alfare

Hanamonogatari

In anime on 06/10/2014 at 06:27

Hanamonogatari (kira-kira berarti ‘cerita tentang bunga’) merupakan bagian terakhir dari musim kedua rangkaian seri novel horor(?) remaja Monogatari buatan Nisio Isin.

Episode spesial berdurasi sekitar dua jam ini kudengar sempat beberapa kali ditunda penayangannya.

Karena satu dan lain hal, ceritanya juga dibuat terpisah dari adaptasi animasi Monogatari Series Second Season keluaran SHAFT, yang kalau aku tak salah ingat, berakhir di awal tahun ini. Sesudah melihat sendiri ceritanya, kurasa aku bisa sedikit membayangkan alasannya. …Oke, alasannya sendiri sebenarnya enggak bagus-bagus amat. Tapi, yah, aku bisa memahami alasan kenapa produsernya mengambil keputusan demikian.

Ceritanya berlatar beberapa waktu sesudah klimaks di Koimonogatari, dengan cerita yang berfokus sepenuhnya pada karakter Kanbaru Suruga, dengan judul bab Suruga Devil.

Kewajiban Seorang Kakak Kelas

Araragi Koyomi dan Senjougahara Hitagi sudah tak ada lagi. Demikian pula dengan Hanekawa Tsubasa. Karenanya, Kanbaru merasa agak kesepian sebagai satu-satunya di antara mereka yang masih berada di SMA Naoetsu.

Pada suatu hari, adik kelasnya yang bernama Oshino Ougi, anak lelaki yang dikenalnya sebagai keponakan Oshino Meme, om-om yang dulu pernah menolong mereka semua, pada suatu hari secara kebetulan memberitahunya sebuah rumor tentang Akuma-sama (‘sang Iblis’). Akuma-sama konon akan dapat mengabulkan permintaan siapa saja yang memberitahukan kesulitan mereka padanya.

Lalu mendengar kabar ini, terkait dengan pengalaman masa lalunya dengan artefak jahat Monkey’s Paw yang dulu disebut-sebut juga punya kekuatan untuk mengabulkan permohonan, dan hingga kini pun masih saja tertanam di tangan kirinya, Kanbaru dicengkram kekhawatiran akan kemungkinan dirinya lagi-lagi dikendalikan oleh pusaka itu.

Mungkinkah Akuma-sama yang misterius, yang teman-temannya sekelasnya banyak bicarakan, sebenarnya tak lain adalah dirinya sendiri setiap kali ia terlelap? Mungkinkah sebenarnya tanpa sepengetahuannya selama ini ada korban-korban yang berjatuhan lagi?

Penyelidikan Kanbaru kemudian membawanya berhadapan dengan seorang kenalan lama yang pernah menjadi rivalnya di lapangan basket, Numachi Rouka.

Namun apa yang Kanbaru dapatkan tak benar-benar persis sama dengan apa yang dikiranya tampak…

Duel di Lapangan Basket

Kalau kau sebelumnya pernah melihat adaptasi anime dari Nekomonogatari (Kuro), maka kau sudah akan punya bayangan Hanamonogatari kira-kira akan seperti apa. Enggak, keajaiban yang Bakemonogatari punya masih belum juga terulang kembali. Tapi ini hasil adaptasi yang tetap terbilang lumayan rapi kalau menurutku.

Sekali lagi, itu menurutku.

Buatku, tayangan khusus ini punya hasil lebih bagus dari yang aku harapkan. Tapi, yeah, kita lagi membicarakan anime dari seri Monogatari di sini. Lalu di dalamnya sebagian besar karakter utama yang sudah kita kenal dan sayang sudah tak lagi ada, jadi, yah… Kayak biasa, ini bukan sesuatu yang bakal disukai oleh kebanyakan orang. Teman dekatku yang sedari dulu mengikuti perkembangan seri ini bersamaku sendiri menilai kualitasnya lebih jelek dari yang ia harap.

…Padahal karakter favorit temanku itu Kaiki Deishuu btw.

Tapi terlepas dari semuanya, aku seriusan enggak bisa ngomong apa-apa lagi.

Rasanya kayak, apa yang dulu bisa membuatku terpukau terhadap seri ini sudah hampir enggak ada gitu. Dan aku mengikuti perkembangannya serius, semata-mata hanya karena ingin tahu kelanjutan ceritanya. Bukan karena visualnya. Bukan karena audionya. Bukan karena leluconnya. Bahkan gaya narasinya yang khas itu pada titik ini, sejujurnya, ahahaha, sudah agak membuatku muak… Dulu, setiap detik pada Bakemonogatari terasa kayak bisa mengungkapkan begitu banyak hal. Tapi sekarang, semuanya kayak kosong dan datar gitu.

Namun sekali lagi, ini adaptasi yang benar-benar rapi. Enggak bisa dibilang bagus. Tapi enggak benar-benar bisa kubilang jelek juga. Cuma, yah, datar aja. Tapi itu enggak selamanya jadi hal yang buruk.

Gunting Kuku di Antara Buku dan Bunga

Yah, oke. Kita bahas saja dikit soal ceritanya.

Selain soal hubungan lama yang Kanbaru punyai dengan Numachi, Hanamonogatari sebenarnya mengangkat juga soal hubungan(?) yang Kanbaru punyai dengan mendiang ibunya, Kanbaru Tooe, atau yang sebelum menikah bernama Gaen Tooe.

Dikisahkan bahwa Kanbaru belakangan sering bermimpi tentang ibunya. Lalu dituturkan pula bahwa berdasarkan cerita-cerita dari mendiang ayahnya, dan sebagaimana kita ketahui dari apa-apa yang kita tahu dari Kaiki sendiri, ibunya Kanbaru ini sama sekali bukanlah orang yang normal. Ada sesuatu tentang dirinya, yang menurut ayah Kanbaru, membuatnya sebagai ‘seseorang yang berdiri mewakili Tuhan di dunia ini.’

Lalu Kanbaru sendiri punya perasaan rumit soal ini, karena alih-alih serupa dewa, perilaku ibunya malah lebih mengingatkannya akan iblis.

Ada tema menarik soal konsep iblis yang diangkat, yang senantiasa menggoda manusia dengan bermacam kemudahan semata-mata untuk kepentingannya sendiri. Yang bercampur dengan tema soal kedewasaan dan merelakan masa lalu. Masalahnya, agak serupa dengan kasus adaptasi animasi Nekomonogatari (Kuro), berhubung teka-teki terkait bagian cerita ini masih bersambung, tema dan emosi yang dicoba disampaikan dalam anime ini terasa kayak bersambung juga.

Yah, bersambungnya sendiri enggak masalah. Tapi kayak, penyampaiannya sendiri yang terasa setengah hati itu loh.

Agak susah menjabarkannya. Mungkin lagi-lagi masalahnya memang ada pada durasi.

Versi novel dari cerita-cerita Monogatari, bahkan yang sudah tak lagi disampaikan dari sudut pandang Koyomi, masih bisa agak ‘menghantam’ kita dengan berbagai perdebatan menarik soal konsep-konsep kayak gini. Tapi versi animasinya yang merangkum dan memadatkan ini semua, jujur saja, terasa kayak enggak menggarapnya secara adil. Gaya visual unik, yang sebelumnya kayak mengkompensasi keterbatasan waktu buat menyampaikan semua keabstrakan dalam ceritanya, pada titik ini jadi terasa kayak cuma sekedar tempelan yang agak kosong dari makna.

Tapi entah juga. Bisa saja masalahnya pada aku sendiri yang sudah enggak lagi bisa menangkapnya.

Balik ke pembahasan utama, Hanamonogatari bukanlah hasil adaptasi yang solid. Mungkin juga itu alasan kenapa aku agak menunda pembahasannya. Tapi mereka yang sudah terlanjur jadi penggemar seri Monogatari kurasa akan tetap mengikutinya. Kalau kau memikirkannya sedikit, alasan kenapa judulnya demikian akan terungkap di akhir cerita, walau enggak secara benar-benar eksplisit…

Sesudah titik ini, cerita Monogatari akan memasuki musim ketiga, pertama dengan Tsukimonogatari yang kalau tak salah mengetengahkan identitas Ononoki Yotsugi yang pertama diperkenalkan di Nisemonogatari. Masih banyak teka-teki yang menumpuk. Tapi mari kita berharap maknanya tak tertinggal di belakang.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: B+; Audio: C+; Perkembangan: B-; Eksekusi: B: Kepuasan Akhir: B-

(Hm? Nilai yang kukasih sesudah kubandingkan ternyata kalah jauh dibandingkan Nekomonogatari (Black)? Euuh, apa ini enggak apa-apa nih?)

Iklan
  1. h, aku juga, satu-satunya yang benar2 kunikmati cuma yurinya aja. Aku suka shipping satu ini. Bagaimanapun karakterisasi series ini tetep menarik.

    Selain itu, rasanya nonton Hana gak seexciting pas nonton seri monogatari lainnya (aku masih suka beberapa arc di second season). Entah kenapa aku ngerasa sentuhan stylish Akiyuki Shinbo sama sekali gak kerasa di sini, seolah bukan dia yang nyutradarai.
    Mulai dari visual yang mulai menitikberatkan dramatisasi beuty-ish ketimbang stylish unique (dat bouncing balls, drowning scenes, walau aku suka yang cherry blossom scenes), sampai penceritaan yang kerasa kehabisan ide (aku suka penggunaan ‘lukisan gulung’ di onimono pas cerita masa lalu Shinobu, tapi visual pas penceritaan masa lalu Rouka kerasa overused).
    Kemungkinan lain, emang Hana ini penceritaannya paling lemah dari materinya sendiri. Mengingat Shinbo pernah bilang dia maksa pake dialog2 di novel (ketimbang nulis ulang adegan/dialog), sedangkan dialog panjang, atau tepatnya monolog bergilir, di Hana ini terlampau panjang, jadi mungkin bikin visualnya di animenya juga lebih susah. Dari sisi ceritanya sendiri premisnya udah lumayan sering diangkat, twistnya kurang ngetwist.

    Kurasa keputusan buat ngasih jarak yang panjang dari season satu ke season berikutnya emang tepat. Kalau Shinbo gak mengembangkan gaya visual dan penceritaan ke sesuatu yang agak beda/refreshing, penonton sudah bakal bosan sama seri adaptasi ini.

    • Setahu saya Shinbo di titik ini memang sudah enggak kelibat lagi secara langsung? Itu alasan pertama yang kepikir soal penurunan kualitasnya. Tapi setelah kupikir, masa iya alasannya sesederhana itu?

      Pada satu titik lain, aku juga sempat tiba-tiba mikir kalau mungkin juga Kanbaru yang kalah menarik dibandingkan karakter-karakter yang lain. Tapi lalu aku mikir lagi kalau kayaknya itu kemungkinannya kecil.

      Pada akhirnya, aku ngerasa mungkin ga ada gunanya aku ngemasalahin soal ini, soalnya aku ga akan tau alasan sebenernya apa. Jadi aku setuju denganmu soal jarak itu. Untuk kita sih emang lebih baik bersabar aja.

  2. Aku jadi ngerasa harus segera nonton Monogatari musim kedua yang selalu terpending ._.

  3. terlepas dari itu semua, kemunculan Araragi dengan tampilannya yang baru cukup membuatku terkejut…

    sekarang gak sabar lagi menanti adaptasi Tsukimonogatari akhir tahun ini XD

  4. kengen banget ngeliat perbincangan araragi sama senjogahra soalnya di monogatri sama sekali ngak ketemu apa udah putus ya dia ???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: