Kabaneri of the Iron Fortress

Maaf lama tak menulis. Aku baru masuk ke beberapa lingkungan baru, dan jadinya ada banyak pekerjaan yang keteteran. Belum lagi komputer yang kupakai sudah agak tua dan sudah mulai bermasalah.

Terlepas dari itu, Kotetsujou no Kabaneri termasuk yang aku ikuti perkembangannya di musim lalu. Kurasa, itu satu-satunya judul yang aku ikuti yang durasinya satu cour? Aku pertama dengar tentang Kabaneri sekitar setahun (atau dua tahun?) sebelumnya, sewaktu proyeknya pertama diumumkan. Hype-nya waktu itu memang tak terlalu terasa, berhubung konsepnya masih agak tak jelas. Meskipun demikian, nama-nama staf yang terlibat di dalamnya memang menarik perhatian.

Cuma ada dua anime yang menampilkan soal kereta yang terpikirkan olehku. Pertama, adalah Rail Wars! yang beberapa tahun lalu… uh, kayaknya cuma berakhir jadi seri komedi. Kedua, adalah seri aksi steampunk bermotif zombie Kotetsujou no Kabaneri ini, atau yang juga dikenal sebagai Kabaneri of the Iron Fortress, yang akhirnya lumayan menarik perhatian pada musim semi tahun 2016.

Produksinya dilakukan oleh Wit Studio, studio yang menganimasikan Attack on Titan dan Seraph of the End. Penyutradaraannya dilakukan Araki Tetsuro, sutradara Death Note dan Attack on Titan. Naskahnya ditangani oleh Okouchi Ichirou, yang sekali lagi, dikenal dari Code Geass: Hangyaku no Lelouch serta Valvrave the Liberator. Lalu musiknya ditangani Sawano Hiroyuki, yang kini semakin ternama semenjak mengkomposisi musik untuk Gundam Unicorn.

Jumlah episodenya sebanyak 12.

Suara-suara yang Takkan Melewati Sisa Terowongan

Kotetsujou no Kabaneri berlatar di suatu dunia lain, di mana Jepang dikenal sebagai negara kepulauan Hinomoto. Teknologi di dunia ini didominasi oleh mesin-mesin bertenaga uap. Lalu meski negara kepulauan ini terkesan indah, umat manusia hidup di bawah tekanan karena terancam oleh makhluk-makhluk buas bernama Kabane.

Kabane adalah sebutan untuk mayat-mayat hidup yang memiliki jantung menyala di dada. Jantung tersebut sulit ditembus karena terlindung di balik sangkar-sangkar logam. Dengan ketahanan tubuh yang melampaui manusia biasa, Kabane selalu berusaha memburu dan memangsa manusia. Mereka yang tewas dengan gigitan Kabane akan mengalami semacam mutasi biologis dan selanjutnya akan bangkit kembali sebagai Kabane.

Untuk berlindung dari Kabane yang berkeliaran di alam liar, umat manusia di Hinomoto berlindung di balik kota-kota berdinding besar yang disebut Stasiun. Setiap Stasiun terhubung lewat jaringan rel kereta-kereta uap berlapis zirah yang disebut Hayajiro. Umat manusia mempertukarkan barang-barang kebutuhan pokok lewat transportasi melalui Hayajiro ini. Namun demikian, itu tak berarti Hayajiro selalu aman dari ancaman Kabane.

Cerita Kotetsujou no Kabaneri dibuka di sebuah Stasiun bernama Aragane. Ada salah satu Hayajiro yang mereka andalkan terlambat dari jadwal, karena telah jatuh dalam serbuan Kabane. Lalu memanfaatkan kereta yang masih melaju, Kabane berhasil masuk ke balik dinding-dinding Aragane dan menciptakan kepanikan massal.

Di tengah kekacauan, segelintir penduduk memutuskan untuk menyelamatkan diri dalam Kotetsujou, Hayajiro satu lagi milik Aragane yang masih tersisa. Salah satu yang terlibat dalam upaya itu adalah Ikoma, seorang pandai besi uap muda,  yang di samping berhasil membuat penemuan peluru jet yang mungkin bisa membalikkan perang melawan Kabane, tanpa sengaja mengalami sesuatu yang membuat kemanusiaannya diragukan…

Di Tengah Uap di Hari Itu

Kotetsujou no Kabaneri pada dasarnya berkisah tentang bagaimana Ikoma, dan sesama pengungsi lainnya dari Aragane, berusaha menemukan tempat aman dari Kabane, menggunakan kereta Kotetsujou yang mereka tumpangi. Premisnya menarik, walau sedikit soal itu baiknya aku singgung lagi di bawah.

Berhubung ada banyak pihak dari berbagai kalangan, ada banyak konflik yang kemudian pecah. Tapi konflik terbesar terjadi berkenaan status Ikoma sebagai Kabaneri, semacam manusia campuran Kabane, yang diperolehnya sebagai hasil penanganan darurat yang diberikannya pada dirinya sendiri saat ia tergigit Kabane.

Ikoma—yang sebelumnya adalah pemuda lemah berkacamata, yang dipandang agak terlalu banyak omong oleh orang-orang di sekelilingnya—mengetahui kalau dirinya Kabaneri dari seorang anak perempuan misterius bernama Mumei (‘tak bernama’), yang ikut terbawa dalam rombongan yang menyelamatkan diri. Mumei sekilas terlihat seperti anak-anak biasa. Tapi ternyata ia memiliki kekuatan fisik luar biasa yang membuatnya sangat handal dalam menghadapi Kabane. Sebelumnya, berbahaya atau tidaknya Ikoma teramat dicurigai. Orang-orang yang melindungi dirinya hanya sahabatnya sesama pandai besi uap, Takumi, serta gadis remaja kawan lama mereka berdua, Kajika. Tapi berkat pengakuan Mumei, yang membeberkan bahwa Mumei seorang Kabaneri juga, Ikoma akhirnya diterima sebagai bagian dari pengungsi, meski tidak secara mudah.

Mumei sebelumnya tergabung dalam rombongan bangsawan yang datang untuk menemui pemimpin Aragane. Tapi dalam kekacauan yang terjadi, mereka yang tersisa hanyalah Ayame, putri keluarga samurai pemimpin Aragane; serta pengawalnya yang sangat protektif terhadapnya, seorang bushi ahli pedang bernama Kurusu.

Meski kelayakannya sempat dipertentangkan, Ayame tetap diakui sebagai penyatu orang-orang di Kotetsujou selaku statusnya sebagai penyandang kunci mesin lokomotif. Lalu keputusannya yang kontroversial untuk mempercayai kemanusiaan Ikoma dan Mumei, mungkin saja pada akhirnya akan menentukan keselamatan mereka semua.

Lelah oleh Jawaban yang Diperoleh dari Mengikuti Orang

Susah untuk tak terkesima pada Kotetsujou no Kabaneri, terutama pada tujuh episode awalnya. Buatku, bagian awal Kotetsujou no Kabaneri seolah mengisyaratkan ‘kematangan’ dari orang-orang yang terlibat dalam pembuatannya. Aku seperti bisa melihat ‘DNA’ dari karya-karya sebelumnya dari para staf yang terlibat.

Mungkin aku agak berlebihan, tapi beberapa anime yang elemen-elemennya seolah bisa kulihat di Kotetsujou no Kabaneri antara lain:

  • Attack on Titan, yang juga menjadi keluaran pertama dari studio yang memproduksinya, Wit Studio, serta disutradarai oleh Araki Tetsuro.
  • High School of the Dead, yang juga disutradarai Araki-san dan terlihat pada eksekusi adegan-adegan melawan Kabane-nya.
  • Death Note, yang tetap bisa menegangkan meski menonjolkan dialog, yang juga disutradarai Araki-san, dalam bentuk cara pandang para karakternya.
  • Guilty Crown, yang disutradarai Araki-san dan dipenai Okouchi Ichirou yang juga menaskahi seri ini, yang terlihat dari penggalian konfliknya.
  • Valvrave the Liberator, yang naskahnya dipenai Okouchi-san lewat perkembangan perpolitikannya.

Jadi seolah, mereka mewujudkan elemen-elemen khas dari seri-seri tersebut dengan cara yang lebih ‘elok’ dibandingkan sebelumnya. Karenanya, meski aku sempat waswas soal beberapa hal, aku tetap jadi punya pengharapan lumayan terhadap perkembangannya.

Kualitas presentasinya keren. Ini tertuang lewat musiknya yang menggugah serta penganimasiannya yang dinamis. Terutama membuatnya mencolok adalah desain karakter buatan ilustrator veteran Mikimoto Haruhiko yang karya-karya khasnya sudah lama sekali tak terlihat.

Mikimoto-sensei terutama dikenal sebagai desainer karakter dari seri Macross yang orisinil, dan beliau punya goresan garis halus yang benar-benar khas. Karya-karya ilustrasi beliau yang lebih modern, yang ditampilkan dalam seri ini, terlihat benar-benar cantik, dan menampilkan kesan yang belum pernah ditemui dalam seri-seri anime lain.

Sayangnya, bicara soal lima episode sisanya… singkat kata, perkembangan ceritanya kurang sesuai pengharapan kebanyakan orang. Aku takkan sampai bilang kalau ceritanya hancur sih. Tapi besarnya potensi yang episode-episode awalnya miliki memang luar biasa. Sebenarnya, ini yang sempat membuat aku dan sejumlah penggemar lainnya lumayan waswas juga. Dalam durasi episode yang terbilang tak banyak, seri ini membangun pengharapan pemirsa sedemikian rupa sampai kita dibuat ragu apakah stafnya benar-benar mampu mewujudkannya atau tidak.

Ada yang berpendapat bahwa hasil demikian karena stafnya terlanjur ‘kehabisan stamina.’ Tapi entah ya. Aku agak kurang setuju. Aku pribadi lebih mendapat kesan kalau staf produksinya sebenarnya punya rencana untuk mengembangkan ceritanya dan mereka mampu mewujudkannya, tapi pengharapan mereka sirna karena hal-hal di luar kuasa mereka.

Aku membayangkannya:

“Kita jadi lanjut?”

“…Maafkan aku. Pada akhirnya, kita tetap cuma dikasih satu cour! Pihak sponsor tak menyanggupi!”

“Apaaa? Terus? Jumlah episode yang sekarang?”

“…Dua belas. Maafkan aku!”

“Urgh! Sial. Siaaaaaaaaal. Ya sudah. Seenggaknya bukan sebelas!”

Dan akhirnya, mereka memilih rute cerita yang memang sudah mereka siapkan kalau ceritanya harus dituntaskan dalam 12 episode, sekalipun mereka tahu alternatif cerita yang mereka pilih ini tak sebagus alternatif cerita satunya yang sudah mereka siapkan. (Rute yang akhirnya mereka pilih ini menjelaskan siapa Mumei, tapi tak benar-benar menjelaskan dari mana asal mula Kabaneri.)

Aku mendapat kesan demikian karena berbeda dari episode-episode awalnya, ada kesan yang begitu worksmanship pada episode-episode menjelang akhir. Dalam artian, mereka membuatnya dalam cara yang seperti terlalu mengikuti aturan atau buku petunjuk yang mereka tahu. Masih bagus, tapi polesan dan semangat yang sebelumnya ada seakan hilang. Hasil jadinya tetap tak buruk, tapi tetap terasa tak sebagus episode-episode awalnya.

Aku curiga pihak sponsor mengucurkan dana sedemikian dengan harapan seri ini bisa sefenomenal Attack on Titan. Lalu meski tanggapan terhadap seri ini positif, reaksinya tak sebesar yang mereka harapkan. Karenanya, akhirnya para sponsor memilih mundur dan jadi mengendorkan semangat tim produksinya.

…Tapi entahlah. Itu hanya pendapatku pribadi.

Bagaimanapun, Okouchi-san sejak dulu memang punya kecendrungan memasukkan kejutan-kejutan secara tiba-tiba, alih-alih mengembangkan cerita berdasarkan fondasi-fondasi yang sebelumnya dibangun. Jadi jangan terlalu berharap beliau sudah berubah.

Yah, sekali lagi, hasil akhirnya bisa lebih buruk sih.

Kupu-kupu Roh

Selebihnya, terlepas dari semua kelemahannya, ada banyak hal menarik pada Kotetsujou no Kabaneri.

Latar dunianya, yang merupakan gabungan Jepang kuno dengan mesin-mesin uap, memiliki estetis yang khas. Nuansa perjalanan pakai kereta yang sempat dominan memberikan banyak pemandangan alam yang indah. Aku terutama lumayan kecewa pas sadar kalau perjalanan pakai kereta mereka takkan sampai benar-benar mengelilingi Hinomoto.

Karakter-karakternya menarik dan simpatik; ini sebenarnya mencakup juga para tokoh antagonis yang kemunculannya sempat dipandang sebagai ‘perusak’ cerita Kabaneri. Dalam hal ini, Biba, sang putra Shogun yang menginginkan pemberontakan, serta orang-orang yang mendukungnya, yang juga menjadi pihak yang pernah menampung Mumei. Ini cukup mengesankan kalau mengingat durasi kemunculan mereka terbilang terbatas.

Aksinya, yang terwujud lewat kombinasi teknik bela diri, senjata-senjata pedang, dan senapan-senapan bertenaga uap, benar-benar seru. Meski tak sebanyak yang diharapkan, ini terbawa lewat pembangunan suasana yang kuat.

Ada aksi-aksi akrobatik dan permainan pistol Mumei. Ada permainan pedang Kurusu. Ada bagaimana Mumei mengingatkan Ikoma akan mendiang adik perempuannya yang tewas oleh Kabane. Ada ketabahan hati Ikoma yang perubahannya menjadi Kabaneri sekaligus membuatnya sebagai pahlawan. Ada perasaan terpendam Kurusu terhadap Ayame. Ada kesepakatan antara Ayame dengan para Kabaneri untuk keselamatan mereka. Ada teriakan lantang “Rokkon Shoujo!” yang mendatangkan harapan bila terucap (Aku dengar ini istilah yang berasal dari ajaran Shinto? Biasanya diucapkan oleh para pendaki gunung saat mereka sampai ke puncak. Artinya kira-kira ‘pemurnian/pembersihan kembali enam indera’). Ada penyesalan Takumi karena gagal membela Ikoma. Ada calon masinis muda Yukina, seorang perempuan pendiam tapi perkasa, yang harus tampil ke permukaan. Lalu ada semacam asisten Yukina, Sukeri, yang punya masalah sikap tapi tetap kagum dan patuh pada Yukina. Lalu Kabanenya, seiring perkembangan cerita, semakin terlihat sebagai lawan-lawan mengerikan. Sayangnya, semua hal tersebut seperti tak berujung ke kesimpulan yang memuaskan.

Karenanya, mungkin agak susah merekomendasikan judul satu ini. Namun di sisi lain, di dalamnya ada banyak hal menarik yang bisa sangat berkesan.

Tak biasa untuk cerita-cerita Okouchi-san (yang membuatku sempat mengira beliau semakin matang), ada tema-tema soal perjuangan hidup, soal memaafkan, dan soal perbedaan orang-orang yang kuat dan orang-orang yang lemah. Maksudku, aku terkejut dengan kehadiran tema-tema ini, karena seriusan, ini biasanya tak muncul dalam cerita-cerita beliau. Kalaupun muncul, biasanya tak tergali sedalam ini. Namun sekali lagi, ini semua sayangnya agak hilang di sepertiga akhir cerita. Lalu menyakitkannya, ini juga hilang bersama agak sirnanya elemen-elemen aksinya.

Yah, aku tetap berharap ini pertanda tren lebih baik di masa akan datang sih.

Lagu penutup “Ninelie” yang dinyanyikan bersama oleh Aimer dan Chelly benar-benar sesuatu yang melarutkan untuk didengar. Lalu bagi beberapa orang, bisa tahu tentang lagu ini semata sudah jadi cukup alasan untuk tak menyesal dengan seri ini. (Iya, komposisi Sawano-san memang sekeren itu.)

Akhir kata, ini tetap menjadi salah satu seri paling menonjol di musimnya. Jadi meski kurang memuaskan, seri ini tetap patut dilihat bagi yang tertarik.

Bagian akhirnya kurang kuat. Lalu seperti kekhasan Okouchi-san, ada beberapa hal yang terasa sulit masuk akal. Ditambah lagi, tema utamanya agak bergeser. (Walau memang berhasil menjelaskan semua plot ceritanya sih.) Tapi separuh cerita awalnya benar-benar bagus.

Sebagai tambahan, season kedua Attack on Titan sudah direncanakan untuk tahun depan. Kalau mengkaji dari perkembangan cerita di komiknya, hasil akhirnya kelihatannya bisa luar biasa.

Edit, September 2016

Tambahan lainnya.

Sudah diumumkan akan ada dua film layar lebar kompilasi dari Kabaneri yang akan dibuat. Aku agak kecewa karena bukan sekuel, tapi mudah-mudahan versi ini akan memperbaiki sejumlah isu penceritaan di seri TV-nya.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A+; Audio: A; Perkembangan: B-; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B+

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: