Strobe Edge

Aku membaca Strobe Edge (‘strobe’ kira-kira berarti ‘bagian cahaya yang lebih terang/berkilat dari lainnya.’ Jadi arti judulnya kira-kira, ‘tepian kilatan cahaya?’ Mungkin mengacu pada citra ‘menyilaukan’ yang dimiliki beberapa tokoh utamanya.) karangan Sakisaka Io belum lama ini.

Ini salah satu manga shoujo lama yang sudah cukup lama dikenal, yang karena satu dan lain hal, kelihatannya masih belum juga akan masuk ke sini.

Aku pertama tertarik pada seri ini sebenarnya lebih karena nama pengarangnya. Sekitar setahun lalu, karena suatu alasan aku mulai memperhatikan perkembangan Ao Haru Ride yang juga dibuat oleh pengarang yang sama, yang masih berlanjut saat ini kutulis. Lalu aku seketika dibuat terkesima oleh teknik penceritaan dan gaya gambar yang dimiliki Sakisaka-sensei.

Apa ya? Beliau jenis pengarang yang karakter-karakternya unik gitu. Kayak, tokoh-tokoh utama yang beliau ciptakan biasanya bukan karakter-karakter yang akan langsung kau sukai. Malah sebaliknya, mungkin bikin kau agak “Heh?” dan baru seiring perkembangan cerita kita mulai memahami dan mengenalinya.

Lalu di samping artwork beliau yang memang menarik, gaya gambarnya mampu menghadirkan campuran emosi yang kompleks gitu. Beliau bisa menyampaikan hal-hal tersirat saat memang sedang ada hal-hal tersirat. Kayak saat ada karakter yang tersenyum tapi sebenarnya sedang menutupi sesuatu gitu.

Aku sempat memeriksa salah satu karya lamanya, yang judulnya aku lupa. Kalau aku enggak salah ceritanya tentang rasa rendah diri seorang cewek terhadap kakak perempuannya. Lalu bahkan sejak awal, ternyata kecenderungan beliau untuk memilih hal-hal rumit kayak gini memang sudah ada.

Balik ke soal Strobe Edge, yeah, judulnya mungkin akan membuat orang awam agak aneh. Aku pribadi teringat akan kapal terbang karena suatu alasan. (Sori, kalo itu sih mungkin Cluster Edge.) Jadi siapapun yang pertama mendengar tentang seri ini mungkin dibuat agak tak yakin soal seri ini sebenarnya tentang apa.

Pertama diterbitkan pada tahun 2007 secara bulanan di majalah Bessatsu Margaret milik Shueisha, durasi Strobe Edge cukup lumayan karena baru berakhir pada tahun 2010.

Aku pertama memeriksa manga ini karena, singkat cerita, aku enggak sabar menunggu kelanjutan Ao Haru Ride. Jadi aku perlu sesuatu (seri shoujo lain, maksudnya) untuk mengalihkan perhatian.

Dibandingkan Ao Haru Ride yang sejak awal bikin aku wow dengan segala hal enggak biasa yang dari awal aku temuin, Strobe Edge lebih dekat ke tipikal manga shoujo , walau sentuhan hal-hal terselubung yang ada padanya lumayan dalem juga.

“Dan pertama kali aku menyadarinya, adalah waktu aku mencobanya sendiri.”

Strobe Edge dibuka secara tak langsung dengan pertanyaan sang tokoh utama, seorang gadis berbadan agak mungil bernama Kinoshita Ninako, tentang apa itu cinta.

Sahabat-sahabat dekatnya, Tsukasa, Noriko (alias Non-chan), Sayu (nama lengkap: Uehara Sayuri), dan Tamaki, dengan seketika menggodanya seputar hubungannya dengan teman sekelas sekaligus sahabatnya semenjak kecil, Korenaga Daiki, yang jelas-jelas memperlihatkan rasa suka terhadap Ninako, dan diyakini oleh teman-teman Ninako lambat laun pasti akan jadian dengannya juga. Tapi Ninako sendiri tak yakin apakah yang dirasakannya terhadap Daiki memang benar adalah cinta. Memang selama ini Ninako akrab dan tak benci terhadap Daiki. Tapi apa iya hanya karena semua orang mengatakannya, maka apa yang dirasakannya terhadap Daiki benar-benar cinta?

Ninako mulai bertanya-tanya tentang hal ini. Terutama sesudah membandingkan perasaannya saat berhadapan dengan Ichinose Ren, anak lelaki berkesan cool yang merupakan cowok terpopuler yang dipuja semua siswi di sekolahnya. Ninako merasa ada sesuatu yang sepertinya berbeda…

Suatu ketika, serangkaian kebetulan di atas kereta membuat Ninako secara tak dinyana berkesempatan mengenal Ren lebih jauh. Sekalipun ia tahu bahwa Ren telah mempunyai pacar cantik yang bekerja sebagai model, sekalipun ia juga tahu bila bertindak lebih jauh mungkin ia akan ‘melangkahi’ kesepakatan yang telah ada antara siswi-siswi di sekolahnya, Ninako lambat laun sadar bahwa perasaan yang dimilikinya terhadap Ren lambat laun semakin tumbuh. Terlebih saat ia mendapati betapa Ren ternyata tak sedingin yang dikira orang-orang…

Strobe Edge pada dasarnya bercerita soal perkembangan hubungan antara Ninako dan Ren di antara orang-orang di sekitar mereka. Ada beberapa hal yang memperumit keadaan. Tapi seiring berjalannya waktu, mereka lambat laun semakin menyadari kalau keduanya memang ‘nyambung’ dengan satu sama lain, sekalipun ada begitu banyak hal yang tak mudah diungkap di antara mereka.

Angin Dengan Aroma Separuh Musim Semi

Walau ini mengangkat tema-tema yang tipikal untuk manga shoujo, seperti yang sudah kusinggung, eksekusi ceritanya emang beneran bagus.

Sebenarnya, aku pernah mengobrol tentang seri ini dengan salah seorang teman perempuanku. Uh, dia mandang aku sebagai gurunya, jadi kurasa buatku dia semacam murid? Eniwei, berhubung temanku yang satu ini lumayan pemalu dan rendah diri, dirinya mengakui bahwa yang paling kena dari Strobe Edge adalah intensnya perasaan unrequited love-nya, serta bayangan-bayangan soal bagaimana seandainya cinta yang terkesan tak kesampaian ini bisa saja menjadi nyata.

Sekali lagi, eksekusi ceritanya itu beneran bagus. Dan hal tersebut seakan enggak tampak dari kesan gambar sampulnya, yang sebaliknya sempat membuatku ngira kalau ini manga tentang persaingan di dunia modelling. (Jangan tanya kenapa aku bisa mikir kayak gini.)

Mungkin cara aku ngungkapin ini bakal terasa agak gimanaa berhubung aku cowok. Tapi Ren digambarkan sebagai tipe cowok berkarisma yang bisa bikin cewek langsung degdegan dan salah tingkah. Mungkin mirip idol?

Sekali lagi, aku cowok. Jadi aku engga terlalu memahami soal ini.

Maksudku, aku bahkan pernah suatu saat sangsi soal apa hal kayak gini beneran mungkin terjadi.

Tapi suatu saat pas aku SMA, ceritanya pernah ada syuting sinetron di dekat sekolahku, lalu kuperhatikan ada seorang siswi yang hanya terdiam seorang diri sembari terpana memperhatikan tampang si pemeran cowok utamanya. Jadi, yea, kurasa hal-hal kayak gini memang terjadi.

Maksudku, for better or for worse, Ren digambarkan sebagai seseorang yang meninggalkan impresi yang begitu kuatnya ke cewek-cewek di sekelilingnya, sampai-sampai mereka pada tersesat dalam persepsi mereka masing-masing. Sehingga bila dibandingkan dengan orang kayak gini, Ninako yang mungil dan tak terlampau bisa dibilang cantik wajar saja bila merasakan dilema.

Lalu ada cukup banyak dilema yang kerasa nyata yang ditampilkan di cerita (enggak semuanya, tapi cukup banyak). Mulai soal Ren yang sebenarnya sudah punya pacar tadi; soal bagaimana Daiki memandang Ninako berharga karena telah menjadi dukungan emosionalnya saat kedua orangtuanya bercerai; soal hubungan Ren dengan cowok tampan lain, si playboy di sekolah, Andou Takumi, yang menyadari ada yang berbeda pada Ren setiap kali ada kaitannya dengan Ninako; perasaan Sayu terhadap Daiki bila memang Ninako menganggapnya hanya teman; serta kenyataan bahwa pacar Ren ternyata tak lain adalah Korenaga Mayuka, kakak perempuan Daiki sendiri.

Satu yang kusukai dari Strobe Edge adalah perkembangannya yang enggak bikin ilfil. Semua karakternya sama-sama tumbuh gitu, dengan kesemuanya menyadari kelemahan dan kesalahan masing-masing.

Teman-teman Ren, Miyoshi Manabu alias Gacchan (badan agak kecil, tapi selalu ceria), dan Terada Yuutaro alias Yuu-kun (pendiam, ramah, berkesan dewasa), menyadari perubahan yang dialami Ren dan mencoba membuat yang bersangkutan menyadarinya sendiri. Tapi sikap berbeda yang mereka ambil membawa dampak dan implikasi masing-masing. Mulai dari soal bagaimana Ren bersikeras untuk bertahan bersama Mayuka sampai ke soal Andou yang menghentikan cara hidup main-mainnya karena mulai suka secara serius terhadap Ninako.

Lewat apa yang dirasakan oleh Ren dan Sayu, diangkat tema soal bagaimana menerima dan menyikapi cinta lama dibandingkan cinta baru.

Lalu semua memuncak pada bagaimana Ninako berkeinginan menengahi Andou dan Ren, serta memperbaiki hubungan lama yang pernah ada antara keduanya.

Ada juga beberapa bab sampingan yang menengahkan cerita-cerita para karakter lain.

Jadi secara umum, yeah, buat ukuran komik cewek, it’s a pretty good read. Ceritanya termasuk jenis yang membuka pikiran dan sudut pandang. Memang enggak sekuat Ao Haru Ride. Tapi aku seriusan agak heran karena merasa seri ini tak setenar seharusnya.

Dengan pulihnya gejala-gejala withdrawal terhadap shoujo manga yang kualami, aku kemudian mendapati pengumuman bahwa Ao Haru Ride akan diangkat jadi anime sekaligus film layar lebar pada musim panas 2014 yang akan datang. Wow, itu sesuatu yang enggak kusangka! Tapi yeah, kurasa itu berita bagus.

(Mungkin karena aku cowok, tapi berlawanan dengan pendapat teman perempuanku di atas, aku lumayan bisa simpati terhadap apa yang dirasakan karakter Sugimoto Mao. Tapi sekali lagi, mungkin itu karena aku cowok.)

Iklan

6 Komentar to “Strobe Edge”

  1. Waaa, Strobe Edge, dah lama baca judul satu ini, tapi dulu bacanya belum sampai tamat >,<
    Sebagian besar setuju sama reviewnya 😀

    Aku juga kenalan sama Io Sakisaka sensei dari Ao Haru Ridenya (yeah, emang kemungkinan besar begitu^^). Tapi kemudian temenku yang 'penggila shoujo' tiba-tiba bilang kalau Strobe Edge itu masterpiecenya Io Sakisaka. Langsung disamperin dah, haha.

    Menurutku Ao Haru Ride sama Strobe Edge ini sama-sama bagus dan punya sasaran pasarnya masing-masing (?). Volume pertama dari masing-masing judul menurutku unusually memorable. Kurasa emang Io Sakisaka ini pintar membangun dasar cerita, sehingga ending volume satunya itu benar-benar jadi point of departure yang cantik untuk dikembangkan di volume-volume selanjutnya. Di kedua judul, volume pertama yang seperti 'prolog' itu memperlihatkan ide, perkembangan, dan eksekusi yang pas untuk kedua karakter utama cewek dimana keduanya menghadapi suatu masalah, kemudian mengalami kebimbangan, sampai akhirnya menemukan keberanian untuk berkembang yang membuat keduanya maju selangkah, namun membawa perubahan besar dalam kehidupannya selanjutnya.

    Walau Ao Haru Ride mengangkat isu yang dari awal lebih dalam. Tapi menurutku Strobe Edge lebih lancar dalam mengeksekusi ceritanya. Tiap-tiap karakter di Strobe Edge dapet jatah yang pas, sedangkan di Ao Haru Ride menurutku karakter-karakter selain kedua karakter utama agak tertelantarkan. Bagaimana si geng tokoh utama menjadi akrab juga rasanya kurang ditampilkan dengan baik, terutama si Kominato sama Murao, terkesan diakrab-akrabin ke geng sama authornya *plakked*. Makanya rasanya menyegarkan pas muncul karakter Touma yang cukup ngasih pemandangan baru, dari yang sebelumnya Futaba-Kou, Futaba-Kou melulu xD. Touma juga karakter saingan love interest yang menarik.
    *OOT, maklum baru baca Ao Haru Ride 5 kemarin-kemarin, haha*

    • Ho, ga tau ya. Aku pribadi malah lebih suka Ao Haru Ride karena ceritanya menurutku lebih fokus. (Yah, di samping artwork beliau yang normal aja tambah bagus sih.)

      Makanya, aku ngerasa aneh juga. Ada orang-orang yang nganggep Strobe Edge sebagai masterpiece gitu tapi kayaknya penggemarnya lumayan terbatas. Ditambah lagi udah lewat waktunya buat diangkat jadi anime. >.<

      Aku kayaknya mesti setuju soal dasar cerita. Bisa ngebangun itu secara keren gini kayaknya jadi dasar kuat buat tiap pengarang.

  2. Hmm, mungkin juga ya. Kurasa dalam pandanganku cerita Ao Haru Ride yang lebih fokus itu mengorbankan beberapa karakter yang jadi underused.
    Gak bisa ngomong banyak juga sih, berhubung kedua judul aku baru baca sampai sekitar di tengah-tengah cerita aja. Tapi waktu baca Strobe Edge, kenikmatan membacaku serasa lebih stabil. Selain itu seingatku karakter-karakternya punya peran masing-masing yang pas sesuai kadar kepentingannya (mungkin kecuali Daiki?). Kalau Ao Haru Ride, dari awal seperti sudah diplot 5 anggota geng itu menjadi karakter utama, jadi mungkin aku salah ekspektasi kalau si Yuuri, Murao, sama Kominato bakal dapet peran lebih? Yang walau bukan fokus utama, tapi enggak sekedar jadi karakter-karakter pendukung dan konseling pasangan utama. Juga mengingat mereka udah diperkenalkan premis jalur ceritanya masing-masing.

    Baru di volume 6 ini sih sepertinya cerita si Murao-Kominato keliatan diangkat lagi. Tapi kalau udah begini mungkin sebaiknya memang melihat mereka sebagai karakter sampingan, karena kedatangan si Narumi bakal lebih menarik diikuti kalau tetap fokus ke sana saja. Kecuali kalau keduanya punya peran yang signifikan dalam perkembangan fokus utama ini.

    Kalau dari materinya sendiri aku lebih suka Ao Haru Ride, terutama di awal-awal, ngelihat perkembangan karakter Kou, aku suka tipe-tipe karakter yang mudah disalahpahami kayak dia >,<

    • … Sori, aku juga baru nyadar ini sekarang. Tapi penggambaran kayak gitu mungkin juga karena lingkaran karakter di Ao Haru Ride emang masi belum dimaksudkan buat bener-bener jadi temen.

      Berbeda ama Ninako dkk yang sejak awal udah segeng, Futaba, Yuuri dan Murao ngumpul bareng lebih karena engga ada orang lain yang dengannya mereka pengen ngumpul, dan makanya jadinya kayak gitu.

      Emang ke sininya mereka jadi lebih deket sih. Tapi aku sendiri ngeliat ini sebagai hal baru yang aku jarang lihat di shoujo manga, dan makanya buatku jadi menarik.

      Cara orang ngelihatnya emang bakal beda-beda. Tapi bener sih. Di Strobe Edge, Sakisaka-sensei ngembangin semua ini dengan ngatur baik-baik jalinan ceritanya. Enggak tau juga hasil akhirnya di Ao Haru Ride nanti bakal kayak gimana.

      (iya, kecuali Daiki >.< )

  3. Yang aku jengkelin, kenapa komik2 bagus kayak gini belum terbit juga, aku lumayan malas baca online kalau nggak benar2 senggang -_-

    • Yah, selalu ada banyak situasi…
      Aku denger bermacam cerita dari temenku yang pernah bekerja di Level. Jadi kita ga tralu bisa nyalahin mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: