Wagatsuma-san wa Ore no Yome

Karena suatu alasan (yang juga sebenarnya enggak kupahami), sekitar beberapa bulan lalu, aku mengikuti perkembangan manga Wagatsuma-san wa Ore no Yome (juga dikenal sebagai My Wife is Wagatsuma-san, yang kurang lebih berarti ‘Wagatsuma-san adalah istriku’). Ini seri manga komedi karangan Kuraishi Yuu sebagai pembuat cerita, dan Nishikida Keishi yang membuat gambar; yang diserialisasikan di majalah Weekly Shonen Magazine milik penerbit Kodansha, dan tamat persis setahun lalu.

Jadi, judul ini sempat masuk berita ketika tamat. Kalau enggak salah, disebutkan kalau salah satu alasan tamatnya karena si pengarangnya bilang mereka terlalu capek menulis manga sembari bekerja di supermarket (Kalau kalian baca Bakuman, mungkin kalian sudah tahu kalau bekerja sambilan sambil mengarang manga merupakan hal lumrah. Apalagi kalau manga kalian enggak laku-laku amat.). Lalu entah bagaimana, alasan tersebut kayak menempel di kepalaku. Aku jadi penasaran, sampai akhirnya mencoba mencari tahu soal kayak apa sebenarnya manga ini.

Singkat cerita, si tokoh utama, Aoshima Hitoshi, adalah seorang anak SMA kelas dua yang sama sekali tak keren dan menonjol. Bersama dua orang temannya, Aoshima hanya menduduki bangku cadangan di klub bola voli di sekolah mereka, SMA Zaishou, dan seakan telah ditakdirkan menjalani masa remaja yang sama sekali enggak berkesan. Sampai pada suatu hari, Aoshima mengetahui kalau dirinya ternyata seorang time slipper.

Buat kalian yang enggak tahu time slipper itu apa (kayaknya konsep ini emang udah lama enggak muncul di cerita-cerita sains fiksi), pada dasarnya itu semacam orang yang tiba-tiba bisa terlempar ke titik-titik waktu yang berbeda tanpa sebab yang jelas. Tanpa mesin waktu atau lorong waktu apapun.

Intinya, pada beberapa kali saat akan tertidur, Aoshima tahu-tahu akan mendapati dirinya berada di masa depan, sudah lebih dewasa, dan telah menikah dengan idola sekolah yang cantik dan pandai dan populer dan punya banyak teman, yang telah lama ditaksirnya: Wagatsuma Ai.

Sebelum sempat ada apa-apa yang serius yang dilakukannya terhadap bersama Ai, Aoshima selalu akan mendapati diri terseret kembali ke masa kini kembali dalam keadaan kebingungan. (Jadi kalian yang mengharapkan sedikit fanservice mungkin akan agak kecewa juga). Lalu karena lumayan sering terjadi, mulailah Aoshima penasaran apakah pengalaman-pengalamannya ini nyata atau hanya sekedar delusi/halusinasi belaka.

Jawabannya? Tentu saja nyata. Karena belakangan ia sadar ada poin-poin tertentu dalam setiap pembicaraan yang dilaluinya di masa depan yang entah bagaimana berhubungan dengan situasinya di masa sekarang.

Conflicted Memories

Total bab seri ini adalah 108. Kalau mau jujur, sebenarnya, ini bukan seri manga yang bisa dibilang bagus. Plotnya agak meluber ke mana-mana. Jumlah tokohnya banyak. Lalu karakterisasinya kadang kurang konsisten. Jadi dengan 108 bab saja, ceritanya beneran kerasa udah lumayan panjang. Namun demikian, ada suatu hal mengesankan yang enggak bisa disangkal yang seri ini punya. Hanya saja kalau disuruh menjelaskan hal itu apa, aku juga agak kesusahan menjabarkannya.

…Berhubung ini dimaksudkan sebagai seri komedi, ada lumayan banyak adegan lucu dalam ceritanya sih. Adegan-adegan konyol khas(?) komedi cinta gitu. Ada Aoshima dan teman-teman anehnya yang sama-sama notabene jomblo dan ingin bisa balas dendam pada orang-orang populer di sekolah mereka. Ada soal persahabatan. Ada soal isu-isu sosial juga.  …Ada banyak perkembangan aneh di ceritanya (yang enggak selalu melibatkan urusan perjalanan waktu). Ada banyak karakter menyebalkan. Lalu di antara ini semua, kadang-kadang, ada adegan-adegan romantis dan drama yang sebenarnya lumayan menyentuh.

Jadi intinya, ceritanya adalah soal kehidupan masa SMA si Aoshima, yang enggak benar-benar bisa dibilang memuaskan, tapi juga enggak bisa dibilang mengecewakan.

Daya tarik terbesar seri ini sebenarnya adalah bagaimana melalui kemampuannya ke masa depan, Aoshima jadi tahu ada calon-calon istri lain yang dipunyainya selain Wagatsuma. Semuanya adalah orang-orang yang ditemuinya di zaman SMA. Maka Aoshima berusaha sepenuh hati berjuang agar apapun yang terjadi, Wagatsuma yang tetap kelak jadi istrinya di masa depan. Cuma, kadang semua upayanya ini berujung ke hasil-hasil yang enggak terduga.

Masalahnya, walau premisnya menarik, sekali lagi, suka ada banyak hal yang kerasa enggak konsisten gitu, baik dari sisi karakterisasi atau alur ceritanya. Ditambah lagi, calon-calon istrinya yang lain sebenarnya adalah karakter-karakter yang lebih menarik dari Wagatsuma. Jauh lebih menarik, malah. Makanya, rasanya mengecewakan bagaimana dengan semua itu, tak ada perkembangan cerita berarti yang lebih mendalam lagi.

Memang lumayan mengecewakan. Tapi ceritanya memang lebih baik tamat kayak gini daripada enggak tamat sama sekali.

Soal artwork, gaya gambarnya lumayan rapi dan menarik. Ini salah satu seri yang di dalamnya lumayan kelihatan pertumbuhan kemampuan si pengarangnya. Menjelang akhir cerita, gaya desain karakter Nishikida-sensei juga kayak sudah sepenuhnya berbeda dibandingkan sebelumnya, dengan tampilan beberapa karakter perempuannya yang benar-benar manis (dan tampang si Aoshima yang agak berubah.), serta penggambaran suasana yang bisa benar-benar bagus. Nuansa dramanya, terlepas dari semua kekonyolan yang ada, terkadang bisa benar-benar kena.

Makanya, terlepas dari keluhan-keluhanku, ini seri yang lumayan menempel di kepala. Lalu lagi-lagi aku lumayan kecewa karena tak ada kelanjutan atau karya lebih lanjut dari mereka.

Ahahaha.

“Di masa depan aku kerja sebagai apa?!”

Kayak biasa, alasan aku membahas hal ini sekarang adalah karena aku sedang stres. Ya, aku stres soal kerjaan. Ya, aku juga stres soal hal-hal lain.Tapi mungkin kenyataan aku stres sekarang adalah tanda aku masih hidup dan berjuang. Menulis ini sekarang, aku jadi tersadar sudah lama enggak ada seri komedi yang menurutku berkesan kayak gini lagi. Walau perasaanku terhadap seri ini agak campur aduk, seri ini tanpa bisa disangkal memang mengesankan.

Kembali membahas soal jodoh-jodoh si Aoshima, sampai sekarang, aku masih merasa gimanaa gitu dengan keputusannya menolak para calonnya yang lain. Karena kayaknya dia enggak benar-benar punya alasan kuat buat bersama Wagatsuma juga. Tapi sesudah aku memikirkan lagi… entahlah.

Soalnya, nyatanya, kadang kita enggak benar-benar tahu landasan logis di balik keputusan-keputusan yang kita ambil. Kita seringnya kayak, melakukannya gitu aja. Lalu kita malah yakin dengan keputusan kita gitu.

It’s weird.

Akhir kata, bila ada salah satu dari kalian di luar sana yang merupakan time slipper, tolong jangan terburu-buru memutuskan kalian maunya istri kalian siapa. Soalnya latar belakang buat keputusan-keputusan kayak gitu biasanya jauh lebih rumit daripada yang terduga sih.

(Oya, ngomong-ngomong aku sengaja enggak membahas soal para perempuan lain selain Wagatsuma karena mengetahui soal mereka bisa agak spoiler.)

Soal tamat ceritanya?

Perkembangan karakternya sekali lagi enggak jelas. Tapi tamatnya bisa dibilang happy ending sih. Mungkin kalau mau ngekhayal, bahkan bisa agak mendekati harem end?

Argh, sudahlah.

Gimanapun, terserah siapa yang dipilihnya, laki-laki sejati pokoknya harus sanggup membahagiakan pasangan yang dipilihnya!

Iklan
Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: