Shinmai Maou no Testament BURST

Melanjutkan postingan sebelumnya, Shinmai Maou no Testament BURST, atau The Testament of Sister New Devil BURST (‘burst’ artinya kira-kira adalah ‘letusan’), muncul dengan jeda hanya satu cour dari season pertamanya. Tayang pertama kali pada Oktober 2015, berhubung aku terkesan dengan cerita sebelumnya, aku sempat antusias begitu sadar kelanjutannya sudah ada secepat ini.

Seperti yang sempat kusinggung, staf yang memproduksinya di Production IMS (setahuku) masih sama, dengan pengecualian komposisi seri yang kini ditangani Uetake Sumio. Serupa kasus Date A Live II, season kedua ini juga berjumlah hanya 10 episode.

…Enggak, aku juga enggak yakin alasannya apa. Kurasa alasannya ada berbagai macam.

Langsung saja, season kedua ini memaparkan lebih lanjut tentang usaha Toujou Basara melindungi dua (orang yang di permukaan adalah) adik perempuannya yang baru, Naruse Mio dan Naruse Maria. Meski untuk kali ini, Basara tak sendiri. Karena ikut tinggal bersama mereka untuk membantu adalah Nonaka Yuki, teman masa kecilnya dari Klan Pahlawan, yang juga telah memasukkan dirinya dalam kontrak Maria untuk bisa membantu(?) Basara menjaga Mio.

Di Antara Angin yang Bertiup Melalui Medan Perang

Soal cerita, season kali ini terdiri atas dua bagian.

Berlatar sekitar waktu festival olahraga Perguruan Hijirigasaka, bagian pertama menyinggung tentang siapa sebenarnya Hasegawa Chisato, dokter misterius di UKS yang telah diam-diam membantu Basara dan Mio selama mereka di sekolah. Seperti yang pernah disebut, ada tiga pihak yang dalam seri ini mengalami konflik. Lalu di samping menyinggung soal pihak terakhir yang di season terdahulu belum muncul, ceritanya juga membeberkan sifat sebenarnya Brynhildr, pedang pusaka Basara, yang mungkin punya lebih dari sekedar ‘masa lalu’ dengan pemiliknya.

Bagian kedua adalah soal perjalanan Basara dan kawan-kawannya ke dunia sihir/iblis, untuk menemani Mio berhadapan dengan warisan ayahnya, sekaligus mencegah pecahnya konflik lebih besar di sana. Di sini, mereka berhadapan dengan Ramsas, paman Mio yang merupakan pemimpin saat ini dari faksi moderat; serta Leohart, mazoku muda yang kini menjabat sebagai Maou yang menggantikan mendiang Wilbert, yang semula diyakini berada di pihak berseberangan dengan Mio.

Ceritanya dibuka dengan lumayan keren lewat konfrontasi antara ayah Basara, Toujou Jin, dengan Leohart sendiri (yang mana Jin menyimpulkan bahwa yang bengkok sebenarnya bukan Leohart, melainkan orang-orang di sekelilingnya di Majelis). Toujou Jin di season sebelumnya terungkap sebenarnya adalah ‘dewa perang’ dari Klan Pahlawan, yang di ketiga alam telah disegani sebagai pejuang yang luar biasa. Karenanya, adegan pembuka ini berkesan karena akhirnya kita diperlihatkan sebesar apa cakupan kekuatannya.

Namun sayangnya, penceritaan ke sananya sama sekali tak sebagus sebelumnya. Ceritanya juga enggak lagi ‘menyatu’ sebagus dulu. Dua bagian cerita ini kayak… dua potongan yang saling enggak nyambung. Mungkin karena subplot di keduanya belum benar-benar tuntas, dan masih ada banyak hal di masing-masing ‘sisi’ cerita yang belum terjelaskan (terutama, misteri soal identitas dua ibu Basara).

Perumpamaannya, rohnya tiba-tiba berbeda gitu.

Aku tak tahu apa ini karena keterbatasan materi di bukunya. Soalnya, mencari informasi tentang kelanjutan ceritanya di Internet juga agak susah. Tapi mungkin karena akunya juga yang belum sempat menelusurinya.

Perbedaan kualitas yang mencolok ini lumayan mengecewakanku. Kalau mengambil contoh dari fanservice-nya, adegan-adegan ‘berbahaya’ di season sebelumnya masih agak menggambarkan tumbuhnya ikatan antara para tokoh utamanya. Tapi di season ini, adegan-adegan serupa lebih terasa seperti membuang-buang waktu dan sekedar ada karena ‘harus ada.’ Padahal, jumlah tokoh yang terlibat sekarang bertambah, mencakup Zest, yang diselamatkan Basara dari season lalu, serta Nonaka Kurumi, adik perempuan Yuki yang kini sudah mengakhiri konfliknya dengan Basara.

(…Tenang. Sebenarnya aku juga punya keluhan sangat panjang tentang ini. Tapi lebih baik enggak aku ungkapin dulu.)

Namun kalau aku memandang ke belakang, meski aku mungkin agak bias, Shinmai Maou no Testament dari awal sampai akhir seakan selalu punya plot yang lebih dalam dari yang kuharap. Misalnya, dengan pindahnya latar cerita dari dunia normal ke dunia iblis/sihir, aku sempat merasa aliansi Basara dan Lars—yang di season sebelumnya merupakan aspek favoritku dari seri ini—menjadi tak tersorot lagi, tapi ternyata enggak juga. Meski ceritanya jadinya dipadatkan, kedalaman itu tetap ada. Seperti misi Basara untuk seorang diri menyingkirkan Belphegor, pengganti mendiang Zolgear yang tak kalah kejamnya dan menjadi orang terkuat di Majelis; rencana rahasia orang-orang Majelis untuk membantai semua yang menghalangi mereka lewat artefak Eirei yang mereka gali; serta duel pribadi Basara melawan Leohart demi menegaskan posisinya.

Jadi sesudah mengikuti sampai akhir, aku agak bersyukur hasilnya ternyata tak sejelek yang aku kira.

Sesudah Mimpi Tiada Akhir

Jadi, merangkum, beberapa misteri terbesar seri ini:

  • Identitas kedua ibu Basara yang telah diungkapkan Jin padanya.
  • Siapa perempuan yang diselamatkan Jin dan apa perannya.
  • Siapa Basara sesungguhnya, bagaimana ia bisa memiliki kekuatan dari kedua sisi sekaligus.
  • Apa sebenarnya Brynhildr.
  • Siapa sebenarnya Riala (Liara?), kakak perempuan Leohart yang sangat protektif, yang ternyata memiliki kekuatan jauh lebih dahsyat dari yang semua orang kira.

Beberapa hal bagusnya:

  • Banishing Shift yang telah Basara lebih kuasai, kini bisa digunakannya tak hanya sebagai counter.
  • Wujud power up Basara.
  • Lebih banyak tentang masa lalu Lars.
  • Intrik yang lebih bagus dari yang terlihat. (Meski disampaikan dengan cara yang agak bikin kita hanya “Ooh gitu toh.”)

Bicara soal teknis… kira-kira sama.

Sori. Enggak.

Kualitasnya sebenarnya agak kurang dikit dari sisi pengarahan visual. Di samping itu, soundtrack-nya juga kalah mengesankan.

Aku benar-benar heran kenapa lagu pembuka ‘Over the Testament’ yang dibawakan Metamorphose mesti dimainkan dengan versi berbeda di setiap episodenya. Soalnya aku merasa tak semua versinya setara versi orisinilnya.

Soal keluhanku… menjelang akhir, aku merasa Uesu Tetsuto-sensei benar-benar punya fetish aneh. (Oke, bukan fetish aneh untuk dimiliki, tapi fetish aneh untuk dituangkan ke dalam tulisan.) Ini juga sedikit terlihat di karya beliau sebelumnya, Hagure Yuusha no Aesthetica. Aku sedikit paham pas di awal, tapi intinya aku lumayan heran soal kenapa Mio terkadang masih memanggil Basara ‘Onii-chan’ bahkan sesudah rahasianya terungkap. Aku awalnya berusaha tak mempermasalahkan soal ini. Tapi kemudian ketahuan bahwa Hasegawa-sensei bisa jadi mengawasi Basara karena sebenarnya ia adalah saudari dari (salah satu?) ibu Basara. Lalu dalam perkembangannya, dirinya seolah jadi salah satu bagian… uh, haremnya. Terus dugaanku juga diperkuat dalam bentuk hubungan Leohart dengan Riala. Sehingga segalanya pada titik ini jadinya benar-benar aneh!

Lalu semuanya juga sekarang begitu blak-blakan! Rawr! Aku jadi pengen jungkirin mejaaaa!

Argh, dulu waktu hanya ada Mio, Yuki, dan Maria, aku sebatas merasa ini semua amusing. Tapi sesudah Zest dan Kurumi bergabung, aku mulai merasa semuanya sudah agak ‘kebanyakan.’

Aku bicara pada seorang sahabatku yang kadang juga memperhatikan seri-seri macam ini. Lalu pendapatnya tentang BURST ternyata kurang lebih sama (meski dia harus agak dipancing untuk mengakuinya). Apa yang terjadi ya? Ternyata benar yang merasa begini bukan cuma aku. Aku penasaran, karena ketimpangannya terasa lumayan jauh. Kurasa bukan hanya karena faktor naskah saja sih. Aku berpendapat kalau ada alasan yang lainnya juga.

Terlepas dari semuanya, pada akhirnya aku kagum dengan bagaimana Production IMS memutuskan untuk menangani proyek ini. Mereka seriusan mengerjakan dua season di tahun yang sama, dengan juga diselingi Joukamachi no Dandelion di antara keduanya. Mereka berkembang pesat semenjak pertama muncul dan mengesankan orang-orang lewat adaptasi anime Inari, Konkon, Koi Iroha di tahun 2014 dulu. Semenjak mengikuti Shirobako, aku tertarik untuk tahu cerita-cerita di balik proses produksi anime begini. Lalu melihat track record mereka, Production IMS merupakan salah satu studio yang paling membuatku penasaran.

Akhir kata, bahkan di usia segini, masih ada sesuatu yang bisa aku ‘dapatkan’ dari seri ini. Aku sedikit belajar tentang bagaimana selayaknya cowok bersikap. Yeah, aku tahu ini seri macam apa. Aku juga ngerti orang lain mungkin enggak akan menilai dengan cara yang sama. Perasaanku juga campur aduk kenapa fanservice-nya perlu separah ini. Tapi nyatanya, aku sekarang jadi lebih serius buat menambah massa otot.

Kuharap proyek-proyek Production IMS ke depan juga berlangsung lancar.

Penilaian

Konsep: C+; Visual: B; Audio: C+; Perkembangan C+; Eksekusi: B-; Kepuasan Akhir: C+

Edit, Agustus 2016

Beberapa waktu lalu, aku menemukan sumber yang menjelaskan tentang misteri dua ibu Basara. Tapi aku benar-benar lupa menuliskannya di sini.

Ibu Basara yang pertama, yang menjadi kekasih Toujou Jin, adalah adik perempuan ayah Mio. Karena berbagai komplikasi yang bisa terjadi, Basara dipindahkan saat masih janin ke ibu Basara yang kedua, yang merupakan kerabat (kakak?) Hasegawa-sensei, yang kemudian melahirkannya.

Jadi, melengkapi yang di atas (kalau tak salah, ini dijelaskan di buku kedelapan):

  • Basara benar-benar memiliki kekuatan dari ketiga pihak yang berseberangan.
  • Basara dan Mio sebenarnya adalah sepupu.
  • Mio dan Maria ternyata benar-benar adalah kakak beradik, hanya saja dari ayah yang sama dan ibu yang berbeda.

Mungkin kalian sekarang maklum kenapa aku sempat lupa menulis tentangnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: