‘Dunia lain’ tempat Subaru kini berada rupanya adalah ibukota negeri Lugunica. Seperti tipikal ‘dunia lain’ dalam cerita-cerita macam begini, ada ras-ras manusia dan non-manusia dalam suatu peradaban abad pertengahan. Kotanya sendiri benar-benar besar, dengan gerobak-gerobak dan kereta yang ditarik naga-naga darat dan gang-gang sempit di mana-mana. Ada hal-hal ajaib, yang terwujud dengan kekuatan sihir roh. Subaru langsung kebingungan dengan apa-apa yang telah ada di sekelilingnya, tapi ia mendapati diri tak mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang-orang di sekelilingnya.

Singkat cerita, Subaru mendapati nasibnya seakan terhubung dengan seorang gadis berambut perak berdarah separuh elf bernama Emilia.

Emilia sempat menolong Subaru saat ia terdesak oleh gerombolan penjahat di tengah kota. Lalu untuk membalas budi—dan sekaligus karena terpikat oleh kecantikan dan kebaikannya—Subaru memutuskan membantu Emilia yang saat itu seperti sedang mencari suatu barang hilang.

Urusan ‘membantu mencari barang hilang’ ini ternyata berbuntut panjang.

Terungkap ada suatu pihak tertentu yang hendak menghilangkan nyawa Emilia. Pihak tersebut ikut membuat Subaru terbunuh karena ulah mereka. Tapi terungkap pula bahwa—agak sesuai sekaligus tidak sesuai dengan pengharapan Subaru, yang ternyata tak asing dengan cerita-cerita pindah ke dunia lain kesukaan para otaku—Subaru dihadirkan ke dunia ini dengan kemampuan misterius untuk memutar kembali waktu setiap kali dirinya terbunuh.

Berbekal kemampuan baru itu, Subaru bertekad untuk menemukan jalan keluar demi bisa menolong Emilia.

Sekalipun, itu secara harfiah berarti ia harus mati berulangkali demi gadis yang ia sukai.

Untuk Sekarang, Aku Mengantarmu Pergi

Adaptasi anime Re: Zero mencakup kurang lebih tiga arc-nya yang pertama.

Meski ini tak terlihat di awal, sebenarnya, terutama kalau dibandingkan dengan seri-seri bertema sejenis, struktur dan arah perkembangan cerita Re: Zero terbilang tak biasa. Sesudah kasus yang pertama di ibukota, masih bersama Emilia, Subaru terbawa ke lingkungan baru, berkenalan dengan orang-orang baru, dan dihadapkan pada persoalan-persoalan baru. Tapi persoalan-persoalan ini terus ‘mengambil fondasi’ dari yang sebelum-sebelumnya, dan kerap membawa ceritanya ke arah-arah yang tak terduga.

Ini paling mencolok dari tantangan-tantangan yang Subaru hadapi. Kalau pakai acuan angka, misalnya, tingkat kesulitan yang Subaru hadapi di arc pertama levelnya 2. Tingkat kesulitan yang Subaru temui di arc kedua adalah 4. Tapi pada arc ketiga, yang memakan durasi lebih dari separuh seri, Subaru serta merta menghadapi tingkat kesulitan berlevel 10 yang sedemikian menguras mentalnya; inilah titik ketika sebagian besar pemerhati sudah tak lagi bisa melepas mata mereka dari Re: Zero.

Perkembangan ceritanya, kalau dipikir, sebenarnya tak bisa dibilang besar. Tapi perkembangannya mengambil jalur-jalur yang sedemikian tak disangka—memanfaatkan segala kemisteriusannya yang dijaga—sehingga apa-apa yang terjadi bisa sedemikian melarutkan mereka yang menonton.

Dari mana kekuatan Subaru berasal? Siapa pihak-pihak yang ingin membuat Emilia terbunuh? Lalu, siapa sesungguhnya Satella, sang Jealous Witch (‘penyihir cemburu’) yang sedemikian ditakuti semua orang, yang wujud dan rasnya konon sangat mirip dengan sosok Emilia?

Dampak perkembangan ceritanya sangat terasa karena Re: Zero semula adalah jenis seri yang tertarik atau tidaknya kau terhadapnya bisa sangat hit or miss. Lebih tepatnya, pada bisa atau tidaknya kau mentolerir pribadi Subaru dengan segala tingkah dan kelakuannya.

Ada beberapa hal di awal cerita yang akan langsung terasa janggal oleh mereka yang mencoba mengikuti Re: Zero. Salah satunya misalnya, adalah betapa minimnya Subaru membahas soal kehidupannya di dunia sebelumnya, yang alasannya baru tersirat belakangan. Atau pada bagaimana Subaru berbicara dengan cara sok akrab dan banyak omong sekaligus keotakuan. Normalnya, sikap Subaru tersebut akan membuat kita yang menonton merasa sebal. Tapi bagi para penduduk Lugunica, sikap Subaru yang sangat egaliter justru adalah hal tak biasa sekaligus menarik yang mungkin menjadi alasan mengapa mereka membuka diri.

Ada aspek-aspek menyebalkan di awal cerita. Ada banyak elemen di Re: Zero yang juga terasa tipikal dan seperti dicomot dari seri-seri yang sudah-sudah. Tapi lambat laun, kita mulai menyadari, ada pilihan-pilihan tertentu yang sengaja diambil oleh Nagatsuki-sensei karena ingin memaparkan ide-ide tersebut ke arah yang lumayan berbeda dari yang pernah diambil. Sampai akhir, Subaru tak berkembang menjadi karakter yang sakti, misalnya. Lalu ada hal-hal tertentu lain, seperti asal usul dan masa lalu para karakternya, yang memang sengaja ditahan dulu untuk diungkap pada saat yang tepat.

Rasanya seolah… Nagatsuki-sensei sengaja ingin membuat semacam komentar sosial bagi jenis kalangan yang lazimnya memperhatikan seri semacam Re: Zero. Tapi untuk itu, beliau sebelumnya mencoba berbicara dulu dalam ‘bahasa’ yang tepat.

Beliau seperti sadar bahwa hasilnya tak perlu notabene bagus. Hasilnya hanya perlu… tepat.

Sekali lagi, tanpa terlalu masuk ke detil (karena salah satu daya tarik utama Re: Zero, meski pembangunan dunianya terbatas, terdapat pada berbagai detilnya yang tersamar), bahaya yang Emilia hadapi ternyata berkenaan statusnya sebagai salah satu kandidat penguasa baru dari aristokrasi Lugunica. Ada sejumlah kandidat penguasa yang mau dipilih sesudah nasib misterius yang menimpa keluarga penguasa sebelumnya. Lalu ada hal-hal terkait isu-isu takdir dan hal-hal gaib.

Alasan aku merasa Nagatsuki-sensei seperti mau membuat semacam komentar sosial adalah karena masing-masing kandidat ini mengusung paham yang berbeda-beda. Diperkenalkan menjelang pertengahan seri, kandidat-kandidat untuk tahta Lugunica mencakup:

  • Felt, kandidat paling baru, seorang gadis kecil yatim piatu dengan berkah roh angin (membuatnya sangat lincah) yang sebelumnya hidup terbatas di kawasan kumuh Lugunica, mengusung paham anarki (ketiadaan kekangan, yang lemah bisa dimakan yang kuat) karena keinginannya menggulingkan sistem pemerintahan yang berjalan. Dirinya diusung oleh ksatria Reinhard van Astrea yang menemukan jati dirinya yang sesungguhnya.
  • Crusch Karsten, seorang gadis bangsawan yang mendalami ilmu militer, yang menganut paham meritkorasi. (Dalam paham ini, semua orang harus dihargai sesuai jasa mereka. Namun kelemahannya, latar belakang orang yang berbeda-beda menyebabkan tak semua orang memiliki keleluasaan untuk memberikan kontribusi jasa yang sama.) Dirinya didukung oleh ksatria tua ahli pedang sangat tangguh, Wilhelm van Astrea, serta ksatria pengguna kekuatan air penyembuhan terkuat, Felix “Ferris” Argyle.
  • Priscilla Barielle, perempuan bangsawan sangat cantik yang seakan mampu memikat dan menundukkan semua yang melihatnya. Konon bertanggungjawab atas kematian suami(-suami?)nya. Paham yang diusungnya adalah totalitarian (kediktatoran). Salah satu pendukung andalannya adalah ksatria kekar bertopeng misterius tapi ramah bernama Al.
  • Anastasia Hoshin, seorang gadis muda dengan dialek khas dan rupa manis yang menyembunyikan kecerdasannya. Dirinya menganut paham kapitalis oligarki yang mengutamakan perolehan kekayaan materi. Sebagian pendukungnya termasuk ksatria ahli pedang sekaligus ilmu roh, Julius Euclius, salah satu orang yang paling pertama menantang kehadiran Subaru.
  • Emilia, gadis separuh elf yang mengharapkan kesetaraan derajat semua penduduk Lugunica, dan karenanya mengusung demokrasi. Dirinya ditakuti karena kemiripan rupanya dengan Satella. Selain oleh Subaru, Emilia didukung oleh bangsawan eksentrik Roswaal L. Mathers, yang mendukungnya karena suatu sebab pribadi; serta oleh Puck, makhluk mirip kucing mungil yang sebenarnya adalah roh agung yang telah mengikat kontrak dengan Emilia.

Ide perebutan tahta ini sedemikian menariknya, sampai-sampai adaptasi game Re: Zero yang sedang dikembangkan 5pb. akan dibuat seputar gagasan ini, memungkinkan kita sebagai Subaru mendukung kandidat penguasa yang berbeda-beda.

Agak seperti kasus season kedua Log Horizon, cerita di animenya juga sebenarnya sudah sempat menyusul cerita versi light novel-nya yang sudah terbit. Sedikit bagian akhir ceritanya (sekitar episode 23 ke atas) malah sebenarnya adalah porsi cerita yang belum muncul di versi ranobe (yang kalau tak salah waktu itu baru sampai buku kedelapan). Cerita versi web novel-nya tentu saja sudah lebih jauh, tapi itupun belakangan sudah lumayan tersusul.

Perkembangan ceritanya ngomong-ngomong sudah lumayan gila-gilaan. Tapi kurasa bakal menyakitkan kalau aku mengungkap apa yang kebetulan sudah aku tahu di sini.

Meski demikian, aku perlu singgung bahwa cerita animenya berhasil diakhiri di titik yang bagus. Penyesuaian cerita yang dilakukan staf produksinya tak sia-sia, dengan hasil yang secara langka terbilang memuaskan

Andai Aku Ada di Sana

Membahas soal teknis, Re: Zero termasuk anime yang benar-benar melampaui perkiraan.

Sejak zaman mereka memproduksi Katanagatari, White Fox memang dikenal sebagai studio yang nilai-nilai produksinya di atas rata-rata. Tapi khusus untuk Re: Zero, mereka seakan melampaui batasan-batasan mereka yang terdahulu. Mereka benar-benar terasa all out. Habis-habisan. Seolah seluruh aspek studio telah menyatu hatinya dan berjuang dengan sepenuh jiwa dan raga demi mengerjakan proyek ini.

Bahkan, orang awam soal animasi pun mungkin sudah bisa merasakannya dari episode pertama. Perhatian terhadap detil latar belakang keramaian Lugunica, adegan saat Subaru untuk pertama kalinya menyaksikan Emilia berinteraksi dengan para roh di saat senja, dialog bermakna mendalam antara Subaru dan Rem yang menjadi semacam pesan bagi para pemirsa NEET yang otaku, adegan-adegan pertarungannya yang membuat terbelalak, sampai perjuangan habis-habisan Subaru menjelang akhir … Re: Zero itu jadi seolah… tidak sepenuhnya memberikan apa yang semula kau harapkan, tapi malah kemudian memberikan apa yang tidak kau harapkan, yang ternyata tetap kau nikmati, dalam porsi-porsi besar.

Aku benar-benar puas mengikutinya.

White Fox tak mengadaptasi teknik-teknik animasi yang revolusioner atau canggih atau bagaimana. Mereka hanya mengimplementasikan teknik-teknik animasi yang sudah umum dengan cara seefektif mungkin. Hasilnya benar-benar terasa maksimal.

Luar biasa, malah. Setahuku, belum pernah ada seri light novel yang mendapat perlakuan sedalam ini untuk adaptasi animasinya sebelumnya.

Visualnya indah. Meski jarang, dari waktu-waktu muncul visual yang akan membuatku wow. Musiknya pas, kalau tak bisa dibilang keren. Lalu para seiyuu juga berperan maksimal.

Sedikit bicara soal para seiyuu-nya. Ada beberapa pilihan pengisi suara veteran yang meski tak mengejutkan, menurutku sangat pas dengan karakter yang mereka mainkan. Koyasu Takehito misalnya, berperan sebagai Roswaal L. Mathers yang sisi misterius dan kuatnya (menurutku) menjadikannya karakter yang sangat ‘Koyasu Takehito’ sekali. Lalu ada Arai Satomi, yang berperan sebagai Beatrice, gadis kecil(?) misterius penjaga perpustakaan di kediaman Roswaal yang menjadi semacam sekutu Subaru dalam arc kedua. Peran Beatrice menurutku juga adalah peran yang sangat ‘Arai Satomi’ sekali kalau melihat peran-peran beliau yang telah lalu. Hal yang sama juga bisa kukatakan soal Noto Mamiko yang suara menggodanya, yang sudah agak lama tak kudengar, menghidupkan Elsa Granhilte, karakter antagonis pertama seri ini.

Tapi selain mereka, ada beberapa kejutan. Matsuoka Yoshitsugu, pengisi suara Kirito dari Sword Art Online (dan sejumlah karakter sejenis dari seri-seri lain), secara sangat mengesankan berperan sebagai musuh besar Subaru, Betelgeuse Romanee-Conti, dengan kegilaannya yang khas. Gaya pemaparannya menurutku begitu meyakinkan (cukup untuk membuat kita maklum soal mengapa Subaru sampai punya dendam pribadi terhadapnya), para seiyuu lain hanya perlu mengikuti contohnya! Meski awalnya tak mencolok, seiyuu muda Minase Inori melanjutkan daftar peran meyakinkannya sebagai karakter pelayan Rem yang berperan besar bagi Subaru bersama kakak kembarnya, Ram. Suara lembut Takahashi Rie juga sukses menghidupkan karakter Emilia, yang sekaligus sukses meyakinkan para fans sekaligus Subaru soal EMT! (Emilia-tan maji tenshi, ‘Emilia-tan benar-benar adalah bidadari.’) Tapi di antara semuanya, tentu saja kredit terbesar perlu diberikan pada Kobayashi Yuusuke yang berhasil menghidupkan karakter Subaru melalui beragam spektrum emosi.

Grup musik MYTH & ROID, yang mulai dikenal semenjak membawakan lagu penutup anime OverLord tahun lalu, membawakan lagu penutup “STYX HELIX” yang secara pas memberi kombinasi nuansa suram, patah arang, bimbang, namun sekaligus pengharapan dan pantang menyerah yang seri ini usung. Lagu-lagu lainnya tak kalah bagusnya, tapi lagu ini benar-benar mencolok dibandingkan yang lain.

Lumayan mengejutkan bagaimana hasilnya, apalagi mengingat bagaimana ini karya pertama Watanabe-san sebagai sutradara anime berdurasi normal. Kalau melihat track record-nya, beliau memang sudah banyak berkecimpung dalam berbagai posisi staf sih, jadi mungkin kehandalan beliau sejak semula memang tak diragukan.

Kau masih bisa merasakan kelemahan-kelemahan cerita dari konsep asalnya. Tapi kalau kau memang bisa cocok dengan cerita Re: Zero, kau akan memaafkan segala kekurangannya. Lalu kau akan mulai sangat menghargai apa yang telah studionya kerjakan.

Terlebih, novelnya sendiri masih lanjut. Perkembangan ceritanya setahuku juga semakin rumit dengan begitu banyak rahasia yang masih belum terungkap. Lalu edisi baru novelnya, yang akan memaparkan kelanjutan dari cerita di animenya, sudah akan langsung tersedia bulan depan.

Menanti Hari yang Baru

Akhir kata, Re: Zero mungkin anime paling sukses di tahun 2016 sejauh ini. Kesuksesannya seolah menyatukan kalangan penggemar otaku dan penggemar anime kasual, baik yang berasal dari Jepang maupun luar Jepang. Sehingga, seperti Attack on Titan dan One Punch Man, season kedua Re: Zero seperti sudah terjamin bakal ada, dan masalahnya hanya soal kapan.

Belakangan, ada fans yang berupaya mencoba menerjemahkan web novel-nya sih, terlepas seperti apa perkembangan light novel-nya nanti. Versi ranobenya sendiri sudah dilisensi bahasa Inggrisnya, dan kuharap terjemahannya bisa segera menyusul penerbitannya di Jepang.

Tentu saja, bukan berarti ini seri yang cocok buat semua. Di samping kontennya lebih cocok buat pemirsa remaja dan dewasa, ceritanya sebenarnya berdampak paling besar bagi para otaku yang menggemari cerita-cerita tipikal tentang pindah ke dunia lain (isekai). Mereka yang masih kurang mendalami cerita-cerita bertema ini, mungkin takkan merasakan dampak yang sama.

Bagiku sendiri, kurasa aku takkan melupakan saat pertama aku memperhatikan kerumunan orang di sekeliling Subaru pada episode pertama. Itu saat pertama aku menyadari White Fox tak main-main dengan seri ini.

Adegan favoritku? Itu saat menjelang akhir, ketika Emilia berterima kasih pada Subaru karena telah menyelamatkannya lagi, sementara yang tercermin di bola mata Subaru adalah ingatan akan sikap dingin Emilia saat ia pertama menemuinya.

Kalian ngerti? Itu benar-benar membuat kita berpikir ulang alasan kita bersusah payah begini itu sebenarnya buat apa.

Dan tentu saja… sejauh apa sebenarnya kita bisa melangkah.

Penilaian

Konsep: B-; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: B+; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A+

Iklan

4 Komentar to “Re: Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu”

  1. Mampir ke tempat Al dan tiba-tiba nemu artikel ini. XD

    Hoo, aku juga ikutin seri satu ini, tapi tidak begitu semangat. Komentar singkatku soal anime Re:Zero adalah: mubazir. XD

    Sampai akhir aku gak paham kenapa anime ini banyak dibilang bagus. Padahal hampir seluruh plotnya berasa diseret-seret. Banyak hal yang bisa disampaikan secara singkat dan runut malah diperpajang hinga satu sampai dua episode penuh, terutama pada bagian-bagian untuk menunjukkan betapa depresinya si tokoh utama terhadap situasi yang dihadapi. Reaksi yang diambil si tokoh utama kemudian pun tidak menunjukkan perkembangan yang signifikan, aka. dia gak level up. Aku anggap itu memang disengaja karena maksud karakterisasi, tapi itu malah berimbas pada masalah lainnya.

    Di tengah2 season aku agak terpengaruh dengan Once Punch Man dalam menilai anime ini, yang mana dalam One Puch Man digambarkan tokor utama yang super kuat dalam hal fisik, semantara di Re:Zero sebaliknya, super lemah. Satu-satunya “kelebihan ” yang mungkin ditonjolkan pada diri Subaru hanyalah harga dirinya (pride) dan kemampuan untuk mengulang rangkaian kejadian setelah kematian (rezero atau reload), yang sekali lagi mubazir, gak dipake secara efektif sepanjang season pertama.

    Well, dia memang menggukan sedikit “otaknya” waktu mengatur taktik sebelum episode mengenai siluman paus putih terhadap beberapa faksi dalam pemerintahan kerajaan. Itu cukup mengejutkan (walau mengarah ke OOC karena sebelumnya dia tidak menunjukkan adanya kelebihan dalam hal kecerdasan. Semua aksi-reaksi yang dilakukannya kebanyakan didasarkan pada pemikiran sederhana), tapi itu masih bisa dikesampingkan. Jika dia memang selemah itu dan tidak level up secara signifikan, maka dia seharusnya sudah mati berkali-kali sampai koinnya habis (plak).

    Jadi, ya… Rasanya aku gak tertarik untuk ngikuti season Re:Zero berikutnya kalau memang bakal ada. ^^7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: