Gakusen Toushi Asterisk

Beberapa dasawarsa sebelum cerita dimulai, Bumi diporakporandakan suatu bencana global yang disebut sebagai Ember Tears (‘air mata bara’); hujan meteor berkelanjutan selama tiga hari tiga malam yang berlangsung di seluruh dunia.

Bencana alam ini begitu dahsyatnya sampai-sampai seluruh negara hampir tak bisa berkutik.

Dunia berubah.

Pemerintahan-pemerintahan tumbang, dan umat manusia hanya berhasil bertahan hidup berkat pengelolaan suatu yayasan multinasional yang bernama Integrated Enterprise Foundation (‘yayasan perusahaan terintegrasi’) yang bisa dikatakan kini menguasai seluruh perekonomian dan pemerintahan di seluruh dunia.

Namun dampak terbesar dari Ember Tears adalah terlahirnya jenis manusia baru yang memiliki kendali atas aliran energi mana. Manusia-manusia baru yang lebih kuat dari manusia pada umumnya ini dikenal dengan istilah Genestella–Starpulse Generation (‘generasi denyut bintang’). Lalu kemunculan mereka turut diiringi berbagai kemajuan teknologi yang didorong oleh berbagai penemuan ilmiah dari pembelajaran mana.

Sebagai bentuk pengawasan dan pelatihan bagi mereka, anak-anak Starpulse Generation dari seluruh dunia berkumpul di kota air buatan Rikka yang terapung di danau kawah di wilayah utara Kanto, Jepang.

Di samping karena sekolah-sekolah dan tempat-tempat penelitiannya, Rikka, sebuah kota Asterisk, juga menjadi panggung dari Festa–Star Warrior Festival, ajang tempur hiburan yang paling digemari di seluruh dunia yang mengetengahkan para Genestella ini.

Mengikuti aturan yang telah disepakati dalam Stella Carta–Star Wars Charter, anak-anak Genestella bersaing dalam mengadu kemampuan masing-masing untuk memecah lencana sekolah lawan-lawan mereka. Mereka-mereka yang memenangi Festa akan mendapati apapun keinginan mereka dikabulkan oleh Integrated Enterprise Foundation, dan karenanya kota ini menjadi ajang persaingan untuk memperoleh ketenaran sekaligus kekayaan.

Seorang remaja bernama Amagiri Ayato datang ke kota ini sebagai murid pindahan di salah satu dari enam sekolah di Rikka, yakni Perguruan Seidoukan, untuk menemukan jejak kakak perempuannya, Amagiri Haruka, yang bertahun-tahun sebelumnya hilang.

Petunjuk terakhir yang Ayato temukan menyebut bahwa Haruka terakhir terlihat di kota ini. Lalu upayanya untuk menemukan kakaknya membawanya pada berbagai intrik dan konflik terkait para Genestella serta penyelenggaraan Festa.

Saputangan yang Dicuri Angin

Semua orang datang ke kota ini karena ada keinginan yang ingin mereka penuhi. Untuk mewujudkan keinginan itu, mereka akan mencari kekuatan agar bisa terus menang dan menang.

Dua kalimat di atas kurang lebih menggambarkan seperti apa cerita Gakusen Toushi Asterisk (‘kota pendidikan tempur Asterisk’, ‘asterisk’ sendiri artinya hexagram, seperti bentuk geometri kristal salju).

Ini seri light novel buatan Miyazaki Yuu dengan ilustrasi buatan okiura. Diterbitkan oleh Media Factory di bawah label MF Bunko J, seri ini pertama terbit tahun September 2012 dan sejauh Maret 2014, sudah terbit lima buku.

Kayak biasa, terjemahan Bahasa Inggrisnya yang dibuat para fans bisa ditemukan di situs Baka-Tsuki. Kayak biasa pula, aku secara iseng-iseng membacanya saat sedang senggang.

Berbeda dari biasa, daripada premis ceritanya, yang pertama menarik perhatianku adalah gambar-gambar ilustrasinya. Aku takkan sampai mengatakan kalau ilustrasinya luar biasa sih. Tapi seri ini menonjolkan aksi-aksi penuh ‘sinar’ dan ‘cahaya’ dalam suatu latar futuristis gitu.

Uh, gampangnya, aku langsung dibuat terkesan pada desain pakaian para karakternya.

Oke, aku enggak akan jelaskan lebih dari itu.

Tapi daripada sekedar seri fantasi penuh konflik dan aksi, sesudah kubaca, ada elemen-elemen pertandingan olahraga yang lumayan dominan juga di dalamnya. Ada intrik, ada komedi romantis, dan ceritanya enggak pernah jadi berat-berat amat.

Singkat kata, walau seri ini semula terlihat tak menonjol (adaptasi manganya ada, tapi bahasan soal anime kayaknya masih jauh, dan kayaknya jumlah penggemarnya juga masih terbatas), aku cukup terkesima karena ternyata seri ini lebih bagus dari yang kuduga. Memang enggak bisa dibilang istimewa, tapi seri ini kayak seakan enggak ada kelemahannya. Ceritanya gampang diikuti. Karakterisasinya sama sekali enggak bikin ilfil (buatku, seenggaknya). Lalu latar cerita dan plotnya lumayan menarik.

Plotnya lumayan biasa sih. Tapi sekali lagi, perkembangannya semakin lama semakin menarik.

Cerita dibuka dengan pertemuan tak sengaja—benar-benar tak sengaja—antara Ayato dengan Julis-Alexia (Marie Florentia Renate) van Riessfeld, gadis yang kelak menjadi partnernya, yang dengan segera diikuti dengan perkenalan terhadap karakter-karakter lainnya.

Julis merupakan salah satu petarung terkuat Seidoukan yang berada di peringkat kelima dalam Named Charts–Battle Omnicon, daftar dari 12 petarung paling atas di sekolah mereka. Julukannya adalah Gruene Rose–Petalblaze Witch, walau dirinya juga dijuluki ‘Tuan Putri’ karena merupakan anak perempuan dari raja negeri Lieseltania, salah satu negara Eropa yang kembali menjadi monarki sesudah berlangsungnya Ember Tears (yang membuatnya benar-benar seorang putri ‘sungguhan’). Julis juga seorang Strega (istilah itu untuk perempuan; untuk lelaki, disebutnya Dante), salah satu jenis Genestella langka yang memiliki kemampuan memanipulasi Prana selayaknya sihir. Karenanya, Julis juga memiliki suatu nilai strategis lebih, baik bagi Seidoukan maupun sebagai Genestella.

Walau Julis seorang putri, seluruh kekayaan negaranya (seperti halnya kebanyakan negara lain) diatur oleh Integrated Enterprise Foundation, dan kekayaan hanya akan IEF gerakkan kalau kebutuhannya memang sesuai kepentingan mereka. Ada sesuatu yang ingin Julis lindungi di negara asalnya. Karena itulah, Julis berusaha meraih kemenangan di Festa agar bisa memperoleh hadiah uang.

Orang yang bertanggung jawab mengundang Ayato—dan berhasil, sesudah bertahun-tahun penolakan—adalah Claudia Enfield, ketua Dewan Siswa yang tengah menjabat di Seidoukan. Claudia, yang sebaya Ayato, diindikasikan pernah mengenal dirinya di masa lampau. Lalu alasan Claudia mendatangkan Ayato kemari adalah dengan harapan agar Ayato bisa membawa kemenangan dalam Festa untuk Seidoukan, yang dalam tahun-tahun terakhir, terus mengalami kekalahan beruntun dan berada di peringkat paling bawah dibandingkan sekolah-sekolah lainnya.

Kakak perempuan Ayato, Haruka, meninggalkan kampung halamannya karena suatu alasan misterius. Namun sebelum ia menghilang, untuk alasan yang belum terungkap, ia menyegel kekuatan Ayato hingga Prana – Star Power (‘kekuatan bintang’), yang menjadi ciri khas para Genestella, menjadi tak bisa ia keluarkan.

Untuk kepentingan pertandingan dan bela diri, Ayato akhirnya hanya bisa mengandalkan aliran ilmu pedang keluarganya yang telah ia kuasai, Amagiri Bright Dragon Style (ada Bahasa Jepangnya, cuma aku lupa apa). Walau demikian, setelah bertahun-tahun berlatih, Ayato mulai bisa ‘membobol’ segel kekuatannya untuk sementara (sekitar lima menit), dan memperlihatkan bahwa dirinya ternyata menyimpan kekuatan Prana yang teramat sangat besar…

Kedatangan Ayato ke Seidoukan, sesuai perkiraan Claudia, segera mengubah peta kekuatan dalam ajang Festa tahun ini. Lalu dengan segera pula ia menarik perhatian berbagai pihak dari sekolah-sekolah lain.

Berbagai intrik, sabotase, serta perang informasi berlangsung di antara sekolah-sekolah yang ada. Lalu di tengah semua itu, Ayato berusaha menemukan suatu alasan untuk menjadi lebih kuat bagi dirinya sendiri, dan sekaligus menemukan petunjuk lebih jauh tentang hilangnya kakaknya.

Semuanya Balik ke Soal Duit

Salah satu sorotan seri ini terpada pada adanya suatu jenis persenjataan baru yang disebut Lux – Shining Type Armament, yang pada dasarnya merupakan senjata-senjata sinar futuristik yang ditenagai oleh kekuatan Prana. Senjata-senjata ini dikembangkan berdasarkan teknologi baru yang ditemukan sesudah Ember Tears.

Kesemua Lux ini dikelola dan diatur peredarannya oleh IEF, dan tersebar penggunaannya ke keenam sekolah dan digunakan dalam setiap ajang Festa.

Lalu ada jenis-jenis Lux yang lebih langka dan istimewa yang disebut Ogre Lux – Pure Star Type Armaments, yang merupakan wujud lebih canggih dan lebih berbahaya dari Lux, dan konon masing-masing dirinya memiliki ‘konsekuensi’ dan ‘kemauannya’ sendiri terkait kekuatan yang masing-masing akan berikan…

Festa berlangsung dalam hitungan siklus, dan satu siklus Festa berlangsung selama tiga tahun. Satu Festa itu sendiri dibagi menjadi tiga segmen, dengan masa berlangsung masing-masing segmen per setahun.

Masing-masing segmen tersebut terdiri atas:

  • Phoenix – Phoenix Star Warrior Festival, yaitu ajang Festa yang para pesertanya membentuk tim-tim berupa pasangan dari masing-masing sekolah.
  • Gryps – Gryphon Star Warrior Festival, yaitu ajang Festa yang pesertanya berupa tim-tim dari masing-masing sekolah yang terdiri atas lebih dari dua orang.
  • Lindvolus – Dragon King Star Warrior Festival, yaitu ajang Festa yang para pesertanya bertarung sendiri secara individu.

Lalu kerap ada variasi pada peraturan yang diterapkan pada tiap tahun.

Kemudian ada enam sekolah di Rikka. Masing-masing sekolah ini bersaing dalam memperebutkan pengaruh dan kemenangan, dengan masing-masing dari mereka mencakup tingkat pendidikan dari SMP sampai universitas. Selain Seidoukan, kesemuanya meliputi:

  • St. Garradsworth, yang bernuansa aristokrasi Eropa, mengutamakan permainan pedang dan keksatriaan.
  • Allekant, yang mengutamakan penelitian, keilmuan, dan pengembangan teknologi dan senjata, dan di dalamnya terbagi atas faksi-faksi lagi. Mereka menjadi tokoh antagonis pertama yang muncul.
  • World Dragon Seventh Institute, bernuansa oriental, dengan jumlah siswa terbilang besar, yang menonjolkan penempaan fisik dan bela diri. Peringkat satu mereka adalah anak perempuan yang masih teramat muda, yang nampaknya memiliki kemampuan untuk memprediksi masa depan.
  • Le Wolfe Black Institute, yang seakan dikuasai berandalan dan karenanya dikenal paling garang. Ketua Dewan Siswanya adalah satu dari sekian sedikit siswa yang bukan bagian Starpulse Generation, dan secara menakutkan menguasai sekolah tersebut dengan kecerdasan dan kelicikannya semata.
  • Queen Veil Girl’s Academy, perguruan khusus perempuan yang di dalamnya memiliki beberapa karakter menonjol, yang karenanya, meski secara menyeluruh terbilang lemah, masih memiliki pengaruh yang terbilang kuat di Rikka.

Yang menarik tentu saja adalah bagaimana intrik dan konflik antar sekolah-sekolah ini semakin berkembang dan berkembang. Meski ceritanya berawal dengan teramat sangat sederhana, perlahan terungkap sisi-sisi Rikka yang tak tampak pada permukaan, dengan banyak pihak di balik layar yang memiliki kepentingan dan kemauan mereka masing-masing.

Di samping itu, aku juga suka berbagai karakternya yang secara konsisten terus berlatih dan bertambah kuat. Walau mungkin bagi beberapa orang nuansanya kurang riil, para karakter utamanya di saat yang sama terus menyadari kelemahan-kelemahan yang mereka punya, serta memegang teguh dan saling menghormati harga diri masing-masing tanpa benar-benar menjadi tinggi hati.

Seiring perkembangan cerita, di Seidoukan, Ayato juga bertemu kembali dengan teman masa kecilnya yang telah lama kehilangan kontak dengannya: gadis berbadan mungil berambut biru Sasamiya Saya, yang mengandalkan persenjataan pistol dan senapan ciptaan ayahnya yang ilmuwan. Ada suatu situasi terkait ayahnya ini yang menjadi alasan Saya berada di Rikka. Lalu terkait sifat Saya yang tak menyukai perhatian, dirinya tak pernah terlibat dalam ajang Duel manapun, sehingga namanya belum tercantum dalam Named Charts sekalipun dirinya memiliki kekuatan setara Julis.

Dengan bantuan Claudia, Ayato pun mengetahui tentang Ogre Lux berbentuk pedang bernama Ser Vesta – Demon Sword of Black Furnace. Ser Vesta telah lama dimiliki Seidoukan, namun selama bertahun-tahun diyakini terlalu kuat untuk bisa digunakan siapapun, tapi konon pernah digunakan Haruka dalam suatu insiden yang nampaknya ditutup-tutupi sebuah pihak…

Pada buku kedua, diperkenalkan pula karakter Toudou Kirin, peringkat satu dalam Named Charts Seidoukan yang berhasil mendominasi bahkan tanpa menggunakan Lux, yang berbeda dari penampilannya, sebenarnya masih SMP. Upaya Ayato untuk menolong Kirin dari dominasi pamannya membawa Ayato menjadi peringkat satu baru di Seidoukan, berjulukan Murakumo, sekalipun ketenaran barunya ini meningkatkan resiko adanya orang yang mengetahui tentang kelemahan batas waktu lima menitnya.

Sejauh saat ini kutulis, ajang Phoenix yang diikuti Ayato dan Julis telah hampir mencapai puncaknya, dan cerita telah berkembang lagi dengan pembeberan bahwa urusan yang dahulu Haruka pernah terlibat mungkin berkaitan dengan sekolah-sekolah lain. Lalu mulai diimplikasikan pula bahwa ada suatu pihak tertentu dalam IEF yang secara khusus mengenali Ayato.

Yah, jadi begitu. Tak ada sesuatu yang benar-benar revolusioner atau berbeda pada ceritanya. Tapi ceritanya konsisten dan lugas dalam mengangkat apa yang diangkatnya.

Satu hal lain yang menarik pada seri ini adalah pada bagaimana para tokohnya tak bisa meremehkan kekuatan yang dimiliki oleh uang. Itu jadi suatu tema berulang yang dalam latar yang didominasi oleh ‘kekuatan’ ini, kerap kali muncul kembali dalam situasi-situasi yang tak disangka. (Terutama pada pemaparan karakter teman sekamar Ayato, Yabuki Eishirou.)

…Uh, berhubung setiap karakter memiliki beban dan kepentingan sendiri-sendiri, mungkin aku memang agak tersentuh dengan bagaimana mereka saling mengulurkan tangan untuk membantu satu sama lain.

Aku enggak yakin ini jenis seri yang bakal meledak. Tapi kurasa ini seri yang cukup menarik untuk seenggaknya mempertahankan basis penggemarnya sendiri.

Entahlah. Mungkin suatu saat kelak adaptasi animenya bakal muncul? Secara visual kurasa bisa cukup menarik.

Sebenarnya, aku terpikir untuk menulis novel belakangan. Jadi untuk beberapa waktu ke depan mungkin aku bakal cukup banyak membahas soal ranobe.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: