Strike the Blood

Sebenarnya, aku suka Strike the Blood.

Ini salah satu anime hasil adaptasi light novel yang sempat keluar pada paruh akhir tahun 2013 lalu, macam Mahou Sensou dan Tokyo Ravens. Tapi berbeda dari judul-judul lain yang keluar di waktu itu…

Bagaimana mengatakannya ya? Pada dasarnya, ada sesuatu yang agak berbeda tentang seri ini dibandingkan yang lain.

Anime STB dibuat berdasarkan seri novel karangan Mikumo Gakuto (yang sebelumnya lumayan dikenal lewat seri Asura Cryin’) dengan ilustrasi buatan manyanko (yang punya ciri khas lumayan kuat), dengan jumlah episode total sebanyak 24. Produksi animasinya dibuat melalui kerjasama antara dua studio Silver Link dan Connect. Novelnya sendiri pertama keluar pada Mei 2011 di bawah label Dengeki Bunko terbitan ASCII Media Works. (Pada saat ini kutulis, kelihatannya seri ini telah mencapai 10 buku.)

Kalau boleh kuungkap, ini termasuk jenis anime yang sangat ‘buat cowok’ sekali. Lalu daripada bagus dari segi konsep, STB menarik lebih karena unggulnya ada pada sisi teknik. Ini bukan jenis anime yang memiliki makna mendalam atau gimana. STB sekedar sebuah anime yang ‘seru’ dan terbilang ‘asyik’ buat diikutin.

Dari beberapa segi, untuk sebuah anime, bisa segitu aja mungkin udah cukup.

Hari yang Biasa Untuk Orang-orang Tak Biasa

Sebagian besar cerita STB (atau dikenal juga sebagai ‘Sutabura‘) berlangsung di Pulau Itogami, suatu pulau buatan yang tercipta dari kombinasi teknologi dan sihir di lautan Jepang, yang di dalamnya ada suatu tempat yang disebut Demon District yang mewadahi sejumlah penduduknya yang ‘bukan manusia.’

Dunia di mana STB berlangsung adalah dunia di mana sihir dan ras-ras nonmanusia telah menjadi suatu hal yang diketahui secara umum. Bahkan sejumlah kaum supernatural tersebut telah memiliki pemerintahan dan negara-negaranya sendiri.

Fokus ceritanya terdapat pada seorang remaja SMA bernama Akatsuki Kojou. Dia remaja agak datar yang sudah terbiasa agak terpinggirkan, yang meski baik hati, cenderung berusaha agar tak meraih perhatian.

…Dia juga punya kecendrungan aneh untuk disangka memiliki pikiran mesum.

…Lalu, uh, dia juga diimplikasikan punya kecendrungan untuk mengalami ‘kesialan’ untuk terseret-seret dalam keadaan.

Dalam suatu insiden yang Koujou sendiri tak terlalu ingat, entah bagaimana dirinya telah diubah menjadi vampir. Lalu tahu-tahu saja, dirinya diidentifikasi oleh berbagai pihak yang berkepentingan sebagai sang Fourth Progenitor (‘leluhur keempat’) yang berjulukan Kaleid Blood, salah satu dari sekian sedikit vampir ‘asli’ yang memiliki kekuatan supernatural yang luar biasa–ditandai dari banyaknya Kenjuu (‘Familiar‘–hewan metafisik panggilan?) yang dapat mereka kuasai dan gunakan. Fourth Progenitor di sisi lain sekaligus diyakini oleh berbagai legenda dan kabar burung sebagai vampir terkuat di dunia, dan ‘kemunculannya’ di Itogami dengan segera menuai bermacam pertanyaan.

Suatu pihak misterius yang disebut Lion King Organization (‘Shishio-kikan‘, ‘organisasi raja singa’) kemudian mengutus salah seorang Sword Shaman (Kennagi, sepertinya merupakan kata gabungan dari ‘ken‘ dan ‘kannagi‘) mereka, seorang gadis manis berusia SMP bernama Himeragi Yukina, untuk mengamati Kojou.

Himeragi, yang telah terlatih dalam bela diri dan sihir sebagai seorang Attack Mage, dibekali dengan salah satu senjata pusaka Schneeweizer, yakni tombak lipat portabel Sekkarou, yang merupakan senjata anti-sihir paling mutlak yang dipunyai Shihio-kikan, yang memiliki kemampuan untuk membunuh para vampir leluhur seandainya diperlukan.

STB pada dasarnya menuturkan berbagai kejadian yang berlangsung di Pulau Itogami selama Kojou berada di bawah pengawasan Yukina, walau sisi ramah dan perhatian yang keduanya miliki membuat hubungan keduanya tumbuh semakin akrab…

Pertarungan Kita, Kemenangan Kita

Genre dasar STB (mungkin) adalah aksi fantasi. Ceritanya merupakan cerita tipikal bergaya ranobe. Dalam artian, kalau aku boleh jujur, sebenarnya, meski aku beneran enggan ngatain ini, ceritanya sendiri sebenarnya enggak bagus-bagus amat. Ceritanya memiliki kombinasi elemen harem, misteri, komedi romantis, dan aksi fantasi tadi. Lalu bahkan di awal seri ini, kau bisa saja langsung diingatkan akan elemen-elemen cerita yang dimiliki sejumlah ranobe populer lain, macam, misalnya, seri Monogatari (dari tema diubah menjadi vampirnya), To Aru Majutsu no Index (dari aspek kota futuristis istimewa dan kekuatan anti-sihirnya), serta Campione! (dari segi para Kenjuu yang menjadi makhluk-makhluk yang dipanggil saat ada kesulitan).

Tapi, the thing is, kalau kau bisa menikmati seri-seri kayak gini, STB termasuk seri yang rame.

Komposisi serinya, dalam artian pembuatan adaptasi naskahnya dari novel, termasuk efektif. Setiap bab cerita bisa berdurasi dari 2-4 episode. Sehingga begitu kau sampai ke episode terakhir seri ini, kau ngerasa kalau ceritanya kayak udah berjalan lumayan jauh.

Di samping itu, ceritanya pun juga enggak terlalu masuk ke bahasan konsep-konsep rumit ataupun jadi terlalu mengkhotbah. Premisnya simpel, kau bisa paham soal inti yang terjadi begitu ceritanya berakhir, dan karenanya jadinya efektif.

Lalu berhubung format ceritanya yang kayak gini dan seri novelnya sendiri masih berlanjut, ini termasuk jenis adaptasi anime yang hanya sekedar ‘mengikuti apa yang ada.’

Jadi… enggak, sayangnya, alasan soal bagaimana Kojou kemudian menjadi pewaris Kaleid Blood belum diungkapkan. Tapi lebih banyak soal itu akan kusampaikan di bawah.

Sekali lagi, ceritanya sebenarnya enggak bagus-bagus amat. Lupakan juga soal pendalaman karakter. Aku kenal beberapa orang yang enggak nyaman soal karakterisasinya, tapi aku sendiri enggak merasa perlu mempermasalahkannya berhubung aku pernah nemu yang jauh lebih buruk. Tapi terlepas dari itu semua, seriusan, STB terbilang seru kalau kau suka tema-tema yang kayak gini.

Animasi dan eksekusinya enggak terlalu bagus. Kelihatan bagaimana semua adegannya berusaha dibuat dengan benar-benar minim. Dari segi kualitas animasi, STB kelihatan punya budget ketat. Kualitas animasinya yang sederhana terkesan kayak para animatornya berusaha memanfaatkan setiap draft frame yang ada semaksimal mungkin, dan karena itu nuansa beberapa frame-nya kayak enggak konsisten di beberapa bagian.

Tapi desain karakternya… man, itu kayak mengimbangi kekurangan-kekurangan ini.

Desain dan ilustrasi yang dibuat oleh manyanko-sensei memiliki ciri khas yang lumayan kuat. Ada proporsi aneh namun seimbang antara ukuran kepala para karakternya dengan bentuk badan mereka. Tapi untuk animenya, segala proporsi ini kayak ‘dinormalkan,’ dan entah gimana caranya, hasilnya menurutku jadi lumayan luar biasa.

…Oke. Aku ngasih penilaian soal desain karakter di atas sebagai cowok ya. Lalu aku juga ngasih penilaian soal ceritanya sendiri sebagai cowok otaku yang lajang dan enggak punya pacar.

Jadi kalian-kalian yang lebih intelek dan ngerasa harusnya bisa dapat yang lebih baik mungkin takkan berpendapat sama. Mungkin ibaratnya, kalau mau kasar, STB itu kayak anime kelas dua. Tapi ini anime kelas dua yang termasuk yang bagus di antara jenisnya.

Audionya sendiri sama sekali enggak buruk. Para seiyuu-nya terbilang memerankan peran mereka secara pas (terutama Taneda Risa sebagai Yukina yang benar-benar memikat, lalu Hosoya Yoshimasa, yang biasa memainkan peran-peran sampingan, terasa cocok juga sebagai Kojou). Soundtrack-nya ada yang dibawakan oleh Kanon Wakeshima serta grup band rock Kishida Kyoudan, yang mungkin sudah dikenal oleh sebagian orang dan dari segi itu, meski enggak memukau, juga sama sekali enggak bisa dibilang buruk.

Perbatasan Kebenaran dan Kenyataan

Animenya mengangkat cerita dari buku pertama sampai buku keenam (novelnya telah agak lama berada di kategori teaser projects di situs Baka-Tsuki). Dimulai dari Right Arm of the Saint, yang menceritakan pertemuan pertama antara Kojou dan Yukina, serta bagaimana mereka berhadapan dengan War Deacon Rudolf Eustach yang menggerakkan homunculus yang mampu menggunakan Familiar bernama Astarte; sampai ke Return of the Alchemist, yang mana Kojou mengejar jejak seorang pria misterius bernama Amatsuka Kou, yang memburu warisan seorang alkemis bernama Nina Adelard.

Mungkin kalian bisa bayangkan sendiri jenis-jenis cerita yang diangkat dalam STB itu kayak apa. STB unggul menurutku karena karakterisasinya. Dan bagi beberapa orang, memang agak susah untuk tak merasa tertarik pada STB sebab walau begini, ceritanya memang…

Aaaargh, aku kesusahan mengungkapkannya!

Selain Kojou dan Yukina, beberapa karakter lain yang menonjol dan secara berkelanjutan tampil, meliputi:

  • Aiba Asagi; seorang gadis cantik teman sekelas Kojou, yang bekerja sambilan sebagai pengelola sistem komputer di manajemen Pulau Itogami. Meski tak tercermin dari penampilannya, dirinya sangat cerdas. Sudah lama memendam rasa suka terhadap Kojou, dan mulai berani bertindak semenjak kemunculan Yukina. Ia memiliki asisten virtual serupa AI bernama Mogwai yang setia membantu mengerjakan tugas-tugas pemrogramannya. Tapi seiring perkembangan cerita, mulai terindikasi kejeniusan Asagi dalam memprogram mungkin bukan hanya berkat kecerdasannya semata… Sampai sejauh ini, dirinya masih belum tahu juga tentang segala urusan vampir yang dirahasiakan Yukina dan Kojou.
  • Yaze Motoki; teman lama Kojou dan Asagi yang mendukung hubungan keduanya. Tapi diam-diam dirinya memiliki kekuatan untuk mengendalikan gelombang suara dan memata-matai sekelilingnya, dan diindikasikan pula bahwa dirinya pengawas sesungguhnya yang diutus Shishio-kikan untuk mengawasi Kojou dan Yukina.
  • Akatsuki Nagisa; adik perempuan Kojou, sekaligus teman sekelas Yukina, yang manis dan bisa agak cerewet bila mengurusi kakaknya. Suatu trauma di masa lalu membuatnya fobia terhadap kaum Demon. Tanpa sepengetahuannya sendiri, dirinya memiliki kaitan sangat erat dengan alasan berubahnya Kojou sebagai vampir.
  • Kirasaka Sayaka; sahabat lama Yukina dari masa saat sama-sama dibesarkan oleh Shishio-kikan. Dirinya seorang War Dancer (Maai-hime) yang menggunakan Koukarin, pusaka Der Freischutz berbentuk gabungan busur dan pedang yang berkekuatan untuk membelah ruang, sebagai senjatanya. Dirinya beberapa kali berada di Itogami untuk berbagai penugasan. Meski semula kesal melihat kedekatan Kojou dengan Yukina, lama-lama ia mulai jatuh hati pada Kojou juga.
  • Minamiya Natsuki; guru Bahasa Inggris Kojou yang meski berusia dua puluhan tahun, memiliki tubuh seperti anak SD dan selalu terlihat berpakaian gothic lolita. Dirinya salah satu dari sekian sedikit orang yang mengetahui identitas Kojou sebagai Leluhur Keempat, dan dirinya merupakan Attack Mage yang disegani dan berkekuatan tinggi berjulukan Witch of the Void yang sedikit banyak menjadi pembimbing Kojou dan Yukina di sepanjang cerita.
  • Dimitrie Vatler; seorang bangsawan dari Warlord’s Domain bergelar Lord Ardeal, yang merupakan keturunan langsung dari Leluhur Pertama. Ia hadir di Itogami sebagai duta besar dari negaranya, dan menaruh minat(?) terhadap Kojou, berhubung sebelumnya ia jatuh cinta pada Avrora Florestina, Fourth Progenitor sesungguhnya yang telah mewariskan kekuatannya pada Kojou. Seluruh Kenjuu yang dimilikinya berwujud seperti ular.

Seperti yang sudah kusinggung, berhubung novelnya masih berlanjut, ada sejumlah subplot yang dibiarkan masih menggantung. Tapi arc terakhir yang diangkat di animasinya (yang bertajuk Empire of the Dawn) memberi penutup yang lumayan pas (aku akan jelaskan lebih lanjut di bawah), sekalipun sebenarnya berasal dari side story sehingga memiliki durasi yang lebih pendek.

Omong-omong, adegan pembuka seri ini, saat Kojou, Asagi, dan Motoki berada di sebuah restoran keluarga, entah kenapa menurutku merupakan salah satu adegan paling berkesan di seri ini.

Before/After

Masih ada lumayan banyak hal yang sebenarnya bisa kubahas tentang STB. Tapi mengingat ini bukan seri yang memiliki bobot banyak, setelah kupikir ulang, mungkin hal-hal tersebut enggak banyak gunanya juga bila kubahas. Seperti soal kekuatan kedua belas Kenjuu yang belum bisa Kojou kuasai sebelum ia mengisap darah, misalnya.

Tapi, sudahlah, mungkin ada baiknya kusinggung sedikit…

Jadi, para Kenjuu belum mau tunduk pada Kojou sebelum Kojou ‘membuktikan dirinya’ dengan mengisap darah. Lalu satu yang luput kusinggung, adalah soal bagaimana nafsu terhadap darahnya ini agak berkaitan dengan libidonya, dan dalam keadaan paling normal biasanya teratasi sendiri pada saat Kojou mulai mimisan.

Tapi pada saat-saat genting ketika kekuatan Kojou sebagai vampir dan para Kenjuu-nya diperlukan… ada beberapa karakter yang kemudian menjadi blood partner-nya agar ia bisa membangkitkan kekuatan tersebut.

Sudahlah.

Aku juga enggan membahas ini!

Ini alasan kenapa aku menunda-nunda membahas soal STB sampai sekarang!

Ada perkembangan menarik saat kita menyadari bahwa Shishio-kikan jangan-jangan memang sengaja mengutus seseorang seperti Yukina (dan nantinya, Sayaka) ke Itogami bukan sekedar untuk ‘mengawasi’ Kojou; melainkan juga untuk menjadi pasangan darahnya tersebut.

Lalu tentang dua karakter misterius yang muncul di arc terakhir, Akatsuki Reina dan Akatsuki Moegi, kelihatannya juga sudah diindikasi lumayan jelas bagaimana kalau mereka berasal dari masa depan. Tapi yang menarik adalah bagaimana di novelnya kemudian dijelaskan kalau keduanya bersaudara dari beda ibu…

Oke, pembahasan kita cukupkan sampai di sini.

Akhir kata, STB seru. Ada sisi-sisi lumayan nakal (fanservice agak banyak, tapi enggak jelek) yang membuatnya kurang berbobot. Tapi di antara kita, ada yang enggak akan peduli soal itu, mengingat sekali lagi, ceritanya seru.

Penilaian

Konsep: D+; Visual: C+; Audio: B+; Perkembangan: C; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: B

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: