Yamikin Ushijima-kun

Ada beberapa kenalanku yang mengira kalau aku suka mengikuti perkembangan dorama Jepang. Padahal seperti yang para pembaca blog ini mungkin tahu, yang benar-benar aku ikuti perkembangannya itu anime, bukan dorama. Tapi aku enggak terang-terangan membantah ini karena kadang lebih mudah mengobrolnya bila mereka berasumsi demikian.

Terlepas dari itu, bahasan kali ini adalah seri manga Yamikin Ushijima-kun, atau yang juga dikenal dengan judul Ushijima the Loan Shark (‘Ushijima, si lintah darat/rentenir’). Ini seri manga seinen yang dibuat oleh Manabe Shohei dari tahun 2004 dan masih diserialisasikan hingga sekarang. Serialisasinya dilakukan melalui majalah Big Comic Spirits di bawah penerbit Shogakukan. Manga ini setahuku pernah mendapat beberapa nominasi penghargaan. Selain itu, seri ini juga pernah diangkat ke bentuk seri drama TV pada tahun 2010 dan film live action layar lebar pada tahun 2012 yang dibintangi Yamada Takayuki.

Seperti yang judulnya indikasikan, seri ini tentang rentenir dunia hitam yang meminjamkan uang ke orang-orang dengan mematok bunga gila-gilaan. Meski informatif, bahasan ceritanya memang gelap dan lumayan bikin enggak nyaman.

Aku tertarik dengan manga ini karena awalnya aku tak habis pikir soal apa yang bisa diceritakan tentang orang-orang dari dunia gelap ini.

Slave-kun

Yamikin Ushijima-kun adalah seputar seorang rentenir bernama Ushijima dan anak-anak buahnya yang tergabung dalam perusahaan mereka, Kaukau Finance (mungkin terjemahan yang aku baca kurang tepat). Ceritanya mengambil pendekatan yang episodik, dengan menyorot satu demi satu kasus klien yang mereka hadapi.

Ushijima adalah seorang pria muda berbadan sangat besar dengan sejumlah piercing yang punya sorotan mata benar-benar tajam dari balik kacamatanya. Dia adalah ‘bos’ di perusahaan keuangan mereka yang relatif kecil, yang memiliki anak-anak buah yang sangat setia, dan secara pribadi mewawancarai langsung satu demi satu calon debitur yang datang ke perusahaan mereka.

Bab pertama manga ini dibuka dengan bergabungnya seorang pemuda bernama Takada sebagai pegawai baru di Kaukau Finance. Lalu melalui sudut pandangnya, kita dipaparkan tentang berbagai intrik dan metode terkait cara perusahaan-perusahaan keuangan gelap ini bekerja. Itu lengkap dengan konsekuensi bila para peminjam sampai gagal membayar, hubungan perusahaan mereka dengan pihak-pihak lain seperti polisi dan yakuza atau bahkan sesama rentenir, serta drama orang-orang ‘biasa’ yang jalan hidupnya sampai bersinggungan dengan perusahaan ini.

Bunga 50% Setiap 10 Hari

Apa yang menarik dari Ushijima-kun adalah penggambaran ‘sisi lain’ dunianya.

Sekedar mengklarifikasi; Ushijima, anak-anak buahnya, lalu orang-orang dari perusahaan-perusahaan lain seperti mereka, adalah orang-orang jahat.  Mereka nyata-nyata tak berperikemanusiaan. Mereka jelas-jelas mau saja menjebak orang-orang agar sengsara.

Seri ini tak berusaha membuat mereka ditampilkan secara ‘baik’ atau gimana. Seri ini secara pragmatis—tapi informatif—hanya sekedar menjabarkan mereka orang-orang seperti apa, dan di dunia macam apa masing-masing dari mereka ‘bekerja.’ Sekali lagi, awalnya aku heran soal apa yang bisa diceritakan dari orang-orang kayak gini. Lalu bagusnya Ushijima-kun ada pada bagaimana segala sesuatunya dipaparkan dengan cara yang membuat kita kira-kira mengerti kompleksitas semuanya gitu.

Awal segala sesuatunya sederhana: ada orang-orang yang butuh uang.

Tapi saat mulai masuk ke soal kenapa mereka butuh uang, atau untuk apa uang itu kemudian digunakan, atau kenapa mereka yang semula merasa punya uang tahu-tahu saja jadi tak punya uang, bahasannya jadi menarik. Kasusnya ada bermacam-macam. Lalu daripada pembelajaran soal keuangan dan ekonomi, manga ini sebenarnya lebih mengangkat tema-tema psikologis dan sosial gitu.

Anehnya, tak seperti kasus-kasus di Kurosagi misalnya, dan meski yang mereka lakukan memang ilegal, Ushijima dan perusahaannya tak benar-benar bisa dibilang ‘menipu’ para kliennya. Sejak awal mereka sudah terang-terangan soal segala ketentuan peminjaman mereka. Masalahnya, kebanyakan orang yang datang ke mereka itu kayak enggak memperhatikan atau bahkan enggak peduli dengan semua persyaratan ini. Yang mereka pikirkan hanya soal bagaimana mereka bisa mendapatkan uang. Karenanya, mereka juga jadi gagal melihat konsekuensi yang harus ditanggung bila mereka sampai gagal membayar.

Kalau ada yang tak disebutkan dari pihak Ushijima, mungkin itu pada sejauh apa mereka akan berbuat demi mendapatkan uang mereka kembali, plus bunga. Apalagi saat berhadapan dengan orang-orang yang ternyata nekad macam-macam dengan mereka…

“Kamu enggak bisa memandang pelanggan kita sebagai manusia!”

Gaya gambar Manabe-sensei terbilang sederhana, tapi lumayan sarat detil. Kayak, beliau bercerita dengan menampilkan ‘potret’ suatu adegan dari berbagai sudut sehari-hari gitu, tanpa membuatnya terlalu kayak di film. Dengan kata lain, Ushijima-kun termasuk jenis manga yang mencolok semata karena apa yang diceritakan di dalamnya ketimbang karena daya tarik gambarnya.

Saat sedang tidak menampilkan suatu potret drama kehidupan, ceritanya bisa tiba-tiba menjadi thriller dengan perkembangan situasi yang penuh intrik. Karena banyaknya karakter yang terlibat, mengingat siapa saja tokoh yang pernah hadir memang kadang sulit. Ada adegan-adegan kekerasan yang ditampilkan di dalamnya. Tapi dipaparkannya itu lebih kayak dengan maksud untuk menunjukkan kalau adegan-adegan itu akhirnya terjadi, ketimbang secara terang-terangan menyoroti segala ketegangan tentangnya. Jadi pemaparannya dengan cara yang lebih dengan tujuan informatif gitu, dan dengan nuansa benar-benar riil.

Ini sengaja kusebut karena apa yang bisa dilakukan orang-orang di manga ini benar-benar sadis dan tega. Ini mencakup menjerumuskan perempuan ke pelacuran atau membawa orang ke tengah hutan, mengikat mereka ke pohon, lalu meninggalkan mereka di sana.

Lalu soal para karakternya, semuanya terasa benar-benar nyata. Seolah memang sejumlah inspirasinya diangkat dari kasus-kasus yang benar-benar pernah terjadi. Kecanduan pachinko, kecanduan narkoba, atau sekedar enggan melepaskan gaya hidup. Itu kayak hal-hal yang memang bisa terjadi, walau alasan kenapa bisa sampai demikian mungkin kerap sulit dijelaskan akal sehat.

Ushijima-kun memaparkan berbagai intrik dunia hitam menyangkut urusan pinjam-meminjam uang di Jepang. Seri ini sekaligus memberi gambaran tentang modus operandi perusahaan-perusahaan sejenis itu di sana. Hasil akhirnya benar-benar menarik.

Kalau aku seorang dosen, aku akan menyarankan mahasiswa-mahasiswaku untuk membacanya agar mereka seenggaknya tahu apa yang mungkin mereka hadapi di dunia nyata.

Ceritanya tak melulu suram. Pada beberapa bagian, ada juga beberapa bumbu komedi. Seperti di adegan ketika Takada mengetahui usia Ushijima ternyata lebih muda darinya. Atau pada bagaimana subjek yang disorot pada setiap bab manga ini selalu disebut dalam judul dengan akhiran –kun. Tapi kehadiran sisi jenaka ini mungkin tak disadari orang karena saking suramnya nuansa manga ini.

Terus lambat laun, aku sendiri mulai paham kenapa Ushijima bisa sampai lebih mementingkan kelinci-kelinci lucu piaraannya (yang keberadaannya tak diketahui kebanyakan orang) ketimbang manusia-manusia lain pada umumnya. Terutama, bila kebanyakan orang yang berhadapan dengannya adalah orang-orang bebal macam begini. Aku mulai paham kenapa dia bisa sampai berpikir kalau orang-orang seperti mereka memang layak diperbudak.

Kalau aku boleh bicara dari pengalamanku di dunia kerja, orang-orang kayak klien-klien Ushijima itu ada. Lalu di masa mendatang, mungkin jumlah mereka akan terus bertambah.

Menakutkan.

Manga ini memperingatkan kita akan kenyataan menakutkan di zaman ini dan kita enggak bisa berbuat banyak untuk memperbaiki. Masa depan dunia ini suram. Zetsuboshitaaa.

Coba bayangkan kalian yang bisa berpikir jernih sekarang, suatu saat di masa depan, entah bagaimana, misalnya tahu-tahu jadi kacau persepsinya entah karena nafsu atau dendam. Kamu enggak lagi bisa berpikir ‘bener.’ Orang-orang di depanmu enggak cukup peduli untuk membenarkan kesalahpahaman kamu. Terus tahu-tahu kamu terjatuh dalam nasib kayak gini karena urusan uang.

Aku jadi merasa konsep ‘bunga pinjaman’ itu dibikin ada cuma agar bisa dipakai untuk menindas orang lain.

Yah, sisi baiknya, manga ini juga mengajarkan beberapa hal yang bisa dimanfaatkan untuk bertahan hidup. Mata yang jeli, pengetahuan yang bermanfaat, koneksi yang bisa kalian jaga; yah intinya, aku pun tak bisa menyangkal karisma yang Ushijima ditampilkan punyai.

Sial. Seenggaknya aku ingin bisa menambah massa otot.

Iklan
Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: