Kara no Kyoukai – Mirai Fukuin + Extra Chorus

Kara no Kyoukai: Mirai Fukuin (juga dikenal dengan subjudul Future Gospel, atau ‘Blessings for the Future,’ atau juga Recalled Out Summer), merupakan (semacam) epilog dari seri utama Kara no Kyoukai, yang dibuat oleh Nasu Kinoko dan Takeuchi Takashi dari grup pengembang Type-Moon. Adaptasi anime Mirai Fukuin berdurasi sekitar satu setengah jam dan baru dirilis tahun 2013 dalam format layar lebar, dengan produksi masih dilakukan oleh studio Ufotable, yang sebelumnya mengadaptasi cerita utamanya ke dalam bentuk tujuh film layar lebar juga.

Epilog ini berisi serangkaian cerita pendek, yang berlangsung pada latar waktu yang berbeda-beda, yang sedikit banyak memberi gambaran tentang kesudahan nasib para karakter di seri utamanya. Apa yang terjadi pada Ryohgi Shiki, Kokutou Mikiya, dan beberapa karakter lainnya, sesudah dan di sela-sela rangkaian pembunuhan berantai yang pada beberapa titik mewarnai hidup mereka. Subjudulnya kira-kira berarti ‘berkah/doa untuk masa depan,’ yang sesuai dengan tema utama yang cerita-cerita pendek ini angkat.

Episode Extra Chorus, yang menyusul keluarnya Mirai Fukuin, merupakan adaptasi anime berdurasi sekitar setengah jam yang melengkapi apa yang dikisahkan dalam film tersebut. Adaptasinya kayaknya dibuat terpisah karena memang enggak langsung nyambung dengan tema ‘masa depan’ yang film sebelumnya angkat, walau perannya sebagai epilog tetap sama.

1998

Ada tiga episode yang diangkat dalam Mirai Fukuin. Ketiganya sama-sama berpusar pada persepsi orang terhadap masa depan, terutama ke soal pertanyaan apakah masa depan merupakan sesuatu yang sebelumnya telah ditetapkan atau tidak.

Episode pertama berlatar di pertengahan tahun 1998, ketika Shiki mulai dibayang-bayangi seseorang bernama Kuramitsu Meruka, sesosok misterius yang melakukan pekerjaan-pekerjaan pemboman bayaran.

Meruka memiliki kemampuan aneh di mana mata kirinya melihat masa kini, sementara mata kanannya bisa melihat masa depan. Namun masa depan yang bisa dilihatnya merupakan masa depan yang baginya bersifat ‘pasti’ dan tak dapat diubah. Meruka akhirnya seakan menjadi budak bagi masa depan yang dilihat matanya sendiri tersebut, yang seakan hal ‘jelas’ dan tak dapat diubah itu—sampai dirinya menemui Shiki yang entah bagaimana tak muncul dalam ‘masa depan’ yang dilihatnya, mempengaruhi besar-besaran hasil yang dapat ia peroleh, dan membuatnya menjadi sedikit terobsesi dengannya.

Pada waktu yang kurang lebih sama, Kokutou berkenalan dengan seorang gadis remaja bernama Seo Shizune. Shizune, yang sedang dalam liburan musim panas dari sekolahnya di SMA Putri Raizen, sempat sedikit ditolong Kokutou saat suatu insiden terjadi, yang sedikit banyak berhubungan dengan kemampuan Shizune untuk sedikit melihat masa depan juga.

Percakapan yang berlangsung antara Kokutou dan Shizune diseling-selingi lewat alur maju-mundur dengan apa-apa yang terjadi antara Shiki dan Meruka, yang juga diwarnai sesi-sesi konsultasi mereka dengan Aozaki Tohko, atasan Kokutou yang merupakan penyihir. Kokutou melakukan tugasnya untuk menyampaikan kata-kata yang pernah Tohko katakan padanya, bila seandainya Kokutou suatu saat bertemu dengan seseorang yang bisa melihat masa depan. Sementara Shiki disarankan untuk menemui seorang figur yang dikenal sebagai Bunda Mifune, sosok peramal ‘sungguhan’ yang pernah terkenal di jalan-jalan kota Mifune pada masa silam.

Episode kedua berlatar lebih jauh di masa depan, yakni pada tahun 2010, dan memaparkan lebih jauh tentang karakter Bunda Mifune ini. Karakter sentral kali ini adalah Kuramitsu Meruka sendiri, yang pada masa ini lebih banyak menggunakan nama aslinya, Kamekura Mitsuru. Pada episode ini juga diperkenalkan sosok gadis kecil bernama Ryohgi Mana, anak perempuan Shiki dan Kokutou yang pada masa ini telah menikah.

Dikisahkan bahwa Mitsuru, karena satu dan lain hal, kini bekerja di bawah Shiki. Lalu lambat laun, karena alasan yang enggak bisa kukatakan karena bisa agak men-spoiler mereka yang belum nonton, dirinya telah menjadi salah satu orang yang paling Mana sukai. Lalu Mana memaksa menemani Mitsuru dalam satu pekerjaan ini, dan…

Yah, intinya, episode ini secara khusus memperkenalkan karakter Mana. Dan pada dirinya seakan terkumpul segala harapan masa depan yang Shiki dan Kokutou dulu punyai dalam porsi-porsi cerita sebelumnya.

Episode ketiga membawa kita kembali ke masa lalu, pada masa ketika kepribadian maskulin Shiki masih ada. Pribadi Shiki yang ini ternyata pernah berjumpa dengan Bunda Mifune sebelumnya—yang sebaliknya bisa ‘melihat’ sosok Shiki yang sesungguhnya. Lalu percakapan yang berlangsung di antara mereka—sedikit seperti akhir pertemuan antara Kokutou dan Shizune—menandai betapa Shiki yang ini ternyata telah mengetahui apa-apa yang nantinya akan ia alami.

Extra Chorus kembali menampilkan tiga cerita singkat yang agak berhubungan dengan satu sama lain. Latarnya sekali lagi di tahun 1998. Intinya tentang kepergian sementara Kokutou karena suatu hal dan bagaimana ia menitipkan seekor anak kucing pada Shiki. Tapi episode tengahnya menampilkan aftermath dari rangkaian insiden bunuh diri yang dikisahkan dalam Fuukan Fukei, episode Kara no Kyoukai paling pertama, dan sekaligus membeberkan nasib Asagami Fujino, yang mungkin agak mengejutkan bagi beberapa orang. Barulah episode terakhirnya ditutup dengan kunjungan bersama ke kuil yang dilakukan Kokutou dan Shiki—pada malam terakhir Desember di tahun 1998.

Kau Akan Mati, Tapi Impianmu Akan Terus Hidup

Daya tarik teraneh yang Mirai Fukuin punyai bagiku adalah… karena latar waktunya yang maju mundur itu, ceritanya kedengerannya lebih cocok disebut gaiden atau side story. Tapi tema cerita yang dibawakannya memang beneran pas buat dijadiin epilog. Apalagi dengan gimana apa-apa yang dipaparkan di dalamnya mereferensikan sejumlah kejadian yang terjadi belakangan.

Ini seriusan epilog yang sangat keren. Jadi walau enggak membeberkan banyak hal, kalau kau suka ketujuh film layar lebar Kara no Kyoukai yang utama—dengan kesunyiannya, kemisteriusannya, kefilsafatannya, atau ke gimana apa-apa yang disampaikan di dalamnya bikin kamu mikir ulang tentang hidupmu—kau bisa sangat suka dengan apa yang ditampilkan dalam Mirai Fukuin.

(Eh, tapi kalau kau penggemar Type-Moon baru yang masih awam… uh, enggak tahu ya? Mungkin akan kusaranin buat ngelihat yang lain dulu? Seri Kara no Kyoukai memang cuma cocok buat sebagian orang sih.)

Mirai Fukuin sendiri berakhir dengan kuat. Extra Chorus sendiri memang bersifat kayak tambahan. Enggak ada hal baru apapun di dalamnya. Tapi ini tambahan yang beneran manis dan pas kalau kau melihatnya sesudah episode utama Mirai Fukuin. (Kesannya jadi kayak… epilog dari epilog? Hahaha.)

Sama seperti film-film layar lebar pendahulunya, Mirai Fukuin masih memukau dengan kualitas presentasinya yang beneran keren. Tak banyak aksi yang berlangsung—walau ada, dan misteri yang disampaikan kali ini juga tak terlalu rumit, tapi permainan sudut kamera dan pemilahan warna masih kuat di sini. Musiknya keren. Desain dunianya masih begitu mendetil. Lalu dari segi cerita, Mirai Fukuin masih mengangkat tema diskusi menarik, walau mungkin dalam versi yang lebih ringkas ketimbang episode-episode sebelumnya. Dan, yeah, bagian-bagian awalnya agak lebih lambat dari yang mungkin kau sangka.

Terlepas dari itu, satu aspek favoritku yang enggak kusangka ada pada penggambaran kamar apartemen Shiki, yang saat kulihat, langsung mengingatkanku akan saat pertama aku baca terjemahan dari versi novelnya.

Apa ya? Selain hal-hal di atas, aku juga suka kuatnya rasa nostalgia yang seri ini berikan terkait dekade 90an. Khususnya tahun 1998 dalam hal ini sih. Itu masa-masa yang… apa ya? Itu bagiku kayak zaman modern ketika dunia sedang mengalami semacam masa tenang, dan masa depan saat itu masih tersamar dan sama sekali belum terbayang. Pastinya keadaan di masa itu masih belum se-messed up sekarang. Dan karena itu pula, mungkin, pesan yang kurasa berusaha disampaikan di film ini terasa makin kuat…

Buat yang mau tahu, karakter Seo Shizune, yang belakangan terungkap menjadi teman asrama adik perempuan Mikiya, Kokutou Azaka, juga punya kemiripan desain dengan karakter Seo Akira dari semesta Tsukihime (pertama kali dia muncul di fan disc Kagetsu Tohya sih). Kemiripan mereka ada sampai ke kemampuan melihat masa depan terbatas yang Akira juga punyai, serta status mereka sebagai teman sekamar, dengan Akira pun menjadi teman asrama Tohno Akiha di seri tersebut.

Kokutou telah kutambahkan dalam daftar figur yang menjadi role model-ku (Yea, aku punya daftar kayak gitu. Kebanyakan isinya karakter anime. Seorang entrepreuner mesti punya sumber motivasi, tau). Aku beneran terkesan dengan gimana Kokutou memandang apa-apa yang dialaminya sebagai sesuatu yang positif. Aku pengen ngubah itu, tapi kudapati itu bukan sesuatu yang gampang. Dan yea, adegan percakapan dia dengan Shizune di Ahne Nerbe itu kayak memantapkan hal ini.

Kesimpulannya: kau enggak harus mengikuti ini walau pernah melihat seri film utamanya. Tapi kau akan puas kalau misalnya melihatnya.

Jangan lari dari kenyataan ataupun mengekang diri. Masa depan yang kau cari mungkin enggak akan terjadi sekalipun kau meyakininya. Tapi itu enggak berarti apa yang kau lakukan enggak akan memiliki arti.

Penilaian

Konsep: A; Visual: S; Audio: A+; Perkembangan: B; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A+

Iklan

2 Komentar to “Kara no Kyoukai – Mirai Fukuin + Extra Chorus”

  1. Aku gak bisa ngomong banya soal film yang satu ini (dan nggak butuh juga).

    Salah satu yang terbaik dari seri ini *_*b

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: