Shingeki no Bahamut: Genesis

Mistarcia adalah dunia ajaib di mana manusia, dewata, dan demon berada.

Di masa lalu, Bahamut yang bersayap hitam dan perak mengancam akan menghancurkan dunia. Tapi tiga kaum di atas, yang sebelumnya saling bersitegang, kemudian bersatu untuk menghadapinya.

Lewat pengorbanan besar, Bahamut akhirnya berhasil disegel, kemudian kunci segel tersebut dibagi dua. Satu bagian disimpan kaum dewata, dan satu lagi disimpan kaum demon, dengan maksud agar kedua potongan kunci tersebut takkan pernah tersatukan.

Namun dua ribu tahun kemudian, seorang wanita entah bagaimana telah berhasil mencuri paruh kunci yang dimiliki kaum dewata. Tindakannya mendatangkan ancaman akan terlepas kembalinya Bahamut sekaligus kehancuran dunia.

Semua Jalan Menuju ke Abos

Anime Rage of Bahamut: Genesis, atau Shingeki no Bahamut: Genesis (‘rage’ artinya amukan, murka; ‘genesis’ artinya kira-kira awal mula penciptaan), diangkat dari game card battle populer Rage of Bahamut yang dikembangkan oleh Cygames. Seri ini berjumlah 12 episode, keluar pada musim gugur tahun 2014 lalu, dan diproduksi oleh studio animasi MAPPA. Sutradara animasi veteran Sato Keiichi, yang sebelumnya pernah menangani Karas dan Tiger & Bunny, yang menjadi sutradaranya. Hasegawa Keiichi menangani naskah. Sedangkan musik ditangani Ike Yoshihiro.

Rage of Bahamut: Genesis ringkasnya menceritakan perjalanan dua orang bekas(?) sahabat, si bandit/pemburu bayaran Favaro Leone dan si mantan ksatria/pemburu bayaran Kaisar Lidfald, yang sama-sama terlibat dalam kasus hilangnya kunci di atas sesudah Favaro dengan ceroboh bertemu Amira, perempuan misterius berkekuatan ajaib yang telah mencuri paruh kunci tersebut.

Favaro, yang cenderung bermulut besar, dengan gegabah berjanji pada Amira untuk mengantarkannya ke tempat tujuannya, yaitu tanah salju abadi Helheim, sesudah kompas ajaib yang Amira miliki untuk penunjuk jalan rusak.

Amira adalah perempuan polos (ada alasan tertentu kenapa dirinya polos) yang sebenarnya dimanipulasi sesosok bayangan misterius untuk mencuri paruh kunci itu. Keinginannya yang sebenarnya adalah untuk bisa berjumpa kembali dengan ibunya, yang dikatakan bisa ditemuinya di Helheim. Dengan kompasnya yang rusak, dan kehilangan sebelah sayapnya dalam pelariannya, Amira tak punya pilihan selain mengambil rute darat untuk menuju tempat tersebut.

Favaro sebenarnya berjumpa dengan Amira dalam kondisi yang sangat kebetulan. Berhubung dirinya sedang dikejar-kejar Kaisar karena suatu urusan dengan masa lalu mereka, dan terpukau oleh kekuatan menakjubkan yang Amira miliki pada saat ia melepaskan wujud aslinya, mulut ember Favaro terlanjur bertindak sebelum ia tuntas berpikir. Sebagai akibatnya, di luar dugaannya, bahkan dengan segala kepolosannya, Amira ternyata mengubah Favaro menjadi separuh demon sebagai jaminan agar Favaro mengantarnya ke Helheim.

Tak punya pilihan lain, agar bisa jadi manusia kembali (dan menghilangkan ekor hitam yang kini menjulur dari pantatnya), Favaro mau tak mau jadi terseret ke dalam semua urusan menyangkut kiamat ini, yang melibatkan pihak-pihak dengan kekuatan jauh lebih dahsyat dari yang mereka bayangkan. Lalu secara tak langsung, Kaisar jadinya ikut-ikutan terseret pula.

Semua memuncak dengan konfrontasi terakhir antara semua pihak di hadapan Bahamut demi terselamatkannya dunia.

“Tatap saja mataku!”

Aku sudah agak lama tahu tentang Rage of Bahamut. Di samping pernah diliput di situs berita beberapa kali, salah seorang temanku juga kebetulan memainkannya. Tapi terus terang aku belum tahu banyak tentangnya sampai aku memeriksa anime ini. Namun daya tariknya, yang ada pada ilustrasi kartu-kartu yang kita kumpulkan, yang dibuat oleh berbagai ilustrator, kurang lebih bisa kupahami.

Terkait itu, aspek visual dari anime ini benar-benar keren. Genre ceritanya lebih kayak swashbuckling adventure gitu, yang mana para karakternya melakukan banyak aksi lompat-lompatan, adu pedang, serta gantung-menggantung. Lalu kesemua ini berlangsung dalam latar yang terus berganti bersama setiap episodenya.

Mulai dari kota bernuansa ala koboi dan western Wytearp, desa Nebelville yang berlembah, pelabuhan Ysmenport yang menuju perairan dingin, hutan Wailing Woods yang misterius, sampai tebing-tebing berbatu Sword Valley di mana konflik antara banyak pihak untuk pertama kalinya terjadi; aku tak tahu apa tempat-tempat ini juga menjadi latar setting di gamenya, tapi pemandangan-pemandangan menakjubkan yang ada memang menjadi daya tarik. Ini juga dengan banyaknya pihak luar yang terlibat dalam konflik, mulai dari kaum demon yang satu faksinya diwakili Azazel, kaum manusia yang dipelopori oleh pahlawan mereka yang diberkati langit, Jeanne d’Arc; serta Gabriel yang mewakili para malaikat di langit, serta berbagai makhluk dan monster lain.

Favaro, Kaisar, dan Amira berulangkali harus berhadapan dengan pihak-pihak yang memiliki kekuatan jauh melampaui mereka. Dalam artian, mampu mendatangkan kerusakan massal berupa musnahnya pasukan dan hancurnya gunung-gunung. Lalu di atas merekapun, ternyata masih ada Bahamut yang kekuatannya masih jauh melampaui yang mereka punya.

Hasilnya, seri ini punya nuansa petualangan yang terbilang seru.

…Enggak cocok buat semua orang sih. Tapi kalau sekedar petualangan yang kau cari, maka petualangan juga yang akan kalian dapat.

To the Promised Land

Seperti biasa, aku memeriksa seri ini karena anime bergenre fantasi murni sudah semakin jarang belakangan. Aku masih berpendapat kalau anime yang paling baik menampilkan nuansa dunia fantasi tetap adalah seri OVA Record of Lodoss War yang keluar tahun 1990. Sudah 25 tahun berlalu semenjak anime legendaris tersebut keluar, dan bahkan hingga sekarang masih belum ada yang benar-benar berhasil menyamainya.

Aku tak langsung mengikuti seri ini saat pertama keluar karena…

Terus terang, memang ada sesuatu yang terasa ‘berat’ dengan ceritanya, yang agak kontras dengan nuansa petualangannya yang seharusnya riang. Soal pengkhianatan, soal kerinduan terhadap orangtua, soal hilangnya kewarasan karena tekanan beban. Makanya, tentang seri ini, aku sempat merasa agak aneh juga dalam memandangnya. Terutama dengan berbagai inspirasi dan motifnya yang nampaknya ‘diambil’ dari mana-mana, tapi masih bisa nyambung dalam satu kesatuan.

Tapi walau aku bilang begitu, Shingeki no Bahamut: Genesis tak benar-benar bisa kukatakan jelek atau mengecewakan. Hanya saja, seri ini seolah hanya bisa dipandang ‘menarik’ untuk suatu kalangan tertentu saja.

Mungkin juga ada kaitan dengan bagaimana para pembuatnya berusaha memasukkan sebanyak mungkin elemen dari gamenya. Sekali lagi, perkembangan cerita di seri ini agak aneh. Lalu meski konsep para karakternya menarik, dan dalam eksekusinya memang memikat, apa yang mereka alami tak benar-benar sampai menggigit.

Buatku pribadi, lagu pembukanya terutama yang membuatku terkesan dengan seri ini. Habis itu baru pemaparan terhadap dunia dan ceritanya. Terhadap para karakternya sendiri… apa ya? Bagaimanapun, perkembangan ceritanya memang ke sana-sananya bisa dibilang aneh, dengan karakter-karakter baik yang diubah menjadi jahat, serta tokoh antagonis utama yang setelah sekian lama membayang-bayang, takluk di luar dugaan setelah muncul sesudah beberapa saat.

Karakter-karakter lainnya yang berperan penting itu seperti Rita, seorang anak perempuan misterius yang selanjutnya menemani Kaisar dalam perjalanannya; serta ‘bos’ Favaro dan Kaisar, dewa (minuman keras?) Bacchus, yang beberapa kali membantu mereka dengan kereta kudanya yang ajaib, dengan ditemani bebeknya yang bisa bicara, Hamsa. Lalu ada juga sosok ksatria rekan Jeanne yang secara misterius dipandang sebagai ‘ayah’ oleh Amira, Lavalley.

Tak seperti Favaro dan Kaisar, ceritanya tak benar-benar sampai ‘menggali’ soal mereka. Tapi mereka sama-sama berperan besar dalam perkembangan cerita, kalau kalian mengerti maksudku.

Gampangnya, seri ini aneh di beberapa bagian, tapi seri ini tetap bisa dikatakan menghibur.

Akhir kata, ada sesuatu tentang seri ini yang membuatku berpikir. Pokoknya, sesuatu yang bisa memberikan inspirasi gitu. Apa persisnya itu tak bisa benar-benar aku jelaskan. Sesuatu yang ada hubungannya dengan motivasi asli Favaro, atau gaya mereka bertarung, atau desain crossbow andalannya.

Terlepas dari itu, ini satu lagi seri anime buatan MAPPA yang menunjukkan bisa sekeren dan sehalus apa kualitas animasi yang mereka buat, terutama dengan gaya lukisan 2D seperti ini. Musiknya keren. Aksinya seru, mulai dari aksi-aksi penuh tipu muslihat Favaro sampai serangan-serangan berskala besar dari Jeanne. Lalu anime pertama yang Cygames pelopori ini kabarnya cukup sukses sampai telah disetujui kelanjutannya.

Tapi sebelum season dua itu, seri baru Shingeki no Bahamut: Manaria Friends kabarnya akan tayang. Ceritanya akan diangkat dari event bertema akademi sihir yang pernah dicanangkan dalam gamenya. Kabarnya ini akan keluar pada pertengahan tahun 2016. Jadi mungkin ada lebih banyak yang bisa diharapkan dari seri ini untuk ke depannya?

Soal Amira? Sebenarnya dia bisa jadi karakter yang lebih kawaii dari yang semula diduga.

(Aku yakin kalian juga pasti terkesima dengan betapa lentiknya bulu mata Kaisar.)

Penilaian

Konsep: B; Visual: A+; Audio: A; Perkembangan: B-; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B+

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: