Gundam: Reconguista in G

Agak susah mengulas Gundam: G no Reconguista. (‘reconguista’ diambil dari kata bahasa Spanyol ‘reconquista’, dengan ‘G’ di sini katanya berarti ground atau tanah)

Alasan pertama: pemaparan ceritanya rumit. Jumlah tokohnya banyak, dengan hubungan antara mereka yang sering berubah. Ditambah lagi, perkembangan ceritanya enggak selalu ditampilkan. Apa yang terjadi kadang hanya disiratkan melalui adegan-adegan percakapan. Lalu adegan-adegan percakapan ini, lucunya, kadang enggak selalu ‘nyambung.’ Seakan para karakternya juga enggak benar-benar nangkep soal apa yang sedang terjadi.

Alasan kedua: bias nostalgia terhadap anime-anime mecha 80an. Soalnya—gimana bilangnya ya?—alasan ini ada, dan kenapa seri ini menarik, adalah karena seri ini menandai kembalinya sang pencipta Gundam, Tomino Yoshiyuki, ke kursi sutradara semenjak trilogi movie Zeta Gundam: A New Translation dibuat di tahun 2005. Apalagi, mengingat cerita yang diangkat di sini adalah konsep yang sama sekali baru.

Proyek ini semula dikenal dengan nama kode G-Reko, dan sudah menarik perhatian sejak diumumkan konsepnya tahun 2007. Ada rumor kalau semula, proyek ini awalnya bahkan tak dimaksudkan menjadi seri Gundam (mungkin, kayak gimana Kamen Rider Hibiki semula enggak dimaksudkan menjadi sebuah seri Kamen Rider). Sehingga, jadinya agak susah memastikan batasan-batasan ide asalnya sejauh mana.

Konon ada… berbagai isu di proses produksinya juga. Ini paling kelihatan dengan bagaimana animasi pembuka pertama seri ini kayak dibuat ‘tempel sana, tempel sini’ (padahal lagu ‘Blazing’ yang GARNiDELiA bawakan terbilang lumayan). Sementara, hal-hal lainnya, seperti animasi penutup dan sesi terpotongnya iklan, kayak dibuat dengan sungguh-sungguh, lengkap dengan tema visual dan timing pergerakan segala.

Karena itu, seri ini menjadi salah satu anime dengan perkembangan teknis dan cerita teraneh yang pernah kuikuti. Sebab di balik segala kekurangannya, tetap masih ada gagasan-gagasan memukau yang jarang terlihat.

Universal Standard

Gundam: Reconguista berlatar di tahun 1014 Reguild Century, sekitar satu millenia (1000 tahun!) sesudah berakhirnya penanggalan Universal Century yang banyak digunakan di seri-seri Gundam orisinil.

Umat manusia sudah membangun menara orbital elevator bernama Capital Tower yang terentang sampai ke luar angkasa.

Wilayah di mana menara ini berada (yang kalau kita tebak, mungkin di sekitar Amerika Selatan) disebut Capital Territory, dan merupakan semacam negara dengan pemerintahan tersendiri.

Wilayah ini juga merupakan pusat agama SU-Cord, dengan Paus yang menjadi pemimpin agama, dan karenanya dipandang sakral. Tapi, alasan wilayah ini dipandang sakral sebenarnya karena Capital Tower menjadi sumber datangnya photon battery (‘batere foton’), satu-satunya sumber energi yang tersedia di masa ini, yang kemudian didistribusikan ke seluruh penjuru dunia.

Ada berbagai larangan yang berkaitan dengan kesakralan ini. Larangan-larangan ini terangkum dalam sesuatu yang disebut hukum tabu Ag-Tech, yang kalau kita cermati, banyak berpusar pada aspek-aspek pengembangan dan pemakaian teknologi.

Ada suatu kesatuan yang disebut Capital Guard yang menjaga keamanan Capital Tower. Kesatuan ini memastikan kelancaran distribusi photon battery antara luar angkasa dan Bumi.

Lalu, ada suatu pihak tertentu yang disebut Pirate Corps yang berada di pihak berseberangan dengan Capital Guard. Kelompok ini berulang kali berupaya membajak elevator Crown yang membawakan photon battery sebagai bagian upaya mereka menentang monopoli pemerintahan Capital atas pendistribusinya.

Cerita Gundam: Reconguista dimulai saat salah satu tim Capital Guard menangkap sebuah mobile suit (MS) misterius yang tak diketahui asal negaranya. MS ini belakangan diketahui bernama G-Self. Sementara pilotnya, seorang gadis berkulit coklat dan berambut perak, yang untuk sementara dinamai Raraiya Monday karena ditangkap pada hari Senin, mengalami regresi kepribadian dan mental akibat deprivasi oksigen yang dia alami dalam pelariannya.

Rayhunton Code

Raraiya tertangkap sekitar seminggu sebelum G-Self diperoleh oleh pemimpin kesatuan Capital Guard, Dellensen Samatar. Sewaktu dikemudikan Raraiya, G-Self sebenarnya sedang dikejar oleh dua pihak sekaligus yaitu Capital Guard pimpinan Dellensen dan Pirate Corps pimpinan Cahill Saint.

Raraiya melompat keluar dari kokpit untuk bisa lolos dari pengejaran dan akhirnya tertangkap oleh Capital Guard. Sementara, G-Self yang sudah tak berawak sempat jatuh ke tangan Pirate Corps.

G-Self baru berhasil diselidiki Capital Guard seminggu berikutnya, sesudah tertangkap bersama pilot barunya dalam suatu insiden penyerangan lain yang Pirate Corps. G-Self ditangkap berkat kepiawaian Bellri Zenam, salah satu anggota baru Capital Guard yang masih muda, yang secara tak terduga berhasil membuka kokpitnya saat tengah beraksi.

Pilot G-Self kali ini adalah seorang perempuan muda cantik yang merupakan bagian anggota Pirate Corps, yang mengaku bernama Aida Rayhunton. Bellri langsung merasakan suatu ketertarikan aneh terhadap Aida.

Tak lama sesudah itu, segera terungkap kalau memang ada sesuatu yang aneh dengan G-Self. G-Self ternyata tidak akan menyala, dan karenanya tak bisa dipakai, kecuali bila salah satu dari Raraiya, Aida, atau Bellri yang menggunakannya. Hal ini juga ditegaskan oleh Aida selama ia menjadi tawanan, bahwa ini membingungkan teman-temannya di Pirate Corps juga. Misteri ini diperkuat karena Aida dan Bellri sebelumnya tak saling mengenal. Antara keduanya, juga tak pernah ada hubungan apa-apa dengan Raraiya.

Dari sini, ceritanya mulai bergerak.

Teka-teki soal asal-usul G-Self berujung pada terkuaknya keberadaan negara-negara manusia lain di angkasa luar.

Ada suatu kenyataan tertentu yang pihak Capital berusaha sembunyikan.

Lalu, ada banyak pihak yang jadi bertabrakan kepentingannya, yang dapat berujung pada kembali terjadinya perang yang nyaris membinasakan umat manusia seperti yang pernah terjadi 1000 tahun lampau.

G Awal Mula

Awalnya mungkin agak susah dimengerti, tapi konsep cerita Gundam: Reconguista di atas kertas sebenarnya keren. Bisa terasa bagaimana Tomino-sensei berhasil mewujudkan sesuatu yang ‘terlepas’ dari pakem seri-seri Gundam yang terdahulu, tapi masih ‘nyambung’ pada saat yang sama.

Konsep dunianya memikat. Desain-desain mechanya sangat, sangat beragam. Ditambah lagi, visualisasinya banyak dibuat dengan menggunakan animasi tangan tradisional, sehingga terasa seperti ada nuansa alami pada setiap pergerakannya.

Walau begitu, ada kekurangan besar yang Gundam: Reconguista punya: seri ini seolah dibuat dengan mindset sebuah anime berdurasi 50 episode. Mungkin juga ini dampak dari staf animatornya yang sebagian besar veteran? Kekurangan ini sangat terasa dari pengaturan tempo perkembangan ceritanya, yang karena keterbatasan jumlah episodenya, terpaksa lambat laun jadi dipercepat. Menjelang akhir, ada banyak bagian di mana ceritanya terasa ‘melompat’ sehingga banyak detil yang berakhir kurang tersampaikan secara jelas.

Ibaratnya, di bagian-bagian awal, Gundam: Reconguista beneran terasa seperti anime-anime mecha dari dekade tahun 80an.

Anime-anime mecha dari zaman tersebut biasanya punya semacam ‘titik balik’ dalam ceritanya. Ini biasa terjadi sesudah pemaparan tentang latar ceritanya cukup memadai. Namun, karena kekurangan-kekurangan di atas, dan mungkin juga karena latarnya yang teramat mendetail itu, bagian cerita ketika plotnya mencapai titik balik di Gundam: Reconguista kayak agak… meleset.

Dalam perkembangan cerita, Bellri, Aida, dan Raraiya, dengan ditemani Noredo Nug, teman perempuan yang telah lama dikenal Bellri, akhirnya berpergian meninggalkan Capital Territory dan menemui Gusion Surugan, ayah Aida yang ternyata merupakan salah satu petinggi negara Ameria.

Negara Ameria, yang tengah berperang dengan suatu negara lain bernama Gondwana, ternyata diam-diam membeking Pirate Corps karena mengetahui sesuatu yang pemerintahan Capital sembunyikan.

Di sini, kemudian ada pembeberan kalau pemerintahan Capital mulai melakukan militerisasi dengan membentuk Capital Army untuk menghadapi suatu ancaman dari angkasa luar yang akan datang ke Bumi.

Ini buatku merupakan salah satu bagian cerita terkeren di seri ini. Seperti, akhirnya ada kegentingan terbangun tentang apa berikutnya yang terjadi.

Namun, episode berikutnya kerasa kayak… gagal memanfaatkan momentum ini, sehingga jadinya… seri ini kayak bener-bener enggak jadi ‘serame’ seharusnya.

… … AAAAAAAAARGH! Intinya seperti itu!

Pokoknya, ini seri yang terlepas dari semua kelemahannya, sebenarnya enggak cukup buat ditonton hanya sekali karena begitu banyaknya cakupan cerita yang dipaksain masuk. Lalu, ceritanya itu bukan cerita yang jelek! Cerita yang jelek biasanya punya perkembangan-perkembangan ngaco yang rada enggak masuk akal. Tapi, cerita Gundam: Reconguista terbilang konsisten detil-detilnya dari awal sampai akhir. Cuman, ada banyak bagiannya yang berulangkali (kepaksa?) dilompatin!

Karenanya… aku benar-benar penasaran konsep awalnya ceritanya sebenarnya mau dikembangkanseperti apa.

Meraih Kebanggaan, Meraih Kesuksesan

Bicara soal mecha, Gundam: Reconguista termasuk salah satu yang terkeren.

Sekali lagi, di awal mungkin enggak langsung kelihatan. Tapi, seiring perkembangan cerita, benar-benar ada banyak desain MS keren yang kemudian ditampilkan di seri ini.

Adegan-adegan aksinya—meski sering ada kekonyolan dengan pilot-pilotnya yang kadang payah akibat masyarakat di zaman ini yang tak terbiasa dengan konflik—sebenarnya juga lumayan mantap. ‘Mantap’ dalam artian kayak kerennya koreografi aksi anime-anime mecha dekade 80an dulu.

Ada kemiripan nuansa dengan Turn A Gundam yang dibuat oleh Tomino-sensei sebelumnya, terutama dalam pesan-pesan perdamaian yang disiratkan, lalu juga pada bagaimana karakter-karakternya kadang mengambil keputusan tak bijak. Tapi, Gundam: Reconguista secara umum memang memiliki jumlah adegan aksi lebih banyak dibanding Turn A dan itu mungkin jadi faktor menarik bagi banyak fans beliau.

G-Self, seperti halnya Strike Gundam dari Gundam SEED, punya kemampuan untuk mengubah spesialisasi berdasarkan peralatan punggung yang  digunakan. Mecha ini diceritakan adalah MS prototipe yang awalnya kurang diminati karena tidak feasible untuk diproduksi. Tapi, dengan fleksibilitas perlengkapannya, serta bakat besar Bellri sebagai pilot, segera diperlihatkan bahwa MS ini memiliki kekuatan yang tak bisa diremehkan.

Peralatan-peralatan punggung G-Self antara lain:

  • Space Pack, peralatan default untuk manuver luar angkasa, sepertinya telah dimiliki sejak awal pembuatannya di koloni luar angkasa Towasanga .
  • Atmospheric Pack, peralatan default untuk terbang di atmosfer, kelihatannya juga dikembangkan dari Towasanga.
  • Reflector Pack, salah satu peralatan dengan bentuk terkeren, diperoleh dari Ameria. Memiliki kemampuan untuk membalikkan dan memantulkan serangan-serangan sinar. Khusus dikembangkan untuk luar angkasa?
  • Tricky Pack, kelihatannya juga diperoleh dari Ameria. Memiliki kemampuan untuk menciptakan ilusi-ilusi holografis. Salah satu perlengkapan yang paling sulit dipakai.
  • Assault Pack, juga diperoleh dari Ameria, perlengkapan dengan daya serang terbesar, dengan senapan-senapan dan misil-misil yang dikhususkan untuk pertempuran jarak jauh. Bellri selalu merasa kurang nyaman menggunakannya.
  • High Torque Pack, kelihatannya diperoleh dari Capital Army, mengkhususkan pada serangan-serangan jarak dekat untuk pertempuran berbasis darat. Membuat G-Self berfungsi seperti tank.
  • Perfect Pack, yang baru diperoleh setelah perjalanan jauh ke gugusan koloni luar angkasa Venus Globe dan dikembangkan dengan teknologi G-IT Lab. Secara umum, menggabungkan semua(!) kemampuan pack-pack sebelumnya, dan menjadikan G-Self benar-benar imba.

Pack-pack ini tak semata hanya peralatanpunggung saja karena juga menjadi modul eksternal yang bisa G-Self sampai ‘kenakan’ gitu.

Secara visual, mungkin jadi tak selalu keren (kerasanya agak kayak gimmick). Tapi, konsepnya secara menyeluruh benar-benar berkesan. Andai saja aspek teknologi ini bisa dieksplorasi lebih jauh dalam jumlah episode yang lebih banyak, hasil akhirnya bisa benar-benar menarik.

Pihak Pirate Corps mencoba meniru teknologi G-Self, dan hasilnya adalah G-Arcane yang lebih banyak dipakai oleh Aida.

G-Arcane setara dengan G-Self, walau tak memiliki kemampuan mengganti peralatan yang G-Self punyai. Karena Aida dengan keras kepala ingin ikut bertempur walau di awal cerita, jelas-jelas belum…  mahir (Banyak tembakan dari anti-ship riflenya yang meleset.) performa G-Arcane kurang terlihat di awal. Tapi, wujud akhir G-Arcane sesudah memperoleh mode Full Dress dengan deretan laser cannon di kakinya benar-benar membuatnya patut diperhitungkan. (Kayaknya desainnya juga merupakan homage terhadap desain L-Gaim Mk II dari seri Heavy Metal L-Gaim.)

Selebihnya, selain karena banyaknya MS yang ada, tapi juga karena perkembangan ceritanya yang agak rumit, aku agak bingung mengulasnya bagaimana.

Konsep partikel Minovsky yang menghambat proses komunikasi kembali diperkenalkan di seri ini.

Diperlihatkan juga aspek-aspek teknologi baru seperti photon eye yang memungkinkan pembacaan dan kendali jarak jauh di tengah tebalnya partikel Minovsky; beam curtain yang kayak namanya, menjadi semacam medan/tirai penyerang dengan sinar; sampai fitur unit Minovsky flight yang menghasilkan sayap-sayap cahaya di Megafauna, kapal induk utama Pirate Corps, yang sebelumnya hanya tampil dalam seri-seri Gundam era UC yang lebih ke sini. Ada konsep copy paste shield yang merupakan ‘ubin-ubin’ perisai energi yang dapat dibentuk begitu saja. Sampai plasma field pada beberapa MS yang membuat G-Self seakan mampu melepas tenaga dalam(!).

Seiring masuknya pihak G-IT Corps dalam cerita, seperti ada lompatan pada teknologi MS yang diperlihatkan. Mulai muncul MS-MS dengan teknologi yang lebih gila dan keren.

Ada Z’Gocky, yang merupakan pengembangan tak disangka dari desain MS Z’Gok di masa lampau (Seperti di Turn A Gundam, ada banyak peninggalan MS zaman dulu yang kadang muncul.).

Ada Gaeon, yang dikemudikan antagonis Kia Mbeki dari G-IT Corps. Mecha ini dilengkapi perlengkapan punggung Big Arm yang menyerupai tangan, yang sekaligus membuatnya jadi kayak laba-laba, dan masing-masing jarinya dapat terlepas dan menjadi Sword Funnel. MA raksasa Conque de Venus kemudian dapat digunakan bersama MS ini.

Lalu, ada Kabakali, MS terakhir yang harus Bellri hadapi dalam cerita di antara sejumlah MS lain, yang dikemudikan oleh rivalnya dari Capital Army, Kolonel Mask.

Karenanya itu tantangan…

Mungkin sekarang kalian sudah agak kebayang setinggi apa seri ini berusaha bidik. Ada banyak yang terjadi. Ada banyak pihak yang bermain. Lalu, keterbatasan jumlah episode membuat semua desain MS keren ini akhirnya jadi kayak kurang terimplementasi.

Meski perkembangan ceritanya menarik, karakterisasinya kurang teroptimasi. Ini berujung pada bagaimana para karakter antagonis kurang terjelaskan maksud dan motivasinya.

Cumpa Rusita, sosok dari divisi penelitian dan pengembangan pemerintahan Capital yang menjadi dalang di balik Capital Army (dan sejumlah kejadian lain yang memakan korban), terungkap sebagai seseorang dari angkasa luar yang melakukan serangkaian manipulasi politik untuk sesuatu yang diyakininya benar. Tapi, dirinya tak menonjol bahkan sampai menjelang akhir. Bahkan saat tewas pun, beliau… seakan jadi tokoh enggak berarti.

Noredo, sahabat Bellri yang sangat dekat dengannya, juga tak pernah benar-benar terjabarkan latar belakangnya. Hanya disampaikan kalau dirinya ikut Bellri dan mau mengurusi Raraiya selama yang bersangkutan kehilangan ingatan (bersama ikan peliharaannya, Chuchumy). Belakangan, Noredo juga ikut mendalami soal pengobatan dan cara mengemudikan MS. Tapi, meski bernama belakang sama, hubungan Noredo dengan sang paus, Gel Trimedestus Nug, juga tak pernah terjelaskan. Bagaimana Noredo tanpa pikir panjang meninggalkan sekolah dan rumah untuk ikut bersama Bellri dalam petualangan juga tak jelas. Satu teka-teki lain adalah bagaimana meski Noredo sangat dekat dengan Bellri, ibu Bellri, Wilmit Zenam, hampir-hampir tak mengenalnya.

Dua tokoh menonjol dari Armada Dorette, perwira wanita Mashner Hume dan kekasihnya yang… lebih muda, Rockpie Geti, tak benar-benar ditampilkan seperti tokoh antagonis walau peran mereka demikian. Meski demikian, mereka mengalami nasib akhir perih yang bikin perasaanku agak campur aduk.

Noutu Dorette, atasan Mashner dan Rockpie yang dikisahkan berada di balik penderitaan sejumlah orang di Towasanga, bahkan hanya berakhir kayak karakter sampingan di seri ini.

Mask, ‘sosok bertopeng’ seri ini, juga tak benar-benar tersampaikan dengan jelas motivasinya. Identitas aslinya sebenarnya adalah Luin Lee, salah satu kawan Bellri di Capital Guard.

Hanya sebatas diceritakan kalau Luin, bersama kekasihnya, Manny Ambasada, yang merupakan teman sekolah Noredo juga, adalah keturunan suatu ras manusia bernama Kuntala yang ‘direndahkan’ karena di masa silam dikembangbiakkan sebagai ‘makanan.’

Disiratkan bahwa akhir zaman Universal Century ditandai dengan krisis kemanusiaan yang benar-benar sangat parah. Tapi, meski ada latar belakang ini, ditambah subplot tentang bagaimana Manny melakukan perjalanan panjang untuk menemukan Luin kembali, alasan kenapa di penghujung cerita mereka memusuhi Bellri dan Aida—sampai Manny mencuri salah satu MS baru dari Megafauna—benar-benar tak terjelaskan.

Diskriminasi yang harusnya menjadi pemicu tindakan mereka kurang berhasil ditampilkan.

Jadi, kita bisa merasakan kalau motivasi-motivasi para karakter ini sebenarnya ada. Lalu, kita juga bisa coba meraba-raba rinciannya. Tapi, aku seriusan takkan memahami garis besarnya kalau bukan karena rasa penasaranku membuatku mencari lebih banyak ke web.

Aku bahkan merasa semua ‘pengetahuan tentang cara bercerita’ kayak dilempar ke luar jendela buat seri ini. Para pembuat seakan memaksa bereksperimentasi menyajikan suatu cerita dengan cara yang sama sekali baru.

Saking banyaknya hal yang terjadi, pemaparannya beneran bermasalah.

Sisi baiknya, konsep dasar buat sebagian besar karakternya memang menarik. Kapten Megafauna, Donyell Tos, mungkin memang om-om yang tak menonjol. Tapi, Gisela yang menjadi bawahannya yang banyak tersenyum seakan mengimbanginya. Perempuan berkulit hitam Steer, yang menjadi nahkoda Megafauna, merupakan karakter favoritku di seri ini karena gaya bicaranya yang campur aduk antara logat Inggris dan Jepang yang sangat meyakinkan, yang sering bikin aku ketawa. Happa, mekanik utama Megafauna yang serius, juga memiliki interaksi-interaksi kocaknya dengan Bellri.

Dua karakter lain yang mencolok adalah si jenius Klim Nick dan partner wanitanya, Mick Jack, dari pihak Ameria. Kepedean Klim yang teramat besar, yang memang diimbangi dengan keahliannya, membuat kemunculan pertamanya saat mengemudikan MS Montero terbilang berkesan.

…Oh, ditambah Barara Peor! Perwira wanita berbadan mungil yang jadi partner Mask dan mencolok karena sifatnya yang menggoda.

Buat mereka yang agak bingung soal faksi-faksi yang ada, berikut garis besarnya.

  • Capital Territory, yang dipimpin Paus. Di bawahnya, ada Capital Guard dan Capital Army. Dalam perkembangan cerita, sebagian Capital Guard (dengan dimotori senpai Bellri, Kerbes Yoh) membelot ke Pirate Corps dan berada di pihak berseberangan dengan Capital Army. Mask, Barara, dan kemudian Manny, berada di pihak ini.
  • Ameria Army, yang diam-diam membeking Pirate Corps. Mereka tengah berperang dengan Gondwana, dan memerlukan teknologi dan photon battery untuk memodali perang tersebut. Di sini, ada ayah Aida, Gusion Surugan, serta ayah Klim yang manipulatif, Presiden Zuchini Nicchini (yang juga cuma tampil selintas). Seiring perkembangan cerita, Pirate Corps di Megafauna mulai bertindak terpisah sesudah menyadari maksud politik di balik tindakan-tindakan Ameria.
  • Towasanga, koloni luar angkasa yang dikuasai Armada Dorette. Kembali, ada dua pihak: pihak yang mendukung Dorette; dan pihak yang mendukung keluarga Rayhunton yang tak lagi berkuasa sesudah dijatuhkan Dorette dulu. Yang mendukung pemerintahan Dorette ingin lepas dari bayang-bayang Yayasan Hermes, pihak misterius (macam Illuminati?) yang dulu menetapkan segala aturan Ag-Tech dan agama SU-Cord. Untuk itu, Dorette menjalankan kampanye Reconguista untuk menguasai Bumi. Sedangkan pendukung keluarga Rayhunton diwakili oleh pria paruh baya bernama Lorucca Biskes, dan dari pihak merekalah, Raraiya—yang nama aslinya Raraiya Akuparl—sebenarnya berasal. Dalam perkembangan cerita, pihak Dorette (di mana Mashner dan Rockpie tergabung) kemudian bersekutu dengan pihak Ameria (di mana ada Klim dan Mick Jack). Di Towasanga, juga ada pasukan MS independen Zacks yang dipimpin Gavan Magdala, yang kelihatannya berkedudukan netral.
  • Venus Globe, yang dibentuk dengan lautan artifisial(!) di sekitar Venus, tempat bermukimnya Yayasan Hermes. Dari sini, kapal canggih Crescent Ship yang membawakan photon battery ke Towasanga berasal. Pemimpin Yayasan Hermes adalah seorang pria sangat berusia bernama La Gu. Tapi, dirinya menghadapi pertentangan dari faksi pengembangan teknologi MS G-IT Lab yang kemudian memberontak membentuk G-IT Corps pimpinan Kia Mbeki (yang juga didukung Chickara Dual yang spesialis beam saber dengan MS Gastima, dan Kun Soon, kekasih Kia yang memakai MS Mazraster). Pihak G-IT Corps juga ingin mengadakan Reconguista, tapi terpisah dari pihak Dorette. Dalam perkembangan cerita, G-IT Corps kemudian bersekutu dengan pihak Mask dan Barara di Capital Army. Di Venus Globe, juga ada pasukan kepolisian Rosario Ten yang tak berdaya menghadapi perlawanan pihak G-IT.

Balet dan Reconguista

Akhir kata, ini sayangnya lagi-lagi bukan seri Gundam yang normalnya aku rekomendasikan.

Sejujurnya, waktu seri ini berakhir, aku sempat tertegun beberapa lama karena masih enggak bener-bener yakin soal apa saja yang telah terjadi dalam ceritanya.

Kemudian, aku secara iseng mencari info tentang lirik ‘G no Senkou’ yang menjadi lagu penutup. Iramanya yang riang kayak jadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kenikmatanku menonton. Sesudah aku kebetulan nemu terjemahan liriknya, dan kemudian baca, aku kayak ‘deg!’ gitu. Aku langsung kayak, “Oooh! Jadi itu sebenernya yang mau kalian sampaikan?” Aku langsung kayak pengen ketawa karena tiba-tiba seakan jadi ngerti segalanya gitu.

Singkatnya, kalau aku boleh rangkum, terlepas dari tema soal bahaya teknologi yang diangkatnya, Gundam: Reconguista kayak ingin menyampaikan pesan soal bagaimana: ‘Dunia nyata itu enggak enak. Semua orang pasti punya kepentingan. Mereka semua ujung-ujungnya bisa tega nindas kamu. Bukan berarti mereka jahat. Kamu cuma harus sanggup menghadapi mereka dan ngeraih kebahagiaan yang ingin kamu temuin.’

Ini emang sesuatu yang agak abstrak. Tapi, ini sesuatu yang bisa aku pahami banget, apalagi sesudah aku dewasa dan masuk dunia profesional. Terutama, dengan bagaimana ada banyak situasi enggak enak di tempat kerjaku belakangan. Karenanya, semakin enggak enak saat semakin kerasa betapa para pembuatnya akhirnya gagal dalam menyampaikan apa yang mau mereka sampaikan.

Lebih dari yang ditampilkan di Turn A Gundam, Tomino-sensei sekali lagi kayak berusaha menampilkan berbagai konflik ‘kemasyarakatan’ lewat seri ini. Semua karakter berusaha ditampilkan simpatik, sekalipun kedudukan mereka antagonis; mungkin buat menekankan bahwa enggak ada pribadi yang benar-benar ‘enggak bisa diselamatkan’ (walau di akhir mereka mungkin emang gagal diselamatkan sih). Lalu, beliau juga kayak berusaha menunjukkan bahwa sesudah konsekuensi terburuk yang benar-benar terjadi, kita masih bisa bangkit dan menemukan kebahagiaan kita.

Tapi, sekali lagi, para pembuatnya gagal menyampaikan ini. Mungkin jadinya akan lain kalau durasi Gundam: Reconguista bisa dibuat sampai 50 episode.

Cuma, yah, mereka gagal.

Sudahlah. Mungkin kegagalan ini memang sesuatu yang udah ditakdirkan. Gimanapun, aku tetap bisa lumayan menghargai hasil akhirnya. Lalu, seandainya seri ini akhirnya diangkat dalam game G Generations atau Super Robot Wars, mungkin cakupan cerita seri ini yang seharusnya pada akhirnya tetap akan bisa kita dapatkan.

Soal karakterisasi Bellri, entah gimana aku bersyukur dia enggak berakhir gila sesudah semua yang terjadi.

Aku juga senang dengan bisa melihat lagi teknologi Core Block System di sebuah MS.

Oh, dan desain karakternya yang mirip Eureka Seven, ditambah juga dengan semua animasi menarinya, beneran termasuk kusukai.

…Sori, aku enggak tahu baiknya berkomentar apa lagi.

Kesimpulannya, kalau kau suka Turn A Gundam, atau anime-anime dekade 80an keluaran Sunrise pada umumnya, ada peluang kau akan tertarik pada anime ini. Tapi, untuk selebihnya, mungkin kalian butuh perhatian dan kesabaran lebih. Ini satu seri yang akhirnya berakhir cacat dan kurang begitu bagus. Tapi, tetap ada hal-hal menakjubkan di dalamnya seandainya kau berhasil menikmati.

Penilaian

Konsep: A-; Visual: S; Audio B+; Perkembangan: B-; Eksekusi X; Kepuasan Akhir: C+

Iklan

About this entry