Photo Kano

Dulu waktu aku masih sekolah, aku sebenernya masih belum terlalu ngerti definisi ‘stres’ itu kayak apa.

Dulu, di abad 20, ada salah satu stasiun televisi swasta lokal yang menayangkan dorama berjudul Beach Boys, yang bercerita tentang seorang pegawai kantoran yang karena tekanan pekerjaan kemudian memutuskan mengambil cuti panjang meninggalkan kota besar ke suatu pantai yang damai (yang kemudian dipelesetkan dalam salah satu episode Yuusha Yoshihiko). Tapi seriusan, aku beneran baru paham soal apa yang dirasakannya sesudah aku beres jadi mahasiswa dan mulai kerja sendiri.

Dan karena alasan itulah, aku kemudian menonton Photo Kano.

… …

Oke, mending kita engga usah terlalu membahas detilnya.

Alasan lain (sesungguhnya) aku mengikuti Photo Kano tak lain karena ini diangkat dari game dating sim yang dikembangkan oleh Dingo Inc (yang kini telah dikenal lewat model-model 3D mereka dalam seri Project Diva) dan Enterbrain. Keterlibatan Enterbrain membuat Photo Kano agak dipandang sebagai ‘penerus spiritual’ (istilahnya: spiritual successor) dari dua game dating sim kembangan Enterbrain sebelumnya, yakni KimiKiss dan Amagami, yang belakangan juga diangkat ke bentuk animasi; sekalipun pada kenyataannya hampir enggak ada keterlibatan dari staf pembuat game-game pendahulunya pada game ini.

Gamenya sendiri agak menonjol dengan elemen pengambilan foto di dalamnya yang menjadi ciri khas game ini, di mana kita sebagai pemain harus memotret karakter-karakter wanita yang ada (di samping hal-hal lain), sebagai bagian dari kegiatan ekskul(?) kita sebagai anggota Klub Fotografi. Gamenya pertama keluar di konsol PlayStation Portable sebelum dirilis secara elektronik pada jaringan PlayStation Network, dengan versi enhanced-nya berjudul Photo Kano Kiss untuk PlayStation Vita.

Versi animasinya terdiri atas 13 episode dan dibuat oleh studio animasi ternama Madhouse, dengan disutradarai dan dipenai oleh Yokoyama Akitoshi.

“Ketika satu kenyataan tertentu dipisahkan dari jutaan kebenaran yang mungkin terlibat…”

Singkat ceritanya sekali, Photo Kano berkisah tentang pengalaman-pengalaman seorang siswa kelas dua SMA bernama Maeda Kazuya sesudah diwarisi sebuah kamera oleh ayahnya.

…Maaf, kalau-kalau ada yang salah paham, ayahnya belum meninggal. Beliau hanya baru membeli kamera lebih baru saja.

Maeda, yang sebelumnya agak datar dan belum menemukan passion-nya dalam hidup, mulai berpikir untuk menekuni fotografi sesudah memperoleh kamera tersebut. Apalagi sesudah para anggota Klub Fotografi di sekolahnya (di Perguruan Kouga) mulai merongrongnya untuk ikut bergabung.

Biar aman, para anggota Klub Fotografi meliputi: sang ketua, Kudou Hiromichi (yang desahan-desahan nafasnya pada narasi preview-nya di episode-episode awal bisa membuatmu agak merinding; bakat seiyuu veteran Midorikawa Hikaru lumayan terpancar melalui karakter ini) yang senantiasa menjadi pendorong Maeda dan sekaligus menjadi semacam—semacam—mentor baginya; Nakagawa Itta yang berbadan kecil, yang spesialisasinya adalah foto-foto low angle; Azuma Takashi yang berbadan tinggi, yang spesialisasinya adalah foto-foto high angle; serta Uchida Yoko, satu-satunya anggota klub yang perempuan, yang ahli mengambil foto-foto dadakan dan karenanya berjulukan ‘Stealth’ (aku dengar kalau di gamenya dirinya salah satu karakter yang unlockable).

Sedangkan para karakter perempuan yang menjadi sorotan meliputi:

  • Niimi Haruka, teman sekelas Maeda, anggota klub tenis sekaligus gadis paling populer di sekolah, yang kedekatan masa kecilnya dengan Maeda menjadi alasan kenapa Klub Fotografi bersikeras membuat Maeda bergabung bersama mereka. Fokus ceritanya ada pada hubungan lama antara mereka tersebut yang belakangan tumbuh kembali semenjak Maeda memintanya menjadi model foto-fotonya.
  • Sanehara Hikari, anggota Klub Foto (klub berbeda dari Klub Fotografi, yang diketuai Kurebayashi Katsumi, yang terpisah karena alasan yang mungkin bisa kalian tebak sendiri) yang pendiam, penyendiri, dan lebih memilih mengambil foto-foto pemandangan ketimbang orang. Fokus ceritanya terdapat pada upaya Maeda untuk membuatnya lebih terbuka.
  • Muroto Aki, siswi kelas tiga yang merupakan ketua Dewan Siswa yang sangat ketat dengan nilai-nilai pelajaran teramat bagus. Dahulu ia menekuni olahraga lompat indah. Hubungannya dengan Maeda terjalin saat Maeda tanpa sengaja memergokinya melompati pagar saat seharusnya ia terlambat.
  • Masaki Nonoka, gadis ceria yang menjadi pitcher as di klub sofbol, yang telah lama menjadi teman akrab Maeda semenjak SMP. Suatu ciuman tak sengaja antara dirinya dan Maeda menjadi awal hubungan mereka.
  • Sakura Mai, adik kelas yang menjadi anggota klub senam ritmik, yang agak pemalu, dan bersahabat dengan adik perempuan Maeda. Maeda menjadi satu-satunya anggota Klub Fotografi yang kemudian dipercayainya untuk melakukan dokumentasi terhadap klubnya, dan menjadi sumber semangatnya saat ia gagal dalam penyisihan.
  • Yunoki Rina, satu-satunya anggota Klub Peneliti Masakan yang dikenal karena sifat lembutnya, sekalipun dirinya bisa agak ceroboh, yang Maeda kemudian bantu untuk mempromosikan klubnya.
  • Misumi Tomoe, teman sekelas Maeda yang tak menonjol dan senantiasa menyendiri, menyimpan kekaguman terhadap Haruka, dan album foto yang Maeda siapkan untuknya menjadi perwujudan semua kenangan yang akan disimpannya dalam penuntasan seri ini.

Seperti kasus kedua pendahulunya, apa yang menarik dari seri animasi Photo Kano adalah pilihan yang diambil untuk eksekusi ceritanya. Mengikuti jejak Amagami SS, anime Photo Kano sebenarnya juga mengambil pendekatan ‘per bab,’ yang mana masing-masing gadis mendapat porsi ceritanya masing-masing sebagai karakter utama.

Hanya saja, porsi yang mereka dapat itu… agak enggak sama.

Agak mirip dengan pengalaman memainkan gamenya, episode-episode awal Photo Kano itu mengetengahkan bagian ‘pendahuluan’ terhadap ceritanya, di mana kita diperkenalkan kepada para karakternya dan latar di mana semua ini terjadi. Lalu sekitar episode 4-6, ceritanya kemudian mengambil ‘rute’ cerita Haruka sampai akhir. Lalu baru pada episode 7-13, waktu seakan memutar balik dan tiap episodenya akan berfokus pada karakter wanita yang berbeda-beda. (Yang mengagumkan adalah bagaimana pada forum-forum ternyata ada cukup banyak orang yang telat nyadar soal pergantian ‘rute’ ini…)

Seperti ada proses reload save file sesudah ada rute baru yang ter-unlock. Perlu kusinggung sendiri bahwa sifat Maeda sendiri pada masing-masing rute (agak mencerminkan perbedaan-perbedaan pilihan yang bisa kita ambil sebagai pemain) juga bisa agak berbeda.

Ceritanya sendiri berlangsung mulai dari awal tahun ajaran dan mulai mencapai klimaksnya pada waktu sekitar pelaksanaan festival sekolah, dan selama itu ada berbagai ‘misi’ fotografi berbeda yang harus Maeda tuntaskan untuk ‘kemajuan’ ceritanya.

Episode terakhirnya secara khusus menuntaskan cerita dengan memaparkan rute cerita terakhir, yang mengetengahkan adik perempuan Maeda, Maeda Kanon, yang juga anggota Klub Tenis seperti Haruka, yang mengeksplorasi hubungan saudara tiri yang ternyata mereka miliki.

Terlepas dari semuanya agak susah mengungkapkan sisi lebih dan kurang seri ini sebelum kalian melihatnya sendiri.

Kalau kalian menanyakan soal hasil akhirnya, kualitas akhir seri ini memang jadi agak campur aduk. Penuntasan bab Haruka—sekalipun dengan beberapa sisinya yang aneh—menurutku bisa dibilang teramat memuaskan sebagai cerita romansa. Karena itu, episode-episode yang menyusulnya, walau dari segi cerita enggak bener-bener bisa dibilang jelek, jadi agak terasa kayak tambahan atau tempelan. Berbeda dari Amagami SS yang memberi porsi yang setara bagi para karakternya dengan jumlah episode yang lebih banyak, pendekatan seperti ini bagi Photo Kano memang membuatnya terasa kalah. Demikian pula kalau dibandingkan dengan KimiKiss Pure Rouge yang muncul lebih dulu lagi.

Kurasa kalian hanya akan memperhatikan Photo Kano bila kalian secara umum memang menyukai seri-seri anime kayak gini, atau memiliki alasan khusus tertentu untuk mengikutinya.

Photos Transcend Time

Bicara secara visual, Photo Kano termasuk kuat. Baik dari segi pemandangan ataupun karakter-karakter yang didesain Shimada Mae, Photo Kano termasuk seri yang cantik buat dilihat, walau ada beberapa adegan menjelang akhir yang kualitas visualnya secara wajar mendadak ngedrop. Secara umum, nuansanya mungkin memang belum sekuat nuansa yang dimiliki kedua adaptasi anime Amagami sih. Tapi cukup memuaskan bagi yang suka, terutama dengan adegan-adegan sisi fotografinya yang… uh, mungkin diminati sebagian orang.

Dari segi musik, lagu pembukanya yang dibawakan Hayato Kaori terbilang lumayan. Tapi lagu penutup berjudul ‘Smile F,’ yang dinyanyikan secara bersama (dan bergantian) oleh para pengisi suara perempuannya, yang untuk beberapa lama sempat menarik perhatianku.

Lagu itu mengingatkan aku akan… sesuatu. Sesuatu yang agak istimewa yang bagiku juga lumayan terasa pada soundtrack-nya, yang dikomposisi oleh Kubota Mina.

Aku agak susah menjelaskannya. Tapi pada dasarnya itu kayak nuansa yang dulu sering mewarnai seri-seri anime (dan game) romansa pada akhir tahun 90an dan awal tahun 2000an. Sesuatu yang kerasa polos sekaligus tipikal, yang mungkin juga enggak akan gitu kerasa kalau kau cuma mendengar lagunya semata, tanpa melihat visual-visual yang terkait dengannya.

Itu sesuatu yang kukira enggak akan aku temukan kembali karena kayak hilang dalam anime-anime yang lebih ke sini. Tapi Photo Kano di luar dugaan ternyata memilikinya.

Bagiku, efeknya itu kayak ngingetin aku kembali soal apa arti jatuh cinta, dan apa sesungguhnya arti kau bekerja keras buat jadi lebih baik demi diri orang lain. Itu soal mengingatkan bahwa ada hal-hal tertentu yang pasti usai di dunia ini. Tapi justru karena itu hal-hal itu berarti.

Dalam cerita Photo Kano, hal di atas tercermin pada perubahan apa yang hobi fotografi itu bawa pada sifat dan cara pandang si Maeda. Ini sesuatu yang bagiku paling kerasa pada rute Haruka di atas, dan maka dari itu aku jadi semakin ngerasa kualitas rute-rute lainnya timpang dengan satu rute tersebut.

Tapi itu semua cuma sentimen pribadiku, jadi mending enggak usah terlalu dipikirin.

Terlepas dari semuanya, walau kayak biasa aku perlu waktu lama untuk jenis-jenis anime kayak gini, Photo Kano bukan sesuatu yang menyesal kuikuti.

Aku… mendapatkan sesuatu darinya. Walau sesuatu tersebut bisa dibilang baik sekaligus buruk.

Lalu, walau mungkin ini kedengeran sulit dipercaya, walau temanya kadang kayak gitu, nuansa animenya sebenarnya masih jauh lebih bersih ketimbang beberapa versi adaptasi manganya. Jadi soal versi apa yang terbaik untuk mengikuti pengalaman-pengalaman Maeda, mungkin lebih baik kuserahkan pada penilaian kalian pribadi.

Penilaian

Konsep: C+; Visual: B+; Audio: B; Perkembangan: C+; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: B

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: