Buddy Complex Kanketsu-hen

Buddy Complex Kanketsu-hen: Ano Sora ni Kaeru Mirai de merupakan dua episode spesial yang menutup seri aksi mecha tradisional Buddy Complex keluaran Sunrise. Dua episode ini ditayangkan secara terpisah pada akhir September lalu, dan, intinya, memberi penjelasan tentang siapa sebenarnya Watase Aoba dan Yumihara Hina, dan mengapa keduanya punya semacam peran istimewa dalam cerita.

…Aku lumayan terkejut saat pengumuman tentang kedua episode ini keluar. Sebab aku, dan sejumlah temanku, sama-sama merasa kalau akhir cerita di seri TV-nya sudah cukup memberi penuntasan. Tapi, belakangan aku sadar kalau memang ada banyak pertanyaan yang masih belum terjawab (kayak, misalnya, si Aoba masih terjebak di masa depan kan?). Lalu aku jadi ngerasa kalau ‘kepuasan’ yang kukira aku rasakan sebenarnya lebih ke perasaan lega karena seri ini berakhir juga.

Yah, sudahlah soal itu. Mengatakannya seperti itu sebenarnya membuatku agak enggak nyaman.

Tapi melihat dua episode ini, kayaknya aku emang jadi ngeh soal seri kayak gimana yang sebenarnya ingin para pembuatnya bidik. Sebuah seri mecha yang simpel aja, kurasa? Sayangnya, berhubung naskah ceritanya ditangani oleh tim dan tak disupervisi oleh seorang tertentu, rasanya kayak kurang ada visi yang melandasinya saja.

Luar Angkasa, Akhirnya

Dimulai segera tak lama sesudah episode sebelumnya, dua episode spesial ini diawali dengan berpindahnya Hina, yang telah diselamatkan Aoba, ke Free Pact Alliance, yang tak lama kemudian disusul dengan berita bahwa kudeta telah berlangsung di Republik Zogilia, yang didalangi seorang pria (tua?) misterius bernama Evgeni Kedar. Pergeseran kekuatan di Zogilia ini berujung pada pembeberan bahwa meriam Gorgon yang ditenagai nectoribium, yang serupa dengan di Alaska, ternyata telah dikembangkan Zogilia di sebuah satelit. Maka dimulailah suatu misi yang Aoba dan kawan-kawan lainnya di kapal induk Cygnus harus tempuh ke luar angkasa untuk menghancurkan meriam tersebut dan menyelamatkan dunia.

Ceritanya lumayan sederhana. Pada dasarnya, dua episode ini berisi penuntasan konflik antara Aoba dengan Evgeni Kedar, yang sebenarnya adalah musuh lama Aoba, Bizon Gerafil, yang sebelumnya terdampar di masa lalu.

Sekali lagi, sebenarnya, daripada penuntasan konflik ini, yang membuatku terkejut adalah pembeberan tentang apa yang membuat Dio dan Hina ‘istimewa’ di dua episode ini. Serupa dengan bagaimana Aoba mengetahui masa lalu Hina saat Valiancer Luxon Next miliknya melakukan Coupling dengan Valiancer Karura milik Hina, yang menyibak ingatan-ingatan masa lalu yang sudah tak lagi diingat Hina sendiri; partner Aoba, Jyunyou Dio Weinberg mengetahui tentang ini saat Bradyon Next miliknya melakukan Coupling dengan Valiancer Hina dan Aoba sekaligus—sesuatu yang dimungkinkan berkat kesamaan pola gelombang otak yang Aoba dan Hina ternyata punya.

Kejutan ini muncul akibat kemampuan aneh yang dimiliki Valiancer raksasa yang Evgeni gunakan (yang karena suatu alasan, sampai sejauh ini masih belum aku ketahui namanya) untuk melakukan jamming terhadap Coupling System, yang lagi-lagi berujung pada suatu hasil yang tak terduga.

Ehem.

Intinya, Kanketsu-hen memenuhi pengharapan kalian yang menginginkan Buddy Complex dapat dituntaskan lewat suatu pertempuran luar angkasa. Hasilnya cukup memuaskan, terlepas dari sejumlah kelemahan yang dimilikinya.

Untuk Langit Itu

Bagiku, ada satu kesamaan daya tarik antara memainkan sebuah JRPG dan menonton sebuah anime mecha: aku selalu ingin tahu ‘musuh terakhir’-nya itu siapa dan akan seperti apa. Motivasi itu yang biasanya mendorongku untuk mengikuti sebuah anime mecha—termasuk yang kurang bagus sekalipun—sampai tamat.

Buddy Complex adalah kasus yang seperti itu juga sih.

Aku enggak bilang bahwa suatu ‘musuh terakhir’ itu harus ada (seperti di… uh, seri-seri mecha berbau psikologis misalnya, macam Neon Genesis Evangelion, atau bahkan Eureka Seven). Cerita bisa saja diresolusikan tanpa konflik yang berujung pada berantemnya dua robot raksasa. Aku cuma penasaran kalau misalnya musuh seperti itu memang ada, aku selalu ingin tahu mereka bakal seperti apa. Lalu dalam kasus Buddy Complex, aku kayak, “Oh, musuh terakhirnya beneran ada! Kayak gini toh!”

Adegan pertempuran terakhirnya terbilang lumayan. Yups, lumayan.

Perkembangan ceritanya sendiri menurutku masih agak kurang. Bagaimana Evgeni menjadi musuh terakhir, aku masih agak ngerasa itu kayak benar-benar dibikin dadakan. Tapi seenggaknya ceritanya berakhir bahagia (Mungkin malah agak terlalu bahagia?). Lalu Wilhelm Hahn juga mendapat akhir cerita yang layak baginya.

Menariknya, apa yang ditampilkan dalam epilog seri ini lebih banyak berlatar di masa depan, membeberkan kesudahan nasib teman-teman yang Aoba dan Hina tinggalkan. Sedangkan bagi Hina dan Aoba sendiri… yah, singkatnya, apa yang mereka alami berkesan kayak enggak lebih dari semacam mimpi. Tapi sekali lagi, seenggaknya ceritanya berakhir bahagia, dan itu kurasa yang paling memberi kepuasan.

Soal durasi, dua episode spesial ini punya durasi waktu yang sama dengan episode biasa. Jadi jangan harapkan penuntasan cerita seperti di film-film layar lebar gitu ya. Secara teknis, tak ada peningkatan mencolok dari segi audio atau visual. Tapi kualitasnya termasuk konsisten dengan seri TV-nya.

Dari segi mecha, kita bisa melihat lebih banyak aksi dari Luxon Next dan Bradyon Next, yang enggak banyak kita lihat pada penghujung seri sebelumnya (tapi yang sebenarnya enggak banyak berubah dari versi awal mereka juga). Hal baru yang ada di seri ini? Paling termasuk diperkenalkannya Stand Alone Mode yang memungkinkan sebuah Valiancer mengaktifkan mode Coupling tanpa pasangan… yang terbukti lumayan berbahaya. Sedangkan sebagian besar Valiancer lain sayangnya tak banyak berbeda dari segi desain.

Akhir kata, dua episode ini menjadi penutup yang benar-benar manis untuk kalian penggemar Buddy Complex. Sangat terasa betapa ceritanya masih bisa dikembangkan lagi, dan para staf kayak sudah memiliki ide-ide untuk musim tayang kedua. Tapi mungkin karena tanggapan yang minim, adanya dua episode ini saja sudah menjadi sesuatu yang patut disyukuri.

Soal pendapatku pribadi… damn, aku cuma bisa berpendapat kalau Aoba dan Hina ternyata benar-benar riajuu.

Kenyataan ini membuatku agak kesal. (Riajuu, bakuhatsu shirou!)

Tapi sudahlah. Sekali lagi, itu cuma pendapatku pribadi.

Penilaian

Konsep: B; Visual: B+; Audio: B+; Perkembangan: B-; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: B

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: