Code Geass: Boukoku no Akito OVA 2: The Wyvern Divided

Aku akhirnya kesampaian melihat episode kedua dari seri OVA Code Geass: Akito the Exiled belum lama ini. Setelah penantian lumayan lama dari tahun 2012, rasanya memuaskan bisa melihat Akito Hyuga dan Leila Malkal lagi.

Sebagaimana yang sudah kuharapkan, hasil akhirnya benar-benar keren. Tapi alisku lumayan keangkat karena berbeda dari yang kubayangkan, cakupan ceritanya belum sepanjang yang aku harap.

…Mungkin juga ini hanya masalah di persepsiku. Aku sudah sedemikian terkesannya terhadap seri ini, sehingga rasanya sulit menerima kalau jumlah episodenya cuma sampai empat. Tapi soal itu mending kita singgung lain kali.

Tapi serius, kelihatannya cakupan plot cerita ini akan lebih meluas dari yang dikira?

Episode kedua berjudul The Wyvern Divided (‘sang wyvern terbagi,’ dengan ‘wyvern’ kira-kira berarti sejenis ‘naga berdiri’, dalam hal ini mengacu pada lambang kesatuan yang dipimpin Leila). Ceritanya mengetengahkan kelanjutan sepak terjang unit W-0 sesudah bergabungnya Ryo Sayama dan kedua rekannya, Yukiya Naruse dan Ayano Kosaka, dan berfokus pada ancaman perpecahan yang melanda mereka.

Ryo dan kedua kawannya masih belum bersedia tunduk pada Leila, yang pada episode sebelumnya telah diangkat Jenderal Gene Smilas sebagai pemimpin kesatuan ini, menggantikan Komandan Anou yang kejam. Ryo dan kelompoknya merencanakan suatu tindak pemberontakan yang akan mereka lakukan dalam misi mereka yang berikutnya. Namun Leila bersikeras meneruskan rencana, sekalipun telah mengetahui soal niat mereka, lagi-lagi dengan harapan akan bisa memenangkan kepercayaan Ryo.

Caranya? Dirinya akan turut serta secara langsung bersama Akito sebagai bagian dari tim dalam misi kali ini ke Slonim. Sekalipun, seperti halnya di Narva, misi yang kesatuan W-0 peroleh lagi-lagi sebuah ‘misi bunuh diri.’

“Aku sudah pernah mati sekali.”

Membahas soal teknisnya dulu, visual dan audio episode kali ini masih memukau seperti sebelumnya. Menurutku, segala elemen terbaik dari dunia Code Geass berhasil dihadirkan dalam episode ini: intrik, nuansa dunia yang aristokratik, karakter-karakter yang lembut, karakter-karakter yang agak sakit. (Belakangan aku sadar absennya aspek ‘sekolahan’ justru berbuah baik buat cerita macam begini.)

Ceritanya berawal dengan agak ringan di kastil di tengah hutan yang menjadi markas W-0. Penggambaran latarnya ini begitu alami, dan kita diperkenalkan lebih jauh pada personil-personil W-0 lain yang lebih berada di balik layar.

Pengarahannya masih keren dan efektif seperti sebelumnya.

Markas di tengah hutan ini benar-benar menarik, karena di balik kerimbunannya tersembunyi segala bentuk teknologi dan fasilitas canggih yang kesatuan W-0 kembangkan. Lalu penggambaran latar perkotaan di Slonim sampai ke stasiun kereta di suatu tempat di Rusia itu benar-benar eksotis.

Adegan-adegan aksinya, pas ada, seriusan memukau. Seri Code Geass sebelumnya mungkin lebih dikenal karena intriknya ketimbang aksinya sendiri. Tapi segala koreografi yang dimunculkan di sini itu benar-benar bikin kita wow. Baik Akito, Ryo, Yukiya, maupun Ayane, sama-sama memperoleh satu unit Knightmare Frame Alexander, dan sosok KMF ini dengan segala manuver akrobatiknya telah dikenal dengan julukan ‘Hantu Hannibal’ semenjak insiden di Narva dan mulai diwaspadai oleh para pasukan di pihak Britannia.

Secara teknis, benar-benar tak ada keluhan yang bisa aku ungkapkan di episode ini. Ada lebih dari dua adegan yang sempat berhasil bikin aku ternganga.

Soal cerita… ada beberapa hal yang ingin kubahas. Tapi aku enggak yakin baiknya mulainya gimana.

Sementara W-0 menghadapi ancaman dari dalam, kakak lelaki Akito yang berada di pihak Britannia, Shin Hyuga Shing, telah berhasil memperoleh kekuasaan sebagai pemimpin Knights of St. Michael berkat kekuatan Geass yang dimilikinya pada akhir episode lalu. Bersamanya, ia memperoleh bawahan-bawahan baru, yang di antaranya termasuk si buas Ashley Ashra. Lalu tanpa dapat dihindari, misi W-0 kali ini berujung pada pertemuan antara mereka berdua.

Tentang Shin, damn, aku sebenarnya lebih ingin mengomentari Knightmare Frame yang digunakannya ketimbang dirinya! Tapi aku masih belum menemukan nama resminya! KMF miliknya itu benar-benar mencolok. Wujudnya humanoid namun tinggi untuk ukuran KMF, ditambah lagi berwarna emas. Tapi saat bergerak, wujudnya berubah menjadi seperti centaur!

Satu hal yang sempat luput kubahas soal episode lalu, yakni kemungkinan bahwa Leila pun sebenarnya memiliki kekuatan Geass, sayangnya tak dibahas pada episode ini. Tapi ada beberapa perkembangan baru, di antaranya meliputi Geass yang melanda Akito, yang ditambah sistem misterius yang tertanam dalam Alexander, yang menyebabkan fenomena misterius yang dialami para anggota W-0 selama di Slonim. Sophie Randall, ketua peneliti W-0, nampaknya menyimpan jawabannya, bersama jasad(?) mendiang kekasihnya yang disembunyikan(!). Lalu Klaus Warwick, pria berkesan serampangan yang menjadi aide-de-camp-nya Leila, kini juga diimplikasikan merupakan seorang mata-mata? Ada tanda-tanda perkembangan karakter saat kita diperlihatkan foto keluarganya, dengan wajah istrinya dicoret tapi wajah putrinya dibiarkan.

Makanya, aku penasaran. Dengan banyaknya hal yang bisa terjadi, apa empat episode berdurasi satu jam benar-benar akan cukup untuk mengulas ini semua?

C.C. tak tampil di episode ini. Tapi seperti cuplikan-cuplikan di episode lalu, Kururugi Suzaku yang telah menjadi salah seorang Knights of the Round kini tampil. Perannya di sini adalah untuk mengawal seorang penasihat militer tak dikenal bernama Julius Kingsley, yang kita lihat dari sudut manapun, buat kita jelas-jelas adalah Lelouch Lamperouge yang telah dimanipulasi ingatannya, sebagaimana yang terungkap dalam awal Code Geass R2.

Mungkinkah mereka yang akan menjadi lawan W-0 dalam episode berikut?

Benar-benar ada banyak yang bisa disukai dari Code Geass: Akito the Exiled. Karakterisasinya termasuk simpel, tapi implementasinya benar-benar efektif.

Leila dan Akito benar-benar pasangan yang menarik untuk diikuti. Leila dengan kepolosan, tapi sekaligus dengan tekad dan kemampuannya. Lalu Akito, dengan ketenangan, dan bahkan rasa hormat tulusnya pada Leila dalam situasi normal; tapi juga dengan sisi haus darahnya setiap kali ia diingatkan akan medan pertempuran.

Hmm. Ke mana lagi cerita akan dibawa ya?

Aku merasa bisa sabar menunggu tapi aku serius juga jadi banyak berpikir.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: