One Punch Man

Kalau kalian belum lihat adaptasi anime One Punch Man yang menjadi sensasi pada musim gugur 2015 lalu, aku serius menyarankan kalian melihatnya. Termasuk bila kalian sudah menjadi penggemar seri manganya.

Buat yang belum tahu, One Punch Man (kadang juga ditulis One-Punch Man, dan sering dibaca ‘wanpanman’, menjadikannya semacam plesetan Anpanman) paling awalnya sekali keluar dalam bentuk webcomic yang dibuat oleh pengarang aslinya, ONE. Sekalipun kualitas gambar yang ONE-sensei buat sendiri itu pas-pasan (begitu-begitu juga, untuk ukuran gambar pas-pasan, menurutku gaya gambar beliau termasuk yang punya ciri khas), seri ini dengan cepat tenar. Lalu konsepnya yang unik lambat laun menarik perhatian Murata Yuusuke, mangaka yang sebelumnya mengerjakan gambar untuk seri olahraga Eyeshield 21. Beliau kemudian menawarkan untuk menggambar ulang komik web yang ONE buat (yang juga masih berlanjut saat ini kutulis) dengan gaya gambarnya sendiri, untuk akhirnya diterbitkan resmi ke penerbit Shueisha.

Hasilnya beneran luar biasa.

Gampangnya, One Punch Man berkisah tentang seorang pria muda yang botak bernama Saitama, yang pada suatu ketika memutuskan untuk menjadi pahlawan pembela kebenaran sebagai hobi. Dirinya telah berlatih keras untuk hobinya ini, sampai ke tingkat di mana dirinya bisa mengalahkan semua musuhnya hanya dengan satu pukulan (one punch). Meski cita-citanya di satu sisi bisa dibilang tercapai, di sisi lain, Saitama frustrasi karena pekerjaan membasmi kejahatan yang dulu diimpikannya kini lebih terasa seperti rutinitas hampa. Semua keasyikan yang dulu dirasakannya sudah tak ada berhubung dirinya yang sekarang sudah terlampau kuat.

Terlepas dari bobot ceritanya sendiri (yang kumaksud, berhubung ini beratnya ke aksi, kalian enggak akan menemukan banyak drama di cerita ini), Murata-sensei kemudian menjadikan versi baru One Punch Man buatannya sebagai semacam media eksperimentasi untuk membuat adegan-adegan aksi. Diserialisasikan digital (secara tak teratur) di Young Jump Web Comics, adegan-adegan aksi di seri manga barunya ini dibuat jadi benar-benar mencolok, dengan pembangunan suasana yang gila-gilaan, sekalipun di hadapan Saitama, musuh-musuhnya takluk cuma dengan satu pukulan. Ini semua diperkuat dengan gaya desain karakter Murata-sensei yang khas, serta perhatian beliau terhadap koreografi aksi yang benar-benar bagus.

Agak susah jelasinnya. Lalu buat kalian yang lebih berminat pada kejutan-kejutan dalam lika-liku cerita, daya tariknya di awal mungkin memang enggak begitu terasa.

Tapi lalu studio MADHOUSE tampil dengan Natsume Shingo sebagai sutradara, Suzuki Tomohiro sebagai pembuat naskah, dan Miyazaki Makoto sebagai penanggungjawab musik. Mereka lalu membuat adaptasi animasi dari seri ini, dengan jumlah episode sebanyak 12 dengan 7 buah OVA pendek dan 1 episode OVA berdurasi biasa.

Hasilnya, sekali lagi, benar-benar luar biasa.

NOBODY KNOWS WHO HE IS!

Anime One Punch Man mengadaptasi cerita dari manganya kira-kira sampai buku kelima. Saat ini kutulis, versi remake Murata-sensei kalau enggak salah sudah sampai buku kesepuluh. Jadi, menurutku kalian enggak perlu terlalu kecewa dengan bagaimana cerita animenya sudah berakhir.

…Maksudku, cerita animenya berakhir di titik yang pas. Sudah ada separuh dari semua cerita di manganya yang sudah ditampilkan. (Kurang dari separuh kalau membandingkannya dengan versi komik webnya.) Di samping itu, proses serialisasi manganya memang terbilang enggak cepat (komik webnya pertama muncul tahun 2009, sementara remake versi Murata-sensei dari tahun 2012). Lalu hei, dengan ketenaran animenya, kemungkinan besar season dua bakal ada di masa yang akan datang.

Soal ceritanya sendiri, sesudah perkenalan tentang siapa Saitama dan kondisinya yang sekarang sering bosan (sebagian karena keuangan yang pas-pasan), cerita berkembang dengan pertemuannya dengan Genos, seorang cyborg muda dengan suatu misi pribadi. Genos langsung syok dengan besarnya kekuatan Saitama. Lalu sesudah nyawanya sempat Saitama selamatkan, Genos jadi menaruh hormat pada Saitama dan langsung memandangnya sebagai seorang guru.

Singkat cerita, sesudah Saitama dengan sedikit enggan akhirnya menerima Genos sebagai murid, Genos mulai menyelidiki asal mula kekuatan Saitama. Genos curiga kalau Saitama sendiri kelihatannya tak benar-benar sadar dari mana kekuatannya berasal. (Genos tak percaya kalau Saitama menjadi kuat karena melakukan push up 100 kali, squat 100 kali, sit up 100 kali, serta lari 10 km setiap hari, dengan ditambah makan yang benar serta sama sekali tak memakai AC baik di musim panas maupun musim dingin… selama tiga tahun sampai botak.)

Lalu seiring dengan itu, Saitama juga jadi mengetahui bahwa dirinya selama ini tak terkenal mungkin karena tak pernah mendaftar ke Asosiasi Pahlawan, yang menaungi para pahlawan di seluruh dunia. Sesudah Saitama dan Genos sepakat untuk mendaftar ke Asosiasi Pahlawan bersama-sama (salah satunya bagi Saitama karena alasan ekonomi), barulah sedikit demi sedikit orang-orang mulai menaruh perhatian terhadap siapa Saitama. Sekalipun, kebanyakan orang masih sulit mempercayai besarnya kekuatan yang dimilikinya.

Tinju yang Membara

Di dunia One Punch Man, ceritanya sering sekali terjadi bencana-bencana berskala besar yang disebabkan oleh monster, bencana alam, organisasi-organisasi kejahatan dsb. Saking seringnya kehancuran terjadi (monster-monster seakan bisa muncul dari mana saja, mulai dari makhluk-makhluk bawah tanah sampai orang yang kebanyakan makan kepiting), kota-kota dibuat sedemikian rupa agar dapat dibangun kembali secara cepat, dan tiap-tiap kota (yang ukurannya memang besar) akhirnya dinamai hanya dengan huruf. (Seperti Z City di mana Saitama tinggal, dengan A City sebagai pusat pemerintahan.)

Di awal mungkin tak begitu terasa, tapi satu alasan yang membuat anime One Punch Man benar-benar bagus adalah pemaparan dunianya ini. Berbeda dari manganya, yang di dalamnya kadang terasa kalau Saitama menang karena ‘plotnya mengharuskan dia menang,’ versi animenya menurutku berhasil menggambarkan kekuatannya lebih baik dengan mengkontraskan lebih jelas dampak yang diberikannya terhadap alam sekitar. Jadi kadang ada pemandangan keseharian yang agak dipanjangkan, yang baru kemudian disorot kembali sesudah suatu adegan aksi terjadi. Atau pada bagaimana saat ada pertarungan dalam kecepatan tinggi, si musuh berlari dengan meraung-raung sementara Saitama dengan muka datar ditampilkan cukup hanya berjalan cepat. Lalu perhatian pada kesunyian lingkungan, pergerakan awan dan angin, dan sebagainya. Kemudian ada sense of scale yang benar-benar dijaga dengan ditampilkan jelas gitu, dengan kehadiran musuh-musuh berukuran kolosal, yang setiap momen pertarungannya ditampilkan secara padat.

Dengan kata lain, One Punch Man menghadirkan adegan-adegan aksi keren yang terus terang, sudah lama sekali enggak kelihatan dalam bentuk anime. Kau tahu, jenis-jenis adegan aksi yang bikin kau semangat untuk mengungkapkan detilnya ke orang lain.

Selebihnya, para karakternya memang menarik. Selain karena desain yang keren, ada  pesan tersirat yang benar-benar dalam yang sebenarnya seri ini punya. Ringkasnya, tentang melakukan suatu perbuatan baik tanpa pamrih serta untuk tidak menjadi congkak dengan apa-apa yang telah didapatkan.

Selain Saitama dan Genos, beberapa karakter menonjol lain seperti Onsoku no Sonic, seorang ninja modern dengan kecepatan tinggi yang memandang Saitama sebagai rival, Mumen Rider yang membuat simpati dengan sikap pantang menyerah dan sepedanya, serta Tatsumaki yang memang menarik seandainya benar ditempatkan dalam posisi heroine (karena faktor cute-nya).

Faktor lainnya lagi… mungkin lagu pembukanya yang dibawakan JAM Project kali ya? Mereka dari dulu memang dikenal sering membawakan lagu-lagu mereka dengan penuh semangat (biasanya untuk anime-anime mecha). Tapi lewat lagu pembuka “The Hero!! ~Ikareru Ken ni Honō o Tsukero~”, menurutku mereka benar-benar melampaui karya-karya mereka yang terdahulu. Sebelumnya aku sering mikir kalau saking kerennya lagu-lagu JAM Project, jarang ada studio yang bisa membuat animasi pembuka yang mengimbangi. Tapi Madhouse berhasil di sini dengan menciptakan suatu animasi pembuka yang benar-benar keren. (Lalu mereka mengkontraskannya di akhir episode dengan lagu penutup yang benar-benar tenang.)

(Kalau kalian penggemar baru JAM Project, beberapa lagu mereka yang jadi favoritku antara lain “HEATS” dari Getter Robo Armageddon, “Savior in the Dark” dari seri GARO, “Stormbringer” dari Koutetsuhin Jeeg, dan “Break Out” dari Super Robot Wars OG: The Divine Wars.)

Akhir kata, aspek teknis dan eksekusi seri ini benar-benar bagus.

Ceritanya diakhiri dengan bagaimana Saitama akhirnya menemukan lawan yang tahan menerima kekuatan satu pukulannya, dengan keselamatan seisi dunia sebagai taruhan pertarungan mereka. Yea, ceritanya belum bisa dibilang tuntas. Masih ada teka-teki yang menggantung. Tapi dengan visi eksekusi sebagus ini, kurasa orang bakal berminat untuk membuat kelanjutannya.

Yah, mari kita berdoa saja.

Penilaian

Konsep: A; Visual: S; Audio: A+; Perkembangan: B+; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A+

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: