Sword Art Online II

Sword Art Online II merupakan musim tayang kedua dari seri anime Sword Art Online, yang diadaptasi dari seri light novel berjudul sama karangan Kawahara Reki dengan ilustrasi yang dibuat abec. Itou Tomohiko kembali sebagai sutradara untuk seri ini, dengan penganimasian kembali dilakukan oleh A-1 Pictures, dengan jumlah episode total sebanyak 24 (ditambah 1 episode rekap).

Ceritanya mengadaptasi cerita utama di buku 5-7 dari seri novelnya (untuk bagian cerita Phantom Bullet dan Mother’s Rosario), dengan sedikit tambahan dari buku 8 yang merupakan kumpulan cerita-cerita pendek (untuk bagian cerita Caliber).

Sebagai orang yang sudah menikmati novelnya, alasan aku menonton lebih karena ingin melihat hasil adaptasi animenya ketimbang mengetahui kelanjutan ceritanya. Karenanya, aku tak langsung mengikuti perkembangan seri ini saat pertama keluar pada paruh akhir tahun 2014 lalu.

Kalau aku mengikutinya pada waktu itu, aku bakal merasa kayak… “Hmmmmmmmmmm.” dan mungkin bakal lebih bias menilainya ketimbang sekarang. …Atau mungkin juga kondisinya aja pada waktu itu lagi enggak tepat.

Character Builds

Kayak yang sudah aku sampaikan di atas (dan di suatu postingan lain), Sword Art Online II terdiri atas tiga bagian cerita utama. Kesemuanya masih berpusar pada insiden-insiden yang berlangsung dalam realita-realita dunia virtual yang tercipta lewat teknologi konsol Amusphere. Garis besar ceritanya kurang lebih membeberkan aftermath dari insiden Sword Art Online yang melibatkan para tokoh utamanya pada season pertama.

Phantom Bullet berlatar sekitar setengah tahun sesudah akhir season sebelumnya.

Kirigaya Kazuto, Yuuki Asuna, dan para korban insiden SAO lain diceritakan sudah mulai menjalani kehidupan normal mereka kembali. Mereka bersekolah di suatu fasilitas khusus yang sudah disiapkan pemerintah untuk mereka. Namun suatu insiden di VRMMORPG baru yang bertema senjata api di dunia futuristis yang sedang hit, Gun Gale Online, mengundang perhatian pegawai pemerintah Kikuoka Seijurou, yang membuatnya meminta bantuan Kazuto—alias Kirito, ‘pahlawan’ yang setahun sebelumnya ‘menuntaskan’ permainan maut Sword Art Online ciptaan ilmuwan fenomenal Kayaba Akihiko—untuk menyelidiki insiden ini.

Meninggalkan lagi kehidupan normalnya untuk sementara waktu, Kirito harus menyelami suatu dunia virtual lain yang masih asing baginya, untuk menelusuri insiden pembunuhan(?) terhadap seorang pemain GGO ternama bernama XeXeeD. Penyelidikan ini kemudian membawanya berhadapan dengan sosok misterius bertopeng Death Gun, yang entah dengan cara apa, bisa jadi merupakan pelakunya.

Dalam upayanya, Kirito berkenalan dengan Sinon—yang dalam dunia nyata adalah gadis remaja dingin bernama Asada Shino—seorang sniper andal yang menjadi harapannya dalam menemukan jejak Death Gun. Death Gun diketahui konon akan beraksi di turnamen Bullet of Bullets yang diadakan secara berkala. Lalu suatu trauma masa lalu ternyata membuat Sinon juga memiliki alasan pribadi untuk berada di dunia virtual ini dan ikut serta dalam turnamen itu juga. Trauma Sinon memberinya pemahaman akan masa lalu Kirito semasa ia masih terperangkap di SAO. Lalu bersama, keduanya berupaya menguak identitas Death Gun yang sesungguhnya sebelum ada korban lain yang jatuh.

Calibur merupakan semacam episode ‘penyegar’ sesudah bab Phantom Bullet yang agak berat dan intens.

Berlatar di dunia ALfheim Online—yang kini telah diimplementasikan sistem sword skills dari SAO seiring tambahan ekspansi New Aincrad—rumor beredar tentang telah ditemukannya pedang pusaka terkuat(?) Excaliber, dan Kirito dan kawan-kawannya kemudian menjalani suatu misi agak misterius untuk menemukannya. Quest ini merupakan suatu sentimen yang sangat ingin Kirito penuhi, semenjak pedang itu membantunya menyelamatkan Asuna pada klimaks season sebelumnya.

Mother’s Rosario—yang mungkin merupakan bagian cerita SAO yang paling banyak drama karakternya sejauh ini—berfokus pada perkembangan karakter Asuna dalam menghadapi konflik pribadi dengan ibunya.

Cerita ini membawa Asuna berkenalan dengan sosok yang disebut Zekken, pemain pedang terkuat di ALO saat ini, yang sebenarnya adalah seorang gadis lima belas tahun bernama Yuuki, alias Konno Yuuki, pemimpin dari guild Sleeping Knights. Pertemuan ini membawa Asuna pada suatu petualangan baru, yang juga membeberkan kenyataan mengejutkan tentang latar belakang Yuuki dan teman-temannya yang sesungguhnya.

Affinity & Proficiency

Tema-tema sains fiksi, seperti soal persepsi terhadap realita dan soal eksistensi pribadi, kembali hadir di season kali ini. Secara pribadi, aku berpendapat kalau SAO II adalah salah satu anime langka yang musim keduanya lebih baik daripada season pertamanya.

Apa ya?

Pemilihan cara mempresentasikan adegan-adegannya sangat menarik perhatian. Bagaimana para animatornya memberi perhatian khusus terhadap kemisteriusan karakter Death Gun (mulai dari gimana seringnya ia muncul di animasi pembukanya), berujung pada banyaknya pencarian kata kunci soal siapa identitasnya selama separuh 2014. Lalu mereka yang mengeluh soal gimana season pertama SAO kurang baik menggambarkan implementasi sword skills yang harusnya menjadi highlight-nya, kurasa akan terpuaskan dengan koreografi-koreografi keren yang dihadirkan season ini.

Gelagatnya sudah terlihat dengan gimana kerennya pedang sinar Kirito dianimasikan dalam bab cerita GGO. Tapi baru pas bab Phantom Bullet berakhir dan latar cerita kembali ke ALO, aku lumayan terpukau dengan cara penganimasian jurus-jurus pedangnya yang cepat dan dinamis

Ceritanya juga lebih terfokus pemaparannya. Enggak ada lagi episode berkala yang berdiri sendiri, yang lumayan mempengaruhi momentum penceritaan di season sebelumnya. Lalu temponya mungkin enggak secepat yang aku kira sih, tapi sama sekali enggak lambat.

Beberapa kelemahan SAO, yang meliputi soal gimana ceritanya memang enggak cocok buat sebagian orang, tetap masih ada. Tapi yang membuatku tetap suka SAO adalah sekalipun ceritanya emang kadang bisa cheesy dan didramatisir, pesan yang disampaikan di dalamnya menurutku enggak benar-benar bisa dibilang ‘salah.’

Hmm. Itu agak subjektif pembahasannya. Jadi soal itu mungkin enggak usah terlalu didalami.

Satu hal lain yang membuatku terkesan adalah gimana season ini dibuka dengan percakapan Kazuto dan Asuna tentang perbedaan antara dunia nyata dan virtual (soal jumlah cakupan datanya), dan kemudian ditutup pula dengan percakapan lain antara mereka tentang hal yang sama. Itu kayak… beneran nyambung dengan tema utama yang dibawa oleh seri ini, dan membuatnya kerasa jadi satu kesatuan.

…Sekalipun ada tonal shift yang lumayan kerasa seiring beralihnya satu bagian cerita ke bagian cerita lain sih.

Elemen-elemen plot untuk pembangunan cerita dalam skala lebih besar: seperti teka-teki perusahaan Zasker yang berbasis di Amerika, yang bertanggung jawab atas pengembangan GGO; lalu soal sosok Koujiro Rinko, asisten mendiang Kayaba, yang ditemui Kirito pada penghujung season sebelumnya; serta apakah ALO, GGO, dan dunia-dunia virtual lain yang dikembangkan dari paket The Seed, benar-benar semata adalah permainan belaka—terutama dengan bagaimana Death Gun menyatakan bahwa ‘semua ini’ masih belum berakhir; dihadirkan dengan lebih baik kali ini.

Bab Caliber juga terus terang bagiku agak jadi kejutan, karena sebenarnya berawal dari suatu adegan di seri novelnya, yang kemudian dipotong dari adaptasinya di season pertama animenya. Jadi aku lumayan terkesan dengan betapa mulus mereka menanganinya.

Measuring Worth–Caliber

Beralih ke soal teknis… animasinya masih berkualitas tinggi seperti musim sebelumnya. Penggambaran dunia futuristis GGO enggak semegah yang kuharapkan, tapi sama sekali enggak buruk. Matsuoka Yoshitsugu dan Tomatsu Haruka kembali berperan mengesankan sebagai Kirito dan Asuna. Mereka berhasil membawakan adegan-adegan dramatis yang bagiku mungkin agak ‘terlalu’ dengan cara yang agak bikin aku takjub. (Terutama juga dengan bagaimana Tomatsu-san membawakan lagu pembuka keduanya.)

Lebih lanjut soal musiknya, ada sesuatu yang memuaskan dengan gimana Kajiura Yuki mengaransemen BGM ‘Swordland’ menjadi bergaya western selama bab Phantom Bullet. Entahlah, ada sesuatu yang benar-benar keren saat mendengar irama itu kembali setelah sekian lama.

Satu hal lain yang patut dipuji adalah penggarapan karakter Sinon. Kesendiriannya, kesedihannya, rasa frustrasinya, penindasan yang dialaminya, serta hubungannya dengan Shinkawa Kyouji alias Spiegel, yang menjadi satu-satunya temannya di awal cerita, terpaparkan dengan sangat baik di seri ini. Ada motif balet yang secara enggak disangka ditampilkan dengan cukup menarik di visualisasi kepribadiannya, yang mungkin akan kau sadari berawal dari keserupaan cara pembacanya dengan bullet.

Lagu ‘Startear’ yang Haruna Luna bawakan sebagai penutup pertama seri ini pastinya mewarnai nuansanya secara baik.

Kesimpulannya, SAO II merupakan sekuel yang sangat kuat dalam menyusul season sebelumnya. Mereka yang sudah menjadi penggemar musim tayang pertama animenya besar kemungkinan akan terpuaskan juga dengan season kali ini; sekalipun terus terang saja kukatakan, aksinya enggak sebanyak yang ada sebelumnya, dan Mother’s Rosario bahkan bisa dibilang berakhir dengan antiklimaks.

Tapi seriusan, ini hasil adaptasi yang berakhir lebih bagus dari dugaanku semula. Jadinya benar-benar terbilang memuaskan untuk para penggemarnya.

11-hit

Sebagai penutup, aku sebenarnya beberapa kali ditanya soal apa SAO bakal ada season ketiganya atau enggak.

Terus terang, itu pertanyaan yang agak susah dijawab.

Soalnya, begitu bagian ini berakhir, cerita novelnya langsung memasuki bagian cerita yang disebut Alicization Arc yang: 1) berdurasi benar-benar lebih panjang, salah satunya karena segala pemaparan dalam novelnya disajikan secara lebih mendetail, dan 2) bahkan saat ini kutulis pun, ceritanya kalau enggak salah masih belum beres.

Intinya, bagian cerita berikutnya mungkin akan agak lebih tricky untuk bisa dianimasikan, apalagi kalau dengan kualitas sebagus yang ada saat ini. Jumlah episodenya jadi harus lebih banyak. Penggarapan naskahnya juga harus lebih hati-hati. Kalau jadipun, kurasa masih belum akan dalam waktu dekat.

Soalnya, dari suatu percobaan teknologi baru, ceritanya berkembang lebih jauh lagi dengan bahasan soal ingatan-ingatan hilang, AI yang lepas kendali, serta intervensi pasukan bersenjata asing dalam sengketa teknologi antar negara.

…Pada titik ini, aku terus terang bahkan malah lebih berharap akan ada season kedua untuk anime Accel World.

Tapi argh, ya sudahlah.

Syukuri dulu saja apa yang ada.

(Eh? Apa? Kenapa aku enggak ada komentar apa-apa soal kenapa Kirito bisa jadi perempuan? Uh, percayalah, stuff like that just kinda happens.)

Penilaian

Konsep: B-, Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan B-; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A+

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: