Seiken Tsukai no World Break

Seiken Tsukai no World Break sudah agak lama aku minati. Cuma aku agak bingung membahasnya bagaimana.

Diterbitkan sejak tahun 2012 oleh SB Creative di bawah label GA Bunko, seri light novel-nya ditulis oleh Awamura Akamitsu dengan ilustrasi buatan Refeia. Sedangkan adaptasi animenya keluar pada awal tahun 2015 dibuat oleh studio animasi Diomedea, berjumlah 12 episode, dan disutradarai oleh Inagaki Takuya. Naskahnya ditangani oleh Yamaguchi Hiroshi. Musiknya ditangani oleh Sakabe Go.

Seiken Tsukai no World Break, atau yang juga dikenal dengan judul World Break: Aria of Curse for a Holy Swordsman (judul Bahasa Jepang-nya kira-kira berarti: ‘pemecahan dunia si ahli pedang suci’, sedangkan judul Bahasa Inggrisnya kurang lebih berarti: ‘lantunan kutukan bagi si ahli pedang suci’), sekilas terlihat seperti tipikal anime keluaran Diomedea. Dalam artian, kayak tipikal anime yang diangkat dari ranobe berkualitas agak rata-rata, yang agaknya seperti menjadi ciri khas studio ini, semenjak mereka mengadaptasi Astarotte no Omocha! dan Campione! dulu. Kualitas keluaran mereka memang punya kecendrungan untuk naik turun sih. Tapi kasus Seiken Tsukai no World Break kurasa agak unik.

Aku dengar pada masa penayangannya, (dan ini sempat membuat bingung sebagian orang) seri ini termasuk salah satu yang lumayan diperhatikan di Jepang. Mungkin ada kaitannya dengan budaya sih, tapi premis seri ini memang terbilang meyakinkan.

Bahwa anak-anak remaja benar-benar punya kehidupan masa lalu di mana mereka menjadi pahlawan yang menyelamatkan orang-orang (Saviors). Lalu seiring kembalinya ingatan mereka akan masa sebelum reinkarnasi (yang biasanya terjadi pada masa remaja), maka kekuatan lama yang dulu pernah mereka miliki juga akan kembali.

Ini jelas jadi seri yang bakal jadi ‘makanan’ mereka yang punya bakat dan kecendrungan ke arah chuunibyou.

“Tulis!”

Dalam latar cerita World Break, diceritakan kalau ada perguruan-perguruan khusus yang dibentuk untuk mendidik anak-anak yang terbukti pernah punya kehidupan masa lampau ini. Akademi Akane yang terletak di Jepang adalah salah satunya.

Para Savior ini terdiri atas dua macam: yaitu Shirogane dan Kuroma. Shirogane adalah jenis Savior yang mendalami ilmu senjata yang bertarung dengan semacam aura tenaga dalam yang disebut plana, masing-masing biasanya mempunyai senjata pusaka sendiri-sendiri; sedangkan Kuroma adalah jenis Savior yang mendalami kekuatan sihir, yang termanifestasi dalam bentuk mantera-mantera yang diwujudkan lewat tulisan ditenagai mana yang ‘diwujudkan’ di udara.

Musuh bersama para Savior adalah makhluk-makhluk raksasa yang disebut Metaphysical, yang dari waktu ke waktu kerap muncul entah dari mana untuk meneror peradaban. Bergenerasi-generasi Savior dari tiap negara dididik demi mengantisipasi datangnya serangan dari makhluk-makhluk ini.

Fokus cerita World Break terdapat pada seorang remaja pemalu bernama Haimura Moroha, yang belum lama itu ditemukan sebagai orang pertama yang punya dua kehidupan masa lampau. Dalam kasus ini, dirinya memiliki kehidupan masa lalu sebagai Shirogane sekaligus kehidupan masa lalu sebagai Kuroma. Hal ini membuatnya memiliki suatu gabungan kekuatan plana Shirogane (cahaya?) dan mana Kuroma (kegelapan?) yang benar-benar dahsyat.

Namun bersama ini, timbul sedikit komplikasi. Karena pada kedatangannya ke Akademi Akane, Moroha bertemu kembali dengan dua orang dari dua masa lalunya yang berbeda: Ranjou Satsuki, seorang gadis enerjik yang di masa lalunya adalah Sarasha, adik perempuannya saat ia menjadi sang ahli pedang Flaga; dan Urushibara Shizuno, seorang perempuan sangat rupawan yang dahulunya adalah Witch of the Netherworld, yang dulu pernah diselamatkan dan dibesarkan Moroha dalam kehidupannya sebagai sang ahli sihir, Shu Saura. Keduanya sama-sama mengasihi Moroha di masa lalu, dan sama-sama berharap bisa mendapatkan cintanya di masa kini.

Lalu seperti Moroha, keduanya juga sama-sama menjadi korban kemunculan Ancient Dragon di masa lalu, suatu entitas Metaphysical misterius yang telah memburu inkarnasi Moroha dari masa ke masa.

“Aku ingat!”

Anime World Break mengadaptasi cerita dari sekitar buku pertama sampai buku keempat(?). Sori, mungkin aku salah. Tapi tepatnya, sampai ketika Moroha dan teman-temannya dari tim Strikers harus bekerjasama saat si Ancient Dragon akhirnya mengejar Moroha sampai ke masa kini dan menyerang Akademi Akane. Seri novelnya sendiri saat ini kutulis sudah terbit sampai buku keempat belas, jadi memang ada perkembangan lumayan jauh yang belum tergali.

Buat yang suka tema-tema begini, ceritanya lumayan menarik. Cerita dibuka dengan pemaparan akan terkuaknya kasus tak lazim Moroha, yang berlanjut dengan pembeberan bahwa memang ada kekuatan dahsyat yang ia miliki, setara para Savior Rank S, saat ia mencoba menyelamatkan Shizuno dan Satsuki yang terancam bahaya. (Terwujud dari jurus pamungkas yang khusus hanya bisa digunakan olehnya, Yin Yang Kurikara.)

Dari sana, cerita berkembang tentang bagaimana para Savior terkuat di seluruh dunia lain, yang secara kolektif disebut Six Heads, mulai menaruh perhatian terhadap Moroha. Mulai dari Sir Edward Lampard dan pelayannya, Angela Johnson, dari Inggris, yang secara incognito kemudian meninjaunya; sampai ke Vasilisa Yuryevna Mostvaya, yang berjulukan ‘Kaisar Halilintar’, yang secara terbuka dan pribadi menantang perang terhadap Moroha dalam kasus yang melibatkan seorang mata-mata bernama Elena Arshavina.

Meski detilnya kadang aneh, ada intrik lumayan banyak dan aksi-aksi lumayan dahsyat, dengan banyak pihak yang bermain dan berperan. Berbeda dari Shizuno, Satsuki, dan lainnya, Moroha masih belum sepenuhnya memperoleh kembali ingatannya misalnya (dan karenanya ia seakan langsung mendapat power up saat ada sebagian ingatannya yang kembali). Salah satu anggota tim Strikers pimpinan Ishurugi Jin, karakter yang awalnya agak fanservicey Sophie Mertesacker misalnya, terungkap di tengah cerita sebagai ‘mata’ pihak Amerika yang disusupkan ke Akane. Lalu senjata-senjata pusaka dan chant mantera sihirnya keren. Setiap senjata pusaka dapat dipanggil dari mana saja dan memiliki nama yang wah (Katana milik Moroha adalah Saratiga, misalnya; lalu sihir andalannya adalah serangan api hitam Black Gehenna, sihir andalan Shizuno adalah tiupan es Dreadful Blizzard, pedang milik Satsuki adalah Acieal, pedang besar Jin adalah Naivete, dsb.). Saat menyihir, para Kuroma akan ‘menulis di udara’ sembari membacakan mantera-mantera mereka yang panjang. Setiap sihir terbagi atas tingkatan (dengan tingkatan-tingkatan atau step teratas sifatnya terlarang). Lalu semuanya dihadirkan dengan kata-kata kayak “Hancurkan, hancurkan, hancurkan!” atau “Dunia ini…” atau “Aku ingin…” yang kesannya chuuni sekali, tapi entah gimana berhasil masuk feel-nya!

… Oke deh.

Contohnya untuk mantera es Cocytus, kira-kira sebagai berikut. Mohon ingat mantera-mantera begini dibaca dan ditulis secara cepat di bawah hitungan menit.

“Pengakhir, serigala es, pinjami aku nafasmu. Jadikan pembekuanmu lebih sunyi dari maut.

Di dunia ini, bahkan yang makmur kelak tumbang. Ini karma tak terhindar yang ditetapkan langit.

Bagaikan air yang mengalir turun, renggutlah segenap tenaga.

Perlihatkan Dunia di mana segala terhenti, bahkan termasuk waktu.

Tunjukkan kecantikan abadi, puncak yang takkan terkoyak apapun.

Kau yang menentang pemahamanku, kau yang mencari yang absolut.

Betapa buruk rupa.

Janggalnya kehidupan berkumpul, merintih, menyebarkan bau, dan berganda.

Aku tak akui itu. Aku tak memahaminya.

Kuinginkan tanah putih tak ternoda!

Kuinginkan dunia kematian nan indah!

Kuinginkan dunia di mana segala ciptaan tak mulia dikubur dan diikat!

Kuingin semua terhenti! Kuingin segalanya terhenti!

COCYTUS!”

Jadi, yeah, kira-kira seperti itu.

Sial. Pasti Awamura-sensei dapat keasyikan tersendiri dalam menulis kalimat-kalimat kayak gini.

Sejujurnya, World Break buatku punya perkembangan cerita yang lebih menarik dari dugaan. Sekali lagi, ada banyak hal aneh di dalamnya. Lalu ada banyak hal yang juga gagal terjelaskan di animenya, seperti apa sesungguhnya Ancient Dragon yang mengejar Moroha (dan Flaga, dan Shu Saura), apa peranan Shimon Maya (kekuatan khasnya adalah Field of Dreams yang melindungi sekeliling) yang memperoleh ingatan masa lalunya di waktu relatif muda, lalu kenapa Suruga Ando masih termasuk Six Heads bila kerjanya sakit-sakitan? Makanya, lumayan masuk akal kenapa seri ini sempat menarik perhatian di Jepang. Ada banyak detil seperti ini yang bisa bikin begitu penasaran (mereka yang tertarik terhadapnya). Karena, entah ya, adaptasi ini kayak bisa mengangkat pengharapanmu, tapi juga agak mengecewakannya di saat yang sama.

“We are the Swords of Salvation!”

Bicara soal teknis, seri ini termasuk standar. Visualnya menarik sih, walau kualitas tampilannya agak turun naik. Ini terutama terlihat pada adegan-adegan kemunculan Metaphysical. Tapi terlepas dari itu, pada dasarnya seri ini termasuk enak dilihat sih. Kayak, selalu ada ‘sesuatu’ di dalamnya yang bisa menumbuhkan rasa ingin tahu.

Mungkin memang desain karakternya? Soalnya desain karakter orisinil Refeia-san berhasil diadopsi secara benar-benar menarik di seri ini. Shizuno sukses digambarkan sangat cantik dan anggun. Satsuki ditampilkan penuh semangat dan kerap tertawa “Ohohohohoho!” bernada tinggi. Semua karakternya kayak sukses memberi impact (meski kadang secara aneh).

World Break lagi-lagi jenis seri yang punya protagonis overpowered, tapi yang unik adalah faktor pembangunan dunianya yang lebih luas untuk digali. Baik soal apa yang terjadi di dunianya, atau soal karakter-karakter yang ada di sekeliling Moroha. Karena cuma 12 episode, tentu saja pemaparan dunia ini tak begitu banyak optimal. Tapi anime ini termasuk yang terbilang berhasil menumbuhkan minat terhadap seri novelnya, dan dari sudut pandang itu, mungkin bisa dibilang sukses.

Seperti pada anime Toaru Hikuushi e no Koiuta, grup vokal duo Petit Milady tampil dengan membawakan lagu pembuka seri ini. Lalu dua anggotanya, Yuuki Aoi dan Taketatsu Ayana, mengisi suara untuk kedua heroine-nya (Yuuki-san untuk Shizuno dan Taketatsu-san untuk Satsuki). Ada satu episode tertentu ketika Yuuki-san memberi kualitas performa yang benar-benar mengejutkan, yang melampaui kesan episode-episode lainnya.

Musiknya secara umum… buatku kayak lumayan berhasil nempel di kepala. Tentu saja, enggak mulus di semua bagian sih. Tapi kayak anime ini secara umum, ada bagian-bagian tertentu yang bisa tahu-tahu lebih mencolok dari bagian-bagian lainnya.

Tentu saja, mengingat seri ini jelas bernuansa harem, ada porsi fanservice agak lumayan. Tapi porsi tersebut lumayan terbatasi karena soal ‘pemaparan dunia’ di atas, dan mungkin itu yang buatku terasa mengejutkan. Apalagi dengan situasi haremnya yang—terlepas dari kehadiran Shizuno dan Satsuki—sebenarnya agak maksa.

Akhir kata, ini satu seri yang bikin aku merasa kecewa karena tak berdurasi lebih panjang. Untuk suatu alasan, lumayan susah mencari info tentang kelanjutan ceritanya di Internet. Apalagi dengan adaptasi manganya yang juga belum begitu panjang.

Yah, aku tak punya komentar lain tentang seri ini, selain bagaimana aku berharap punya suatu kemampuan imba, atau bagaimana ini lagi-lagi membuatku berpikir aku ingin punya pasangan kayak apa. Untuk sisanya, paling soal misteri-misterinya yang belum terjelaskan.

Sialan. Aku masih penasaran. Ini berarti… sudah ada sebanyak itu orang yang pernah menyelamatkan dunia? Man.

Penilaian

Konsep: C+; Visual: B-; Audio: A-; Perkembangan: B+; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: B+

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: